SULING NAGA : JILID-46


"Orang muda, engkau hebat dan tidak mengecewakan berjuluk Pendekar Suling Naga!" kata kakek Kao Kok Cu sambil melangkah mundur tiga langkah, berarti dia mengakhiri pertandingan itu.

Bukan main girang dan lega rasa hati Sim Houw. Dia pun cepat menyimpan suling, menjatuhkan diri berlutut kemudian berkata, "Terima kasih banyak saya haturkan atas kemurahan hati locianpwe yang telah memberi petunjuk kepada saya."

Kakek itu menarik napas panjang dan menoleh kepada isterinya yang juga memandang kepadanya dan mengangguk. Tanpa kata, suami isteri yang telah saling mengenal lahir batin ini bermufakat bahwa seorang pemuda yang berilmu demikian tinggi, dengan sikap demikian rendah hati seperti Sim Houw, agaknya sulit dipercaya jika sampai melakukan penyelewengan dan kejahatan!

Bi Lan juga sudah mendekati Sim Houw dan berlutut di sebelah pemuda itu, hatinya lega dan girang bukan main. "Suhu, terima kasih bahwa suhu tidak melukai Sim-toako."

Kakek itu kini tersenyum dan kembali menarik napas. "Siancai....! Semoga Tuhan akan memberkahi kalian dalam cinta kasih kalian. Mari kita masuk ke dalam dan bicara di dalam. Agaknya banyak hal-hal yang perlu dibicarakan dan dibikin terang."

"Benar," kata Wan Ceng. "Aku pun mulai ragu-ragu apakah Bi Lan benar-benar telah melakukan penyelewengan yang mengecewakan hatiku."

Sim Houw merasa girang sekali, segera menghaturkan terima kasih dan bangkit berdiri bersama-sama Bi Lan. Ketika bangkit, tanpa disengaja, tangan kiri Bi Lan menyentuh tangan kanan Sim Houw dan otomatis kedua tangan itu saling genggam dan mereka berdua mengikuti kakek dan nenek itu masuk ke dalam istana dengan saling berpegang dan bergandengan tangan. Beberapa kali keduanya menoleh dan saling pandang, yang memancing senyum penuh bahagia di kedua mulut mereka.

Mereka dibawa masuk oleh kedua orang tua itu ke dalam ruangan yang luas dan indah walau pun perabot di dalam ruangan itu sederhana. Di sudut terdapat rak senjata dan sebuah almari penuh dengan buku-buku dan di tengah-tengah ruangan terdapat meja kursi terukir dari kayu hitam yang kuno.

Mereka berempat duduk di sekeliling meja itulah dan Bi Lan merasa betapa tubuhnya ditelan oleh kursi yang besar dan cekung itu. Ia merasa dirinya kecil lahir batin di tempat yang megah namun kuno ini, apa lagi di depan suhu dan subo-nya yang baru saja tadi marah kepadanya, bahkan sekarang agaknya hendak minta keterangan secara serius darinya.

Tidak lama setelah mereka duduk, muncul seorang wanita Mongol yang memasuki ruangan itu menghidangkan minuman teh. Setelah wanita yang mukanya dingin seperti arca, persis sikap pria Mongol yang tadi bekerja di pekarangan, nenek Wan Ceng yang merasa penasaran itu mulai dengan pertanyaannya.

"Bi Lan, terus terang saja, kami berdua yang selalu tinggal di tempat sunyi ini baru saja menerima kunjungan dari selatan dan kami mendengar banyak hal yang membuat kami ikut merasa prihatin, terutama ketika kami mendengar tentang sepak terjangmu yang membuat kepalaku pening dan hatiku kecewa, juga menyesal sekali."

Bi Lan tersenyum memandang wajah subo-nya. Betapa ia merindukan wajah ini, akan tetapi sekarang ia harus bersikap sungguh-sungguh.

"Subo, kenapa subo belum apa-apa sudah mau mempercayai berita tentang diri teecu? Seperti teecu katakan tadi, setiap persoalan tentu teecu dapat menjawab dan memberi penjelasan sampai subo dan suhu mengerti benar-benar bahwa semua akibat itu ada sebabnya dan sebabnya bukanlah karena penyelewengan atau kejahatan teecu. Teecu amat menghormat dan menyayang suhu dan subo, mana mungkin berani melakukan perbuatan jahat? Dan andai kata teecu menyeleweng dan berbuat jahat, mana teecu berani datang menghadap ke sini?"

Kakek Kao Kok Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Memang benar juga pendapat Bi Lan ini..."

"Sekarang, jawablah pertanyaanku dengan keterangan yang jujur dan sejelasnya, baru aku akan menilai apakah engkau bersalah atau tidak," kata nenek Wan Ceng. "Aku mendengar bahwa Ban-tok-kiam dipergunakan orang untuk membunuh Teng Siang In, isteri mendiang paman Suma Kian Bu. Bagaimana bisa demikian kalau Ban-tok-kiam kuserahkan kepadamu?"

Bi Lan mengangguk. "Teecu tidak berdaya ketika Sai-cu Lama merampas Ban-tok-kiam dari tangan teecu, subo. Sai-cu Lama amat lihai dan kepandaiannya terlampau tinggi bagi teecu sehingga pedang pusaka itu dapat dirampasnya dan kemudian dipergunakan untuk membunuh locianpwe itu. Tetapi ketika para pendekar menghadapi komplotan Sai-cu Lama, teecu dan Sim-toako membantu dan kami berhasil merampas kembali Ban-tok-kiam. Teecu mengaku salah bahwa Ban-tok-kiam sampai dirampas orang, tapi hal itu terjadi bukan karena kelengahan, melainkan karena kebodohan dan kelemahan teecu yang tidak mampu menandingi Sai-cu Lama."

Diam-diam Bi Lan merasa heran mendengar subo-nya menyebut paman kepada tokoh keluarga Pulau Es itu. Ia tidak tahu bahwa nenek Wan Ceng adalah cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, sehingga biar pun usianya lebih tua dari pada mendiang Suma Kian Bu, ia harus menyebut pendekar itu paman.

"Sekarang jelaskan pula bagaimana engkau membela dan melindungi suci-mu yang bernama Bi-kwi yang amat jahat itu. Bukankah ia dahulu bahkan telah menyelewengkan pelajaran silat padamu sehingga engkau hampir menjadi gila dan terancam maut? Aku mendengar bahwa Bi-kwi itu amat jahat, lebih jahat dari pada Sam Kwi, akan tetapi mengapa engkau malah membelanya, bahkan engkau telah membantunya ketika iblis betina itu berkelahi melawan Suma Ciang Bun dan muridnya, berarti engkau membantu seorang jahat melawan keluarga para pendekar Pulau Es. Nah, apa alasanmu?"

"Subo, biar pun teecu pernah menjadi murid Sam Kwi dari sejak kecil dididik oleh datuk-datuk sesat, namun semenjak menjadi murid suhu dan subo, teecu sudah mulai dapat membedakan antara baik dan buruk. Apa lagi setelah teecu bertemu dengan Sim-toako yang selalu membimbing teecu, teecu tidak pernah membantu kejahatan. Biar pun suci sendiri, karena ia jahat, pernah menjadi lawan dan musuh teecu. Kalau teecu membela dan melindungi, adalah karena suci Bi-kwi telah insyaf dan mengubah kehidupannya menjadi orang baik-baik. Ia diserang oleh Hong Beng dan gurunya karena salah paham saja. Mungkin mereka mengira bahwa suci masih tetap jahat, akan tetapi teecu sendiri menyaksikan bahwa suci sudah bertobat. Kalau orang sudah menyesali kesalahannya dan ingin bertobat, apakah kita harus merdesaknya sampai ia tidak dapat memperbaiki kesalahannya lagi, subo?"

Bi Lan lalu menceritakan tentang keadaan Bi-kwi, betapa Bi-kwi telah bertemu dengan seorang pemuda tani yang dicintanya dan cinta itulah yang telah mengubah watak dan sifat kehidupan Bi-kwi. Demi menyelamatkan kekasihnya itulah dia diperas dan dipaksa oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Sengjin, tokoh-tokoh dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai sehingga Bi-kwi terpaksa membantu mereka menghadapi Suma Ciang Bun. Semua ini ia ceritakan dengan sejelasnya, seperti yang pernah ia dengar dari Bi-kwi sendiri.

"Demikianlah, subo. Ketika teecu melindunginya, ia berada dalam keadaan yang sama sekali tidak bersalah dan tidak melakukan kejahatan. Teecu hanya membela kebenaran, dari mana pun datangnya tanpa pilih bulu. Kalau hal itu subo anggap bersalah dan hendak menghukum teecu, maka teecu hanya dapat menyerahkan diri." Bi Lan menutup keterangannya.

Nenek Wan Ceng saling pandang dengan suaminya. Diam-diam mereka terharu juga mendengar penuturan Bi Lan tentang Bi-kwi. Suami isteri ini tahu apa artinya cinta dan mereka percaya bahwa cinta kasih akan mampu merubah watak seorang manusia, dari keadaan yang jahat menjadi baik. Cinta kasih mampu menghidupkan kembali kepekaan hati yang tadinya beku dan mati.

Mereka mendengar semua tentang Bi Lan dan Ban-tok-kiam dari kunjungan dua orang secara berturut-turut. Pertama kali datang Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, mengunjungi mereka. Dari suami isteri inilah mereka mendengar tentang kematian Teng Siang In yang menjadi korban pedang pusaka Ban-tok-kiam, dan betapa puteri tunggal suami isteri keluarga Pulau Es diculik pula oleh orang yang menggunakan Ban-tok-kiam membunuh Teng Siang In.

Kemudian, datang pula Gu Hong Beng mengunjungi mereka dan pemuda murid Suma Ciang Bun ini mengabarkan tentang diculiknya cucu mereka, Kao Hong Li, oleh seorang yang bernama Ang I Lama. Dari Hong Beng ini pulalah mereka mendengar mengenai penyelewengan murid mereka, yaitu Can Bi Lan.

Hong Beng yang penuh cemburu dan iri hati itu menceritakan kepada suami isteri tua itu betapa Bi Lan melakukan penyelewengan bukan saja main gila dengan Pendekar Suling Naga, bahkan Bi Lan dan Sim Houw telah membantu iblis betina Bi-kwi, dan menentang keluarga Pulau Es!

Kini, setelah mendengar penuturan Bi Lan, suami isteri ini dapat menarik kesimpulan bahwa memang terjadi salah paham antara Bi Lan berdua Sim Houw dengan Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng.

Setelah saling pandang dan memberi persetujuan dengan isyarat mata, Wan Ceng lalu mewakili suaminya berkata pada Bi Lan. "Setelah mendengar keteranganmu sekarang kami mengerti, Bi Lan. Akan tetapi, kalian sudah terlanjur mendatangkan kesan buruk kepada keluarga Pulau Es. Karena itu engkau harus menebusnya dengan perbuatan yang akan dapat membersihkan namamu, Bi Lan. Ketahuilah bahwa cucu kami, puteri tunggal anak kami Kao Cin Liong, yang bernama Kao Hong Li, telah diculik orang yang mengaku bernama Ang I Lama. Kau wakililah kami, karena kami sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh. Wakili kami dan cari Hong Li sampai dapat! Kalau engkau berhasil mengembalikan Hong Li kepada orang tuanya, maka baru aku mau mengaku engkau sebagai muridku lagi."

Bi Lan terkejut. Tugas yang amat berat karena ia tidak tahu ke mana anak itu dibawa pergi penculiknya, dan ia pun tidak mengenal siapa Ang I Lama. Akan tetapi, Sim Houw yang berada di dekatnya menyentuh lengannya dan berbisik, "Terimalah saja tugas itu, Lan-moi, kita cari bersama."

Mendengar bisikan ini, Bi Lan merasa besar hatinya dan dengan penuh semangat ia pun berkata, "Baiklah, subo dan suhu, teecu akan mencari, sampai dapat menemukan kembali adik Kao Hong Li. Teecu baru akan datang menghadap suhu dan subo kalau teecu sudah berhasil dengan tugas itu dan teecu mahon doa restu dari suhu berdua subo."

"Baiklah, Bi Lan. Kami membekali kalian doa restu dan mudah-mudahan engkau akan berhasil. Sekarang berangkatlah kalian," kata nenek Wan Ceng.

Akan tetapi Bi Lan tidak bangkit, bahkan memberi hormat sambil berlutut, diikuti pula oleh Sim Houw yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dan nenek itu. Dua orang kakek dan nenek itu bangkit berdiri, mengira bahwa dua orang muda itu berlutut untuk memberi hormat dan berpamit, tetapi ternyata tidak demikian karena Bi Lan berkata dengan suara penuh permohonan.

"Ada satu permohonan dari teecu kepada suhu dan subo, harap saja suhu dan subo dapat mengabulkan permohonan teecu ini."

Wan Ceng tersenyum. "Katakanlah."

"Seperti suhu dan subo mengetahui, teecu hidup sebatang kara, tidak ada orang tua, tanpa keluarga. Ketiga suhu Sam Kwi telah tewas dan bagi teecu, suhu dan subo merupakan pengganti orang tua. Demikian pula dengan Sim-toako yang sudah yatim piatu dan tidak ada keluarga. Oleh karena itu, kami berdua mohon agar suhu dan subo yang sudi menjadi wali kami dan mengesahkan dan merestui perjodohan antara kami."

Diam-diam Sim Houw merasa girang dan bangga sekali. Gadis ini selain mencintanya juga bersungguh-sungguh dan demikian tabah membicarakan persoalan jodoh itu tanpa lebih dulu bertanya kepadanya. Akan tetapi, apa yang diucapkan gadis itu memang amat disetujuinya, bahkan dia akan merasa berbahagia, kalau kelak kakek dan nenek sakti itu mau mengesyahkan perjodohan antara mereka!

Kakek Kao Kok Cu dan Wan Ceng saling pandang dan kakek itu mengangguk sambil tersenyum. Dia dapat melihat cinta kasih berpancar dari wajah dan sinar mata kedua orang muda itu, maka tidak ada lagi halangan bagi mereka untuk berjodoh, apa lagi karena tidak ada keluarga mereka yang dapat dimintai persetujuan. Akan tetapi Wan Ceng yang cerdik segera menjawab.

"Tentu saja kami berdua suka sekali menjadi wali dan mengesahkan perjodohan kalian yang saling mencinta. Akan tetapi, ingat, kalian mempunyai tugas penting, oleh karena itu, laksanakan dulu tugas itu, baru kalian datang ke sini dan kami akan mengabulkan permintaan kalian."

Bukan main girangnya hati Bi Lan. Berkali-kali ia memberi hormat dan menghaturkan terima kasih. Juga Sim Houw menghaturkan terima kasih kepada kedua orang tua itu. Akan tetapi ketika mereka hendak berpamit, mendadak terdengar suara nyaring di luar istana itu.

"Kao Kok Cu dan Wan Ceng...! Apakah kalian masih hidup?"

Tentu saja empat orang itu merasa terkejut sekali mendengar suara yang mengandung tenaga khikang yang amat kuat itu, sehingga suara itu memasuki istana dan sampai ke ruangan itu membawa gema yang sangat kuat. Wan Ceng mengerutkan alisnya. Sukar menduga siapa adanya orang yang berani menyebut namanya dan nama suaminya begitu saja itu! Hatinya merasa tak senang, maka ia mendahului suaminya dan berkata kepada Bi Lan dan Sim Houw, "Kalian keluarlah dan lihat siapa orang kasar yang baru datang itu!"

Nenek ini dulu ketika muda memang berwatak keras. Mendengar ada orang berteriak-teriak di luar memanggil namanya dan nama suaminya, ia merasa tidak senang dan merasa tidak perlu keluar sendiri menyambut, maka ia wakilkan kepada Bi Lan dan Sim Houw. Ia tahu bahwa muridnya itu, dan terutama sekali Sim Houw, telah mempunyai kepandaian yang amat lihai sehingga patut mewakilinya menghadapi orang yang bagai mana pun juga.

Bi Lan dan Sim Houw cepat berlari keluar. Ketika mereka tiba di luar istana, keduanya tersenyum lebar dengan hati lega ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang hwesio tua renta yang telah mereka kenal baik. Orang itu bukan lain adalah Tiong Khi Hwesio! Seperti kita ketahui, Tiong Khi Hwesio dahulu memimpin para pendekar muda menghadapi komplotan Sai-cu Lama, maka tentu saja Bi Lan dan Sim Houw mengenal baik pendeta ini.

Sebaliknya, Tiong Khi Hwesio juga mengenal dua orang muda itu. Dia tersenyum ramah dan menudingkan telunjuknya ke arah mereka, "Ehh-ehhh, kiranya kalian berdua juga berada di sini?"

Sim Houw cepat menghampiri hwesio itu dan memberi hormat, sementara itu Bi Lan sambil tertawa cepat masuk kembali ke dalam istana menemui suhu dan subo-nya. Dari luar ruangan ia sudah berteriak, "Suhu...! Subo...! Yang datang adalah locianpwe Tiong Khi Hwesio!"

Akan tetapi kakek dan nenek itu tidak mengenal nama Tiong Khi Hwesio dan mereka saling pandang dengan heran. Hanya saja, oleh karena mendengar bahwa yang datang adalah seorang hwesio, mereka lalu melangkah keluar bersama Bi Lan untuk melihat siapa hwesio yang menyebut nama mereka begitu saja.

Ketika Kao Kok Cu dan Wan Ceng tiba di luar istana, mereka berdua memandang kepada hwesio tua yang berkepala gundul dan berjubah kuning itu. Mereka termangu, tidak mengenal hwesio tua itu. Hwesio yang bermulut sinis, senyum yang mengarah ejekan, sepasang mata yang tajam, mencorong dan tubuh yang masih nampak tegap dan membayangkan kekuatan.

Di lain pihak, Tiong Khi Hwesio memandang kepada kakek dan nenek itu, kemudian melangkah lebar menghampiri. Wajahnya berseri dan terutama sekali matanya ditujukan kepada nenek Wan Ceng, kemudian dia merangkap kedua tangan ke depan dada seperti orang berdoa.

"Omitohud...! Terima kasih kepada Sang Buddha bahwa hari ini pinceng masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Wan Ceng! Ahhh, Wan Ceng, engkau kini sudah menjadi seorang nenek yang tua, tapi masih nampak kelincahanmu dan kegagahanmu!"

Suara itu menggetar penuh perasaan. Betapa takkan terharu rasa hati kakek hwesio ini bertemu dengan wanita yang di waktu mudanya dulu pernah menggetarkan kalbunya, seorang wanita yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri, seayah berlainan ibu!

Wan Ceng terkejut sekali dan melangkah maju mendekat, memandang tajam penuh perhatian dan penuh selidik. "Siapakah engkau ini...? Aku... aku tidak mengenal hwesio seperti engkau ini...," tanyanya ragu.

"Hemmm, Si Jari Maut telah menjadi seorang hwesio, sungguh mengagumkan sekali!" Tiba-tiba terdengar suara Kao Kok Cu berkata dan Wan Ceng memandang kepada hwesio itu dengan mata terbelalak.

"Kau... kau... Wan Tek Hoat...?" Akhirnya ia berseru, suaranya gemetar dan tiba-tiba saja kedua matanya menjadi basah.

Hwesio tua itu mengejap-ngejapkan matanya yang juga menjadi basah. Ia mengangguk-angguk. "Bertahun-tahun aku sudah menjadi hwesio dan nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio."

"Aihh... Tek Hoat... Tek Hoat... siapa dapat mengira bahwa engkau kini telah menjadi seorang pendeta? Mengapa pula demikian? Dan di mana adanya adik Syanti Dewi?"

Mendadak sepasang mata hwesio itu yang tadinya berseri, kini menjadi muram dan sejenak dia menundukkan kepalanya dan mengerahkan tenaga untuk menahan rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Hanya sebentar saja dia terpukul, kemudian dia sudah dapat mengangkat mukanya lagi memandang kepada nenek Wan Ceng.

"Sudah beberapa tahun lamanya ia meninggalkan aku, meninggalkan dunia, dan sejak itu pula pinceng menjadi hwesio..."

Kalimat ini cukup bagi Wan Ceng. Ia dapat membayangkan apa yang terjadi dan hal ini memancing datangnya air mata yang lebih banyak lagi. Ia dapat mengerti bahwa tentu Wan Tek Hoat yang amat mencinta isterinya, yaitu Syanti Dewi, semangatnya menjadi patah dan masuk menjadi hwesio untuk menghibur dirinya.

"Tek Hoat, kasihan kau...! Syanti Dewi, mengapa engkau begitu kejam meninggalkan dia?"

Suasana menjadi hening dan mengharukan, akan tetapi hanya sebentar karena suara ketawa kakek Kao Kok Cu memecahkan keheningan dan membuyarkan keharuan.

"Ha-ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil saja yang cengeng! Tiong Khi Hwesio, marilah masuk, kita bicara di dalam. Kunjunganmu sekali ini pastilah membawa berita yang amat penting. Sim Houw dan Bi Lan, kalian pun masuk kembali, kita semua bicara di dalam."

Ucapan dan sikap Kao Kok Cu ini menolong Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng yang tadi dilanda keharuan. Hwesio itu tertawa dan Wan Ceng juga cepat-cepat menghapus air matanya. Sikap mereka telah menjadi biasa kembali ketika mereka melangkah ke dalam istana tua itu.

Setelah mereka semua duduk mengelilingi meja besar di ruangan di mana tadi Sim Houw dan Bi Lan bercakap-cakap dengan suami-isteri tua itu, Kao Kok Cu segera bertanya, "Tiong Khi Hwesio, banyak yang dapat kita bicarakan dalam pertemuan ini karena sudah puluhan tahun kita saling berpisah. Akan tetapi kami kira yang terpenting untuk didahulukan adalah urusan yang jauh-jauh kau bawa ke sini. Ada kepentingan apakah yang mendorongmu datang dari tempat yang demikian jauhnya? Engkau datang dari Bhutan, bukan?"

Tiong Khi Hwesio menggelengkan kepala. "Tidak di Bhutan lagi. Sudah bertahun-tahun pinceng bertapa di Pegunungan Himalaya, dekat Tibet. Dan memang ada hal yang amat penting yang pinceng bawa dari Tibet. Pinceng mengunjungi kalian sebagai utusan dari para pendeta Lama di Tibet."

Hwesio itu berhenti sejenak dan memandang pada kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian. Ada bermacam perasaan terkandung di dalam pandang mata itu, keraguan, juga kekhawatiran dan perasaan iba.

"Para pendeta Lama di Tibet?" Kao Kok Cu bertanya heran. "Kurasa tidak pernah ada hubungan antara kami dengan mereka!"

"Heran…!" kata pula nenek Wan Ceng. "Aku bahkan sama sekali tidak pernah bertemu dengan pendeta-pendeta Lama dari Tibet. Kepentingan apakah yang membuat mereka menyuruh seorang seperti engkau untuk datang ke tempat sejauh ini, Tek Hoat?" Nenek Wan Ceng merasa kikuk dan enggan untuk menyebut saudaranya ini dengan namanya yang baru, yaitu Tiong Khi Hwesio!

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang. "Sebuah tugas yang sungguh tidak enak bagi pinceng, akan tetapi karena pinceng juga ingin sekali berjumpa dengan kalian, maka tugas ini pinceng lakukan. Masalahnya bukan lain adalah mengenai putera kalian, yaitu Kao Cin Liong..."

"Ada apa dengan dia?" Nenek Wan Ceng bertanya dengan suara penuh kegelisahan.

"Dia bersama isterinya telah membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa, hanya karena mereka menyangka bahwa Lama itu tentu seorang jahat karena menjadi sute dari mendiang Sai-cu Lama."

"Ahh! Apakah pendeta itu bernama Ang I Lama?" Wan Ceng bertanya cepat.

"Ehh, kiranya engkau sudah tahu?" Kini Tiong Khi Hwesio yang memandang heran.

"Tentu saja aku tahu!" Wan Ceng berkata dan suaranya terdengar marah. "Dan jangan katakan bahwa orang yang bernama Ang I Lama itu demikian suci dan tidak berdosa seperti yang kau kira, Tek Hoat. Aku tahu kenapa anakku dan mantuku membunuhnya. Ia telah menculik Kao Hong Li, cucuku! Tentu anak dan mantuku melakukan pengejaran ke sana dan dalam perkelahian memperebutkan Hong Li, mereka telah membunuhnya!"

"Omitohud...!" Tiong Khi Hwesio berseru dengan kaget sekali. "Akan tetapi, pinceng sudah lama mengenal Ang I Lama, juga para pendeta Lama menanggung bahwa dia adalah seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun tidak keluar dari goanya, dan tidak mungkin sama sekali kalau dia melakukan penculikan terhadap cucu kalian!"

"Jangan katakan tidak mungkin, Tiong Khi Hwesio," kata Kao Kok Cu dengan sikap dan suara tenang. "Ingat bahwa Ang I Lama adalah sute dari Sai-cu Lama yang baru saja dibasmi komplotannya, bahkan engkaulah yang menjadi pemimpin para pendekar muda membasminya. Bukan tidak mungkin dia mendendam dan melakukan penculikan itu, karena anakku juga merupakan seorang di antara mereka yang ikut menentang Sai-cu Lama."

"Wan Tek Hoat!" kata nenek Wan Ceng. "Engkau sudah lama mengenal Ang I Lama, akan tetapi aku telah mengenal Kao Cin Liong sejak dia kulahirkan! Dia dan isterinya tak mungkin membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa! Apakah engkau lebih percaya kepada pendeta Lama itu dari pada kepada keluarga kami?"

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya. "Omitohud... betapa sukarnya urusan ini. Pinceng sendiri tidak tahu harus berpendapat bagaimana. Memang serba salah..."

"Wan Tek Hoat, apakah setelah engkau menjadi hwesio dan menjadi tua bangka, lalu engkau kehilangan semua kecerdikanmu yang dulu kau banggakan?" Nenek Wan Ceng kini berkata sambil tersenyum mengejek. "Urusan begitu mudah kenapa engkau buat menjadi sukar? Apakah ada yang menyaksikan perkelahian antara anak dan mantuku dengan Ang I Lama yang membuat pendeta Lama itu tewas?"

"Tidak ada. Dua orang pendeta Lama menemukan Ang I Lama dalam keadaan hampir mati dan Ang I Lama hanya meninggalkan pesan dengan menyebut dua nama, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya."

"Hemm, dan hal ini kau jadikan pegangan bahwa anak dan mantuku yang membunuh Ang I Lama tanpa dosa?"

"Sebelum terjadi pembunuhan itu, beberapa waktu sebelumnya, anak dan mantumu itu telah mendatangi para pendeta Lama untuk menanyakan di mana adanya Ang I Lama. Anak dan mantumu mencari Ang I Lama dan tak lama kemudian, Ang I Lama tewas dengan meninggalkan pesan nama anak dan mantumu. Bukankah hal itu sudah jelas?"

"Kurang meyakinkan. Aku percaya bahwa anak mantuku membunuh Ang I Lama, akan tetapi jelas bukan membunuh orang yang tak berdosa, melainkan membunuh penculik cucuku. Apakah hal itu salah? Tentu saja anak dan mantuku membela anak mereka! Dan ada satu hal lagi menunjukkan kebodohanmu, Wan Tek Hoat. Orang yang menjadi tertuduh adalah anakku dan mantuku, akan tetapi kenapa engkau keluyuran ke sini? Bukankah lebih mudah kalau engkau datangi saja Cin Liong dan menanyakan hal itu? Bukankah engkau mengenalnya dan sudah tahu pula di mana tempat tinggalnya?"

Menghadapi serangan kata-kata yang marah itu, Tiong Khi Hwesio tersenyum dan dia memandang kepada nenek itu dengan penuh kagum. Sudah tua renta, namun nenek ini mengingatkan dia akan seorang gadis yang lincah, jenaka dan galak, yaitu ketika Wan Ceng masih seorang gadis. Agaknya selama puluhan tahun ini, Wan Ceng masih terus mempertahankan wataknya yang keras!

"Jangan salah mengerti, Wan Ceng. Para pendeta Lama mengenal baik Kao Cin Liong ketika dia masih menjadi panglima, dan mereka pun tahu bahwa dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Karena itu, mereka merasa sungkan kepada kalian, dan aku pun berpikir bahwa lebih baik kalau urusan ini kusampaikan saja kepada kalian dari pada aku harus menegur sendiri Kao Cin Liong. Lihat, aku jauh-jauh ke sini karena merasa sungkan, juga kangen kepada kalian."

"Memang urusan ini agak ruwet," kata Kao Kok Cu. "Kami dapat menghargai sikapmu dan sikap para pendeta Lama yang masih menghargai kami orang-orang tua. Akan tetapi, kami merasa yakin bahwa andai kata Cin Liong benar membunuh Ang I Lama, tentu hal itu dilakukan karena ada hal yang amat memaksa, dan tentu dengan alasan kuat sekali. Anakku bukanlah pembunuh kejam yang membunuh pendeta tanpa dosa. Hal ini hendaknya engkau yakin, Tiong Khi Hwesio. Dan sekarang, biarlah kubebankan tugas menerangkan perkara ini kepada Bi Lan dan Sim Houw pula. Kalian dengarlah baik-baik." Kakek itu memandang kepada dua orang muda itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan sikap menghormat.

"Kami siap melakukan perintah suhu," kata Bi Lan.

"Kalian berdua sudah mendengar sendiri berita yang dibawa oleh Tiong Khi Hwesio. Tadinya kami mendengar bahwa cucu kami diculik Ang I Lama, dan kini dari Tiong Khi Hwesio kami mendengar bahwa Ang I Lama dibunuh oleh Kao Cin Liong dan isterinya tanpa dosa. Maka, kalau kalian meninggalkan tempat ini untuk mencari dan menemukan kembali Kao Hong Li, kalian kunjungilah rumah Kao Cin Liong di Pao-teng, dan selidiki persoalan ini baik-baik. Temui mereka dan tanyakan apa yang telah terjadi. Syukurlah kalau Hong Li sudah dapat ditemukan oleh orang tuanya, sehingga kalian tidak banyak repot. Kalau pun belum, carilah Hong Li sampai dapat dan juga kami ingin mendengar laporanmu kelak tentang sebab Ang I Lama dibunuh mereka, kalau benar hal itu terjadi. Nah, sekarang berangkatlah kalian!"

Bi Lan dan Sim Houw lalu minta diri kepada tiga orang tua sakti itu, dan meninggalkan Istana Gurun Pasir dengan cepat. Mereka melakukan perjalanan tanpa bicara apa pun. Keduanya nampak berlari cepat sambil termenung sehingga menjelang malam, ketika senja hari, mereka telah berhasil melewati gurun pasir yang pertama dan tiba di lereng sebuah bukit yang sudah banyak ditumbuhi pohon di samping banyak pula batu-batu besar dan goa-goa lebar. Mereka berhenti di sebuah goa yang besar dan melepaskan buntalan masing-masing, lalu duduk melepaskan lelah.

Sunyi sekali di situ. Lebih sunyi lagi terasa oleh Bi Lan karena semenjak meninggalkan Istana Gurun Pasir, temannya seperjalanan itu tak pernah bicara, hanya nampak berlari cepat di sampingnya seperti orang yang melamun. Ia melirik ke arah Sim Houw, melihat betapa laki-laki itu pun duduk termenung, menundukkan muka dan sukar melihat bagai mana bentuk wajahnya karena cuaca sudah mulai remang-remang.

Beberapa kali, seperti juga tadi ketika mereka berdua berlari, Bi Lan menggerakkan bibir untuk bicara, namun lehernya seperti tercekik rasanya dan tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya. Ia menelan ludah beberapa kali dan memperkuat hatinya, lalu memaksa diri berkata.

"Sim-toako...!" Betapa sukarnya kata itu keluar dari mulutnya sehingga terdengar seperti bisikan saja. Akan tetapi jelas nampak olehnya betapa Sim Houw terkejut mendengar suaranya, seolah-olah ia tadi telah menjerit keras, bukan hanya berbisik.

"Lan-moi, ada apakah...?" Dia bertanya, menoleh, bahkan kemudian mendekat dengan menggeser duduknya.

Tiba-tiba saja Bi Lan yang semenjak tadi merasa tegang dan penuh harapan, merasa seakan-akan meledak dan ledakan itu pun menjadi tangisan! Segala macam perasaan girang, terharu, bercampur dengan khawatir, harapan dan kekecewaan sejak pemuda itu mengaku cinta kepadanya sampai tadi saat pemuda itu melakukan perjalanan tanpa bicara sepatah pun kata, tercurah keluar bersama air matanya dan ia pun menangis terisak-isak, menyembunyikan mukanya di dalam kedua lengan yang memeluk lutut kaki yang diangkatnya. Tubuhnya terguncang-guncang karena isaknya.

Tentu saja Sim Houw menjadi terkejut bukan main dan tangannya kini sudah menyentuh pundak Bi Lan, dan suaranya terdengar penuh perasaan khawatir ketika dia berkata, "Moi-moi, engkau kenapakah? Kenapa engkau menangis, Lan-moi? Apakah yang telah terjadi? Sakitkah enggkau?"

Bi Lan tidak dapat menjawab karena tangisnya membuat ia tersedu-sedu dan sukar untuk dapat mengeluarkan kata-kata. Sim Houw agaknya tahu akan hal ini maka dia tak mendesak, membiarkan gadis itu menangis sampai segala yang mengganjal hatinya mencair. Akhirnya tangis gadis itu pun mereda dan Bi Lan mulai mengangkat mukanya, menyusuti air matanya dan kadang-kadang ia memandang kepada pemuda itu dengan sepasang mata basah dan merah.

"Bi Lan moi-moi, engkau kenapakah? Sakitkah engkau?" kembali Sim Houw bertanya setelah gadis itu tidak tenggelam ke dalam isak tangisnya lagi.

Bi Lan mengangguk. "Toako, aku memang sakit...," jawabnya dan kini legalah hatinya bahwa setelah menangis, kata-katanya menjadi lancar.

Sim Houw mengerutkan alisnya, kemudian mencoba untuk memandang dengan penuh perhatian di dalam cuaca remang-remang itu. "Sakit? Sakit apakah, Lan-moi?"

"Sakit... hati! Hatiku yang sakit."

"Eh?" Sim Houw terbelalak heran. "Sakit hati? Bagaimana rasanya?" Dengan sungguh-sungguh dia memperhatikan, mengira bahwa gadis itu menderita semacam penyakit yang tidak dikenalnya.

"Rasanya?" Bi Lan menelan kembali senyumnya karena merasa geli. "Rasanya... aku ingin marah-marah, ingin mengamuk dan menangis saja."

"Ahhh...?" Sim Houw masih belum mengerti dan menjadi bingung. "Dan engkau sudah menangis tadi..."

"Ya, akan tetapi belum marah-marah, masih belum mengamuk."

Sekarang Sim Houw baru agak mengerti. Kiranya ada sesuatu yang membuat gadis ini merasa mendongkol dan marah, pikirnya. Dan mengertilah dia apa artinya sakit hati tadi, bukan penyakit badan, melainkan penyakit perasaan.

"Akan tetapi, ada... apakah, moi-moi?"

"Siapa yang tidak sakit hatinya, toako? Sejak meninggalkan istana, engkau diam saja bagaikan patung, atau seakan-akan menganggap aku bukan manusia lagi melainkan patung hidup yang tak dapat bicara. Kenapa engkau bersikap demikian, mendiamkan aku sampai hampir sehari lamanya? Engkau sungguh kejam!"

Baru Sim Houw mengerti dengan jelas sekarang. Diam-diam hatinya lega, akan tetapi mukanya juga menjadi merah karena dia merasa semakin salah tingkah. Lalu dengan suara lirih dan gemetar dia berkata, "Lan-moi, kau maafkanlah aku, Lan-moi. Sama sekali aku bukan menganggap engkau patung, akan tetapi aku... ahh, terus terang saja, aku... tidak berani bicara, Lan-moi. Semua yang terjadi di istana itu... semua bagiku bagaikan sebuah mimpi yang amat indah dan aku takut, kalau-kalau mimpi itu akan buyar dan aku akan sadar kembali dan mimpi itu akan lenyap kalau aku bicara. Aku... sungguh aku tadi ingin sekali bicara, akan tetapi setiap kali menggerakkan bibir, aku merasa takut dan seperti tercekik leherku. Kau maafkanlah aku, moi-moi."

Bi Lan memandang kepada Sim Houw dan pemuda itu pun memandangnya. Mereka saling pandang di antara keremangan senja sehingga hanya dapat melihat bentuk muka masing-masing. Bi Lan merasa heran sekali. Mengapa keadaan pemuda itu sama benar dengan keadaan dirinya ketika mereka melakukan perjalanan tadi? Ia pun ingin sekali bicara, namun amat sukar mengeluarkan kata-kata!

"Bagaimana sekarang, toako? Apakah masih takut untuk bicara?" tanyanya, setengah menggoda.

"Tidak, moi-moi. Kalau kuingat, memang aku bodoh sekali. Kenyataan yang demikian indahnya membuat aku mabok dan seolah-olah aku tidak percaya akan kenyataan itu. Setelah kini kita bicara, aku tidak takut lagi. Maafkan aku."

Kembali hening. Keduanya seolah tidak tahu harus berbuat apa dan harus bicara apa. Terutama sekali Sim Houw. Jantungnya berdebar penuh ketegangan yang luar biasa, yang tidak dikenal sebelumnya, tetapi dia tidak mengerti mengapa demikian. Agaknya Bi Lan yang lebih tabah dalam menghadapi keadaan yang menegangkan dan membuat mereka merasa canggung itu.

"Toako..."

"Ya, Lan-moi?"

"Toako, aku ingin sekali mengetahui apakah semua pernyataanmu di depan suhu dan subo itu benar-benar keluar dari lubuk hatimu? Apakah engkau bicara sejujurnya ketika itu?"

"Pernyataan yang bagaimana, moi-moi?" Sim Houw bertanya, hanya untuk mencari ancang-ancang atau batu loncatan menghadapi pertanyaan itu, karena sesungguhnya dia dapat mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Kenapa sekarang orang yang selama ini dianggap sebagai sepandai-pandainya orang, lihai, bijaksana dan cerdik pandai, mendadak saja berubah menjadi orang yang tolol?

"Pernyataanmu bahwa engkau cinta padaku. Benarkah itu, toako, ataukah hanya kau jadikan alasan saja untuk menjawab desakan suhu dan subo?"

"Lan-moi, tentu saja benar! Sama benarnya dengan pengakuanmu bahwa engkau cinta padaku. Bagaimana mungkin engkau masih meragukan cintaku kepadamu, moi-moi?"

"Tentu saja aku ragu-ragu. Kenapa selama ini, selama kita berkenalan, bahkan waktu melakukan perjalanan bersama, mengalami banyak hal yang menegangkan bersama, engkau tidak pernah menyatakan cintamu, baik dalam perbuatan atau dengan ucapan? Kenapa, toako? Apakah cintamu itu baru saja timbul ketika kita berada di Istana Gurun Pasir?"

"Tidak, moi-moi! Aku cinta padamu sejak kita pertama kali bertemu!"

"Kalau begitu, kenapa selama ini engkau diam saja, toako? Kenapa engkau agaknya hanya menyimpan saja perasaan cintamu di dalam hati, bahkan engkau seperti hendak merahasiakannya terhadap diriku? Kenapa?"

Sim Houw sekarang telah siap dengan jawabannya. Ia mengangkat muka, memandang bentuk wajah yang nampak dalam keremangan cuaca itu.

"Karena selama ini aku menjadi pengecut terhadap cintaku sendiri, moi-moi. Aku tidak berani mengakui, bahkan aku selalu menyangkal akan adanya kemungkinan bahwa engkau mencintaku. Aku takut! Karena takut gagal maka aku lebih suka merahasiakan perasaan cintaku..."

"Kau takut kalau-kalau cintamu tidak kubalas?"

"Tidak, moi-moi. Bahkan aku selalu merasa bahwa tak mungkin engkau cinta padaku. Aku takut kalau-kalau aku akan kehilangan engkau, takut kalau aku mengaku cinta, engkau lalu menjauhkan diri dariku."

"Sim-toako, engkau kuanggap secerdik-cerdiknya orang, namun dalam hal ini engkau sungguh bodoh. Apakah engkau tidak dapat melihat perasaan hatiku terhadap dirimu dalam setiap pandang mataku, kata-kataku dan perbuatanku?"

"Memang ada sekali waktu nampak olehku bahwa engkau seperti mencintaku, namun semua itu kusangkal, kuanggap hanya khayalku belaka, karena tidak patut bagi seorang gadis sepertimu ini mencinta seorang laki-laki seperti aku."

"Ihhh...! Kenapa, toako? Kenapa tidak patut?"

"Moi-moi, engkau adalah seorang gadis yang masih muda belia, usiamu baru sembilan belas tahun, sedangkan aku… aku sudah hampir setengah baya..."

"Aduh kasihan, ratap seorang kakek-kakek...!" Bi Lan menggoda. "Sim-toako, mengapa engkau begitu merendahkan diri? Berapa sih usiamu maka engkau mengatakan bahwa engkau sudah separuh baya?"

"Usiaku sudah tiga puluh empat tahun!"

"Hemm, bagiku engkau belum tua, tentu saja lebih tua dariku. Dan apakah ada batas usia di dalam cinta?"

"Selain usiaku jauh lebih tua darimu, hampir dua kali lipat, juga aku seorang laki-laki sebatang kara, tidak memiliki apa-apa. Kuanggap diriku sama sekali tidak berharga untuk menjadi jodohmu, moi-moi. Karena perasaan itulah maka aku selalu diam dan merahasiakan cintaku. Tapi di Istana Gurun Pasir, dihadapan dua orang locianpwe yang sakti dan bijaksana itu, bukan hanya sekedar untuk menolongmu, aku merasa harus berterus terang sebagai seorang laki-laki yang berani mengaku dan bertanggung jawab atas segala perbuatan dan ucapannya."

"Aih, kasihan sekali engkau, toako. Aku... dapat kubayangkan betapa engkau menderita dan aku sendiri… aku sudah tahu sejak lama bahwa engkau cinta padaku, koko..."

"Ahhh? Engkau sudah tahu?"

Bi Lan mengangguk. "Aku diberi tahu oleh suci Ciong Siu Kwi. Ia mengatakan bahwa engkau cinta padaku, hal itu baginya mudah terlihat. Aku menjadi girang sekali, aku menjadi bahagia sekali, koko, apa lagi kalau melihat tingkahmu yang salah langkah... aku tahu bahwa sejak lama engkau cinta padaku."

"Anak nakal...!"

Sim Houw yang merasa gembira bukan main lalu tiba-tiba merangkul leher Bi Lan dan seperti sudah selayaknya, tahu-tahu Bi Lan sudah rebah di pangkuannya dan mereka saling peluk. Sejenak mereka diam, Bi Lan menyandarkan kepalanya di dada pria yang dicintanya itu. Ia merasa aman tenteram, merasa berbahagia dan puas, dan keduanya seperti terbuai dan terpesona oleh kenyataan yang indah itu, bahwa keduanya saling mencinta, bahwa tubuh mereka saling merindukan seperti juga hati mereka.

Sambil membelai rambut kepala gadis itu yang terlepas dari sanggulnya dan kini terurai di atas dadanya, Sim Houw pun berkata, "Moi-moi, engkau sudah tahu bahwa aku cinta padamu, akan tetapi aku... ahhh, aku selalu ragu-ragu, hampir tidak percaya bahwa seorang gadis seperti engkau bisa jatuh cinta padaku. Sampai sekarang pun aku masih merasa terheran-heran bagaimana engkau dapat cinta padaku, moi-moi."

Bi Lan membuka matanya memandang. Sinar matanya berseri dan mulutnya yang berbibir merah basah itu tersenyum. "Sejak dahulu aku cinta padamu, koko. Aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi, bahkan guru-guruku jauh dariku. Sam Kwi jauh dari hatiku karena mereka jahat, sedangkan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir juga jauh. Aku sudah tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai kakak atau adik, tidak berkeluarga. Karena itu, dalam dirimu aku menemukan semuanya itu. Bagiku engkau adalah pengganti orang tua, pengganti guru, juga pengganti kakak, keluarga, dan juga kekasih hatiku."

"Tapi... tapi kenapa justru aku yang kau pilih?"

Senyum di bibir Bi Lan melebar. Perasaan halus seorang wanita membuat ia merasa bahwa tentu kekasihnya ini meragukan karena tahu ada beberapa orang pemuda pilihan yang juga jatuh cinta kepadanya. Mengapa ia memilih Sim Houw dan bukan seorang di antara mereka?

"Karena engkau tidak hanya memkirkan diri sendiri, koko. Engkau selalu memikirkan kepentinganku dan meniadakan kebutuhanmu sendiri. Engkau tidak pencemburu seperti Hong Beng, dan engkau tidak mengkhayal dan memikirkan wanita lain seperti Kun Tek, walau pun engkau pernah kecewa dan patah hati karena wanita. Cintamu kepadaku murni dan engkau hanya ingin melihat aku bahagia. Karena semua itulah, juga karena aku tertarik kepada pribadimu, kepada wajahmu, kepada perangaimu, kepada... segala-galamu, maka aku cinta padamu."

Dihujani pujian-pujian itu, Sim Houw jadi terharu sekali dan tanpa disadarinya lagi dia menunduk, mendekatkan mukanya dan entah siapa yang mulai lebih dahulu, akan tetapi tahu-tahu mereka sudah saling dekap dengan eratnya dan bibir mereka saling kecup dengan mesra sampai lama, sampai mereka akhirnya menyudahi ciuman itu dengan napas terengah-engah. Bukan terengah karena kehabisan napas, melainkan terengah karena keduanya merasa tubuh mereka panas dingin dan darah dalam tubuh mereka berdesir dan bergolak.

Suara seperti rintihan keluar dari leher Sim Houw dan dia menyembunyikan mukanya pada leher yang berkulit putih mulus dan hangat itu, di antara rambut yang membelai mukanya seperti benang-benang sutera hitam. Sementara itu, dengan tubuh menggigil, Bi Lan memejamkan matanya, menggelinjang dan jantungnya berdebar, tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas dan dari kerongkongannya juga keluar suara seperti merintih halus.

Sampai agak lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, sampai tiba-tiba telinga keduanya menangkap suara yang keluar dari dalam perut Bi Lan. Suara berkeruyuknya perut yang menuntut isi! Mendengar ini, keduanya lalu sadar dari keadaan yang asyik masyuk itu.

Akan tetapi biar pun hatinya merasa agak geli, Sim Houw cukup bijaksana untuk diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Bahkan dia kemudian mempergunakan kekuatan sinkang-nya menekan pada perutnya sendiri sehingga terdengarlah suara berkeruyuk yang sama dengan tadi, hanya yang ini lebih nyaring!

Bi Lan yang tadi merasa canggung dan malu, ketika mendengar keruyuk ke dua dari perut Sim Houw, lalu tertawa. "Hi-hik, ada lomba nyanyi dalam perut kita, koko...!"

Sim Houw juga tertawa dan buyarlah suasana asyik masyuk tadi dan mereka berdua tersadar. Meski mereka kini merenggangkan diri dan suasana masih mesra, sentuhan tangan mereka masih mengandung getaran asmara, namun mereka tidak lagi dikuasai birahi seperti tadi.

Mereka bangkit berdiri. Sim Houw memegang kedua lengan gadis itu. Mereka berdiri saling berhadapan, dekat sekali. Sim Houw mencium dahi Bi Lan, lalu berkata, suaranya halus dan menggetarkan kasih sayang amat besar. "Lan-moi, mulai sekarang kita harus berhati-hati. Kita harus dapat berjaga diri, jangan sampai terjadi kebakaran..."

"Ehhh? Maksudmu?"

"Tadi ketika kita saling berciuman, aku hampir kebakaran..."

Bi Lan tersenyum dan menahan suara ketawanya. Wajahnya menjadi merah sekali. Untung cuaca sudah mulai gelap sehingga dia tak perlu menyembunyikan kemerahan wajahnya.

“Terus terang… tadi aku juga merasa aneh… ehh… kebakaran…,” Bi Lan berkata lirih sambil pelan-pelan menundukkan wajahnya.

"Aku tahu, karena itu, sebelum kita menikah dengan sah, sebaiknya kalau kita berdua berhati-hati, jangan terlalu dekat agar tidak terjadi kebakaran dan pelanggaran."

"Baiklah, koko..." Bi Lan mengangguk dan semakin kagum terhadap kekasihnya itu. Demikian kuatnya! Kuat lahir batin.

"Bukankah semuanya itu kita lakukan demi kebahagiaan kita sendiri di kemudian hari, Lan-moi?"

"Engkau benar."

Mereka lalu membuat api unggun, dan Sim Houw berhasil menangkap dua ekor ayam hutan. Daging dua ekor ayam hutan inilah yang mengisi perut mereka sebelum mereka akhirnya beristirahat di dalam goa itu, dengan tubuh mereka yang dihangatkan oleh api unggun.

Dunia nampak begitu indah bagi mereka, bahkan keadaan dalam goa yang demikian sederhana, di bawah sinar api unggun, hanya tidur di atas tanah berbatu yang kasar, bau tanah mentah, semua itu nampak amat indahnya. Indah luar biasa.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner