SULING NAGA : JILID-25


Diam-diam Sim Houw yang duduk dekat api unggun memandang kepadanya. Ada rasa haru yang besar sekali dan mendalam di dasar hatinya melihat gadis itu tidur meringkuk dengan bibir tersenyum, begitu pasrah, begitu lemah dan tak berdaya. Seorang gadis yatim piatu, seperti dia, seorang gadis yang secara aneh muncul dalam kehidupannya.

Sama sekali tak pernah dia menyangka bahwa dalam hidupnya, dia akan berduaan dengan seorang gadis seperti pada malam hari ini. Melakukan perjalanan bersama, kehujanan bersama, makan berdua dan kini dia memandangi gadis yang tidur pulas itu.

Timbul rasa kasihan di hatinya melihat Bi Lan meringkuk, menekuk kaki dan menjepit tangan di antara pahanya. Dia mempunyai sebuah baju mantel yang lebar dan yang kini sudah kering. Diambilnya mantel itu dan diselimutkannya pada tubuh Bi Lan, menutupi tubuh dari leher sampai ke kaki. Dia melakukannya begitu hati-hati dan perlahan-lahan agar tidak membangunkan Bi Lan dari tidurnya yang nyenyak.

Akan tetapi, tubuh yang terlatih sejak kecil itu amat peka terhadap sentuhan dari luar dan urat syaraf tubuh itu selalu dalam keadaan siap terhadap bahaya dari luar sehingga dalam tidur sekali pun, agaknya syaraf-syaraf itu tetap bersiap siaga. Maka begitu merasa tubuhnya tersentuh kain, walau pun tadinya tidak berprasangka yang bukan-bukan, sentuhan ini cukup membuat Bi Lan sadar dari tidurnya.

Akan tetapi, ia segera memejamkan matanya kembali dan pura-pura masih pulas ketika ia melihat bahwa yang menyentuh tubuhnya itu adalah hamparan baju mantel yang diselimutkan oleh Sim Houw di atas tubuhnya. Diam-diam gadis ini merasa berterima kasih dan senyumnya bertambah manis ketika ia terseret penuh oleh kepulasan…..

********************

Di jaman para kaisar masih berkuasa, para pembesar yang bertugas mencatat sejarah, selalu hanya mencatat yang baik-baik saja tentang kaisar dan keluarganya. Kalau ada catatan sejarah yang memburukkan seorang penguasa, maka catatan itu sudah pasti dilakukan oleh pihak yang membencinya. Oleh karena itu, maka sukarlah dipercaya kebenaran catatan sejarah di dunia ini.

Seperti catatan sejarah tentang pembangunan dan tentang kebesaran kerajaan Mancu yang semakin berkembang. Akan tetapi sejarah tak mencatat betapa banyaknya korban jatuh dari pihak mereka yang menentang kaisar, baik karena urusan pribadi mau pun karena kebangkitan mereka yang merasa dijajah dan ingin menumbangkan kekuasaan Mancu.

Kalau dia sudah dinilai, setiap orang manusia, baik dia kaisar sekali pun, tentu memiliki dua macam sifat yang berlawanan, yaitu baik dan buruk, kelebihan dan kekurangannya, tentu saja bergantung kepada pendapat si penilai berdasarkan rasa suka atau tidak suka dari si penilai sendiri. Demikian pula Kaisar Kian Liong. Pada masa itu, dialah orang yang paling tinggi kedudukannya, yang paling berkuasa sehingga memburukkan namanya merupakan suatu pemberontakan dan dosa besar, dan orang yang berani melakukannya dapat saja dipenggal lehernya sebagai hukumannya. Oleh karena itu, catatan riwayat dan sejarahnya hanya yang baik-baik saja.

Betapa pun juga, orang tak mungkin menyimpan rahasia untuk selamanya. Akhirnya membocor keluar juga dari istana segala perilaku kaisar itu yang dianggap tidak patut. Di antaranya adalah hubungan kaisar di masa tuanya itu dengan Hou Seng yang tampan, yang kini semakin tinggi saja kedudukannya dan semakin besar kekuasaannya. Bahkan di luar sudah terdengar bisik-bisik bahwa Hou Seng inilah orangnya yang akan diangkat menjadi Perdana Menteri dalam waktu dekat.

Dan bisik bisik atau desas-desus ini memang tidak merupakan kabar bohong begitu saja. Bukan saja Hou Seng menjadi ‘kekasih’ kaisar, akan tetapi bahkan dia telah dapat mempengaruhi kaisar hingga semua urusan dalam istana sudah dipercayakan padanya. Sekarang dialah yang menjadi orang ke dua setelah kaisar di istana itu, bahkan semua pelaksanaan peraturan dan lain-lain berada di tangannya dan kaisar hanya mendengar dan percaya akan laporan kekasih ini saja.

Ambisi merupakan racun yang sekali mencengkeram batin kita, tidak mudah untuk dilepaskan lagi. Ambisi adalah kemurkaan, seperti binatang babi, makin diberi makan, semakin kelaparan saja. Makin banyak yang didapat, semakin bertambah keinginan hati yang dicengkeram ambisi.

Demikian pula dengan Hou Seng. Dia tadinya hanya seorang tukang pikul tandu kaisar. Setelah dia diangkat menjadi kekasih kaisar dan menjadi ‘penasehat’ kaisar, berarti dia sudah memperoleh kemajuan yang luar biasa. Namun, dia masih jauh dari pada puas karena dia melihat kemungkinan-kemungkinan bahwa dia akan lebih besar lagi.

Dan untuk mencapai ambisi atau cita-citanya itu, dia tidak hanya dapat mengandalkan kepercayaan kaisar kepadanya. Terlalu banyak musuhnya yang ingin melihat dia jatuh kembali ke bawah. Banyak menteri-menteri yang tak suka kepadanya, bahkan ada yang secara halus berani memperingatkan kaisar tentang bahayanya kalau terlalu percaya kepada seseorang dan menyerahkan segala kekuasaan di tangan Hou Seng mengenai urusan dalam istana.

Hou Seng semakin cerdik dan mulai memperkuat diri. Bukan hanya dengan cara makin menempel kaisar, tetapi juga diam-diam dia mengumpulkan tenaga-tenaga yang boleh diandalkan, selain untuk mengawal dan melindungi dirinya, juga untuk melaksanakan perintah-perintah dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Beberapa orang musuhnya sudah dilenyapkan, tewas secara aneh. Tentu saja tidak aneh bagi Hou Seng. Dia telah memelihara orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan kekejaman seperti iblis. Tentu saja dengan bayaran yang sangat tinggi, memberi kemewahan dan memenuhi permintaan apa saja dari orang-orang sakti itu. Juga memberi janji bahwa jika dia dapat menjadi Perdana Menteri, apa lagi kalau kelak dapat menjadi kaisar, dia tidak akan melupakan para pembantu itu dan tentu akan memberi kedudukan tinggi kepada mereka!

Pada suatu malam, dengan pengawalan ketat, Hou Seng keluar dari istana menuju ke sebuah rumah tidak jauh dari kompleks istana. Rumah ini merupakan sebuah gedung yang dikelilingi pagar tembok tinggi dan nampak terjaga oleh penjaga-penjaga yang berpakaian seragam. Rumah peristirahatan ini adalah milik Hou Seng, satu di antara banyak rumah yang dimilikinya. Dia sendiri tinggal di sebuah gedung seperti istana saja mewahnya, bersama isterinya!

Benar, Hou Seng telah beristeri. Hal ini adalah karena Kaisar Kian Liong merasa risi juga akibat banyaknya menteri yang menyindirkan hubungannya dengan Hou Seng, dan untuk menutupi atau sekedar mengurangi santernya desas-desus, dia memerintahkan kepada Hou Seng untuk menikah dengan seorang wanita dayang pilihan dari istana.

Tentu saja Hou Seng menerima perintah ini dengan hati senang. Bayangkan saja, selain memperoleh kekayaan dan kehormatan, juga dia memperoleh seorang isteri yang cantik ‘hadiah’ dari kaisar sendiri. Dengan adanya isteri, tentu dia dapat memelihara banyak selir dan kini tak perlu lagi dia bersembunyi-sembunyi kalau dia menginginkan seorang wanita. Pernikahannya itu telah berlangsung tiga tahun yang lalu dan kini dia telah mendapatkan beberapa orang anak dari isterinya dan selir-selirnya.

Kereta yang ditumpangi Hou Seng memasuki halaman rumah setelah pintu gerbangnya dibuka oleh para penjaga. Pintu gerbang lalu ditutup kembali dan nampak seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berwajah tampan dan cerdik, bermuka halus seperti muka perempuan. Itulah Hou Seng, dengan pakaiannya yang gemerlapan. Dia seorang laki-laki pesolek, mukanya dirias dan pakaiannya mewah!

Kiranya di dalam keretanya itu bersembunyi dua orang wanita berusia kurang lebih tiga puluhan tahun, cantik dan bertubuh ramping serta gesit. Mereka ini adalah dua orang pengawal pribadi yang dapat menjadi apanya pun juga. Menjadi selir, juga pelayan atau pengawal yang melindungi keselamatannya.

Kedua orang wanita ini adalah ahli-ahli silat yang pandai dan sengaja dipilih oleh Hou Seng, bukan hanya karena kecantikan mereka semata, tetapi terutama sekali karena ketangguhan mereka melindungi keselamatannya. Oleh karena itu, dua orang pengawal pribadi ini tidak pernah meninggalkannya, ke mana pun dia pergi. Ketika Hou Seng turun dari kereta, dua orang wanita ini turun sebelum dan sesudahnya, menjaga dari depan belakang atau kanan kiri penuh kewaspadaan.

Dari pintu depan yang terbuka dari rumah gedung itu muncullah seorang nenek yang kalau orang melihatnya di tempat yang tidak begitu terang tentu akan mengiranya seorang wanita yang masih belum tua benar. Padahal nenek ini usianya sudah kurang lebih tujuh puluh tahun!

Selain gerak-geriknya masih gesit dan sikapnya yang genit, juga mukanya memakai lapisan bedak tebal dan pemerah bibir dan pipi, di samping penghitam alisnya yang sudah habis bulunya itu. Pakaiannya juga mewah dan nenek pesolek ini memegang sebatang kebutan yang gagangnya terbuat dari emas dan bulunya yang putih lemas itu tidak boleh dipandang ringan.

Itu bukan kebutan biasa pengusir lalat, melainkan sebuah senjata yang amat ampuh karena bulu-bulu kebutan itu terbuat dari bulu seekor monyet putih yang hanya terdapat di daerah Himalaya bagian barat. Menurut dongeng, monyet putih di daerah itu memiliki bulu yang amat kuat sehingga tahan bacokan, membuat monyet itu kebal! Entah benar tidaknya dongeng itu, akan tetapi yang jelas, kebutan di tangan nenek ini pun selain mampu untuk membunuh orang, juga dapat menangkis segala macam senjata tajam yang bagaimana ampuh pun tanpa putus sedikit pun.

Begitu bertemu dengan nenek yang tubuhnya masih nampak ramping dan wajahnya cantik karena dirias itu, Hou Seng memberi hormat berbareng dengan nenek itu yang juga menjura dengan merangkap kedua tangan di depan dada sambil memegangi kebutannya yang bulunya menjuntai ke bawah dengan lemasnya.

Nampaknya seorang nenek-nenek yang tidak berdaya saja. Akan tetapi, Hou Seng yang merupakan orang kedua setelah kaisar di dalam istana, kelihatan begitu menghormati nenek ini. Apa lagi dua orang pengawal pribadinya itu jelas memperlihatkan sikap jeri sekali ketika mereka memandang kepada nenek itu dan mengerling ke arah kebutan berbulu putih bergagang emas itu. Dalam hati mereka selalu timbul pertanyaan berapa ribu nyawa sudah yang dipaksa meninggalkan badannya oleh kebutan nenek itu, setiap kali mereka bertemu dengan Kim Hwa Nionio, demikian nama nenek itu.

Kim Hwa Nionio telah menjadi pembantu utama dari Hou Taijin (Pembesar Hou) dan memperoleh kepercayaan dari kekasih kaisar ini karena Kim Hwa Nionio telah berulang kali membuktikan kesetiaannya. Sudah ada enam orang pembesar rendahan dan dua orang pembesar tingkat menteri yang tiba-tiba saja tewas, begitu pada kemarin harinya Kim Hwa Nionio menerima perintah dari Hou Taijin untuk melenyapkannya!

Selain itu, juga Kim Hwa Nionio yang mengatur penjagaan atau pengawal-pengawal rahasia dari Hou Taijin. Pengawal-pengawal ini adalah orang-orang yang dipimpin oleh Kim Hwa Nionio untuk melakukan penjagaan secara rahasia. Dan kini Kim Hwa Nionio menerima tugas yang lebih penting lagi, ialah mengumpulkan dan mengundang tenaga-tenaga yang tangguh dari para tokoh dunia hitam untuk memperkuat kedudukan Hou Taijin.

Siapakah Kim Hwa Nionio? Nenek yang sudah tua akan tetapi masih suka mengejar kesenangan melalui kekuasaan di kota raja ini adalah guru dari Bhok Gun! Nenek ini pernah menjadi murid merangkap kekasih dari mendiang Pek-bin Lo-sian. Akan tetapi setelah ia berhasil menguras semua ilmu dari Pek-bin Lo-sian, Kim Hwa Nionio lalu meninggalkan gurunya yang suka bertapa itu untuk bertualang di kota-kota besar dan mengumbar nafsunya dengan pria-pria yang lebih muda dan tampan, yang dipilih dan disukainya.

Dengan kepandaiannya yang hebat, ia dapat memaksa setiap pria yang dipilihnya untuk melayaninya. Setiap penolakan tentu mengakibatkan pria itu tewas oleh menyambarnya bulu-bulu kebutan itu. Bahkan setiap kekecewaan dari pria yang melayaninya juga harus ditebus dengan nyawanya. Dalam hal kejahatan dan kekejamannya, Kim Hwa Nionio tidak kalah oleh tiga orang datuk sesat yang masih bersumber dari satu perguruan dengannya, yaitu Sam Kwi.

Setelah usianya mulai tua, Kim Hwa Nionio memilih Bhok Gun untuk menjadi muridnya, dan hanya pemuda inilah yang mewarisi sebagian besar dari ilmu-ilmunya. Akan tetapi, setelah usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, ia sudah mulai kehilangan kesenangan-kesenangan masa mudanya dan kini satu-satunya kesenangan yang dikejarnya adalah kedudukan dari kekuasaan. Karena itulah ia pergi ke kota raja dan mendengar akan kelihaian Hou Taijin yang berhasil menguasai kaisar, ia lalu melakukan pendekatan dan akhirnya, melihat kehebatan ilmu nenek ini, ia berhasil menjadi pembantu utama Hou Seng atau Hou Taijin.

"Selamat malam, Taijin," nenek itu berkata dan suaranya terdengar halus, "dan silakan masuk."

Pembesar yang mempunyai sepasang mata lincah membayangkan kecerdikannya itu mengangguk dan langsung bertanya, "Benarkah yang datang Lama itu?" Dia mencari-cari dengan pandang matanya. "Begitu mendengar berita yang dikirim oleh locianpwe, aku langsung saja ke sini, ingin bertemu dan berkenalan sendiri."

Kim Hwa Nionio mengangguk. "Bijaksana sekali tindakan Taijin, karena memang akan menimbulkan kecurigaan kalau dia yang belum dikenal ini yang menghadap kepada Taijin. Sekarang pun dia sudah siap menghadap kalau menerima perintah Taijin."

"Baik, locianpwe, minta kepada losuhu itu untuk menemui aku di ruangan tamu."

Hou Taijin lalu diiringkan dua orang pengawalnya menuju ke ruang tamu, sedangkan Kim Hwa Nionio lalu mengundurkan diri untuk memberi tahu kepada tamunya. Ketika Kim Hwa Nionio bersama tamunya pergi ke ruangan, di situ telah menanti Hou Taijin bersama dua orang pengawal pribadi yang tak pernah berpisah darinya. Dua orang wanita cantik itu kini berdiri seperti patung di kanan kirinya, agak di belakang tubuh pembesar itu.

Para pengawal, tidak kurang dari dua belas orang, berjaga di dalam ruangan itu pula, berdiri dengan sikap hormat, sedangkan beberapa orang pengawal lagi mondar-mandir di luar ruangan ini. Mereka adalah pengawal-pengawal yang tidak mengenakan pakaian seragam dan yang selalu membayangi ke mana pun Hou Seng pergi.

Pengawal-pengawal inilah anak buah Kim Hwa Nionio dan karena mereka semua yang berpakaian preman itu mempunyai kartu pengenal yang dibubuhi cap dari Hou Taijin sendiri, maka para penjaga tempat-tempat yang sedang dikunjungi Hou Taijin selalu membiarkan mereka menyelinap masuk. Pendeknya, pengawalan yang dilakukan untuk menjaga keselamatan Hoa Taijin ini tidak kalah ketatnya dengan pengawalan atas diri kaisar sendiri.

Hou Taijin adalah seorang yang cerdik dan pandai menggunakan orang. Melihat bahwa tamu yang datang bersama Kim Hwa Nionio itu seorang kakek yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan perut gendut, kepalanya gundul dan jubahnya lebar dengan kotak-kotak berwarna merah kuning, mukanya begitu menyeramkan seperti muka seekor singa, dengan cambang bauk yang warnanya kekuning-kuningan, matanya terbelalak mengandung sinar mata tajam, dia tahu bahwa tamu ini memang bukan orang sembarangan, seperti yang telah dikatakan oleh Kim Hwa Nionio kepadanya.

Dia tahu siapa kakek ini, ialah seorang pendeta Lama dari Tibet yang juga mempunyai niat memberontak terhadap penguasa-penguasa lama di Tibet. Cocok sekali kalau orang ini bisa menjadi pembantunya bersama Kim Hwa Nionio, pikirnya. Dan agaknya makin mudah pula memasukkan seorang pendeta ke dalam istana, dengan alasan sebagai penasehat kebatinan, pengusir roh jahat, pengajar agama dan sebagainya, seperti yang dilakukan terhadap Kim Hwa Nionio yang juga olehnya diperkenalkan kepada kaisar sebagai seorang pertapa wanita dari Pegunungan Himalaya yang sakti.

Setelah pendeta Lama dan Kim Hwa Nionio itu tiba di dekat meja, Hou Taijin bangkit berdiri untuk menyambut dan pendeta yang bukan lain adalah Sai-cu Lama itu segera memberi hormat, merangkapkan kedua tangan depan dada sambil berkata dengan suara seperti berdoa, "Omitohud semoga Hou Taijin mendapat berkah usia panjang dan rejeki yang berlimpah-limpah!"

Hou Seng tersenyum. "Selamat datang, losuhu dan silakan duduk. Silakan, locianpwe."

Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio mengambil tempat duduk setelah nenek itu dengan isyarat tangannya menyuruh anak buahnya untuk keluar dari ruang itu. Para pengawal segera pergi dan hanya berjaga di luar ruangan tamu itu dengan ketatnya. Yang berada di ruang tamu kini hanyalah Hou Taijin bersama dua orang selir yang mengawalnya, Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama.

"Hou Taijin, pinceng (saya) adalah Sai-cu Lama dari Tibet. Saya memenuhi undangan Kim Hwa Nionio yang telah pinceng kenal baik untuk menghadap taijin. Harap maafkan kelancangan pinceng."

Hou Seng tertawa bergelak. Hatinya senang sekali mendengar seorang kakek yang menurut Kim Hwa Nionio amat sakti ini merendahkan diri. "Ahh, tidak ada yang perlu dimaafkan karena memang saya yang minta kepada locianpwe Kim Hwa Nionio untuk mengundang losuhu. Losuhu telah melakukan perjalanan yang melelahkan dan amat jauh, untuk menyambut kedatangan losuhu, saya akan mengadakan perjamuan kecil sebagai ucapan selamat datang."

Hou Taijin mengangguk kepada Kim Hwa Nionio, memberi tanda bahwa perjamuan itu boleh dimulai. "Kita dapat bercakap-cakap setelah makan minum."

"Maafkan pinceng, taijin. Sebelum itu, pinceng juga ingin mempersembahkan sesuatu kepada taijin. Seorang gadis remaja berusia dua belas tahun yang cantik jelita sekali, yang kebetulan pinceng temukan di dalam perjalanan pinceng."

Hou Seng mengerutkan alisnya. Betapa pun juga pernyataan pendeta Lama itu agak menyinggung kehormatannya. Pendeta ini berani mengatakan akan mempersembahkan seorang gadis remaja yang ditemukannya begitu saja di tengah perjalanan?

Persembahan seperti itu merendahkan martabatnya, betapa cantik pun gadis itu, dan tidak patut untuk di ketengahkan dalam pertemuan dan perkenalan pertama sebagai suatu persembahan kehormatan.

Agaknya Kim Hwa Nionio melihat ketidak senangan hati majikannya. Iapun cepat-cepat berkata, "Hendaknya paduka maklumi bahwa gadis remaja yang dibawa oleh rekan saya Sai-cu Lama itu bukan gadis biasa, melainkan derajatnya jauh lebih tinggi dari pada seluruh wanita yang telah paduka miliki. Ia itu adalah keturunan keluarga para pendekar Pulau Es yang terkenal itu!"

"Ahhh...!" Wajah pembesar itu berseri bangga dan matanya terbelalak. "Bukan main kalau begitu! Lekas bawa ke sini, saya ingin melihatnya!"

Kim Hwa Nionio memberi isyarat dengan tepuk tangan lima kali. Tidak lama kemudian pintu sebelah kanan ruangan tamu itu terbuka dan masuklah dua orang pengawal bertubuh tinggi besar. Di antara mereka terdapat Suma Lian, yang mereka pegang pada pangkal lengannya dari kanan kiri dan mereka jinjing. Kaki dan tangan gadis cilik itu terbelenggu!

Jelaslah bahwa Suma Lian tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi sepasang matanya hidup, bersinar penuh keangkuhan dan kemarahan, berdiri tegak ia ketika dilepas oleh kedua orang yang segera memberi hormat lalu meninggalkan lagi ruangan itu dan menutupkan pintunya dari luar. Pandang mata gadis cilik itu ditujukan kepada Sai-cu Lama dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian.

Seperti kita ketahui, ketika Sai-cu Lama kewalahan juga karena sambil menggendong gadis cilik itu dia menghadapi pengeroyokan nenek Teng Siang In yang masih nekat walau pun sudah terluka dan Hong Beng, pemuda ini berhasil membebaskan totokan dari tubuh Sama Lian dengan sambitan kerikil.

Dan setelah terbebas dari totokan, diam-diam Suma Lian mengambil tusuk konde atau hiasan rambutnya yang runcing dan menancapkan benda kecil itu di tengkuk Sai-cu Lama. Kalau saja ia tidak merasa ngeri melihat muncratnya darah dari tengkuk itu sehingga mengakibatkan tangannya lemas, tentu tusukannya itu akan lebih dalam lagi dan andai kata tidak sampai menewaskan kakek itu pun tentu akan mengakibatkan luka yang cukup berat.

Sai-cu Lama terkejut, kesakitan dan berhasil menampar gadis itu pingsan, kemudian melarikan diri sambil tetap membawa tubuh Suma Lian dan tengkuk yang bercucuran darah! Dia tahu bahwa kalau sampai keluarga Suma mengetahui tentu dia akan dikejar dan beratlah rasanya menghadapi mereka tanpa bantuan.

Dia berlari terus dengan cepat, akan tetapi dia cerdik. Setelah keluar dari pintu gerbang utama, dia lalu mengitari tembok dusun menuju ke selatan, kemudian membelok ke timur memasuki hutan lebat. Jejaknya hilang dan suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng melakukan pengejaran ke utara terus karena ada yang melihat pendeta itu lari keluar dari pintu gerbang utara.

Luka di tengkuknya hanya mengeluarkan darah, namun tidak berbahaya. Ketika dia memeriksa benda yang menancap di tengkuknya, dia terkejut. Benda itu tentu akan dapat menancap lebih dalam lagi, pikirnya. Akan tetapi kenapa tidak? Padahal, seorang gadis biar pun baru berusia dua belas tahun seperti anak ini, tentu mampu menusuk lebih kuat. Mengapa gadis cilik ini tidak menusuknya lebih kuat? Pikiran ini membuat kemarahannya berkurang terhadap Suma Lian.

Ia menurunkan tubuh Suma Lian, lalu demi keamanan, membelenggu kaki tangan gadis itu dengan tali pengikat yang kuat. Baru dia menotoknya beberapa kali dan membuatnya sadar kembali. Begitu sadar, Suma Lian meronta, akan tetapi tak mampu melepaskan ikatan kaki tangannya dan ia hanya memandang dengan mata melotot.

"Kau manusia busuk, manusia jahat!" bentaknya.

Sai-cu Lama tertawa. "Ha-ha-ha, anak baik. Jika aku manusia busuk dan jahat, kenapa engkau tak jadi membunuhku? Kenapa tusukanmu pada tengkukku itu hanya setengah tenaga saja, tidak sungguh-sungguh?" katanya sambil mengeluarkan obat bubuk dan menempelkan obat itu kepada luka kecil di tengkuknya yang segera mengering.

"Padahal, benda ini runcing dan keras, dengan sedikit tenaga saja tengkukku pasti bisa ditembus!" katanya dan sekali menggerakkan tangan, perlahan-lahan dia menusukkan tusuk sanggul itu ke dalam sebatang pohon. Benda kecil itu langsung amblas sampai tak nampak lagi!

"Huh, sayang aku menjadi tidak sampai hati melihat darah muncrat, dan aku merasa malu harus berbuat curang. Kalau tidak, engkau tentu sudah mati dan aku terbebas!" kata Suma Lian, sekarang baru merasa menyesal mengapa ia tadi tidak menggunakan seluruh tenaganya dan mengeraskan hatinya saja.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Engkau seorang gadis manis yang baik hati. Ha-ha-ha, dan karena itulah engkau sampai sekarang masih hidup. Jika engkau menusuk lebih keras, sebelum mati tentu tamparanku akan meremukkan kepalamu tadi. Dan sekarang pun, karena kebaikan hatimu itu, aku tidak akan membunuhmu, tidak, aku malah membuat engkau hidup mulia. Mari...!" Dengan tangan kirinya dia menyambar tubuh gadis cilik itu dan dipanggulnya lalu dibawa lari.

"Lepaskan aku! Lepaskan...!" Suma Lian meronta dan menjerit, akan tetapi pendeta Lama itu menggunakan jari tangan menekan tengkuknya dan dia pun tidak mampu lagi mengeluarkan suara.

Demikianlah, Sai-cu Lama membawa Suma Lian ke kota raja. Di dalam perjalanan itu, dia menyembunyikan tubuh yang sudah dibelenggu dan ditotoknya itu ke dalam sebuah kantung kain yang diberi lubang-lubang untuk pernapasan gadis itu, dan sekali-sekali, dia harus memaksa gadis itu untuk makan, dengan membuka mulut gadis itu dan menuangkan bubur ke dalam perutnya. Tanpa paksaan, Suma Lian yang keras hati itu tidak mau makan atau minum!

Setelah tiba di gedung tempat tinggal Hou Taijin yang menjadi sarang Kim Hwa Nionio yang menghubunginya, Sai-cu Lama disambut dengan girang oleh Kim Hwa Nionio, apa lagi saat temannya itu memberi tahukan bahwa gadis cilik yang ditawannya adalah keturunan para pendekar Pulau Es. Para datuk sesat memang selalu memusuhi para pendekar, terutama sekali keturunan keluarga Pulau Es sejak dahulu, semenjak nenek moyang mereka, telah menjadi musuh besar yang harus selalu ditentang.

"Bagus, tentu Hou Taijin akan suka sekali!" serunya. "Atau kalau tidak, hemmm... anak ini bertulang baik, bagaimana kalau ia menjadi muridku saja?"

"Ha-ha-ha, sungguh serupa benar jalan pikiran kita," kata Sai-cu Lama. "Aku pun sudah mempunyai pikiran demikian. Amat bangga kalau kita dapat memiliki murid keturunan para pendekar Pulau Es, kita didik sedemikian rupa sehingga kelak dia menjadi tokoh dari golongan kita yang memusuhi para pendekar. Ha-ha-ha!"

"Bagus! Aku pun ingin terbawa namaku dalam jasa itu. Bagaimana kalau kita didik anak itu bersama-sama?"

"Omitohud, usia tuamu sama sekali tidak menghilangkan kecerdikanmu, seperti tidak pula melenyapkan kecantikanmu, Kim Hwa Nionio!" Sai-cu Lama memuji.

Keduanya lalu membuat persiapan untuk memberi laporan kepada Hou Taijin bahwa tamu dari Tibet yang diundang telah tiba. Dan seperti kita ketahui, Hou Taijin demikian girang mendengar ini sehingga dia datang sendiri demi untuk menemui tamu itu dan mengenalnya sendiri karena oleh Kim Hwa Nionio sudah diceritakan bahwa tamu yang berjuluk Sai-cu Lama dari Tibet ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan tidak kalah oleh Kim Hwa Nionio sendiri, demikian kata nenek itu.

"Omitohud..., anak baik, engkau sedang menghadap Hou Taijin, harus berlutut memberi hormat!" kata Sai-cu Lama.

Akan tetapi Suma Lian tetap berdiri dengan mata melotot, sedikit pun tidak takut dan ketika ia memandang kepada orang berpakaian mewah yang duduk di depan pendeta Lama itu, matanya memandang penuh selidik. Mata anak ini demikian tajam sehingga hati pembesar itu merasa kecut juga. Akan tetapi pada saat itu, seorang di antara dua orang selir yang menjadi pengawalnya itu berbisik dekat telinganya.

"Taijin harus bersikap baik kepadanya, dan suruh membebaskan ikatan kaki tangannya, agar ia mudah dijinakkan."

Hou Taijin mengangguk-angguk, kemudian sambil memandang kepada gadis cilik itu, ia berkata, "Losuhu, kasihan sekali puteri kecil ini dibelenggu. Harap lepaskan belenggu kaki tangannya!"

"Taijin, biar pun masih kecil, ia sudah lihai dan berbahaya, juga liar seperti seekor kuda binal!"

"Sai-cu Lama, perintah Taijin harus kita laksanakan tanpa membantah." Tiba-tiba Kim Hwa Nionio memperingatkan temannya yang belum tahu akan watak Hou Taijin yang tidak mau dibantah.

Mendengar ini, Sai-cu Lama mengangguk dan cepat dia menghampiri Suma Lian yang berdiri tegak. Untuk mendemonstrasikan kelihaiannya, dengan jari-jari tangan, ringan sekali gerakannya dia membikin putus semua tali, seolah-olah tali-tali itu hanya sehelai benang saja!

"Adik yang baik, ke sinilah dan jangan takut. Kami tidak akan menyusahkanmu lagi," berkata Hou Seng.

Memang orang ini pandai sekali bersandiwara. Dan mendengar suaranya yang lemah lembut, serta melihat wajahnya yang kini memperlihatkan kesungguhan dan keramahan, Suma Lian mulai percaya bahwa orang itu tentu memiliki niat yang baik terhadap dirinya.

Ia memang tidak mendengarkan apa yang dipercakapkan oleh Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio bahwa dirinya akan diberikan kepada pembesar Hou Seng untuk dijadikan selir! Maka, mengingat bahwa ia berhadapan dengan seorang pembesar di kota raja, seperti yang didengarnya tadi dari para pengawal bahwa ia akan dihadapkan kepada seorang pembesar istana kota raja, ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

Memang selain belajar ilmu silat tinggi, Suma Lian diajar tentang ilmu baca tulis, juga tentang kesopanan sehingga ia mampu bersikap semestinya ketika berhadapan dengan seorang pembesar, apa lagi jika mengingat bahwa pembesar ini bersikap baik, bahkan telah menolongnya dari belenggu.

"Taijin, harap paduka suka mengirim saya untuk kembali ke rumah orang tua saya, atau membiarkan saya pergi dari sini. Dan untuk budi ini saya Suma Lian tidak akan pernah melupakanmu."

Kembali terdengar bisik-bisik dari seorang selir di belakangnya. Hou Seng mengangguk-angguk lagi. "Nona Suma Lian, membiarkan engkau pergi seorang diri sungguh amat berbahaya. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa atas dirimu? Berarti aku harus ikut bertanggung jawab. Sai-cu Lama telah menyerahkan engkau kepadaku, berarti akulah yang sekarang melindungimu. Jangan khawatir, sekali waktu pasti aku akan mengantar engkau kembali ke tempat tinggalmu, akan tetapi sementara ini, selagi aku masih sibuk, biarlah engkau tinggal di sini bersama Kim Hwa Nionio. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan memberontak atau mencoba untuk melarikan diri."

Suma Lian adalah seorang anak yang cerdik. Jika tadi ia memperlihatkan sikap marah, itu adalah karena Sai-cu Lama selalu bersikap keras kepadanya dan ia membenci pendeta yang menculiknya itu. Sekarang ia melihat bahwa tidak ada pilihan lain baginya kecuali mentaati perintah pembesar ini, kalau ia tidak ingin diperlakukan kasar lagi.

Ia mengerti bahwa ia menjadi semacam tahanan. Akan tetapi jauh lebih baik tertahan dalam keadaan bebas dari pada dibelenggu terus atau disekap terus di dalam kamar tahanan. Dalam keadaan bebas, tentu akan banyak kesempatan terbuka baginya untuk melarikan diri!

"Baiklah Taijin, saya berjanji tidak akan memberontak dan terima kasih atas kebaikan Taijin."

"Locianpwe," berkata Hou Taijin dengan suara halus kepada Kim Hwa Nionio, "harap locianpwe atur dan serahkan adik ini kepada para pengasuh lebih dulu, sediakan kamar yang baik, pakaian yang cukup dan makan yang enak, setelah itu kami masih menanti locianpwe di sini untuk mengadakan perundingan lebih lanjut."

"Baik, Taijin." Kim Hwa Nionio lalu menggandeng tangan Suma Lian. "Nah, kalau sejak kemarin engkau tidak memberontak, tentu kami sudah memperlakukan engkau dengan baik. Marilah, anak manis."

Kalau saja Sai-cu Lama yang menggandengnya, biar pun kini ia tidak memberontak lagi, Suma Lian tentu tidak akan mau. Akan tetapi ia tidak membenci nenek ini walau pun ia juga tidak menyukainya, dan ia pun menurut saja ketika digandeng dan hendak diajak keluar dari ruangan itu.

Setelah menyerahkan Suma Lian kepada para pembantunya agar anak itu memperoleh rawatan yang baik dan sekali-kali tidak boleh diperlakukan kasar, akan tetapi diam-diam Kim Hwa Nionio memerintahkan anak buahnya untuk mengamati anak itu baik-baik dan menjaganya supaya ia tidak sampai melarikan diri dari situ, nenek itu lalu kembali ke ruangan tamu.

"Locianpwe berdua, kami menerima dengan gembira anak keluarga Suma itu, tetapi untuk sementara saya titipkan dahulu ia di sini. Terutama locianpwe Kim Hwa Nionio harap dapat menjaganya baik-baik karena sekali waktu tentu ia akan kubawa ke istana. Jangan sampai ia kekurangan sesuatu dan jangan sampai melarikan diri. Akan tetapi, harap rahasiakan tempat persembunyiannya dari orang luar. Mengertikah, locianpwe?"

Kim Hwa Nionio mengangguk-angguk. "Baik Taijin. Saya sendiri yang akan menjaga anak itu."

Wajah pembesar itu nampak lega dan dia pun berkata gembira. "Sekarang, harap keluarkan hidangan dan hiburan untuk menjamu Losuhu dari Tibet sebagai sambutan selamat datang dari kami."

Kim Hwa Nionio bertepuk tangan beberapa kali sebagai perintah dan pintu pun terbuka. Beberapa orang pelayan, laki-laki dan wanita, kesemuanya muda-muda dan berpakaian bersih, yang pria tampan dan wanita cantik, masuk dengan sikap gesit dan terlatih baik. Mereka kemudian mengatur masakan-masakan di atas meja dan bagaikan sekumpulan burung dara delapan orang pelayan ini pulang pergi mengambil masakan-masakan dari dapur dan ruangan itu pun menjadi sedap baunya oleh uap masakan-masakan yang masih panas itu.

Rombongan ini disusul oleh rombongan tari dan nyanyi yang terdiri dari dua orang wanita dan empat orang laki-laki. Mereka mengenakan pakaian seniman yang beraneka warna sambil membawa alat-alat musik mereka. Muka mereka, baik yang laki-laki mau pun yang perempuan, dirias dengan bedak tebal dan gincu hingga hampir menyerupai kedok-kedok.

"Taijin, rombongan seni ini sengaja saya undang dari kota raja," kata Kim Hwa Nionio memperkenalkan enam orang itu.

Hou Sen mengangguk-angguk. "Bagus, bagus, kalau permainan kalian malam ini amat memuaskan, tentu kami akan memberi hadiah yang besar."

Enam orang itu berlutut menghadap pembesar itu, tetapi sebelum mereka menjawab, dari pintu yang terbuka itu menerobos masuk sepuluh orang pengawal anak buah Kim Hwa Nionio dan muka mereka memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang hebat telah terjadi. Melihat mereka masuk begitu saja tanpa dipanggil, berkerut sepasang alis Kim Hwa Nionio.

"Kalian ada laporan apa?" bentaknya marah.

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan menjadi komandan regu itu, melangkah maju dan dengan sikap gugup dia menuding ke arah enam orang seniman yang masih berlutut di situ. "Mereka... mereka ini... palsu! Mereka membunuh enam orang rombongan seniman dari kota raja dan mereka menyamar..."

"Apa...?" Hou Taijin membentak dan dengan wajah berubah pucat memandang kepada enam orang seniman palsu itu. "Siapa kalian dan mau apa datang ke sini?"

"Mau membunuh kau laki-laki cabul!" Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak dan serentak dua orang wanita dan empat orang laki-laki itu sudah mencabut keluar pedang masing-masing yang tadi disembunyikan bersama alat-alat musik dan pakaian!

Akan tetapi, belasan orang pengawal sudah mengepung mereka itu sehingga mereka tidak dapat menyerang Hou Seng yang oleh Kim Hwa Nionio lalu dibawa ke pinggir dan dilindunginya. Sedangkan Sai-cu Lama hanya memandang dengan sikap tenang saja, malah dia menyambar seguci arak dan mulai minum-minum melihat betapa belasan orang pengawal itu mulai mengeroyok enam orang musuh untuk menangkap mereka, hidup atau mati.

Akan tetapi, ternyata enam orang itu lihai sekali ilmu pedang mereka sehingga dalam beberapa gebrakan saja, enam orang pengawal sudah roboh tertusuk atau terbacok pedang! Hal ini membuat Hou Taijin menjadi ketakutan, akan tetapi Kim Hwa Nionio menenangkannya.

"Jangan khawatir, Taijin, ada saya di sini," kemudian ia berkata kepada Sai-cu Lama. "Lama, apakah engkau masih mau enak-enak minum arak saja sekarang? Taijin sudah tak sabar lagi untuk melihat kemampuanmu!"

Sai-cu Lama lalu bangkit dan menghampiri arena perkelahian, kemudian dari mulutnya menyemburkan arak yang menderas bagaikan hujan. Akan tetapi yang membuat semua orang yang sedang bertempur itu, baik para pengawal mau pun enam orang penyerbu, terpaksa mundur adalah karena mereka tidak dapat membuka mata terhadap serangan percikan arak yang begitu kuat dan seperti dapat menusuk kulit muka!

"Para pengawal, mundurlah dan bawa pergi teman-temanmu yang terluka keluar dari sini, agar gerakan pinceng tidak terhalang!" kata kakek gendut itu tenang-tenang saja.

Para pengawal lalu menolong enam orang kawan mereka yang terluka, membawa mereka keluar dari ruangan tamu yang amat luas itu. Kini kakek itu menghampiri enam orang seniman yang ternyata adalah orang-orang yang datang untuk membunuh Hou Taijin.

"Kalian sudah bosan hidup dan datang hanya untuk mengantar nyawa. Hayo berlutut agar pinceng dapat membunuh kalian tanpa menyiksa lagi."

Tentu saja enam orang itu menjadi marah. Dengan semburan arak tadi pun mereka sudah tahu bahwa pendeta gendut ini lihai sekali. Akan tetapi karena mereka berenam dan mereka juga berada di dalam sarang musuh, mereka menjadi nekat dan serentak mereka maju menyerang Sai-cu Lama yang berdiri menantang. Enam batang pedang dengan gerakan cepat sekali meluncur atau melayang ke arah tubuh gendut itu dari segala jurusan.

Enam orang itu jelas bukan orang sembarangan karena sekali bentrok saja mereka masing-masing telah mampu merobohkan seorang pengeroyok dengan pedang mereka. Permainan pedang mereka cukup cepat dan kuat. Akan tetapi, yang mereka serang saat itu adaiah Sai-cu Lama, orang yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi dari mereka.

Dari gerakan mereka tadi saja Sai-cu Lama sudah tahu bahwa enam orang itu bukan merupakan lawan yang terlalu kuat. Kalau dia menghendaki, dalam beberapa gebrakan saja dia mampu untuk merobohkan enam orang lawannya.

Akan tetapi, di situ terdapat Hou Seng, pembesar yang berkuasa di istana itu dan dia ingin memperlihatkan kepandaiannya. Maka, begitu melihat datangnya tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan, ia sengaja memperlihatkan kekebalannya. Dengan kedua lengan tangan telanjang, ia menangkisi semua serangan itu, bahkan tusukan sebatang pedang dari belakang dan bacokan pedang dari kiri yang mengenai punggung dan lehernya, dia sengaja diamkan saja tanpa ditangkis.

Terdengar suara bak-bik-buk dan semua senjata itu terpental begitu terkena tangkisan lengannya mau pun yang mengenai punggung dan lehernya, tanpa sedikit pun melukai kulitnya, kecuali merobek bajunya di bagian punggung!

Tentu saja Hou Seng kagum bukan main, sebaliknya enam orang penyerang itu terkejut setengah mati. Tak mereka sangka bahwa di situ hadir seorang pendeta Lama yang demikian lihainya. Akan tetapi, untuk melarikan diri sama sekali tidak mungkin karena tempat itu dijaga oleh banyak sekali pengawal. Mereka menjadi nekat dan sekarang menyerang kembali dengan pedang mereka, hanya kini menujukan serangan mereka ke arah bagian-bagian tubuh yang kiranya tidak dapat dilindungi kekebalan, terutama di bagian mata.

Menghadapi serangan ini, Sai-cu Lama tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kalian ini kumpulan tikus-tikus kecil berani bermain gila di depan seekor harimau!"

Kaki tangannya bergerak dengan aneh sambil dibarengi bentakan-bentakannya yang melumpuhkan dan dalam waktu singkat saja lima dari enam orang penyerbu itu telah roboh tewas. Dan yang ke enam, yang wanita dan usianya sekitar tiga puluh tahun, berwajah cantik, sudah ditangkapnya! Wanita itu terpaksa melepaskan pedangnya dan kini tertotok roboh tak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya lumpuh.

"Ha-ha-ha, apakah Hou Taijin ingin melihat bagaimana macamnya orang ini di balik pakaiannya?"

Dan sekali tangannya bergerak, terdengar kain robek dan pakaian bagian depan dari wanita itu telah dirobek lepas! Nampak tubuhnya yang lumayan mulusnya, dan wanita itu hanya mampu merintih namun tidak mampu bergerak untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bagian depannya itu.

"Nanti dulu, jangan bunuh orang ini. Kita harus tahu siapa yaag menyuruh mereka!" Tiba-tiba Hou Taijin berseru keras.

Dalam keadaan seperti itu, mana dia tertarik melihat tubuh wanita telanjang? Lagi pula, wanita itu sudah terlalu tua untuknya. Bagi pembesar istana ini, usia wanita lewat lima belas tahun sudah terlalu tua!

Mendengar ini, Sai-cu Lama mengangguk-angguk dan tertawa, dia maklum apa yang dikehendaki oleh Hou Taijin. "He-heh-heh, tikus betina, kau sudah mendengar sendiri ucapan Hou Taijin. Hayo katakan, siapa yang mengutus kalian berusaha membunuh Hou Taijin? Hayo cepat katakan, jika tidak aku akan mengerat tubuhmu sepotong demi sepotong, tidak sampai kau mati, tetapi akan membuat engkau hidup sebagai seorang yang tanpa batang hidung, tanpa daun telinga, tanpa jari tangan dan kaki!"

Wanita itu memang maklum bahwa ia sudah tidak berdaya. Mendengar ancaman itu, ia bergidik. Dia tidak dapat membayangkan betapa ngeri dan sengsaranya dibiarkan hidup dalam keadaan cacad seperti itu. Lebih baik dibunuh saja! Dan ia pun tahu bahwa seorang sakti dan kejam seperti pendeta Lama ini tentu akan memenuhi gertakannya tadi. Maka, dengan lirih dan suara gemetar ia pun membuat pengakuan.

"Yang mengutus kami adalah... adalah... Pangeran Cui..."

"Apa? Pangeran Cui yang mana? Yang tua atau yang muda?"

"Pangeran... Cui muda..."

"Keparat!" bentak Hou Seng sambil memukulkan kepalan tangan kanan ke atas telapak tangan kirinya sendiri. Wajahnya berubah merah dan dia marah sekali.

Pangeran Cui muda itu adalah seorang pangeran yang menjadi keponakan kaisar, dan termasuk seorang di antara mereka yang tidak suka kepadanya. Meski di dalam sebuah pesta yang diadakan pangeran muda Cui pernah menghinanya dengan sindiran dengan bercerita tentang kehidupannya sebagai selir pria kaisar, namun dia menahan dirinya.

Pangeran muda Cui itu bukan merupakan lawan yang membahayakan kedudukannya, karena itu tiada artinya memperbesar permusuhan dengannya, tidak menguntungkan. Akan tetapi sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa agaknya pangeran muda itu demikian benci kepadanya sehingga diam-diam mengutus enam orang jagoan untuk membunuhnya!

"Losuhu, jika losuhu bisa membawa kepala pangeran Cui muda kepadaku, barulah aku percaya akan kesetiaan losuhu kepadaku!" Setelah berkata demikian, dengan tergesa-gesa Hou Seng meninggalkan rumah itu, pulang ke rumah sendiri dengan keretanya, dikawal dengan ketat oleh anak buah Kim Hwa Nionio.

"Celaka, di mana anak setan itu?" Tiba-tiba Kim Hwa Nionio berteriak.

Ia telah kehilangan Suma Lian! Tadi, ketika ia melindungi Hou Taijin, ia lupa kepada anak perempuan itu. Kini, setelah Hou Seng pergi, baru ia teringat akan Suma Lian dan setelah mengatur anak buahnya untuk mengawal Hou Seng dengan ketat, ia kemudian mencari dan memaki-maki karena kehilangan anak perempuan itu.

"Ia, takkan mampu lari jauh, Nionio. Sebaiknya engkau membantuku, apa yang harus kulakukan dengan perempuan ini dan bagaimana aku dapat memenuhi permintaan Hou Taijin tadi!? kata Sai-cu Lama sambil memandang kepada wanita yang masih terlentang di atas lantai itu. "Kubunuh saja dia ini?" Dia menuding ke arah tubuh wanita itu.

"Enam orang anak buahku terluka oleh mereka. Lemparkan ia untuk enam orang anak buahku yang terluka. Kemudian kita rundingkan mengenai perintah tadi. Biar kubawa sendiri perempuan ini!" Kim Hwa Nionio lalu menjambak rambut yang terlepas dari sanggulnya itu, sekali renggut saja tubuh yang lemas itu bangkit berdiri dan Kim Hwa Nionio membentak penuh ancaman, "Hayo katakan siapa nama pemimpin rombongan kalian dan yang mana dia?”

Perempuan yang sudah sangat ketakutan itu hanya bisa memandang dengan sepasang matanya yang terbelalak ketakutan ke arah seorang di antara mereka yang berjenggot panjang dan bertubuh tinggi kurus dan yang sudah menggeletak dengan nyawa putus. "Dia... dialah pemimpin dan toako kami, bernama...Ban Leng..."

"Nah, Sai-cu Lama, lekas kau ambil kepalanya dan bawa dalam bungkusan. Aku akan mengantar dulu perempuan ini!"

Kim Hwa Nionio pergi sambil menyeret perempuan itu. Dia menengok enam orang anak buahnya yang tadi terluka oleh pedang dan ia melemparkan perempuan itu di antara mereka yang masih rebah. "Nih, untuk obat jerih payah kalian!"

Lalu ia meninggalkan perempuan itu di dalam kamar. Telinganya masih menangkap jerit rintih perempuan itu di antara suara ketawa orang-orangnya, dan dia pun tersenyum sadis. Sadissss.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner