SI BANGAU MERAH : JILID-04


Setelah menghentikan tawanya, wanita itu mengusap air mata dari kedua matanya, lalu memandang kepada pemuda remaja itu. “Anak baik, aku mengambilmu sebagai murid dan aku akan mengajarkan ilmu silat pula kepadamu. Bagaimana?”

Yo Han menggeleng kepalanya. “Percuma saja, Subo. Aku tidak akan menolak segala yang kau ajarkan kepadaku, akan tetapi aku takkan suka berlatih silat sehingga semua pengertian ilmu silat yang kau berikan kepadaku tidak akan ada gunanya.”

Ang-I Moli teringat sesuatu. “Yo Han, kalau engkau memang sama sekali tidak pandai ilmu silat, mengapa engkau begini tabah dan berani? Padahal engkau tidak mempunyai kemampuan untuk membela diri apa bila diserang lawan. Bagaimana engkau menjadi begini berani?”

“Aku tidak suka kekerasan, mengapa mesti takut, Subo? Orang yang tidak melakukan kejahatan, tidak merugikan orang lain, tidak membenci orang lain, kenapa mesti takut? Aku tidak pernah takut, Subo, karena tidak pernah membenci orang lain.”

“Yo Han, kalau engkau tidak mau belajar ilmu silat dariku, lalu kenapa engkau mau ikut dengan aku?” Wanita itu akhirnya bertanya heran.

“Subo lupa. Bukan aku yang ingin ikut Subo, melainkan Subo yang mengajakku dan aku ikut Subo sebagai penukaran atas diri Sian Li.”

Wanita itu menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala dan memandang dengan heran. Sungguh seorang anak laki-laki yang aneh sekali. Begitu tabah, sedikit pun tidak mengenal takut, begitu teguh memegang janji, sikapnya demikian gagah perkasa seperti seorang pendekar tulen, akan tetapi, sedikit pun tidak pandai ilmu silat bahkan tak suka ilmu silat!

Akan tetapi, melihat wajah yang tampan gagah itu, ia lalu teringat akan keadaan tubuh pemuda remaja itu. Wajah Ang-I Moli segera berseri, mulutnya tersenyum dan pandang matanya menjadi genit sekali.

“Tidak suka berlatih silat pun tidak mengapalah, Yo Han, asal engkau mentaati semua perintahku dan menuruti semua permintaanku.” Ia lalu menggapai. “Engkau duduklah di sini, dekat aku, Yo Han.”

Tanpa prasangka buruk, Yo Han mendekat, lalu duduk di atas lantai yang tadi sudah dia bersihkan dan diberi tilam rumput kering yang dicarinya di ruangan belakang kuil tua itu, sebagai persiapan tempat mereka nanti tidur melewatkan malam. Akan tetapi, suaranya tegas ketika dia berkata,

“Subo, aku akan selalu mentaati perintahmu selama perintah itu tidak menyimpang dari kebenaran. Namun kalau Subo memerintahkan aku melakukan hal yang tidak benar, maaf, terpaksa akan kutolak!”

“Hi-hik, tidak ada yang tidak benar, muridku yang baik. Engkau tahu, aku amat sayang kepadamu, Yo Han. Engkau anak yang amat baik, dan aku senang sekali mempunyai murid seperti engkau.” Wanita itu memegang tangan Yo Han dan membelai tangan itu.

Merasa betapa jari-jari tangan yang berkulit halus itu dengan lembut membelai-belai tangannya, kemudian bagaikan laba-laba jari-jari tangan itu merayap naik di sepanjang lengannya, Yo Han merasa geli dan juga aneh. Jantungnya lalu berdebar tegang dan dengan gerakan lembut dia pun menarik lengannya yang dibelai itu.

“Subo, apakah Subo tidak lapar?” Mendadak dia bertanya dan pertanyaan itu sudah cukup untuk membuyarkan gairah yang mulai membayang di dalam benak Ang-I Moli. Ia pun terkekeh genit.

“Hi-hik, bilang saja perutmu lapar, sayang. Nah, buka buntalanku itu, di situ masih ada roti kering dan daging kering, juga seguci arak.”

Mendapatkan kesempatan untuk melepaskan diri dari belaian gurunya yang baru itu, Yo Han cepat-cepat bangkit dan mengambil buntalan pakaian gurunya, lalu mengeluarkan bungkusan roti dan daging kering, beserta seguci arak yang baunya keras sekali. Dia menaruh semua itu di depan Ang-I Moli dan ketika merasakan betapa roti dan daging kering itu keras dan dingin, dia pun berkata,

“Subo, aku hendak mencari kayu bakar dan air.”

“Ehh? Untuk apa? Makanan sudah ada, minuman juga sudah ada.”

“Akan tetapi roti dan daging itu keras dan dingin, Subo. Kalau dipanaskan dengan uap air tentu akan menjadi hangat dan lunak. Juga aku lebih suka minum air dari pada arak. Ini aku membawa panci untuk masak air, Subo,” katanya sambil mengeluarkan sebuah panci dari dalam buntalan pakaiannya.

Ang-I Moli memandang dan tersenyum. Ia semakin tertarik kepada Yo Han dan ia harus bersikap manis untuk bisa menundukkan hati perjaka remaja itu. Pemuda ini tidak mau menjadi muridnya dalam arti yang sesungguhnya. Maka ia harus dapat memanfaatkan pemuda itu bagi kesenangan dan keuntungan dirinya sendiri.

Seorang perjaka remaja yang memiliki tubuh sebaik itu akan menguntungkan sekali bagi kewanitaannya. Akan membuat ia awet muda dan kuat, juga hawa murni di tubuh muda itu akan dapat dihisapnya dan dapat menambah kekuatan tenaga dalam di tubuhnya. Selain itu, cita-citanya untuk menguasai sebuah ilmu rahasia yang selama ini ditunda-tundanya, kini akan dapat diraihnya dengan mudah!

Untuk dapat menguasai ilmu rahasia itu, ia harus dapat menghisap darah murni selosin orang perjaka yang memiliki darah yang bersih dan badan yang sempurna. Kini ia telah mendapatkan Yo Han dan anak ini sudah lebih dari cukup, bahkan jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan selosin orang pemuda remaja biasa!

“Baiklah, engkau boleh pergi mencari air dan kayu bakar. Akan tetapi cepat kembali. Hari telah sore dan sebentar lagi akan gelap,” katanya halus dan ramah.

“Baik, Subo.”

Yo Han berlari keluar dari kuil itu. Dia tidak tahu bahwa Ang-I Moli membayanginya dari jauh. Wanita ini tidak ingin kehilangan Yo Han, maka begitu anak itu berlari keluar, dia pun menggunakan ilmu kepandaiannya dan mengikutinya tanpa diketahui oleh Yo Han. Bagi seorang seperti Ang-I Moli Tee Kui Cu, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang benar-benar jujur dan setia sehingga dapat dipercaya sepenuhnya!

Sejak kecil wanita ini hidup di dalam lingkungan dunia hitam, berkecimpung di dalam kesesatan, di dalam suatu masyarakat di mana kata jujur dan setia sudah tidak dikenal lagi, di mana segala cara dihalalkan demi keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, ia pun tidak dapat percaya sepenuhnya kepada Yo Han.

Ia tidak ingin kehilangan Yo Han yang baginya sekarang menjadi amat penting. Ia takut kehilangan pemuda itu, takut pemuda itu melarikan diri atau dilindungi orang lain. Juga ia hendak menguji sampai di mana pemuda itu mampu mempertahankan kejujuran dan kesetiaannya.

Ang-I Moli tidak tahu bahwa sesungguhnya ia telah menemukan seorang pemuda yang luar biasa, yang berbeda dengan pemuda-pemuda lain. Di dalam batin Yo Han belum pernah terdapat pamrih yang bermacam-macam, bahkan dia tidak mengenal itu.

Yo Han menghadapi segala sesuatu yang terjadi sebagai apa adanya, tidak pernah dia membuat gagasan atau rekaan macam-macam. Dia hanya melihat kenyataan yang ada untuk dihadapinya secara spontan, dia tidak pernah membuat rencana dan akal demi kepentingan diri sendiri.

Ia melihat kenyataan bahwa suhu dan subo-nya tak menghendaki dia di rumah mereka, dengan alasan agar puteri mereka jangan sampai kelak meniru sikap dan pendiriannya. Dia tahu bahwa demi kebaikan keluarga suhu-nya, dia harus menyingkir, menjauhkan diri dari mereka. Oleh karena itulah dia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan mereka yang sesungguhnya amat dia sayangi.

Kemudian, karena ia harus menyelamatkan Sian Li, ia telah berjanji kepada Ang-I Moli untuk mengikuti wanita itu sebagai muridnya. Janjinya itu akan dipegangnya dengan teguh. Dia tidak akan melarikan diri karena dia pun sama sekali tidak pernah merasa takut kepada Ang-I Moli. Dia belum mengenal benar orang macam apa adanya Ang-I Moli, gurunya yang baru itu.

Bukan main senang dan lega rasa hati Ang-I Moli yang membayangi Yo Han, ketika melihat bahwa sedikit pun anak itu tidak memperlihatkan sikap ingin melarikan diri. Dia mengumpulkan kayu bakar, kemudian menemukan sumber air dan mengisi pancinya penuh air, setelah itu dia kembali ke kuil tanpa ragu-ragu. Ketika Yo Han memasuki kuil, Ang-I Moli tentu saja sudah lebih dahulu berada di tempat semula, duduk bersila sambil tersenyum manis.

“Aihh, cepat juga engkau mendapatkan air dan mengumpulkan kayu kering, Yo Han,” pujinya, kemudian dia membantu muridnya membuat api unggun dan memasak air di panci.

Setelah roti dan daging kering dipanasi dengan uap air, mereka lalu makan roti dan daging yang sudah menjadi lunak dan juga hangat itu, yang memang terasa jauh lebih enak dari pada kalaµ dimakan keras dan dingin. Dengan gembira sekali Ang-I Moli makan roti dan daging kering sambil sesekali minum arak, sedangkan Yo Han hanya minum air yang sudah dimatangkan.

Setelah makan kenyang, mereka duduk-duduk dekat api unggun. Sementara itu, malam telah tiba. Api unggun itu sangat menolong mereka mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Setelah duduk termenung di dekat api unggun, Yo Han mengeluh. Sambil mengangkat muka memandang wajah subo-nya yang sejak tadi memperhatikannya tanpa bicara, dia berkata, “Subo, sekarang aku merasa betapa aku kehilangan kitab-kitab itu. Biasanya, di waktu malam begini aku tentu membaca kitab. Akan tetapi sekarang, kitab-kitab itu jauh di rumah Suhu dan Subo, dan di sini aku tidak dapat membaca apa-apa.”

Wanita itu tersenyum. “Jangan kau khawatir, Yo Han. Setelah tiba di rumah, aku akan mencarikan kitab bacaan untukmu.”

“Subo juga mempunyai kitab-kitab bacaan?” Yo Han memandang dengan sinar mata gembira.

“Akan aku carikan untukmu. Apa sih sukarnya mencari kitab-kitab itu? Akan aku carikan sebanyaknya untukmu. Aku sayang padamu Yo Han, dan kuharap engkau pun sayang kepadaku dan akan menuruti semua keinginanku.”

“Subo baik kepadaku, mengapa aku tidak sayang? Dan tentu saja aku akan menuruti semua keinginan Subo. Subo, bolehkah aku tidur dulu? Perjalanan hari ini yang tidak melalui air lagi, berjalan kaki sehari penuh, amat melelahkan badan dan aku ingin tidur.” Yo Han lalu merebahkan dirinya miring di sudut ruangan itu, di seberang api unggun, terpisah dari subo-nya.

Ang-I Moli tersenyum. “Yo Han, jangan lupa lagi. Apa yang harus kau lakukan sebelum tidur?”

Yo Han juga tersenyum, lalu bangkit dan membawa air ke bagian belakang kuil untuk membersihkan mulutnya. Pada malam pertama mereka melakukan perjalanan, masih berperahu, subo-nya yang baru ini telah memberi sebuah pelajaran tentang kebersihan kepadanya, yaitu keharusan membersihkan mulut sewaktu akan tidur.

”Lihat gigiku ini,” demikian kata subo-nya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi. “Belum ada sebuah pun yang rusak atau tanggal, padahal banyak orang seusiaku sudah hampir kehabisan giginya. Ini hasil menjaga kebersihan. Bukan saja hasilnya gigi menjadi bersih dan utuh, juga kesehatanku menjadi amat baik karena hampir semua penyakit datangnya lewat mulut. Cara membersihkan mulut dan gigi yang paling baik adalah membersihkannya setiap kali kita hendak tidur. Hal ini harus menjadi kebiasaanmu semenjak malam ini, Yo Han!” Demikianlah Ang-I Moli memberi pelajaran tentang kesehatan dan kalau dia terlupa, seperti pada malam ini, Ang-I Moli selalu memperingatkannya.

Pelajaran kesehatan yang agaknya amat sederhana ini sesungguhnya menguntungkan sekali dan alangkah baiknya bagi Yo Han. Biasanya orang meremehkannya. Padahal, kebiasaan membersihkan mulut di waktu hendak tidur merupakan satu di antara usaha penjagaan kesehatan yang paling baik dan paling mudah!

Tidak lama kemudian, Yo Han sudah tidur pulas di atas rumput kering. Dia tidak tahu bahwa semenjak tadi Ang-I Moli sudah berpindah tempat di dekatnya dan kini wanita itu duduk bersila di sebelahnya, tiada hentinya mengamati wajahnya yang tidur nyenyak, di bawah sinar api unggun yang membuat wajahnya menjadi kemerahan.

Aku harus mulai sekarang juga, pikir wanita itu. Lebih cepat ia dapat menguasai Yo Han, lebih baik. Dengan lembut tangannya meraba wajah pemuda itu, membelai dagu dan leher, lalu membelai semua tubuh Yo Han. Pemuda remaja itu menggeliat dalam tidurnya dan Ang-I Moli menarik tangannya.

Anak ini amat luar biasa, pikirnya sambil menahan gairah yang sudah mulai membakar dirinya. Mungkin saja dia akan menolak keras, bahkan melawan dan tak mau menyerah biar diancam bagaimana pun juga. Keberaniannya memang luar biasa. Kalau terjadi hal seperti itu, tentu amat merugikan dirinya. Kalau ia menggunakan paksaan, anak ini akan dapat mati sebelum ia memperoleh hasil yang memuaskan.

Ia harus dapat menghisap kemurnian anak ini sedikit demi sedikit, tidak terasa oleh Yo Han. Ia akan memberi makanan dan minuman yang mengandung obat penguat badan dan akhirnya, semua hawa murni dan darah murni itu akan berpindah ke tubuhnya tanpa diketahui oleh pemuda remaja itu, atau kelak diketahui kalau sudah terlambat dan pemuda yang kehabisan darah dan hawa murni itu akan tewas pula.

Dan ia akan mampu melatih diri dengan ilmu rahasia itu! Ia akan menjadi seorang yang sukar dicari tandingnya! Ia akan dapat merajai dunia persilatan dengan ilmunya itu.

Kembali ia mengamati wajah Yo Han yang masih tidur nyenyak. Ahh, mengapa ia begitu bodoh? Kalau membujuk anak ini, agaknya ia akan gagal total. Anak ini bukan seorang anak yang mudah dibodohi atau dibujuk halus, atau pun yang mudah ditundukkan dengan ancaman atau siksaan. Padahal, ia menghendaki agar dia menyerahkan diri dengan suka rela! Dengan demikian maka hasilnya akan lebih baik lagi bagi dirinya.

Dan satu-satunya jalan adalah menggunakan kekuatan sihirnya! Mengapa ia lupa akan kepandaiannya itu? Ia pernah mempelajari ilmu sihir dari Pek-lian-kauw dan kini ilmu sihirnya sudah lebih dari kuat untuk mempengaruhi seorang bocah! Orang dewasa pun kalau tidak memiliki sinkang yang kuat akan mudah ia tundukkan dengan kekuatan sihirnya. Apa lagi pemuda remaja yang lemah ini!

Ang-I Moli yang duduk bersila menghadapi Yo Han itu lalu membuat guratan-guratan dengan telunjuk kanannya, kemudian mulutnya berkemak-kemik, matanya terpejam. Ia membaca semacam mantera untuk mulai mempergunakan ilmu sihirnya untuk menyihir dan menguasai semangat Yo Han yang masih tidur nyenyak.

Setelah membaca mantera, ia lalu membuka kedua matanya yang mengeluarkan sinar aneh menatap wajah Yo Han. Juga kedua tangannya kini digerakkan dengan aneh, jari tangannya terbuka seperti cakar, dan jari-jari tangan itu bergerak-gerak, kedua tangan itu diputar-putar sekitar kepala dan tubuh Yo Han. Kembali mulutnya berkemak-kemik, kini mengeluarkan bisikan yang mendesis-desis.

“Yo Han, engkau telah berada dalam kekuasaanku, seluruh semangat dan kemauanmu tunduk padaku. Jika nanti engkau kusuruh bangun, engkau akan tunduk dan menyerah padaku penuh kepasrahan, engkau akan menganggap aku sebagai wanita paling cantik yang kau kasihi, engkau akan dibakar gairah birahi dan engkau akan menuruti segala kehendakku dengan gembira. Kemauanmu akan lemah dan lembut bagaikan domba, gairah birahimu akan bangkit setangkas harimau. Engkau akan selalu berusaha untuk menyenangkan hatiku, dengan mentaati semua perintahku, hanya aku satu-satunya orang yang kau kasihi, kau taati...” Ia lalu menutup bisikan mendesis itu dengan tiupan dari mulutnya ke arah muka Yo Han tiga kali.

“Yo Han... Yo Han... Yo Han... bangunlah engkau, sayang!” Dia mengguncang pundak pemuda itu, menggugahnya.

Yo Han adalah seorang anak yang memiliki kepekaan luar biasa. Sejak kecil, di waktu dia tidur, jika ada sesuatu yang tidak wajar, sedikit suara saja sudah cukup menggugah dirinya dari tidur pulas. Maka begitu Ang-I Moli menyentuh pundaknya ia pun terbangun, membuka kedua matanya, tetapi tidak seperti biasanya, dia tidak segera bangkit duduk, namun memandang kosong ke depan, seperti orang melamun, seperti melihat sesuatu yang amat menarik hati.

Dan memang dia merasa melihat sesuatu yang amat aneh. Dia merasa seolah kaki dan tangannya terbelenggu, juga suaranya lenyap bagaikan gagu, dan dirinya hanyut oleh gelombang samudera, semakin ke tengah dalam keadaan tidak berdaya sama sekali. Kemudian ia merasa ada kekuatan yang menariknya ke tepi, bahkan ia seperti sedang menunggang gelombang, makin dekat ke tepi, lalu kaki tangannya yang tadinya seperti terbelenggu itu terlepas bebas, dan mulutnya dapat bersuara lagi. Dia berenang sekuat tenaga ke tepi, dan berhasil mendarat di pantai.

“Apa... apa yang terjadi padaku? Ya Tuhan, apa yang terjadi...?”

Suara ini pun seperti keluar dengan sendirinya, dari balik perasaan hatinya yang diliputi keheranan. Dan begitu dia menyebut nama Tuhan. Semua itu pun lenyap dan seperti orang bangkit dari mimpi buruk, dia kini duduk dan melihat bahwa di depannya duduk Ang-I Moli yang bersila.

Melihat pemuda remaja itu telah bangun duduk, Ang-I Moli tersenyum manis, merasa yakin bahwa sihirnya telah mengena dan telah menguasai anak itu, walau pun ketika Yo Han menyebut Tuhan tadi hatinya merasa amat tidak enak.

“Yo Han, engkau sayang padaku, bukan?” Ia menguji.

Yo Han memandang wajah subo-nya dengan heran, lalu menjawab lirih, “Tentu saja aku sayang padamu, Subo. Kenapa Subo menanyakan hal itu dan membangunkan aku?”

“Hemmm, anak tampan. Aku ingin engkau membuktikan kasih sayangmu padaku. Nah, kesinilah, Yo Han, peluklah aku… ciumlah aku,” katanya dengan senyum memikat dan nada suara memerintah.

Akan tetapi, kini terjadi hal yang mengejutkan dan mengherankan hatinya! Anak itu tidak bergerak menuruti perintahnya, bahkan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan mata bersinar marah!

“Subo, apa artinya ini? Subo menyuruh aku melakukan sesuatu yang tidak patut!”

Tentu saja Ang-I Moli terkejut. Bukankah sihirnya tadi sangat kuat dan anak ini sudah berada di dalam cengkeraman ilmu sihirnya? Kenapa sekarang dia berani membantah dan menolak perintahnya?

“Yo Han! Aku sayang padamu dan engkau pun sayang padaku. Apa salahnya kalau engkau memelukku dan menciumku untuk menyatakan kasih sayangmu itu?”

“Tapi aku bukan anak kecil lagi yang pantas dipeluk cium, Subo! Aku seorang pemuda yang sudah berusia dua belas tahun, menuju ke masa remaja!”

Sekarang Ang-I Moli merasa penasaran bukan main. Semua ucapan Yo Han itu tidak menunjukkan bahwa dia berada di bawah pengaruh sihir! Semua jawaban Yo Han itu mengandung perlawanan, bukan ketaatan.

Ia pun menguji lagi dan dengan suara nyaring mengandung perintah dia berseru, “Yo Han, bangkitlah berdiri!”

Dan anak itu pun segera bangkit berdiri. Begitu taat!

“Tambahkan kayu pada api unggun!” perintahnya pula.

Tanpa menjawab, dan sedikit pun tidak membantah, Yo Han menghampiri api unggun, memilih beberapa potong kayu bakar, kemudian menambahkannya kepada api unggun sehingga api kini membesar.

“Yo Han, sekarang duduklah kembali ke sini, di depanku!”

Sekali lagi Yo Han mentaati perintah itu dan menghampiri subo-nya, lalu duduk di depan subo-nya. Begitu taat dan sedikit pun tidak membantah. Mereka duduk bersila saling berhadapan, dekat sekali sehingga Yo Han dapat mencium bau harum minyak bunga yang semerbak dari pakaian dan rambut wanita itu.

Melihat betapa Yo Han selalu taat, Ang-I Moli menjadi semakin heran dan penasaran. Kenapa sekarang anak itu begitu taat seolah sihirnya termakan olehnya?

“Yo Han…, kau rabalah kedua pipiku dan daguku dengan kedua tanganmu,” kembali ia memerintah.

Yo Han hanya memandang heran saja, akan tetapi kedua tangannya bergerak dan dia pun meraba-raba kedua pipi yang halus dan dagu meruncing itu.

“Teruskan, raba leher dan dadaku...,” kata pula Ang-I Moli, kini suaranya mulai gemetar oleh bangkitnya kembali gairahnya.

Akan tetapi sekarang, kedua tangan itu bukan turun ke leher dan dadanya, melainkan turun kembali ke atas pangkuan Yo Han. Anak itu sama sekali tidak melaksanakan perintahnya.

“Yo Han, aku perintahkan, cepat kau raba dan belai leher dan dadaku dengan kedua tanganmu!” ia membentak, mengisi suaranya dengan kekuatan sihir sepenuhnya.

Tetapi, jangankan anak itu melaksanakan perintahnya, bahkan kini Yo Han memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh, heran dan juga penasaran.

“Subo, kenapa Subo mengeluarkan perintah yang aneh-aneh? Maaf, aku tidak dapat memenuhi perintah itu.”

Barulah kini Ang-I Moli terkejut. Jelas bahwa anak ini tidak berada di bawah pengaruh sihirnya! Tidak pernah! Kalau tadi nampak dia mentaati hanya karena taat yang wajar, bukan pengaruh sihir sama sekali. Ia pun menjadi marah.

“Yo Han, bukankah engkau sudah berjanji akan mentaati semua perintahku? Mengapa sekarang engkau membantah dan tak memenuhi perintahku yang amat sederhana dan mudah ini?”

“Subo, sudah kukatakan bahwa semua perintah Subo akan kutaati, kecuali bila perintah itu untuk melakukan sesuatu yang jahat dan tidak benar. Perintah Subo itu tidak baik, karenanya maka aku tidak mau melaksanakannya. Perintahkan aku mengerjakan yang pantas, betapa berat pun pasti akan kutaati, Subo.”

“Yo Han,” kini Ang-I Moli hendak mendapatkan kepastian dan ia tidak mau membuang waktu sia-sia dengan membawa anak itu jauh-jauh ke tempat tinggalnya untuk kelak tidak tercapai pula maksudnya. “Engkau harus mentaati semua perintahku, kalau tidak, untuk apa aku mempunyai murid yang membandel dan membantah?”

“Untuk perintah yang tidak pantas, terpaksa aku menolak, Subo.”

Wanita yang sudah terbakar oleh gairah nafsunya sendiri itu, sama sekali tidak tahu bahwa Yo Han adalah seorang anak yang aneh, memiliki sesuatu dalam dirinya yang oleh manusia pada umumnya akan dianggap aneh.

Dia tidak pernah mempelajari ilmu silat dengan latihan, kecuali hanya menghafal semua teorinya saja, dan dia pun tidak pernah belajar ilmu sihir. Namun, kekuatan sihir yang digunakan Ang-I Moli terhadap dirinya, sama sekali tidak mempan, sama sekali tidak mempengaruhinya, hanya mendatangkan mimpi bahwa dia hampir dihanyutkan ombak samudera. Kekuatan sihir Ang-I Moli bagaikan arus air sungai yang menerjang batu, mengguncang sedikit saja lalu lewat tanpa mampu menghanyutkan batu itu.

Karena kini merasa yakin bahwa anak itu tidak lagi dapat dipengaruhinya dengan sihir, Ang-I Moli menjadi penasaran dan tak sabar lagi. Ia lalu menanggalkan pakaian luarnya, begitu saja di depan mata Yo Han.

Anak ini mula-mula memandang dengan mata terbelalak heran. Akan tetapi pandang matanya lalu menunduk ketika dia melihat tubuh subo-nya hanyalah terbungkus pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang.

Melihat betapa agaknya anak itu tidak dapat dipengaruhi oleh kecantikan dan keindahan tubuhnya, maklum karena usianya pun baru dua belas tahun, belum dewasa, Ang-I Moli lalu merangkul dan menciumi Yo Han. Diterkamnya anak itu bagaikan seekor harimau menerkam kelinci!

“Subo, apa yang Subo lakukan ini?! Subo, lepaskan aku! Ini tidak boleh, tidak benar, tidak baik...!”

Akan tetapi betapa pun dia meronta, tetap saja dia tidak berdaya menghindarkan diri. Yo Han kalah tenaga dan tak mampu bergerak lagi saat wanita itu menerkamnya sehingga dia terguling dan dia lalu ditindih, digeluti, didekap dan diciumi. Yo Han hanya dapat memejamkan matanya dan mulutnya berkemak-kemik dengan sendirinya.

“Ya Tuhan... ya Tuhan...” Dia hanya menyebut Tuhan berulang-ulang.

Semenjak Yo Han mengenal akan kekuasaan Yang Maha Kuasa melalui bacaan dalam kitab-kitab, dia yakin benar bahwa sumber segala kekuatan dan kekuasaan adalah satu, tunggal dan Maha Kuasa. Keyakinan ini yang selalu membuat Yo Han secara otomatis menyebut Tuhan setiap kali terjadi sesuatu menimpa dirinya. Hal ini mungkin karena dia sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi sehingga dia dapat menyerahkan diri sepenuhnya dan seikhlasnya kepada Tuhan.

Ang-I Moli menjadi penasaran dan marah bukan main. Anak laki-laki itu sama sekali tak melawan lagi, sama sekali tidak bergerak sehingga seolah-olah dia sedang menggumuli sebuah batu saja. Dan bisikan-bisikan yang menyebut Tuhan berulang-ulang itu sangat mengganggunya, bahkan api gairah birahi yang tadi membakar dirinya perlahan-lahan menjadi dingin. Api gairah itu hampir padam.

“Engkau... engkau tidak mau melayani hasratku...?” tanya Ang-I Moli dengan suaranya yang terengah-engah.

Yo Han tidak menjawab, tubuhnya telentang sedangkan pakaiannya awut-awutan. Dia menggeleng dengan tegas.

“Biar pun dengan ancaman mati? Engkau tetap tidak mau?”

“Mati di tangan Tuhan. Aku tidak mau melakukan hal yang tidak benar!” Jawab Yo Han, suaranya lirih namun tegas dan sepasang matanya bersinar-sinar.

“Plak! Plak!”

Dua kali Ang-I Moli menampar kedua pipi Yo Han sehingga kepala anak itu terdorong ke kanan kiri dan kedua pipinya menjadi merah. Ang-I Moli tidak ingin membunuhnya maka tamparan tadi pun menggunakan tenaga biasa saja, namun cukup mendatangkan rasa nyeri dan panas. Namun Yo Han tetap memandang dengan tabah, sedikit pun tidak memperlihatkan perasaan takut.

“Hemmm, hendak kulihat sekarang! Karena engkau harus dipaksa, maka engkau akan menderita. Salahmu sendiri! Nah, sekali lagi aku memberi kesempatan. Kalau engkau menuruti semua kehendakku, engkau akan hidup senang. Sebaliknya, bila engkau tetap menolak, aku juga bisa memaksamu dengan obat perangsang dan racun, dan akhirnya engkau pun akan menyerahkan diri kepadaku, hanya saja, engkau akan menderita dan mati!”

“Subo, dengan ancaman siksaan apa pun Subo tidak dapat memaksaku melakukan hal yang tidak benar. Aku tidak takut mati karena kematian berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki aku harus mati, aku pun akan menyerah dengan rela...”

“Cukup! Tidak perlu berkhotbah! Engkau mau atau tidak?”

“Subo, kuperingatkan Subo. Perbuatan Subo ini tidak benar dan berdosa. Kelak Subo akan menerima hukuman dari Tuhan!”

“Tutup mulutmu!”

Tangan Ang-I Moli bergerak, lalu jari-jari tangannya menotok jalan darah di pundak dan pinggang Yo Han.

Tubuh Yo Han terkulai, tidak mampu bergerak lagi. Hanya kedua matanya yang masih terbelalak memandang wajah wanita itu dengan penuh teguran.

“Subo dan aku adalah guru dan murid, tidak sepatutnya...”

“Tukkk!”

Kembali wanita itu menotok leher dan suara Yo Han menghilang. Dia tidak mampu lagi mengeluarkan suara.

“Hi-hik, bocah cerewet!” Wanita itu kini terkekeh-kekeh dan dalam pandangan Yo Han wanita itu telah berubah sama sekali.

Tadinya dia melihat wanita itu sebagai seorang wanita yang berwajah cantik, bersuara lembut dan peramah. Akan tetapi kini, sepasang mata itu berubah laksana mata iblis, juga senyumnya menyeringai mengerikan, suaranya agak parau dan mendesis, sedang wajahnya yang berbedak tebal itu seperti topeng.

“Hi-hi-hik, kita bukan guru dan murid lagi, melainkan seorang wanita dan seorang pria! Dan engkau, mau tidak mau, harus menyerahkan hawa dan darah murnimu kepadaku. Sampai tetes yang terakhir! Dan engkau akan menjadi seperti seekor lalat yang dihisap habis oleh laba-laba, sedikit demi sedikit darahmu akan kuhisap sampai tinggal tubuh yang mengering tanpa darah. He-he-heh!” Mulutnya berliur membayangkan kenikmatan dan keuntungan yang akan diperolehnya dari anak ini.

Kalau saja Yo Han mau menuruti semua kehendaknya, atau kalau saja anak itu dapat dikuasainya dengan sihir, tentu ia akan dapat memperoleh kenikmatan yang lebih lama. Ia akan menghisap darah murni anak itu sedikit demi sedikit, menikmatinya dari sedikit sampai akhirnya darah murni itu habis.

Sekarang terpaksa ia harus menggunakan paksaan dengan racun perangsang. Ia akan menghisap darah itu dengan paksa. Mungkin anak itu hanya akan bertahan dua tiga hari saja. Ia akan menghisapnya sampai habis dan akan tinggal sampai dia menyelesaikan pekerjaan itu di dalam kuil tua ini. Paling lama tiga hari lagi dan ia akan berhasil. Ia akan siap untuk melatih diri dengan ilmu rahasia itu!

Melihat api unggun mulai mengecil karena kehabisan kayu bakar, Moli lalu menambah kayu, dan api unggun membesar kembali. Sambil menyeringai dan bersenandung kecil menyatakan kegembiraan hatinya, wanita itu lalu mengambil sebuah bungkusan kain dari dalam buntalan pakaiannya, lalu membuka bungkusan itu dan mengeluarkan tiga butir pel dari dalam botol hijau. Ia duduk dekat api unggun saat memilih isi bungkusan. Sisa obat itu dia bungkus kembali dan tiga butir pel berada di tangannya.

Yo Han mengikuti semua gerakan wanita itu dengan pandang matanya. Dia tahu bahwa dirinya terancam bahaya, maka seperti biasanya dia lakukan, dalam keadaan seperti itu, penyerahan dirinya kepada kekuasaan Tuhan menjadi semakin kuat.

Dia merasa yakin bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh kekuasaan Tuhan! Kalau memang Tuhan menghendaki bahwa dia harus mati di tangan wanita ini, apa boleh buat. Dia hanya dapat menerimanya dengan pasrah karena maklum sedalamnya bahwa segalanya adalah milik Tuhan, berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Karena kepasrahan yang mutlak ini, sedikit pun tidak ada rasa takut.

Rasa takut adalah perkembangan dari si-aku yang diciptakan oleh pengalaman masa lalu melalui pikiran. Si-aku yang merasa terancam menimbulkan rasa takut. Takut kalau kesenangan yang sudah berada di tangan itu terlepas dan hilang. Takut jika kesusahan akan menimpa dirinya, takut sakit, takut mati.

Si-aku ingin selalu di atas, ingin selalu menonjol, ingin selalu menjadi yang terpenting, terbesar, terbaik. Rasa takut akan timbul jika si-aku merasa terancam kepentingannya, terancam keadaannya, takut kalau dirinya akan kehilangan arti, takut, kalau dirinya akan lenyap oleh kematian, takut kehilangan segala yang dimilikinya, yang menjadikan dirinya penting dan berarti. Takut akan kehilangan harta, kedudukan, kehormatan, nama, takut kehilangan orang-orang yang dikasihi karena mereka yang dikasihinya itu menimbulkan kesenangan. Pada hakekatnya, si-aku yang sesungguhnya hanyalah khayalan dari sang pikiran yang menimbulkan rasa takut
.

Yo Han dalam keadaan terancam bahaya maut, terancam siksa dan derita, tetap tidak mengenal rasa takut sebab ia sudah menyerahkan segalanya, dengan sebulat batinnya, kepada kekuasaan Tuhan! Si aku dalam dirinya tidak memegang peran lagi dan sebagai gantinya, semua diri seutuhnya, badan mau pun batin, telah diserahkan kepada Tuhan dan karenanya, kekuasaan Tuhan sajalah yang membimbingnya dan menjaganya.

Moli memasukkan tiga butir pel kehijauan itu ke dalam cawan araknya, lalu mengambil guci dan hendak menuang isi guci ke dalam cawan itu. Akan tetapi segera ditahannya.

“Heh-heh, aku lupa! Engkau tidak suka arak. Kalau dicampur arak akan sukar memasuki perutmu. Sebaiknya dengan air saja. Bukankah begitu, Yo Han?”

Akan tetapi anak itu tidak menjawab. Pada saat itu, semua panca indranya juga bekerja sendiri, tidak lagi dikemudikan oleh hati dan akal pikiran. Karena itu, dia mendengar dan melihat tanpa penilaian, tanpa pendapat. Hanya mendengar dan melihat saja seperti apa adanya, dan karena pikirannya tidak bekerja menimbang-nimbang lagi, maka dia tidak merasa takut. Dia bagaikan seorang bayi di dalam gendongan ibunya, tidak takut apa-apa dan merasa aman!

Demikianlah keadaan seorang yang berada dalam ‘gendongan’ kekuasaan Tuhan yang meliputi seluruh alam maya pada ini, meliputi luar dan dalam, segenap penjuru dan di dalam apa saja yang nampak dan tidak nampak, di dalam atau pun di luar dunia, di mana saja yang terjangkau pikiran mau pun yang tak terjangkau. Jika sudah terbimbing oleh kekuasaan seperti itu, berada dalam gendongan kekuasaan seperti itu, apa lagi yang dapat menimbulkan rasa takut?

“Heh-heh-heh-heh!” Moli menuangkan air ke dalam cawan, lalu menggunakan sumpit untuk menghancurkan tiga butir pel di dalam cawan, melarutkannya sampai rata betul. Sambil terkekeh ia lalu mendekati Yo Han yang masih memandang dengan sinar mata yang terang dan tenang.

“Hi-hi-hik, Yo Han. Dengar baik-baik. Tiga butir ini mengandung tiga macam racun yang amat kuat. Pertama, racun perampas ingatan! Begitu meminumnya, engkau akan lupa segala. Semua ingatan tentang masa lampau akan lenyap dan terlupakan. Enak sekali, bukan? Racun kedua mengandung racun perangsang. Begitu meminumnya, engkau lantas menjadi seekor kuda jantan dalam birahi! Hi-hi-hik, menyenangkan aku benar! Engkau tak akan pernah mengenal puas dan engkau harus menyalurkan terus-menerus hasrat kejantananmu itu sampai tubuhmu yang tidak kuat lagi. Dan racun ke tiga adalah obat kuat, agar tubuhmu kuat melakukan penyaluran hasratmu itu sampai habis, hi-hik! Sampai darah murnimu terhisap habis olehku, hawa murni di dalam tubuhmu tersedot habis dan menjadi milikku, hi-hi-hik!”

Yo Han tidak merasa ngeri mendengar semua itu. Yang ada hanya keheranan mengapa Ang-I Moli kini berubah seperti ini! Seperti bukan manusia lagi. Sekarang baru dia tahu mengapa wanita ini dijuluki Ang-I Moli (Iblis Betina Berpakaian Merah). Kiranya memang wataknya bagai iblis betina, seperti bukan manusia lagi, penuh kelicikan dan kekejaman luar biasa.

“Bukalah mulutmu, sayang. Biar kutuangkan minuman yang sedap ini ke dalam perutmu melalui mulut. Bukalah mulutmu,” kata Moli dengan suara manis merayu.

Tentu saja Yo Han tak mau membuka mulutnya. Ia memang masih bisa menggerakkan mulut karena yang tak dapat digerakkan hanya kedua kaki dan tangan saja. Akan tetapi dia tidak sudi menuruti perintah manusia yang sudah menjadi iblis itu.

“Buka mulutmu kataku!” Sekarang Moli membentak marah, akan tetapi Yo Han hanya memandang dengan mata melotot, bahkan dia merapatkan kedua bibirnya.

“Anak bandel!” Moli berkata, lalu tangan kirinya menangkap rahang Yo Han dan sekali jari-jari tangannya menekan, mulut Yo Han terbuka lebar tanpa dapat ditahannya lagi. Bahkan kini yang memegang rahang Yo Han hanya tiga jari karena jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri Moli sudah di julurkan ke atas dan menekan lubang hidung Yo Han.

Anak itu terpaksa menarik napas dari mulut karena hidungnya tertutup dan ketika Moli menuangkan air dalam cawan yang sudah bercampur tiga butir pil yang sudah larut, dia tidak dapat memuntahkannya keluar dan cairan itu pun tertelan dan masuk ke dalam perutnya.

“Hi-hi-hik, racun itu sudah masuk perutmu, Yo Han. Engkau akan segera tertidur karena pengaruh racun perampas ingatan, akan tetapi besok pagi-pagi bila engkau terbangun, engkau akan jinak dan penurut seperti domba, akan tetapi juga tangkas dan kuat seperti harimau. Hi-hik, sungguh akan menyenangkan sekali. Sekarang, kau tidurlah, sayang...” berkata demikian, Moli membebaskan totokan jalan darah Yo Han sehingga anak itu mampu bergerak kembali.

Yo Han menggerak-gerakkan kaki tangannya yang terasa kaku dan nyeri-nyeri, lalu bangkit duduk memandang kepada Moli dengan sinar mata penuh teguran.

“Bibi, engkau sendiri yang tadi mengatakan bahwa kita bukan guru dan murid lagi, maka aku tidak akan menyebutmu subo lagi. Bibi, engkau seorang manusia, mengapa engkau melakukan perbuatan yang lebih pantas dilakukan iblis? Ingatlah, Bibi, perbuatan yang jahat akan menghasilkan akibat yang buruk bagi dirimu sendiri…” Yo Han menghentikan ucapannya karena tiba-tiba saja dia merasa kantuk menyerangnya dengan hebat sekali. Tak tahan dia untuk tidak menguap.

Ang-I Moli terkekeh genit. “Memang orang menyebutku iblis, Yo Han. Orang menjuluki aku Ang-I Moli, kalau aku tidak bertindak seperti iblis, berarti julukanku itu tidak ada harganya dan kosong belaka, heh-heh-heh! Engkau sudah mulai mengantuk? Tidurlah sayang, tidurlah...!”

Wanita itu terkekeh-kekeh melihat Yo Han kini merebahkan diri miring di atas rumput kering dan segera pulas. Ia pun menambahkan lagi kayu bakar di perapian, dan turut merebahkan diri di dekat Yo Han, memeluk pemuda remaja itu dengan mesra. Ia sudah siap. Begitu Yo Han terbangun pada keesokan harinya dan racun-racun itu bekerja, ia sudah siap.

Karena ia pun lelah dan mengantuk, sebentar saja Moli pulas juga. Ia tidak tahu bahwa tidak lama kemudian api unggun itu padam dan hawa dingin menyusup tulang. Ia tidak terbangun, hanya merangkul lebih erat. Yo Han juga tidak pernah terbangun karena dia agaknya sudah terpengaruh oleh racun yang mulai bekerja di tubuhnya.....

********************

Karena sangat kecapaian dan tidur pulas sekali, Moli yang merangkul bahkan seperti menyelimuti tubuh Yo Han dengan tubuhnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa lewat tengah malam, ada sesosok bayangan hitam perlahan-lahan memasuki kuil tua yang kosong itu.

Bayangan itu ternyata seorang wanita yang berpakaian longgar, pakaian sutera kuning dengan kepala juga dikerudungi sutera kuning. Karena penerangan hanya datang dari bulan yang muncul lambat sekali, bulan yang tinggal sepotong, maka tidak dapat dilihat jelas wajah wanita berkerudung itu. Namun gerak-geriknya halus walau pun ringan dan cekatan.

Langkahnya tidak menimbulkan suara ketika ia memasuki kuil. Tangannya memegang sebatang kayu kering yang membara ujungnya. Ia mengayun kayu itu dan bara itu pun menyala kecil, cukup untuk menerangi sekelilingnya sejauh tiga empat meter. Akan tetapi ia menggunakan tangan kiri menutupi mukanya agar pandang matanya tidak silau oleh nyala api di ujung kayu itu. Dia memilih tempat, mencari bagian yang kering dan bersih, agaknya untuk melewatkan malam.

Bagian depan dan tengah kuil itu agaknya tidak memuaskan hatinya karena memang selain lantainya tidak begitu bersih, juga di bagian depan itu orang akan terserang angin karena terbuka. Di bagian dalam memang terlindung dari angin, akan tetapi tempat itu agak lembab.

Ia lalu mengayun lagi kayu yang nyalanya telah padam dan hanya tinggal membara. Sekali ayun, bara itu menyala kembali dan ia melangkah ke belakang. Diangkatnya kayu itu tinggi di atas kepala dan sekilas ia melihat dua orang laki-laki dan perempuan yang saling berpelukan itu, si perempuan hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang, si laki-laki yang masih remaja juga pakaiannya awut-awutan. Mereka itu tertidur nyenyak, perempuan merangkul laki-laki itu dengan erat sekali.

Ia menurunkan kayu dan nyala di ujung kayu itu pun padam. Ia lalu membalikkan tubuh dan kembali ke ruangan depan, bahkan tak mau tinggal di ruangan dalam karena terlalu dekat dengan ruangan belakang. Dinyalakannya kembali ujung kayu itu dengan ayunan tangannya, lantas dia pun mengumpulkan rumput kering dan menaburkannya di sudut ruangan depan itu. Setelah itu, ia memadamkan kembali nyala api dan duduk bersila.

Walau pun angin bertiup dan hawa dingin sekali, ia tidak kelihatan kedinginan. Bahkan nyamuk yang banyak beterbangan di situ hanya beterbangan di sekitarnya dan agaknya tidak ada yang mencoba untuk hinggap di mukanya, satu-satunya bagian tubuh yang nampak dan dapat digigit.

Entah apa yang menyebabkan nyamuk-nyamuk tidak berani hinggap di pipi atau leher itu. Agaknya harum cendana yang keluar dari tubuh itulah yang membuat nyamuk tidak berani mendekat. Atau mungkin juga bau hio berasap yang dibakar oleh wanita itu. Sebatang saja hio (dupa biting) yang nampaknya awet sekali, mengeluarkan asap yang harum.

Wanita itu duduk bersila dan memejamkan matanya setelah mulutnya mengomel lirih. “Omitohud... alangkah tega menodai tempat suci ini, sungguh pun kuil ini sudah tidak terpakai. Apakah mereka tidak dapat mencari tempat lain yang lebih baik dan tepat untuk bermain cinta? Omitohud...”

Akan tetapi, ia segera melupakan apa yang terlihat olehnya tadi dan sudah tenggelam dalam semedhi yang mendalam. Siapakah wanita ini?

Ia seorang wanita yang tidak muda lagi walau pun masih nampak cantik. Usianya sudah empat puluh tujuh tahun, rambutnya sudah berwarna dua. Akan tetapi rambut yang tidak tersisir rapi dan awut-awutan karena perjalanan jauh dan hembusan angin itu halus dan panjang, berkilau tanda sehat.

Rambut itu digelung secara aneh, tak mirip gelung orang daerah, lalu kepala itu ditutup kerudung sutera kuning. Wajahnya masih belum diganggu keriput walau pun garis-garis di antara kedua matanya menunjukkan bahwa ia seorang yang telah banyak mengalami pahit getir kehidupan di dunia. Sepasang matanya jeli dan tajam, lebar dan berwibawa.

Di antara dua alisnya terdapat titik merah, suatu kebiasaan di negerinya karena wanita ini berasal dari negara Bhutan, sebuah kerajaan kecil yang terletak di sebelah selatan Tibet. Tubuhnya masih padat dan ramping, tanda bahwa selain sehat, juga wanita ini memiliki tubuh yang kuat dan terlatih.

Kalau ada orang Bhutan yang melihatnya, tentu orang itu akan bersikap amat hormat padanya. Hiasan rambutnya yang berbentuk burung merak dan pakaiannya yang seperti pakaian pendeta itu menunjukkan kedudukannya yang cukup tinggi di Kerajaan Bhutan. Ia adalah seorang puteri! Seorang wanita ningrat keluarga dekat dari raja Bhutan.

Memang sesungguhnya demikianlah. Wanita cantik ini bernama Gangga Dewi, seorang puteri dari Kerajaan Bhutan, atau lebih tepat lagi, ia masih cucu raja tua di Bhutan. Ibu Gangga Dewi adalah Puteri Syanti Dewi, puteri raja, sedang ayahnya adalah seorang pendekar yang amat terkenal, dahulu berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat, atau kemudian setelah menjadi duda dan sudah tua lalu menjadi seorang pendeta dan berjuluk Tiong Khi Hwesio.

Gangga Dewi lahir di Bhutan. Dia dilahirkan sesudah lebih dari sepuluh tahun ayahnya menikah dengan ibunya, lalu dia hidup sebagai seorang puteri di kerajaan itu. Ayahnya menjadi seorang panglima atau seorang penasihat perang. Sejak kecil dia pun menjadi gemblengan dari ayahnya, sampai dia dewasa dan kemudian menikah dengan seorang panglima muda Bhutan yang telah banyak membuat jasa.

Gangga Dewi hidup berbahagia dengan suaminya dan ia melahirkan dua orang anak. Akan tetapi, saat dua orang anaknya berusia belasan tahun, ibunya, yaitu Puteri Syanti Dewi, meninggal dunia karena penyakit tua. Ayahnya, Wan Tek Hoat, seperti berubah ingatan ketika Puteri Syanti Dewi yang amat dicintanya itu meninggal dunia.

Bagaikan orang gila Wan Tek Hoat tidak mau pulang dan tinggal dalam gubuk di dekat makam isterinya, seolah-olah dia ingin menemani isterinya yang sudah berada di dalam kuburan. Akhirnya seorang pendeta tua yang bijaksana dapat menyadarkan Wan Tek Hoat sehingga dia dapat menyadari kebodohannya, menggunduli kepala, mengenakan jubah pendeta dan mempelajari keagamaan, menjadi seorang hwesio (pendeta Buddhis berjuluk Tiong Khi Hwesio.

Kemudian ia meninggalkan Bhutan karena setelah isterinya meninggal dunia ia merasa terasing di Bhutan. Puteri tunggalnya, Gangga Dewi, telah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya, yaitu seorang Bhutan asli. Maka dia pun pergi ke timur, kembali ke Tiongkok dan akhirnya berkunjung ke Istana Gurun Pasir sampai meninggal di sana bersama saudaranya seayah berlainan ibu, yaitu nenek Wan Ceng dan suaminya, Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu. Kisah itu dapat dibaca secara lengkap dalam cerita SI BANGAU PUTIH.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner