RAJA PEDANG : JILID-06


Lian Bu Tojin, ketua Hoa-san-pai yang kini sudah berusia enam puluh tahun ini, seorang kakek tinggi kurus, berjenggot panjang, bertongkat bambu, duduk di atas bangku sambil mengusap-usap jenggotnya dan memandang murid bungsunya yang berlutut di depan kakinya. Beberapa lama dia membiarkan muridnya itu menangis tersedu-sedu. Sesudah melihat tangis Sian Hwa agak reda barulah dia berkata dengan suaranya yang halus dan sabar.

“Sian Hwa, kau tenangkanlah hatimu dan pergunakanlah pikiranmu. Dalam menghadapi segala macam peristiwa, baik yang menyenangkan mau pun yang menyedihkan, kau harus dapat menggunakan pikiranmu. Terlampau menuruti perasaan dapat menggelapkan pikiran. Hati boleh sepanas-panasnya, akan tetapi kepala harus dingin sehingga pikiran tidak dikuasai hati dan dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan sebaiknya.”

“Teecu menurut petuah suhu, akan tetapi, suhu... manusia she Kwee itu betul-betul keji. Hanya karena ayah teecu melihat perbuatannya yang tidak tahu malu itu, mengapa dia sampai hati membunuh ayah? Ahh..., teecu mohon perkenan suhu untuk mencarinya dan membalas dendam ini.”

Lian Bu Tojin tersenyum dan mengangguk-angguk. “Darah muda..., darah muda…! Sian Hwa, persoalanmu ini mengandung rahasia yang meragukan. Lagi pula, tak percuma kau menjadi muridku. Bukankah dahulu sudah sering kuajarkan padamu bahwa di balik segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, terdapat kekuasaan tertinggi yang mengatur segalanya? Apa yang terjadi pada diri ayahmu sekali pun adalah hal yang sudah semestinya begitu, tepat menurut kehendak kekuasaan itu. Manusia yang melakukannya hanyalah menjadi lantaran belaka. Karena itu tugasmu memang harus memegang kebenaran, menegakkan keadilan, memberantas kejahatan dan penyelewengan, akan tetapi jangan sekali-kali kau dipengaruhi dan ditunggangi oleh nafsu kebencian, nafsu membalas dendam, karena jika terjadi hal demikian, namanya sudah bukan penegak keadilan dan pemberantas kejahatan lagi, melainkan menjadi budak nafsu sendiri yang termasuk kejahatan pula.”

“Teecu menyerahkan urusan ini kepada suhu...,” Sian Hwa berkata lemah, terpukul oleh petuah suhu-nya yang tentu saja sudah dimengertinya baik-baik itu.

“Sekarang biarlah suheng-mu yang menuturkan semua apa yang telah terjadi.”

Kwa Tin Siong lalu menceritakan kepada suhu-nya tentang semua pengalamannya sejak dia berniat membantu Pek-lian-pai untuk menentang pemerintah penjajah, juga betapa dia bertemu dengan Koai Atong yang membawa pergi anaknya dan mengenai penyerangan orang-orang yang mengaku anggota Pek-lian-kauw terhadap dia dan Sian Hwa.

Sebagai penutup dia mengemukakan bahwa keadaan Kwee Sin memang mencurigakan sekali, dan sangat boleh jadi Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng, Bun Si Liong, dan Kwee Sin sudah pula mengadakan hubungan dengan kaum Pek lian pai.

“Hanya sebuah hal yang teecu tidak mengerti, yaitu mengenai hubungan antara saudara Kwee Sin dengan wanita Pek-lian-pai yang sangat mencurigakan itu, benar-benar teecu tidak mengerti...” Demikian Kwa Tin Siong menutup penuturannya.

Dalam penuturannya tadi, ia sengaja tidak menceritakan tentang kejadian di taman bunga belakang losmen. Kwa Tin Siong adalah seorang gagah yang sudah banyak pengalaman, maka mendengar bahwa tadi sumoi-nya pun tidak bercerita tentang hal ini, dia tidak mau menyebut-nyebutnya pula karena dia tidak ingin menyinggung perasaan Sian Hwa.

Ketua Hoa-san-pai mengangguk-angguk, lalu dia berkata. “Memang keadaan Kwee Sin itu mencurigakan sekali. Sekarang begini saja baiknya, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Segala urusan yang menyangkut diri sahabat-sahabat, harus diselesaikan secara musyawarah, secara damai dan seadil-adilnya. Tunggulah sampai Wan It dan Kui Keng datang. Kalian juga boleh pergi mengunjungi Kun-lun Sam-hengte untuk minta penjelasan langsung dari Kwee Sin. Dengan demikian, maka segala hal akan dapat diselesaikan.”

Setelah berkata demikian, ketua Hoa-san-pai ini bertanya lebih lanjut tentang Kwa Hong yang pergi bersama Koai Atong.

“Itulah yang sangat menggelisahkan hati teecu, Suhu. Koai Atong adalah seorang yang amat aneh kelakuannya, seperti anak kecil atau seperti orang yang miring otaknya. Teecu tidak tahu ke mana anak teecu itu dibawa pergi."

Lian Bu Tojin tersenyum. "Tak usah khawatir. Kalau Koai Atong sudah berkeliaran di sini, berarti bahwa gurunya, Ban-tok-sian Giam Kong juga sudah meninggalkan Tibet dan kini berada di sini pula. Asal saja anakmu itu mengaku bahwa dia cucu murid Hoa-san-pai, kiranya dia tidak akan mendapat kesukaran karena Ban-tok-sim Giam Kong tentunya akan memandang muka pinto."

Tidak lama Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menanti di Hoa-san. Hanya empat hari kemudian berturut-turut datanglah Bu-eng-kiam Thio Wan It bersama dua orang anaknya, yaitu yang sulung Thio Ki, anak laki-laki berusia dua belas tahun dan yang ke dua Thio Bwee, anak perempuan berusia sepuluh tahun. Toat-beng-kiam Kui Keng yang juga datang bersama anaknya laki-laki bernama Kui Lok Si, berusia sebelas tahun.

Dua orang pendekar Hoa-san ini sengaja datang bersama-sama anak-anak mereka untuk menghadap Lian Bu Tojin, sekalian mengenalkan anak-anak itu dan memberi tambahan pengalaman kepada anak-anak itu yang mereka harapkan kelak akan menjadi pendekar-pendekar Hoa-san pengganti mereka.

Pertemuan antara empat Hoa-san Sie-eng itu tentu akan menggembirakan sekali kalau saja yang baru datang tidak mendengar tentang peristiwa kemalangan yang menimpa diri Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong. Tin Siong kehilangan anak perempuannya dan Sian Hwa kematian ayahnya.

Dua orang pendekar Hoa-san itu, Thio Wan It dan Kui Keng, menyambut berita duka ini sesuai dengan watak mereka masing-masing. Thio Wan It yang julukannya Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) ini berwatak pendiam dan berangasan mudah marah, akan tetapi jujur dan keras, berlawanan dengan perawakannya yang pendek dan gemuk, muka bundar, bajunya selalu serba hitam.

Dengan kedua tangan terkepal dia berkata. "Mari kita pergi mencari Kwee Sin, ingin aku menghajar bocah kejam yang kurang ajar itu!"

Kui Keng si Pedang Pencabut Nyawa, wajahnya tampan tubuhnya kecil, sikapnya selalu gembira dan pakaiannya serba putih. Dia menyambut berita itu sambil tertawa.

"Urusan Sumoi perlahan-lahan dapat diurus, kurasa yang lebih penting adalah mencari puterinya Twa-suheng, siapa tahu anak nakal gila itu akan mengganggu Hong-ji. Urusan dengan Kwee Sin itu berbelit-belit, mungkin ada hubungannya dengan Pek-lian-pai, harus diselidiki dengan seksama.”

Sian Hwa yang mencoba untuk menghibur kesedihannya, menyerahkan perundingan itu kepada tiga orang suheng-nya, dia sendiri lalu menggandeng Thio Bwee, Thio Ki, dan Kui Lok diajak ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) sambil berkata,

"Mari anak-anak, hendak Bibi lihat sampai di mana kemajuan kalian di bawah asuhan ayah-ayah kalian."

Memang terhibur juga hati Sian Hwa bertemu dengan keponakan-keponakannya yang menyenangkan itu. Thio Ki berwajah bundar seperti ayahnya, tampan dan sikapnya sudah membayangkan kegagahan walau pun dia baru berusia dua belas tahun, pendiam dan dadanya selalu terangkat.

Thio Bwee yang berusia sepuluh tahun itu mewarisi kecantikan ibunya, juga pendiam dan manis sekali. Sepasang matanya tajam serius, dagu di bawah bibirnya yang manis itu membayangkan kekerasan hatinya. Segera ia senang sekali dekat dengan bibinya yang sering kali dipuji-puji ayahnya sebagai seorang pendekar wanita Hoa-san-pai yang hebat iimu pedangnya.

Ada pun Kui Lok, anak tunggal Kui Keng, berusia sebelas tahun, memiliki watak seperti ayahnya, gembira dan agak nakal, akan tetapi juga bersifat angkuh, hal ini mudah dilihat dari bentuk mulut dan matanya. Ketiga orang anak Ini nampak gagah-gagah, cocok benar menjadi keturunan dari Hoa-san Sie-eng, empat orang gagah dari Hoa-san-pai.

"Sayang," katanya kepada tiga orang anak itu, "kalau Hong-ji tidak dibawa pergi oleh Koai Atong dan berada di sini bersama kalian, alangkah akan gembiranya.”

“Bibi, sebagai anak Twa-supek, tentu kepandaian adik Hong hebat sekali, bukan?" Thio Bwee bertanya kepada bibi gurunya.

Sian Hwa mengangguk. "Tentu saja, akan tetapi kau pun tentu sudah banyak mempelajari ilmu silat dari ayahmu. Coba, Bwee-ji, kau perlihatkan padaku."

Thio Ki sangat sayang kepada adiknya dan pemuda pendiam ini dapat mengerti isi hati adiknya, maka dia lalu berkata kepada Sian Hwa sambil memandang ke arah Kui Lok,

"Sukouw, tentu adikku malu karena menurut sepatutnya, saudara Kui Lok ini yang harus memperlihatkan kepandaiannya lebih dulu."

Dengan kata-kata ini, Thio Ki yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperlihatkan sikapnya yang sungguh-sungguh dan memegang aturan. Kui Lok adalah putera dari orang ketiga Hoa-san Sie-eng, maka kalau dihitung urutan atau tingkatnya, masih lebih rendah dari pada mereka yang menjadi putera-puteri Thio Wan It, yaitu orang kedua dari Hoa-san Sie-eng.

Diam-diam Sian Hwa tidak senang menyaksikan sikap yang angkuh ini, akan tetapi karena dia pun mengenal watak ji-suheng-nya yang keras dan jujur, ia anggap saja bahwa sikap Thio Ki ini adalah warisan ayahnya.

"Betul juga, Lok-Ji. Hayo kau yang mendahului, lekas kau perlihatkan apa yang sudah kau pelajari dari ayahmu," katanya sambil tersenyum.

Kui Lok tersenyum dan berkata merendah, tapi nada suaranya mengandung kebanggaan, "Kepandaianku masih amat dangkal mana dapat disamakan dengan pewaris kepandaian ji-supek (Uwak Guru ke Dua)?" Meski pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tangan kirinya lantas bergerak dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang pendek dari pinggangnya.

Memang tiga orang anak pendekar Hoa-san-pai ini ke semuanya membawa pedang pada punggung masing-masing. Itulah kiranya yang membuat mereka nampak gagah sekali.

Melihat gerakan ini, Sian Hwa tersenyum dan bertanya heran. "Kau menggunakan tangan kiri untuk bermain pedang?"

Agak merah kedua pipi Kui Lok yang tadinya putih itu. "Betul, Sukouw, semenjak kecil saya lebih enak menggunakan tangan kiri dari pada kanan, maka ayah sengaja melatih ilmu pedang dengan tangan kiri."

"Kidal...," Thio Bwee berkata mencemooh karena gadis ini agak mendongkol juga melihat lagak anak itu.

"Akan tetapi, Sukouw...," sambung Kui Lok cepat-cepat untuk menjawab cemoohan gadis cilik itu, "meski pun tangan kiri, kiranya tidak akan kalah dengan tangan kanan..., ehhh, maksudku, tangan kananku sendiri, tentunya."

Sian Hwa kembali tersenyum. Gadis ini maklum akan ejekan-ejekan itu, dan diam-diam ia menyesal mengapa para suheng-nya itu hanya melatih ilmu silat, namun agaknya kurang memperhatikan pendidikan watak sehingga anak-anak ini tak pandai menguasai perasaan dan mudah tersinggung.

"Kau mainlah, biar kami melihatnya."

Setelah memberi hormat kepada Sian Hwa dan mengerling penuh tantangan kepada Thio Ki dan Thio Bwee, Kui Lok mulai bersilat dengan pedangnya. la mainkan pedang tunggal dan caranya memainkan pedang itu memang hebat, apa lagi karena dia menggunakan tangan kiri sehingga menjadi kebalikan dari ilmu pedang yang aslinya.

Diam-diam Sian Hwa memperhatikan dan kagum juga akan kecepatan gerakan anak ini. Memang permainan pedang Hoa-san-pai sangat mengutamakan kecepatan. Yang paling mengagumkan hatinya adalah kekuatan yang digunakan dalam setiap serangan, demikian sungguh-sungguh dan selalu mematikan. Tidak percuma anak ini menjadi putera tunggal suheng-nya, Toat-beng-kiam si Pedang Pencabut Nyawa!

Setelah Kui Lok menghentikan permainan pedangnya, Sian Hwa berseru, "Bagus sekali, Lok-ji, kau tidak memalukan ayahmu!"

Gadis ini bertepuk tangan sambil memberi pujian. Akan tetapi Thio Bwee dan Thio Ki diam saja, tidak mau memberi pujian.

Tentu saja Kui Lok maklum akan hal ini, maka sambil menyarungkan pedangnya dia pun berkata, “Harap saja sekarang saudara Thio Ki dan nona Thio Bwee tidak pelit-pelit lagi mengeluarkan kepandaian mereka."

"Mana aku bisa melawan engkau? Kau hanya menggunakan tangan kiri, dan kalau aku pun menggunakan tangan kiri, aku tak dapat bersilat, sebaliknya kalau aku menggunakan tangan kanan, berarti aku licik, tentu saja tangan kanan lebih baik dari pada tangan kiri," Thio Bwee menjawab sambil merengut.

Sian Hwa tertawa. "Hi-hi-hi, Bwee-ji, jangan kau bicara begitu. Lok-ji menggunakan tangan kiri karena memang semenjak kecil dia melatih dirinya dengan tangan kiri. Tangan kirinya sama dengan tangan kananmu, sebaliknya tangan kanannya sama dengan tangan kirimu. Hayo lekas kau memperlihatkan kepandaianmu kepada bibimu, anak manis."

Thio Bwee tidak berani membantah bibi gurunya. Gadis cilik ini pun kemudian mencabut pedangnya dan bersilat secepat ia bisa untuk memamerkan kelincahannya di depan bibi gurunya, terutama sekali di depan Kui Lok! Dan dia berhasil!

Memang, dalam hal kelincahan, yakni dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh), gadis ini menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kui Lok. Hal ini pun tidak aneh karena sebagai puteri Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) yang mengandalkan ilmu ginkang, tentu saja ayahnya juga telah menggembleng kedua anaknya itu dalam ilmu ini.

Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat memang tepat sekali jika dimainkan secepatnya. Tubuh gadis cilik ini berloncatan ke sana ke mari bagaikan seekor burung walet saja, dan pedang diputar sedemikian cepatnya sampai hampir tidak kelihatan.

Setelah Thio Bwee berhenti bersilat, kembali Sian Hwa bersorak memuji. Tetapi sebagai seorang ahli silat Hoa-san-pai, tentu saja gadis ini cukup maklum bahwa kepandaian gadis cilik ini masih tidak mampu melawan ilmu pedang yang dimainkan dengan tangan kiri oleh Kui Lok. Gerakan Kui Lok lebih matang, pula tenaga bocah ini jauh lebih besar.

"Sekarang kau, Ki-ji, kau mainlah beberapa jurus agar puas hatiku."

Thio Ki orangnya pendiam dan serius sekali. la memberi hormat kepada Sian Hwa dan berkata, "Jika ada kekeliruan, mohon Sukouw memberi petunjuk."

Terang bahwa kata-kata ini hanya sebagai basa-basi atau sopan-santun belaka karena tanpa menanti jawaban anak ini pun sudah mencabut pedangnya dan di lain saat dia pun sudah bermain pedang dengan kecepatan yang sama dengan adiknya tadi. Hanya kali ini Sian Hwa melihat bahwa kepandaian Thio Ki lebih unggul dari pada adiknya, juga kalau dibandingkan dengan Kui Lok, Thio Ki menang kecepatan biar pun tenaganya seimbang, maka kalau ditarik kesimpulannya, di antara tiga orang anak itu, Thio Ki yang paling tinggi tingkatnya.

"Bagus, bagus! Wah, kalian memang hebat!" Sian Hwa memuji setelah Thio Ki berhenti bersilat pedang.

"Ahhh, Sumoi! Kalau kau pun terlalu tinggi memuji anak-anak itu, mereka bisa menjadi besar kepala." Mendadak terdengar Kui Keng berseru gembira sambil tertawa-tawa. Kui Keng memasuki ruangan itu bersama Thio Wan It dan Kwa Tin Siong.

"Kui-susiok (Paman Guru Kui), saudara Lok puteramu ini memandang rendah aku dan kakak Ti!" tiba-tiba Thio Bwee berseru.

Semua orang terkejut, termasuk Thio Wan It, akan tetapi Kui Keng hanya tersenyum, dan sepasang matanya berseri. "Memandang rendah bagaimana?"

"Habis, dia sengaja memamerkan kepandaian dan bermain pedang dengan tangan kiri, bukankah itu menghina sekali?" kata gadis cilik itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Dia bermain dengan tangan kirinya karena memang dia itu kede (kidal)! Ha-ha-ha!"

Semua orang di situ tertawa dan Thio Bwee sengaja memperlihatkan muka heran.

"Aaah, jadi dia ini kidal? Habis kalau makan, apakah juga menggunakan tangan kiri juga, Susiok?" tanya pula Thio Bwee.

“Ha-ha-ha, tentu saja tidak. Kalau makan tangan kanan dan kalau... membersihkan tubuh pakai tangan kiri."

Kui Keng tertawa-tawa lagi, karena memang orang ini sifatnya gembira sekali. Kui Lok yang tadinya mendongkol karena ejekan Thio Bwee, sekarang ikut tertawa-tawa seperti ayahnya dan kalau anak perempuan itu memandang kepadanya, secara diam-diam dia menjulurkan lidahnya mengejek!

"Sudahlah, anak-anak semua supaya pergi menghadap Sukong (Kakek Guru)," kata Thio Wan It. "Ki-ji, kau yang paling tua, kau harus dapat memimpin dua orang adikmu. Kalian bertiga tinggal baik-baik di Hoa-san, dan taati setiap petunjuk serta perintah Sukong. Kami orang-orang tua akan turun gunung untuk waktu kurang lebih dua bulan."

"Lok-ji, kau harus yang akur bermain-main dengan kedua saudaramu, jangan nakal," Kui Keng memesan kepada puteranya pula.

Setelah berpamit kepada Lian Bu Tojin, empat orang pendekar Hoa-san-pai ini lalu turun gunung, meninggalkan ketiga orang anak itu di bawah pengawasan ketua Hoa-san-pai. Pada waktu turun gunung, Kwa Tin Siong menjelaskan kepada Liem Sian Hwa tentang keputusan perundingan mereka tadi, yaitu bahwa untuk membereskan urusan Sian Hwa dengan Kwee Sin yang gerak-geriknya amat mencurigakan, mereka akan langsung pergi mendatangi orang tertua dari Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng yang kini menjadi pedagang kuda dan tinggal di Sin-yang.

"Sesuai dengan pesan suhu," demikian Kwa Tin Siong menutup penjelasannya, "kita tidak boleh bertindak sembrono terhadap Kun-lun Sam-hengte yang selama ini sudah memiliki nama baik sebagai pendekar-pendekar gagah dari Kun-lun. Oleh karena itu, sebelum kita mengambil tindakan terhadap Kwee Sin, kita harus terlebih dahulu rnemberi tahu kepada kedua saudara Bun Si Teng dan Bun Si Liong tentang kesesatan sute mereka Kwee Sin. Dengan cara demikian berarti kita sudah cukup menghormat dan memandang muka pada Kun-lun-pai."

Sian Hwa hanya mengangguk-angguk saja. Di dalam hati gadis ini merasa tidak cocok, karena dia merasa gemas dan sakit hati sekali kepada bekas tunangannya yang selain sudah membunuh ayahnya, juga sudah amat menghinanya itu. Kalau bisa, ingin ia sekali berjumpa terus menyerang dan mencincang tubuh Kwee Sin…..

********************

Kita tunda dulu perjalanan Hoa-san Sie-eng yang hendak menjumpai Kun-lun Sam-hengte itu dan mari kita mengikuti perjalanan Kwa Hong, bocah perempuan yang berwatak lincah dan gembira, yang dibawa pergi oleh Koai Atong, orang lihai aneh seperti telah dituturkan di bagian depan.

Sambil tertawa-tawa Koai Atong menggandeng tangan Kwa Hong diajak pergi dari Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa yang tidak dapat mengejarnya. Kwa Hong merasa betapa tubuhnya melayang-layang, kedua kakinya tidak menginjak tanah biar pun kelihatannya ia berjalan digandeng orang aneh itu. Mula-mula ia merasa takut, akan tetapi karena Koai Atong tertawa-tawa sambil berkata bahwa mereka akan bermain-main di sebuah telaga yang indah, ia akhirnya menjadi tertarik juga.

Kemudian ternyata oleh Kwa Hong bahwa orang aneh itu memang tidak berdusta. Tidak lama kemudian tibalah mereka di tepi sebuah telaga yang amat indah, telaga kecil yang pinggirnya penuh ditumbuhi bunga-bunga liar yang beraneka warna.

Di puncak pohon-pohon banyak burung menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, sedangkan di dalam air telaga yang penuh bayangan bunga dan pohon itu berloncatan ikan-ikan besar kecil. Bukan main indahnya tempat itu, membuat Kwa Hong lupa akan kekhawatirannya bahwa ia telah berpisah dari ayahnya.

"Bagus sekali... nyaman sekali tempat ini...," ia berkata.

"Bagus, ya? Aku pun senang bermain-main di sini," kata Koai Atong berjingkrak-jingkrak.

"Hayo kita main kejar-kejaran, kau boleh kejar aku, tapi yang dikejar tidak boleh pergi dari sekitar telaga ini!"

Kwa Hong seorang anak yang sangat cerdik. Tadi dia sudah digandeng Koai Atong yang mempergunakan ilmu lari cepat yang luar biasa sekali. Sebagai seorang anak pendekar, tentu saja dia mengerti bahwa orang aneh ini mempunyai kepandaian ilmu lari cepat yang tinggi, mana bisa dia mampu mengejarnya?

Kwa Hong tertawa dan berkata nakal. “Koai Atong, kau mau mengakali aku? Ihhh, apa kau kira aku ini sebodoh orang lain? Dari pada kau mencoba mengakali aku, lebih baik kau mengajarkan ilmu lari cepat tadi kepadaku."

"Ilmu lari cepat? Apa itu? Aku tidak bisa... aku tidak boleh mengajarkan apa-apa...," Koai Atong cepat-cepat berkata dengan muka ketakutan ketika mendengar Kwa Hong minta diajari ilmu lari cepat. "Lebih baik kau minta yang lain... ehh, kau mau burung itu? Katakan saja mana yang kau sukai, aku akan menangkapnya untukmu...!" Dia tertawa-tawa sambil menunjuk ke atas, ke arah burung-burung yang berloncatan di cabang-cabang pohon.

"Yang kecil sekali itu, yang berbulu kuning!"

Kwa Hong menunjuk ke arah seekor burung yang tampak paling lincah dan gesit di antara burung-burung yang lainnya. Bukannya karena ia suka kepada burung kecil ini, melainkan karena anak yang cerdik ini memang sengaja memilih burung yang paling gesit supaya Koai Atong tidak dapat menangkapnya.

"Baik, kau lihat, dia takkan bisa lari dariku."

Koai Atong segera menggenjot tubuhnya yang tinggi besar itu, melayang ke arah puncak pohon. Semua burung buyar pergi beterbangan karena takut, termasuk burung kecil yang sudah terbang lebih dulu dengan amat cepatnya.

Kwa Hong sudah hampir bersorak mengejek kegagalan Koai Atong. Akan tetapi tiba-tiba Koai Atong tertawa keras dan tangan kirinya digerak-gerakkan ke depan. Dan aneh sekali, tiba-tiba burung kuning kecil itu seperti ditarik benang yang diikatkan pada kakinya karena binatang ini terbang kembali ke arah Koai Atong dengan gerakan lemah!

Dengan enak dan mudahnya orang aneh itu menangkap burung kuning tadi, lalu meloncat turun dan menyodorkan burung kuning itu pada Kwa Hong. Hebatnya burung itu berdiri di atas telapak tangannya, diam saja hanya menggerak-gerakkan sayap tanpa dapat terbang pergi!

Kwa Hong sampai melongo menghadapi pertunjukan ilmu tinggi yang seperti main sulap ini. Akan tetapi dasar dia amat cerdik, dia tak mau memperlihatkan keheranannya, malah tertawa-tawa dan mengambil burung itu yang berdiri di telapak tangan Koai Atong.

la mengira bahwa burung itu memang sudah tidak dapat terbang lagi, maka ia memegang perlahan sekali. Siapa kira, begitu terlepas dari telapak tangan Koai Atong dan berada dalam genggaman Kwa Hong, burung itu meronta dan...

“Brrrttt...!” burung itu terbang pergi, cepat sekali!

Koai Atong tertawa terbahak-bahak. Kwa Hong merengut.

"Koai Atong, kau telah menipuku! Di tanganmu burung itu tidak bisa terbang, tapi kenapa setelah kugenggam dia lalu terbang?"

"Ha-ha-ha, mana bisa burung terbang tanpa pancalan kaki? Telapak tangan yang dibikin lunak, disertai hawa menyedot, tentu membikin dia tak mampu terbang, apa anehnya...? Ha-ha-ha!"

"Ahhh, kau nakal! Mengapa kau tidak memberi tahu dari tadi?" Kwa Hong cemberut dan marah-marah.

Melihat temannya marah-marah, Koai Atong cepat berkata, "Sudahlah, biar kutangkapkan lagi dia untukmu..." la sudah bangkit berdiri.

Akan tetapi Kwa Hong berkata, "Tidak, aku sudah tidak suka lagi. Tidak suka main-main denganmu, aku hendak kembali kepada ayah."

"Waaah, jangan marah. Belum puas kita bermain-main di sini. Mari kita pergi ke tempat lain yang lebih indah. Kau mau ke puncak gunung bermain dengan awan? Atau ke dalam hutan yang penuh binatang buas? Aku tahu banyak tempat indah...”

"Tidak," jawab Kwa Hong yang mendapatkan pikiran untuk pergi meninggalkan orang ini. la mulai mendapat perasaan tak enak, takut kalau-kalau si gila ini tak mau melepaskannya kembali. "Kalau kau bisa mencarikan ikan bersisik kuning emas dari telaga ini, baru aku mau main main lagi.”

Koai Atong memandang ke arah telaga. Banyak ikan-ikan kecil besar berloncatan, malah kadang-kadang keluar jauh dari permukaan air, akan tetapi tidak ada yang bersisik kuning emas, kesemuanya putih atau hitam.

"Mana ada ikan bersisik kuning emas?" tanyanya ketolol-tololan.

"Tentu saja ada, di dalam telaga. Ataukah barangkali kau tidak becus menangkapnya? Kalau kau tidak becus, kau tidak berharga merijadi temanku bermain-main."

Koai Atong nampak gugup. "Baik, baik... akan aku tangkapkan untukmu. Kau tunggu dan lihatlah."

Tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar itu berkelebat ke arah telaga dan...

“Byurrrrr…!” Koai Atong telah terjun ke dalam air itu!

Wajah Kwa Hong berubah. Celaka, kiranya dia pun setan air yang pandai bermain di air. Inilah kesempatan baik, aku harus cepat pergi meninggalkan tempat ini.

Akan tetapi sebelum kakinya bergerak, timbul perasaan malu dan kasihan di hatinya. Malu kepada diri sendiri yang seakan-akan hendak menipu Koai Atong dan kasihan kepada si gila itu. Dia amat baik kepadaku, sampai-sampai mau menyelami telaga untuk mencarikan ikan, masa aku begitu rendah hati untuk menipu dan meninggalkannya?

Kwa Hong menjadi ragu-ragu. Anak ini sudah banyak dijejali filsafat tentang kebajikan dan terutama mengenai kegagahan serta keadilan oleh ayahnya, maka dia menjadi ragu-ragu untuk meninggalkan Koai Atong yang sengaja dia suruh menyelam di telaga.

Selagi ia ragu-ragu, tiba-tiba terdengar suara orang, "Nah, ini dia anak Hoa-san It-kiam!"

Dan muncullah seorang laki-laki yang membuat Kwa Hong menjadi pucat mukanya karena mengenal orang ini sebagai orang yang pernah menculiknya. Lalu muncul dua orang lain yang berpakaian sebagai pendeta-pendeta Agama To (tosu), akan tetapi tak seperti para tosu biasanya, di atas rambut mereka terdapat hiasan bunga teratai.

"Mana bocah nakal yang gila itu?" tanya seorang di antara dua orang tosu tadi sambil memandang ke kanan kiri.

“Susiok berdua menjaga kalau dia muncul, biar teecu melarikan anak ini lebih dulu!" kata si penculik itu sambil menubruk Kwa Hong.

"Koai Atong, lekaslah kau keluar...! Tolong aku...!" Kwa Hong berteriak-teriak sambil loncat mengelak dan lari mendekati telaga. Penculik itu sambil tertawa lebar mengejar.

"Hendak lari ke mana kau?"

Tiba-tiba muncul kepala Koai Atong dari permukaan air dengan kedua tangan memegang dua ekor ikan. Melihat Kwa Hong dikejar orang, kedua tangannya bergerak dan dua ekor ikan itu dengan kecepatan luar biasa menyambar ke arah penculik yang sudah tak keburu mengelak lagi.

“Aduhh...! Auuuwww... aaaapppp!”

Ikan pertama dengan tepat mengenai hidungnya dan entah karena kesakitan atau apa, ikan itu lalu membuka mulut dan... menggigit hidung si penculik dan ketika si penculik mengaduh-aduh, ikan ke dua melayang tepat ke... mulutnya yang celangap, terus masuk sampai ke kerongkongannya.

Tentu saja dia menjadi kebingungan seperti kakek kebakaran jenggotnya. Dengan susah payah dia dapat melepaskan ikan yang menggigit hidungnya dan menarik keluar ikan ke dua dari tenggorokannya. Hidungnya berdarah dan si penculik menyumpah-nyumpah, apa lagi ketika melihat Kwa Hong tertawa cekikikan menyaksikan pemandangan yang lucu itu.

Akan tetapi melihat Koai Atong sudah meloncat naik dan kini orang aneh itu ikut tertawa berdiri di dekat Kwa Hong, si penculik tidak berani maju lagi dan malah berlari ke belakang dua orang tosu yang menjadi susiok-nya (paman gurunya).

Dua orang tosu itu melangkah maju menghadapi Koai Atong.

"Koai Atong," kata seorang di antara mereka yang mempunyai andeng-andeng (tahi lalat) besar di pipi kanannya, "harap kau jangan ikut campur dan berikan anak ini kepada kami."

Koai Atong masih tertawa-tawa dengan Kwa Hong, sama sekali tidak mau melayani dua orang tosu itu. Akan tetapi Kwa Hong yang maklum bahwa kedua orang tosu itu pun tidak mempunyai maksud baik, dan agaknya teman dari si penculik tadi, segera berkata, "Koai Atong, jangan dengarkan mereka. Ganyang saja!"

Koai Atong tertawa lagi dan menggerak-gerakkan tubuhnya yang basah kuyup itu. Air dari pakaiannya memercik-mercik dan menyambar ke arah dua orang tosu itu. Tanpa dapat dicegah lagi pakaian tosu itu pun terkena air, malah muka mereka menjadi basah dan terasa sakit karena sambaran titik-titik air itu terasa seperti jarum-jarum menusuk kulit. Mereka menjadi marah dan membentak.

"Orang gila, kau mencari mampus?"

Serentak kedua tosu itu mencabut keluar ikat pinggang mereka yang ternyata merupakan joan-pian (cambuk lemas) berduri, nampaknya menakutkan sekali.

Akan tetapi Koai Atong hanya tertawa saja dan begitu kedua orang menyerang, dia telah memegang anak panahnya yang berujung kehijauan. Entah dari mana dia mengeluarkan senjatanya ini.

Terdengarlah suara yang keras. Dua orang tosu itu mengeluarkan seruan tertahan karena joan-pian mereka yang diserangkan tadi telah bertemu dengan anak panah dan membuat tangan mereka tergetar. Namun karena mereka percaya akan kepandaian sendiri, apa lagi karena mereka maju berdua, dua orang tosu ini tidak gentar dan segera mengurung, menghujankan sambaran joan-pian ke arah tubuh Koai Atong.

Orang aneh ini menggerakkan anak panahnya sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang ia menggerakkan tubuhnya yang basah dan mengirim titik-titik air yang menyambar ke arah kedua orang lawannya. Kwa Hong bertepuk tangan memberi hati kepada temannya.

"Hayo, Koai Atong. Gasak mereka. Sikat saja!"


Pertempuran berjalan seru sekali. Ternyata kepandaian dua orang tosu itu pun lihai bukan main. Gerakan joan-pian mereka amat hebat, seperti dua ekor ular yang menggeliat-geliat dan menyambar-nyambar.

Akan tetapi semua serangan mereka dapat dihindarkan oleh Koai Atong dengan mudah. Sebaliknya, dengan anak panahnya itu pun Koai Atong tidak mampu mendesak dua orang lawannya, malah nampaknya Koai Atong dalam gerakan-gerakannya terlampau lemah sedangkan dua orang lawannya itu makin cepat dan kuat daya serangannya.

Hal ini tidak aneh karena dua orang itu rnenggunakan ilmu silat yang mengandung tenaga Yang, sebaliknya Koai Atong memang memiliki kepandaian yang berdasarkan tenaga Im yang lebih halus dan lemas. Akan tetapi hanya tampaknya saja dia kalah cepat dan kalah kuat, padahal sesungguhnya tidak demikian karena dengan tenaga lemas dia dapat pula menggunakan tenaga lawan untuk balas menyerang.

Pada jurus ke lima puluh, mendadak dua orang tosu itu mengeluarkan bunyi melengking tinggi yang aneh dan serempak mereka menggerakkan tangan kirinya ke depan. Hanya tampak sinar beraneka warna menyambar ke arah Koai Atong.

Orang aneh ini nampak kebingungan. Cepat-cepat dia memutar anak panahnya sambil mengibaskan tangan kirinya seperti orang menghadapi sambaran banyak senjata rahasia yang kecil. Akan tetapi tetap saja dia mengaduh ketika terasa pundak kirinya gatal-gatal.

“Aduh, curang... auhh, curang...!”

Dan orang tinggi besar yang berjiwa kanak-kanak ini lalu menangis! Akan tetapi sambil menangis dia lalu menyerang lebih hebat sehingga kedua lawannya terpaksa lebih banyak main mundur saja karena memang bukan main berbahayanya sepak terjang Koai Atong yang seperti seorang anak-anak sedang marah itu.

Kwa Hong khawatir sekali melihat bahwa temannya menangis dan agaknya kesakitan.

"Tosu-tosu bau! Kakek-kakek mau mampus! Tidak tahu malu, cih, tidak tahu malu. Sudah main keroyokan masih berlaku curang!" Kwa Hong memaki-maki sehingga kedua orang tosu itu menjadi merah mukanya.

"Diam, anak setan!" bentak kakek yang bertahi lalat pipinya

“Kau yang diam, tosu bau! Ahhh, kalau aku sudah besar, kucongkel tahi lalatmu di pipi itu dan kuganti dengan tahi kerbau!" Kwa Hong memaki dan makian ini membuat Koai Atong yang tadinya menangis menjadi tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha, betul-betul! Ganti dengan tahi orang, lebih bau lagi!"

Akan tetapi setelah dia tertawa, penyerangannya menjadi kurang kuat sehingga dia kena didesak mundur lagi. Kwa Hong melihat ini menjadi makin khawatir. Koai Atong boleh jadi lihai, akan tetapi dia kurang siasat dan seperti anak kecil saja, pula kedua orang lawannya itu ternyata amat lihai.

Pada saat itu, si penculik diam-diam mendekati Kwa Hong. la menganggap anak ini amat mengganggu kedua orang susiok-nya. Lagi pula, ketika melihat orang aneh itu terdesak, dia mendapat kesempatan untuk menangkap Kwa Hong. Setelah cukup dekat, dia lantas menubruk anak itu.

Kwa Hong yang sudah banyak belajar ilmu silat, cepat-cepat membanting diri ke belakang sehingga tubrukan itu meleset dan... mendadak Koai Atong menggerakkan tangan kirinya dari jauh dengan cara mendorong. Tanpa dapat dicegah lagi tubuh penculik itu terlempar masuk ke dalam air telaga!

Koai Atong tertawa cekakakan, dan Kwa Hong mau tidak mau tertawa geli juga melihat betapa si penculik yang sial itu sekali lagi menyumpah-nyumpah sambil berenang ke tepi dan merayap naik dengan pakaian basah kuyup. Akan tetapi Kwa Hong yang agaknya lebih cerdik dari pada Koai Atong, segera teringat akan gerakan tangan kiri orang aneh itu.

"Koai Atong, gunakan tangan kirimu, putar-putar dan pukul..."

la ingat betapa lihainya tangan kiri Koai Atong yang pernah memukul mundur rombongan penculik, juga tadi baru saja diperlihatkan lagi pada waktu mendorong tubuh si penculik ke dalam telaga.

Seperti orang baru teringat, Koai Atong menghentikan suara ketawanya dan berkata, "Wah, iya, aku sampai lupa. Ehhh, ini rasakan pukulanku, tosu-tosu hidung kerbau!"

la memutar-mutar tangan kirinya dengan gerakan lucu seperti orang... menyelinger mobil, lalu mendorong dua kali ke depan.

Dua orang tosu itu masih belum menduga bahwa gerakan yang aneh dan lucu ini adalah gerakan pukulan Jing-tok-ciang, maka begitu mereka terdorong, mereka mengeluarkan teriakan kaget, mundur terhuyung-huyung dengan muka pucat dan napas sesak.

"Celaka...!" Mereka berteriak.

Kemudian mereka cepat-cepat melarikan diri bagai dikejar setan. Padahal yang mengejar mereka bukan lain adalah si penculik yang lebih ketakutan lagi melihat susiok-susiok-nya sudah lebih dulu melarikan diri.

"Kejar, Koai Atong. Tangkap!" seru Kwa Hong berkali-kali.

Akan tetapi Koai Atong hanya tertawa-tawa, lalu berjingkrak sambil bertepuk-tepuk tangan kegirangan, seperti seorang anak-anak bergirang karena menang dalam permainan.

"Bagus, ya? Bagus, ya?" katanya kepada Kwa Hong. "Sayang ikan-ikan itu telah dimakan monyet tadi. Ikan-ikan sisik kuning emas tulen tadi."

"Sudahlah, aku sudah bosan. Aku mau kembali kepada ayah. Hayo, antarkan aku.”

“Kenapa kembali? Habis aku bagaimana? Ehh, Enci... siapa namamu?"

Geli juga hati Kwa Hong mendengar orang itu menyebut dirinya enci (kakak perempuan). Orang setua ayahnya kok menyebut enci. Benar-benar gila!

"Namaku Hong, she Kwa."

"Jangan kembali dulu, Enci Hong. Aku masih senang bermain-main dengan kau. Mari aku perlihatkan puncak yang ada bunga cengger ayam. Bagus sekali." Koai Atong masih saja terus membujuk-bujuk seperti anak merengek-rengek.

"Tidak, aku sudah lama pergi, takut ayah mengharap-harap kembaliku."

"Kau takut dimarahi ayahmu? Jangan takut. Kalau dia berani marah, kupukul dia!"

Tiba-tiba Kwa Hong memandang kepada Koai Atong dengan muka beringas dan mata berapi. "Apa katamu?! Kau mau pukul ayah? Kau berani pukul dia? Kubunuh kau!"

Koai Atong nampak kaget dan cepat dia berkata halus, "Ah, tidak..., tidak, Enci Hong... aku tidak berani..."

Meski masih kecil, sekarang Kwa Hong mengerti bahwa orang ini memang tidak normal, merasa seperti seorang anak yang kecil, lebih kecil dari dia sendiri. Maka ia lalu berkata dengan suara marah, menakut-nakuti.

"Kalau begitu, lekas antar aku kembali kepada ayah. Kalau kau tidak mau, aku tidak suka lagi menjadi temanmu."

“Oh, baik, baik, Enci Hong, baik. Marilah..."

Koai Atong memegang lengan tangan Kwa Hong dan seperti tadi, dia berlari cepat sekali kembali ke dalam hutan di mana tadi mereka meninggalkan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Akan tetapi, setelah tiba di tempat itu, mereka ttdak dapat menemui dua orang itu yang sudah lama pergi. Hari telah menjadi senja dan Kwa Hong gelisah bukan main.

"Kau yang salah! Kenapa kau ajak aku pergi? Sekarang bagaimana? Ke mana aku harus mencari ayah?" Gadis cilik ini rnembanting-banting kakinya sehingga Koai Atong juga ikut bingung dan ketakutan.

"Habis bagaimana baiknya? Salahnya ayahmu yang tidak mau menunggu di sini," Koai Atong membela diri.

"Kau persalahkan ayah? Lekas sekarang kita menyusul. Kau harus dapat membawa aku bertemu dengan ayah, kalau tidak, awas kau...!"

Koai Atong mengangguk-angguk. "Baiklah... mari kita susul ayahmu."

Mereka keluar dari hutan itu, akan tetapi terpaksa mereka berhenti karena malam telah tiba. Kwa Hong merasa bingung dan amat gelisah, ingin menangis. Akan tetapi ia maklum bahwa kalau dia menangis, maka hal itu bahkan akan membuat Koai Atong ikut menjadi bingung. Dia lalu menahan perasaannya dan bersikap seolah-olah ia menjadi kakak yang memimpin sedangkan Koai Atong seperti adiknya.

"Aku mau mengaso dan tidur di bawah pohon sini, kau buatkan api unggun dan menjaga di sini," katanya.

Akan tetapi Koai Atong begitu bodohnya, sehingga membuat api unggun saja tidak becus. Kwa Hong terpaksa memberi petunjuk caranya membuat api dari dua kayu yang digosok secara keras. Tentu saja dengan tenaga Iweekang-nya yang tinggi, beberapa kali gosok saja Koai Atong sudah berhasil menimbulkan api.

Orang aneh ini bersorak-sorak girang melihat api dan sekiranya dia tidak sedang bersama Kwa Hong yang mencegahnya, tentu dia akan membuat api yang amat besar yang akan membakar seluruh hutan! Dengan Koai Atong menjaga di dekatnya Kwa Hong merasa aman dan anak ini segera tertidur.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwa Hong sudah sadar karena merasa dingin sekali. Ketika dia menengok, ternyata orang aneh itu pun sudah tertidur mengorok sambil duduk bersandar pohon. Seketika Kwa Hong merasa ketakutan karena di dalam tidurnya, lenyaplah sifat kanak-kanak pada diri orang aneh itu, kelihatan seperti seorang laki-laki yang setengah tua dan menakutkan.

Rasa takut membuat Kwa Hong segera bangkit lalu berjalan perlahan meninggalkan Koai Atong yang masih tertidur. Bagaimana pun juga, dia belum mengenal bagaimana watak orang aneh ini sebenarnya dan makin lama kelakuan Koai Atong makin aneh menakutkan. Siapa tahu kalau-kalau akan timbul sifat jahatnya, demikian Kwa Hong berpikir sambil pergi meninggalkan orang itu dengan maksud mencari sendiri ayahnya.

Lama dia berjalan sampai dia tiba di luar sebuah dusun ketika matahari telah mulai naik. Kwa Hong mulai rnerasa lapar perutnya. Aduh, bagaimana ia harus mencari makan? Rasa lapar hampir tidak tertahankan pada waktu pagi itu, perutnya melilit-lilit dan terasa perih. Hampir ia menangis. Mulailah ia merasa menyesal mengapa ia meninggalkan Koai Atong. Sekiranya ada orang aneh itu, tentu dapat ia suruh mencari makanan.

Tiba-tiba Kwa Hong terkejut ketika mendengar suara tinggi melengking yang amat aneh. la menoleh ketakutan ke kanan kiri, akan tetapi tidak melihat sesuatu. Suara melengking itu makin lama makin dekat dan akhirnya ia melihat seorang anak laki-laki berwajah putih pucat datang berjalan perlahan sambil meniup sebuah suling yang bentuknya seperti ular.

Anak itu pakaiannya berwarna kuning. Bajunya terlalu panjang pada lengannya, bahkan belakangnya sampai hampir menyentuh tanah. Wajahnya tampan, matanya berkilat, dan alisnya hitam, menambah wajah yang pucat itu menjadi makin pucat.

Kwa Hong tertegun melihat anak yang aneh itu. Tadinya ia tidak melihat sesuatu ketika anak itu masih jauh, akan tetapi setelah anak itu datang makin dekat, Kwa Hong hampir menjerit karena ngerinya.

Di belakang anak itu berjalan ratusan ekor ular besar kecil yang agaknya teratur sekali. Tidak seekor pun menyeleweng jalannya, semua mengikuti jejak pemuda itu, ada yang kepalanya menyusur tanah, ada yang mengangkat kepala dan berlenggang-lenggok, akan tetapi kesemuanya mengikuti pemuda yang menyuling tadi seakan-akan dikomandani oleh suara suling!

Kwa Hong merasa ngeri bukan hanya karena melihat ular sedemikian banyaknya, akan tetapi terutama sekali karena ia melihat betapa pemuda itu seakan-akan tidak tahu bahwa di belakangnya ada ratusan ular yang mengikutinya, masih terus melangkah enak-enakan sambil menyuling.

"Lari...! Lekas kau lari... di belakangmu banyak ular...!" Kwa Hong berteriak-teriak.

Anak ini sendiri lalu meloncat ke arah sebatang pohon besar dan memanjat pohon dengan ketakutan. Di atas pohon ia masih berteriak-teriak menyuruh anak laki-laki itu segera lari.

Akan tetapi anak itu bukannya lari, malah dengan perlahan sekarang ia memutar arahnya menuju ke arah pohon itu! Ular-ular itu pun terus mengikutinya dan kini semua binatang yang menjijikkan ini telah berkumpul di bawah pohon.

Dari atas pohon Kwa Hong dapat melihat dengan jelas sekali gerakan-gerakan semua ular itu dan hampir saja ia menjerit-jerit saking geli dan jijiknya. Tubuh Kwa Hong gemetar.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner