SULING NAGA : JILID-24


"Mengapa... apa...?" tanyanya bingung oleh karena gadis itu kembali telah memandang kepadanya dengan mata melotot marah.

"Mengapa engkau tidak membunuhku atau setidaknya merobohkan aku? Padahal jelas bahwa kedatanganku ini untuk merampas Liong-siauw-kiam? Ehh, engkau... engkau... bukan sebangsa jai-hwa-cat, ya?"

Kembali Sim Houw menjadi gemas dan ingin menampar mulut itu kalau saja yang bicara orang lain.

"Kenapa kau bertanya begitu?" balasnya, tentu saja dia mendongkol karena jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita) adalah kejahatan yang paling dibencinya.

"Karena sudah banyak sekali kulihat orang-orang yang ilmunya tinggi, bersikap baik kepada wanita hanya untuk maksud-maksud tertentu yang rendah dan hina. Tetapi... tetapi... ahhh, engkau tentu bukan orang macam mereka itu. Aku percaya padamu, maafkan pertanyaanku tadi, ya?"

Ucapan yang disertai senyum ini sekaligus menghapus bersih kedongkolan hati Sim Houw. "Sekarang ceritakan tentang dirimu dan tentang hubunganmu dengan keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir."

"Sam Kwi bukan saja guru-guruku, tetapi juga penolongku dan penyelamat nyawaku. Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku dan ayah ibuku meninggalkan kampung halaman kami di selatan untuk lari mengungsi karena ada perang pemberontakan dan serbuan dari orang-orang Birma. Di tengah perjalanan, kami dihadang pasukan orang Birma. Ayah ibuku tewas dan aku hampir celaka. Kalau tidak ada Sam Kwi yang tiba-tiba muncul, tentu aku mengalami nasib seperti ibuku, diperkosa oleh mereka sampai mati."

Gadis itu memejamkan kedua matanya untuk mengusir pemandangan tentang ibu dan ayahnya itu yang membayang dalam ingatannya. Diam-diam Sim Houw merasa terharu sekali dan juga kasihan. Pantas gadis ini memiliki watak yang aneh. Begitu kecil sudah mengalami musibah yang demikian hebat.

"Nah, semenjak itulah aku menjadi murid Sam Kwi setelah mereka bertiga membunuh semua anggota pasukan Birma itu. Aku berhutang budi dan mereka baik sekali padaku. Akan tetapi suci-ku Bi-kwi, tidak baik kepadaku. Ia yang mewakili Sam Kwi melatihku, akan tetapi latihan-latihan itu diselewengkan sehingga aku keracunan dan hampir tewas kalau tidak pada suatu hari, di dalam hutan, aku bertemu dengan suhu dan subo dari Istana Gurun Pasir itu. Merekalah yang mengobatiku sampai sembuh dan mengajarkan ilmu-ilmu silat sampai setahun lamanya."

Sim Houw mengangguk-angguk. Kini dia mengerti dan semakin kagum. Sejak berusia sepuluh tahun gadis ini menjadi murid Sam Kwi, akan tetapi tidak tumbuh dewasa menjadi seperti Bi-kwi, hal itu sungguh mengagumkan, tanda bahwa memang gadis ini memiliki dasar watak yang baik dan kuat.

"Lalu bagaimana engkau sampai bisa hutang budi juga kepada Bi-kwi, padahal ia yang hampir mencelakaimu dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang sengaja disesatkan itu?"

"Bi-kwi bertempur denganmu dan kalah, lalu Sam Kwi bertapa selama satu tahun untuk menciptakan ilmu silat baru yang hebat untuk kami dapat menghadapimu..."

"Ahh, ilmu silat yang hebat tadi? Bukan main, memang Sam Kwi lihai..."

"Itulah Ilmu Sam Kwi Cap-sha-ciang. Setelah mereka berhasil menciptakan ilmu baru itu, mereka mengajarkannya kepada aku dan Bi-kwi, lalu kami berdua menerima tugas untuk mencarimu dan merampas Liong-siauw-kiam. Sam Kwi lalu mengadakan pesta makan minum untuk mengucapkan selamat jalan kepada kami dan dalam kesempatan itu, aku dibikin mabok, ditawan oleh Sam Kwi untuk diperkosa..."

"Ahhh...! Betapa kejinya!" Sim Houw hampir meloncat saking marah dan kagetnya.

"Hal seperti itu biasa saja bagi mereka. Bi-kwi juga sudah mereka perlakukan demikian sehingga selalu menjadi murid juga menjadi kekasih mereka. Aku tidak sudi melayani mereka. Mereka bermaksud menundukkan aku seperti Bi-kwi, akan tetapi aku tidak mau. Mereka mengancam akan memperkosa, dan ketika itulah Bi-kwi turun tangan, membebaskan aku dan kami melarikan diri. Akan tetapi aku lalu harus membuat janji dan sumpah bahwa aku akan membantunya mendapatkan kembali Liongsiauw-kiam."

Sim Houw mengangguk-angguk dan tertarik sekali. Diam-diam dia semakin kagum kepada Bi Lan. Gadis ini sudah pernah hampir tewas oleh Bi-kwi, akan tetapi sekali ditolong, ia bersumpah membalas budi itu dan sekali bersumpah ia akan melaksanakan walau bertaruh nyawa. Sukar mencari seorang gadis berhati baja seperti ini, juga yang bernasib malang sekali terjatuh ke dalam lingkungan kaum sesat.

"Kemudian bagaimana?"

Dengan singkat Bi Lan lalu menceritakan perjalanannya dengan Bi-kwi sampai ia hampir pula menjadi korban dan hampir diperkosa oleh Bhok Gun, cucu murid Pek-bin Lo-sian. "Karena dua kali mengalami peristiwa seperti itu, hampir diperkosa oleh Sam Kwi yang mula-mula baik kepadaku, kemudian oleh Bhok Gun yang bekerja sama dengan suci, maka tadi aku teringat dan terkejut karena jangan-jangan engkau juga seorang seperti mereka itu!"

"Hemmm, tidak semua orang jahat, nona. Akan tetapi, engkau belum menceritakan sesuatu yang paling penting padaku."

"Apa itu?"

"Namamu!"

Bi Lan tertawa. Ketawanya juga bebas, tanpa menutupi mulut karena kadang-kadang ia lupa akan sedikit pelajaran tentang sopan santun yang pernah ia terima dari nenek Wan Ceng. Ia memang merupakan seekor kuda betina yang tadinya liar, atau setangkai bunga mawar hutan yang tidak pernah terawat dengan baik, walau pun hal itu tidak mengurangi keindahan dan keharumannya.

"Aku lupa dan engkau tidak menanyakan sih! Namaku Can Bi Lan, mendiang ayah bernama Can Kiong, seorang petani biasa dari Yunan."

"Dan sekarang, adik Bi Lan, boleh aku menyebut adik kepadamu, bukan?"

"Tentu saja, dan aku akan menyebut toako (kakak besar) kepadamu. Tidak pantas menyebut paman karena usiamu hanya sebaya dengan Bhok Gun yang masih terhitung suheng dariku. Sim-toako, nah, itulah sebutanku untukmu. Kau tadi hendak bicara apa?"

"Begini Lan-moi (adik Lan), bagaimana pula engkau bisa tahu bahwa aku berada di Pegunungan Tai-hang-san dan bisa menemukan aku di sini?"

"Aku bertemu dengan seorang pemuda bernama Cu Kun Tek. Dialah yang memberi tahu kepadaku bahwa mungkin aku bisa menemukanmu di Pegunungan Tai-hang-san."

"Cu Kun Tek?" Sim Houw berseru girang. "Wah, dia itu masih terhitung pamanku!"

"Apa? Bagaimana ini? Dia masih begitu muda, sebaya denganku, mana bisa menjadi pamanmu?"

"Ayahnya yang bernama Cu Kang Bu adalah paman mendiang ibuku. Bukankah dengan demikian Cu Kun Tek adalah pamanku? Tentu dia sudah dewasa sekarang. Aku tidak bertemu dengan dia semenjak aku mengunjungi lembah keluarga Cu dan di sanalah aku bertemu dengan kakek Pek-bin Lo-sian. Jadi engkau bertemu dengan Kun Tek? Bagaimana dapat berkenalan dengan dia?"

"Dia penolongku, ketika aku memasuki perangkap Bhok Gun. Tiba-tiba ketika aku dalam keadaan luka dikeroyok oleh Bhok Gun dan kawan-kawannya, muncul Kun Tek yang mengamuk sehingga kami berdua berhasil lolos dari kepungan. Kami berkenalan dan dialah yang memberi tahu aku bahwa engkau mungkin berada di sini."

Tentu saja hati Sim Houw merasa girang dan bangga sekali. Kun Tek yang dulu baru berusia dua belas tahun itu sekarang sudah menjadi seorang pendekar yang boleh dibanggakan! Pantas menjadi keturunan keluarga Cu yang gagah perkasa dan pantas pula menjadi pemilik Koai-liong Po-kiam!

Dia merasa amat gembira bahwa dia telah mengembalikan pedang pusaka itu kepada keluarga Cu. Dengan demikian, terhapuslah sudah semua rasa tidak enak yang pernah ada antara keluarga Cu dan keluarga Kam, yaitu Pendekar Suling Emas yang menjadi gurunya.

Tiba-tiba Bi Lan bangkit berdiri. "Sudah terlalu banyak kita ngobrol dan terlalu lama aku disini. Sekarang, seperti janji dan sumpahmu tadi, serahkan Liong-siauw-kiam kepadaku untuk kuberikan kepada suci." Ia menengadahkan tangan kanannya yang diulur untuk menerima pemberian pedang.

"Nanti dulu, Lan-moi. Aku tidak akan menarik kembali janjiku. Akan tetapi engkau tahu betapa berbahayanya kalau pusaka seperti ini menjadi milik seorang jahat seperti Bi-kwi atau Sam Kwi. Tentu seperti harimau buas yang tumbuh sayap."

"Jadi kau tidak mau memberikan?" Bi Lan mengerutkan alisnya, mulai marah.

"Nanti dulu, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Aku akan menyerahkannya kepadamu, akan tetapi aku pun akan ikut menyaksikan ketika engkau menyerahkannya kepada suci-mu. Dan ketika itu, setelah engkau menyerahkan pedang berarti engkau… engkau…"

Bi Lan berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Memang aku pun tidak suka kalau pedang pusaka itu terjatuh ke tangan suci. Ia amat jahat dan tentu ia akan menjadi semakin jahat kalau mempunyai pusaka yang dapat diandalkan. Baik, mari kita serahkan pusaka itu kepada suci dan kau boleh merampasnya kembali dari tangannya, terserah."

"Di mana dia sekarang?"

"Menurut rencana mereka, yaitu suci dan Bhok Gun, mereka akan pergi ke kota raja untuk bekerja membantu guru Bhok Gun yang sudah berada di kota raja pula."

"Di kota raja?"

"Ya, di istana kaisar. Guru Bhok Gun itu sudah mengabdi kepada seorang pembesar bernama Hou Seng, dan mereka akan bergabung ke sana untuk mencari kedudukan. Kebetulan sekali aku pun harus pergi ke kota raja untuk mencari orang yang sudah merampas Ban-tok-kiam dari tanganku."

"Ahh, kau tadi pernah bercerita tentang Ban-tok-kiam. Siapa yang merampasnya?"

“Menurut keterangan seorang hwesio bernama Tiong Khi Hwesio, perampas yang amat lihai itu berjuluk Sai-cu Lama dan pendeta Lama itu tentu berada di kota raja, karena kabarnya pendeta Lama itu pun bersekongkol dengan persekutuan di kota raja. Aku harus merampasnya kembali, betapa pun lihai Lama itu, karena Ban-tok-kiam hanya dipinjamkan saja kepadaku oleh subo di Istana Gurun Pasir."

"Aih, begitu banyak masalah yang kau hadapi, Lan-moi. Biarlah aku akan membantumu kelak mendapatkan kembali Ban-tok-kiam. Pedang pusaka itu harus kembali kepada pemiliknya, majikan Istana Gurun Pasir."

"Terima kasih, toako. Kau baik sekali!" kata Bi Lan dengan hati girang.

Hari itu juga mereka turun dari puncak itu setelah Sim Houw mengajak Bi Lan makan lebih dulu di tempat tinggalnya, sebuah gubuk darurat di puncak itu. Sim Houw masih menyimpan bahan makanan dan Bi Lan dengan girang lalu memasak dan mereka berdua makan dulu sebelum meninggalkan puncak.

Sedikit ucapan dari Bi Lan pada waktu mereka makan bersama, membuat hati Sim Houw merasa terharu, akan tetapi anehnya, juga mendatangkan rasa duka walau pun hanya tipis saja perasaan duka ini. Kata-kata itu adalah, "Sim-toako, aku merasa seolah-olah engkau ini benar-benar kakakku sendiri! Betapa bahagianya hatiku kalau mempunyai seorang kakak seperti engkau yang selalu membimbing dan membantuku!"

Kedukaan tipis yang menyelubungi hati Sim Houw itu timbul karena dia sendiri sudah tahu akan keadaan hati sendiri. Dia telah jatuh cinta kepada gadis ini! Untuk kedua kalinya dalam hidupnya dia jatuh cinta. Pertama kali kepada Kam Bi Eng dan dia gagal karena cintanya bertepuk tangan sebelah. Kam Bi Eng mencinta Suma Ceng Liong yang kini sudah menjadi suaminya. Dan sekarang dia jatuh cinta kepada Bi Lan.

Akan tetapi, usianya sudah tiga puluh tiga tahun sedangkan Bi Lan baru berusia paling banyak delapan belas tahun. Sekarang saja gadis itu sudah mengatakan bahwa dia dianggap sebagai kakak! Apakah mungkin gadis ini kelak dapat membalas cintanya? Ataukah dia harus mengalami lagi nasib seperti cinta pertamanya, mengulang kembali kegagalan cintanya? Dia hanya menarik napas panjang dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan…..

********************

Ternyata kedua orang itu tidak usah mencari terlalu jauh sampai ke kota raja untuk menyerahkan pedang Liong-siauw-kiam kepada Bi-kwi! Pada saat mereka berdua, Sim Houw dan Bi Lan, berjalan perlahan-lahan menuruni pegunungan itu sambil bercakap-cakap gembira karena kelincahan Bi Lan mendatangkan suasana yang amat gembira dalam hati Sim Houw, dan mereka tiba di kaki puncak, di lereng bawah, mendadak saja Bi-kwi muncul di depan mereka bersama Bhok Gun dan dua puluh orang lebih anggota Ang-i Mo-pang yang berpakaian serba merah!

Kiranya Bi-kwi dan Bhok Gun, setelah yang terakhir ini gagal menangkap Bi Lan karena pertolongan Cu Kun Tek, dapat mengikuti jejak Bi Lan yang menuju ke Tai-hang-san dan diam-diam mereka mengikuti terus. Ketika dalam penyelidikan mereka kepada para penduduk dusun mereka tahu bahwa Pendekar Suling Naga berada di puncak yang kini didaki oleh Bi Lan, mereka lalu bersembunyi dan hendak menanti kembalinya Bi Lan.

Kalau Bi Lan berhasil merampas pedang pusaka itu, mereka tinggal memintanya dan merampas dari tangan Bi Lan kalau gadis ini tidak menyerahkannya. Atau kalau Bi Lan gagal, mereka akan mengajak Bi Lan membantu mereka menyerbu ke puncak. Bi-kwi yakin bahwa bagaimana pun juga, Bi Lan yang keras hati tidak akan mau melanggar janjinya dan tentu akan mau membantunya merampas pedang pusaka itu.

Karena itu, betapa kaget dan heran akan tetapi juga girang rasa hati mereka ketika pada siang hari itu, mereka melihat Bi Lan turun dari puncak bersama sang pendekar yang dicari-cari! Akan tetapi dalam suasana yang demikian akrab, berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap.

Bi-kwi dan Bhok Gun tidak khawatir jika Bi Lan akan membantu Pendekar Suling Naga, karena Bi Lan terikat oleh sumpahnya untuk membantu merampas kembali pedang itu! Dan dengan bantuan Bi Lan, bahkan tanpa bantuannya pun, mereka berdua yakin bahwa mereka akan mampu mengalahkan Sim Houw, apa lagi di situ ada dua puluh orang lebih anak buah mereka.

"Suci...!" Bi Lan berseru heran. "Engkau di sini...?" Dan alisnya berkerut ketika ia melihat Bhok Gun dan anak buahnya berada pula di situ.

Bi-kwi tersenyum mengejek. "Aha, sumoi-ku yang manis. Kau kira aku begitu bodoh, membiarkan engkau sendirian menemui si Pendekar Suling Naga? Kiranya dia malah telah memikat hatimu sehingga engkau sudah lupa akan tugasmu merampas pusaka itu, malah kini menjadi pacarnya. Hemm, kulihat kau mulai pandai berpacaran..."

"Bi-kwi, tutup mulutmu yang kotor!" Sim Houw membentak marah.

"Ha-ha-ha, siapa yang kotor? Sumoi, agaknya adik kecil kita itu belajar asmara dari Pendekar Suling Naga, ha-ha!" Bhok Gun juga tertawa, padahal di dalam hatinya dia merasa panas melihat betapa Bi Lan yang dirindukannya itu nampak demikian akrab dengan Sim Houw.

"Bhok Gun, Sim-toako bukanlah laki-laki hina dina dan rendah kotor macam kamu!" Bi Lan tiba-tiba membentak dan memandang dengan sinar mata berapi-api. "Jangan kalian ini manusia-manusia cabul menuduh orang-orang lain serupa saja dengan kalian yang tak tahu malu!"

"Cukup, Siauw-kwi!" kini Bi-kwi mulai mempergunakan pengaruhnya sebagai pelatih dan suci. "Bagaimana dengan janjimu dahulu ketika aku membebaskanmu dari Sam Kwi? Engkau dahulu sudah berjanji akan membantuku sampai berhasil mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam dan membantu aku merebut kedudukan jagoan nomor satu di dunia persilatan!"

"Aku hanya berjanji akan merampaskan kembali Liong-siauw-kiam, dan tentang merebut kedudukan jagoan nomor satu itu, kalau memang kebetulan aku menyaksikan tentu aku membantumu. Aku tidak akan mengingkari janji. Lihat, Liong siauw-kiam sudah berada di tanganku!"

Gadis itu menyingkap bajunya dan memang benar, Liong-siauw-kiam dengan sarung pedangnya telah terselip di ikat pinggangnya. Memang pedang ini diserahkan oleh Sim Houw kepadanya pada waktu mereka hendak berangkat tadi, untuk penjagaan kalau sewaktu-waktu Bi-kwi muncul.

Melihat betapa pedang pusaka itu benar-benar telah berada pada Bi Lan, Bi-kwi dan Bhok Gun saling pandang dan mereka nampak terkejut dan heran. Akan tetapi Bi-kwi menjadi girang sekali.

"Bagus sekali, sumoi! Kiranya engkau memang telah memenuhi janjimu. Lekas berikan Liong-siauw-kiam itu kepadaku, adikku!" Suaranya menjadi manis sekali, dan ia sudah mengulurkan tangan.

"Nanti dulu, suci. Aku akan menyerahkan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini padamu, akan tetapi dengan demikian berarti aku sudah terbebas dari ikatan janjiku kepadamu! Aku tidak akan hutang budi apa-apa lagi darimu dan kalau pedang ini sudah kuberikan kepadamu, berarti tidak ada ikatan apa-apa lagi antara kita. Berarti bahwa janji dan sumpahku telah kupenuhi dan kelak engkau tidak berhak untuk menekan aku lagi berdasarkan janji sumpah yang sudah kupenuhi dengan penyerahan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini. Benarkah begitu?"

"Benar, dan mana pedang itu? Ke sinikan!" kata Bi-kwi tak sabar lagi.

"Katakan dulu bahwa kalau engkau sudah menerima pedang ini dariku, maka aku sudah tidak terikat dengan janji apa-apa lagi!" kata Bi Lan sambil mencabut sarung pedang itu dari ikat pinggangnya, akan tetapi belum mau menyerahkannya.

"Baik. Kalau pedang itu sudah kuterima, engkau tidak terikat janji apa-apa lagi. Nah, berikan Liong-siauw-kiam itu padaku."

Bi Lan menanti dua detik dan seperti telah direncanakan oleh Sim Houw, tiada tanda apa-apa dari Sim Houw. Hal ini berarti bahwa dia sudah boleh menyerahkan pedang itu kepada suci-nya. Menurut rencana itu, kalau belum tiba saatnya menyerahkan pedang, Sim Houw tentu akan mengatakan sesuatu. Akan tetapi Sim Houw kini diam saja, hal ini merupakan isyarat dari Sim Houw bahwa pedang itu sudah boleh diberikan kepada Bi-kwi.

"Nah, terimalah ini sebagai pembayaran janji dan sumpahku kepadamu dan aku sudah bebas dari ikatan apa pun dengan dirimu," katanya sambil mengulurkan tangan yang memegang pedang dengan sarungnya itu tanpa melangkah ke depan.

Dengan demikian, terpaksa Bi-kwi yang melangkah ke depan dan ia menerima pedang itu dari tangan sumoi-nya. Sebagai seorang yang cerdik dan ahli silat yang lihai, cara mengambil pedang itu dari tangan sumoi-nya dilakukan seperti orang merampas.

Disambarnya pedang itu dan begitu sudah berada di tangannya, ia cepat melompat ke belakang. Hal ini untuk menghindarkan kalau-kalau sumoi-nya bertindak curang dan menyerangnya pada saat ia menerima pedang. Akan tetapi ia tetap kalah cepat, atau memang sama sekali tidak mengira bahwa pada saat ia menerima pedang, tubuh Sim Houw sudah meluncur ke depan.

"Sumoi, awas...!" teriak Bhok Gun yang melihat gerakan Sim Houw dan dia pun sudah meloncat ke depan.

Bi-kwi terkejut sekali ketika tiba-tiba tubuh Sim Houw, bagaikan seekor garuda terbang menyambar ke bawah, tangan kanan mencengkeram ke atas ubun-ubun kepalanya sedangkan tangan kiri menyambar ke arah pedang! Serangan itu hebat bukan main dan kalau ia terlambat sedikit saja melindungi tubuhnya, tentu kepalanya menjadi sasaran. Jangankan sampai dicengkeram, terkena totokan satu kali pada ubun-ubun kepalanya, ia akan mati konyol!

Cepat Bi-kwi membuang diri ke belakang sambil menangkis pukulan itu, kakinya sambil membuang diri menendang ke depan. Akan tetapi, betapa pun cepat reaksi gerakannya, tetap saja tiba-tiba ia merasa lengan kanannya lumpuh dan tahu-tahu pedang itu telah terampas oleh Sim Houw.

"Bukkkk...!"

Pada saat itu, hantaman Bhok Gun tiba menimpa punggung Sim Houw. Dalam usaha membantu sumoi-nya tadi, Bhok Gun sudah mengerahkan tenaganya dan memukul punggung Sim Houw.

Sim Houw maklum akan serangan ini, tetapi dia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada usahanya merampas kembali Liong-siauw-kiam karena kalau sekali serangan itu dia gagal, akan semakin sukarlah untuk mendapatkan kembali pusakanya itu. Maka, sambil melanjutkan usahanya merampas pedang, dia menerima saja hantaman pada punggungnya itu sambil menggunakan sebagian dari sinkang-nya saja untuk melindungi punggung.

Terkena hantaman yang amat kuat itu, tubuh Sim Houw terpelanting dan bergulingan sampai jauh, akan tetapi pedang Liong-siauw-kiam sudah berada kembali ke tangannya. Dengan kemarahan meluap Bi-kwi dan Bhok Gun mengejar dan mereka berdua sudah menyerang dengan bertubi-tubi untuk merampas kembali pedang itu.

Bhok Gun mempergunakan pedangnya, dan Bi-kwi sudah mengeluarkan Ilmu Silat Sam Kwi cap-sha-ciang yang hebat itu. Baru saja Sim Houw yang terkena hantaman tadi meloncat berdiri dan dari mulutnya mengalir darah segar sebagai bukti bahwa pukulan tadi telah melukainya sebelah dalam tubuh atau setidaknya membuat sebelah dalam tubuhnya terguncang, kini dia sudah diserang lagi dengan dahsyatnya.

Dia mengelak dari sambaran pedang Bhok Gun, namun sebuah tamparan dengan jurus Ilmu silat Cap-sha-ciang yang ampuh itu kembali membuatnya terpaksa melempar diri dan bergulingan. Tetapi sambil bergulingan dia mencabut pedang Liong-siauw-kiam dan begitu dia meloncat bangun dan memutar pedangnya, terdengar suara berkerintingan dan beberapa belas buah paku beracun yang disambitkan Bhok Gun berjatuhan akibat tertangkis oleh sinar pedang.

Setelah pedang Liong-siauw-kiam berada di tangannya, kini Sim Houw menghadapi mereka berdua dan terdengarlah bunyi senjatanya itu yang melengking-lengking seperti suling ditiup, akan tetapi mengandung ketajaman pedang pusaka yang sakti, bahkan sinar pedang itu saja bersama suaranya sudah mampu membuat lawan menjadi repot. Terjadilah perkelahian mati-matian.

Tanpa diperintah lagi, dua puluh lebih anak buah Bhok Gun itu sudah mengurung arena perkelahian itu dengan senjata golok atau pedang di tangan. Melihat ini, sejak tadi Bi Lan sudah memperhatikan.

"Siauw-kwi, hayo kau bantu kami!" bentak Bi-kwi dengan suara penuh wibawa kepada adik seperguruannya itu.

Akan tetapi dengan tenang Bi Lan menjawab, "Bi-kwi, ingat bahwa sejak kau terima pedang itu, di antara kita sudah tidak terdapat ikatan apa-apa!" Berkata demikian, gadis ini lalu menerjang maju dan menyerang dua puluh lebih anak buah Bhok Gun itu!

"Kau pengkhianat...!" Bhok Gun berteriak marah ketika melihat betapa dua orang anak buahnya roboh terguling oleh serangan Bi Lan yang segera dikeroyok oleh semua anak buah itu.

"Bukan pengkhianat macam engkau yang curang!" balas Bi Lan dan gadis ini dengan enaknya membagi-bagi pukulan dan tendangan kepada dua puluh lebih pengeroyok yang bukan merupakan tandingan yang berat baginya.

"Celaka! Kita tertipu...!" Tiba-tiba Bi-kwi berseru. "Mereka sudah merencanakan ini...!"

Menghadapi lawan seperti Sim Houw, walau pun mengeroyok dua, sama sekali tidak boleh membagi perhatian. Begitu Bi-kwi berteriak demikian sambil sedikit melirik ke arah sumoi-nya, sinar pedang Suling Naga menyambar dibarengi lengkingan mengerikan. Ia menangkis dengan lengannya, akan tetapi ternyata ujung suling pedang itu berkelebat ke atas. Terdengar kain robek disusul jerit tertahan Bi-kwi yang terluka pada pundaknya!

Melihat betapa Bi-kwi terluka dan anak buahnya kocar-kacir diamuk Bi Lan, Bhok Gun menjadi gugup dan dia pun berseru nyaring "Mari kita pergi...!"

Betapa mendongkol rasa hatinya, terpaksa Bi-kwi menuruti nasehat suheng-nya itu dan bersama Bhok Gun, ia pun meloncat dan melarikan diri, diikuti terpincang-pincang oleh dua puluh lebih anak buah Ang-i Mo-pang yang saling menopang kawan yang terluka. Bi Lan berdiri sambil bertolak pinggang, tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Sim Houw juga tersenyum, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh dan cepat dia duduk bersila, sambil memejamkan kedua matanya.

Melihat kawannya itu diam saja dengan tiba-tiba lalu duduk bersila, Bi Lan teringat bahwa Sim Houw tadi terkena pukulan Bhok Gun pada punggungnya sampai mulutnya mengeluarkan darah. Ia cepat mendekati pemuda itu dan melihat betapa Sim Houw mengatur pernapasan untuk mengumpulkan hawa murni mengobati lukanya sendiri, ia pun lalu duduk agak menjauh. Ingin sekali ia membantu pemuda itu dengan penyaluran tenaganya, akan tetapi ia tidak berani melakukannya dan tidak mau mengganggu Sim Houw yang sedang semedhi. Ia kagum bukan main kepada pemuda itu.

Tadi ia melihat cara Sim Houw merampas kembali pedang pusaka dan karena itu ia pun melihat bahwa Sim Houw sengaja membiarkan punggungnya terpukul karena pemuda itu memaksa diri harus dapat merampas pedang itu dalam satu serangan, dan ternyata usahanya itu pun berhasil dengan baik! Ia percaya bahwa pendekar itu sudah membuat perhitungan dengan masak sehingga pukulan yang mengenai punggung itu, walau pun mengguncang hebat dan menimbulkan luka dalam sampai memuntahkan sedikit darah, namun tentu tidak berbahaya.

Buktinya, dalam keadaan terluka tadi Sim Houw telah mampu mendesak dan melukai pundak Bi-kwi, biar pun suci-nya tadi mempergunakan Ilmu Cap-sha-kun dan Bhok Gun yang tingkat kepandaiannya sama dengan Bi-kwi mempergunakan pedangnya. Bahkan membuat kedua orang itu kemudian terpaksa melarikan diri!

Sambil menunggui Sim Houw yang sedang mengobati luka dalam di tubuhnya, Bi Lan kini mulai memperhatikan pria itu. Bukan pemuda remaja lagi, melainkan seorang laki-laki, seorang jantan yang berwatak lemah lembut dan sederhana, tak pernah tinggi hati dan tidak suka berlagak walau pun jelas bahwa ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan namanya terkenal sebagai seorang pendekar sakti.

Seorang yang pada wajahnya membayangkan bekas kedukaan yang membuat dirinya menjadi pendiam dan lebih suka menyendiri di tempat-tempat sunyi. Dan tiba-tiba saja hatinya merasa kasihan sekali. Laki-laki yang baik budi ini, agaknya juga tidak memiliki siapa pun di dunia ini, seperti dirinya.

Ah, mengapa ia mendadak saja termenung? Mengapa membiarkan pikiran dikelabukan awan yang hanya akan membuatnya bersedih? Wataknya yang gembira dan jenaka sudah sejak lama terlatih untuk mengatasi segala duka. Bahkan ketika ia menderita sakit keracunan yang membuatnya seperti orang gila, hanya sebentar saja ia menangis, kemudian ia sudah bergembira kembali, dengan alam, dengan sekitarnya.

Ia pun sudah melenyapkan kesedihan yang tadi terseret oleh rasa kasihan yang timbul terhadap Sim Houw dan kini wajahnya sudah berseri kembali. Tugas pertama sudah dilaksanakannya dengan baik. Ia sudah berhasil menemukan kembali Liong-siauw-kiam dan membebaskan dirinya dari ikatan janjinya terhadap Bi-kwi. Budi kebaikan Sam Kwi telah lunas ketika Sam Kwi hampir saja memperkosa dirinya. Budi kebaikan itu telah ditebus dengan perbuatan mereka yang hina itu.

Ia tidak akan mendendam sakit hati atas perbuatan Sam Kwi yang terakhir terhadap dirinya, biarlah perbuatan itu sebagai pembayar semua budi mereka terhadap dirinya sejak dia bertemu dengan mereka. Kemudian, dia pun tidak lagi berhutang budi kepada Bi-kwi karena sudah ditebusnya dengan menyerahkan Liong-siauw-kiam tadi. Soal dia tidak mampu mempertahankan pusaka itu ketika dirampas kembali oleh Sim Houw, itu adalah masalah Bi-kwi sendiri dan dia tidak perlu mencampurinya.

Kini tinggal satu tugas lagi. Mencari Ban-tok-kiam! Dan Sim Houw telah berjanji untuk membantunya. Ia percaya kepada pria ini. Ia merasa aman, merasa begitu pasti akan berhasil karena ada Sim Houw di sampingnya. Bahkan ia hampir merasa yakin, begitu besar percayanya kepada sahabat barunya ini, bahwa ia akan mampu mendapatkan kembali Ban-tok-kiam untuk bisa dikembalikan kepada subo-nya di Istana Gurun Pasir. Setelah berhasil, ia akan mengunjungi suhu dan subo-nya itu di sana!

"Lan moi, kau sedang melamun apa?" tiba-tiba Bi Lan menoleh dan dia melihat Sim Houw sedang memandang kepadanya. Wajah Sim Houw sudah nampak segar, tanda bahwa pria itu sudah sehat kembali. "Kau tersenyum-senyum seorang diri."

"Sim-toako, bagaimana dengan lukamu? Sudah sembuhkah?" Ia cepat menghampiri ketika Sim Houw bangkit berdiri.

Sim Houw meraba-raba dadanya dan mengangguk. "Pukulan orang itu amat kuat, hal yang sama sekali tidak kusangka. Dia amat lihai. Dia itukah yang bernama Bhok Gun itu, cucu murid dari mendiang Pek-bin Lo-sian?"

"Benar, tetapi tak perlu kau memuji-mujinya. Buktinya, dia dan suci yang mengeroyok engkau dalam keadaan sudah terluka pun tidak mampu menang, malah mereka lari seperti dua ekor tikus dipotong ekornya."

Sim Houw tersenyum. Dia sudah sering mendengar orang mengambil perumpamaan ‘anjing dipukul’, akan tetapi baru sekarang mendengar orang membuat perumpamaan dua orang lari seperti tikus-tikus dipotong ekornya. "Adik Lan, apakah engkau pernah melihat tikus dipotong ekornya lalu melarikan diri?"

"Belum, akan tetapi bisa kubayangkan. Kalau tidak percaya, coba saja tangkap tikus, potong ekornya lalu dilepaskan. Lihat apakah dia tidak akan lari secepatnya karena ketakutan!"

Setelah keduanya ketawa, Sim Houw lalu bertanya, "Lan-moi, orang she Bhok itu murid siapakah? Biar pun aku pernah bertemu dan menerima pusaka dari mendiang Pek-bin Lo-sian, akan tetapi aku tidak tahu siapa muridnya. Apakah engkau pernah mendengar dari suci-mu siapa gurunya itu?"

Bi Lan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sim-toako, aku pun tidak pernah tahu atau mendengar siapa gurunya. Hanya dari percakapan antara mereka aku tahu bahwa Bhok Gun mengajak anak buahnya untuk pergi ke kota raja, bergabung dengan gurunya untuk mengabdi kepada pembesar yang bernama Hou Seng itu."

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja, karena seperti yang pernah dijanjikan oleh Sim Houw, mereka akan menyelidiki tentang Sai-cu Lama yang merampas Ban-tok-kiam di kota raja. Setelah terjadi peristiwa pengeroyokan itu di antara kedua orang ini terjadi hubungan yang semakin akrab.

Biar pun ketika dikeroyok oleh Bi-kwi dan Bhok Gun, Sim Houw tidak membutuhkan bantuan Bi Lan, akan tetapi maju dan mengamuknya Bi Lan terhadap dua puluh lebih anak buah Ang-i Mo-pang yang mengepung tempat itu menimbulkan kepercayaan baru dalam hati Sim Houw terhadap Bi Lan. Ternyata dan terbuktilah dari pertempuran ini bahwa Bi Lan berwatak baik dan bersih, berjiwa pendekar dan menentang kejahatan walau pun ia mengaku murid Sam Kwi.

Sebaliknya, Bi Lan semakin suka dan percaya kepada Sim Houw karena di sepanjang perjalanan, Sim Houw tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar. Selalu sopan, ramah, bahkan memandang kepadanya dengan sinar mata yang begitu lembut.

Dia merasa suka bercakap-cakap dengan pria yang dari percakapannya saja sudah diketahui mempunyai pengetahuan luas itu. Dan kalau ada waktu, Sim Houw selalu memberi petunjuk-petunjuk kepadanya tentang cara-cara menghimpun tenaga sinkang, mengumpulkan hawa murni dengan cara yang benar. Ia yang hanya mendapat tuntunan selama setahun dari suami isteri Istana Gurun Pasir, kini dapat melihat dengan lebih jelas perbedaan antara latihan yang benar dan latihan-latihan dari kaum sesat sehingga perlahan-lahan ia kini dapat mengusir sisa-sisa tenaga sesat yang didapatnya ketika ia berlatih di bawah ajaran Sam Kwi dan Bi-kwi.

Sudah dua pekan lebih mereka meninggalkan Tai-hang-san dan pada suatu sore, di luar kota Thian-cin, tiba-tiba hujan lebat turun dari atas yang sejak siang tadi telah dipenuhi awan mendung. Terpaksa Sim Houw mengajak Bi Lan untuk berlari dan mencari tempat yang baik untuk berlindung dari serangan air hujan.

Sim Houw ingat bahwa tak jauh dari situ, di luar sebuah hutan, terdapat sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan lagi. Biar pun kuil itu sudah tua dan rusak, namun atapnya masih ada dan dapat dipakai untuk meneduh. Di dalam perantauannya, pernah dia beberapa kali bermalam di kuil tua itu, maka kini dia mengajak Bi Lan lari ke tempat itu.

Mereka akhirnya tiba di kuil itu dan berlarian masuk dengan tubuh basah. Betapa pun pandainya kedua orang ini, mereka tetap saja basah kuyup ketika berlari-larian tadi, tak mungkin dapat menghindar dari siraman air hujan. Namun keduanya merasa gembira, tertawa-tawa ketika memasuki kuil, seperti dua orang anak kecil yang habis bermain di bawah siraman air hujan.

Berbahagialah orang-orang yang masih bisa bergembira ria sehabis kehujanan, karena itu merupakan pertanda bahwa tubuh dan batinnya masih sehat. Sebaliknya, orang yang tertimpa air hujan sedikit saja lalu sakit, dia seorang yang lemah dan mereka yang mengeluh dan jengkel karena kehujanan, berarti batin mereka yang lemah. Orang yang dapat merasakan kembali kegembiraan kanak-kanak, dia seorang beruntung.

Sambil tertawa-tawa Bi Lan memeras rambutnya yang panjang, yang basah kuyup. Sim Houw juga melakukan hal yang sama. Memang, hal yang paling mengganggu kalau kehujanan kalau rambut panjang basah kuyup. Air akan terus mengalir dan menetes dari kumpulan air hujan yang diserap oleh rambut.

Setelah memeras rambut dan ujung-ujung pakaiannya, Sim Houw lalu mengumpulkan kayu kering yang banyak terdapat di dalam kuil itu, sisa dari mereka yang pernah bermalam di situ dan dibantu oleh Bi Lan, dia membuat api unggun. Buntalan berisi pakaian yang basah lalu diperas dan dipanaskan dekat api unggun agar cepat kering.

Bi Lan sendiri lalu memeriksa tempat itu, selagi Sim Houw sibuk mengeringkan pakaian di dekat api unggun. Kuil itu dahulunya merupakan sebuah kuil yang cukup besar dan agaknya bekas terbakar sehingga sebagian besar bangunan samping dan belakang, tempat dulu merupakan kamar-kamar para pendeta, juga dapur dan lain-lain bagian, sudah runtuh. Kini yang tinggal hanya ruangan sembahyang di luar dan beberapa ruang sebelah dalam, yang masih tertutup atap walau pun bocor di sana-sini.

Lantainya cukup bersih, oleh karena di tempat ini sering juga ada orang-orang yang kemalaman di jalan atau mungkin kehujanan seperti yang mereka alami sore hari ini. Ada pula jerami-jerami kering bertumpuk di sudut, tentu untuk alas tidur di lantai karena lantainya tentu dingin sekali kalau malam, apa lagi kalau hujan. Setelah memeriksa tempat itu dan ternyata hanya mereka berdua yang sore hari itu meneduh di tempat itu dari serangan hujan, Bi Lan kembali ke depan dan duduk pula dekat api unggun agar pakaian dan rambutnya lekas kering.

Setelah ada pakaian yang dibentangkan dekat api dan sudah kering lebih dulu, Bi Lan kemudian membawa satu stel pakaiannya ke bagian belakang dalam kuil itu yang gelap, terhalang dinding dan ia pun berganti pakaian. Setelah ia selesai, lalu Sim Houw juga berganti pakaian, lalu mereka berdua duduk kembali dekat api. Enak setelah berganti pakaian kering dan terkena hawa panas api unggun, membuat tubuh terasa hangat. Akan tetapi tiba-tiba Bi Lan tertawa.

"Kenapa kau tertawa?"

"Hi-hi-hik, apakah kau tidak mendengar apa yang kudengar?"

"Apa itu?"

"Engkau memang terlalu sopan. Kokok ayam dalam perut kita!"

Sim Houw tersenyum. Gadis ini sungguh polos. Akan tetapi, tidak seharusnyakah kita semua bersikap demikian? Demikian pikirnya.

Segala peraturan sopan santun yang kita buat sendiri demi ‘kehormatan’ sudah sedemikian berlebih-lebihan sehingga mencetak kita menjadi manusia-manusia palsu, munafik-munafik besar yang selalu berbeda lahir dengan batinnya, kepura-puraan yang hanya menguntungkan perasaan si aku yang menganggap diri agung dan terhormat, akan tetapi kadang-kadang merugikan bagi diri sendiri mau pun orang lain. Betapa sering kali kita lebih mengutamakan si aku yang hanya angan-angan belaka ini, demi nama baik dan demi kehormatan si aku, biarlah badan ini menderita! Aneh memang, bodoh memang, akan tetapi kenyataannya demikianlah.

Sampai di jaman ini pun kita semua menjadi hamba dari pada pengagungan si aku ini. Lihat saja di kanan kiri, lihat saja pada diri kita sendiri. Sepasang kaki kita menjerit dan mengeluh oleh sempitnya sepatu yang menekan demi untuk kehormatan! Peluh kita bercucuran oleh gerah dan panasnya pakaian ‘sopan’ demi untuk kehormatan! Perut kita kalau perlu kita tekan dan kelaparan demi untuk kehormatan. Mulut kita dipaksa senyum-senyum walau hati sedang berduka demi untuk kehormatan dan masih banyak lagi contoh-contoh yang membuat kita kadang-kadang menjadi heran sendiri karena kelakuan kita, demi kehormatan itu, seperti tidak normal lagi.

Si aku yang gila kehormatan ini membuat kita menjadi manusia-manusia yang gila atau tidak normal lagi! Sopan santun dan tata-susila memang perlu bagi kita manusia yang hidup bermasyarakat, namun tata-susila dan sopan-santun ini kita adakan bersama demi menjaga perasaan orang lain, agar tidak menyinggung dan untuk pelaksanaan dari pengertian kita tentang kesopanan dengan menggunakan akal budi. Akan tetapi kalau sudah menjurus ke arah kecondongan mencari pujian, lalu menjadi berlebih-lebihan bahkan tidak praktis lagi!


"Sayang roti keringku yang tinggal sedikit sudah habis karena terkena air hujan," kata Sim Houw. "Akan tetapi kalau hujan berhenti, kita dapat pergi ke kota Thian-cin, dan kita membeli makanan di sana."

Akan tetapi hujan tak juga mau berhenti sampai malam tiba! Sim Houw melihat betapa gadis itu, walau pun tidak bicara lagi tentang lapar dan makanan, akan tetapi semakin menderita akibat menahan lapar. Hawa yang nyaman karena dingin dilawan kehangatan api unggun memang membuat perut menjadi lapar sekali, lebih lagi karena baru saja mereka tadi mengeluarkan banyak tenaga untuk berkelahi. Perut mereka membutuhkan isi, akan tetapi dari mana bisa didapatkan makanan? Kuil itu berada di ujung hutan dan tempat itu sunyi, jauh dari rumah orang.

Tiba-tiba Sim Houw bangkit dari tempat duduknya di dekat api unggun. "Kau di sini sebentar, Lan-moi, aku akan pergi mencari bahan makan untuk kita."

"Tapi, hujan masih begitu lebat di luar dan gelap pula!" Bi Lan membantah. "Kau akan kehujanan dan basah kuyup lagi. Pula, ke mana mencari bahan makanan malam malam hujan begini?"

Sim Houw tersenyum. "Kau tunggu sajalah. Pakaianku sudah kering semua, nanti dapat berganti lagi. Pula, bukankah sejak jaman nenek moyang kita dahulu, kaum pria yang bertugas mencari bahan makanan untuk kita yang kelaparan? Nah, aku pergi sebentar!" Sim Houw berkelebat dan lenyap dari situ.

Bi Lan tak mau menganggur. Ia menambahkan kayu pada api unggun, lalu dengan teliti ia mencari-cari di sekitar kuil yang bocor di sana-sini itu dan menemukan dua buah panci butut, akan tetapi belum bocor. Lumayan, pikirnya dan dengan dua panci itu, ia menadah air hujan yang langsung turun dari langit sehingga dua buah panci itu dapat menampung air yang jernih.

Siapa tahu kalau-kalau nanti Sim-toako benar-benar bisa memperoleh bahan makanan, pikirnya. Tanpa panci tempat masak, lalu bagaimana? Dan mereka juga membutuhkan air minum, dan air hujan itu cukup bersih.

Tidak lama kemudian muncullah Sim Houw dari luar kuil, menggendong seekor kijang muda yang telah mati! Tubuh dan rambutnya basah kuyup, juga pakaiannya amat kotor terkena lumpur, akan tetapi dia tersenyum lebar dengan wajah gembira sekali. Dia lalu menurunkan kijang itu dari pundaknya dan memeras rambutnya.

"Wah, bagaimana kau bisa mendapatkan... ehhh, lekas kau tukar pakaian dulu, toako, kau basah semua dan pakaianmu kotor. Jangan-jangan kau bisa masuk angin!" kata Bi Lan dengan girang tetapi juga khawatir, lupa bahwa orang yang memliki kepandaian seperti Sim Houw tentu memiliki pula kesehatan yang baik dan daya tahan yang jauh lebih kuat dari pada orang-orang biasa.

Akan tetapi Sim Houw menurut, menyambar satu stel pakaian kering dan berlari ke belakang. Ketika dia kembali dengan pakaian yang kering dan rambutnya sudah diperas dari air hujan, dia melihat bahwa dengan menggunakan kedua tangannya, Bi Lan sudah mulai menguliti kijang itu menarik dan merobeknya begitu saja!

"Lan-moi, kita pergunakan alat, jangan hanya dengan tangan begitu. Bagaimana kau akan memotong-motong dagingnya?"

"Aku tidak punya pisau..."

"Suling ini dapat dipakai sebagai pedang dan..."

"Hushh, jangan pandang rendah benda pusaka, toako. Sudahlah, kita kuliti binatang ini, kita patahkan saja keempat kakinya dan kita panggang pahanya. Kita tidak mungkin dapat memasaknya karena tidak ada bumbu."

"Wah, sayang, bumbu-bumbuku juga habis dalam buntalan pakaian oleh air hujan. Tapi tunggu, dahulu aku pernah menyimpan sisa garam di ujung sana. Tanpa garam, akan seperti apa rasanya?"

Dia pun mencari-cari dan akhirnya dengan girang menemukan garam itu yang berada dalam sebuah poci kecil sehingga masih bersih dan utuh. Sibuklah kedua orang itu kini memanggang empat buah paha kijang yang sudah digarami dan tak lama kemudian, terciumlah bau sedap yang membuat perut mereka terasa semakin lapar!

Habislah daging paha kijang yang empat buah banyaknya itu oleh mereka, ditambah minum air hujan yang telah dimasak sampai mendidih. Dan seperti biasa, perut kenyang mendatangkan kantuk! Mulailah mereka bekerja untuk membuat tempat tidur dengan menumpuk jerami kering di lantai.

"Kau tidurlah, Lan-moi, biar aku duduk di sini. Engkau terlalu lelah dan malam ini kita tidak mungkin dapat mencari tempat bermalam lain lagi. Hujan masih terus turun. Kau tidurlah."

"Dan kau, Sim-toako?"

"Aku sudah terbiasa beristirahat sambil duduk, dan aku juga perlu mengulang kembali pengobatan dalam tubuhku."

Kepercayaan Bi Lan terhadap Sim Houw sudah demikian mendalam sehingga biar pun mereka hanya berdua saja malam itu di satu ruangan, di tempat yang gelap dan sunyi, namun tidak ada sedikit pun kekhawatiran di dalam hatinya. Bahkan membayangkan yang bukan-bukan saja sama sekali tidak pernah memasuki benaknya. Maka segera ia dapat tidur dengan pulasnya, rebah miring meringkuk karena terasa hawa dingin yang dihembus angin dari luar.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner