SULING NAGA : JILID-26


Ketika ia kembali ke ruangan tamu, Sai-cu Lama telah membungkus kepala si jenggot panjang dengan kain, setelah memenggal leher mayat itu dengan pedang rampasan. Kim Hwa Nionio memerintahkan orang-orangnya untuk membawa pergi mayat-mayat itu dan membersihkan ruang tamu, sedangkan ia sendiri kemudian mengajak Sai-cu Lama berunding di kamarnya.

Dan malam itu juga, keduanya pergi meninggalkan rumah besar itu. Sai-cu Lama pergi membawa buntalan besar, sedangkan Kim Hwa Nionio bersama lima orang pembantu pilihan pergi mencari Suma Lian. Dia percaya bahwa tidak mungkin Suma Lian dapat meninggalkan kota raja pada malam hari itu. Anak itu tentu masih berada di kota raja, bersembunyi di suatu tempat.

Malam sudah menjelang pagi ketika sesosok tubuh yang tinggi besar berperut gendut memasuki halaman sebuah rumah mungil berwarna merah. Dua orang penjaga segera keluar dari pintu gerbang, menghadang pendeta yang berperut gendut dan membawa buntalan besar itu. Rumah itu adalah rumah pelesir, tidak mungkin seorang pendeta datang ke situ untuk mencari perempuan! Apa lagi pada saat seperti itu!

"Heiii, tahan dulu. Siapa kau dan mau mencari siapa? Kami rasa engkau telah keliru masuk rumah orang!"

Pendeta itu menggelengkan kepala. "Salah masuk? Bukankah ini rumah pelesir Pintu Merah? Dan bukankah Pangeran Cui Muda berada di sini?"

Dua orang itu adalah pengawal-pengawal pangeran itu yang bertugas jaga di luar, sedangkan kawan-kawan mereka bertugas jaga di dalam. Mereka sedang kesepian, mengantuk dan kedinginan. Kini mereka merasa beruntung ada sesuatu yang penting dapat mereka sampaikan paling dulu kepada sang pangeran.

"Ehhh? Bagaimana kau menyangka seorang pangeran berada di tempat ini? Jangan bicara sembarangan, losuhu!" kata seorang di antara mereka ketika kini Sai-cu Lama berdiri di bawah sinar lampu sehingga mereka berdua dapat melihat jelas bahwa dia adalah seorang pendeta.

"Dari siapa engkau bisa mengatakan bahwa Pangeran Cui Muda berada di sini?" tanya seorang ke dua.

"Janganlah mencurigai pinceng, kawan-kawan. Pinceng adalah sahabat baik dari Ban Leng, dan pinceng datang ke sini karena diutus oleh Ban Leng. Dia sendiri bersama kawan-kawannya tak mungkin datang karena harus bersembunyi dan mereka tidak ingin diketahui orang lain saat datang menghadap sang pangeran, oleh karena itu mengutus pinceng agar tidak menimbulkan kecurigaan. Siapa akan mencurigai seorang pendeta? Ha-ha-ha! Tolong laporkan kepada Pangeran Cui Muda bahwa pinceng Tiong Hwesio utusan Ban Leng datang mohon menghadap untuk menyampaikan berita tentang enam orang seniman yang menyerbu musuh!"

Tentu saja dua orang pengawal itu mengenal baik siapa Ban Leng itu. Kepala dari enam jagoan yang dipercaya oleh pangeran. Oleh karena itu, seorang di antara mereka lalu cepat melapor ke dalam dan para kepala pengawal yang mengerti akan pentingnya urusan, lalu memberanikan diri menggugah sang pangeran dari tidurnya.

Pangeran Cui Muda, seperti para bangsawan pada waktu itu, juga merupakan seorang bangsawan muda yang suka pelesir. Isteri dan selir-selirnya yang berjumlah lebih dari dua belas orang di rumah itu agaknya mulai membosankannya dan kadang-kadang dia pergi mengunjungi rumah-rumah pelesir untuk menikmati pengalaman-pengalaman baru dengan pelacur-pelacur yang tentu saja lebih pandai dalam hal melayani kaum pria dibandingkan dengan selir-selirnya.

Malam itu memang dia sengaja memilih Pintu Merah, rumah pelesir kaum bangsawan untuk menjadi tempat dia menantikan Ban Leng dan kawan-kawannya yang diutusnya untuk membunuh Hou Seng! Begitu para penyelidiknya memberi kabar bahwa malam itu Hou Seng memanggil serombongan seniman untuk menghibur tamu, dia lalu cepat menyuruh Ban Leng dan saudara-saudaranya untuk bertindak.

Ban Leng dan lima orang saudara seperguruannya memang terkenal sebagai jagoan-jagoan dan pembunuh-pembunuh bayaran kelas tinggi yang sudah lama dipercaya dan diperalat oleh Pangeran Cui Muda. Mereka lalu mencegat rombongan seniman itu, dan membunuh serta menyamar menggantikan kedudukan mereka sampai mereka berhasil berhadapan dengan Hou Seng! Akan tetapi mereka salah perhitungan, sama sekali tidak tahu bahwa di rumah itu terdapat orang-orang sakti seperti Kim Hwa Nionio dan Sai-cu Lama!

Karena sudah berjanji untuk menanti Ban Leng dan kawan-kawannya di tempat itu, ketika dia digugah dan diberi tahu bahwa seorang yang diutus oleh Ban Leng mohon menghadap, sang pangeran menjadi girang dan cepat menyuruh para pengawalnya yang berjumlah tujuh orang itu untuk membawa utusan Ban Leng itu segera menghadap kepadanya.

Ketika pendeta Lama yang tinggi besar berperut gendut itu menghadap Pangeran Cui Muda, mereka saling pandang penuh selidik dan sang pangeran merasa agak heran, sama sekali tidak mengira bahwa utusan Ban Leng itu adalah seorang pendeta hwesio Lama yang belum pernah dilihatnya.

"Siapakah losuhu ini? Benarkah engkau disuruh oleh Ban Leng?" tanya pangeran itu dengan alis berkerut dan memandang ke arah buntalan yang berada di atas pundak pendeta itu.

"Pinceng adalah hwesio Tiong yang diutus Ban Leng untuk menyerahkan kepala... ehh, sebelum pinceng melanjutkan, benarkah pinceng sedang berhadapan dengan Pangeran Cui Muda?"

"Akulah Pangeran Cui Muda! Ban Leng mengutusmu menyerahkan sebuah kepala? Apakah mereka telah berhasil?" tanya pangeran itu dengan wajah gembira bercampur tegang.

Para pengawal yang mendengar percakapan itu juga merasa tegang. Mereka semua mendekat, mengepung hwesio itu untuk melihat kepala siapa yang akan di haturkan itu.

Sai-cu Lama tertawa. "Mereka selamat... ha-ha-ha, inilah kiriman dari Ban Leng untuk paduka, Pangeran Cui!"

Dan dia pun membuka buntalan itu perlahan-lahan di depan sang pangeran dan anak buah pengawal. Perlahan-lahan, sebuah kepala nampak dan ketika buntalan itu sudah terbuka semua, nampak sebuah kepala yang tengadah dan terdengar pangeran itu berteriak kaget karena dia segera mengenal bahwa kepala itu adalah kepala dari Ban Leng sendiri! Juga para pengawal berteriak kaget.

"Pegang orang ini!" Sang pangeran berseru keras.

Para pengawal sudah mengepung Sai-cu Lama yang kini tertawa bergelak. Ketika tujuh orang itu dibarengi oleh jerit ketakutan beberapa orang wanita pelacur yang mencoba untuk mengintai dan mereka melihat kepala yang berlumuran darah, menyerang ganas, Sai-cu Lama lalu menggerakkan kaki tangannya dan tujuh orang pengawal itu seperti daun-daun kering tertiup angin saja, berpelantingan ke sana-sini!

"Heh-heh, perlahan dulu, pangeran!" Sai-cu Lama menggerak-gerakkan tangan kirinya ke depan, ke arah pangeran itu seperti orang melambai dan memanggil dan.... tubuh pangeran yang sudah sampai ke pintu itu terjengkang dan bergulingan sampai ke depan kaki Sai-cu Lama!

Pada saat itu, seorang pengawal yang dapat bangkit kembali dan melihat majikannya terancam, sudah menggerakkan goloknya menyerang dengan bacokan ke arah leher pendeta Lama itu. Akan tetapi, gerakan golok itu terhenti di tengah udara ketika tiba-tiba kaki Sai-cu Lama meluncur ke depan, mengenai lambungnya. Orang itu memekik keras, goloknya terlempar ke atas dan ketika meluncur turun, sudah disambut oleh tangan kiri Sai-cu Lama.

"Ampun... ampunkan aku...," ratap sang Pangeran Cui.

Akan tetapi ketika nampak sinar golok itu berkelebat, leher pengeran itu sudah putus dan kepalanya sudah terangkat ke atas dengan dijambak rambutnya oleh Sai-cu Lama. Dan pendeta Lama itu pun tidak mau bekerja kepalang tanggung. Dia membawa kepala yang masih bertetesan darah itu sambil mengamuk dan tanpa ampun lagi dibunuhnya tujuh orang pengawal itu, termasuk suami isteri tua pemilik rumah pelacuran itu dan tak ketinggalan pula lima orang pelacur yang berada di situ dan dua orang pelayan!

Habis sudah seluruh penghuni Pintu Merah itu dibantai oleh Sai-cu Lama menggunakan golok rampasannya. Kemudian, sekali berkelebat dia pun sudah meninggalkan rumah itu sambil membawa sebuah kepala, kepala yang dibuntalnya pula dengan kain bekas pembungkus kepala Ban Leng tadi!

Pada pagi hari itu juga, tanpa diketahui seorang pun, diam-diam Sai-cu Lama mengirim kepala itu ke rumah Hou Taijin! Ketika Hou Taijin terbangun dari tidurnya, tahu-tahu di meja kamarnya telah terdapat buntalan itu yang ketika dibuka ternyata berisi kepala Pangeran Cui Muda! Tentu saja Hou Seng menjadi girang akan tetapi juga ngeri, cepat dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk mengubur kepala itu secara rahasia.

Kini dia baru percaya benar akan kelihaian dan kesetiaan Sai-cu Lama dan hatinya merasa girang bukan main. Kini, di samping Kim Hwa Nionio, dia memperoleh tenaga bantuan seorang yang boleh diandalkan, yang tentu saja akan memperkuat kedudukan dirinya dalam persaingan dengan para pembesar yang tidak suka kepadanya…..

********************

Sementara itu, Suma Lian yang tadi mengikuti keributan yang terjadi di rumah itu karena penyerbuan enam orang musuh Hou Taijin yang menyamar sebagai seniman-seniman, menggunakan kesempatan selagi terjadi keributan dan tak seorang pun memperhatikan dirinya, untuk menyelinap keluar dari rumah.

Para pengawal dan penjaga yang mengerahkan seluruh perhatiannya terhadap enam orang yang sedang digempur oleh Sai-cu Lama, tentu saja tidak menaruh perhatian terhadap Suma Lian, apa lagi tidak ada perintah apa pun dari Kim Hwa Nionio.

Suma Lian lari dalam kegelapan malam, berlindung di bagian-bagian gelap, menyelinap di antara rumah-rumah orang dan ia merasa agak lega bahwa tidak terdengar ada orang mengejarnya. Akan tetapi setelah berjalan berputar-putar di kota raja yang besar itu, tidak tahu ke mana harus melarikan diri, tahu-tahu malam mulai berganti pagi dan kegelapan mulai terusir oleh sinar matahari. Hatinya pun mulai gelisah.

Kegelisahannya berubah kekhawatiran dan ketakutan ketika tiba-tiba, dari balik sebuah rumah, ia melihat Kim Hwa Nionio dan lima orang pengawal di depan dan berhenti di simpang empat. Ia cepat menyelinap dan bersembunyi di balik rumah itu, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Kalau mereka itu berpencar mencarinya, tentu ia akan terpegang!

Ia menoleh ke belakang. Ada sebuah jembatan besar di jalan itu. Kalau saja ia dapat melewati jembatan itu tanpa terlihat, tentu ia akan dapat lari menjauh, dan mencari tempat sembunyi yang aman! Di seberang jembatan nampak banyak pohon-pohon dan semak-semak, ia dapat bersembunyi di balik pohon-pohon atau di balik semak-semak itu!

Dengan nekat Suma Lian lalu lari, agak membongkok-bongkok, melalui bagian gelap dari jembatan itu. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya seperti diangkat ke atas dan tahu-tahu tubuh itu sudah terlempar keluar dari jembatan!

Jika saja bukan Suma Lian, gadis cilik yang memiliki ketabahan luar biasa, tentu sudah menjerit. Akan tetapi Suma Lian menahan rasa ngerinya dan tidak menjerit, bahkan tak sempat menjerit karena tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas dan tidak lagi mampu mengeluarkan suara karena ia sudah tertotok!

Suma Lian mengejap-ngejapkan matanya untuk membiasakan mata itu dalam cuaca yang agak gelap itu. Ternyata ia sudah berada di bawah jembatan dan ketika ia dapat melihat lebih jelas, ia telah terduduk dan tak mampu bergerak, sedangkan di dekatnya duduk seorang kakek tua yang berpakaian jembel butut!

Wajah kakek itu penuh rambut yang semuanya sudah putih, rambutnya awut-awutan menutupi muka, bercampur dengan jenggot dan kumisnya yang semuanya juga sudah putih. Seorang kakek tua renta yang berpakaian jembel, seorang pengemis yang kotor! Dan apa yang selanjutnya dilakukan oleh kakek itu membuat Suma Lian demikian kaget dan takutnya sehingga ia merasa jantungnya hampir copot.

Kakek itu merenggut semua pakaiannya, merobek-robek pakaian itu dan melemparnya ke bawah, setelah membuntal sepotong batu dengan pakaian itu. Tentu saja pakaian itu tenggelam ke dalam air sungai! Dan kini, kakek itu tanpa banyak cakap lagi, memercik-mercikkan air kotor berlumpur ke seluruh tubuh Suma Lian. Air berlumpur itu dicampur dengan bungkusan obat yang dikeluarkan dari saku jubahnya yang butut.

Seluruh tubuh anak itu berlumur campuran ini yang membuat seluruh kulitnya, dari tumit sampai ke kulit kepala bawah rambut, menjadi kecoklatan. Dan rambut anak itu diawut-awut secara kasar! Kemudian, dia mengeluarkan sehelai kain yang butut dan penuh tambalan, dan memaksa Suma Lian mengenakan pakaian ini dan berubahlah Suma Lian menjadi seorang anak pengemis yang amat buruk, kotor dan berbau busuk pula!

"Hemmm, sudah agak patut, tetapi rambutmu terlalu bersih, tidak ada kutunya seekor pun. Ini tidak mungkin bukan?" Entah kepada siapa dia bicara, kepada diri sendiri atau kepada Suma Lian atau kepada seseorang yang tidak nampak.

Kemudian, dengan hati-hati, di dalam cuaca yang masih agak gelap di bawah jembatan itu, dia mulai mencari kutu-kutu dari rambutnya yang putih awut-awutan dan setiap kali mendapatkan seekor, lalu kutu rambut itu dia letakkan ke dalam rambut Suma Lian. Tentu saja anak ini merasa amat jijik, takut dan ngeri sehingga kalau saja dia mampu mengeluarkan suara, tentu ia akan menjerit-jerit!

Diam-diam ia memperhatikan kakek itu dan memandang dengan kedua mata terbelalak penuh kemarahan dan kebencian. Celaka, pikir Suma Lian. Ini yang namanya lolos dari sumur terjerumus ke dalam lubang! Terlepas dari tangan orang-orang macam Sai-cu Lama, kini terjatuh ke tangan seorang kakek yang selain lebih sadis, lebih jahat, juga masih ditambah kenyataan yang mengerikan, yaitu gila! Sepuluh kali lebih baik menjadi tawanan Sai-cu Lama atau nenek yang bernama Kim Hwa Nionio itu dari pada ditawan oleh kakek gila ini.

Ia tidak mampu bergerak dan tak mampu bersuara karena ditotok, juga tidak tahu nasib apa yang akan dihadapinya. Namun jelas amat mengerikan karena kakek ini memang orang gila. Baru mencium bau pakaian kakek itu, serta dari pakaian yang dipaksakan menutupi tubuhnya saja, ia sudah muak dan hampir muntah.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan lembut, suara lembut akan tetapi nyaring menusuk telinga, suara Kim Hwa Nionio! "Anak baik, keluarlah dari tempat sembunyimu! Jangan membikin marahku, nanti kujewer telingamu!"

Beberapa kali suara itu terdengar dan Suma Lian berusaha mengerahkan tenaga untuk membebaskan totokan yang membuat suaranya tak dapat dikeluarkan. Agaknya kakek tadi menotok sembarangan sehingga dengan pengerahan tenaga sinkang-nya, akhirnya ia mampu mengeluarkan suara, "... aku...!"

Akan tetapi baru mengeluarkan kata itu yang dimaksudkan untuk memberi tahu Kim Hwa Nionio bahwa ia berada di bawah jembatan, kakek jembel itu nampak terkejut dan sudah menotoknya lagi!

"Sialan kau anak gila!" bisik kakek itu.

Huh, kakek jembel, engkau yang gila, malah memaki aku gila, balas Suma Lian memaki dalam hatinya.

"Kalau mereka tadi mendengar dan minta kita keluar, engkau harus keluar dengan kaki terpincang-pincang. Mengerti?"

Suma Lian menentang pandang mata kakek itu dengan penuh kemarahan dan sengaja menggelengkan kepala tanda bahwa ia tidak mau menurut!

"Kau harus terpincang-pincang!" kakek itu berbisik lagi, nada suaranya memaksa.

Akan tetapi tetap saja Suma Lian menggeleng kepala dan tersenyum mengejek. Ada rasa girang di hatinya bahwa ia mampu melawan dan membuat kakek itu kecewa, walau pun hanya dengan tidak mentaati perintah gila dan aneh itu!

Pada saat itu terdengar derap kaki banyak orang di atas jembatan! Kemudian terdengar bentakan suara Kim Hwa Nionio dengan nyaring, "Siapa berada di bawah jembatan? Hayo keluar!"

Kakek itu tak menjawab. Tiba-tiba nampak kepala Kim Hwa Nionio menjenguk ke bawah jembatan. "Heiii, kalian! Hayo keluar, cepat!" bentaknya.

Kakek itu kini membebaskan totokan pada kaki tangan Suma Lian, akan tetapi tetap tak membebaskan totokan yang membuatnya tak mampu bersuara, lalu dia menggerakkan jari telunjuknya mengetuk tulang kering kaki kiri Suma Lian.

"Tukkk...!"

Bukan main nyeri rasa kaki yang diketuk itu. Suma Lian tentu menjerit kesakitan kalau saja ia tidak tertotok dan ia hanya mampu memegangi dan mengurut-urut kaki itu yang rasanya seperti patah-patah tulang keringnya. Akan tetapi kakek itu menariknya keluar dari jembatan itu.

Tanpa diperintah lagi, Suma Lian yang ditarik itu berjalan terpicang-pincang. Tangannya tak pernah terlepas dari pegangan si kakek, begitu kerasnya pegangan itu, seolah-olah merupakan ancaman bahwa kalau ia memberi tanda-tanda, tentu tangannya itu akan dicengkeram sampai hancur!

Kim Hwa Nionio dan lima orang temannya menghampiri kakek jembel itu. "Siapa anak ini?" bentak Kim Hwa Nionio.

"Heh-heh, anak sialan ini? Ia cucuku, akan tetapi ia timpang dan gagu. Huh, tidak ada harapan untuk menampung hari tuaku. Eh, kalian mau membelinya? Akan kujual murah, asal kalian mempunyai seguci arak saja dan beberapa keping uang untukku, kuberikan anak ini, heh-heh-heh!"

Bukan main marahnya Suma Lian! Ia dikatakan timpang dan gagu, dan mau dijual. Bukan dijual, malah hanya ditukar dengan seguci arak! Kakek gila ini benar-benar jahat sekali, lebih jahat dari pada Sai-cu Lama! Tetapi karena genggaman pada tangannya itu keras sekali dan ia tidak mau tangannya remuk, apa lagi ia tahu bahwa kakek ini amat lihai dan belum tentu kalah oleh Kim Hwa Nionio, ia pun diam saja hanya menundukkan mukanya.

Kim Hwa Nionio sudah putus harapan melihat anak perempuan jembel itu. Sama sekali bukan Suma Lian, bumi dan langit jauh bedanya. Anak ini hitam, kotor, berbau, timpang dan gagu lagi. Tiba-tiba dia menggunakan kebutannya untuk menyingkap pakaian yang membungkus tubuh anak itu. Nampaklah kulit tubuhnya yang kotor kecoklatan, maka ditutupnya lagi dengan menarik kembali kebutannya.

Nenek ini memang cerdik. Kalau tadi nampak tubuh itu putih mulus, tentu akan timbul kecurigaannya. Akan tetapi anak perempuan itu memang kotor luar dalam!

"Maukah kalian beli? Mau? Murah saja..."

"Huh, mampuslah engkau tua bangka pemabuk gila. Mari kita pergi!" Kim Hwa Nionio mendengus dan mengajak anak buahnya pergi dari situ.

Kakek itu menggerutu panjang pendek. "Sialan! Terkutuk! Dijual murah pun tidak laku... hayaaaa...!"

Dan dia pun menyeret tubuh Suma Lian. Gadis cilik ini terpaksa mengikutinya dengan kaki terpincang-pincang karena rasa nyeri di kakinya belum juga sembuh.

Kakek itu terus menyeret tubuh Suma Lian sampai ke pintu gerbang. Pintu gerbang itu sudah dibuka dan orang-orang mulai keluar masuk. Para penjaga pintu gerbang tentu saja tidak mencurigai kakek jembel itu, walau pun pada pagi hari itu terjadi geger dan penjagaan di situ amat ketat dan pengawasan terhadap orang-orang yang keluar masuk lebih teliti.

Berita tentang peristiwa pembunuhan yang hebat di rumah pelesir Pintu Merah itu sudah tersiar dan terdengar oleh mereka pula. Dikabarkan orang betapa Pangeran Cui Muda telah tewas di tempat itu dan kepalanya hilang entah ke mana. Semua pengawal dan penghuni rumah itu pun tewas, dan ada pula sebuah kepala yang dikenal sebagai kepala orang yang bernama Ban Leng, seorang jagoan di kota raja. Tentu saja hal ini mengejutkan dan menggegerkan, karena tidak ada seorang pun dapat menduga siapa pembunuh semua orang itu.

Baru setelah tiba di luar kota, jauh dari tembok kota raja, di tempat yang sunyi, kakek tua renta itu mengajak Suma Lian berhenti. Sekali saja dia mengurut kaki yang diketuk tadi, rasa nyeri pun lenyap. Setelah itu, dia membebaskan totokan yang membuat Suma Lian tadi gagu. Begitu bisa bicara dan dilepaskan pegangan tangannya, Suma Lian langsung memaki-maki.

"Kau kakek gila, kakek jembel busuk yang bau! Hemm, kalau aku ada kemampuan, tentu akan kubunuh kau! Aku benci padamu! Kau telah menghinaku, menyakiti aku, ahhh... betapa jahat engkau kakek gila!"

Kakek itu memandang kepadanya dan tersenyum, agaknya dia senang menyaksikan keberanian anak perempuan itu. "Ha-ha-ha, engkau memang pemberani dan tabah, akan tetapi kurang panjang akal. Tidak tahukah bahwa semua yang kulakukan itu hanya sandiwara saja? Kau kuajak bermain untuk menipu nenek galak itu dan ternyata aku berhasil. Ha-ha, nenek galak itu berhasil kutipu. Kita menjadi pemain-pemain sandiwara yang baik sekali."

"Bohong!" Suma Lian berteriak marah, suaranya nyaring dan keras karena sejak tadi ia menahan-nahan kemarahannya dan baru sekarang ini ada kesempatan baginya untuk mengeluarkan semua kemarahan itu. "Engkau sengaja menipuku! Engkau jahat, tentu engkau mempunyai niat buruk dan terkutuk! Engkau gila dan jahat, kakek jembel bau busuk! Kau buang pakaianku, kau..."

"Sssttt apa kau hendak menghancurkan segala keberhasilan kita dengan teriak-teriak begitu dan mengundang datangnya musuh? Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pengejaran mereka tadi. Sekarang engkau telah terbebas, engkau boleh pergi ke mana engkau suka."

Suma Lian tercengang. Kakek ini tidak bohong! Dan barusan ia telah memaki-makinya, memaki-maki kakek yang sudah menolongnya bebas dari tangan Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nionio. Ahhh, benar, dia yang bodoh. Kalau saja ia tidak penuh kecurigaan tadi, sehingga kakek itu tidak terpaksa mengetuk kakinya sampai terpaksa dia terpincang-pincang tentu dia telah mengikuti permainan sandiwara itu dan kini dapat tertawa-tawa bersama kakek itu!

"Hemm, kiranya benar engkau!" Tiba-tiba terdengar suara halus dan tahu-tahu Kim Hwa Nionio telah muncul di situ! "Kau tua bangka telah berhasil menipuku di sana, akan tetapi tetap saja aku dapat menemukanmu dan kau harus menebus dosamu dengan nyawa!"

Suma Lian merasa menyesal bukan main. Kakek itu menolongnya, malah kini terancam nyawanya karena kesalahannya! Kalau ia tidak marah-marah dan memaki-maki, belum tentu Kim Hwa Nionio dapat menemukan mereka! Maka, ia pun lalu melangkah maju menghadapi Kim Hwa Nionio dan berkata lantang.

"Nenek, aku Suma Lian tidak mau menimpakan kesalahan kepada orang lain. Bawalah aku kembali, tetapi jangan ganggu kakek jembel tua itu. Kalau engkau mengganggunya, aku akan mengadu kepada Hou Taijin dan minta agar dia menghukummu. Hayo bawa aku kembali kepada Hou Taijin!"

Tentu saja Suma Lian tidak tahu betapa ketika ia menyebutkan nama marganya, kakek jembel itu nampak terkejut bukan main. Kakek itu kini malah memegang lengan Suma Lian dan memutar tubuh anak itu menghadapinya sambil bertanya, "Anak baik, apakah benar kau she (nama marga) Suma? Hayo katakan, siapa ayahmu?"

Suma Lian merasa heran, akan tetapi lalu menjawab, "Ayahku bernama Suma Ceng Liong. Jangan khawatir, kek. Aku akan menanggung bahwa kau takkan diganggu oleh nenek itu."

Akan tetapi kakek itu sudah tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha, engkau bernama Suma Lian, puteri dari Suma Ceng Liong? Ha-ha-ha-ha, heiii, Kim Hwa Nionio. Berani benar engkau menculik puteri keturunan keluarga para pendekar Pulau Es? Apakah engkau sudah bosan hidup? Hayo, mari kita yang sudah sama tuanya ini mengadu kepandaian, dan jangan ganggu seorang anak kecil!" Berkata demikian, kakek jembel itu kemudian melangkah lebar menghadapi Kim Hwa Nionio dengan sikap memandang rendah sekali.

Kim Hwa Nionio mengerutkan alisnya, bulu-bulu kebutan di tangannya tergetar. Akan tetapi nenek ini tidak mau ceroboh. Ia tahu bahwa biar pun orang ini nampaknya tua renta dan jembel berbau busuk yang seperti orang gila, akan tetapi mungkin saja dia menyembunyikan kesaktian di balik kegilaan dan kemiskinannya itu.

Hampir semua tokoh dunia persilatan pernah didengarnya, walau pun belum semua dijumpainya, maka ia segera bertanya, suaranya berwibawa, "Tua bangka bosan hidup, siapakah namamu?"

"Ha-ha-ha, namaku? Aku seorang pengemis tua tanpa nama. Hayo majulah, kecuali jika takut atau kasihan melawan aku, pergilah dan jangan ganggu lagi anak perempuan ini!"

"Wirrrrr... singgg...!"

Kebutan itu menyambar. Demikian kuatnya tenaga yang mendorongnya sehingga tidak hanya mengeluarkan angin berdesir keras, tetapi juga menimbulkan suara berdesing seperti kalau senjata tajam digerakkan dengan amat kuatnya! Kebutan itu menyambar ke depan, bulu-bulunya saja terpecah menjadi beberapa gumpalan dan masing-masing gumpalan itu seperti ular-ular hidup mematuk ke arah jalan-jalan darah di sekitar pundak dan leher kakek jembel itu.

"Hayaaaa...! Kiranya engkau lihai sekali...!" Kakek itu berseru dan biar pun nampaknya terkejut dan mengagumi kehebatan nenek itu, akan tetapi tanpa banyak kesukaran dia sudah dapat menghindarkan diri dari sambaran kebutan dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali.

Kembali kebutan sudah menyambar. Akan tetapi kedua tangan kakek itu membuat dorongan-dorongan aneh, kemudian setelah dari kedua tangannya itu keluar angin yang menolak bulu-bulu kebutan dan membuyarkan gumpalan-gumpalan bulu itu menjadi mawut bagai rambut kepala wanita tertiup angin, dia membuat coretan-coretan di udara dan tahu-tahu dua jari telunjuknya telah melakukan totokan-totokan bertubi-tubi sampai sembilan kali ke arah jalan-jalan darah terpenting di tubuh nenek Kim Hwa Nionio!

"Ahhh...!" Nenek itu terpaksa mengeluarkan teriakan kaget.

Cepat ia memutar kebutannya melindungi diri. Akan tetapi masih saja jari-jari tangan itu sempat menerobos gulungan sinar kebutan sehingga terpaksa nenek itu yang kini melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik untuk menyelamatkan dirinya.

Suma Lian yang tadinya hanya memandang bengong, tiba-tiba saja berteriak, "Hong-in Bun-hoat!"

"Ha-ha-ha, anak baik, ternyata engkau cukup cerdas!" kakek jembel itu berseru sambil menoleh dan tersenyum kepada Suma Lian.

Akan tetapi nenek Kim Hwa Nionio yang merasa penasaran sudah menerjangnya lagi, membuat kakek itu tak sempat lagi untuk senyum-senyum. Nenek itu terlalu berbahaya untuk tidak dihadapi dengan sungguh-sungguh. Kini terjadilah perkelahian yang sangat hebat, yang lantas membuat pandang mata Suma Lian menjadi kabur saking cepatnya gerakan kedua orang tua itu.

Memang perkelahian itu hebat sekali, terjadi antara dua orang tua yang masing-masing memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Kim Hwa Nionio diam-diam terkejut bukan main. Ia adalah seorang ahli yang memiliki kesaktian, oleh karena ia adalah murid dari Pek-bin Lo-sian yang sudah mewarisi ilmu dari kakek itu.

Pek-bin Lo-sian selain gurunya, juga menjadi kekasihnya dan hanya karena pada akhir-akhir itu ia melakukan penyelewengan, suka bermain gila dengan laki-laki lain yang jauh lebih muda dari gurunya itu, maka di antara mereka terdapat suatu jurang pemisah. Dan itu jugalah sebabnya mengapa Pek bin Lo-sian tidak memberikan Pedang Suling Naga kepadanya!

Tetapi ilmu kepandaian Pek-bin Lo-sian telah diwarisinya semua dan jika dibandingkan dengan Sam Kwi yang menjadi saudara-saudara misan seperguruan, ilmu kepandaian Kim Hwa Nionio ini tingkatnya tidak kalah tinggi, bahkan mungkin lebih matang dan lebih tangguh setelah ia memiliki ilmu memainkan kebutannya yang amat lihai itu.

Akan tetapi sekarang, dan baru sekarang ini, dia menemui tandingan yang demikian tangguhnya dalam diri kakek jembel tua ini! Ia merasa penasaran sekali dan nenek itu segera mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu simpanannya untuk mengalahkan lawan.

Namun, ia selalu kecelik. Semua ilmunya dapat disambut dengan amat baiknya oleh kakek itu dan suatu kali, bahkan tangan kiri Kim Hwa Nionio beradu dengan tangan kanan si kakek jembel dengan kuat sekali.

"Dukkkk...!"

Kim Hwa Nionio mengerahkan tenaganya yang sudah diperkuat dengan latihan ilmu hitam ketika ia bertapa di Pegunungan Himalaya. Maka ketika kedua tangan bertemu, tenaga yang keluar dari tangan kirinya itu dahsyat bukan main. Tapi, pertemuan tenaga itu hanya membuat kakek itu mundur dua langkah, sedangkan ia sendiri terhuyung ke belakang, tanda bahwa ia masih kalah kuat dalam tenaga sinkang melawan kakek tua renta itu.

Akan tetapi hal itu tidaklah begitu mengejutkan hatinya. Yang membuat ia amat terkejut adalah ketika ia merasa betapa tangan kirinya itu ketika bertemu dengan tangan kanan kakek itu, dijalari oleh hawa panas seperti bara api yang terus menyusup ke seluruh lengannya! Ia terkejut dan cepat-cepat mengerahkan tenaga dari dalam untuk menolak hawa panas itu, karena kalau dibiarkan terus menyusup ke dalam dadanya dapat membuat ia terluka dalam!

Setelah ia berhasil menolak keluar hawa panas itu, Kim Hwa Nionio yang menjadi makin penasaran dan marah itu kembali menubruk dan melancarkan serangan bertubi, suatu kombinasi antara serangan kebutan yang sudah lihai itu dengan tamparan-tamparan tangan kiri yang mengeluarkan bunyi berkerotokan, dan masih diselingi oleh tendangan-tendangan kedua kakinya.

"Lihat... ha-ha-ha, selama ini tak pernah bertemu lawan, sekali bertanding menghadapi siluman perempuan yang lihai. Haiiiiitt...!" Tiba-tiba saja kakek tua renta itu nampak gembira sekali dan dia pun menyambut semua serangan lawan itu dengan tangkisan, elakan, dan juga membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Walau pun dia hanya bertangan kosong, akan tetapi setiap kali kaki atau tangannya bergerak, maka angin pukulan dahsyat sekali menyambar dan membuat pakaian nenek itu berkibar-kibar keras! Sekali waktu, dengan tiba-tiba nenek itu menyatukan bulu-bulu kebutannya yang berubah kaku oleh tenaga sinkang-nya dan seperti sebatang pedang saja, kebutan yang bulunya bersatu dan kaku itu menusuk ke arah tenggorokan kakek itu!

"Wahhhhh...!" Kakek itu terbelalak kagum, dan kini tangan kirinya dengan jari tangan terbuka lalu menangkis ke arah pedang aneh itu.

"Takkkk...!"

Ujung kebutan yang menjadi kaku itu bertemu dengan telapak tangan, seperti pedang bertemu perisai yang kuat, akan tetapi nenek itu terbelalak dan meloncat kaget bukan main. Ketika kebutannya tadi bertemu dengan tangan itu, ada hawa dingin seperti es menjalar ke dalam lengan kanannya dan hal inilah yang amat mengejutkan hatinya.

"Kiranya engkau seorang dari Pulau Es! Siapa engkau?" bentaknya dengan muka agak pucat karena diam-diam ia merasa bahwa isi dadanya terguncang dan ia menderita luka walau pun tidak parah.

Hal ini adalah karena tadi ia bersiap siaga untuk serangan dengan hawa panas. Siapa tahu tiba-tiba saja sinkang kakek itu berubah dingin seperti es. Dan tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli dari Pulau Es!

"Ha-ha-ha, orang seperti engkau ini mana ada harganya untuk mengenal orang-orang bersih dari keluarga para pendekar Pulau Es? Hayo, masih hendak kau lanjutkan lagi?" tantang kakek itu.

Kim Hwa Nionio tahu diri. Kalau di situ ada Sai-cu Lama, tentu ia akan minta kepada kawannya itu untuk melakukan pengeroyokan. Akan tetapi, ia hanya seorang diri saja dan ia tahu bahwa kakek jembel tua renta itu masih terlampau kuat untuknya. Maka ia lalu menjura.

"Baiklah, sekali ini aku mengalah, akan tetapi lain kali aku tidak akan mengampuni nyawamu, jembel tua bangka!" Setelah berkata demikian, dia lalu meloncat dan lari kembali ke kota raja, diiringi suara ketawa dari kakek jembel itu.

Sejak tadi Suma Lian nonton dengan penuh perhatian, tetapi juga penuh kekaguman. Ketika ia mendengar ucapan Kim Hwa Nionio bahwa kakek itu adalah orang dari Pulau Es, ia jadi terkejut, akan tetapi juga terheran-heran di samping kegirangannya. Ia girang bahwa kalau memang benar kakek ini dari Pulau Es, berarti masih kerabat. Akan tetapi ia terheran-heran karena kalau benar dia seorang keluarga Pulau Es, kenapa begitu jorok dan tingkah lakunya seperti oranq yang miring otaknya?

"Ha-ha-ha!" kini kakek itu tertawa-tawa memandang kepada Suma Lian. "Iblis betina seperti itu saja berani mengganggu kita, keluarga dari para pendekar Pulau Es, sungguh tak tahu diri, ya?"

Suma Lian ikut tersenyum pula. Biar pun kakek ini tertawa tanpa disertai matanya yang nampak sayu seperti orang menderita duka, namun kata-katanya lucu.

"Kek, engkau sungguh hebat sekali!"

"Kelak engkau harus lebih hebat dari pada aku, anak yang baik. Namamu Suma Lian dan kau puteri Suma Ceng Liong? Ha, sungguh hebat, engkau memang pantas menjadi keturunan keluarga Suma!"

"Bu-beng Lo-kai, jelaskan padaku..."

"Nanti dulu! Siapa yang kau ajak bicara itu? Siapa itu Bu-beng Lo-kai?"

Suma Lian tersenyum. "Siapa lagi kalau bukan engkau. Bukankah tadi nenek Kim Hwa Nionio bertanya namamu dan kau menjawab bahwa engkau adalah seorang Pengemis Tua Tanpa Nama (Bu-beng Lo-kai). Nah, engkau adalah Bu-beng Lo-kai."

Kakek itu nampak girang sekali dengan julukan baru ini. Selama ini dia tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapa pun juga sehingga dia sendiri seperti sudah lupa kepada nama sendiri, akan tetapi sekarang dia seperti mendapatkan sebuah sebutan nama baru yang cocok dengan keadaan dirinya. Bu-beng Lo-kai (Pengemis Tua Tanpa Nama)!

"Ha-ha-ha, Bu-beng Lo-kai? Bagus, bagus... engkau memang anak pandai."

"Bu-beng Lo-kai, sekarang jelaskan siapa dirimu dan bagaimana engkau bisa pandai memainkan Hong-in Bun-hoat! Dan agaknya engkau mengenal pula nama ayahku."

"Kenapa tidak? Ayahmu yang bernama Suma Ceng Liong itu adalah putera tunggal dari Suma Kian Bu dan Teng Siang In, bukan?"

"Benar sekali! Ahh, bagaimana engkau dapat mengenal keluarga kami?"

"Karena Suma Kian Bu, kakekmu itu, adalah adik kandung dari mendiang isteriku yang tercinta..."

"Ah...!" Sepasang mata yang jernih itu terbelalak. "Jadi engkau... engkau adalah suami nenek Milana? Engkau adalah kakek Gak Bun Beng...?"

Kakek itu merangkul Suma Lian dan anak ini pun merasa terharu, akan tetapi ia harus menahan kemuakan karena hidungnya mencium bau apek, tanda bahwa kakek itu agaknya memang benar-benar telah terlantar dan tak pernah mandi, entah sejak berapa lamanya!

"Sudah lama aku mengubur nama sial itu, biarlah mulai sekarang sampai mati, aku adalah Bu-beng Lo-kai saja," kata kakek itu.

Suma Lian semakin terharu mendengar betapa ada isak tertahan di dalam suara yang seperti keluhan itu. Kakek ini menderita batin dan kelihatan berduka sekali, pikirnya. Ia pun merangkul dan memandang wajah yang tertutup rambut, kumis dan jenggot putih lebat itu, memandang sepasang mata yang masih bersinar tajam akan tetapi seperti tertutup awan gelap itu.

Para pembaca yang mengikuti kisah-kisah terdahulu dari seri 'Pendekar Super Sakti' atau 'Suling Emas Naga Siluman', tentu tidak asing dengan nama ini. Gak Bun Beng! Di dalam cerita 'Sepasang Pedang Iblis' telah diceritakan dengan jelas dan menarik tentang kehidupan pendekar ini, seorang pendekar besar yang setelah mengalami jatuh bangun akhirnya berjodoh dengan wanita yang dicinta dan mencintanya, yaitu Puteri Milana, puteri dari Pendekar Super Sakti Suma Han dan Puteri Nirahai.

Seperti kita ketahui, mereka hidup menjauhkan diri dari istana di mana Puteri Milana pernah membantu kaisar untuk menghadapi para pemberontak. Mereka mempunyai sepasang anak kembar, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong yang kemudian menjadi Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda dari Beng-san).

Ketika nenek Milana masih hidup, Gak Bun Beng bersama isterinya, Milana, berkali-kali membujuk sepasang anak kembar itu untuk segera menikah karena mereka berdua sudah ingin sekali memondong cucu. Akan tetapi, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong tidak pernah mau menuruti permintaan orang tua mereka ini. Keduanya tak pernah dapat saling berpisah, jadi sukar sekali bagi mereka untuk mendapatkan isteri-isteri yang cocok.

Akhirnya, puteri atau nenek Milana marah sekali dan setiap hari memarahi kedua orang putera kembarnya yang usianya sudah semakin banyak itu. Hal ini membuat Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong lalu pergi minggat meninggalkan Beng-san. Mereka merantau dan akhirnya, seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, mereka mempunyai seorang murid wanita bernama Souw Hui Lan dan ternyata wanita inilah satu-satunya wanita yang mereka cinta berdua, dan ternyata kemudian Souw Hui Lan juga mencinta mereka!

Sementara itu, kakek Gak Bun Beng dan nenek Milana, untuk menghibur hati mereka yang merasa kecewa atas sikap kedua orang anak mereka itu, mengasingkan diri di puncak Beng-san dan mereka hanya bertapa.

Kemudian, pada suatu hari, muncullah dua orang putera mereka itu bernama seorang gadis manis dan mereka menyatakan bahwa kini mereka ingin menikah dengan gadis itu, yang juga menjadi murid mereka! Mereka itu, kedua orang anak kembar mereka itu, hendak menikah dengan seorang gadis saja! Milana menentang keras dan hampir saja turun tangan membunuh anak-anaknya sendiri kalau saja tidak dicegah suaminya yang minta kepada kedua orang anak kembarnya itu untuk pergi dan mengurus sendiri saja pernikahan yang dianggapnya memalukan itu.

Sepeninggal tiga orang itu yang terpaksa meninggalkan Beng-san dengan hati tertekan, nenek Milana meninggal karena sakit. Pukulan batin yang hebat ini tak tertahankan oleh kakek Gak Bun Beng. Urusan kedua orang puteranya sudah membuat dia berduka dan kecewa sekali, dan kini dia ditinggal mati isterinya yang tercinta dalam keadaan batinnya masih menderita oleh pukulan pertama.

Dengan hati penuh duka, Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong mengajak murid dan calon isteri mereka untuk berkunjung lagi ke Beng-san dan menyembahyangi jenazah ibu mereka. Mereka minta ampun kepada jenazah ibu mereka, dan ketika mereka minta ampun kepada Gak Bun Beng, pendekar ini hanya menggeleng kepala dengan penuh duka.

"Aku tidak mencampuri lagi urusan kalian. Lakukanlah apa yang kalian suka, aku... aku... sudah tak bisa berpikir lagi... tinggalkanlah aku sendiri bersama kuburan isteriku," demikian katanya setelah jenazah Milana dikubur dan sampai berbulan-bulan Gak Bun Beng hidup di dekat kuburan isterinya, tak pernah mau merawat dirinya.

Duka, kecewa dan kesengsaraan batin selalu menjadi akibat dari pada ikatan. Ikatan batin selalu mendatangkan duka nestapa. Isteriku, anakku, hartaku, kedudukanku, MILIKKU.

Kalau batin sudah ikut memiliki apa yang dipunyai oleh badan, maka sekali waktu yang dimiliki itu menentangnya, tidak menurut, atau meninggalkannya, maka batin itu akan menderita, kecewa, berduka. Badan memang membutuhkan banyak hal untuk dipunyai, karena badan harus bertumbuh terus, mempertahankan hidupnya. Badan membutuhkan sandang, pangan, papan, bahkan badan berhak menikmati kesenangan melalui panca indriya dan alat-alat tubuhnya.

Akan tetapi, semua yang dibutuhkan badan itu, biarlah dipunyai oleh badan saja. Kalau sampai batin ikut memiliki, maka akan timbul ikatan. Segala sesuatu yang dimiliki itu akan berakar di dalam batin, sehingga kalau sewaktu-waktu yang dimiliki itu dicabut dan dipisahkan, batin akan berdarah dan merasa nyeri, kehilangan, kecewa, berduka dan akhirnya mendatangkan sengsara. Batin harus bebas dari ikatan, tak memiliki apa-apa!

Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, itulah seninya! Yang mempunyai adalah badan, akan tetapi mengapa batin ikut-ikut memilikinya? Cinta kasih bukan berarti memiliki dan menguasai! Dan cinta kasih ini urusan batin, bukan urusan badan. Urusan badan adalah cinta asmara, nafsu birahi dan kesenangan badaniah.

Badan mengalami sesuatu yang mendatangkan nikmat dan kesenangan, dan ini adalah urusan badan. Kalau sudah habis sampai di situ saja, memang semestinya demikianlah. Akan tetapi kalau sang aku, yaitu pikiran atau ingatan, mencatatnya dan sang aku ingin mengulanginya, ingin menikmatnya lagi, maka ini berarti batin ingin memiliki sehingga timbullah ikatan terhadap yang menimbulkan kenikmatan atau kesenangan itu. Dan jika sekali waktu kita harus berpisah dari yang telah mengikat kita, maka timbullah duka dan sengsara.

Seperti juga Gak Bun Beng dan Milana, kita selalu mengatakan dengan mulut bahwa kita mencinta anak-anak kita. Akan tetapi cinta kita itu membuat kita ingin selalu ditaati oleh anak-anak kita! Kita merasa berkuasa atas diri mereka! Kita merasa bahwa kita memiliki mereka dan berhak mengatur kehidupan mereka! Dan yang beginilah yang kita anggap cinta!

Kalau sekali waktu anak-anak kita membantah dan tidak mentaati kehendak kita, maka kita lalu kecewa, marah-marah, berduka dan mungkin saja cinta kita berubah menjadi kebencian dan sakit hati. Inikah yang dinamakan cinta? Bukankah cinta kita kepada anak-anak kita ini kita samakan dengan cinta kita terhadap binatang peliharaan atau benda-benda lain yang mendatangkan kesenangan bagi kita?

Di dalam cinta kasih, tidak ada lagi ‘aku yang ingin disenangkan’! Di dalam nafsu dan kesenangan, selalu ‘aku’ yang menonjol. Cinta kasih tidak menuntut apa-apa untuk ‘aku’. Cinta kasih mementingkan orang yang dicinta, sama sekali tidak berpamrih untuk diri pribadi. Cinta kasih beginilah yang tidak akan menimbulkan duka dan sengsara, karena tidak mengejar kesenangan untuk diri sendiri saja, yang sudah mengikat batin, yang akan mendatangkan duka dan sengsara sebagai kebalikannya
.

Kurang lebih setahun kemudian, Gak Bun Beng baru meninggalkan kuburan isterinya. Akan tetapi dia telah berubah. Kakek yang tadinya merupakan seorang pertapa yang gagah perkasa itu, yang arif bijaksana itu, kini menjadi seorang kakek jembel yang kotor sekali tubuhnya. Tidak pernah mau mengurus tubuhnya, dan hidup berkeliaran bagaikan pengemis yang gila. Tak seorang pun mempedulikannya dan dia pun tak mempedulikan apa-apa lagi.

Kasihan sekali Gak Bun Beng, walau pun semua itu adalah akibat dari pada keadaan batinnya sendiri. Dia merasa kesepian. Dia merasa amat iba kepada dirinya sendiri dan dia merasa nelangsa karena merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain.

Selama ini, yang dimilikinya sampai mengikat batinnya adalah isterinya dan dua orang puteranya. Namun dua orang puteranya tidak mentaatinya, bahkan kemudian isterinya, satu-satunya orang yang masih tersisa, satu-satunya yang masih menjadi miliknya lahir batin, meninggalkan dirinya.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner