SI BANGAU MERAH : JILID-20


“Krekk-krekk...!” Dan ujung meja itu hancur menjadi bubuk dalam cengkeramannya.

Wajah panglima itu menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak ketakutan.

“Ciangkun, apakah lehermu lebih keras dari pada papan meja ini?”

“Jangan... jangan bunuh aku... apa yang kau inginkan?” pembesar itu berkata, suaranya kehilangan keangkuhannya, bernada menyerah.

“Coan Ciangkun, engkau adalah seorang laki-laki dan memegang jabatan tinggi sebagai panglima. Semestinya engkau seorang yang gagah perkasa. Akan tetapi perbuatanmu ini sungguh memalukan sebagai seorang laki-laki. Kalau pinanganmu ditolak, itu berarti bahwa nona Gan Bi Kim bukan jodohmu. Kenapa engkau hendak memaksanya dengan cara yang begini curang dan pengecut? Kedudukanmu tinggi, akan tetapi watakmu amat rendah. Sekarang, aku hanya ingin engkau memperbaiki kesalahanmu, mengembalikan dua buah benda pusaka itu kepadaku. Cepat, atau aku akan kehilangan kesabaranku dan tanganku yang gatal-gatal ini akan mencengkeram lehermu atau kepalamu!”

Sengaja Yo Han meraba-raba leher itu dan Coan Ciangkun bergidik.

“Jangan bunuh... baik, akan kukembalikan...! Tapi... dua buah benda itu disimpan oleh Tong Gu itu...” Dia menunjuk ke arah tubuh gendut Tong Gu, salah seorang di antara tiga jagoannya tadi, dengan telunjuk yang menggigil.

Yo Han dapat menduga bahwa panglima itu tidak main-main atau hendak menipunya. Bagaimana pun juga, panglima itu telah berada di dalam kekuasaannya dan tidak akan mampu berbuat apa pun.

“Akan kusadarkan dia dan lekas perintahkan dia untuk mengambil dua buah pusaka itu!” katanya dan sekali tangannya bergerak, dia telah membebaskan totokan Tong Gu.

Begitu Si Gendut itu dapat bergerak, dia meloncat dengan sikap hendak menyerang. Akan tetapi Coan Ciangkun menghardiknya.

“Tolol, apa yang akan kau lakukan?!”

Coan Ciangkun memang mendongkol sekali melihat ketidak becusan para jagoannya. Hanya melawan seorang pemuda saja, mereka bertiga roboh, bahkan belasan orang pengawalnya juga roboh. Dan sekarang, masih berlagak hendak melawan!

Tong Gu terkejut dan membungkuk di depan pembesar itu. “Maafkan hamba... hamba kira...”

“Tidak usah banyak cakap. Cepat kau ambil kedua buah pusaka itu dan bawa ke sini!” perintah Coan Ciangkun.

“Baik, Ciangkun!” kata Tong Gu.

Sebelum Tong Gu pergi, Yo Han berkata, “Tong Gu, jangan coba untuk main gila. Ingat, nyawa majikanmu berada di dalam tanganku. Dia akan mati sebelum engkau dapat melakukan sesuatu terhadap diriku!”

“Kalau engkau berani main gila, akan kusuruh hukum siksa sampai mati!” bentak Coan Ciangkun yang agaknya ingin cepat-cepat terbebas dari tangan pemuda yang lihai itu. “Cepat pergi dan ambil benda-benda itu!”

Tong Gu keluar dari ruangan itu dan tentu saja dia disambut oleh hujan pertanyaan dari para rekannya di luar ruangan. Akan tetapi, dia memberi isyarat dengan telunjuknya di depan mulut.

“Gawat Ciangkun telah dikuasai iblis itu. Kalau kita bergerak, tentu Coan Ciangkun akan dibunuhnya. Kita tidak boleh bergerak sebelum Ciangkun dibebaskan. Kepung saja dari luar dan jangan sampai ada yang lolos. Aku harus mengambilkan pusaka itu sekarang juga,” bisiknya kepada para pimpinan pasukan.

Sekarang seluruh penghuni gedung itu telah terbangun dan suasananya menjadi panik. Namun, pasukan itu hanya mengepung di luar gedung, dan keluarga Coan Ciangkun berkumpul di sebelah dalam, dijaga oleh pasukan pengawal dengan ketat.

Tong Gu tidak berani mengabaikan perintah Coan Ciangkun. Dia maklum sepenuhnya bahwa nyawa majikannya dalam ancaman bahaya maut. Dia pun tahu betapa lihainya pemuda yang menawan majikannya itu. Bukan saja dia dan dua orang rekannya yang terkenal jagoan roboh di tangan pemuda itu, juga belasan orang pengawal roboh dalam waktu singkat. Kepandaian pemuda itu tidak wajar, tidak seperti manusia biasa!

Tong Gu muncul kembali ke dalam ruangan itu. Keadaan di sana masih seperti tadi. Coan Ciangkun masih duduk menghadapi meja yang patah ujungnya, dan pemuda itu masih tetap berdiri di belakang panglima dengan sikap tenang sekali. Justru ketenangan sikap pemuda itu yang membuat Tong Gu merasa seram.

Dia meletakkan bungkusan dua buah benda itu di atas meja depan Coan Ciangkun. Yo Han lalu membuka bungkusan itu dan melihat bahwa memang itulah dua benda pusaka yang hilang. Dia sudah mendapat keterangan jelas dari Gan Seng bagaimana bentuk dan rupa dua buah benda pusaka itu. Tanpa ragu lagi, dia mengambil benda-benda itu dan menyimpannya ke dalam saku jubahnya.

“Kami sudah menyerahkan dua buah benda pusaka itu. Sekarang bebaskan kami dan pergilah, jangan ganggu kami lagi!” kata Coan Ciangkun menuntut.

“Nanti dulu, Ciangkun,” kata Yo Han dan dia memandang kepada Tong Gu lalu berkata, “Tong Gu, cepat kau sediakan kertas dan alat tulis untuk Coan Ciangkun!”

Tong Gu tidak berani membantah dan di dalam ruangan itu memang tersedia alat tulis dan kertasnya. Setelah perlengkapan itu berada di atas meja, Yo Han lalu berkata, “Ciangkun, sekarang tulislah surat pengakuanmu bahwa engkaulah yang melakukan pencurian itu!”

Sepasang mata itu lantas terbelalak. “Akan tetapi... engkau hendak melaporkan aku dan mencelakakan aku...?”

Yo Han tersenyum. “Kami bukanlah orang-orang macam engkau yang suka bertindak curang, Ciangkun. Surat itu perlu untuk pegangan Gan Taijin supaya engkau tidak lagi mengganggunya. Kalau engkau berani mengganggunya, maka tentu surat pengakuan itu akan diserahkannya kepada Sri Baginda Kaisar.”

Panglima Coan itu menjadi lemas. Kalau tadinya dia masih mengandung harapan kelak akan membalas semua ini kepada Gan Seng, kini harapannya itu membuyar bagai asap tertiup angin. Dia sudah kalah mutlak dan sebagai seorang ahli perang, dia pun tahu bahwa ada waktu menang dan ada pula waktu kalah. Dan kali ini, dia benar-benar kalah dan tidak berdaya.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera mengambil pena bulu dan menuliskan surat pengakuan seperti yang dikehendaki oleh Yo Han. Yo Han mendikte dan diturut oleh panglima itu. Setelah selesai, Yo Han mengambil surat itu dan membacanya sekali lagi.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini mengakui sudah mencuri dua benda pusaka, yaitu cap kebesaran dan bendera lambang kekuasaan dari dalam gudang pusaka istana. Perbuatan itu saya lakukan untuk membalas dendam dan mencelakai keluarga Gan Seng, karena lamaran saya terhadap puterinya telah ditolaknya. Kemudian, karena menginsyafi perbuatan saya yang jahat, saya mengembalikan dua buah benda pusaka itu dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga Gan lagi.

Tertanda saya,
PANGLIMA COAN
.

Yo Han menggulung surat pengakuan itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya pula. Diam-diam Coan Ciangkun mengepal tinju. Masih ada harapan untuk menebus kekalahannya, yaitu dengan menghadang pemuda ini, mengerahkan pasukan kemudian menangkapnya sebelum pemuda itu menyerahkan kedua buah benda pusaka itu dan surat pengakuannya kepada Gan Seng. Kalau pemuda ini dapat ditangkapnya, semua itu dapat dirampasnya kembali, maka saat itu dia dapat menebus kekalahannya.

Akan tetapi, harapan terakhir ini pun membuyar seperti gantungan terakhir pada sehelai rambut yang putus ketika pemuda itu memegang lengan kanannya dan berkata dengan lembut tapi nadanya memerintah, “Mari, Ciangkun. Kau antar aku keluar dari gedung ini!”

Tentu saja hatinya protes karena perintah itu merupakan tanda kekalahan terakhir baginya, akan tetapi dia tidak berani membantah dan dengan kepala menunduk, dia pun melangkah keluar dari ruangan itu. Pergelangan tangan kanannya digandeng Yo Han, seperti dua orang sahabat baik berjalan bersama, seakan-akan panglima itu mengantar seorang tamu yang akrab keluar meninggalkan rumahnya!

Para prajurit dan pengawal yang tadinya sudah mengepung gedung itu, kini hanya bisa melongo saja tidak berani bertindak apa-apa karena komandan mereka pun diam dalam seribu bahasa, tidak berani mengeluarkan komando untuk melakukan penyergapan!

Setelah sampai di pintu gerbang depan, Yo Han berkata kepada panglima itu. “Coan Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu. Mudah-mudahan saja engkau tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan selanjutnya. Selamat tinggal!”

Sekali berkelebat, pemuda itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Beberapa orang perwiranya langsung berloncatan keluar dengan pedang di tangan, hendak melakukan pengejaran. Akan tetapi Coan Ciangkun mengangkat tangan kanan ke atas. Dia maklum bahwa pemuda itu terlalu lihai dan kalau dia salah langkah lagi, mungkin dia tidak akan tertolong. Surat pengakuannya tadi merupakan ujung pedang yang sudah ditodongkan di depan dadanya!

“Jangan kejar dia! Biarkan pergi, aku telah kalah,” katanya dengan lemas dan dia pun memasuki gedungnya.

Tentu saja anak buahnya tak ada yang berani melanggar perintah ini. Apa lagi pemuda itu sudah lenyap dan mereka tidak tahu harus mencari dan mengejar ke mana.....

********************

Pada saat Yo Han menyerahkan dua buah benda pusaka itu bersama surat pengakuan yang dibuat Coan Ciangkun, Gan Seng dan isterinya menjadi demikian gembira dan terharu sehingga kalau tidak dicegah oleh Yo Han, mau rasanya mereka menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu!

Yo Han bukan saja sudah menyelamatkan Gan Seng, tetapi juga seluruh keluarganya dari mala petaka yang amat besar! Gan Seng merangkulnya dan kedua matanya basah, sedangkan isterinya sudah menangis saking harunya, dirangkul puteri mereka, Gan Bi Kim, yang juga merasa gembira bukan main.

“Yo Han, engkau sungguh merupakan bintang penolong dan penyelamat keluarga kami. Entah bagaimana keluarga kami akan dapat membalas budimu ini, Yo Han.”

“Aihh, Paman Gan, mengapa bicara seperti itu? Saya hanya melaksanakan tugas saya, yaitu memenuhi perintah dan pesan terakhir dari mendiang Suhu. Kalau Paman hendak berterima kasih, semestinya berterima kasih kepada Suhu Ciu Lam Hok karena saya hanya mewakili beliau saja.”

Nenek Ciu Ceng juga seketika sembuh pada saat mendengar hasil baik yang diperoleh Yo Han dalam menyelamatkan keluarga puteranya. Ketika diberi tahu tentang kematian kakaknya, nenek ini menangis dan menuntut kepada puteranya supaya malam itu juga diadakan sembahyang terhadap arwah kakaknya, mendiang kakek Ciu Lam Hok, yang telah mengirim muridnya dan menyelamatkan mereka.

Melihat ini, Yo Han merasa tidak tega untuk menceritakan keadaan kakek Ciu Lam Hok yang buntung kedua kaki tangannya itu. Biarlah mereka menganggap bahwa suhu hidup sampai saat terakhir dalam keadaan sehat dan berbahagia, pikirnya.

Tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar nenek Ciu Ceng yang bersembahyang di depan meja sembahyang itu menangis sambil berkata dengan suara sungguh-sungguh, seolah-olah suhu-nya masih hidup dan berdiri atau duduk di situ.

“Hok-ko, kami sekeluarga berhutang budi dan nyawa kepada muridmu! Oleh karena itu, ijinkanlah kami untuk mempererat ikatan antara muridmu dengan keluarga Gan Seng, keponakanmu. Kami mohon persetujuanmu agar muridmu dapat menjadi jodoh cucuku Gan Bi Kim.”

Tentu saja Yo Han terkejut bukan main. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apa pun dan diam-diam dia lalu menyingkir dari ruangan itu, menuju ke kamar yang sudah disiapkan untuk dia bermalam di rumah keluarga Gan itu. Dia tidak tahu bahwa gadis cantik itu pun menjadi merah sekali wajahnya dan seperti juga dia, Bi Kim cepat lari memasuki kamarnya.

Malam itu Yo Han tidak dapat tidur pulas. Gelisah dia memikirkan ucapan nenek Ciu Ceng. Ucapan itu bagaikan terdengar terus dan bergema di dalam telinganya. Dia akan dijodohkan dengan Bi Kim!

Terjadi semacam pertempuran di dalam hatinya. Ada suara yang seolah memaksanya untuk membayangkan kesenangan-kesenangan yang akan dinikmatinya bila ia menjadi suami Bi Kim. Dia seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan tidak punya apa-apa, mendadak akan menjadi suami seorang gadis puteri bangsawan!

Bi Kim seorang gadis yang cantik jelita, berdarah bangsawan dan kaya raya. Kalau dia menjadi suaminya, maka sekaligus derajatnya akan terangkat naik tinggi sekali! Ia akan mempunyai seorang isteri yang cantik jelita, dari keluarga bangsawan yang terhormat dan menurut penglihatannya adalah gadis yang baik budi.

Dia akan menjadi orang yang dimuliakan, yang dihormati dan kaya raya. Bahkan besar kemungkinan dia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dan yang lebih dari semua itu, Bi Kim adalah cucu keponakan dari mendiang suhu-nya! Mau apa lagi? Belum tentu selama hidup dia akan mendapat kesempatan sebaik itu, menerima anugerah sebesar itu. Demikian terdengar bisikan di dalam hatinya yang menonjolkan segi-segi yang akan mendatangkan kesenangan bagi hidupnya.

Akan tetapi, ada suara lain lagi yang menentangnya. Suara ini menonjolkan hal-hal yang sebaliknya. Mengingatkan dia bahwa kalau dia menerima perjodohan itu, maka dia akan kehilangan kebebasannya. Dia akan terikat di situ. Dan tiba-tiba saja bayangan seorang anak perempuan yang mungil dan berpakaian merah muncul dalam benaknya. Sian Li!

Bayangan anak ini selalu saja muncul setiap kali hatinya mengalami guncangan atau dalam keadaan kesepian atau gelisah seperti sekarang ini. Sian Li yang manis, yang mungil, yang lincah jenaka, yang amat sayang kepadanya dan amat disayangnya! Dia ingin bertemu kembali dengan Sian Li!

Kalau dia menjadi mantu keluarga Gan di kota raja, dia terpaksa harus tinggal di situ, padahal dia masih harus melaksanakan tugas lain yang dipesan oleh suhu-nya, yaitu mencari mutiara hitam pusaka milik gurunya yang hilang dan kabarnya dibawa seorang kepala suku bangsa Miao! Ah, inilah yang dapat dia jadikan alasan! Mendapatkan jalan untuk digunakan sebagai alasan penolakannya, hatinya tenang dan dia pun dapat tidur pulas menjelang pagi.

Dia hanya tidur selama dua jam saja karena pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika terdengar kokok ayam jantan, dia sudah bangun kembali. Tubuhnya terasa segar. Jauh lebih menyehatkan tidur selama dua jam dengan pulas dari pada tidur semalaman suntuk dalam keadaan gelisah.

Dia segera mandi karena di dalam gedung besar itu selalu tersedia air secukupnya di kamar mandi. Tubuhnya terasa makin nyaman dan ia pun berganti pakaian. Dan melihat bahwa rumah itu masih sunyi, agaknya penghuninya masih tidur, dia pun keluar melalui pintu belakang menuju ke taman bunga yang berada di belakang.

Agaknya, tiap rumah gedung seorang bangsawan atau hartawan pasti memiliki sebuah taman bunga yang indah. Taman bunga milik keluarga Gan itu pun luas dan amat indah, terdapat kolam ikan yang lebar dan anak sungai buatan yang selalu mengalirkan air yang jernih. Ada beberapa buah jembatan yang cantik sekali, dibuat dengan seni indah dan dicat merah kuning. Ada pondok kecil tempat berteduh kalau hawa sedang panas.

Yo Han mengagumi keindahan taman itu dan karena pada waktu itu musim berbunga sedang mulai, maka sebagian besar tanaman di situ mulai berkuncup dan berbunga. Bahkan teratai merah dan putih di kolam ujung juga mekar meriah.

Tiba-tiba Yo Han terkejut dari lamunannya ketika dia melihat seorang wanita berdiri di dekat kolam bunga teratai, berdiri membelakanginya. Tadi dia tidak melihatnya karena serumpun mawar menutupinya dan sekarang dia melihatnya, tetapi sudah terlampau dekat dan selagi dia hendak cepat membalikkan tubuh pergi dari situ, orang itu sudah membalikkan tubuh memandangnya dan menegur.

“Yo-twako (Kakak Yo)...”

Yo Han merasa serba salah. Hendak pergi dapat menimbulkan kesan tidak ramah dan sombong, kalau tinggal di situ dapat dianggap kurang sopan karena bertemu dengan gadis puteri tuan rumah di pagi buta dalam taman. Apa lagi mengingat bahwa semalam, nenek gadis itu menjodohkan dia dengan Bi Kim. Dia cepat merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat.

“Kim-moi (Adik Kim), selamat pagi! Aku tidak tahu bahwa engkau sedang berada di sini, maafkan aku kalau mengganggu ketenanganmu.”

Wajah gadis itu berubah kemerahan dan ia menahan senyumnya sambil memandang dari bawah dengan kepala menunduk. Kerling matanya sungguh amat menarik, kerling sopan dan malu-malu.

“Ahh, Yo-toako mengapa bersikap amat sungkan? Tentu saja tidak mengganggu. Akan tetapi, kulihat sepagi ini engkau sudah bangun, sudah mandi dan berpakaian rapi!”

“Benar, Kim-moi, karena aku hanya menanti sampai orang tuamu dan nenekmu bangun untuk berpamit dari mereka.”

Bi Kim mengangkat muka dan menatap wajah Yo Han sepenuhnya dengan kedua mata terbelalak. Diam-diam Yo Han terpesona. Mata itu demikian indahnya ketika terbelalak. Seperti lukisan! Nampak betapa sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu sedikit terangkat menjauhi mata, dan betapa bulu mata yang halus lebat itu bergerak-gerak menimbulkan bayang-bayang gelap di sekitar mata, dan biji mata itu nampak lebih lebar dari biasanya, begitu bening dan lembut, mengkilat basah.

“Toako... kau... kau mau berpamit? Mau pergi...?”

Sejenak dua pasang mata bertemu dan mata yang terbelalak itu akhirnya menunduk kembali, terbawa muka yang ditundukkan. Dalam suara itu terkandung getaran seperti orang yang menangis sehingga Yo Han menjadi terheran-heran.

Yo Han menganggukkan kepala dan kalau gadis itu masih memandangnya, tentu dia tidak akan mengeluarkan suara, cukup dengan mengangguk saja. Akan tetapi karena gadis itu menunduk dan tidak memandangnya, tentu saja anggukan kepalanya sebagai jawaban itu tidak akan terlihat, dan sikap gadis itu jelas menuntut jawaban.

“Benar, Kim-moi. Aku akan pergi melanjutkan perjalananku,” katanya lirih dan singkat.

Gadis itu mengangkat mukanya dan Yo Han merasa semakin heran. Gadis itu jelas menangis, atau setidaknya berlinang air mata! Sungguh aneh!

“Akan tetapi, semalam nenek...” Tiba-tiba ia menghentikan ucapannya dan menunduk makin dalam, agaknya baru teringat bahwa ia telah mengeluarkan ucapan yang sama sekali tidak pantas.

Ia tidak sengaja berkata demikian. Ucapan neneknya semalam yang menjodohkan dia dengan pemuda ini terngiang di telinganya sepanjang malam, membuat ia tidak dapat tidur dan pagi-pagi ini ia keluar ke taman dengan suara neneknya masih terus mengiang di telinganya. Oleh karena itulah, tanpa disadari dan tanpa disengaja, perasaannya itu terucapkan oleh mulutnya dan biar pun ditahannya, namun ia telah menyebut neneknya dan tentu pemuda itu dapat mengerti. Betapa memalukan!

Memang Yo Han mengerti dan dia pun tertegun. Kiranya seperti juga dia, usul nenek Ciu Ceng itu membuat gadis ini menjadi gelisah!

“Maksudmu, pernyataan nenek Ciu Ceng tentang... perjodohan itu, Kim-moi?

Mendengar betapa ucapan pemuda itu terdengar wajar dan santai saja, perlahan-lahan kecanggungan yang dirasakan gadis itu pun berkurang dan ia berani mengangkat muka memandang wajah Yo Han.

Bi Kim mengangguk dan bertanya lirih, “Bagaimana pendapatmu tentang usul nenek itu?”

Hemm, gadis ini cukup tabah, pikir Yo Han. Dan dia merasa girang sekali.

Memang jauh lebih baik membicarakan urusan ini dengan hati terbuka, dari pada harus menyimpannya dalam hati dan kelak menjadi ganjalan. Dia tahu bahwa Bi Kim adalah seorang gadis terpelajar dan mampu berpikir jauh dan berpandangan luas, tidak sempit seperti gadis-gadis yang tiada pendidikan yang baik.

“Nanti dulu, Kim-moi. Karena usul itu datang dari pihak keluargamu, maka aku ingin sekali mendengar dahulu bagaimana pendapatmu dengan pertanyaan nenek itu. Lebih baik kita bicara dengan terus terang, karena hal ini menyangkut kehidupan kita berdua di masa mendatang. Nah, katakan bagaimana pendapatmu?"

Kembali wajah gadis itu memerah. Biar pun dia bukan gadis dusun dan berpendidikan, akan tetapi bicara tentang urusan perjodohan tentu saja membuat ia merasa kikuk dan malu. Ia kembali menunduk dan suaranya terdengar gemetar dan canggung, juga lirih.

“Apa yang dapat kukatakan, Toako? Engkau telah menyelamatkan keluarga kami. Kalau tidak ada bantuanmu, tentu Ayahku dihukum dan kami yang menjadi keluarganya juga tidak akan lolos dari hukuman. Lebih lagi, kalau tidak ada engkau yang menundukkan panglima jahanam itu, dia tentu akan terus merongrong dan menggangguku. Kini kami bebas dan merasa lega. Semua ini karena pertolonganmu. Tentu saja aku... aku... ahh, bagaimana aku akan dapat menolak? Aku... ehhh… setuju sekali.”

Yo Han mengerutkan alisnya. Dia mengerti akan isi hati gadis itu. Tidak hanya karena ingin balas budi! Memang gadis itu agaknya suka padanya. Hal ini mudah diketahuinya dari pandang matanya dan sikapnya, dan jantungnya sendiri berdebar tegang. Betapa akan senangnya disayang oleh seorang gadis secantik jelita Bi Kim!

Tetapi, kembali wajah seorang anak perempuan berpakaian merah muncul di benaknya, mengusir bayangan menyenangkan dari Bi Kim. Wajah Sian Li! Dan teringatlah dia akan tugasnya yang penting, yaitu mencari mutiara hitam gurunya. Maka, dia pun diam saja, termangu-mangu dan tidak tahu harus bicara apa.

Karena pemuda itu tidak menanggapi pengakuannya tadi, Bi Kim lalu memberanikan diri melawan rasa canggung dan malu, mengangat muka memandang. Dia melihat pemuda itu bengong saja, maka dia pun balik bertanya.

“Bagaimana dengan pendapatmu sendiri, Yo-toako?” suaranya terdengar penuh harap, matanya bersinar-sinar, dan mulutnya membayangkan senyum dikulum. Mulut gadis itu memang hebat, begitu penuh daya tarik, menggairahkan dan menantang.

“Aku...? Ehh, pendapatku? Ahh, bagimana, ya? Kim-moi, pemuda mana yang tidak akan berbangga hati dan merasa bahagia sekali menjadi jodohmu? Engkau seorang gadis bangsawan yang cantik jelita dan orang tuamu berkedudukan tinggi, bangsawan dan hartawan. Selain kecantikanmu, engkau pun berpendidikan dan berbudi baik sekali. Apa lagi yang dikehendaki seorang pemuda dari seorang gadis? Dan sebaliknya, aku hanya seorang pemuda yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa, tidak berpendidikan, bodoh dan miskin. Aku bagaikan seekor burung gagak di samping engkau yang seperti burung dewata! Bagaimana aku berani menjajarkan diriku yang hina dan papa ini dengan dirimu yang begitu mulia dan anggun?”

“Yo-toako!” Bi Kim berseru penuh penasaran dan alisnya yang hitam kecil panjang serta melengkung itu berkerut. “Janganlah engkau merendahkan diri seperti itu! Orang boleh rendah hati, itu baik sekali. Akan tetapi rendah diri? Tidak ada gunanya, Toako. Apa lagi kenyataan menunjukkan bahwa engkau seorang pemuda yang amat lihai, berilmu tinggi, dan di dekatmu orang akan merasa aman tenteram, tidak takut menghadapi ancaman apa pun juga. Dibandingkan dengan engkau, aku seorang gadis yang lemah sekali dan sama sekali tak berdaya menghadapi kejahatan yang merajalela di dunia ini. Aku hanya bertanya mengenai pendapatmu, bukan keadaan dirimu yang kau rendahkan seperti itu, Toako.”

Yo Han tersenyum. Tepat dugaannya. Gadis ini memang pandai dan cerdik, amat pintar berbicara. “Maafkan aku, Kim-moi. Aku bukan merendahkan diri, melainkan menyatakan pendapatku berdasarkan kenyataan. Akan tetapi bukan keadaan itu yang membuat aku terpaksa tidak berani menerima usul dari nenekmu, melainkan karena aku masih harus melaksanakan tugas yang dipesankan mendiang Suhu kepadaku, yaitu mencari sebuah benda pusaka milik Suhu yang dulu hilang dicuri orang.”

Gadis itu nampak kecewa, akan tetapi menutupi perasaannya dengan bertanya serius. “Pusaka apakah yang hilang itu, Toako?”

“Sebuah benda pusaka milik Suhu yang disebut Mutiara Hitam, kabarnya kini berada di tangan seorang kepala suku bangsa Miao. Karena itu, tugas ini harus kulaksanakan dulu sampai berhasil.”

“Dan kalau engkau sudah berhasil dengan tugas itu?” Bi Kim mengejar.

“Kalau sudah berhasil... bagaimana nanti saja. Kelak masih banyak waktu untuk bicara tentang urusan pribadi, Kim-moi. Bukankah jodoh berada di tangan Tuhan? Bila Tuhan menghendaki agar kita... berjodoh, pasti hal itu akan terjadi. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menghendaki, walau direncanakan pun akan gagal. Karena itu, terus terang saja, sebelum aku selesai menunaikan tugas dari mendiang Suhu, aku tidak akan memikirkan soal perjodohan. Maaf, Kim-moi,” katanya dan cepat-cepat menutup ucapannya dengan permintaan maaf karena dia tak ingin menyinggung perasaan gadis itu. Apa lagi melihat wajah gadis itu berubah agak muram.

Sampai lama keduanya tidak bicara, kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Yo Han dan terdengar suaranya yang lirih, “Seorang lelaki akan mudah bicara seperti itu, Toako. Akan tetapi bagaimana mungkin seorang perempuan memiliki pendapat seperti itu? Jika belum ada ikatan dengan seseorang, maka setiap saat orang tua akan menjodohkan seorang gadis dengan pria mana saja yang dianggap baik dan cocok. Dan engkau tentu tahu, sebagai seorang anak yang berbakti, tidak mungkin aku dapat menolaknya. Berbeda halnya kalau seorang gadis sudah terikat, biar pun menanti sampai beberapa tahun pun tidak ada halangannya...”

Yo Han merasa betapa jantungnya berdebar keras. Dari ucapan gadis ini saja sudah mengandung arti pengakuan bahwa gadis itu menginginkan mereka terikat! Ini berarti bahwa gadis ini berharap menjadi calon jodohnya, bahwa gadis ini menaruh harapan kepadanya dan cinta padanya!

Yo Han merasa kasihan. Tidak boleh dia menyia-nyiakan harapan seorang gadis sebaik ini, tidak boleh dia menghancurkan hatinya. Dia harus dapat mencari alasan yang lebih tepat. Teringatlah dia akan Sian Li, akan ayah ibu anak itu, yaitu suhu dan subo-nya, guru-gurunya yang pertama sejak dia kecil sampai dia berusia dua belas tahun!

Bukankah suhu dan subo-nya itu dahulu juga amat sayang kepadanya, bahkan sudah menganggapnya seperti anak mereka sendiri? Sudah lama, sejak menjadi murid Kakek Ciu Lam Hok, dia menyadari sikap suhu dan subo-nya yang tidak ingin melihat Sian Li ketularan sikapnya yang dulu sama sekali tidak suka belajar ilmu silat.

Ia dapat merasakan kekhawatiran kedua orang suami isteri pendekar itu yang tentu saja prihatin sekali melihat murid mereka tidak mau belajar silat, dan melihat betapa mungkin saja Sian Li juga mengikuti jejaknya, tidak mau belajar silat. Karena pengertian inilah sudah lama dia tidak pernah merasa kecewa atau menyesal. Dia meninggalkan suhu dan subo-nya itu bukan karena tidak suka, melainkan karena tidak ingin menyusahkan mereka, tidak ingin mengecewakan mereka kerena Sian Li mencontoh dia, tidak suka belajar ilmu silat.

“Adik Bi Kim. Aku mengerti perasaanmu. Dan ketahuilah bahwa aku akan berbohong kalau tidak mengatakan bahwa setiap orang pemuda akan berbahagia sekali menjadi calon jodohmu. Akan tetapi untuk aku sendiri, aku tidak berani memutuskan, karena aku harus bertanya kepada mereka yang berhak menentukan. Aku pun ingin seperti engkau, menjadi seorang yang berbakti...”

“Yo-toako! Bukankah kau pernah mengatakan bahwa engkau yatim piatu, tidak memiliki ayah dan ibu lagi? Dan gurumu, yaitu kakak dari Nenek juga sudah meninggal dunia, lalu siapa lagi yang berhak menentukan?”

“Belum kuceritakan semua tentang riwayatku kepadamu, Kim-moi. Sebelum menjadi murid mendiang Kakek Ciu Lam Hok, aku sudah mempunyai guru-guru yaitu sepasang suami isteri yang bukan saja mendidikku, akan tetapi juga merawatku sejak aku kecil ditinggalkan orang tuaku. Merekalah yang membesarkan aku, sejak aku berusia tujuh tahun ditinggal oleh ayah ibuku, sampai aku berusia dua belas tahun. Lima tahun aku seolah-olah menjadi anak mereka sendiri dan aku telah menerima budi yang berlimpah dari mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku menganggap mereka sebagai pengganti orang tuaku dan menyerahkan kepada mereka untuk urusan perjodohanku. Nah, sekarang sudah kau ketahui semua, Kim-moi. Aku mohon diri, hari ini aku akan melanjutkan perjalanan mencari pusaka mendiang Guruku. Selamat tinggal dan semoga kelak kita dapat bertemu kembali.”

“Selamat jalan, Toako.” Gadis itu cepat membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan Yo Han, akan tetapi pemuda itu masih sempat mendengar tangisnya.

Yo Han lalu berpamit kepada Nenek Ciu Ceng, Gan Seng dan isterinya. Gan Seng dan isterinya menyambut dengan ramah dan berterima kasih, akan tetapi Nenek Ciu Ceng tanpa sungkan kemudian bertanya, “Yo Han, engkau murid kakakku yang baik. Sebelum engkau pergi, engkau harus lebih dulu menyatakan kesediaanmu menerima permintaan kami.”

Berdebar rasa jantung dalam dada Yo Han. Tadinya dia mengira bahwa nenek itu lupa akan ucapannya ketika bersembahyang di depan meja sembahyang untuk gurunya. Kiranya pada saat ini, nenek itu mengajukan desakan yang membuat dia merasa serba salah. Dia melirik kepada Bi Kim yang berdiri di sudut sambil menundukkan mukanya, karena baik dia dan gadis itu tahu apa yang dimaksudkan oleh nenek itu. Tetapi, untuk memberi kesempatan baginya menenangkan hatinya yang terguncang karena tegang dia berkata,

“Permintaan apakah yang Nenek maksudkan?”

“Apa lagi, Yo Han? Engkau telah menyelamatkan keluarga kami, dan kami tidak berani minta apa-apa lagi. Hanya satu, yaitu kami harap engkau suka menerima cucuku Bi Kim menjadi jodohmu...”

“Nenek...!” Bi Kim terisak dan lari ke dalam kamarnya.

Melihat ulah gadis itu, Nenek Ciu Ceng terkekeh. “Heh-heh-heh, malu-malu berarti mau. Bagaimana, Yo Han? Engkau harus memberi keputusan dulu supaya hati kami merasa lega.”

Melihat pemuda itu termenung, hati Gan Seng yang merasa tidak enak melihat ibunya seperti mendesak dan memaksa, lalu berkata dengan suara lembut. “Yo Han, tentu saja kami tidak memaksamu. Kami tentu akan merasa berbahagia sekali kalau engkau suka menerima anak kami sebagai calon isterimu, akan tetapi andai kata engkau tidak suka, kami pun tidak dapat memaksamu.”

Justru ucapan yang lembut dari pembesar ini lebih berat rasanya bagi Yo Han. Bagai mana mungkin dia mengatakan tidak suka dan menolaknya? Dia cepat memberi hormat kepada tiga orang itu.

“Nenek, Paman dan Bibi yang baik, harap maafkan saya. Sungguh saya tak akan berani menolak, bahkan merasa terharu dan berterima kasih sekali atas kebaikan penghargaan Sam-wi (Anda Bertiga) yang sudi mencalonkan saya yang yatim piatu dan papa ini sebagai anggota keluarga. Akan tetapi maafkan, saya belum dapat memberi keputusan sekarang. Pertama, saya harus menyelesaikan tugas yang diberikan mendiang Suhu, yaitu menemukan kembali pusaka milik Suhu yang dulu dicuri orang. Ke dua, mengenai perjodohan, saya harus menyerahkannya kepada Suhu dan Subo saya yang pertama yang sudah menjadi seperti pengganti orang tua saya sebelum saya berguru kepada mendiang Suhu Ciu Lam Hok.”

“Baiklah, Yo Han,” kata Gan-taijin (Pembesar Gan) mendahului agar ibunya tak sempat mengeluarkan ucapan yang sifatnya memaksa atau menyudutkan pemuda itu. “Kami sekeluarga akan menanti berita darimu setelah engkau dapat membuat keputusan.”

“Terima kasih, Paman. Sekarang saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan saya.”

Setelah memberi hormat lagi, Yo Han mulai melangkah keluar. Akan tetapi terdengar suara nenek Ciu Ceng, “Ingat, Yo Han. Kami sudah menganggapmu sebagai calon suami cucuku Bi Kim. Kami akan menolak pinangan dari mana pun juga datangnya dan selalu menunggumu!”

Gan Seng dan isterinya tidak sempat mencegah dan ucapan itu berkesan dalam sekali di hati Yo Han. Mereka sudah menganggap dia tunangan Bi Kim dan ini berarti bahwa gadis itu tidak bebas lagi! Dia ingin membantah, akan tetapi merasa tidak enak, maka merasa lebih aman tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah keluarga pembesar tinggi itu.

Setelah Yo Han pergi, sampai dua hari lamanya Gan Bi Kim tidak pernah meninggalkan kamarnya. Ia merasa semangatnya melayang ikut pergi bersama pemuda yang sangat dikaguminya dan yang telah menjatuhkan cinta hatinya itu. Ia merasa kehilangan, apa lagi karena jawaban pemuda itu membuat dia tidak yakin akan perjodohannya dengan pemuda itu.

Setelah dapat menenteramkan hatinya, ia lalu menghadap ayahnya dan merengek agar ia dicarikan guru-guru silat yang pandai karena ia ingin belajar ilmu silat.

“Ahhh, engkau ini aneh-aneh saja, A-kim,” kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya. “Engkau seorang puteri bangsawan, engkau sudah mempelajari semua ilmu kepandaian yang sepatutnya dimiliki seorang puteri. Apa lagi yang hendak kau pelajari? Apa lagi dari seorang guru silat? Ilmu silat hanya akan membuat telapak tanganmu yang halus menjadi kasar, tubuhmu yang lembut menjadi kaku!”

“Ayah, lupakah Ayah akan mala petaka yang baru saja menimpa keluarga kita? Semua itu terjadi karena kita lemah! Untung ada Han-ko datang menolong. Andai kata tidak, bagaimana? Coba andai kata aku pandai ilmu silat, tentu sudah kuhajar Coan Ciangkun yang jahat itu. Ayah, kalau aku pandai ilmu silat, setidaknya aku akan dapat menjaga keamanan keluarga kita.”

“A-kim,” kata ibunya membujuk. “Aku ingin anakku menjadi seorang wanita yang halus lembut dan bijaksana, bukan menjadi tokoh rimba persilatan yang kaku dan kasar!”

“Tetapi Ibu agaknya lupa bahwa Koko Yo Han juga seorang tokoh rimba persilatan, seorang pendekar yang mempunyai ilmu silat yang amat tinggi. Bagaimana kalau aku dijodohkan dengan dia lalu sama sekali aku tidak tahu ilmu silat, bahkan hanya seorang gadis yang sangat lemah? Ingatlah, Ayah. Bukankah Uwa kakek Ciu Lam Hok adalah seorang sakti? Masa aku sebagai cucu keponakannya tidak mengerti ilmu silat? Ayah, carikan guru silat yang lihai untukku!”

Alasan-alasan yang dikemukakan puteri mereka yang setiap hari merengek itu akhirnya menggerakkan hati Gan Seng. Sebagai seorang pejabat tinggi yang dekat dengan istana, Gan-taijin mengenal para jagoan istana yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia lalu menghubungi para jagoan itu dan mulai hari itu, Gan Bi Kim belajar ilmu silat dan ternyata gadis ini memiliki bakat yang baik di samping ketekunan yang luar biasa. Ketekunan itu timbul setelah keluarga tertimpa mala petaka, setelah dara ini bertemu dengan Yo Han yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dengan bayaran tinggi yang dapat dipenuhi oleh Gan Seng, guru-guru silat jagoan istana itu bertambah gembira melihat betapa gadis puteri bangsawan itu ternyata memiliki bakat yang amat baik dan dapat menjadi murid yang akan menambah tinggi derajat mereka. Bahkan banyak jagoan istana seperti berlomba untuk mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada gadis bangsawan yang berbakat dan amat rajin ini.....

********************

Bangau Merah terbang di angkasa
disengat terik matahari senja
betapa ingin aku menjadi awan
untuk melindunginya,
dari sengatan!

Bangau Merah melayang di angkasa
hujan lebat datang menimpanya
betapa ingin aku menjadi goa
tempat berteduh bangau jelita!

Bangau Merah meluncur di angkasa
letih dan lapar datang menggoda
betapa ingin aku menjadi ranting berbuah
tempat ia istirahat dengan makanan berlimpah

Bangau Merah...


“Heiiii! Engkau sedang mengapa di situ, Suheng? Dari tadi kudengar menyebut-nyebut nama samaranku. Engkau dari tadi menyebut Bangau Merah!”

Gadis itu muncul dan memang dia berpakaian serba merah dengan garis-garis kuning dan biru. Pakaian itu ringkas, sederhana bentuknya, tetapi terbuat dari sutera merah yang membuat penampilannya amat cerah dan wajahnya nampak lebih manis, kulitnya menjadi semakin mulus.

Dia seorang gadis berusia tujuh belas tahun, baru manis-manisnya, bagai bunga mulai mekar dan bagaikan buah sedang meranum. Dara ini memang cantik jelita, dengan wajah yang berbentuk bulat telur, matanya lebar dan jeli, hidungnya mancung dengan ujung menantang, mulutnya yang kecil dengan bibir tipis lembut yang selalu kemerahan tanda sehat itu selalu tersenyum mengejek sehingga sering kali lesung kedua pipinya nampak memikat.

Memang sejak kecil ia disebut Bangau Merah karena ia suka sekali memakai pakaian berwarna kemerahan dan ia puteri tunggal Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sangat terkenal itu. Kalau ayahnya hampir selalu mengenakan pakaian putih, dara ini selalu mengenakan pakaian berwarna merah. Namanya Tan Sian Li.

Seperti telah kita ketahui, Sian Li diminta oleh paman kakeknya, yaitu pendekar sakti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, untuk mewarisi ilmu silat mereka. Suma Ceng Liong adalah adik dari nenek Sian Li yang bernama Suma Hui, yaitu nenek dari ibunya.

Meski pun ayah Sian Li sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan tidak kalah dibandingkan ilmu kepandaian Suma Ceng Liong, namun dia dan isterinya merasa tidak enak untuk menolak niat baik paman mereka itu. Apa lagi, Suma Ceng Liong merupakan keturunan dari keluarga Pendekar Pulau Es dan memiliki ilmu kepandaian yang khas, sedangkan isterinya juga seorang pendekar wanita sakti, puteri dari Pendekar Suling Emas Kam Hong.

Telah lima tahun Sian Li digembleng oleh suami isteri itu di dusun Hong-cun, luar kota Cin-an di Propinsi Shantung. Setiap satu tahun sekali, jatuh pada hari tahun baru, ayah ibunya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, selalu datang berkunjung.

Melihat bakat yang baik dari Sian Li, apa lagi karena dara ini sejak kecil telah mendapat pendidikan dasar yang amat kuat dari ayah ibunya, maka suami isteri itu mengajarkan ilmu-ilmu silat simpanan mereka kepada dara itu sehingga selama belajar lima tahun lamanya, Sian Li sudah menjadi seorang gadis yang amat lihai. Bahkan kelihaiannya melampaui tingkat yang dimiliki suheng-nya, yaitu Liem Sian Lun.

Pemuda berusia dua puluh tahun yang bersajak tadi adalah Liem Sian Lun, suheng-nya. Sian Lun kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi besar, gagah dan tampan. Wajahnya selalu cerah dan dia pun pendiam tidak banyak bicara, kecuali kalau diajak bicara tentang sajak. Dia amat suka dan pandai membuat sajak.

Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, memang tidak mengabaikan pendidikan sastra terhadap Sian Lun dan Sian Li. Mereka mengundang guru sastra yang pandai untuk mengajarkan ilmu sastra yang lebih mendalam kepada dua orang murid itu.

Senja itu memang cerah dan indah. Sejak tadi sebelum Sian Li mancari, Sian Lun sudah duduk termenung seorang diri di lereng bukit yang berada di luar dusun Hong-cun itu. Tempat ini merupakan tempat kesayangannya, di mana dia dan sumoi-nya sering kali bermain-main sejak Sian Li berusia dua belas tahun dan datang ke tempat itu.

Bukit yang tidak besar, namun berada di lereng bukit itu, pemandangan alamnya amat indah. Mereka dapat melihat dusun Hong-cun di kaki bukit dan mereka dapat menikmati keindahan senja kala di situ karena lereng bukit itu berada di sebelah barat.

Ketika tadi melihat keindahan senja yang cerah, melihat burung-burung bangau terbang melayang di angkasa melintasi matahari senja, agaknya hendak pulang ke sarangnya, teringatlah Sian Lun kepada sumoi-nya. Sumoi-nya itu diberi julukan Bangau Merah oleh suhu dan subo-nya. Julukan yang tepat sekali oleh karena sumoi-nya selalu berpakaian merah. Sumoi-nya juga puteri Pendekar Bangau Putih dan jika sudah bersilat, gerakan sumoi-nya demikian indah, seindah gerakan burung bangau yang sedang terbang.

Maka, keindahan dan lamunan telah membuat dia bersajak tentang bangau merah dan tentang keinginan hatinya untuk menjadi pelindung bagi Sang Bangau Merah! Sajak ini merupakan cetusan hatinya karena diam-diam Liem Sian Lun telah jatuh cinta setengah mati kepada sumoi-nya, Si Bangau Merah!

Walau pun dia belum berani menyatakan isi hatinya secara berterang kepada Sian Li, namun dia sudah yakin bahwa sumoi-nya tentu tak akan menolak cintanya. Dia bahkan sudah yakin bahwa kelak sumoi-nya pasti akan menjadi isterinya, dan diam-diam dia menganggap sumoi-nya telah menjadi tunangannya!

Keyakinan ini diperkuat ketika secara tidak sengaja dia mendengar percakapan antara suhu dan subo-nya dari luar kamar mereka. Ketika itu, pada malam hari, dia lewat di depan kamar mereka dan suara mereka menembus jendela kamar sehingga tertangkap oleh pendengarannya.

“Kebetulan nama mereka juga mirip. Sian Lun dan Sian Li! Akan tetapi bagaimana kalau orang tuanya tidak setuju?” terdengar suhu-nya berkata. Mendengar namanya disebut, Sian Lun memperlambat langkahnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Aku percaya keponakanku tentu akan setuju. Apa lagi kalau kita jamin bahwa Sian Lun adalah seorang anak yang baik sekali. Kulihat mereka itu berjodoh.”

“Aihh, jodoh di tangan Tuhan. Jangan mendahului kehendak Tuhan,” kata suhu-nya dan mereka pun tidak bicara lagi.

Sian Lun tidak berani berhenti, hanya memperlambat jalannya sehingga andai kata suhu dan subo-nya mendengar tangkahnya, tentu mereka tidak akan menduga bahwa dia ikut mendengarkan percakapan mereka. Dan sejak mendengar percakapan itu, beberapa bulan yang lalu, dia merasa yakin bahwa Sian Li kelak pasti akan menjadi isterinya!

Akan tetapi, Sian Li amat manja dan lincah galak. Apa lagi ia tahu betapa suheng-nya amat menyayangnya, juga kakek dan nenek yang menjadi gurunya. Terhadap Sian Li, Sian Lun agak takut dan penurut, dan hal ini membuat Sian Li semakin manja. Sikap manja yang di dalam pandangan Sian Lun bahkan membuat dara itu menjadi semakin menggemaskan dan menarik hati.

Cinta birahi kalau sudah mencengkeram hati seseorang, membuat orang itu menjadi badut. Ulah tingkahnya menjadi lucu dan tidak wajar lagi. Mulut cemberut seorang yang dicinta akan nampak semakin manis, bahkan ada pula kelakar yang kasar mengatakan bahwa kentut seorang kekasih berbau sedap! Sebaliknya, senyum ramah seorang yang dibenci akan nampak mencemooh dan dianggap senyum itu mengejek dan mentertawai sehingga menimbulkan amarah!

Sian Lun terkejut ketika dia sedang melamun dan membaca sajak yang timbul di saat yang romantis itu, tiba-tiba dia ditegur oleh Sian Li yang kemunculannya tidak diduga sebelumnya. Saking kagetnya dia hanya menoleh dan memandang kearah dara yang nampak lebih cantik dari pada biasanya itu, segar habis mandi seperti setangkai bunga bermandikan embun.

Melihat pemuda itu tak menjawab pertanyaannya dan hanya bengong memandangnya, Sian Li cemberut.

“Heiii, Suheng, engkau ini kenapa sih? Tadi menyebut-nyebut Bangau Merah berulang kali, sekarang engkau hanya bengong tanpa menjawab pertanyaanku!”

“Sumoi... aihh, engkau... engkau demikian cantik... indah sekali, ahh, pantasnya engkau seorang dewi kahyangan yang baru turun melalui cahaya yang keemasan...”

Kalau saja tidak timbul kebanggaan oleh pujian ini, tentu Sian Li sudah tertawa geli. “Ahhh, yang benar, Suheng!” katanya memancing pujian lebih banyak.

Sian Lun benar terpesona dan matanya menatap tanpa pernah berkedip, seolah takut kalau berkedip, keindahan di depannya itu akan lenyap. Dara itu berdiri menghadap matahari senja, sepenuhnya diselimuti cahaya keemasan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner