SI BANGAU MERAH : JILID-08


Gangga Dewi merasa semakin terharu, Ciang Bun mencium dahi dan rambutnya dan ia dapat merasakan detak jantung yang penuh kasih sayang dalam dada pria itu.

"Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih bahwa engkau telah mempertemukan aku kembali dengan Gangga-ku... Ahhh, Gangga Dewi, betapa aku rindu kepadamu..."

"Aku pun rindu kepadamu, Ciang Bun. Akan tetapi kepada siapakah engkau rindu? Gangga Dewi ataukah Ganggananda...?"

"Sama saja, Gangga, sama saja. Aku mencintamu, mencinta pribadimu, tidak peduli engkau pria atau wanita...”

Kembali Suma Ciang Bun mencium dahi Gangga Dewi dengan penuh cinta kasih dan Gangga Dewi merasa betapa ada air mata membasahi dahinya dan menuruni pipinya. Jawaban itu melegakan hatinya dan ia pun balas merangkul. Betapa keadaan seperti ini sering kali terjadi dalam mimpinya ketika dulu, betapa ia merindukan rangkulan pria ini.

Akan tetapi, tiba-tiba Ciang Bun mengeluarkan keluhan perlahan dan dia pun segera melepaskan rangkulan, kemudian melangkah ke belakang dan pada saat Gangga Dewi memandang, ia melihat wajah itu basah air mata yang masih menetes turun, dan wajah itu kembali pucat, mulutnya bergerak-gerak gugup.

"Aih, Gangga Dewi... kau maafkan aku... ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan? Gangga, maafkan aku... maafkan aku..." Dan kini Ciang Bun menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.

Gangga Dewi memandang dan wajahnya sendiri berubah pucat. Kiranya Ciang Bun masih seperti dulu! Masih menangis cengeng bagai seorang wanita lemah, dan agaknya merasa menyesal atas sikapnya yang penuh kehangatan dan kemesraan tadi karena ia muncul sebagai wanita. Agaknya Ciang Bun teringat lagi bahwa ia seorang wanita dan menyesali perbuatannya tadi. Perasaan kecewa yang membuat hatinya nyeri langsung terasa oleh Gangga Dewi.

"Ciang Bun," katanya dan suaranya kini kering dan tegas. "Katakan mengapa engkau minta maaf? Mengapa? Katakan…"

Ciang Bun menurunkan kedua tangannya dan memandang dengan mata merah. Ia pun sudah bisa menguasai hatinya, tidak menangis lagi meski kedua matanya masih basah.

"Gangga Dewi, maafkanlah kelemahanku tadi. Sesungguhnya barusan aku telah lupa diri, saking haru dan girangku bertemu denganmu. Aku telah melakukan hal yang tidak pantas, tidak sopan. Aku lupa bahwa engkau bukanlah Gangga Dewi yang dahulu lagi, engkau seorang yang telah bersuami, berumah tangga. Aku sudah mendengar bahwa engkau kini menjadi seorang isteri yang berbahagia di Bhutan, dengan anak-anakmu. Ahhh, aku ikut merasa girang bahwa engkau hidup berbahagia, Gangga."

Gangga Dewi tersenyum. Hatinya senang karena ternyata Ciang Bun tidak minta maaf sebagai tanda bahwa penyakitnya yang dulu masih ada, melainkan minta maaf karena teringat bahwa ia seorang yang telah bersuami. Hal ini wajar, bahkan baik sekali, tanda bahwa pria ini masih dapat menguasai gelora nafsunya.

"Dan engkau sendiri bagaimana, Ciang Bun?" tanyanya, sikapnya tenang, juga Ciang Bun agaknya sudah mampu menguasai hatinya dan kini mereka berdiri saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, seolah ingin menjenguk isi hati masing-masing.

Mendengar pertanyaan itu, Ciang Bun menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aku masih hidup sendirian, Gangga. Sejak engkau pergi, aku telah kehilangan segala-galanya dan aku lalu hidup mengasingkan diri di sini. Gangga Dewi, bagaimana dengan suami dan anak-anakmu? Kenapa pula engkau melakukan perjalanan seorang diri dan bersama Yo Han?"

"Ciang Bun, aku pergi meninggalkan Bhutan. Aku sekarang juga hidup sendirian seperti engkau. Suamiku telah lama meninggal dalam perang. Kedua orang anakku juga sudah berumah tangga dan hidup berbahagia dengan keluarga masing-masing. Aku kesepian. Ibu telah meninggal dan ayahku telah lama meninggalkan Bhutan. Aku lalu pergi untuk mencari ayahku, dan dalam perjalanan aku bertemu Yo Han. Dialah yang mengajak aku ke sini karena dia berkata bahwa engkau tentu tahu di mana adanya ayahku"

"Ahhh...! Yo Han telah dilarikan orang jahat. Kita harus cepat mengejarnya Gangga. Kita harus menyelamatkannya dari tangan mereka. Nanti saja kita bicara lagi, yang penting sekarang kita harus menolong Yo Han!" Suma Ciang Bun yang teringat kepada Yo Han meloncat jauh ke depan untuk melakukan pengejaran.

"Tahan dulu...!" Suma Ciang Bun melihat bayangan kuning berkelebat mendahuluinya dan Gangga Dewi sudah berdiri di depannya menghalanginya.

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya. "Yo Han terjatuh di tangan orang-orang jahat, nyawanya terancam bahaya dan kini aku hendak mengejar serta menolongnya. Kenapa engkau mencegahku, Gangga Dewi?"

"Kenapa engkau hendak menolong Yo Han?"

“Tentu saja! Aku sayang padanya. Ia pernah tinggal di sini, dititipkan oleh gurunya, Tan Sin Hong. Meski anak lain yang tidak kukenal sekali pun, sudah sepatutnya kubebaskan dari tangan orang-orang jahat itu. Apa lagi Yo Han!" Suma Ciang Bun hendak meloncat lagi, akan tetapi Gangga Dewi menghadangnya.

"Nanti dulu, Suma Ciang Bun. Tenanglah dan mari kita bicarakan dengan kepala dingin. Kau kira aku tidak sayang kepada Yo Han? Walau belum lama kami saling berkenalan, namun anak itu sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, bahkan aku suka dan ingin mengambilnya sebagai murid. Justru karena kita sayang kepadanya, kita tidak boleh melakukan pengejaran secara langsung, karena hal ini bahkan akan membahayakan dirinya. Kalau Ang-I Moli yang jahat itu melihat kita melakukan pengejaran, ia tidak akan ragu untuk segera membunuh Yo Han! Kau tahu, Ciang Bun, perkenalanku dengan Yo Han justru ketika aku merampasnya dari cengkeraman Ang-I Moli. Tak kusangka hari ini ia merampas anak itu kembali dari tanganku, dibantu dua orang tosu Pek-lian-kauw itu. Jadi, kalau hendak menyelamatkan Yo Han, kita harus menggunakan siasat, tidak boleh sembarangan saja!”

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk dan meraba jenggotnya yang terpelihara rapi. Ia berada dalam pemainan gelombang perasaan. Ketika ia tadi mendengar bahwa Gangga Dewi kini hidup seorang diri, sudah menjadi janda, dia merasakan suatu kegembiraan luar biasa di hatinya, kegembiraan yang muncul dengan adanya suatu harapan baru. Akan tetapi kegembiraan ini terganggu oleh kekhawatiran tentang diri Yo Han. Sekarang menghadapi sikap Gangga Dewi yang sedemikian tegas dan tenang, dia merasa sama sekali tak berdaya, seperti seorang bawahan menghadapi atasannya!

"Kurasa engkau benar, Gangga Dewi. Baiklah, aku menurut saja bagaimana baiknya untuk dapat menolong Yo Han."

"Kita membayangi mereka dari jarak jauh dan menjaga agar mereka jangan sampai tahu bahwa kita membayangi mereka. Kita mendekati mereka dan mencari kesempatan baik untuk turun tangan, suatu penyerbuan mendadak sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk membunuh Yo Han."

"Akan tetapi, kalau kita berlambat-lambat, aku khawatir mereka akan mengganggu dan membunuh Yo Han dan kita akan terlambat."

Gangga Dewi menggeleng kepalanya. "Engkau, tidak mengenal betul siapa Yo Han. Aku sendiri pun masih terheran-heran dan takjub melihat keadaan anak itu. Dia mampu menjaga dirinya sendiri. Dia memiliki kekuatan yang ajaib. Mari kita mulai membayangi mereka dan akan kuceritakan semua tentang keanehan Yo Han dalam perjalanan."

"Karena pengejaran ini mungkin makan waktu lama, biarlah aku akan membawa bekal pakaian dulu, Gangga. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Mari!"

Keduanya lalu berlari mendaki lereng dan tak lama kemudian mereka tiba di sebuah pondok sederhana yang kokoh, yang terletak di dataran dekat puncak, sebuah tempat yang amat indah pemandangan alamnya dan sejuk sekali hawanya.

"Alangkah indahnya tempat ini..." Gangga Dewi memuji.

Dengan wajah berseri ia memandang ke empat penjuru dari tempat ketinggian itu, dan dengan tarikan napas panjang menghisap hawa udara yang jernih, sejuk dan harum karena di sekitar tempat itu terdapat banyak sekali pohon dan tumbuh-tumbuhan yang sedang berkembang.

Suma Ciang Bun hanya tersenyum gembira dan mencatat ucapan Gangga Dewi itu di dalam hatinya. Dia lalu membawa pakaian dalam buntalannya dan tidak lama kemudian mereka berdua sudah menuruni puncak dengan ilmu berlari cepat mereka. Biar pun tak mengeluarkan suara, keduanya merasa betapa ada kebahagiaan besar menyelubungi hati mereka ketika mereka melakukan perjalanan bersama seperti itu. Tanah dalam hati mereka yang tadinya hampir mengering itu seolah-olah tersiram embun pagi yang sejuk, menerima siraman air yang membuat tanah itu hidup kembali dan bunga-bunga cinta yang tadinya seperti layu kini mekar kembali.

Mereka melakukan pengejaran dan mencari jejak Ang-I Moli yang melarikan Yo Han dan sepanjang perjalanan ini, mereka saling menceritakan pengalaman mereka sejak mereka saling berpisah kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu!

Setelah mendengarkan Ciang Bun menceritakan semua pengalamannya, Gangga Dewi merasa terharu sekali. Sekarang ia merasa yakin bahwa Ciang Bun memang mencinta dirinya. Bukan hanya mencintanya sebagai seorang pemuda yang dulu memakai nama samaran Ganggananda, melainkan mencintainya dengan tulus walau pun sudah tahu bahwa ia seorang wanita, bukan pria seperti yang disangkanya semula.

Ciang Bun rela hidup menyendiri, tidak lagi mau mencari pasangan, baik pria mau pun wanita. Ia merasa terharu, akan tetapi tidak memperlihatkannya.

"Gangga, sekarang giliranmu untuk bercerita. Semenjak tadi aku ingin sekali mendengar mengenai semua pengalamanmu mulai kita saling berpisah sampai sekarang."

Mereka bercakap-cakap di dalam sebuah goa di mana mereka terpaksa melewatkan malam. Jejak Ang-I Moli yang mereka dapatkan melewati bukit itu dan karena malam itu gelap, mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa melewatkan malam di goa itu. Mereka membuat api unggun, dan setelah makan malam, yaitu makan roti dan daging kering yang dibawa oleh Ciang Bun dan minum air jernih yang dibawa Gangga sebagai bekal, mereka lalu bercakap-cakap.

"Baiklah, Ciang Bun. Pengalamanku jauh lebih menyenangkan dari pada pengalaman dirimu, walau pun berakhir dengan perasaan kesepian juga."

Ia kemudian menceritakan mengenai pernikahannya dengan seorang panglima Bhutan, hidup berbahagia sampai mempunyai dua orang anak. Akan tetapi setelah kedua orang anaknya berumah tangga, dan suaminya tewas di dalam medan perang, ia pun merasa kesepian sekali.

"Sudah bertahun-tahun ayah meninggalkan Bhutan, semenjak ibu meninggal. Aku ingin sekali bertemu dengan ayah, maka aku lalu meninggalkan Bhutan dan pergi mencarinya di timur. Dalam perjalanan inilah aku bertemu dengan Yo Han yang sedang terancam keselamatannya oleh Ang-I Moli itu. Aku menolong Yo Han dan berhasil mengusir Ang-I Moli. Ketika mendengar bahwa guru Yo Han yang pertama yang bernama Tan Sin Hong itu adalah murid ayahku, tentu saja aku menganggap Yo Han seperti warga sendiri. Dia yang mengajak aku ke sini untuk menemuimu, karena menurut Yo Han, engkau tentu tahu di mana ayahku berada. Nah, sekarang katakan, di manakah ayahku, Ciang Bun? Engkau tahu siapa ayahku, bukan?"

Suma Ciang Bun menarik napas panjang. Wajahnya yang tampan itu nampak muram. "Tentu saja aku tahu siapa ayahmu, Gangga. Ayahmu dahulu terkenal dengan julukan Si Jari Maut, bernama Wan Tek Hoat dan lalu menjadi hwesio dengan julukan Tiong Khi Hwesio. Benarkah?"

"Benar, dan ayahku selalu memuji-muji keluarga Pulau Es. Di mana dia sekarang?"

"Ketahuilah, Gangga Dewi. Kurang lebih lima tahun yang lalu, ayahmu pergi ke Istana Gurun Pasir, dan tinggal di sana bersama Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu dengan isterinya..."

"Bibi Wan Ceng, saudara seayah dari ayahku?" Gangga Dewi memotong.

"Benar, Gangga. Tiga orang tua itu tinggal di Istana Gurun Pasir, hidup dengan tenteram dan bahagia, bahkan mereka bertiga mengambil Tan Sin Hong sebagai murid. Betapa beruntung pendekar itu, sekaligus menjadi murid mereka bertiga."

"Ahhh! Kalau begitu, ayahku kini masih di sana?"

Ciang Bun menarik napas panjang dan sampai lama tidak dapat menjawab, karena dia merasa ragu untuk menerangkan keadaan yang sesungguhnya.

"Ciang Bun, jawablah! Aku bukan anak kecil lagi, aku siap untuk mendengar berita apa pun. Masih hidupkah ayahku? Dan apakah dia masih berada di Istana Gurun Pasir?"

Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Suma Ciang Bun lalu berkata, "Terjadi hal yang menyedihkan dan juga amat menggemaskan, Gangga. Tiga orang tua itu telah mengasingkan diri di tempat sunyi itu dan tak mau lagi mencampuri urusan dunia, hidup dengan tenang tenteram. Akan tetapi, orang-orang yang dulu pernah mereka kalahkan atau mereka basmi, yaitu orang-orang sesat dari dunia hitam, agaknya masih menaruh dendam. Orang-orang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, beserta beberapa orang datuk sesat lainnya, telah menyerbu Istana Gurun Pasir dan mengeroyok tiga orang tua itu. Akibatnya, meski pun pihak pengeroyok itu banyak yang terluka dan tewas, namun tiga orang Locianpwe itu juga tewas... ah, maafkan aku, Gangga Dewi, telah menyampaikan berita duka ini."

Akan tetapi Gangga Dewi sama sekali tidak nampak berduka atau terkejut, bahkan ia mengepal tinju dan bangkit berdiri. Wajahnya yang tertimpa api unggun itu kemerahan dan cantik sekali, gagah pula, dan matanya bersinar-sinar.

"Bukan berita duka, Ciang Bun! Aku bahkan bangga mendengar ayah tewas seperti itu. Sungguh sesuai dengan wataknya yang gagah. Apa lagi tewas dalam menentang para datuk sesat bersama Bibi Wan Ceng dan suaminya, Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak, aku tidak berduka, apa lagi ayah memang telah berusia lanjut. Aku bangga karena dia mati secara gagah perkasa! Akan tetapi aku penasaran kepada mereka yang melakukan penyerbuan itu. Sungguh pengecut dan curang! Mengeroyok tiga orang yang sudah tua dan yang sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan!"

"Begitulah watak orang-orang jahat dari dunia sesat, Gangga."

"Siapakah mereka itu? Kalau engkau tahu, sebutkan namanya satu demi satu, aku akan pergi mencarinya dan membunuh mereka!" kata Gangga Dewi dengan marah.

"Tenanglah, Gangga. Mereka semua sudah tidak ada lagi. Seorang demi seorang telah tewas oleh para pendekar muda, termasuk Tan Sin Hong."

"Oh ya, mengapa Tan Sin Hong diam saja ketika tiga orang gurunya dikeroyok? Apakah dia tidak membantu, dan kalau demikian, mengapa, dia dapat lolos dan hidup? Apakah dia melarikan diri?"

"Sama sekali tidak. Pada waktu peristiwa penyerbuan itu terjadi, baru saja Sin Hong menerima sebuah ilmu dari tiga orang gurunya, bahkan menerima pengoperan tenaga gabungan mereka. Selama setahun Sin Hong harus memperdalam ilmu itu dan ia sama sekali tidak boleh menggunakan sinkang, karena kalau hal itu dilanggar, dia akan tewas oleh tenaganya sendiri! Itulah sebabnya dia tidak mampu membela ketika tiga orang gurunya dikeroyok. Dia ditawan, akan tetapi mampu meloloskan diri dan bersembunyi untuk menyelesaikan ilmu baru itu selama setahun. Setelah itu, baru dia pergi mencari mereka yang membunuh tiga orang gurunya. Akhirnya, setelah bekerja sama dengan para pendekar muda lainnya, dia berhasil menewaskan para penjahat itu. Dia bekerja sama dengan para pendekar muda keturunan Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir."

Gangga Dewi mengangguk-angguk. "Ahhh puaslah rasa hatiku. Kematian ayah sudah dibersihkan dari penasaran oleh para pendekar keluarga Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir! Sungguh merupakan suatu kehormatan besar sekali dan aku ikut merasa bangga dan berbahagia. Tentu arwah ayah akan merasa bangga dan puas pula. Ingin aku berjumpa dan mengucapkan rasa terima kasihku kepada Tan Sin Hong. Dia masih terhitung sute-ku (adik seperguruanku) sendiri. Namun, bagaimana aku dapat bertemu dengan dia tanpa membawa Yo Han, muridnya yang terculik penjahat? Mari, Ciang Bun, kita percepat usaha kita mencari jejak iblis betina itu."

Mereka lalu berlari cepat dan tiga hari kemudian baru mereka mendapatkan jejak Ang-I Moli. Mereka mendapatkan keterangan dari penduduk sebuah dusun di kaki bukit. Tidak begitu sukar mencari jejak Ang-I Moli dan dua orang tosu itu. Ang-I Moli adalah seorang wanita cantik yang selalu menggunakan pakaian merah. Keadaannya menyolok sekali dan orang yang berjumpa dengannya tidak mudah melupakannya.

Jejak itu menuju ke Propinsi Hu-nan di sebelah selatan. Mereka melakukan pengejaran terus, sementara hubungan mereka menjadi semakin akrab. Dua orang setengah baya ini merasa seperti menjadi muda kembali dan mereka terkenang akan masa lalu ketika mereka masih sama muda dan juga melakukan perjalanan bersama.

Akan tetapi sekarang perasaan mereka lebih mendalam dibandingkan dahulu karena sekarang agaknya Suma Ciang Bun telah sembuh dari kelainan yang dideritanya. Atau mungkin juga dia tidak berubah, hanya karena sifat Gangga Dewi yang gagah perkasa, keras dan bahkan ‘jantan’ itu yang membuat Ciang Bun semakin jatuh cinta. Andai kata sikap Gangga Dewi lunak dan penuh kewanitaan, belum tentu ia akan merasa demikian tertarik dan jatuh cinta untuk ke dua kalinya. Kalau dahulu dia mencinta Ganggananda, kini dia benar-benar mencinta Gangga Dewi sebagai wanita.

Ketika Gangga Dewi menceritakan tentang keadaan Yo Han yang aneh, Suma Ciang Bun termenung. Mereka menghadapi api unggun di sebuah kuil kosong di luar sebuah dusun di mana mereka terpaksa harus melewatkan malam karena di dusun itu tidak ada rumah penginapan.

"Sungguh luar biasa sekali anak itu," katanya termenung. "Dahulu ketika dia dititipkan kepadaku oleh Sin Hong, aku hanya melihat dia sebagai seorang anak yang luar biasa cerdiknya, berwatak halus dan berpemandangan terlalu dewasa dan luas bagi seorang anak berusia tujuh tahun. Memang sudah menonjol dan aku amat sayang kepadanya, akan tetapi belum memperlihatkan sesuatu yang aneh. Dia tidak pernah berlatih silat akan tetapi luka beracun dan kekuatan sihir tidak mempengaruhinya? Hebat!"

"Aku melihat sesuatu yang mukjijat pada diri anak itu, Ciang Bun. Akan tetapi dia tidak mau menceritakan riwayatnya. Sebetulnya, anak siapakah dia?"

Suma Ciang Bun menghela napas panjang dan sejenak menatap wajah wanita yang sangat dicintanya itu.

"Aihhh, dunia ini penuh dengan penderitaan. Bahkan orang yang baik hati nampaknya lebih banyak menderita ketimbang orang yang menyeleweng dari kebenaran. Mungkin memang demikianlah keadaannya yang wajar. Orang jahat menjadi hamba nafsu, dan penghambaan nafsu ini tampaknya mendatangkan kesenangan. Tentu saja kesenangan duniawi yang palsu. Ayah kandung Yo Han adalah seorang laki-laki bernama Yo Jin, dia seorang petani yang jujur dan tidak pandai silat. Akan tetapi juga seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang tak berkedip takut menghadapi ancaman maut, berani menentang kejahatan. Bahkan sikapnya yang jantan itulah yang menjatuhkan seorang tokoh sesat, seorang iblis betina cantik yang terkenal dengan sebutan Bi Kwi (Setan Cantik). Bukan hanya menjatuhkan hatinya, akan tetapi setelah mereka menjadi suami isteri, Bi Kwi yang tadinya terkenal sebagai seorang tokoh sesat yang sangat jahat dan kejam itu menjadi sadar sama sekali! Dia ikut suaminya menjadi seorang petani di dusun yang mencuci tangannya dari segala macam kekerasan."

"Luar biasa dan menarik sekali!"

"Nah, mereka menikah dan lahirlah Yo Han! Suami isteri itu telah bersepakat untuk tidak memperkenalkan putera mereka itu dengan kekerasan dan kehidupan dunia persilatan. Mereka tidak mengajarkan ilmu silat kepada Yo Han. Tentu saja hal ini terpengaruh oleh sikap Yo Jin yang tidak suka akan kekerasan, dan juga oleh pengalaman-pengalaman pahit dari Bi Kwi selama ia menjadi tokoh sesat dalam dunia kang-ouw."

"Keputusan yang bijaksana," Gangga Dewi memuji.

"Akan tetapi, latar belakang kehidupan Bi Kwi tidak membiarkan dia hidup tenang dan tenteram. Ada saja penjahat yang menginginkan tenaganya, dan orang-orang jahat itu menculik Yo Han yang baru berusia tujuh tahun, bahkan menculik Yo Jin pula. Karena suami dan puteranya diculik penjahat yang memaksa dia membantu golongan sesat, terpaksa Bi Kwi terjun lagi ke dunia kang-ouw. Suami isteri itu berhasil menukar diri mereka dengan putera mereka yang dibebaskan dan Yo Han diserahkan kepada Tan Sin Hong oleh ayah dan ibunya. Sin Hong menitipkan Yo Han kepadaku, dan dia sendiri bersama para pendekar lalu membasmi penjahat di mana terdapat pula pembunuh-pembunuh yang membunuh kakek dan nenek penghuni Istana Gurun Pasir, termasuk ayahmu itu. Dan dalam pertempuran itu, ayah dan ibu Yo Han yang juga membalik dan membantu para pendekar menentang golongan sesat yang tadinya mereka bantu demi menyelamatkan putera mereka, tewas sehingga Yo Han menjadi seorang yatim-piatu."

Gangga Dewi berulang kali menghela napas panjang.

"Omitohud...! Betapa penuh kekerasan kehidupan manusia di dunia ini. Sekarang aku mengerti mengapa Yo Han tidak pernah mau melatih ilmu silat walau pun dia memiliki suhu dan subo yang berkepandaian tinggi seperti Tan Sin Hong dan Kao Hong Li itu. Hanya yang tetap membuat aku heran, bagaimana dia dapat mempunyai kekuatan aneh yang dapat menolak pengaruh racun dan ilmu sihir. Sungguh aneh sekali!"

"Hal itu tentu akan dapat kita ketahui kelak kalau kita sudah berhasil membebaskannya dari tangan Ang-I Moli," kata Suma Ciang Bun.

"Mudah-mudahan saja kita tidak akan terlambat," kata Gangga Dewi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan kuil tua itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat untuk melakukan pengejaran dan mencari Yo Han yang diculik Ang-I Moli dan dua orang suheng-nya dari Pek-lian-kauw itu.....

********************

Siang itu cuaca cerah sekali di Bukit Naga. Matahari amat teriknya. Bahkan hutan di puncak bukit itu yang biasanya gelap karena rindangnya pohon-pohon besar yang telah puluhan tahun umurnya, kini nampak terang ditembusi cahaya matahari yang kuat. Di langit tidak ada mendung, hanya ada awan-awan putih berserakan di sana sini, tidak menghalangi kecerahan sinar matahari, bahkan menjadi hiasan langit yang indah.

Tepat pada tengah hari, nampaklah bayangan-bayangan orang berkelebat memasuki hutan itu. Hutan yang biasanya amat sepi itu tiba-tiba saja diramaikan oleh kunjungan orang-orang yang memiliki gerakan yang amat ringan dan cekatan.

Mula-mula nampak seorang tosu. Umurnya sekitar lima puluh tahun dengan sebatang pedang di punggung. Tosu tinggi kurus itu muncul dengan loncatan yang ringan, berada di atas lapangan rumput yang dikurung oleh pohon-pohon tinggi dan dia memandang ke sekeliling.

Pandang matanya yang tajam sudah melihat adanya beberapa sosok bayangan orang yang bergerak dengan cepat dan sekarang suasana nampak sunyi kembali. Bayangan-bayangan itu agaknya sudah menyelinap dan bersembunyi di balik pohon-pohon besar atau semak belukar.

Setelah memandang ke sekelilingnya, tosu ini tersenyum mengejek, dan ia pun berseru dengan suara lantang karena dia mengerahkan khikang-nya hingga suaranya langsung keluar dari perut dan terdengar melengking nyaring.

"Sejak kapan orang-orang Go-bi-pai menjadi pengecut? Sesudah orang yang diundang datang memenuhi tantangan, kenapa malah bersembunyi-sembunyi? Keluarlah, orang orang Go-bi-pai. Pinto (aku) dari Kun-lun-pai sudah datang memenuhi tantanganmu!"

Belum lagi lenyap gema suara itu, nampak sesosok tubuh melayang turun dari puncak sebuah pohon besar. Dengan ringan sekali tubuh itu berjungkir balik beberapa kali dan seorang kakek berusia enam puluh tahun berpakaian seperti seorang petani sederhana telah berdiri di depan tosu Kun-lun-pai itu. Tubuhnya tegap dan kaki tangannya kokoh kuat seperti biasa tubuh seorang petani yang biasa bekerja keras. Kulitnya juga coklat terbakar matahari.

"Siancai...!" Tosu Kun-lun-pai itu berseru, sedang matanya bersinar penuh kemarahan. "Kiranya Go-bi Nung-jin (Petani Gobi) yang muncul! Hemmm, engkau petani yang biasa berwatak jujur, katakan, sejak kapan Go-bi-pai memusuhi Kun-lun-pai dan mengirim tantangan? Pinto (aku) mewakili Kun-lun-pai untuk menyambut tantangan Go-bi-pai itu!"

"Ciang Tosu, apa artinya kata-katamu itu? Kami tidak pernah dan tidak akan memusuhi Kun-lun-pai. Kedatanganku ke sini pada saat ini bukan sebagai penantang, bahkan aku mewakili Go-bi-pai untuk menyambut tantangan Bu-tong-pai!" Kemudian kakek petani itu memandang ke sekelilingnya dan dengan lantang dia pun berteriak, "Di mana orang orang Bu-tong-pai yang telah berani mengirim tantangan kepada Go-bi-pai? Nah, aku datang mewakili Go-bi-pai untuk menerima tantangan itu!"

Tentu saja Ciang Tosu dari Kun-lun-pai merasa heran bukan main, akan tetapi sebelum ia dapat berkata sesuatu, nampak bayangan berkelebat keluar dari balik semak belukar dan di situ telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa yang berusia empat puluh tahun lebih.

Orang ini berpakaian bagai seorang pendekar dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang. Tubuhnya tinggi kurus dan sikapnya gagah, matanya tajam memandang pada kakek petani yang tadi menantang Bu-tong-pai. Sikap orang ini hormat, mungkin karena dia merasa lebih muda. Dia lalu mengangkat kedua tangan di depan dada menghadapi kakek petani Go-bi Nung-jin.

"Go-bi Nung-jin adalah seorang pendekar Go-bi-pai yang amat gagah. Dan selama ini Bu-tong-pai selalu memandang hormat dan menganggap Go-bi-pai sebagai saudara. Kami tidak pernah menantang Go-bi-pai, bahkan saya datang ke sini sebagai wakil dari Bu-tong-pai untuk menghadapi tantangan yang kami terima dari Siauw-lim-pai! Kami tidak pernah menantang Go-bi-pai atau partai persilatan mana pun juga."

Setelah berkata demikian kepada Go-bi Nung-jin yang menjadi terheran-heran, wakil Bu-tong-pai itu pun sekarang memandang ke sekeliling lalu berseru dengan pengerahan khikang-nya.

"Orang-orang Siauw-lim-pai, dengarlah baik-baik! Kalian sudah menantang Bu-tong-pai dan inilah aku, Phoa Cin Su murid Bu-tong-pai mewakili partai kami untuk menerima tantangan kalian!"

Mendengar ucapan wakil Bu-tong-pai ini, Go-bi Nung-jin dan Ciang Tosu lantas saling pandang dengan heran. Dan pada saat itu terdengar suara halus namun terdengar jelas dan menggetarkan.

"Omitohud...! Agaknya dunia sudah akan kiamat! Apa yang terjadi sungguh aneh!" Dan muncullah seorang hwesio berusia lima puluhan tahun.

Phoa Cin Su murid Bu-tong-pai segera memberi hormat. "Kiranya Loan Hu Hwesio yang datang mewakili Siauw-lim-pai yang menantang Bu-tong-pai. Nah, saya yang mewakili Bu-tong-pai untuk menerima tantangan yang membuat kami merasa penasaran sekali itu!" Karena Phoa Cin Su agaknya sudah mengenal benar siapa hwesio Siauw-lim-pai ini, dia pun segera meloloskan pedangnya dari pinggang dan siap untuk bertanding!

Akan tetapi hwesio Siauw-lim-pai itu malah merangkap kedua tangan di depan dadanya. "Omitohud...! Phoa-sicu harap bersabar dulu. Ketahuilah bahwa Siauw-lim-pai selalu memandang Bu-tong-pai dengan hormat dan sebagai rekan, bagaimana Siauw-lim-pai dapat mengirim tantangan? Pinceng (aku) datang ini pun sebagai wakil Siauw-lim-pai yang menerima tantangan dari Kun-Lun-pai!"

Tentu saja wakil-wakil dari empat perkumpulan atau partai persilatan terbesar di seluruh negeri itu menjadi terheran-heran mendengar ini. Kun-lun-pai menerima tantangan dari Go-bi-pai, lalu Go-bi-pai menerima tantangan dari Bu-tong-pai, sedangkan Bu-tong-pai menerima tantangan dari Siauw-lim-pai dan kini Siauw-lim-pai menerima tantangan dari Kun-lun-pai Apa artinya semua ini?

"Siancai...!" Ciang Tosu berseru heran. "Bagaimana kami bisa menantang Siauw-lim-pai yang kami anggap sebagai sahabat dan juga sumber segala ilmu yang kami miliki? Itu tidak mungkin sama sekali!”

“Omitohud, demikian pula Siauw-lim-pai tak pernah menantang Bu-tong-pai," kata Loan Hu Hwesio dari Siauw-lim-pai.

"Saya juga berani memastikan bahwa Bu-tong-pai tidak pernah menantang Go-bi-pai," kata Phoa Cin Su.

"Dan Go-bi-pai juga tidak mungkin menantang Kun-lun-pai!" kata Go-bi Nung-jin.

"Omitohud..." Sekarang hwesio Siauw-lim-pai itu mengangkat kedua tangannya ke atas. "Harap Cu-wi bersabar dulu. Para suhu pimpinan di Siauw-lim-pai tidak mungkin keliru. Ketika mengutus pinceng turun gunung memenuhi tantangan itu, pinceng sendiri melihat surat tantangan yang ditandai dengan cap dari Kun-lun-pai."

Ciang Tosu dari Kun-lun-pai, Phoa Cin Su dari Bu-tong-pai, beserta Go-bi Nung-jin dari Go-bi-pai serempak menyatakan, bahwa mereka pun melihat keaslian surat tantangan yang diterima pimpinan masing-masing. Surat-surat tantangan itu pun memakai tanda cap dari partai yang menantang.

"Omitohud...! Kalau begitu, tentu ada pemalsuan. Ada pihak lain yang sengaja mengirim surat-surat tantangan itu untuk mengadu domba atau hendak mengacau keadaan. Kita harus waspada!"

Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak. Suara ini bergema ke empat penjuru sehingga sukar diketahui dari mana asal suara itu. Empat orang wakil dari empat perkumpulan silat besar itu maklum bahwa ada orang pandai muncul, maka mereka pun sudah siap siaga.

Phoa Cin Su sudah mencabut pedang. Ciang Tosu juga sudah mencabut pedang dari punggungnya. Sedangkan Go-bi Nung-jin menyambar senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang cangkul yang gagangnya lurus seperti toya, dan hwesio Siauw-lim-pai yang tidak pernah bersenjata itu siap dengan pengerahan sinkang dan setiap urat syarafnya menegang. Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, orang-orang yang memiliki tingkat kedua dari perguruan masing-masing.

"Ha-ha-ha-ha-ha...!" Suara ketawa yang bergema di empat penjuru itu disusul oleh kata-kata yang juga mengandung getaran kuat. "Kalian berempat bagaikan tikus-tikus yang terjepit!"

Tiba-tiba saja muncullah seorang kakek berusia enam puluhan tahun, bertubuh tinggi besar dan bermuka merah. Dia mengenakan jubah lebar yang berwarna merah pula. Pakaiannya seperti seorang pendeta, tapi rambutnya digelung rapi dan mengkilap bekas minyak, dan jepitan rambutnya merupakan perhiasan dari emas permata yang mahal. Akan tetapi di balik jubah merah itu nampak pula baju ketat sulaman benang perak yang gemerlapan.

Di antara empat orang tokoh partai-partai persilatan besar itu, hanya Loan Hu Hwesio yang mengenal orang ini. Hwesio ini menjura dengan sikap hormat kepada kakek tinggi besar bermuka merah itu.

"Ahhh, kiranya Lauw Enghiong (Orang Gagah she Lauw) yang datang. Tidak tahu apa alasannya maka engkau datang-datang memaki kami empat orang wakil partai-partai persilatan?"

"Huhh!" kakek tinggi besar itu mendengus dengan sikap mengejek. "Apa lagi kalian ini jika bukan tikus-tikus pengkhianat bangsa, atau anjing-anjing, penjilat penjajah Mancu?"

Phoa Cin Su, jago dari Bu-tong-pai itu menjadi merah mukanya karena marah. "Loan Hu Hwesio, siapakah orang yang sombong dan bermulut lancang ini?"

Hwesio Siauw-lim-pai itu belum menjawab, kakek tinggi besar itu sudah mendahuluinya. "Kalian wakil-wakil Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan Go-bi-pai. Ketahuilah bahwa kini kalian berhadapan dengan aku Lauw Kang Hui, wakil Ketua Thian-li-pang!"

Tiga orang itu terkejut. Tentu saja mereka sudah mendengar nama besar perkumpulan Thian-li-pang, sebuah perkumpulan orang-orang yang menamakan diri mereka patriot dan yang dengan gigih menentang pemerintah, yaitu penjajah Mancu dan memberontak di mana-mana untuk menjatuhkan pemerintah penjajah. Akan tetapi di antara para anak buah Thian-li-pang, banyak pula yang melakukan penyelewengan. Mereka melakukan kejahatan mengandalkan kekuatan mereka, mengganggu rakyat dengan perampokan dan pemerasan. Maka, dari empat buah perkumpulan persilatan besar itu, tentu sudah pernah murid-murid mereka bentrok dengan orang-orang Thian-li-pang yang melakukan kejahatan.

"Siancai, kalau begitu agaknya Thian-li-pang yang membuat undangan palsu kepada kami empat perguruan tinggi. Benarkah begitu?" kata Ciang Tosu dari Kun-lun-pai.

"Ha-ha-ha, memang tepat! Kami yang membuat undangan palsu. Empat perguruan silat seperti perkumpulan kalian itu hanyalah perkumpulan pengkhianat dan pengecut. Kalian tidak menentang penjajah, tidak mau bekerja sama dengan kami, bahkan menentang kami dan banyak sudah anak buah kami yang tewas di tangan kalian!"

"Hemmm, apa anehnya hal itu? Kami bukanlah perkumpulan pemberontak, kami tidak mempunyai urusan dengan pemberontakan. Kalau murid-murid kami menentang murid-murid Thian-li-pang, tentu bukan perkumpulan atau pemberontakannya yang ditentang, melainkan perbuatan jahat yang dilakukan oleh para murid Thian-li-pang. Kami adalah perkumpulan para pendekar yang menentang kejahatan, kapan saja, di mana saja dan dilakukan siapa saja!" kata Go-bi Nung-jin.

"Benar sekali itu!" kata Phoa Cin Su. "Murid-murid kami pernah menentang anggota Thian-li-pang, bukan karena mereka memberontak terhadap pemerintah, tetapi karena mereka itu merampok dan memeras rakyat jelata!"

"Ha-ha-ha, sudah berada di ambang maut, kalian masih berani bermulut besar! Kalian berempat bersiaplah untuk mampus dan kelak menjadi penyebab pertentangan antara perkumpulan kalian sendiri!"

Lauw Kang Hui tertawa dan pada saat itu muncullah seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Ang-I Moli Tee Kui Cu dan dua orang suheng-nya dari Pek-lian-kauw, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu. Munculnya tiga orang ini disusul munculnya belasan orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang yang mengepung tempat itu!

"Omitohud...!" kata Loan Hu Hwesio pada saat melihat orang-orang Pek-lian-kauw yang dapat dikenal dari gambar teratai putih di bagian dada mereka. "Kiranya Thian-li-pang bersekongkol pula dengan perkumpulan siluman jahat dan agama palsu Pek-lian-kauw!"

"Kepung! Bunuh mereka!" Lauw Kang Hui sudah memberi aba-aba.

Dia sendiri sudah mencabut sebatang golok besar dan menyerang Loan Hu Hwesio! Golok besar yang berat itu menyambar dengan cepat, berubah menjadi sinar perak yang amat kuat menyambar ke arah leher Loan Hu Hwesio.

Pendeta Siauw-lim-pai ini cepat mengelak dengan menundukkan muka dan menggeser kakinya sehingga tubuhnya mendoyong ke kanan dan dari jurusan ini, lengan kirinya meluncur dan dari jari tangannya menghantam ke arah lambung lawan. Lauw Kang Hui mengelebatkan goloknya menyambut hantaman ini sehingga terpaksa Loan Hu Hwesio menarik kembali lengannya yang diancam babatan golok, lalu kakinya yang menendang dengan cepat dan kuat ke arah perut lawan.

Hebat memang gerakan silat tangan kosong dari hwesio Siauw-lim-pai ini dan memang ilmu silat Siauw-lim-pai merupakan ilmu silat yang paling tua dan bahkan telah menjadi sumber dari pada ilmu-ilmu silat lainnya.

Tapi Lauw Kang Hui bukan seorang lemah. Dia juga sudah mempelajari banyak macam ilmu silat, di antaranya ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai sehingga ia bisa mengenal gerakan lawan, maka dia dapat menjaga diri dan membalas dengan dahsyat pula.

Terjadilah serang menyerang yang seru antara dua orang ini. Akan tetapi ada beberapa orang anggota Thian-li-pang yang membantu wakil ketua mereka sehingga hwesio dari Siauw-lim-pai ini dikeroyok dan terdesak hebat. Dia hanya bersenjatakan kaki tangan dibantu dua ujung lengan bajunya yang longgar dan panjang.

Ang-I Moli sudah menerjang Phoa Cin Su, jagoan Bu-tong-pai dengan pedangnya. Phoa Cin Su menyambut dengan pedang pula, maka kedua orang ini pun segera bertarung dengan seru. Seperti juga Lauw Kang Hui, wanita ini dibantu oleh lima orang anggota Thian-li-pang sehingga tentu saja Phoa Cin Su segera terdesak. Menghadapi Ang-I Moli seorang saja dia sudah menemukan tanding yang tidak ringan, apa lagi kini dikeroyok!

Ciang Tosu dikeroyok oleh Kwan Thian-cu yang menggunakan golok, bersama Kwan Thian-cu yang masih dibantu oleh lima orang anggota Pek-lian-kauw sehingga tosu dari Kun-lun-pai itu pun terdesak hebat. Sementara itu, Kui Thian-cu dan lima orang anggota Pek-lian-kauw lainnya telah mengepung dan mengeroyok Go-bi Nung-jin yang memakai senjata cangkul.

Memang Lauw Kang Hui yang mengirim surat tantangan kepada empat penguruan itu telah merencanakan siasatnya lebih dahulu sehingga kini empat orang itu terkurung dan dikeroyok sesuai yang telah direncanakan.

Setelah usaha Thian-li-pang untuk membunuh Kaisar gagal, juga usaha mereka untuk mengajak Siang Hong-houw bersekongkol membunuh Kaisar tidak berhasil pula bahkan mereka kehilangan Ciang Sun, tokoh Thian-li-pang yang tewas dalam usahanya untuk membunuh Kaisar, Thian-li-pang kemudian menggunakan siasat lain. Para pimpinannya berkumpul dan mengatur rencana.

Pertama, mereka mengadakan persekutuan dengan Pek-lian-kauw, agama sesat yang juga merupakan perkumpulan yang memberontak terhadap pemerintah. Kedua, mereka merencanakan siasat adu domba untuk mengacaukan dunia persilatan sehingga para pendekar dari empat perguruan silat yang besar akan saling bermusuhan dan tidak ada kesempatan lagi untuk menentang mereka dan membantu pemerintah kalau mereka melancarkan gerakan pemberontakan.

Demikianlah, surat tantangan kepada empat buah perkumpulan besar itu diatur dan kini para wakil empat perkumpulan itu dikepung dan dikeroyok, dipimpin oieh Lauw Kang Hui yang menjadi wakil Ketua Thian-li-pang.

Pek-lian-kauw diwakili oleh Ang-I Moli, Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu dengan sepuluh orang anggota Pek-lian-kauw lainnya untuk membantu gerakan menjebak para tokoh dari empat perkumpulan besar itu.

Seperti kita ketahui, Ang-I Moli dan dua orang suheng-nya itu melarikan diri dari kejaran Gangga Dewi yang dibantu Suma Ciang Bun. Ia menculik Yo Han dan membawa anak itu melarikan diri. Mereka berhasil lolos dari pengejaran dua orang sakti itu dan tiba di sarang Pek-lian-kauw yang kebetulan sekali sedang menerima para pimpinan Thian-li-pang untuk mengadakan persekutuan.

Ketika empat orang wakil pimpinan para perguruan besar itu dikeroyok, Ang-I Moli yang tidak pernah melepaskan Yo Han dari pengawasannya, menggantung anak itu di atas pohon!

Yo Han dapat melihat dan mendengar semua yang terjadi, akan tetapi biar pun hatinya merasa penasaran dan marah, dia tidak berdaya. Kaki tangannya terbelenggu dan dia digantung jungkir balik di cabang pohon yang tinggi itu! Dia hanya dapat menonton dan mendengarkan, dan hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat betapa kejahatan mengganas tanpa dia dapat berbuat sesuatu.

Makin nampak olehnya betapa jahat orang-orang yang memiliki ilmu silat, dan betapa celaka orang-orang yang berada di pihak kebenaran apa bila mereka menjadi pendekar silat. Andai kata empat orang itu merupakan orang-orang biasa, petani-petani yang tidak pandai ilmu silat, tidak mungkin kini mereka dikeroyok oleh orang-orang yang baginya nampak seperti serigala-serigala yang haus darah itu!

Akhirnya terjadi apa yang dikhawatirkan Yo Han yang tidak berdaya itu. Mula-mula Loan Hu Hwesio yang roboh.

Seperti juga tiga orang tokoh lainnya, setelah dikeroyok selama lima puluh jurus yang dipertahankannya dengan mati-matian, Loan Hu Hwesio sudah menderita luka-luka. Pada suatu saat yang baik, dia berhasil memukulkan dua tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui dengan pengerahan tenaga sekuatnya tanpa mempedulikan lagi perlindungan diri sendiri. Dia ingin mengadu nyawa dengan wakil Ketua Thian-li-pang itu. Pukulannya berhasil mengenai sasarannya dengan tepat sekali.

"Bukkkk...!"

Kedua telapak tangan itu mengenai dada yang bidang dari Lauw Kang Hui. Tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Loan Hu Hwesio ketika kedua telapak tangannya bertemu dengan benda yang keras dan kuat sekali. Ketika dua tangannya menghantam dada, Lauw Kang Hui sama sekali tidak mengelak bahkan membarengi dengan gerakan goloknya ke arah lambung lawan. Dan hanya sedetik setelah kedua tangan hwesio itu menghantam dada, ujung golok juga menyabet lambung dan merobek lambung perut Loan Hu Hwesio!

Lauw Kang Hui terhuyung ke belakang oleh pukulan itu, akan tetapi Loan Hu Hwesio terkulai roboh mandi darah! Wakil Ketua Thian-li-pang itu tidak terluka karena di balik jubah merahnya dia sudah menggunakan baju ketat dari sulaman benang perak yang membuat tubuhnya kebal!

"Jangan bunuh dulu!" bentak Lauw Kang Hui kepada para pembantunya yang tadinya hendak menghujankan senjata karena marah. Beberapa orang kawan mereka yang mengeroyok juga tadi dirobohkan hwesio yang lihai itu.

Robohnya Loan Hu Hwesio yang terluka parah disusul robohnya Ciang Tosu oleh Kwan Thian-cu dan teman-temannya. Ciang Tosu roboh dengan luka parah pada lehernya, membuat dia roboh pingsan dengan darah mengucur keluar dari luka itu. Phoa Cin Su juga roboh oleh tusukan pedang Ang-I Moli pada dadanya, sedangkan Go-bi Nung-jin yang tadi mengamuk dengan hebat, roboh pula oleh bacokan pedang Kui Thian-cu yang mengenai pinggangnya.

Seperti juga Lauw Kang Hui, tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu melarang anak buah mereka membunuh orang yang dikeroyok dan telah roboh terluka parah. Kemudian, Lauw Kang Hui memberi isyarat kepada tiga orang sekutunya. Mereka mengangguk.

Kwan Thian-cu lalu mengambil cangkul yang tadi dipergunakan Go-bi Nung-jin sebagai senjata dan dengan senjata ini dia lalu menghantam ke arah kepala Ciang Tosu, tokoh Kun-lun-pai yang sudah roboh tak berdaya ini. Tanpa dapat mengeluarkan keluhan lagi. Ciang Tosu yang dihantam cangkul itu tewas dengan kepala luka besar oleh cangkul.

Kini Kui Thian-cu mengambil pedang milik Phoa Cin Su dan dengan pedang itu dia pun menyerang kepala Go-bi Nung-jin. Tokoh dari Go-bi-pai ini pun langsung tewas seketika dengan kepala terluka hebat oleh pedang itu.

Lauw Kang Hui yang tadi merobohkan Loan Hu Hwesio mempergunakan pedang milik Ciang Tosu dari Kun-lun-pai tadi untuk membunuh bekas lawannya itu dengan melukai kepalanya pula. Kini tinggallah Poa Cin Su.

Karena mereka mengatur siasat agar empat orang saling bunuh sesuai dengan bunyi surat tantangan masing-masing, maka seharusnya Phoa Cin Su murid dari Bu-tong-pai terbunuh oleh murid Siauw-lim-pai yang mengirim surat tantangan. Akan tetapi Loan Hu Hwesio tidak pernah menggunakan senjata, maka Ang-I Moli merasa ragu-ragu bagai mana harus membunuh murid Bu-tong-pai itu.

"Mudah saja," kata Lauw Kang Hui sambil tersenyum. "Aku pernah mempelajari ilmu pukulan Kang-see-ciang (Tangan Pasir Baja) dari Siauw-lim-pai. Biarlah aku memukul dia dengan ilmu itu."

Lauw Kang Hui lalu menghampiri tubuh Phoa Cin Su yang sudah tergolek dan terluka parah tanpa mampu bangkit lagi itu. Dia lalu menggerak-gerakkan jari tangan kanannya sehingga terdengar bunyi berkerotokan, lalu dipukulkannya telapak tangan kanannya ke arah kepala Phoa Cin Su. Terdengar suara keras dan kepala itu pun menjadi retak, dan Phoa Cin Su tewas seketika. Ada tanda telapak tangan dengan sebagian jari-jarinya pada pipi dan pelipis yang terpukul!

Walau pun dia harus beberapa kali memejamkan mata karena merasa ngeri, Yo Han dapat melihat semua itu. Dia seorang anak yang cerdik, maka setelah melihat dan mendengar kesemuanya itu, dia pun mengerti apa yang menjadi siasat keji dari orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Diam-diam dia merasa penasaran bukan main.

Bahaya besar mengancam keamanan negeri, pikirnya. Tentu dua gerombolan penjahat yang bersekutu itu akan mengirimkan mayat-mayat itu sebagai bukti kepada perguruan masing-masing yang telah menerima surat tantangan, sehingga dengan demikian maka empat perguruan besar itu akan saling bermusuhan! Sungguh tipu muslihat yang amat jahat dan kejam.

Dia melihat betapa mereka membawa pergi mayat-mayat itu, akan tetapi dia tak dapat menahan kemarahannya.

"Ang-I Moli! Engkau sudah membiarkan dirimu terseret ke dalam perbuatan yang paling keji dan jahat yang pernah kulihat! Apakah engkau tidak takut akan akibat dari semua perbuatanmu itu? Tuhan pasti akan menghukummu, Ang-I Moli!"

Suara anak itu lantang sekali, mengejutkan Lauw Kang Hui yang tak pernah tahu bahwa Ang-I Moli datang membawa anak kecil yang kini digantung di pohon. Dia menoleh dan melihat anak yang tergantung dengan kepala di bawah itu. Dia pun terbelalak.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner