KISAH SI BANGAU PUTIH : JILID-25


Siangkoan Lohan dan puteranya mengerutkan alis dan memeriksa para penjaga yang malang melintang itu dengan pandang mata mereka.

“Di mana Ciu Hok Kwi...?” Siangkoan Lohan berseru.

“Mana Kwee Ci Hwa?” Siangkoan Liong juga berseru heran.

Ayah dan anak ini masih merasa heran mengapa tiga orang tawanan ini dapat lolos dan tidak adanya Ciu Hok Kwi dan Kwee Ci Hwa membuat mereka merasa curiga. Namun, tiga orang pendekar itu yang maklum bahwa tidak perlu lagi banyak bicara dengan para pimpinan pemberontak yang lihai ini, sudah cepat menggerakkan pedangnya masing-masing untuk membuka jalan berdarah dan meloloskan diri dari tempat berbahaya itu.

Akan tetapi mereka bertiga segera dikeroyok. Bahkan Ouwyang Sianseng sendiri, juga Siangkoan Lohan turun tangan. Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi pemimpin pemberontakan itu juga sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu huncwe emas. Ouwyang Sianseng juga sudah menggerakkan kipasnya, juga Siangkoan Liong sudah menggunakan pedangnya untuk ikut mengepung.

“Tangkap mereka kembali, jangan dibunuh!” terdengar Ouwyang Sianseng berseru.

Kakek ini sedang berusaha untuk memberontak untuk membalas dendamnya terhadap kerajaan. Dia membutuhkan bantuan orang-orang muda ini, maka dia merasa sayang kalau mereka dibunuh begitu saja. Alangkah akan menguntungkan kalau tiga orang ini dapat dibujuk untuk membantu gerakan mereka.

Sementara itu, dalam kamar Ciu Hok Kwi masih terjadi perkelahian mati-matian antara Ci Hwa dan Ciu Hok Kwi. Meski Ci Hwa mengamuk dengan nekat, namun ia bukanlah lawan Tiat-liong Kiam-eng Ciu Hok Kwi. Setelah lewat tiga puluh jurus, kayu potongan bangku di tangan Hok Kwi berhasil melukai pergelangan tangan gadis itu.

Ci Hwa berteriak kesakitan. Pedangnya terlepas, di lain saat pedang itu telah dirampas oleh Ciu Hok Kwi dan kini, dengan pedang di tangannya, Ciu Hok Kwi dengan beringas memandang gadis itu. Dia sudah marah sekali karena maklum bahwa dia telah ditipu oleh Ci Hwa, mempergunakan keindahan wajah dan tubuhnya, memikatnya sehingga kini tawanan yang lain telah keluar dari kamar-kamar mereka. Dia akan membunuh Ci Hwa, menyiksanya, untuk melampiaskan kemarahannya.

“Wuuuttt...!”

Pedangnya menyambar dan karena dia memang ahli pedang, gerakan pedangnya itu cepat sekali.

Ci Hwa meloncat ke belakang, tetapi tetap saja paha kirinya terserempet ujung pedang. Celananya robek dan kulit paha berikut sedikit dagingnya robek pula. Darah menetes keluar. Ci Hwa menyambar sebuah bangku lain dari sudut kamar dan ia dengan nekat menyerang lawan itu dengan bangku. Akan tetapi, kembali sinar pedang berkelebat dan pangkal lengannya robek terluka!

Ci Hwa menyerang terus mati-matian tanpa mempedulikan dirinya dan dalam belasan jurus saja, dia sudah menderita belasan luka yang tidak parah namun cukup merobek pakaian dan kulit tubuhnya, membuat darah berlepotan membasahi seluruh tubuhnya. Mengerikan sekali keadaan gadis itu, dan Hok Kwi menyeringai puas.

“Akan kubunuh engkau, perempuan setan!” desisnya berkali-kali setiap kali pedangnya mengenai sasaran.

Dia sengaja hanya melukai dengan ujung pedang karena tidak ingin segera membunuh gadis itu. Setelah gerakan Ci Hwa semakin lemah karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Hok Kwi baru melakukan serangan yang sesungguhnya.

“Cappp...!” Pedangnya menancap ke lambung Ci Hwa, agak lebih dalam dan gadis itu pun terhuyung, lalu roboh.

“Mampuslah kau...!” Ciu Hok Kwi menggerakkan pedangnya untuk dibacokkan ke arah leher, namun mendadak sebuah tangan menyambar dan mengetuk pergelangan tangan kanannya.

“Dukkk! Ahhhhh...!”

Ciu Hok Kwi terkejut sekali, seketika tangannya lumpuh dan pedangnya terlepas. Ketika dia mengangkat muka, ternyata di situ telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian serba putih, bersama seorang gadis yang cantik jelita dan bersikap gagah sekali. Makin terkejutlah dia ketika mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tan Sin Hong!

“Paman Ciu Hok Kwi! Apa… apa yang kau lakukan ini dan mengapa engkau berada di sini?” tanya Sin Hong yang juga terkejut dan heran sekali melihat bahwa orang yang hampir membunuh Kwee Ci Hwa itu bukan lain adalah Ciu Hok Kwi atau Ciu Piauwsu, bekas pembantu mendiang ayahnya!

Hok Kwi nampak kebingungan, lalu menjawab gagap, “Aku... aku...,” dan tubuhnya lalu meloncat keluar kamar dan melarikan diri!

“Biar kukejar dia!” kata Suma Lian, gadis yang datang bersama Sin Hong.

“Jangan,” kata Sin Hong. “Gadis ini terluka parah, kita harus menyelamatkan dia dan keluar dulu dari sini.”

Mereka berdua lalu keluar dari dalam kamar. Sin Hong memondong tubuh Ci Hwa yang berlumuran darah dan gadis itu dalam keadaan pingsan. Karena pada waktu itu para tokoh sesat sedang sibuk mengeroyok Hong Beng, Kun Tek, dan Li Sian, maka dua orang muda perkasa ini dapat melarikan diri keluar dari perkampungan Tiat-liong-pang dengan aman.

Sementara itu, dengan amat ketakutan Ciu Hok Kwi meninggalkan kamarnya dan tiba di tempat di mana tiga orang pendekar muda itu dikeroyok. Perkelahian ini tidak seimbang. Tiga orang muda itu memang lihai bukan main, akan tetapi, mereka dikeroyok dan di antara para pengeroyok mereka terdapat orang-orang yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada mereka, seperti Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan terutama sekali Ouwyang Sianseng.

Apa lagi tiga orang pendekar ini telah kehilangan senjata mereka, hanya menggunakan pedang biasa saja, hasil rampasan dari para penjaga tadi. Tentu saja pedang-pedang biasa itu tidak ada artinya ketika bertemu dengan senjata-senjata pusaka di tangan para pengeroyok mereka.

Ketika mereka terdesak, kembali dengan gagang kipasnya, Ouwyang Sianseng berhasil menotok roboh mereka satu demi satu. Tiga orang muda itu lalu dibelenggu dan kembali dilempar ke dalam sebuah tahanan yang besar, sekali ini disatukan dan dirantai pada dinding kamar sehingga mereka bertiga tidak akan mampu berkutik lagi!

Ciu Hok Kwi mengajak teman-temannya lari ke kamarnya untuk menghadapi Tan Sin Hong dan wanita cantik itu, akan tetapi ketika mereka tiba di sana, Sin Hong dan Suma Lian telah lenyap, bahkan Ci Hwa yang tadi telah roboh juga tidak nampak di situ.

“Hok Kwi, apa yang telah terjadi?” Siangkoan Lohan menegur muridnya, suaranya tegas dan kereng. “Bagaimana mereka bisa keluar?”

Wajah Hok Kwi berubah pucat. Dia tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi dia seorang yang cerdik dan dalam waktu beberapa detik itu dia telah dapat mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Harap Suhu sudi memaafkan, teecu mengaku telah melakukan kesalahan, telah lalai.”

Siangkoan Lohan amat menyayang muridnya ini, karena muridnya ini selain merupakan murid paling lihai, juga cerdik sekali dan selama ini membuat jasa besar untuk kemajuan gerakan pemberontakannya. Melihat muridnya berlutut minta maaf dan mengaku salah, kesabarannya telah datang kembali.

“Sudahlah, ceritakan saja apa yang telah terjadi! Engkau yang memimpin anak buahmu melakukan penjagaan terhadap para tawanan itu, bagaimana mereka dapat keluar dan membuat ribut, bahkan telah membunuh banyak penjaga?”

“Maaf, Suhu. Memang teecu sudah bersalah dan teledor, akan tetapi kalau tidak ada si keparat Tan Sin Hong, putera Tan Piauwsu dari Ban-goan itu, tentu tidak akan terjadi pelepasan para tawanan. Harap Suhu ketahui bahwa gadis itu, yang bernama Kwee Ci Hwa, adalah puteri Kwee Piauwsu di Ban-goan dan sudah mengenali teecu. Teecu... teecu tergoda dan membawanya ke kamar teecu, karena teecu merasa yakin bahwa para tawanan takkan mungkin dapat lolos dengan adanya penjagaan ketat. Akan tetapi, tiba-tiba saja terjadi kegaduhan dan tiga orang tawanan itu lolos, ternyata dilepaskan oleh Tan Sin Hong itu bersama seorang temannya. Karena marah, Kwee Ci Hwa lalu teecu lalu bunuh. Tan Sin Hong dan temannya itu datang, dan terpaksa teecu melarikan diri karena tidak mampu menandingi mereka. Dan ternyata dia sudah pergi bersama temannya itu, dan agaknya membawa pergi mayat Kwee Ci Hwa.”

Cerita ini dapat diterima oleh Siangkoan Lohan. “Sudahlah, sekarang jagalah baik-baik, awas kalau sampai mereka terlepas lagi. Kecerobohanmu tadi membuat kita kehilangan belasan anak buah!”

“Maaf, Suhu. Teecu akan menjaga dengan taruhan nyawa,” kata Ciu Hok Kwi.

Sementara itu, Sin Hong dan Suma Lian berhasil keluar dari sarang Tiat-liong-pang dan memasuki sebuah hutan di lereng bukit. Matahari pagi telah mulai mengirim cahayanya mengusir kegelapan malam ketika mereka berhenti di atas padang rumput dalam hutan itu. Dengan hati-hati Sin Hong merebahkan tubuh Ci Hwa ke atas rumput.

Tadi, dalam perjalanan, dia telah menghentikan beberapa jalan darah untuk menahan keluarnya terlalu banyak darah. Akan tetapi, keadaan Ci Hwa sudah sangat payah dan lemah, disebabkan oleh luka di lambungnya yang dalam, dan juga karena terlampau banyak keluar darah.

Ci Hwa membuka matanya dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal wajah Sin Hong yang berlutut di dekatnya. “Hong-ko... syukurlah... aku dapat bertemu denganmu...”

“Ci Hwa, tenanglah, aku akan berusaha mengobatimu...“

Ci Hwa menggelengkan kepala. Di dalam hatinya ia berkata bahwa ia tidak ingin hidup lagi, setelah penghinaan yang dideritanya dari Siangkoan Liong, juga dari Ciu Hok Kwi.

“Hong-ko, dengarlah baik-baik. Ciu Hok Kwi itu..., dialah yang mengatur semua... yang membunuh ayahmu, membunuh Tang Piauwsu... dan dia pulalah orang bertopeng yang membunuh orang she Lay itu...“

Sin Hong terkejut bukan main. Dia memandang wajah Ci Hwa dengan sinar mata tidak percaya dan mengira bahwa karena keadaannya yang payah, gadis itu telah berbicara tidak karuan.

“Tapi, Hwa-moi, dia... dia itu pembantu mendiang ayahku...“

Ci Hwa menggeleng kepalanya. “Dia murid pertama Siangkoan Lohan..., mereka ingin memberontak, mereka menguasai Piauwkiok ayahmu... agar dapat mengatur hubungan dengan luar Tembok Besar... dengan orang-orang Mongol. Semua itu siasat belaka untuk menguasai Piauwkiok milik ayahmu... dia telah mengaku semua ini kepadaku...“

“Keparat...!” Sin Hong terbelalak, baru dia tahu mengapa ayahnya dibunuh, kiranya ada hubungannya dengan pemberontakan.

Pantas saja orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang. Kiranya Tiat-liong-pang yang mengatur, dan Ciu Hok Kwi adalah murid kepala ketuanya. Sikap Ciu Hok Kwi yang marah-marah dan menyerbu rumah Kwee Piauwsu, lalu dia dikalahkan Kwee Piauwsu, semua itu hanya siasat belaka!

“Hong-ko... engkau telah tahu sekarang siapa musuh besarmu. Aku... aku...“

Tiba-tiba gadis itu berusaha untuk bangkit duduk, namun tidak kuat dan ia tentu akan rebah kembali kalau saja Sin Hong tidak cepat membantunya. Mata gadis itu terbelalak, mukanya membayangkan kemarahan dan kebencian, dan telunjuk kanannya menuding ke depan, seolah-olah ada orang yang dibencinya berada di situ.

“Siangkoan Liong! Keparat busuk kau...! Engkau sudah menodaiku... engkau... kubunuh engkau... ahhhhh...!” Tubuhnya terkulai dan nyawa gadis yang bernasib malang itu pun melayang pergi meninggalkan tubuhnya.

Sin Hong merebahkan gadis itu, menutupkan mulut dan matanya, kemudian meletakkan kedua tangan di depan dada. Suma Lian yang melihat semua ini, mengerutkan alisnya. Ia melihat betapa Sin Hong duduk tepekur, seperti tenggelam ke dalam lamunan yang menyedihkan.

“Hong-ko, siapakah adik yang malang ini?” Suma Lian memecahkan kesunyian dengan pertanyaannya.

Sin Hong yang sedang melamun sedih itu terkejut dan seolah-olah terseret kembali ke dalam kenyataan. Ia menoleh, memandang wajah Suma Lian kemudian menarik napas panjang. Hubungannya dengan Suma Lian, semenjak mereka berdua meninggalkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun dan menuju ke sarang Tiat-liong-pang itu, menjadi lebih akrab dan mereka saling menyebut kakak dan adik.

“Namanya Kwee Ci Hwa,” katanya menjelaskan. “Dia adalah puteri dari Kwee Piauwsu di Ban-goan, kota kelahiranku. Tadinya aku sudah terbujuk oleh Ciu Piauwsu tadi untuk mencurigai Kwee Piauwsu sebagai dalang pembunuhan ayahku. Agaknya Ci Hwa lalu menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri sampai ke sini ketika ia dan aku memperoleh jejak bahwa Tiat-liong-pang ada hubungannya dengan pembunuh ayahku dan beberapa orang lain. Ternyata setelah sampai di sini dia justru mengalami hal-hal yang lebih menghancurkan kehidupannya, walau pun dia sudah berjasa untukku, telah mengetahui rahasia pembunuhan ayahku.”

“Hemmm, agaknya ia telah diperkosa oleh Siangkoan Liong. Bukankah Siangkoan Liong adalah putera Siangkoan Lohan, pemimpin pemberontak seperti keterangan yang kita dapatkan di sepanjang perjalanan itu? Sungguh jahat. Kita harus segera masuk ke sana dan menghajar mereka!”

“Harap sabar dan tenang, Lian-moi. Kurasa tidak semudah itu. Di sana kini berkumpul banyak sekali orang pandai, apa lagi karena mereka sedang menyusun kekuatan untuk memberontak. Dari keterangan yang kita peroleh, baru anak buah mereka saja sudah tiga ratusan orang, belum lagi anak buah Sin-kiam Mo-li yang merupakan pembantu utama mereka. Ang-I Mo-pang yang menjadi anak buah Sin-kiam Mo-li itu tentu lima puluh orang lebih jumlahnya. Dan masih banyak tokoh sesat yang berada di sarang mereka. Apa artinya tenaga kita berdua?”

Suma Lian bisa membenarkan pendapat Sin Hong. “Lalu, bagaimana baiknya sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

“Kita rawat dulu jenazah Ci Hwa, kita kubur saja di bukit ini dengan baik-baik. Kemudian kita melakukan penyelidikan kembali. Kabarnya banyak orang gagah yang tertawan oleh mereka. Kalau saja kita dapat menyelundup dan mampu menolong mereka, alangkah baiknya.”

Suma Lian hanya menyetujui dan mereka berdua lalu mengurus pemakaman jenazah Ci Hwa dengan sederhana akan tetapi cukup khidmat. Sin Hong meletakkan sebuah batu besar di depan makam itu dan menuliskan nama Kwee Ci Hwa di atas batu.

Kemudian, setelah memberi penghormatan terakhir, dua orang muda perkasa itu mulai melakukan penyelidikan kembali ke sarang Tiat-liong-pang, dengan hati-hati sekali.....

********************

Pouw Li Sian, Gu Hong Beng, serta Cu Kun Tek kini ditahan di dalam sebuah kamar tahanan yang baru, kamar tahanan yang luas sekali. Kaki mereka bertiga dirantai pada besi di dinding yang kuat sekali. Setelah terbebas dari totokan, mereka dapat duduk bersila dan dapat bercakap-cakap karena mereka berada dalam satu kamar tahanan.

Kun Tek yang sadar lebih dahulu, memandang kepada Pouw Li Sian dengan penuh iba. Gadis itu pun mulai dapat bergerak kembali, lalu membereskan pakaiannya yang agak kusut, dan duduk bersila, di sebelah kanan Kun Tek. Hong Beng duduk bersila pula di sebelah kiri Kun Tek yang berada di tengah-tengah. Jarak di antara mereka hanya dua meter, namun mereka tidak dapat saling menghampiri karena rantai yang mengikat kaki mereka.

“Nona, sungguh aku merasa menyesal bahwa Nona mengalami bahaya seperti ini,” kata Kun Tek karena tidak tahu apa yang harus dikatakan dalam keadaan seperti itu.

“Kenapa menyesalkan aku, saudara Cu Kun Tek? Bukankah engkau dan saudara Gu Hong Beng ini pun mengalami nasib yang sama dengan aku? Kita sama-sama tertawan, sama-sama terancam bahaya maut!” Li Sian menatap wajah pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu sambil menahan senyumnya, senyum sedih karena gadis ini masih menderita tekanan batin akibat dendamnya terhadap Siangkoan Liong yang sedalam lautan dan setinggi langit!

“Ucapan Kun Tek memang benar, Nona. Aku pun merasa menyesal sekali bahwa Nona sampai menjadi tawanan seperti kami. Walau pun kami sendiri tertawan, namun kami adalah laki-laki. Jika saja kami dapat melakukan sesuatu untuk membebaskanmu,” kata pula Hong Beng.

Sekarang Pouw Li Sian mamandang kepada Hong Beng, dan ia pun bertanya, “Menurut keterangan saudara Cu Kun Tek, engkau adalah murid seorang keluarga Pulau Es. Bolehkah aku mengetahui siapa nama besar gurumu, saudara Gu Hong Beng?”

Biar pun Hong Heng tidak pernah membanggakan nama gurunya, namun mendengar pertanyaan ini, terpaksa dia mengaku dengan sikap rendah hati. “Suhu bernama Suma Ciang Bun.”

Li Sian mengangguk-angguk. “Pernah aku mendengar nama besar suhu-mu. Bukankah beliau itu masih cucu dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Ketahuilah, saudara Hong Beng bahwa mendiang guruku adalah mantu dari Pendekar Super Sakti...“

“Aihhh...! Apakah beliau kakek guru Gak Bun Beng...?”

“Benar, akan tetapi namanya sudah berubah menjadi Bu Beng Lokai.”

“Kalau begitu, Nona adalah saudara seperguruan dari nona Suma Lian?”

“Benar sekali! Engkau mengenal suci-ku? Ahh, sungguh semakin sempit saja dunia ini!” Untuk sejenak, Li Sian melupakan kedukaannya dan ia tersenyum gembira sekali.

Kun Tek ikut gembira melihat hal ini. “Sungguh menyenangkan sekali. Kiranya engkau masih ada hubungan keluarga seperguruan yang sangat dekat dengan Hong Beng, dan dia adalah sahabat lamaku yang amat baik. Kita ternyata masih orang segolongan yang berhubungan dekat. Sayang kita saling berjumpa dalam keadaan seperti ini.”

Li Sian teringat kembali akan keadaan mereka, teringat kembali akan keadaan dirinya. Ia membayangkan kemungkinan mengerikan yang akan menimpa dirinya. Kini ia tahu betapa kejam dan kejinya hati Siangkoan Liong dan para pimpinan pemberontak itu.

Ada bahaya yang lebih mengerikan dari pada sekedar kematian mengancam dirinya. Hong Beng dan Kun Tek memang benar kalau tadi mengkhawatirkan keselamatannya karena ia seorang wanita. Membayangkan semua ini, ia teringat akan keadaan dirinya yang sudah ternoda dan ia pun mengepal tinjunya.

“Benar apa yang telah dilakukan enci Ciong Siu Kwi itu! Kalau mendapat kesempatan lagi, aku akan melawan dan mengadu nyawa dengan mereka. Lebih baik aku mati dari pada sampai tertawan kembali!” Wajah gadis itu menjadi pucat dan sepasang matanya seperti bernyala.

“Jangan khawatir, Nona. Aku Cu Kun Tek bersumpah akan membelamu sampai mati,” tiba-tiba Kun Tek berkata dengan suaranya yang dalam dan mantap.

Mendengar ini, Li Sian menoleh dan menatap wajah pendekar muda yang gagah itu dan keduanya saling pandang. Sinar mata mereka bertemu dan berpaut, dan dalam saat beberapa detik itu, Li Sian melihat betapa sinar mata pemuda itu penuh dengan cinta kasih yang ditujukan kepadanya. Hal ini membuat ia terharu dan wajahnya yang pucat tadi berubah kemerahan, lalu sinar matanya menunduk dan kedua matanya menjadi basah.

Melihat keadaan mereka berdua itu, timbul kekhawatiran di dalam hati Hong Beng. Dia sudah mengenal watak Kun Tek yang keras dan pantang mundur, gagah perkasa dan berani menentang kematian sehingga watak ini kadang-kadang bahkan membuat dia menjadi agak sembrono. Dia tahu bahwa kalau kedua orang muda itu nekat mengadu nyawa, hal itu hanya berarti bahwa mereka berdua akan membunuh diri saja, atau mati konyol. Bagaimana pun juga, mereka bertiga tidak akan mungkin mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya demikian banyak dan memiliki banyak orang yang lebih lihai dari pada mereka.

“Nona Li Sian dan Kun Tek, dengarkan kata-kataku baik-baik. Kita bertiga mengalami nasib yang sama, menjadi tawanan tak berdaya di sini. Bagaimana pun juga, kita harus dapat meloloskan diri dan kurasa untuk itu, tak mungkin kalau kita hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan saja. Kita harus menggunakan akal dan kuharap kalian suka mengikuti apa yang akan kulakukan, demi keselamatan kita. Kalian harus ingat, kalau aku menggunakan akal, hal itu bukan berarti aku pengecut dan takut mati. Sama sekali bukan. Hanya supaya kita dapat lolos lebih dahulu dari sini, untuk kemudian mengatur siasat bagaimana agar dapat menghancurkan mereka, jika perlu dengan bala bantuan.”

“Menggunakan akal? Apa yang kau maksudkan, Hong Beng?” tanya Kun Tek.

“Kita harus mengakui bahwa kalau hanya menggunakan kenekatan, kita takkan mampu mengalahkan mereka yang jauh lebih banyak jumlahnya, dan akhirnya kita tidak akan mampu lolos dan akan mati konyol di sini.”

“Aku tidak takut, apa lagi untuk melindungi nona Li Sian!” kata Kun Tek dengan sikap gagah.

Hong Beng tersenyum dan diam-diam dia teringat akan masa lampau. Pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu kalau sudah jatuh cinta memang kelihatan nekat sekali!

“Kita semua tidak takut mati, saudaraku yang baik. Akan tetapi mati konyol seperti itu bukanlah perbuatan gagah namanya, namun perbuatan yang bodoh sekali. Bukankah begitu? Tidak, untuk keadaan kita yang dalam perimbangan lebih lemah ini kita harus menggunakan akal. Kalau perlu, aku akan bermain sandiwara dan pura-pura takluk...“

“Takluk kepada mereka? Tidak sudi! Aku akan melawan!” teriak Kun Tek.

“Saudara Kun Tek, harap suka mendengarkan dulu perjelasan saudara Hong Beng. Dia benar, kalau tidak ada harapan menang dengan menggunakan kekerasan, kenapa tidak menggunakan akal mengalah? Mengalah untuk akhirnya menang?”

Aneh sekali, demikian pikir Hong Beng. Mendengar ucapan gadis itu, Kun Tek kelihatan sabar kembali dan mengangguk, lalu berkata, “Bagaimana akalmu, coba katakan Hong Beng.”

Hemmm, raksasa ini sudah menjadi jinak agaknya, di bawah sinar mata lembut gadis hebat ini, demikian Hong Beng berkata dalam hatinya.

“Begini. Mereka itu jelas musuh kita. Akan tetapi, setelah kita memberontak terhadap mereka atas bantuan Ci Hwa tadi, dan setelah kita membunuh belasan orang anak buah mereka, kini kita ditawan kembali. Kita tidak mengalami siksaan, juga tidak dibunuh. Hal ini bukan tidak ada artinya sama sekali. Kalau kita terus dibunuh, hal itu sudah jelas. Akan tetapi tidak, kita tidak dibunuh dan ini hanya berarti bahwa mereka itu, setidaknya pemimpinnya, dan kurasa kakek berkipas itu sendiri, tidak menginginkan kita mati. Dan alasannya tentu hanya satu, yaitu dia menghendaki agar kita membantu pemberontakan mereka.”

“Tidak sudi! Aku...“ Kun Tek langsung menghentikan teriakannya ketika melihat betapa Li Sian menolehkan kepala dan memandang padanya dengan alis berkerut. “Teruskan, Hong Beng...,“ akhirnya dia berkata lirih.

Hong Beng menahan kegelian hatinya melihat sikap Kun Tek, lalu melanjutkan dengan suara bisik-bisik. “Tentu saja kita takkan bersekutu dengan kaum sesat seperti mereka. Akan tetapi, dalam keadaan terjepit dan tak ada pilihan lain, kita boleh memperlihatkan sikap seakan-akan kita setuju untuk bersama mereka menentang pemerintah. Bagai mana pun juga, bukankah kita sendiri juga tidak senang melihat pemerintah penjajah menguasai tanah air kita? Jadi, sikap kita setuju menentang pemerintah penjajah bukan merupakan suatu kepura-puraan belaka. Hanya sikap mau untuk bekerja sama itu yang menjadi permainan sandiwara kita. Nah, kalau sudah begitu, tentu muncul kesempatan bagi kita untuk membebaskan diri kelak. Bagaimana pendapat kalian?”

Kun Tek masih hendak membantah. Pemuda ini merasa betapa memalukan kalau dia harus memperlihatkan sikap lunak dan takluk kepada tokoh-tokoh sesat itu. Akan tetapi, melihat betapa Li Sian mengangguk-angguk menyambut pendapat Hong Beng itu dan nampaknya setuju, dia pun... mengangguk pula beberapa kali dan menutup mulutnya!

Mereka bertiga sekarang terpaksa menutup mulut karena mendengar suara orang dan langkah kaki menuju ke kamar tahanan itu, dan ternyata yang muncul adalah Ouwyang Sianseng bersama Siangkoan Liong! Hong Beng bertukar pandang dengan Kun Tek, memberi isyarat bahwa agaknya apa yang diduganya akan terjadi. Buktinya Ouwyang Sianseng yang lihai sekali itu, kini datang mengunjungi mereka! Apa lagi kalau bukan untuk membujuk mereka agar suka bekerja sama?

Akan tetapi, Hong Beng melihat betapa Li Sian memandang kepada Siangkoan Liong dengan sinar mata memandang penuh kebencian sehingga dia terkejut. Pandang mata seperti itu tidak dapat menipu, yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang amat benci karena dendam sakit hati! Apakah yang telah dilakukan pemuda tampan putera ketua Tiat-long-pang itu sehingga membuat Li Sian demikian membencinya?

Di belakang kedua orang ini nampak tiga belas orang yang keadaan tubuhnya sangat menyeramkan. Tinggi besar seperti raksasa, dengan tubuh bagian atas telanjang hingga nampak dada dan pundak lengan yang berotot melingkar-lingkar dan juga berbulu!

Mereka itu bagai segerombolan orang hutan. Mata mereka sempit kemerahan dan mulut mereka lebar menyeringai. Nampak gigi yang tidak terpelihara baik-baik dan kekejaman yang buas nampak pada wajah mereka. Usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun dan celana mereka hitam dengan kaki bersepatu kulit tebal.

Ketika Siangkoan Liong dan gurunya membuka pintu kamar tahanan dan memasukinya, tiga belas raksasa Mongol itu tinggal di luar. Akan tetapi mereka menjenguk ke dalam melalui jeruji-jeruji besi dan mata mereka semua memandang kepada Li Sian seperti segerombolan serigala kelaparan, dengan mulut menyeringai, dan di antara mereka ada yang tak dapat menahan air liur yang mengalir keluar melalui ujung bibir mereka. Li Sian membuang muka karena merasa ngeri dan jijik.

Dua orang anak buah Tiat-liong-pang membawa dua buah bangku dan memberikannya kepada guru dan murid itu, kemudian keluar lagi. Siangkoan Liong dan gurunya duduk di dekat pintu, memandang kepada tiga orang tawanan yang kini sudah bangkit berdiri, seperti dua orang yang menonton tiga ekor binatang buas yang diikat pada dinding.

Cu Kun Tek memandang kepada mereka dengan mata melotot marah. Kalau saja kaki kirinya tidak dibelenggu rantai baja dan terikat pada dinding, ingin rasanya ia menerjang kedua orang itu! Hong Beng berdiri dengan sikap tenang saja, sedangkan Li Sian yang juga sudah berdiri, sekarang menundukkan pandang matanya karena ia tidak sudi lagi memandang kepada Siangkoan Liong lebih lama lagi.

“Sian-moi, sungguh aku merasa bersedih dan menyesal sekali bahwa engkau sudah terkena hasutan Bi Kwi sehingga engkau memusuhi aku. Sian-moi, tidak dapatkah kita berbaik kembali? Lupakah engkau akan hubungan antara kita?”

Kalau tadinya Li Sian sudah dapat menenangkan batinnya, kini mendengar ucapan itu, seakan-akan api yang sudah mengecil itu disiram minyak sehingga berkobar kembali, mengingatkan dia akan kematian kakaknya dan akan dirinya yang sudah ternoda oleh pemuda perayu ini.

Ketika ia mengangkat mukanya, sepasang mata Li Sian berkilat memandang Siangkoan Liong penuh kebencian. “Siangkoan Liong, tidak perlu banyak bicara lagi! Omonganmu yang beracun tidak perlu kudengarkan lagi. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kita kecuali hubungan dendam dan permusuhan yang hanya akan dapat dicuci dan dihapus dengan darah!”

Seperti juga Hong Beng, kini Kun Tek memandang dan menekan keheranan hatinya. Dia juga dapat merasakan kebencian yang mendalam dari gadis itu terhadap Siangkoan Liong.

Sebelum Siangkoan Liong menjawab atau berbicara lagi, Ouwyang Sianseng sudah mencegahnya dengan mengangkat tangan kanan ke atas dan kini terdengar kakek itu bicara, suaranya halus dan penuh wibawa, sikapnya tenang sekali dan sikapnya seperti dia sedang bicara kepada para muridnya saja.

“Tidak perlu berbantahan lagi, lebih baik kalau nona Pouw Li Sian mengetahui duduknya persoalan yang sebenarnya. Nona Pouw Li Sian, bukankah engkau merasa penasaran dan mendendam sakit hati karena kakak kandungmu terbunuh? Nah, ketahuilah bahwa memang sesungguhnyalah kalau dia itu dibunuh oleh kami sendiri! Lebih baik berterus terang agar engkau tahu duduknya persoalan.”

Li Sian mengangkat muka memandang wajah kakek itu. Matanya terbelalak dan tentu saja ia mau mendengarkan karena kakek itu agaknya kini berterus terang dan mengakui secara jujur.

“Akan tetapi, mengapa dia dibunuh? Apa kesalahannya?” tanyanya sambil mengamati wajah kakek itu penuh selidik.

“Ia telah mengkhianati perjuangan kami! Ia hendak melaporkan kegiatan kami ke kota raja. Kalau dia tidak dibunuh, kami semua bisa celaka.”

“Bohong! Aku tidak percaya!” kata Li Sian, walau pun di sudut hatinya dia meragukan bantahannya sendiri. Bukankah kakaknya itu sudah memperlihatkan sikap aneh, seolah-olah terkejut dan sama sekali tak setuju melihat ia membantu gerakan perjuangan yang dipimpin Siangkoan Lohan itu? “Bukankah kakakku itu anak buah Coa Tai-ciangkun yang sudah bergabung dengan Tiat-liong-pang?”

“Itulah sebabnya mengapa kami harus bertindak tegas. Pengkhianatannya itu diketahui oleh perwira lain dan ketika dia ditegur, terjadi perkelahian di antara mereka. Kakakmu menang, perwira itu dibunuhnya, akan tetapi pada saat itu kami mengetahuinya dan kami lalu membunuhnya pula. Nah, engkau sudah mendengar sekarang, dan memang demikianlah keadaannya. Oleh karena itu, harap engkau suka menyadari kekeliruanmu memusuhi muridku ini, nona Pouw.”

Pouw Li Sian hampir terbujuk, akan tetapi ia teringat kembali akan kematian Yo Jin dan Bi Kwi yang mengerikan, dan perasaan tidak suka sudah mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap Siangkoan Liong yang tadinya berhasil menjatuhkan hatinya.

“Tidak, aku masih belum percaya! Ini semua tentu tipu muslihat kalian!” katanya.

“Memang kami hendak memperlihatkan bukti kebenaran omongan kami,” kata kakek itu sambil memberi isyarat ke luar kamar tahanan yang luas itu.

Terdengar suara gaduh, dan masuklah seorang anak buah Tiat-liong-pang menyeret lengan seorang wanita yang wajahnya pucat dan pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan. Namun masih dapat nampak jelas bahwa wanita yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu berwajah cantik dan memiliki tubuh yang montok menggairahkan. Wanita itu terhuyung lalu jatuh berlutut di depan kaki Ouwyang Sianseng.

“Nah, Nyonya Pouw Ciang Hin, sudahkah engkau pikir baik-baik? Kalau engkau ingin agar kami dapat mengampunimu, ceritakan dengan terus terang tentang suamimu yang menjadi pengkhianat itu!” kata Ouwyang Sianseng dengan sikap lembut namun kereng.

Li Sian merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan dan ia mengamati wajah wanita itu. Kiranya mendiang kakaknya telah memiliki seorang isteri dan kini isterinya telah menjadi tawanan dari gerombolan ini pula!

Wajah pucat itu diangkat memandang kepada Ouwyang Sianseng dengan sinar mata mohon dikasihani. “Sudah berulang kali kuceritakan semuanya, dan suamiku bukanlah seorang pengkhianat...“

“Bohong!” bentak Siangkoan Liong marah. “Dia mengkhianati Coa Tai-ciangkun, dan dia mengkhianati gerakan perjuangan kami. Dia setia kepada pemerintah penjajah Mancu dan dia merencanakan pengkhianatan dengan laporan ke kota raja. Hayo ceritakan, siapa saja sekutunya dalam pengkhianatan ini!”

“Kongcu... sudah berulang kali kunyatakan bahwa aku tidak tahu... dia seorang yang baik dan tidak mungkin menjadi pengkhianat... Ahhh, Kongcu, aku telah menceritakan segalanya dan engkau masih belum juga percaya? Kalau begitu, bunuh saja aku agar aku dapat menyusul suamiku...“ Wanita itu menangis.

Siangkoan Liong bertukar pandang dengan gurunya dan Ouwyang Sianseng kemudian mengangguk. Siangkoan Liong lalu memanggil ke luar kamar. “Hei, seorang dari kalian masuklah ke sini!”

Pada saat pemuda itu menunjuk kepada mereka, tiga belas orang raksasa Mongol itu menyeringai dan mereka saling berebut hendak masuk, bahkan dorong mendorong dan tarik menarik. Siangkoan Liong menghardik dan mereka pun segera diam, lalu seorang di antara mereka yang paling besar, dengan tubuh yang berbulu seperti seekor gorila, melangkah masuk. Dua tangannya tergantung panjang sampai ke lutut, mulutnya yang lebar menyeringai dan matanya yang sipit kemerahan itu ditujukan kepada wanita yang masih berlutut itu, dan kini memandang dengan mata terbelalak ngeri kepada manusia monyet itu.

Raksasa itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan Siangkoan Liong, dan suaranya terdengar parau dan besar pada saat dia bertanya, “Kongcu, apakah yang harus saya lakukan?” Karena logat bicaranya asing, maka terdengar lucu dan juga menyeramkan.

“Engkau Okatou, kau boleh melakukan apa saja terhadap wanita tawanan ini agar ia mau mengakui semua pengkhianatan suaminya. Akan tetapi jangan bunuh!”

Raksasa itu lalu menyeringai dan menoleh kepada isteri mendiang Pouw Ciang Hin. “Heh-heh-heh, Kongcu. Boleh saya melakukan apa saja terhadapnya, di sini?”

“Ya, bahkan kalau perlu kau boleh memperkosanya agar ia mau mengaku!” kata pula Siangkoan Liong.

Mendengar ini, wajah Kun Tek, Hong Beng dan Li Sian menjadi merah karena marah. Akan tetapi mereka tak berdaya dan hanya dapat menonton dengan hati yang tegang. Sementara itu, dua belas orang raksasa lain di luar kamar, menonton dari balik jeruji. Mereka tertawa-tawa dan menyeringai dengan mulut berliur, agaknya mereka sangat iri terhadap kawan mereka yang dianggap mujur itu.

Raksasa bernama Okatou itu kini bangkit dan menghampiri isteri Pouw Ciang Hin yang terbelalak dengan muka pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia pun bangkit berdiri. Karena keadaan terhimpit, ia pun agaknya hendak berlaku nekat dan memasang kuda-kuda. Agaknya sedikit banyak wanita ini pernah belajar silat dari suaminya. Melihat ini, Okatou tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang besar-besar dan kotor.

“Cui Bi, mengakulah saja sebelum dia menjamah tubuhmu,” terdengar Siangkoan Liong berkata.

Mendengar betapa pemuda ini menyebut nama kecil nyonya itu, mudah diduga bahwa dia sudah akrab dengannya. Dan memang demikianlah semenjak suaminya meninggal, nyonya ini diboyong ke dalam kamar Siangkoan Liong dan dengan cara halus, dengan bujuk rayu dan permainan cinta, pemuda itu sudah berusaha untuk membuat wanita itu mengakui semua kegiatan suaminya. Karena tidak berhasil walau pun nyonya itu telah menyerahkan diri dengan terpaksa, maka diambil jalan ini, untuk memaksa nyonya itu mengaku, juga sekalian untuk membuat Li San dan kedua orang pemuda tawanan itu menjadi jeri dan tunduk.

Nyonya itu menggelengkan kepala berkali-kali. “Tidak... tidak... ohhh… jangan lakukan ini, Kongcu... ahhh, bunuh sajalah aku...”

Raksasa Okatou itu sambil menyeringai telah menubruk dengan kedua lengannya yang panjang. Wanita itu lalu mengelak dan mencoba untuk menendang dari samping. Akan tetapi, sekali sambar, raksasa itu telah menangkap kaki dan menendang.

“Ahhh... lepaskan kakiku... Lepaskan aku...! Nyonya yang bernama Cui Bi itu meronta-ronta, namun percuma saja, kaki kanannya seperti terjepit besi.

Kini tangan kiri raksasa itu menyambar ke depan dan di lain saat tubuh wanita itu telah dirangkulnya dan ditariknya mendekat, didekapnya dan sambil tersenyum menyeringai, raksasa Mongol itu itu menciumi muka Cui Bi! Wanita ini berusaha memutar kepalanya ke kanan kiri untuk mengelak, namun kini tangan kiri Okatou menjambak rambutnya, memaksa kepala itu untuk diam dan dengan lahapnya dia mencium pipi dan mulut Cui Bi dengan ciuman yang mengeluarkan bunyi.

Dua belas orang raksasa Mongol lainnya menonton dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan air liur. Sementara itu, Li Sian menarik-narik rantai di kakinya. Dia sudah marah sekali dan kalau saja dia dapat melepaskan diri dari rantai itu, tentu dia akan menerjang raksasa Mongol yang sedang menghina kakak iparnya itu! Akan tetapi rantai itu telalu kuat.

Kun tek juga mengepal tinju dan berteriak. “Jahanam busuk, lepaskan ia!”

Akan tetapi, Okatou yang hanya mentaati perintah Siangkoan Liong, tentu saja tidak mau memperdulikan semua itu.

“Brettttt! Brettttt...!”

Kini kedua tangan raksasa itu merobek-robek dan merenggut pakaian Cui Bi. Bagaikan kertas saja, kain pakaian itu robek dan tanggal sehingga kini tubuh wanita yang malang itu menjadi telanjang bulat! Dan jari-jari tangan yang besar berbulu itu, tanpa rikuh atau malu-malu di depan banyak orang, menggerayangi bagian tubuh dengan penuh nafsu.

Okatou dan kawan-kawannya, yang menjadi pasukan khusus dan anak buah Siangkoan Liong, datang dari luar Tembok Besar. Mereka itu memang merupakan manusia liar yang buas. Mereka sudah biasa melakukan penyiksaan atau pembunuhan, perkosaan begitu saja di depan banyak orang tanpa merasa rikuh sedikit pun juga.

Cui Bi, wanita yang malang itu, hampir pingsan ketika dirinya didekap, diciumi dan kini pakaiannya telah tanggal semua. Akan tetapi ia masih ingat untuk nekat menggigit pipi raksasa Mongol itu sekuat tenaga.

“Aughhh...!”

Okatou mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas dan dia mendorong tubuh Cui Bi dengan keras sehingga gigitan itu terlepas dan tubuh Cui Bi terlempar ke arah Li Sian. Raksasa itu meraba pipinya yang kulitnya robek berdarah oleh gigitan Cui Bi. Kini matanya makin merah memandang ke arah Cui Bi yang tentu akan terbanting kalau saja Li Sian tidak menyambutnya dengan tangan kirinya.

“He-he-heh...“ dalam kemarahannya, Okatou menyeringai dan terkekeh, lalu melangkah perlahan-lahan menghampiri wanita yang telanjang itu. Sinar matanya penuh ancaman mengerikan.

“He-he-heh, engkau kuda betina binal... he-he-heh, mari sini manis...“ Okatou tiba-tiba melompat ke depan, tangannya terulur untuk menangkap rambut Cui Bi yang kini terurai karena terlepas dari sanggulnya. Akan tetapi, sebuah kaki menyambutnya.

“Dukkk...!”

Tubuh Okatou langsung terjengkang keras oleh tendangan yang dilakukan Li Sian untuk melindungi Cui Bi. Tubuh Okatou terbanting keras dan Li Sian berkata kepada Cui Bi, “So-so (Kakak Ipar), engkau bersembunyilah di belakangku. Aku akan melindungimu, aku adalah adik perempuan suamimu.”

Pada saat itu Cui Bi merangkak ke belakang Li Sian. Okatou sudah bangkit lagi dan dengan kemarahan meluap, Okatou sudah menubruk ke depan, kali ini bukan menubruk ke arah Cui Bi, melainkan ke arah Li Sian, wanita tawanan yang berani menendang sehingga dadanya terasa nyeri dan sesak napas itu.

Li Sian yang sudah amat marah dan membenci raksasa ini, sudah mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga sinkang pada seluruh tubuhnya. Ia menanti sampai penyerang itu dekat, lalu ia mendahului dengan luncuran tangan kirinya, dengan dua jari mencuat, yaitu telunjuk dan jari tengah, agak direnggangkan dan dua buah jari itu meluncur dan menghujam ke arah kedua mata raksasa itu.

“Creppp...!”

Dua batang jari itu seperti sumpit baja menusuk dan masuk ke dalam rongga mata Okatou. Tubuh Okatou menggigil dan gerengan aneh keluar dari mulutnya, kemudian dia terjengkang. Akan tetapi pada saat itu, kaki kanan Li Sian menyusul dengan sebuah tendangan maut.

“Desssss...!”

Sekarang tubuh itu terbanting keras dan tidak mampu bergerak lagi. Kedua matanya berlumuran darah dan di bagian tengah celananya juga berlepotan darah. Jika tusukan dua jari tangan itu membutakan matanya, maka tendangan tadi sudah menghancurkan selangkangnya dan membuat nyawa raksasa buas itu melayang!

“Soso, jangan takut, aku melindungimu,” kata pula Li Sian kepada wanita telanjang yang masih berlutut di belakangnya.

Akan tetapi, Cui Bi terbelalak memandangnya, kemudian berkata dengan suara lantang. “Hemmm, kiranya engkau adik suamiku yang bernama Pouw Li Sian? Cihhh, sungguh tidak tahu malu engkau! Kakakmu dibunuh orang dan engkau malah menyerahkan diri dan kehormatanmu kepada Siangkoan Kongcu!”

Wajah Li Sian tiba-tiba menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah dan pada saat itu, Siangkoan Liong yang juga tidak mengira wanita itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu, menghardik, “Cui Bi, ke sini engkau!”

Bagaikan seekor anjing yang takut mendengar panggilan majikannya, Cui Bi berjalan menghampiri Siangkoan Liong, berusaha menggunakan kedua tangan menutupi bagian tubuh atas dan bawah, lalu ia berlutut di depan pemuda itu.

“Kongcu, jangan siksa aku seperti ini. Ampunkan atau bunuh saja aku,” ratapnya.

Ketika menyaksikan semua peristiwa yang tidak diduganya itu, Ouwyang Sianseng lalu mengerutkan alisnya. “Hemmm, Siangkoan Kongcu, apakah engkau masih menyayang dan membutuhkan wanita ini?” tanyanya kepada Siangkoan Liong.

Pemuda itu menggelengkan kepala dan mendengus dengan pandang mata menghina. “Tidak, Suhu, saya sudah bosan padanya.”

“Kalau begitu, suruh bunuh saja ia supaya jangan mendatangkan keributan lagi,” kata Ouwyang Sianseng.

Siangkoan Liong memandang kepada Cui Bi, lalu menoleh kepada wajah dua belas orang raksasa Mongol di luar yang masih terbelalak memandang ke arah tubuh wanita telanjang itu seperti serigala-serigala kelaparan, lalu dia pun berkata, “Tidak Suhu. Biar untuk mereka saja! Nih, dia kuberikan kepada kalian. Bawa pergi ke belakang sana!”

Siangkoan Liong tiba-tiba melakukan gerakan dengan kakinya, menendang tubuh Cui Bi yang terlempar keluar dari pintu kamar. Di luar, sambil mengeluarkan suara teriakan-teriakan liar, dua belas orang itu telah menyambut dan jerit melengking yang keluar dari mulut Cui Bi mengatasi semua suara gaduh.

Li Sian melihat tubuh berkulit putih mulus menjadi rebutan, di antara tangan-tangan yang berbulu dan berotot, lalu tubuh wanita itu diangkat pergi oleh dua belas orang raksasa itu. Yang terdengar hanya lengking tangis. Li Sian lalu menundukkan mukanya dan mematikan pendengarannya agar ia tidak lagi mendengar jeritan kakak iparnya.

Sementara itu, Kun Tek sudah duduk bersila dan matanya menatap ke arah Siangkoan Liong, bagaikan mencorong dan mengeluarkan api. Di dalam hatinya, pemuda ini telah mengambil keputusan untuk kelak membunuh pemuda tampan itu. Bukan hanya untuk menebus perbuatannya yang keji terhadap Cui Bi, melainkan juga karena Li Sian! Kini dia mulai mengerti mengapa gadis perkasa itu demikian penuh kebencian terhadap Siangkoan Liong!

Setelah anak buah Tiat-liong-pang membawa pergi mayat Okatou, Ouwyang Sianseng lalu memandang kepada tiga orang tawanan itu. Dia menarik napas panjang kemudian berkata, “Ahhh, perang memang kejam. Di dalam perjuangan, kadang-kadang memang harus menggunakan kekerasan terhadap musuh. Apa lagi kaum pengkhianat memang harusnya dibasmi. Kami mengenal Sam-wi (kalian bertiga) sebagai orang-orang gagah, keturunan para pendekar sakti, yang sudah tentu mempunyai jiwa patriot dan membenci pemerintah penjajah Mancu. Kami sedang berusaha untuk menumbangkan penjajah, dan membebaskan rakyat dari penjajahan. Oleh karena itu, kami yakin bahwa sebagai pendekar-pendekar gagah yang biasa membela tanah air dan rakyat, Sam-wi tentu akan berpikir panjang. Membantu perjuangan kami atau terpaksa kami lenyapkan Sam-wi sebagai lawan-lawan yang sangat berbahaya. Kami memberi waktu untuk mengambil keputusan sampai besok pagi.”

Setelah berkata demikian, Ouwyang Sianseng mengajak muridnya keluar dari kamar itu dan memesan kepada para anak buah untuk menyuguhkan hidangan yang hangat dan baik kepada mereka bertiga.

Dengan cerdik Hong Beng diam saja, tidak menjawab pertanyaan Ouwyang Sianseng. Dia tahu bahwa batin Kun Tek dan Li Sian masih terguncang menyaksikan kekejaman yang tak berperi kemanusiaan tadi, maka mereka berdua itu pasti akan menentangnya kalau dia menyambut dengan lembut. Apa lagi kakek itu memberi waktu sampai besok. Masih banyak waktu bagi mereka bertiga berunding.....

********************


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner