KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-15


Orang ini mukanya kecil sempit dan panjang, kepucatan seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan hidungnya pesek. Dia menyeringai ketika dia turun ke ladang untuk menghampiri wanita itu yang bangkit berdiri dan mencoba untuk melarikan diri menjauhi orang itu.

Ia adalah seorang wanita, akan tetapi sejak kecil ia bekerja di sawah ladang. Tubuhnya kuat sekali dan sudah terbiasa di lumpur, maka ia dapat berlari cepat. Berbeda dengan laki-laki yang mengejarnya.

Biar pun dia seorang kasar yang memiliki kekuatan dan kepandaian, akan tetapi belum pernah dia berjalan di dalam lumpur, apa lagi dia bersepatu, tidak seperti wanita petani itu yang bertelanjang kaki. Maka, sukarlah baginya untuk menangkap wanita itu! Semua kawan-kawannya menjadi sangat gembira dan mereka pun serentak mengepung ladang itu, menghadang wanita yang hendak melarikan diri.

Wanita itu menjadi semakin ketakutan. Hanya pinggir yang dihalangi solokan itulah yang tidak dihadang penjahat, maka ia pun lari ke situ dan meloncat ke dalam solokan, terus mendaki dan dikejar oleh tujuh orang itu yang membuat gerakan menakut-nakuti sambil tertawa-tawa. Mereka memperoleh hiburan, seperti tujuh ekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum menerkan dan mengganyangnya.

Kebetulan sekali wanita itu melihat Sie Liong yang duduk di bawah pohon, maka ia pun berlari ke arah pohon itu, lalu menubruk Sie Liong yang masih duduk bersila.

Sie Liong merasa betapa wanita itu merangkulnya, dan karena pakaian wanita itu penuh lumpur, maka pakaiannya sendiri pun terkena lumpur. Dia merasa betapa dada yang menempel pada pundaknya itu berdebar kencang dan bergelombang, dan betapa napas itu terengah-engah.

“Tolonglah... tolonglah saya... aduh, lebih baik saya mati dari pada tertawan mereka... tolonglah saya...”

“Enci, tenanglah dan duduklah di belakangku. Biar aku yang akan menghadapi mereka,” kata Sie Liong.

Kini tujuh orang itu sudah tiba di bawah pohon. Si brewok marah sekali melihat wanita itu berlutut di belakang seorang laki-laki yang duduk bersila. Dia tidak peduli apakah pria itu suami si wanita. Baginya, tidak peduli wanita itu bersuami atau tidak, kalau sudah dikehendakinya, harus diserahkan kepadanya!

“Heiii, siapa kau?!”

Mendengar bentakan yang nadanya sangat congkak ini, Sie Liong lalu bangkit berdiri. “Namaku Sie Liong. Aku melihat betapa kalian mengganggu wanita ini. Apakah kalian tidak malu? Kalian adalah tujuh orang laki-laki pengecut yang suka mengganggu wanita yang tidak berdaya. Pergilah kalian dari sini sebelum aku muak melihat tingkah kalian yang tidak senonoh seperti binatang itu!” berkata Sie Liong yang memang marah sekali melihat perbuatan mereka tadi.

Tujuh orang itu terbelalak. Keheranan melampaui kemarahan mereka sehingga mereka saling pandang. Ada seorang pemuda biasa, bongkok pula, berani berbicara seperti itu kepada mereka? Sungguh aneh, aneh sekali sehingga mereka seolah-olah lupa dengan kemarahan mereka, bahkan mereka mulai tertawa-tawa.

“Heh-heh, apakah engkau seorang pendekar?” tanya si brewok untuk mengejek.

“Seorang pendekar yang bongkok! Pendekar Bongkok! Ha-ha-ha!”

“Awas kau, Pendekar Bongkok. Nanti kupenggal punukmu untuk kubuat menjadi punuk panggang, baru tahu rasa kau!”

Si brewok melangkah maju satu langkah. “Hei, Sie Liong, apakah engkau sudah buta, ataukah memang tuli? Andai kata engkau tidak mengenal kami, tentu sudah mendengar akan nama besar Tiat-jiauw Jit-eng!”

Sie Liong tersenyum. “Tujuh Garuda Cakar Besi atau Tujuh Garuda Cakar Tahu aku tidak peduli.”

“Wah, pemuda bongkok ini memang sudah bosan hidup!” si brewok berkata sambil memberi isyarat kepada anak buahnya yang termuda, yang tadi mengejar-ngejar wanita itu tanpa hasil.

Si mata sipit hidung pesek ini, yang tadi merasa penasaran dan rugi karena tak mampu menerkam si manis, kini melangkah maju, lenggangnya dibuat-buat bagaikan seorang jagoan asli yang tidak pernah terkalahkan. Dia melenggang seperti layangan yang tak seimbang, condong ke kanan dan ke kiri, kepalanya ditegakkan, dadanya dibusungkan. Akan tetapi, karena dadanya memang tipis dan perutnya besar, maka yang menjadi busung bukan dadanya melainkan perutnya!

“Heiii, orang muda yang tolol! Engkau ini masih muda, lemah dan bongkok pula, apa engkau tidak tahu diri? Engkau berani menentang kami, hanya untuk membela seorang perempuan dusun? Apamukah perempuan itu?” tanyanya, suaranya dibesar-besarkan agar berwibawa. Akan tetapi karena suaranya memang kecil parau bagai suara seorang penderita batuk kering, maka tetap saja suara yang keluar sama sekali tidak berwibawa, malah lucu.

Biar pun di dalam hatinya Sie Liong merasa marah sekali, namun dia tetap tenang dan sabar. “Enci ini adalah kerabat yang paling dekat karena ia termasuk orang yang lemah dan tertindas, orang yang membutuhkan bantuan. Dan kalian adalah orang-orang jahat, manusia-manusia berwatak iblis yang patut ditentang!”

Si mata sipit hidung pesek mengerutkan alisnya dan membentak marah. “Wahh, engkau ini pemuda kurang ajar, aku yang akan menghajarmu, kusiksa sampai mampus!”

Setelah berkata demikian, dia pun menyerang. Meski pun tubuhnya kerempeng dan dia kelihatan berpenyakitan, ternyata si mata sipit hidung pesek ini dapat bergerak dengan cepat sekali dan sambaran tangan kanannya ketika menjotos ke arah muka Sie Liong mengandung tenaga yang terlatih.

“Wuuuuuttt...!”

Tonjokan dengan tangan terkepal itu menyambar ke arah pipi kiri Sie Liong. Akan tetapi pemuda bongkok ini tenang saja, seolah-olah tidak tahu bahwa dia diserang dengan tonjokan yang akan dapat membuat pipinya bengkak dan giginya rontok! Baru setelah kepalan itu hanya terpisah satu sentimeter saja dari pipinya, secepat kilat dia menarik kepala ke belakang, tangan kiri menyambar, menangkap lengan kanan lawan dan dia pun mendorong, menambahkan tenaga dorongan pukulan itu dengan tenaganya sendiri sehingga kepalan kanan si sipit pesek itu meluncur terus dan melingkar ke arah pipi kirinya sendiri.

“Desss...! Aughhhh...!”

Beberapa buah gigi berlompatan keluar dari mulutnya yang terbuka, dan hidungnya pun berdarah karena kepalan tangan kanannya tadi dengan kuat sekali telah menghantam ke arah mukanya sendiri!

“Auhh... auhh... auhhh...!”

Dia mengerang kesakitan, tidak mampu berkata ‘aduh’ karena mulutnya terasa seperti remuk. Dia membungkuk-bungkuk dan kedua tangannya sibuk memegang-megang dan meraba-raba mulut dan hidung.

Kembali maju seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi besar laksana raksasa. Mukanya hitam dengan kulit muka yang kaku seperti punggung buaya, agaknya muka itu memang rusak oleh penyakit kulit yang hebat. Di antara tujuh orang gerombolan itu, dia terkenal sebagai seorang yang mempunyai tenaga besar, dan juga wataknya amat sombong karena memang sulit mencari orang yang mampu mengalahkan raksasa muka hitam ini.

Agaknya dia masih terlalu mengandalkan kehebatan diri sendiri sehingga melihat Sie Liong mengalahkan kawannya, ia masih juga memandang rendah pemuda bongkok itu. Agaknya dia menganggap bahwa kekalahan si mata sipit hidung pesek itu tadi hanya karena kebodohannya sendiri, bukan karena kelihaian pemuda bongkok ini.

Bahkan dia merasa terlalu tinggi untuk berkelahi melawan seorang pemuda bongkok, maka dia ingin mengalahkan pemuda itu dengan wibawanya saja.

“Heii, bocah ingusan! Lekas engkau berlutut dan memanggil engkong (kakek) kepadaku, baru aku akan mengampunimu! Cepat...!” Kedua matanya yang hitam dan mencorong itu melotot galak.

“Engkong-ku sudah mati, akan tetapi seingatku, dia tak seburuk engkau,” kata Sie Liong dengan sikap tenang.

“Kalau begitu, aku akan memaksamu berlutut!” bentak si raksasa muka hitam.

Dia pun sudah menyerang dengan dua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan dada Sie Liong. Pada waktu pemuda ini menarik diri ke belakang, tiba-tiba kaki kanan raksasa itu menendang ke arah lututnya. Kalau sasaran tendangan itu terkena, tentu Sie Liong akan benar-benar diharuskan berlutut karena tendangan itu kuat bukan main.

Namun, tentu saja Sie Liong yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi, dapat melihat gerakan serangan ini dengan jelas, maka mudah saja baginya untuk mendahului lawan. Sebelum kaki yang menendang itu sampai ke tubuhnya, dia cepat-cepat merendahkan diri, menggeser kaki ke kiri dan dari samping tangannya monotok ke arah lutut kanan itu.

“Tukkk!”

Seketika kaki yang besar itu terasa lumpuh dan tanpa dapat dicegah lagi raksana muka hitam itu jatuh berlutut di atas kaki kanan dan kebetulan dia jatuh berlutut di depan Sie Liong! Pemuda itu tersenyum dan berkata dengan suara mengejek.

“Aku bukan engkong-mu, tidak perlu engkau berlutut memberi hormat!”

Tentu saja ucapannya ini membuat raksasa muka hitam itu menjadi marah sekali. Dia melompat berdiri, akan tetapi kembali dia terguling karena kakinya masih terasa lumpuh.

Melihat ini, kawan-kawannya menjadi amat marah, akan tetapi sekaligus maklum bahwa pemuda bongkok itu betul-betul seorang pendekar yang amat lihai! Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka mencabut senjata golok atau pedang dari punggung mereka dan di lain saat, Sie Liong telah dikepung tujuh orang yang memegang senjata tajam.

Melihat ini, wanita itu menangis ketakutan.

“Jangan bunuh dia... ahhh, jangan bunuh dia yang tidak berdosa...” ratapnya sambil menangis.

Mendengar ini, si brewok tertawa, “Ha-ha-ha, jadi engkau mau ikut denganku secara suka rela kalau kami lepaskan bocah bongkok ini?”

“Tidak, tidak... kalian boleh membunuh aku, akan tetapi... jangan bunuh dia yang tidak berdosa...”

“Enci, tenanglah. Mereka tidak akan mampu membunuhku atau membunuhmu!” kata Sie Liong kepada wanita itu.

Hatinya terasa gembira sekali karena ternyata wanita dusun yang ditolongnya itu adalah seorang wanita yang hebat! Dia berani mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kehormatan, juga amat baik budi sehingga tidak tega melihat dia dikepung dan diancam bunuh oleh para penjahat itu.

Kini tujuh orang penjahat itu sudah menggerakkan senjata mereka dan serentak mereka menyerang. Namun, baru mereka menyerang dua tiga jurus tubuh pemuda bongkok itu sudah lenyap, berubah menjadi bayangan yang dengan cepatnya menyelinap di antara sambaran senjata mereka.

Mereka merasa terkejut, akan tetapi juga penasaran dan mereka terus mengarahkan senjata mereka, menyerang bayangan yang gesit bukan main itu. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan tahu-tahu pemuda bongkok itu sudah menyerang dari atas, bagaikan seekor naga dari angkasa saja! Dan sekali kaki tangannya bergerak, empat orang jatuh tersungkur seperti disambar petir dari atas!

Tiga orang penjahat lainnya terkejut bukan main. Akan tetapi mereka pun hanya diberi kesempatan untuk bengong sejenak, karena tiba-tiba saja mereka pun terjungkal roboh oleh tamparan tamparan tangan Sie Liong yang ampuh bukan main itu.

Tujuh orang itu baru sekarang merasa jeri. Mereka bertujuh, yang memegang senjata, roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan pemuda bongkok itu! Tamparan yang hanya sekali itu saja sudah membuat mereka roboh dan bagian badan yang terpukul terasa seperti remuk!

Si brewok, pimpinan mereka dan merupakan orang yang paling tangguh, mampu lebih dulu bangkit dan dia sudah bersiap untuk melarikan diri meninggalkan teman-temannya. Akan tetapi, hanya dengan beberapa langkah saja Sie Liong sudah dapat menangkap pundaknya.

Tekanan tangan Sie Liong di pundak itu membuat si brewok menggigil saking nyerinya sehingga dia pun jatuh berlutut. Pundak yang dicengkeram pemuda bongkok itu seperti dibakar atau dicengkeram kaitan baja membara saja, panas dan perih, nyeri luar biasa, terasa menusuk-nusuk sampai ke tulang.

“Ampun, taihiap... ampun, saya mengaku kalah!”

“Hemmm, aku tidak membutuhkan pengakuan kalah darimu! Aku tidak membutuhkan kemenangan. Akan tetapi aku minta agar kalian suka sadar dari kelakuan jahat kalian dan bertobat!”

“Ampun, taihiap,... saya bertobat...!”

“Hemm, siapa percaya omongan orang jahat macam engkau?”

“Saya bersumpah tak akan melakukan kejahatan lagi, taihiap. Saya akan bekerja seperti dulu, yaitu memburu binatang hutan. Dahulunya kami adalah pemburu-pemburu, karena tertarik penghasilan besar lalu mulai merampok orang yang lewat di hutan...”

“Benar, engkau bertobat dan hendak kembali ke jalan benar?” tanya Sie Liong. “Aku tetap tidak percaya kalau engkau dan teman-temanmu tidak memperlihatkan buktinya. Sumpah mulut saja tidak ada artinya.” Dia lalu menggertak, “Atau aku akan membiarkan kalian mati tersiksa dengan memberi pukulan mematikan?”

Kini dia melepaskan cengkeramannya dan seketika si brewok tidak merasa nyeri lagi. Dia makin yakin bahwa pendekar muda yang bongkok itu betul-betul lihai.

“Taihiap, kami bersumpah dan inilah buktinya!”

Dia menyambar goloknya yang tadi terlempar, lalu membuka sepatu kirinya dan sekali bacok, lima buah jari kaki kirinya buntung! Darah mengalir deras dari kaki yang buntung jari-jarinya itu.

Diam-diam Sie Liong terkejut sekali, akan tetapi juga girang karena dia maklum bahwa si brewok itu bersungguh-sungguh!

“Hayo kalian buntungi jari kaki kiri masing-masing seperti aku, siapa yang tak mau, aku yang akan membuntunginya sendiri. Mulai saat ini, kita tidak akan merampok manusia lagi, melainkan memburu binatang seperti dulu lagi!”

Enam orang anak buahnya melihat bahwa pimpinan mereka bersungguh-sungguh dan mereka pun jeri terhadap Pendekar Bongkok, demikian mereka menyebut Sie Liong, oleh karena itu mereka pun mengambil senjata masing-masing yang tadi terlempar, lalu membabat buntung jari kaki kiri mereka. Melihat ini, wanita dusun itu menutupi muka karena merasa ngeri.

Sie Liong lalu menghampiri mereka seorang demi seorang, menotok kaki kiri mereka di atas bagian yang terluka, mengeluarkan obat bubuk putih yang ditaburkan pada luka di kaki.

Seketika, tujuh orang itu merasa betapa kenyerian jari yang dibuntungi itu lenyap, dan luka-luka itu pun cepat menjadi kering. Mereka menjadi makin kagum. Kiranya Pendekar Bongkok ini selain amat lihai ilmu silatnya, juga pandai ilmu pengobatan.

Hal ini sebenarnya tidaklah perlu diherankan kalau diketahui bahwa seorang di antara orang-orang sakti yang menggembleng Sie Liong adalah Pek-sim Siansu, seorang sakti yang pandai dalam ilmu pengobatan pula.

“Ingat akan sumpahmu sendiri,” kata Sie Liong ketika mereka semua sudah berdiri dan bersiap untuk pergi. “Kalau kelak kalian tetap menjadi penjahat dan mengganggu orang lain, dan aku mendengarnya, pasti akan kucari kalian sampai dapat dan bukan hanya jari kaki kalian saja yang harus dipotong. Selain itu, aku akan membangkitkan semangat para penduduk dusun supaya mereka bersatu padu dan hendak kulihat, kalau ratusan orang dusun itu bersatu padu melawan kalian, apa yang dapat kalian lakukan terhadap mereka!”

Diam-diam si brewok dan teman-temannya merasa ngeri. Bukan saja mereka ngeri terhadap kesaktian Pendekar Bongkok, akan tetapi juga ngeri kalau benar penduduk dusun sampai bangkit menentang mereka, maka tentu mereka akan dikeroyok ratusan orang dan akan dihancur lumatkan oleh mereka yang mendendam kepada mereka.

Kalau biasanya mereka itu dapat merajalela adalah karena mereka menang gertakan dan para penduduk dusun itu belum apa-apa sudah ketakutan lebih dulu, melarikan diri bersembunyi dari pada melakukan perlawanan berpadu.

Tujuh orang itu, dipimpin oleh Si Brewok, menghaturkan terima kasih kepada Sie Liong, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu, tidak jadi mengganggu wanita petani atau dusun di dekat ladang itu.

Setelah mereka pergi, Sie Liong menghampiri wanita dusun itu dan dengan senyum kagum dia berkata sambil berlutut di dekat wanita yang masih duduk di atas rumput dengan wajah masih diliputi ketegangan itu.

“Untung bahwa engkau tabah sekali menghadapi mereka, enci...,” katanya.

Wanita itu mengangkat muka, kemudian memandang padanya dan kembali air matanya menetes-netes turun ke atas pipinya. Mulut wanita itu berkemak-kemik, namun tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Akhirnya, ia mengeluarkan jerit kecil dan merangkulkan kedua lengannya pada pundak dan leher Sie Liong sambil menangis!

Pemuda bongkok itu terkejut, akan tetapi mendiamkannya saja dan tersenyum ketika dia merasa kehangatan air mata menembus bajunya karena wanita itu menangis di atas dadanya. Bahkan dia pun lalu merangkul dan menepuk-nepuk pundak wanita itu dengan lembut.

“Tenanglah, enci, bahaya sudah lewat sekarang,” hiburnya.

Akan tetapi wanita itu bahkan mempererat rangkulannya dan terdengar bisikan lirih dari mulut yang disembunyikan di dadanya itu. “Adik yang baik, ahhh... taihiap yang gagah perkasa, engkau telah menyelamatkan diriku... terima kasih, taihiap, terima kasih...”

Suaranya mengandung isak sedangkan tubuhnya gemetar, seolah-olah ia teringat akan peristiwa tadi dan membayangkan betapa akan ngerinya apa bila ia sampai terjatuh ke tangan tujuh orang itu.

“Sudahlah, enci. Sudah semestinya aku melindungimu, dan aku kagum sekali melihat ketabahanmu tadi. Lepaskanlah rangkulanmu, lihat, di sana datang orang-orang dusun.”

Mendengar ini, wanita itu melepaskan rangkulannya dan dengan wajah masih basah air mata, ia menoleh ke kiri dan benar saja, dari arah dusun, datang berlari-larian banyak sekali penduduk dusun ke tempat itu. Dan di tangan mereka terpegang segala macam alat pertanian yang agaknya kini hendak dijadikan senjata.

Sie Liong merasa tegang dan juga malu. Dia tahu bahwa mereka yang sedang berlari dan datang itu tadi sempat melihat betapa dia dan wanita itu berpelukan-pelukan! Untuk menghilangkan rasa sungkan dan tidak enak itu, Sie Liong lalu bangkit dan memunguti potongan jari-jari kaki itu, dan mengumpulkannya di atas sehelai kain sapu tangan.

Melihat ini, wanita dusun itu bergidik.

“Taihiap, untuk apakah kau... mengumpulkan benda-benda mengerikan itu?”

“Aku akan menguburnya, enci,” kata Sie Liong sambil memunguti terus.

Tak lama kemudian, rombongan orang dusun itu tiba di situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang memegang sebatang tongkat panjang moloncat maju menghampiri wanita itu.

“Kui Hwa, apa yang telah terjadi?” tanyanya, suaranya mengandung kemarahan.

Wanita dusun itu menangis dan lari menghampiri laki-laki itu. “Aku... aku hampir saja celaka...!” serunya sambil menangis.

Dia hendak merangkul laki-laki yang ternyata adalah suaminya itu. Akan tetapi, laki-laki itu mendorongnya sehingga ia terpelanting.

“Jangan sentuh aku! Engkau perempuan tak tahu malu!”

Wanita dusun yang bernama Kui Hwa itu terbelalak. Saking kaget dan herannya, ia tidak merasakan kenyerian punggungnya ketika terpelanting oleh dorongan suaminya.

“Apa... apa maksudmu...?” tanyanya dengan heran.

Kui Hwa lebih heran lagi ia saat melihat betapa orang-orang lain, para pria di dusunnya, para tetangganya, memandang padanya dengan sinar mata yang mencemoohkan dan agaknya membenarkan sikap suaminya itu!

“Maksudku kau tanyakan! Maksudmulah yang ingin sekali kuketahui! Apa yang sudah terjadi di sini?”

Suaminya dengan berang melirik ke arah Sie Liong yang sudah selesai mengumpulkan potongan jari-jari kaki tadi dan kini berdiri di situ dengan muka ditundukkan. Potongan jari-jari kaki tadi berada dalam buntalan kain sapu tangan.

“Suamiku, apakah engkau tidak mendengar dari para tetangga kita tadi? Mereka itu, Tiat-jiauw Jit-eng itu datang lagi!” kata si isteri yang masih terheran-heran melihat sikap suaminya.

“Tentu saja kami semua mendengar. Lalu di mana mereka dan apa yang telah terjadi di sini?” kembali dia menoleh ke arah Sie Liong dengan wajah merah saking marahnya.

“Mereka telah dikalahkan oleh taihiap ini. Mereka sudah melarikan diri dan aku... aku diselamatkan oleh taihiap ini!” kata si isteri dengan suara gembira dan bangga.

“Bohong!” Tiba-tiba sang suami membentak dan isteri itu kembali terkejut sekali.

Kini Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada suami itu dengan sinar mata mencorong. Akan tetapi, dia bersikap sabar karena dia bisa menduga apa yang menjadi sebab sang suami itu bersikap seburuk itu dan mengapa pula orang-orang dusun itu berdiri saja, agaknya membenarkan sikap suami itu.

“Suamiku, kenapa engkau mengatakan bohong? Pendekar muda ini yang bernama Sie Liong, dialah yang telah menyelamatkan aku dari gangguan mereka, bahkan pendekar perkasa ini yang memaksa mereka untuk meninggalkan pekerjaan jahat mereka, dan mereka bersumpah dengan membuntungi jari-jari kaki mereka sebelum pergi dari sini. Aihh, suamiku, pendekar muda ini sungguh perkasa dan kita sedusun patut berterima kasih kepadanya...”

“Cukup! Kui Hwa, jangan mengira bahwa kami semua adalah orang-orang buta dan bodoh, yang mudah saja kau tipu dengan kata-katamu itu! Kami melihat betapa engkau bercumbu dan berjinah dengan dia...”

“Diam...!” Kui Hwa yang lemah lembut itu kini membentak. Dia berdiri bagaikan seekor singa kelaparan atau seekor harimau betina membela anaknya. “Jangan engkau berani mengeluarkan ucapan kotor itu! Pendekar ini sudah menyelamatkan aku, bahkan juga menyelamatkan orang sedusun ini dan kalian bahkan berani menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?”

“Phuhh!” Suami itu meludah. “Mataku masih belum buta, aku melihat betapa kalian tadi berpelukan dan berciuman!”

“Engkau yang bohong! Engkau yang kotor dan memang kalian bodoh! Aku tadi memang merangkulnya sambil menangis, terharu dan menghaturkan terima kasih, dan dia hanya menghiburku, sama sekali kami tidak berciuman... aihh, agaknya memang matamu telah buta! Taihiap ini menundukkan tujuh orang gerombolan penjahat itu, membuat mereka takluk dan bertobat, bahkan mereka sudah membuntungi jari-jari kaki sambil bersumpah dan kalian...”

“Sudah! Siapa yang percaya obrolanmu? Engkau memang perempuan tak tahu malu, mungkin dia ini anggota bahkan pemimpin perampok! Dan engkau sudah tergila-gila kepada laki-laki bongkok ini! Sungguh tak tahu malu!” Berkata demikian, laki-laki yang sedang diamuk cemburu itu lalu mengangkat tongkat kayunya dan menghantamkan tongkat kayunya kepada Sie Liong!

Pendekar ini berdiri bengong. Sungguh tak disangkanya sama sekali bahwa cemburu dapat membuat orang menjadi seperti gila! Saking herannya, ketika suami itu memukul dengan tongkat kayu, dia pun diam saja, tidak bergerak seperti patung dan pada saat kayu itu menghantam kepalanya, barulah dia mengerahkan sinkang untuk melindungi kepala yang dipukul itu.

“Krakkk!” Tongkat kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan kepala Sie Liong.

“Ahhhh...!”

Suami wanita dusun itu terbelalak. Mukanya pucat memandang kepada tongkat yang tinggal potongan pendek di tangannya, sedangkan tongkat yang kuat itu sudah patah menjadi tiga potong! Kepala orang bongkok itu melebihi besi kerasnya!

Sie Liong mengangkat muka, memandang kepada suami itu dengan sinar matanya yang mencorong. “Hemm, engkau memang orang bodoh, keras kepala, dan memang sepatutnya kalau matamu buta! Engkau tidak patut menjadi suami dari seorang isteri yang begini baik hati, tabah dan sangat berani mempertaruhkan nyawa untuk menjaga kehormatannya. Engkau pantasnya menjadi suami seekor kambing atau seekor monyet! Huh, menjemukan sekali!” katanya dan dia pun melemparkan buntalan itu ke atas tanah, kemudian berpaling kepada wanita dusun sambil memberi hormat.

“Enci, maafkan apa bila aku hanya membikin engkau menjadi ribut dengan suamimu. Selamat tinggal, enci, semoga Tuhan akan menyadarkan suamimu ini!” Dengan sekali berkelebat, Sie Liong lenyap dari depan mereka, membuat suami wanita itu dan para penduduk dusun terkejut dan melongo.

Suami itu pun terkejut dan dia menjadi ketakutan. “Apakah dia... dia itu tadi... setan...?” tanyanya kepada isterinya.

Isterinya menjadi gemas sekali. Tangannya bergerak manampar.

“Plakkk!” pipi suami itu telah ditamparnya!

“Laki-laki yang tolol, gila oleh cemburu buta! Masih berani engkau mengatakan bahwa pendekar sakti itu setan? Engkau inilah yang setan! Kalian tidak percaya akan ceritaku tadi, ya? Kalian semua mengira bahwa aku sudah berjinah dengan dia karena kalian tadi melihat dari jauh betapa kami saling berangkulan? Ohhhh, memang kalian adalah orang-orang bodoh! Dengar baik-baik. Tujuh orang penjahat itu datang ke sini. Aku tidak tahu bahwa mereka datang maka aku tidak sempat lari seperti yang lain. Dan mereka itu mengejar-ngejarku, hendak menangkapku dan tentu saja, dengan niat yang amat kotor! Dan aku melihat pendekar itu duduk seorang diri di bawah pohon….”

Kui Hwa berhenti bicara dengan napas terengah-engah karena dibakar emosi. Setelah beberapa kali menarik napas, dia baru melanjutkan kembali.

“Tadinya aku tidak tahu bahwa ia adalah seorang pendekar, akan tetapi dalam keadaan ketakutan setengah mati itu, aku lari padanya dan mohon pertolongan. Siapa saja akan kumintai tolong dalam keadaan hampir mati ketakutan seperti itu. Dan dia bangkit, dia mengalahkan semua penjahat, kemudian memaksa mereka itu bertobat, dan mereka membuntungi jari-jari kaki kiri mereka untuk tanda bertobat. Dan kalian tidak percaya? Dan engkau, engkau sudah gila, engkau malah mencemburui kami dan engkau malah menghina pendekar itu? Masih untung hanya tongkatmu yang tadi dia patahkan, bukan lehermu! Kalau kalian tidak percaya, lihat ini buktinya!” Dia memunguti jari-jari kaki itu untuk dikuburkan. “Nah, makanlah ini!”

Wanita itu kemudian melemparkan buntalan itu ke arah suaminya, setelah membuka ikatannya. Dan potongan-potongan jari kaki, sebanyak tiga puluh lima potong, langsung berhamburan mengenai muka dan leher suaminya.

Si suami tentu saja bergidik ngeri, juga para penduduk dusun merasa ngeri ketika mereka melihat bukti itu. Jari-jari kaki yang masih berlumuran darah! Sementara itu, Kui Hwa sudah berlari pulang sambil menangis.

Barulah suami itu merasa menyesal sekali dan percaya sepenuhnya akan keterangan isterinya. Sekarang dia baru dapat membayangkan betapa takutnya isterinya tadi ketika dikejar-kejar tujuh orang penjahat keji itu, tanpa ada orang yang dapat menolongnya.

Kemudian muncul pendekar bongkok itu yang lalu mengalahkan semua penjahat, yang berarti telah menyelamatkan isterinya itu dari mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Maka, kalau dalam keadaan penuh rasa syukur dan keharuan itu isterinya merangkul penolongnya dan manangis di dadanya, apakah yang aneh dalam hal itu?

Juga pendekar itu bukan golongan pemuda yang terlalu menarik hati wanita. Isterinya tidak mungkin tertarik kepada seorang yang tubuhnya bongkok seperti itu!

“Kui Hwa, tunggulah...!”

Dia berteriak berlari-lari mengejar isterinya. Di dalam hatinya yang penuh penyesalan itu kini penuh dengan harapan agar isterinya suka memaafkannya.

Sementara itu, para penduduk dusun yang lain segera mengumpulkan jari-jari kaki itu dan menguburnya dengan hati penuh rasa syukur bahwa kini Tiat-jiauw Jit-eng yang selama beberapa bulan lalu mengganas di sekitar daerah itu, kini sudah bertobat dan berarti mereka tidak akan lagi diganggu oleh mereka yang amat jahat itu. Dan semua ini berkat jasa Pendekar Bongkok, nama yang tak akan pernah mereka lupakan dan yang semenjak terjadinya peristiwa itu menjadi buah bibir mereka sehingga nama julukan pendekar baru ini mulai terkenal.

Sie Liong melarikan diri, pergi meninggalkan ladang dusun itu dengan senyum pahit di bibirnya. Ia memang telah memaklumi benar-benar keadaan dirinya, sudah diterimanya keadaan dirinya seperti apa adanya.

Memang dia berpunuk, dia bongkok dan itu merupakan sebuah kenyataan yang takkan dapat dirobah. Titik. Dia tidak akan lagi mengeluh, tidak lagi memprihatinkan keadaan tubuhnya yang sudah menjadi pemberian Tuhan dan yang diterimanya dengan penuh kepasrahan dan rasa syukur. Akan tetapi, kalau terjadi peristiwa seperti di sawah ladang tadi, bagaimana pun juga hatinya terasa seperti ditusuk.

Dia berniat baik. Dia menyelamatkan wanita dusun itu, bahkan dia menundukkan gerombolan jahat yang berarti juga menghindarkan dusun dari gangguan orang jahat. Dia melakukan hal itu tanpa pamrih, tidak minta imbalan apa pun. Akan tetapi, dia malah didakwa melakukan hal yang rendah, didakwa berjinah dengan wanita petani itu!

Sungguh menyakitkan hati memang. Bongkoknya terbawa-bawa pula, bahkan mungkin bongkoknya itulah yang sudah menimbulkan kecurigaan para penduduk dusun, yang mendatangkan kesan buruk di mata mereka dan membuat ia condong nampak sebagai orang yang jahat!

“Biarlah,” dia mengeluarkan kata-kata ini melalui mulutnya, dengan agak keras untuk melunakkan hatinya yang menjadi keras dan panas. “Biarlah mereka mengatakan apa pun juga! Yang penting, aku yakin benar bahwa aku tidak melakukan hal yang buruk, dan Tuhan mengetahui, Tuhan pun melihat dan Tuhan yang tidak akan dapat ditipu oleh kebongkokan tubuhku!”

Pikiran ini diucapkan Sie Liong keras-keras. Akhirnya hatinya menjadi dingin dan lunak kembali…..

********************

Dia berhenti di atas puncak bukit terakhir tadi, dan dari situ dia melihat ke selatan. Di sanalah terdapat propinsi Tibet! Dan kini dia telah tiba di perbatasan tiga propinsi besar. Di utara adalah Propinsi Sin-kiang. Di timur Propinsi Cing-hai, dan di selatan adalah Tibet, negara yang dikuasai para pendeta Lama itu.

Dia menuruni bukit dan menuju ke sebuah dusun yang tadi dilihatnya dari bukit itu. Daerah itu merupakan daerah yang tandus dan luas sekali, jarang terdapat dusun, maka kalau melihat sebuah dusun, maka hal itu merupakan hal yang menggembirakan bagi seorang pengelana di daerah itu.

Mungkin berhari-hari dia tak akan bertemu dusun, dan saat itu, matahari telah condong jauh ke barat. Sebentar lagi cuaca tentu akan gelap dan lebih baik melewatkan malam di dalam dusun yang hangat di mana dia dapat memperoleh makanan dan minuman dari pada bermalam di daerah terbuka yang asing baginya.

Dusun itu cukup besar dan dikurung pagar tanah liat yang dibangun seperti tembok. Di dalam dusun itu tinggal penduduk yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus keluarga! Pekerjaan mereka bercocok tanam dan berburu, ada pula yang berusaha dalam bidang peternakan kambing.

Dan melihat keadaan bangunan rumah yang cukup baik itu, Sie Liong dapat mengambil kesimpulan bahwa penghasilan penduduk dusun itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan, bahkan berlebihan. Di dusun itu terdapat pula beberapa buah warung makan, bahkan terdapat pula sebuah rumah penginapan!

Kiranya dusun ini ada pula pengunjungnya dari luar kota pikirnya. Memang demikianlah, banyak dusun di daerah itu manyediakan rumah penginapan, karena mereka maklum bahwa para pedagang dan pengelana yang lewat di dusun, dan kemalaman, tentu akan mencari rumah penginapan, mengingat bahwa dusun berikutnya amatlah jauhnya! Dan banyak pula yang membuka tempat menjual barang-barang keperluan sehari-hari.

Sie Liong segera menyewa sebuah kamar di rumah penginapan itu. Beruntung bahwa dia tidak terlambat, karena pada hari itu, banyak tamu luar kota bermalam di dusun itu. Kepala dusun itu mengadakan perayaan pesta pernikahan puteranya! Dan tentu saja dia mengundang relasi dan sahabatnya dari luar dusun.

Sesudah mandi dan makan malam, Sie Liong keluar dari kamarnya yang kecil dan berjalan-jalan di dalam dusun itu. Keadaan dusun itu tidak seperti biasanya. Kini ramai sekali. Hal ini adalah karena adanya pesta perayaan pernikahan di rumah kepala dusun.

Boleh dibilang bahwa seluruh penduduk dusun ikut pula berpesta, atau setidaknya, ikut bergembira dengan memasang banyak lampu gantung di depan rumah masing-masing sehingga keadaan di luar rumah kini menjadi terang dan gembira, tidak seperti biasa. Juga sebagian besar penduduk keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan upacara pemboyongan mempelai wanita yang kabarnya akan diambil malam hari itu.

Mempelai wanita adalah seorang gadis yang rumahnya terletak di sudut dusun. Upacara pengambilan mempelai itu dilakukan malam hari, diarak dan diikuti rombongan penari dan penabuh gamelan. Pengantin wanitanya akan naik joli yang digotong oleh empat orang, sedangkan mempelai prianya akan menunggang kuda.

Sie Liong mendengar keterangan ini dari pengurus rumah penginapan. Dia pun dengan gembira kini berjalan-jalan sebelum nanti ikut nonton arak-arakan pengantin puteri yang diboyong ke rumah mempelai pria.

Tanpa disengaja, Sie Liong berjalan-jalan menuju ke arah barat dan tak lama kemudian sampailah dia di sudut dusun itu dan berada di luar rumah kediaman pengantin wanita! Rumah itu pun dihias amat meriah, penuh daun-daunan dan bunga-bunga, di antaranya hiasan kertas dan kain warna-warni, dan dipasang banyak lampu gantung yang dihias kertas-kertas merah.

Suasana di rumah itu meriah sekali. Nampak banyak orang sedang sibuk menyiapkan joli dan semua peralatan upacara pernikahan. Melihat keadaan rumah itu, tanpa diberi tahu pun Sie Liong dapat menduga bahwa tentu di situ tempat tinggal pengantin wanita.

Karena di luar pekarangan rumah itu terdapat banyak orang yang menonton, terutama anak-anak, Sie Liong menggabung dengan mereka, berdiri di antara para penonton. Sebagian dari para penonton itu berpakaian jembel dan barulah Sie Liong tahu bahwa dia berdiri di antara para pengemis dan kanak-kanak ketika dari dalam keluar seorang yang membawa keranjang berisi makanan, lalu orang itu membagi-bagikan makanan kepada mereka. Karena dia berada di antara mereka, dia pun kebagian sepotong kueh mangkok! Hemm, dia disangka seorang jembel pula, pikirnya sambil tersenyum.

Dia tidak merasa sakit hati. Memang pakaiannya lusuh, apa lagi punggungnya bongkok. Bukankah memang di antara para pengemis terdapat banyak orang yang cacat dan tidak sempurna keadaan tubuhnya? Disangka pengemis bukanlah suatu hal yang buruk, asal jangan disangka penjahat seperti dialaminya di ladang dusun itu! Maka, seperti yang lain, dia pun makan kueh mangkok itu dengan gembira.

Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda yang baru datang menyelinap pula di antara para penonton. Dia merasa sangat curiga. Pemuda itu jelas bukan pengemis dan melihat pakaiannya, tentu dia seorang petani. Seorang pemuda tani yang bertubuh sehat dan berwajah jujur, akan tetapi pada saat itu wajahnya membayangkan kemarahan dan penasaran, bahkan masih ada bekas air mata pada kedua pipinya.

Pada saat itu, para penonton di luar halaman itu berdesakan untuk dapat melihat lebih jelas ke dalam rumah karena agaknya sedang ada upacara penghormatan mempelai puteri kepada ayah ibunya sebelum ia diboyong ke rumah calon suaminya. Upacara itu diadakan di ruangan depan, di depan meja sembahyang.

Saat itu mempelai wanita yang berpakaian indah meriah itu muncul dari dalam, menuju ke ruangan depan yang nampak dari luar, dituntun oleh dua orang nenek yang agaknya menjadi pengatur upacara itu. Karena pakaian yang longgar dan banyak hiasannya itu, juga karena muka itu tertutup tirai, maka Sie Liong tidak dapat melihat wajah pengantin itu, hanya dapat diduga bahwa ia seorang gadis yang bertubuh ramping.

Ketika gadis yang menjadi pengantin itu dituntun ke depan ayah ibunya yang sudah duduk berjajar di atas kursi, terdengar ia terisak menangis dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka. Dua orang nenek itu terkejut dan hendak menuntunnya agar ia berhati-hati dengan pakaiannya, namun mereka tak kuasa menahan gadis pengantin itu yang sudah menangis tersedu-sedu. Terdengar ucapannya di antara sedu sedannya,

“Ayah... ibu... aku tidak mau kawin... aku tidak mau menikah dengan... anak kepala dusun itu...”

Tentu saja semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Ayah dan ibu mempelai saling pandang dan ibunya lalu merangkulnya, menghiburnya dengan bisikan-bisikan lembut. Akan tetapi, mempelai wanita itu meronta-ronta dan tangisnya bahkan semakin menjadi-jadi.

“Lian-ji...! Hentikan tangismu itu! Jangan engkau membikin malu orang tuamu!” Ayahnya menghardik dan bentakan ini membuat pangantin wanita itu berhenti meronta, akan tetapi masih tetap menangis terisak-isak.

“Bawa ia masuk ke dalam kamarnya dan usahakan agar ia tidak menangis lagi! Anak sialan...!” Sang ayah marah-marah dan dua orang nenek itu lalu membawa pengantin wanita bangkit berdiri untuk membawanya kembali ke kamar.

Pada saat itu, terdengar teriakan nyaring dari luar. “Tidak adil...! Sungguh tidak adil dan sewenang-wenang...!”

Dan pemuda petani yang tadi menimbulkan kecurigaan dalam hati Sie Liong, nampak meninggalkan kelompok penonton dan berlari memasuki halaman, terus ke ruangan depan itu. Semua orang terkejut, juga ayah ibu mempelai wanita memandang dengan mata terbelalak.

“Lian-moi...!” Pemuda itu memanggil.

Mempelai wanita itu meronta dan membalikkan tubuhnya. Melihat pemuda itu, ia pun berseru, “Kiong-koko...!”

Dan dia pun menangis, masih berdiri karena kedua lengannya dipegang erat-erat oleh kedua orang nenek itu.

“Un Kiong! Mau apa kau? Berani kau datang ke sini dan membikin kacau? Kami tidak mengundangmu!” bentak ayah mempelai wanita itu dengan marah sekali.

“Saya datang untuk menuntut keadilan...!”

Akan tetapi, tuan rumah sudah memerintahkan beberapa orang anggota keluarga yang hadir dan merasa tidak senang dengan perbuatan pemuda itu. Mereka kini menyerang pemuda yang tadinya sudah menjatuhkan diri berlutut itu.

“Pergilah! Lekas pergi dan jangan datang lagi!” bentak tuan rumah setelah pemuda itu terjengkang dan bergulingan oleh beberapa pukulan dan tendangan.

Akan tetapi pemuda bernama Un Kiong itu tetap bangkit dan berlutut lagi.

“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum mendapat keadilan! Meski kalian memukuli aku sampai mati, aku tidak akan pergi!” teriaknya marah. Sementara itu mempelai wanita beberapa kali memanggil namanya.

“Kiong-koko...!” akan tetapi ia sudah ditarik oleh dua orang nenek, dibantu ibu mempelai dan diseret masuk ke dalam kamar.

Mendengar kenekatan pemuda itu, para keluarga laki-laki itu menjadi marah, bahkan kini ayah mempelai ikut pula memukuli pemuda yang masih nekat berlutut.

Melihat kejadian ini, Sie Liong cepat melompat ke dalam. Begitu ia bergerak menangkis tendangan dan pukulan itu, beberapa orang lantas terjengkang dan roboh sendiri karena serangan mereka tertangkis sedemikian kuatnya. Sie Liong sudah mengangkat bangun tubuh pemuda itu yang sudah babak belur dan bengkak matang biru.

Melihat munculnya seorang pemuda bongkok yang membela Un Kiong, semua orang terkejut. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan pandai silat, merasa penasaran dan dia lalu menerjang ke depan, menghantam ke arah dada Sie Liong sambil membentak, “Mau apa kau mencampuri urusan kami?”

“Dukkk!”

Kepalan tangannya yang besar itu tepat mengenai dada Sie Liong akan tetapi akibatnya sungguh membuat orang terbelalak. Bukan Sie Liong yang roboh, namun pemukulnya sendiri yang mengaduh-aduh sambil memegangi pergelangan tangannya yang menjadi salah urat! Dia membungkuk dan menyeringai kesakitan, mengeluh.

Melihat itu, tentu saja semua orang langsung menjadi jeri dan tidak ada lagi yang berani menghalangi ketika Sie Liong memapah pemuda itu keluar dari situ. Ketika tiba di luar rumah dan melihat betapa banyak orang mengikutinya, yaitu mereka yang tadi nonton dan agaknya mereka ingin tahu ke mana dia membawa pemuda yang dipukuli itu, Sie Liong lalu memanggul pemuda itu dan berlari cepat sehingga sebentar saja dia sudah menghilang dari kejaran para penonton.

Sie Liong membawa pemuda itu ke luar dusun dan dia baru berhenti setelah tiba di tempat sunyi di luar dusun itu. Mereka berdiri di bawah sinar rembulan dan berkali-kali pemuda itu menghela napas penuh penyesalan. Dia tahu bahwa pemuda bongkok ini bukan orang sembarangan. Dia melihat pada saat pemuda itu membawanya keluar dari dalam rumah mempelai wanita, dan terutama sekali cara pemuda itu memanggulnya dan membawanya lari secepat terbang.

“Taihiap, kenapa engkau monolongku? Mengapa engkau membawaku pergi dari sana?”

Sie Liong tersenyum. Orang ini telah diselamatkan dari keadaan yang lebih parah lagi, karena mungkin dia akan mati dipukuli orang, tetapi pemuda ini tidak berterima kasih bahkan menyesal!

“Akan tetapi, kenapa engkau begitu nekat, membiarkan dirimu dipukuli orang? Kalau tidak kularikan, mungkin engkau akan dipukuli sampai mati!”

“Biar saja! Biar aku dipukuli sampai mati agar Lian-moi melihat bukti cintaku padanya!”

“Wah, sungguh aneh. Coba ceritakan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa tahu, mungkin saja aku akan dapat menolongmu.”

Pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah berumput. Sie Liong juga duduk dan pemuda itu bercerita.

Sejak kecil Un Kiong telah ditunangkan dengan Sui Lian, gadis itu. Bahkan Un Kiong sudah sering kali menyumbangkan tenaganya bekerja di sawah ladang tunangannya. Pernikahan antara mereka tinggal menanti hari, bulan dan tahun yang baik saja. Akan tetapi, secara tiba-tiba saja orang tua Sui Lian mengumumkan bahwa pertunangan itu diputuskan, dibatalkan dan tahu-tahu, sebulan kemudian Sui Lian dinikahkan dengan putera kepala dusun itu!

“Kepala dusun itu orang baru, belum setahun dia diangkat menjadi kepala dusun dan bertugas di sini. Jelaslah, dibatalkannya pertunanganku itu disebabkan oleh kehadiran putera kepala dusun itu. Seorang pemuda brengsek, pengejar perempuan, sombong dan tidak ada gunanya! Tadinya aku sudah menerima nasib, aku tidak berdaya. Tadi aku hanya ingin melihat, bersama para penonton, ingin melihat bekas tunanganku yang semenjak diputuskannya ikatan jodoh itu tidak pernah kulihat lagi. Akan tetapi, melihat ia menangis, mendengar ucapannya bahwa ia tidak mau dikawinkan dengan orang lain, aku tidak dapat menahan hatiku. Dan ia... ahhh, ia masih sempat memanggilku, dan ia... ia begitu bersedih...! Karena itu, aku ingin mati saja, biar mereka pukuli, biar aku mati di depan Lian-moi untuk membuktikan cinta kasihku kepadanya!”

Sie Liong tersenyum. “Membuktikan cinta kasih dengan membiarkan diri mati dipukuli orang? Hemm, itu bukan cara membuktikan cinta kasih yang baik! Kalau engkau mati dipukuli, apakah tunanganmu itu akan merasa gembira? Apakah perbuatanmu itu akan dapat membebaskan ia dari cengkeraman orang yang dipaksakan menjadi suaminya?”

Un Kiong menjadi bengong, lalu dia berulang-ulang menggeleng kepala dan menghela napas. “Lalu apa yang dapat kulakukan, taihiap?”

“Engkau pulanglah dan biarlah aku yang akan membantumu. Aku akan membatalkan pernikahan paksaan itu dan akan mengantarkan mempelai wanita ke rumahmu. Engkau bersiap-siaplah, besok siang mempelai wanita akan kuantarkan ke rumahmu dan harus kau sambut ia sebagai mempelaimu.”

“Tapi... tapi... tentu mereka akan marah. Aku akan ditangkap dan bahkan orang tuaku akan masuk tahanan dan dihukum!”

“Jangan khawatir. Aku yang bertanggung jawab, dan jangan takut. Aku akan menangani urusan ini sampai tuntas. Andai kata engkau ditawan, aku yang akan membebaskan engkau.”

Karena dia sendiri sudah tak berdaya dan hampir putus asa, Un Kiong menaruhkan seluruh harapannya kepada pendekar yang bongkok itu, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong.

“Taihiap, sebelumnya saya menghaturkan terima kasih. Sebelum saya pulang, mohon tahu nama besar taihiap, agar dapat kuceritakan kepada orang-tuaku.”

Sie Liong menggelengkan kepala. “Namaku tidak ada artinya, sobat. Kuberi tahu pun engkau tidak akan mengenalnya. Aku hanya kebetulan lewat saja di sini, dan aku selalu gatal tangan, ingin membereskan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pulanglah dan tunggulah sampai besok.”

Un Kiong memberi hormat, kemudian dia pun pergi, kembali ke dusun dan pulang ke rumahnya. Dia disambut dengan omelan ayah ibunya yang sudah mendengar beritanya bahwa putera mereka membikin ribut di rumah mempelai wanita sehingga dipukuli oleh keluarga mempelai wanita.

Ketika Un Kiong menceritakan tentang Pendekar Bongkok yang menolongnya, dan juga tentang janji pendekar itu, ayah ibunya menjadi semakin tegang dan gelisah.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner