SULING NAGA : JILID-38


"Baik, mari kita pergi," kata Siu Kwi dan mereka bertiga lalu berlari cepat menuju ke dusun selatan.

Sim Houw diam-diam tersenyum. Ia dapat mengetahui bahwa Bi Lan ingin melihat orang yang mampu menundukkan hati seorang wanita seperti Ciong Siu Kwi, yang tadinya terkenal sebagai Bi-kwi yang kejam dan jahat bukan main. Dia pun tidak mengeluarkan pendapatnya karena dia harus membuktikan bahwa semua peristiwa yang diceritakan Siu Kwi itu benar dan hal ini baru terbukti kalau dia sudah bertemu dengan orang yang bernama Yo Jin itu.

Jika semua ini benar, tak percuma dia membantu Siu Kwi dan menanam permusuhan baru dengan pihak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Bagi seorang pendekar sejati, yang terpenting adalah bahwa setiap tindakannya berdasarkan membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan kelaliman. Tidak peduli untuk perbuatannya itu dia akan dibenci atau dimusuhi orang, karena yang jelas, mereka yang memusuhinya tentu bukanlah orang baik-baik.

Dengan cepat tiga orang itu telah tiba di dusun selatan dan langsung mereka pergi ke rumah keluarga Yo. Namun rumah itu kosong dan Yo Jin tidak berada di situ. Dengan hati khawatir Siu Kwi lalu bertanya kepada para tetangga dan mendengar bahwa tadi pemuda itu telah pulang, tetapi begitu mendengar dari para tetangga bahwa ayahnya telah meninggal dunia, pemuda itu berlari keluar lagi sambil menangis.

"Ahhh, kasihan Jin-koko...," kata Siu Kwi dengan hati terharu. “Aku tahu, ia pasti pergi mengunjungi kuburan ayahnya..."

Dan mereka pun lalu keluar dari dusun itu, menuju ke sebuah tanah kuburan yang amat sunyi karena letaknya di luar kota, di kaki sebuah bukit. Benar saja, mereka menemukan Yo Jin sedang berlutut dan menangis di depan sebuah kuburan yang masih baru.

"Jin-ko...!" Siu Kwi berseru memanggil.

Pemuda itu bangkit, membalikkan tubuh dan dua orang itu saling pandang dalam cuaca yang remang-remang oleh karena malam itu hanya diterangi oleh bintang-bintang yang bertaburan di langit hitam.

"Kwi-moi...!" Suara pemuda itu terdengar parau karena lama dia tadi menangis.

"Jin-koko...!"

Siu Kwi melangkah maju dan entah siapa yang bergerak lebih dahulu, keduanya saling rangkul dan keduanya terisak menangis!

Bi Lan berdiri bengong. Benarkah wanita yang menangis di dada laki-laki itu suci-nya? Benarkah ia Bi-kwi yang biasanya demikian kejam dan keras hati? Terdengar Sim Houw batuk-batuk untuk menyadarkan dua orang yang sedang dilanda keharuan itu bahwa di situ hadir lain orang!

Suara batuk itu menyadarkan mereka dan keduanya melepaskan rangkulan.

"Kwi-moi, ayah... ayahku..."

"Tenanglah, Jin-ko. Ayahmu telah meninggal dunia dengan tenang. Ia menghembuskan napas terakhir dalam rangkulanku."

"Ahh, Kwi-moi, apakah yang telah terjadi? Ceritakanlah..."

"Mari kita duduk dengan tenang dan aku akan menceritakan semuanya, Jin-ko."

"Kita duduk di dekat makam..."

"Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Jin-ko, dan bicara di rumah?"

"Tidak, malam ini aku tidak akan meninggalkan makam ayah."

"Biar aku membuat api unggun," tiba-tiba Bi Lan berkata dan dibantu oleh Sim Houw, ia mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di dekat makam.

Yo Jin agaknya baru sadar bahwa wanita yang dicintanya itu datang bersama dua orang lain. "Kwi-moi, siapakah mereka ini?"

"Mari kita duduk dekat api unggun dan kuperkenalkan kau pada mereka, Jin-ko. Tanpa adanya bantuan mereka, sampai sekarang pun kita belum dapat berkumpul kembali."

Mereka berempat lalu duduk di dekat makam, dan mereka mengelilingi api unggun yang dibuat oleh Bi Lan dan Sim Houw. Yo Jin duduk di dekat Siu Kwi, berhadapan dengan Bi Lan yang duduk di dekat Sim Houw. Mereka sejenak saling berpandangan.

Diam-diam Bi Lan harus mengakui bahwa laki-laki pilihan suci-nya itu biar pun nampak berpakaian sederhana, memiliki pandang mata yang jujur dan polos, wajah yang bersih dan cukup ganteng biar pun kesederhanaan dan keluguan membayangkan kebodohan. Dan biar pun pemuda ini seorang lemah, dalam arti tidak mengenal ilmu silat, namun bentuk tubuhnya jantan dan kokoh kuat karena terbiasa bekerja berat di ladang.

Betapa pun juga, sampai saat itu Bi Lan masih belum dapat mengerti dan masih amat terheran-heran memikirkan bagaimana suci-nya dapat jatuh cinta pada seorang pemuda tani sederhana seperti ini. Pada hal kalau ia menghendakinya, suci-nya dapat memiliki pemuda-pemuda terbaik dari kota, putera bangsawan atau hartawan atau malah putera ahli-ahli silat kenamaan sekali pun. Suci-nya cantik jelita, mempunyai ilmu kepandaian tinggi, cerdik dan pendeknya, memiliki segala-galanya untuk dapat menarik hati laki-laki mana pun.

"Jin-ko, mereka berdua ini yang telah membantuku untuk membebaskanmu. Gadis ini bernama Can Bi Lan. Ia adalah sumoi-ku sendiri walau pun tingkat ilmu kepandaiannya jauh melebihiku. Dan pendekar ini adalah Pendekar Pedang Suling Naga bernama Sim Houw, seorang tokoh persilatan yang bernama besar dan terkenal sekali."

Yo Jin dengan secara sederhana, hanya memberi hormat sambil duduk ke arah mereka, berkata lantang, "Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan ji-wi yang mulia, dan semoga Thian yang akan membalas segala budi kebaikan ji-wi."

Diam-diam Sim Houw kagum juga. Seorang pemuda dusun, petani yang bodoh dan mungkin buta huruf, namun mengerti akan tata susila dan kesopanan, mengenal budi walau pun pernyataan terima kasihnya itu sederhana saja.

"Saudara Yo Jin, harap jangan sungkan. Tidak ada istilah melepas budi di antara kita," kata Sim Houw. "Engkau sendiri, walau pun tidak mempunyai keahlian silat telah berani membela nona Ciong, bahkan untuk semua itu selain engkau menderita dan menjadi tawanan, juga ayahmu berkorban nyawa. Dibandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan itu, perbuatan kami tidak ada artinya."

Mendengar ucapan Sim Houw, diam-diam hati Siu Kwi merasa kagum sekali. Baru kini ia melihat dan mendengar sendiri akan sikap seorang pendekar yang rendah hati. Dulu, tiga orang gurunya, Sam Kwi, selalu menekankan kepadanya bahwa para pendekar adalah manusia-manusia sombong yang selalu memusuhi golongan mereka.

Juga dia merasa senang bukan main mendengar betapa Yo Jin dipuji-puji. Tanpa dia sadari duduknya semakin mendekat pemuda dusun itu dan pandang matanya penuh kebanggaan dan cinta kasih ketika ia menatap wajah di sampingnya itu yang diterangi cahaya api unggun.

"Jin-koko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling hebat yang pernah kukenal. Dia sudah mengorbankan dirinya, bahkan kehilangan ayahnya, untuk membelaku. Berkali-kali dia membelaku mati-matian. Sungguh aku telah berhutang budi padanya, berhutang nyawa. Mulai detik ini, aku tak akan mau berpisah darinya, sampai mati... aku akan mendampinginya sebagai isterinya... karena aku... aku cinta padanya."

Bagi Sim Houw dan Bi Lan yang telah mengenal Siu Kwi, ucapan yang terang-terangan ini tidak mengherankan, akan tetapi wajah Yo Jin menjadi merah padam dan ia merasa malu bukan main. Akan tetapi kejujurannya melenyapkan perasaan malu itu, dan dia pun hendak menumpahkan isi hatinya secara blak-blakan, selagi di situ ada dua orang lain yang amat berharga untuk menjadi saksi.

"Kwi-moi, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak pertemuan kita yang pertama kali itu, aku takkan merasa lega sebelum hal itu kukemukakan di sini. Biarlah Can-lihiap dan Sim-taihiap ini menjadi saksi."

Siu Kwi memandang kepada wajah pemuda itu dengan sinar mata berseri. Sikap yang jujur dan terus terang dari pemuda ini merupakan satu di antara watak-watak yang amat dikaguminya. "Bicaralah, Jin-ko."

Yo Jin menarik napas panjang. Agaknya berat baginya untuk mengeluarkan isi hatinya. "Kwi-moi, terima kasih saya amat mendalam bahwa seorang seperti saya ini mendapat kehormatan untuk menerima cinta kasih seorang wanita seperti engkau. Hal ini kuterima dengan hati gembira dan ringan seandainya engkau adalah seorang gadis biasa, karena sesungguhnya aku pun sudah jatuh cinta kepadamu. Akan tetapi..."

Siu Kwi mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang menunduk itu dengan hati amat khawatir. "Akan tetapi... apa Jin-ko?"

"Kwi-moi, engkau sudah melihat keadaan saya. Seorang pemuda dusun, pemuda petani yang tidak terpelajar, buta huruf, miskin, dan bahkan kini setelah ayah tiada, saya hidup sebatang kara, tiada sanak kadang, tiada kemampuan. Akan tetapi engkau..."

"Aku... kenapa, Jin-koko?" Siu Kwi mendesak sambil tersenyum hingga nampak deretan giginya yang rapi berkilau tertimpa sinar api unggun.

Yo Jin memandang wajah Siu Kwi dan pandang mata mereka saling bertemu. Masing-masing dapat merasakan kasih sayang terpancar dari pandang mata itu, akan tetapi Yo Jin lalu mengalihkan pandang matanya, kini memandang Sim Houw dan kepada Bi Lan seolah-olah minta pertimbangan dari kedua orang saksi itu.

"Kwi-moi... ahhh, sesungguhnya menyebutmu moi-moi saja sudah tidak pantas bagiku. Sepatutnya engkau kusebut lihiap. Engkau adalah seorang wanita kota, terpelajar, kaya, pandai dan bahkan memiliki kepandaian silat yang luar biasa. Engkau seorang wanita sakti, seorang pendekar wanita yang..."

"Cukup, Jin-ko, cukuplah...!" Siu Kwi memotong sambil menyentuh lengan pemuda itu. "Aku sudah mengenalmu lahir batin, tetapi engkau sungguh belum tahu banyak tentang diriku! Engkaulah yang terlalu berharga untukku, Jin-ko. Engkau seorang pemuda yang bersih, jujur, setia, kuat lahir batin, gagah perkasa, sedangkan aku... aku hanya..."

"Wanita perkasa, pendekar yang sakti..."

"Tidak, tidak...! Engkau hanya tahu satu tapi tidak mengenal dua tiga dan selanjutnya. Biarlah sekarang aku ceritakan dan mengaku kesemuanya, Jin-ko. Keadaanku yang lalu juga akan selalu menjadi ganjalan di hatiku kalau belum kuceritakan kepadamu..."

"Suci! Perlukah itu...?" Bi Lan menegur, khawatir melihat suci-nya akan menceritakan keadaan masa lalunya.

Siu Kwi tersenyum dan mengangguk kepada sumoi-nya. "Mutlak perlu, sumoi. Aku tidak tega membiarkan Jin-koko menggambarkan aku sebagai seorang dewi dari langit, pada hal dalam kehidupanku yang lalu aku hanyalah seorang iblis. Di dalam cinta harus ada kejujuran, kita harus dapat melihat orang yang kita cintai seperti apa adanya, melihat segala cacat dan keburukannya, bukan sekedar melihat kebagusannya saja."

Sim Houw yang sejak tadi mendengarkan semua itu, menggeleng-geleng kepala dan memandang kagum. "Kalian adalah orang-orang luar biasa, hebat... hebat..."

Yo Jin memandang bingung. "Akan tetapi, Kwi-moi, aku tidak ingin mendengar tentang keburukanmu..."

"Dengarlah baik-baik, Jin-ko, agar engkau tak merasa rendah diri terhadap aku. Engkau hanya mengenal namaku, yaitu Ciong Siu Kwi, akan tetapi kau tidak mendengar hal-hal lain mengenai diriku. Seperti juga engkau, aku tidak mempunyai keluarga. Sejak kecil aku ikut bersama tiga orang guruku yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis), tokoh-tokoh golongan sesat, penjahat-penjahat yang kejam dan ganas. Dan janganlah mengira bahwa aku seorang pendekar wanita, sama sekali tidak! Aku bahkan dimusuhi para pendekar karena aku memang jahat dan kejam, aku seorang di antara tokoh-tokoh sesat yang dijuluki Bi-kwi (Iblis Cantik)."

"Aku tidak percaya...!" Yo Jin berseru, kaget bukan main mendengar pengakuan yang dianggap mengerikan itu.

"Kenyataannya begitu, Jin-ko. Aku kejam dan jahat, entah telah berapa banyak orang, baik yang bersalah mau pun yang tidak, sudah tewas di tanganku. Aku telah membunuh banyak orang, aku pendukung kejahatan dan penentang kebaikan. Bukan itu saja, aku juga bukan seorang wanita baik-baik, bukan seorang wanita bersih. Sejak remaja aku telah menjadi kekasih tiga orang guruku dan sejak dewasa, entah sudah berapa banyak pria yang kujadikan kekasihku, baik dengan suka rela mau pun dengan paksa! Aku mempermainkan pria-pria itu seperti barang mainan, kalau sudah bosan kucampakkan, atau kubunuh."

"Tidak... tidaaakk...!" Yo Jin berteriak dengan mata terbelalak karena merasa ngeri, dan juga tidak percaya. "Engkau seorang wanita gagah perkasa, halus budi dan sopan!"

"Itu menurut penglihatanmu, dan memang sejak berjumpa denganmu, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia sesat, untuk merubah kehidupan menjadi seorang baik-baik. Akan tetapi, engkau harus mengenal masa laluku, Jin-ko, agar kalau engkau masih mau memasuki hidup baru bersamaku, engkau masuk dengan mata terbuka, tbukan dengan mata terpejam, dengan suka rela, bukan paksaan. Nah, sekarang akan kulanjutkan, Jin-ko. Baru-baru ini, baru kemarin dulu malam, aku terpaksa menyerahkan tubuhku ini kepada Ok Cin Cu, tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw yang menangkapmu, aku tidur dengan dia dan melayaninya selama satu malam..."

"Ahh, tidaaaakk... ahh, Kwi-moi, kenapa engkau menyiksa hatiku seperti ini...?" Yo Jin menutupi mukanya dengan kedua tangan bagaikan hendak mengusir gambaran yang diceritakan Siu Kwi kepadanya itu.

"Yo-toako, suci hanya menceritakan hal-hal yang memang benar terjadi. Akan tetapi ketahuilah bahwa suci terpaksa melakukan hal itu demi untuk membebaskanmu. Ia tidak berdaya menghadapi dua orang tosu itu, maka ia dapat ditipu oleh mereka yang sudah menjanjikan untuk membebaskanmu."

Yo Jin menurunkan kedua tangannya. Wajahnya agak pucat dan kedua matanya merah ketika dia menatap wajah wanita yang dicintanya. "Kwi-moi, apakah masih ada lagi ceritamu tentang dirimu? Jika masih ada, tuangkanlah semua, jangan disimpan-simpan agar kelak engkau takkan merasa penasaran dan menceritakannya kembali kepadaku."

Siu Kwi terbelalak. "Jin-ko, masih belum cukupkah itu? Masih belum cukupkah kotoran yang menodaiku sehingga engkau dapat melihat bahwa akulah yang sesungguhnya tak berharga bagimu?"

Yo Jin tersenyum dan menggeleng kepala. "Kwi-moi, kejujuranmu ini justru menambah cintaku kepadamu. Aku mencinta engkau sekarang ini, seperti keadaanmu sekarang ini. Aku tidak peduli akan keadaanmu yang lampau, apa lagi engkau sudah mengambil keputusan dan untuk merubah jalan hidupmu. Engkau telah melakukan penyelewengan, biarlah aku akan membantumu sekuat tenaga untuk kembali ke jalan benar, Kwi-moi."

"Jin-koko...!" saking terharu hatinya Siu Kwi menubruk dan hendak mencium kaki Yo Jin sambil menangis.

Akan tetapi Yo Jin menangkapnya dan menariknya sehingga kini wanita itu menangis dengan kepala di atas pangkuannya, menangis sesenggukan bagaikan anak kecil dan rambutnya dibelai sayang oleh Yo Jin.

Melihat peristiwa ini, Bi Lan tak dapat lagi menahan keharuan hatinya sehingga dia pun memandang dengan dua mata lebar akan tetapi air matanya berlinang-linang, kemudian perlahan-lahan menetes turun melalui sepasang pipinya. Hatinya dipenuhi rasa haru, kasihan, akan tetapi juga ikut gembira bahwa suci-nya telah menemukan seorang pria yang sungguh-sungguh mencintanya lahir batin. Ia tidak tahu betapa dari samping, Sim Houw memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kasih sayang.

Setelah tangisnya mereda, Siu Kwi mengangkat kepalanya dari pangkuan Yo Jin dan bangkit duduk. Tangisnya terhenti dan dengan muka yang basah air mata, rambut yang kusut, dia memandang kepada Yo Jin dengan malu-malu, kemudian tersenyum dan berkata lirih, "Aihh, aku seperti anak kecil saja..."

"Aku cinta dan kasihan kepadamu, Kwi-moi," kata Yo Jin yang kini memandang kepada wanita itu dengan sinar mata lain, mengandung rasa iba. Alangkah sengsara kehidupan wanita ini di masa yang lalu dan dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk mencoba membahagiakan Siu Kwi dalam kehidupan mendatang.

"Sudahlah, kini kita hentikan percakapan tentang masa lalu dan kita bicara saja tentang hal-hal yang berada di depan kita, meninggalkan segala yang sudah lewat di belakang kita," kata Bi Lan dan Sim Houw mengangguk-angguk setuju.

"Kalian memang bijaksana sekali," kata Siu Kwi, "dan aku merasa girang bahwa kalian telah menjadi saksi pengakuanku kepada Jin-ko. Baiklah, sekarang kita bicara tentang masa depan. Sumoi, engkau dan Sim-taihiap hendak pergi ke manakah dan bagaimana bisa kebetulan bertemu dengan aku sehingga kalian bisa menolong aku dan Jin-koko?"

Sikap Siu Kwi sudah biasa lagi dan walau pun mukanya masih merah dan basah, rambutnya masih kusut, namun ia sudah dapat menguasai hatinya, bahkan kini setelah ia membuat pengakuan di depan Yo Jin yang diterima dengan baiknya oleh pria itu, ada sinar kebahagiaan yang cerah pada wajahnya, terutama pada sinar matanya.

Tadinya, ada perasaan gelisah kalau ia teringat akan masa lalunya dan membayangkan betapa Yo Jin akan berbalik membencinya kalau mendengar akan masa lalunya. Kalau hal seperti itu terjadi, kiranya akan sukar baginya untuk dapat merubah hidupnya!

Kebaikan tidak dapat dinamakan baik lagi kalau dilakukan dengan kesadaran bahwa hal itu baik. Keinginan hati untuk berbuat baik membuat perbuatan itu sendiri menjadi tidak baik, palsu dan munafik. Kebaikan tidak dapat diperbuat dengan sengaja. Kebaikan tak mungkin dapat dipelajari atau dilatih. Yang dapat dilatih hanyalah kepura-puraan saja. Kebaikan adalah wajar bagai sinar matahari, seperti harumnya bunga. Kebaikan adalah suatu sifat yang terpencar dari suatu kepribadian yang bersih. Kebaikan adalah suatu tindakan yang timbul dari batin yang penuh kasih.

Keinginan untuk menjadi sesuatu, agar sesuatu itu kelihatan agung, misalnya menjadi orang baik, otomatis mengotorkan kebaikan itu sendiri. Keinginan buat menjadi sesuatu selalu mendatangkan kepalsuan, karena pamrih atau keinginan yang menyembunyikan keuntungan bagi diri sendiri itu selalu mempunyai tujuan. Keinginan akan memperoleh buah atau hasilnya ini menjadi terpenting, sedangkan perbuatan baik itu sendiri hanya dijadikan alat untuk mencapai hasil yang menguntungkan atau menyenangkan itu!

Hal ini akan nampak jelas kalau kita mau mengamati diri sendiri setiap saat, pada saat keinginan timbul, keinginan yang dianggap suci dan luhur sekali pun. Kita buka mata batin, kita amati dan akan nampaklah bahwa ada setan bersembunyi di sudut belakang keinginan luhur itu, yang menanti datangnya hasil baik untuk diterkamnya.

Yang penting bukan ingin menjadi orang baik, tetapi sadar akan keburukan-keburukan dalam perbuatan kita. Kesadaran akan kekotoran ini timbul dalam pengamatan kita secara serius terhadap diri sendiri lahir batin. Kesadaran akan perbuatan-perbuatan buruk kita akan menghentikan perbuatan buruk itu, bukan dengan maksud agar menjadi baik! Karena kalau menghentikan perbuatan buruk itu menyembunyikan pamrih supaya menjadi baik, maka yang menjadi baik juga masih keburukan itu sendiri yang berganti baju atau bersalin warna belaka.

Cinta kasih dan kebaikan selalu ada, karena cinta kasih dan kebaikan adalah suatu kewajaran yang tidak dibuat-buat, bukan hasil dari latihan, tanpa teori-teori muluk. Akan tetapi, cinta kasih dan kebaikan tidak nampak sinarnya karena batin kita penuh dengan debu kotoran yang diciptakan oleh pikiran yang membentuk si-aku yang selalu dipenuhi keinginan-keinginan. Singkirkan semua debu kotoran itu, dan cinta kasih dan kebaikan akan memancarkan sinarnya dengan terang dan wajar.

Sejak kecil kita diajarkan untuk melakukan hal-hal baik sehingga dengan otomatis kita selalu berusaha untuk berbuat baik karena ada pahala di ujung perbuatan baik. Pahala itu dijanjikan kepada kita oleh kebudayaan kita, melalui tradisi dan agama. Pahala itu dapat dinamakan kehidupan tenteram, kebahagiaan, sorga, nirwana dan sebagainya lagi, juga nama baik atau keuntungan materi yang nampak lebih jelas. Maka berlomba-lombalah kita untuk melakukan perbuatan baik, yang pada hakekatnya hanya berlomba untuk mendapatkan pahala itulah!

Jadi, apa artinya melakukan perbuatan baik, atau menjadi orang baik, kalau dibaliknya tersembunyi pamrih mengejar pahala? Apa artinya kita menolong orang dan memberi sesuatu, kalau dalam perbuatan itu kita mengharapkan balas jasa dari orang yang kita tolong, atau kita mengharapkan pujian, nama baik dan sebagainya? Kalau begini, jauh lebih benar kalau kita tidak melakukan perbuatan baik dari pada melakukan perbuatan baik yang semu, palsu dan berpamrih!

Lebih baik kalau kita mengamati diri sendiri dan melihat adanya kepalsuan-kepalsuan dalam kebaikan kita ini. Karena hanya dengan pengamatan yang mendalam dan menyeluruh maka terjadi perubahan, terjadi penghentian segala yang palsu itu. Dan kalau sudah tiada keinginan untuk memperoleh pahala, kalau sudah tidak ada keinginan menjadi orang baik, maka semua perbuatan kita adalah wajar! Bukan baik buruk lagi, melainkan wajar.

Dan tentu saja kewajaran ini merupakan pencerminan dari pada kepribadian kita. Kalau pribadi sudah bersih dari pada segala macam debu kekotoran berbentuk keinginan-keinginan demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri, maka yang tinggal hanya kewajaran di mana sinar cinta kasih dan kebaikan akan menerangi semua perbuatan itu.

Karena itu, bukankah jauh lebih baik kalau pelajaran berupa keinginan menjadi orang baik ini dirubah dalam kehidupan anak-anak kita, dirubah menjadi pengamatan terhadap kepalsuan-kepalsuan diri sendiri tiap saat? Agar kebaikan dan cinta kasih menyinarkan cahayanya secara wajar dengan pembersihan diri dari dalam?


Pada saat Siu Kwi mengajukan pertanyaan itu kepada Bi Lan, gadis ini lalu menjawab dengan wajah gembira. "Memang kami bertemu denganmu hanya karena kebetulan saja, suci. Aku sedang melakukan perjalanan ke utara, ke gurun pasir untuk mencari suhu dan subo."

"Perdekar Naga Sakti Gurun Pasir ?" tanya Siu Kwi dan suaranya mengandung rasa kekaguman. Pernah ia sebagai Bi-kwi, bertemu dengan mereka dan merasakan sendiri kesaktian mereka yang menggiriskan.

"Benar, suci. Aku hendak mengembalikan pedang Ban-tok-kiam milik subo ini. Sedang Sim-toako ini berbaik hati untuk mengantarku ke sana. Di dalam perjalanan, ketika kami tiba di hutan itu, kami mendengar tangismu dan sungguh kebetulan sekali kita dapat saling bertemu di sana."

Siu Kwi menarik napas panjang. "Memang di dunia ini terjadi banyak sekali peristiwa secara kebetulan saja. Baru kini aku dapat menyadari betapa besar kekuasaan Thian yang seolah-olah sudah mengatur segala yang nampak dan tidak nampak dalam alam semesta ini. Pertemuan dengan Jin-ko juga hal yang kebetulan saja."

Sim Houw mengangguk-angguk. "Memang tepat sekali apa yang baru dikatakan oleh Ciong-lihiap. Nampaknya saja kebetulan karena tadinya kita tak tahu sama sekali, tapi sesungguhnya sudah ada garisnya sendiri-sendiri. Baik buruknya garis itu sepenuhnya berada dalam tangan kita masing-masing, karena hal-hal yang nampaknya tidak ada hubungan sama sekali itu sebenarnya masih berupa suatu rangkaian yang tergantung dari keadaan kehidupan kita sendiri, yang ditentukan oleh kita sendiri dengan segala ulah kita."

Siu Kwi menghela napas panjang. "Ah, betapa menariknya mempelajari soal kehidupan. Dulu, aku sama sekali tak peduli akan sebab akibat, tak peduli akan isi kehidupanku..."

"Sudahlah, suci, kita tadi berjanji akan meninggalkan masa lalu. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan dan ke mana kalian hendak pergi?"

Siu Kwi memandang kepada Yo Jin yang juga sedang menatap wajahnya di bawah sinar api unggun. Wajah Siu Kwi nampak cantik dan manis luar biasa dalam pandangan mata Yo Jin. Dua pasang mata itu bertemu dan meski pun mulut mereka diam saja, namun mereka seperti saling mengenal isi hati masing-masing dan sudah mengadakan persetujuan dengan pandang mata mereka.

"Aahh, kami... akan memulai suatu kehidupan baru, sumoi. Aku akan meninggalkan seluruh kehidupan lama yang pernah kulalui dengan segala kekerasannya, melupakan segala-galanya dan belajar menjadi seorang isteri yang baik dan setia, dan kalau Thian menaruh kasihan kepada seorang seperti aku, aku ingin menjadi seorang ibu yang bijaksana bagi anak-anak kami. Kami akan pergi dan tinggal di sebuah dusun yang jauh dan baru, dan aku... ahh, maaf Jin-ko, aku lupa belum minta persetujuanmu dalam hal ini..."

Yo Jin tersenyum, memandang dengan sinar mata mengandung penuh kasih sayang dan pengertian. "Aku setuju saja dengan rencanamu, Kwi-moi. Memang sebaiknya kita pergi jauh dari sini untuk melupakan hal-hal lalu dan agar jangan terjadi lagi hal-hal yang buruk."

Malam itu dilewatkan oleh empat orang muda ini dengan bercakap-cakap dan baik Bi Lan mau pun Sim Houw diam-diam merasa heran, kagum dan juga girang sekali melihat betapa sikap Siu Kwi yang dulu terkenal dengan julukan Bi-kwi (Setan Cantik) berubah sama sekali! Sinar matanya yang menjadi lembut penuh kasih sayang, terutama kalau ditujukan pada Yo Jin, suaranya yang menjadi halus merdu dan bebas dari kebencian, gerak-geriknya, pendeknya orang akan pangling dan tidak mengenalnya lagi sebagai Siu Kwi beberapa bulan yang lalu!

Sudah lajim di antara kita manusia, perbuatan sesat mendatangkan akibat yang buruk bagi kita sendiri, dan kalau sudah demikian, timbul penyesalan dan janji bertobat di mulut atau di hati. Akan tetapi, bertobat seperti ini sering kali tidak ada hasilnya sama sekali dan tak lama kemudian kita akan terjerumus lagi ke dalam kesesatan yang sama!

Kesesatan dilakukan orang karena orang ingin meneguk kesenangan dari perbuatan itu dan bertobat karena penyesalan setelah timbul akibat buruk bagi diri sendiri bukanlah bertobat yang sesungguhnya lagi. Tobat macam ini tak akan bertahan lama, dan setelah penyesalan sebagai akibat buruk itu menipis. rasa bertobat pun ikut pula menipis dan tidak lama kemudian, daya tarik untuk meneguk kesenangan kembali mendorong kita untuk melakukan perbuatan yang sama.

Seperti orang minum arak. Kalau kemudian mabok dan sakit-sakit seluruh badan, mulut dan hati menyatakan bertobat tidak akan minum arak lagi. Akan tetapi, setelah rasa sakit-sakit itu hilang, kita akan lupa karena membayangkan enak dan nikmatnya minum arak, dan kita pun minum lagi. Demikian seterusnya seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus.

Yang penting bukanlah bertobat karena menyesal menerima akibat buruk, melainkan pengamatan terhadap diri sendiri setiap saat. Pengamatan ini akan mendatangkan kesadaran dan kebijaksanaan, dan pengamatan ini akan merubah diri seketika, saat demi saat, sehingga tidak terjadi pengulangan-pengulangan.

Kebaikan bukanlah suatu yang menjadi kebiasaan, melainkan harus dihayati detik demi detik dengan pengamatan terhadap diri sendiri. Yang penting itu membersihkan diri dari kotoran, bukan keinginan untuk bersih. Keinginan untuk bersih saja tidak membuat kotoran menjadi lenyap. Kalau kotoran sudah lenyap, untuk apa ingin menjadi bersih?

Sesal dan tobat pun tidak ada kalau segala perbuatan kita didasari cinta kasih, bukan lagi menjadi pelaksanaan dari keinginan untuk mengejar dan memperoleh kesenangan, karena perbuatan didasari cinta kasih ini tanpa pamrih sehingga apa pun yang menjadi akibat dari perbuatan ini tidak akan menimbulkan penyesalan apa pun
.

Pada esok harinya, pagi-pagi sekali, Bi Lan dan Sim Houw berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka. Siu Kwi menggandeng tangan Bi Lan dan diajaknya sumoi-nya itu agak menjauh dari Sim Houw dan Yo Jin karena dia ingin bicara empat mata dengan sumoi-nya itu. Setelah berada cukup jauh sehingga percakapan mereka tidak akan terdengar orang lain, Siu Kwi lalu merangkul adik seperguruannya.

"Sumoi, aku mengucapkan selamat kepadamu!"

"Ehh, untuk apa, suci?"

"Engkau telah memperoleh seorang pacar yang pilihan! Aku ikut merasa girang, adikku. Sim-taihiap adalah seorang pria pilihan yang amat mengagumkan hatiku. Engkau tentu beruntung sekali!"

Wajah Bi Lan berubah merah. Heran ia mengapa suci-nya dapat menduga dengan tepat bahwa ia memang diam-diam jatuh cinta sampai ke ujung rambutnya kepada Sim Houw! Akan tetapi, mengingat sikap Sim Houw yang tidak pernah menyatakan cintanya, dia menjadi sedih dan menarik napas panjang.

"Aihh, aku tidak seberuntung engkau, suci."

"Ehh? Salahkah rabaanku bahwa engkau mencinta Sim-taihiap?"

Bi Lan langsung tertunduk dan wajahnya merona merah, sementara pada bibirnya yang memang sudah berwarna merah merekah senyuman manis. Perubahan ini tidak lepas dari pengawasan Siu Kwi, akan tetapi segera alisnya berkerut ketika melihat senyum di bibir sumoi-nya pelan-pelan memudar.

“Ehh? Apakah yang terjadi, sumoi-ku yang jelita?”

Seperti tanpa semangat dan hanya bicara untuk dirinya sendiri, terdengar suara lirih dari bibir Bi Lan, “Aku memang jatuh cinta padanya, tapi agaknya dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja…, atau bahkan… kawan biasa…”

“Apa? Dari mana kau punya pikiran itu? Apakah dia pernah menyatakan demikian?” Siu Kwi bertanya karena penasaran. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman, dia dapat melihat mata Sim Houw yang penuh dengan cinta kasih setiap kali menatap sumoi-nya.

“Sim-toako tidak pernah berkata begitu, tapi… tetapi dia juga tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku,” Bi Lan menjawab, masih terdengar lirih tanpa semangat.

Siu Kwi tertawa dan merangkul sumoi-nya. "Anak bodoh! Tanpa pengakuan mulut pun, apakah engkau tidak dapat mengerti dan melihatnya? Aku sudah melihat dengan jelas sekali betapa Sim-taihiap amat mencintamu!"

"Ehhh...?" Bi Lan terbelalak memandang wajah suci-nya penuh selidik.

"Percayalah, sumoi. Dia amat mencintamu, dan mungkin dia terlalu rendah hati untuk membuat pengakuan. Akan tetapi aku yakin bahwa dia cinta padamu, jelas nampak dalam pandang matanya kepadamu, suaranya, dan sikapnya. Hanya wanita yang buta saja yang tidak akan dapat melihat cintanya kepadamu, sumoi!"

Wajah Bi Lan menjadi semakin merah akan tetapi kini wajah itu berseri dan mulutnya tersenyum manis sekali. Ia percaya akan keterangan suci-nya, karena ia tahu benar bahwa enci-nya adalah orang yang sudah memiliki pengalaman luas dalam menilai pria.

"Terima kasih suci!" Bi Lan merangkul dan mencium pipi suci-nya. Kini wajahnya yang manis nampak berseri penuh kebahagiaan. "Keteranganmu itu sungguh amat berharga, mendatangkan cahaya yang menerangi seluruh hati dan perasaanku. Terima kasih!"

Pada saat mereka berangkulan ini, terasa oleh masing-masing betapa keduanya saling mengasihi dan menyayang seperti kakak beradik sendiri saja. Dan Siu Kwi tidak dapat menahan air mata yang membasahi sepasang matanya ketika melihat Bi Lan pergi bersama Sim Houw. Akan tetapi, ketika ia merasa ada tangan menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia pun membalik dan merangkul Yo Jin, menyembunyikan mukanya di dada pria yang dicintanya itu.

Cinta asmara memang hebat, kuasanya terhadap perasaan manusia amat besarnya sehingga cinta asmara mampu mendatangkan sorga atau pun neraka dalam kehidupan seseorang. Luar biasa.....

********************

Mereka menemukan sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi di lereng bukit itu. Sudah hampir dua pekan mereka berpisah dari Siu Kwi dan Yo Jin dan kini mereka sudah tiba di deretan bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya dan yang nampaknya tak pernah habis itu, gunung-gunung besar kecil yang bertaburan di sepanjang perbatasan sebelah utara.

Tembok Besar nampak seperti seekor naga yang berlika-liku dan naik turun bukit-bukit dan gunung-gunung, amat indah dan megahnya. Mereka belum lagi melewati Tembok Besar yang sudah nampak jauh di utara dari tempat mereka berhenti untuk melewatkan malam.

Setelah makan malam dan membersihkan diri di sumber air di belakang kuil tua, makan yang cukup lezat walau pun yang mereka makan hanyalah bekal roti dan daging kering bersama air jernih, karena perut lapar dan tubuh lelah, Bi Lan dan Sim Houw duduk di ruangan belakang kuil tua itu. Ruangan itu merupakan bagian yang masih paling baik di antara bagian lain yang sudah rusak dan banyak yang sudah runtuh. Mereka sore tadi sudah membersihkan tempat itu sehingga enak untuk dipakai beristirahat. Sim Houw sudah mengumpulkan kayu bakar yang diambilnya dari dalam hutan, ditumpuk di situ untuk dipakai malam nanti, pengusir nyamuk dan hawa dingin.

Setelah menumpuk beberapa potong kayu bakar, Bi Lan lalu membuat api dan sebentar saja ruang yang tadinya sudah mulai gelap itu menjadi terang kemerahan dan hawanya yang tadinya dingin menjadi hangat. Hal ini mendatangkan perasaan gembira di hati Bi Lan.

Ia memandang wajah Sim Houw yang juga duduk di dekat api unggun di depannya. Memandang sampai lama jarang berkedip, mulutnya tersenyum seperti orang sedang mengejek.

Tadinya Sim Houw tidak menyangka sesuatu pun karena selama melakukan perjalanan bersama dara ini, hubungan mereka akrab dan setiap hari entah berapa puluh kali dia melihat dara yang memang lincah jenaka ini tersenyum. Dan memang wajah itu paling manis kalau tersenyum, muncul lesung pipit di kanan kiri mulutnya.

Namun ketika melihat bahwa dara itu menatap sejak tadi hampir tak pernah berkedip, dia pun merasa canggung dan kikuk sekali, menjadi salah tingkah. Ingin mengalihkan pandang mata, merasa sayang karena pada saat itu wajah Bi Lan nampak cantik jelita dan manis seperti wajah seorang bidadari dalam dongeng, akan tetapi kalau dipandang terus dia merasa malu dan khawatir kalau dianggap kurang sopan.

Dicobanya mengalihkan perhatian dengan menambah kayu bakar pada api unggun, akan tetapi karena matanya tidak mau diajak pindah, dia tidak melihat bahwa tangannya terjilat api.

"Uhhh...!" Dia menarik tangannya. Untung dia bertindak cepat dan dua jari tangannya hanya terjilat dan terasa panas saja, belum sampai melepuh.

"Ehh, kau kenapa, Sim-koko? Tanganmu terbakar?' tanya Bi Lan kaget dan cepat ia menangkap lengan kiri pemuda itu untuk diperiksa.

“Ahh, hanya terjilat sedikit, tidak terluka..."

Bi Lan merasa lega melihat bahwa tangan itu tidak melepuh, hanya hangus sedikit.

"Sakitkah, koko?"

Melihat kesungguhan sikap Bi Lan yang amat memperhatikan dan mengkhawatirkan tangannya itu, diam-diam Sim Houw merasa gembira sekali. Tetapi dia menggelengkan kepalanya dan dengan lembut menarik kembali tangannya karena dia merasa malu diperlakukan seperti anak kecil oleh Bi Lan. "Tidak, Lan-moi, hanya panas sedikit saja. Salahku sendiri kurang hati-hati."

Hening sampai agak lama. Sim Houw kini menunduk dan dia masih merasa bahwa gadis itu terus memandangnya, seolah-olah terasa olehnya sinar mata yang hangat itu menatapnya.

"Sim-koko, ada satu hal yang sudah lama menjadi pertanyaan bagiku dan ingin sekali aku mendengar jawabannya secara terus terang darimu."

Sim Houw mengangkat mukanya dan memandang dengan penuh keheranan, dan sinar matanya menyelidiki wajah dara itu seperti hendak menjenguk isi hatinya. "Pertanyaan apakah itu, Lan-moi?"

"Sim-ko, perjalanan menuju ke Istana Gurun Pasir merupakan perjalanan yang amat jauh, sukar dan berbahaya, bukankah begitu?"

Sim Houw mengangguk-angguk. "Benar sekali, Lan-moi, dan juga amat jauhnya."

"Nah, inilah yang membuat aku terheran-heran dan tiada habisnya kupikirkan. Kenapa engkau bersusah payah mengantar aku ke sana, Sim-ko? Perjalanan ini mengandung resiko, berbahaya dan sukar, kenapa engkau yang bukan apa-apa denganku, berani mengambil resiko dan mengantarkan aku? Kenapa, Sim-ko?"

Mendengar pertanyaan ini dan melihat betapa sinar mata dara itu memandang padanya dengan amat tajam penuh selidik, wajah Sim Houw berubah merah. Untung sinar api unggun itu juga berwarna merah sehingga menyembunyikan kemerahan mukanya, dan dia pun menundukkan muka memandangi api unggun, seakan-akan hendak mencari jawabannya dari nyala api itu.

"Bagaimana, Sim-ko? Jawablah dengan terus terang," kata Bi Lan dan gadis ini yang sudah tahu dari Siu Kwi bahwa pemuda ini sebenarnya cinta kepadanya, memandang dengan hati tegang akan tetapi juga dengan senyum simpul melihat sikap Sim Houw yang seperti orang kebingungan dan canggung.

Akhirnya Sim Houw menarik napas panjang. "Kenapa hal itu saja perlu kau tanyakan, Lan-moi? Bukankah sudah jelas bahwa kita adalah sahabat baik? Kita sudah banyak mengalami hal-hal yang berbahaya bersama, bahkan sudah bersama-sama terancam bahaya maut. Karena engkau seorang gadis, tentu saja aku tidak ingin membiarkan engkau seorang diri mencari Istana Gurun Pasir yang sedemikian jauhnya, melakukan perjalanan yang demikian berbahaya seorang diri saja. Karena itulah aku mengantarmu, Lan-moi."

"Akan tetapi,... perjalanan ini selain sukar juga mempertaruhkan nyawa! Engkau tentu memiliki banyak sahabat, apakah terhadap semua sahabatmu engkau akan melakukan hal yang sama? Aku pun mempunyai banyak sahabat, akan tetapi kiranya selain engkau tidak akan ada yang mau melakukan perjalanan berbahaya ini untuk mengantar aku. Alasan bersahabat itu kurang meyakinkan hatiku, Sim-ko!"

"Akan tetapi kita bukan sahabat biasa, Lan-moi, melainkan sahabat yang sangat baik! Melebihi saudara sendiri. Pendeknya, aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya dan aku... aku siap mengorbankan nyawa untuk melindungimu..."

Bukan main girang dan terharu rasa hati Bi Lan. Jelas sudah jawaban itu membuktikan kebenaran keterangan Siu Kwi. Perdekar ini cinta padanya. Akan tetapi ia belum puas. Kenapa tidak secara langsung saja Sim Houw menyatakan cinta padanya? Bagaimana pun juga, tidak baik kalau dia terlalu mendesak, dan dia pun tersenyum manis, dengan penuh keyakinan bahwa senyumnya menciptakan lesung pipit yang tidak pernah gagal mendatangkan sinar kagum dalam sepasang mata pendekar itu.

Ia tidak sadar bahwa malam ini, ditimpa sinar api unggun, senyumnya amat istimewa, membuat Sim Houw terpesona. Pendekar ini terpaksa menundukkan pandang matanya untuk menenangkan hatinya yang terguncang oleh kekaguman.

"Kalau begitu, terima kasih atas kebaikan hatimu, Sim-ko."

Hening lagi sejenak. Sim Houw termenung memandang nyala api unggun. Bi Lan yang termenung, kadang-kadang mengangkat muka dan memandang wajah orang muda itu. Bukan seorang pemuda remaja lagi. Akan tetapi juga bukanlah seorang kakek tua, melainkan wajah seorang laki-laki. Seorang jantan yang sudah matang, dengan wajah memperlihatkan garis-garis pengalaman dan kepahitan hidup.

"Sim-ko..."

"Hemmm...?" Sim Houw sadar dari lamunan dan menatap wajah Bi Lan.

Sesaat pandang mata mereka bertemu, bertaut dan kini Bi Lan yang menundukkan pandang matanya, merenung ke arah nyala api.

"Sim-ko," katanya lirih, tetap merenung ke arah api unggun seolah-olah ia bicara kepada api. "Engkau pernah mencinta seorang wanita namun gagal karena dia mencinta pria lain. Sakitkah hatimu, Sim-ko?"

Sim Houw menatap wajah itu penuh selidik, namun tetap saja dia tidak tahu ke mana arah angin pertanyaan dara itu. Dia mengerutkan alisnya dan menjawab dengan tegas. "Sakit hati? Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Kenapa aku harus sakit hati? Ia mencinta pria lain yang lebih baik dari pada aku dan ia hidup berbahagia. Tidak ada alasan bagiku untuk sakit hati."

"Maksudku bukan sakit hati dan menaruh dendam, Sim-ko. Akan tetapi, apakah engkau tidak patah hati, tidak putus asa dan menderita sakit dalam dirimu?"

Sim Houw tersenyum dan memandang gadis itu yang kini juga menatapnya. Heran dia mendengar pertanyaan itu dan ia pun menggelengkan kepalanya dengan pasti. "Tidak, Lan-moi. Patah hati dan putus asa hanya dilakukan oleh orang yang lemah. Apa pun yang terjadi di dalam hidup, suka mau pun duka hanyalah bagaimana kita menilainya saja. Duka hanyalah gambaran iba hati yang berlebihan. Segala macam peristiwa hidup harus kita hadapi dengan tabah dan ikhlas, tanpa keluhan."

"Tapi... tapi... apakah kegagalan cinta itu tidak membuat engkau jera, Sim-ko?"

"Jera bagaimana maksudmu?"

"Jera dan tidak berani untuk jatuh cinta kembali."

"Cinta tidak pernah gagal, Lan-moi. Perjodohan bisa saja putus dan gagal. Akan tetapi cinta? Kurasa cinta itu abadi, Lan-moi."

Bi Lan memandang bingung, tidak mengerti. "Akan tetapi... apakah semenjak engkau gagal... ehhh, maksudku semenjak hubungan cintamu dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri Suma Ceng Liong itu engkau pernah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis lain?"

Sim Houw tersenyum, sampai lama tidak dapat menjawab. Memang harus diakuinya bahwa semenjak berpisah dari Kam Bi Eng yang memilih Suma Ceng Liong sebagai jodohnya, dia tidak pernah lagi jatuh cinta, sampai sekarang, karena dia tahu benar bahwa dia jatuh cinta kepada Bi Lan! Akan tetapi untuk mengakui cintanya, dia merasa sungkan dan segan, khawatir kalau-kalau hal itu akan menyinggung perasaan Bi Lan dan juga dia merasa ngeri kalau-kalau hal itu akan memisahkan dia dengan gadis ini.

"Aku sudah tua sekarang, Lan-moi. Siapakah yang begitu bodoh mau menaruh hati kepadaku?" jawabnya menyimpang.

Tiba-tiba Bi Lan tertawa, menutupi mulutnya.

"Hi-hi-hik," Ia seperti mengajak bicara kepada nyala api unggun karena ia memandang kepada api itu, "coba dengarkan keluhan kakek tua renta ini, menyesali kehidupannya yang tua renta dan sepi. Kasihan sekali dia...!"

"Lan-moi, sudahlah jangan goda aku. Kita bicara urusan lain saja..."

"Aku justru ingin bicara tentang cintamu, Sim-ko."

Sim Houw menarik napas panjang dan dia sungguh tak mengerti akan sikap dan watak gadis ini yang kini begitu tiba-tiba bicara tentang hal yang bukan-bukan!

"Sesukamulah, Lan-moi."

"Kau marah...?"

Sim Houw tersenyum dan memandang dengan wajah berseri. Bagaimana mungkin dia mampu marah kepada dara ini, dara yang dicintanya? Pertanyaan yang aneh-aneh itu merupakan satu di antara keistimewaan Bi Lan, yang demikian lincah dan penuh gairah hidup.

"Tidak, Lan-moi. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah marah kepadamu."

"Kenapa?" Tiba-tiba dara itu mendesak.

"Karena... karena engkau tidak pernah bersalah, engkau wajar dan lincah gembira..."

Kembali Bi Lan mengerutkan alisnya. Sukar benar pria ini mengakui cintanya, pikirnya penasaran.

"Jadi selama ini, sejak engkau berpisah dan gagal dalam hubunganmu yang pertama dengan wanita yang kau cinta, engkau tidak pernah jatuh cinta lagi, Sim-ko?"

Sim Houw tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala, dan tiba-tiba dia memegang tangan Bi Lan, menariknya dengan sentakan keras sehingga dara itu terlempar ke arahnya melalui atas api unggun.

Tentu saja Bi Lan terkejut bukan main, akan tetapi Sim Houw segera memberi isyarat dengan tangannya. Kiranya seekor ular sebesar kelingking, tetapi panjangnya lebih dari dua kaki, telah berada di atas lantai di mana Bi Lan duduk. Ular itu adalah seekor ular berbisa yang amat berbahaya. Dengan sekali menggerakkan tangannya, jari tangan Sim Houw mengetuk ke arah kepala ular yang diangkat tegak. Ular tu terlempar ke dalam api unggun dan berkelojotan.

"Mari...!" kata Sim Houw sambil menyambar tangan Bi Lan dan juga buntalan mereka dan mengajak gadis itu meloncat ke luar kuil dengan gerakan cepat.

Kembali Bi Lan terkejut, akan tetapi hilanglah rasa kagetnya ketika mereka tiba di luar dan ia melihat bahwa di luar kuil telah berdiri belasan orang! Tahulah kini Bi Lan bahwa munculnya ular berbisa tadi pun tidak wajar, melainkan dimunculkan dengan sengaja oleh seorang di antara belasan orang ini untuk menyerangnya. Dan melihat bahwa di antara mereka terdapat orang-orang berpakaian seperti pendeta, ia pun dapat menduga bahwa tentu mereka ini orang-orang Pek-lian-kauw atau Pat-kwa-kauw.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner