KISAH SI BANGAU PUTIH : JILID-10


“Nanti dulu, Bibi. Sebelum aku menceritakan keperluan kedatanganku, lebih baik kalau Bibi menceritakan kepadaku tentang bahaya apa yang mengancam kalian. Aku bersedia membantu kalian. Ceritakanlah mengapa kalian tadi begitu curiga kepadaku sehingga tiba-tiba saja menyerangku.”

Gak Jit Kong kini yang menjawab. “Maafkan kami, Lian-ji (anak Lian). Kami memang sedang panik sehingga tanpa bertanya lagi menyerangmu, karena kami mengira bahwa engkau merupakan komplotan orang-orang jahat yang mengancam hendak menculik anak kami.”

“Komplotan jahat menculik adik Ciang Hun?”

“Benar, Suma Lian,” sambung Gak Goat Kong. “Terjadinya sudah kurang lebih sepekan yang lalu. Mula-mula kami mendengar bahwa di sebuah dusun di kaki gunung terjadi kekacauan ketika ada seorang nenek yang suka menculik anak kecil. Ketika mendengar itu, kami lalu turun tangan dan berhasil mengalahkan nenek itu dan mengusirnya dari dusun yang dikacaunya. Akan tetapi, iblis itu ternyata tidak mau menerimanya begitu saja. Agaknya ia memanggil kawan yang lebih lihai lagi dan sepekan yang lalu mereka datang mengganggu kami.”

“Apa yang mereka lakukan?” Suma Lian bertanya, penasaran.

Sekarang Souw Hui Lian yang melanjutkan. “Sepekan yang lalu, pada malam hari, aku mendengar suara gerakan orang di belakang rumah. Ketika aku keluar melalui pintu belakang, ia sudah berada di sana, nenek iblis yang pernah mengacau dusun itu, akan tetapi kini ada seorang temannya, seorang kakek botak. Mereka lihai bukan main.”

“Kami keluar saat mendengar ribut-ribut di belakang,” sambung Gak Jit Kong, “dan kami bertiga melawan kakek botak itu. Namun dia sungguh lihai dan kami bertiga terdesak. Tiba-tiba mereka meloncat pergi dan sambil tertawa kakek itu berkata bahwa sepekan kemudian dia akan datang lagi dan mengancam kami supaya menyerahkan putera kami dengan baik-baik, kalau tidak seisi rumah akan dibunuhnya!”

Suma Lian mengerutkan alisnya. “Hemmm, sombong sekali iblis itu.”

“Karena itu, setiap malam kami tidak dapat tidur dan berjaga-jaga, dan beristirahat pada siang harinya. Tadi kami masih tidur karena semalam berjaga, dan Ciang Hun yang sudah kami larang untuk keluar sendirian, tadi nekat keluar ke taman,” kata Hui Lian.

“Aku ingin nonton kupu-kupu kuning, Ibu!” bantah Ciang Hun. “Dan pula, kata Ibu iblis itu hanya muncul di waktu malam, bukan?”

“Memang benar,” kata pula Hui Lian kepada Suma Lian. “Iblis itu mengancam akan datang pada malam hari, karena itulah kami berani tidur di waktu siang.”

“Hemmm, dan kapankah malam yang dijanjikannya itu?” tanya Suma Lian.

“Malam ini tepat sepekan.”

“Harap kedua Paman dan Bibi tidak khawatir. Kalau malam nanti dia berani muncul, biarlah aku yang akan menghadapinya,” kata Suma Lian.

Walau pun kedua suami itu merasa agak tabah dengan munculnya Suma Lian yang dapat mereka harapkan untuk membantu mereka, namun tentu saja mereka tidak yakin akan kemampuan Suma Lian. Bagaimana pun juga, Suma Lian baru beberapa tahun ini menjadi murid ayah mereka, tentu tingkat kepandaiannya tak akan lebih tinggi dari pada tingkat kedua orang kembar itu.

Kalau mereka maju bertiga saja tidak mampu menandingi kakek botak itu, apa lagi gadis muda ini? Betapapun juga, mereka mendapatkan tenaga bantuan dan hal ini saja sudah mendatangkan hiburan bagi mereka.

Suma Lian kelihatan tenang-tenang saja hari itu, bahkan bermain-main dengan Ciang Hun, membiarkan tiga orang itu beristirahat karena selama beberapa hari mereka itu selalu kurang tidur. Ketika malam tiba, Beng-san Siang-eng dan isterinya sudah nampak segar dan siap siaga untuk menghadapi ancaman musuh, Souw Hui Lian tidak pernah mau melepaskan puteranya.

Menjelang tengah malam, mereka yang berkumpul di ruangan dalam itu mendengar suara ketawa di luar rumah. “Ha-ha-ha, Beng-san Siang-eng, agaknya kalian sudah siap menghadapi kunjungan kami. Apakah anakmu, itu telah kau persiapkan untuk diberikan kepada kami? Keluarlah, kami tidak ingin bersikap tidak sopan menyerbu ke dalam!”

Mendengar suara ini, Beng-san Siang-eng dan isterinya nampak amat terkejut dan jelas kelihatan betapa mereka gentar. Hal ini membuat Suma Lian merasa penasaran dan marah sekali. Ia lalu meloncat berdiri dan dengan sikap tenang ia melangkah keluar, diikuti oleh dua orang pamannya, sedangkan Hui Lian tetap tinggal di dalam melindungi puteranya, seperti yang sudah mereka rancangkan. Memang sebaiknya jika Ciang Hun disembunyikan di dalam, dilindungi ibunya, agar dia tidak terancam bahaya langsung seperti kalau diajak keluar.

Dengan langkah tegap dan sikap tenang sekali Suma Lian melangkah terus menuju ke serambi luar, di mana memang sengaja dipasangi empat buah lampu gantung yang cukup terang. Kedua orang kembar itu sendiri merasa kagum akan ketabahan hati keponakan mereka walau pun mereka masih merasa khawatir apakah kehadiran gadis itu akan cukup membuat mereka mampu mengusir dan mengalahkan lawan yang amat tangguh.

Kalau tingkat kepandaian Suma Lian hanya sedikit lebih tinggi dari tingkat Hui Lian, tidak mungkin mereka akan menang. Bahkan andai kata tingkat ilmu kepandaian gadis itu sama dengan tingkat mereka pun, masih amat disangsikan apakah mereka akan mampu mengalahkan kakek botak itu, apa lagi kalau si nenek buruk itu membantunya.

Ketika mereka membuka pintu depan dan tiba di luar, ternyata benar seperti yang dikhawatirkan Beng-san Sian-eng. Kakek botak pendek dan nenek bongkok buruk itu sudah berada di situ, berdiri dengan sikap memandang rendah.

Nenek bongkok bermuka buruk itu memegang tongkatnya yang butut dan kakek yang bertubuh pendek berkepala botak dengan muka seperti seekor ikan itu menyeringai lebar. Dia tidak nampak memegang senjata, tetapi melihat pakaiannya seperti seorang tosu dengan gambar pat-kwa (segi delapan) di dadanya, tahulah Suma Lian bahwa ia berhadapan dengan seorang pendeta dari perkumpulan sesat Pat-kwa-pai.

Ketika melihat Beng-san Siang-eng muncul bersama seorang gadis yang muda dan cantik manis, sepasang mata kakek pendek itu bersinar-sinar dan mulutnya menyeringai semakin lebar.

“Bagus, bagus...! Beng-san Sian-eng, dari mana kalian mendapat seekor domba betina yang begini muda, montok dan mulus, ha-ha-ha! Apa dia hendak kau tukarkan dengan anak kalian? Gadis muda ini untuk aku, wah, aku suka sekali!”

“Hok Yang Cu, jangan gila kau! Aku tidak butuh gadis ini dan tidak sudi kalau ditukar dengan bocah laki-laki putera mereka!” tiba-tiba nenek itu membentak, nadanya marah.

Kakek botak itu tertawa bergelak. “Ha-ha, Beng-san Sian-eng, kalian sudah mendengar sendiri, bukan? Puteramu itu tetap harus kalian berikan kepada kami, sedang gadis ini untuk aku, sebagai pengganti kepala kalian! Nah, lekas berikan gadis ini kepadaku dan keluarkan pula bocah laki-laki itu supaya jangan membikin Kui-bo (Nenek Iblis) marah marah!”

Mendengar kata-kata mereka yang amat memandang rendah, apa lagi juga sangat menghinanya, Suma Lian menjadi merah mukanya dan sepasang matanya yang indah itu mengeluarkan sinar mencorong. Ia melangkah maju menghadapi dua orang kakek dan nenek itu sambil menudingkan telunjuknya.

“Dua orang tua bangka tidak tahu diri dan tak mengenal malu! Kalian muncul sebagai iblis-iblis yang curang, tidak memperkenalkan nama. Siapakah kalian dan mengapa kalian mengganggu kedua orang pamanku ini?”

Kakek yang sudah menjadi merah matanya melihat Suma Lian yang cantik manis, kini tertawa bergelak sambil mengelus kepala yang botak dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menggoyang-goyangkan tangan kanan dengan sikap sombong.

“Ha-ha-ha, anak manis, ketahuilah bahwa pinto (aku) disebut Hok Yang Cu, dan seperti dapat kau lihat pada gambar di dadaku, aku adalah seorang tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal! Ada pun nenek buruk ini adalah Hek-sim Kui-bo (Nenek Iblis Berhati Hitam), seorang sahabatku. Dia minta bantuanku untuk mengambil putera Beng-san Sian-eng. Akan tetapi engkau muncul, anak manis, he-he-heh, dan setelah melihatmu, mana aku dapat melepaskanmu lagi?”

“Tua bangka iblis! Kedua orang pamanku tidak pernah merasa bermusuhan dengan kalian, mengapa kalian datang mengganggu mereka? Mengakulah apa sebabnya kalian mengganggu, ataukah kalian hanya dua orang tua bangka pengecut yang tidak berani mengaku?” Suma Lian sengaja memanaskan hati mereka untuk mengetahui mengapa mereka itu memusuhi kedua orang pamannya.

“Bocah sombong!” bentak nenek itu yang jelas memperlihatkan sikap membenci wanita muda. “Beng-san Siang-eng adalah cucu-cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Kenyataan ini saja sudah cukup bagi kami untuk memusuhi mereka!”

Kini mengertilah Suma Lian, juga Beng-san Siang-eng mengapa nenek dan kakek itu memusuhi mereka. Kiranya mereka itu, golongan sesat, selalu tak pernah melupakan keluarga Pendekar Pulau Es dan selalu memusuhi anggota keluarga itu setiap kali ada kesempatan.

Hal ini membuat Suma Lian menjadi semakin marah. Akan tetapi gadis yang pemberani ini tidak memperlihatkan kemarahannya, sebaliknya ia marah tertawa. Suara ketawanya nyaring dan bebas, tidak ditahan-tahan atau ditutupi mulutnya sehingga nampak rongga mulutnya yang kemerahan dan kilatan giginya yang putih.

“He-he-hi-hi-hik! Hek-sim Kui-bo dan Hok Yang Cu, dua orang kakek dan nenek tua bangka yang mau mampus, orang-orang macam kalian ini berani memusuhi keluarga para Pendekar Pulau Es? Dengar baik-baik, aku bernama Suma Lian? She Suma, ingat! Aku adalah cucu buyut dalam dari kakek buyut Suma Han. Hayo cepat kalian berlutut minta ampun, kemudian minggat dari sini dan jangan memperlihatkan ekor kalian lagi sebelum aku mewakili keluarga para Pendekar Pulau Es untuk menghajarmu!”

Mendengar ucapan yang amat merendahkan itu, si nenek sudah menjadi marah dan mencak-mencak, akan tetapi kakek itu malah menjadi girang sekali dan dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sungguh baik sekali nasibku! Jadi engkau she Suma, keturunan langsung Pendekar Pulau Es? Ha-ha-ha-ha, sudah lama sekali aku ingin mendapatkan seorang wanita she Suma, dan baru sekarang agaknya akan berhasil, ha-ha-ha!”

Tiba-tiba saja dia sudah menubruk ke arah Suma Lian, tangan kirinya mencengkeram ke arah muka gadis itu, akan tetapi dengan kecepatan kilat tangan kanannya menyusul dengan cengkeraman ke arah dada kiri Suma Lian. Serangan ini tidak sopan, akan tetapi juga sangat berbahaya karena gerakannya cepat sekali dan dari kedua telapak tangan yang mencengkeram itu menyambar hawa pukulan yang cukup dahsyat!

Melihat betapa kakek yang lihai itu menyerang Suma Lian, Beng-san Siang-eng tentu saja menjadi khawatir sekali. Akan tetapi mereka belum merasa perlu turun tangan karena di situ juga masih ada nenek yang mereka tahu amat lihai pula itu.

Suma Lian adalah murid terakhir dari Bu Beng Lokai di samping Pouw Li Sian yang menjadi sumoi-nya. Selama delapan tahun, Suma Lian dan Pouw Li Sian menerima gemblengan yang amat tekun dari Bu Beng Lokai, dan kini boleh dibilang semua inti ilmu kepandaian kakek itu telah diwariskan, tentu saja dipilih yang ampuh-ampuh saja. Sebelum menjadi murid Bu Beng Lokai, sebagai puteri ayah ibu pendekar sakti, tentu saja sejak kecil Suma Lian telah menerima gemblengan orang tuanya, maka tentu saja ia kini telah memiliki ilmu silat yang hebat.

Menghadapi serangan kakek pendek botak, ia tidak menjadi gentar atau gugup, hanya merasa gemas karena kakek itu ternyata seorang yang benar-benar tidak sopan, begitu menyerang hendak mencengkeram buah dadanya! Dengan gerakan amat lincah ia pun melangkah mundur mengelak sehingga dua tangan kakek itu yang tadi mencengkeram dada dan kepala, tidak dapat menjangkaunya dan sebagai sambutan, kakinya melayang tinggi dari samping mengarah muka lawan!

Kakek pendek itu terkejut juga ketika mendadak gadis itu selain dapat menghindarkan cengkeramannya, juga membalas dengan tendangan yang demikian kuat dan cepatnya. Akan tetapi dia tidak mengelak, melainkan memutar lengan kanannya ke kanan untuk menangkap kaki kiri gadis itu yang menyambar ke arah mukanya dari samping.

Suma Lian cepat-cepat menarik kembali kakinya, maklum bahwa lawannya amat lihai sehingga dari keadaan terserang dapat mengubah kedudukan penyerang! Dan kakek itu pun tertawa bergelak melihat gadis itu menarik kembali kakinya.

“Ha-ha-ha, kakimu kecil dan indah, harum pula!” Dia memuji dengan nada mengejek.

Tentu saja Suma Lian menjadi marah bukan main, akan tetapi gadis ini memang pandai sekali menyembunyikan perasaannya, bahkan dia pun tersenyum mengejek. “Hemmm, tua bangka buruk dan busuk. Mukamu demikian jelek dan kotor sehingga untuk menjadi penjilat kaki pun belum cukup berharga!”

Begitu melihat mata kakek itu terbelalak dan mukanya menjadi merah karena marah mendengar penghinaan itu, Suma Lian sudah menerjang dengan pukulan tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala kakek pendek itu sedangkan tangan kanannya menampar ke arah dada. Gerakannya amat cepat dan kuat.

Pukulan ke arah ubun-ubun itu dilakukan dengan kelima jari dibentuk paruh meruncing, seperti paruh seekor burung garuda mematuk ubun-ubun yang botak itu. Tangan yang berjari mungil ini jangan dipandang ringan karena pada saat itu dipenuhi tenaga Swat-im Sinkang, yang membuat hawa yang menyambar dari tangan itu terasa dingin sekali dan kalau sampai ubun-ubun kepala itu terkena hantaman ini, tentu akan berlubang atau setidaknya tentu isinya akan terguncang hebat dan orangnya tewas.

Juga tamparan yang ke arah dada itu bukan main-main, melainkan mengandung tenaga dahsyat sehingga sekiranya mengenai sasaran, tulang-tulang iga akan patah-patah dan jantung di dalam dada dapat copot karena guncangannya!

“Hyaaahhhhhh...” Kakek itu sekarang terkejut dan sambil mengeluarkan seruan ini, dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik.

Akan tetapi, gerakan Suma Lian luar biasa cepatnya, disusulnya tubuh yang berjungkir balik itu dan kini tangan kanannya menghantam pula dari atas. Kakek itu yang baru saja berjungkir balik, tidak sempat pula untuk mengelak dan terpaksa dia pun mengangkat lengan kiri menangkis.

“Dukkk...!”

Dua lengan bertemu dan akibatnya, tubuh kakek itu lalu bergulingan sambil menggigil kedinginan!

“Swat-im Sin-jiu...!” serunya kaget.

“Hemmm, baru engkau mengenal kesaktian keluarga Pulau Es, ya? Nah, terimalah ini!” bentak Suma Lian dan dengan cepatnya ia pun menerjang terus, sekali ini tubuhnya merendah sampai hampir menelungkup dan tiba-tiba saja tubuh itu mencelat ke atas, kedua tangan mendorong dan sekali ini ia mempergunakan tenaga sakti yang diwarisi dari gurunya, yaitu Tenaga Inti Bumi!

Serangan yang dilakukan dengan lebih dahulu menjatuhkan diri ke atas tanah ini sama sekali tidak terduga oleh lawan sehingga kakek itu terkejut dan tidak sempat mengelak. Dia kembali harus menangkis dan kini, maklum akan kelihaian gadis itu, dia menangkis dengan kedua tangan didorongkan sambil mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya.

“Desss...!”

Hebat sekali pertemuan tenaga itu dan akibatnya, tubuh yang pendek itu terjengkang dan kembali bergulingan. Namun Hok Yang Cu sudah meloncat bangun dengan cepat, mukanya agak pucat dan di tepi mulutnya nampak darah. Ternyata pertemuan tenaga sinkang melalui dua telapak tangan tadi telah mengguncangkan tubuhnya dan membuat dia terluka di sebelah dalam tubuh sehingga muntahkan darah segar. Kemarahan dan penasaran membuat kakek itu lupa diri dan dia sudah meloloskan sabuknya, sabuk kulit yang ujungnya dipasangi pisau beracun.

Dua orang kakek Gak tadinya merasa kaget, kagum dan gembira bukan main melihat betapa keponakan mereka itu mampu menandingi, bahkan membuat kakek pendek botak itu dua kali roboh bergulingan! Tetapi kini mereka merasa khawatir lagi melihat betapa Hok Yang Cu melolos senjata sabuk yang mengerikan itu karena mereka dapat melihat betapa kedua batang pisau yang ujungnya menghitam itu tentulah mengandung racun.

Juga mereka melihat betapa nenek Hek-sim Kui-bo kini juga memutar tongkatnya. Maka mereka pun cepat saling memberi tanda dan keduanya sudah mencabut pedang dan meloncat ke depan, menghadang nenek buruk itu.

“Lian-ji, apakah engkau memerlukan pedang?” teriak Gak Jit Kong pada keponakannya. Akan tetapi Suma Lian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Paman, menghadapi tua bangka yang sudah mau mampus ini perlu apa menggunakan pedang? Sebaiknya kedua Paman mundur dan menonton saja, biarlah aku yang akan menghajar sepasang anjing tua betina dan jantan ini sampai mereka lari terbirit-birit menyembunyikan ekor di selangkangnya!”

“Bocah sombong lihat senjataku!” bentak Hok Yang Cu yang kembali menyerang penuh semangat walau pun tadinya dia sudah merasa gentar. Kini dia marah sekali dan masih belum mau melihat kenyataan, belum mau percaya bahwa dia kalah oleh gadis muda!

Juga nenek Hek-sim Kui-bo menerjang ke depan dengan tongkat hitamnya, akan tetapi dua orang kakek kembar telah menyambutnya dengan pedang mereka. Maka terjadilah perkelahian mati-matian antara nenek buruk itu melawan dua orang kakek kembar yang memainkan pedang mereka dengan cepat dan saling membantu.

Serangan sabuk berujung pisau beracun itu sangat berbahaya, namun dengan tenang Suma Lian menggerakkan kakinya dan ia sudah mempergunakan langkah-langkah ajaib dari Ilmu Sam-po Cin-keng yang luar biasa. Jangankan baru diserang oleh satu orang yang bersenjata sabuk berpisau. Dengan ilmu langkah ajaib ini, yang sudah dikuasainya dengan baik, bahkan Suma Lian akan berani memasuki barisan senjata dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahannya dan keampuhan ilmu langkah-langkah ajaib itu! Dengan mudah dia menghindarkan diri dari serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh kakek pendek botak, bahkan dapat membalas dengan tamparan atau tendangan yang membuat kakek itu kadang-kadang terdesak hebat.

Pengeroyokan kedua orang kakek kembar Gak terhadap nenek itu membuat Hek-sim Kui-bo repot juga. Biar pun tingkat kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya dibandingkan masing-masing pendekar Gak itu, akan tetapi ketika mereka maju berbareng sebagai Beng-san Sian-eng, nenek itu kewalahan juga.

Dua orang kakek kembar ini selain memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan ampuh, juga kalau maju berdua seperti satu orang yang berbadan dua saja. Mereka dapat bergerak otomatis saling bantu sehingga seperti seorang lawan yang berkepala dua dan berkaki tangan empat!

Harus diakui bahwa biar pun mereka lebih dahulu mempelajari ilmu silat dibandingkan Suma Lian, namun pada waktu itu tingkat kepandaian Suma Lian jauh melampaui kedua orang pamannya. Hal ini adalah karena memang bakat gadis itu jauh lebih besar, juga karena kedua orang saudara kembar ini belum menguasai inti dari ilmu-ilmu silat tinggi ayah mereka.

Walau pun demikian, karena maju berdua, cukup merupakan lawan yang amat lihai dan kuat. Dengan Ilmu Pedang Pengacau Langit (Lo-thian Kiam-sut) mereka berdua dapat membendung gelombang serangan tongkat Hek-sim Kui-bo, bahkan dengan pedang mereka, kini Beng-san Siang-eng mulai mendesak nenek yang menjadi repot dan harus terus main mundur, gelisah sekali melihat betapa teman yang diandalkannya, si pendeta pendek itu, juga terdesak hebat oleh gadis yang amat lihai itu!

Perkelahian antara Suma Lian dan Hok Yang Cu memang berat sebelah. Kepandaian gadis itu memang jauh lebih tinggi dan wataknya yang nakal dan jenaka membuat Suma Lian sengaja mempermainkan lawan. Kalau dia menghendaki, tentu saja sejak tadi dia sudah mampu merobohkan lawan, bahkan kalau perlu membunuhnya, akan tetapi dasar gadis yang memiliki watak aneh dan kadang-kadang suka ugal-ugalan, maka dia pun lebih senang mempermainkannya!

Tiba-tiba terdengar suara seruan kanak-kanak, “Enci Lian, hajar setan pendek itu, Enci!”

Suma Lian menengok. Ternyata Souw Hui Lian menggandeng tangan Gak Ciang Hun telah muncul di ambang pintu depan. Wanita itu tentu saja merasa khawatir mendengar suara perkelahian di luar dan sampai lama tiada tanda kemenangan di pihak suaminya. Maka sambil menuntun tangan puteranya ia pun keluar untuk menonton.

Ketika ia melihat betapa suaminya mengeroyok nenek buruk itu, sedangkan keponakan wanita itu dengan tangkasnya mampu menandingi kakek bersabuk itu dengan tangan kosong saja, hati Hui Lian menjadi kagum dan girang bukan main. Jelas bahwa di situ tidak ada musuh lain kecuali dua orang itu. Maka ia pun cepat mencabut pedangnya dan meninggalkan puteranya di ambang pintu. Ia sendiri cepat meloncat dan membantu suami-suaminya untuk mengeroyok Hek-sim Kui-bo!

Melihat betapa Suma Lian menandingi kakek pendek sambil berloncat cepat dan aneh dan gadis itu tersenyum-senyum mengejek, Ciang Hun menjadi gembira dan berseru kepada gadis itu untuk menghajar lawannya.

Pada waktu Suma Lian menengok, kesempatan ini digunakan oleh Hok Yang Cu untuk menyerangnya dengan hebat. Sabuknya bergerak cepat bagai kilat dan sebatang pisau beracun meluncur ke arah tenggorokan gadis itu. Cepat bukan main serangan ini dan tahu-tahu pisau itu telah terbang menyambar ke arah tenggorokan Suma Lian yang berkulit halus mulus dan putih bersih!

Namun Suma Lian tahu akan hal ini. Dia teringat akan seruan Ciang Hun, maka kini tangannya menangkis, dan jari-jari tangannya yang kecil mungil itu menjentik ke arah pisau.

“Tringggg...!”

Pisau itu terpental, membalik dan terdengar kakek ini berteriak kesakitan ketika pisau yang membalik itu tahu-tahu telah melukai pundaknya! Sebuah tendangan membuat tubuhnya yang tersentak kaget ini terlempar dan jatuh terbanting lalu bergulingan.

“Kui-bo…, lari...!” teriaknya.

Dan tanpa menanti jawaban temannya lagi, dia pun terus menggelinding ke pekarangan depan dan meloncat bangun lalu melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam.

Sementara itu, Hek-sim Kui-bo yang memang sudah terdesak oleh kedua orang kakek kembar itu, menjadi semakin repot ketika Hui Lian maju membantu dua orang suaminya. Tingkat kepandaian Hui Lian tidak banyak selisihnya dengan tingkat suaminya. Apa lagi ketika ia melihat betapa temannya semakin terdesak.

Ketika Hok Yang Cu terkena pisau beracunnya sendiri, hanya beberapa detik kemudian pedang Gak Jit Kong juga sudah melukai pangkal lengan kanannya, dan tendangan Hui Lian juga telak mengenai pahanya. Maka ia pun terhuyung ke belakang dan mendengar seruan temannya, dia pun langsung meloncat ke pekarangan dan menghilang di dalam kegelapan malam.

“Kejar mereka...!” Hui Lian berseru, siap untuk mengejar. Akan tetapi sebuah tangan yang halus menyentuh tangannya.

“Sebaliknya tidak usah, Bibi. Musuh yang sudah melarikan diri tidak perlu dikejar, apa lagi dalam gelap begini. Mereka adalah orang-orang yang curang dan berbahaya. Pula, menurut kata ayah, keluarga Pulau Es tidak pernah memusuhi orang-orang golongan hitam, hanya menentang perbuatan mereka yang jahat. Kalau mereka tidak menyerang, tidak perlu dilayani.”

“Ia benar. Mari kita masuk saja,” kata Gak Jit Kong dan mereka lalu memasuki rumah dan menutup daun pintu depan dengan rapat.

“Wah, enci Lian sungguh hebat! Kakek pendek yang lihai itu dijadikan bola olehnya!” kata Ciang Hun gembira.

“Itulah hasilnya kalau belajar dengan baik dan tekun,” kata Hui Lian kepada puteranya. “Engkau harus meniru enci-mu. Suma Lian, kami berterima kasih sekali karena kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya dengan kami berempat.”

“Ahhh, Bibi, kita adalah orang sekeluarga sendiri, tidak perlu bersikap sungkan. Pula, kurasa dua orang penjahat tadi tidak akan mudah saja mengalahkan Bibi dan Paman berdua.”

“Sudahlah, Lian-ji, tidak perlu memuji kami. Yang jelas, kami berdua sudah ketinggalan jauh dalam ilmu silat dibandingkan denganmu dan biarlah kami akan berlatih dengan lebih tekun. Akan tetapi, setelah urusan yang mengganggu kami ini dapat dihindarkan, sekarang engkau harus menceritakan keperluanmu datang berkunjung ini.”

Suma Lian menarik napas panjang. Memang sejak tadi selalu ditahannya berita yang tidak menyenangkan itu karena keluarga ini sedang menghadapi ancaman bahaya. Dan setelah kini bahaya itu lewat, tentu saja ia harus menceritakannya.

“Aku datang berkunjung karena diutus oleh kongkong, Paman. Beliau meminta supaya Paman berdua dan sekeluarga suka datang menengok beliau karena pada waktu ini kongkong sedang menderita sakit...“

“Ayah sakit...?” Dua orang kakek kembar itu berseru hampir berbareng.

“Lian-ji, kenapa tidak dari kemarin engkau memberi tahu kami?” Gak Jit Kong menegur dengan muka sedih.

“Ayah sakit apakah, Suma Lian?” sambung Gak Goat Kong.

“Aku memang menahan berita ini ketika melihat keluarga Paman terancam bahaya agar jangan menambahi gelisah. Sebetulnya, penyakit kongkong adalah penyakit biasa, yaitu kelemahan setiap orang yang usianya sudah terlalu tua, demikian menurut keterangan kongkong sendiri. Karena itu, diharap agar Paman sekalian suka berkunjung ke sana sekarang juga.”

“Ahhh, ayah...“

Kedua orang kembar itu merasa gelisah dan berduka, mengingat betapa selama ini mereka gagal mencari ayah mereka. Sampai kurang lebih sepuluh tahun semenjak ayah mereka meninggalkan Puncak Telaga Warna, mereka tidak pernah mendengar tentang ayah mereka lagi, apa lagi melihatnya.

“Di mana dia?” tanya Gak Jit Kong. “Jauhkah dari sini?”

“Tidak jauh, hanya di lereng Cin-ling-san, pegunungan itu nampak dari sini kalau siang hari, Paman.”

Dua orang kembar itu terkejut dan girang. Ternyata ayah mereka berada di gunung sebelah! Malam itu mereka tidak tidur lagi dan mereka berdua bertanya tentang ayah mereka dan mereka berdua terharu bukan main mendengar betapa ayah mereka kini berjuluk Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama) dan bahkan ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Suma Lian, kakek itu seperti seorang jembel tua yang kotor dan tidak waras!

“Aihhh, akulah yang berdosa terhadap ayah mertuaku...“ Tiba-tiba Hui Lian menangis ketika melihat betapa dua orang suaminya berlinangan air mata. “Akulah yang membuat kalian berdua menjadi anak-anak yang tidak berbakti, membuat hati ayah kalian menjadi merana dan kecewa...“

Hui Lian menangis sesenggukan. Dia tidak dapat menahan kesedihannya lagi dan dia pun merangkul puteranya. Ciang Hun kemudian ikut menangis pada saat melihat betapa ibunya menangis sedih.

Melihat sikap isteri mereka itu, Beng-san Siang-eng menjadi terharu dan wajah mereka diliputi kedukaan, “Hui Lian, kamilah yang bersalah terhadap ayah!” kata Gak Jit Kong.

“Engkau tidak bersalah, dan biarlah nanti kami yang akan mohon ampun kepada ayah.” sambung Gak Goat Kong.

Suma Lian adalah seorang gadis yang memiliki perasaan yang peka, mudah tersentuh sehingga ia mudah riang gembira dan jenaka, akan tetapi mudah pula terharu. Melihat Hui Lian menangis, diikuti puteranya, dan melihat pula sikap dua orang kakek kembar itu yang gagah perkasa dan masing-masing mengakui kesalahan dengan isteri mereka, ia pun merasa terharu sekali sampai kedua matanya menjadi basah.

Ia dapat merasakan cinta kasih yang besar antara dua orang kembar itu dengan isteri mereka. Keadaan mereka itu memang amat ganjil bagi Suma Lian dan ia tidak dapat menyelaminya, namun ia dapat merasakan kasih sayang yang amat mendalam di dalam keluarga orang kembar ini.

“Paman dan Bibi, harap kalian jangan berduka. Ketahuilah bahwa kongkong sering kali membicarakan tentang Paman dan Bibi dengan sikap yang amat mencinta dan rindu. Dari kata-katanya aku dapat memastikan bahwa beliau sama sekali tidak marah kepada kalian, apa lagi membenci.”

Mendengar ini, dua orang saudara kembar itu memandang kepada Suma Lian dengan sinar mata penuh harapan. “Suma Lian, benarkah kata-katamu barusan ataukah hanya hiburan belaka untuk kami?” tanya Gak Goat Kong.

“Paman, mana aku berani membohong?”

“Sudahlah, mari kita semua berangkat. Andai kata ayah marah-marah kepada kita sekali pun, hal itu sudah sepatutnya dan kita hanya bisa minta maaf kepadanya. Yang penting, kita dapat bertemu dan menghadap ayah. Aihh, Lian-ji, betapa selama bertahun-tahun ini kami bersusah payah mencari ayah, namun selalu gagal,” kata Gak Jit Kong.

Konflik atau pertentangan yang terjadi antara kita dengan orang lain, sama sekali tidak dapat diatasi dengan prasangka, dengan sikap ingin benar sendiri dan ingin menang sendiri. Konflik akan makin memuncak kalau kita saling menilai keadaan orang lain itu, karena penilaian selalu dipengaruhi keadaan hati seseorang, didasari rasa suka dan tidak suka yang timbul dari si aku yang merasa diuntungkan atau dirugikan.

Kalau kita sedang bertentangan dengan seseorang, biasanya kita selalu menilai orang itu, segala sikap dan perbuatannya terhadap kita yang tentu saja menimbulkan nilai buruk karena orang itu kita anggap merugikan. Penilaian ini akan menambah tebalnya kebencian dan permusuhan.

Akan tetapi, cobalah kita mulai mengarahkan pengamatan kepada diri kita sendiri, sikap dan perbuatan kita sendiri tanpa penilaian, tetapi dengan pengamatan yang waspada, tanpa memihak, menyalahkan atau membenarkan diri sendiri. Maka, akan nampak jelas bahwa segala sebab yang mengakibatkan pertentangan, sebagian besar terletak dalam diri kita sendiri masing-masing.

Pengamatan terhadap diri ini akan dapat mendatangkan perubahan, dan ini menghapus pertentangan, sebab konflik keluar hanyalah pencerminan dari konflik yang terjadi dalam diri sendiri. Pengamatan kita terhadap diri sendiri, setiap saat, akan mengubah semua ulah kita terhadap orang lain, tidak mudah mata kita dibutakan oleh nafsu belaka, tidak mudah kita menjadi ‘mata gelap’ seperti dikatakan orang-orang bijaksana di jaman dahulu bahwa musuh yang paling kuat, paling berbahaya, paling licik, adalah diri sendiri, pikiran sendiri! Setan pembujuk dan penipu bukan berada di luar diri kita sendiri! Karena itu, pengamatan yang waspada terhadap diri sendiri akan melumpuhkan setan ini!


Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali berangkatlah keluarga Beng-san Siang-eng yang terdiri dari dua orang suami, satu isteri dan satu anak itu, mengikuti Suma Lian, menuju ke Pegunungan Cin-ling-san yang luas dan mempunyai banyak bukit-bukit. Di satu di antara lereng bukit inilah kini tinggal Bu Beng Lokai.....

********************

Bukit itu mempunyai sumber air dan tanahnya amat subur, penuh dengan pohon-pohon besar. Di tengah sebuah di antara hutan-hutan yang memenuhi bukit yang merupakan anak bukit Pegunungan Cin-ling-san ini terdapat sebuah pondok. Tidak besar, hanya terbuat dari kayu-kayu pohon besar, dan memiliki dua buah kamar saja. Namun pondok itu terawat bersih, dan di depannya bahkan terdapat sebuah taman bunga yang indah.

Inilah tempat tinggal Bu Beng Lokai bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian. Muridnya yang bernama Suma Lian telah kita kenal, dan Suma Lian masih terhitung cucu keponakannya sendiri, atau lebih tepat, cucu keponakan mendiang isterinya. Ada pun muridnya yang ke dua, juga seorang gadis yang bernama Pouw Li Sian, usianya sebaya dengan Suma Lian, hanya lebih muda beberapa bulan saja.

Seperti Suma Lian, Pouw Li Sian ini juga tekun belajar silat dan kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Ia juga cantik manis, dengan tahi lalat kecil di dagunya yang meruncing, menambah manis. Tetapi, wataknya sungguh jauh berbeda dengan Suma Lian.

Jika Suma Lian seorang gadis lincah, jenaka gembira yang kadang-kadang ugal-ugalan, dengan pakaian yang nyentrik dan seenaknya, sebaliknya Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang cantik dan halus gerak-geriknya, sopan santun tutur katanya, dan biar pun pakaiannya juga sederhana dan tambal-tambalan seperti pakaian gurunya dan pakaian Suma Lian, namun potongan pakaian itu rapi dan sopan.

Di dalam kisah SULING NAGA telah diceritakan betapa Pouw Li Sian ini adalah seorang keturunan bangsawan tinggi. Mendiang ayahnya adalah seorang menteri, seorang bangsawan tinggi yang berjiwa satria.

Pada waktu Pouw Tong Ki, demikian nama menteri itu, masih duduk sebagai Menteri Pendapatan, ia telah bentrok dengan pembesar tinggi Hou Seng, thaikam (orang kebiri) yang menjadi kekasih kaisar dan karenanya mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan kekuasaan yang tak terbatas. Dalam bentrokan inilah Pouw Tong Ki kena fitnah dan bahkan terbunuh oleh kaki tangan Hou Seng yang bersekutu dengan datuk-datuk sesat dari golongan hitam.

Seluruh keluarganya lalu terbasmi dan ditangkap sebagai pemberontak karena difitnah, kecuali Pouw Li Sian, puteri menteri itu yang dapat diselamatkan oleh Bu Beng Lokai. Ketika peristiwa itu terjadi, Pouw Li Sian baru berusia dua belas tahun dan bersama Suma Lian ia lalu diajak pergi oleh Bu Beng Lokai sebagai muridnya.

Kini Li Sian telah berusia dua puluh tahun, dan selama delapan tahun itu ia ikut bersama guru dan suci-nya (kakak seperguruannya) merantau, hidup menempuh kesulitan dan kekerasan serta kekurangan. Dan akhirnya, dua tahun yang lalu, gurunya menetap di dalam hutan di lereng bukit Pegunungan Cin-ling-San itu.

Li Sian, seperti juga Suma Lian, sangat sayang kepada gurunya, karena selain sebagai penyelamat dirinya, juga Bu Beng Lokai adalah satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangnya. Seperti juga Suma Lian ia tidak menyebut suhu (guru) kepada Bu Beng Lokai, melainkan kongkong (kakek) dan hal ini diterima dengan senang oleh kakek itu karena dia merasa seolah-olah puteri menteri itu adalah seorang cucunya sendiri, seperti Suma Lian. Dan hubungan antara Suma Lian dan Pouw Li Sian juga akrab sekali karena mereka hidup berdua di bawah asuhan kakek sakti itu sehingga mereka seolah-olah dua orang kakak beradik saja.

Ketika melihat kakek itu makin lemah karena usia yang tua, sudah mendekati seratus tahun, nampak semakin malas dan lebih sering bersemedhi atau tidur, mulailah kedua orang kakak beradik seperguruan itu merasa khawatir. Akhirnya kakek yang gagah itu pun harus mengalah dan mengakui keunggulan sang waktu.

Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, sedikit demi sedikit akan lenyap ditelan sang waktu. Demikian pula kehidupan manusia. Sang waktu akan menelan manusia sedikit demi sedikit melalui usia. Tanpa terasa manusia mendapatkan dirinya makin tua, makin dekat dengan saat akhir di mana dia harus mengakui kelemahan dirinya, mengakui betapa kehidupan ini tidaklah abadi, dan kematian akan menjemputnya dan mengakhiri segala perjalanan hidupnya.

Ketika kakek itu lebih banyak berbaring dengan lemah, dan sering kali mengigau dalam tidur memanggil-manggil nama kedua anak kembarnya, Suma Lian lalu memberanikan diri mengajukan usul kepada kongkong-nya, setelah berunding dengan sumoi-nya, Li Sian.

“Kongkong, bagaimana kalau aku pergi ke Beng-san dan menemui kedua orang paman Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, memberi tahu mereka bahwa Kongkong berada di sini dan mengajak mereka untuk datang ke sini?” demikian usulnya sambil duduk di tepi pembaringan kakek itu, sementara itu Li Sian memijati kaki gurunya.

Kakek itu membuka matanya dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar, akan tetapi menjadi redup kembali, kemudian dia menghela napas panjang dan terdengar kata-katanya, seperti kepada diri sendiri, hanya lirih saja. “Ahhh, mereka tidak akan mau datang menengokku, mereka telah melupakan ayah mereka...“

Melihat, sikap kongkong-nya ini, Suma Lian lalu berunding dengan sumoi-nya dan Pouw Li Sian juga merasa setuju untuk mengundang putera kembar guru mereka itu. Akhirnya diputuskan bahwa Suma Lian akan pergi mengabarkan kepada Beng-san Siang-eng, sedangkan Pouw Li Sian tetap tinggal di rumah itu untuk menjaga dan melayani semua keperluan gurunya.

Setelah Suma Lian pergi dan pada suatu pagi Bu Beng Lokai menanyakan kepada Li Sian ke mana perginya suci-nya itu, Li Sian terus terang mengatakan bahwa suci-nya itu pergi ke Beng-san untuk mengundang Beng-san Siang-eng. Wajah kakek itu nampak berseri dan sinar matanya penuh harap sehingga diam-diam Li Sian merasa terharu dan bersyukur bahwa suci-nya mempunyai pendapat yang amat baik untuk mengundang kedua orang pendekar kembar itu.

Beberapa hari kemudian, Li Sian duduk di depan pondok bersama gurunya. Kakek Bu Beng Lokai nampak agak segar pagi itu, dan begitu merasa tubuhnya sehat, dia pun duduk di depan pondok untuk membiarkan sinar matahari pagi memandikan dirinya. Li Sian sudah selesai berlatih dan mencuci pakaian dan kini ia menemani kakek itu duduk di luar pondok. Kakek itu sudah sarapan bubur yang tadi dipersiapkan Li Sian dan gadis itu duduk di atas sebuah bangku kecil, di sebelah kanan gurunya yang membuka baju atas membiarkan sinar matahari menghangatkan dadanya.

“Saya gembira sekali, pagi ini Kongkong nampak sehat sekali,” berkata Li Sian sambil memandang kakek itu dengan sinar mata penuh hormat dan sayang.

Bu Beng Lokai memandang muridnya itu dan tersenyum. “Li Sian, aku sudah lama tidak melihat engkau berlatih. Sekarang cobalah engkau mainkan Lo-thian Sin-kun, aku ingin sekali melihat sampai di mana kemajuanmu.”

“Baik, Kongkong,” kata Li Sian.

Gadis ini bangkit berdiri lalu meloncat ke tengah pekarangan depan rumah itu, di dekat taman bunga yang dirawatnya dengan amat baik bersama suci-nya. Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun dan Lo-thian Kiam-sut memang merupakan dua buah ilmu silat tinggi yang telah disempurnakan oleh kakek itu dan merupakan inti dari pada ilmu-ilmu yang diajarkan kepada dua orang muridnya. Setelah memberi hormat dengan mengepal tangan kanan dilekatkan tangan kiri yang terbuka di depan ulu hati dan menghadap gurunya, Li Sian lalu bersilat.

Indah bukan main gerakan gadis ini. Orangnya memang cantik, bentuk tubuhnya indah. Tubuh seorang dara yang sedang masak-masaknya, dengan pinggang ramping dan lekuk lengkung tubuh yang sempurna, penuh sifat kehalusan dan kelembutan seorang wanita, maka gerakan silat itu sungguh amat indah. Memang Bu Beng Lokai yang sudah mendalami ilmu silat sampai ke intinya, menekankan segi-segi terpenting dari ilmu silat.

Di dalam gerakan ilmu silat terkandung seni tari yang indah, gerakan tubuh demikian hidup dan penuh keindahan, juga mengandung seni olah raga yang menyehatkan tubuh sebab gerakan-gerakan itu memperlancar jalan darah bahkan mengendalikan hawa dan tenaga sakti dalam tubuh. Selain seni tari dan olah raga, juga mengandung pengaruh menyehatkan batin di samping ilmu bela diri.

Permainan Li Sian memang indah sekali, juga gerakannya mantap, setiap pukulan atau tangkisan mengandung tenaga yang nampaknya halus namun sesungguhnya amat kuat karena gadis ini pun sudah menguasai penggunaan Tenaga Inti Bumi, bahkan sudah mahir pula mempergunakan Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang dari Pulau Es!

Kecepatannya mengagumkan sehingga diam-diam Bu Beng Lokai mengangguk-angguk bangga. Keindahan, kecepatan, kekuatan, tiga hal ini sudah terwujud dalam ilmu silat yang dimainkan Li Sian.

“Ambil ranting dan pergunakan sebagai pedang, mainkan Lo-thian Kiam-sut,” kata Bu Beng Lokai.

Tubuh gadis itu tiba-tiba berkelebat ke atas, ke arah sebatang pohon di tengah taman bunga dan ketika berkelebat kembali ke depan gurunya, ia sudah memegang sebatang ranting pohon. Sekali menggerakkan ranting itu, daun-daun yang melekat di situ rontok dan mulailah ia memainkan ilmu pedang yang diminta gurunya. Seperti juga ilmu silat tangan kosong yang tadi dimainkan dengan halus namun dengan kecepatan yang luar biasa, membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar hijau dari ranting itu, sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya!

Melihat kemajuan muridnya ini, timbul kegembiraan hati Bu Beng Lokai dan tiba-tiba dia sudah bangkit berdiri. “Li Sian, mari kita latihan bersama!” katanya gembira.

Dan kakek itu sudah meloncat memasuki gulungan sinar pada ranting pohon yang dimainkan sebagai pedang oleh gadis itu. Dia mainkan kedua tangannya dan kakinya bergerak dalam langkah-langkah ajaib Sam-po Ci-keng dan melihat ini, Li Sian girang bukan main. Ini menandakan bahwa gurunya itu telah sehat benar!

Maka, ia pun melayani gurunya dan mereka berlatih bersama. Biar pun sudah tua dan baru saja sembuh dari keadaan tidak sehat, namun begitu tubuhnya bergerak dalam permainan silat, tubuh itu seperti mendapatkan kekuatan baru dan gerakannya lincah dan kuat! Li Sian juga bersilat dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk mengalahkan gurunya.

Namun, biar gurunya sudah sangat tua, bagaimana pun juga dia kalah jauh dalam hal kematangan ilmu silat dan pengalaman. Tiba-tiba ujung ranting yang dimainkan sebagai pedang itu dapat tertangkap oleh tangan kanan kakek itu. Li Sian mengerahkan tenaga untuk merampas kembali senjatanya, kakek itu mempertahankan.

“Krekkk!” Ranting itu patah-patah dan keduanya melompat ke belakang. Wajah Li Sian berubah merah.

“Wah, Kongkong sudah sehat benar, sudah mampu mengalahkan saya dengan amat mudah!” kata Li Sian.

Bu Beng Lokai berkata setelah menghapus peluhnya yang membasahi tubuh atas itu dengan bajunya.

“Li Sian, pada saat lawan berhasil menangkap senjata, kesempatan itulah yang teramat baik untuk menyerangnya. Biarkan ia kegirangan karena berhasil menangkap senjatamu sehingga dia lengah. Dan pada detik itu pula muncul kesempatan yang teramat baik untuk merobohkannya.”

“Maksud Kongkong, saya tidak seharusnya mengerahkan tenaga untuk coba merampas kembali senjata yang sudah tertangkap, tetapi menggunakan saat itu untuk menyerang lawan dengan tangan kiri?”

Kakek itu mengangguk. “Benar, tertangkapnya senjatamu merupakan pancingan yang tidak disengaja dan dapat berhasil baik. Lawan akan lengah dan saat itu engkau dapat mempergunakan tangan kiri atau kakimu untuk menyerangnya. Ini berarti membiarkan kemenangan datang melalui kekalahan. Kelihatannya saja engkau sudah kalah karena senjatamu tertangkap, akan tetapi kekalahan itu justeru membuka kesempatan bagimu untuk memperoleh kemenangan. Mengertikah engkau?”

“Saya mengerti, Kongkong.”

“Nah, bagus. Bagaimana pun juga, engkau sudah memperoleh kemajuan yang cukup baik. Tentu selama aku mengaso dan tak mampu mengawasimu, engkau terus berlatih dengan giat.”

“Ahhh, betapa pun kerasnya saya berlatih, masih sukar bagi saya untuk mengimbangi kemajuan suci, Kongkong.”

Kakek itu tersenyum. “Bukan salahmu. Suma Lian memang berbakat sekali, dan selain itu, ingatlah bahwa ia keturunan langsung dari ayah mertuaku, Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es! Bahkan ayah ibunya juga merupakan sepasang pendekar yang sakti. Sejak kecil ia sudah digembleng ayah ibunya dan ketika ia menjadi muridku, ia telah memiliki dasar yang kuat sekali, berbeda dengan engkau yang ketika itu belum pernah mempelajari ilmu silat sama sekali. Ilmu kepandaian silat mendiang ayahmu, Menteri Pouw Tong Ki itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat ayah ibu Suma Lian. Ketahuilah, Li Sian, bahwa ilmu-ilmu dari Pulau Es amat tinggi dan karenanya tidak mudah dikuasai dengan sempurna. Misalnya saja Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang yang pernah kau latih itu, kiranya sekarang sukar mencari orang yang mampu menguasainya sesempurna mendiang ayah mertuaku! Mungkin hanya Suma Ceng Liong ayah Suma Lian saja yang saat ini memiliki tingkat paling tinggi dalam hal ilmu silat keluarga Pulau Es. Akan tetapi, bekalmu sudah lebih dari cukup. Kalau engkau giat berlatih dan ditambah pengalaman-pengalamanmu nanti, kiranya engkau tidak akan tertinggal terlalu jauh. Eh, mengapa Suma Lian belum juga pulang?”

Li Sian masih duduk bersila di atas batu datar untuk mengatur pernapasan, memulihkan tenaga setelah latihan tadi. Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia pun menjawab. “Menurut perhitungan Lian-suci, mestinya kemarin ia sudah pulang. Saya kira hari ini ia akan pulang, Kongkong.”

Kakek itu mengangguk-angguk, lalu duduk bersila pula di atas batu datar lain yang banyak terdapat di pekarangan itu. “Aku harus mengaso, sedikit latihan tadi melelahkan tubuhku, akan tetapi juga amat menggembirakan dan memberi semangat,” katanya.

Dan tidak lama kemudian, Bu Beng Lokai sudah tenggelam dalam semedhinya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner