KISAH PENDEKAR BONGKOK : JILID-31


Camundi Lama tidak tahu betapa tepat dan benarnya, kebenaran yang mutlak dan tidak dapat dibantah pula, bahwa kekuasaan Thian dapat melakukan apa saja.

Apa bila Thian menghendaki, apa pun yang menurut akal pikiran tidak mungkin, dapat terjadi dengan mudahnya. Kebenaran yang mutlak ini terjadi setiap saat di dalam alam semesta, tetapi manusia tidak memperhatikannya, tidak sadar dan waspada sehingga mengira bahwa yang terjadi adalah akibat dari pada usaha manusia.

Camundi Lama hanya melihat kebenaran yang terkandung di dalam ucapan Sie Liong, tidak melihat bahwa kebenaran itu sedang terjadi, telah terjadi dan akan selalu terjadi di sekelilingnya. Dia tidak menyadari bahwa dirinya pun telah menjadi alat yang digunakan Thian untuk menyelamatkan Sie Liong.

Pada waktu Sie Liong siuman dan membuka kedua matanya, dia tidak melihat apa-apa. Gelap pekat saja yang nampak. Dia memejamkan kedua matanya kembali, kemudian berusaha mengingat-ingat.

Tepat pada hari itu habislah sudah seluruh sisa pengaruh racun penghilang pikiran, dan ingatannya pulih kembali lagi. Kewaspadaan Sie Liong timbul kembali, terasa di seluruh tubuh. Teringatlah dia bahwa dia sedang melaksanakan tugasnya untuk menyelidik ke Kim-sim-pang, kemudian dia teringat akan perkelahian melawan Tibet Ngo-houw dan akhirnya dia roboh karena Kim Sim Lama membantu mengeroyoknya.

Hanya sampai di situ saja ingatannya, kemudian dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Tahu-tahu dia berada di sini!

Dia membuka mata lagi, akan tetapi sia-sia saja. Semuanya tetap gelap. Sudah butakah kedua matanya? Dia menggerakkan tangan, dan meraba-raba. Ternyata dia berada di dalam sebuah peti!

Dia meraba-raba kedua matanya. Tidak, dia tidak buta, hanya berada di dalam sebuah peti yang teramat gelap. Sebuah peti yang tertutup rapat!

Kembali dia mencoba untuk mengingat-ingat dan samar-samar dia teringat bahwa dia ditawan dalam sebuah kamar, dijaga pendeta-pendeta Lama. Dia teringat pula dengan hati terkejut bahwa dia pernah diserang seorang pria dengan golok, ditangkis dengan lengan kirinya dan lengan kiri itu buntung.

Cepat tangan kanannya bergerak lagi meraba lengan kirinya. Buntung! Lengan kirinya memang benar sudah buntung! Tinggal sisa pangkal lengan saja sedikit.

“Ya Thian...!” Dia berseru lirih.

Sampai beberapa lamanya dia berdiam diri, di dalam hatinya bertanya-tanya kepada Thian mengapa lengan kirinya harus buntung. Akan tetapi, kembali dia menyandarkan diri kepada kekuasaan Thian. Apa bila memang Thian menghendaki, jangankan hanya sebuah lengan kirinya, meski seluruh tubuhnya dihancurkan, biar nyawanya dicabut, dia rela, dia menyerah penuh kepasrahan! Begitu ada penyerahan yang tulus ini, dia pun merasa aman dan tenteram. Pikirannya menjadi terang dan tenang sekali.

Tanpa mengingat sedikit pun lagi mengenai lengan kiri yang buntung, dia menggunakan tangan kanan meraba-raba dan akhirnya dia menemukan lubang di atas kepalanya. Ada lubang sebesar ibu jari kaki pada peti itu dan ketika dia meraba dengan jari telunjuk, dia tahu bahwa lubang itu tersambung sebatang tabung ke atas dan agaknya itulah yang menyebabkan dia tidak mati kehabisan napas. Hawa udara segar masuk dari tabung itu!

Dia mencoba untuk menggerakkan tangan kanan dan kedua kakinya, untuk mencoba kekuatan peti itu. Akan tetapi ternyata tenaganya lemah sekali. Dan dia teringat bahwa sebelum ini, kalau dia mengerahkan tenaga, bukan saja tenaganya lemah, akan tetapi juga dadanya terasa nyeri. Agaknya penyakit itu sudah sembuh! Akan tetapi tenaganya masih tetap lemah, seolah-olah semua tenaga sinkang-nya sudah lenyap. Dan dia pun kini teringat bahwa ada orang yang mengobatinya.

Camundi Lama! Pendeta yang kurus tinggi itu, yang mengobatinya di dalam kamar tahanan. Ahhh, benar! Ketika itu tabib yang baik itu sedang mengobatinya, lalu muncul Kim Sim Lama dan Tibet Ngo-houw, dan Kim Sim Lama menotoknya!

“Hemm, mereka memasukkan aku ke dalam sebuah peti, seperti peti mati bentuknya, dan melihat gelapnya, dan mencium bau tanah ini, dengan tabung memasukkan udara segar, hemmm... agaknya peti ini berada di dalam tanah!” Dia terbelalak, namun tetap saja gelap gulita.

“Ahh, mereka telah menguburkan aku. Mereka mengubur aku hidup-hidup!”

Kembali perasaan khawatir dan takut menghantuinya, akan tetapi hampir berbarengan, kesadaran menyerahkan diri kepada Thian mengusir itu semua. Dia harus pasrah, dan percaya sepenuhnya akan kekuasaan Thian.

“Kekuasaan Thian berada di mana pun juga,” demikian pernah Pek Sim Siansu berkata, “di tempat yang paling tinggi mau pun paling rendah, di dalam benda yang paling besar sampai yang paling kecil, di atas langit mau pun di bawah bumi...”

“Di bawah bumi... ahhh, di sini pun ada kekuasaan Thian! Ya Thian, hamba menyerah, hamba pasrah, apa pun yang Thian kehendaki jadilah!” Di dalam hati Sie Liong bersorak dan pikirannya pun menjadi semakin terang.

Dia mulai menggunakan pikirannya kembali. Jelas, dia berada di dalam sebuah peti dan peti itu dikubur. Entah mengapa, petinya berlubang dan ada tabung yang memasukkan hawa udara segar. Orang tidak menghendaki dia cepat mati.

Tentu ini perbuatan Kim Sim Lama, akan tetapi untuk apa dia tidak tahu dan tak berniat menyelidiki karena hal itu akan sia-sia saja. Yang penting sekarang harus mencari jalan untuk keluar dari tempat ini secepatnya. Kembali dia menggerakkan kedua kaki beserta sebelah tangannya untuk mencoba memecahkan peti.

Akan tetapi ruangan itu terlalu sempit, dan tenaganya pun terlalu kecil. Percuma saja, pikirnya. Dan pula, andai kata peti itu dapat dipecahkan, dia tetap masih di dalam tanah. Lebih celaka, kalau sampai tabung hawa itu patah dan kemasukan tanah, tentu dia tidak akan dapat bernapas lagi dan itu berarti kematian yang mengerikan.

Tidak, dia tidak boleh terburu nafsu, tidak boleh putus harapan. Kalau orang memasang tabung itu, berarti ada orang yang tidak menghendaki dia mati dan tentu mereka pun akan mengeluarkannya lagi sebelum dia mati.

Dia kemudian mengingat-ingat percakapannya dengan tabib Tibet itu. Dia terkena racun penghilang ingatan, akan tetapi agaknya racun itu telah kehilangan daya kerjanya, maka sekarang dia dapat mengingat-ingat lagi. Dan menurut tabib itu, dia juga keracunan.

Darahnya keracunan sehingga dia sudah kehilangan tenaga sinkang-nya dan setiap kali mengerahkan tenaga, tadinya dadanya terasa nyeri. Sekarang, dada itu telah tidak nyeri lagi, namun tenaganya masih belum pulih. Tentu tabib itu telah berhasil mengobatinya, namun belum sembuh sama sekali sehingga baru rasa nyerinya yang hilang. Tenaga sinkang-nya belum kembali.

Kembali dia menggerakkan tangan kanan, menekan ke arah peti.

“Krek... krekk...!” Peti itu retak oleh dorongannya.

Tenaga biasa, bukan tenaga sinkang. Akan tetapi karena memang dia memiliki tubuh yang terlatih, tenaganya cukup besar. Begitu terdengar suara berkeretekan, peti sedikit terbuka sehingga ada tanah dan pasir masuk dan menimpa mukanya! Dengan cepat dia memejamkan mata dan menggunakan tangan kanan membersihkan muka.

Celaka, pikirnya. Kalau dia berhasil memecahkan peti itu, dia akan tertekan tanah dan pasir, dan akan mati kehabisan hawa udara. Kini dia malah tidak berani bargerak sama sekali karena setiap kali bergerak agak keras, ada tanah dan pasir jatuh ke dalam peti yang sudah retak itu.

Tenang, Sie Liong, tenanglah dan pergunakan akalmu. Akal juga pemberian Thian yang harus dipergunakan pada saat yang dibutuhkan, seperti saat sekarang ini! Dia memang sudah menyerah dan pasrah sepenuhnya kepada Thian, tetapi di samping itu dia harus berikhtiar, berusaha menggunakan segala alat yang ada padanya, pikirannya, akalnya, tenaganya yang ada pada seluruh tubuh. Kekuasaan Thian membimbing, akan tetapi bimbingan itu pun tentu disalurkan melalui alat-alat yang ada padanya.

Dia pun mengingat-ingat. Dia sedang berada di dalam bumi! Di dalam tanah. Tiba-tiba teringatlah dia akan pelajaran yang pernah diberikan Pek Sim Siansu kepadanya, yaitu pelajaran tentang tenaga-tenaga mukjijat yang berada dalam alam semesta ini. Tenaga dahsyat yang terdapat dalam api dalam hawa, dalam logam, dalam tanah, dan dalam air!

Di dalam tanah terdapat tenaga yang maha dahsyat, demikian kata gurunya itu. Tenaga Inti Bumi! Tenaga inilah yang menghasilkan segala zat, segala makanan, segala benda di dunia ini. Yang menghidupkan tumbuh-tumbuhan, yang mengeluarkan hawa panas, yang mengeluarkan apa saja.

Bumi nampak lemah dan diam. Namun segala yang nampak ini berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi pada akhirnya! Bumi mengandung tenaga dan daya tarik yang hebat, mengandung energi yang maha dahsyat. Dalam bumi, di dalam tanah, terdapat kekuasaan Thian, yaitu energi yang maha dahsyat itu!

Dia hanya tinggal menyerah dengan pasrah, dan kalau Thian menghendaki, maka tentu dia akan kebagian sedikit tenaga dahsyat itu. Sedikit saja, akan tetapi telah cukup untuk membuat dia keluar dari dalam kurungan maut itu.

Mulailah Sie Liong mengatur pernapasan melalui lubang dalam tabung itu, mulailah dia menghimpun hawa murni dan membangkitkan tenaga saktinya. Perlahan-lahan, dengan penuh penyerahan kepada Thian Yang Maha Kasih, dia mulai merasakan adanya hawa yang hangat memasuki tubuhnya melalui napas yang dihisapnya. Hawa yang hangat ini berputar di dalam pusarnya, seolah-olah membangkitkan kembali tenaga saktinya yang nampaknya tertidur itu, dan hawa murni yang terhisap olehnya itu sekarang bercampur dengan sesuatu yang belum pernah dirasakannya.

Berbeda dengan hawa murni yang dihimpun ketika dia latihan di atas sana, di atas tanah. Kini ada sesuatu yang kadang panas kadang dingin, kadang menyesakkan dada, terbawa masuk ke dalam tubuhnya, berkumpul di dalam pusar. Dia tidak tahu bahwa tanpa disadarinya, tanpa disengaja, dia mulai menghimpun Tenaga Inti Bumi!

Itulah kekuasaan Thian yang sudah diyakininya. Agaknya Thian menghendaki demikian sehingga tanpa disengaja, nampaknya secara kebetulan saja, Sie Liong sudah berhasil menghimpun Tenaga Inti Bumi sewaktu dia dikubur hidup-hidup dalam peti!

Dan kebetulan sekali pula, sesungguhnya bukan kebetulan melainkan sudah digariskan dan diatur oleh kekuasaan Thian, pada saat itu racun dalam darahnya mulai dibersihkan oleh obat yang dimasukkan ke dalam perutnya oleh Camundi Lama. Darahnya sudah bersih kembali dan ketika tenaga sinkang-nya perlahan-lahan pulih, kebetulan saat itu dari pengaturan pernapasan, dia menghimpun Tenaga Inti Bumi yang segera bersatu dengan tenaga sinkang yang sudah ada dalam tubuhnya!

Akan tetapi Sie Liong tak merasakan semua itu. Dia hanya memusatkan perhatian pada pernapasannya, sambil menyerahkan segala sesuatunya kepada Thian, bagaikan orang yang benar-benar sudah mati…..

********************

Lie Bouw Tek memang seorang pria yang gagah perkasa dan penuh keberanian. Dia berhasil menghadap Dalai Lama bersama Sie Lan Hong dan mendengarkan penjelasan.

Kini tahulah dia bahwa semua peristiwa yang menimpa para tosu dari Himalaya yang sudah mengungsi ke Kun-lun-san, juga yang menimpa Kun-lun-pai sendiri, adalah suatu muslihat belaka dari para pemberontak di Tibet untuk mengelabui mata umum dan melakukan fitnah kepada Dalai Lama, agar Dalai Lama dimusuhi banyak pihak!

Akan tetapi dia tidak peduli akan semua masalah itu. Dia tidak ingin mencampuri urusan pemberontakan di Tibet, tidak membela Dalai Lama, namun juga tidak membantu para pemberontak. Dia hanya ingin mengajak Sie Lan Hong bertemu dengan adiknya yang dicari-carinya, yaitu Sie Liong, dan juga mencari puterinya, Yauw Bi Sian.

Karena tidak bermaksud mencampuri urusan pemberontakan melainkan urusan pribadi, maka Lie Bouw Tek tidak ragu-ragu atau takut-takut untuk pergi mengunjungi sarang Kim-sim-pang yang memberontak terhadap Dalai Lama! Dia terpaksa mengajak Sie Lan Hong yang tidak mau ditinggal dan ingin pula mencari sendiri adik dan puterinya.

Pria perkasa berusia tiga puluh enam tahun itu dan janda muda jelita berusia tiga puluh tiga tahun itu melakukan perjalanan dengan tenang dan tenteram. Mereka sudah yakin akan cinta kasih masing-masing, maka melakukan perjalanan berdua merupakan suatu yang selain membahagiakan, juga mendatangkan perasaan tenteram dan penuh damai. Melakukan perjalanan berdua merupakan suatu kebahagiaan yang membuat matahari bersinar lebih cerah, warna-warna lebih terang, suara apa pun menjadi lebih merdu. Dunia nampak lebih indah dari pada biasanya!

Pada pagi hari yang cerah itu, mereka sampai di lereng sebuah bukit dan dari lereng itu mereka dapat melihat ke bawah. Pemandangan alam di pagi hari itu teramat indahnya. Dari lereng bukit itu mereka dapat melihat telaga Yam-so dengan airnya yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Bukit-bukit di sekitar telaga itu dipenuhi dengan warna kehijauan dengan titik warna beraneka macam. Musim bunga telah tiba dan sekarang bukit-bukit itu ditumbuhi banyak sekali pohon yang berbunga indah.

Telaga Yamzho Yumco

Dari Kong Ka Lama mereka telah mendengar keterangan jelas tentang letak sarang Kim-sim-pang. Mereka tahu bahwa sarang itu berada di bukit ini. Dan perhitungan mereka memang tidak salah. Selagi mereka menikmati keindahan pemandangan alam di bukit itu, tiba-tiba terdengar suara banyak orang dan tempat itu sudah terkepung oleh belasan orang pendeta Lama yang memegang bermacam senjata. Wajah para pendeta ini tidak menyeramkan, namun cukup bengis.

Lie Bouw Tek berpura-pura kaget walau pun dia sudah dapat menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kim-sim-pang. Dia menjura kepada mereka semua, lalu berkata, “Maafkan kalau kami menganggu cu-wi suhu (para pendeta sekalian). Kami adalah dua orang yang bermaksud pergi bersembahyang ke kuil Kim-sim-pang. Dapatkah cu-wi menunjukkan jalannya ke kuil itu?”

Dari Kong Ka Lama Lie Bouw Tek juga sudah mendengar bahwa sarang Kim-sim-pang itu tersembunyi di belakang sebuah kuil milik Kim-sim-pang yang sesungguhnya hanya merupakan kedok belaka. Oleh karena itu, ia tadi mengajak Lan Hong untuk mengambil jalan memutar, tidak datang dari depan, melainkan hendak mencari jalan dari belakang kuil.

Mendengar ucapan Lie Bouw Tek ini, belasan orang pendeta Lama itu memandang dengan alis berkerut penuh kecurigaan, lalu seorang di antara mereka yang memimpin rombongan berkata, “Jalan menuju ke kuil adalah jalan raya yang sudah ada dari kaki bukit. Kenapa ji-wi tidak mengambil jalan itu melainkan berkeliaran di tempat ini? Di sini merupakan wilayah kekuasaan kami, dan tidak seorang pun boleh berkunjung di sini tanpa seijin kami.”

Lie Bouw Tek mengangkat kedua tangan memberi hormat. “Maafkan kami berdua. Kami tidak sengaja hendak melanggar wilayah kekuasaan cu-wi. Karena sangat tertarik oleh pemandangan yang indah dari sini, maka kami berdua tidak melalui jalan raya dan...”

“Katakanlah apa keperluan ji-wi yang sesungguhnya, kalau tidak, terpaksa kami harus menangkap ji-wi dan kami ajak menghadap para pimpinan kami yang akan menentukan selanjutnya.”

Lie Bouw Tek sudah hendak marah, mukanya sudah menjadi kemerahan. Melihat ini Lan Hong menyentuh lengannya, kemudian ia pun melangkah maju dan berkata dengan lembut.

“Harap cu-wi suhu suka memaafkan. Kami sama sekali tidak hendak mengganggu cu-wi (kalian). Kami datang selain untuk bersembahyang, juga untuk mencari seorang adikku. Dia seorang pemuda bongkok bernama Sie Liong dan...”

“Pendekar Bongkok!” seru seorang di antara mereka karena kaget. Mendengar ini, Lan Hong dan Bouw Tek girang sekali.

“Benar dia! Pendekar Bongkok! Dialah yang kami cari,” kata Lie Bouw Tek. “Dapatkah cuwi memberi tahu di mana dia?”

Akan tetapi begitu mereka mendengar bahwa yang datang ini adalah anggota keluarga Pendekar Bongkok, para pendeta itu sudah memandang Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong sebagai musuh yang tentu datang dengan maksud akan membebaskan Pendekar Bongkok yang pernah menjadi tawanan Kim-sim-pang. Mereka sudah mengepung dan seorang dari mereka berlari menuju ke sarang untuk melapor.

Melihat sikap mereka yang mengacungkan senjata dan mengepung, Lie Bouw Tek lalu mengerutkan alisnya. Dia berdiri tegak dan berkata dengan suara lantang.

“Cu-wi tentulah orang-orang Kim-sim-pang! Ketahuilah bahwa aku bernama Lie Bouw Tek, seorang murid Kun-lun-pai, dan ini adalah Sie Lan Hong, kakak perempuan dari Pendekar Bongkok. Kami sama sekali tidak mempunyai urusan dengan Kim-sim-pai, kami hanya mencari adik kami itu!”

Akan tetapi, para pendeta itu mengepung semakin ketat. “Ji-wi harus menyerah untuk kami tawan dan kami hadapkan kepada pemimpin kami. Hanya beliau seorang yang akan menentukan apakah ji-wi bersalah ataukah tidak. Menyerahlah dari pada kami harus menggunakan kekerasan!”

“Hemm, kalian ini orang-orang yang berpakaian pendeta, akan tetapi sikap dan tingkah laku kalian seperti perampok-perampok saja! Kami tidak bersalah apa pun, bagaimana harus menyerah menjadi orang tangkapan? Kami tidak mau menyerah!” Sambil berkata demikian, Lie Bouw Tek sudah mencabut pedangnya yang bersinar merah.

Sie Lan Hong juga mencabut pedangnya, karena ia tahu pula bahwa menyerah kepada orang-orang ini berarti membiarkan diri terancam bahaya. Mereka adalah pemberontak, kalau sudah menawan orang tentu tidak mudah melepaskannya lagi begitu saja. Ia pun siap mengamuk di samping Lie Bouw Tek untuk membela diri.

“Hemm, terpaksa kami menggunakan kekerasan!” bentak pemimpin rombongan.

Empat orang sudah menerjang dengan senjata mereka kepada Lie Bouw Tek, dan dua orang juga menerjang ke arah Sie Lan Hong. Berbagai macam senjata mereka lantas berkelebat menyerang dengan serentak.

“Trang-trang-tranggg...!”

Bunga api berpijar ketika Lie Bouw Tek menggerakkan pedangnya menangkis. Sinar merah berkelebatan dan empat orang pendeta itu berseru kaget. Mereka berloncatan mundur karena senjata mereka telah buntung ketika bertemu dengan pedang di tangan pendekar Kun-lun-pai itu!

Dua orang yang menyerang Sie Lan Hong juga mendapatkan perlawanan keras. Bukan saja wanita cantik itu mampu mengelak dan menangkis, bahkan dia membalas dengan hebat dan sebuah tendangan kakinya sempat membuat seorang pengeroyok terhuyung dan mamegangi perutnya.

Para pendeta itu menjadi marah sekali. Akan tetapi sebelum mereka itu menyerang lagi, tiba-tiba terdengar seruan yang amat berwibawa, “Tahan semua senjata...!”

Para pendeta itu mengenal suara Kim Sim Lama dan mereka segera berloncatan ke belakang dan menghentikan serangan mereka. Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong cepat berdiri saling mendekati agar dapat saling bantu jika mereka dikeroyok lagi.

Lie Bouw Tek yang amat mengkhawatirkan keselamatan Sie Lan Hong, menggunakan tangan kirinya menyentuh lengan wanita itu, seperti hendak menenangkan hatinya dan meyakinkan bahwa dia berada di situ dan akan selalu melindunginya. Dan kini mereka memandang kepada pendeta Lama yang tinggi kurus dan tua renta itu. Pendeta Lama itu walau pun sudah tua, mukanya kemerahan dan segar seperti muka kanak-kanak, hampir sama merahnya dengan jubahnya yang lebar.

Lie Bouw Tek sudah mendengar pula keterangan dari Kong Ka Lama, pengawal Dalai Lama, maka dia dapat menduga dengan siapa dia kini sedang berhadapan. Dia cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat dan melihat ini, Sie Lan Hong juga mencontohnya. Mereka memberi hormat kepada Kim Sim Lama, dan Lie Bouw Tek berkata dengan suara lantang namun mengandung penghormatan.

“Kalau kami tidak salah menduga, locianpwe tentulah yang terhormat Kim Sim Lama. Terimalah hormat kami, locianpwe.”

Kim Sim Lama membungkuk sedikit. “Omitohud... orang muda yang gagah, sicu sudah mengenal pinceng (aku) tetapi kalian berdua orang-orang muda secara berani sekali memasuki tempat larangan kami. Siapakah kalian dan ada keperluan apa maka kalian berkeliaran di sini?”

Tadi dia sudah mendengar laporan seorang anak buahnya. Karena mendengar bahwa pendekar yang dikeroyok itu seorang murid Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi, dia pun cepat keluar melerai perkelahian itu dan kini Kim Sim Lama ingin mendengar sendiri pengakuan Lie Bouw Tek.

Dengan lantang Lie Bouw Tek memperkenalkan diri. “Saya bernama Lie Bouw Tek, murid Kun-lun-pai yang menerima perintah para suhu di Kun-lun-pai untuk melakukan penyelidikan mengapa para pendeta Lama telah memusuhi Kun-lun-pai, di samping memusuhi para tosu dan pertapa lain. Dan sahabat saya ini bernama Sie Lan Hong, kakak kandung dari Pendekar Bongkok dan ia datang untuk mencari adiknya itu. Kini kami berhadapan dengan locianpwe Kim Sim Lama dan kami mengharap locianpwe akan sudi membantu kami dengan keterangan tentang kedua hal itu.”

Kim Sim Lama mengangguk-angguk dan mengeluarkan suara ketawa dikulum, lalu dia berkata, “Omitohud, tidak keliru kalau Lie-sicu berdua minta keterangan dari pinceng. Akan tetapi, tidak enak bicara di luar begini. Marilah, kalian ikut dengan pinceng, kita berbicara di dalam dan pinceng akan memberi keterangan yang selengkapnya tentang kedua hal yang kalian pertanyakan itu.”

Biar pun dia maklum bahwa mereka berdua memasuki sarang harimau dan naga yang penuh bahaya, namun Lie Bouw Tek bersikap tenang. Dia yakin bahwa Kim Sim Lama tentu tidak akan melakukan tindakan yang sembarangan setelah mengetahui bahwa dia adalah utusan Kun-lun-pai. Betapa pun juga, dia yakin bahwa nama besar Kun-lun-pai masih memiliki wibawa yang cukup kuat.

Mereka diajak memasuki ruangan belakang kuil di mana Kim Sim Lama mempersilakan mereka duduk. Kim Sim Lama duduk menghadapi mereka dan di belakang Kim Sim Lama duduk pula Tibet Ngo-houw dan Ki Tok Lama, sedangkan para pendeta lain tidak ada yang ikut mendengarkan. Setelah memperkenalkan enam orang pendeta Lama itu sebagai para pembantunya, Kim Sim Lama lalu berkata dengan suara tenang.

“Sicu (orang gagah), sekarang pinceng ingin lebih dahulu menjelaskan mengenai sikap bermusuhan yang diperlihatkan oleh para tokoh Lama dari Tibet kepada para pertapa, tosu dan bahkan Kun-lun-pai. Untuk itu, sebagai saksi, biarlah pinceng mengundang seorang pertapa dan tosu untuk hadir di sini. Ki Tok Lama, panggil Thay Yang Suhu ke sini.”

Ki Tok Lama, pendeta yang pendek kecil itu keluar dari ruangan dan tak lama kemudian dia sudah datang kembali bersama seorang tosu. Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong lalu memandang kepada tosu itu.

Seorang kakek yang berusia kurang lebih enam puluh tahun, kepalanya hampir gundul dengan rambut amat pendek, berjubah seperti seorang tosu, tubuhnya tinggi besar dan berwajah tampan. Di punggungnya tampak sepasang pedang. Thai Yang Suhu memberi hormat kepada Kim Sim Lama, kemudian dipersilakan duduk di sebelah kanannya oleh pemimpin itu.

“Sicu Lie Bouw Tek dan toanio (nyonya) Sie Lan Hong, ini adalah sahabat kami yang bernama Thai Yang Suhu, dan dia adalah salah seorang tosu yang dahulu bertapa di Himalaya dan dia mengetahui segala hal yang telah terjadi.”

“Locianpwe, terus terang saja, yang ingin saya ketahui hanyalah mengapa para pendeta Lama memusuhi Kun-lun-pai, padahal selamanya Kun-lun-pai tidak pernah mencampuri urusan para pendeta Lama di Tibet. Ada pun urusan lain dengan pihak lain, kami dari Kun-lun-pai tidak berhak mencampuri,” kata Lie Bouw Tek.

“Omitohud, bersabarlah, sicu, semua ini tentu ada hubungannya, dan karena pelaksana utama ketika Dalai Lama memusuhi para tosu, pertapa dan juga Kun-lun-pai hadir di sini, sebaiknya kalau sicu mendengarkan sendiri keterangan mereka. Thay Ku Lama, engkau wakili Tibet Ngo-houw untuk turut pula memberi penjelasan tentang tugas kalian yang merupakan perintah Dalai Lama.”

Thay Ku Lama yang berperut gendut, orang pertama dan tertua dari Tibet Ngo-houw, segera berkata dari tempat duduknya. “Sicu Lie Bouw Tek harap suka mendengarkan dengan sabar. Terus terang saja, sampai sekarang kami Tibet Ngo-houw masih merasa menyesal kenapa dulu itu kami mentaati perintah Dalai Lama yang makin lama menjadi semakin lalim itu. Kami sudah mengingatkannya bahwa dahulu, di waktu masih kecil, ketika dia ditunjuk sebagai calon Dalai Lama yang baru, para pertapa Himalaya sudah bermaksud membela penduduk dusun yang hendak mempertahankan dia. Bahwa para pertapa itu bermaksud baik walau pun dalam pertempuran itu akhirnya beberapa orang pendeta Lama tewas. Akan tetapi, dia tidak peduli dan memaksa kami untuk menuntut balas, menyerang dan membunuhi para pertapa di Himalaya. Bahkan kemudian, makin dewasa, Dalai Lama menjadi semakin buas dan dia memaksa kami untuk melakukan pengejaran terhadap para pertapa dan tosu Himalaya yang melarikan diri mengungsi ke Kun-lun-san. Karena itulah, maka kami sampai bentrok dengan Kun-lun-pai. Dan semua ini adalah gara-gara kelaliman Dalai Lama. Akhirnya kami menyadari hal itu dan kami pun meninggalkan Dalai Lama, bersama-sama membantu suhu Kim Sim Lama untuk menentang Dalai Lama yang lalim itu. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa kami hanyalah pelaksana, sedangkan yang bertanggung jawab terhadap para tosu, pertapa mau pun Kun-lun-pai, sepenuhnya adalah Dalai Lama!”

Lie Bouw Tek mengerutkan alisnya. Sungguh keterangan ini merupakan kebalikan dari apa yang didengarnya dari Dalai Lama! Siapakah yang benar? Pada saat itu, Thai Yang Suhu berkata dengan suaranya yang lembut.

“Semua yang diceritakan Thay Ku Lama itu benar, Lie-sicu. Pinto (saya) sendiri dahulu merupakan seorang di antara para tosu pertapa yang pernah melarikan diri mengungsi dan bahkan menjadi musuh Tibet Ngo-houw yang pada saat itu menjadi petugas yang melaksanakan perintah Dalai Lama. Setelah mereka meninggalkan Dalai Lama, barulah kami bersahabat dan pinto menjadi saksi akan kelaliman Dalai Lama. Karena itu, maka pinto bersedia membantu gerakan Kim Sim Lama yang hendak menentang kelaliman Dalai Lama dan pinto harapkan agar para pertapa dan tosu mau membantu pula untuk menghadapi Dalai Lama yang jahat.”

Lie Bouw Tek menjadi semakin ragu. Kalau Dalai Lama benar, kiranya tidak mungkin timbul pemberontakan dari para pendeta Lama ini. Apakah dia harus menghadapi lagi Dalai Lama dan bertanya kembali? Selagi dia meragu, Sie Lan Hong yang ingin sekali mendengar tentang adiknya, bertanya.

“Locianpwe tadi mengatakan bahwa locianpwe tahu tentang adik saya, yaitu Pendekar Bongkok Sie Liong. Mohon petunjuk locianpwe, sekarang di mana adanya adik saya itu.”

“Omitohud... harap toanio bisa menguatkan hati. Ada berita yang menyedihkan tentang Pendekar Bongkok. Dia sudah tewas oleh Dalai Lama dan kaki tangannya.”

“Ahhhhhh...!” Sepasang mata Lan Hong terbelalak dan wajahnya berubah pucat sekali.

“Tidak mungkin...!” Lie Bouw Tek juga berseru kaget sekali.

Dia mendengar dari Lan Hong bahwa Pendekar Bongkok juga membawa tugas yang sama dengan dia. Jika dia bertugas menyelidiki mengapa para pendeta Lama memusuh Kun-lun-pai, pendekar itu pun menyelidiki kenapa Dalai Lama memusuhi para tosu dan pertapa.

“Omitohud... pinceng selamanya tidak pernah berbohong. Pendekar Bongkok datang untuk membalaskan dendam para pertapa dan para tosu kepada Dalai Lama. Dia lalu dikeroyok dan tewas. Apa bila ji-wi (kalian) hendak membuktikan, dapat kalian kunjungi makamnya.”

“Ahh... Liong-te (adik Liong)... benarkah... engkau sudah tewas...?” Lan Hong menahan tangisnya, kemudian bertanya kepada Kim Sim Lama, “Di mana kuburan adik saya?”

“Marilah, pinto akan antarkan jika ji-wi hendak menyaksikan sendiri. Kuburannya masih baru!” kata Thai Yang Suhu.

Mendengar ini, Lan Hong segera bangkit berdiri. “Lie toako, aku ingin menengok makam adikku!”

Lie Bouw Tok merasa iba sekali kepada wanita yang dikasihinya itu. Bersusah payah wanita itu melakukan perjalanan jauh untuk mencari adiknya, dan begitu bertemu hanya melihat kuburannya! Dia pun mengangguk kepada Thai Yang Suhu.

“Totiang, terima kasih sebelumnya atas kebaikan totiang yang hendak mengantarkan kami. Mari kita berangkat.”

Keduanya memberi hormat kepada Kim Sim Lama, kemudian bersama Thai Yang Subu, mereka maninggalkan kuil itu lewat pintu samping. Di sepanjang perjalanan, Lan Hong diam saja, menahan tangisnya. Akan tetapi Lie Bouw Tek yang merasa penasaran, mencoba untuk mencari keterangan dari Thai Yang Suhu bagaimana sampai Pendekar Bongkok tewas di tangan Dalai Lama dan kaki tangannya.

“Siancai... bagaimana pinto dapat mengetahuinya? Kami semua hanya mendengar saja bahwa Pendekar Bongkok menghadap Dalai Lama dan menuntut kepada Dalai Lama yang memusuhi para pertapa dan tosu Himalaya yang mengungsi ke Kun-lun-san. Dan tahu-tahu, Pendekar Bongkok telah tewas dan pinto melihat sendiri ketika jenazahnya sedang dimakamkan di kuburan itu. Hanya itulah yang pinto ketahui. Selebihnya Dalai Lama yang lebih mengetahui bagaimana matinya Pendekar Bongkok.”

“Liong-te...!” Lan Hong mengeluh. Ia menggunakan ujung lengan baju untuk mengusap air matanya.

Akhirnya, mereka tiba di taman kuburan itu. Sunyi sekali di situ karena taman kuburan itu memang terletak di luar kota, dan pada waktu itu bukan hari bersembahyang, maka kecuali mereka bertiga tidak ada orang lain yang berkunjung ke situ.

Sebelum pergi meninggalkan kuil tadi, Thai Yang Suhu sudah membawa hio-swa (dupa biting) dan beberapa batang lilin. Dia mengeluarkan alat sembahyang sederhana itu dan Lie Bouw Tek serta Sie Lan Hong melakukan upacara sembahyang dengan sederhana namun khidmat, diiringi tangis Lan Hong perlahan-lahan.

Melihat kedukaan wanita itu, Lie Bouw Tek berdiri tegak memandang gundukan tanah kuburan itu sambil mengepal kedua tinjunya. Dia merasa penasaran sekali.

“Benarkah ini? Benarkah Pendekar Bongkok yang demikian terkenal itu tewas semudah ini? Benarkah yang berada di bawah gundukan tanah ini jenazah Pendekar Bongkok?”

Mendengar ucapan yang merupakan penumpahan rasa penasaran yang tanpa disadari telah keluar dari mulut pendekar Kun-lun-pai itu, Thai Yang Suhu mengerutkan alisnya.

“Lie-sicu, apakah sicu masih meragukan kebenaran keterangan kami semua? Jika sicu masih belum percaya, sekarang juga boleh sicu membongkar kuburan ini dan melihat apakah benar jenazah Pendekar Bongkok yang berada di dalamnya atau bukan!”

Mendengar nada suara yang keras itu, Lie Bouw Tek memandang heran kepada tosu itu. Akan tetapi, Lan Hong sudah hanyut pula dalam keharuan dan penasaran, apa lagi mendengar ucapan Lie Bouw Tek tadi. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan itu dan berkata dengan suara berduka.

“Adikku Sie Liong, kalau benar engkau telah mati, berilah tanda kepadaku agar hatiku tidak menjadi ragu lagi. Adikku... ahh, adikku Sie Liong...!” Dan sekali ini Lan Hong yang sejak tadi sudah menahan-nahan tangisnya kini terisak-isak.

Sementara itu, di bawah gundukan tanah itu pun sedang terjadi peristiwa hebat yang tak diketahui seorang pun di luar. Sudah tujuh hari lamanya Sie Liong ‘bertapa’ di dalam tanah, dikubur hidup-hidup! Dia dapat bernapas melalui lubang yang sengaja dipasang oleh tabib Camundi Lama yang merasa iba kepadanya.

Selama tujuh hari tujuh malam itu dia pasrah kepada nasib! Bukankah segala sesuatu yang berada di atas bumi itu berasal dari tanah! Bukankah kehidupan segala macam tumbuh-tumbuban juga bersumber pada tanah! Bumi yang nampak lemah dan tidak bergerak itu sesungguhnya mengandung gerakan hidup yang dahsyat, maha dahsyat. Bumi mengandung energi, mengandung kekuatan yang menyedot segala apa pun agar kembali kepadanya. Ada Tenaga Inti Bumi yang hebatnya tiada lawan.

Terkenang akan hal-hal yang pernah diajarkan oleh Pek Sim Siansu padanya, tentang Tenaga Inti Bumi, tentang kekuatan dahsyat yang timbul melalui kepasrahan kepada kekuasaan Tuhan, selama tujuh hari itu Sie Liong menghimpun tenaga mukjijat itu. Dia sudah pasrah sepenuhnya. Tubuhnya lemah, lengan kirinya buntung, ingatannya hilang, darahnya pun keracunan.

Di luar kesadarannya, Tenaga Inti Bumi telah merasuk ke dalam tubuhnya. Tenaga sakti yang dahsyat ini sekaligus mengusir semua hawa beracun, membersihkan darahnya, bukan saja memulihkan tenaga saktinya, bahkan menjadikannya beberapa kali lebih kuat. Mula-mula dia hanya merasa betapa tubuhnya seperti sebuah balon yang ditiup, terus ditiup hingga rasanya menggembung, makin lama makin kuat, sehingga rasanya seperti hendak meledak!

Dia tidak tahu betapa pada saat itu, di atas sana, kakak kandungnya, Sie Lan Hong, sedang menangis dan memanggil-manggil namanya, minta bukti dan tanda bahwa dia telah tewas. Sejak tadi dia hanya merasa tubuhnya seperti akan meledak, maka tanpa mempedulikan apa pun yang akan terjadi, dia menggerakkan sebelah tangan dan kedua kakinya, meronta dan mendorong serta menendang.

“Blaaaaarrrrr...!”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya tiga orang yang berada di depan gundukan tanah kuburan itu ketika tiba-tiba terdengar suara keras seperti ledakan dan gundukan tanah itu mendadak pecah, bagaikan ada bahan peledak yang amat kuat meledak dari dalam gundukan tanah, maka tanah dan batu kerikil berhamburan.

Sie Lan Hong menjerit. Lie Bouw Tek sudah menarik lengan wanita itu diajak bertiarap agar jangan terkena tanah dan batu kerikil yang muncrat berhamburan. Mereka masih melihat sesosok bayangan orang meloncat keluar dari dalam lubang di bawah gundukan tanah itu, meluncur ke atas dan berjungkir balik lima kali sebelum melayang turun ke atas tanah.

“Keparat...! Kau... iblis...!” Terdengar Thai Yang Suhu membentak.

Pendeta palsu ini pun terkejut bukan main ketika melihat gundukan tanah itu tiba-tiba saja meledak dan dari dalamnya meloncat seorang yang dikenalnya sebagai Pendekar Bongkok! Masih persis Pendekar Bongkok seminggu yang lalu, hanya kini pakaian dan rambutnya kusut dan kotor berlumpur, mukanya merah seperti udang direbus, matanya mencorong seperti bukan mata manusia.

Melihat ini, Thai Yang Suhu yang khawatir kalau rahasianya terbuka, segera meloncat maju dan menerjang dengan sepasang pedangnya! Dia langsung melakukan serangan maut, menusukkan pedang kanan ke arah tenggorokan sedangkan pedang kiri ke arah lambung Pendekar Bongkok!

Pada saat itu, Sie Liong masih belum mendapatkan kembali ingatannya sepenuhnya. Dia hanya bergerak tanpa perhitungan pikiran lagi, melainkan digerakkan oleh kekuatan mukjijat yang terhimpun di dalam dirinya. Ketika pedang di tangan Thai Yang Suhu itu meluncur ke arah tenggorokan dan lambungnya, dia hanya mengeluarkan bentakan yang aneh, melengking panjang dan tangannya bergerak ke arah sinar pedang yang menyambarnya.

“Bresss...!”

Tubuh Thai Yang Suhu terlempar beberapa meter jauhnya, terbanting dan tidak mampu bangkit kembali karena kedua pedang di tangannya yang tadi dia pergunakan untuk menyerang, entah bagaimana sudah membalik dan menancap di dada dan lehernya sendiri! Dia pun tewas seketika!

“Liong-te...!” Lan Hong meloncat menghampiri Sie Liong.

Akan tetapi, dengan sekali lompatan yang jauh sekali, Sie Liong telah melarikan diri. Dia belum ingat siapa wanita itu, dan dia tidak ingin terjadi wanita itu tewas seperti orang yang menyerangnya tadi. Dan begitu melompat, dia terkejut sendiri karena lompatannya tidak seperti biasa, amat jauhnya seperti terbang saja!

Melihat adiknya melarikan diri dengan lompatan yang luar biasa itu, Lan Hong berseru memanggil-manggil dan mengejar.

“Liong-te, tunggu...! Liong-te...!”

Akan tetapi dengan beberapa kali lompatan saja, bayangan Sie Liong telah lenyap dan Lan Hong berdiri bingung, tidak tahu ke mana adiknya tadi pergi. Lie Bouw Tek sudah berada di dekatnya dan pendekar Kun-lun-pai ini berkata.

“Sudahlah, Hong-moi. Tidak ada gunanya dikejar. Dia sudah jauh sekali, entah di mana. Dia... dia... seperti dapat terbang saja dan tidak mungkin bagi kita untuk dapat menyusul dia.”

Dia masih terpukau karena kagumnya menyaksikan kehebatan Pendekar Bongkok, adik wanita yang dikasihinya itu. Dia sudah mendengar bahwa Pendekar Bongkok memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi apa yang disaksikannya tadi jauh melampaui dugaannya selama ini. Terlalu dahsyat ilmu yang dimiliki Pendekar Bongkok itu, tidak lumrah manusia!

“Aihh, Lie-toako... apakah engkau tidak melihat lengan kirinya tadi? Dia... dia buntung! Aihh, adikku, apa yang telah mereka lakukan kepadamu? Aku harus mencari Kim Sim Lama, aku harus membalaskan adikku, akan kuminta pertanggungan jawabnya!” Lan Hong menangis.

“Tenanglah, Hong-moi. Yang penting, adikmu itu masih dalam keadaan selamat, bukan? Kalau kita kembali ke sana, tentu mereka tidak akan menerima kita sebaik tadi. Apa lagi Thai Yang Suhu telah tewas. Kita bahkan harus cepat-cepat pergi dari sini. Aku hendak menghadap Dalai Lama dan melaporkan segalanya. Kim Sim Lama dan pengikutnya itu jelas hendak melempar fitnah kepada Dalai Lama dan mereka berbahaya sekali. Mari, Hong-moi, mari kita pergi menghadap Dalai Lama. Kemudian baru kita mencari jejak adikmu Sie Liong dan puterimu...”

“Bi Sian...! Ah, di mana anakku Bi Sian? Apa yang telah terjadi dengannya? Melihat apa yang menimpa diri adikku, aku sungguh gelisah memikirkan anakku, toako.”

“Hong-moi, kita tetap berusaha untuk mencarinya, dan sementara itu, serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di samping berusaha mencarinya, kita hanya dapat berdoa, Hong-moi. Dan tenangkan hatimu karena bukankah menurut ceritamu, puterimu itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi? Kurasa ia mampu menjaga diri sendiri.”

“Memang benar, toako. Dia lihai dalam ilmu silat. Akan tetapi, dia masih muda, kurang pengalaman, dan di dunia ini terdapat demikian banyak orang yang jahat dan keji.”

Lie Bouw Tek terus menghiburnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Melihat ini, perlahan-lahan kegelisahan Lan Hong menipis hingga akhirnya dia tenang kembali.

Mereka berdua menjenguk ke dalam lubang bekas kuburan Sie Liong. Lubang dalam tanah itu kosong dan pendekar Kun-lun-pai itu menemukan sebuah tabung bambu yang sudah pecah-pecah. Dia mengerutkan alisnya, menduga-duga apa gunanya benda itu, lalu membuangnya jauh-jauh.

Kemudian, dia menyeret mayat Thai Yang Suhu dan mendorongnya ke dalam lubang bekas kuburan Sie Liong, kemudian, dibantu oleh Lan Hong, dia menimbuni lubang itu dengan tanah yang tadi berhamburan. Semua ini mereka kerjakan dengan tergesa-gesa karena khawatir kalau sampai ada yang melihatnya. Setelah itu baru kemudian mereka cepat meninggalkan kuburan itu, pergi ke Istana Dalai Lama untuk menghadap pendeta kepala para Lama itu.....

********************

Gadis itu dikenal oleh semua orang yang biasa bekerja di Telaga Yam-so. Seorang gadis gila yang menjijikkan. Baru kurang lebih satu bulan ia muncul di sekitar tepi telaga itu. Seorang gadis atau wanita yang sebetulnya masih muda, akan tetapi keadaannya kotor dan seperti seorang gembel gila.

Pakaiannya butut, kotor dan dekil, berbau apek lagi. Rambutnya saling lekat dan kotor, awut-awutan bagaikan rambut siluman yang menakutkan, menutupi sebagian mukanya yang juga kotor sekali, penuh lumpur. Matanya kadang berputar-putar liar, kadang kala gelisah, kadang pula terbelalak menakutkan, dan ada kalanya merah karena tangis.

Orang melihat dia kadang menangis tersedu-sedu, kadang tertawa seorang diri, bicara seorang diri dengan kata-kata yang tidak jelas bahkan tidak karuan. Sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa dia seorang wanita muda yang hidup terlantar, terlunta-lunta, seorang gembel menjijikkan yang gila! Makin dipandang, orang akan merasa semakin jijik karena ulahnya.

Tidak ada seorang pria pun yang dapat merasa tertarik oleh seorang perempuan seperti wanita gila itu. Mereka bahkan menjauh, bukan saja jijik karena bau apek itu, melainkan juga jijik kalau-kalau wanita gila itu akan merangkul mereka!

Dia makan apa saja yang dia temukan. Ikan-ikan kering, sisa yang ditinggalkan para nelayan. Ada kalanya ia meminta-minta dan hanya karena jijik, bukan karena iba, orang melemparkan makanan kepadanya. Tubuhnya kurus kering, sama sekali tidak menarik.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa baru sebulan yang lalu, wanita itu merupakan seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hitam manis, dengan bentuk tubuhnya yang menggairahkan. Dan tak seorang pun yang tahu bahwa gadis itu memang sengaja berpura-pura gila dan menjadi gembel menjijikkan!

Dia adalah Sam Ling Ling, gadis peranakan Tibet Han yang sudah yatim piatu itu. Dia tadinya oleh Sie Liong dititipkan kepada Bibi Cili. Terpaksa Ling Ling membiarkan Sie Liong yang hendak melakukan penyelidikan itu pergi, walau pun ia merasa berat hati. Sie Liong berjanji dalam waktu bulan akan kembali menjemputnya.

Setelah lewat sebulan dan Sie Liong belum juga datang, Ling Ling minggat dari rumah Bibi Cili. Dia pergi mencari Sie Liong, satu-satunya pria, bahkan satu-satunya manusia di dunia ini yang dicintainya!

Ling Ling maklum bahwa di dunia ini banyak berkeliaran laki-laki jahat. Terutama sekali bagi seorang wanita yang lemah, apa lagi yang memiliki kemudaan dan kecantikan, bahaya itu lebih besar lagi mengancam dirinya. Oleh karena itu, ia menggunakan akal, berpura-pura gila, mengotori tubuh dan pakaiannya, bahkan melumuri mukanya dengan lumpur, kadang-kadang ia bahkan sengaja bergaya seperti orang gila yang menjijikkan dan menakutkan.

Dengan cara demikian, benar saja tidak seorang pun pria sudi mendekatinya, apa lagi mengganggunya. Ia lalu berkeliaran di sekitar pantai telaga yang besar itu, setiap hari mencari-cari dan memperhatikan setiap orang.

Akan tetapi makin hari ia semakin berduka karena tidak pernah ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu seorang pemuda yang punggungnya bongkok. Ia tidak berani untuk bertanya-tanya karena maklum bahwa Pendekar Bongkok amat dikenal orang dan kalau ia bertanya, tentu akan menimbulkan kecurigaan orang. Ia hanya mampu menangis dengan sedih, tetapi kalau ada orang melihat ia menangis, ia sengaja lalu memaksa diri untuk tertawa. Menangis, tertawa, menangis, tertawa agar ia disangka gila dan bebas dari gangguan orang.

Makin hari ia semakin kurus karena makin berduka dan hampir tidak makan kalau tidak perutnya memaksanya sekali. Ia tidak pernah putus asa karena ia menaruh keyakinan besar bahwa Sie Liong tak mungkin dapat melupakannya dan meninggalkannya begitu saja.

Ia tahu bahwa Sie Liong hanya bongkok punggungnya, tidak bongkok hatinya. Ia tahu bahwa Sie Liong adalah seorang manusia yang berbudi luhur, dan ia sudah mengambil keputusan untuk hidup di samping Sie Liong selamanya, atau lebih baik ia mati kalau harus hidup tanpa pemuda bongkok itu.

“Liong-ko... ah, Liong-koko... engkau berada di mana? Apakah engkau tidak merasakan di hatimu betapa selama ini aku mencarimu, betapa aku mengkhawatirkanmu, betapa aku merindukanmu? Liong-koko...” demikian ia meratap-ratap sambil menangis kalau tidak ada orang melihatnya.

Setiap hari ia mengharapkan. Apa bila matahari muncul, muncul pula harapan baru di hatinya bahwa pada hari itu ia tentu akan bertemu dengan Sie Liong. Kalau malam tiba, ia pun mengharap bahwa besok hari ia akan bertemu dengan pria yang dikenangkannya itu.

Ia tidak pernah putus asa. Tidak, ia adalah keturunan Tibet yang tinggal di pegunungan, di lingkungan yang sangat keras dan sukar sekali, dan keadaan lingkungan yang sukar itu menggembleng bangsanya menjadi bangsa yang tidak pernah putus harapan! Hanya orang yang tidak pernah hidup dalam kekurangan, kekerasan dan kesukaran sajalah yang mudah putus asa.

Ia tidur di mana saja, jauh dari orang lain untuk menghindari gangguan. Di goa-goa, di bawah pohon di balik semak belukar. Mula-mula dia merasa takut sekali, akan tetapi lambat laun rasa takutnya menghilang, terganti perasaan pasrah. Satu-satunya pelita yang menerangi hidupnya hanyalah harapannya bertemu dengan Sie Liong.

Pada senja hari itu, ketika matahari mulai bersembunyi di balik bukit, ia menuju ke sebuah goa di tepi telaga. Goa kecil yang tertutup pohon dan ilalang, yang enak untuk melewatkan malam, tidak begitu dingin karena terlindung dari hembusan angin malam.

Tubuhnya terasa sangat nyaman. Sore tadi seorang pelancong dan keluarganya yang membawa makanan dan makan di tepi telaga, memberikan sisa makanan bekal mereka kepadanya. Nasi putih dan lauk pauknya, cukup banyak. Ia makan dengan gembiranya.

Karena perutnya kenyang, dan harapan baru muncul bahwa besok pagi ia akan melihat banyak orang lagi dan siapa tahu di antara mereka terdapat Sie Liong, karena hatinya penuh harapan dan tubuhnya terasa segar, malam itu ia pun tidur nyenyak. Bahkan ia bermimpi, bertemu dengan Sie Liong.

Kalau ada orang yang berada dekat dengan goa kecil itu, tentu dia akan mendengar betapa dalam mimpinya perempuan gila itu telah menangis terisak-isak. Tangis bahagia yang dicurahkan di atas dada pria yang dikasihinya yang hanya terjadi dalam mimpi.....

********************


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner