SI TANGAN SAKTI : JILID-24


"Ouw Seng Bu, pengkhianat keji manusia berhati iblis!" Suara Yo Han.

Cepat Seng Bu membalikkan tubuhnya dan dia sudah berhadapan dengan Yo Han! Dia merasa seperti dalam mimpi dan menatap wajah Yo Han dengan mata terbelalak. Apa lagi pada waktu itu dia mendengar suara gaduh pertempuran yang menunjukkan bahwa pasukan pemerintah sudah menyerbu ke dalam perkampungan Thian-li-pang.

Sementara itu, Kim Giok mengangkat mukanya. Dia terbelalak ketika melihat api sudah membakar rumah tahanan. Melihat api mulai berkobar, seakan timbul semangat dan kekhawatirannya. Ia meloncat dan dengan pedang di tangan, ia seperti melupakan rasa nyeri di lambungnya. Cepat ia berlari menuju ke rumah tahanan itu, tidak mempedulikan lagi kepada Seng Bu.

Setelah tiba di dekat rumah tahanan itu, Kim Giok melihat ada beberapa orang anggota Thian-li-pang sedang terus membakar bagian samping rumah tahanan yang telah mulai berkobar. Dengan marah Kim Giok menggerakkan pedangnya sehingga keempat orang anggota Thian-li-pang itu langsung roboh.

Dua orang lagi yang menjadi terkejut melihat tunangan ketua mereka mengamuk, tahu bahwa calon nyonya ketua itu kini menjadi musuh. Mereka menggerakkan golok, akan tetapi mereka pun segera terpelanting mandi darah, menjadi korban pedang Koai-liong Po-kiam di tangan gadis dari Lembah Naga Siluman itu.

Kim Giok tidak mempedulikan api yang berkobar, dan dengan cepat ia meloncat masuk, menyelinap dan berlari menuju ke kamar para tahanan. Dia melihat betapa Sian Li dan Hui Eng sudah dapat mematahkan rantai yang membelenggu kaki tangan mereka dan mereka berdua kini sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjebol jeruji baja dengan cara menarik dan membetot-betot, tetapi agaknya usaha ini tidak akan membawa hasil. Juga di bagian ujung sana, di mana Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu ditahan, terdengar pula suara gaduh ketika mereka mendorong-dorong pintu baja kamar tahanan mereka.

Dengan sisa tenaga terakhir, Kim Giok menyambut empat orang anggota Thian-li-pang yang agaknya hendak meninggalkan ruangan yang mulai terbakar itu. Mereka adalah para penjaga sebelah dalam dan dia tahu bahwa kunci kamar-kamar tahanan itu pasti berada di tangan mereka.

Pedangnya berkelebat menyambar-nyambar, maka robohlah empat orang itu. Kim Giok memeriksa pakaian mereka dan menemukan gelang besi yang digantungi beberapa buah kunci. Cepat dia menghampiri kamar tahanan di mana Sian Li dan Hui Eng sejak tadi memandangnya dengan sinar mata penuh harapan dan kegembiraan.

Tentu saja mereka berdua merasa gembira sekali bahwa pada saat terakhir, ternyata Kim Giok menunjukkan bahwa ia tetap seorang puteri sepasang pendekar dari Lembah Naga Siluman yang gagah perkasa!

Setelah Kim Giok berhasil membuka kunci pintu dan menarik daun pintu baja terbuka, ia pun terhuyung. Ia menyerahkan gelang kunci kepada Sian Li sambil berpegang kepada jeruji.

"Cepat... bebaskan mereka... di ujung sana...!" Dan ia pun terkulai roboh.

"Kim Giok...!" Sian Li berseru dan cepat merangkulnya. Kepada Hui Eng ia lalu berkata, "Enci Eng, cepat bebaskan tawanan di ujung sana, bahkan kalau masih ada yang lain, bebaskan mereka semua."

Hui Eng menerima kunci itu, dan tidak lama kemudian ia sudah membuka pintu kamar tahanan di mana Ciang Hun dan lain-lain dikeram.

Sian Li masih memeriksa keadaan Kim Giok dan terkejutlah ia ketika melihat lambung gadis itu terdapat tanda menghitam dan sekali raba saja tahulah ia bahwa isi perut gadis itu telah menderita luka yang agaknya tidak mungkin disembuhkan lagi.

"Kim Giok...!" Ia merangkul, penuh keharuan.

Biar pun gadis yang terluka parah itu tidak menerangkan, Sian Li sudah dapat menduga bahwa tentu Kim Giok terpukul oleh Ouw Seng Bu pada saat gadis ini nekat hendak membebaskan ia dan Hui Eng. Hanya yang membuat ia heran, bagaimana Kim Giok tetap masih dapat membebaskannya, padahal pukulan itu merupakan pukulan maut yang mematikan.

"Sian Li... mintakan ampun... kepada ayah ibu...," Kim Giok mengeluh dan terkulai.

"Sian Li, cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini. Kebakaran mulai membesar dan sebentar lagi tidak akan ada jalan keluar," berkata Hui Eng yang datang bersama Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu Bu-tong-pai.

Sian Li memandang dan Ciang Hun juga berkata, "Benar, adik Sian Li, kita harus cepat pergi. Ahhh, bukankah itu adik Cu Kim Giok? Kenapa dia?"

Sian Li menjawab dengan suara gemetar. "Gak-twako... tanpa pertolongan Kim Giok, kita semua akan hangus dan mati terbakar. Ia yang menolong kita membukakan pintu tahanan dan ia... ia telah tewas. Mari, bantu aku membawanya keluar, Twako."

Tanpa diminta untuk ke dua kalinya, Ciang Hun sudah mengangkat tubuh yang masih hangat dan lemas itu, memondong dan membawanya ke luar bersama yang lain.

Melihat di luar telah terjadi pertempuran hebat antara anak buah Thian-li-pang melawan pasukan pemerintah yang menyerbu masuk, Sian Li segera menyerahkan jenazah Kim Giok supaya ditunggu oleh lima orang tosu Bu-tong-pai yang masih menderita luka-luka, sedangkan ia sendiri bersama dengan Hui Eng, Ciang Hun dan Bi Kim lalu mengamuk, membantu pasukan menyerbu para anggota Thian-li-pang sehingga mereka itu dibuat cerai-berai dan banyak yang jatuh.

"Aku harus mencari Seng Bu!" teriak Sian Li dengan marah.

"Aku akan mencari Siangkoan Kok!" kata pula Hui Eng.

Akan tetapi, mereka melihat Siangkoan Kok dan dua orang tosu pembantunya, yaitu Im Yang Ji tokoh Pat-kwa-pai serta Kui Thiancu tokoh Pek-lian-kauw, sedang mengamuk dan membuat para prajurit dan perwira yang mengeroyok menjadi kocar-kacir sehingga banyak prajurit yang roboh.

Hui Eng yang melihat Siangkoan Kok mengamuk, segera mencabut pedang dan maju menerjang bekas ayah angkatnya, sekaligus gurunya itu. Memang Ouw Seng Bu tidak merampas senjata para tawanan itu sehingga kini mereka dapat menggunakan senjata masing-masing.

Melihat gadis itu sudah nekat menyerang bekas ketua Pao-beng-pai yang lihai itu, Sian Li merasa khawatir dan dia pun turut menerjang maju membantu Hui Eng mengeroyok Siangkoan Kok. Ada pun Gak Ciang Hun bersama Gan Bi Kim sudah membantu para perwira dan prajurit yang mengeroyok dua orang tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw.

Siangkoan Kok yang kaget sekali melihat para tawanan sudah meloloskan diri, terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi dua orang gadis yang amat tangguh itu. Tingkat kepandaian bekas puteri dan muridnya itu sudah hampir menyusulnya, sedangkan Si Bangau Merah juga merupakan seorang wanita yang amat lihai, maka dia pun harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk membela diri.

Jumlah pasukan yang menyerbu sangatlah banyak sehingga orang-orang Thian-li-pang menjadi kewalahan dan terdesak hebat. Tiba-tiba muncul pula Cia Sun yang memimpin sebuah regu prajurit pilihan. Saat melihat betapa kekasihnya sudah bertanding melawan Siangkoan Kok dibantu Tan Sian Li, dia pun segera memerintahkan para perwira dan prajurit yang memiliki kepandaian untuk ikut pula mengeroyok.

Pertandingan berat sebelah itu tidak berlangsung terlalu lama. Biar pun mereka bertiga berhasil merobohkan banyak prajurit, tapi Siangkoan Kok, Im Yang Ji, dan Kui Thiancu akhirnya roboh setelah menderita banyak luka-luka. Siangkoan Kok tewas dengan dada tertembus pedang di tangan Hui Eng. Im Yang Ji dan Kui Thiancu juga tewas dengan tubuh penuh luka-luka.

Cia Sun gembira sekali melihat Hui Eng selamat. "Adik Sian Li, di sana kulihat kakak Yo Han sedang bertanding melawan Ouw Seng Bu."

Sian Li mengeluarkan suara seperti sorak gembira mendengar ini dan dia pun berlari cepat menuju ke arah yang ditunjuk Cia Sun diikuti oleh yang lain. Setelah tiba di tempat yang dimaksudkan, mereka tertegun menyaksikan sebuah pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Ketika ada yang hendak bergerak membantu Yo Han, Sian Li cepat berkata, "Jangan ada yang bergerak, Han-koko tidak akan kalah. Dia tidak senang kalau dibantu dengan pengeroyokan."

Mendengar ucapan ini, semua orang maklum dan mereka menonton dengan kagum dan juga tegang, kecuali Sian Li yang percaya sepenuhnya bahwa kekasih hatinya tak akan kalah.

Pertemuan antara Yo Han dan Ouw Seng Bu tentu saja membuat ketua Thian-li-pang itu terkejut setengah mati. Wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, akan tetapi perlahan-lahan wajah itu berubah merah dan matanya menjadi mencorong liar penuh kebencian dan kemarahan.

"Kau...??!!" Seng Bu berseru dan suaranya terdengar dingin dan tajam mengiris jantung. Mulutnya kini membentuk senyum menyeringai yang amat bengis.

Yo Han sendiri merasa bulu tengkuknya berdiri. Orang ini tidak waras, pikirnya.

"Ouw Seng Bu, kenapa engkau membunuh para pimpinan Thian-li-pang termasuk Lauw Pangcu?"

Seng Bu merasa tidak perlu lagi merahasiakan semua perbuatannya, maka dia tertawa. "Ha-ha-ha, mereka itu tidak ada gunanya, membuat Thian-li-pang menjadi lemah saja. Thian-li-pang harus menjadi yang terkuat, harus bisa mengajak seluruh kekuatan untuk menghancurkan penjajah Mancu. Mereka itu orang-orang lemah!"

"Ouw Seng Bu, engkau membunuh mereka dan menguasai Thian-li-pang bukan demi perjuangan, tetapi untuk mencari kedudukan tinggi. Engkau bersekutu dengan golongan sesat, engkau juga membiarkan anak buah Thian-li-pang melakukan perbuatan jahat. Bahkan engkau secara tak tahu malu dan curang sekali menjebak aku ke dalam sumur. Heran sekali kenapa engkau, murid Lauw Pangcu yang dulu amat dipercaya dan baik, mendadak berubah seperti iblis? Apakah engkau telah menjadi gila?"

"Yo Han, semua orang Thian-li-pang memujamu. Kau lalu menjadi sombong. Apa kau kira hanya engkau yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng? Ha-ha-ha, aku pun telah menguasainya dan aku akan membunuhmu untuk yang kedua kalinya!" Setelah berkata demikian, Ouw Seng Bu menyerang dengan gerakan yang aneh dan dahsyat sekali.

Diam-diam Yo Han merasa heran dan terkejut sekali mendengar bahwa orang ini telah menguasai Bu-kek Hoat-keng, apa lagi saat melihat serangan yang luar biasa itu. Yang membuat dia heran adalah dia dapat mengenali gerakan tangan Seng Bu pada waktu menyerangnya. Memang itu adalah gerakan dari Bu-kek Hoat-keng!

Karena merasa heran, Yo Han ingin sekali melihat lebih banyak lagi gerakan itu. Ia pun mengelak cepat tanpa membalas, membiarkan Seng Bu menyerang secara bertubi-tubi. Dan tidak salah lagi, jurus-jurus yang dimainkan Seng Bu ketika menyerangnya adalah ilmu Bu-kek Hoat-keng, akan tetapi semakin lama, semakin aneh saja perkembangan jurus-jurus itu.

Hebatnya, serangan itu mengandung hawa dingin yang aneh karena ketika satu kali dia menangkis, tangannya yang bertemu lengan lawan itu terasa panas! Pukulan Seng Bu itu mengandung hawa beracun yang ganas luar biasa! Berbahaya sekali bagi lawan dan tidak mengherankan kalau Lauw Kang Hui dan yang lain-lain tewas di tangan Seng Bu. Apa bila tidak menguasai Bu-kek Hoat-keng, dia sendiri tentu akan terpengaruh hawa beracun itu.

Seng Bu yang merasa bahwa dia sudah memiliki ilmu yang tidak terkalahkan, semakin berbesar hati melihat Yo Han tak pernah membalas dan hanya lebih banyak mengelak dan berloncatan untuk menghindarkan serangan-serangannya. Namun dia pun merasa penasaran melihat dia belum juga berhasil.

Secepatnya dia harus dapat membunuh Yo Han agar dia mendapat kesempatan untuk melarikan diri, sebab ia melihat betapa banyaknya pasukan pemerintah yang menyerbu perkampungan Thian-li-pang itu. Maka, dia segera berteriak memanggil anak buahnya dan sedikitnya dua puluh orang anak buah Thian-li-pang segera menggunakan senjata mereka mengepung dan mengeroyok Yo Han!

Yo Han maklum bahwa Seng Bu mencari kesempatan melarikan diri dan hal ini haruslah dicegah. Maka, dia pun tidak pernah meninggalkan atau menjauhi Seng Bu. Dia mulai menggunakan ilmunya untuk menyerang dan menutup jalan keluar Seng Bu, sedangkan para anak buah Thian-li-pang yang mengepung dan mengeroyoknya dengan ragu-ragu dan gentar, dia robohkan dengan tendangan dan tamparan saja, tidak membuat mereka terluka parah.

"Para anggota Thian-li-pang, cepat ajaklah kawan-kawan untuk melarikan diri! Jangan hiraukan lagi Ouw Seng Bu yang menyeret kalian ke dalam penyelewengan!" beberapa kali Yo Han berseru.

"Kelak aku sendiri yang akan membangun kembali Thian-li-pang!" Yo Han berseru lagi.

Terjadi kebimbangan dalam hati para anggota Thian-li-pang. Mereka yang memang berwatak jahat dan lebih senang dipimpin Seng Bu, sebab di bawah bimbingan Seng Bu mereka dapat melampiaskan nafsu dan keserakahan mereka secara bebas, tidak mau mempedulikan seruan Yo Han ini dan mereka tetap melakukan perlawanan dan setia kepada Seng Bu.

Akan tetapi, lebih banyak lagi anggota yang hanya terpaksa mentaati ketua baru itu, dan kini para anggota ini segera menyampaikan pesan kepada kawan-kawan sehaluan dan mereka pun mulai berserabutan mencari lubang untuk meloloskan diri dari penyerbuan pasukan pemerintah.

Mendengar teriakan Yo Han, dan melihat pula betapa anak buahnya yang mengeroyok Yo Han terpelanting ke kanan kiri sehingga dia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk meloloskan diri dari Yo Han, Seng Bu menjadi marah dan nekat.

"Yo Han, engkau harus mati di tanganku!" bentaknya.

Seng Bu pun menyerang lagi sambil mengeluarkan teriakan yang menyeramkan, bukan teriakan manusia lagi melainkan teriakan iblis. Dan pada saat itulah Sian Li dan para tokoh lain muncul dan menjadi penonton.

Yo Han juga melihat mereka dan hatinya berdebar girang bukan main melihat Sian Li dalam keadaan sehat dan selamat. Dia pun mengenal Hui Eng dan Cia Sun, membuat hatinya menjadi semakin girang melihat bahwa adik angkatnya itu telah bersatu dengan kekasihnya. Tetapi hanya sebentar dia dapat melirik ke arah Sian Li dan yang lain-lain karena dia harus kembali memperhatikan lawannya yang ternyata sangat tangguh dan memiliki ilmu silat yang amat aneh itu.

"Hyaaattt...!"

Melihat munculnya para tawanan, Seng Bu menjadi nekat. Tahulah dia bahwa dia harus membela diri mati-matian dan tak ada jalan keluar kecuali dia dapat membunuh Yo Han. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menyerang dengan gencar. Dua tangannya melakukan pukulan dengan cara mendorong dengan telapak tangan, sehingga dari dua tangannya itu menyambar hawa yang dingin bagaikan es, dan nampak pula uap hitam membiru keluar dari kedua telapak tangan itu.

"Hemmm...!"

Yo Han mengelak dan menampar dari samping. Lawannya agaknya mengenal gerakan serangan ini dan dapat mengelak dengan baik, lalu membalas dengan dorongan tangan kanan. Diam-diam Yo Han makin heran. Dia mengenal benar gerakan kaki tangan Seng Bu itu.

Kembali datang serangan dahsyat dari Seng Bu yang mengerahkan seluruh tenaganya dalam setiap serangan. Yo Han merasa aneh. Dia yakin bahwa gerakan-gerakan itu benar ilmu Bu-kek Hoat-keng seperti yang pernah dipelajarinya dari kakek Ciu Lam Hok.

Bagaimana mungkin Seng Bu dapat mempelajarinya? Kakek itu telah meninggal, dan semua coret-moret di dalam lorong sumur tua telah dihapus. Dia tidak tahu bahwa kakek Ciu Lam Hok pernah membuat coret-moret lain di sumur ke dua, yang ditemukan Seng Bu, catatan ilmu itu yang tidak lengkap sama sekali dan yang telah dipelajari dengan keliru oleh Seng Bu.

Yo Han mengenal semua gerakan itu, tetapi ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya memiliki daya mengembalikan setiap pukulan lawan. Bu-kek Hoat-keng bukan pukulan untuk merobohkan orang, melainkan mempunyai daya tolak yang luar biasa sehingga serangan yang bagaimana hebat pun, akan membalik kepada penyerangnya sendiri.

Akan tetapi, gerakan yang mirip Bu-kek Hoat-keng dan dimainkan Seng Bu ini memiliki daya serang yang demikian dahsyatnya, mengandung hawa maut dan beracun! Kalau dia sendiri mempergunakan tenaga Bu-kek Hoat-keng, tentu pukulan aneh dari Seng Bu itu akan membalik dan mana mungkin ada manusia dapat bertahan jika terkena pukulan sehebat itu?

Dia tak ingin membunuh Seng Bu, walau pun dia tahu bahwa Seng Bu telah membunuh Lauw Kang Hui dan para pimpinan lain dan pemuda itu telah membawa Thian-li-pang menyeleweng. Dia ingin menyadarkan Seng Bu dan membuat pemuda itu bertobat. Tidak ada istilah terlambat untuk bertobat selagi manusianya masih hidup.

Akan tetapi, justru karena dia tak mau membunuh lawan, maka perkelahian itu menjadi amat seru dan juga tidak mudah bagi Yo Han untuk menundukkan lawannya. Karena dia memiliki ilmu Bu-kek Hoat-keng yang asli, tentu saja tingkatnya masih lebih tinggi dibandingkan Seng Bu. Bu-kek Hoat-keng yang dimiliki dan dikuasai Seng Bu sudah menjadi ilmu sesat yang sangat keji dan berbahaya, sedangkan yang dikuasai Yo Han adalah ilmu yang mengandung keajaiban, yang memiliki daya menolak semua kekuatan jahat, bahkan menolak semua hawa beracun.

Namun, karena Yo Han tidak bermaksud membunuh, tidak membalas serangan lawan dengan jurus ampuh yang mematikan, dan bahkan dia tidak mau menggunakan tenaga menolak balik serangan Seng Bu, maka perkelahian itu menjadi ulet dan lama.

Seng Bu mengerahkan seluruh tenaganya, namun semua hawa sakti yang keluar dari tubuhnya, bagaikan batu besar dilempar ke dalam telaga saja ketika dipakai menyerang Yo Han. Semua tenaga itu tenggelam dan tidak mendatangkan akibat apa pun. Setiap kali Yo Han menangkis, tangan Seng Bu tergetar hebat dan seperti lumpuh. Seng Bu tidak tahu bahwa bila Yo Han menggunakan tenaga sakti dari Bu-kek Hoat-keng, maka tenaganya bukan hanya tenggelam, tapi membalik sehingga seolah dia memukul dirinya sendiri.

Bagi mereka yang menonton, tentu saja perkelahian itu tampak menegangkan dan amat seru. Sian Li sampai bermandi peluh menyaksikan perkelahian itu karena tidak kelihatan kekasihnya itu unggul, walau pun juga tidak nampak terdesak. Agaknya kedua orang itu memiliki ilmu dan kekuatan yang serupa dan setingkat!

"Haaaiiihhhhh...!!"

Kembali Seng Bu menyerang, sekali ini tubuhnya mencelat ke atas. Bagaikan seekor burung garuda dia menyambar turun dengan kedua tangan dijulurkan lurus ke depan, dengan pengerahan tenaga sepenuhnya pada kedua telapak tangannya yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan uap hitam.

Melihat serangan maut yang amat berbahaya ini, Sian Li mengepal tangan kanannya dan matanya memandang terbelalak. Sebagai seorang ahli ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah), ia tahu betapa besar bahayanya serangan seperti itu, sebab di dalam ilmu silatnya terdapat pula jurus penyerangan sambil melayang seperti itu.

Akan tetapi Yo Han juga mengenal jurus yang berbahaya ini. Tahulah dia bahwa Seng Bu sudah nekat dan hendak mengadu nyawa! Dengan tenang Yo Han telah mengambil keputusan bahwa dia harus cepat menundukkan Seng Bu dan merobohkannya, walau pun tidak harus membunuhnya.

Pemuda ini agaknya sudah miring otaknya, maka kalau dibiarkan lolos dan membawa pergi ilmunya yang sesat, akan merupakan bahaya besar bagi umum, terutama sekali bagi dunia kang-ouw. Dia harus dapat berusaha menyadarkannya atau merampas ilmu sesat itu.

Laksana seekor burung walet, tiba-tiba tubuh Yo Han juga mencelat ke atas menyambut serangan Seng Bu. Melihat ini, Seng Bu mengeluarkan suara tertawa aneh karena dia girang dan yakin bahwa kali ini akan mampu membunuh Yo Han. Dengan pengerahan seluruh tenaganya, dia menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah tubuh Yo Han.

"Wuuuttt...!"

Seng Bu terkejut karena tiba-tiba tubuh itu lenyap dari depannya dan kedua tangannya menghantam udara kosong. Maklum bahwa dia telah terkecoh, dia berusaha membuat gerakan jungkir balik seperti yang dilakukan Yo Han dengan cepat ketika mengelak tadi. Akan tetapi terlambat. Dari sebelah atasnya, Yo Han telah menggunakan tangan yang dimiringkan untuk memukul punggung Seng Bu.

"Desss...!!"

Seng Bu mengeluarkan keluhan lirih dan tubuhnya terbanting ke atas tanah. Yo Han menyusulnya dengan melayang turun. Akan tetapi, dapat dibayangkan kagetnya hati Pendekar Tangan Sakti ini ketika tiba-tiba tubuh yang tadinya terbanting roboh itu telah bergerak meloncat bangun dan menyambut Yo Han yang baru saja turun itu dengan dorongan kedua tangan, dahsyat bukan main karena Seng Bu mengerahkan seluruh tenaga terakhir dalam serangan mendadak ini. Ternyata Seng Bu memiliki kekuatan luar biasa sehingga pukulan Yo Han tadi seolah tidak terasa olehnya!

Tidak ada lain jalan bagi Yo Han kecuali dia juga menyambut dengan kedua tangannya didorongkan ke depan.

"Wuuuttt... plakkk!"

Dua pasang tapak tangan itu bertemu dan melekat! Yo Han merasa betapa ada hawa yang amat dingin menyerangnya. Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga panas dan kini Seng Bu yang merasa betapa kekuatannya terdorong oleh tenaga yang dahsyat sekali.

Seng Bu terus bertahan sehingga terjadilah dorong mendorong dengan menggunakan ilmu yang sama, yaitu Bu-kek Hoat-keng. Akan tetapi kalau ilmu yang dikuasai Yo Han murni, sebaliknya yang dikuasai Seng Bu merupakan ilmu sesat yang tercipta karena latihan yang keliru.

Dari kepala Yo Han mengepul uap putih, sebaliknya dari kepala Seng Bu mengepul uap hitam. Seng Bu mendengus-dengus, muka serta lehernya sudah penuh keringat dan perlahan-lahan, tenaganya mengendur sedangkan hawa panas dari telapak tangan Yo Han mulai memasuki dirinya melalui kedua tapak tangannya.

Yo Han merasa mendapatkan kesempatan. Dia harus menggunakan tenaga saktinya untuk mendorong keluar hawa beracun itu dari tubuh Seng Bu, sambil merusak pusat penghimpunan sinkang agar selanjutnya Seng Bu tidak dapat lagi mempergunakan ilmu sesatnya itu.

Yo Han sudah mengambil keputusan bahwa itulah satu-satunya jalan untuk memaksa Seng Bu kembali ke jalan yang benar, yaitu dengan meniadakan kekuatan yang akan mendorongnya melakukan kekejian. Kalau Seng Bu sudah tidak memiliki kekuatan yang dapat dia andalkan, tentu dia tidak akan mampu merajalela lagi.

Sian Li, Hui Eng, Ciang Hun, Cia Sun, dan Bi Kim yang maklum apa artinya adu tenaga sinkang antara kedua orang muda yang lihai itu, menonton dengan hati tegang bukan main. Terutama sekali Sian Li.

Gadis ini maklum bahwa dalam adu tenaga sinkang seperti itu, berarti adu nyawa, dan kalau sampai kekasihnya kalah dalam adu tenaga sinkang ini, ia tahu bahwa Seng Bu pasti tidak segan-segan untuk membunuhnya. Untuk membantu, ia tidak mau karena hal itu akan merendahkan Yo Han dan tidak sesuai dengan watak pendekar. Maka, wajahnya sudah mulai pucat karena ia merasa gelisah sekali.

"Jangan takut, dia pasti menang," terdengar Hui Eng berbisik di sampingnya dan Sian Li mengangguk, berterima kasih karena dia pun tahu bahwa Hui Eng cukup lihai untuk dapat menduga yang tepat, menghilangkan keraguannya sendiri.

Dan memang ucapan Hui Eng itu bukan sekedar hiburan kosong belaka. Gadis lihai ini sudah melihat betapa Seng Bu terdesak hebat dalam adu tenaga itu, membuat uap tebal menghitam keluar dari kepalanya, matanya mendelik dan keringatnya membasahi muka dan leher, juga nampak betapa tubuh Seng Bu mulai menggigil.

Seng Bu maklum bahwa dia tak akan menang, akan tetapi dia pun tidak mau menyerah. Masih dikerahkan tenaganya yang terakhir hingga dia seperti mendengar suara tulang patah di dalam dadanya. Ia pun melangkah mundur, kedua tangannya ditarik lepas dari tangan Yo Han dan menggunakan kedua tangan untuk menekan dadanya yang terasa nyeri. Akhirnya, ia pun memuntahkan darah segar, terhuyung ke belakang.

"Ouw Seng Bu, masih ada kesempatan hidup bagimu. Pergi berobat dan bertobatlah!" kata Yo Han lembut.

Dengan mata mendelik penuh kebencian Seng Bu memandang kepada Yo Han, lalu dia masih nekat hendak mengerahkan tenaga dan menyerang lagi. Akan tetapi begitu dia mengerahkan tenaga sinkang, isi dada perutnya bagai diremas, membuat dia mengeluh dan terhuyung, dan dia memandang kepada Yo Han dengan mata terbelalak bingung.

"Seng Bu, mulai kini engkau tidak akan dapat menggunakan tenaga berbuat kejahatan lagi. Bertobatlah!" kata Yo Han lembut dan dalam suaranya terkandung perasaan iba.

Mendengar ini, tahulah Seng Bu bahwa sudah habis baginya, habis segala-galanya. Dia teringat secara mendadak kepada Cu Kim Giok, gadis yang dicinta dan mencintanya, dan di dalam lubuk hatinya timbul penyesalan yang amat mendalam. Dia mengeluarkan keluhan panjang, kemudian tubuhnya membalik dan dia sudah berlari menuju ke tempat tahanan yang kini berkobar dimakan api. Yo Han dan semua orang mengejarnya.

Ketika Seng Bu melihat lima orang tosu Bu-tong-pai berdiri, dan tak jauh dari situ rebah sesosok tubuh, dia tersentak kaget mengenal tubuh Kim Giok yang dicarinya. Tanpa mempedulikan apa pun, dia berseru memanggil, "Giok-moi...!!" Dan dia pun menubruk mayat gadis itu.

"Giok-moi… ahhh, Giok-moi...!" Dia meratap dan menangis.

Yo Han dan yang lain-lain sudah tiba di situ.

"Ouw Seng Bu iblis busuk, tidak perlu lagi engkau pura-pura menangis! Simpan saja air mata buayamu itu karena Kim Giok sudah tewas oleh pukulanmu. Engkaulah yang telah membunuhnya, kenapa engkau kini berpura-pura menangis?" tegur Sian Li gemas dan marah.

Mendengar ucapan Sian Li, tangis Seng Bu semakin menjadi-jadi. Seperti anak kecil dia menangis dan meratap, sesenggukan.

"Giok-moi... Kim Giok... ampunkan aku... ampunkan aku..." demikian ratapnya berulang kali.

Kemudian, tanpa diduga-duga oleh semua orang, mendadak dia menggerakkan tangan kanannya, meringis menahan nyeri ketika mengerahkan tenaga terakhir dan tangan itu menyambar dan mencengkeram ubun-ubun kepalanya sendiri. Terdengar suara tulang patah dan dia pun roboh dan tewas di atas jenazah Kim Giok yang masih hangat.

Semua orang terbelalak, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

"Mungkin inilah yang terbaik...," kata Yo Han halus, penuh rasa haru dan iba.

"Kakak Yo Han, untunglah engkau dapat muncul dalam keadaan selamat, kalau tidak... sukar aku membayangkan apa yang akan terjadi dengan kami semua," kata Cia Sun.

Yo Han memandang kepada adik angkatnya itu sambil mengerutkan alisnya. Suaranya memang lembut, namun penuh teguran ketika dia berkata, "Cia-siauwte, kenapa engkau melanggar janji, telah mengerahkan pasukan pemerintah untuk menyerbu perkumpulan pejuang?"

Wajah Cia Sun berubah kemerahan. "Ah, Twako. Aku sama sekali bukan mengerahkan pasukan untuk menyerbu perkumpulan pejuang, tetapi terpaksa mengerahkan pasukan untuk menolong Eng-moi dan nona Sian Li dari tangan penjahat!”

Hui Eng segera maju membela. "Dia benar! Tanpa datangnya pasukan yang menyerbu perkumpulan Thian-li-pang yang sudah menjadi gerombolan penjahat itu, mungkin kami sekarang telah tewas."

Sian Li sudah maju dan memegang lengan Yo Han dengan mesra. "Han-koko, mereka itu benar. Pangeran mengerahkan pasukan bukan hanya untuk menyelamatkan kami berdua, bahkan untuk mencoba menolongmu yang dikabarkan tewas dalam sumur."

Yo Han termangu. Jika Sian Li sudah memberi kesaksiannya, tentu dia tidak meragukan lagi kebenarannya. "Kalau begitu, mari kita pergi dari sini dan bicara di luar tempat ini." Ia memandang kepada gadis yang tewas di samping Seng Bu dan bertanya, "Siapakah nona yang tewas ini?"

"Han-koko, ia bukan orang lain. Ia adalah puteri Paman Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman," kata Sian Li.

Yo Han terbelalak. "Ahhh...!"

"Ia yang telah membebaskan kami dari rumah tahanan yang terbakar. Tanpa bantuan dirinya, kami semua tentu sudah terbakar mati di dalam kamar tahanan," kata pula Sian Li, lalu ia menunjuk kepada lima orang tosu, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim. "Lima orang Totiang ini dari Bu-tong-pai, dan ini kakak Gak Ciang Hun dan enci ini..."

"Aku sudah mengenal Yo Taihiap dengan baik, adik Sian Li."

"Benar apa yang dikatakan oleh saudara Yo Han, kita bicara saja di luar. Biar kubawa jenazah nona Cu Kim Giok ini keluar," kata Gak Ciang Hun, dan dia lalu memondong jenazah itu.

"Mari ikut aku. Aku yang akan membukakan jalan keluar," kata Cia Sun.

Dia pun berjalan diikuti mereka semua. Tentu saja para perwira atau prajurit tidak berani menghalangi pangeran ini keluar dari perkampungan Thian-li-pang, diikuti lima orang tosu Bu-tong-pai, Gak Ciang Hun yang memondong jenazah Cu Kim Giok, Yo Han, Sian Li, Bi Kim, dan Hui Eng.

Setelah tiba di kaki bukit, barulah mereka berhenti. Menurut usul Gak Ciang Hun yang disetujui pula oleh mereka semua, lima orang tosu Bu-tong-pai yang lebih mengetahui akan urusan itu, diminta agar memilihkan sebidang tanah yang baik untuk mengubur jenazah Cu Kim Giok. Semua orang membantu menggali lubang dan dengan upacara sederhana namun khidmat yang dipimpin oleh Thian Tocu tosu dari Bu-tong-pai.

Setelah selesai pemakaman yang dilakukan tanpa ada yang bicara, akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk duduk di dekat makam dalam sebuah lingkaran. Barulah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Seperti dengan sendirinya, Sian Li duduk di dekat Yo Han dan pandang mata Sian Li bersinar-sinar penuh kebahagiaan karena akhirnya dia dapat bertemu dan berkumpul dengan pria yang sejak kecil telah dicintanya itu. Hui Eng juga duduk di dekat Cia Sun, sedangkan Bi Kim duduk di dekat Ciang Hun. Secara bergantian mereka menceritakan pengalaman mereka.

Yo Han merasa lega dan gembira pada saat mendengar bahwa Hui Eng yang tadinya dianggap sebagai puteri Siangkoan Kok, ternyata adalah gadis yang selama ini dicari-carinya, yaitu puteri Liong-siauw Kiam-hiap (Pendekar Pedang Suling Naga) Sim Houw yang hilang diculik orang sejak kecil. Apa lagi kini Hui Eng sudah menemukan jodohnya, yaitu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun yang dia tahu adalah seorang pangeran Mancu yang berjiwa pendekar.

Makin besar rasa bahagia di dalam hatinya ketika dia melihat bahwa Gan Bi Kim, cucu keponakan gurunya yang oleh nenek Ciu Ceng dijodohkan dengannya itu nampak akrab dan saling mencinta dengan Gak Ciang Hun.

Ketika giliran Yo Han menceritakan pengalamannya, semua orang, terutama sekali Sian Li merasa ngeri dan kadang mengeluarkan seruan tertahan sambil memegang lengan Yo Han. Mereka mendengarkan dengan penuh ketegangan dan kengerian.

"Sian-cai..., sungguh amat menakjubkan sekali mendengar betapa dalam keadaan yang agaknya sudah tidak ada harapan itu, ternyata Yo Taihiap masih dapat meloloskan diri! Mengagumkan sekali!"

Yo Han tersenyum melihat pandang mata mereka semua penuh kekaguman padanya. "Totiang, dan Cuwi (Saudara sekalian), harap jangan memuji aku. Sesungguhnya, aku sendiri sudah meragukan apakah aku akan mampu keluar dari dalam sumur yang sudah ditutup dari luar itu. Namun, dalam keadaan apa pun juga, sebelum hayat meninggalkan badan, aku tidak akan pernah putus asa. Di atas segala kekuatan di dunia ini, ada suatu kekuatan yang maha kuat, maha kuasa, dan maha mengetahui! Aku hanya menyerah kepada kekuasaan itu, yakni kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta. Aku selalu yakin sepenuhnya bahwa kekuasaan itu menyerap sampai ke mana pun, bahkan di dalam tanah itu pun kekuasaanNya bekerja dengan sempurna. Karena itu, selama badan ini masih dapat bergerak, aku harus berusaha sekuat kemampuan untuk mempertahankan hidup ini, didasari penyerahan yang mutlak kepada kekuasaan itu."

"Kekuasaan itulah To..." Thian Tocu menggumam.

"Saya kira memang tepat ucapan Totiang. To yang dimaksudkan itulah Hukum Alam, atau Kekuasaan Tuhan yang selalu bekerja dan bergerak tiada hentinya, tanpa pernah menyimpang sedikit pun dari ketepatannya, seperti timbul tenggelamnya matahari dan bulan, seperti gerakan ombak samudera ke kanan kiri yang tiada berkesudahan. Karena penyerahan mutlak kepada Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Kuasa itulah maka tak ada rasa gelisah atau takut sedikit pun. Dan ketenangan ini sangat menguntungkan kita dalam menghadapi peristiwa apa saja. Demikianlah, dengan tekun dan tanpa mengenal menyerah pada kesulitan, dengan pasrah kepada Tuhan, maka akhirnya kekuatan dari kekuasaan Tuhan itu yang menuntunku hingga dapat lolos dari ancaman maut di perut bumi."

Semua orang terkesan dan suasana menjadi sunyi.

"Han-ko, bagaimana Seng Bu itu dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu? Bukankah dia pula yang telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang, kemudian dia menjatuhkan fitnah bahwa engkaulah yang telah membunuh mereka. Ketika melawannya, aku dapat merasakan betapa hebat tenaganya, dan melihat ia bertanding denganmu tadi, sungguh menegangkan dan menggelisahkan. Lalu bagaimana seorang murid Thian-li-pang dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu, Koko?"

Yo Han menghela napas panjang. "Agaknya hal itu akan tetap merupakan rahasia yang tidak terpecahkan, Li-moi. Aku sendiri ketika bertanding dengannya, merasa heran dan terkejut bukan main karena aku mengenal ilmunya sebagai ilmu yang pernah kupelajari. Padahal ilmu itu tak pernah dipelajari oleh orang lain dan yang menguasainya hanyalah mendiang suhu sebagai penemunya dan aku sebagai muridnya. Tapi entah bagaimana, agaknya Seng Bu dapat pula mempelajari ilmu itu, hanya saja... ilmu yang dikuasainya itu mempunyai perbedaan bagai bumi dan langit dengan ilmuku. Ilmu itu menjadi sesat dan berbahaya sekali, mengandung hawa beracun yang amat dahsyat. Jika tidak salah perhitunganku, agaknya dia secara kebetulan, entah bagaimana, telah menemukan dan mempelajari ilmu itu, akan tetapi tanpa bimbingan. Dia mempelajarinya secara keliru sehingga tanpa disengaja, dia telah menguasai ilmu yang menjadi sesat dan dahsyat, dan mungkin saja karena penguasaan ilmu itu, dia menjadi berubah dan tidak waras lagi."

"Aku ikut merasa menyesal sekali, Twako. Bagaimana pun juga, aku telah membantu hancurnya Thian-li-pang, padahal engkau tentu tahu bahwa aku tidak pernah memusuhi para pejuang," kata Cia Sun.

"Bukan salahmu, Cia-te. Thian-li-pang sudah diselewengkan menjadi gerombolan jahat yang bersekutu dengan golongan sesat. Biarlah kelak aku akan mencoba menyusunnya kembali menjadi perkumpulan para pejuang yang sehat dan berjiwa pendekar, seperti pesan mendiang suhu. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?"

"Siancai, kami berlima harus mohon diri, karena kami sudah terlalu lama meninggalkan Bu-tong-san, Yo Taihiap," berkata Thian Tocu. Lima orang tosu itu bangkit dan memberi hormat, dibalas oleh enam orang muda itu.

"Ngo-wi Totiang dari Bu-tong-pai sungguh-sungguh merupakan sahabat yang amat baik, membelaku sampai hampir menjadi korban kekejaman Ouw Seng Bu."

"Siancai..., Yo Taihiap tentu telah mengerti sepenuhnya bahwa orang-orang seperti kita ini, tidak pernah membela seseorang mau pun memusuhi seseorang. Yang kita bela adalah kebenaran dan yang kita tentang adalah kejahatan. Bukankah begitu, Taihiap?" kata Thian Tocu.

Yo Han dan yang lain-lain memandang kagum, kemudian mereka semua mengangguk menyetujui.

"Kalau begitu terima kasih dan selamat jalan, Totiang."

"Sampai jumpa, Yo Taihiap dan saudara sekalian."

Lima orang tosu itu lalu pergi meninggalkan tempat itu. Setelah lima orang tosu itu pergi, enam orang muda itu saling pandang.

"Nah, kini tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah," kata Yo Han sambil memandang kepada Sian Li. "Aku bersama adik Sian Li akan pergi ke rumah orang tua Li-moi, akan tetapi aku mengharap bantuan adik Cia Sun untuk menemani kami. Terus terang saja, seperti yang mungkin sudah kalian ketahui, kami berdua sudah bertekad untuk hidup berdua sebagai suami isteri, padahal oleh orang tuanya, Li-moi telah dijodohkan dengan adik Cia Sun. Oleh karena itu, aku membutuhkan bantuan Cia-te untuk menemani kami agar Cia-te yang memberi penjelasan kepada paman Tan Sin Hong berdua."

"Tentu, tentu saja aku akan menemani kalian!" seru Cia Sun gembira. "Tetapi sebelum itu, aku minta kepada kalian semua untuk menemani aku dulu bersama adik Hui Eng. Aku hendak mengantarkan Eng-moi kepada orang tuanya di Lok-yang. Mengingat bahwa Eng-moi pernah bertemu dengan ayah ibu kandungnya dalam keadaan yang tak menyenangkan di rumah pendekar Suma Ceng Liong, maka tentu pertemuan itu akan terasa canggung. Kalau ada kalian semua yang ikut dan membantu memberi kesaksian dan penerangan, tentu akan lebih menyenangkan. Terutama sekali, aku mohon bantuan Yo-toako untuk membicarakan urusan kami berdua kepada orang tua Eng-moi."

Yo Han tersenyum memandang kepada Hui Eng yang menjadi merah kedua pipinya dan menundukkan kepalanya. "Aku mengerti, Cia-te, dan agaknya kita memang saling membutuhkan. Aku yakin Gak-twako tidak akan keberatan untuk ikut pula ke Lok-yang membantu adik Sim Hui Eng."

"Ahh, tentu saja!" kata Gak Ciang Hun dan dia pun nampak tersipu dan salah tingkah. "Bahkan aku pun... hemmm... aku pun atau maksudku kami berdua, aku dan adik Gan Bi Kim, amat membutuhkan bantuanmu, Yo-siauwte. Aku pun ingin berterus terang saja. Aku sudah mendengar dari adik Bi Kim bahwa oleh neneknya, dia sudah ditunangkan denganmu, Yo-te, akan tetapi kenyataannya sekarang, engkau saling mencinta dengan adik Sian Li, sedangkan adik Bi Kim... ahhh, kami berdua saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk bisa berjodoh. Nah, tanpa bantuan Yo-te, bagaimana kami berdua akan berani menghadapi keluarganya?"

Kini enam orang itu saling pandang, dan meledaklah suara tawa mereka. Sian Li yang memang berwatak lincah jenaka itu tidak menyembunyikan tawanya karena geli hatinya. "Hik-hik-hik, alangkah lucunya! Agaknya memang kita berenam ini sudah ditakdirkan untuk saling bantu dan harus melakukan perjalanan bersama. Betapa menggembirakan! Kita saling kait mengait, saling membutuhkan bantuan!"

Yo Han mengangguk-angguk. "Memang aneh. Agaknya memang Tuhan menghendaki demikian! Aku ditunangkan dengan Gan Bi Kim, namun adik Bi Kim berjodoh dengan Gak-twako dan aku berjodoh dengan Li-moi yang sudah ditunangkan dengan Cia-te, sedangkan Cia-te berjodoh dengan Sim Hui Eng yang selama ini kita cari-cari! Baiklah, sekarang diatur begini saja. Pertama-tama kita semua pergi ke rumah orang tua adik Sim Hui Eng. Bagaimana pun juga, peristiwa bertemunya kembali adik Eng dengan ayah dan ibunya merupakan hal yang sangat membahagiakan dan penting sekali. Nah, setelah dari sana, kita tinggalkan dulu adik Eng bersama orang tuanya, dan Cia-te ikut dengan kami untuk menemui orang tua Li-moi. Setelah itu, aku akan meninggalkan dulu Li-moi di rumah orang tuanya dan menemani Gak-twako untuk berkunjung ke rumah adik Gan Bi Kim. Dengan demikian semua urusan akan menjadi beres!"

Demikianlah, tiga pasang kekasih itu lalu mulai melakukan perjalanan berantai itu untuk saling bantu. Mula-mula mereka berenam pergi berkunjung ke Lok-yang.

Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, Can Bi Lan, menyambut kedatangan mereka dengan gembira dan juga terheran-heran karena mereka mengenal Hui Eng sebagai gadis Pao-beng-pai yang pernah membikin kacau pertemuan keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong. Tetapi keheranan mereka berubah menjadi kejutan yang luar biasa ketika mereka mendengar bahwa gadis itu bukan lain adalah Eng Eng, atau Sim Hui Eng, anak kandung mereka!

Mula-mula mereka merasa sukar untuk percaya, akan tetapi setelah Yo Han, Sian Li, dan Pangeran Cia Sun bercerita, ditambah lagi bukti tanda tahi lalat hitam di pundak kiri dan noda merah di ibu jari kaki di telapak kaki kanan, Can Bi Lan menubruk puterinya sambil menjerit dan menangis. Terjadilah pertemuan yang amat mengharukan hati, dan sukar dilukiskan betapa bahagia rasa hati Sim Houw dan Can Bi Lan ketika mereka dapat menemukan kembali puteri mereka yang hilang sejak kecil itu.

Setelah suasana keharuan mereda, dengan hati-hati Yo Han dan Sian Li menceritakan mengenai hubungan kasih sayang antara Hui Eng dan Cia Sun. Mereka juga bercerita tentang semua pengalaman mereka, tentang pembelaan Cia Sun kepada Hui Eng.

Mula-mula, suami isteri itu tertegun. Mereka menemukan kembali puteri mereka, akan tetapi juga mendengar bahwa puteri mereka ingin berjodoh dengan seorang pangeran Mancu? Akan tetapi, suami isteri ini memang bijaksana.

Mendengar betapa pangeran calon menantu mereka itu adik angkat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, juga dipuji-puji sebagai bekas calon suami Si Bangau Merah Tan Sian Li, juga bahwa pangeran itu berjiwa pendekar, tidak memusuhi para pejuang dan tidak setuju pula dengan penindasan, mereka pun dapat menerima dengan hati lapang.

Pada keesokan harinya Yo Han dan Sian Li, Ciang Hun dan Bi Kim, mengajak Cia Sun untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan dulu Hui Eng bersama orang tuanya. Cia Sun berjanji kepada keluarga itu untuk segera meminta kepada ayah ibunya untuk mengajukan pinangan secara resmi. Kemudian, Cia Sun mengikuti Yo Han dan Sian Li mengunjungi orang tua Si Bangau Merah, yaitu Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang tinggal di Ta-tung, sebelah barat Peking.

Sekali ini, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li menerima puteri mereka dengan gembira dan mereka berdua bahkan merasa berbahagia sekali ketika mendengar keterangan mereka semua tentang pembatalan pertalian jodoh antara puteri mereka dengan Cia Sun yang dengan jujur mengakui bahwa dia saling mencinta dengan Sim Hui Eng.

Kini suami isteri ini dapat menerima pinangan Yo Han dengan rasa syukur karena bagai mana pun juga sebetulnya mereka amat menyayangi Yo Han yang kini ternyata sudah menjadi seorang pendekar sakti yang bernama besar sebagai Pendekar Tangan Sakti. Suami isteri ini pun turut merasa gembira mendengar bahwa puteri keluarga Sim yang hilang sejak kecil itu telah ditemukan kembali, bahkan akan menjadi jodoh Pangeran Cia Sun, bekas calon mantu mereka.

Dari rumah orang tua Sian Li, Yo Han mengikuti Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim ke kota raja. Juga Pangeran Cia Sun hendak pulang ke kota raja untuk minta kepada orang tuanya meminang Sim Hui Eng.

Keluarga pembesar Gan Seng, juga nenek Ciu Ceng, menyambut pulangnya Gan Bi Kim dengan gembira pula. Mereka agak tercengang ketika mendengar pengakuan Gan Bi Kim bahwa ia telah memutuskan pertalian jodohnya dengan Yo Han, karena Yo Han telah berjodoh dengan gadis lain. Tetapi mereka pun merasa lega ketika diperkenalkan dengan Gak Ciang Hun sebagai pemuda yang dipilih Bi Kim sebagai calon jodohnya.

Apa lagi Yo Han ikut bicara dan memberi penjelasan bahwa sebelum bertemu Bi Kim, sesungguhnya dia sudah mempunyai pilihan hati. Keluarga itu bahkan merasa bangga mendengar bahwa calon menantu mereka, Gak Ciang Hun, adalah keturunan pendekar besar yang mempunyai nama harum di dunia persilatan.

Demikianlah, tiga pasangan kekasih ini tidak menemui halangan apa pun dalam urusan perjodohan mereka. Pihak orang tua telah menerima dengan senang hati dan pinangan resmi dilakukan, bahkan pernikahan tiga pasang mempelai ini dirayakan dalam tahun itu juga.

Cia Sun mengajak isterinya, Sim Hui Eng, tinggal di rumahnya di kota raja, dan sekali waktu keduanya juga tinggal di rumah mertuanya di Lok-yang. Sementara, Gak Ciang Hun mengajak isterinya, Gan Bi Kim tinggal di Beng-san, di bekas tempat tinggal orang tuanya, yaitu di puncak Telaga Warna yang indah.

Yo Han sendiri bersama isterinya, Tan Sian Li, melakukan perjalanan bulan madu jauh ke Lembah Naga Siluman, untuk menyampaikan berita duka tentang kematian Cu Kim Giok kepada keluarga Cu. Berita itu tentu saja disambut dengan tangis oleh Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, dan mereka mendengarkan keterangan Yo Han dan Sian Li tentang puteri mereka, dan menerima pesan terakhir Kim Giok melalui Sian Li untuk memohon ampun kepada ayah ibunya.

Biar pun hati mereka terasa hancur karena kematian puteri mereka, namun setidaknya mereka terhibur juga bahwa pada saat-saat terakhir, puteri mereka sadar dan bertindak sesuai dengan jiwa kependekaran keluarga mereka. Puteri mereka, Cu Kim Giok, tewas sebagai seorang pendekar wanita yang membela kebenaran. Juga mereka tidak merasa penasaran karena pembunuh puteri mereka, yaitu ketua Thian-li-pang Ouw Seng Bu, telah menemui ajalnya pula.

Kemudian Pendekar Tangan Sakti Yo Han bersama isterinya, Si Bangau Merah Tan Sian Li berkunjung ke Bukit Naga. Di tempat itu, dengan dibantu oleh isterinya, Yo Han mulai menghimpun kembali perkumpulan Thian-li-pang.

Para anggota lama yang semula memang tidak setuju dengan kesesatan Thian-li-pang dikumpulkan. Perkumpulan itu pun didirikan kembali dengan jumlah anggota yang kecil. Akan tetapi di bawah bimbingan Yo Han, Thian-li-pang dalam waktu yang singkat telah bangkit kembali menjadi perkumpulan para pendekar pejuang yang terkenal bersih dan di kemudian hari, Thian-li-pang akan memegang peran penting dalam perjuangan rakyat menentang kekuasaan penjajah Mancu.

Seperti tercatat dalam sejarah, setahun lebih kemudian, yaitu pada tahun 1796, Kaisar Kian Liong meninggal dunia dan tahta kerajaan Ceng lalu dipimpin oleh Kaisar Cia Cing, putera Kaisar Kian Liong. Kaisar Cia Cing memerintah selama dua puluh empat tahun (1796-1820), kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Kaisar Tao Kuang (1820-1850).

Tetapi, semenjak wafatnya Kaisar Kian Liong, kerajaan Mancu mulai kehilangan pamor dan kejayaannya mulai memudar. Pemberontakan terjadi di mana-mana, ditambah lagi dengan masuknya kekuatan asing barat (orang kulit putih) yang mulai menancapkan kuku kekuasaan mereka di daratan Cina.....


T A M A T



>>>>   PUSAKA PULAU ES   <<<<
(Bagian Ke-16 Serial BU KEK SIANSU)


Pilih JilidT A M A T

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner