SI BANGAU MERAH : JILID-12


Yo Han menari-nari dengan gerakan yang indah namun aneh. Yang mengiringi gerakan tarinya adalah suaranya suling yang melengking-lengking secara aneh pula. Yo Han tidak tahu bahwa jika terdengar orang lain, suara suling ini akan dapat membuat orang yang mendengarnya menjadi tuli atau setidaknya akan roboh pingsan, karena suara itu melengking tinggi parau dan begitu lembut sehingga dapat menusuk dan menembus kendangan telinga, menggetarkan jantung dan dapat menguasai semangat orang!

Memang Thian-te Tok-ong bukanlah seorang manusia biasa. Tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, bahkan bukan hanya ilmu silat, melainkan juga tenaga sinkang-nya yang sangat kuat itu sukar dicari bandingannya. Suara sulingnya itu saja cukup untuk membuat pendengaran orang menjadi tuli atau mati karena jantungnya terguncang.

Namun Yo Han memiliki suatu kelainan yang timbul secara mukjijat. Kepasrahannya yang mutlak kepada Tuhan membuat dia seolah menjadi kekasih Tuhan yang selalu melindunginya dengan kekuasaan Tuhan yang gaib. Atau lebih tepat lagi, tenaga sakti yang memang sudah terkandung dalam diri setiap orang manusia sejak lahir, dan yang biasanya terpendam dan tak berdaya karena pengaruh nafsu-nafsu daya rendah yang menguasainya, pada diri Yo Han timbul dan justru berkembang sehingga seluruh bagian tubuhnya hidup dan bekerja sesuai dengan tugasnya ketika diciptakan.

Thian-te Tok-ong berusia kurang lebih delapan puluh tahun. Wataknya sudah berubah kekanak-kanakan, kadang bahkan pikun, akan tetapi dia senang sekali bergurau, dan wataknya juga nakal suka menggoda orang, seperti kanak-kanak. Tubuhnya pendek kecil seperti tubuh yang sudah mulai mengkerut dan mengecil saking tuanya, namun gerakannya masih lincah. Matanya kocak, jelas membayangkan kenakalan, dan mulut yang tidak ada giginya sebuah pun itu selalu menyeringai seperti seringai anak kecil. Namun, dia ditakuti seluruh orang Thian-li-pang dan agaknya dia tahu benar akan hal ini.

Di pusat Thian-li-pang itu, Thian-te Tok-ong tinggal di bagian paling belakang, bukan merupakan bangunan lagi, melainkan merupakan sebuah goa besar di bukit. Goa itu luas sekali dan dilapisi dinding buatan menjadi tempat yang amat kokoh, berikut lubang-lubang angin dan lubang-lubang untuk memasukkan sinar matahari dari atas.

Setiap hari yang keluar masuk goa itu hanyalah burung-burung walet kalau siang, dan kelelawar-kelelawar bila malam. Keadaannya menyeramkan sehingga tak seorang pun berani memasuki goa itu tanpa panggilan Thian-te Tok-ong yang jarang pula keluar dari dalam goa. Makanan dan minuman untuknya dikirim setiap hari oleh seorang murid Thian-li-pang, akan tetapi itu pun hanya diletakkan di atas batu dan di ujung depan goa.

Yo Han adalah seorang anak yang jujur dan tidak pernah berprasangka buruk terhadap siapa pun juga, walau pun hal ini bukan menunjukkan bahwa dia bodoh. Sama sekali tidak. Dia peka rasa dan cerdik sekali, akan tetapi karena ada perasaan kasih terhadap semua orang, maka dia tidak pernah berprasangka. Oleh karena itu, ketika Thian-te Tok-ong mengajarkan ilmu ‘tarian’ dan ‘senam’ kepadanya, dia pun lalu mempelajarinya dengan tekun, sama sekali tidak mempunyai prasangka bahwa semua gerakan tari dan senam itu sesungguhnya merupakan dasar-dasar ilmu silat yang amat hebat!

Di lain pihak, Thian-te Tok-ong adalah seorang kakek tua renta yang di waktu mudanya merupakan seorang datuk sesat yang sangat ditakuti orang. Dia bukan saja ahli silat, akan tetapi juga ahli sihir dan ahli tentang racun sehingga mendapat julukan Tok-ong (Raja Racun).

Setelah merasa bosan merajalela seorang diri saja di dunia kang-ouw, terutama sekali setelah dua kali dia menelan pil pahit karena dikalahkan dua orang pendekar sakti, dia lalu mengundurkan diri. Dan untuk melindungi dirinya, dia bersembunyi di balik sebuah perkumpulan yang didirikannya, yaitu Thian-li-pang.

Perkumpulan itu maju pesat berkat kepandaiannya, akan tetapi setelah usianya semakin tua, ia menyerahkan kepengurusan Thian-li-pang kepada sute-nya, yaitu Ban-tok Mo-ko yang dalam ilmu silat juga sangat lihai, namun tentu saja masih jauh di bawah tingkat suheng-nya, Thian-te Tok-ong yang mengundurkan diri dan bertapa di dalam goa itu.

Setelah setahun Yo Han berada di dalam goa itu menjadi murid Thian-te Tok-ong, sedikit demi sedikit gurunya mulai mengungkapkan tabir rahasianya. Kakek itu semakin percaya kepada Yo Han dan mulailah dia menceritakan tentang keadaan Thian-li-pang, bahkan mulai membuka rahasia diri pribadinya. Yo Han juga merasa sayang kepada gurunya ini karena dia menganggap kakek itu sebagai seorang tua renta yang hidupnya tidak berbahagia, yang kesepian dan agaknya kenangan-kenangan pahit menekan sisa hidupnya.

Dari Thian-te Tok-ong, Yo Han mendengar bahwa Thian-li-pang didirikan oleh Thian-te Tok-ong dengan cita-cita yang tinggi. Bukan saja untuk mendirikan sebuah perkumpulan silat yang ampuh dan memiliki banyak murid pandai yang akan menjunjung tinggi nama Thian-li-pang, tapi salah satu ciri khas Thian-li-pang adalah bahwa perkumpulan ini anti pemerintah Mancu, anti penjajahan!

Hal ini sebenarnya bukan karena Thian-te Tok-ong berjiwa patriot, sama sekali bukan, melainkan karena dia pernah merasa sakit hati terhadap pemerintah Mancu. Pernah dulu perkumpulannya cerai berai dan hampir terbasmi ketika pasukan Mancu di bawah pimpinan Panglima Kao Cin Liong mengadakan pembersihan! Sejak itu dia bersumpah untuk memimpin perkumpulannya, menjadi perkumpulan anti pemerintah Mancu.

Tentu saja kepada Yo Han, kakek ini hanya mengemukakan bahwa Thian-li-pang ialah perkumpulan patriot yang gagah, yang cinta tanah air dan bangsa, dan yang bercita-cita membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Ia berharap anak yang luar biasa ini akan dapat mewarisi ilmu-ilmunya, dan bahkan kelak menjadi pemimpin Thian-li-pang untuk menghancurkan pemerintah Mancu.

Setelah dua tahun Yo Han menjadi murid Thian-te Tok-ong dan usianya sudah empat belas tahun, pada suatu pagi sehabis berlatih ‘menari’, dia dipanggil menghadap pada gurunya. Sambil berlutut Yo Han duduk di depan gurunya yang bersila di atas batu datar.

Kakek itu memandang kepada muridnya, mengangguk-angguk gembira sekali sambil mengelus jenggotnya yang putih panjang. Muridnya itu kini bukan kanak-kanak lagi. Usianya sudah menjelang dewasa dan tubuhnya yang sedang itu tegap dan agak tinggi. Mukanya yang lonjong itu nampak gagah tampan dengan dagu meruncing dan berlekuk. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkannya tergantung di belakang punggung. Alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar, hidung mancung dan mulut itu membayangkan senyum yang ramah dan lembut.

"Yo Han, tahukah engkau sudah berapa lama engkau menjadi muridku dan berdiam di sini?"

"Teecu tidak dapat menghitung hari, Suhu. Akan tetapi tentu sudah ada dua tahun."

"Benar, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan kukira engkau telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu tari, senam dan juga bertiup suling. Nah, sekarang aku ingin mengujimu, Yo Han. Engkau mulailah dengan gerakan senam seperti yang selama ini kau latih. Berdiri dan bersiaplah menanti apa yang kuperintahkan!"

Yo Han memang amat menyayangi dan menghormati gurunya yang sejak dia berada di situ bersikap amat baik kepadanya. Mendengar perintah ini, dia pun segera melepas baju atasnya, bertelanjang dada dan berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung di kanan kiri, siap untuk melakukan senam seperti yang diajarkan oleh gurunya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa gerakan senam itu oleh Thian-te Tok-ong diambil sebagian dari gerakan silat Thai-kek-koan dan Im-yang-kun.

Mulailah dia bergerak setelah mendengar aba-aba gurunya. Mula-mula dia mengangkat lengan kanan ke atas, melingkar di bawah pusar, lalu kedua lengan itu diputar perlahan saling bertemu seperti orang menangkap bola besar di depan dada sambil menarik dan menahan napas, lalu dengan hembusan napas perlahan, kedua tangan itu digerakkan, yang satu ke atas dan yang satu ke bawah seperti menolak dengan pengerahan tenaga dalam perlahan-lahan. Inilah gerakan dari Thai-kek-koan.

Kemudian gerakan itu disambung dengan menjulurkan kedua lengan kanan kiri, dengan telapak tangan agak ke atas, jari-jari menunjuk langit, kemudian siku ditekuk ke atas dan kedua tangan ke pinggang, dilanjutkan dengan gerakan memutar tangan. Telapak yang tadinya di bawah menjadi ke atas bagai orang menyodorkan atau menawarkan sesuatu. Gerakan ini oleh gurunya dinamakan ‘Menghaturkan Anggur Kepada Dewata’.

"Sekarang salurkan tenagamu ke arah pundak, perlahan-lahan sampai seluruh tenaga itu berkumpul di kedua pundakmu!" terdengar Thian-te Tok-ong berkata.

Yo Han menurut. Kedua tangan yang dilonjorkan itu ditarik kembali sampai ke bawah ketiak dan dia pun mengerahkan tenaga dari pusar dan dikumpulkan ke pundak. Kedua pundaknya itu menggembung besar sekali, seperti punuk onta saja!

"Tarik tenaga itu ke punggungmu dan membuat gerakan menyembah Sang Buddha!" kata gurunya.

Yo Han merobah gerakannya, tubuhnya membungkuk dengan muka hampir menyentuh tanah, kedua tangan merangkap ke depan dan kini punuk di kedua pundak berpindah ke punggung, membuat dia menjadi seperti orang yang berpunuk dan bongkok!

Thian-te Tok-ong terus memberi aba-aba dan latihan ‘senam’ ini nampak sungguh amat mengagumkan bagi orang lain kalau ada yang melihatnya. Anak berusia empat belas tahun itu bisa memindahkan gumpalan ‘punuk’ yang sesungguhnya merupakan saluran tenaga sakti itu ke mana saja, ke leher, ke dada, perut, lengan, kaki, bahkan ke tengkuk leher! Yo Han sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa gumpalan yang sebenarnya merupakan hawa sinkang itu dapat membuat tubuh bagian itu menjadi kebal!

"Sekarang kau lihat di dinding itu. Ada gumpalan batu menonjol, bukan? Nah, batu itu mengganggu, Yo Han. Coba engkau kerahkan kemauanmu pada telapak tangan kirimu lalu mendorongnya ke arah batu itu dengan mengerahkan tekad untuk memecahkan gumpalan batu yang mengganggu dinding itu agar dinding menjadi rata!"

Yo Han tidak tahu apa artinya ini dan apa pula gunanya. Akan tetapi karena yang harus diratakan itu hanya batu dinding, dia pun dengan senang hati melakukannya. Dia mulai menyalurkan tenaga yang mendatangkan gumpalan pada semua bagian tubuh itu ke arah telapak tangan kirinya, kemudian dengan kemauan bulat dia mendorong ke arah gumpalan batu menonjol di dinding itu.

Jarak antara tangannya dan dinding itu ada dua meter. Dia tidak menyadari bahwa dari telapak tangannya menyambar hawa pukulan dahsyat dan terdengar suara keras diikuti pecahnya gumpalan batu dinding menonjol itu!

"Brakkkk!"

Yo Han sendiri memandang bengong dan matanya terbelalak. Tak disangkanya bahwa gumpalan batu itu dapat remuk terkena sambaran hawa pukulan tangannya dan hal ini sungguh membuat dia tidak mengerti. Dia menoleh kepada gurunya ketika mendengar gurunya tertawa terkekeh-kekeh dengan senangnya.

"Suhu! Apa yang terjadi? Kenapa batu itu bisa pecah?" tanyanya.

"He-he-heh-heh, itulah berkat latihan senammu, Yo Han. Jangankan seorang manusia, bahkan batu pun akan hancur terkena sambaran angin pukulan tanganmu."

"Ihh! Aku tidak mau memukul orang, Suhu!" kata Yo Han marah.

"Hushh, siapa suruh kau memukul orang? Engkau hanya berlatih senam agar tubuhmu sehat, bukan untuk memukul orang. Tadi pun hanya untuk mengetahui sampai di mana kemajuan latihanmu. Apa kau kira aku ingin muridku menjadi tukang pukul! Heh-heh, Yo Han, jangan engkau mengira yang bukan-bukan. Sekarang sudah kulihat kemajuan ilmu senammu, mari kulihat kemajuan ilmu tarianmu Nah, kau pakai kembali baju atasmu."

Yo Han merasa girang dan dia pun membereskan kembali pakaiannya. Dia tidak tahu bahwa dalam usia empat belas tahun itu, tubuhnya sudah menjadi atletis dan indah sekali, seperti tubuh seorang dewasa yang kuat.

"Aku ingin melihat engkau mainkan tari kera dan akan kucoba engkau dengan sambitan-sambitan batu ini. Seekor kera yang sudah mahir menari, biar disambit bagaimana pun sudah pasti akan mampu mengelak dan tidak akan dapat kena disambit. Nah, engkau mulailah."

Yo Han sudah mempelajari tarian ini dengan baik. Tubuhnya lantas membuat gerakan-gerakan loncatan ke sana-sini, dan kedua tangannya membentuk gerakan kedua tangan kera, siku ditekuk, pergelangan tangan ditekuk serta kedua kakinya sedikit merendah, meloncat ke sana-sini, bahkan mulutnya mengeluarkan bunyi seperti kera, dan bibirnya diruncingkan.

Matanya melirik ke kanan kiri dengan lincahnya. Kadang dia meloncat ke atas, kadang bergulingan, gerakannya gesit, lincah dan cepat sekali. Dan kakek itu pun tidak tinggal diam. Kedua tangannya mengambil batu-batu kecil yang sudah dipersiapkan bertumpuk di depannya dan dia pun mulai menyambit-nyambitkan batu-batu itu. Sambitannya cepat dan kuat, namun sungguh mengagumkan.

Yo Han mampu mengelak dan seolah-olah pendengarannya menjadi sangat tajam dan dia sudah dapat menangkap arah luncuran batu-batu itu tanpa melihat dengan matanya. Sampai puluhan batu kecil menyambar, dan tak sebutir pun mengenai tubuhnya!

"Bagus sekali! Engkau seperti monyet tulen, muridku. Nah, sekarang ilmu tari harimau!"

Yo Han mentaati dan tanpa dia sadari, dia kini memainkan silat Harimau yang jarang didapatkan keduanya. Bukan saja gerakannya tangkas, kedua tangan membentuk cakar harimau dan gerakannya sangat hidup, akan tetapi juga dari mulutnya keluar auman seperti harimau, dan andai kata dia mengenakan pakaian bulu harimau, tentu orang akan mengira dia seekor harimau sungguh!

Ada suatu keanehan luar biasa pada diri Yo Han yang agaknya juga baru dikenal atau diduga-duga oleh orang aneh seperti Thian-te Tok-ong. Kakek yang penuh pengalaman hidup ini pun tidak tahu mengapa ada hal mukjijat terdapat dalam diri anak itu. Kalau dia mengajarkan suatu ilmu silat baru dengan dalih ilmu tari atau senam, dia mengajarkan gerakan silat tanpa mengatakan bahwa gerakan-gerakan itu selain untuk memperkuat tubuh, juga mempunyai daya tahan dan daya serang yang ampuh.

Akan tetapi, dia melihat keanehan. Jika Yo Han sudah memainkan tari monyet misalnya, dia melihat anak itu seolah-olah bukan anak manusia lagi, seolah-olah memang dia seekor monyet! Gerakannya demikian wajar, tidak dibuat-buat, tidak tiruan, bahkan ada gerakan aneh yang tidak mungkin dilakukan manusia, kecuali dilakukan monyet asli.

Demikian pula gerakan harimau. Kalau anak itu sudah membuat gerakan tari harimau, suara aumannya persis harimau asli, bahkan gerakan mulutnya, bibirnya, tiada ubahnya seekor harimau tulen, bahkan kedua matanya juga mencorong seperti mata harimau!

Ini sungguh sangat ajaib! Kadang-kadang seorang datuk besar seperti Thian-te Tok-ong menjadi ngeri sendiri! Anak macam apa yang dijadikan muridnya ini?

“Sekarang pelajaran yang paling akhir, gerakan binatang cecak merayap. Yang paling sukar dan paling baru. Jangan takut, kalau sampai engkau gagal pun aku tidak akan marah, akan tetapi kerahkan seluruh kekuatan pada telapak tanganmu, Yo Han."

"Walau pun teecu tidak tahu apa maksudnya Suhu mengajarkan ilmu merayap seperti cecak, sudah mempelajari dengan tekun dan memang amat sukar, Suhu. Akan tetapi, apa sesungguhnya manfaat ilmu senam meniru akan gerakan cecak seperti itu, Suhu?"

"He-he-he-heh, anak bodoh. Masa engkau yang begini cerdik tak tahu gunanya? Selain bisa menyehatkan tubuhmu, juga amat penting. Bahkan penting sekali. Bayangkan saja. Suatu hari engkau tak sengaja terjerumus ke dalam sumur yang amat dalam. Meloncat keluar sudah tidak mungkin, lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah engkau akan mati kelaparan di dalam lubang itu kalau tak ada orang mendengar teriakanmu minta tolong? Nah kalau engkau pandai menirukan gaya cecak merayap, tentu engkau akan dapat keluar dari sumur itu dengan merayap melalui dindingnya. Nah, kau masih bilang tidak ada manfaatnya?"

Yo Han menjadi girang dan dia pun tentu saja dapat mengerti. "Baik, Suhu. Teecu akan mencobanya sekarang."

Dan seperti yang telah diajarkan gurunya, dia lalu duduk bersila, mengatur pernapasan, menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai buku-buku jarinya mengeluarkan bunyi berkerotokan. Kemudian dia pun bangkit, menghampiri dinding goa dan merayap naik menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang tidak bersepatu. Dan ia pun dapat merayap bagai seekor cecak ke atas dan turun ke seberang dinding yang sana! Setelah turun, napasnya terengah dan keringatnya membasahi seluruh tubuh karena dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau memang muridku yang amat hebat, Yo Han! Sekarang yang terakhir. Engkau pernah belajar tari lutung hitam yang menggunakan tangan dan kakinya untuk menangkapi semua benda yang dilemparkan kepadanya. Nah, aku ingin engkau menarikan itu dan melihat apakah engkau sudah mahir!"

Sebetulnya Yo Han sudah lelah sekali. Akan tetapi dia memang mempunyai kekerasan hati yang mengagumkan dan pantang mundur. Apa lagi ia memang patuh pada gurunya yang dianggapnya amat menyayangnya.

"Suhu, teecu sudah siap!" katanya sambil berdiri dan memasang kuda-kuda di tengah ruangan goa itu.

Dia tahu bahwa jika tadi suhu-nya menghujankan sambitan batu-batu kecil, kini gurunya hendak menggunakan segala macam ranting untuk menyambitnya seperti hujan anak panah dan dia bukan saja harus menghindarkan semua luncuran ranting, akan tetapi juga sedapat mungkin harus bisa menangkap sebanyaknya.

"Awas serangan!" tiba-tiba Thian-te Tok-ong menggerakkan dua tangannya dan puluhan batang ranting meluncur seperti anak panah ke arah seluruh tubuh Yo Han.

Pemuda remaja ini bergerak seperti seekor lutung, kaki tangannya bergerak dan bukan hanya kedua tangannya saja yang mampu menangkis atau menangkap ranting, bahkan kedua kaki telanjang itu pun berhasil menjepit ranting dengan celah-celah jari kaki atau menyepaknya pergi.

Akan tetapi, ketika gurunya menghentikan serangan itu, dia mengeluh dan menjatuhkan diri bersila di atas lantai goa, menahan sakit sambil memegangi kaki tangannya yang berdarah dan bengkak-bengkak membiru!

"Suhu, kenapa kaki tangan teecu menjadi begini?" tanyanya, sekuat tenaga menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan.

Kakek itu menghampiri, langkahnya sudah gontai karena memang dia sudah tua sekali. Akan tetapi matanya mencorong aneh dan berulang kali dia menggelengkan kepala.

"Luar biasa! Ajaib, seribu kali ajaib! Tahukah engkau, Yo Han, kalau orang lain yang menangkis dan menangkapi ranting-ranting tadi, tidak peduli bagaimana tinggi ilmunya saat ini dia pasti sudah akan menjadi kaku dan mampus?"

Yo Han terbelalak memandang wajah tua itu. "Akan tetapi, kenapa, Suhu?"

"Ranting-ranting itu semuanya sudah kupasangi bubuk racun yang paling berbahaya di dunia ini, terdiri dari racun segala macam ular yang paling ampuh. Ada ular cobra, ular belang hitam, ular merah, ular emas, bahkan racun kalajengking hijau. Siapa pun yang terkena, pasti mati seketika. Akan tetapi engkau... engkau hanya luka-luka dan tangan kakimu membiru saja! Bukan main!"

"Tapi, kenapa, Suhu? Apakah Suhu bermaksud untuk membunuh teecu?"

"Ha-ha-ha-ha, aku sayang padamu, aku kagum padamu, kepadamulah seluruh tumpuan harapanku kuberikan, bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku hanya akan mengujimu! Andai kata racun-racun itu mengancam nyawamu, aku sudah menyiapkan obat penawarnya. Sekarang bahkan tidak perlu lagi. Racun itu hanya berhenti sampai di pergelangan tangan dan kakimu. Entah kemukjijatan apa yang melindungi dirimu, Yo Han."

"Tidak ada kemukjijatan apa-apa kecuali kekuasaan Tuhan yang teecu yakin akan selalu melindungi teecu, Suhu."

"Heh-heh-heh, sudah terlalu sering engkau mengatakan begitu. Akan tetapi, bagaimana ada kekuasaan Tuhan melindungimu, tetapi tidak melindungi orang lain?"

"Suhu, bagaimana teecu bisa tahu? Kehendak Tuhan, siapa yang tahu? Teecu hanya merasakan bahwa ada sesuatu di luar kehendak akal pikiran teecu, dan teecu hanya menyerahkan kepada Tuhan, menyerah dengan sepenuh jiwa raga teecu. Apa pun yang dikehendaki Tuhan atas diri teecu, akan teecu terima tanpa mengeluh."

"Engkau memang anak aneh sekali. Bagaimana rasanya jari-jari tangan dan kakimu?"

"Rasanya ngilu, nyeri kaku dan gatal-gatal."

"Heh-heh-heh, tidak percuma gurumu ini berjuluk Tok-ong (Raja Racun), tetapi sekali ini, Tok-ong sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuasaan Tuhan yang ada pada dirimu. Buktinya, engkau tidak apa-apa. Kalau bukan engkau keadaanmu ini merupakan penghinaan besar bagiku dan sekali pukul engkau akan mampus. Akan tetapi engkau muridku, bahkan engkau akan kuajari bagaimana cara untuk mengobati pengaruh racun dariku."

"Akan tetapi, Suhu, teecu tidak akan menggunakan racun. Teecu tidak mau mencelakai orang, tidak mau meracuni orang."

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau mencelakai orang, tetapi akan dicelakai orang. Engkau tak mau meracuni orang, akan tetapi engkau akan diracuni orang. Aihhh, Yo Han, engkau belum tahu apa artinya hidup ini. Kau kira dunia kita ini seperti sorga? Neraka pun tidak sebusuk dunia, kau tahu? Setan-setan pun tidak sejahat manusia, kau tahu?"

"Tidak, Suhu! Teecu tidak percaya. Semua manusia pada dasarnya baik. Hanya karena mempelajari ilmu kekerasan, maka mereka menjadi jahat dan hendak mengandalkan kekerasan untuk mencari kemenangan. Dan teecu tidak sudi mempelajari kekerasan."

Thian-te Tok-ong tertawa terpingkal-pingkal sesudah mendengar ucapan muridnya itu. Bagaimana dia tidak akan merasa geli? Selama dua tahun ini dia telah menggembleng Yo Han dengan ilmu-ilmu yang amat hebat, ilmu yang akan dapat membunuh puluhan orang lawan dan anak ini masih mengatakan tidak sudi mempelajari kekerasan!

Mereka berada di tengah goa itu, tidak nampak dari luar. Mendadak terdengar suara melengking nyaring dari luar pintu goa, disusul kata-kata yang lembut seorang wanita, namun yang dapat terdengar sampai ke dalam goa.

“Thian-te Tok-ong, keluarlah engkau, aku Ang-I Moli ingin bicara denganmu!”

Mendengar suara yang melengking nyaring ini, diam-diam Yo Han terkejut. Tentu saja dia mengenal siapa itu Ang-I Moli, orang pertama yang memaksanya menjadi murid walau pun dia tidak pernah diajarkan apa pun. Dia tahu bahwa wanita itu seperti iblis, selain amat lihai, juga amat jahat dan kejam, maka diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan kakek tua renta yang selama ini bersikap sangat baik kepadanya.

Akan tetapi kakek itu terkekeh. "Ang-I Moli, suaramu sudah cukup nyaring dan dapat terdengar dari sini. Perlu apa aku harus keluar menemuimu? Kalau engkau mau bicara, bicaralah, dari sini pun aku dapat mendengarmu dengan baik."

"Thian-te Tok-ong, tidak perlu kujelaskan lagi, tentu kunjunganku ini sudah kau ketahui maksudnya. Aku datang untuk menuntut janjimu untuk menukar Sin-tong dengan obat penawar racun ilmu yang telah kusempurnakan."

"He-he-heh, engkau sudah menyempurnakan ilmu Toat-beng Tok-hiat (Darah Beracun Pencabut Nyawa)? Hebat! Ilmu semacam itu hanya ada seratus tahun yang lalu dan kini engkau berhasil menguasainya? Perempuan iblis, engkau akan menjadi seorang tanpa tanding, heh-heh-heh! Mari, Yo Han, mari kita keluar melihat iblis betina itu!" Kakek itu menjulurkan tongkatnya kepada Yo Han.

Anak itu memegang ujung tongkat dan menuntun gurunya keluar dari dalam goa. Dia sendiri sudah sering keluar goa, akan tetapi kakek itu tidak pernah sehingga setelah kini dia keluar dari goa, matanya disipitkan, silau, dan mukanya nampak pucat seperti mayat hidup.

Diam-diam Ang-I Moli sendiri bergidik. Kakek ini seperti bukan manusia lagi dan ia pun sudah mendengar bahwa kakek tua renta ini merupakan tokoh nomor satu perkumpulan Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian tak dapat diukur tingginya.

Setelah Yo Han dan Thian-te Tok-ong tiba di luar goa, mereka melihat ada beberapa orang di situ. Selain Ang-I Moli yang kini nampak semakin cantik saja, juga di situ terdapat Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang yang berlutut, dan ada pula lima orang pria lain yang melihat pakaian mereka adalah petani-petani biasa dan nampaknya mereka itu ketakutan, berlutut pula tanpa berani mengangkat muka.

Hanya Ang-I Moli seorang yang tidak berlutut. Hal ini tidaklah aneh karena dia bukan anggota Thian-li-pang, bahkan ia adalah pemimpin dari perkumpulan Ang-I Mo-pang di luar kota Kunming.

Dua tahun yang lalu, ketika ia bersekutu dengan Thian-li-pang, kemudian menyerahkan Yo Han kepada Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang untuk ditukar dengan dua belas orang pemuda remaja, ia lalu membawa dua belas orang remaja itu pergi. Diam-diam ia mulai melatih diri dengan ilmu kejinya itu, dan mengorbankan nyawa dua belas orang remaja yang dihisap darahnya. Dan kini, dua tahun kemudian, ia sudah berhasil dengan ilmunya itu dan datang ingin menagih janji, yaitu untuk minta obat penawar bagi keampuhan ilmunya yang beracun.

Baginya sendiri, ilmu tanpa ada obat penawarnya amat berbahaya bagi diri sendiri, juga tidak dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendaknya kepada lain orang. Dan di dunia ini, yang mampu membuatkan obat penawar bagi segala macam ilmu pukulan beracun hanyalah Thian-te Tok-ong seorang!

Begitu kakek tua renta itu muncul, Ang-I Moli membungkuk dengan sikap hormat. Lauw Kang Hui yang berlutut juga memberi hormat dan berkata, "Teecu mohon Supek sudi memaafkan kalau teecu mengganggu ketentraman Supek. Teecu mengantarkan Ang-I Moli yang hendak menagih janji dua tahun yang lalu."

"He-he-heh-heh, Lauw Kang Hui, mulutmu bicara satu akan tetapi hatimu bicara dua. Katakan saja bahwa engkau pun datang untuk menagih janji minta diajari sebuah ilmu. Benar tidak?"

Wajah Lauw Kang Hui yang biasanya memang sudah merah itu menjadi semakin gelap, akan tetapi dia menyembah lagi dengan segala kerendahan hati. "Supek, teecu hanya menyerahkan kepada kebijaksanaan Supek saja, karena semua itu juga demi kemajuan Thian-li-pang kita."

"Baiklah, kau tunggu saja. Sekarang, Moli. Aku bukan orang yang suka melanggar janji. Yo Han memang menyenangkan dan sudah menjadi muridku. Untuk itu, aku tentu akan memenuhi janjiku. Akan tetapi, bagaimana aku akan dapat membuat obat pemunah dari ilmu kejimu itu kalau aku tidak melihat dulu buktinya?"

Ang-I Moli tertawa genit dan memang wanita ini masih manis sekali seperti orang muda saja, walau pun usianya sudah empat puluh tahun. "Locianpwe Thian-te Tok-ong, aku sudah mempersiapkan segalanya. Lihatlah lima orang dusun ini. Mereka ini yang akan kujadikan kelinci percobaan. Nah, harap kau lihat baik-baik!"

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, sehingga yang tampak hanya berkelebatnya bayangan merah saja, dan tahu-tahu tiga di antara kelima orang itu roboh terpelanting. Padahal, Ang-I Moli hanya mendorongkan telapak tangannya dari jauh saja, sama sekali tanpa menyentuh orangnya, akan tetapi dari telapak tangan itu menyambar hawa yang kebiruan ke arah mereka.

"Keji sekali kau!" Tlba-tiba Yo Han berseru.

Dari tempat ia berdiri, Yo Han teringat akan ilmu senamnya dan dia pun mendorongkan kedua tangannya ke arah dua orang yang belum roboh. Dua orang itu bagaikan kena disambar angin keras sehingga tubuh mereka terguling-guling sampai jauh, akan tetapi mereka terhindar dari pukulan beracun Ang-I Moli!

Melihat ini, Ang-I Moli marah sekali dan ia pun mengerahkan pukulan kedua tangannya, didorongkan ke arah tubuh Yo Han. Anak ini pun menyambut dengan gerakan senam yang dinamakan ‘mendorong bukit’.

"Dessss...!"

Yo Han terjengkang dan roboh pingsan. Akan tetapi Ang-I Moli terhuyung, berpusing lalu roboh dan muntah darah!

Wanita itu terbelalak penuh kekagetan, keheranan dan juga ketakutan sebab ia merasa betapa ilmunya yang amat keji itu, yaitu yang dia beri nama Toat-beng Tok-hiat, tadi ketika bertemu dengan tenaga dari kedua tangan anak itu, telah membalik dan melukai dirinya sendiri!

Ia tahu bahwa ia telah menjadi korban pukulannya sendiri yang membalik dan ia sendiri tidak mempunyai obat penawarnya! Keadaannya sama dengan tiga orang petani yang dijadikan kelinci percobaan. Mereka pun roboh dan muntah darah. Baik wajah tiga orang itu mau pun wajah Ang-I Moli berubah menjadi kebiruan!

Thian-te Tok-ong menghampiri Yo Han dan ia tertawa terkekeh-kekeh saking girangnya melihat betapa meski pun pingsan Yo Han sama sekali tidak terluka. Dia menotokkan tongkatnya ke tengkuk anak itu dan Yo Han pun siuman kembali.

Yo Han meloncat bangun dan memandang ke arah Ang-I Moli dengan mata terbelalak. "Suhu... apakah teecu... membuat ia roboh...?"

Thian-te Tok-ong mengangguk. "Kalau engkau tidak menggunakan senam mendorong bukit, tentu engkau akan roboh keracunan atau mungkin sudah tewas. Ilmu iblis betina itu keji bukan main."

Ang-I Moli terengah-engah dan bangkit duduk. "Locianpwe, aku yakin bahwa seorang Locianpwe seperti engkau ini tidak akan menelan ludah sendiri dan akan memenuhi janjinya. Aku menuntut diberi obat penawar untuk ilmu pukulan ini."

"Ha-ha-ha, sudah lama kubuatkan. Aku mengenal pukulan keji semacam itu, Moli. Akan tetapi engkau masih untung. Kalau engkau tadi membuat Yo Han tewas, engkau pun tentu akan kubunuh! Nah, inilah obat penawarnya, berikut catatan cara membuatnya, terimalah dan buktikan kemanjurannya pada dirimu sendiri."

Kakek itu melemparkan sebuah bungkusan yang diterima oleh Ang-I Moli. Isi bungkusan itu ternyata belasan butir pel merah dan sehelai kertas catatan resep pembuatannya. Menurutkan petunjuk catatan, Ang-I Moli menelan sebutir pel merah dan setelah bersila sejenak, wajahnya berubah merah kembali dan dia merasa betapa pengaruh racun di tubuhnya lenyap. Dia girang bukan main, meloncat berdiri lalu membungkuk terhadap Thian-te Tok-ong.

"Nama besar Thian-te Tok-ong ternyata bukanlah nama kosong dan bukan pula seorang pembohong. Aku menghaturkan banyak terima kasih." Lalu kepada Lauw Kang Hui ia pun berkata, "Lauw Pangcu, kita sudah saling membantu, harap sampaikan hormatku kepada Ouw Pangcu. Aku mohon diri untuk mengambil jalanku sendiri. Selamat tinggal!"

"Heiiii, nanti dulu!" Tiba-tiba Yo Han berseru keras.

Moli terkejut karena sekali anak itu menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang dan berdiri di depannya! Anak ini, entah disadari atau pun tidak, telah memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat bukan main!

"Huh, mau apa engkau?" bentaknya, tidak berani memandang rendah karena tentu saja ia gentar terhadap guru anak itu.

Dengan menuding telunjuk tangan kanannya, seperti seorang dewasa menegur seorang anak nakal, Yo Han berkata, "Ang-I Moli, sejak dahulu engkau sungguh tidak berubah, bahkan menjadi semakin jahat dan keji. Engkau melukai tiga orang petani yang tidak berdosa itu sampai mereka keracunan dan engkau mau meninggalkan mereka begitu saja? Mana tanggung jawabmu? Engkau harus menyembuhkan mereka lebih dulu, baru boleh pergi!"

Ang-I Moli mengerutkan alisnya. Mana ia mau mentaati permintaan bocah itu?

"Huh! Peduli apa aku dengan mereka?" Serunya dan ia pun sudah meloncat pergi.

Akan tetapi Yo Han juga meloncat dan anak ini terkejut sendiri akan tubuhnya melayang dan dia dapat menghadang di depan wanita pakaian merah itu.

"Aih, kiranya Tok-ong sudah melatihmu, ya? Yo Han, engkau masih kanak-kanak, sama sekali bukan lawanku, jangan coba-coba menghalangiku. Kalau aku tidak melihat muka gurumu, sekali pukul engkau akan mampus. Pergilah!"

"Moli, aku tidak mau berkelahi, aku tak mau melawanmu atau melawan siapa saja. Akan tetapi aku minta pertanggungan jawabmu. Tiga orang itu tidak berdosa. Engkau tidak boleh meninggalkan mereka terluka tanpa kau obati dulu. Hayo cepat kau sembuhkan mereka!"

"Bocah setan kau!"

Akan tetapi mendadak terdengar suara Thian-te Tok-ong terkekeh-kekeh. "Ang-I Moli, jangan mengira bahwa aku mencampuri urusan percekcokanmu dengan Yo Han anak kecil. Akan tetapi, dalam dunia kita sudah terdapat peraturan bahwa siapa yang menang harus ditaati dan siapa kalah harus mentaati. Nah, sekarang begini saja. Engkau boleh menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus, dengan ilmu pukulanmu yang mana pun, boleh semua kepandaianmu kau keluarkan, kecuali pukulan Toat-beng Tok-hiat itu. Jika kau pergunakan pukulan itu dan sampai muridku mati, engkau akan kucabik-cabik. Akan tetapi semua pukulan lain boleh kau lakukan. Kalau sampai dua puluh jurus engkau tak mampu merobohkannya, nah, engkau harus mentaati perintahnya mengobati tiga orang petani itu. Kalau sebelum dua puluh jurus dia jatuh, sudahlah, engkau boleh pergi dan aku yang akan menghajar kelancangan mulut muridku."

Mendengar ini, Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang yang datang pula ke situ diam-diam terkejut bukan main. Bagaimana sih supek-nya itu? Tingkat kepandaian Ang-I Moli sudah tinggi sekali. Apa lagi setelah sekarang menguasai Toat-beng Tok-hiat, bahkan ia sendiri pun harus berhati-hati kalau melawan wanita itu.

Dan kini supek-nya menyuruh Moli menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus. Mana mungkin anak itu mampu bertahan? Baru satu dua jurus saja kepala anak itu dapat hancur! Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mencampuri urusan supek-nya yang amat ditakuti dan dihormatinya itu.

Ang-I Moli adalah seorang wanita iblis yang amat licik. Tadinya dengan senang sekali ia berhasil mendapatkan Yo Han, akan tetapi terpaksa dia melepaskan anak itu kepada Thian-te Tok-ong. Kini, mendengar tantangan itu, tentu saja ia mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahannya. Kalau ia membunuh anak itu, berarti anak itu tidak terjatuh ke tangan orang lain, dan ia pun dapat membalas penghinaan yang diterimanya ketika Yo Han menangkisnya tadi!

"Bagus sekali! Locianpwe Thian-te Tok-ong, bukan aku yang menantang, tapi syarat itu memang cukup adil. Nah, Yo Han yang manis, majulah engkau ke sini untuk menerima kematianmu. Sayang masih begini muda terpaksa engkau harus mampus di tanganku."

"Suhu, teecu tidak sudi berkelahi, biar pun melawan iblis betina itu sekali pun," kata Yo Han kepada gurunya sambil mengerutkan alisnya.

"Bocah tolol! Siapa suruh engkau berkelahi? Akan tetapi dia hendak membunuh ketiga orang petani itu, juga hendak membunuhmu. Engkau tidak perlu memukulnya, engkau hanya menari saja seperti yang kau pelajari tadi. Gunakan tari monyet dan tari lutung, dan hendak kulihat apakah perempuan sombong ini akan mampu menyentuh selembar rambutmu. Hayo cepat engkau menari!"

Mendengar perintah ini, hati Yo Han tidak ragu-ragu lagi. Ia memang tetap berpendirian bahwa ia tak akan sudi berkelahi menggunakan kekerasan memukul orang. Akan tetapi kalau hanya menari dan menghindarkan diri dari serangan orang, itu namanya bukan berkelahi dan bukan menggunakan kekerasan. Apa lagi ia harus menyelamatkan nyawa tiga orang petani yang tidak berdosa itu. Maka, dia pun melangkah maju menghadapi wanita itu dengan hati tabah.

Bagaimana pun juga, karena ia segan dan takut kepada Thian-te Tok-ong, Ang-I Moli sekali lagi berkata, "Locianpwe Thian-te Tok-ong, benarkah aku boleh menyerangnya sampai dua puluh jurus?"

"Perempuan sombong, siapa yang menyangkal? Cepat serang!"

Ang-I Moli memang seorang yang amat licik dan curang. Biar pun yang dihadapinya itu seorang remaja berusia empat belas tahun, namun begitu mendengar ucapan Thian-te Tok-ong, tanpa memberi peringatan lagi tiba-tiba saja ia sudah menerjang dengan tiga tamparan yang amat ganas, ke arah kepala Yo Han.

"Wuuut-wuut-wuuuttt...!"

Tiga kali ia menampar susul menyusul dan... luput!

Bagaikan seekor kera yang amat lincah, Yo Han telah menari-nari dan semua tamparan itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Dia seperti sudah melihat terlebih dahulu datangnya tamparan.

Tentu saja Ang-I Moli terkejut, heran dan juga penasaran sekali. Kini ia tidak main-main lagi, mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh, bukan sekedar untuk menampar atau memukul, melainkan mengirimkan jurus pukulan mautnya! Bahkan, setelah lewat sepuluh jurus, berturut-turut dia memukul dengan pukulan ampuh Pek-lian Tok-ciang, yaitu pukulan beracun yang amat dahsyat, yang dikuasai oleh para murid Pek-lian-kauw tingkat tinggi saja.

Pukulan ini mengandung uap putih dan hawa beracun itu cukup untuk membuat orang yang menghisapnya roboh pingsan! Namun, dengan gerakannya yang lincah selalu Yo Han dapat menghindarkan diri, bahkan asap yang menerjangnya dan tanpa disengaja tersedot olehnya sama sekali tak mempengaruhinya. Ia bahkan masih sempat berseru, "Aih, baunya harum!"

Tentu saja ucapan yang jujur dari Yo Han ini oleh Ang-I Moli merupakan tamparan dan ejekan. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring. Tinggal sisa tiga jurus lagi karena ia sudah menyerang sampai tujuh belas jurus tanpa hasil dan yang tiga jurus ini akan dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, bukan tenaga sembarangan, melainkan ilmu pukulannya yang baru, yaitu Toat-beng Tok-hiat!

Terdengar suara bercuitan seperti tikus-tikus terjepit pada saat ia melancarkan pukulan ampuh Toat-beng Tok-hiat itu. Latihan pukulan ini baru saja dirampungkan Ang-I Moli dan merupakan pukulan tingkat tinggi yang hebat bukan main. Jangankan seorang anak remaja seperti Yo Han yang tidak pernah belajar ilmu silat, bahkan seorang wakil ketua Thian-li-pang seperti Lauw Kang Hui saja belum tentu akan mampu menahan pukulan maut itu!

Diam-diam Lauw Kang Hui amat terkejut. Dia sendiri tidak sayang kepada Yo Han, akan tetapi dia tahu betapa sayangnya supek-nya kepada anak itu sehingga kalau sampai Yo Han celaka, tentu nyawa Ang-I Moli tidak akan dapat diselamatkan lagi!

Akan tetapi, Yo Han yang sama sekali belum menyadari bahwa semua latihan yang dilakukan secara rajin selama dua tahun ini adalah gerakan silat tinggi, telah memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa. Hal ini adalah karena sebagian besar waktunya dia berada di dalam goa yang gelap dan remang-remang.

Maka, kini dia dapat melihat atau mengikuti gerakan tangan dan tubuh Moli dengan jelas sehingga memudahkan dia untuk berloncatan seperti seekor kera mengelak ke sana sini dan tiga kali hantaman berturut-turut yang mengeluarkan bunyi bercicit itu tidak ada yang mengenai tubuhnya.

Ang-I Moli penasaran bukan main sehingga ia menjadi lupa diri, lupa bahwa sudah dua puluh jurus ia menyerang dan kini ia menubruk ke depan untuk menerkam anak yang dianggapnya telah membuat ia kehilangan muka itu.

"Takkk!"

Tubuh Moli terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya karena disodok ujung tongkat oleh Thian-te Tok-ong! Sungguh luar biasa sekali gerakan ini. Kakek itu masih duduk bersila dan jaraknya cukup jauh. Akan tetapi, entah tongkatnya yang mulur atau lengannya yang memanjang, ujung tongkatnya dapat menyambut serangan Moli sehingga membuat wanita itu terjengkang.

"Moli, apakah engkau ingin mampus? Sudah dua puluh jurus dan engkau masih ingin menyerang terus?" bentak kakek itu terkekeh.

Ang-I Moli cepat bangkit dan memberi hormat. "Maaf, Locianpwe, tentu aku sudah salah menghitung."

"Heh-heh-heh, engkau sudah kalah bertaruh. Hayo lekas kau sembuhkan tiga orang itu kemudian cepat pergi dari sini, jangan sekali lagi sampai bertemu denganku, karena aku tidak akan sudi mengampunimu lagi!"

Dengan terpaksa Ang-I Moli lalu mendekati ketiga orang petani yang tergeletak dengan muka kebiruan itu. Dia masukkan tangannya ke dalam saku di balik baju luarnya, tempat ia tadi menyimpan belasan butir pel merah penawar racun pukulan Toat-beng Tok-hiat yang diberikan oleh Thian-te Tok-ong. Ketika tangannya keluar dari balik bajunya, tiga butir pel merah sudah berada dalam genggamannya, yang kemudian satu demi satu dimasukkan ke mulut tiga orang petani korban pukulannya tadi.

Pel penawar bikinan Thian-te Tok-ong memang luar biasa mujarab, serta gelar Raja Racun Langit dan Bumi terbukti bukan julukan kosong belaka. Setelah masing-masing diminumkan obat, hanya dalam waktu sebentar saja tiga orang petani itu telah sadar kembali dan lenyap sudah rona kebiruan pada wajah mereka.

Tiga orang petani itu segera bangkit dengan perasaan bingung, akan tetapi keheranan mereka tidak berlangsung lama karena Thian-te Tok-ong cepat berkata kepada mereka, “Kalian berlima lekas pergi dari sini, pulanglah ke tempat asal kalian.”

Meski pun rasa heran dan bingung mereka belum lenyap sama sekali, namun melihat wajah dan potongan orang-orang di sekitar itu, ditambah mendengar kata-kata Thian-te Tok-ong barusan, maka tanpa menanti lebih lama lagi, lima orang petani itu, tiga orang yang baru sadar bersama dua orang lain yang tidak sempat terpukul oleh Ang-I Moli, kemudian mulai melangkahkan kaki, pergi meninggalkan tempat itu.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Ang-I Moli. Ia memang tahu bahwa Thian-te Tok-ong adalah orang nomor satu dari Thian-li-pang, bahkan merupakan seorang tokoh langka yang tak pernah mencampuri urusan dunia. Dikalahkan Thian-te Tok-ong masih belum merupakan hal yang memalukan.

Akan tetapi, ia, datuk besar yang baru saja selesai menguasai ilmu yang amat hebat, ilmu Toat-beng Tok-hiat yang dianggapnya akan bisa membuat ia menjadi seorang yang paling lihai di dunia, atau setidaknya seorang di antara yang paling lihai, kini tidak dapat merobohkan seorang bocah berusia empat belas tahun yang tidak pandai ilmu silat!

Maka, setelah ia memandang kepada Yo Han dengan sinar mata mengandung penuh kebencian, dan di dalam hatinya ia mencatat bahwa kelak pada suatu hari ia pasti akan membunuh anak ini dan menghisap darahnya sampai tidak tertinggal setetes pun, ia lalu membalikkan tubuhnya dan sekali meloncat ia pun lenyap dari tempat itu.

"He-he-heh-heh, Yo Han, kau ingat. Ialah mungkin wanita yang kelak harus kau bunuh, kalau tidak engkau yang akan dibunuhnya, heh-heh-heh!"

Yo Han mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. "Suhu tahu, teecu tidak akan mau membunuh siapa pun juga!"

"Heh-heh-heh, engkau memang anak yang aneh. Nah, Lauw Kang Hui, engkau tentu datang mengantar perempuan tadi bukan dengan percuma, tentu engkau pun hendak menagih janji, bukan?"

Lauw Kang Hui, seperti juga semua murid Thian-Ii-pang, amat takut kepada kakek ini. Kakek ini bukan saja merupakan orang pertama yang dipuja-puja dan ditakuti, namun juga terkenal bengis dan entah sudah berapa puluh orang anak buah Thian-li-pang semenjak dulu dibunuhnya begitu saja dengan kesalahan yang amat sepele. Maka, dia pun cepat menyembah sambil berlutut.

"Teecu memberanikan diri mengantar Ang-I Moli karena ia desak-desak, Supek. Ada pun tentang Supek hendak memberi anugerah kepada teecu atau tidak, teecu serahkan kepada kebijaksanaan Supek. Bagaimana teecu berani menuntut?"

"Ha-ha-ha, engkau memang seorang di antara para murid yang cerdik, Kang Hui, tidak seperti suheng-mu Ouw Ban yang terlalu keras kepala walau pun kepandaiannya lebih tinggi. Aku sudah mendengar mengenai siasatmu mengadu domba antara empat partai persilatan besar dan berhasil baik. Ha-ha-ha, sungguh, aku sendiri tak akan memikirkan sejauh itu. Engkau memang pandai dan aku suka sekali menambahkan satu dua ilmu pukulan untukmu agar engkau lebih dapat memajukan Thian-li-pang lagi!"

"Terima kasih, Supek. Terima kasih!" Akan tetapi dia lalu menambahkan dengan suara lirih. "Hanya teecu mohon agar Supek sudi melembutkan hati Suhu bila Suhu memarahi teecu karena urusan ini."

"Gurumu? Ha-ha-ha, gurumu selalu berat sebelah, terlalu mudah dirayu oleh Ouw Ban. Jangan takut, kalau gurumu berani mengganggumu, akan kupukul pantatnya sampai bengkak-bengkak, he-he-he! Nah, ke sinilah dan perhatikan baik-baik. Akan kuajarkan ilmu Tok-jiauw-kang (Ilmu Cakar Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang) padamu. Hafalkan baik-baik dan kemudian latihlah, sedikitnya satu dua tahun baru engkau akan dapat mahir."

"Terima kasih, Supek!"

Lauw Kang Hui memasuki mulut goa dan Yo Han yang tidak suka melihat orang belajar silat, lalu masuk ke dalam goa untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, membersihkan goa dan mengirim makanan dan minuman untuk orang hukuman yang berada di dalam sumur.

Sampai tiga hari lamanya Lauw Kang Hui menerima petunjuk dua ilmu itu dari Thian-te Tok-ong tanpa ada yang berani mengganggu, bahkan mendekat pun tiada yang berani. Setelah dia hafal benar, Lauw Kang Hui berlutut menghaturkan terima kasih, kemudian meninggalkan goa yang menjadi sunyi kembali.

Dan Yo Han pun mulai lagi setiap hari belajar ilmu menari dan senam, karena sampai hari itu pun Yo Han tetap berkukuh tidak sudi belajar ilmu memukul orang! Pada waktu usianya sudah lima belas tahun, tetap juga dia berkeras hati tak mau belajar silat. Habis sudah kesabaran Thian-te Tok-ong. Ia memanggil muridnya menghadap.

Yo Han berlutut di depan Thian-te Tok-ong.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner