SULING NAGA : JILID-34


Selagi Siu Kwi termenung karena jawaban pemuda tani itu, tiba-tiba pemuda itu nampak menjadi gelisah. "Nona, harap kau cepat bersembunyi di balik pohon dan semak-semak itu. Cepat, di sana sedang datang tiga orang pemuda berandalan. Mereka baru sepekan berkeliaran di sini, dan mereka itu pemuda-pemuda dari kota yang berandalan. Cepat, bersembunyilah, nona, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."

Siu Kwi sadar dari lamunannya dan ia menengok. Benar saja, dari jauh nampak tiga orang laki-laki yang agaknya bicara sambil bergurau dan tertawa-tawa. Akan tetapi mereka masih terlalu jauh untuk dapat didengar apa yang mereka bicarakan dan untuk melihat orang-orang macam apa adanya mereka.

Kalau menuruti wataknya yang biasa, tentu saja Siu Kwi akan memandang rendah segala pemuda berandalan seperti itu. Akan tetapi sekali ini memang terjadi hal yang aneh dalam hati Ciong Siu Kwi. Mendengar ucapan pemuda petani itu, ia tidak mau membantah, melainkan cepat-cepat pergi bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari tempat itu, di tepi jalan dekat pohon besar.

Semakin dekatlah tiga orang laki-laki yang keluyuran sambil bersendau gurau itu dan akhirnya mereka tiba juga di tepi sawah di mana pemuda petani itu sudah melanjutkan pekerjaannya yang tadi, yaitu mencangkul tanah. Tiga orang pemuda iseng itu sejak tadi memang sudah merasa bosan karena tempat itu sunyi dan kini melihat pemuda yang sedang mencangkul tanah, timbul kegembiraan mereka. Mereka menemukan seorang yang dapat dijadikan bahan olok-olok dan keberandalan mereka.

"Hei, lihat itu si tolol bekerja keras!" teriak orang pertama yang kepalanya besar dan kedua telinganya kecil seperti telinga tikus.

"Ha-ha-ha, kusangka dia tadi seekor kerbau yang sedang meluku sawah!" teriak orang ke dua. Orang ini kurus kering seperti berpenyakitan.

"Kau kira apa? Apa sih bedanya si tolol dengan seekor kerbau? Hei, tolol! Coba tirukan suara kerbau, bagaimana?" teriak orang ke tiga yang gendut.

Mereka itu tiga orang pemuda yang dilihat dari pakaiannya saja dapat diketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kota! Padahal, mereka pun tadinya adalah orang-orang dari dusun yang tidak jauh dari situ, hanya saja sudah lama mereka tinggal di kota dan ketularan kesombongan orang-orang kota yang memandang rendah kepada para petani yang miskin. Kini mereka memperolok seorang pemuda petani, padahal mereka lahir di rumah-rumah keluarga petani.

Pemuda yang sedang mencangkul itu sudah mendengar bahwa tiga orang pemuda itu adalah pemuda berandalan yang sudah sepekan suka melakukan hal-hal yang buruk, memperlihatkan kenakalan mereka, sering mendatangkan keributan serta perkelahian, juga kekacauan. Oleh karena itu dia bersikap tidak peduli dan pura-pura tak mendengar saja.

Ketiga orang pemuda itu mendongkol juga karena olok-olok mereka sama sekali tidak dilayani. Mereka selalu memperoleh kegembiraan dari olok-olokan mereka, baik kalau yang dihina itu melawan mau pun ketakutan. Akan tetapi pemuda petani itu diam saja, menganggap mereka seperti angin saja! Marahlah mereka.

"Hei, tolol! Apakah kamu tuli atau gagu?"

"Hayo naik ke sini, kau harus bersihkan sepatu kami dengan baik!"

"Kalau tidak, akan kuhajar kamu! Hayo naik ke sini!"

Akan tetapi, pemuda itu tetap diam saja, hanya melirik sedikit dan di dalam hatinya dia mengambil keputusan bahwa kalau tiga orang itu berani masuk ke sawahnya, dia akan melawan mereka, akan membuat mereka berenang di sawahnya dan minum air lumpur!

"Hayo naik kamu, pengecut! Naik ke sini biar kuhajar kau sampai minta-minta ampun!" teriak pula tiga orang pemuda itu sambil mencak-mencak dengan marah.

Mereka tidak berani memasuki sawah karena takut kalau sepatu dan pakaian mereka menjadi kotor. Namun pemuda petani itu tetap diam saja dan melanjutkan pekerjaannya mencangkul dengan tekun.

"Kurang ajar! Serang dia dengan batu!" kata seorang dari mereka dan mereka bertiga kini mencari batu-batu sebesar kepalan tangan dan menyambitkan batu-batu itu ke arah pemuda petani.

Pemuda petani itu berusaha untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi masih ada batu yang mengenai kepalanya sampai timbul benjolan besar. Tiga orang pemuda itu tertawa-tawa. Hati mereka mulai girang karena mereka dapat menghajar pemuda petani itu. Mereka akan menghujankan batu sampai pemuda itu roboh dan minta-minta ampun!

Melihat keadaan pemuda petani itu, hati Siu Kwi merasa khawatir. Ia sudah marah sekali terhadap tiga orang pemuda berandalan dan kalau ia mau, sekali menggerakkan tangan saja ia akan dapat membunuh mereka dan hal itu tentu sudah dilakukannya sejak tadi kalau saja tidak terjadi perubahan besar dalam hati Siu Kwi. Kini ia keluar dari balik semak-semak dan berseru dengan suara yang sengaja dibikin supaya terdengar seperti suara orang ketakutan.

"Jangan sambiti dia... ahhh, jangan sakiti dia...!"

Tiga orang pemuda itu terkejut dan menoleh heran. Akan tetapi wajah mereka menjadi terang berseri dan mulut mereka menyeringai nakal ketika mereka melihat bahwa yang berseru itu adalah seorang wanita yang sedemikian cantik manisnya! Mereka merasa tercengang dan tidak pernah menduga sama sekali bahwa di tempat sunyi itu mereka akan dapat bertemu dengan seorang wanita secantik itu! Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena mereka sudah membayangkan kesenangan yang akan mereka dapat dari wanita itu.

"Ahhh...! Tidak mimpikah aku?" teriak si gendut.

"Benarkah di depanku ada wanita secantik bidadari?"

"Luar biasa sekali! Petani tolol busuk itu bahkan mempunyai seorang pacar yang begini cantiknya!" kata si kepala besar.

"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan ia ini seorang siluman!" kata si kurus kering.

Siu Kwi merasa heran sekali atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia tidak marah dan membunuh mereka ini? Dahulu, jangankan sampai menggoda dengan nada menghina, baru memandang secara kurang ajar saja, kalau ia tidak suka kepada pria itu, tentu akan dibunuhnya seketika!

"Dia tidak bersalah apa-apa, mengapa kalian menganggunya?" Hanya itu saja yang ia katakan, itu pun dengan nada meminta agar para pemuda itu jangan mengganggu si petani.

Sementara itu, pemuda petani itu terkejut bukan main melihat munculnya wanita cantik itu dari balik semak-semak. Dia tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu tentu tidak akan mau melepaskan wanita itu begitu saja. Oleh karena khawatir kalau gadis itu menderita akibat gangguan mereka yang kurang ajar, pemuda petani itu cepat-cepat melangkah keluar dari dalam sawah, lalu segera menghampiri mereka dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap melindungi.

Kuharap kalian tidak mengganggu gadis ini. Kami adalah orang-orang yang tidak pernah mengganggu kalian, maka kuminta dengan sangat agar kalian tidak mengganggu kami," kata pemuda itu dengan sikap tenang.

Melihat pemuda yang bertelanjang dada dan berlepotan lumpur ini sekarang berani melindungi wanita itu, tiga orang pemuda berandalan menjadi marah sekali.

"Petani busuk, mampuslah!" bentak si perut gendut dan dia sudah menyerang dengan pukulan keras menyambar ke arah muka si pemuda petani.

"Desss...!"

Pemuda petani itu tidak mengira bahwa dia akan dipukul, maka dia tidak sempat lagi menangkis dan mukanya kena dipukul. Pukulan ini tepat mengenai batang hidungnya, maka segera nampak darah keluar dari lubang hidungnya.

"Plakkk...!"

Karena marah, si pemuda petani membalas dan tangannya yang menampar mengenai pipi si gendut. Tubuh si gendut terpelanting. Tamparan itu demikian kerasnya sampai membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut, ditambah rasa panas dan pedih di pipinya. Dua orang temannya segera maju mengeroyok.

Pemuda petani itu mengamuk. Sekarang dia dikeroyok tiga, dan ketiga orang pemuda berandalan itu seperti tiga ekor serigala yang mengeroyok seekor anjing pemburu yang melawan mati-matian. Akan tetapi karena pemuda petani itu tidak pandai silat, hanya mengandalkan kekuatan tubuh yang tahan pukulan dan tenaga besar serta semangat berkobar, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan tiga orang pengeroyoknya.

Meski demikian, sungguh ia bertubuh kuat dan biar pun dihujani pukulan dan dikeroyok, dia masih sempat berteriak. "Nona, cepat kau pergilah dari sini!"

Siu Kwi memandang dengan penuh kagum. Pemuda petani itu kini menjadi seorang yang kegagahannya tidak kalah oleh para pendekar mana pun juga. Bahkan mungkin lebih gagah, pikirnya. Seorang pendekar berani membela orang lain, oleh karena dia mengandalkan kepandaian silatnya dan senjatanya.

Akan tetapi, pemuda ini membelanya mati-matian, padahal pemuda sederhana ini tidak pandai silat. Bahkan di dalam hujan pukulan itu dia masih minta kepadanya untuk menyelamatkan diri. Dia benar-benar merasa gembira karena selama hidupnya baru sekaranglah dia bertemu dengan seorang pria yang membelanya mati-matian tanpa pamrih sedikit pun juga!

Biasanya, di dalam kehidupannya yang lalu, kalau ada pria membelanya, maka di balik pembelaan itu tentu mengandung pamrih tertentu. Seperti Bhok Gun misalnya. Para pria yang bersikap baik kepadanya tentu mengharapkan imbalan jasa. Akan tetapi pemuda petani ini sama sekali tidak! Mereka tidak saling mengenal, dan pemuda itu jelas tidak mengharapkan apa-apa, bahkan minta agar ia pergi secepatnya.

Keharuan, suatu perasaan aneh yang baru pertama ini dikenal Siu Kwi, menyelubungi hatinya dan ia pun cepat pura-pura melarikan diri. Tetapi ia cepat menyelinap kembali, tanpa diketahui mereka, kemudian bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempat perkelahian itu terjadi, mengintai dengan hati penuh kagum dan khawatir.

Pemuda tani itu benar-benar hebat! Biar pun tubuhnya menjadi bulan-bulan pukulan dan tendangan sehingga dada yang bidang itu, juga lengannya, menjadi matang biru, bahkan mukanya juga benjol-benjol, akan tetapi dia pantang menyerah. Seperti seekor harimau terbuka dia mengamuk terus, tidak sedikit pun keluhan keluar dari mulutnya.

Sebaliknya, setiap kali dia membalas dan mengenai tubuh lawan, tentu pengeroyok yang kena dipukul atau ditendang berteriak kesakitan lalu memaki-maki dan membalas dengan serangan membabi buta. Dari keadaan perkelahian itu saja sudah dapat dinilai watak masing-masing.

Pemuda petani itu bertubuh sangat kuat sehingga akhirnya ketiga orang lawan yang mengeroyoknya dan lebih banyak memukulnya itu menjadi kewalahan sendiri. Mereka lalu mencabut pisau belati dan mengepung dengan wajah beringas seperti serigala haus darah.

Melihat berkilatnya tiga buah pisau belati di tangan mereka, Siu Kwi mengerutkan alis. Pemuda petani itu tentu akan celaka kalau dia tidak turun tangan, pikirnya. Jari-jari tangannya memungut tiga butir batu kerikil dan tiga kali tangannya terayun ke depan.

Tiga orang pemuda yang sudah mencabut pisau belati itu tiba-tiba mengeluarkan pekik kesakitan, pisau mereka terlepas dari tangan dan untuk beberapa detik lamanya mereka tidak mampu bergerak. Kesempatan ini dipergunakan oleh pemuda tani, yang tidak tahu penyebab tga orang itu tiba-tiba melepaskan kembali pisau-pisau mereka, untuk maju menghajar mereka dengan pukulan-pukulan keras.

Tiga orang pemuda itu jatuh bangun dan semangat mereka sudah buyar sama sekali. Mereka masih ketakutan karena tanpa sebab mereka tadi merasa tangan mereka nyeri bukan main, pisau mereka terlepas dan mereka tidak mampu bergerak. Teringatlah mereka akan wanita cantik tadi dan kembali timbul dugaan bahwa wanita itu tentu siluman dan kini membantu si pemuda petani. Maka, tanpa dikomando lagi, mereka bertiga lalu melarikan diri tunggang langgang!

Pemuda petani itu berdiri memandang mereka sampai bayangan mereka lenyap di antara pepohonan. Dia lalu menyeka darah dari hidung dan bibirnya yang pecah-pecah, menggunakan punggung tangan yang juga matang biru membengkak. Setelah ketiga orang lawannya pergi, baru dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan dia pun agak terhuyung menghampiri pohon besar di tepi jalan.

"Ahhh, kau terluka..."

Hampir saja pemuda petani itu menerjang dan menyerang Siu Kwi yang muncul dengan tiba-tiba dari balik batang pohon besar. Ia telah melupakan wanita itu yang disangkanya tentu sudah melarikan diri ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat itu.

"Ahh, kau...?" serunya kaget, juga girang bukan main. “Kukira engkau sudah pergi jauh dari tempat ini, nona."

Dengan hati merasa lega sekali pemuda tani itu lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, karena tubuhnya kini terasa lelah bukan main, tenaganya seperti hampir habis.

Siu Kwi cepat berlutut di dekatnya. "Ah, tubuhmu luka-luka semua, babak bundas... ah, tentu nyeri sekali...," katanya dan dengan lembut jari-jari tangan wanita itu menyentuh dada, pundak dan pangkal lengan yang memar dan matang biru.

Sentuhan-sentuhan lembut itu seperti obat yang amat nyaman terasa oleh pemuda tani. Biar pun usianya sudah dua puluh lima tahun, akan tetapi dia belum pernah menikah, bahkan jarang bergaul dengan wanita. Dan kini, tiba-tiba muncul seorang wanita yang luar biasa cantiknya berdekatan dengannya, dan menyentuh tubuhnya dengan lembut.

Jantung pemuda petani itu berdebar keras sekali dan hal ini mudah nampak oleh Siu Kwi sehingga wanita ini pun diam-diam merasa girang sekali. Ia sudah berpengalaman, sudah mengenal banyak pria dan tahu akan keadaan seorang pria. Maka mudah saja ia mengetahui bahwa pria dusun ini pun amat tertarik kepadanya, bahwa pendekatannya membuat pemuda itu berdebar jantungnya. Dan anehnya, sekali ini ia merasa demikian girang dan bangga akan kenyataan ini!

"Luka-lukamu ini perlu dirawat. Aku biasa merawat luka, marilah kuantar engkau pulang dan akan kurawat luka-lukamu... ahhh..." Tiba-tiba Siu Kwi teringat sesuatu. Mukanya berubah pucat dan ia pun bangkit dan melangkah mundur.

Pria petani itu sudah merasa girang mendengar bahwa wanita cantik itu akan ikut dia pulang dan akan merawat luka-lukanya, akan tetapi terkejut melihat perubahan sikap wanita itu. Dia pun bangkit berdiri, memandang penuh selidik.

"Ada apakah, nona?"

"Kau...ah, tentu di rumahmu ada isteri dan keluargamu yang akan merawatmu...," kata Siu Kwi, memandang penuh pertanyaan dan dengan hati gelisah.

Mengapa dia tidak ingat akan hal itu? Seorang pria sedewasa ini, apa lagi hidup di dusun, sudah tentu pria ini sudah menikah dan mungkin sudah mempunyai beberapa orang anak! Hatinya seperti ditusuk-tusuk.

Kalau dulu, ia tidak akan peduli apakah seorang laki-laki itu berkeluarga atau tidak, mau atau tidak padanya. Kalau ia suka, dengan halus mau pun kasar ia tentu akan memiliki pria itu, atau membunuhnya. Akan tetapi sekarang, ia ragu-ragu, khawatir dan berduka membayangkan bahwa laki-laki ini tentu sudah beristeri!

Pemuda petani itu tersenyum. Senyumnya cerah, wajar dan sehat. "Nona, aku belum pernah menikah. Di rumahku hanya tinggal aku dan ayahku seorang. Ibuku sudah lama meninggal."

Merasa bagaikan sebongkah batu dilepaskan dari hatinya yang tertindih, Siu Kwi ingin sekali merangkul dan mencium pemuda itu. Namun keanehan terjadi lagi. Ia merasa malu melakukannya, dan ia menahan gejolak perasaannya itu. "Aih, kalau begitu baru aku berani ikut denganmu dan merawat luka-lukamu."

Karena pertanyaan wanita itu, kini si pemuda petani juga memandang ragu. Masih nonakah wanita ini ataukah sudah nyonya? Kiranya sukar dipercaya kalau masih nona, karena usianya sudah tidak begitu muda lagi meski kecantikannya membuat ia nampak jauh lebih muda. Setidaknya, tidak lebih muda darinya dan wanita seusia ini tak mungkin masih perawan.

"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, nona... atau... nyonyakah?"

Luar biasa sekali! Siu Kwi merasa mukanya panas dan ia tentu akan terheran-heran kalau dapat melihat betapa kulit mukanya berubah kemerahan seperti seorang perawan yang tersipu malu! Heran sekali dia, mengapa dia merasa begini malu dan canggung ditanya oleh pemuda ini apakah ia masih gadis ataukah sudah menikah? Tentu saja akan tidak enak sekali jika ia mengaku masih gadis, karena usianya sudah tak pantas untuk itu.

"Aku... aku seorang janda yang sudah ditinggal mati suamiku beberapa tahun yang lalu. Semenjak itu, aku hidup seorang diri saja..."

"Ahh...! Maafkan pertanyaanku jika telah menyinggung perasaanmu dan mendatangkan kembali kenangan yang menyedihkan," kata pemuda itu, agak terkejut.

Siu Kwi tersenyum, manis sekali.

"Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, kesedihan sudah lama meninggalkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin mengetahui siapakah namamu dan di mana rumahmu?"

"Aku she Yo bernama Jin, tinggal berdua dengan ayah di dusun sebelah selatan itu." Dia menudingkan telunjuknya ke arah selatan, di mana nampak dari situ sekelompok rumah dusun.

"Namamu Jin (Welas Asih), pantas engkau berhati mulia, mau membela dan menolong aku yang sama sekali tidak kau kenal. Aku she Ciong, namaku Siu Kwi dan lempat tinggalku tidak tetap karena aku sudah tidak memiliki keluarga lagi."

Pemuda dusun yang bernama Yo Jin itu memandang dengan sinar mata mengandung iba dan dia menggeleng kepala. “Akan tetapi... apakah sama sekali tidak mempunyai anggota keluarga? Orang tua, saudara-saudara..."

Akan tetapi Ciong Siu Kwi menggeleng kepala dan ia memang tidak berbohong. Dia sendiri sudah tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali ketika dipungut oleh Sam Kwi.

"Aku hidup sebatang kara, seorang diri saja di dunia yang luas ini. Aihh, kenapa kita bercakap-cakap saja, engkau perlu dirawat. Mari kuantar engkau pulang."

Siu Kwi lalu memegang lengan pemuda itu dan membantunya bangkit berdiri. Melihat betapa wanita itu memegang lengannya, kembali jantung Yo Jin tergetar dan dia pun masih merasa ragu-ragu. Seorang wanita secantik ini, sudah menjanda dan nampak begitu mewah pakaiannya, hendak menggandengnya!

"Tapi, nyonya..."

"Hemm, Yo Jin. Aku sudah memperkenalkan bahwa namaku Siu Kwi, bukan?"

"Baiklah,... adik Kwi. Aku... aku masih sangsi apakah mungkin seorang seperti engkau ini merawatku...?"

Senang hati Siu Kwi disebut Kwi-moi (adik Kwi) walau pun ia yakin bahwa ia lebih tua dari pemuda itu. Dia pun sengaja menyebut toako (kakak) untuk mengimbangi sebutan Yo Jin dan untuk menghormati pemuda dusun itu.

"Kenapa tidak, Jin-toako? Engkau telah menolongku, menyelamatkanku dari gangguan tiga pemuda berandalan itu. Budimu terlampau besar dan sudah sepatutnya kalau aku kini merawatmu, sekedar untuk membalas kebaikanmu dan menyatakan terima kasihku. Akan tetapi... tentu saja aku tidak berani memaksa kalau engkau tidak sudi dirawat oleh seorang janda yang hidup merana dan kesepian."

Dalam kalimat terakhir itu terkandung isak dan ini pun bukan pura-pura karena memang hati Siu Kwi merasa sedih sekali membayangkan hatinya yang sedang kesepian dan merana itu menderita pukulan karena ditolak oleh Yo Jin.

Ia merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda ini. Bukan sekedar nafsu birahi yang mendorongnya. Entah bagaimana, melihat sikap pemuda ini yang tadi sudah melindungi dan membelanya mati-matian tanpa pamrih, ia merasa aman sentosa saat berada di samping Yo Jin. Perasaan sepi lenyap.

"Aih, mana mungkin aku menolak uluran tanganmu, Kwi-moi? Mari, marilah kita pulang."

"Pulang?" Seperti dalam mimpi Siu Kwi mengulang kata yang terdengar amat luar biasa itu, amat asing namun amat indahnya.

"Ya, pulang! Bukankah engkau tadi mengajakku pulang? Ke rumahku, rumah ayahku."

"Pulang...?" Kembali Siu Kwi mengulang kata itu, kata yang baginya mengandung arti yang asing dan indah, seolah-olah ‘pulang’ merupakan sebuah tempat milik mereka berada, sebuah sarang yang aman sentosa, yang nyaman dan penuh kedamaian.

Ayah Yo Jin adalah seorang kakek petani yang bertubuh tinggi besar, berwatak jujur dan dia menyambut pulangnya puteranya dengan alis berkerut. Tentu saja dia merasa heran bukan main melihat anaknya pulang bersama seorang, wanita cantik berpakaian mewah yang menggandengnya. Mereka nampak demikian mesra!

Akan tetapi perasaan heran ini menjadi kekagetan dan kekhawatiran ketika dia melihat betapa muka anaknya itu matang biru dan bengkak-bengkak. Baru dia mengerti setelah Yo Jin menceritakan bahwa dia diganggu dan dikeroyok oleh tiga orang pemuda kota yang berandalan itu dalam membela Ciong Siu Kwi yang hendak diganggu.

"Nyonya... ehhh, adik Ciong Siu Kwi ini menemani aku karena dia hendak merawat luka-lukaku, ayah. Aku tidak dapat menolak maksud baiknya itu."

Ayahnya mengangguk-angguk kemudian menatap wajah wanita ini dengan tajam penuh selidik. Pandang mata itu membuat Siu Kwi merasa kikuk sekali, akan tetapi ia hanya menundukkan mukanya.

"Mari, Jin-toako, kucuci luka-luka itu, karena kalau didiamkan saja dan terkena kotoran dapat membengkak dan berbahaya," katanya halus kepada Yo Jin.

Pemuda itu mengangguk dan mulailah Siu Kwi merawatnya. Ia mencuci luka-luka itu, dengan jari-jari tangan menyentuh halus ia menggosok bagian yang bengkak, menaruh obat pada bagian yang memar dan matang biru.

Entah mana yang lebih manjur, obat yang digunakan Siu Kwi ataukah sentuhan jari-jari tangannya, akan tetapi Yo Jin merasa betapa kenyerian di tubuhnya lenyap seketika. Mau rasanya dia dipukuli orang setiap hari kalau sesudah itu dirawat oleh jari-jari tangan wanita cantik ini! Karena dia memang jujur, maka suara hatinya ini tak dapat ditahannya.

"Wah, aku sungguh beruntung!" katanya. Ayahnya sudah meninggalkan mereka yang berada di ruangan samping.

"Beruntung? Kenapa?" tanya Siu Kwi, ingin tahu sekali.

"Ya, beruntung telah dipukuli orang sampai babak belur dan matang biru."

Siu Kwi memandang heran. "Ehh? Betapa anehnya!"

"Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin aku akan mendapatkan perawatanmu seperti ini?"

Siu Kwi merasa betapa jantungnya berdebar. Ingin ia merangkul pemuda itu, akan tetapi hal itu tak dilakukannya. Ia harus bersikap biasa, ia tidak menuruti lagi segala kehendak hatinya seperti yang sudah-sudah. Namun ia tidak dapat terbebas dari perasaan jengah sehingga mukanya berubah kemerahan.

"Jin-toako, masih sakitkah bekas pukulan dan tendangan itu?"

"Tidak, sama sekali sudah lenyap. Sentuhan tanganmu yang lembut mengusir semua rasa nyeri," jawab Yo Jin sungguh-sungguh.

"Senangkah engkau kurawat begini?"

"Senang sekali! Mau rasanya aku setiap hari menerima pukulan asal engkau yang merawatnya."

Siu Kwi memandang penuh perhatian. Sedang bersandiwarakah pemuda ini? Apakah ia sebenarnya seorang laki-laki yang pandai merayu hati wanita dan kini berpura-pura sebagai seorang pemuda dusun yang bodoh? Tidak, dia merasa yakin bahwa pemuda ini bukan seorang perayu, melainkan seorang yang amat jujur. Apa yang dirasakannya, apa yang dipikirkannya, langsung saja keluar melalui mulutnya. Dan ia merasa betapa ada suatu kegembiraan besar memenuhi dadanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring di luar rumah dan ayah Yo Jin memasuki ruangan itu dengan wajah membayangkan kekhawatiran besar.

"Mereka bertiga datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun di timur! Ahh, Yo Jin, engkau mencari gara-gara saja. Bagaimana baiknya sekarang?"

Yo Jin mengerutkan alisnya dan dia pun bangkit. Sedikit pun dia tidak merasa takut.

"Ayah, mereka itu pengacau-pengacau tidak tahu malu. Kalau mereka berani datang untuk membikin ribut di sini, biarlah aku yang akan menghajar mereka lagi," berkata demikian, dengan sikap gagah Yo Jin lalu melangkah keluar.

"Toako, berhati-hatilah...," Siu Kwi berseru dan dia pun sudah bangkit dan memegang lengan pemuda itu.

Yo Jin menoleh. "Lebih baik engkau jangan keluar, jangan memperlihatkan diri. Biar aku yang menghadapi mereka."

"Tapi... tapi engkau akan dikeroyok lagi, dipukuli..."

Yo Jin tersenyum dan untuk beberapa detik lamanya tangannya menggenggam tangan wanita itu. "Tak perlu dirisaukan! Bukankah di sini ada engkau yang akan mengobati semua bekas pukulan?" Dia lalu melepaskan tangannya dan cepat-cepat keluar karena orang-orang itu sudah berteriak-teriak lagi.

Siu Kwi berdiri bengong dan mulutnya tersenyum, wajahnya berseri. Ia merasa seperti seorang gadis remaja yang baru pertama kalinya jatuh cinta! Akan tetapi dia segera mengkhawatirkan keadaan Yo Jin dan ia pun cepat mengintai dari balik pintu.

Ternyata ketiga orang pemuda berandalan itu, setelah tadi melarikan diri segera pergi menghadap Lui-kongcu (tuan muda Lui), putera dari kepala dusun tempat asal tiga orang pemuda itu. Mereka memang berkawan dengan putera kepala dusun yang terkenal mata keranjang.

Mereka memuji-muji kecantikan wanita yang menjadi pacar seorang pemuda petani di dusun selatan sehingga Lui-kongcu tertarik sekali. Apa lagi mendengar betapa tiga orang pemuda itu yang dianggap sebagai anak buahnya, telah dihajar babak-belur oleh pemuda itu karena memperebutkan wanita cantik, Lui-kongcu merasa amat penasaran. Mengandalkan kedudukan ayahnya, dia memang sudah terbiasa merajalela dan suka membikin kacau, menekan para penduduk yang tentu saja takut kepadanya mengingat akan kedudukan ayahnya, yaitu kepala dusun Lui.

Ketika Yo Jin muncul diikuti oleh ayahnya yang memandang khawatir, Lui-kongcu sudah menyambutnya dengan dampratan. "Monyet inikah yang telah lancang tangan berani memukuli tiga orang pemuda dari dusun kami?" Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Yo Jin. "Siapakah namamu?"

Yo Jin tidak mengenal pemuda yang bertubuh jangkung kurus dan berwajah tampan akan tetapi angkuh ini. Akan tetapi tadi ayahnya sudah memberi tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun timur. Maka dia dapat menduga tetu pemuda tampan jangkung berpakaian mewah ini putera kepala dusun itu.

"Maaf, bukan aku yang memukuli dan mengeroyokku. Aku hanya membela diri saja. Namaku adalah Jin she Yo..."

"Bagus, Yo Jin. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun kami di timur. Engkau telah berani kurang ajar terhadap kami, hayo cepat berlutut minta ampun!"

Bukan watak Yo Jin untuk merendahkan diri karena takut. Dia tidak merasa bersalah, maka dia pun tidak takut terhadap siapa juga.

"Lui-kongcu, tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah. Merekalah yang terkenal sebagai pemuda-pemuda berandalan yang suka membikin kacau. Maka sebaiknya jika Lui-kongcu sebagai putera kepala dusun, menghukum mereka agar mereka tidak lagi menjadi berandalan-berandalan yang suka mengacau ke kampung-kampung."

"Tutup mulutmu! Engkau berani membantah dan melawan aku, ya?" bentak Lui-kongcu marah sambil melangkah maju mendekati Yo Jin. "Hayo lekas berlutut!"

"Aku tidak bersalah apa-apa, kenapa harus berlutut?" jawab Yo Jin dengan sikap tenang dan alis berkerut, pandang mata tajam ditujukan kepada wajah kongcu itu.

"Engkau melawanku?" Lui-kongcu membentak, lalu membuat gerakan memasang kuda-kuda dengan gagah dan membentak, "Haiiiittt...!"

Lalu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya yang dikepal memukul bertubi-tubi.

Yo Jin menyangka bahwa anak kepala dusun ini akan memukulnya, dan dia pun merasa sungkan untuk membalas, maka dia menangkis sedapatnya. Karena tidak membalas, dan karena dia masih lelah, beberapa pukulan telah mengenai tubuhnya, dan tentu saja terasa nyeri karena ada beberapa pukulan mengenai bagian yang memar dan masih biru. Lui-kongcu melanjutkan serangannya sambil berteriak-teriak seperti lagak seorang jagoan tulen.

Karena kesakitan, Yo Jin lalu melawan. Dia membalas dengan pukulan tangan kanan yang mengenai dada Lui-kongcu sehingga tubuh si jangkung ini terpelanting! Kiranya, hanya lagaknya saja seperti jagoan.

Memang dia pernah belajat silat, tetapi orang seperti dia mana ada ketekunan belajar secara sungguh-sungguh? Dia belajar hanyalah untuk berlagak, maka yang dihafalnya hanya pasangan kuda-kuda dan gerakan-gerakan yang nampak indah, namun karena ia tidak tekun mempelajari dasar-dasarnya, maka semua gerakannya itu kosong belaka, bagaikan bungkusan indah yang tidak ada isinya. Maka, begitu Yo Jin membalas, dia pun terkena pukulan dan terpelanting.

Melihat demikian, tiga orang pemuda berandalan itu pun maju mengeroyok. Tentu saja Yo Jin yang masih belum pulih kesehatannya, dan masih lelah itu, harus menerima hajaran empat orang pengeroyoknya, dipukul dan ditendang sampai babak belur. Akan tetapi, dengan gigih dia membela diri dan melawan, sedikit pun tidak pernah mengeluh.

"Heiii, jangan berkelahi! Jangan pukuli anakku...!" Ayah Yo Jin yang melihat puteranya dipukuli orang lalu maju untuk melerai, akan tetapi dia disambut oleh pukulan-pukulan yang membuat ia roboh terpelanting pula!

Melihat kejadian itu, Siu Kwi lalu keluar dari tempat persembunyiannya. "Tahan, jangan berkelahi!"

Mendengar ada suara perempuan, empat orang pengeroyok itu menghentikan amukan mereka dan Lui-kongcu memandang bengong ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik jelita berdiri disitu. Tiga orang pemuda berandalan itu pun memandang dan mereka segera mengenal wanita itu.

"Kongcu, itulah pacarnya yang cantik!"

Lui-kongcu tidak perlu diberi tahu lagi karena matanya yang berminyak sudah melahap kecantikan yang berada di depan matanya dan dia pun sudah dapat menduga bahwa tentu wanita ini yang menjadi gara-gara keributan itu, yang diperebutkan, dan dia tidak menyalahkan anak buahnya kalau tergila-gila kepada wanita ini. Memang cantik jelita!

"Yo Jin, aku akan mengampunimu kalau engkau mau memberikan pacarmu ini padaku, setidaknya biar kupinjam dia untuk beberapa malam lamanya!" kata Lui-kongcu tanpa malu-malu lagi.

Dapat dibayangkan betapa panas rasanya hati Yo Jin. Dia sudah jatuh cinta kepida Siu Kwi dan kini mendengar kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar itu, yang ditujukan kepada Siu Kwi, tentu saja dia menjadi marah. "Lui-kongcu, andai kata ia itu pacarku, tunanganku atau isteriku, tentu takkan kuserahkan kepadamu, dan akan kuhajar engkau yang berani bersikap kurang ajar! Akan tetapi sayang, ia hanya seorang sahabat baru dan seorang tamuku yang terhormat."

Mendengar jawaban ini, Lui-kongcu dan tiga orang pemuda berandalan itu lalu saling pandang. Si gendut, seorang di antara tiga pemuda berandalan itu, berseru tak percaya.
"Kau bohong! Jika bukan pacarmu, kenapa engkau membelanya sampai mati-matian?"

"Hemmm, orang-orang macam kalian ini tentu merasa heran. Akan tetapi orang-orang sopan tentu mengerti bahwa sudah sepatutnya kalau seorang pria menghormati wanita, membelanya, bukan seperti kalian yang hendak mempermainkan dan menghinanya!"

"Ha-ha-ha, bocah petani dusun tolol! Orang macam engkau hendak memberi kuliah kepadaku? Kalau ia bukan apa-apamu, sudah, mundur kau dan jangan turut campur!" kata Lui-kongcu. Diam-diam ia merasa jeri juga melihat kenekatan Yo Jin yang agaknya tidak mengenal takut dan sakit.

Ia menghampiri Siu Kwi dan tersenyum menyeringai sambil memasang aksinya. "Nona cantik, marilah engkau ikut bersamaku. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun di timur yang kaya raya. Engkau tentu akan mengalami kesenangan kalau ikut bersamaku. Jadilah tamuku yang terhormat dan kita bersenang-senang bersama. Marilah, manis!"

Dia mengulur tangan hendak memegang tangan Siu Kwi. Agaknya, pemuda ini selalu yakin bahwa setiap orang perempuan tentu akan tunduk dan memyambut ajakannya dengan girang. Wanita mana yang dapat menolaknya? Dia masih muda, tampan dan gagah, kaya raya dan ayahnya menjadi kepala dusun yang hidupnya seperti seorang raja kecil di dusunnya! Sudah terlalu banyak wanita yang tunduk kepadanya, seperti kerbau dicocok hidungnya kalau dia merayu dan mengajak mereka.

Siu Kwi ingin sekali tampar menghancurkan kepala Lui-kongcu itu. Akan tetapi ia masih terus sadar dan teringat bahwa ia kini harus menjadi seorang yang baru sama sekali, tidak boleh lagi mempergunakan ilmunya untuk mengulangi lagi kehidupan sesat dan kejam seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, tentu saja ia tidak dapat memadamkan kemarahan yang berkobar di dalam dadanya melihat sikap anak kepala dusun itu.

"Tidak, aku tidak mau pergi ke mana-mana, tidak mau pergi meninggalkan Jin-toako yang membutuhkan perawatanku. Kalian pergilah dari sini dan jangan membikin kacau!"

Lu-kongcu tertawa dan membelalakkan matanya. "Aihh, kenapa begitu, nona manis? Apakah engkau lebih suka tinggal di sini, di tempat yang kotor dan amat tidak pantas bagimu ini? Dan lihat si tolol Yo Jin ini, seorang petani busuk yang kotor dan bodoh. Tidak patut sama sekali engkau bersahabat dengan orang tolol semacam ini. Untuk menjadi bujangmu pun, dia belum pantas!"

Siu Kwi menjadi marah bukan main. "Huh, toako Yo Jin ini adalah seorang laki-laki sejati. Dia seribu kali lebih baik dari pada kamu dan kawan-kawanmu itu. Pergilah dan jangan menganggu kami lagi!"

Mendengar ucapan ini, Lui-kongcu menjadi marah. Mukanya merah sekali. Pemuda dusun itu seribu kali lebih baik dari dia?

"Hajar mampus petani busuk ini, baru kularikan gadis tak tahu diri itu!" katanya dan dia pun sudah menyerang Yo Jin dengan marah, dibantu kawan-kawannya. Kini mereka mencabut pisau yang sudah mereka persiapkan lebih dulu.

"Jin-toako, kau pukullah mereka sampai puas!" tiba-tiba Siu Kwi berkata. "Cepat hajar mereka, toako!"

Tentu saja Yo Jin terheran mendengar seruan itu, akan tetapi dia menjadi semakin heran dan girang melihat betapa empat orang pemuda yang mengeroyoknya itu tiba-tiba saja menghentikan gerakan-gerakan mereka dan ketika dia memukul mereka, empat orang itu sama sekali tidak melawan, tidak menangkis atau mengelak. Dia tidak tahu bahwa dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Siu Kwi telah membuat mereka untuk sementara lumpuh dengan sambitannya, mempergunakan kerikil-kerikil kecil sekali.

Enak saja Yo Jin membabat mereka dengan kaki tangannya, memukul dan menendang sampai mereka itu terguling-guling. Ketika pengaruh totokan sudah hilang dan mereka mampu bergerak kembali, mereka sudah menjadi ketakutan.

Lui-kongcu bangkit berdiri, sempoyongan dan memandang kepada Yo Jin dan Siu Kwi bergantian, lalu dia memandang kepada ayah Yo Jin dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Siu Kwi, "Dia seorang siluman! Ya, seorang siluman betina yang jahat dan akan menghancurkan keluargamu!"

Setelah berkata demikian, Lui-kongcu segera melarikan diri diikuti tiga orang pemuda berandalan. Tadi, tiga orang pemuda itu sudah menceritakan betapa mereka mengalami hal yang aneh ketika mencabut pisau sehingga mereka dihajar oleh Yo Jin. Sekarang, kembali mereka mengalami hal yang sama dan juga Lui-kongcu mengalaminya. Maka, mereka semua condong percaya kepada dugaan pemuda berandalan berkepala besar bahwa agaknya Yo Jin dibantu siluman, dan siapa lagi kalau bukan perempuan cantik itu silumannya?

"Mereka sungguh kurang ajar!" bentak Yo Jin marah ketika mendengar wanita yang telah menjatuhkan hatinya dimaki siluman.

"Biarkan mereka pergi, Jin-toako. Mereka adalah anak-anak yang masih bodoh dan hanya mengandalkan kedudukan orang tua dan kekayaan saja. Wah, luka-lukamu lecet kembali, mari kuberi obat lagi."

"Baik, Kwi-moi dan terima kasih atas kebaikanmu." Dua orang muda itu hendak masuk kembali ke dalam rumah.

"Nanti dulu!" Tiba-tiba terdengar ayah Yo Jin membentak.

Orang tua ini benar-benar amat terpengaruh oleh kata-kata yang tadi ditinggalkan oleh Lui-kongcu. Pada jaman itu, memang semua orang amat percaya akan tahyul, percaya akan siluman-siluman yang suka mendatangkan gangguan dalam kehidupan manusia, percaya pula akan dewa-dewa pelindung dan segala macam tahyul lagi.

Mendengar ucapan Lui-kongcu, ayah ini pun terkejut sekali dan sejak tadi dia sudah mengamati Siu Kwi penuh perhatian. Seorang wanita yang amat cantik, dengan pakaian mewah dan perhiasan emas permata yang mahal-mahal. Dan wanita seperti itu mau mendekati puteranya, seorang petani biasa! Dan pula, wanita itu muncul begitu tiba-tiba mengaku tak memiliki keluarga, tak memiliki rumah tinggal. Mana mungkin ini? Seorang wanita gelandangan tidak mungkin sekaya ini, apa lagi secantik ini.

Dan mengapa Yo Jin tiba-tiba saja menjadi begitu nekat membelanya sehingga anak itu bahkan berani menentang seorang putera kepala dusun? Agaknya anaknya itu sudah tergila-gila kepada siluman ini, yang tentu saja telah mempergunakan ilmunya untuk menundukkan Yo Jin.

Puteranya itu biar pun sudah berusia dua puluh lima tahun, akan tetapi dia yakin masih seorang perjaka tulen dan menurut dongeng, siluman memang suka mengubah diri menjadi seorang perempuan cantik untuk menghisap sari tenaga dari tubuh seorang perjaka! Dan menurut dongeng, seorang perjaka yang terpikat oleh siluman, akan mati kehabisan darah, bahkan keluarganya juga akan ikut tertimpa mala petaka!

Mendengar bentakan ayahnya dan kini melihat betapa ayahnya memandang dengan mata terbelalak kepada Siu Kwi, Yo Jin merasa heran. "Ada apakah, ayah?"

"Tidak boleh... nona ini tidak boleh memasuki rumah kita...!" Lalu orang tua itu menjadi sangat ketakutan ketika teringat bahwa seorang siluman amat sakti dan akan mampu membunuhnya hanya dengan pandang matanya, dan juga amat kejam.

Maka cepat dia menjura kepada Siu Kwi. "Nona, harap maafkan kami... harap suka mengasihani seorang tua seperti aku, seorang duda yang hidup berdua dengan anakku Yo Jin. Harap engkau suka memaafkan kami dan jangan... jangan menjadikan anakku korban... carilah korban lain, masih banyak terdapat perjaka di dusun ini dan dusun-dusun lainnya..."

Biar pun Yo Jin dan Siu Kwi terheran-heran mendengar ucapan yang tersendat-sendat itu, mereka berdua sudah maklum apa yang dimaksudkan oleh orang tua itu. Kakek itu menuduh Siu Kwi siluman!

"Ayah...! Jangan begitu..."

"Lopek, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Engkau menuduh aku seorang siluman betina, bukankah begitu?" kata Siu Kwi, suaranya terdengar dingin menusuk.

Wanita ini memang marah bukan main. Gatal-gatal kedua tangannya. Dia telah diusir, bahkan dituduh seorang siluman. Kalau dulu, beberapa hari yang lalu saja, tak mungkin ia dapat mengampuni orang yang berani mengusirnya dan menuduhnya siluman. Tentu ia akan membunuh orang itu. Akan tetapi, ia kini hanya merasa marah dan juga berduka sekali. Ayah pria yang menjatuhkan hatinya kini mengusirnya dan menuduhnya siluman.

Kakek itu menjura. "Maafkan... maafkan kami..."

Siu Kwi tidak dapat menahan kesedihannya. Ia terisak lalu berlari pergi.

"Kwi-moi...! Tunggu, jangan tinggalkan aku, Kwi-moi...!" Yo Jin berteriak dan mengejar.

"Yo Jin, berhenti kau!" Ayahnya menghardik.

Selama ini Yo Jin hanya hidup berdua dengan ayahnya, maka tentu saja dia sangat menyayangi ayah ini dan mentaatinya. Kini, mendengar bentakan ayahnya, dia seperti tertahan oleh sesuatu yang sangat kuat, berhenti berlari, menoleh dan dia kemudian menjatuhkan diri berlutut.

"Ayah..., Kwi-moi...!" Dan pemuda ini pun terguling, pingsan.

Setelah mengalami pengeroyokan sampai dua kali, menerima gebukan-gebukan yang amat banyak, dan hanya sentuhan dan sikap Siu Kwi saja yang menguatkan hatinya sehingga dia dapat bertahan, sekarang dia tidak dapat menahan pukulan batin melihat ayahnya menuduh kekasihnya itu siluman dan Siu Kwi pergi meninggalkannya.....

********************

"Orang she Yo, sungguh besar sekali nyalimu! Engkau telah membiarkan anakmu yang kurang ajar itu memukul dan melukai Lui-kongcu, putera kepala dusun timur! Sungguh, engkau membikin malu aku yang menjadi kepala dusun di sini!" kata kepala dusun Tong kepada kakek Yo.

Dia menerima pengaduan dari rekannya, kepala dusun Lui dan karena merasa malu hati terhadap rekannya, maka dia cepat memanggil kakek Yo untuk datang menghadap dan menegurnya dengan keras. "Sekarang juga Yo Jin harus menyerahkan diri agar dapat kuantarkan kepada kepala dusun Lui untuk menerima hukuman!"

Tentu saja kakek Yo amat terkejut mendengar ini dan dia cepat-cepat memberi hormat. "Mohon beribu ampun dan kebijaksanaan dari Tong-thungcu," katanya. "Sesungguhnya anak saya Yo Jin sama sekali tak bersalah, akan tetapi dia terbujuk oleh siluman betina. Untung bahwa saya telah berhasil mengusir siluman betina itu dan menyelamatkan anakku dari ancaman mala petaka."

Kepala dusun itu tertegun. "Siluman...? Apa maksudmu?"

Kakek Yo lalu menceritakan tentang munculnya siluman betina yang menyamar sebagai seorang wanita cantik sehingga menjadi perebutan antara anaknya dan Lui-kongcu dan terjadi perkelahian. Akan tetapi, anaknya itu terbujuk oleh siluman dan dalam keadaan tidak sadar.

"Jika terlambat sedikit saja saya mengusir siluman itu, tentu anakku telah mati. Siluman itu sudah saya usir, dan harap Tong-thungcu suka membujuk Lui-thungcu agar supaya mengampuni anak saya yang sebenarnya tak bersalah karena berada dalam pengaruh siluman dan tidak sadar."

"Ah, jangan mencari alasan dengan cerita yang gila!" bentak kepala dusun Tong. "Siapa mau percaya omonganmu? Hayo bawa Yo Jin ke sini, ataukah aku sendiri harus ke sana untuk menangkapnya?"

"Ahhh, Tong-thungcu tidak percaya? Marilah, harap dilihat sendiri keadaan anak saya yang sampai sekarang masih belum sadar benar," kata kakek Yo.

Kepala dusun itu merasa heran dan dia pun segera mengikuti kakek Yo, dikawal oleh tiga orang anak buahnya. Setelah tiba di dalam rumah kakek Yo, kepala dusun Tong melihat sendiri betapa Yo Jin benar-benar berada dalam keadaan sakit dan tidak sadar. Pemuda itu berbaring demam dan gelisah di pembaringan di dalam kamarnya. Mukanya amat merah, tubuhnya panas dan pemuda itu mengigau, berkali-kali memanggil sebuah nama.

"Kwi-moi…! Kwi-moi…!"

"Nah, begitulah keadaannya, thungcu. Yang dipanggilnya itu adalah nama siluman itu. Maka harap Tong-thungcu suka mengasihaninya dan suka pula membujuk Lui-thungcu." Kakek Yo dengan suara mohon dikasihani meminta kebijaksanaan kepala dusun Tong sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang terisi seluruh simpanan uangnya kepada pembesar itu.

Mula-mula kepala dusun itu berpura-pura menolaknya. Akan tetapi, melihat bahwa isi buntalan itu cukup banyak, dia pun menyuruh pengawalnya untuk menerima bungkusan itu sambil berkata, "Sebenarnya, berat bagiku untuk memenuhi permintaanmu karena aku merasa malu hati kepada rekanku, kepala dusun Lui. Akan tetapi, melihat keadaan anakmu, aku percaya dan biarlah saya akan membicarakan hal ini dengan dia."

Kakek Yo merasa girang dan berterima kasih, dan sambil membungkuk-bungkuk dia mengantar kepala dusun itu meninggalkan rumahnya sampai di luar pekarangan. Dia rela kehilangan semua simpanannya asal anaknya tidak ditangkap.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner