KISAH SI BANGAU PUTIH : JILID-31


Pada saat itu terjadi perubahan menarik pada pertempuran antara Ouwyang Sianseng dan Kam Hong. Mereka berdua kini lebih mengandalkan tenaga sakti mereka. Maklum, keduanya adalah tokoh-tokoh tua. Usia Ouwyang Sianseng telah mendekati tujuh puluh tahun, demikian pula dengan Kam Hong.

Betapa pun lihai dan kuatnya seseorang, tubuhnya hanya terbuat dari darah dan daging diperkuat oleh tulang belaka. Tulang-tulang tua dapat rapuh, daging pun mengendur, dan tubuh tak terhindarkan dari kelemahan dimakan usia dari dalam. Maka, jika orang-orang seusia mereka hendak mengandalkan tenaga, tentu mereka tidak akan mampu bertahan lama.

Mereka bertanding dengan gerakan yang lambat, tapi setiap gerakan itu mengandung tenaga dalam, tidak menggunakan tenaga luar yang dibutuhkan untuk bergerak cepat. Dan dalam hal tenaga dalam ini, ternyata tingkat mereka seimbang!

Jika keduanya masih muda, tentu kakek Kam Hong akan bisa mengalahkan lawannya tanpa banyak kesulitan, mengandalkan ilmunya yang sulit dicari bandingannya di dunia ini. Mungkin hanya ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sajalah yang dapat menandingi tingkat ilmu suling dan kipas dari Pendekar Suling Emas itu.

Betapa pun juga, karena memang kalah tinggi ilmunya, ketika kedua kipas bertemu di udara terdengar suara keras dan kipas di tangan Ouwyang Sianseng robek! Kam Hong mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak. Sulingnya menyambar, menotok ke arah pelipis, dan kipasnya juga menyambar, gagangnya menotok ke lambung.

Ouwyang Sianseng yang masih terkejut karena robeknya senjata kipas di tangannya, cepat mundur sambil mengelebatkan pedangnya untuk membalas, ditusukkan ke arah kipas lawan untuk membuat kipas itu robek. Akan tetapi, pada saat itu, sinar kuning emas menyambar dari atas, menghantam pedangnya.

"Tranggggg...!"

Keras sekali hantaman suling emas itu, membuat tangan Ouwyang Sianseng tergetar dan ujung pedangnya patah! Kakek itu terkejut sekali, lalu mencabut sebatang pedang dari balik jubahnya. Begitu pedang itu dicabut, Kam Hong terbelalak, lalu bergidik. Dia mengenal sebatang pedang yang ampuhnya menggiriskan hati. Baru hawanya saja sudah membuat orang menggigil, dan begitu pedang dicabut, dan digerakkan, tercium bau yang dapat membuat orang muntah. Pedang itu pun mengeluarkan sinar abu-abu kehitaman, sinar maut! Itulah pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun)!

Seperti diketahui, ketika menyerbu ke Istana Gurun Pasir, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya berhasil menewaskan tiga orang tua sakti di sana, walau pun mereka sendiri hampir habis terbasmi. Hanya Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, dan Thian Kek Sianjin saja yang masih hidup walau pun menderita luka-luka. Dan Sin-kiam Mo-li yang cerdik dapat menyita dua batang pedang pusaka dari Istana Gurun Pasir, yaitu Cui-beng-kiam dan Ban-tok-kiam.

Ketika ia dan kawan-kawannya bergabung dengan para pemberontak, melihat kesaktian Ouwyang Sianseng, Sin-kiam Mo-li lalu menyerahkan sebatang di antara dua batang pedang rampasan itu, yaitu Ban-tok-kiam. Ada pun pedang yang ke dua, Cui-beng-kiam, kemudian disimpannya sendiri.

Ouwyang Sianseng adalah orang yang amat cerdik, juga memiliki ambisi besar. Begitu melihat betapa dia dan kawan-kawannya tertipu, dan pasukan yang datang bukanlah pasukan pemerintah yang bersekutu melainkan pasukan yang menyerang dalam jumlah yang amat besar, dan melihat pula munculnya para pendekar yang sebagian memiliki kesaktian hebat, dia pun maklum bahwa dia sudah kalah dalam permainannya sendiri. Kini, yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri.

Karena itu, melihat betapa kakek Kam Hong yang membuatnya jeri itu nampak gentar melihat dia mengeluarkan Ban-tok-kiam, Ouwyang Sianseng segera memutar pedang itu dan meloncat ke belakang, menyelinap di antara para anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang membantu para tokoh sesat menghadapi para pendekar.

Kam Hong tidak mengejarnya dan hanya menarik napas panjang. Dia masih tertegun melihat pedang tadi. Pendekar ini pun teringat akan pedang yang disebut Ban-tok-kiam, sebuah di antara pusaka Istana Gurun Pasir dan dia kagum bukan main, juga ngeri membayangkan kehebatan pedang itu.

Pada saat Ouwyang Sianseng melompat ke belakang dan melarikan diri menyelinap di antara para anggota Pek-lian-pai itulah yang menarik perhatian Siangkoan Liong. Pada saat itu, Sin Hong tengah berjungkir balik ke belakang sebab terkejut sekali menghadapi serangan pedang Koai-liong Po-kiam.

Siangkoan Liong tidak mendesak Sin Hong lebih jauh karena bagaimana pun juga, dia sudah merasa jeri menghadapi pemuda berpakaian putih itu. Sekarang melihat gurunya melarikan diri, tanpa berpikir dua kali Siangkoan Liong juga melompat ke belakang dan menyelinap di antara para anggota Pat-kwa-pai dan menghilang.

Sin Hong juga tidak mengejar karena di situ terdapat banyak lawan. Dia menoleh ke arah Kao Hong Li yang bertanding melawan Sin-kiam Mo-li dan terkejutlah pemuda ini. Tadinya dia tidak khawatir akan keselamatan Hong Li melihat gadis ini cukup lihai untuk mengimbangi permainan Sin-kiam Mo-li. Akan tetapi kini Hong Li terdesak hebat sekali, bahkan sepasang pedangnya rusak-rusak, sedangkan Sin-kiam Mo-li dengan senyum menyeringai terus mendesak dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar yang sangat menyeramkan.

Itulah pedang pusaka Cui-beng-kiam! Pedang ini, seperti juga Ban-tok-kiam merupakan pusaka Istana Gurun Pasir dan sudah puluhan tahun tidak pernah dipergunakan orang. Sekarang, di tangan Sin-kiam Mo-li, pedang itu menjadi senjata iblis yang haus darah! Gulungan sinarnya mengandung hawa yang mukjijat, dan jelas nampak betapa Hong Li merasa ngeri dan jeri menghadapi desakan pedang yang tadi telah merusak sepasang pedangnya itu. Gadis ini terus main mundur sambil memutar kedua pedangnya sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya dari ancaman Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) yang menggiriskan itu.

"Kembalikan pedang itu!" Tiba-tiba Sin Hong membentak.

Tubuh Sin Hong sudah melesat ke depan, langsung saja dia menyerang Sin-kiam Mo-li dengan jurus ampuh dari Pek-ho Sin-kun. Tenaga yang terkandung dalam sambaran tangan Sin Hong itu hebat bukan main, membuat Sin-kiam Mo-li menjadi gugup dan memaksa wanita ini menangkis dengan kebutannya.

"Plak! Pyarrr...!"

Kebutan itu rontok bulunya hingga berhamburan dan tubuh Sin-kiam Mo-li terjengkang. Namun, ia bergulingan dan memutar pedang Cui-beng-kiam. Pedang ini mengeluarkan sinar kilat bergulung-gulung sehingga Sin Hong tidak berani mendesak. Kesempatan ini kemudian digunakan oleh Sin-kiam Mo-li untuk cepat-cepat meloncat dan menyelinap di antara kawan-kawannya yang sedang berkelahi melawan para pendekar.

Sin Hong mencoba untuk mengejar, akan tetapi wanita itu sudah lenyap dan dia yang mengkhawatirkan keselamatan Hong Li segera mendekati gadis itu.

"Bagaimana denganmu? Engkau tidak terluka, bukan?"

Hong Li menggeleng kepala dan tersenyum. Bukan main gadis ini, pikir Sin Hong, baru saja terlepas dari ancaman maut, bahkan wajahnya masih basah dengan keringat, akan tetapi sudah mampu tersenyum demikian manisnya!

"Tidak, berkat pertolonganmu, Susiok."

Mereka tak sempat bicara banyak karena perkelahian masih berlangsung, lalu mereka segera terjun ke dalam kancah pertempuran, membantu para pendekar. Kini keadaan menjadi semakin berat sebelah setelah tiga orang terpenting di antara para pimpinan pemberontak itu melarikan diri.

Pertama-tama Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek yang mendapat lawan berat sekali, yaitu nenek Bu Ci Sian. Tingkat kepandaian si raja pedang ini jauh berada di bawah tingkat kepandaian nenek itu. Sejak semula, dengan suling emasnya, nenek itu sudah menekan dan mengurung, membuat si raja pedang itu tidak mampu mengembangkan permainan pedangnya.

Akhirnya, kaki kiri nenek itu sempat menyentuh lututnya, membuat Toat-beng Kiam-ong setengah berlutut. Sebelum dia mampu bangkit kembali, ujung suling sudah mengetuk ubun-ubun kepalanya dan dia pun roboh tewas seketika karena isi kepalanya tergetar dan batok kepalanya retak!

Sungguh sayang sekali. Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek sebenarnya bukan seorang penjahat. Tadinya dia pun pernah terkenal sebagai seorang pendekar yang lihai, pernah menjadi murid Bu-tong-pai yang patuh. Akan tetapi, dia mempunyai satu kelemahan, yaitu terhadap wanita cantik. Inilah yang menjerumuskannya ke lembah hitam.

Karena dia tergila-gila kepada wanita cantik dan selalu mengejar kesenangan ini, maka dia pun terjerumus, tidak pantang lagi melakukan kejahatan dan kekejaman demi untuk memenuhi keinginan hatinya. Makin lama dia pun semakin dalam terjerumus, apa lagi pergaulannya dengan para tokoh sesat makin menyelewengkannya dan akhirnya dia harus tewas secara menyedihkan.

Melihat betapa Suma Lian yang tengah memutar suling emasnya itu belum juga mampu menandingi kelihaian Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-pai yang memang bukan main lihai itu, Hong Li tidak membuang banyak waktu. Segera ia terjun dan sepasang pedangnya lalu menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, merupakan sinar maut yang menyambar ke arah Thian Kong Cinjin.

Bukan main kagetnya kakek ini. Tadinya ia merasa lega bahwa ia hanya dilawan oleh seorang gadis muda yang biar pun lihai dengan suling emasnya, akan tetapi dalam hal pengalaman jauh kalah olehnya. Ketua Pat-kwa-pai ini sudah berusia tua sekali, hampir delapan puluh tahun. Akan tetapi sebagai seorang wakil ketua Pat-kwa-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi.

Sebetulnya, kalau dibuat perbandingan, Suma Lian lebih lihai dari pada kakek ini, apa lagi mengingat bahwa kakek yang menjadi lawannya itu sudah tua sekali. Sepandai-pandainya orang, dan sekuat-kuatnya orang, takkan mungkin dapat melawan usianya sendiri. Usia tua akan menggerogotinya dari dalam, menghabiskan semua tenaga dan kesaktiannya.

Demikian pula keadaan Thian Kong Cinjin. Sesungguhnya lawan yang muda itu berat sekali baginya. Akan tetapi, berkat pengalamannya yang banyak, dia masih mampu bertahan, bahkan dengan permainan tongkatnya yang luar biasa dia tidak membiarkan gadis itu mendesaknya.

Begitu Kao Hong Li turut terjun membantu Suma Lian dengan permainan sepasang pedangnya yang hebat, tentu saja kakek Thian Kong Cinjin menjadi repot bukan main. Mengalahkan seorang Suma Lian saja dia belum juga mampu, kini ditambah lawan yang juga merupakan seorang gadis yang amat lihai, yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Gurun Pasir!

Permainan tongkatnya menjadi kacau dan ia tidak mampu menghindarkan diri lagi saat suling di tangan Suma Lian menyambar dan menotok dadanya. Dia berteriak keras dan tubuhnya terpelanting roboh, namun dia masih cukup kuat walau pun dadanya terasa nyeri dan napasnya terengah-engah. Pada waktu dia bergerak hendak meloncat bangun dengan muka pucat dan dada sesak, sinar pedang di tangan Hong Li menyambar dan tusukan pedangnya tepat menembus leher kakek wakil ketua Pat-kwa-pai itu.

Mata Thian Kong Cinjin melotot. Tongkatnya menyambar ke arah Hong Li dari bawah, dan ketika gadis itu dengan cekatan melompat ke belakang untuk mengelak, tongkat itu terus menyambar ke arah kepala kakek itu sendiri. Terdengar suara keras dan kakek itu pun roboh dan tak berkutik lagi, kepalanya pecah karena dipukulnya sendiri. Agaknya dia memilih mati di tangan sendiri dari pada di tangan lawan, setelah menderita luka parah karena totokan suling di dadanya dan tusukan pedang yang menembus lehernya.

Melihat lawannya telah tewas, Suma Lian dan Kao Hong Li mengamuk terus, membantu kawan-kawan lainnya menghadapi para tokoh sesat yang membantu pemberontakan. Terutama sekali mereka berdua menghadapi para anggota Pek-lian-pai karena mereka itulah yang merupakan lawan-lawan lihai dari para pendekar.

Sementara itu, Sin Hong juga sudah membantu Gu Hong Beng yang nampak terdesak pula oleh Thian Kek Sengjin, tokoh Pek-lian-pai yang amat lihai itu. Memang Hong Beng belum kalah, akan tetapi pemuda itu kerepotan juga menghadapi tongkat naga hitam dari tokoh Pek-lian-pai itu.

Begitu Sin Hong berkelebat masuk ke dalam gelanggang pertempuran membantu Hong Beng, kakek itu cepat menyambutnya dengan pukulan tongkat naga hitam, mengarah kepala Sin Hong. Dia maklum akan kehebatan pemuda ini, maka begitu menyerang, dia lantas mengerahkan segenap tenaganya. Tongkat berbentuk naga hitam itu berkelebat dan lenyap bentuknya, berubah menjadi seberkas gulungan sinar hitam panjang yang mengeluarkan bunyi desir angin.

Namun Sin Hong tidak mengelak, bahkan mengangkat lengan kanannya ke atas untuk menangkis tongkat hitam, sedangkan tangan kirinya membentuk moncong bangau, lalu menotok ke depan sambil melangkahkan kaki maju mendekati lawan. Moncong bangau itu menotok ke arah ulu hati lawan.

"Takkk!"

Lengan pemuda itu bertemu tongkat, dan Thian Kek Sengjin merasa betapa lengannya tergetar hebat. Pemuda itu telah menangkis tongkat dengan lengan begitu saja, dan membuat tongkatnya terpental serta lengannya tergetar dan telapak tangannya terasa panas.

Pada saat itu Hong Beng telah menyerang dari samping dengan sepasang pedangnya. Pedang kiri membacok kepala dan pedang kanan menyusul cepat menusuk dari bawah menuju lambung! Thian Kek Sengjin yang masih merasa amat kaget dan getaran akibat benturan lengan Sin Hong tadi masih belum lenyap, menggerakkan tongkatnya hendak menangkis sinar pedang yang membacok kepalanya, tapi dia terlambat menghindarkan diri dari tusukan pedang dari bawah.

Pedang di tangan Hong Beng itu menembus lambungnya. Darah muncrat dan kakek itu pun roboh dan tewas. Seperti juga Suma Lian dan Kao Hong Li, setelah melihat betapa tokoh Pat-kwa-pai itu roboh, Sin Hong dan Hong Beng lalu melanjutkan amukan mereka dengan membantu para pendekar menghadapi para tokoh sesat lainnya.

Perkelahian antara para pendekar dan para tokoh sesat kini tak berlangsung lama. Hok Yang Cu yang pendek botak itu mendapatkan lawan yang terlalu berat baginya yaitu pendekar wanita Kam Bi Eng yang sangat lihai ilmu silatnya dengan suling emasnya. Nyonya Suma Ceng Liong ini tanpa mengalami banyak kesulitan akhirnya merobohkan dan menewaskan Hok Yang Cu dengan totokan ujung suling emasnya pada beberapa jalan darah yang mematikan.

Juga nenek iblis Hek-sim Kui-bo tidak kuat melawan Pouw Li Sian. Gadis yang perkasa ini menggunakan senjata pedang rampasannya, mendesak terus dan akhirnya sebuah tusukan pada dada nenek itu membuat Hek-sim Kui-bo roboh dan tewas.

Perkelahian antara Cu Kun Tek dan Tiat-liong Kiam-eng Ciu Hok Kwi berjalan dengan seru dan seimbang. Tidak percuma Ciu Hok Kwi menjadi murid pertama Siangkoan Lohan dan berjuluk Tiat-liong Kiam-eng (Pendekar Pedang Naga Besi), karena ilmu pedangnya memang hebat dan tenaganya juga kuat sekali. Akan tetapi, walau pun dia tidak dapat dirobohkan oleh Cu Kun Tek, dia sendiri pun mengalami kesukaran untuk mengalahkan pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, pendekar muda dari Lembah Naga Siluman ini.

Cu Kun Tek memang sudah kehilangan pedang pusakanya, yaitu Koai-long Po-kiam yang dirampas oleh Siangkoan Liong. Tetapi ia tidak kehilangan ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, dan biar pun dia hanya mempergunakan sebatang pedang rampasan, namun permainan pedangnya masih sangat hebat dan membuat Ciu Hok Kwi terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat mengimbangi permainan pedang lawan.

Selagi kedua orang ini saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba nampak berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu Sin Hong telah berdiri di antara mereka.

"Saudara Cu Kun Tek, harap berikan orang ini kepadaku, dia adalah musuh besarku!" kata Sin Hong.

Mendengar ini, Cu Kun Tek yang tadi bersama Pouw Li Sian dibebaskan oleh Sin Hong, mengangguk dan dia pun menggunakan pedangnya untuk membantu para pendekar lain, mengamuk di antara para tokoh sesat.

Ada pun Sin Hong kini berhadapan dengan Ciu Hok Kwi. Keduanya saling pandang dan sinar mata Sin Hong mengeluarkan sinar berkilat. Dia memang marah sekali, bukan hanya karena orang ini yang telah membunuh ayah kandungnya, melainkan terutama sekali karena dia juga telah membunuh pula Kwee Ci Hwa.’

Dia tahu bahwa orang ini hanya kaki tangan Tiat-liong-pang. Akan tetapi orang seperti Ciu Hok Kwi ini amat jahat dan berbahaya sekali karena pandai bersandiwara sehingga mendiang ayahnya sendiri kena dikelabui. Bahkan dia sendiri pun kena ditipu dan telah sempat menaruh kepercayaan kepada bekas ‘pembantu’ ayah kandungnya ini.

"Ciu Hok Kwi, sekarang engkau hendak berkata apa lagi? Kiranya semua pembunuhan itu engkaulah yang melakukannya, terhadap ayah kandungku, terhadap orang she Lay, dan juga Kwee Ci Hwa."

Mendengar ini, Ciu Hok Kwi yang sudah tahu bahwa dia pun tidak akan dapat melarikan diri dan terpaksa harus melawan sampai mati, tersenyum mengejek kemudian berkata, "Engkau baru tahu? Alangkah bodohnya! Memang aku yang telah mengatur semua itu, demi perjuangan Tiat-liongpang, membunuh ayahmu, anak buahnya, dan orang she Lay yang berkhianat. Akulah yang... ha-ha-ha, mempermainkan Kwee Ci Hwa sepuas hatiku lalu membunuhnya! Habis, engkau mau apa?"

Keterangan tambahan dari Ciu Hok Kwi bahwa dia pun telah mempermainkan Ci Hwa, menambah api yang waktu itu sedang berkobar di kepala Sin Hong. Kiranya sebelum membunuhnya, orang ini telah mempermainkan Ci Hwa! Kini baru dia mengerti.

Ci Hwa telah mengorbankan diri, dalam usahanya menyelamatkan Gu Hong Beng, Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian. Gadis itu telah berhasil merayu Ciu Hok Kwi, menyerahkan diri, agaknya demikian melihat pengakuan Ciu Hok Kwi tadi, dan berhasil mencuri kunci dan membebaskan tiga orang tawanan itu sebelum ia kembali ke kamar dan berusaha membunuh Ciu Hok Kwi akan tetapi malah terluka parah dan biar pun akhirnya dapat dibebaskan, tetap saja tewas karena luka-luka itu.

"Jahanam, engkau memang jahat sekali!" kata Sin Hong.

Ia pun menerjang ke depan dengan kedua tangan digerakkan bagai leher dan moncong burung bangau. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Pek-ho Sin-kun! Dari kedua tangannya itu menyambar angin pukulan yang dahsyat bukan main.

Melihat ini, Ciu Hok Kwi cepat mengelebatkan pedangnya membacok ke arah lengan yang meluncur ke depan itu. Sin Hong sama sekali tidak menarik tangannya, bahkan sengaja menerima bacokan pedang itu dengan lengannya.

"Takkk!"

Bukan lengan itu yang putus, melainkan pedang itu yang terpental bahkan terlepas dari pegangan tangan Ciu Hok Kwi saking kerasnya pertemuan antara pedang dan lengan yang mengandung tenaga sinkang yang amat hebat itu!

Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga sinkang dari pemuda berpakaian putih ini kalau diingat betapa mendiang kakek Kao Kok Cu, nenek Wan Ceng, dan kakek Tiong Khi Hwesio telah mengoperkan tenaga mereka kepadanya dan ia telah memiliki tenaga gabungan dari tiga orang sakti yang semuanya terkandung di dalam gerakan silat sakti Bangau Putih!

Ciu Hok Kwi terkejut bukan main, akan tetapi sebelum dia sempat mengelak, sebuah tendangan dari kaki Sin Hong mengenai pahanya. Tubuhnya terpelanting sampai empat lima meter jauhnya dan kebetulan sekali jatuh di dekat kaki Gu Hong Beng.

Melihat orang yang amat dibencinya ini terbanting keras dan merangkak hendak bangun Hong Beng mengelebatkan pedangnya dan leher Ciu Hok Kwi yang sedang merangkak seperti anjing itu terbabat pedang! Leher itu putus seketika dan kepalanya terpental, menggelinding sampai jauh.

Kini banyak di antara para pendekar yang melihat betapa para tokoh sesat yang terlihai sudah roboh, berdiri menonton perkelahian yang berlangsung dengan amat hebatnya dan amat menarik, yaitu perkelahian antara Suma Ceng Liong dan Siangkoan Lohan! Memang hebat sekali perkelahian antara dua orang gagah perkasa ini!

Siangkoan Lohan atau yang bernama Siangkoan Tek, ketua Tiat-long-pang memang seorang yang amat gagah perkasa. Tubuhnya tinggi kurus akan tetapi mukanya merah dengan jenggot panjang sampai ke dada dan matanya mencorong seperti mata naga. Dia memiliki tenaga raksasa, bukan saja tenaga luar dengan otot-ototnya, melainkan juga memiliki sinkang yang amat kuat.

Banyak ilmu silat aneh dan lihai dikuasainya, bahkan dia menguasai pula ilmu gulat dari utara. Tendangan mautnya Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa Kati) amat berbahaya, dan dia juga mempunyai ilmu silat Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga Ekor Besi) yang dimainkan dengan menggunakan tenaga dalam Liong-jiauw-kang (Tangan Cakar Naga) yang amat dahsyat. Semua ini masih ditambah lagi dengan Kim-hun-cwe (Pipa Tembakau Emas) sebagai senjata, maka lengkaplah Siangkoan Lohan sebagai seorang lawan yang amat tangguh. Dia pun memiliki pengalaman berkelahi yang sudah puluhun tahun.

Akan tetapi, lawannya bukan pula orang sembarangan. Sungguh sial sekali bagi ketua Tiat-liong-pang itu bahwa sekali ini dia mendapatkan lawan seorang pendekar besar, yaitu Suma Ceng Liong! Pendekar ini adalah seorang cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, cucu yang paling pandai di antara semua cucu pendekar sakti itu.

Sejak kecilnya, Suma Ceng Liong berbakat sekali dan selain ilmu-ilmu yang tinggi dari keluarga Pulau Es, juga dia menguasai dengan amat baiknya beberapa macam ilmu aneh, di antaranya Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) semacam ilmu totokan yang amat dahsyat dari mendiang Hek I Mo-ong, seorang datuk sesat yang pernah menjadi gurunya. Juga dia mahir ilmu sihir yang dipelajarinya dari ibunya.

Karena telah memiliki ilmu-ilmu yang demikian tingginya, juga karena seluruh tubuhnya telah dilindungi tenaga sinkang yang membuatnya kebal, Suma Ceng Liong melawan Siangkoan Lohan hanya dengan kedua tangan kosong saja!

Perkelahian antara kedua orang ini merupakan pertandingan yang paling menarik dan hebat. Semua pendekar yang tak merasa perlu lagi membantu kawan-kawannya yang sedang membabat sisa orang-orang sesat, kini menonton dan tidak seorang pun di antara mereka berani membantu Suma Ceng Liong. Sebagai seorang pendekar besar, tentu Suma Ceng Liong akan merasa tersinggung kalau perkelahiannya melawan ketua Tiat-liong-pang ini dibantu orang lain.

Sin Hong sendiri yang sudah merasa gatal tangan untuk menghajar dan menundukkan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi biang keladi semua kerusuhan ini, bahkan yang menjadi biang keladi kehancuran keluarga ayahnya, juga hanya menonton saja seperti yang lain. Apa lagi dia, bahkan Kam Hong dan Bu Ci Sian sendiri, sepasang suami isteri sakti yang menjadi mertua dari Suma Ceng Liong, juga hanya menonton, demikian pula isterinya, Kam Bi Eng.

Ketika melihat betapa tempat itu dikelilingi para pendekar yang menonton, diam-diam hal ini mengecilkan hati Siangkoan Lohan. Kalau para pendekar itu sudah duduk enak-enakan menonton, hal itu hanya berarti bahwa semua pembantunya telah gagal dan telah roboh.

Dia tadi sudah merasa marah dan penasaran, juga menyesal dan kecewa melihat betapa Ouwyang Sianseng melarikan diri, demikian pula Sin-kiam Mo-li dan puteranya sendiri. Diam-diam dia memaki mereka sebagai pengecut-pengecut yang curang, yang ingin mendapatkan enaknya saja, dan tidak bertanggung jawab kalau ada mala petaka menimpa, tidak setia kawan. Perasan ini, ditambah perasaan gentar menghadapi para pendekar yang sudah mengurung tempat itu, setidaknya mempengaruhi permainan kaki tangan ketua Tiat-liong-pang ini.

“Haiiiiittttt...!”

Melihat betapa semua pembantu utamanya telah roboh, Siangkoan Lohan yang sudah hampir putus asa kini mengirim hantaman dengan hun-cwe mautnya. Dia menggunakan seluruh tenaganya karena dia ingin mengakhiri perkelahian itu secepatnya, kalah atau menang, maka dia hendak mengadu tenaganya. Hun-cwe menyambar menjadi sinar keemasan ke arah kepala Suma Ceng Liong.

Suma Ceng Liong juga percaya akan kekuatan sendiri, akan tetapi dia belum nekat seperti lawannya. Kalau dia mengadu tenaga secara langsung, belum tentu dia kalah kuat, akan tetapi karena dia pun tahu bahwa lawannya bertenaga besar, maka kalah menang akan membawa akibat yang merugikan dirinya, setidaknya dia akan terguncang hebat.

Dia tidak sebodoh itu, maka dia pun menangkis sambaran hun-cwe itu bukan secara langsung dari depan, melainkan dari samping sehingga mereka tidak mengadu tenaga dengan langsung. Pada saat itu, tangan kiri ketua Tiat-liong-pang itu memukul dengan telapak tangan terbuka. Melihat hal ini, terpaksa Suma Ceng Liong menyambut dengan telapak tangan kanannya sambil mendorong.

“Dukkk! Plakkk!”

Pertemuan telapak tangan itu membuat keduanya terpental ke belakang dan mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup jauh. Tiba-tiba Siangkoan Lohan kembali mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya lalu meloncat tinggi ke depan. Dari atas dia lalu menyerang dengan hun-cwe dan tangan kirinya.

Inilah jurus terakhir dari kakek itu setelah tadi berkali-kali dia menggunakan tendangan Ban-kin-twi tanpa hasil apa pun karena lawannya selalu dapat mengelak, bahkan kalau menangkis dari samping, kakinya terasa nyeri dan tergetar hebat. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dalam satu serangan saja sambil meloncat setengah terbang ini.

Suma Ceng Liong menyambutnya dengan loncatan yang sama, dan pendekar ini tanpa ragu-ragu lagi mempergunakan ilmu Coan-kut-ci dari mendiang Hek I Mo-ong, ilmu yang amat dahsyat dan mengerikan. Begitu dia meloncat dan menggerakkan kedua tangan dengan jari-jari terpentang lurus ke depan, segera terdengar suara bercuitan.

Orang-orang hanya melihat betapa dua tubuh yang meloncat itu seperti saling terkam, dan melihat betapa kedua orang gagah perkasa itu dapat meloncat turun pula ke atas tanah, saling membelakangi. Kalau Suma Ceng Liong dengan cepat membalikkan tubuh menghadap lawan, adalah tubuh Siangkoan Lohan yang diam saja, tetap membelakangi lawan.

Kam Bi Eng melihat betapa baju di dada suaminya terobek dan nampak ada tanda menghitam pada dada itu, maka cepat dia menghampiri suaminya. Suma Ceng Liong tersenyum menggeleng kepala tanda bahwa luka di dadanya tidak berbahaya sehingga Kam Bi Eng menjadi lega, lalu mereka menoleh dan memandang kepada Siangkoan Lohan.

Semua mata kini ditujukan kepada ketua Tiat-liong-pang itu. Tubuhnya masih berdiri tegak, dan kini perlahan-lahan tubuh itu membalik kaku. Semua orang melihat betapa kakek itu masih memegang senjata hun-cwe emasnya, tubuhnya tidak nampak terluka, akan tetapi dari bawah kain penutup rambut itu menetes darah yang berjatuhan ke atas dahi, pipi dan dagunya!

Dia memandang kepada Suma Ceng Liong, kemudian terdengar dia berkata, “Mereka, pengecut-pengecut itu berada di rumah Ouwyang Sianseng di lereng di balik bukit ini.”

Setelah berkata demikian, tubuhnya lalu jatuh kaku seperti sebatang balok dan ketika diperiksa, ternyata dia telah tewas karena luka-luka di kepalanya, di balik kain penutup kepala! Kiranya, ilmu Coan-kut-ci (Jari. Penembus Tulang) dari Suma Ceng Liong tadi telah membuat jari-jari tangan pendekar itu menembus kepala!

Mendengar ucapan ketua Tiat-liong-pang sebelum tewas, Sin Hong maklum siapa yang dimaksudkan oleh Siangkoan Lohan.

“Ban-tok-kiam, bahkan Koai-liong Po-kiam mereka bawa, aku harus mengejar mereka!” katanya kepada Kao Hong Li dan dia pun cepat melompat dan lari.

“Susiok, tunggu, aku akan membantumu!” teriak Hong Li yang melompat mengejar pula.

Dia maklum pula bahwa susiok-nya itu akan mengejar Ouwyang Sianseng, Siangkoan Liong, dan Sin-kiam Mo-li, tiga orang yang lolos dari situ dan yang melarikan pusaka-pusaka dari Istana Gurun Pasir, juga pusaka dari Lembah Naga Siluman yang mereka rampas dari tangan Cu Kun Tek.

“Ahhh, berbahaya sekali membiarkan mereka berdua menghadapi Ouwyang Sianseng yang amat lihai,” kata Kam Hong dan dia pun mengejar ke arah balik puncak bukit itu.

Ketika mereka tiba di luar sarang Tiat-liong-pang, ternyata pertempuran juga sudah tinggal sedikit. Semua pasukan pemberontak dapat dirobohkan, tewas atau terluka, dan sisanya hanya melawan untuk mempertahankan diri saja. Jumlah pasukan pemerintah memang jauh lebih banyak sehingga perlawanan pasukan yang terdiri dari anak buah Tiat-liong-pang, pasukan Mongol, anggota Ang-I Mo-pang beserta anak buah beberapa orang tokoh sesat itu tidak ada artinya sama sekali.....

********************

Rumah itu merupakan sebuah gedung yang tidak berapa besar akan tetapi kokoh kuat dan nampak menyeramkan, dilindungi oleh pohon-pohon dan hampir tidak nampak dari luar. Sin Hong dan para pendekar lainnya berdiri di depan rumah itu, di pekarangan depan, memandang ke arah pintu dan jendela yang tertutup. Cuaca senja itu muram, seolah-olah sang matahari lebih siang menyembunyikan diri di balik awan tebal karena merasa ngeri menyaksikan ulah manusia yang saling bunuh di bukit itu.

Beberapa kali Sin Hong berteriak sambil mengerahkan khikang-nya sehingga suaranya bergema sampai jauh, memanggil nama-nama Ouwyang Sianseng, Siangkoan Liong, dan Sin-kiam Mo-li yang ditantangnya keluar. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam rumah itu.

“Biar aku menerjang masuk!” kata Sin Hong.

Tetapi sebelum dia bergerak, Kam Hong mencegahnya. “Berbahaya sekali memasuki sarang seorang seperti Ouwyang Sianseng. Rumah itu pasti penuh dengan alat rahasia dan jebakan. Dia licik dan curang, sebaiknya memaksa mereka keluar dengan api.”

Sin Hong mengangguk kagum. “Pendapat Locianpwe benar sekali, terima kasih!”

Dia melinat betapa di bagian belakang rumah itu terdapat bagian kecil, mungkin dapur atau gudang, yang atapnya terbuat dari daun kering. Dia lalu membuat api, menyalakan sebatang ranting kayu kering dan dengan pengerahan tenaga dia melemparkan kayu yang menyala itu ke atas atap daun kering di bagian belakang rumah itu.

Api itu cepat sekali menyambar daun kering dan sebentar saja atap itu pun terbakar. Api menyala dengan cepatnya, menjadi semakin besar dan mulai membakar rumah induk. Para pendekar sudah siap dan mereka pun tanpa berunding dulu sudah mengepung rumah itu agar mereka yang berada di dalam rumah itu tidak mampu melarikan diri, atau setidaknya akan ketahuan ke arah mana larinya.

Akan tetapi, ternyata mereka yang berada di dalam rumah itu dapat melihat pula bahwa melarikan diri agaknya tidak mungkin lagi, maka tiba-tiba saja pintu depan terbuka dari dalam. Belum nampak ada orang muncul keluar, akan tetapi dengan jelas terdengar suara Ouwyang Sianseng yang tenang dan dingin.

“Heiii, anjing-anjing Mancu! Kami akan keluar, hendak kami lihat apakah kalian cukup berani untuk menghadapi kami satu lawan satu, tidak keroyokan macam segerombolan anjing peliharaan orang Mancu!”

Mendengar ucapan ini, semua orang memandang marah dan muka mereka berubah merah. Sungguh keji ucapan itu, juga amat memanaskan hati, terutama sekali Cu Kun Tek yang memang berdarah panas.

“Keparat!” bentaknya nyaring. “Kalian yang pengecut seperti anjing-anjing takut digebuk, berani membalikkan kenyataan dan memaki kami!”

Pendekar ini marah sekali mengingat betapa pedang pusakanya dirampas dan dilarikan mereka yang berada di rumah itu. Kam Hong yang tahu bagaimana untuk menghadapi seorang tokoh jahat, lihai dan cerdik macam Ouwyang Sianseng, berkedip kepada Kun Tek agar pemuda ini bersabar dan menahan diri tidak bicara lagi. Melihat sikap Li Sian, Kun Tek cepat mengangguk patuh!

“Ouwyang Sianseng,” terdengar kini suara Kam Hong, juga tenang dan perlahan saja, namun suaranya terdengar jelas sekali dari dalam rumah itu. “Keluarlah kalian dan kami siap untuk menghadapi kalian satu lawan satu seperti lajimnya pertandingan di antara orang-orang gagah!”

Mendengar jawaban Kam Hong ini, muncullah tiga orang dari pintu depan itu. Mereka itu bukan lain adalah Ouwyang Sianseng, Siangkoan Liong, dan Sin-kiam Mo-li! Ouwyang Sianseng nampak tenang-tenang saja, bahkan mulutnya terhias senyuman, seakan-akan dia merasa bangga dan gagah, akan tetapi Siangkoan Liong dan Sin-kiam Mo-li jelas nampak gugup dan gelisah melihat demikian banyaknya pendekar sudah menanti di pekarangan.

Karena ia pun tahu bahwa tiada jalan keluar lagi kecuali melawan mati-matian, Sin-kiam Mo-li sudah mendahului Ouwyang Sianseng. Dia melompat ke depan menghadapi para pendekar, kemudian berteriak dengan suara dibikin gagah dan penuh keberanian untuk menutupi keadaan hatinya yang terguncang takut.

“Tan Sin Hong, aku tantang padamu untuk maju mengadu ilmu dan nyawa dengan aku! Engkaulah biang keladi semua kegagalan kami!”

Memang di dalam hatinya, wanita iblis ini merasa marah sekali kepada Sin Hong. Telah beberapa kali pemuda itu menjadi penghalang baginya, dan dia masih tetap merasa menyesal mengapa ketika dia dan kawan-kawannya dahulu menyerbu Istana Gurun Pasir, dibiarkannya pemuda itu terlepas dan selamat dari cengkeramannya. Padahal, ketika itu, Sin Hong sama sekali tidak berdaya dan belum memiliki ilmu kepandaian sehebat sekarang ini.

Setelah berteriak seperti itu, Sin-kiam Mo-li lantas mengeluarkan sepasang senjata yang menyeramkan, yaitu pedang pusaka Cui-beng-kiam dan kebutan merah yang tadi dia peroleh dari dalam rumah Ouwyang Sianseng. Pedang Cui-beng-kiam (Pengejar Arwah) itulah yang mendatangkan pengaruh amat menyeramkan.

Sin Hong mengenal pedang pusaka Istana Gurun Pasir ini dan dia pun maklum bahwa sekali kena gurat saja oleh pedang Cui-beng-kiam atau Ban-tok-kiam, sudah cukup untuk membuat seorang yang betapa pun kuat tubuhnya, roboh dan mungkin tewas seketika atau menderita luka beracun yang sukar dicarikan obat penawarnya.

Untung bahwa kakek dan nenek sakti penghuni Istana Gurun Pasir sudah memberi tahu dengan jelas tentang asal-usul kedua pedang pusaka itu, bahkan juga memberi tahu rahasia penawar racun-racun yang terkandung dalam pedang-pedang pusaka itu. Oleh karena itu, tadi ketika melakukan pengejaran, dia sudah bersiap-sedia, sudah menelan tiga butir pil putih yang menjadi obat penawar racun pedang Cui-beng-kiam.

Kini menghadapi Sin-kiam Mo-li yang menggunakan Cui-beng-kiam, tentu saja dia tidak merasa gentar. Pedang itu dahulu adalah milik seorang di antara ketiga orang gurunya, yaitu Tiong Khi Hwesio, dan bahkan obat pil putih itu juga pemberian Tiong Khi Hwesio kepadanya, dan dia pun sudah mempelajari cara pembuatannya.

“Sin-kiam Mo-li, agaknya takaran kejahatan yang kau lakukan sudah melampaui batas sehingga sekarang ini saatnya engkau harus menebus semua kejahatanmu itu. Lekas majulah!” tantangnya dan dengan tangan kosong saja Sin Hong melangkah maju.

“Susiok, kau pakailah pedang ini!” tiba-tiba Hong Li berseru sambil kedua tangannya menyodorkan sepasang pedangnya, pedang rampasan yang cukup baik, bahkan tadi ia gunakan untuk melawan iblis betina itu. Sin Hong menoleh dan tersenyum kepadanya sambil menggelengkan kepala.

Pada saat itu, Hong Li menahan jeritnya dan semua orang pun menahan napas ketika melihat betapa selagi Sin Hong menoleh kepada Hong Li, Sin-kiam Mo-li telah dengan amat cepatnya menyerang dengan tusukan pedang Cui-beng-kiam!

Memang pedang ini hebat sekali. Ketika ditusukkan, bukan saja mengeluarkan suara mengaung yang aneh, namun juga mendatangkan hawa dingin yang membuat orang bergidik karena seram. Tusukan Cui-beng-kiam itu masih disusul dengan totokan maut yang dilakukan dengan kebutan merah yang beracun itu!

Namun, Sin Hong bukan seorang pemuda yang ceroboh atau lengah. Biar pun tadi dia menanggapi usul Hong Li dan menolak pemberian pedang sambil menoleh ke arah Hong Li, tetapi seluruh perhatiannya masih tertuju kepada calon lawannya sehingga tentu saja serangan dahsyat itu telah dapat diketahuinya. Cepat sekali tubuhnya sudah bergerak dengan amat lincahnya, membuat langkah-langkah gesit yang aneh, tubuhnya meliuk ke sana sini dan dia pun sudah dapat mengelak dari semua serangan pedang dan cambuk itu.

Sin Hong bukan saja mampu menghindarkan semua serangan lawan, bahkan dia juga mampu membalas dengan dahsyat. Perlu diketahui bahwa pada saat itu Sin Hong telah menguasai banyak sekali ilmu silat yang tinggi, dan tingkatnya tidak kalah oleh para pendekar lainnya. Bahkan mungkin orang seperti Ouwyang Sianseng takkan mampu mengalahkannya dengan mudah. Ilmu-ilmunya bahkan lebih tinggi dari pada Ouwyang Sianseng, hanya tentu saja masih belum matang dibandingkan orang tua ini.

Dari tiga orang gurunya yang sakti, Sin Hong sudah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat. Dari mendiang Tiong Khi Hwesio atau ketika mudanya terkenal dengan nama Wan Tek Hoat berjuluk Si Jari Maut, dia telah mempelajari Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa), Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) yang digabung dengan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa), juga melatih diri untuk menghimpun sinkang dengan ilmu Tenaga Inti Bumi.

Dari Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, dia menerima ilmu hebat Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Pukulan Naga Sakti), dan dari nenek Wan Ceng dia pun mempelajari Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) dan ilmu pedang Ban-tok-kiamsut. Bahkan lebih dari itu, tiga orang tua sakti itu lalu menggabungkan ilmu-ilmu mereka dan mengambil inti sarinya untuk dimasukkan ke dalam sebuah ilmu silat tangan kosong yang mereka ciptakan bersama yang mereka beri nama Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih).

Ilmu inilah yang sekarang digunakan oleh Sin Hong untuk menghadapi Sin-kiam Mo-li yang amat lihai dengan senjata cambuk beracun dan pedang pusaka Cui-beng-kiam!

Sin-kiam Mo-li adalah seorang datuk sesat yang sudah mempunyai tingkat kepandaian tinggi. Wanita ini demikian lihainya sehingga dengan bantuan belasan orang datuk dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, ia berhasil menyerbu ke Istana Gurun Pasir dan berhasil menewaskan kakek dan nenek sakti penghuni istana tua itu dan juga Tiong Khi Hwesio yang tinggal bersama mereka, walau pun untuk itu ia harus kehilangan belasan orang kawan, bahkan yang hidup hanya ia sendiri, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin yang juga masih menderita luka-luka yang cukup berat.

Kebutannya amat terkenal kehebatannya, dengan gagangnya yang terbuat dari emas, dan bulu kebutan yang mengandung racun jahat. Juga ilmu pedangnya cukup tinggi, ditambah lagi dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun kalau ia sudah mainkan ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam).

Namun, sekali ini kembali Sin-kiam Mo-li harus mengakui keunggulan lawannya yang biar pun masih muda, namun telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa itu. Biar pun bertangan kosong, namun kedua lengan tangan Sin Hong merupakan dua benda yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata mana pun juga, bahkan lebih hidup dan mempunyai banyak perubahan, baik pada tekukan siku, pergelangan tangan, mau pun jari-jarinya, tidak seperti senjata tajam yang kaku dan mati.

Kedua lengan itu bergerak-gerak seperti hidup, kadang-kadang membentuk leher dan kepala bangau, kadang-kadang bergerak seperti menjadi sepasang sayap, dan jari-jari tangan itu dapat membentuk moncong bangau yang panjang runcing. Selain itu, dari kedua tangan itu keluar hawa pukulan yang amat kuat! Kedua lengan pemuda itu tidak hanya menjadi hidup dengan perubahan aneh-aneh, akan tetapi bahkan kadang-kadang dapat digunakan untuk menangkis kebutan dan lengan itu berubah keras kaku seperti baja!

Hanya terhadap Cui-beng-kiam pemuda itu tidak berani menangkis langsung dengan tangannya karena dia cukup mengenal pedang pusaka ampuh itu, dan kalau pedang itu menyambar, dia hanya mengelak atau kadang-kadang menangkis dari samping dengan jalan menyampok sehingga lengannya atau tangannya tidak beradu langsung dengan mata pedang.

Perkelahian itu berlangsung dengan seru dan mati-matian, Sin-kiam Mo-li yang sudah maklum bahwa ia tidak akan mampu lolos dari situ kecuali mengadu nyawa, menjadi nekat dan karena kenekatannya ini, maka gerakannya menjadi liar dan buas, amat berbahaya karena ia mencurahkan seluruh daya dan tenaganya untuk menyerang dan merobohkan lawan!

Sebaliknya, tentu saja Sin Hong tidak ingin mengadu nyawa dan tidak nekat seperti lawannya. Dia memakai perhitungan dan membagi perhatiannya antara menyerang dan membela diri. Biar pun demikian, karena Sin Hong menang segala-galanya, perlahan lahan dia mulai mendesak iblis betina itu.

Pada suatu kesempatan yang baik, sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Sin Hong menyambut sambaran kebutan dengan pukulan tangannya yang lalu dilanjutkan dengan cengkeraman! Hebat sekali sambutannya ini terhadap kebutan karena seketika nampak bulu kebutan berhamburan. Ternyata bulu-bulu kebutan itu telah rontok semua, tinggal gagangnya saja yang masih berada di tangan Sin-kiam Mo-li.

Wanita ini terkejut bukan main, apa lagi ketika Sin Hong mendesaknya dengan totokan-totokan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri pemuda itu melakukan cengkeraman ke arah pergelangan tangan Sin-kiam Mo-li untuk merampas pedang Cui-beng-kiam! Sin-kiam Mo-li yang sudah menjadi semakin gentar karena kebutannya rontok, memutar pedangnya untuk melindungi diri, akan tetapi ia terhuyung dan terus mundur.

Pada saat yang amat berbahaya bagi Sin-kiam Mo-li itu, tiba-tiba nampak sinar amat menyeramkan meluncur dan pedang Ban-tok-kiam yang sinarnya kehitaman itu sudah menusuk ke arah dada Sin Hong!

“Curang, keparat!” teriak Kao Hong Li.

Semua orang memandang kaget, melihat betapa Sin Hong diserang secara mendadak oleh Ouwyang Sianseng dengan menggunakan Ban-tok-kiam untuk menolong Sin-kiam Mo-li. Sin Hong berusaha untuk mengelak dengan membuang diri ke samping.

Tetapi Ouwyang Sianseng memang lihai bukan main. Meski lawannya sudah mengelak cepat, dia masih sempat membalikkan pedang yang luput sasaran itu dan pundak kiri Sin Hong terserempet pedang Ban-tok-kiam! Pemuda itu mengaduh dan tubuhnya lalu roboh terguling!

“Siancai...! Sungguh tak tahu malu engkau, Ouwyang Sianseng!” Kam Hong membentak dan kakek ini sudah mencabut suling emas beserta kipasnya, lalu menyerang Ouwyang Sianseng yang bersenjata kipas pula di tangan kiri dan pedang Ban-tok-kiam di tangan kanan!

“Jangan sentuh aku...!” Sin Hong berseru mencegah ketika Hong Li hendak menubruk dan menolongnya.

Hong Li terkejut dan menghentikan gerakannya. Sebagai cucu dari pasangan kakek dan nenek penghuni Istana Gurun Pasir, tentu saja ia telah pernah mendengar dari ayahnya tentang kehebatan Ban-tok-kiam. Sekali saja kena goresan pedang pusaka itu, jangan harap akan dapat bertahan untuk hidup terus!

Racunnya amat jahat, sesuai dengan namanya. Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun). Memang berbahaya sekali, bahkan seorang nenek sakti seperti Teng Siang In, yaitu ibu kandung Suma Ceng Liong, mantu dari Pendekar Super Sakti Pulau Es, begitu terluka oleh Ban-tok-kiam yang pada waktu itu terjatuh ke tangan Sai-cu Lama yang jahat, tidak dapat tertolong nyawanya dan tewas!

Dan sekarang Sin Hong terkena pedang itu, bukan sekedar tergores, melainkan terluka pundaknya! Tentu saja Hong Li memandang dengan hati khawatir sekali.

Akan tetapi dengan sikap tenang sekali, Sin Hong mencengkeram tanah, membongkar permukaan tanah sampai dia memperoleh tanah bersih yang lembut, mencengkeram tanah itu dengan tangan kanannya, merobek baju bagian pundak kiri lalu menggosok-gosok luka di pundak itu dengan tanah! Beberapa kali dia menggosok dengan keras sampai luka itu mulai mengucurkan darah merah yang sehat, barulah dia berhenti, lalu sekali melompat, dia sudah menghadapi Sin-kiam Mo-li lagi sambil tersenyum.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner