KISAH SI BANGAU PUTIH : JILID-22


Pada waktu mereka berdua tiba di ruangan makan, di situ sudah duduk Sin-kiam Mo-li, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Bi-kwi, Tiat-liong Kiam-eng suheng dari Siangkoan Liong tadi, juga Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin, serta beberapa orang tokoh lain yang menjadi pembantu atau sekutu ketua Tiat-liong-pang. Mereka semua duduk menghadapi meja makan dan agaknya mereka sedang makan minum, atau baru saja selesai. Pada waktu melihat Siangkoan Liong datang memasuki ruangan makan sambil menggandeng tangan Pouw Li Sian, mereka semua bangkit berdiri untuk menghormati Siangkoan Liong, kemudian mereka memandang kepada gadis yang baru saja kematian kakak kandungnya itu.

“Para locianpwe dan saudara sekalian, kami membawa berita baik, yaitu bahwa nona Pouw Li Sian dan saya akan bertunangan, peresmiannya sebulan dari sekarang,” kata Siangkoan Liong dengan wajah berseri gembira.

Mendengar ini, semua yang hadir menyambut dengan gembira. Ada yang bersorak, ada yang tertawa, kecuali tentu saja Bi-kwi yang hanya tersenyum saja dan sedetik wanita ini melempar pandang mata tajam ke arah wajah Pouw Li Sian.

“Ahh, kalau begitu, kita harus memberi ucapan selamat kepada sepasang calon mempelai ini dengan suguhan secawan arak!” kata Sin-kiam Mo-li.

Wanita ini kemudian menuangkan arak yang kemerahan dari sebuah cawan. Bau arak semerbak harum ketika arak itu mengalir ke dalam dua buah cawan bersih. Setelah dua cawan ini penuh arak merah yang harum, Sin-kiam Mo-li kemudian membawanya dan menghampiri Siangkoan Liong dan Pouw Li Sian yang masih berdiri. Dengan sikap dan suara merdu menarik wanita ini menyuguhkan dua cawan arak sambil berkata dengan gembira.

“Perkenankanlah saya menghaturkan selamat atas nama semua kawan yang hadir di sini kepada Ji-wi yang berbahagia,” katanya.

Semua orang telah mengisi cawan arak mereka masing-masing, kemudian mereka pun ramai-ramai mengangkat cawan arak mereka sambil membujuk dan berkata, “Selamat kepada Siangkoan-kongcu dan Pouw-siocia!”

Pouw Li Sian sejak kedatangannya pertama sudah merasa tidak senang kepada wanita cantik yang genit itu, dan tadi dia merasa ragu untuk menerima suguhan arak ucapan selamat itu. Akan tetapi melihat betapa semua orang sudah mengangkat cawan arak mereka, dan melihat pula betapa Siangkoan Liong juga sudah menerimanya, terpaksa dia menerimanya pula. Mereka semua lalu minum arak masing-masing sampai habis secawan penuh. Semua orang lalu bertepuk dan bersorak.

“Cu-wi (saudara sekalian), karena kita sudah makan kenyang, dan agaknya kedua calon pengantin belum makan, maka sebaiknya kalau kita tidak ganggu mereka dan biarlah mereka makan berdua saja dengan asyik.” Semua orang tertawa dan setelah memberi hormat, mereka keluar dari ruangan makan itu sambil tertawa-tawa.

Siangkoan Liong memanggil pelayan. Empat orang pelayan datang dan dia menyuruh mereka membersihkan meja, kemudian menghidangkan masakan-masakan baru untuk mereka berdua.

Mereka lalu makan minum dan perlahan-lahan, Li Sian sudah melupakan kedukaannya. Ia merasa semakin gembira dan berbahagia, kedua pipinya merah, sinar matanya tajam dan wajahnya berseri, senyumnya tak pernah meninggalkan bibir. Bahkan ia pun hanya tersenyum kalau Siangkoan Liong bersikap dan bicara terlalu mesra, dan ia pun tidak menolak ketika pemuda itu menyuapinya dengan sumpitnya, memilihkan daging yang paling lunak. Mereka pun makan minum sambil berkasih-kasihan.

Li Sian sama sekali tidak tahu bahwa arak yang disuguhkan oleh Sin-kiam Mo-li tadi, untuk menghormatinya, diam-diam telah dimasuki bubuk merah oleh wanita itu. Arak itu telah menjadi arak obat perangsang! Hal ini diketahui pula oleh Siangkoan Liong yang memang sudah mengaturnya bersama wanita itu dan para pembantunya yang lain.

Mereka semua maklum bahwa gadis yang menjadi murid keluarga Pulau Es ini, kalau dapat ditundukkan akan menjadi kawan yang amat berguna, sebaliknya kalau menjadi lawan, ia amat berbahaya. Dan cara satu-satunya untuk menundukkan adalah kalau ia dapat menjadi kekasih atau isteri Siangkoan Liong.

Bahkan ketika Siangkoan Liong, setelah mereka selesai makan, menggandengnya dan mengajaknya masuk ke kamar pemuda itu, Li Sian tidak sadar lagi dan menurut saja seperti seekor domba dituntun ke dalam rumah jagal. Gadis ini pun sama sekali tidak tahu bahwa di luar jendela kamar itu, nampak dua orang yang berdiri sambil bersedakap dan mulut mereka berkemak-kemik.

Mereka adalah Sin-kiam Mo-li dan Thian Kek Sengjin, tokoh besar dari perkumpulan Pek-lian-kauw itu. Mereka berdua adalah ahli-ahli sihir, dan seperti yang telah mereka rundingkan bersama Siangkoan Liong, mereka berdua sekarang membantu pemuda itu, mengerahkan ilmu sihir mereka untuk mempengaruhi Li Sian.

Gadis itu tak berdaya lagi. Memang di dalam hatinya sudah terdapat rasa suka, kagum dan tertarik kepada Siangkoan Liong. Hal ini ditambah lagi bahwa ia kini berada dalam keadaan duka sehingga batinnya menjadi lemah. Kemudian dia pun sudah terlena oleh bujuk rayu Siangkoan Liong dan juga keputusan Siangkoan Lohan di kuburan kakaknya, bahwa ia telah ditunangkan dengan Siangkoan Liong.

Dalam makan minum lagi, sebelumnya dia pun sudah menerima arak obat perangsang dari Sin-kiam Mo-li dan kini, di bawah pengaruh kekuatan sihir dua orang itu, dan bujuk rayu Siangkoan Liong, tentu saja habislah semua daya tahannya. Ia sama sekali tidak melakukan perlawanan dan terulang kembalilah peristiwa dalam kamar itu seperti yang pernah dialami oleh Kwee Ci Hwa.

Baru pada keesokan harinya, Li Sian diam-diam merasa menyesal bukan main dan mencela diri sendiri yang demikian lemahnya. Akan tetapi, semuanya telah terjadi dan karena Siangkoan Liong amat pandai menghiburnya, apa lagi karena pemuda itu adalah calon suaminya sendiri, maka Li Sian akhirnya takluk dan tunduk, tidak lagi menyesali perbuatannya. Sama sekali dia tidak sadar bahwa dia telah menjadi korban dari siasat yang amat lihai, yang telah diatur oleh Siangkoan Liong bersama para sekutunya untuk menjatuhkannya, untuk menariknya menjadi pembantu mereka yang setia.

Masih untung bagi Li Sian bahwa ia memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga nasibnya tidak seperti Kwee Ci Hwa yang dicampakkan begitu saja, seperti sampah tebu setelah manisnya dihisap habis. Dan ia pun mencinta calon suaminya dengan sepenuh hatinya, bahkan ia kini percaya benar akan sucinya perjuangan yang sedang direncanakan oleh calon ayah mertuanya.....

********************

Pria yang duduk bersila seorang diri di dalam gubuk itu usianya sudah mendekati lima puluh tahun. Belum tua benar, namun wajahnya sudah mulai nampak tua karena penuh guratan derita hidup yang membayang pada wajahnya yang masih nampak tampan. Muka yang berbentuk bulat dengan kulit agak gelap, tubuhnya tegap dan pakaiannya sederhana walau pun rapi dan bersih.

Gubuk itu berada di lereng Pegunungan Tapa-san, di dekat sumber air yang kemudian mengalir menjadi awal Sungai Han Sui. Pemandangan alam di situ indah sekali, dan sunyi karena dusun-dusun terletak jauh di sebelah bawah, di mana terdapat tanah pertanian di sepanjang kedua tepi sungai yang subur. Pertapa di dalam gubuk itu adalah Suma Ciang Bun, seorang di antara cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.

Semenjak muridnya, Gu Hong Beng, pergi dua tahun yang lalu meninggalkannya untuk melakukan perjalanan merantau dan menentang gerakan para tokoh sesat, Suma Ciang Bun berdiam seorang diri dalam gubuknya di lereng Pegunungan Tapa-san yang sunyi itu. Ia hidup menyendiri, bercocok tanam sedikit, hanya cukup untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan waktu selebihnya hanya diisi dengan semedhi. Dia sudah tidak ingin lagi mencampuri urusan dunia ramai dan di dalam tempat yang sunyi itu, pendekar ini telah memperoleh kedamaian batin. Dia tidak ingin mengganggu ketenteraman batinnya itu dengan segala urusan dunia yang baginya selalu hanya menimbulkan pertentangan dan keruwetan belaka.

Tidak dapat disangkal bahwa kedamaian terdapat di dalam batin, dan tergantung dari keadaan batin, bukan dari keadaan di luar. Segala keinginan timbul dari batin sendiri, bukan dari keadaan di luar. Hal ini tentu saja memang benar. Akan tetapi tidak boleh diremehkan daya tarik keadaan di luar batin sendiri.

Tempat yang sunyi dan tenteram mempunyai banyak pengaruh terhadap ketenteraman batin, seperti juga benda-benda yang memiliki daya tarik bagi keinginan batin. Jauh dari benda-benda itu tentu sedikit sekali membangkitkan keinginan, tak seperti kalau benda-benda itu berada di depan mata.

Biar pun demikian, tentu saja yang menentukan semuanya adalah keadaan batin itu sendiri. Batin yang kosong dan damai akan tetap tenang biar orangnya berada di tempat ramai, sebaliknya batin yang penuh persoalan dan tegang akan tetap merana biar pun orangnya berada di tempat yang sunyi
.

Karena Suma Ciang Bun memang tidak mempunyai keinginan apa pun, tidak memiliki pamrih atau cita-cita apa pun, maka dia sama sekali bukan melakukan pertapaan yang menyiksa diri seperti banyak dilakukan orang yang ingin mencapai sesuatu. Ada banyak orang-orang yang melakukan tapabrata untuk berprihatin, dengan pamrih agar sesuatu yang diinginkannya akan tercapai, dan tapa seperti ini sering kali disertai penyiksaan diri, seperti menahan lapar, menahan haus, menahan kantuk, dan sebagainya sampai berhari-hari, bahkan berminggu atau berbulan.

Akan tetapi Suma Ciang Bun tidak melakukan penyiksaan diri. Ini bukan berarti bahwa dia menuruti semua nafsu badannya, bukan ingin menyenangkan tubuhnya, karena jika demikian halnya, tidak ada bedanya dengan para pertapa yang ingin mencari sesuatu yang diinginkan.

Pada saat perutnya berkuruyuk, Suma Ciang Bun sadar dari semedhinya dan dia pun teringat bahwa sudah tiba saatnya perutnya diisi karena sejak kemarin sore, dia belum lagi mengisi perut, dan hari ini matahari sudah naik tinggi. Dengan tenang dia pun turun dari tempat semedhi, menuju ke luar gubuk melalui pintu gubuk yang semenjak pagi tadi telah dibukanya lebar-lebar sehingga hawa pegunungan memenuhi gubuknya. Dia pergi ke bagian belakang gubuk, di sebelah luar dan nampaklah asap mengepul ketika Suma Ciang Bun membuat api dan menanak nasi, memasak air dan sayuran, dengan bumbu sederhana.

Selagi dia masak itulah terdengar langkah kaki orang dan dia pun menengok. Kiranya ada tiga orang yang berjalan menghampirinya dari depan gubuk. Seorang gadis yang cantik dan lincah berusia sekitar dua puluh satu tahun, seorang pemuda yang wajah dan pakaiannya sederhana, pakaian yang serba putih, berusia sekitar dua puluh dua tahun, dan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun yang tampan dan matanya bersinar tajam.

Suma Ciang Bun tidak mengenal siapa mereka itu dan dia memandang heran sambil mengingat-ingat. Hanya gadis itulah dia merasa seperti pernah mengenalnya. Gadis itu pun segera lari menghampirinya dan memegang lengannya.

“Paman Suma Ciang Bun! Lupakah Paman kepadaku?” kata Suma Lian sambil tertawa gembira. “Aku adalah Suma Lian!”

Suma Ciang Bun terbelalak memandang gadis itu. “Aihhh, engkau, Lian-ji? Wah, sudah begini dewasa engkau! Angin apakah yang meniupmu sampai ke sini? Dan siapakah mereka itu?”

Dia memandang kepada pemuda dan anak laki-laki itu dengan alis berkerut. Gadis ini adalah keponakannya, keponakan dalam, tapi sebetulnya juga tunangan dari muridnya. Semenjak Suma Lian berusia dua belas tahun, gadis ini telah dijanjikan oleh mendiang neneknya untuk menjadi isteri Gu Hong Beng, muridnya itu.

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi itu Suma Lian tersenyum. “Dia adalah saudara Tan Sin Hong, Paman. Kami berjumpa dalam perjalanan dan berkenalan. Ternyata antara dirinya dengan keluarga kita masih ada hubungan dekat, Paman. Dan tahukah Paman, siapa guru-gurunya? Kakek Kao Kok Cu dan isterinya, penghuni Istana Gurun Pasir, juga kakek Wan Tek Hoat. Tiga orang sakti itu telah menggemblengnya di Istana Gurun Pasir.”

Tentu saja Suma Ciang Bun terkejut bukan main mendengar keterangan itu dan dia pun membalas penghormatan Sin Hong kepadanya sambil memandang pemuda itu dengan penuh perhatian. “Ah, kiranya murid para locianpwe yang sakti itu. Sungguh beruntung dapat berjumpa dengan seorang pemuda yang gagah perkasa. Dan siapakah anak ini?”

Dia memandang kepada Yo Han, seorang anak laki-laki yang memiliki sikap gagah dan sepasang mata yang mencorong. Suma Ciang Bun merasa suka sekali, dan dia agak tercengang ketika anak itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya. Dia mengelus rambut kepala anak itu.

“Aihhh, anak yang baik, tidak perlu melakukan penghormatan seperti itu. Bangkitlah.” katanya lembut.

“Paman, dia bernama Yo Han. Ayahnya adalah paman Yo Jin dan kurasa Paman sudah mendengar nama ibunya yang gagah perkasa, yaitu bibi Ciong Siu Kwi...“

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.

“Ciong Siu Kwi...,“ katanya perlahan.

Dia sudah banyak mendengar akan nama ini dari muridnya. Bukankah wanita iblis yang amat jahat, akan tetapi kemudian telah mengubah jalan hidupnya setelah dia menikah dengan seorang pemuda petani, bahkan kemudian menjadi orang yang mengasingkan diri dari dunia persilatan?

“Apakah dia yang berjuluk Bi-kwi...?”

Suma Lian mengangguk. “Benar sekali, Paman.”

Suma Ciang Bun memandang kepada anak itu dengan kagum. Dan anak laki-laki ini adalah putera bekas iblis betina itu?

“Akan tetapi, mengapa dia ikut denganmu? Apa yang telah terjadi...?”

“Panjang ceritanya, Paman...”

“Ahh, benar juga. Sampai lupa aku. Marilah kalian masuk, kita bicara di dalam,” ajaknya sambil mendahului ketiga orang tamu itu memasuki gubuknya yang sederhana namun bersih.

Tidak ada kursi atau bangku di dalam gubuk itu. Lantainya ditilami jerami kering dan mereka duduk di atas tikar anyaman sendiri yang bersih dan lunak karena di bawah tikar itu terdapat lapisan jerami kering yang tebal.

Setelah mereka semua duduk di atas tikar itu, Suma Lian lalu menceritakan maksud kunjungannya. “Paman Suma Ciang Bun, sebetulnya kunjunganku ke sini adalah diutus oleh ayah dan ibu. Mereka rindu kepada Paman dan mengutusku untuk menengok dan menanyakan keselamatan Paman. Selain itu, apa bila Paman tidak merasa keberatan, ayah dan ibu ingin sekali supaya Paman suka pindah saja ke rumah kami dan tinggal bersama kami di sana, dari pada Paman hidup menyendiri di tempat sunyi ini. Kata ayah, dia dan Paman sudah mulai tua dan ayah ingin dekat dengan Paman.”

Mendengar ucapan keponakannya itu, Suma Ciang Bun merasa terharu, akan tetapi dia tersenyum.

“Ahhh, sejak dulu ayahmu memang amat baik! Aku sudah merasa cukup berbahagia di sini, akan tetapi undangan ayah ibumu itu bukannya tidak menarik. Berilah waktu, akan kupikirkan masak-masak dan kalau kelak aku ingin hidup santai dan tenang, aku akan datang ke rumah kalian.”

Selanjutnya, Suma Ciang Bun bertanya tentang Sin Hong dan Yo Han. Maka Suma Lian lalu berceritalah tentang pengalaman perjalanannya, betapa ia melihat Yo Han dilarikan penculik, kemudian ia berusaha menyelamatkannya dan nyaris tewas jika tidak ditolong oleh Sin Hong. Ia menceritakan betapa orang-orang golongan sesat itu telah menawan ayah dan ibu Yo Han. Mereka terpaksa menyerahkan diri demi menyelamatkan Yo Han yang dijadikan sandera oleh para penjahat.

“Saudara Tan Sin Hong ini dan aku bermaksud untuk melakukan penyelidikan terhadap para tokoh sesat yang kabarnya membuat gerakan untuk memberontak, Paman. Kami ingin melakukan penyelidikan terhadap Tiat-liong-pang di utara. Karena kami tidak ingin membawa Yo Han ke dalam bahaya sewaktu melakukan tugas itu, maka aku teringat untuk menitipkan dulu anak ini di sini, Paman. Tentu saja jika Paman tak berkeberatan dan hanya untuk sementara. Kelak, kalau tugas kami selesai, saudara Tan Sin Hong ini tentu akan menjemputnya, karena Yo Han telah menjadi muridnya.”

Mendengar ini, wajah Suma Ciang Bun berseri dan dia memandang kepada anak laki laki di depannya itu. Sejak melihatnya pertama kali, memang hatinya telah tertarik sekali dan dia merasa kagum dan suka kepada Yo Han. Oleh karena itu, mendengar ucapan Suma Lian, dia mengangguk-angguk.

“Baiklah, biarlah dia berada di sini saja selama kalian melaksanakan tugas penting itu. Ketahuilah bahwa muridku, Gu Hong Beng, juga sudah pergi merantau dua tahun yang lalu dan aku merasa yakin bahwa dia tentu tidak akan tinggal diam kalau mendengar akan pergerakan kaum sesat itu. Engkau tentu belum lupa kepada muridku Gu Hong Beng itu, bukan?” tanyanya sambil menatap tajam wajah manis keponakannya.

Suma Lian tersenyum, membuat wajahnya nampak makin cerah dan jelita. “Aih, Paman. Bagaimana mungkin aku dapat melupakan suheng Gu Hong Beng? Tidak akan pernah dapat kulupakan betapa dulu, ketika aku berusia dua belas tahun dan diculik oleh Sai-cu Lama, suheng Gu Hong Beng membelaku mati-matian.”

Gadis ini teringat akan pengalamannya ketika masih kecil itu, ketika ia diculik seorang datuk sesat, Sai-cu Lama, dan mengakibatkan kematian neneknya (baca kisah SULING NAGA).

Mendengar jawaban itu, Suma Ciang Bun merasa gembira sekali dan dia mendapat pikiran yang amat baik. Pemuda yang datang bersama Suma Lian ini adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi. Hal ini mudah diduga kalau mengingat betapa pemuda ini pernah menyelamatkan Suma Lian, apa lagi karena ketiga orang gurunya adalah tokoh-tokoh besar yang sakti.

Melihat pergaulan yang nampak akrab di antara pemuda itu dan keponakannya, timbul kekhawatiran dalam hatinya walau pun dia tidak merasa heran melihat pergaulan yang akrab antara muda mudi itu. Memang kehidupan di dunia persilatan lebih bebas. Bagi seorang gadis ahli silat yang suka merantau, merupakan hal yang biasa bergaul dengan seorang pemuda karena gadis itu mampu menjaga diri dengan kepandaiannya. Akan tetapi dia khawatir kedahuluan, maka dia mempunyai pikiran untuk menyampaikan saja pesan rahasia mendiang nenek Teng Siang In kepada keponakannya, di depan pemuda itu.

“Lian-ji, keponakanku yang baik. Dalam kesempatan ini, aku ingin menyampaikan suatu berita yang mungkin selama ini masih menjadi rahasia besar bagimu. Mengingat bahwa pemuda perkasa ini adalah murid Istana Gurun Pasir, maka berarti dia bukan orang luar dan tidak ada jeleknya kalau dia mendengarkan pula.”

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan wajah serius itu, Suma Lian terkejut dan menatap wajah pamannya dengan penuh keinginan tahu. “Paman, rahasia apakah itu?”

“Rahasia peninggalan pesan terakhir nenekmu Teng Siang In. Atau barang kali engkau sudah mendengarnya dari orang tuamu?”

“Pesan terakhir nenek Teng Siang In? Belum, Paman, aku belum mendengar tentang itu. Apakah pesan terakhir itu ditujukan kepadaku?”

“Bukan kepadamu, akan tetapi justru pesan itu mengenai dirimu, atau lebih tepatnya mengenai perjodohanmu.”

Sepasang mata yang lebar dan jeli itu terbelalak, kemudian kedua pipinya berubah kemerahan.

“Apa... apa maksudmu, Paman?” tanyanya agak tergagap karena hatinya terguncang mendengar bahwa mendiang neneknya meninggalkan pesan mengenai perjodohannya.

Suma Ciang Bun menarik napas panjang. “Hal ini sudah pernah kuceritakan pada ayah ibumu, akan tetapi agaknya mereka belum menceritakannya kepadamu. Baiklah akan kuceritakan saja agar aku tidak akan selalu merasa berhutang janji kepada nenekmu itu, melalui muridku. Hal itu terjadi ketika engkau diculik oleh Sai-cu Lama. Engkau tentu masih ingat betapa telah terjadi perkelahian antara mendiang nenekmu dan Sai-cu Lama. Nenekmu kemudian dibantu oleh suheng-mu, Gu Hong Beng, akan tetapi Sai-cu Lama amat lihai dan akhirnya nenekmu roboh dan terluka parah oleh Sai-cu Lama yang mempergunakan pedang Ban-tok-kiam...“

“Ban-tok-kiam...?” Tiba-tiba Sin Hong berseru kaget, di luar kesadarannya.

Suma Ciang Bun memandang kepadanya dan mengangguk. “Benar, Tan-sicu (orang gagah Tan), datuk sesat itu mempergunakan Ban-tok-kam, karena pedang dari Istana Gurun Pasir itu pernah terjatuh ke dalam tangannya.”

Sin Hong sadar bahwa dia telah lancang bicara dan kini diam saja, membayangkan betapa Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam kini terjatuh ke dalam tangan Sin-kiam Mo-li. Hal ini mengingatkan dia bahwa amatlah berbahaya kalau pedang-pedang yang amat ampuh dan ganas itu terjatuh ke tangan orang jahat.

Bagaimana pun juga, dia harus mencari Sin-kiam Mo-li, bukan untuk sekedar membalas dendam atas kematian tiga orang gurunya, akan tetapi terutama sekali untuk merampas kembali Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam. Dua batang pedang pusaka yang amat ganas itu tidak boleh disalah gunakan oleh Sin-kiam Mo-li atau para tokoh jahat lainnya untuk melakukan kejahatan.

“Lalu bagaimana, Paman?” tanya Suma Lian tidak sabar karena cerita pamannya yang akan membuka rahasia pesan terakhir neneknya itu tadi diselingi urusan Ban-tok-kiam.

“Nenekmu terluka parah dan dibawa pulang oleh Hong Beng, sedangkan engkau lalu dilarikan Sai-cu Lama. Ketika ayah ibumu mendengar pelaporan Hong Beng, mereka segera melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama sedangkan Hong Beng menjaga dan merawat nenekmu. Tapi nenekmu tak tertolong lagi, dan sebelum menghembuskan napas terakhir, nenekmu telah meninggalkan pesan kepada Hong Beng.” Kembali Suma Ciang Bun menghentikan ceritanya, agaknya dia sendiri juga merasa canggung untuk membuka rahasia itu.

“Pesan mengenai diriku, Paman? Bagaimanakah pesan itu?”

Suma Ciang Bun menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Sebetulnya pesan ini bukan kepadamu, namun kepada Hong Beng. Nenekmu itu sebelum meninggal dunia, minta kepada Hong Beng untuk berjanji. Betapa pun berat rasanya janji itu oleh Hong Beng, namun mengingat bahwa pesan itu adalah pesan dari seorang yang menghadapi kematian, Hong Beng tidak tega untuk menolak dan dia pun telah berjanji seperti yang diminta oleh mendiang nenekmu itu...” Kembali dia berhenti.

“Apakah janji itu, Paman? Katakanlah, kenapa Paman nampak ragu-ragu?” Suma Lian mendesak.

“Hong Beng diminta berjanji agar kelak dia suka menjadi suamimu...“

Sepasang mata itu kembali terbelalak dan kini kedua pipi yang halus itu berubah merah sekali.

“Ahhhhh...“ Suma Lian menahan seruannya.

Suma Ciang Bun merasa hatinya lapang setelah dia menceritakan pesan yang selama bertahun-tahun dirahasiakan itu. “Demikianlah pesan nenekmu, Suma Lian. Hong Beng tidak berani menolak dan dia pun sudah berjanji di depan nenekmu yang sedang menghadapi kematian. Tentu saja janji itu amat mengganggu hati Hong Beng dan dia tidak berani menceritakannya kepada siapa pun, apa lagi kepada orang tuamu. Setelah engkau dewasa, akhirnya dia menceritakannya kepadaku. Mendengar itu, aku segera menemui orang tuamu dan sudah kuceritakan kepada mereka tentang pesan terakhir nenekmu itu.”

Tanpa disengaja, Suma Lian menoleh kepada Sin Hong. Akan tetapi pemuda itu hanya duduk bersila dengan muka ditundukkan sehingga Suma Lian tidak dapat mengetahui bagaimana wajah pemuda itu yang tentu saja ikut mendengarkan semua percakapan tadi. Hati Suma Lian menjadi agak lega karena tadinya ia merasa rikuh sekali bahwa Sin Hong ikut mendengarkan percakapan tentang perjodohannya.

“Dan mereka... ayah ibuku..., bagaimana pendapat mereka, Paman?”

Dia teringat akan peringatan ayah ibunya kepadanya bahwa ia telah lebih dari dewasa untuk segera menentukan jodohnya! Akan tetapi ayah ibunya sama sekali tak menyebut nama Gu Hong Beng. Teringat akan ini, ia pun membayangkan wajah Gu Hong Beng. Akan tetapi, ia tidak dapat mengingatnya dengan baik. Ketika itu, ia baru berusia dua belas tahun! Delapan atau sembilan tahun telah lewat ketika ia melihat Gu Hong Beng.

Akan tetapi, karena pemuda itu dahulu pernah membelanya dari ancaman penculikan Sai-cu Lama, tentu saja dia mengenang pemuda itu dengan hati kagum dan berhutang budi. Samar-samar ia masih ingat bahwa Gu Hong Beng adalah seorang pemuda yang berpakaian sederhana, sikapnya lemah lembut, pendiam, halus, serta berwajah cerah dan tampan.

“Ayah dan ibumu, hemmm... mereka tak dapat mengambil keputusan dan mengatakan bahwa untuk urusan perjodohanmu, mereka menyerahkan sepenuhnya kepadamu. Lalu bagaimana dengan pendapatmu mengenai pesan terakhir nenekmu itu, Lian-ji (anak Lian)?”

Suma Lian tersenyum. Hatinya merasa lega dan bersyukur. Ayah ibunya memang amat bijaksana dan sangat mencintanya. Ia tahu bahwa ayah ibunya amat menginginkan ia segera menikah, akan tetapi mereka menyerahkan pemilihan jodoh kepadanya sendiri.

Kembali tanpa disengaja, ia melirik ke arah Sin Hong. Pemuda itu tetap menundukkan muka dan nampaknya rikuh sekali. Seorang pemuda yang sopan dan baik, pikir Suma Lian. Sikapnya yang diam menunduk itu banyak menolongnya dari kerikuhan.

“Aku tidak tahu, Paman...“ Suma Lian memandang pamannya dengan senyum lebar. “Ayah dan ibu sungguh bijaksana sekali. Terus terang saja, aku berterima kasih atas sikap mereka yang menyerahkan keputusan urusan perjodohanku kepadaku sendiri.”

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya sebentar dan wajahnya sudah cerah kembali. “Maksudku, bagaimana pendapatmu dengan muridku Gu Hong Beng? Setujukah engkau kalau dia menjadi calon suamimu seperti yang dipesankan mendiang nenekmu? Kalau engkau setuju, aku akan merasa berbahagia sekali dan segera aku akan membicarakan urusan ikatan jodoh itu dengan orang tuamu.”

“Aihhh, Paman mengapa demikian tergesa-gesa? Kurasa, urusan perjodohan bukanlah urusan sederhana dua orang untuk selamanya di kemudian hari! Mana mungkin aku dapat menentukan sekarang? Sedangkan suheng Gu Hong Beng itu seperti apa pun aku tidak tahu...“

“Ah, bukankah engkau sudah pernah bertemu dengan dia?”

“Itu sembilan tahun yang lalu, Paman, dan kini aku sudah lupa lagi bagaimana rupanya. Kurasa, suheng Gu Hong Beng sendiri juga sudah lupa kepadaku...“

“Tidak, Lian-ji. Dia tidak pernah lupa, dan kurasa dia selalu menunggu keputusanmu tentang perjodohan itu.”

Diam-diam Suma Lian terkejut juga mendengar hal ini karena dia merasa yakin bahwa pamannya ini tidak berbohong. Mungkinkah murid pamannya itu sejak dia berusia dua belas tahun telah jatuh hati kepadanya? Menggelikan!

“Biarlah aku akan memberi jawaban kalau kami sudah saling jumpa, Paman.”

Mendengar ketegasan dalam suara keponakannya, Suma Ciang Bun tidak mendesak lebih jauh, lalu mengalihkan percakapan ke arah gerakan para tokoh sesat yang hendak memberontak itu sehingga Sin Hong mendapat kesempatan pula untuk ikut bicara tanpa merasa kikuk.

Atas pertanyaan Suma Ciang Bun, Sin Hong lalu menceritakan tentang dirinya, tentang orang tuanya yang menjadi korban pembunuhan dan betapa ia melakukan penyelidikan yang jejaknya membawanya kepada Tiat-liong-pang pula. Pada waktu Suma Ciang Bun mendengar cerita Sin Hong betapa ketiga orang gurunya di Istana Gurun Pasir diserbu oleh banyak datuk sesat sehingga ketiga orang gurunya itu tewas, pendekar ini terkejut bukan main. Sepasang matanya terbelalak seolah-olah ia tak percaya mendengar berita mengejutkan itu.

“Apa?” teriaknya. “Tiga orang locianpwe yang sakti itu bisa tewas di tangan para tokoh sesat? Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Siapakah mereka? Ceritakanlah!”

“Mereka adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, yang bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li dan Sai-cu Sin-touw,” kata Sin Hong.

Dia selanjutnya menceritakan betapa di antara ketujuh belas orang tokoh sesat yang menyerbu Istana Gurun Paisir itu, hanya ada tiga orang yang tidak tewas, yaitu Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-kauw, dan Thian Kek Sengjin tokoh besar Pek-Lian-kauw, sedangkan empat belas orang tokoh lainnya sudah tewas. Akan tetapi tiga orang gurunya juga tewas dalam perkelahian keroyokan itu.

“Akan tetapi, bagaimana engkau sendiri dapat lolos dari kematian, sedangkan tiga orang gurumu tewas?” Suma Ciang Bun bertanya.

Hati Suma Ciang Bun diliputi rasa penasaran besar mendengar bahwa tiga orang yang dianggapnya memiliki tingkat ilmu kepandaian yang sulit dibayangkan tingginya, bahkan mendekati kebesaran nama kakeknya, yaitu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dapat tewas di tangan pengeroyokan orang-orang sesat.

Tan Sin Hong menghela napas panjang. Pertanyaan seperti itu selalu membuat dirinya merasa menyesal dan memancing datangnya rasa duka. Dengan singkat dia kemudian menceritakan mengapa dia masih hidup dan mengapa dia tidak berdaya membela tiga orang gurunya ketika Istana Gurun Pasir diserbu para penjahat itu.

Dia ceritakan pula, tanpa menyinggung tentang usaha Sin-kiam Mo-li untuk merayunya tanpa hasil, betapa akhirnya dia berhasil lolos dan menyelamatkan dirinya, sesudah membakar istana itu dengan jenazah tiga orang gurunya berada di dalamnya dan ikut terbakar. Betapa selama setahun dia bersembunyi di dalam hutan untuk menyelesaikan latihannya, menguasai ilmu silat baru ciptaan tiga orang gurunya yang membuat dia tak berdaya ketika istana diserbu karena pada waktu itu dia belum menguasai Ilmu Pek-ho Sin-kun dan setiap kali mengerahkan tenaga dia akan roboh sendiri.

Setelah mendengar penjelasan Sin Hong, Suma Ciang Bun mengangguk-angguk dan dia pun menarik napas panjang. Agaknya memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan bahwa saat itu keluarga sakti penghuni Istana Gurun Pasir harus mengalami kematian seperti itu. Buktinya, kebetulan sekali ketika mara bahaya itu tiba, murid mereka yang mereka andalkan sedang dalam keadaan tak berdaya. Andai kata pemuda ini telah menamatkan ilmunya yang baru itu, tentu akan mampu membela mereka dan belum tentu mereka bertiga itu akan tewas.

“Paman, keadaan tiga orang locianpwe di Istana Gurun Pasir itu sama benar dengan nasib keluarga kakek buyutku di Istana Pulau Es. Mereka semua adalah keluarga yang sakti, memiliki ilmu silat yang amat tinggi, akan tetapi mengapa mereka semua tewas dalam tangan orang-orang jahat? Tewas dalam perkelahian?” kata Suma Lian dengan penasaran. “Bukankah mereka semua adalah orang-orang gagah perkasa yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan?”

Mendengar pertanyaan ini, Suma Ciang Bun hanya mengembangkan kedua lengannya lalu mengangkatnya ke atas, kemudian merapatkan kedua tangan di depan dada sambil berkata dengan suara lirih, “Kekuasaan Tuhan menuntun segala sesuatu dan kehendak Tuhan pun terjadilah! Tiada kekuasaan lain di dunia ini dapat mengubah, mempercepat atau memperlambat setiap peristiwa yang sudah ditentukan Tuhan. Hukum Karma tidak akan terelakkan oleh siapa pun juga. Siapa menanam dia memetik buahnya, pohon apel berbuah apel, pohon mawar berbunga mawar, pohon racun berbunga racun. Siapa bermain air akan basah, bermain api akan terbakar, bermain lumpur akan kotor. Siapa hidup di dalam kekerasan, takkan terelakkan lagi tentu akan menjadi korban kekerasan pula. Betapa pun gagahnya seseorang, akan tiba saatnya dia menemukan tanding yang lebih gagah, atau sebaliknya, akan tiba saatnya di mana usianya akan menggerogoti kegagahannya. Dia akan menjadi lemah. Keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir memang terkenal sebagai keluarga yang sakti dan gagah perkasa. Justru karena itulah maka mereka gugur di dalam kekerasan, di dalam perkelahian. Kalau kita mengingat akan Hukum Karma, hal itu sama sekali tidak aneh, bukan?”

“Tetapi, Locianpwe,” kata Sin Hong. “Harap maafkan kalau saya lancang mencampuri bicara dan mengemukakan pendapat saya. Biar pun para guru saya itu merupakan ahli ahli silat sehingga mereka itu tentu saja selalu mempergunakan kekerasan karena harus menentang para penjahat, akan tetapi, bukankah mereka itu adalah pembela kebenaran dan keadilan? Bukankah perbuatan mereka itu mulia dan sesuai dengan kebajikan? Akan tetapi mengapa mereka harus menerima nasib tewas di tangan kaum sesat yang jahat? Apakah hal itu dapat dikatakan sebagai hukum yang adil?”

Suma Ciang Bun tersenyum. Dari nada bicara pemuda itu, dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukannya tidak tahu mengenai masalah itu, melainkan hendak mengajak dia berbincang tentang hukum yang nampaknya tidak adil itu.

“Orang muda yang gagah, pendapatmu itu mewakili pendapat umum, tetapi hendaknya dimengerti benar bahwa pendapat umum bukanlah merupakan ukuran akan kebenaran dan keadilan kekuasaan Tuhan. Masih terdapat banyak rahasia yang tersimpan di balik semua peristiwa yang terjadi. Apa pun yang terjadi di dalam kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kewajaran, tidak terlepas dari Hukum Karma yang mencerminkan keadilan kekuasaan Tuhan. Mungkin saja nampak tidak adil, bahkan ada kalanya suatu peristiwa dianggap janggal dan tidak adil sama sekali oleh kita, namun hal itu hanya membuktikan betapa lemah dan bodohnya kita. Akal kita, batin kita, pikiran kita, sama sekali tidak mampu menjangkau rahasia itu. Ada seorang bayi yang begitu dilahirkan sudah harus menderita, entah karena kemiskinan keluarganya, atau dikarenakan cacad badan, atau karena tertimpa bencana alam dan sebagainya. Menurut pendapat akal kita, tentu saja hal itu sama sekali tidak adil! Ada pula orang yang hidupnya penuh dengan kecurangan dan kejahatan, nampaknya hidup serba mewah, mulia dan senang. Sebaliknya, orang yang kita anggap berbudi mulia, baik dan dermawan, hidupnya serba kekurangan atau menderita karena penyakit yang berat dan lama. Nah, semua itu hanya sekedar bukti bahwa akal pikiran kita tidak akan mampu menguak rahasia kekuasaan Tuhan!”

“Paman, kalau begitu, apa gunanya kita membela kebenaran dan menentang kejahatan kalau hasilnya belum tentu menguntungkan kita?” Suma Lian membantah dengan hati penasaran.

Mendengar bantahan keponakannya itu, Suma Ciang Bun tertawa. “Ha-ha-ha-ha, Suma Lian, pertanyaanmu itu mengejutkan dan mengherankan, seolah-olah engkau bukanlah keturunan keluarga Pulau Es saja, seolah-olah engkau bukan murid terkasih dari paman Gak Bun Beng! Jika kita membela kebenaran dan keadilan serta menentang kejahatan dengan pamrih hasil yang menguntungkan, apakah hal itu bisa disebut perbuatan gagah seorang pendekar? Ketahuilah, lahir dan matinya seorang manusia seutuhnya berada di dalam kekuasaan Tuhan yang menentukan. Tapi bagaimana mengisi kehidupan, antara kelahiran dan kematian itulah tugas hidup seorang manusia. Dan aku merasa yakin, demi keadilan Tuhan, bahwa kekuasaan yang menentukan itu tentu disesuaikan dengan mutu dan nilai kehidupan yang diisi oleh manusia sendiri. Jadi, tugas kita hanyalah agar selalu harus menjauhkan segala macam kebencian iri hati, pementingan diri sendiri, dan sebagainya. Sesudah itu, selesailah, karena yang lain-lain berada di tangan Tuhan dan kita harus menyerahkannya dengan penuh keimanan akan kekuasaan Tuhan.”

Sin Hong menundukkan mukanya. Dia dapat merasakan kebenaran ucapan pendekar itu.

Bagaimana pun juga, manusia adalah makhluk yang lemah sekali. Biar pun kebanyakan manusia merasa dirinya besar dan berkuasa, akan tetapi sesungguhnya itu hanyalah kesombongan kosong belaka. Jangankan menguasai hidup matinya, bahkan menguasai sehelai rambut pun tidak! Rambut itu tumbuh sendiri di luar kekuasaan manusia yang mengaku memilikinya. Penyerahan diri dalam kekuasaan Tuhanlah satu-satunya jalan tempat manusia berlindung, di samping, tentu saja, segala ikhtiar sekuatnya.

“Aku sudah mendengar akan semua itu, Paman.” Suma Lian mendesak, “akan tetapi, aku tetap merasa penasaran mengapa kakek buyut dan kedua nenek buyutku di Pulau Es, dan juga para locianpwe di Istana Gurun Pasir, enam orang yang terkenal memiliki kesaktian dan nama mereka pernah menggemparkan dunia persilatan itu, di dalam usia tua sekali meninggal dunia secara menyedihkan, yaitu tewas di tangan orang-orang sesat.”

Kembali Suma Ciang Bun tersenyum. “Watak orang muda memang selalu penasaran dan ingin tahu. Akan tetapi sikap demikian itu baik sekali. Janganlah mudah puas dan selidikilah segala sesuatu dengan seksama sampai engkau mengerti benar. Agaknya aku dapat menjawab pertanyaanmu itu, Lian-ji, karena aku juga dapat menyelami watak orang-orang tua yang gagah perkasa itu dan aku dapat menduga mengapa mereka itu tewas dalam perkelahian melawan kaum sesat. Kematian memang hanya satu macam saja, yaitu nyawa meninggalkan badan, akan tetapi ada berbagai macam cara kematian. Tidak ada kematian yang lebih membanggakan dari pada kematian yang terjadi ketika sedang melaksanakan tugas. Tugas seorang pendekar adalah menentang kejahatan, berarti menentang golongan sesat. Agaknya itulah yang membuat para orang tua gagah itu lebih suka memilih kematian ketika mereka sedang menentang golongan sesat. Hal itu pada umumnya oleh para pendekar dianggap mati sebagai harimau, bukannya mati sebagai seekor babi. Dan ini ada hubungannya dengan perputaran Hukum Karma tadi. Prajurit mati dalam perang, pendekar mati dalam pertempuran melawan golongan sesat. Ini sudah tepat namanya.”

“Semua keterangan Locianpwe sungguh-sungguh membuka mata batin dan menambah pengertian saya. Terima kasih, Locianpwe,” kata Sin Hong dengan pandang mata amat kagum. “Tetapi, dalam kesempatan ini saya mohon agar Locianpwe suka menerangkan kepada saya yang bodoh ini, apa sesungguhnya hakekat hidup dan mati. Mengapa kita dilahirkan, hanya untuk dimatikan pada akhirnya? Apa artinya semua ini Locianpwe?”

Suma Ciang Bun tersenyum. Persis seperti yang sering kali dia renungkan ketika mulai menyendiri dalam pertapaan!

“Orang muda yang gagah. Siapakah kita ini yang akan mampu membicarakan rahasia yang hanya diketahui Tuhan? Segala bentuk kelahiran di dunia pasti akan diakhiri pula dengan kematian. Hal ini sudah terbukti di atas bumi ini. Kalau ada kelahiran tanpa kematian, maka kelahiran seperti itu tentu terjadi bukan di dunia ini. Keadaan yang menyebutnya Sorga atau Nirwana atau sudah bersatu dengan Tuhan. Lebih tepat kalau kita bicara tentang kehidupan di atas dunia ini, kehidupan kita bersama yang sama kita rasakan. Kini kita hanya dapat bicara tentang pengalaman, hal-hal yang kita ketahui dari pengalaman orang lain. Sebelum kita dilahirkan, kita ini tidak ada. Kita lalu ada setelah terlahir dan hidup. Kemudian, setelah mati, kembali keadaan kita lenyap dan menjadi tidak ada lagi! Nah, keadaan tidak ada itu, sebelum terlahir dan sesudah mati, bukanlah urusan kita, melainkan urusan yang ditangani oleh kekuasaan Tuhan. Bukan hak mau pun kewajiban kita untuk menyelidikinya, lagi pula, bagaimana kita mampu menyelidiki sesuatu yang berada di luar jangkauan kemampuan akal budi dan pikiran kita? Lebih baik kita bicarakan tentang keadaan yang ada saja, yaitu keadaan hidup kita ini. Hak kita adalah menghayati kehidupan ini sepenuhnya, kewajiban kita adalah mengisi hidup ini sebagaimana mestinya, memupuk kebaikan dan menjauhi kejahatan, tanpa pamrih mendapatkan upah. Ada pun semua penilaian tentang prilaku kita semasa hidup, kita serahkan saja kepada Tuhan!”

Kalau Sin Hong mendengarkan dengan penuh hormat. Suma Lian sebaliknya menjadi kagum. Dahulu, pernah beberapa kali dia mendengar pamannya ini bicara, akan tetapi alangkah bedanya cara pamannya bicara. Kini pamannya demikian pasrah, demikian dekat dengan Tuhannya. Agaknya itulah hasil pertapaannya, hasil perenungan di dalam semedhinya, dan Suma Lian menjadi kagum, juga terharu.

Dari ayah dan ibunya ia telah banyak mendengar mengenai Suma Ciang Bun, tentang keadaannya yang luar biasa, kecondongannya untuk menyukai sesama jenisnya, yaitu laki-laki. Karena itu sampai setua itu dia tidak pernah menikah dan lebih suka hidup menyendiri di lereng Tapa-san yang sunyi itu.

Setelah bercakap-cakap dan menyerahkan Yo Han untuk dititipkan sementara waktu di tempat tinggal Suma Ciang Bun, Sin Hong dan Suma Lian lalu berpamit untuk memulai dengan perjalanan mereka, yaitu melakukan penyelidikan terhadap Tiat-liong-pang yang kabarnya menghimpun para tokoh hitam untuk memberontak itu.

Mereka pun ingin berusaha membebaskan ayah ibu Yo Han yang menjadi tawanan para tokoh hitam itu, di samping juga kepentingan Sin Hong yang hendak menyelidiki rahasia pembunuhan ayahnya, juga untuk menentang Sin-kiam Mo-li yang dia tahu amat jahat. Yo Han suka tinggal untuk sementara waktu dengan kakek yang amat ramah dan halus budi itu, apa lagi karena Sin Hong sudah berjanji bahwa setelah selesai tugasnya, dia pasti akan datang menjemput muridnya.....

********************


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner