SI BANGAU MERAH : JILID-30


"Pangeran, lepaskan nona itu!" tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Pangeran Gulam Sing terkejut, lalu menoleh. Kiranya Cu Ki Bok yang membentak itu.

"Nona Tan Sian Li, mundurlah engkau!"

Sungguh aneh, baru sekarang Sian Li dapat bergerak, seolah tenaga tak nampak yang tadi mempengaruhi dirinya telah lenyap. Tahulah dia bahwa dia tadi di bawah pengaruh sihir pangeran Nepal itu, dan agaknya Cu Ki Bok yang membebaskannya dari pengaruh sihir.

"Pangeran Iblis! Keparat busuk engkau!" Ia pun membentak dan sudah menerjang serta menyerang Pangeran Gulam Sing.

Pengeran itu mengelak dengan loncatan ke belakang. Ketika Sian Li hendak menyerang lagi, Ki Bok telah menghadang di depannya.

"Sian Li, ingat akan janjimu. Jangan membuat keributan di sini!"

Sian Li teringat dan ia pun menahan diri, mukanya merah dan matanya masih berkilat.

Sementara itu, Pangeran Gulam Sing tertawa, "Ha-ha-ha, saudara Cu Ki Bok, engkau malah membela Si Bangau Merah ini? Sungguh aneh sekali!"

"Pangeran," kata Cu Ki Bok dan suaranya mengandung kemarahan. "Kalau Ketua Hek-I Lama mendengar akan apa yang sudah kau lakukan ini, tentu beliau akan menjadi tidak senang."

"Hemm, Ketua Hek-I Lama sudah mati, bahkan petinya juga belum diangkat dari ruang berkabung!” kata pangeran itu membantah.

"Pangeran! Engkau tentu tahu bahwa wakil ketua adalah guruku, Lulung Lama, dan setelah kini Supek Dobhin Lama meninggal dunia, gurukulah yang menjadi ketua! Nona Tan Sian Li ini menjadi tamu yang dihormati, dan Ketua Hek-I Lama yang menugaskan aku untuk menjaganya. Kuharap Pangeran tidak membuat keributan di sini dan bersikap sebagai tamu serta sahabat yang baik."

"Aku protes!" Pangeran itu marah-marah. "Saudara Liem Sian Lun dan ketiga Pek-lian Sam-li sudah berjanji akan menghadiahkan gadis ini kepadaku, dan sekarang mengapa engkau hendak menghalangiku?! Beginikah sikap seorang sahabat?"

"Pangeran, lupakah Pangeran siapa itu Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li? Mereka pun hanya tamu-tamu dari Hek-I Lama seperti juga engkau. Sedangkan Nona Tan ini adalah seorang tawanan kami, dan yang berhak memutuskan mengenai dirinya adalah ketua kami. Ketua kami menganggap Nona ini seorang pendekar wanita gagah perkasa yang patut diajak bekerja sama berjuang menentang orang Mancu. Bagaimana mungkin para tamu seperti Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li tiba-tiba dapat menghadiahkan Nona ini kepadamu? Mereka tidak berhak!"

"Orang muda, berani engkau bersikap seperti ini terhadap aku? Bagaimana kalau aku memaksa untuk memiliki gadis ini?"

Sepasang mata pemuda itu berkilat. Dia meraba pinggangnya di mana terdapat sabuk bajanya yang kedua ujungnya dipasangi pisau, senjatanya yang ampuh, dan dia berkata dengan tegas.

"Pangeran, aku adalah utusan Ketua Hek-I Lama dan aku melaksanakan tugas yang diperintahkan untuk menjaga Nona ini. Kalau ada yang berani mengganggunya, berarti dia melanggar peraturan di sini dan aku akan menghadapinya sebagai wakil ketua Hek-I Lama!"

"Bocah sombong...!"

Akan tetapi pada saat itu, entah dari mana datangnya, nampak beberapa orang pendeta Lama Jubah Hitam bermunculan. Mereka hanya berdiri memandang, akan tetapi sikap mereka jelas siap untuk membantu Cu Ki Bok.

Melihat ini, Pangeran Gulam Sing sadar bahwa dia berada di tempat orang sebagai tamu. Dia memandang kepada Sian Li dan mengepal tinju. Daging lunak yang sudah berada di depan bibir, terpaksa harus dia lepaskan! Dengan bersungut-sungut, memaki-maki dalam bahasanya sendiri, dia pun meninggalkan taman itu.

Beberapa orang pendeta Lama itu pun seperti bayangan-bayangan saja, lenyap pula dari dalam taman. Tahulah Sian Li bahwa andai kata Cu Ki Bok tidak berada di situ pun, para pendeta Lama itu tentu akan melihat ulah Pangeran Gulam Sing dan mereka akan turun tangan membantunya dan melapor kepada Cu Ki Bok.

Betapa pun juga, dia berterima kasih kepada pemuda ini dan dia bergidik kalau teringat betapa tadi ia didekap oleh pangeran Nepal yang tinggi besar itu tanpa mampu berkutik! Sian Li mulai percaya pada Cu Ki Bok, bahwa pemuda murid Lulung Lama ini memang benar-benar hendak melindunginya.

"Ki Bok, terima kasih atas pertolonganmu tadi. Apa yang telah terjadi denganku tadi? Kenapa aku tidak mampu bergerak? Apakah jahanam itu mempergunakan sihir?"

"Benar, Sian Li. Maafkan, aku agak terlambat. Akan tetapi, seperti kau lihat tadi, selalu ada beberapa orang anggota Hek-I Lama yang membayangimu sehingga engkau selalu aman. Para anggota tadi tidak mengira bahwa pangeran itu akan menggunakan sihir."

"Kalau begitu, engkau pun ahli sihir, Ki Bok?" tanya Sian Li dan pemuda itu tersenyum, merasa girang bukan main melihat sikap gadis itu terhadapnya kini berubah, tidak lagi angkuh dan ketus seperti sebelumnya, kini nampak ramah bersahabat!

"Sian Li, engkau sudah tahu bahwa aku murid Suhu Lulung Lama, murid seorang tokoh pendeta Lama. Karena itu, selain ilmu silat, aku pun mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan juga ilmu kebatinan sehingga tidak aneh kalau aku pun mempelajari ilmu sihir."

"Hemm, kata orang tuaku dan juga paman kakek yang menjadi guruku, ilmu sihir dapat membuat orang menjadi sesat. Kenapa engkau mempelajari ilmu seperti itu, Ki Bok?"

Pemuda itu tertawa. "Aihh, engkau ini yang aneh sekali, Sian Li. Engkau sendiri masih keturunan keluarga Pendekar Pulau Es, bahkan juga pendekar Gurun Pasir! Padahal, menurut yang kudengar, dahulu Pendekar Super Sakti Pulau Es adalah seorang sakti yang selain hebat ilmu silatnya, juga ahli dalam ilmu sihir!"

Sian Li tersenyum. "Memang engkau benar, namun menurut orang tuaku, mempelajari ilmu sihir amatlah berbahaya karena ilmu seperti itu condong untuk menyeret orangnya kepada kesesatan."

Pemuda itu kini duduk di bangku, berhadapan dengan Sian Li yang juga sudah duduk. "Segala macam ilmu mengandung daya tarik yang dapat menyesatkan orang, Sian Li. Ilmu apa pun juga membuat orang merasa lebih pandai dari pada orang lain, dan ada kecondongan mempergunakan ilmu yang dikuasainya itu untuk berkuasa atau mencari pengaruh atas orang-orang lain. Ilmunya sendiri tidak baik, tidak pula pun buruk. Baik buruknya tergantung dari dia yang mempergunakannya. Betapa baik pun sebuah ilmu, jika dipergunakan untuk mencelakai orang lain, ilmu itu menjadi jahat. Sebaliknya, ilmu yang dianggap jahat, kalau dipergunakan untuk menolong orang lain, akan menjadi ilmu yang baik. Bukankah begitu?"

Sian Li pernah mendengar ini, maka dia pun mengangguk. Kini pandangannya terhadap pemuda itu sama sekali berubah. Ia tidak tahu benar bahwa semua agama di dunia ini mengajarkan orang agar hidup baik serta bijaksana. Pelajaran agama yang dipelajari Ki Bok dari pendeta Lama tentu juga mengatakan yang baik-baik. Kalau terjadi kejahatan dilakukan orang beragama, maka hal itu berarti bahwa orang itu telah menyeleweng dari pada pelajaran agamanya sendiri.

Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan orang untuk menjadi jahat. Justru yang disebut agama adalah pelajaran tentang budi pekerti, mengajarkan orang untuk menjadi manusia yang baik dan berguna bagi manusia lain.

Cu Ki Bok yang semenjak kecil menjadi murid pendeta Lama, tentu saja juga membaca kitab-kitab agama yang pada hakekatnya tiada bedanya dengan kitab-kitab agama lain, yaitu menuntun manusia ke arah jalan hidup yang benar.

"Sebenarnya, dari orang tuaku serta paman kakekku, aku pun sudah menerima latihan kekuatan batin yang dimaksudkan menolak pengaruh sihir. Akan tetapi, tadi aku sama sekali tidak mengira bahwa pangeran Nepal itu akan menggunakan ilmu sihir sehingga aku menjadi lengah. Ki Bok, apakah kau kira Sian Lun juga terpengaruh sihir?" Tiba-tiba timbul dugaan ini dalam pikiran Sian Li.

Ki Bok menarik napas panjang. "Mungkin saja, tetapi yang jelas suheng-mu itu seorang pria yang lemah dan mudah dirayu. Sungguh sayang sekali karena sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kalau dia mau bekerja sama dengan kami untuk menentang penjajah Mancu, hal itu baik-baik saja. Akan tetapi aku khawatir kalau dia sampai terseret oleh Pek-lian-kauw, melakukan hal-hal yang tidak patut."

Hening sejenak. Kemudian Sian Li mengangkat muka memandang pemuda itu. "Ki Bok, engkau kini kuanggap sebagai seorang sahabat. Aku percaya kepadamu. Katakanlah, apa maksud gurumu dengan menahanku di sini? Berterus terang sajalah supaya hatiku tidak menjadi ragu kepadamu."

"Mudah sekali diduga, Sian Li. Engkau pasti tahu bahwa Hek-I Lama sedang menyusun kekuatan..."

"Hemm, untuk memberontak kepada pemerintah Dalai Lama di Tibet?"

"Benar, akan tetapi selain hal itu merupakan urusan dalam para pendeta Lama, juga satu di antara penyebabnya karena pemerintah Tibet mengakui kekuasaan pemerintah Mancu. Nah, Hek-I Lama dianggap memberontak karena tidak menyetujui hal itu. Oleh karenanya, Hek-I Lama yang kini dipimpin oleh Suhu Lulung Lama menyusun kekuatan sambil mengharapkan bantuan dari orang-orang kuat, untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu, juga untuk menentang pemerintah Tibet yang mau menjadi taklukan orang Mancu."

"Jadi aku ditahan untuk dibujuk agar mau bekerja sama dengan Hek-I Lama?"

"Begitulah. Suhu mengharapkan engkau akan suka membantu pula. Bukankah penjajah Mancu merupakan penjajah yang menindas bangsa kita? Aku sendiri pun mempunyai darah Han, Sian Li. Aku akan merasa gembira sekali kalau engkau suka bekerja sama dengan kami."

"Dan bagaimana kalau aku menolak kerja sama? Apakah aku akan dibunuhnya?”

Cu Ki bok mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala keras-keras.

"Suhu tak akan memaksa orang untuk bekerja sama. Paksaan itu akhirnya hanya akan merugikan kami sendiri, karena orang yang dipaksa bekerja sama akhirnya mudah saja menjadi pengkhianat. Tidak, engkau tidak akan dipaksa. Andai kata pun ada yang akan memaksa atau mengganggumu, demi Tuhan, aku akan membelamu dengan taruhan nyawaku, Sian Li!"

Pemuda itu bicara penuh semangat, membuat Sian Li terheran dan ia menatap wajah pemuda itu penuh selidik. Namun, sinar bulan tidak cukup terang sehingga tidak melihat betapa wajah pemuda itu berubah kemerahan.

"Akan tetapi... kenapakah, Ki Bok? Mengapa engkau hendak membelaku seperti itu? Mengapa engkau begini baik kepadaku? Padahal, bukankah sejak pertama kali saling bertemu, kita berhadapan sebagai musuh?"

Pemuda itu menggelengkan kepala. "Hanya salah paham, Sian Li, hanya karena saling memperebutkan kebenaran masing-masing. Sudahlah, sebaiknya engkau kembali saja ke dalam kamarmu untuk beristirahat. Besok, sesudah jenazah Supek diperabukan, bila mungkin Suhu akan bicara denganmu tentang ajakan bekerja sama itu."

"Apa yang harus kujawab?"

"Sudah kukatakan, kalau engkau suka bekerja sama, aku akan merasa bahagia sekali, Sian Li."

"Kalau aku menolak?"

Pemuda itu menghela napas panjang. "Aku akan merasa kecewa sekali. Akan tetapi tentu saja terserah kepadamu, dan aku yang akan membantumu agar dapat pergi dari sini dalam keadaan bebas dan aman."

Tentu saja hati Sian Li menjadi girang bukan main. "Sungguh mati, amat sukar menilai keadaan hati atau watak asli seseorang," dia berkata. "Tadinya kukira engkau seorang yang luar biasa jahat, Ki Bok, tidak tahunya engkau adalah seorang yang berhati mulia. Sebaliknya, suheng-ku yang dulu kunilai sebaik-baiknya orang, ternyata malah seorang manusia yang budinya rendah!"

Pemuda itu tersenyum. "Karena itu, jangan tergesa-gesa menilai seseorang, Sian Li. Yang hari ini kau nilai baik, mungkin besok akan kau cela, sebaliknya yang kemarin kau cela, hari ini akan kau puji. Mungkin kalau hari ini aku kau nilai baik, besok lusa akan kau nilai jahat lagi, siapa tahu?"

Sian Li tertawa. "Aku sudah mengerti, Ki Bok. Penilaian seseorang tergantung dari pada kepentingan si penilai, kalau dia diuntungkan, tentu menilai baik, kalau dirugikan, akan menilai buruk. Akan tetapi, juga tergantung kepada orang yang dinilai. Setiap perbuatan baik tentu mendatangkan kekaguman, sebaliknya perbuatan buruk akan mendatangkan celaan. Bukankah demikan?"

"Engkau memang cerdik, Sian Li. Nah kau bersabar dan tenanglah saja, dan harap kau menjaga diri supaya jangan sampai terpancing keributan sebelum Suhu Lulung Lama bicara denganmu. Selamat malam dan selamat tidur."

Sian Li yang sudah bangkit, tersenyum. "Selamat bermimpi, Ki Bok."

Mereka berpisah dan Sian Li sama sekali tidak mengira bahwa ucapannya tadi sungguh terjadi. Ia mengatakan selamat bermimpi hanya untuk berkelakar, tidak tahunya malam itu Ki Bok telah benar-benar bermimpi semalam suntuk, mimpi bertemu dengannya dan berkasih sayang dengannya.....

********************

Gak Ciang Hun, ibunya, dan Yo Han langsung bekerja dengan cepat. Yo Han segera menghubungi para tokoh di perbatasan yang pernah disadarkannya, sedangkan Nyonya Gak dan puteranya juga pergi menghadap para pendeta Lama dan pasukan pemerintah yang berada di benteng daerah perbatasan tak jauh dari tempat itu.

Panglima yang menjadi komandan pasukan Tibet itu menerima laporan Gak Ciang Hun dan ibunya. Dia segera berunding dengan para pendeta Lama. Tentu saja mereka telah mendengar akan adanya gerakan Hek-I Lama, akan tetapi karena gerombolan itu tidak melakukan kekacauan, pasukan pemerintah pun tadinya mendiamkan saja. Bagaimana pun juga para pimpinan Hek-I Lama dahulunya adalah tokoh-tokoh pendeta Lama yang terkenal.

Akan tetapi, ketika mendengar laporan Gak Ciang Hun dan ibunya bahwa gerombolan pendeta Lama jubah hitam itu kini bersekutu dengan orang-orang Nepal yang menjadi pelarian dari negara mereka, juga bersekutu dengan kaum pengemis sesat dan orang-orang Pek-lian-kauw, komandan itu merasa khawatir dan dia pun cepat mengerahkan pasukan, siap untuk melakukan penyerbuan terhadap gerombolan yang kini merupakan persekutuan besar dan hendak melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Tibet itu.

Sementara itu, para tokoh sesat yang kini sudah sadar akibat kebijaksanaan Sin-ciang Taihiap, ketika pendekar aneh itu minta bantuan mereka, tentu saja mereka menjadi gembira dan mereka seakan berlomba untuk membuktikan bahwa kini mereka bukanlah penjahat-penjahat lagi, tetapi orang-orang gagah yang siap mengganyang pemberontak dan penjahat yang mengganggu ketenteraman.

Setelah menerima kesanggupan para tokoh kang-ouw itu, Yo Han yang ketika menemui mereka mengenakan capingnya yang menyembunyikan mukanya dan mengurai rambut, cepat kembali ke bukit yang dijadikan sarang Hek-I Lama. Dia pun lalu menanggalkan penyamarannya dan ketika muncul di depan pintu gerbang yang seperti benteng itu, dia sudah menjadi seorang pemuda biasa, bukan lagi sebagai pendekar Sin-ciang Taihiap yang selalu menyembunyikan mukanya itu.

Yo Han maklum bahwa dia tidak perlu menyamar kalau ingin memasuki perkampungan yang dijadikan sarang gerombolan itu dengan aman. Pemuda murid Lulung Lama itu pernah melihat dia bersama Sian Li, pernah pula bicara dengan dia. Oleh karena itu, ketika para penjaga pintu gerbang menghadang dan membentaknya, dia pun berkata dengan suara tenang.

"Aku bernama Yo Han, dan aku ingin bertemu dengan saudara Cu Ki Bok. Aku sudah mengenalnya."

Yo Han dipersilakan menunggu. Dua orang penjaga lalu berlari masuk untuk memberi kabar kepada Cu Ki Bok. Selama dua hari ini, sejak jenazah Dobhin Lama diperabukan, ketua baru mereka, Lulung Lama, memerintahkan supaya penjagaan diperketat dan semua anggota Hek-I Lama diharuskan bersiap siaga.

Lulung Lama maklum bahwa Sin-ciang Taihiap tentu tidak akan tinggal diam dan akan datang menyerbu untuk membebaskan Tah Sian Li. Dan oleh karena ingin memancing munculnya Sin-ciang Taihiap inilah maka dia pun memerintahkan supaya gadis itu tetap menjadi tawanan, walau pun diperlakukan dengan baik.

Dia sudah membujuk agar gadis itu suka membantu perjuangannya, dengan harapan kalau gadis itu mau bekerja sama seperti halnya Sian Lun, mungkin Sin-ciang Taihiap akan mau pula membantunya. Dan mengingat bahwa gadis itu dan suheng-nya adalah murid keluarga Pulau Es, maka kalau mereka bekerja sama dengan perkumpulannya, tentu lebih mudah menarik tokoh-tokoh kang-ouw untuk bekerja sama pula.

Ketika dua orang penjaga itu melapor bahwa ada orang bernama Yo Han mencarinya, Cu Ki Bok yang sudah lupa lagi akan nama itu, lalu menduga-duga siapa orang yang mencarinya di tempat itu. Apa lagi nama orang itu menunjukkan bahwa dia tentu orang Han.

Dia sedang bingung memikirkan Sian Li. Gurunya tidak berhasil membujuk gadis itu untuk bekerja sama. Sian Li selalu menolak, dengan halus mau pun kasar. Akan tetapi gurunya tetap belum mau membebaskan Sian Li. Menurut gurunya, gadis itu sengaja ditahan untuk memancing datangnya Sin-ciang Taihiap. Agaknya Lulung Lama masih penasaran dan belum puas kalau belum mendapatkan bantuan pendekar aneh itu.

Sian Li juga bertahan, tidak mau bekerja sama. Ia selalu mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri, dan harapan satu-satunya hanya pada Cu Ki Bok yang selama ini bersikap baik dan tidak mencurigakan.

Kemarin, ketika ia kebetulan bertemu dengan Sian Lun di taman bunga, ia tidak mampu mengendalikan kemarahannya.

"Keparat busuk, penghianat jahanam!” bentaknya. “Orang macam engkau layak untuk mampus!"

Dan Sian Li langsung saja menyerang bekas suheng-nya itu dengan penuh kebencian. Saking dahsyatnya serangan gadis itu, biar pun Sian Lun sudah menangkis, tetap saja dia terhuyung ke belakang.

"Sumoi, nanti dulu...!" teriaknya.

"Siapa sumoi-mu? Aku tidak sudi menjadi sumoi seorang pengkhianat jahanam!"

Dan Sian Li sudah menyerang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya dan kembali Sian Lun terhuyung ke belakang.

"Sumoi...!"

Sian Li tidak memberi kesempatan kepada bekas suheng-nya untuk banyak cakap lagi karena ia sudah menerjang lagi, dengan serangan-serangan yang dimaksudkan untuk membunuh! Sian Li bukan hanya membenci Sian Lun karena sudah mengkhianatinya, membantu pihak musuh untuk mencurangi dan menangkapnya, akan tetapi juga karena ia mendengar dan melihat sendiri betapa bekas suheng itu telah bermain gila dengan tiga orang wanita cabul dari Pek-lian-kauw!

Ketika Sian Lun terhuyung dan Sian Li terus mendesaknya, dan berhasil menendang paha Sian Lun sehingga pemuda itu terpelanting, tiba-tiba muncul Pek-lian Sam-li yang segera turun tangan membantu Sian Lun dan mengeroyok Sian Li!

Melihat munculnya ketiga orang wanita yang memang dibencinya ini, Sian Li menjadi semakin marah dan ia pun mengamuk. Akan tetapi, tiga orang wanita itu juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat, apa lagi mereka maju bertiga sehingga begitu mereka membalas dan mendesak, Sian Li mulai terdesak mundur.

"Tahan! Jangan berkelahi!" Tiba-tiba muncul Cu Ki Bok melerai. "Sam-li, ajak Sian Lun manyingkir," katanya.

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu tidak berani membantah. Mereka tahu bahwa Ki Bok adalah seorang pemuda yang berdisiplin. Setelah kini Lulung Lama menjadi Ketua Hek-I Lama, maka pemuda itu berarti menjadi wakilnya. Mereka bertiga lalu menggandeng tangan Sian Lun dan diajak pergi dari situ. Sementara itu, Ki Bok menghampiri Sian Li dan menghiburnya.

"Sian Li, apa gunanya membuat ribut dengan bekas suheng-mu itu? Bila engkau sudah tidak menyukainya dan tidak mau berhubungan dengannya, lebih baik kau diamkan saja dia. Membikin ribut di sini sungguh tak menguntungkan dirimu, dan pula, jangan-jangan orang akan menganggap engkau..."

"Menganggap aku kenapa?" Sian Li mendesak, muka gadis itu masih kemerahan akibat marah.

"Maaf, mungkin saja orang akan menganggap engkau cemburu melihat keakrabannya dengan Pek-lian Sam-li..."

"Gila! Akan kuhancurkan mulut orang yang menganggap aku cemburu! Siapa pula yang cemburu? Biar pun dia menggandeng seratus orang perempuan, apa peduliku? Biar dia mampus! Yang membuat aku marah adalah karena dia adalah murid paman kakekku. Kalau guru-gurunya mengetahui akan kelakuannya, tentu dia pun akan mereka hukum berat!”

“Sudahlah, kelak dapat saja engkau membuat laporan kepada guru-gurumu, atau boleh saja engkau menghukum dia, akan tetapi kalau kalian sudah tidak berada di sini. Kalau engkau membuat ribut di sini, tentu aku akan ikut repot menanggung akibatnya."

Demikianlah, sampai hari itu, Lulung Lama masih belum memberi keputusan mengenai diri Sian Li. Dan Ki Bok sedang menimbang-nimbang dan mencari jalan terbaik untuk membebaskan gadis itu. Dia jatuh cinta kepada Sian Li, akan tetapi kalau gadis itu tidak mau bekerja sama dengan Hek-I Lama, terpaksa mereka harus berpisah dan dia harus mencarikan jalan terbaik agar gadis itu dapat keluar dari perkampungan yang menjadi pusat Hek-I Lama itu secara aman.

Pada waktu dua orang penjaga melapor tentang munculnya seorang bernama Yo Han mencarinya, Ki Bok segera menuju ke pintu gerbang. Begitu melihat Yo Han, teringatlah dia akan pemuda yang dia temui bersama Sian Li tempo hari. Pemuda yang menjadi perantara menyampaikan tantangan mendiang Dobhin Lama kepada Sin-ciang Taihiap.

Alisnya berkerut karena pertemuan ini sungguh mengejutkan hatinya. Akan tetapi ia pun diam-diam merasa gembira dan menaruh harapan untuk dapat mengadakan hubungan dengan Sin-ciang Taihiap melalui ‘perantara’ ini.

"Ahh, kiranya saudara Yo Han yang datang berkunjung! Selamat datang, dan benarkah bahwa engkau hendak bicara dengan aku?" tanya Ki Bok.

Yo Han memberi hormat. "Benar sekali, dan saya datang untuk bicara tentang nona Tan Sian Li."

"Silakan masuk, saudara Yo Han. Kita bicara di dalam," ajak Ki Bok, mempersilakan tamunya untuk memasuki pondok penjagaan di dekat pintu gerbang.

Dengan lagak seorang yang jujur dan tidak curiga, Yo Han melangkah masuk mengikuti pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu, dan mereka lalu duduk berhadapan di atas bangku, di dalam pondok atau gardu penjagaan.

Ki Bok sudah memberi isyarat kepada para petugas jaga untuk menjauhi gardu supaya mereka berdua dapat berbicara dengan leluasa tanpa terdengar orang lain. Karena pemuda itu merupakan seorang tokoh penting dalam perkumpulan Lama Jubah Hitam, maka para petugas menghormatinya dan mentaati perintahnya.

"Saudara Yo Han, selamat datang. Aku girang sekali menerima kunjunganmu ini. Angin baik apakah yang membawamu ke sini?”

Diam-diam Yo Han mendongkol, akan tetapi juga waspada sekali. Pemuda di depannya ini sudah dia kenal ilmunya, dan ternyata selain lihai, juga cerdik dan licin bagaikan ular, pandai pula bersikap manis budi seperti ini.

Yo Han mengerutkan alis. "Aku datang karena diutus oleh Sin-ciang Taihiap…," katanya sengaja berhenti, untuk melihat tanggapan orang itu.

Wajah Ki Bok tampak berseri mendengar disebutnya pendekar itu. Agaknya harapannya akan semakin besar dan kesempatan semakin terbuka untuk dapat mengajak pendekar sakti itu bekerja sama. “Aihh, sungguh merupakan kehormatan sekali dan terima kasih atas perhatian Sin-ciang Taihiap yang kami kagumi.”

“Sudahlah, tidak perlu bersandiwara lagi,” kata Yo Han. “Taihiap marah sekali karena kecurangan kalian. Tak pernah kami duga bahwa Hek-I Lama, perkumpulan besar yang terhormat itu dapat melanggar janji dan melakukan kelicikan dan kecurangan. Bukankah janjinya sebelum bertanding, kalau ketua kalian kalah oleh Taihiap, maka Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan dikembalikan? Mutiara itu memang telah diberikan kepada Taihiap, akan tetapi kenapa Sian Lun tidak dibebaskan, sebaliknya adikku Sian Li malah ditangkap pula? Pantaskah hal securang itu dilakukan oleh orang-orang Hek-I Lama yang gagah? Sepatutnya hanya dilakukan orang-orang pengecut, bukan anggota perkumpulan pejuang yang menganggap dirinya pahlawan.”

Ki Bok tidak marah mendengar umpat caci ini. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia memang cerdik dan mampu mengendalikan perasaan hatinya. Dia malah tersenyum ramah.

“Harap tenang dan bersabar, saudara Yo Han, atau lebih baik kusebut Yo-toako (Kakak Yo) saja karena tadi engkau mengatakan bahwa engkau adalah kakak Nona Sian Li. Benarkah itu?”

Yo Han mengangguk. “Aku adalah kakak misan Tan Sian Li,” jawabnya.

Dia tidak berterus terang, akan tetapi juga tidak terlalu membohong, karena bukankah dia juga termasuk kakak dari gadis itu, walau pun bukan kakak misan melainkan kakak seperguruan? Dia juga merasa seperti anak sendiri dari orang tua gadis itu, maka sudah sepatutnya kalau dia mengakui gadis itu sebagai adiknya.

“Bagus, kalau begitu aku pun dapat bicara terus terang. Sesungguhnya, Sian Lun telah setuju untuk membantu perjuangan kami melawan orang-orang Mancu. Oleh karena itu, dia sengaja menawan sumoi-nya agar suka pula bekerja sama dengan kami. Sekarang, Nona Sian Li menjadi tamu kami, bukan tawanan dan diperlakukan dengan baik dan terhormat. Kami menunggu sampai Nona Sian Li juga menyetujui sikap suheng-nya, dan mau pula bekerja sama dengan kami. Bahkan kami mengharapkan agar engkau suka menyampaikan himbauan kami kepada Sin-ciang Taihiap untuk bergabung dengan kami, bersama-sama menentang penjajah Mancu.”

“Hemm, aku tidak tahu apakah Taihiap suka menerima ajakan itu atau tidak. Yang jelas, dia marah sekali karena janji yang merupakan taruhan pertandingan itu dilanggar. Pula, bagaimana aku dapat percaya bahwa adikku Sian Li diperlakukan dengan baik di sini sebelum aku bertemu dengannya dan melihatnya sendiri?”

“Engkau ingin bertemu dengan adikmu itu, Yo-toako? Baik, baiklah, tentu saja engkau boleh dan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi tentu saja kita harus terlebih dahulu menghadap Suhu dan minta persetujuannya.”

“Menghadap ketua kalian Dobhin Lama?”

“Tidak, menghadap Suhu Lulung Lama,” jawab Ki Bok singkat.

Yo Han merasa heran, akan tetapi diam saja tanpa bertanya lagi. Dia mengikuti Cu Ki Bok yang mengajaknya memasuki perkampungan itu. Di rumah induk, dia dibawa Cu Ki Bok ke ruangan depan rumah besar itu, dan di situ Yo Han tidak saja melihat Lulung Lama, akan tetapi juga para tokoh lain. Di tengah ruangan depan itu tergeletak sebuah peti mati.

Diam-diam Yo Han terkejut. Kini mengertilah dia mengapa dia diajak menghadap Lulung Lama, bukan Dobhin Lama. Kiranya ketua perkumpulan Hek-I Lama itu telah meninggal dunia! Padahal, kemarin masih bertanding dengan dia.

Jika begitu, agaknya kakek yang sudah tua renta itu terlalu memaksa diri mengerahkan tenaga pada waktu bertanding sehingga tubuh yang sudah tua itu kehabisan tenaga dan tewas. Mungkin ketika dia duduk bersila sesudah selesai bertanding kemarin, dan diam saja melihat kecurangan anak buahnya yang mengeroyok, kakek itu sudah tewas.

Kalau benar demikian, bukan Dobhin Lama yang curang, melainkan Lulung Lama dan anak buahnya. Juga penangkapan atas diri Sian Li tentu telah diatur oleh Lulung Lama. Buktinya, sesudah Dobhin Lama merasa kalah, kakek tua itu mengembalikan mutiara hitam dan menyuruh Lulung Lama membebaskan Sian Lun.

“Siapa yang meninggal dunia itu?” tanya Yo Han, pura-pura terkejut dan tidak tahu.

“Dia adalah ketua kami...“

“Dobhin Lama yang bertanding melawan Sin-ciang Taihiap?” Yo Han bertanya.

Cu Ki Bok menganggukkan kepala. Kesempatan ini digunakan oleh Yo Han untuk cepat menghampiri peti mati dan berlutut di depan peti mati sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada sedih penuh penyesalan.

“Losuhu, maafkan saya. Sungguh saya menyesal sekali bahwa Losuhu tewas karena pertandingan melawan Sin-ciang Taihiap. Bagaimana pun, saya turut merasa menyesal karena saya yang menjadi perantara. Akan tetapi, Taihiap tak sengaja melukai Losuhu, Taihiap tidak pernah mau membunuh lawannya. Sayangnya, setelah Losuhu tidak ada, para anak buah Losuhu berbuat curang, tidak menepati janji. Bukan saja Sian Lun tidak dibebaskan, bahkan adikku Sian Li ditawan. Losuhu, saya menyesal sekali. Andai kata Losuhu tidak meninggal, tentu adik saya tidak ditawan...“

Sementara itu, Ki Bok telah mendekati Lulung Lama dan menerangkan siapa adanya pemuda yang berlutut di depan peti mati itu. Setelah mendengar keterangan muridnya, Lulung Lama bangkit dan menghampiri Yo Han.

“Saudara Yo, bangkitlah. Mati hidup berada di tangan Tuhan dan tidak ada yang perlu disesalkan. Juga kami tidak melanggar janji. Ketahuilah bahwa Liem Sian Lun dengan suka rela berada di sini, bukan kami tawan. Dia memang telah sadar dan ingin berjuang bersama kami menentang penjajah Mancu. Dialah yang menghendaki agar sumoi-nya ikut pula membantu perjuangan kami yang suci. Maka, tidak salah kiranya kalau engkau suka membujuk Sin-ciang Taihiap agar suka bekerja sama pula dengan kami.”

Yo Han bangkit dan memberi hormat kepada Lulung Lama, lalu berkata dengan suara mengandung penasaran. “Saya datang sebagai utusan Taihiap yang menuntut supaya Liem Sian Lun dan adikku Tan Sian Li dibebaskan dari sini, sesuai perjanjian.”

“Omitohud, sudah pinceng katakan bahwa kami tidak menawan Liem Sian Lun dan...”

“Bagaimana saya dapat percaya kalau tidak bertemu sendiri dengan adik saya?”

Lulung Lama yang telah mendengar penjelasan muridnya, tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, saudara Yo Han. Engkau boleh bertemu dengan adikmu itu. Ki Bok, antarkan dia bertemu dengan Nona Tan Sian Li.”

Cu Ki Bok mengajak Yo Han meninggalkan ruangan itu. Yo Han girang bahwa mereka itu agaknya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dialah sebenarnya Sin-ciang Taihiap. Kini Ki Bok mengajaknya ke bagian belakang perkampungan yang luas itu dan akhirnya dia melihat Sian Li yang duduk seorang diri di ruangan depan sebuah pondok.

Ketika tadi diajak pergi ke tempat itu, diam-diam Yo Han memperhatikan dan dia tahu bahwa di tempat itu terdapat amat banyak orang yang diam-diam melakukan penjagaan sehingga untuk mengajak Sian Li dan Sian Lun melarikan diri dari tempat itu bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah. Dia juga tadi melihat bahwa di ruang perkabungan terdapat banyak sekali orang yang tentu mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Dia melihat pula orang-orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, juga orang-orang Han yang melihat pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Ketika Sian Li yang sedang termenung memikirkan sikap Sian Lun yang aneh, berubah sama sekali dan menjadi seperti boneka yang memuakkan di bawah pengaruh Pek-lian Sam-li, melihat ada orang datang menghampirinya, ia mengangkat muka.

Ia girang melihat Cu Ki Bok yang amat baik kepadanya itu. Akan tetapi ketika ia melihat orang ke dua, ia terbelalak saking kagetnya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa Yo Han akan muncul begitu saja, secara terang-terangan, di tempat itu. Karena ia tidak tahu bagaimana maksud Yo Han dengan kemunculannya, maka ia pun tidak berani lancang membuka suara dan hanya memandang dengan mata terbelalak.

“Li-moi, syukurlah engkau dalam keadaan selamat dan sehat!” Yo Han berteriak sambil menghampiri dan memegang kedua tangan gadis itu.

Melihat sikap Yo Han yang wajar saja, Sian Li merasa lega. Apa lagi ia pun percaya bahwa Cu Ki Bok adalah seorang pemuda yang baik dan yang ingin menolongnya.

“Han-ko, bagaimana engkau bisa datang ke sini?”

“Aku sedang menjadi utusan Sin-ciang Taihiap untuk menyampaikan tuntutan kepada Hek-I Lama supaya engkau dan suheng-mu itu dibebaskan, Li-moi. Mereka mengatakan bahwa engkau beserta Sian Lun mau bekerja sama dengan mereka dan tidak ditahan, maka aku minta agar dapat melihat dengan mata sendiri dan dapat bicara denganmu.”

“Selama ini aku memang diperlakukan dengan baik di sini, Koko, sebagai tamu. Ada pun Suheng...” ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

Yo Han memotong dan berkata kepada Cu Ki Bok, suaranya mengandung penasaran. “Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari sini, aku harus menemani adik misanku ini!”

Ki Bok tersenyum. “Yo-toako, engkau melihat sendiri bahwa Nona Tan Sian Li dalam keadaan sehat dan selamat. Sebaiknya kalian bicara berdua di sini, untuk membuktikan bahwa kalian di sini diberi kebebasan dan bukan menjadi tahanan.” Setelah berkata demikian, Ki Bok meninggalkan mereka berdua di ruangan depan pondok itu.

Setelah Ki Bok pergi, segera Sian Li berkata, “Han-ko, duduklah. Kau tahu, Cu Ki Bok itu ternyata baik sekali. Dia bersungguh-sungguh hendak menolongku.”

Ia lalu menceritakan tentang pertolongan Ki Bok pada saat ia hendak dinodai pangeran Nepal. Setelah menceritakan semua pengalamannya sejak ditangkap oleh suheng-nya sendiri, ia bertanya, “Akan tetapi kenapa engkau malah muncul di sini secara berterang, Han-ko? Bagaimana kalau mereka tahu siapa sebenarnya engkau?”

“Aku sengaja masuk ke sini supaya nanti dapat membantu kalau orang-orang kang-ouw yang sudah kuhubungi datang menyerbu. Kita sendiri tidak mungkin mampu melawan mereka yang jumlahnya amat banyak. Aku sudah minta bantuan orang-orang kang-ouw, sedangkan saudara Gak Ciang Hun beserta ibunya melapor kepada para pendeta Lama dan pasukan pemerintah di Tibet mengenai usaha pemberontakan Lulung Lama. Bagai mana kabarnya dengan suheng-mu? Di mana dia sekarang?”

Mendengar pertanyaan ini, wajah Sian Li berubah muram. Ia mengepal tinju tangannya. “Dia telah tersesat, menyeleweng dan kalau ada kesempatan akan kuhajar dia!”

Yo Han terkejut. “Li-moi, apa yang terjadi?”

“Huh, jahanam keparat itu, pengkhianat busuk itu! Dia sudah merendahkan diri menjadi antek mereka. Dia terbujuk oleh perempuan-perempuan hina Pek-lian-kauw, dan malah menipuku, menangkapku ketika aku hendak menolongnya.”

Melihat gadis itu seperti akan menangis, Yo Han dapat menduga betapa sakit rasa hati gadis itu. Tentu Sian Li mencinta suheng-nya dan sekarang amat kecewa melihat ulah suheng-nya.

“Li-moi, sebenarnya bagaimana watak dan sikap suheng-mu selama ini, sebelum dia tertawan oleh gerombolan ini?”

Sian Li mengerutkan alisnya. “Selama ini dia baik, setia dan membelaku. Akan tetapi agaknya dia sudah tergila-gila kepada Pek-lian Sam-li, dan agaknya demi perempuan-perempuan itu, dia tidak segan untuk mengkhianatiku.”

Muka Sian Li merah sekali. Jelas bahwa dia menahan diri agar tidak menangis karena ia memang merasa penasaran dan kecewa bukan main kalau mengenang sikap Sian Lun kepadanya.

Yo Han merasa kasihan kepada gadis itu. “Li-moi, engkau jangan khawatir, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan dia.”

Sepasang mata itu terbelalak. “Apa maksudmu? Untuk apa bersusah payah memikirkan dia? Dia sama sekali tidak minta dibebaskan... hemm, aku hanya ingin menghajarnya, membunuhnya!”

“Li-moi, tenang dan bersabarlah. Ada sesuatu yang aneh dengan sikap suheng-mu itu. Kalau biasanya ia berwatak baik, maka sikapnya sekarang ini tidak wajar. Aku menduga bahwa ia tentu berada di bawah pengaruh sihir. Ingat, para pendeta Lama, orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Nepal adalah ahli-ahli sihir yang pandai.”

Sian Li termenung dan menundukkan kepalanya. Ia pun sudah menduga akan hal itu, akan tetapi bagaimana pun hatinya tetap merasa panas dan tidak senang melihat sikap Sian Lun yang demikian akrab dan mesra terhadap tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu. Wajahnya menjadi semakin merah karena sekarang ia teringat akan ucapan Cu Ki Bok bahwa sikapnya itu bisa disangka orang sebagai tanda bahwa ia cemburu. Cemburukah ia terhadap Pek-lian Sam-li yang demikian mesra dengan Sian Lun?

Bagaimana pun juga, tentu saja dia merasa tidak enak. Sian Lun sudah dianggapnya sebagai suheng-nya yang baik dan setia, bahkan dia tahu bahwa suheng-nya itu jatuh cinta kepadanya. Baik ia membalas cinta itu ataukah tidak, tetap saja hatinya tidak enak sekali melihat betapa suheng-nya menjadi kekasih tiga orang Pek-lian-kauw dan sudah mengkhianatinya.

“Ingatlah, Li-moi, engkau tadi menceritakan bahwa engkau juga terkena pengaruh sihir pangeran Nepal itu dan untung ada Cu Ki Bok yang menolongmu. Nah, kuat dugaanku bahwa demikian pula halnya suheng-mu itu. Karena pengaruh sihir, dia mau melakukan apa saja. Kita lihat saja nanti kalau dia sudah sadar dan tidak lagi terpengaruh oleh sihir mereka.”

“Kapankah penyerbuan itu akan terjadi?” tanya Sian Li yang mulai ragu-ragu tentang keadaan suheng-nya, meski pun ia yakin bahwa setelah melihat sikap Sian Lun, kiranya tidak akan mungkin lagi baginya untuk membalas cinta pemuda itu.

“Menurut perhitungan, malam ini mereka akan datang untuk mengepung dan menyerbu tempat ini. Kita harus membantu dari dalam untuk membebaskan suheng-mu dari cengkeraman mereka, baru melarikan diri keluar ketika penyerbuan terjadi.”

Mereka menghentikan percakapan ketika nampak Cu Ki Bok datang menghampiri ke arah mereka. “Dia orang baik Han-ko. Kurasa hanya dialah yang mempunyai landasan bersih dalam perjuangan melawan orang-orang Mancu.”

“Akan tetapi bukankah dia murid Lulung Lama?”

“Benar, akan tetapi dia mengatakan bahwa andai kata aku tidak mau bekerja sama dengan mereka, dia tetap akan mencarikan jalan agar aku dapat lolos dari tempat ini.”

“Hemm, agaknya dia cinta padamu, Li-moi.”

Sian Li mengerutkan alisnya. “Entahlah, akan tetapi aku yakin bahwa dia orang baik.” Percakapan terpaksa dihentikan dulu karena Ki Bok yang berjalan santai menghampiri mereka telah tiba di situ. Dia tersenyum ramah.

“Bagaimana, Yo-toako. Sudah yakinkah engkau sekarang bahwa kami tak menganggap adikmu sebagai tawanan melainkan sebagai tamu?”

Yo Han bangkit berdiri dan memandang marah. “Biar pun diperlakukan dengan baik dan dianggap sebagai tamu, tetap saja adikku ini adalah tamu yang dipaksa dan ditahan di sini. Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga dan ikut dengan aku pergi. Kalau tidak, terpaksa aku akan tinggal di sini menemaninya!”

Melihat sikap ini, Ki Bok lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan suara perlahan. “Yo-toako, apakah adikmu belum menceritakan semuanya? Sebaiknya engkau jangan membuat keributan karena kalau terjadi hal itu, aku sendiri takkan dapat melindungimu. Ketahuilah bahwa perkumpulan kami adalah pejuang-pejuang yang gigih dan kalau ada yang menentang akan dibunuh. Suhu sedang mengharapkan agar Sian Li suka bekerja sama membantu perjuangan, demikian pula Sin-ciang Taihiap. Andai kata Sian Li tidak mau pun, tak perlu menggunakan kekerasan dan percayalah, aku yang akan menjamin bahwa Sian Li akan dapat lolos dari sini dengan selamat.”

Yo Han memandang penuh selidik. “Hemm, engkau adalah seorang tokoh di sini, bagai mana engkau hendak melindungi Li-moi? Apa maksudmu melindunginya mati-matian? Tanpa sebab yang jelas bagaimana kami berdua dapat mempercayaimu?”

“Han-ko, aku percaya padanya. Dia sudah membuktikannya!” kata Sian Li yang merasa tidak enak terhadap Ki Bok.

“Justru perlindungannya itu patut dicurigai, Li-moi. Bukankah dia ini seorang di antara mereka yang memusuhi engkau dan suheng-mu? Tanpa alasan yang kuat, bagaimana mungkin dia melindungimu tanpa pamrih yang buruk?”

Mendengar ucapan Yo Han itu, Ki Bok segera berkata dengan terus terang, “Baiklah, Yo-toako, aku membuat pengakuan. Aku bersedia melakukan apa pun untuk Sian Li dengan taruhan nyawaku karena aku jatuh cinta padanya.”

“Ki Bok...!” Sian Li berseru kaget dan memandang wajah pemuda peranakan Tibet itu.

Tadinya ia hanya menganggap Ki Bok seorang yang baik sekali kepadanya, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya. Dan kini pemuda itu membuat pengakuan sedemikian jujurnya di depan Yo Han!

Cu Ki Bok menghela napas panjang sambil memandang kepada gadis itu. “Maafkan aku, Sian Li. Terpaksa aku harus berterus terang. Aku merasa kagum dan jatuh cinta padamu, dan tak peduli apakah engkau akan membalas cintaku, tak peduli apakah akan menerima atau menolak ajakan kerja sama, tetap saja aku harus membebaskan dirimu. Karena itulah, kuharap kalian berdua bersabar dan tidak membuat keributan. Aku akan mencarikan kesempatan sebaik dan seamannya untuk kalian.”

Yo Han mengangguk-angguk. “Kalau begitu, aku akan tinggal di sini menemani Li-moi, harap saudara Cu Ki Bok menyampaikan kepada pimpinan di sini.”

“Baik, Yo-toako, aku akan melaporkan kepada Suhu,” berkata Ki Bok yang segera pergi meninggalkan mereka.

Ketika melihat para penjaga mendekat, dia berbisik kepada mereka agar melakukan penjagaan yang ketat, dan juga memberi tahu bahwa Yo Han adalah kakak misan Sian Li yang tinggal di situ pula untuk menemani adiknya.

Di pondok itu memang terdapat dua buah kamar, maka Yo Han dapat menempati kamar yang ke dua. Akan tetapi setelah Ki Bok pergi, Yo Han dan Sian Li yang sejak tadi diam termenung, masih bercakap-cakap di ruangan depan.

“Kiranya dia jatuh cinta padamu, Li-moi,” kata Yo Han melihat gadis itu termenung saja.

Sian Li menarik napas panjang. “Sungguh sama sekali tidak pernah aku memikirkan hal itu, tak pernah menduganya. Begitu beraninya mengaku cinta!” Wajah gadis itu berubah kemerahan.

“Jangan marah kepadanya, Li-moi. Aku bahkan kagum, karena ia seorang laki-laki yang jantan, gagah dan jujur. Sekarang yang terpenting kita harus mencari di mana adanya suheng-mu. Aku ingin bertemu dengannya dan kalau mungkin akan kusadarkan dia dari pengaruh sihir.”

“Bagaimana jika dia tidak terpengaruh sihir, melainkan kalau dia memang menyeleweng dan tersesat, Han-ko? Menurut keterangan Ki Bok, Suheng memang telah terpikat oleh Pek-lian Sam-li.” Di dalam suara gadis itu masih terkandung kemarahan terhadap Sian Lun.

“Kalau memang demikian, aku akan berusaha untuk menyadarkan dan mengingatkan dia agar kembali ke jalan benar. Bagaimana pun juga dia adalah suheng-mu dan perlu diingatkan kalau dia tergoda, Li-moi.”

“Terserah kepadamu, Han-ko. Namun, kita harus berhati-hati sekali karena biar pun aku kelihatan bebas, tetapi setiap gerak-gerikku diamati dan sedikit saja mereka itu curiga, tentu mereka akan langsung mengepung dan mengeroyok kita. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Han-ko, karena kalau mereka tahu bahwa engkau adalah Sin-ciang Taihiap, tentu mereka takkan memberi ampun. Engkau telah membunuh Dobhin Lama.”

Yo Han menggeleng kepala. “Aku tidak membunuhnya. Ketika kami bertanding, biar pun aku dapat mematahkan tongkatnya, akan tetapi aku tidak melukainya. Dia tewas karena usianya yang sudah tua, dan agaknya ia telah terlalu memaksa diri sehingga kehabisan tenaga. Tentu aku akan berlaku hati-hati sekali untuk menyelidiki suheng-mu. Sebaiknya engkau gambarkan keadaan perkampungan ini dan di mana aku dapat mencari Sian Lun.”

Mereka berbisik-bisik dan Sian Li memberi gambaran tentang perkampungan di situ. Setelah mendapat keterangan jelas, mereka lalu memasuki pondok.....

********************


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner