SULING NAGA : JILID-37


Perhitungan Thian Kek Sengjin memang tepat sekali. Dia dan Ok Cin Cu tidak mampu menandingi Suma Ciang Bun dan hal ini membuat dia merasa penasaran bukan main. Dia tidak tahu siapa lagi yang dapat dimintai bantuannya. Pada saat dia dan Ok Cin Cu bentrok dengan Siu Kwi dan melihat kelihaian wanita itu, terutama sekali kecepatan gerakannya, tahulah dia bahwa kalau wanita ini dapat membantunya, maka dia tentu akan mampu mengalahkan pendekar Pulau Es itu.

Betapa pun juga, ilmu-ilmu silat yang dimainkan Suma Ciang Bun memang hebat sekali sehingga walau pun ketiga orang itu mampu mengepung ketat dan mendesak sampai seratus jurus lamanya belum juga mereka bertiga itu mampu mengalahkan Suma Ciang Bun yang masih melawan dengan gigih. Akan tetapi sekarang pendekar itu lebih banyak bertahan dan melindungi diri dari pada menyerang.

Tiba tiba tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu menusuk ke arah leher Ciang Bun dari kiri, dibarengi pula dengan pukulan tongkat naga hitam ke arah pinggangnya dari kanan. Ciang Bun tidak sempat mengelak lagi, terpaksa menggunakan sepasang pedangnya menangkis ke kanan kiri dengan jurus Siang-mo Khai-bun (Sepasang Iblis Membuka Pintu).

Jurus ini tidak hanya menangkis, melainkan dilanjutkan dengan serangan balasan yang hebat. Akan tetapi pada saat dia menangkis, nampak sinar pedang meluncur ganas dari depan, yaitu pedang Siu Kwi yang menyerang ke arah dadanya. Serangan ini demikian cepatnya sehingga Ciang Bun merasa terkejut. Dengan menggunakan pantulan tenaga saat menangkis tongkat naga hitam, pedang kanannya mental dan meluncur, memapaki sinar pedang Siu Kwi dari depan, sedangkan pedang kirinya dengan tenaga sinkang masih menempel tongkat ular hitam.

"Cringgg...!"

Siu Kwi mengeluarkan seruan kaget. Pedangnya hampir saja terlepas dari pegangannya ketika bertemu dengan kerasnya dengan pedang lawan. Tetapi pada saat itu, tongkat naga hitam menyambar dari belakang dan tak dapat dielakkan atau ditangkis oleh Ciang Bun lagi.

"Bukkk...!"

Tubuh Ciang Bun terlempar keras, terbanting dan terguling-guling. Dia menderita luka parah oleh pukulan tongkat yang mengenai punggungnya itu, maka ketika dia terguling-guling, dia sengaja bergulingan dengan cepat, kemudian meloncat dan melarikan diri. Pendekar ini maklum bahwa dia telah terluka dan kalau tidak melarikan diri, tentu tiga orang lawan itu akan membunuhnya.

"Kejar dia...!" Thian Kek Sengjin berseru marah ketika melihat lawan yang sudah terluka itu melarikan diri.

"Kenapa mesti dikejar?" Siu Kwi membantah. "Dia sudah kalah dan lari."

"Kejar! Kita harus membunuhnya!" Thian Kek Sengjin berteriak dan dia pun mengejar diikuti Ok Cin Cu. Dengan demikian Siu Kwi terpaksa ikut mengejar.

"Jangan mencari penyakit!" kembali dia berkata sambil berlari di samping kakek itu. "Jangan mendesak terus. Bagaimana kalau muncul tokoh-tokoh Pulau Es lainnya? Dia hanya tokoh kecil saja! Aku telah banyak bertemu dengan mereka yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dia!"

Thian Kek Sengjin mencari-cari akan tetapi bayangan Suma Ciang Bun tak nampak lagi. Juga dia mulai jeri mendengar kata-kata Siu Kwi. Baru mengalahkan Suma Ciang Bun sekarang saja sudah demikian repotnya, apa lagi kalau muncul tokoh Pulau Es lainnya yang lebih lihai. Pula, kalau wanita ini tidak mau membantunya, dia dan Ok Cin Cu juga tidak berdaya menghadapi tokoh yang mereka kejar-kejar itu. Maka, biar pun hatinya kurang puas karena ia tidak berhasil membunuh musuhnya, terpaksa ia menghentikan pengejarannya.

Ketika Ok Cin Cu pada malam itu menuntut syaratnya, diam-diam Siu Kwi bergidik memandang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan rambut riap-riapan. Tubuhnya yang kurang terjaga kebersihannya itu mengeluarkan bau busuk. Akan tetapi, dengan terpaksa Siu Kwi menyerahkan dirinya kepada tosu gendut itu ketika sang tosu membawanya ke sebuah pondok kecil di luar dusun.

Ia menyerahkan diri sambil mematikan perasaannya. Dengan tingkat kepandaiannya, hal ini tidak sukar ia lakukan. Yang masuk ke dalam ingatannya hanyalah bahwa ia melakukan pengorbanan untuk pria yang dicintanya. Apa pun akan dia lakukan demi keselamatan Yo Jin. Karena apa yang ia lakukan itu tanpa disertai perasaan sedikit pun, maka bagi Ok Cin Cu wanita ini tiada bedanya dengan sesosok mayat saja. Tentu saja hal ini membuat Ok Cin Cu merasa tidak puas dan kecewa, seperti bercinta dengan mayat atau patung dan diam-diam dia pun marah sekali.

Pada keesokan harinya, dua orang tosu itu berjanji bahwa malam berikutnya mereka akan membebaskan Yo Jin.

"Engkau datanglah ke tempat tinggal Lui-thungcu pada tengah malam dan Yo Jin akan kami bebaskan dengan diam-diam agar bisa kau jemput. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati supaya jangan sampai ketahuan oleh keluarga Lui. Biarlah mereka mengira bahwa engkau dan orang-orang lain yang datang membebaskan Yo Jin. Kami akan pura-pura melakukan pengejaran dan mencari," kata Thian Kek Sengjin dan tentu saja Siu Kwi menyetujui dengan hati penuh harapan.

Malam itu cuaca amat gelap. Bulan memang belum waktunya keluar dan sedikit bintang yang nampak kadang-kadang tertutup awan hitam yang lewat di bawahnya. Sebelum tengah malam, Siu Kwi telah berada di luar pagar tembok yang mengelilingi kompleks bangunan tempat tinggal keluarga Lurah Lui. Dengan hati berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan ia menanti sambil merenungkan semua yang telah terjadi semenjak ia berjumpa dengan Yo Jin.

Telah terjadi perubahan besar dalam hidupnya, dimulai sejak ia dan sekutunya kalah dan hancur oleh para pendekar. Akan tetapi perubahan besar baru benar terjadi setelah ia berjumpa dengan Yo Jin. Ia telah berkorban untuk Yo Jin. Di luar kehendaknya ia telah membantu dua orang tosu itu memusuhi pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es. Bahkan di luar kehendaknya ia telah menyerahkan tubuhnya kepada Ok Cin Cu. Kedua hal itu terpaksa ia lakukan karena ia tidak melihat cara lain untuk menyelamatkan Yo Jin yang berada dalam cengkeraman dua orang tosu yang tangguh itu.

Hatinya gembira. Betapa pun juga, pengorbanan itu tidak seberapa berat. Apa artinya menyerahkan badan tanpa perasaan dan hati? Dan ia hanya membantu mengalahkan Suma Ciang Bun. Semua hal itu terlupa karena ia membayangkan betapa gembiranya sebentar lagi ia dapat menyelamatkan dan mengajak pergi Yo Jin. Kemudian dia akan hidup berbahagia bersama pria itu.

Satu-satunya halangan, yaitu ayah Yo Jin, telah tewas pula. Sejak siang tadi ia sudah membayangkan hal ini dan sudah mengatur rencana. Ia hendak mengajak Yo Jin pergi dan hidup di sebuah tempat yang baru di mana tak seorang pun akan mengenalnya. Ia akan hidup sebagai manusia baru di tempat yang baru, bukan sebagai Bi-kwi murid Sam Kwi, melainkan sebagai isteri seorang pria sederhana seperti Yo Jin.

Betapa akan berbahagianya mereka, merawat dan mendidik anak-anak mereka. Anak-anak! Ahhh, belum pernah sebelumnya ia membayangkan tentang rumah tangga, suami dan anak-anak.

Suara berdenting ketika tanda waktu dipukul para penjaga, menciutkan hatinya dan membuatnya sadar dari lamunan. Tengah malam telah tiba! Ia pun mendekati pagar tembok dan setelah merasa yakin bahwa keadaan di situ sunyi saja, ia lalu meloncat ke atas pagar tembok, meneliti sebentar keadaan di sebelah dalam yang ternyata juga sunyi seperti keadaan di luar. Maka ia lalu melompat turun dan menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak menuju ke bagian belakang.

"Kwi-moi... aku di sini...!" Mendengar suara Yo Jin itu, bukan main girang rasa hati Siu Kwi.

"Jin-koko...!" Serunya lirih dengan suara gemetar dan ia pun berlari ke arah suara tadi.

Agaknya pria yang dikasihinya itu berada di belakang pondok yang menjadi kandang kuda, menantinya. Betapa pun gembira dan tegang rasa hatinya, Siu Kwi tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya. Ia berurusan dengan dua orang tosu yang selain tangguh, juga cerdik dan mungkin saja suka bertindak curang, maka dia selalu bersiap siaga.

Kewaspadaan inilah yang menyelamatkannya. Ketika ia sudah melihat bayangan Yo Jin yang berdiri di belakang kandang kuda, dan ia berlari di antara pohon-pohon di kanan kiri, mendadak saja kakinya terlibat tali sehingga ia terguling. Ia meloncat dan kakinya masih terlibat banyak sekali tali yang agaknya ditarik orang.

Karena memang sebelumnya sudah siap siaga, hanya sebentar saja Siu Kwi terkejut dan secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan dengan beberapa kali bacokan saja, tambang-tambang itu sudah putus semua. Untung ia melakukan hal ini karena kalau tidak, tentu tubuhnya akan terlibat semua dan ia tentu tidak akan mampu melawan lagi!

Tiba-tiba keadaan menjadi terang. Obor-obor di nyalakan dan ternyata tempat itu telah dikepung oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin sendiri! Dan di kejauhan, dia melihat betapa Yo Jin dengan kaki tangan terikat, berdiri dan terikat pada sebatang pohon. Tahulah ia bahwa memang dua orang tosu itu telah bersikap curang sekali. Ia sengaja dipancing untuk ditangkap, bukan untuk disuruh menjemput Yo Jin seperti yang sudah dijanjikan. Tentu saja ia menjadi marah sekali dan sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api.

"Tosu-tosu jahanam yang berwatak hina dan rendah!" bentaknya dan ia pun menerjang dengan pedangnya ke arah dua orang tosu itu.

Akan tetapi, banyak sekali tombak panjang menyambutnya dan sebentar saja ia sudah dikepung dan dikeroyok oleh puluhan orang penjaga yang memegang tombak panjang. Dan kini dua orang tosu itu pun menerjang maju sehingga tentu saja Siu Kwi menjadi repot sekali melayani mereka.

Namun, ia mengamuk seperti seekor harimau betina terluka. Pedangnya berkelebatan dan sudah ada beberapa orang penjaga yang roboh mandi darah. Pedang di tangan Siu Kwi sudah berlepotan darah, akan tetapi dia sendiri pun menerima tusukan tombak dan hantaman tongkat berkali-kali. Pundaknya dan paha kirinya terluka, kulitnya robek dan mengucurkan darah. Pipinya bengkak dan punggungnya juga sudah dua kali menerima hantaman tongkat panjang naga hitam di tangan Thian Kek Sengjin.

"Kwi-moi..., larilah..., selamatkan dirimu...!"

Teriakan melengking ini menyadarkan Siu Kwi. Itulah suara Yo Jin dan ia pun sadar bahwa mengamuk terus berarti mencari mati. Dan kalau ia mati di situ, tentu tidak ada harapan lagi bagi Yo Jin. Selain ia seorang, siapa lagi yang akan membela Yo Jin?

Hatinya berdarah jika membayangkan Yo Jin yang belum juga dapat diselamatkannya. Akan tetapi, dia akan terus berusaha, dan untuk itu, dia harus mampu keluar dari kepungan ini lebih dahulu. Maka, tiba-tiba ia menerjang ke belakang dan membalikkan tubuhnya. Karena yang berada di belakangnya hanya para penjaga, mereka itu menjadi panik ketika tiba-tiba dua orang di antara mereka roboh mandi darah.

Terbukalah pengepungan mereka dan Siu Kwi kemudian menerjang ke arah itu. Para pengepung mundur dan keadaan menjadi kacau balau. Dua orang tosu tidak dapat lagi mendesak Siu Kwi karena mereka terhalang oleh para penjaga yang lari ke kanan kiri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Siu Kwi untuk melompat ke luar pagar tembok dan menghilang di dalam kegelapan malam.....

********************

Siu Kwi menangis sesenggukan. Kali ini tangisnya lebih sedih dari pada tangisnya yang pertama kali sebelum ia berjumpa dengan Yo Jin. Selamanya ia tidak pernah menangis dan pertama kali menangis adalah ketika ia merasa kesepian, setelah persekutuannya hancur. Akan tetapi tangisnya sekarang ini sungguh keluar dari dasar hatinya.

Ia menangis sampai terisak-isak dan tersedu-sedan, kadang-kadang menyebut nama Yo Jin. Ia merasa berduka, gelisah, dan menyesal sekali. Bagaimana pun juga, kalau diusut dari semula, ialah yang menjadi gara-gara sampai Yo Jin terpaksa menjadi orang tahanan, bahkan ayahnya tewas dibunuh orang. Jika Yo Jin tidak berjumpa dengannya, tentu dia tidak akan mengalami semua mala petaka ini.

Dan ia sendiri sekarang tidak berdaya sama sekali untuk menyelamatkan Yo Jin. Semua impiannya kemarin kini buyar dan hancur pula, seperti hancurnya semua cita-citanya. Karena kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan ia sendiri sudah menderita luka-luka yang cukup parah, Siu Kwi hanya dapat menangis! Menangis seorang diri di dalam hutan yang sunyi itu.

Pundak dan pahanya masih terluka menganga dan mengeluarkan darah, juga pipinya benjol, bekas pukulan tongkat di punggungnya juga mendatangkan rasa ngilu dan nyeri bukan main. Akan tetapi ia tidak mempedulikan semua itu, tidak peduli akan keadaan dirinya. Yang terpikir olehnya hanyalah Yo Jin!

Dalam keadaan menangis ini, muncullah Siu Kwi sebagai seorang wanita sepenuhnya. Seorang wanita yang normal, mahluk yang lemah dan terbuai perasaan, dan mencari pelarian dari segala derita ke dalam tangis.

Dahulu sekali, tangis merupakan hal yang memalukan baginya, merupakan pantangan karena perbuatan ini dianggapnya memamerkan kelemahan dan cengeng. Akan tetapi sekarang, setelah merasa tidak berdaya dan bingung memikirkan keadaan pria yang dicintanya, yang masih belum mampu ditolongnya, ia pun tak dapat berbuat lain kecuali menangis!

Dan tangisnya ini adalah pencurahan dari semua penderitaan batin yang sejak dahulu selalu ditekan dan ditahannya. Penderitaan batin ketika ia masih kecil kehilangan ayah ibu, ketika dia terpaksa melayani gairah nafsu ketiga orang gurunya, Sam Kwi, yang diterimanya dengan pasrah namun sebenarnya di dasar hatinya timbul pemberontakan yang ditekannya.

Semua himpitan batin itu dulu ia imbangi dengan perbuatan-perbuatan sesat dan kejam sebagai pelariannya. Akan tetapi sekarang, setelah ia melihat betapa kesesatannya tak mendatangkan kebaikan bagi dirinya, setelah dia ingin merubah jalan hidupnya, maka satu-satunya pelarian hanyalah tangis kesedihan.

"Suci...!" tiba-tiba terdengar suara wanita menegurnya.

Siu Kwi mengangkat mukanya yang tadi ditutupi dengan kedua tangannya. Sebuah muka yang membengkak, ujung bibir yang masih berdarah, muka yang basah air mata yang bercucuran dari sepasang mata yang kemerahan. Ketika ia melihat bahwa yang datang menegurnya adalah Bi Lan, Siu Kwi merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk dan ia pun menangis semakin menjadi-jadi sampai mengguguk.

Yang datang itu memang Bi Lan bersama Sim Houw. Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah berhasil menghancurkan komplotan kaki tangan pembesar Hou Seng, dibantu oleh para pendekar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, para pendekar bubaran dan Bi Lan pergi bersama Sim Houw.

Kedua orang muda ini merasa saling tertarik dan terikat satu sama lain, merasa betapa mereka tak mungkin dapat saling berpisah lagi. Memang, selama melakukan perjalanan menuju ke utara, keduanya belum pernah saling mengaku cinta!

Sim Houw yang sudah tahu bahwa dia kini mati-matian jatuh cinta kepada Bi Lan, merasa sungkan untuk mengakui cintanya. Dia jauh lebih tua dari pada Bi Lan. Usianya sudah mendekati tiga puluh lima tahun, sedangkan Bi Lan belum ada dua puluh tahun! Gadis itu pantas menjadi keponakannya!

Meski dia sungguh mencintanya, akan tetapi kalau dia mengaku akan hal itu, bukankah dia akan ditertawakan, bahkan disangka bahwa semua kebaikannya terhadap gadis ini berpamrih? Tidak, dia tidak berani mengaku cinta, walau pun hatinya sudah yakin akan hal itu.

Di lain pihak, Bi Lan sendiri yang masih hijau dalam soal asmara, hanya melihat Sim Houw sebagai seorang pria yang amat baik kepadanya. Dan ia pun merasa amat suka kepada Sim Houw, kagum dan juga bangga dapat mempunyai seorang sahabat seperti pendekar ini. Yang lebih dari segalanya, dia merasa aman tenteram dan selalu penuh kedamaian kalau berada di samping Sim Houw.

Dalam perjalanan mereka ke utara, mereka pada pagi hari ini memasuki hutan dan mereka merasa terheran-heran ketika mendengar isak tangis sampai ke telinga mereka, terbawa angin bersilir. Karena merasa heran dan curiga, menduga bahwa mungkin saja terjadi kejahatan. mereka kemudian mempergunakan ilmu meringankan tubuh, berindap menghampiri tempat dari mana suara itu datang.

Dan dapat dibayangkan betapa heran dan terkejut hati Bi Lan ketika melihat bahwa yang sedang menangis terisak-isak itu adalah Bi-kwi! Karena itu, segera ia memanggil dan kini, setelah suci-nya itu memandang kepadanya, ia melihat keadaan suci-nya yang luka-luka dan mukanya membengkak, dan kini suci-nya menangis semakin menjadi-jadi.

"Suci... kau... kau menangis...?" Bi Lan menghampiri dan menjadi semakin terheran-heran.

Belum pernah ia melihat suci-nya ini menangis, apa lagi menangis sampai sedemikian sedihnya. "Apakah yang telah terjadi, suci?"

Bagaimana juga, di dalam hatinya, Bi Lan merasa kasihan kepada suci-nya, orang yang melatih dan menemaninya sejak dia kecil, walau pun sikap Ciong Siu Kwi terhadapnya juga tak dapat dibilang manis. Juga ia teringat bahwa tanpa pertolongan suci-nya, tentu dirinya telah ternoda oleh Sam Kwi.

Mendengar pertanyaan ini, Siu Kwi menjadi semakin berduka. Akan tetapi, ia segera teringat, bahwa jika sumoi-nya ini mau membantu, tentu ia akan dapat menyelamatkan Yo Jin! Timbul lagi harapannya, akan tetapi karena khawatir kalau-kalau Bi Lan menolak permintaan tolongnya, ia pun menjadi semakin berduka.

"Sumoi... jangan dekati aku kalau engkau tidak mau ketularan segala kesialan yang menimpa diriku... ahh, rasanya aku ingin mati saja, sumoi...," katanya sambil mengusap air mata dari kedua pipinya.

Ia pun memandang ke arah Sim Houw yang berdiri tidak jauh dari situ. Apa lagi kalau orang she Sim itu mau membantunya, sudah dapat dipastikan bahwa Yo Jin tentu dapat diselamatkan!

"Suci, sungguh aku merasa heran sekali melihat engkau dapat berduka cita seperti ini. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Aku melihat engkau menderita luka-luka. Apakah engkau berkelahi?"

Siu Kwi menarik napas panjang untuk menghentikan tangisnya. "Aku tidak tahu apakah kemunculanmu ini akan merupakan pertolongan bagiku atau tidak, sumoi. Akan tetapi, biarlah kuceritakan semua kepadamu..." Ia kembali menarik napas panjang.

Bi Lan kini duduk di atas rumput, di dekatnya sedangkan Sim Houw duduk di atas batu. Agaknya pendekar itu pun tertarik untuk mendengarkan ceritanya yang membuat dia sampai menangis sedemikian sedihnya.

"Sumoi, setelah kau membiarkan aku pergi, baru aku merasa betapa sunyi dan merana hidupku, baru aku sadar betapa semua kesesatan yang telah memenuhi hidupku yang lalu tidak pernah mendatangkan kebahagiaan kepadaku. Engkau benar, sumoi, engkau tidak mau mengikuti jejak tiga orang suhu kita yang sesat. Aku ingin merubah hidupku, dan dalam kesadaranku itu, bertemulah aku dengan seorang pemuda petani yang bodoh serta sederhana dan lemah…"

Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Yo Jin, betapa kemudian muncul tiga orang pemuda berandalan yang hendak mengganggunya, dan betapa Yo Jin, pemuda dusun yang lemah dan bodoh itu membelanya mati-matian.

"Bayangkan saja, sumoi! Dia yang lemah dan bodoh, rela dikeroyok dan dipukuli sampai babak-belur, hanya untuk membela aku yang tak dikenalnya. Betapa gagahnya dia! Dan aku... aku pun jatuh cinta kepadanya, sumoi..." Kembali Siu Kwi menangis.

Bi Lan memandang suci-nya dengan mata terbelalak. Aneh sekali mendengar cerita dan pengakuan suci-nya ini. Biasanya, suci-nya mempermainkan pria sesuka hatinya. Pria-pria itu dianggap boneka saja olehnya, atau binatang peliharaan yang dianggap sebagai penghibur. Akan tetapi sekarang, terang-terangan suci-nya mengaku jatuh cinta kepada seorang pemuda dusun yang sederhana, bodoh dan lemah!

"Semua pengorbanannya untuk diriku itu membawa akibat yang amat mencelakakan baginya. Ayahnya sampai terbunuh orang, dan dia sendiri sekarang menjadi tawanan..." Siu Kwi menceritakan semua hal yang telah terjadi dengan nada suara sedih sekali.

"Aku telah berusaha untuk menyelamatkannya, untuk membebaskannya. Akan tetapi, dua orang tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw itu masih terlalu tangguh bagiku. Bahkan mereka sudah menipuku. Mereka berjanji membebaskan Yo Jin kalau aku mau bekerja sama. Thian Kek Sengjin minta aku untuk membantunya melawan dan mengalahkan pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es. Hal ini telah kulakukan dan pendekar itu dapat dikalahkan sampai melarikan diri. Kemudian aku pun memenuhi permintaan Ok Cin Cu untuk melayaninya dan tidur bersamanya selama satu malam. Semua ini kulakukan dengan pemaksaan diri, di luar kemampuanku demi untuk menolong Yo Jin. Akan tetapi, mereka berdua menipuku, tidak memenuhi janji, bahkan aku dikeroyok banyak orang malam tadi sampai nyaris tewas dan menderita luka-luka inilah. Aku hampir putus asa, sumoi. Tidak mengapalah aku mati asal Yo Jin selamat..."

Bi Lan saling pandang dengan Sim Houw. Hampir ia tidak dapat percaya akan cerita suci-nya itu. Ia sudah terlalu mengenal suci-nya sehingga cerita itu seperti tidak masuk akal!

"Suci, sekarang yang terpenting adalah mengobati luka-lukamu dahulu. Luka di pundak dan pahamu itu cukup lebar, dan aku melihat engkau seperti menderita luka dalam pula. Biarlah kami membantu mengobatimu, suci."

"Tidak! Tidak perlu aku diobati kecuali kalau... ahhh, mana mungkin pula kalian suka membantuku?" Dan tiba-tiba Siu Kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan sumoi-nya! "Sumoi, aku mohon padamu, kau bantulah aku menyelamatkan Yo Jin..."

Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut setengah mati dan cepat-cepat ia memegang kedua pundak suci-nya, membangunkannya kembali.

"Hal itu nanti kita bicarakan, suci. Sekarang biarlah kami mengobatimu dulu..."

"Tidak, sumoi. Jika engkau tidak mau berjanji untuk membantuku menghadapi dua tosu jahanam itu dan menyelamatkan Yo Jin, aku pun tidak perlu diobati dan biarlah aku mati saja."

Bi Lan kembali menoleh dan memandang kepada Sim Houw. Ia masih saja meragukan kebenaran ucapan suci-nya ini, akan tetapi Sim Houw mengangguk. Pendekar itu dapat melihat bahwa tidak mungkin Siu Kwi berbohong. Apa lagi ketika mendengar bahwa kedua lawan Siu Kwi adalah tosu-tosu dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, tentu saja hatinya condong untuk membantu bekas suci Bi Lan ini. Tentang benar tidaknya cerita Ciong Siu Kwi, hal itu dapat diselidiki nanti.

"Baiklah, suci. Aku berjanji untuk membantumu, akan tetapi dengan syarat bahwa apa yang kau ceritakan semua tadi adalah benar."

Siu Kwi menarik napas panjang dan mengangguk. "Aku mengerti dan tak menyalahkan jika engkau masih meragukan kejujuranku, sumoi, Akan tetapi engkau pun tentu belum yakin benar akan keputusanku untuk merubah cara hidupku. Aku telah bertemu dengan pria yang kucinta sepenuh jiwaku, dan aku melakukan apa saja demi untuk dia. Kalau ceritaku tidak benar, boleh engkau mengundurkan diri."

"Sekarang, yang terpenting mengobati luka-lukamu, suci."

Siu Kwi menurut dan tiba-tiba dia merintih. Baru sekarang dia merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri, luka-luka itu perih dan panas, di dalam dadanya juga terasa nyeri dan tenaganya hampir habis! Kini, setelah ia merasa mendapatkan bala bantuan, baru ia merasakan semua kenyerian ini.

Bi Lan dan Sim Houw lalu merawat Siu Kwi. Dengan obat luka Siu Kwi sendiri yang sangat manjur, luka di paha dan pundaknya dicuci oleh Bi Lan dan diobati lalu dibalut, sedangkan untuk menyembuhkan luka di dalam dada akibat guncangan pukulan tongkat pada punggungnya, ia dibantu oleh Sim Houw yang menempelkan telapak tangan di punggungnya untuk membantu wanita itu menghimpun tenaga dalam dan memulihkan kesehatannya.

Menjelang senja, sembuhlah Siu Kwi. Tubuhnya yang terlatih memang kuat, ditambah lagi semangatnya yang kini besar dan menyala-nyala akibat timbulnya harapan dalam hatinya untuk menyelamatkan Yo Jin. Dan pada malam hari itu juga Siu Kwi mengajak Bi Lan dan Sim Houw untuk membantunya membebaskan Yo Jin.

Bi Lan memang tadi sudah berunding mengenai hal ini, maka Bi Lan pun lalu berkata kepada bekas suci-nya itu. "Suci, bukan hanya karena kurang penuh kepercayaan kami kepadamu, akan tetapi bagaimana pun juga, kami tidak mau bertindak secara sembrono dan melibatkan diri dalam permusuhan, pada hal kami tak mempunyai urusan apa-apa. Oleh karena itu, kami mau saja kau ajak pergi ke dusun itu, hanya saja tidak bertindak sebagai perampas tawanan, melainkan secara damai."

"Maksudmu bagaimana? Apa pun tindakan yang akan kalian ambil untuk membantuku, terserah. Bagiku yang terpenting adalah keselamatan Yo Jin."

Diam-diam Bi Lan merasa terharu. Bukan main hebatnya cinta kasih suci-nya terhadap pria yang bernama Yo Jin itu. Dan ia mulai percaya bahwa semua cerita suci-nya itu tidak bohong.

"Kami akan ikut bersamamu menemui lurah Lui dan kedua orang tosu itu. Kita minta dengan baik-baik saja supaya Yo Jin itu dibebaskan. Kemudian kita lihat bagaimana perkembangannya. Kalau perlu, tentu saja kami akan membantumu membebaskan dia dengan jalan kekerasan, tentu saja setelah kami pertimbangkan urusannya."

Siu Kwi mengangguk-angguk. "Aku tak menyalahkan kalian jika meragukan kebenaran omonganku. Marilah kita berangkat dan kalian lihat sendiri."

Mereka lalu berangkat menuju ke dusun timur itu, ke tempat lurah Lui di mana Yo Jin ditahan, di bawah pengawasan dua orang tosu yang tangguh. Tidak seperti malam kemarin, malam itu terdapat penjagaan yang ketat sehingga begitu mereka tiba di dusun itu saja, para penjaga sudah melihat dan segera mengenal Siu Kwi. Karena merasa jeri menghadapi wanita itu, para penjaga itu cepat-cepat berlari ke rumah lurah Lui dan melaporkan munculnya ‘siluman’ itu.

Juga para penduduk dusun itu, yang juga sudah mendengar akan adanya siluman yang mengamuk di rumah lurah mereka, kini menjadi ketakutan dan cepat-cepat mereka bersembunyi dan menutup semua jendela dan pintu rumah mereka ketika mendengar teriakan para penjaga yang berlarian bahwa siluman itu muncul kembali.

Demikianlah, ketika Siu Kwi, Bi Lan dan Sim Houw tiba di depan pekarangan rumah lurah Lui, mereka sudah disambut oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh dua orang tosu itu. Banyak obor dinyalakan sehingga keadaan menjadi terang sekali.

Pada saat Thian Kek Sengjin dan Ok Cin Cu melihat bahwa Siu Kwi datang bersama seorang gadis muda yang cantik sekali dan seorang laki-laki yang sikapnya sederhana, mereka berdua memandang rendah. Siu Kwi sudah terluka, pikir mereka dan dua orang temannya itu tidak mungkin memiliki kelihaian melebihi Siu Kwi. Pula, di situ terdapat puluhan orang penjaga yang membantu.

"Heh-heh, Bi-kwi, siluman jahat. Engkau berani muncul kembali, apakah engkau ingin menyerahkan nyawamu?" Thian Kek Sengjin berkata sambil melintangkan tongkat naga hitamnya.

"Ha-ha-ha, barangkali engkau rindu pada pinto, nona manis?" kata si gendut Ok Cin Cu.

Siu Kwi menahan gejolak kemarahan yang memenuhi hatinya. Lebih dulu ia harus bisa meyakinkan sumoi-nya dan Sim Houw akan kebenaran ceritanya. "Thian Kek Sengjin dan Ok Cin Cu, aku datang ke sini untuk bicara dengan kalian secara baik-baik. Kenapa kalian berkeras hendak menahan Yo Jin? Dia tidak mempunyai kesalahan apa pun. Dia membelaku ketika Lui-kongcu hendak kurang ajar..."

"Dia ditangkap karena berani kurang ajar memukul Lui-kongcu!" kata Ok Cin Cu.

"Akan tetapi Lui-kongcu yang kurang ajar dan lebih dahulu menyerangnya. Urusan itu amat kecil, akan tetapi kalian sudah memukul ayahnya sampai tewas. Dan kalian masih belum puas. Kalian membujuk aku untuk membantu Thian Kek Sengjin mengalahkan Suma Ciang Bun pendekar keluarga Pulau Es, kemudian Ok Cin Cu bahkan memaksa aku melayaninya selama satu malam, dan kalian berjanji akan membebaskan Yo Jin. Aku telah memenuhi semua permintaan kalian, melakukan hal itu semua. Akan tetapi kalian telah melanggar janji, tidak membebaskan Yo Jin, bahkan menjebak dan hendak menangkap aku. Ji-wi totiang, sebagai pendeta, tosu dan tokoh-tokoh kang-ouw, apa kalian tidak malu atas perbuatan kalian itu? Maka malam ini aku datang untuk minta dengan baik-baik agar Yo Jin cepat dibebaskan, dan aku pun tak akan memperpanjang urusan ini."

Kedua orang tosu itu tertawa bergelak dan para penjaga juga turut pula tertawa. Riuh rendah suara ketawa mereka dan barulah kebisingan itu berhenti sesudah Thian Kek Sengjin bicara. "Bi-kwi siluman jahat! Engkau adalah pecundang kami, masih berani datang untuk mengajukan tuntutan? Apakah karena kini engkau membawa dua orang temanmu ini? Kami tidak takut dan kalian bertiga tentu tidak akan dapat lolos dari pengepungan kami!"

Lega rasa hati Siu Kwi. Dia sudah membeberkan semua persoalan dalam tuntutannya tadi dan dia pun menoleh kepada Bi Lan dan Sim Houw, "Sumoi dan Sim-taihiap, kurasa sudah cukup aku bicara."

Sim Houw melangkah maju menghadapi dua orang tosu itu.

"Ji-wi totiang," katanya halus. "Benarkah apa yang telah dikatakan oleh nona Ciong tadi, bahwa orang she Yo itu kalian tahan tanpa bersalah, dan kalian telah mengingkari janji terhadap nona Ciong?"

"Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami!" bentak Ok Cin Cu marah.

"Kalau benar, engkau mau apa?!" Thian Kek Sengjin juga membentak.

"Sim-toako, jelas bahwa suci yang benar. Dua orang tosu bau ini memang jahat sekali!" Bi Lan berseru marah.

"Kepung, tangkap atau bunuh mereka bertiga ini!" bentak Thian Kek Sengjin memberi aba-aba kepada para penjaga yang memang sudah mengepung tempat itu.

"Kalau benar ji-wi adalah Thian Kek Sengjin ketua cabang Pek-lian-kauw dan Ok Cin Cu ketua cabang Pat-kwa-kauw, maka perbuatan ji-wi ini sungguh patut disesalkan dan amat tercela!" kata pula Sim Houw yang nampak tenang saja walau pun para penjaga sudah bergerak mengepung dengan sikap mengancam.

"Bocah sombong! Kepung dan tangkap, biarkan nona manis yang baru datang ini pinto sendiri yang menangkapnya!" bentak Ok Cin Cu.

"Nanti dulu!" Thian Kek Sengjin memberi komando pada anak buahnya. "Pinto merasa penasaran melihat kesombongan bocah ini. Orang muda, siapakah engkau? Pinto tidak ingin membunuh orang yang tanpa nama."

Sebelum Sim Houw menjawab, Siu Kwi sudah mendahului. "Dia adalah pendekar Sim Houw, Pendekar Suling Naga! Dan ini adalah sumoi-ku Can Bi Lan!"

Mendengar disebutnya nama Pendekar Suling Naga, dua orang tosu itu saling pandang. Mereka pernah mendengar akan munculnya seorang pendekar baru yang lihai. Akan tetapi mereka tidak merasa takut dan sambil berteriak nyaring, Thian Kek Sengjin sudah menggerakkan tongkat naga hitamnya menyerang ke arah Sim Houw, sedangkan Ok Cin Cu yang memandang rendah Bi Lan yang diperkenalkan sebagai sumoi dari Siu Kwi, sudah menubruk dengan tongkat ular naga menotok jalan darah di pundak Bi Lan, sedang tangan kirinya mencengkeram ke arah dada. Serangan ini amat kurang ajar sifatnya sehingga dengan marah Bi Lan lalu mengelak sambil mencabut pedangnya.

Melihat sinar mengerikan dari pedang yang berada di tangan Bi Lan, Ok Cin Cu terkejut dan bergidik. Akan tetapi dia tidak menjadi takut dan cepat menggerakkan tongkat ular hitamnya untuk menyerang. Bi Lan menangkis dan balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka.

Ok Cin Cu tidak berani memandang rendah lagi. Gadis yang menjadi sumoi dari Ciong Siu Kwi ini memiliki pedang pusaka amat menggiriskan, juga gerakan-gerakannya tidak kalah cepat dibandingkan suci-nya.

Sementara itu, serangan tongkat naga hitam dari Thian Kek Sengjin juga amat dahsyat, membuat Sim Houw maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh. Terpaksa dia pun mencabut pedangnya. Ketika pedang itu tercabut, terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan pula hati Thian Kek Sengjin. Di antara kedua orang ini pun segera terjadi perkelahian yang seru.

Melihat betapa dua orang tosu itu sudah dilawan oleh sumoi-nya dan Sim Houw, Siu Kwi lalu mengamuk, menerjang puluhan orang penjaga yang mengepung. Amukannya memang menggiriskan dan sebentar saja sudah ada delapan orang pengeroyok yang roboh oleh pedangnya. Yang lain menjadi gentar dan Siu Kwi terus menerjang maju dan mendesak para pengeroyok untuk mundur.

Akhirnya dia berhasil memasuki pekarangan, terus dia meloncat ke dalam dan lari ke bagian belakang bangunan rumah keluarga Lui. Di bagian belakang, dia disambut oleh enam orang penjaga. Tetapi, dengan mudah ia merobohkan lima orang dan menangkap seorang yang hendak melarikan diri.

"Cepat bawa aku ke kamar tahanan Yo Jin!" bentaknya sambil menempelkan ujung pedang di dada orang itu.

Pedang itu menembus baju dan menusuk kulit sehingga kulitnya terluka. Tentu saja penjaga itu terkejut dan ketakutan, mengangguk-angguk dan dengan ditodong pedang dia membawa Siu Kwi ke belakang.

Akhirnya Siu Kwi menemukan Yo Jin yang duduk bersandar dinding di dalam sebuah kamar tahanan. Siu Kwi menampar penjaga itu dengan tangan kirinya. Tanpa mengeluh lagi penjaga itu roboh dan Siu Kwi mempergunakan pedangnya untuk menjebol daun pintu kamar tahanan.

"Kwi-moi akhirnya engkau datang...!" Yo Jin berseru girang.

"Jin-koko...!"

Ingin Siu Kwi merangkul orang itu, namun perasaan ini ditahannya. Dia pun melepaskan belenggu kaki dan tangan pemuda itu. Baru beberapa hari saja ditahan, tubuh pemuda ini menjadi kurus sekali dan mukanya pucat.

"Jin-koko, engkau lebih baik pulang dulu ke dusun, biar aku akan menyusul ke sana setelah selesai urusan ini!" katanya cepat. Ia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan ditawan musuh lagi ketika ia sedang mengamuk bersama sumoi-nya dan Sim Houw.

"Tapi kau... kau..."

"Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri. Pulanglah, koko, aku akan menyusul nanti."

Yo Jin mendengar suara ribut-ribut orang berkelahi di luar, maka dia pun mengangguk dan tidak membantah lagi ketika tangannya ditarik okh Siu Kwi, diajak menuju ke kebun. Dua orang penjaga berusaha menghadang, namun dengan tendangan kakinya, Siu Kwi merobohkan mereka.

"Cepat, keluarlah dari pintu ini!" kata Siu Kwi dan sekali dorong, pintu kecil di kebun itu pun jebol.

Melihat kehebatan wanita ini, Yo Jin beberapa kali terbelalak. Dia maklum bahwa wanita yang dicintanya ini adalah seorang wanita sakti, maka tanpa bicara apa-apa lagi dia pun lari keluar dan cepat pulang ke rumahnya di dusun selatan.

Setelah melihat kekasihnya itu menghilang dalam kegelapan malam, Siu Kwi melompat kembali ke dalam kebun, lantas berlari ke dalam rumah. Para pelayan ketakutan, dan dengan mudah Siu Kwi menemukan kepala dusun Lui lengkap beserta isteri-isteri dan anak-anaknya di dalam ruangan belakang. Mereka terjaga oleh belasan orang penjaga, namun setelah ia menyerbu dan merobohkan empat orang, yang lain lalu melarikan diri meninggalkan keluarga itu yang berkelompok sambil menggigil ketakutan.

Lurah Lui dan keluarganya sudah mendengar bahwa Siu Kwi yang dituduh siluman itu sebenarnya adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi, dan hanya kedua orang tosu tua itu saja yang mampu menundukkannya. Namun malam ini wanita itu datang bersama dua orang teman yang juga amat lihai dan kini ‘siluman’ itu telah datang dan menemukan mereka!

Siu Kwi masuk dengan pedang di tangan. Melihat betapa pedang itu berlepotan darah, dan wajah yang cantik itu nampak beringas, sepasang matanya seperti mencorong, lurah Lui dan keluarganya menjadi pucat.

Siu Kwi menyapu mereka dengan pandang matanya, lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Lui-kongcu yang mencoba untuk menyembunyikan kepalanya di belakang punggung ibunya.

"Lui-kongcu, ke sini kau!" bentaknya.

"Tidak... tidak...!" Pemuda itu menggigil ketakutan.

"Ke sini atau akan kuseret dan kubunuh kau!"

Pemuda itu hampir terkencing di celananya saking takutnya, akan tetapi mendengar bentakan itu dia lalu merangkak maju dan berlutut di depan Siu Kwi.

"Engkau juga ke sini, lurah Lui!" bentak Siu Kwi.

Lurah Lui bangkit berdiri dan maju. Dengan congkak akan tetapi pucat dia tetap berdiri, tidak berlutut seperti puteranya. Bagaimana pun juga, dia adalah kepala dusun itu dan sudah biasa orang-orang berlutut di depannya, bukan dia yang harus berlutut.

Siu Kwi tidak peduli akan sikap itu. "Kalian berdua yang membikin gara-gara sehingga Yo Jin ditahan dan ayahnya tewas. Kalian berdua yang membuat aku menderita pula. Pertama-tama adalah gara-gara Lui-kongcu ini yang menjadi biang keladinya. Sudah sepatutnya jika aku memenggal kepalamu sekarang juga!" Siu Kwi lalu mengelebatkan pedangnya.

"Ampun... ampun... tidak... jangan bunuh aku... aku tidak berani lagi!" Kali ini Lui-kongcu benar-benar terkencing di celananya.

Melihat ini, Siu Kwi memandang muak. Alangkah jauh bedanya pemuda ini dengan Yo Jin, pemuda pilihannya. Pemuda ini seperti seekor anjing penakut yang takut digebuk, sebaliknya Yo Jin seperti seekor harimau yang pantang menyerah.

"Engkau telah membuat Yo Jin tersiksa, dan engkau laki-laki mata keranjang penggoda wanita dengan mengandalkan kedudukan ayahmu!" Tiba-tiba nampak sinar berkelebat.

Lui-kongcu menjerit dan darah muncrat. Ketika pemuda itu melihat bahwa lengan kirinya buntung sebatas siku dan darah muncrat-muncrat, dia menjerit-jerit dan lari kepada ibunya, lalu menangis menggerung-gerung dan jatuh pingsan.

Melihat ini, mendadak kedua kaki lurah Lui menjadi lemas dan dia pun roboh berlutut karena kedua lututnya seperti kehilangan tenaga.

"Ampun, lihiap... ampunkan kami...," ratapnya.

Keluarganya semua berlutut minta-minta ampun. Melihat keluarga lurah itu, hati Siu Kwi menjadi agak lemah, hal yang baru sekarang ia alami.

"Baik, aku takkan membunuhmu. Akan tetapi engkau telah menggunakan kedudukanmu untuk bertindak sewenang-wenang, memperalat pendeta-pendeta palsu dan jahat untuk menghina orang, maka engkau harus diberi pelajaran!" kembali pedangnya berkelebat dan lurah Lui menjerit kesakitan karena kaki kanannya terbabat buntung sampai lutut! Kembali darah muncrat-muncrat dan ketika semua orang menjerit ketakutan, wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Di luar, perkelahian masih berlangsung dengan seru. Tetapi, Ok Cin Cu sudah bermandi keringatnya sendiri. Gerakan lawan yang hanya seorang gadis muda itu memang luar biasa sekali dan terutama sekali pedang di tangan wanita itu membuat dia kadang-kadang menggigil.

Bi Lan memang sudah memainkan ilmu pedang Ban-tok Kiam-sut dan karena ilmu itu dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam, maka bukan main hebatnya. Dia menyerang dengan sungguh-sungguh. Ia merasa sakit hati dan benci sekali mengingat betapa tosu ini telah menipu suci-nya, membujuk suci-nya melayaninya dan menyerahkan tubuhnya untuk menebus keselamatan Yo Jin.

Sakit hatinya mengingat akan hal ini dan kebenciannya terhadap tosu tinggi besar perut gendut ini pun memuncak. Maka dia menyerang untuk membunuh sehingga gerakan-gerakannya membuat tosu itu kalang kabut.

Di lain pihak, Sim Houw juga mendesak lawannya dengan hebat. Kalau pemuda ini menghendaki, sudah sejak tadi dia mampu merobohkan dan membunuh lawan. Akan tetapi, Sim Houw tidak ingin membunuh. Dia tahu bahwa ketua cabang Pek-lian-kauw ini berwatak buruk dan jahat sekali, suka melakukan hal-hal terkutuk di balik topeng perjuangan melawan pemerintah penjajah.

Akan tetapi, dia tidak ingin membunuh, hanya ingin memberi peringatan saja. Ketika dia melihat betapa serangan-serangan Bi Lan merupakan serangan-serangan maut yang amat berbahaya bagi ketua cabang Pat-kwa-kauw, dia terkejut.

"Lan-moi, jangan membunuh orang...!" teriaknya memperingatkan.

Pada saat itu terdengar suara keras dan tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu patah menjadi dua, sedangkan sinar pedang Ban-tok-kiam masih terus menyambar ke arah leher kakek gendut itu!

Untung bahwa Bi Lan masih mendengar teriakan Sim Houw dan dia memang patuh sekali terhadap pemuda ini. Dia tahu bahwa sekali saja tergores Ban-tok-kiam, akan sukarlah menyelamatkan nyawa kakek gendut itu, maka ia menyelewengkan pedangnya ke samping, dan berbareng jari tangan kirinya menusuk ke depan.

"Crotttt...!"

Mata kanan Ok Cin Cu tertembus jari tangan Bi Lan. Kakek itu mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting keras.

Saat itu, pedang suling naga mengeluarkan lengking tinggi dan terdengar suara keras ketika tongkat naga hitam juga patah menjadi tiga potong. Pedang itu masih terus menyambar dan pergelangan tangan kiri Thian Kek Sengjin terbabat putus. Kakek ini pun menjerit dan melompat jauh ke belakang.

Mereka berdua cepat-cepat menotok dan mengurut jalan darah masing-masing untuk menghentikan keluarnya darah dari luka, dan tanpa bicara apa-apa lagi keduanya lalu meloncat dan melarikan diri dari tempat itu. Melihat betapa dua orang tosu itu melarikan diri, para penjaga juga menjadi ketakutan dan menjauhkan diri.

Pada saat itulah Siu Kwi muncul. "Di mana mereka?" tanyanya ketika ia tidak melihat adanya dua orang tosu itu.

"Kami sudah memberi hajaran dan mereka melarikan diri," kata Bi Lan, lega bahwa Sim Houw memberi peringatan pada saat yang tepat sehingga ia tidak perlu membunuh tosu yang menjadi lawannya tadi.

Lega rasa hati Siu Kwi. Kedua orang tosu itu memang jahat, akan tetapi ia pun tidak memiliki nafsu untuk membunuh mereka. "Sudahlah, terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa bantuan kalian, tak mungkin aku dapat membebaskan Yo Jin."

"Di mana ia sekarang...?" tanya Bi Lan yang ingin sekali melihat bagaimana macamnya pemuda yang dapat merobohkan hati suci-nya yang tadinya dianggap tidak mempunyai hati itu.

"Aku tadi telah membebaskannya dan menyuruhnya pulang ke dusunnya lebih dahulu, baru aku akan menyusulnya."

"Aih, suci, kenapa begitu saja membiarkan dia pergi sendiri? Bagaimana kalau sampai dia tertangkap musuh lagi?" kata Bi Lan. "Mari kita cepat pergi menyusulnya."

Bi Lan hanya menggunakan dugaan ini sebagai alasan agar ia bisa ikut pergi menyusul karena ia sungguh ingin sekali bertemu dengan pemuda itu. Penasaran.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner