SI BANGAU MERAH : JILID-21


“Sungguh, Sumoi... rambutmu yang hitam itu kini dilingkari sinar kekuningan, wajahmu mencorong oleh sinar keemasan, engkau tampak begitu segar, begitu hidup, berkilauan, matamu bercahaya, senyummu... duhai, Sumoi, betapa cantik jelita engkau...” Sian Lun tidak biasa merayu, akan tetapi kali ini dia terpesona dan seperti dalam mimpi rasanya.

“Ahhh, masa...?” Sian Li berseru manja, haus pujian selanjutnya.

“Sumoi, engkau laksana dewi yang bermandikan cahaya keemasan, cantik jelita, amat mempesona dan...”

“Aiih, sudah-sudah! Bisa terbang melayang ke angkasa aku oleh pujianmu. Mengapa sih tiba-tiba kau memuji-mujiku seperti ini? Engkau tadi bersajak tentang Burung Bangau Merah, sekarang engkau merayuku setengah mati. Apa engkau mabok Suheng?”

Sian Lun menghela napas panjang. Sikap dan ucapan Sian Li membuyarkan suasana romantisnya, menariknya dengan kasar kembali ke bumi yang keras. Dia menarik napas panjang dan wajahnya berubah merah karena mengenangkan sikap dan kata-katanya tadi membuat dia merasa rikuh dan malu. Kalau dia masih terpesona seperti tadi, tentu akan dijawabnya bahwa dia memang mabok akan kecantikan sumoi-nya itu. Akan tetapi sekarang dia sudah sadar dan dia takut kalau-kalau sumoi-nya menjadi marah.

“Aku tidak mabok, Sumoi. Semua itu kulakukan saking sayangnya aku kepadamu.”

Sian Li tersenyum. Gadis berumur tujuh belas tahun yang sejak kecil digembleng ilmu silat dan kurang berpengalaman ini masih belum sadar dan belum mengerti akan cinta kasih antara pria dan wanita. Yang dikenalnya hanya rasa sayang kepada orang-orang yang dekat dan akrab dengannya.

“Tentu saja engkau sayang padaku, Suheng. Bukankah aku ini sumoi-mu? Kalau tidak sayang, percuma engkau menjadi Suheng-ku.”

Jawaban ini demikian wajar dan Sian Lun merasa betapa kecewa hatinya. Gadis ini belum tahu! Belum tahu bahwa sayangnya bukan seperti suheng terhadap sumoi, bukan seperti kakak terhadap adiknya, melainkan sayang yang disertai dendam rindu, disertai birahi seorang pria terhadap wanita!

“Aku sangat sayang padamu, Sumoi, entah apakah engkau pun sayang padaku.”

“Tentu saja! Kenapa engkau masih bertanya lagi, Suheng? Kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk mengetahui hal itu. Sejak lima tahun yang lalu kita bersama-sama latihan silat di sini, belajar sastra, dan bermain bersama-sama. Nah, sekarang kalau memang engkau sayang kepadaku...”

“Apa yang harus kulakukan? Katakanlah, Sumoi,” kata Sian Lun dengan penuh gairah dan harapan. Untuk menunjukkan rasa sayang, disuruh apa pun dia mau, apa lagi kalau disuruh memondong tubuh itu, biar sehari penuh pun dia bersedia.

“Aku haus dan ingin makan buah leci, Suheng. Kau carikanlah untukku, di lereng utara sana banyak pohon lecinya.”

“Baik, akan kucarikan, Sumoi. Kau tunggu saja sebentar di sini.”

Sian Lun lalu meloncat jauh dan berlari cepat melintasi bukit menuju ke utara di mana terdapat kebun pohon leci yang amat luas, milik seorang hartawan yang tinggal di kota Cin-an. Ia sudah mengenal baik penjaga kebun itu dan pasti akan diberi kalau dia minta buah leci sekedar untuk dimakan.

Setelah pemuda itu pergi, Sian Li duduk termenung sambil tersenyum-senyum. Hatinya merasa gembira sekali oleh pujian-pujian tadi. Ia merasa bangga. Suheng-nya memang seorang kakak seperguruan yang amat baik kepadanya.

Semenjak dia berada di situ, lima tahun yang lalu, suheng-nya selalu bersikap baik dan mengalah kepadanya. Suheng-nya itulah yang membuat ia tak merasa kesepian tinggal di rumah paman kakeknya, membuat ia tidak merasa bosan mempelajari ilmu silat dari suami isteri yang sakti itu. Bersama suheng-nya itu dia dapat berlatih silat, mempelajari sastra, dan bermain-main.

Suheng-nya adalah seorang pemuda yang tinggi besar, gagah dan tampan, dan selalu melindunginya. Bahkan pernah suheng-nya itu mengejar beberapa orang pemuda kota yang berkunjung ke dusun Hong-cun dan bersikap kurang ajar kepadanya. Dia sendiri tidak mau melayani mereka, akan tetapi suheng-nya marah-marah dan menghajar lalu melempar-lemparkan tujuh orang pemuda kota itu ke dalam air Sungai Kuning! Ia sama sekali tidak tahu bahwa perbuatan Sian Lun itu terdorong oleh cemburu!

Tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada sesosok tubuh orang yang tertatih-tatih mendaki lereng itu. Seorang pria yang sudah tua sekali. Tadinya dia mengira paman kakeknya Suma Ceng Liong yang mencarinya. Akan tetapi setelah agak dekat, ternyata bukan.

Dia seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih. Pakaiannya model pakaian sastrawan akan tetapi pakaian itu penuh tambalan walau pun amat bersih. Dia mendaki lereng itu dibantu sebatang tongkat. Rambut dan cambang serta jenggot dan kumisnya sudah putih semua, membuat dia nampak tua dan lemah.

Dalam jarak dua puluh meter, kakek itu berhenti, berdiri menekan tongkat dengan kedua tangan, mengangkat muka memandang ke arah Sian Li dan berkata dengan nada suara lembut gembira, “Ahh, tidak salah lagi. Engkau tentu Ang-ho-li (Nona Bangau Merah)!”

Sian Li mengerutkan alisnya. Tidak banyak orang tahu bahwa ia diberi nama julukan itu. Yang mengetahuinya hanyalah ayah ibunya, paman kakeknya berdua, juga suheng-nya. Bagaimana kakek ini begitu muncul menyebutkan nama julukannya itu?

“Kek, siapakah engkau dan dari mana engkau tahu bahwa aku disebut Bangau Merah?” Suaranya terdengar galak dan pandang matanya penuh selidik.

“Siancai...! Dahulu engkau seorang bocah yang mungil lincah, sekarang sudah menjadi seorang gadis yang lincah dan galak! Hei, Dewi Baju Merah, apakah engkau benar telah lupa kepadaku? Beberapa tahun yang lalu kita pernah saling jumpa di rumah kakekmu, di Pao-teng.”

Sian Li memandang penuh perhatian dan wajahnya berubah seketika. Wajahnya kini cerah dan berseri-seri, senyumnya menghias wajah yang manis itu, membentuk lesung mungil di kedua pipinya.

“Aihh, kiranya Locianpwe Yok-sian Lo-kai...!” Ia pun bangkit dan cepat memberi hormat kepada kakek tua renta yang pakaiannya penuh tambalan itu.

“Ha-ha-ha, memang aku adalah Lo-kai (Pengemis Tua) itu! Dan aku telah mencarimu ke rumah ayah ibumu di Ta-tung, lalu menyusul ke Hong-cun. Kakek dan nenekmu yang kini menjadi guru-gurumu mengatakan bahwa engkau tentu berada di lereng bukit ini. Aku segera menyusul ke sini. Siancai... engkau telah menjadi seorang gadis yang lihai dan manis. Dan aku datang untuk menagih janji, ingat?”

“Tentu saja aku ingat, Locianpwe. Dan aku sudah siap sedia untuk menerima pelajaran ilmu pengobatan dirimu.”

Kakek itu tertawa gembira dan pada saat itu muncullah Sian Lun yang membawa buah leci yang sudah masak dan cukup banyak. Melihat sumoi-nya tertawa-tawa dengan seorang kakek yang tidak dikenalnya, dia mengerutkan alisnya.

“Sumoi, siapakah kakek jembel ini?” tanyanya tak senang. Entah mengapa, setiap kali melihat sumoi-nya beramah tamah dengan seorang laki-laki, tidak peduli laki-laki itu tua atau muda, dia merasa tidak senang, merasa cemburu!

“Hushhh, Suheng, jangan sembarangan engkau memanggil orang! Locianpwe ini adalah guruku, tahu engkau?” bentak Sian Li marah.

Sian Lun cepat memberikan buah-buah leci itu kepada sumoi-nya, lalu dia memberi hormat kepada kakek itu. Dia terkejut bukan main, juga amat heran mendengar ucapan sumoi-nya.

“Ahhh, harap Locianpwe suka memaafkan saya yang bersikap tidak sopan,” katanya. Bagaimana pun juga, Sian Lun bukan hanya mempelajari ilmu silat, akan tetapi juga sastra dan tata susila.

Kakek itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Siancai... kiranya Taihiap (Pendekar Besar) Suma Ceng Liong dan isterinya yang gagah perkasa mempunyai seorang murid yang begini gagah. Tidak mengapa, orang muda. Hanya lain kali jangan terburu nafsu menyangka buruk kepada orang lain.”

Wajah Sian Lun berubah merah dan sekali lagi dia memberi hormat. “Maafkan saya, Locianpwe. Sumoi, engkau tidak pernah bercerita kepadaku tentang suhu-mu yang satu ini. Siapakah beliau ini?”

Sian Li menyodorkan buah-buah leci itu kepada Yok-sian Lo-kai dan berkata, “Suhu, silakan makan. Buah-buah leci ini baru saja dipetik, masih segar dan manis.”

Kakek itu tanpa sungkan lagi mengambil beberapa butir buah leci.

Sian Li lalu menghadapi suheng-nya. “Suheng, Suhu-ku ini ialah Yok-sian Lo-kai. Lima tahun yang lalu Suhu ini berjanji akan mengajarkan ilmu pengobatan kepadaku dan hari ini dia datang memenuhi janjinya.”

Kembali Sian Lun terkejut. Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama besar Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini, yang terkenal bukan hanya karena pandai ilmu pengobatan, akan tetapi juga karena ilmu silatnya, terutama ilmu totok jalan darah yang amat lihai.

“Locianpwe, sekali lagi maafkan atas sikapku tadi. Sumoi, harap kau maafkan aku dan jangan sampaikan kepada Suhu dan Subo tentang sikapku yang tidak benar tadi.”

Sian Li cemberut. “Tentu saja akan kuberi tahukan kepada Kakek dan Nenek. Engkau tadi sudah berani menyebut Guruku kakek jembel!” Sian Li yang amat manja terhadap suheng-nya itu mengancam.

Yok-sian Lo-kai tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, engkau keliru, Sian Li. Engkau tidak boleh melapor kepada siapa pun juga. Suheng-mu sudah mengakui kesalahannya dan minta maaf, hal itu menunjukkan bahwa dia berani bertanggung jawab serta menyesali dan menyadari kesalahannya. Selain itu, juga aku lebih suka disebut Jembel Tua dari pada Dewa Obat, heh-heh-heh! Memang julukanku Jembel Tua, kenapa engkau harus marah mendengar aku disebut Jembel Tua oleh suheng-mu? Ha-ha-ha!”

“Baiklah, melihat muka Suhu, aku mau menyudahi perkara ini sampai di sini saja. Nah, sekarang cepat kau beri tahukan kepada Kakek dan Nenek bahwa aku sudah bertemu Suhu Yok-sian Lo-kai dan akan pulang belakangan.”

“Baik, Sumoi. Locianpwe, saya pergi dulu,” kata Sian Lun dengan hati lega.

Kalau sumoi-nya itu mengadu kepada suhu dan subo-nya, tentu dia akan mendapatkan teguran keras. Dia lalu berlari cepat turun dari lereng bukit, diikuti pandang mata kakek itu yang masih tersenyum.

“Suheng-mu sudah memiliki kepandaian yang tinggi, ilmunya berlari cepat cukup hebat,” kakek itu memuji.

“Ahhh, dia masih terlalu lambat,” kata Sian Li.

Jawaban ini menunjukkan bahwa gadis ini tentu dapat berlari lebih cepat dibandingkan suheng-nya dan diam-diam kakek itu kagum. Dia percaya bahwa di bawah gemblengan suami isteri sakti seperti Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, apa lagi mengingat bahwa ia puteri Pendekar Bangau Putih, tentu gadis berpakaian merah ini menjadi lihai bukan main. Dia pun bangga kalau dapat menurunkan ilmu-ilmunya kepada dara ini.

“Sian Li, aku ingin memberi tahu sedikit kepadamu tentang suheng-mu itu.”

Sian Li yang sedang makan leci menghentikan gerakan mulutnya dan segera menoleh, memandang kepada kakek itu. “Apa yang Suhu maksudkan? Suheng sudah bersikap kasar, dan dia memang pantas ditegur dan...”

“Hal itu sudah lewat dan tidak perlu dibicarakan lagi, Sian Li. Hanya satu hal yang ingin kuperingatkan padamu tentang suheng-mu itu. Engkau berhati-hatilah dengan sikapmu, karena dia amat sayang kepadamu.”

“Tentu saja dia sayang padaku, Suhu. Bukankah dia itu Suheng-ku? Kenapa aku harus berhati-hati dengan sikapku?”

“Dan bagaimana dengan engkau sendiri? Sayangkah engkau kepada suheng-mu?”

Dara itu memandang Yok-sian dengan sinar mata keheranan. Pertanyaan yang aneh, pikirnya.

“Tentu saja aku sayang kepada Suheng, Suhu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Dia berlatih bersamaku, belajar bersamaku dan bermain bersamaku sejak lima tahun yang lalu dan dia amat baik kepadaku.”

Kakek itu tersenyum maklum. Dara ini masih hijau, masih amat polos dan belum pernah mengalami cinta birahi, maka kasih sayangnya terhadap suheng-nya itu adalah kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya.

“Maksudku, dia pencemburu besar. Jangan bersikap terlalu ramah kepada laki-laki lain kalau engkau tidak ingin melihat dia marah-marah.”

“Aihhh, itulah yang aneh, Suhu! Pernah ada beberapa orang pemuda menggodaku dan Suheng demikian marahnya sampai dia mengamuk dan hampir saja membunuhi orang-orang itu kalau tidak kularang...“

Kakek itu merasa heran. Dari sikap pemuda itu tadi saja dia sudah mengerti bahwa pemuda itu sudah jatuh cinta kepada sumoi-nya, dan agaknya cintanya berkobar-kobar panas sekali, membuat dia menjadi seorang pencemburu besar sehingga ketika melihat sumoi-nya beramah tamah dengan seorang kakek seperti dia pun pemuda tadi sudah tidak senang.

“Itu namanya cemburu, maka engkau harus dapat menjaga sikapmu.”

Sian Li mengangguk, padahal dia tidak mengerti mengapa suheng-nya bersikap seperti itu. ”Mari kita pulang, Suhu.”

Mereka lalu menuruni lereng dan agaknya Yok-sian sengaja hendak menguji ilmu berlari cepat muridnya. Dia sendiri lalu mengerahkan tenaganya, menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehingga larinya cepat sekali, sungguh tak sesuai dengan usianya yang sudah demikian lanjut.

Namun, walau pun baru berusia tujuh belas tahun, Sian Li sejak kecil digembleng dan ditangani orang-orang sakti. Mula-mula oleh ayah ibunya sendiri, kemudian oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, suami isteri yang pernah menggegerkan dunia persilatan dengan kelihaian mereka. Maka tidak terlalu mengherankan kalau dara itu bukan saja mampu mengimbangi kecepatan lari Yok-sian Lo-kai, bahkan pada waktu tiba di rumah kakeknya, Dewa Obat itu tertinggal beberapa ratus meter di belakangnya!

Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng menyambut mereka di depan rumah sambil tertawa melihat dara dan kakek itu berlari-larian, juga Sian Lun telah berada di dekat gurunya. Yok-sian Lo-kai terkekeh sambil terengah ketika tiba di depan mereka.

“Aihhh... aku sudah tua, bagaimana mungkin dapat menandingi kecepatan Si Bangau Merah?”

“Aihh, janganlah merendahkan diri, Suhu!” berkata Sian Li. “Suhu datang bukan untuk mengajarkan ilmu lari kepadaku, melainkan ilmu pengobatan!”

Semua orang tertawa mendengar ini, juga Sian Lun tersenyum. Baru terasa olehnya betapa dia tadi telah terburu nafsu, merasa iri hati atau cemburu melihat sumoi-nya beramah tamah dengan kakek itu.

Demikian, mulai hari itu, Yok-sian Lo-kai mulai mengajarkan ilmu pengobatan kepada Sian Li. Bukan saja pengetahuan tentang ramuan obat untuk berbagai penyakit, juga kakek itu mengajarkan pengobatan dengan tusuk jarum, dengan totokan dan pijatan. Dan yang amat menggembirakan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, juga tentu saja Sian Li sendiri, kakek itu bahkan juga mengajarkan It-yang Sin-ci, yaitu ilmu totok dengan sebuah jari yang pernah membuat nama kakek itu terkenal di dunia persilatan.

Sian Li amat berbakat, dan sudah memlliki dasar yang kuat, maka dalam waktu tiga bulan saja dara ini telah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Yok-sian Lo-kai kepadanya.

Kakek itu merasa kagum dan juga girang bukan main melihat kecerdasan muridnya. Dia merasa puas bahwa akhirnya ada seorang murid yang cocok untuk mewarisi ilmunya. Setelah memesan kepada muridnya agar kelak mempergunakan ilmu-ilmunya itu untuk kebaikan, untuk menolong orang sakit di samping tugasnya sebagai pendekar wanita penentang kejahatan, Yok-sian Lo-kai lalu pergi meninggalkan rumah Suma Ceng Liong untuk bertapa ke Liong-san dan menghabiskan sisa hidupnya dalam ketenangan. Dia memberikan jarum emas dan peraknya kepada Sian Li.

Suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng mengantar kepergian Dewa Obat itu dengan perjamuan sederhana namun meriah, dan atas nama cucu keponakan mereka, suami isteri ini mengucapkan terima kasih mereka.

Biar pun ia sudah menguasai ilmu totok It-yang Sin-ci, namun tentu saja Sian Li hanya baru menguasai cara dan teori penggunaan ilmu itu saja, belum matang karena ia harus banyak berlatih untuk mematangkan ilmu totokan yang dahsyat itu. Demikian pula ilmu pengobatan dengan tusuk jarum dan pijatan jari tangan, harus ia latih. Namun, ia telah menguasai cara berlatih untuk ilmu-ilmu itu.....

********************

Liem Sian Lun harus mengerahkan seluruh tenaga, kecepatan gerak dan mengeluarkan semua kemampuannya untuk bisa mengimbangi sumoi-nya. Gerakan Sian Li luar biasa cepatnya, bagai seekor burung merah yang cekatan sekali berkelebat, bahkan kadang lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah diselimuti gulungan sinar pedangnya.

Kalau ada orang lain melihat pertandingan pedang itu, dia tentu akan mengira bahwa pemuda dan dara itu berkelahi mati-matian. Demikian cepat permainan pedang mereka, dan kadang nampak bunga api berpijar kalau dua batang pedang itu bertemu di udara. Namun, sesungguhnya mereka hanya berlatih ilmu pedang setelah tadi dalam berlatih silat tangan kosong Sian Lun terpaksa mengakui keunggulan sumoi-nya. Dalam ilmu pedang Sian Lun memang berbakat sekali, maka dia mampu mengimbangi permainan pedang sumoi-nya.

Bagi dua orang muda itu yang sudah menguasai benar ilmu pedangnya, tidak mungkin mereka akan saling melukai. Pedang yang mereka pegang itu seolah telah menjadi satu dengan tangan, bagaikan anggota badan sendiri sehingga mereka sudah menguasai sepenuhnya. Setiap detik mereka akan mampu menghentikan tusukan atau bacokan pedang mereka sehingga tidak akan melukai lawan berlatih.

Keduanya berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga), yaitu gabungan ilmu pedang Suling Emas dan Naga Siluman yang mereka pelajari dari Kam Bi Eng. Ilmu pedang ini memang hebat. Dari gerakan-gerakan pedang di tangan mereka ternyata bahwa di situ terkandung gerakan yang lembut seperti tiupan suling akan tetapi dahsyat dan ganas bagai seekor naga mengamuk. Karena senjata suling adalah senjata yang khas dari keluarga Suling Emas, maka Kam Bi Eng telah mengganti suling dengan pedang dan mengajarkan mereka memainkan ilmu itu dengan sebatang pedang.

Dengan kelebihan dalam kecepatan gerakan, kini Sian Li mulai mendesak suheng-nya. Andai kata mereka itu bertanding sungguh-sungguh dalam suatu perkelahian, tentu Sian Li akan dapat merobohkan suheng-nya karena dia mempunyai beberapa ilmu yang tidak dipelajari Sian Lun, seperti ilmu totok It-yang Sin-ci dari Yok-sian Lo-kai, dan terutama sekali Ilmu Silat Bangau Putih yang sejak kecil dipelajarinya dari ayahnya, dan lain-lain.

Sekarang, karena mereka sengaja berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut, mereka hanya menggunakan ilmu itu saja. Karena keduanya sudah menguasai ilmu pedang itu dengan baik, maka sukarlah untuk saling mengalahkan.

Sian Li berhasil mendesak hanya karena mengandalkan kecepatannya dan memang ia lebih cekatan sehingga akhirnya Sian Lun menjadi repot sekali. Sian Lun hanya mampu menangkis saja, tidak ada kesempatan lagi untuk membalas. Akan tetapi, dia mengenal semua jurus yang dlpergunakan sumoi-nya untuk menyerangnya, maka tentu saja dia tahu bagaimana caranya untuk menghindarkan diri.

“Cukup, Sumoi. Engkau terlalu cepat bagiku!”

Akhirnya Sian Lun mau mengakui kekalahannya. Pemuda ini tidak merasa iri atau malu, bahkan merasa bangga bahwa sumoi-nya demikian hebatnya.

“Suheng, engkau memang kalah cepat akan tetapi kalau engkau mengerahkan seluruh tenagamu, tentu engkau akan dapat mengimbangi aku karena dalam hal penggunaan tenaga tulang dan otot, aku masih kalah.”

“Bagus sekali! Ilmu pedang yang hebat, orang-orang muda yang mengagumkan!” Tiba-tiba terdengar pujian orang.

Cepat Sian Lun dan Sian Li membalikkan tubuh dan mereka melihat dua orang yang tahu-tahu sudah berada di situ, di dalam taman di mana mereka berlatih ilmu pedang tadi. Kalau dua orang itu dapat muncul demikian tiba-tiba tanpa mereka ketahui, hal ini menunjukkan bahwa dua orang ini tentu bukan orang sembarangan.

Sian Li memandang dengan teliti. Seorang kakek dan seorang nenek. Kakek itu tentu sudah enam puluh tahun lebih usianya, tapi masih tampak tampan dan jantan dengan kulit sedikit gelap dan muka bulat yang tidak asing bagi Sian Li. Di punggung kakek ini terdapat sepasang pedang dengan ronce biru.

Nenek itu yang sama sekali asing bagi Sian Li. Seorang nenek yang usianya sekitar enam puluh juga, namun masih cantik dan anggun. Ia berpakaian serba kuning, dengan kerudung kepala kuning pula. Pada rambutnya yang sudah bercampur uban itu terhias burung merak dari emas yang masih nampak di bawah kerudung suteranya yang tipis. Wajah wanita ini asing, bukan wajah seorang bangsa Han. Meski wajah kakek itu tidak asing bagi Sian Li, namun ia tidak tahu siapa kakek itu.

“Kakek dan Nenek yang baik, siapakah Jiwi (Anda Berdua)? Dan ada kepentingan apa maka jiwi masuk ke dalam taman kami ini?” Sian Li bertanya dengan lembut.

Kakek itu menoleh kepada nenek di sebelahnya sambil tersenyum gembira. “Kau lihat, bukankah ia mirip sekali dengan ibunya?” Lalu dia menghadapi Sian Li lagi dan berkata, “Aku yakin bahwa engkau tentu Tan Sian Li, bukan? Engkau Si Bangau Merah, bukan?”

Sian Li membelalakkan matanya. “Bagaimana engkau bisa mengenalku, Kek? Siapakah engkau? Dan siapa pula Nenek ini?”

“Ha-ha-ha-ha,” kakek itu tertawa. “Pernah aku berkunjung ke rumah orang tuamu ketika engkau masih kecil, pernah pula engkau membasahi bajuku, ha-ha-ha. Engkau tentu lupa, Sian Li. Aku adalah Suma Ciang Bun dan ini isteriku, Gangga Dewi.”

Sian Li membelalakkan matanya lagi. Mukanya berubah kemerahan mengingat ucapan kakek tadi bahwa dia pernah ngompol ketika masih kecil dipondong kakek itu sehingga membasahi bajunya. Kini dia teringat. Kakek ini adalah adik kandung neneknya, Suma Hui. Berbeda dengan paman kakeknya yang kini menjadi gurunya, Suma Ceng Liong yang hanya adik sepupu neneknya, kakek yang berada di depannya ini bahkan adalah adik kandung neneknya.

“Aihhh, kiranya Ku-kong (Paman Kakek) Suma Ciang Bun!” Sian Li berseru gembira. “Selamat datang, Kakek. Dan Nenek ini, isteri Kakek... namanya aneh. Nenek Gangga Dewi? Tentu bukan orang Han...” Sian Li lalu memberi hormat kepada dua orang tua itu.

“Suheng, ini adalah kakak sepupu dari Kakek Suma Ceng Liong!” Dara yang lincah itu memberi tahu Sian Lun yang cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Gangga Dewi mendekati dan memeluk Sian Li. “Anak manis, engkau cantik bukan main, Aku memang datang dari Bhutan, dan aku bukanlah orang lain. Seorang di antara guru ayahmu yang bernama Wan Tek Hoat atau Tiong Khi Hwesio adalah mendiang Ayah kandungku.”

Sian Li menjadi makin gembira dan balas merangkul sambil memandang kagum. Tentu saja ia sudah pernah mendengar cerita ayahnya tentang pendekar Wan Tek Hoat yang berjuluk Si Jari Maut itu, yang telah menikah dengan seorang puteri Kerajaan Bhutan.

“Aih, Nenek yang baik. Pantas saja engkau masih kelihatan begini cantik dan anggun. Kiranya engkau adalah seorang puteri Kerajaan Bhutan!”

Karena Sian Li memang lincah jenaka dan gembira, maka sebentar saja ia sudah akrab dengan kakek dan nenek itu, dan mereka lalu memasuki rumah untuk bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Pertemuan itu tentu saja amat menggembirakan. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi pernah satu kali berkunjung ke situ sebelum Sian Li tinggal bersama Suma Ceng Liong dan isterinya, bahkan sebelum Sian Lun menjadi murid mereka.

Setelah makan bersama, kedua orang tamu itu lalu menceritakan pengalaman mereka yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Liem Sian Lun dan terutama sekali Tan Sian Li. Ketika Suma Ciang Bun mengatakan bahwa dia bersama Gangga Dewi akan pergi ke Bhutan, Sian Li segera berkata penuh gairah.

“Ku-kong aku ikut!”

Semua orang terkejut. Suma Ceng Liong memandang cucu keponakan itu. “Aih, Sian Li, kau kira Bhutan itu dekat? Perjalanan ke sana berbulan-bulan!”

“Aku tidak takut perjalanan jauh, Ku-kong! Aku sudah sering mendengar dari Ayah dan Ibu mengenai Bhutan yang indah. Dan dari Kongkong Kao Cin Liong aku pun sering mendengar cerita tentang dunia bagian barat. Aku ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman, Ku-kong. Kebetulan sekali kini ada Ku-kong Suma Ciang Bun dan Nenek Gangga Dewi yang akan menjadi penunjuk jalan. Aku ingin sekali ikut, Ku-kong!”

Suma Ceng Liong diam-diam tersenyum dalam hatinya. Dia tidak merasa heran akan sikap cucu keponakan ini. Memang keluarga mereka semua berdarah pendekar, darah petualang. Dahulu ia sendiri pun merupakan seorang petualang, demikian pula isterinya. Ayah dan ibu Si Bangau Merah ini pun petualang-petualang besar.

“Akan tetapi, bagaimana kalau ayah ibumu datang, Sian Li? Kami tentu akan merasa tidak enak kalau mereka datang dan engkau tidak berada di sini,” kata Kam Bi Eng.

“Akan tetapi Ayah dan Ibu masih enam bulan lagi baru akan datang ke sini, seperti biasa setiap tahun baru mereka datang. Dan aku akan berusaha supaya sebelum tahun baru dapat pulang ke sini. Aku ingin sekali pergi, kebetulan ada Ku-kong dan isterinya yang akan menemaniku. Tentu saja kalau mereka ini tidak keberatan aku ikut...”

Dia memandang kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi yang saling pandang dan tersenyum.

Gangga Dewi mendekat dan merangkulnya. “Tentu saja aku akan senang sekali kalau engkau ikut ke Bhutan, Sian Li. Akan tetapi, tanpa perkenan Adik Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, kami tidak akan berani.”

Suma Ciang Bun berkata, “Kami telah membeli sebuah kereta. Jika kami menggunakan perjalanan dengan kereta atau berkuda, tentu akan lebih cepat dan kiranya sebelum tahun baru Sian Li akan dapat pulang ke sini.”

Suma Ceng Liong memandang kepada kakaknya. Jika dia membolehkan Sian Li pergi, dan andai kata dara itu belum pulang ketika ayah ibunya datang, dia merasa tidak enak kepada mereka. Tetapi kalau dia melarangnya, dia akan merasa tidak enak kepada Sian Li, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Seolah-olah dia tidak percaya pada mereka.

“Ku-kong Suma Ceng Liong, kalau aku tidak diberi ijin, aku akan pergi sendirian, tidak bersama Ku-kong Suma Ciang Bun juga tidak apa-apa. Aku ingin merantau ke barat,” Sian Li berkata dan Suma Ceng Liong tertawa.

“Hemmm, engkau memang memiliki hati membaja dan kepala membatu. Orang seperti engkau ini mana mungkin bisa dilarang? Sian Lun, engkau temani sumoi-mu pergi ke barat.”

“Baik, Suhu!” berkata Sian Lun tanpa menyembunyikan suaranya yang mengandung kegembiraan besar.

“Sian Li, kami membolehkan engkau pergi, akan tetapi harus ditemani suheng-mu agar ada yang menemani pada waktu engkau pulang. Selain itu, kalau orang tuamu datang sebelum engkau pulang, kami dapat menggunakan alasan bahwa Sian Lun juga pergi menemanimu.”

Sian Li girang sekali. Ikut sertanya Sian Lun bahkan semakin menggembirakan hatinya sebab suheng-nya itu dianggap sebagai kawan seperjalanan yang akan menyenangkan sekali dan juga amat membantu. Ia bersorak, kemudian menghampiri Kam Bi Eng dan merangkul nenek itu.

“Terima kasih! Aku tahu bahwa kalian tentu akan membolehkan, karena kalian adalah orang-orang tua yang terbaik di dunia ini!”

Suma Ceng Liong dan isterinya hanya tersenyum. Suma Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya melihat sikap Sian Li. Mereka lalu berkemas dan tiga hari kemudian, mereka berempat berangkat meninggalkan dusun Hong-cun.

Suma Ciang Bun menjual keretanya dan sebagai gantinya, dia membeli empat ekor kuda yang baik. Mereka berempat lalu melakukan perjalanan menunggang kuda. Suma Ceng Liong dan isterinya yang mengantar mereka sampai ke luar dusun, diam-diam ikut girang dan terharu melihat betapa Sian Li, seperti anak kecil, kelihatan gembira bukan main, melambai-lambaikan tangan kepada mereka.

Dara itu memang berbakat sekali menjadi seorang pendekar. Baru dua hari ia diajarkan menunggang kuda oleh Gangga Dewi dan sekarang sudah pandai dan bahkan berani membalapkan kudanya! Bahkan Sian Lun juga kalah sigap.

Mereka yakin bahwa Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, takkan marah andai kata mereka datang sebelum Sian Li kembali. Mereka juga merupakan pendekar-pendekar yang biasa bertualang. Apa lagi kepergian Sian Li ini bersama kakeknya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dan bahkan ditemani pula oleh Liem Sian Lun.

Gangga Dewi menjadi penunjuk jalan dan memimpin rombongan itu. Mereka melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti di tempat yang cukup indah untuk mereka nikmati. Karena mereka berempat adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertubuh kuat, maka perjalanan itu dapat dilakukan dengan cepat.

Kalau kuda mereka sudah terlalu lelah, Suma Ciang Bun lalu menukarkan kuda mereka dengan kuda yang masih segar dengan menambah uang. Dengan cara demikian maka mereka dapat melakukan perjalanan lebih cepat lagi.....

********************

Pada saat itu, Kerajaan Mancu atau Dinasti Ceng yang dipimpin Kaisar Kian Liong telah berhasil mengamankan seluruh negara. Di mana-mana terdapat pasukan keamanan yang menjaga tapal batas, dan di semua kota besar terdapat pula benteng pasukan.

Pemberontakan-pemberontakan sudah dapat dipadamkan, dan biar pun masih terdapat banyak golongan yang anti pemerintah Mancu, namun gerakan mereka hanya dilakukan secara sembunyi, tidak ada yang berani berterang karena pada waktu itu kekuatan pasukan Mancu amat besar. Apa lagi karena Kaisar Kian Liong pandai mengambil hati dan banyak menerima orang-orang Han yang pandai dan diberi kedudukan tinggi. Dan bahkan pasukannya diperkuat oleh orang-orang Han yang menganggap bahwa Kaisar Kian Liong, biar pun seorang Mancu, namun tetap mementingkan rakyat jelata.

Kaisar Kian Liong sudah semakin tua, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih dan dia telah menjadi Kaisar selama lebih dari lima puluh tahun! Belum pernah ada Kaisar yang memegang tampuk kerajaan selama itu dengan hasil baik. Hal ini adalah karena Kaisar Kian Liong bukanlah seorang Kaisar yang mabok kedudukan sehingga hanya menjadi pengejar kesenangan sendiri saja.

Sejak muda, Kaisar ini memang terkenal sebagai seorang yang pandai bergaul, bahkan akrab dengan para pendekar dan rakyat jelata, sering kali melakukan perjalanan secara menyamar dan menyusup di kalangan rakyat jelata sehingga namanya dikenal sebagai seorang yang bijaksana dan ramah tamah. Kaisar Kian Liong dapat mempertahankan kedudukannya bukan hanya karena kekuatan angkatan perangnya saja, tetapi terutama sekali karena nama baiknya itulah.

Pribadi seorang pemimpin memang menentukan kelancaran pemerintahannya, karena kalau pribadi itu tidak disukai rakyat, sudah pasti menimbulkan pemberontakan di mana-mana. Kaisar Kian Liong pandai mengambil hati rakyat, bahkan juga menundukkan hati orang-orang pribumi Han dengan sikapnya yang menerima kebudayaan, bahkan sudah menjadikan bahasa Han sebagai bahasa orang-orang Mancu yang memegang kendali pemerintahan.

Dengan para negara tetangga, biar pun yang kecil seperti Bhutan, Nepal dan di bagian selatan, Kaisar Kian Liong mengadakan hubungan baik serta menghargai kedaulatan masing-masing. Ini pun mengurangi gerakan gangguan di tapal batas dan perdagangan dengan negara lain berjalan lancar. Kalau pun terdapat pemberontakan, maka hanya terjadi secara kecil-kecilan dan tersembunyi, seperti yang dilakukan oleh perkumpulan Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang.

Akan tetapi sekarang kedua perkumpulan itu bahkan bermusuhan, karena Thian-li-pang merupakan perkumpulan pejuang yang gagah dan sungguh-sungguh membela rakyat, sedangkan Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang tidak segan melakukan kejahatan berkedok agama, bahkan dari Agama Buddha yang sudah menyeleweng dari agama aslinya, bercampur dengan segala macam tahyul dan ilmu sihir ke arah sesat.

Karena kebesaran kerajaan atau Dinasti Ceng di bawah pimpinan Kaisar Kian Liong, bahkan negara-negara seperti Birma, Annam, Nepal, Bhutan, dan Korea merendahkan diri mengirim upeti setiap tahun kepada Kaisar Kian Liong sebagai tanda persahabatan, sebutan yang diperhalus dari keadaan sebetulnya, yaitu takluk tanpa perlu diserang lagi. Hanya Kerajaan Nepal sajalah yang pernah menentang, akan tetapi negara itu diserbu oleh pasukan besar dan kemudian ditundukkan, tapi tidak dijajah dan hanya diharuskan mengirim upeti setiap tahun.

Karena keadaan yang aman itulah, maka perjalanan Suma Ciang Bun, Gangga Dewi, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun berlangsung lancar tanpa adanya gangguan di tengah perjalanan.

Sian Li merasa gembira bukan main dapat melihat daerah-daerah yang belum pernah dilihat sebelumnya, melihat perkampungan suku-suku bangsa yang dianggapnya sangat aneh dan menarik. Perkampungan-perkampungan yang dilaluinya berbeda sama sekali dengan di daerah timur. Berbeda segalanya, dari rumahnya, pakaiannya, bentuk wajah dan bahasa, bahkan makanan pun berbeda!

Akan tetapi, setelah Gangga Dewi memperkenalkan dia dengan orang-orang asing itu, menerjemahkan percakapannya, mengenal mereka lebih dekat, maka Sian Li mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya. Yaitu bahwa semua perbedaan itu hanya kulitnya saja, hanya lahiriah, hanya kebiasaan hidupnya. Pada hakekatnya, jauh di lubuk hati mereka, mereka itu tidak ada bedanya dengan dirinya atau seluruh bangsa di timur.

Mereka suka bersahabat, suka tertawa serta membutuhkan kebahagiaan dan menjauhi hal-hal yang tidak enak. Biar pun masakan mereka itu aneh, namun yang berbeda pun hanya cara dan campurannya saja. Pada hakekatnya mereka pun sama dengannya, yaitu tidak menyukai pahit dan getir. Yang disuka seperti juga di timur, manis asin sedikit asam dan pedas.

Mereka pun sama saja, tidak suka disakiti lahir batin, ingin disenangkan, sama seperti dirinya juga. Karena merasa bahwa pada hakekatnya sama, Sian Li cepat dapat akrab dengan mereka biar pun kadang-kadang kedua pihak tertegun heran melihat kebiasaan yang amat berbeda di antara mereka.

Dengan adanya Gangga Dewi sebagai orang yang berpengalaman, dan juga sebagai penunjuk jalan, pemberi keterangan dan bahkan penerjemah, perjalanan itu terasa amat menyenangkan bagi tiga orang yang lainnya, terutama sekali bagi Sian Li dan Sian Lun yang baru sekali itu selama hidup mereka lewat di tempat-tempat seperti itu.

Biar pun Sian Li amat tertarik dan senang sekali, akan tetapi Gangga Dewi tidak pernah lupa bahwa sebelum tibanya tahun baru, Sian Li sudah harus kembali ke rumah Suma Ceng Liong. Oleh karena itu, ia mengajak mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke Bhutan.

Pada suatu siang, tibalah mereka di perbatasan Bhutan setelah menyeberangi sungai besar yang amat terkenal di Tibet yaitu sungai Yalu Cangpo atau terkenal pula dengan nama Brahmaputra. Mereka kini melintasi pegunungan yang paling panjang, besar dan tinggi di seluruh dunia, yaitu Pegunungan Himalaya yang merupakan tapal batas antara Bhutan dan Tibet. Di pegunungan yang amat terkenal ini, Sian Li merasa kagum bukan main. Walau pun perjalanan amat sukar, melalui gunung es yang teramat dingin, namun dara itu selalu nampak gembira dan kagum.

Siang itu mereka menuruni lereng bukit terakhir dari Himalaya dan mulai nampak dusun-dusun yang termasuk wilayah negeri Bhutan. Menjelang senja, mereka bertemu dengan pasukan kecil yang terdiri dari belasan orang. Ketika pasukan itu melihat Gangga Dewi, mereka cepat-cepat turun dari atas kuda mereka dan memberi hormat dengan setengah berlutut. Kiranya mereka adalah pasukan keamanan yang menyamar dengan pakaian biasa dan sedang melakukan perondaan di daerah perbatasan itu.

Setelah menerima penghormatan mereka, Gangga Dewi cepat bertanya. “Apakah yang terjadi? Kenapa kalian melakukan perondaan sampai di sini dan tidak memakai pakaian seragam pula?”

Pemimpin pasukan segera melaporkan kepada Puteri Gangga Dewi bahwa akhir-akhir ini di daerah perbatasan itu tidak aman karena diketahui bahwa ada penyelundup dari Nepal memasuki daerah itu. Mereka adalah mata-mata dari Kerajaan Nepal, dari pihak keluarga raja yang tak mau tunduk kepada Kerajaan Ceng di Cina. Mereka menghasut rakyat di perbatasan Bhutan dan Tibet untuk bersama-sama menentang dan melakukan perlawanan terhadap orang-orang di perbatasan Propinsi Se-cuan dengan tujuan untuk merongrong Kerajaan Ceng.

“Kalau begitu kalian harus melaksanakan tugas dengan baik. Kita tak ingin terseret oleh pemberontakan orang-orang Nepal itu, apa lagi mereka juga menjadi musuh Kerajaan Nepal yang sah. Mereka bahkan pemberontak pula di Nepal, petualang-petualang yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi dari pergolakan dan kekacauan,” pesan Gangga Dewi.

Dua orang di antara pasukan itu lalu mendahului untuk mengirim berita ke kota raja Thim-phu di Bhutan, sedangkan pasukan lainnya melanjutkan tugas mereka melakukan penyelidikan.

Gangga Dewi mengajak rombongannya melanjutkan perjalanan karena hari sudah sore. Mereka pun terpaksa akan bermalam di sebuah dusun di luar kota Tong-sa-jang karena tentu malam segera tiba, dan mereka pun sudah cukup lelah.

Memang hari telah remang-remang, petang telah menjelang ketika mereka memasuki dusun itu. Sian Li dan Sian Lun tertegun kagum ketika melihat betapa mereka disambut oleh penghuni dusun yang berduyun menunggu di luar dusun dan bahkan ada tari-tarian yang menyambut kehadiran Sang Puteri! Kiranya dua orang prajurit tadi sudah memberi kabar ke dusun itu sehingga kepala dusun segera mengerahkan orang-orangnya untuk menyambut.

Demi menyenangkan rakyatnya, Gangga Dewi segera turun dari atas kuda, diikuti oleh Suma Ciang Bun, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun. Rakyat bersorak gembira pada saat Gangga Dewi merangkul dan mencium anak perempuan yang bertugas menyerahkan seikat bunga kepada Sang Puteri.

Sian Li memandang dengan wajah berseri, sedang Sian Lun mengagumi belasan orang penari yang terdiri dari gadis-gadis Bhutan yang manis. Dengan tarian lemah gemulai, tubuh mereka meliak-liuk dengan amat lemas dan lenturnya, diiringi alat-alat musik yang sederhana, suling dan siter dan tambur, namun terdengar demikian asyik dan membuat orang ingin berlenggang-lenggok karena bunyi tambur yang berirama riang itu.

Ketika mereka memasuki dusun, mereka lantas disambut oleh kepala dusun dan semua sesepuh dan pemuka dusun itu dengan segala kehormatan. Disediakan air panas untuk para tamu agung itu mencuci badan, dipersiapkan kamar-kamar terbaik di rumah kepala dusun untuk mereka.

Apa lagi ketika Puteri Gangga memperkenalkan Suma Ciang Bun sebagai suaminya, para penduduk makin gembira. Bagi mereka, puteri mereka yang sudah lama menjanda itu menikah dengan seorang pria Han, bukan merupakan halangan, bahkan merupakan kebanggaan. Bahkan dahulu, Ibu dari Gangga Dewi yang bernama Syanti Dewi, yang mereka puja-puja dan kasihi, juga menikah dengan seorang pria Han yang kemudian bahkan menjadi panglima yang amat gagah perkasa di Bhutan, yaitu Wan Tek Hoat, ayah Gangga Dewi.

Malam itu seluruh dusun bergembira. Sebuah pesta besar diadakan di pendopo rumah kepala dusun yang cukup luas. Para sesepuh dan orang terkemuka di dusun itu hadir selaku tamu di panggung, sedangkan di bawah panggung, di sekeliling pendopo, hampir seluruh penghuni dusun itu berjejal memenuhi tempat itu untuk turut nonton keramaian dan pertunjukan, serta untuk melihat puteri mereka, Gangga Dewi yang mereka kagumi sebagai seorang puteri yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian seperti seorang dewi!

Serombongan penari yang cantik manis, gadis-gadis remaja, belasan orang banyaknya, menari-nari diiringi musik yang sederhana tetapi menggairahkan seperti musik di daerah itu, yang mempunyai pukulan gendang dan tambur seolah-olah menghidupkan semua syaraf di tubuh untuk bergerak dan menari.

Puteri Gangga Dewi, Suma Ciang Bun, Tan Sian Li dan Liem Sian Lun duduk sebagai tamu kehormatan dan para penari menghadap tamu-tamu agung ini. Para gadis penari itu merasa bangga mendapat kesempatan menari di depan Sang Puteri.

Biasanya, hanya penari istana saja yang menari di depan puteri! Mereka hanya penari dusun yang tentu saja tidak pandai menari sehalus dan seindah penari istana, namun gerakan mereka wajar dan polos sehingga bagaikan bunga-bunga hutan yang segar. Beberapa orang di antara mereka mengerling ke arah Sian Lun dengan kerling tajam dan senyum memikat karena memang pemuda itu nampak gagah perkasa dan tampan, apa lagi dia adalah anggota rombongan Sang Puteri! Sebaliknya, para penabuh musik dan para penonton mengagumi Sian Li yang berpakaian serba merah sehingga secara bisik-bisik para pemuda menyebut Sian Li sebagai ‘Dewi Merah’!

Sian Li sendiri dengan wajah berseri memperhatikan gerak-gerik para penari. Hidangan yang disuguhkan juga aneh-aneh akan tetapi agaknya Gangga Dewi sudah memesan kepada kepala dusun agar membuat lauk pauk yang sesuai dengan selera orang Han. Hal ini amat mudah dilakukan oleh para koki bangsa Bhutan karena memang hubungan antara Bhutan dengan Cina telah terjalin semenjak ratusan tahun yang lalu. Banyak pula keturunan orang Cina atau yang disebut Han-Bhutan seperti Gangga Dewi kini berada di Bhutan, seperti juga banyak di situ keturunan Nepal, Tibet, dan India.

Sebagai negara kecil yang terkepung negara-negara besar, Bhutan mempunyai banyak orang-orang berdarah campuran atau peranakan. Banyak pula orang Han berdatangan ke Bhutan sebagai pedagang, sehingga selain pandai membuat masakan khas Bhutan, para koki bangsa Bhutan pandai pula membuat masakan model Nepal, India, Tibet atau Han. Minuman anggur yang disuguhkan juga manis dan lembut, tidak terlalu menyengat seperti arak, dan membuat orang mabok secara perlahan dan tidak dirasakan.

Sian Li juga mengagumi para penabuh musik. Mereka itu semua pria, dan masih muda-muda. Pakaian mereka yang khas juga amat menarik, membuat mereka nampak gagah. Mereka lebih pantas menjadi penari atau ahli silat karena mereka semua membawa golok khas Bhutan di pinggang mereka, dan mereka pun menabuh musik dengan lagak penari-penari yang lincah.

Apa lagi penabuh tamburnya. Dia seorang pemuda yang tinggi tegap. Dia menggulung lengan baju ke atas dan nampaklah sepasang lengan yang kokoh dan berotot. Cara dia menabuh tambur sungguh menarik dan gagah, seperti orang sedang bermain silat saja. Kadang-kadang dia melontarkan dua buah kayu pemukul tambur itu ke atas, kemudian melanjutkan memukul tambur dengan jari tangannya, lalu menyambut lagi dua batang pemukul yang meluncur turun. Semua ini dilakukan secara berirama.

Sian Li kagum. Hebat memang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun itu. Sungguh mengagumkan cara dia melempar pemukul ke atas, lalu menyambutnya lagi tanpa melihat karena matanya terus menatap tamburnya, seolah-olah kedua tangannya bermata. Dan pukulan tambur itu pun menggetar penuh kekuatan. Rasanya tak mungkin dia itu tidak memiliki kepandaian silat dan tenaga sinkang, pikir Sian Li.

Akan tetapi kini perhatian Sian Li terhadap Si Penabuh tambur itu teralih. Tarian gadis-gadis cantik itu sudah selesai dan kini muncullah seorang kakek berusia enam puluhan tahun.

Kakek ini tinggi besar seperti raksasa dan bermuka hitam. Kepalanya gundul atau botak licin dan pakaiannya serba longgar dengan jubah berwarna hitam pula! Menyeramkan sekali kakek ini, terutama sepasang matanya yang bulat besar dengan alis yang terlalu tebal sehingga tak wajar lagi! Kepala dusun memperkenalkan kakek ini sebagai Lulung Ma, seorang peranakan Tibet yang memiliki keahlian sulap dan bermain ular.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner