SULING NAGA : JILID-23


Hampir setiap pagi, di atas satu di antara puncak-puncak pegunungan itu, seorang pria selalu menyambut munculnya matahari sambil meniup sulingnya. Keadaan sekitarnya, pemandangan alam yang nampak di matanya, bunyi-bunyian antara binatang-binatang malam yang mulai mengendur dan berganti suara kokok ayam dan kicau burung yang memasuki telinganya, keharuman tanah yang dibasahi air embun, rumput dan daun-daun pohon yang memasuki hidungnya, perasaan hati yang tenang dan hening, semua itu seolah-olah memberi ilham kepadanya untuk mengalunkan suara sulingnya tanpa memainkan suatu lagu tertentu!

Semua yang didengarnya, dilihatnya dan diciumnya itu seolah-olah hendak ia masukkan ke dalam tiupan sulingnya, atau lebih tepat lagi, dia ingin mengiringi semua itu dengan alunan suara yang serasi, dan dia meniup dengan sepenuh perasaan, hanyut ke dalam suara buatan sulingnya sendiri.

Pria itu berusia tiga puluh tiga tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan, namun sepasang matanya yang tajam itu seperti diselimuti kesayuan, seperti mata orang yang pernah dilanda duka. Pakaiannya sederhana sekali, namun bersih. Dia duduk di atas sebuah batu hitam, menghadap ke timur dan suara sulingnya akhirnya berhenti setelah matahari naik semakin tinggi dan cahayanya mulai menyilaukan mata.

Begitu suara sulingnya berhenti, ramailah terdengar suara burung-burung berkicau dan pergantian suara ini bukan membikin suasana menjadi buruk, bahkan kini suasana menjadi gembira sekali, seakan-akan burung-burung itu bergembira menyambut hari yang cerah. Suara suling tadi mendatangkan kesyahduan dan agaknya banyak burung ikut mendengarkan dan baru sekarang mereka semua berkicau dan ada yang mulai terbang meninggalkan pohon untuk pergi mencari makan.

Melihat sulingnya yang mengeluarkan cahaya ketika tertimpa sinar matahari yang mulai naik tinggi tentu akan membuat orang terkejut karena suling itu terbuat dari pada kayu menghitam yang diukir indah seperti bentuk naga akan tetapi tajam dan runcing seperti pedang. Dan memang benda itu adalah Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) dan pemegangnya adalah Pendekar Suling Naga Sim Houw!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sim Houw pernah pergi jauh ke daerah Himalaya untuk mengunjungi keluarga Cu Kang Bu yang masih merupakan keluarga mendiang ibunya. Ibunya, mendiang Cu Pek In, adalah keponakan dari pendekar Cu Kang Bu. Ketika berkunjung itulah dia berhasil mengalahkan mendiang Pek-bin Lo-sian dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam itu. Oleh karena pedang ini amat cocok untuk dipakai sebagai suling dan pedang, maka dia pun menyerahkan kembali suling emas yang diterima dari ibunya dulu, juga mengembalikan Koai-liong Po-kiam yang memang asalnya dari lembah keluarga Cu.

Sejak itu, dia pun merantau selama tujuh tahun. Pedangnya yang sudah mengalahkan entah berapa banyak tokoh-tokoh kaum sesat, membuat nama Pendekar Suling Naga semakin terkenal. Akan tetapi, semakin dia terkenal, Sim Houw menjadi semakin rendah hati. Dia yang sejak muda sudah biasa hidup di alam bebas, menyatukan diri dengan kebesaran alam, dapat melihat bahwa dirinya itu sesungguhnya bukan apa-apa, hanya kebetulan menjadi pewaris ilmu silat yang tinggi dan pusaka yang ampuh begitu saja.

Seperti juga semua manusia lain, tentu dia memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dia kelihatan terkenal dan dikagumi orang, akan tetapi hidupnya selalu sebatang kara dan sampai hari itu, dia masih juga hidup menyendiri. Dia sudah tidak memiliki keluarga kecuali keluarga Cu yang tinggal jauh di Himalaya itu, dan kalau sampai berusia tiga puluh tiga tahun dia belum juga menikah, hal itu sama sekali bukan karena dia pantang menikah, melainkan karena dia belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang cocok untuk menjadi jodohnya, seorang yang saling mencinta dengan dia!

Dia tidak mau patah hati untuk kedua kalinya. Kegagalan cinta dan tali perjodohannya dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri pendekar Suma Ceng Liong, membuat Sim Houw berhati-hati sekali dan tidak mau sembarangan jatuh hati kepada wanita sebelum dia yakin benar bahwa cintanya takkan bertepuk tangan sebelah. Dan sampai sekarang, dia masih merasa belum bertemu dengan jodohnya.

Kalau ada wanita yang menarik hatinya, ternyata wanita itu tidak cinta kepadanya, dan sebaliknya kalau ada gadis yang tertarik kepadanya, dia sendiri tidak mencinta gadis itu. Dia tidak mencari gadis yang cantik jelita, atau yang kepandaian silatnya setingkat dia. Dia tidak mempunyai syarat apa pun, kecuali saling mencinta. Dan bagi cinta, agaknya wajah dan kepandaian itu tidak dapat dipakai sebagai dasar atau ukuran. Cinta adalah urusan hati, sedangkan kepandaian dan kecantikan adalah urusan badan. Walau pun ada kaitannya, namun keindahan lahiriah itu tidak menjadi syarat yang menentukan bagi cinta.

Kadang-kadang timbul pula rasa kesepian di lubuk hati pria yang masih muda ini, dan rasa kesepian ini menakutkan sekali. Sebagai seorang pendekar sakti, belum pernah ia takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguh pun, tetapi menghadapi kesepian ini kadang-kadang membuatnya merasa ngeri! Haruskah hidupnya selalu begini, seorang diri saja? Akan tetapi ada kalanya kesepian itu menjadi keheningan yang menyejukkan hati, yaitu di waktu pikirannya tenang dan tidak mengada-ada.

"Bagus sekali, mengapa berhenti?" Tiba-tiba terdengar suara halus.

Sejak tadi, pendekar ini tahu bahwa ada orang datang dari arah belakang dan orang itu berhenti sampai lama. Biar pun dia tadi masih meniup sulingnya, akan tetapi andai kata orang di belakangnya itu menyerangnya secara tiba-tiba, ia tentu akan dapat melindungi dirinya.

Karena sudah tahu bahwa di belakangnya ada orang, semestinya dia tidak kaget ketika mendengar teguran itu. Akan tetapi, kenyataannya Sim Houw terkejut dan terheran. Cepat dia menoleh karena tak disangkanya bahwa orang yang datang adalah seorang wanita dan teguran tadi pun sama sekali tidak menunjukkan nada permusuhan. Dan kekagetannya bertambah ketika dia menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang dara yang masih muda, paling banyak delapan belas tahun usianya dan dara itu manis sekali.

Kini gadis itu berdiri, baru saja keluar dari balik batang pohon di mana ia tadi mengintai, dan tersenyum. Memang luar biasa manisnya gadis ini kalau dia tersenyum. Wajahnya memang selalu cerah, sikapnya selalu gembira dan jenaka, akan tetapi kalau dia lagi tersenyum, mulut yang kecil itu dihias sepasang lesung pipit di kanan kiri sehingga Sim Houw terpesona dan sejenak timbul pikiran tahyul bahwa yang muncul ini bukan manusia melainkan seorang dewi!

Akhirnya dapat juga dia menenteramkan jantungnya yang berdebar tidak karuan itu dan dia pun bertanya, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya tadi, "Apa yang kau katakan tadi?"

"Aku berkata bahwa tiupan sulingmu itu bagus dan merdu bukan main, akan tetapi kenapa berhenti?"

Sim Houw tersenyum dan bangkit berdiri, menghadapi gadis itu. "Tiupanku hanya asal bunyi saja, bagaimana bisa bagus? Dan aku berhenti meniup karena memang sudah habis." Sukar dia menguraikan mengapa dia meniup suling, digerakkan oleh suasana dan suasana pula yang menghentikan tiupan sulingnya.

"Ehh, lagu apakah tadi? Indah sekali!" kembali gadis itu bertanya sambil mendekat.

"Lagu asal bunyi saja. Adik ini siapakah dan datang dari mana dan hendak ke mana? Sungguh aneh melihat seorang dara muda seperti engkau ini dapat datang ke puncak ini. Bagaimana kau bisa datang ke sini dan bersama siapa, ada keperluan apa?"

"Wah-wah-wah, pertanyaanmu datang bertubi seperti hujan deras saja. Kenapa kau bertanya-tanya? Apakah puncak ini milikmu?"

Ditanya demikian, Sim Houw lalu membelalakkan matanya. Suasana otomatis menjadi demikian gembira setelah gadis ini bicara. Mungkin karena wajahnya yang cerah itu, atau senyumnya yang manis, atau juga karena kata-katanya yang jenaka.

"Puncak ini? Puncak ini memang milikku, juga milikmu, dan milik siapa saja yang mau mengakuinya."

"Wah, jawabanmu aneh dan ngaco! Mana bisa semua orang boleh memilikinya asal mau mengakuinya?"

"Siapa pula yang mau memiliki gunung? Aku bertanya karena merasa heran bagaimana engkau bisa datang ke sini."

"Aku datang seorang diri tanpa kawan, dan apa anehnya?”

"Akan tetapi tidak mudah naik ke puncak ini, apa lagi bagi seorang..."

"Bagiku mudah saja!"

Mengertilah Sim Houw bahwa yang datang ini adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian silat cukup tinggi maka dapat dengan mudah mendaki puncak ini. "Kalau boleh aku bertanya, apakah keperluanmu datang ke sini?"

"Mencari orang! Dan sekarang, untuk pertanyaanmu yang bertubi-tubi itu, aku mau membalas dengan satu pertanyaan saja. Setelah kau jawab, aku segera pergi dari sini dan tidak akan menganggumu lagi."

Sim Houw tersenyum lagi. Sikap dan cara bicara anak ini sungguh lucu sekali dan lincah jenaka. "Tanyalah, adik yang baik, jangankan hanya satu pertanyaan, biar selosin pun akan kujawab."

"Tak usah banyak-banyak, satu saja karena aku datang bukan untuk mengajak orang mengobrol. Begini paman yang baik. Aku mendengar bahwa orang yang sedang kucari itu berada di sekitar Pegunungan Tai-hang-san ini, dan ketika aku bertanya-tanya kepada para penghuni dusun di bawah sana, mereka memberi tahu bahwa untuk mencari orang itu aku harus bertanya kepada seorang penyuling yang mungkin berada di puncak ini. Nah, aku pun datang di sini dan karena engkau pandai bermain suling, agaknya engkaulah penyuling itu. Tentu saja kecuali kalau ada penyuling lain lagi."

Hati Sim Houw mulai merasa tidak enak, namun dengan sikap tenang dia menyimpan Liong-siauw-kiam di sarungnya yang terselip di pinggang di balik bajunya yang panjang, dan dia bertanya. "Nona, siapakah yang kau cari itu?"

Dara itu bukan lain adalah Can Bi Lan. Setelah ia mendengar dari Kun Tek bahwa kalau hendak mencari Pendekar Suling Naga, ia harus pergi ke Tai-hang-san sebab pendekar itu suka berkeliaran di daerah itu, maka ia pun langsung saja pergi ke Tai-hang-san. Di sekitar kaki dan lereng pegunungan itu, ditanyainya penghuni dusun barang kali ada yang mengenal orang yang bernama Sim Houw berjuluk Pendekar Suling Naga.

"Yang kucari adalah Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw." Sepasang mata yang jernih tajam itu memandang penuh selidik. "Tahukah engkau, paman?"

Sim Houw mengangguk dan menekan hatinya yang agak menegang. Heran dia kenapa dicari oleh dara muda ini. Hatinya merasa tegang, padahal andai kata yang mencarinya itu beberapa orang yang kelihatan jahat dan mengambil sikap bermusuhan sekali pun, belum tentu dia akan kehilangan ketenangan.

"Nona," dia tidak menyebut lagi adik setelah mendengar betapa gadis itu menyebutnya ‘paman’. Memang, melihat keadaan gadis itu yang masih muda, sudah sepatutnyalah kalau dia disebut paman. "Kalau engkau hendak mencarinya, yang bernama Sim Houw adalah aku sendiri. Tidak tahu ada keperluan apakah?"

Bi Lan melongo dan kini sepasang matanya memandang pria itu dari kepala ke kaki dengan penuh selidik. "Luar biasa! Engkau pendekar yang namanya terkenal sekali itu? Ahhh, siapa kira..."

"Ternyata hanya begini saja, ya?" Sim Houw tersenyum pahit, tidak menyesal hanya merasa lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi terkenal. Lebih enak menjadi orang yang tidak dikenal, sehingga tidak ada yang kecewa atau heran melihat keadaannya.

"Ahhh, bukan begitu. Tapi hemm, bentuk badan dan wajah memang agak cocok dengan keterangan suci. Tubuhmu sedang dan wajahmu cukup tampan. Akan tetapi tidak setua ini! Kata suci, engkau seorang pemuda yang hebat, tampan dan lihai. Tapi walau pun engkau tampan, engkau tidak muda lagi dan pakaianmu begini sederhana, sama sekali bukan seperti pendekar."

"Kalau pendekar itu harus seperti bagaimana?" Sim Houw yang ketularan kejenakaan gadis itu, bertanya sambil berkelakar.

"Seperti... seperti...apa ya? Aku sendiripun tidak tahu."

Ia teringat akan Gu Hong Beng dari Cu Kun Tek. Keduanya adalah pendekar-pendekar muda, akan tetapi mereka pun seperti orang biasa. Hampir lupa ia bahwa pendekar pun orang, maka tentu tidak ada bedanya dengan orang lain.

"Nona, siapakah suci-mu itu? Dan apa keperluanmu mencari aku?"

"Beberapa tahun yang lalu suci pernah kalah olehmu... ahhh, pantas, sudah lewat beberapa tahun, tentu saja engkau menjadi lebih tua. Mungkin karena terlalu sederhana kau jadi kelihatan lebih tua. Berapa sih usiamu sekarang?"

Melihat betapa percakapan itu menjadi tidak karuan, malah bertanya umur segala, Sim Houw tidak dapat menahan ketawanya. Dia tertawa dan sekarang nampak bahwa dia sesungguhnya belum tua karena begitu dia tertawa wajahnya nampak masih muda.

"Eh, kenapa kau malah tertawa? Apakah engkau mentertawakan aku?" Pandang mata Bi Lan penuh kemarahan dan alisnya berkerut.

Tiba-tiba saja Sim Houw menghentikan suara ketawanya. Dia seperti melihat bahwa jika dia tertawa terus, tentu gadis itu akan langsung menyerangnya. Sekarang pun sudah menyerangnya dengan pandang mata yang lebih runcing dari pada mata pedang!

"Aku tidak mentertawakanmu, nona, melainkan ketawa karena kata-katamu yang lucu. Jika mau tahu usiaku, aku berusia tiga puluh tiga tahun sekarang. Nah, memang sudah tua, bukan?"

"Engkau tidak tua tidak muda, engkau... yah, cukupan. Belum tua tapi sudah masak, begitulah andai kata engkau ini buah."

"Siapa bilang belum tua? Sudah seratus tahun kurang..."

"Ehhh? Jadi kau tadi membohong ketika mengaku berumur tiga puluh tiga..."

"Seratus tahun kurang enam puluh tujuh kan berarti seratus tahun kurang." Sim Houw yang biasanya pendiam itu mendadak saja pandai berkelakar.

"Huh, kalau begitu aku pun seratus tahun kurang! Kau kira aku ini anak kecil, mudah saja dibohongi?"

"Kau memang bukan anak kecil, akan tetapi dibandingkan dengan aku, engkau ini yah, katakanlah remaja yang sudah matang. Usiamu tentu paling banyak enam belas tahun." Sengaja Sim Houw mengurangi taksirannya untuk menggoda. Dia sama sekali tidak tahu bahwa wanita paling suka kalau dikatakan masih muda, dan ucapannya tadi bukan merayu, melainkan hanya untuk menggoda.

Akan tetapi Bi Lan girang sekali. "Masih kelihatan begitu muda? Padahal, aku sudah hampir delapan belas tahun! Eh, paman... bagaimana ya baiknya kupanggil paman atau kakak?"

"Terserah kepada yang panggil, itu adalah urusan orang yang akan memanggil, boleh kau sebut paman, kakak, kakek, asal jangan menyebut bibi saja."

"Aha, kau pandai berkelakar, ya? Lucu ya? Tidak lucu, ah!"

Kembali Sim Houw tertawa. Bukan main gembira hatinya. Selama hidup baru satu kali ini dia benar-benar merasa gembira bercakap-cakap dengan seseorang. Gadis remaja yang satu ini memang bukan main. Lucunya tidak dibuat-buat, memang sikapnya, kata-katanya dan pandang matanya, mulutnya, semua serba lucu dan menarik.

"Ehh, ketawa lagi! Aku jadi ragu-ragu apakah benar engkau yang dipanggil Pendekar Suling Naga! Masa ada pendekar kok begini sederhana dan suka berkelakar? Tidak berwibawa seujung rambut pun. Pantasnya kau ini..."

Gadis itu memandang seperti orang menimbang-nimbang, menggeleng sana-sini seperti seorang gadis remaja menaksir sepotong baju baru yang akan dipilihnya.

"Pantasnya jadi apa?" tanya Sim Houw yang sudah siap untuk tertawa lagi karena baru sikap gadis itu sudah begitu menyenangkan dan menggelikan. Dia tidak mungkin bisa marah dikatakan apa saja oleh gadis seperti ini!

"Hemm... jadi petani dusun, terlalu tampan dan kulitmu terlalu halus. Jadi seorang kutu buku! Yah, seorang kutu buku, yang kerjanya setiap hari hanya baca buku, melamun, baca buku sambil menangis sendiri, tertawa sendiri..."

"Wah, seperti orang gila? Menangis sendiri tertawa sendiri?"

"Bukan gila. Aku melihat semua kutu buku begitulah. Kalau cerita yang dibacanya itu menyedihkan dan mengharukan, dia menangis sendiri, kalau ada yang lucu, ketawa-ketawa sendiri, memang seperti orang gila, tapi bukan. Ehh, benarkah kau ini bernama Sim Houw dan yang dijuluki Pendekar Suling Naga?"

"Namaku memang Sim Houw dan tentang julukan itu adalah orang-orang lain yang menyebutnya, aku sendiri tidak pernah merasa menjadi pendekar."

"Akan tetapi kata suci-ku, Pendekar Suling Naga mempunyai sebuah pusaka, yaitu Liong-siauw-kiam!"

Sim Houw dapat menduga bahwa kedatangan gadis ini tentu ada hubungannya dengan pedang itu, maka dia pun mencabut Liong-siauw-kiam dari sarungnya. "Benda inilah yang disebut Liong-siauw-kiam, suling yang kutiup tadi."

Sepasang mata yang indah itu terbelalak. Ia melihat sebatang kayu semacam tongkat berbentuk naga, berlubang-lubang seperti suling, namun tajam juga runcing bagaikan pedang. Akan tetapi benda itu hanya dari kayu, buruk kehitaman pula. "Itu? Yang kau tiup tadi? Itukah yang disebut Liong-siauw-kiam dan diperebutkan oleh begitu banyak orang? Aihhh, apakah mereka semua itu sudah gila?"

Sim Houw menyarungkan lagi pedangnya, "Gila? Mereka siapa yang gila?"

"Tentu saja yang memperebutkannya dengan taruhan nyawa. Bukankah itu pedang yang tadinya berada di tangan kakek Pek-bin Lo-sian dan diperebutkan? Engkau juga termasuk yang mungkin gila, memperebutkan pedang kayu seperti itu dengan taruhan nyawa. Dijual tidak akan laku sepuluh tael perak! Engkau, suci-ku yang berjuluk Bi-kwi, juga Sam Kwi guru-guruku, mereka itu juga sudah gila. Aku pun termasuk yang sudah gila karena aku mau saja mewakili suci-ku untuk merampas pedang macam itu darimu. Kalau bukan karena mewakili suci, huh, diberi juga aku sendiri tidak sudi! Apa lagi harus merampas segala macam!"

Sim Houw terkejut, alisnya berkerut dan rasa kecewa yang amat besar menyelinap di dalam hatinya. Gadis ini murid Sam Kwi? Dan ia datang diutus oleh Bi-kwi, wanita iblis jahat itu untuk merampas pedang pusaka ini? Sungguh sukar untuk dipercaya. Dan pandangannya pun berubah!

Dia kini menganggap bahwa semua kelucuan gadis ini tadi dibuat-buat saja, sengaja untuk menjatuhkan hatinya, untuk merayunya! Dan memang gadis ini tadi telah berhasil menarik hatinya, membuat dia merasa suka sekali kepada gadis ini. Akan tetapi begitu dia mendengar bahwa gadis ini murid Sam-Kwi, segera dia usir semua rasa suka itu, walau pun dengan hati penuh penyesalan dan kekecewaan.

Tidaklah aneh sikap Sim Houw ini. Bukankah kita semua juga mendasari rasa suka dan tidak suka melalui penilaian dan semua penilaian ini dipengaruhi perhitungan untung atau rugi? Baik untung rugi batin mau pun untung rugi lahir. Kalau menguntungkan kita, maka kita menilai orang itu sebagai orang baik, sebaliknya kalau merugikan kita, kita menilai orang itu sebagai orang tidak baik.

Kita suka atau tidak suka pada seseorang berdasarkan penilaian itu! Tak mengherankan apa bila seseorang itu bisa hari ini baik dan besok tidak baik, hari ini dibenci tapi besok disuka, sebab perbuatan-perbuatannya tentu saja bisa menguntungkan atau merugikan, hari ini menguntungkan, besok merugikan dan sebaliknya dan selanjutnya.

Kalau saja kita dapat menghadapi apa dan siapa saja TANPA PENILAIAN INI, tentu kita akan terbebas dari pada rasa suka atau tidak suka kepada sesuatu atau seseorang. Dengan kebebasan seperti ini, barulah sinar cinta kasih dapat menyinari batin
.

"Hemm, jadi engkau ini murid Sam Kwi? Dan datang ke sini mencari aku untuk mewakili suci-mu, mencoba untuk merampas Liong-siauw-kiam?" tanya Sim Houw. Dia terheran-heran mengapa Sam Kwi dan Bi-kwi mengutus seorang gadis yang tingkatnya masih seperti kanak-kanak ini.

Bi Lan mengangguk. "Akan tetapi menurut suci, ia pernah kalah olehmu dan menurut ceritanya, engkau lihai bukan main. Agaknya aku pun bukan tandinganmu dan aku akan gagal mengalahkan engkau untuk merampas pusaka itu."

"Kalau begitu, mengapa engkau datang juga, seorang diri tanpa pembantu pula? Apa yang memaksamu untuk nekat mencariku kalau engkau sudah merasa bahwa engkau tidak akan berhasil merampas Liong-siauw-kiam dari tanganku?" tanya pula Sim Houw, suaranya tidak lagi ramah karena dia menganggap gadis ini nekat atau jahat atau menggunakan siasat pula dengan modal kecantikan, kemanisan dan kepandaiannya bicara.

"Yang memaksa diriku adalah janji dan sumpahku kepada suci. Aku telah bersumpah kepada suci untuk merampaskan pusaka itu dari tanganmu, maka aku memaksa diri untuk datang juga mencarimu. Kalau aku gagal dan tewas di tanganmu, bagaimana pun juga aku sudah memenuhi janji dan sumpahku. Sebaliknya kalau aku tidak berani melakukannya, biar pun aku tetap hidup, aku akan menjadi orang yang mengingkari sumpahnya sendiri, dan berarti hidup tanpa isi. Bagiku, lebih baik mati melaksanakan sesuatu yang gagah dari pada hidup sebagai orang tanpa guna."

Kembali Sim Houw tertegun. Kata-kata itu semua keluar dari dalam hati anak itu sendiri ataukah memang sudah dihafalkan sebelumnya, merupakan siasat untuk menjatuhkan hatinya? Saking terpengaruh benar oleh ucapan Bi Lan, dia bengong terlongong saja.

"Heiiii! Kau mendengar atau tidak? Aku mau merampas Liong-siauw-kiam! Kau berikan kepadaku atau terpaksa aku menggunakan kekerasan merampasnya darimu!"

Ditegur demikian, barulah Sim Houw sadar. Bagaimana pun juga, anak perempuan ini murid Sam Kwi, agaknya tidak mungkin baik walau pun memiliki daya tarik yang luar biasa dari pribadinya. Dan karena kedatangannya untuk merampas Liong-siauw-kiam, maka harus dihadapi dengan kekerasan, biar pun sifatnya untuk memberi hajaran saja.

"Mau merampas Pedang Suling Naga? Boleh, silakan saja kalau kau mampu," katanya tenang.

Bi Lan sendiri memang masih belum percaya kalau orang yang di depannya ini memiliki ilmu kepandaian yang demikian dipuji-puji suci-nya, maka ia pun tidak main-main lagi dan ingin mengujinya sendiri. Mula-mula ia menggerak-gerakkan kedua lengannya dan Sim Houw merasa ngeri juga mendengar, biar pun perlahan, bunyi berkerotokan pada kedua lengan itu. Seorang gadis begini muda dan cantik menarik, namun memiliki ilmu kepandaian yang hanya pantas dimiliki orang sesat!

"Orang she Sim, awas sambut seranganku ini!" bentak Bi Lan dan ia telah menyerang dengan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang (Ilmu Silat Delapan Jurus Lutung Hitam) yang hebat.

Ilmu ini adalah ilmu andalan Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) dan memang hebat sekali gerakannya. Mula-mula Bi Lan mempergunakan jurus Hek-wan Pai-san (Lutung Hitam Mendorong Gunung), kedua lengannya itu didorongkan ke arah dada lawan sambil mengerahkan tenaga sinkang. Hebatnya dari ilmu ini, ketika Sim Houw menarik mundur tubuhnya untuk mengelak, kedua lengan gadis itu masih terus mulur sedangkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka masih menuju ke dada lawan!

Kiranya lengan gadis muda itu dapat memanjang seperti karet. Dan ini pun kehebatan dari ilmu yang didapatnya dari ciptaan Hek-kwi-ong. Biar pun kedua lengan Bi Lan tidak dapat memanjang seperti kalau Hek-kwi-ong sendiri yang melakukannya, namun sudah sempat membuat Sim Houw terkejut.

"Ehhh...!" Serunya ketika di luar perhitungannya, kedua tangan yang sudah dielakkan itu masih mampu mengejar terus.

Terpaksa dia menggunakan kelincahan kakinya untuk melangkah ke kiri dan menarik kembali tubuhnya. Akan tetapi, Bi Lan sudah menyusulkan jurus Hek-wan-hoan-hwa (Lutung Hitam Mercari Bunga) dan kedua tangannya sudah membalik dan kalau tangan kanan mencengkeram ke kepala lawan, tangan kiri menghantam ke lambung kanan.

Gerakannya cepat dan kedua kakinya berloncatan lincah seperti gerakan seekor lutung. Ilmu silat ini berbeda dengan Ilmu Silat Kauwkun (Silat Monyet) yang mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mengandalkan tenaga sinkang dan juga keanehan kedua lengan yang dapat memanjang.

Namun kini Sim Houw telah mengetahui keistimewaan kedua lengan yang dapat mulur itu, maka menghadapi serangan-serangan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang itu, dia pun mengandalkan kelincahan tubuhnya dan kalau mengelak, ditambahnya jarak mengelak itu sehingga lebih jauh dari biasa. Dengan demikian, lima kali serangan dari lima jurus yang dipilihnya dari delapan belas jurus Hek-wan Sip-pat-ciang itu gagal mengenai tubuh Pendekar Suling Naga dan Bi Lan cepat sudah mengganti ilmu silatnya.

Kini, tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang dengan lebih dahsyat karena kini kedua kakinya yang melakukan penyerangan. Bukan serangan biasa, tetapi tendangan-tendangan yang susul-menyusul dan kedua kakinya itu datang dari segenap penjuru menendang, menyepak, mendorong dari samping dari depan dan secara langsung ke belakang. Kedua kakinya dengan hidup dan cepatnya melakukan serangan bertubi-tubi. Itulah Ilmu Tendangan Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin), keahlian dari Im-kan-kwi ( Iblis Akhirat), orang ke dua dari Sam Kwi.

Kembali Sim Houw kagum, akan tetapi juga merasa sayang. Tendangan-tendangan itu memang dahsyat, akan tetapi kadang-kadang nampak amat kasar tanpa mengindahkan segi keluwesannya, tanpa memperhitungkan segi keindahan seni tarinya yang terdapat dalam semua gerakan ilmu silat. Kadang-kadang nampak lucu seperti seekor monyet menari-nari.

Akan tetapi dia tidak berani memandang rendah karena dia sudah maklum bahwa biar pun masih muda, ternyata gadis ini memang telah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup tinggi. Dia sudah tak begitu ingat lagi keadaan Bi-kwi beberapa tahun yang lalu ketika menyerangnya, akan tetapi agaknya gadis ini tidak kalah lihai dari suci-nya itu.

Saat Sim Houw menggunakan lengannya menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya, tubuh Bi Lan terhuyung-huyung dan berputaran. Ia terkejut sekali. Ilmu tendangannya itu, begitu tertangkis, membuat tubuhnya terputar kehilangan keseimbangan. Maka dengan gemas ia mengubah lagi ilmu serangannya, dan sekali ini mengeluarkan Ilmu Hun-kin-tok-ciang!

Dari telapak tangannya keluar lagi bunyi berkerotokan dan nampak pula ada uap agak kehitaman saat kedua tangan itu bergerak. Gerakannya kaku, seolah-olah kedua lengan gadis itu tidak dapat ditekuk, akan tetapi hebatnya luar biasa karena itulah ilmu silat dari Si Iblis Mayat Hidup, orang ke tiga dari Sam Kwi. Hun-kin-tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) memang mengandung hawa beracun, dan jari-jari tangan yang nampak kaku itu menotok sana-sini seperti sumpit-sumpit baja yang mampu membikin putus otot tubuh lawan kalau mengenai sasaran.

"Ihhh...!" Sim Houw mencela ilmu yang dianggapnya keji ini.

Dan dia pun kini menyambut, bukan hanya mengelak terus, melainkan menangkis dan membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan untuk merobohkan lawan tanpa melukai hebat. Akan tetapi, ternyata Bi Lan cukup lincah dan dapat pula menghindarkan diri dari serangan-serangan balasan itu. Dan beberapa jurus kemudian, melihat betapa Ilmu Hun-kin-tok-ciang juga tidak sanggup membuat ia mendesak lawan, ia mempergunakan ilmu simpanannya, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun!

Inilah Ilmu Tiga Belas Jurus yang diciptakan bersama oleh Sam Kwi setelah mereka bertapa selama satu tahun. Ilmu yang sengaja mereka ciptakan untuk menghadapi Pendekar Suling Naga yang menurut penuturan murid mereka amat lihai itu.

Dan kini Sim Houw benar-benar terkejut. Hebat sekali memang ilmu itu. Ketika Bi Lan mulai menyerangnya, dari kedua tangan gadis itu keluar suara bercuitan dan ilmu ini memang menggunakan tenaga Kiam-ciang (Tangan Pedang), hanya gerakan-gerakan silatnya saja yang mereka susun secara teliti. Dan memang ampuh bukan main.

Gerakan-gerakannya aneh, kedua tangan itu tiada ubahnya sepasang pedang yang menyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Sim Houw hampir saja celaka ketika tangan kiri Bi Lan menyambar ke arah lambung. Untung dia masih sempat miringkan tubuhnya dan bajunya terkait robek oleh tangan yang berubah seperti pedang tajamnya itu!

"Aih, engkau sungguh nekat!" bentaknya marah.

"Serahkan Liong-siauw-kiam atau aku akan menyerangmu terus sampai mati!" bentak Bi Lan.

"Srattttt...!"

Pedang kayu berbentuk naga itu dicabut karena Sim Houw mulai merasa kewalahan menghadapi Sam Kwi Cap-sha-ciang. "Inilah pusaka itu, tetapi bukan untuk diserahkan kepada siapa pun juga, melainkan untuk melawan siapa saja yang berniat buruk."

Bi Lan melanjutkan serangannya dengan menggunakan Cap-sha-ciang itu, hatinya agak girang karena ternyata ilmu ciptaan tiga orang gurunya ini memang ampuh sehingga lawannya terdesak dan terpaksa mengeluarkan pedang itu. Kalau pedang kayu begitu saja, mana ia takut? Pedang baja saja ia tidak gentar, dapat menggunakan kekebalan Ilmu Kulit Baja yang sudah dipelajarinya dari Im-kan-kwi Apa lagi sebatang pedang kayu! Huh, mainan kanak-kanak pikirnya.

"Wirrr-wirrrrr...!"

Nampak sinar berkelebatan, sinar hijau kehitaman dan mula-mula terdengar desir angin, akan tetapi kemudian terdengar suara melengking-lengking.

Gadis itu menjadi kaget bukan main. Jurus-jurus Cap-sha-ciang yang hebat itu seketika seperti kacau gerakannya. Ia pun merasa tenaganya lemas karena jantungnya tergetar oleh suara suling itu! Baru ia tahu bahwa pusaka itu memang benar-benar hebat dan ampuh, ketika dimainkan oleh pendekar itu seolah-olah ada bayangan seekor naga yang mengamuk sambil melengking-lengking!

Dari pedang itu keluar tenaga yang hebat karena ketika dia dengan nekat mengadu tangannya yang terisi hawa Kiam-ciang (Tangan Pedang) dengan sinar itu, selain dia merasa tangannya menjadi nyeri, juga tubuhnya terdorong dan hampir saja dia roboh. Dengan amat marah dan penasaran, gadis itu menyerang lagi dengan tangan kirinya, menebaskan tangan itu ke arah leher lawan.

"Takkkk!"

Tangan itu tertangkis pedang suling dan menempel pada senjata itu. Ada tenaga sedot yang luar biasa kuatnya dari suling itu yang membuat tangannya melekat dan betapa pun ia hendak menarik tangannya, ia tak berhasil.

"Wuuuuttt...!"

Kini tangan kanannya yang menyambar. Tubuh lawan menyelinap ke arah belakang melalui kanannya.

Bi Lan mengejar dengan hantaman tangan yang mengandung hawa Kiam-ciang ke belakang, akan tetapi tangan kiri lawan menangkap pergelangan tangan kanannya dan tiba-tiba saja tubuhnya ditelikung dengan kedua lengannya ditarik ke belakang oleh lawan yang sudah berada di belakangnya!

Dengan keadaan seperti itu, tentu saja Bi Lan tidak berdaya. Akan tetapi ia adalah murid Sam Kwi yang juga pernah menerima gemblengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya, maka ia masih belum kehabisan akal walau pun kedua lengannya sudah ditelikung ke belakang.

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan kakinya sudah menyepak ke belakang, lebih kuat dari sepakan seekor kuda! Dan tentu saja kaki itu menuju ke arah selangkangan lawan, tempat yang paling lemah dan berbahaya bagi kaum pria kalau diserang!

Kalau sepakan itu hanya sepakan biasa, tentu Sim Houw masih mampu menangkis dengan lututnya atau mengelak dengan miringkan tubuhnya. Akan tetapi sepakan itu adalah sepakan dari Ilmu Tendangan Pat-hong-twi yang hebat. Memang, kalau Sim Houw mau mendahului, dia bisa merobohkan Bi Lan lebih dahulu sehingga sepakannya kandas di tengah jalan, akan tetapi dia tidak ingin mencelakakan gadis ini, hanya ingin mengalahkannya tanpa melukainya untuk memberi hajaran. Melihat sepakan yang berbahaya ini, tidak ada lain jalan baginya kecuali melepaskan kedua lengan itu dan melompat jauh ke belakang.

Bi Lan cepat membalikkan tubuh. Dengan muka merah saking marahnya, dia mulai memasang kuda-kuda yang aneh. Tubuhnya merendah seperti hendak tiarap dan itulah pembukaan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang pernah dia pelajarinya dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Mula-mula Sim Houw melihat dengan merasa lucu dan karena kasihan dia menyimpan pedang pusakanya kembali, ingin menghadapi dan mengalahkan gadis itu dengan tangan kosong saja, kecuali kalau dia terdesak lagi. Tiba-tiba dengan suara bentakan panjang dan nyaring, tubuh gadis itu bergerak, bagaikan seekor naga saja, langsung tubuh yang tadinya hampir tiarap itu menerjang ke depan, menyerang lawan seperti terbang saja!

Bukan main terkejut rasa hati Sim Houw karena dia seperti pernah mendengar tentang ilmu ini, bahkan pernah melihat dimainkan orang. Dia cepat mengelak dan memutar lengan untuk menangkis, namun demikian hebatnya serangan itu sehingga tubuhnya sendiri terpelanting ke kiri! Hampir saja dia terbanting roboh kalau dia tidak cepat-cepat membuang dirinya dan membuat gerakan jungkir balik! Dia dapat berdiri kembali dan memandang dengan mata terbelalak!

"Rasakan kau sekarang!" seru Bi Lan dengan girang dan kembali ia menerjang maju, kini gerakannya semakin aneh dan dari kedua telapak tangannya keluar angin berdesir.

Itulah Ban-tok Ciang-hoat yang pernah dipelajarinya dari nenek Wan Ceng, isteri dari pendekar Kao Kok Cu yang berlengan satu, Sang Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu! Kembali Sim Houw terkejut dan cepat-cepat dia melompat lagi ke belakang karena sekarang dia teringat akan gerakan ilmu-ilmu aneh tadi.

"Heiii, berhenti dulu. Kau hebat! Apakah engkau atau Sam Kwi telah mencuri ilmu dari Istana Gurun Pasir?"

Bi Lan bertolak pinggang, matanya hampir bulat karena dibelalakkan marah, kedua pipinya merah sekali karena selain marah ia juga telah bekerja keras tadi sehingga denyut darahnya berjalan cepat, keringatnya membasahi dahi dan leher.

"Kau sendiri pencuri perampok bajak copet maling!" Ia memaki-maki marah. "Selama hidup aku tak pernah mencuri! Jangan menuduh yang bukan-bukan kau!"

Sim Houw tidak dapat marah dimaki-maki karena cara memaki itu nampak lucu. Dalam keadaan marah sekali pun gadis ini masih nampak lucu dan mulai Sim Houw menduga bahwa memang pembawaan, pribadi gadis ini yang lincah jenaka dan lucu, sama sekaii bukan suatu permainan sandiwara. Andai kata semua tadi hanya sandiwara atau rayuan tentu setelah berkelahi, sikap pura-pura itu akan hilang. Akan tetapi gadis ini tetap saja lucu!

"Apa anehnya kalau menuduh mencuri kepada Sam Kwi? Bukankah mereka terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat, raja-raja iblis di antara para penjahat?"

"Sam Kwi boleh melakukan apa saja, akan tetapi aku bukan Sam Kwi dan Sam Kwi bukan aku! Aku memang pernah menjadi murid mereka, akan tetapi aku menjadi murid untuk belajar silat, bukan belajar mencuri!"

"Kalau begitu, dari mana engkau dapat memainkan ilmu silat dari keluarga Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?"

"Huh! Itu masih belum, sobat!" kata Bi Lan mengejek. "Kalau saja Ban-tok-kiam masih berada di tanganku, pasti akan kubikin buntung pedang pusakamu yang dari kayu itu!"

"Ban-tok-kiam! Itu milik dari isteri pendekar majikan Istana Gurun Pasir!" teriak Sim Houw semakin heran. "Bagaimana pula bisa menjadi milikmu?"

Kembali Bi Lan tersenyum mengejek, bibirnya yang merah basah dan mungil itu berjebi.
"Kau ingin mendengar penjelasanku mengenai keluarga Istana Gurun Pasir dan aku?"

"Tentu saja... tentu saja, apa hubunganmu dengan mereka?"

"Kau boleh minta maaf dulu, baru aku mau menceritakan!"

"Minta maaf?" Sim Houw memandang heran. Ada-ada saja permintaan gadis ini yang aneh-aneh dan di luar dugaan. "Untuk apa?"

"Karena kau tadi menuduh aku mencuri."

Hampir Sim Houw tertawa bergelak, akan tetapi dia menahan rasa gelinya dan dia pun tersenyum. "Baiklah, aku minta maaf atas tuduhanku tadi. Akan tetapi, lebih baik usap dulu keringatmu. Lihat, dahi dan lehermu basah semua!" Dia merasa risi dan kasihan melihat betapa peluh mengalir membasahi leher baju dan yang dari dahi juga mulai menetes ke bawah membasahi pipi.

Bi Lan tercengang. Baginya, lawannya ini juga aneh sekali dan dia pun lalu menyeka peluhnya dengan sapu tangan biru yang dikeluarkannya dari saku bajunya. "Dengarlah, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir atau majikan Istana Gurun Pasir yang bernama Kao Kok Cu, dengan isterinya yang bernama nenek Wan Ceng, adalah guru-guruku!"

"Wah, mana mungkin...!"

"Mungkin saja! Buktinya begitu kok tidak mungkin. Buktinya mereka telah mengajarkan ilmu silat kepadaku selama satu tahun, bahkan subo Wan Ceng sudah meminjamkan Ban-tok-kiam kepadaku, akan tetapi pedang itu dirampas oleh orang lain."

Sukar untuk tidak percaya kepada omongan seorang gadis seperti ini, tetapi agaknya tidak masuk di akal pula kalau murid Sam Kwi bisa menerima pelajaran silat dari pendekar sakti itu dan isterinya.

"Nona, ketahuilah bahwa aku menganggap keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir itu sebagai para locianpwe yang kuhormati dan kukagumi di samping keluarga dari Pulau Es. Mereka adalah keluarga sakti yang gagah perkasa. Kalau engkau menjadi murid suami isteri pendekar Kao itu, maka tentu saja aku tidak berani mengangkat tangan melawanmu dan bagiku engkau bukan seorang musuh. Sekarang mari kita duduk dan ceritakan kepadaku bagaimana di satu pihak engkau bisa menjadi murid Kao locianpwe, hal yang memang patut kulihat pada dirimu, tapi di lain pihak engkau pun menjadi murid Sam Kwi dan bahkan menjadi utusan Bi-kwi untuk merampas Liong-siauw-kiam."

Sim Houw sudah mengambil tempat duduk lagi di atas batu yang tadi dipakainya bersila ketika dia meniup suling dan mempersilakan Bi Lan untuk duduk pula di atas batu-batu di depannya.

Akan tetapi Bi Lan menolak. "Nanti dulu! Enak saja engkau mengajak aku mengobrol begitu saja. Aku datang untuk merampas pedang pusaka Suling Naga, bukan untuk kongkouw (ngobrol-ngobrol) denganmu!"

"Kita bukan hanya bicara tentang dirimu, akan tetapi juga tentang pedang pusaka ini. Percayalah, aku tentu akan membantumu agar engkau tidak sampai hidup sebagai orang yang tidak memenuhi janji dan sumpah sendiri."

"Benar? Tidak bohong?"

Sim Houw menggeleng kepalanya. "Aku tidak pernah berbohong."

"Kalau perlu kau akan memberikan pusaka itu kepadaku?"

"Kalau perlu, boleh saja." Sim Houw tersenyum.

"Sumpah dulu kau tidak bohong, baru aku mau duduk mengobrol!"

Sim Houw tersenyum lebar. Kini dia mengerti. Gadis ini pada dasarnya adalah seorang gadis yang berjiwa pendekar, yang baik budi, jauh dari watak kejam dan jahat dan mungkin karena melihat sifat-sifat baik inilah maka seorang sakti seperti majikan Istana Gurun Pasir mau mengajarkan ilmu-ilmu kepadanya.

Akan tetapi karena menjadi murid Sam Kwi dan hidup di dalam lingkungan para datuk sesat, tentu saja dia pun ketularan watak-watak yang aneh dan mau enaknya sendiri saja. Watak-watak yang buruk dari Sam Kwi dan watak-watak pendekar dari suami isteri Istana Gurun Pasir itu agaknya bercampur dan menciptakan watak yang lucu dan aneh pada diri gadis ini.

"Baiklah, kalau perlu aku akan memberikan pusaka Suling Naga kepadamu dan aku akan membantumu, aku bersumpah bahwa aku tidak berbohong."

Bi Lan tertawa dan Sim Houw merasa luar biasa sekali, seolah-olah sinar matahari di pagi hari itu tiba-tiba saja menjadi semakin cerah, suara burung-burung di dalam pohon menjadi semakin merdu dan bau-bau rumput dan daun pohon dan bunga di sekitar tempat itu menjadi semakin harum!

Demikianlah keadaan hati yang tidak dibebani rasa duka! Kalau segala macam rasa duka, kecewa, sesal dan sengsara hati lenyap dari batin kita, maka panca indera kita akan bekerja lebih peka lagi dan kita akan lebih dapat menikmati segala keindahan di dalam kehidupan ini!

Bi Lan yang tersenyum cerah karena hatinya merasa lega itu kini duduk di atas batu hitam, dekat dengan Sim Houw sehingga pria itu mampu menangkap bau badan gadis yang berkeringat itu. Bau yang aneh dan terasa sampai ke jantungnya, yang mampu menggerakkan semua kejantanan dalam dirinya, yang tiba-tiba menimbulkan gairah, mendorong perasaan ingin sekali semakin dekat dengan gadis itu dan kalau mungkin, selamanya tidak akan terpisah darinya dan akan selalu dapat mencium bau yang khas itu!

"Nah, sebelum aku mulai bercerita, sebagai tuan rumah yang baik, engkau harus lebih dulu menceritakan kepadaku, apakah benar namamu Sim Houw dan bagaimana engkau bisa memperoleh pedang pusaka itu dan sebagainya lagi mengenai dirimu."

Kembali Sim Houw tersenyum. Dia sudah lupa lagi bahwa selama bertahun-tahun ini dia hampir tak pernah atau jarang sekali tersenyum dan di pagi hari sekali, seolah-olah sinar matahari dan di pagi hari ini, semenjak bertemu dengan gadis itu, entah sudah berapa kali dia tersenyum, bahkan tertawa. Senyum yang benar-benar langsung keluar dari perasaan hatinya, bukan sekedar senyum pengantar sopan santun seperti yang nampak pada senyum kebanyakan orang.

"Namaku Sim Houw dan tentang pedang ini..."

"Nanti dulu! Namamu Sim Houw dan usiamu tadi kau katakan tiga puluh tahun? Siapa isterimu?"

Tiba-tiba saja muka pendekar itu menjadi merah sekali, kemudian agak pucat dan dia menundukkan mukanya, memejamkan sebentar kedua matanya, kemudian setelah dia mengangkat mukanya memandang gadis itu wajahnya sudah pulih kembali dan bahkan senyumnya sudah membayang lagi di bibirnya, "Aku tidak punya isteri..."

"Ahh...! Sudah... sudah matikah ia? Atau... bercerai?"

Sim Houw menggeleng kepalanya perlahan-lahan. "Aku belum pernah beristeri."

"Aneh, seusia engkau ini belum beristeri? Tetapi... suci-ku pun usianya sudah sebaya denganmu dan belum bersuami pula. Cuma... ia… ia mempunyai banyak sekali pacar! Berganti-ganti, apakah... apakah engkau pun begitu?"

"Begitu bagaimana maksudmu?" tanya Sim Houw hampir membentak.

"Seperti suci-ku itu? Berganti-ganti pacar?"

Kalau bukan gadis itu yang berkata demikian, ingin rasanya Sim Houw menampar mulut itu. "Tidak! Jangan engkau samakan semua orang seenakmu saja. Bukankah engkau sendiri, yang menjadi sumoi-nya, tidak sama dengan suci-mu itu, berganti-ganti pacar?"

"Aku sih tidak sudi! Aku benci laki-laki mata keranjang!"

"Nah, engkau dengarkan saja, kalau begini terus ceritaku tidak akan ada habisnya! Aku bernama Sim Houw, belum punya isteri, dan kedua ayah ibuku sudah meninggal dunia. Guruku bernama Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas dan tinggal di Istana Khong-sim Kai-pang, di puncak Bukit Nelayan, tak sangat jauh dari sini. Cukup bukan tentang diriku?"

Bi Lan yang tadi dibentak, sekarang mengangguk-angguk. "Sudah cukup jelas, terutama bahwa selain belum pernah beristeri, engkau tidak pernah berganti-ganti pacar..." Dia tersenyum memandang kepada Sim Houw yang kini juga tersenyum senang. "Dan bagaimana tentang Liong-siauw-kiam itu?"

"Seorang kakek pertapa di Himalaya yang bernama Pek-bin Lo-sian, aku yakin engkau tentu mengenal nama itu karena dia masih terhitung susiok (paman guru) dari Sam Kwi, telah merasa tua dan ingin mewariskan pedang pusaka Suling Naga kepada seseorang yang dianggapnya cukup pantas untuk memilikinya. Dia tidak suka kepada tiga orang keponakannya, yaitu Sam Kwi, dan dia lalu mulai mencari orang yang akan mampu mengalahkan dirinya, karena dia hanya akan memberikan pusaka ini kepada orang yang mampu mengalahkannya. Entah berapa banyak sudah orang yang roboh di tangannya, luka atau mati, ketika dia mencari calon pemilik baru dari Liong-siauw-kiam ini. Akhirnya dia bertemu denganku dan kebetulan aku dapat mengalahkannya maka dia menyerahkan senjata pusaka ini kepadaku."

Bi Lan mengangguk-angguk. "Jadi engkau tidak merampasnya atau mencurinya dari kakek itu? Aku percaya ceritamu. Dan tidak aneh kalau engkau menang, karena ilmu kepandaianmu memang amat hebat. Aku sendiri pun bukan lawanmu. Kalau kau mau membunuhku dengan senjata itu tentu mudah saja. Heiii...! Mengapa...?"

Tiba-tiba gadis itu meloncat dari tempat duduknya dan gerakannya yang tiba-tiba itu mengejutkan Sim Houw sehingga pemuda ini pun terloncat bangun.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner