SULING NAGA : JILID-17


"Maafkan, pinceng tak dapat bicara dengan siapa pun juga kecuali dengan Sai-cu Lama dan dia harus keluar menyambut pinceng sekarang juga. Kalau tak ada di antara kalian yang mau memanggilkannya, biarlah pinceng sendiri yang akan mencarinya." Berkata demikian, Tiong Khi Hwesio melanjutkan langkah kakinya memasuki perkampungan itu.

"Heii, tunggu dulu!"

Dua orang pendeta Lama cepat-cepat menghadang dan muka mereka menunjukkan kemarahan. Lenyaplah senyum mereka tadi yang ramah, terganti pandang mata penuh curiga. Terpaksa Tiong Khi Hwesio berhenti dan menghadapi kedua orang itu dengan sikap tenang.

"Siapakah kamu yang berani hendak mengganggu pimpinan kami? Kamu tidak boleh mengganggu dan pergilah dari sini sebelum kami mempergunakan kekerasan!"

"Omitohud!" Tiong Khi Hwesio menyembah dengan dua tangan di depan dada. "Pinceng datang bukan untuk mencari pertentangan, melainkan hendak bicara dengan pimpinan kalian. Panggil dia ke luar."

"Tidak! Apakah kamu belum mengenal para Lama Jubah Merah dan datang mencari penyakit?" Seorang Lama yang bertubuh tinggi besar dengan wajahnya yang nampak bengis membentak, sikapnya amat mengancam. "Pergilah sekarang juga. Kami masih memandang kedudukanmu sebagai seorang hwesio. Pergilah atau terpaksa aku akan melemparmu keluar!"

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang. "Siancai... sekali lagi pinceng katakan bahwa pinceng tidak mencari permusuhan." Kemudian dia mengerahkan khikang dan berteriak, suaranya amat lantang menembus udara dan terdengar sampai jauh di seluruh penjuru perkampungan itu dan mengejutkan semua orang, "Sai-cu Lama, keluarlah, pinceng hendak bicara denganmu!"

Melihat ini, dua orang pendeta Lama itu menjadi marah dan mereka sudah menubruk dan hendak menangkap hwesio tua yang datang membuat kacau itu. Akan tetapi, mereka berdua menangkap angin karena yang ditubruk tahu-tahu sudah lenyap dari depan mereka! Tentu saja mereka kaget bukan main dan para pendeta Lama yang lain kini sudah datang mengepung Tiong Khi Hwesio yang tadi dapat mengelak dengan mudah dari tubrukan dua orang lawan itu.

"Tangkap pengacau! Pukul roboh dia!" terdengar teriakan-teriakan.

Kini para pendeta yang semua memakai jubah merah itu mengepung dan menyerang Tiong Khi Hwesio dari segala jurusan. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Menghadapi serangan dari semua jurusan ini, Tiong Khi Hwesio sama sekali tidak menjadi gentar. Kalau serangan itu dilakukan terhadap dirinya sepuluh tahun yang lalu saja, tentu dia akan mengamuk dan merobohkan mereka semua tanpa ampun lagi.

Akan tetapi, Tiong Khi Hwesio sekarang ini sama sekali berbeda dengan Wan Tek Hoat atau Si Jari Maut. Selama beberapa tahun ini dia hidup di dekat kakek hwesio yang menyadarkannya, dia telah mampu mengalahkan kekerasan hatinya. Kini hatinya tidak mudah tersinggung kemarahan atau emosi yang lain. Ia selalu tenang dan memandang segala hal yang terjadi dengan sinar mata penuh pengertian sehingga keadaan batinnya seperti air telaga yang dalam dan selalu tenang, sikapnya halus dan wajahnya selalu tersenyum.

Terjangan yang dilakukan dengan kemarahan oleh para pendeta Lama berjubah merah itu, hanya disambutnya dengan elakan dan tangkisan. Gerakannya demikian cepatnya sehingga beberapa kali ia seperti menghilang dari kepungan, membuat para pengepung terheran-heran dan keadaan menjadi semakin kacau balau.

"Sai-cu Lama, apakah engkau termasuk orang yang berani berbuat akan tetapi tidak berani bertanggung jawab?" kembali Tiong Khi Hwesio berteriak dengan pengerahan khikang-nya ketika dia kembali berhasil meloncat keluar dari kepungan dan membiarkan para pengeroyoknya kebingungan mencari-carinya.

Mendengar suaranya, kembali para pendeta yang kini jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu sudah menerjang dan menubruknya, bahkan sebagian di antara mereka ada pula yang menggunakan senjata. Tiong Khi Hwesio sedang berdiri tegak ketika dua puluh orang pendeta itu menerjangnya dari depan, belakang dan kanan kiri.

Karena tidak mungkin mengelak atau menangkis semua serangan itu satu demi satu, Tiong Khi Hwesio tidak bergerak mengelak. Tiba-tiba saja dari mulutnya terdengar suara melengking, dua kakinya dipentang dan dua lengannya juga dikembangkan, lalu diputar di sekeliling tubuhnya. Akibatnya, para pengeroyok itu berpelantingan seperti diterjang angin puyuh yang amat kuat!

Terkejutlah kini para pengeroyok itu. Tak mereka sangka bahwa hwesio yang datang ini memiliki kesaktian yang demikian hebat, dan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa kalau lawan itu menghendaki, tentu mereka semua sudah roboh dan terluka berat, tidak hanya berpelantingan seperti itu. Segera timbul kekhawatiran hati mereka. Jangan-jangan orang ini sahabat dari pemimpin mereka yang mempuyai keperluan ingin bertemu dengan Sai-cu Lama.

Akan tetapi mereka tak perlu ragu-ragu lagi karena pada saat itu terdengar suara keras dan mengandung getaran parau bagai suara seekor singa mengaum. Mendengar suara ini, para pendeta Lama cepat-cepat menahan napas, bahkan ada yang menutupi kedua telinga karena tidak tahan mendengar suara yang mengandung khikang amat kuat dan yang menggetarkan jantung mereka itu.

"Hwesio tolol dari manakah berani main gila di depan Sai-cu Lama!" demikian bentakan suara itu dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali, kepalanya gundul dan jubahnya bukan hanya merah seperti yang dipakai para pendeta di situ, melainkan kotak-kotak berwarna merah kuning. Biar pun kepalanya gundul plontos licin, namun mukanya penuh cambang bauk seperti muka singa karena dari cambang, sampai semua pipi, kumis dan dagunya penuh rambut yang keriting berwarna agak kekuning-kuningan!

Melihat pendeta ini, Tiong Khi Hwesio dengan mudah dapat menduga bahwa tentu inilah orangnya yang berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Muka Singa) itu. Diam-diam dia kagum melihat kakek yang masih membayangkan kegagahan itu, walau pun usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih. Dengan muka seperti itu memang pantas sekali kalau memakai julukan Muka Singa.

Sejenak hati kakek ini tertegun. Melihat muka pendeta Lama itu, teringatlah dia akan gurunya yang pertama kali pada waktu dia masih muda. Gurunya yang pertama adalah seorang kakek yang berjuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Muka Singa) yang memiliki muka seperti Sai-cu Lama ini, penuh cambang bauk yang bagus dan gagah seperti singa. Hanya bedanya, gurunya yang memakai julukan Lo-mo (Iblis Tua) itu adalah seorang gagah perkasa sebaliknya kakek yang memakai julukan Lama (Pendeta Buddha Tibet) ini malah seorang hamba nafsu yang jahat! Jelaslah bahwa manusia tidak dapat diukur dari namanya, julukannya, apa lagi dari pakaiannya.

Setelah merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan orang yang dicarinya, Tiong Khi Hwesio segera melangkah menghampiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, menjura ke arah kakek bermuka singa itu.

"Omitohud, kalau tidak keliru pinceng berhadapan dengan yang terhormat Sai-cu Lama, benarkah itu?"

Sejenak sepasang mata yang lebar dan penuh kewibawaan itu memandang Tiong Khi Hwesio penuh selidik. Memang kakek bermuka singa inilah Sai-cu Lama yang terkenal sekali di Tibet itu.

Mula-mula kakek ini heran mendengar di luar ada orang memanggil-manggil namanya. Namun karena dia sedang sibuk dengan seorang gadis yang dipilihnya di antara para wanita yang diculik, dia tidak mempedulikan panggilan itu dan menyerahkan kepada anak buahnya untuk menghadapi orang yang berani mengganggu kesenangannya.

Akan tetapi, ia kemudian mendengar teriakan-teriakan anak buahnya. Dengan ogah dan marah dia keluar meninggalkan korbannya dan terkejutlah dia melihat betapa seorang kakek hwesio yang tua sedang bergerak dengan amat cepatnya menghindarkan semua serangan para Pendeta Lama. Bahkan dia dibuat tertegun bukan main melihat betapa sekali menggerakkan tubuhnya, pendeta tua itu berhasil membuat dua puluh orang anak buahnya berpelantingan.

Maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan orang yang berkepandaian, yang bukan merupakan lawan para anak buahnya, Sai-cu Lama lalu menghampiri tempat itu. Kini dia memandang Tiong Khi Hwesio dengan teliti, mencoba untuk mengingat-ingat. Akan tetapi dia merasa heran dan penasaran karena dia belum pernah mengenal hwesio tua renta ini.

"Benar, aku adalah Sai-cu Lama. Setelah mengenalku, engkau masih berani membikin kacau di perkampungan kami. Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tiong Khi Hwesio tersenyum halus dan ramah. "Sai-cu Lama, pinceng datang sebagai seorang sahabat, bukan hanya karena kita berdua sama-sama murid Sang Buddha, akan tetapi juga terutama sekali karena kita berdua sama-sama manusia yang wajib saling memberi ingat kalau ada yang salah tindak."

"Dan kau datang untuk memberi peringatan itu?" Sai-cu Lama berkata, alisnya yang tebal keriting itu berkerut dan mulutnya menyeringai seperti seekor singa mencium bau kelinci.

Tiong Khi Hwesio mengangguk. "Omitohud, betapa sukarnya bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan melihat kesalahan-kesalahan sendiri. Selalu harus ada orang lain yang membantu memberi ingat. Sai-cu Lama, tanpa kuberi tahu sekali pun, kiranya engkau sudah tahu bahwa saat ini engkau sedang melakukan penyelewengan-penyelewengan dari jalan kebenaran seperti yang sudah sama-sama kita pelajari. Engkau menghimpun kawan-kawanmu ini, yang kemudian terkenal di Tibet sebagai gerombolan yang selalu mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat. Merampok, membunuh, mengumpulkan kekayaan, mengganggu wanita. Bukankah semua itu merupakan perbuatan yang malah harus dipantang oleh orang-orang yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta seperti kita? Sai-cu Lama, pinceng datang untuk memberi ingat kepada kalian semua agar kalian sadar dan mengubah kesesatan itu mulai saat ini juga, dan kembali ke jalan kebenaran."

"Keparat!" Sai-cu Lama membentak, lalu dia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, siapakah engkau ini yang berani sekali datang untuk memperingatkan dan bahkan mengancam aku? Ha-ha-ha, orang yang bosan hidup, apakah nyawamu rangkap?"

Mendengar ucapan dan tawa pemimpin mereka, para pendeta Lama yang mengurung tempat itu pun tertawa. Mereka merasa yakin bahwa sebentar lagi mereka akan melihat hwesio tua itu pasti akan dihajar oleh pemimpin mereka sampai mampus.

"Pinceng tidak mengancam, melainkan ingin menyadarkan kalian dari pada kesesatan."

"Hemmm, tua bangka yang tak tahu diri. Siapakah engkau? Dari perguruan mana? Dari pertapaan mana?" Sai-cu Lama bertanya, teringat bahwa kakek hwesio itu tadi telah memperlihatkan kesaktiannya.

"Omitohud..." Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang, merasa bahwa agaknya tidak mungkin baginya mengingatkan orang seperti Sai-cu Lama ini. "Pinceng hanya seorang perantau biasa, tanpa perguruan bahkan tidak mempunyai pertapaan, nama pinceng Tiong Khi Hwesio. Pinceng mendengar tentang gerakan dari kelompok Lama Jubah Merah dan mendengar ratapan rakyat, maka terpaksa pinceng datang ke sini untuk berusaha menyadarkan kalian."

Muka yang seperti singa itu nampak beringas dan bengis. "Tiong Khi Hwesio, engkau ini sudah tua bangka, umurmu sudah tidak berapa lama lagi akan tetapi tindakanmu masih jahil dan mulutmu masih usil! Tindakan-tindakan kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu, akan tetapi engkau berani tidak memandang mata kepadaku dan berani memperingatkan aku. Dengarlah. Aku mau mendengarkan nasehatmu itu dan mau membubarkan kelompok kami ini kalau engkau mampu mengalahkan aku!"

Terdengar suara di sana-sini mentertawakan Tiong Khi Hwesio. Hwesio ini menarik napas panjang.

"Siancai..., pinceng datang bukan untuk mempergunakan kekerasan."

"Mau mempergunakan kekerasan atau tidak, masukmu ke perkampungan kami sudah merupakan tindak kekerasan yang melanggar dan untuk itu engkau sebagai orang luar sudah dapat dijatuhi hukuman mati. Nah, majulah, kalau engkau tidak mau mati konyol. Aku sendiri tidak suka membunuh orang yang tidak mau melawan."

Tiong Khi Hwesio kini memandang dan sepasang matanya mencorong penuh teguran. "Sai-cu Lama, belum tentu pinceng dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat, akan tetapi ketahuilah bahwa di atas puncak Gunung Thai-san yang tertinggi sekali pun masih ada awan. Bersikap tinggi hati mengandalkan kepandaian sendiri hanya akan mempercepat kejatuhannya..."

"Sudah, tak perlu banyak kuliah lagi, sambutlah ini!" Sai-cu Lama sudah menerjang ke depan, jubahnya berkembang karena gerakan ini mendatangkan angin dan tangan kirinya yang besar itu menyambar ketika dia menggerakkan lengan. Tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka mencengkeram ke arah kepala Tiong Khi Hwesio, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan dorongan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

"Wuuuuuttt...!"

Bukan main dahsyatnya serangan yang dilakukan Sai-cu Lama itu. Cepat seperti kilat menyambar dan mengandung kekuatan yang mengerikan. Entah mana yang lebih berbahaya, cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala itu ataukah hantaman ke arah dada. Kepala dapat hancur berantakan dan dada dapat pecah kalau terkena serangan itu!

Tiong Khi Hwesio dapat mengenali pukulan-pukulan ampuh, maka sambil mengeluarkan seruan dia pun menggerakkan tubuhnya ke belakang. Cepat dan ringan tubuhnya itu bergerak ke belakang, seakan-akan terdorong oleh angin pukulan lawannya.

Sai-cu Lama juga menahan seruan kagetnya. Dia merasa seperti menyerang sehelai bulu saja yang melayang pergi sebelum serangannya mengenai sasaran! Maklumlah dia bahwa lawannya ini, biar pun sudah tua sekali, namun memiliki ginkang yang istimewa dan sukarlah menyerang orang dengan ginkang seperti ini kalau tidak mempergunakan pukulan jarak jauh dan kecepatan kilat.

"Haiiiiittt...!" Dia pun membentak nyaring dan kedua tangannya didorongkan ke depan.

Dan kini Sai-cu Lama menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya. Pukulannya ini, yang dilakukan dengan dua tangan terbuka, tidak membutuhkan kontak langsung dengan tubuh lawan. Angin pukulannya saja sanggup untuk merobohkan lawan dengan guncangan yang akan dapat merusak jantung!

"Omitohud..., keji sekali pukulan ini!" Tiong Khi Hwesio berseru.

Dia pun cepat memasang kuda-kuda, bukannya mundur, bahkan dia melangkah maju dan kedua tangannya juga didorongkan ke depan, menyambut langsung kedua telapak tangan lawan.

"Dessss...!"

Dua pasang telapak tangan saling bertemu. Nampaknya saja empat buah tangan itu memiliki telapak tangan yang lunak, akan tetapi ternyata mengandung tenaga sinkang yang hebat. Pertemuan tenaga sinkang melalui dua pasang tangan itu hebat bukan main, sampai terasa oleh semua pendeta Lama yang berada di situ karena udara di sekitar tempat itu seolah-olah tergetar, seperti bertemunya dua tenaga Im dan Yang di musim hujan yang menciptakan kilat dan guntur.

Akibat dari pada pertemuan tenaga dahsyat itu, dua orang pendeta itu terdorong ke belakang, masing-masing lima langkah. Keduanya tidak sampai jatuh, akan tetapi berdiri dengan muka berubah agak pucat. Sejenak keduanya memejamkan mata, kemudian mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi dada dari pengaruh guncangan hebat itu. Hal ini saja membuktikan bahwa keduanya memiliki tenaga sinkang yang seimbang.

Terkejutlah keduanya. Tiong Khi Hwesio sendiri pun terkejut bukan main. Belum pernah dia, kecuali di waktu muda dahulu, bertemu dengan lawan yang sekuat ini, maka dia pun bersikap hati-hati, maklum bahwa dia harus berjaga dengan sepenuh tenaga dan kepandaian.

Juga Sai-cu Lama terkejut sekali. Dia memang sudah menduga bahwa lawannya ini lihai, akan tetapi tak pernah disangkanya akan selihai itu, kuat menahan pukulannya tadi yang dilakukannya sepenuh tenaga, bahkan tangkisan itu membuat dia terdorong ke belakang sampai lima langkah dengan dada terasa sesak dan panas. Akan tetapi di samping rasa kagetnya, timbul pula perasaan marah yang berapi-api.

Inilah kesalahan Sai-cu Lama. Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan tenaga, dia tidak kalah oleh lawan, hanya dalam satu hal dia kalah, yaitu dalam kekuatan batin. Kalau Tiong Khi Hwesio menghadapi kenyataan akan kekuatan lawan itu dengan sikap yang berhati-hati, sebaliknya Sai-cu Lama justru menjadi marah menghadapi kenyataan itu. Sedangkan kemarahan merupakan kelemahan yang mengurangi kewaspadaan, bahkan kemarahan menghamburkan tenaga dalam.

Dengan suara menggeram seperti seekor singa. Sai-cu Lama kini sudah meryerang lagi, disambut tangkisan oleh Tiong Khi Hwesio yang segera membalas pula. Tiong Khi Hwesio sudah tidak mempunyai nafsu untuk meraih kemenangan, apa lagi mencelakai lawan. Akan tetapi menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama yang menyerang dengan pukulan-pukulan maut, kalau hanya melindungi diri sendiri saja akhirnya dia tentu akan terkena pukulan dan roboh. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah mengalahkan Sai-cu Lama, dan untuk dapat mengalahkannya mau tidak mau dia harus membalas serangan lawan yang tangguh itu.

Terjadilah perkelahian yang sengit dan hebat. Saling menyerang dengan jurus-jurus pilihan yang aneh dan dahsyat. Demikian cepatnya mereka bergerak sehingga pandang mata para anggota Lama Jubah Merah menjadi kabur. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang kakek itu, hanya mampu melihat bayangan kuning dan bayangan kemerahan dari jubah mereka berdua itu berkelebatan dan berloncatan ke sana-sini.

Andai kata para pendeta Lama itu disuruh membantu pemimpin mereka pada saat itu, mereka tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena sukarlah menyerang lawan yang tidak nampak, dan bahkan bayangannya sering kali menjadi satu dengan bayangan merah. Juga, saking dahsyatnya gerakan kedua orang kakek itu, pukulan-pukulan mereka mendatangkan hawa pukulan yang menyambar-nyambar ke segala penjuru, membuat para pendeta yang nonton perkelahian itu terpaksa mundur sampai pada jarak yang cukup jauh dan aman.

Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kagum bukan main setelah seratus jurus lewat mereka berkelahi belum juga dia mampu menundukkan lawan itu. Jarang dia bertemu dengan lawan yang demikian tangguhnya, yang membalasnya pukulan dengan pukulan, tendangan dengan tendangan, yang menandingi kecepatan gerak dengan ginkangnya, mengimbangi kekuatan dahsyat tenaga sinkang-nya.

Sejak muda memang hwesio tua ini suka sekali akan ilmu silat dan selalu menghargai orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi. Hanya keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir sajalah yang benar-benar memiliki kesaktian yang mengagumkan hatinya. Namun sekali ini dia bertemu tanding yang benar-benar hebat! Diam-diam dia merasa kagum, juga penasaran dan lalu timbul kegembiraannya, timbul kembali kegemarannya mengadu dan menguji ilmu silat tinggi.

Segala kepandaiannya telah dia kerahkan. Dari ilmu-ilmu silat tinggi Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis), Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) dan gabungan kedua ilmu itu, ilmu-ilmu dari Pulau Neraka peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang diwarisinya, sampai ilmu-ilmu yang amat lihai dengan tenaga Inti Bumi, semua dikeluarkannya, namun semua ilmu itu hanya dapat mengimbangi kehebatan ilmu-ilmu Sai-cu Lama yang juga merasa penasaran sekali.

Sai-cu Lama sama sekali tidak mempunyai rasa kagum terhadap lawannya. Yang ada hanyalah rasa penasaran dan kemarahan yang makin menjadi-jadi. Berkelahi sampai ratusan jurus melawan seorang kakek tua renta dan dia masih belum juga mampu memperoleh kemenangan, bahkan sering kali terdesak hebat oleh ilmu-ilmu yang aneh dari hwesio itu, apa lagi di depan para anak buahnya, merupakan penghinaan baginya. Dia merasa direndahkan karena selama ini dia tidak pernah kalah sehingga para murid dan anak buahnya menganggap bahwa dia adalah orang yang paling pandai di dunia ini.

Makin lama, dia semakin merasa penasaran dan karena akhirnya dia maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan hwesio itu melalui ilmu silat, maka timbullah akal liciknya. Bagaimana pun juga, lawannya itu tentu sudah tua sekali, mungkin belasan tahun lebih tua darinya dan hal ini akan menjadi sebab kemenangannya. Kalau saja dia mampu bertahan, tentu akhirnya lawan itu akan kehabisan napas dan tenaga. Dia yang lebih muda tentu akan lebih tahan dibandinglan dengan lawan yang jauh lebih tua itu.

Akan tetapi, ternyata kelicikan Sai-cu Lama yang ingin mengadu daya tahan dan napas ini tidak memperoleh hasil, bahkan ia menjadi makin penasaran. Mereka telah berkelahi sampai ratusan jurus, entah berapa jam lamanya. Tadi ketika mereka mulai saling serang di pekarangan lebar perkampungan itu, hari telah menjelang senja dan kini telah jauh malam.

Para murid yang menonton dari jarak yang cukup jauh dan aman, telah pula menerangi pekarangan itu dengan obor-obor dan lampu-lampu yang cukup terang. Dan perkelahian itu terus berlangsung tanpa pernah beristirahat sejenak pun!

Kini kedua orang kakek itu sudah nampak lelah, keringat sudah membasahi semua pakaian dan muka, juga pernapasan mereka mulai memburu. Dari kepala mereka keluar uap putih yang aneh.

Diam-diam, Sai-cu Lama yang tadinya merasa penasaran, ada pula rasa kagum dan gentar. Kiranya kakek ini memang hebat luar biasa! Agaknya memiliki napas melebihi napas kuda dan tenaganya juga tak pernah mengendur, bahkan bagi dia yang mulai lelah, tenaga kakek itu makin lama makin kuat saja agaknya. Dia merasa kagum dan gentar. Seorang kakek yang hebat!

Walau pun kini hwesio tua itu mulai nampak kelelahan, akan tetapi dia sendiri pun tiada bedanya, mulai lelah dan kehabisan tenaga. Kalau tadi Sai-cu Lama memiliki pikiran untuk menyuruh anak buahnya maju mengeroyok, sekarang dia menahan pikiran itu. Pertama, menyuruh mereka maju sama saja dengan menyuruh mereka membunuh diri. Mereka bukanlah lawan hwesio tua itu. Dan kedua, melihat kehebatan hwesio itu, dia merasa malu kepada diri sendiri kalau harus mengandalkan pengeroyokan yang hanya tipis harapannya untuk menang itu.

Mendadak Sai-cu Lama mengambil ancang-ancang, dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, dia menerjang ke depan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya! Dia hendak mengadu tenaga terakhir, kalau perlu nyawanya!

Melihat lawannya menerjang dengan kedua tangan mendorong dan kedua lengan itu bergerak-gerak sehingga menimbulkan gelombang hawa pukulan dahsyat, Tiong Khi Hwesio terkejut.

"Omitohud...!" Dia mengeluh, maklum bahwa lawannya yang sudah amat penasaran itu agaknya hendak mengadu nyawa!

Apa boleh buat, dia pun terpaksa harus melindungi dirinya. Cepat dia pun memasang kuda-kuda, menyambut dengan dua tangan terbuka, didorongkan ke depan menyambut kedua telapak tangan lawan. Untuk kedua kalinya, dua orang kakek ini mengadu tenaga sinkang mereka.

Tetapi berbeda dengan bentrokan tenaga sinkang melalui telapak tangan yang pertama, bentrokan sekali ini dilakukan dengan mati-matian dan dalam keadaan tenaga mereka sudah mulai mengendur, sehingga tentu saja daya tahan mereka pun berkurang. Dalam keadaan seperti itu, bahaya untuk menderita luka dalam atau bahkan kematian lebih besar lagi.

"Dessss...!"

Bentrokan tenaga itu hebat bukan main dan akibatnya, dua orang kakek itu terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah!

Melihat betapa pemimpin mereka roboh terbanting, akan tetapi juga lawannya terlempar dan terbanting jatuh, empat orang pendeta Lama segera menubruk ke arah Tiong Khi Hwesio dengan maksud untuk menghabiskan nyawa lawan yang tangguh selagi lawan itu terbanting dan nampaknya kehabisan tenaga dan tidak berdaya.

"Tahan...!"

Sai-cu Lama yang masih merasa lemah dan pening itu mencoba untuk mencegah, akan tetapi suaranya yang lemah itu agaknya tak mempengaruhi empat orang anak buahnya yang sudah menyerang Tiong Khi Hwesio dengan ganas. Mereka menyerang dengan serentak dan terdengarlah teriakan-teriakan mereka disusul terlemparnya tubuh mereka sampai jauh, terpental seperti dilempar oleh tenaga raksasa dan mereka itu terbanting tak sadarkan diri!

Kiranya, biar pun sudah terbanting roboh, Tiong Khi Hwesio berada di pihak lebih kuat sehingga tenaga sinkang yang masih besar sekali terhimpun di tubuhnya. Ketika empat orang itu menerjangnya, Tiong Khi Hwesio tak melihat jalan lain kecuali menggerakkan kedua tangannya mendorong, dan akibatnya, empat orang itu terlempar seperti daun daun kering tersapu angin.

"Anjing-anjing busuk, jangan serang dia!" bentak Sai-cu Lama, bentakan yang bukan dilakukan karena mengkhawatirkan anak buahnya, melainkan karena dia merasa malu kalau dalam keadaan seperti itu dia harus menggunakan tenaga anak buahnya. Para pendeta Lama itu pun tidak ada yang berani maju lagi. Empat orang teman mereka masih pingsan, dan tentu saja mereka tidak berani maju untuk bunuh diri!

Dua orang kakek itu sekarang sudah bangkit duduk bersila, masing-masing mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.

"Omitohud...! Engkau sungguh merupakan lawan yang amat tangguh dan hebat, Sai-cu Lama. Pinceng merasa kagum sekali... ah, sungguh sayang bahwa kita berdua berada di dua tempat yang bertentangan. Kalau saja engkau suka sadar dan kembali ke jalan benar, betapa akan senang hati pinceng untuk menjadi temanmu bicara tentang ilmu silat."

Pujian yang diucapkan dengan hati yang tulus itu diterima sebagai ejekan oleh Sai-cu Lama. Bagaimana pun juga, dia merasa bahwa dalam bentrokan tenaga sinkang yang terakhir tadi, dia telah terbukti kalah kuat. Kalau saja latihannya belum matang benar, bentrokan tadi saja cukup untuk membuat nyawanya putus!

Dan untuk dapat memulihkan tenaga, dia membutuhkan waktu lama, sedikitnya sampai besok pagi barulah dia akan dapat memulihkan tenaganya dan mampu untuk bertanding lagi. Sedangkan lawannya baru saja membuktikan kehebatannya dengan merobohkan empat orang anak buahnya yang melakukan penyerangan serentak.

"Tiong Khi Hwesio, tak perlu berusaha bicara manis kepadaku. Bagaimana pun, aku masih hidup dan ini berarti bahwa aku belum kalah. Aku hanya kelelahan dan kehabisan tenaga, akan tetapi engkau pun jelas kehabisan tenaga. Biarlah kita beristirahat malam ini, dan besok pagi-pagi kita lanjutkan pertandingan ini sampai seorang di antara kita benar-benar kalah."

"Omitohud... Sai-cu Lama, apakah engkau belum juga mau menyadari bahwa semua kekerasan ini tidak ada gunanya?"

"Sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Sampai besok pagi!" kata Sai-cu Lama dan dia pun memberi perintah kepada anak buahnya untuk tetap mengurung kakek hwesio itu dan jangan mengganggunya. Kemudian dia memejamkan mata sambil duduk bersila dan mengatur pernapasan, tanpa mempedulikan lagi kepada lawannya.

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang. Dia maklum bahwa percuma saja bicara dengan Sai-cu Lama. Orang seperti itu hanya dapat diajak berunding melalui kepalan, dan hanya akan mau bicara jika benar-benar sudah dikalahkannya. Tidak ada lain jalan baginya kecuali memejamkan mata dan mengatur pernapasan pula karena dia tak ingin besok pagi menjadi bulan-bulan kekerasan Sai-cu Lama.

Diam-diam dia pun merasa bingung. Tadi dia telah mengeluarkan semua ilmunya, tetapi semua itu hanya mampu mengimbangi kepandaian lawan. Hanya ada satu ilmu tidak dikeluarkan, yaitu Ilmu Silat Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa). Ilmu ini dianggapnya amat ganas dan dahulu pernah mengangkat namanya sehingga dia dijuluki Toat-beng-ci atau Si Jari Maut. Apakah dia terpaksa harus mempergunakan ilmu itu besok untuk mengalahkan Sai-cu Lama?

Malam itu lewat dalam keadaan yang amat menegangkan. Para pendeta Lama itu tiada yang berani mengeluarkan suara karena mereka takut kalau-kalau akan mengganggu pemimpin mereka yang sedang istirahat. Empat orang yang tadi roboh pingsan, mereka bawa pergi untuk dirawat dan mereka itu hanya berani bicara di tempat yang agak jauh dari situ. Semua orang merasa tegang karena mereka belum tahu bagaimana keadaan pemimpin mereka dalam perkelahian tadi, yaitu menang ataukah kalah.

Setidaknya, pemimpin mereka itu agaknya terdesak, buktinya Sai-cu Lama minta waktu untuk beristirahat. Mulailah mereka bertanya-tanya, siapakah gerangan hwesio tua yang demikian sakti itu.

Pada keesokan harinya, ketika dari jauh terdengar kokok ayam hutan jantan dan sinar matahari pagi mulai bercahaya di ufuk timur, Sai-cu Lama sudah membuka kedua matanya memandang kepada lawannya. Tiong Khi Hwesio sejak tadi sudah bangun dari semedhinya dan kini keduanya saling pandang. Ada kekaguman pada pandang mata masing-masing.

"Hei, Tiong Khi Hwesio. Bagaimana kalau kita menyudahi saja perkelahian yang tidak ada gunanya ini?" tiba-tiba terdengar Sai-cu Lama berkata.

Wajah tua itu berseri gembira. "Siancai...! Agaknya Sang Buddha telah mendatangkan penerangan yang menyadarkan batinmu, saudaraku yang baik! Tentu saja pinceng berterima kasih sekali dan sangat girang kalau perkelahian yang tidak ada gunanya ini dihentikan."

"Bagus, kita hentikan saja perkelahian ini dan menjadi sahabat. Bahkan bukan hanya sahabat, tetapi aku akan mengangkatmu menjadi wakilku, wakil pemimpin kelompok Lama Jubah Merah. Bagaimana, sahabatku?"

Tentu saja Tiong Khi Hwesio terkejut dan mengerutkan alisnya. Hal ini sama sekali tak pernah disangkanya. Kiranya lawan itu mengajak berhenti berkelahi karena justru ingin menarik dirinya sebagai sekutu dan pembantu! Dia menarik napas panjang, merasa menyesal sekali sebagai pengganti kegirangannya karena tadi mengira bahwa orang itu telah sadar.

"Omitohud, Sai-cu Lama, kiranya engkau belum juga sadar dan bahkan ingin menyeret pinceng ke dalam kelompokmu. Betapa sesatnya keinginanmu itu. Pinceng sengaja datang untuk menyadarkan kalian dari jalan yang sesat, bukan untuk membantu kalian merajalela dengan kejahatan kalian."

Sai-cu Lama tersenyum menyeringai. "He-he-heh, Tiong Khi Hwesio, jadi engkau masih menghendaki diteruskannya perkelahian ini? Hemm, kau kira percuma saja semalam aku beristirahat? Engkau takkan menang kali ini!"

"Terserah kepadamu, Sai-cu Lama. Dalam pertandingan ilmu silat memang hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah, jadi tak perlu diributkan benar." Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kecewa dan marah, akan tetapi sikapnya masih biasa, halus dan ramah, dan tenang sekali.

Tiba-tiba Sai-cu Lama meloncat berdiri. Ternyata gerakannya sigap bukan main, tanda bahwa dia telah memulihkan kembali tenaganya dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan dia telah memegang sebatang pedang tipis yang berkilauan. Pedang ini diam-diam diterimanya dari seorang muridnya setelah dia memberi isyarat malam tadi. Kiranya, Sai-cu Lama yang merasa betapa lihainya orang yang menjadi lawannya, diam-diam telah mempersiapkan diri dan kini dia hendak mencapai kemenangan dengan bantuan sebatang pedang tipis!

Tiong Khi Hwesio juga sudah bangkit berdiri dan dia tetap tenang saja melihat lawannya kini memegang sebatang pedang. Bagi seorang ahli silat tinggi yang memiliki kesaktian seperti dia, menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama, tiada bedanya apakah lawan itu bersenjata ataukah tidak. Kedua tangan dan kaki lawan itu pun tidak kalah ampuhnya dengan pedang yang kini dipegangnya.

"Hwesio tua bangka, makanlah pedang ini!" bentak Sai-cu Lama yang sudah menerjang dengan dahsyatnya.

Tempat itu masih seperti semalam, penuh dengan para pendeta Lama yang menjadi penonton dari jarak yang cukup jauh. Kini mereka mengharapkan bahwa ketua mereka akan dapat membunuh hwesio tua yang tangguh itu.

Pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar terang yang meluncur dan ketika Tiong Khi Hwesio dapat mengelak dengan lompatan ke kiri, sinar pedang berkelebatan dan bergulung-gulung menyambar ke arah tubuh Tiong Khi Hwesio dari delapan penjuru angin!

Tahulah Tiong Khi Hwesio bahwa ilmu pedang yang dimainkan lawan adalah semacam Ilmu Pedang Delapan Penjuru Angin atau Pat-hong Kiam-sut yang telah diubah dan diberi banyak perkembangan. Dia sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan keringanan tubuhnya dia berkelebatan menghindarkan diri, lalu secara mendadak terdengar bunyi melengking yang menggetarkan semua orang dan Sai-cu Lama sendiri mengeluarkan seruan kaget.

Kiranya sekarang Tiong Khi Hwesio telah memainkan ilmu silatnya yang semalam tidak dikeluarkannya, yaitu Ilmu Silat Toat-beng-ci. Jari-jari kedua tangannya bagaikan hidup, melakukan totokan-totokan dan cengkeraman-cengkeraman, dan setiap jari membawa ancaman maut! Itulah sebabnya maka dinamakan Jari Pencabut Nyawa! Dan hebatnya, jari-jari tangan itu diperkuat oleh tenaga yang membuat jari-jari tangan itu sedemikian kerasnya sehingga dengan tangan kosong Tiong Khi Hwesio berani menangkis pedang lawan!

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Sai-cu Lama menghadapi ilmu silat yang luar biasa itu dan permainan pedangnya menjadi kacau. Tak disangkanya bahwa lawannya masih mempunyai simpanan ilmu yang demikian hebatnya, padahal tadinya dia sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat menangkan perkelahian itu jika dia menggunakan pedangnya. Karena permainan pedangnya kacau, maka dia menjadi kurang waspada.

"Tring-tring-crangg... aughhh...!"

Tubuh Sai-cu Lama terpelanting. Darah mengucur keluar dari luka di pundak kanannya, sedangkan pedangnya terlempar dan patah menjadi dua potong! Jika saja Sai-cu Lama tidak memiliki tubuh yang telah dilindungi kekebalan, mungkin lukanya akan lebih parah lagi.

Dua jari tangan Tiong Khi Hwesio mengenai pundaknya dan biar pun pundak itu telah dilindungi ilmu kekebalan, tetap saja terobek sampai dagingnya. Masih untung tulang pundaknya tidak patah dan urat besarnya tidak putus. Akan tetapi, dengan luka di pundaknya itu, untuk sementara lengan kanan Sai-cu Lama tidak dapat digerakkan dan kalau pada saat itu Tiong Khi Hwesio mendesaknya, tentu akan mudah sekali bagi hwesio itu untuk menghabisi nyawanya.

Namun, Tiong Khi Hwesio merasa tidak tega! Perasaan tidak tega ini timbul sejak malam tadi, setelah dia merasa kagum terhadap ilmu kepandaian Sai-cu Lama yang sanggup menandinginya sampai selama itu. Kalau saja Sai-cu Lama tadi tidak kacau permainan pedangnya, mungkin perkelahian ini pun akan makan waktu yang lebih lama lagi. Dia merasa sayang untuk membunuh Sai-cu Lama dan mengharapkan bahwa kekalahannya itu akan membuat Sai-cu Lama sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Sai-cu Lama juga bukan seorang bodoh. Sama sekali bukan, bahkan dia cerdik sekali. Dia tahu bahwa kali ini dia harus mengakui keunggulan lawan, bahwa dia telah bertemu dengan orang yang lebih lihai darinya. Percuma saja melanjutkan perkelahian itu. Biar pun dia dapat mengerahkan anak buahnya, namun melanjutkan perkelahian sama saja dengan membunuh diri sendiri dan membunuh para anak buahnya. Ia sudah tak mampu melanjutkan perkelahian. Untuk sementara, jalan terbaik adalah menakluk, tanpa malu-malu lagi, demi keselamatan dirinya.

Sai-cu Lama bangkit berdiri terhuyung-huyung, mempergunakan tangan kirinya untuk menekan luka di pundak kanan, mukanya pucat dan keringatnya membasahi mukanya. Dia pun menghadapi Tiong Khi Hwesio yang masih berdiri tegak memandangnya.

"Tiong Khi Hwesio, aku mengaku kalah padamu."

"Omitohud, engkau sungguh lihai bukan main, Sai-cu Lama. Tidak, pinceng tak merasa menang, hanya kebetulan saja yang membuat engkau terpaksa mengalah. Biarlah kita lupakan saja pertandingan tadi dan sekali lagi pinceng minta kepadamu untuk kembali ke jalan benar dan meninggalkan jalan sesat penuh perbuatan maksiat."

Sai-cu Lama menarik napas panjang. "Baiklah, aku sudah bertemu dengan orang yang lebih pandai dan akan kucoba untuk mengubah jalan hidupku. Katakan, apa yang harus kulakukan?"

Tiong Khi Hwesio tersenyum, girang bukan main bahwa ia telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia tidak girang atas kemenangannya, melainkan girang sekali melihat Sai-cu Lama mau mengubah jalan hidupnya.

"Saudaraku yang baik, kita adalah orang-orang tua yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta. Tentu engkau telah tahu apa yang sepatutnya kita lakukan sebagai pendeta. Pertama-tama tentu saja harus menghentikan dan menjauhkan semua perbuatan yang ditunggangi nafsu. Sebaiknya jika engkau membubarkan saja kelompok Lama Jubah Merah, dan menghentikan semua perbuatan yang sesat seperti merampok, mengganggu wanita, mengejar kesenangan duniawi dengan merugikan orang lain."

"Baiklah, Tiong Khi Hwesio. Sekarang juga akan kububarkan kelompok ini."

Sai-cu Lama lalu menhadapi semua pendeta yang telah berkumpul di situ.

"Kalian telah melihat sendiri, juga mendengar sendiri percakapan antara aku dan Tiong Khi Hwesio. Mulai saat ini, perkumpulan kita kububarkan! Kalian boleh membagi-bagi harta yang ada dengan adil, kemudian pergilah dari sini. Kuperingatkan agar kalian tidak lagi melakukan perbuatan seperti yang sudah-sudah. Jika aku mendengar ada seorang Lama Jubah Merah melanggar, aku sendiri yang akan mencari dan menghukumnya. Nah, lakukan perintahku dan bubarlah!"

Dengan hati girang dan terharu Tiong Khi Hwesio melihat sendiri betapa para pendeta itu mentaati perintah ini. Para wanita dibebaskan dan turut diberi pembagian harta, dan setelah membagi-bagi harta yang berada di perkampungan itu, atas perintah Sai-cu Lama, perkampungan itu dibakar dan para pendeta jubah merah lalu berpamit dan pergi dari situ.

"Sai-cu Lama, percayalah bahwa perbuatanmu hari ini merupakan permulaan yang baik sekali bagi dirimu. Sayang ilmu kepandaianmu yang tinggi kalau kau pergunakan untuk mengeruhkan dunia. Alangkah akan baiknya jika kepandaian itu kau pergunakan untuk menjernihkan dunia, menenteramkan kehidupan umat manusia. Dan maafkanlah kalau pinceng telah datang dan pernah menggunakan kekerasan kepadamu!" Demikian kata kata perpisahan Tiong Khi Hwesio yang dibalas oleh Sai-cu Lama dengan ramah pula.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa besar rasa penyesalan di hati Tiong Khi Hwesio ketika beberapa bulan kemudian dia mendengar bahwa biar pun Sai-cu Lama telah membubarkan kelompok Lama Jubah Merah, namun dia sama sekali belum sadar atau kembali ke jalan benar. Bahkan dia telah membuat kekacauan di antara para pimpinan Lama, dan Sai-cu Lama bahkan melakukan hubungan persekutuan dengan pembesar-pembesar yang mempunyai niat khianat terhadap pemerintah Ceng!

Ketika para pemimpin pendeta Lama mencoba untuk memperingatkannya, Sai-cu Lama bahkan turun tangan membunuh dua orang pemimpin pendeta lama, dan dia kemudian melarikan diri!

Mendengar berita ini, Tiong Khi Hwesio merasa menyesal sekali. Dia merasa turut bertanggung jawab terhadap peristiwa itu. Jika saja dia tidak mengampuni Sai-cu Lama, melainkan membasmi dan membunuhnya, atau setidaknya mencabut ilmu silatnya dengan jalan membuat kaki tangannya cidera berat, tentu Sai-cu Lama tidak mampu melakukan kejahatan lagi. Membunuh dua orang pimpinan pendeta Lama! Dan lebih hebat lagi, melakukan hubungan persekutuan dengan para pengkhianat di kota raja.

Dia dapat menduga bahwa tentu Sai-cu Lama kini melarikan diri ke kota raja, bukan hanya untuk menyembunyikan dirinya, melainkan juga untuk mengejar kedudukan dan kemuliaan di sana, bersekutu dengan para pembesar khianat dan pemberontak. Dan hal itu amatlah berbahaya, bukan hanya membahayakan kedudukan kaisar dan pemerintah, melainkan juga membahayakan keamanan hidup rakyat.

Demikianlah, dia lalu cepat melakukan pengejaran sampai dia bertemu dengan Hong Beng dan Bi Lan. Tentu saja dia merasa khawatir sekali mendengar bahwa Sai-cu Lama telah merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan Bi Lan. Dengan pedang yang sangat dahsyat itu di tangan, Sai-cu Lama benar-benar merupakan seorang yang luar biasa berbahaya dan sukar dikalahkan.

Setelah meninggalkan Hong Beng dan Bi Lan, Tiong Khi Hwesio kemudian melakukan perjalanan cepat melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama menuju ke kota raja.....

********************

Dusun kecil itu tidak seperti biasanya, nampak meriah dan gembira. Dusun itu biasanya amat sunyi di waktu sepagi itu. Orang-orang sudah pergi ke sawah ladang dan yang tinggal di rumah hanyalah orang-orang jompo, anak-anak dan wanita-wanita yang sibuk bekerja di dalam rumah.

Jalan-jalan biasanya sunyi. Akan tetapi pagi itu, suasana meriah dan gembira sekali, karena ada perayaan di rumah sebuah keluarga dusun itu. Ada pesta pengantin! Dan seperti lajimnya di dusun-dusun, penduduknya memiliki keakraban dan penduduk dusun selalu hidup bergotong royong.

Tidak seperti kehidupan rakyat di kota-kota besar, di mana keakraban sudah menipis dan kegotong royongan hampir tak terasa lagi. Makin besar kota itu, makin ramai dan makin maju, makin banyak kesenangan dikejar orang dan orang-orang semakin hidup menyendiri, acuh terhadap orang lain, mengurung diri dalam sangkar ke-aku-an yang selalu mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri atau kelompok sendiri.

Orang-orang yang berasal dari dusun, kalau sudah pindah ke kota, juga sudah maju dan berhasil mengumpulkan harta benda, segera terseret pula dan tak mempedulikan orang lain. Memang demikianlah keadaan masyarakat kita di bagian mana pun di dunia ini.

Manusia, kalau sedang menderita, kalau sedang kekurangan, akan dapat bersatu dan bergotong-royong. Akan tetapi kalau sudah hidup senang dan mulia, serba kecukupan, lenyaplah rasa persatuan dan sifat kegotong-royongan, terganti oleh rasa saling mengiri dan saling bersaing. Hal ini nampak jelas dalam kehidupan masyarakat di dusun-dusun yang biasanya akrab dan bergotong royong, dan dalam kehidupan masyarakat di kota-kota yang acuh dan selalu mementingkan diri sendiri.

Di dalam dusun kecil di mana sedang diadakan pesta pernikahan itu, penduduknya juga tak berbeda dengan dusun-dusun lain, saling bergotong royong. Tanpa diminta, mereka pagi-pagi sudah mendatangi keluarga yang hendak merayakan pesta pernikahan anak mereka, untuk mengulurkan tangan membantu.

Ada yang membantu menghias ruangan, membuat bangunan darurat untuk menerima tamu, ada pula yang sibuk membantu di dapur yang sedang mempersiapkan hidangan yang akan disuguhkan siang nanti. Sejak pagi, ada pula yang bermain musik untuk memeriahkan suasana. Semua ini dikerjakan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balas jasa dan upah.

Suasana menjadi semakin meriah ketika matahari mulai naik tinggi. Para tetangga yang tadi pagi membantu, kini sudah berganti pakaian dan mereka kini datang sebagai tamu. Tetapi masih banyak di antara mereka yang sibuk di dapur, dan orang-orang mudanya sibuk pula menjadi pelayan-pelayan tanpa bayaran. Para tamu mulai berdatangan dan suasana menjadi meriah sekali walau pun pesta itu amat sederhana dengan hidangan-hidangan sederhana pula, dengan musik yang dimainkan oleh seniman-seniman dusun itu sendiri. Bangku-bangku mulai dipenuhi para tamu.

Kemeriahan memuncak saat mempelai pria datang untuk menjemput mempelai wanita. Semua orang menjulurkan leher, ada yang berkerumun, untuk menyaksikan pertemuan sepasang pengantin itu.

Pengantin perempuannya manis sekali, berusia enam belas tahun paling banyak dan pengantin prianya juga masih muda, belum dua puluh tahun, bertubuh tegap karena biasa bekerja di sawah ladang. Melihat pandang mata kedua mempelai ini yang nampak bersinar-sinar dan wajah mereka berseri, mulut mereka tersenyum dikulum, mudah diduga bahwa keduanya tidak asing satu sama lain dan bahwa pernikahan ini bukan pernikahan paksaan yang sering kali terjadi di dusun pada jaman itu.

Tidak, sepasang mempelai ini adalah muda mudi yang sudah saling mengenal, bahkan saling mencinta walau pun tak pernah ada kata cinta keluar dari mulut masing-masing. Bagi penduduk dusun cinta kasih mereka cukup diwakili oleh kerling mata dan senyum bibir saja.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner