RAJA PEDANG : JILID-08


Makin terkejut hati Ang-bin Piauw-to mendengar disebutnya perkumpulan Pek-lian-pai yang sedang memberontak untuk meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol itu. Namun dia mengandalkan kepandaian sendiri, goloknya diputar cepat dan dia menyerang kakek Tan Sam. Ada pun Phang Kwi maju dengan ruyungnya menyerbu Tan Hok.

Sungguh-sungguh amat mengagumkan dan mengherankan keadaan pemuda itu. Semua gerakannya tidak seperti orang yang pandai silat, hanya mempunyai langkah-langkah kaki berdasarkan ilmu silat rendahan saja. Akan tetapi tenaga pemuda ini sungguh luar biasa sekali, baik tenaga luar mau pun tenaga dalamnya.

Ruyung di tangan Phang Kwi yang menyambarnya, dia tangkis dengan tangan kiri sekuat tenaga dan... ruyung itu patah! Saking kaget dan herannya, Phang Kwi yang lebih tinggi ilmu silatnya itu kurang cepat mengelak sehingga pukulan tangan Tan Hok yang keras bagaikan serudukan gajah itu menyerempet pundaknya sampai tulangnya patah-patah. Phang Kwi terlempar dan mengaduh-aduh, meringis-ringis kesakitan.

Berbeda dengan Tan Hok, kakek itu ternyata memiliki gerakan yang luar biasa gesitnya. Lebih cepat dari pada sambaran golok. Sampai lenyap bayangan kakek itu dikejar sinar golok. Serangan kepala perampok itu baru berlangsung dua puluh jurus, terdengar suara keras, goloknya terlempar menancap dinding dan tubuh kepala perampok itu terjengkang ke belakang. Mukanya pucat sebab dia telah menderita luka pada dadanya oleh tamparan kakek yang lihai ini.

Pada saat itu, tiba-tiba bertiup angin dari luar warung dan berkelebatlah bayangan yang membawa bau yang amat harum. Pada lain saat Tan Sam dan Tan Hok telah berhadapan dengan seorang perempuan yang amat cantik.

Mukanya putih halus dengan sepasang pipi kemerahan. Mata yang mengeluarkan cahaya bening akan tetapi tajam, membayangkan pengertian yang mendalam. Bibir yang merah, kadang-kadang membayangkan kekerasan penuh wibawa, tetapi lebih sering tersenyum penuh pikatan. Pendeknya seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh yang indah.

Sukar menaksir berapa usianya. Melihat wajahnya yang segar dan bentuk tubuhnya yang padat, kiranya patut kalau dia ini berusia delapan belas tahun. Akan tetapi melihat sinar matanya, agaknya ia jauh lebih tua dari pada itu.

Pakaian yang menutup tubuhnya terbuat dari sutera halus berwarna merah kuning hijau biru diselang-seling indah sekali. Sepatunya yang sangat kecil berwarna merah dengan dasar dilapisi besi. Sebatang golok kecil dan tipis tergantung di punggungnya, dari depan hanya tampak gagangnya tersembul di belakang pundak kanan, sedangkan tangan kirinya memegang sehelai selendang merah dari sutera pula.

Kedatangan wanita ini amat cepatnya dan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang berkepandaian amat tinggi. Tan Hok dan Tan Sam bengong terheran-heran ketika tiba-tiba wanita cantik itu menudingkan telunjuknya yang runcing halus ke muka mereka sambil membentak.

”Orang-orang Pek-lian-pai benar sombong, mengandalkan kepandaian sendiri menghina golongan lain. Hemmm, kalau tidak diberi hajaran akan menjadi makin besar kepala!"

Baru saja suaranya yang halus merdu berhenti, tubuhnya yang langsing sudah berkelebat ke arah Tan Sam. Dalam sejurus saja dia telah mengirim tiga macam serangan kepada kakek itu, yakni tusukan ke arah mata dengan dua jari tangan kiri disusul totokan dengan tangan kanan ke arah dada dan tendangan kaki kiri melayang pula!

Tan Sam tidak berani main-main seperti ketika menghadapi para perampok kasar tadi. Dari gerakan wanita ini maklumlah bahwa dia kini bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki jurus-jurus ilmu silat yang aneh dan keji.

Cepat dia bergerak mengelak dan menangkis, membuyarkan tiga macam serangan itu. Alangkah kagetnya ketika dia merasa lengan tangannya terasa pedas dan gatal ketika dia menangkis totokan tangan kanan wanita itu. Di lain pihak, wanita cantik itu sendiri pun kaget dan terheran-heran melihat tiga serangannya dapat dibuyarkan kakek ini.

"Nona, tahan dulu. Mengapa kau memusuhi orang Pek-lian-pai?" bertanya Tan Sam yang merasa penasaran.

Akan tetapi mukanya berubah pucat ketika melihat wanita itu sudah mengeluarkan sebuah benda yang ternyata adalah lima bunga teratai dengan lima warna di atas satu tangkai. Lima macam teratai ini terbuat dari logam yang keras dan tangkainya merupakan gagang senjata.

"Ehh... kiranya... Ngo-lian Kauwcu (ketua Agama Lima Teratai)...," hanya sampai di sini Tan Sam dapat berkata karena senjata aneh berupa lima teratai itu telah digerakkan ke arahnya.

Tan Sam mencoba untuk mengelak, akan tetapi tiba-tiba saja kepalanya menjadi pening, matanya silau dan pundaknya sudah terpukul sebuah di antara lima teratai itu. Kakek ini mengeluh dan roboh terlentang, mukanya berubah hitam dan napasnya berhenti.

Melihat gurunya tewas, Tan Hok pemuda tinggi besar itu menjadi kaget sekali.

“Siluman betina... Kau membunuh orang?”

Wanita itu tersenyum dan berkilatlah deretan giginya yang putih seperti mutiara teratur. Matanya yang bening tajam itu mengerling dan bergerak cepat menjelajahi tubuh Tan Hok yang tinggi besar dan kuat berotot, kelihatan membayangkan kekaguman.

"Ehh, bocah raksasa, siapa namamu?” pertanyaan ini diajukan dengan suara halus dan sikap genit.

"Namaku Tan Hok dan aku harus membalas kematian..."

"Sudahlah, kau ikut aku saja menjadi muridku. Tentu kelak kau akan menjadi jagoan besar yang tak ada bandingannya...”

“Siluman kau!" Tan Hok menerjang dengan kemarahan meluap, kepalan tangannya yang besar itu menghantam ke arah kepala wanita itu.

Akan tetapi dengan sikap tenang wanita cantik itu mengangkat tangan kirinya menangkis. Sepasang lengan bertemu dan aneh sekali jika dilihat. Lengan wanita itu kecil dan berkulit tipis halus, namun begitu bertemu dengan lengan Tan Hok yang besar dan kuat berotot seakan-akan terus menempel.

Tan Hok merasa tenaganya lenyap. Dia mencoba untuk menarik kembali lengannya, tapi tanpa hasil. Sebaliknya tangan wanita itu meraba dagunya yang keras, kemudian tangan kanan ini meluncur terus ke bawah. Di lain saat tubuh Tan Hok sudah roboh lemas karena jalan darahnya tertotok secara halus, akan tetapi luar biasa akibatnya.

Tan Hok berusaha menggerakan tubuh, akan tetapi semua urat di tubuhnya tidak mau menuruti kehendaknya, dia tetap lemas tak berdaya. Akan tetapi mata dan mulutnya dapat dia gerakkan, maka dia lalu memaki-maki tidak karuan.

Ada pun para perampok ketika tadi mendengar kakek Tan Sam menyebut nama Ngo-lian Kauwcu, tiba-tiba menjadi kaget dan juga girang. Ang-bin Piauw-to segera memimpin para anak buahnya yang sudah terluka untuk berlutut di depan wanita cantik itu.

"Ah, kiranya Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) yang menolong nyawa kami yang rendah dan bodoh. Siauwte bertujuh menghaturkan terima kasih kepada Thian-li..."

"Sudahlah, cukup! Jangan banyak mengobrol," wanita itu mencegah sambil melambaikan tangan.

Wanita ini memang Kim-thouw Thian-li, ketua dari perkumpulan Ngo-lian-kauw, seorang wanita yang berkepandaian amat tinggi. Usianya sudah tiga puluhan, akan tetapi ia masih nampak seperti seorang gadis remaja. Sebagai murid tunggal dari Hek-hwa Kui-bo, tentu saja kepandaiannya amat hebat.

"Lebih baik kau merangket si mulut kasar ini supaya dia jangan memaki-maki seperti itu," katanya sambil menuding ke arah Tan Hok yang masih memaki-maki kepadanya.

"Baik Thian-li. Biar kubunuh si keparat ini!" kata Ang-bin Piauw-to yang cepat mencabut goloknya yang menancap pada dinding.

"Tak usah dibunuh, dirangket saja biar tidak memaki lagi. Paksa dia supaya mau menjadi muridku."

Ang-bin Piauw-to terheran, akan tetapi tentu saja dia tak berani membantah. Diambilnya sebatang cambuk dan mulailah dia mencambuki tubuh tinggi besar yang rebah miring itu.

Sementara itu Kim-thouw Thian-li kemudian mengambili paku-paku itu, tanpa ada yang ketinggalan, malah dia merampas pula kantong paku Pek-lian-ting dari mayat Tan Sam. Sambil tersenyum puas ia menyimpan paku-paku dalam kantong itu di balik bajunya, lalu ia kembali kepada Tan Hok yang sedang digebuki.

Makin kagumlah ketua Ngo-lian-kauw ketika melihat kepala perampok itu terengah-engah mengeluarkan keringat sedangkan cambuk itu sudah hancur, akan tetapi tubuh orang itu tidak terluka sama sekali, hanya bajunya yang hancur rusak memperlihatkan tubuh yang amat kuat.

"Hemmm, tebal kulitnya, ya? Coba biarkan aku yang mencambukinya!"

Kim-thouw Thian-li menerima cambuk yang tinggal gagangnya itu dari tangan Ang-bin Piauw-to, kemudian memukulkan gagang itu perlahan ke arah punggung Tan Hok. Kali ini pemuda tinggi besar itu mengaduh-aduh kesakitan.

"Jika kau tidak mau menerima menjadi muridku, kau akan kupukul lagi sampai tidak dapat kau tahan lagi sakitnya," kata Kim-thouw Thian-li, sedangkan para perampok itu melihat dengan heran.

"Lebih baik kau bunuh. Mau bunuh lekas bunuh, kenapa masih cerewet lagi?" Tan Hok memaki dengan suara lemah karena dia merasakan nyeri yang sangat hebat, akan tetapi matanya masih melotot berani.

"Kurang ajar kau, minta dibunuh apa susahnya?"

Ang-bin Piauw-to yang sudah menjadi marah sekali telah mengangkat goloknya hendak dibacokkan ke leher Tan Hok. Akan tetapi Kim-thouw mengibaskan selendangnya dan... golok itu terlempar dari tangan kepala rampok.

"Jangan lancang!" Kim-thouw Thian-li membentak, matanya yang bening mengeluarkan cahaya berkilat. Kagetlah kepala rampok itu dan cepat dia berlutut.

"Kau dan teman-temanmu harus mentaati perintahku.”

"Kami mentaati, Thian-li," jawab kepala rampok itu. "Mulai sekarang, anggaplah kami telah menjadi anak buah Thian-li.”

Kim-thouw Thian-li tertawa manis. "Baik, aku ingin melihat apakah kalian cukup setia. Tak jauh dari sini, di puncak Gunung Hek-niauw-san, ada sebuah kelenteng. Semua hwesio di kelenteng itu adalah anak murid Siauw-lim-pai. Kau ke sanalah dan lakukan ini..."

Wanita ini kemudian mengajak kepala rampok menjauhi Tan Hok dan berbisik-bisik sambil menyerahkan beberapa buah Pek-lian-ting yang tadi ia kumpulkan. Kepala rampok hanya mengangguk-angguk, kemudian bersama kawan-kawannya dia meninggalkan warung itu. Phang Kwi tidak ikut karena dia memang bukan anak buah Ang-bin Piauw-to lagi.

Kim-thouw Thian-li melirik ke arah tukang warung itu. "Kenapa kau masih belum pergi ikut yang lain?"

Phang Kwi cepat memberi hormat "Maaf, Thian-li, saya adalah pemilik warung ini, bukan anak buah Ang-bin-twako..."

"Hemmm, kalau begitu lekas singkirkan mayat kakek itu. Kubur dia jauh-jauh."

Phang Kwi mendongkol sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Baiknya mayat kakek itu tidak besar dan tak berapa berat, maka dia segera memanggulnya dan dibawa ke belakang. Setelah Phang Kwi pergi, wanita itu berlutut mendekati Tan Hok. Senyumnya makin manis dan matanya bersinar-sinar aneh. Dirabanya dada Tan Hok yang bidang dan kuat.

"Orang yang kuat dan gagah," katanya perlahan setengah berbisik." Tan Hok, kenapa kau berkeras kepala ? Kau ikutlah aku dan kau akan hidup penuh kesenangan. Aku kasihan kepadamu..."

Tan Hok adalah seorang pemuda yang selain masih hijau, juga jujur dan bodoh. Dia tidak dapat mengerti akan maksud yang tersembunyi di balik kata-kata dan sikap wanita itu. Dia menganggap bahwa orang itu betul-betul kasihan padanya. Hal ini mengingatkan dia akan keadaannya, bahwa gurunya, yaitu satu-satunya orang di dunia ini yang ada hubungan dengan dia telah mati. Maka matanya lalu basah dan dia menangis!

Kim-thouw Thian-li mengusap-usap pipi pemuda itu, dan berkata, "Jangan berduka, anak manis. Biar kusembuhkan kau dan kau ikutlah aku."

Jari tangannya yang halus itu menotok pundak dan punggung, dan di lain saat Tan Hok sudah pulih kembali tenaganya dan dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merangkulnya dan hendak membantunya berdiri dengan sikap yang mesra, dia merasa juga bahwa hal ini tidak sewajarnya dan bukan sepatutnya. Maka dia meronta dan melepaskan diri.

"Tan Hok, mari kau ikut pergi ke tempatku. Mulai detik ini kau selain menjadi muridku, juga menjadi... teman baikku," kata Kim-thouw Thian-li dengan senyum dan lirikan mata yang genit memikat.

Tan Hok tidak mengerti maksudnya, "Aku tidak bisa ikut denganmu, juga aku tidak mau ikut. Kau sudah membunuh guruku, mana bisa aku menjadi muridmu? Apa lagi menjadi teman baik. Mulai sekarang, kau adalah musuhku."

Kim-thouw Thian-li kaget dan kecewa. "Orang goblok! Aku kasihan dan suka kepadamu, ingin menolongmu. Masa kau tidak mau terima?"

Tan Hok berulang kali menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa... tidak bisa..., sekarang aku kalah olehmu, tapi lain kali mungkin aku bisa menang untuk membalas perbuatanmu terhadap suhu...”

Dari kecewa wanita itu menjadi marah. "Keparat, kau memang lebih suka mampus. Kalau kau memberatkan gurumu, nah, kau ikutlah dia ke neraka!" Setelah berkata demikian, Kim-thouw Thian-li menyerang dengan totokan maut.

Tan Hok yang menganggap wanita ini musuh besarnya, sudah bersiap-siap dan cepat menangkis. Kim-thouw Thian-li penasaran dan melakukan serangan bertubi-tubi. Tingkat kepandaian wanita ini sudah lebih tinggi dari pada Tan Sam, mana mungkin Tan Hok bisa melawannya? Baru tiga jurus saja pemuda ini sudah terjungkal oleh sebuah tendangan. Kim-thouw Thian-li melangkah maju, ia menggerakkan selendangnya hendak memukul ke arah kepala Tan Hok.

"Kim Li, tahan...! Jangan bunuh orang...!" tiba-tiba terdengar suara keras dari luar warung dan seorang pemuda yang tampan dan gagah melompat masuk.

Kim-thouw Thian-li menahan serangannya. Cepat sekali muka yang beringas itu kembali penuh senyum dan lirikan manis. la segera berpaling, kemudian menyambut kedatangan pemuda itu dengan girang.

"Kwee-koko (Kakak Kwee), kau sudah menyusul ke sini? Ahhh, aku sedang menghajar seorang jahat!" Dengan langkah terayun menarik wanita itu menghampiri pemuda muka putih itu sambil tersenyum-senyum, lalu memegang lengannya.

Pemuda itu menoleh ke arah Tan Hok, mukanya memperlihatkan rasa malu karena sikap mencinta wanita itu diperlihatkan di depan orang lain.

"Pergilah dan ubah jalan hidupmu, jadilah orang baik-baik," kata pemuda itu kepada Tan Hok.

Dengan mata masih melotot penuh kemarahan, Tan Hok lalu pergi meninggalkan warung. Hatinya panas dan mendongkol sekali kepada wanita itu yang selain sudah membunuh gurunya, melukainya, juga melakukan fitnah kepada dirinya terhadap pemuda muka putih yang menolongnya itu. Sebaliknya, meski dia menganggap pemuda tampan itu pun bukan orang baik-baik, namun Tan Hok seorang yang jujur dan tahu akan budi orang, maka dia merasa berhutang nyawa kepada pemuda yang dia tahu bernama keturunan Kwee itu.

Setelah bayangan Tan Hok lenyap, Kim-thouw Thian-li menggandeng tangan pemuda itu sambil menyandarkan tubuhnya. Diajaknya pemuda itu duduk menghadapi meja.

"Kwee-koko, kenapa kau menyusul ke sini? Dan janganlah muram selalu, bukankah ada Siauw-moi (Adinda) di sisimu? He, tukang warung! Lekas sediakan arak yang terbaik dan masaklah daging apa saja yang ada. Cepat!"

Pemuda itu seperti orang kehilangan semangat, dia menurut saja ditarik dan diajak duduk bersanding di atas kursi menghadapi meja. Wajahnya yang tampan nampak muram, akan tetapi matanya agak bersinar ketika dia menghadapi pelayanan Kim-thouw Thian-li yang ramah dan penuh cinta kasih mesra.

Siapakah pemuda yang bermuka putih tampan ini? Bukan lain orang, dia ini adalah orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte yang bernama Kwee Sin berjuluk Pek-lek-jiu (Tangan Geledek)! Dia inilah tunangan Kim-eng-cu Liem Sian Hwa, anak murid Hoa-san itu.

Biar pun yang termuda di antara murid Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, namun Kwee Sin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia sudah mewarisi ilmu pedang Kun-lun yang terkenal di dunia persilatan. Kini usianya baru dua puluh dua tahun.

Semenjak kecilnya Kwee Sin yang sudah tak berayah ibu itu tinggal di puncak Kun-lun melayani suhu-nya Karena inilah maka dia menjadi murid terkasih dari ketua Kun-lun-pai. Hanya kadang-kadang gurunya yang sudah tua dan menganggap Kwee Sin seperti putera sendiri itu memberikan kesempatan kepada Kwee Sin untuk turun gunung dan meluaskan pengalaman di dunia ramai.

Perkenalan Kwee Sin dengan ketua Ngo-lian-kauw itu belum lama. Terjadi baru beberapa bulan yang lalu ketika Kwee Sin sedang turun gunung memenuhi tugas yang diserahkan padanya oleh suhu-nya, yaitu mencari tahu keadaan dunia ramai tentang pemberontakan terhadap pemerintah Mongol.....

********************

Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, pada waktu mudanya juga seorang pejuang, seorang patriot. Maka sekarang mendengar tentang adanya pergerakan orang-orang gagah yang menentang kekuasaan pemerintahan penjajah, semangatnya lalu terbangun, dia menjadi gembira sekali.

Akan tetapi dia sudah terlalu tua untuk turun gunung sendiri. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Karena itulah dia lalu menyuruh muridnya itu untuk turun gunung melakukan penyelidikan.

"Setelah kau turun gunung melakukan penyelidikan, jangan lupa untuk singgah di rumah calon mertuamu di dusun Lam-bi-chung," pesan ketua Kun-lun-pai ini kepada muridnya. "Aku sudah tua, ingin melihat kau menikah tahun ini juga."

Kwee Sin menjadi merah mukanya. Selalu mukanya yang putih tampan itu menjadi merah sekali setiap kali orang bicara atau mengingatkan dia akan tunangannya, Liem Sian Hwa. Merah karena jengah, jengah disebabkan bahagia setiap kali dia terbayang akan wajah tunangannya itu, yang cantik sederhana, bersemangat dan gagah perkasa.

Dia sendiri seorang yang berjiwa pendekar, maka memiliki tunangan yang namanya amat terkenal sebagai seorang lihiap (pendekar wanita), orang terkemuka dari Hoa-san Sie-eng yang dikagumi dan disegani, tentu saja dia merasa amat bahagia. la telah membayangkan betapa kelak dengan Sian Hwa di sisinya, mereka akan merupakan sepasang pendekar yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan serta menjunjung tinggi nama baik Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Anak-anak mereka tentu akan menjadi pendekar-pendekar besar pula.

Setelah bersiap-siap, dan tidak lupa membawa pedangnya yang selama ini membuat dia terkenal, pemuda ini kemudian turun gunung dengan penuh kegembiraan. la terus menuju ke arah selatan dan timur, menjelajahi kota-kota besar, mendengar-dengar dan mencari keterangan.

Ia banyak mendengar tentang pergerakan patriotik dari perkumpulan-perkumpulan rahasia yang timbul bagaikan jamur di musim hujan, terutama sekali tentang sepak terjang orang Pek-lian-pai yang paling gigih melakukan perlawanan kepada pemerintah penjajah. Maka tidak mengherankan apa bila dia merasa simpati terhadap perkumpulan itu dan ingin dia mengadakan hubungan. Namun, perkumpulan Pek-lian-pai ini ternyata amat rahasia, tidak mudah diketahui siapa pemimpinnya dan di mana dia dapat menemui anggotanya.

Pada suatu hari Kwe Sin tiba di Sin-yang dan dia pun mengunjungi tempat tinggal kedua suheng-nya, yaitu Bun Si Teng dan Bun Si Liong, orang pertama dan ke dua dari Kun-lun Sam-hengte. Selagi dia enak-enak berjalan dan tiba di jalan perempatan di luar kampung tempat tinggal kedua suheng-nya, dari jauh ia melihat seekor kuda hitam yang ditunggangi seorang laki-laki setengah tua berbaju putih datang membalap dari jurusan timur. Pada saat itu juga, dari sebelah utara datang pula berlari cepat seekor kuda yang ditunggangi seorang anak laki-laki berusia belasan tahun, antara tiga belas atau empat belas tahun yang bertubuh kekar dan gagah.

Kwee Sin terkejut sekali melihat datangnya dua ekor kuda yang berlari seperti terbang ini pada saat yang sama. Tikungan jalan perempatan dari timur dan utara itu tertutup oleh segerombolan pohon sehingga kedua penunggang kuda itu tentu saja tidak dapat melihat kedatangan masing-masing, dan mungkin juga tidak dapat mendengar derap kaki kuda yang lain karena berisik oleh derap kaki kuda sendiri. Kwee Sin yang datang dari selatan melihat dengan jelas akan hal ini dan timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau dua ekor kuda itu akan bertemu dan beradu di perempatan.

Hal yang dia khawatirkan terjadi. Dua ekor kuda itu berlari cepat sekali dan sebentar saja telah mendekati perempatan. Setelah berada dalam jarak dekat sekali, Kwee Sin berseru, "Awas...!“

Dua ekor kuda itu sudah dekat dan tak mungkin dapat dicegah lagi terjadinya tabrakan yang mengerikan. Dua orang penunggang kuda itu, lelaki setengah tua berpakaian putih dan pemuda remaja yang berkuda putih, melihat pula akan ancaman bahaya ini.

"Ouw-ma (kuda hitam), naik...!” Laki-laki setengah tua itu berseru.

Mendadak kudanya mengeluarkan ringkikan keras dan tubuhnya melompat tinggi sekali melangkahi kuda putih yang berlari cepat. Namun setinggi-tingginya lompatan kuda yang mendadak itu, biar pun dapat melangkahi seekor kuda, agaknya di antara empat kakinya tentu akan rnenendang penunggang kuda putih, anak laki-laki tadi.

Kwee Sin merasa ngeri dan tidak berdaya untuk menolong. Matanya terbuka lebar dan jantungnya berdebar.

Hanya sedetik kejadian itu. Kuda hitam itu melompati kuda putih, keempat kakinya hampir menyentuh punggung kuda putih, akan tetapi masih selamat melompati kuda putih yang menerobos di bawahnya. Debu mengebul tinggi dan... Kwee Sin tidak melihat lagi anak laki-laki yang tadi duduk di atas punggung kuda putih.

"Celaka...!" serunya, mengira bahwa anak tadi tentu sudah terkena tendangan kuda dan terlempar dalam keadaan tewas atau sedikitnya terluka hebat.

Akan tetapi dia segera melongo saking kagum dan herannya setelah melihat bahwa anak itu ternyata secara lihai sekali, ketika kudanya dilompati kuda lain, telah menggantungkan dirinya di bawah perut kuda dan sekarang dalam keadaan selamat dia telah membalikkan tubuhnya duduk kembali di atas punggung kuda.

Namun anak itu agaknya kaget juga. Dia menahan kendali kudanya dan menghentikan kuda itu wajahnya agak pucat. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu hanya menoleh sambil tertawa bergelak, terus mencambuk kudanya, membalap makin cepat.

"Kurang ajar, berhenti kau!" Kwee Sin langsung melompat hendak mengejar penunggang kuda hitam.

"Kwee-susiok (Paman Guru Kwee), jangan kejar dia!" Tiba-tiba anak laki-laki tadi berseru.

Kwee Sin kaget dan menghentikan larinya. Dia menoleh dan memandang anak itu lebih teliti.

"Ehh, kiranya kaukah ini, Lim Kwi?" Dia berlari menghampiri dengan girang. "Pantas saja begini lihai menunggang kuda, kiranya kau."

Anak itu melompat turun dan memberi hormat. Dia memang Bun Lim Kwi, putera tunggal Bun Si Teng, jago pertama dari Kun-lun Sam-hengte! Sebagai seorang pedagang kuda, tentu saja Bun Si Teng dan adiknya, Bun Si Liong, selain memiliki ilmu silat tinggi sebagai keturunan Kun-lun-pai, juga telah mempelajari ilmu memelihara kuda sekaligus juga ilmu menunggang kuda. Bun Lim kwi tentu saja juga mempelajari ilmu ini, maka tadi berkat ilmunya menunggang kuda, dia terluput dari maut yang mengerikan.

"Lim Kwi, kau dari mana dan kenapa kau nampak amat berduka? Pula, kenapa kau tadi mencegah aku mengejar bangsat itu?" Kwee Sin mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.

"Kwee-susiok, memang ada pertaliannya antara pertanyaan-pertanyaanmu tadi. Paman Bun Si Liong terluka parah oleh seorang anggota Pek-lian-pai, dan saya sedang pergi ke Twi-ciu membeli obat untuk paman. Dan orang tadi... melihat kepandaian dan pakaiannya yang serba putih, dia itu pun agaknya salah seorang anggota Pek-lian-pai yang memusuhi kami..."

"Ahhh..." Kwee Sin berkata penasaran. "Jika betul dia itu memusuhi keluargamu, kenapa engkau malah mencegah aku mengejar untuk memberi hajaran kepadanya? Apakah luka ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) amat parah?"

"Kwee-susiok, anggota-anggota Pek-Lian-pai lihai sekali dan selagi pamanku terluka, tidak baik kiranya memperluas permusuhan dengan mereka."

Jawaban anak berusia belasan tahun ini diam-diam membuat Kwee Sin kagum bukan main. Benar-benar seorang anak yang sudah memiliki pandangan luas, pikirnya.

"Bagaimana lukanya, ji-suheng?"

Bun Lim Kwi menarik napas panjang. "Berat juga, syukur dapat tertolong oleh tabib yang pandai. Biarlah nanti Susiok mendengar sendiri tentang persoalannya dari ayah..."

"Benar juga kau, hayo kita lekas pergi ke rumahmu, ingin aku menengok Ji-suheng."

Keduanya lalu cepat memasuki kampung di mana Bun Lim Kwi dan ayahnya tinggal. Rumah keluarga Bun cukup besar, malah memiliki pekarangan belakang yang amat luas, karena di situ dibangun kandang-kandang besar untuk binatang peliharaan dan dagangan mereka, yaitu kuda.

Sebagai seorang pedagang kuda, Bun Si Teng telah berhasil dan makin lama kudanya makin banyak. Hampir semua orang gagah yang membutuhkan kuda, atau para saudagar kuda dari lain daerah, selalu datang menemuinya karena selain keluarga Bun jujur dan tidak pernah menghargai kuda mereka terlalu tinggi, juga kuda mereka selalu adalah kuda-kuda pilihan saking pandainya Bun Si Teng memilih kuda.

Di depan gedung yang cukup besar itu terdapat beberapa batang pohon yang rindang dan mendatangkan suasana yang teduh dan enak di halaman rumah itu. Beberapa ekor ayam yang gemuk-gemuk sibuk mematuki gabah serta dedak yang berceceran di halaman itu hingga suasana di tempat yang teduh itu aman dan damai, tidak membayangkan sesuatu yang menyedihkan.

Hanya sejenak saja Kwee Sin dapat merasakan ketenteraman suasana ini. Ketika teringat akan keadaan ji-suheng-nya seperti yang ia dengar dari Lim Kwi, ia segera tergesa-gesa memasuki gedung.

Kedatangan Kwee Sin dan Lim Kwi disambut oleh nyonya Bun Si Teng, ibu Lim Kwi yang tergesa-gesa bertanya, "Bagaimana Kwi-ji (anak Kwi), sudah dapatkah obatnya?"

Lim Kwi mengangguk, dan saat itulah nyonya ini melihat kehadiran Kwee Sin di belakang anaknya. la segera menyambutnya dengan muka sedih, dan Kwee Sin lantas menyatakan keinginannya untuk menengok Bun Si Liong yang terluka. Beramai-ramai mereka bertiga masuk ke ruangan dalam.

Di dalam kamar Bun Si Liong, orang gagah ini tengah rebah telentang dengan muka pucat sedangkan Bun Si Teng, kakaknya, duduk di dekat pembaringan dengan wajah muram.

"Ah, kau datang, Kwee-sute? Kebetulan sekali!" kata Bun Si Teng, agak berseri wajahnya seperti mendapat pengharapan baru.

"Siauwte mendengar tentang terlukanya Ji-suheng, bagaimana keadaannya?" Kwee Sin menghampiri pembaringan.

Bun Si Liong membuka mata dan memandang kepada Kwee Sin, tersenyum duka.

"Kita kecewa, Sute... ternyata Pek-lian-pai bukan orang-orang baik..."

"Soal itu biarlah nanti kita berhitungan dengan mereka, Ji-suheng. Yang perlu sekarang kau berobatlah dulu agar segera sembuh," menghibur adik seperguruan ini.

Dia mendapat kenyataan bahwa selain menderita pukulan yang melukai sebelah dalam dada, suheng-nya ini pun menderita luka parah pada pundak dan lambungnya akibat kena senjata rahasia paku yang terkenal sering digunakan oleh perkumpulan Pek-lian-pai, yaitu Pek-lian-ting.

Nyonya Bun Si Teng sibuk memasak obat untuk adik iparnya, sedangkan Bun Si Teng lalu menceritakan dengan singkat kepada Kwee Sin tentang terjadinya peristiwa itu.

"Beberapa pekan yang lalu di sini datang seseorang yang mengaku sebagai utusan dari Pek-lian-pai yang membutuhkan dua puluh ekor kuda yang baik. Karena merasa simpati mendengar nama baik Pek-lian-pai sebagai perkumpulan para patriot, aku dan Liong-te (adik Liong) dengan senang hati memilihkan dua puluh ekor kuda terbaik dengan harga serendah-rendahnya. Malah orang yang mengaku bernama Thio Sian itu, pada waktu itu menyatakan sangat kagum melihat kuda tungganganku sendiri. Aku pun dengan rela hati menyerahkan kuda itu kepadanya sebagai tanda persahabatan. Orang she Thio itu minta kepada kami berdua supaya suka mengantarkan kuda ke dalam hutan yang tiga puluh li jauhnya dari sini. Karena ingin berkenalan dengan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, aku sendiri bersama Liong-te berangkat pada tiga hari yang lalu untuk mengantar kuda-kuda itu ke sana. Tetapi celaka sekali..."

Bun Si Teng yang bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Kwan In Tiang di jaman dahulu ini mengepalkan tinjunya yang besar dan mengertak gigi. Kwee Sin mendengarkan penuh perhatian.

"Baru saja kami memasuki hutan menggiring dua puluh ekor kuda, tiba-tiba muncul lima orang berpakaian putih-putih dan mereka langsung menyerang kami dengan paku-paku Pek-lian-ting. Tentu saja kami dapat menyelamatkan diri dari serangan gelap ini. Namun sebelum kami dapat bertanya mengapa mereka melakukan hal itu, mereka sudah maju mengeroyok. Terpaksa kami berdua melakukan perlawanan. Kelima orang itu bersenjata golok dan ilmu silat mereka cukup lihai, akan tetapi aku dan Liong-te tidak gentar. Kami dapat melayani mereka dengan baik, malah dapat mendesak mereka dengan gabungan ilmu pedang kami."

Kwee Sin mengepal tinju dan amat tertarik. la cukup maklum akan kelihaian kedua orang suheng-nya, apa lagi kalau mereka menggabungkan ilmu pedang mereka, kiranya takkan mudah dikalahkan orang, biar pun dengan pengeroyokan. Twa-suheng-nya, Bun Si Teng, amat pandai bersilat pedang dan ditambah lagi dengan permainan sebatang busur besar di tangan kiri merupakan seorang gagah yang sukar dicari bandingnya.

Ada pun Bun Si Liong yang bertubuh tegap serta bermuka hitam itu, tangan kanannya memegang pedang sedangkan di tangan kiri memegang golok. Ilmu pedangnya dicampur dengan ilmu golok sehingga gerakan-gerakannya sangat sukar diduga lawan. Kalau dua orang ini bergabung menjadi satu, bukan main kuatnya.

"Lalu bagaimana, Twa-suheng? Bagaimana Ji-suheng sampai bisa terluka ?" tanya Kwee Sin penasaran.

"Menyakitkan hati benar!" Bun Si Teng menggebrak meja. "Orang-orang Pek-lian-pai itu memang pengecut dan jahat. Setelah kami mulai mendesak, mendadak terdengar suara ketawa seorang wanita. Ketawanya nyaring dan merdu, akan tetapi sama sekali tidak kelihatan orangnya. Kau tahu sendiri, Ji-suheng-mu biar pun gagah perkasa, selalu amat takut dan gugup kalau berhadapan dengan wanita. Mendengar suara ketawa ini agaknya dia gugup sekali, maka ketika dari tempat yang tak diketahui datang menyambar banyak paku-paku Pek-lian-ting, dia kurang cepat dan terluka oleh sebatang paku."

"Ahhh...!" Kwee Sin berseru, penasaran dan juga heran.

"Paku-paku yang menyambar kali ini dilepas oleh orang yang berilmu tinggi," kata Bun Si Teng menjelaskan. "Pada waktu aku menangkis paku-paku itu dengan pedangku, telapak tanganku sampai tergetar. Melihat adikku terluka, aku memutar senjata dan mengamuk dengan nekat. Untuk sementara mereka itu tak dapat mengganggu Liongte. Akan tetapi... lagi-lagi terdengar suara wanita itu yang berseru agar supaya lima orang pengeroyok itu mendesak aku, kemudian wanita yang bersembunyi itu juga menyuruh para pengeroyok itu agar mendesak dari satu jurusan, dari depan saja dan jangan mengepung. Kemudian agaknya dia sendiri yang menghujankan paku-paku Pek-lian-ting kepadaku. Aku menjadi terdesak hebat, malah berada dalam keadaan yang berbahaya. Ketika itulah seorang di antara para pengeroyok mendapat kesempatan untuk menyerang Adik Liong yang sudah terluka. Liong-te masih dapat melawan, akan tetapi lagi-lagi sebatang paku melukainya, kini di bagian lambungnya dan yang pertama tadi melukai pundaknya. Luka-luka ini yang ternyata kemudian mengandung racun, membuat dia seperti lumpuh sehingga dia kena pukulan pada dadanya."

"Keparat...!" Kwee Sin berkata gemas.

"Melihat keadaan adikku terancam, aku kemudian menyerbu ke arah adikku dan berhasil merobohkan penyerangnya itu dengan busurku. Entah dia mampus atau tidak, akan tetapi setidaknya kepalanya tentu retak!" kata Bun Si Teng gemas. "Kemudian aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan Liong-te, karena musuh terlampau kuat. Aku berhasil menyambar tubuh Liong-te dan kubawa lari pulang. Kuda-kuda itu mereka rampas dan ketika pada keesokan harinya aku membawa beberapa orang murid mengunjungi hutan, di situ sudah tidak ada seorang pun anggota Pek-lian-pai."

Kwee Sin menepuk pahanya dengan marah. "Ahh, kalau tahu begitu, si kurang ajar tadi tidak akan kulepaskan begitu saja!"

Bun Si Teng memandang heran. "Siapa yang kau maksudkan, Sute?"

Kwee Sin lalu menceritakan tentang penunggang kuda yang tadi hampir saja mencelakai Bun Lim Kwi. Mendengar ini berkerut alis Bun Si Teng.

"Hemmm, kalau begitu, selain bermaksud merampas kuda, mereka juga sengaja hendak memusuhi keluargaku. Ah, kebetulan kau datang, Sute. Aku telah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa manusia bernama Thio Sian itu berada di dusun Hek-siong-san, tak jauh dari sini. Aku tadinya hendak mencarinya di sana untuk membuat perhitungan. Sekarang kebetulan kau datang sehingga hatiku agak lega meninggalkan rumah. Siapa tahu selagi aku pergi, mereka datang membikin kacau sedangkan Liong-te masih belum sembuh. Kau bisa mewakili aku menjaga di rumah."

"Twa-suheng, kurasa Twa-suheng saja yang menjaga rumah, biarlah aku yang mewakili Suheng mencari jahanam Thio Sian itu di Hek-siong-san. Sekarang sudah terang bahwa Pek-lian-pai amat curang. Jika Suheng sendiri yang pergi ke sana, jangan-jangan mereka akan mengatur jebakan karena mereka sudah mengenalmu. Akan tetapi kalau aku yang pergi, mereka belum mengenalku, maka kiranya akan lebih leluasa bagiku untuk bergerak. Hanya saja, harap Suheng memberi gambaran yang jelas tentang rupa orang she Thio itu."

Mendengar kata-kata Kwee Sin ini, Bun Si Teng lalu mengangguk-angguk. Tidak dapat disangkal pula, ucapan Kwee Sin ini memang benar sekali. Selain itu, dia sudah percaya akan kepandaian sute-nya ini yang tidak berbeda jauh dengan kepandaiannya sendiri. Betapa pun juga, menjaga di rumah kiranya merupakan kewajiban yang tidak kalah pentingnya, pula amat berbahaya karena selain harus melindungi anak isterinya, dia harus pula melindungi adiknya yang sedang sakit.

"Baiklah, Kwee-sute. Akan tetapi kau harus hati-hati benar karena biar pun mengenai kepandaian silat kiranya kau tak usah khawatir menghadapi mereka, namun mereka itu licik dan curang sekali. Untuk mengenal orang she Thio itu mudah saja. Perawakannya kurus tinggi, kumisnya kecil panjang dan di atas pipi kanannya terdapat sebuah tahi lalat merah. la bicara dengan lidah utara."

Setelah mendapat penjelasan dari suheng-nya, Kwee Sin lalu pergi melakukan tugasnya, mencari musuh besar suheng-nya itu ke dusun Hek-siong-san. Dusun itu kecil saja, akan tetapi ternyata tidak mudah bagi Kwee Sin untuk mencari Thio Sian. Agaknya tidak ada yang mengenal orang ini di Hek-siong-san.

Akhirnya ia pun mendapat keterangan tentang orang ini dari seorang pemilik warung arak. "Orang tinggi kurus berkumis kecil dan ada tahi lalatnya merah di pipi kanan? Ahh, benar, dia pernah membeli arak di sini, malah tadi aku lihat dia lewat di sini menuju ke timur."

Mendengar keterangan ini, Kwee Sin mengucapkan terima kasihnya dan cepat-cepat dia melakukan pengejaran ke timur. Di sebelah timur dusun ini terdapat sebuah hutan kecil. Tanpa ragu-ragu Kwee Sin memasuki hutan ini, biar pun hari sudah mulai senja.

Hutan pohon siong yang menghitam kulitnya itu nampak gelap. Ia melihat hutan itu sunyi saja, bahkan tak nampak seekor pun binatang hutan. Tiba-tiba ia mencium bau asap dan melihat asap membumbung tinggi dari sebelah kiri.

Berindap-indap dia mendekati dan dengan girang dia melihat seorang lelaki menghadapi api unggun. Laki-laki ini cocok dengan gambaran diri Thio Sian dan hatinya lebih girang lagi karena melihat laki-laki ini seorang diri saja, tidak ada orang lain di situ. Dengan berani dan gagah Kwee Sin lalu meloncat mendekati dan berdiri dengan tangan bertolak pinggang.

"Orang she Thio, bersiaplah membuat perhitungan atas perbuatanmu yang pengecut dan curang!" bentaknya sambil mencabut keluar pedangnya.

Orang tinggi kurus itu tersenyum, lalu bangkit berdiri dengan tenang.

"Susah payah kau mencari-cari aku di Hek-siong-san, kemudian mengejar ke sini atas keterangan tukang penjual arak. Dapat bertemu setelah aku membakar daun-daun kering ini. Ehh, orang muda yang gagah, apa perlunya kau mencari aku Thio Sian?"

Kwee Sin kaget sekali. Kiranya orang yang dicari-carinya ini telah lebih dulu tahu akan kedatangannya. Benar berbahaya. Diam-diam dia mengerling ke kanan kiri untuk mencari kalau-kalau orang ini sudah memasang jebakan. Ia merasa gentar juga, namun sebagai seorang pendekar dia tidak mau memperlihatkan ini.

"Jangan kau bersikap pura-pura," katanya mengejek. "Kau sudah berani menipu Kun-lun Sam-hengte, menipu dua suheng-ku, malah melukai ji-suheng-ku dengan pengeroyokan pengecut. Ketahuilah, aku Kwee Sin takkan membiarkan orang macam engkau menghina ji-suheng begitu saja!"

Orang itu sambil tersenyum lalu menjura. "Eh, kiranya Pek-lek-jiu Kwee-enghiong yang datang. Sudah lama mendengar nama besar Kwee-enghiong, dan aku yang bodoh Thio Sian juga sudah beruntung sekali berkenalan dengan kedua saudara Bun yang gagah..."

Mendongkol sekali hati Kwee Sin. "Orang she Thio, jangan berpura-pura menjual mulut manis. Awas pedangku!"

Kwee Sin merasa dipermainkan dan khawatir kalau-kalau sedang dijebak, maka cepat ia mengirim serangan.

"Ehh, ehh, benar-benar berdarah panas!" Orang itu dengan mudahnya mengelak.

Kwee Sin mendesak lagi dengan pedangnya sehingga mau tak mau Thio Sian mencabut goloknya dan menangkis.

"Kau hendak menguji kepandaian? Baiklah, tak ada halangannya di tempat sunyi ini kita bermain-main, biar kita penuhi syarat perkenalan dengan bertanding lebih dulu.”

Di lain saat kedua orang itu sudah bertanding seru. Diam-diam Kwee Sin harus mengakui kehebatan lawannya yang memiliki ilmu golok yang amat cepat dan kuat. Susah payah dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu mendesak lawannya.

Dia mulai gelisah. Kalau ada seorang lagi saja teman lawannya, dia tentu celaka dan takkan dapat menang. Oleh karena itu dia mulai melakukan pukulan-pukulan tangan kiri, yaitu pukulan Pek-lek-jiu yang amat ampuh.

"Ayaaa... kau benar-benar hendak mengambil nyawa orang yang tak berdosa?" Thio Sian nampak terkejut dan cepat mengelak. "Mari kita bicara dulu."

Tapi Kwee Sin mana mau berhenti? Malah menyerang makin gencar dengan pedang dan pukulan-pukulannya. Tiba-tiba Thio Sian juga melakukan serangan dengan tangan kirinya. Dia melakukan pukulan-pukulan jarak jauh untuk menandingi Pek-lek-jiu dari jago muda Kun-lun-pai itu.

Pada saat itu cuaca sudah mulai gelap. Pertempuran sudah berlangsung hampir seratus jurus. Berkali-kali Thio Sian minta dihentikan, namun Kwee Sin tidak mau peduli. Tiba-tiba berkelebat bayangan kecil berwarna merah ke arah Thio Sian.

Thio San terkejut, cepat menangkis dengan goloknya. Bayangan itu ternyata sehelai sapu tangan yang membuat Thio Sian mengeluarkan seruan kaget, dan tahu-tahu tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.

"Aahhhhh... kau... kau bersekutu dengan dia...?" la mengeluh dan tiba-tiba tangan kirinya melayangkan beberapa buah Pek-lian-ting ke arah Kwee Sin.

Penyerangan ini tiba-tiba datangnya. Kwee Sin sudah berusaha menghindarkan diri, tapi sebatang paku Pek-lian-ting dengan tepat sekali menancap di jalan darah dekat lehernya. Pandang matanya gelap dan Kwee Sin mengeluh perlahan, lalu roboh pingsan!

Ketika Kwee Sin membuka matanya sambil mengeluh kesakitan, dia menjadi heran dan kaget sebab mendapatkan dirinya sudah rebah di atas pembaringan dalam sebuah kamar yang berbau harum. Lehernya terasa panas dan sakit sekali, sampai terasa berdenyut kepalanya. Namun dia memaksa diri bangun duduk.

Terdengar suara pintu kamar berderit terbuka, lalu tertutup lagi. Kwee Sin menoleh dan... matanya terbelalak lebar ketika dia melihat seorang wanita muda cantik sekali memasuki kamar itu sambil tersenyum manis.

"Kau... kau siapakah...?" Kwee Sin hendak melompat turun.

Wanita itu melangkah ringan dan cepat, tahu-tahu sudah berada di pinggir pembaringan, lalu menjura dan berkata, dengan kata-kata yang sopan dan merdu.

"Harap Taihiap tenang dan jangan kaget, biarlah Siauw-moi memberi penjelasan...”

“Tapi... tapi tak pantas sekali kita... berada di sini..."

"Sssssttt..." Manis sekali ketika wanita itu menaruh telunjuk di depan mulut dan bibirnya mengeluarkan suara ini untuk mencegah pemuda itu membuat berisik.

"Taihiap, jangan ribut-ribut, bila terdengar para pelayan losmen dan para tamu, kita malah akan mendapat malu. Dengarlah Siauw-moi bicara..." Wanita itu dengan sikap sopan tapi amat manis menarik lalu duduk di atas bangku di depan pembaringan sambil memberi isyarat dengan tangannya supaya Kwee Sin berbaring kembali. "Kau berbaringlah, lukamu masih belum sembuh dan perlu beristirahat."

Karena memang kepalanya berdenyut-denyut dan pening, Kwee Sin terpaksa menurut dan membaringkan badan, biar pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia seorang gagah, bagaimana sekarang bisa berada sekamar dengan seorang gadis cantik jelita? Sungguh memalukan dan mencemarkan namanya!

"Taihiap, secara terpaksa sekali aku membawamu ke dalam losmen ini. Kau terluka hebat oleh paku Pek-lian-ting. Kau pingsan, lukamu parah, tepat mengenai jalan darah besar di leher. Tanpa mendapat pengobatan yang cepat dan tepat, keadaanmu akan berbahaya sekali. Di dalam hutan yang sunyi, bagaimana aku dapat menolongmu? Karena itu secara terpaksa sekali aku membawamu ke losmen ini, menyewa sebuah kamar."

"Tapi... tapi...," Kwee Sin memprotes, "kenapa hanya sekamar? Padahal, kau dan aku... laki-laki dan wanita, sungguh tak patut..."

Wajah wanita itu menjadi merah sekali, terutama di kedua pipinya, membuat ia nampak makin jelita.

"Maaf, Taihiap. Aku... aku terpaksa mengaku bahwa kita... kita ini suami isteri..."

"Ahhh!" Kwee Sin terkejut dan hendak bangun, tetapi lehernya sakit sekali dan dia rebah kembali.

"Terpaksa, Taihiap. Kalau aku tidak mengaku demikian, sudah tentu akan menimbulkan kecurigaan. Aku mengaku suami isteri yang berpesiar, lalu kau mendapat kecelakaan jatuh dari kuda. Setelah aku mengaku bahwa kita adalah suami isteri, tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau menaruh curiga.”

Kwee Sin diam saja. la merasai kebenaran omongan wanita ini. la melirik dan melihat wanita itu menyusuti dahi dengan sehelai sapu tangan merah. Tiba-tiba dia teringat dan dia memaksa diri duduk.

“Kau... kaukah yang menyerang dan merobohkan Thio Sian dan yang rnenolongku?" la memandang tajam, ragu-ragu.

Kedua pipi wanita itu merah lagi ketika mengangguk, tersenyum dan berkata perlahan, "Sudah sepatutnya kita saling tolong-menolong, apa lagi menghadapi seorang penjahat besar seperti tokoh Pek-lian-pai itu. Ketika aku melihat seorang Pek-lian-pai bertempur melawanmu, tanpa ragu-ragu lagi aku memihak padamu, Taihiap. Tidak tahu, siapakah nama Taihiap yang mulia?"

Sambil duduk Kwee Sin cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Ahh, kiranya Nona adalah penolongku. Terima kasih banyak bahwa Nona sudah menolong dan menyelamatkan nyawaku. Aku yang bodoh ini bernama Kwee Sin, dan apakah aku boleh mengetahui nama besar Lihiap (Nona Pendekar)?"

"Aku bernama Kim Li, she (nama keluarga) Cou. Kwee-taihiap, karena aku sudah terlanjur mengaku sebagai suami isteri, untuk melenyapkan kecurigaan orang, kuharap kau jangan menyebut lihiap... sebut saja namaku, dan... dan kalau boleh aku lebih suka menyebutmu Kwee-koko (Kakanda Kwee)..."

Berdebar jantung Kwee Sin, tetapi pada saat itu juga lehernya terasa nyeri bukan main sampai kepalanya berdenyut-denyut. la meramkan matanya dan mengeluh perlahan.

Wanita itu yang bukan lain adalah Kim-thouw Thian-li atau Ngo-lian Kauwcu, ketua dari Ngo-lian-pai, segera menghampiri. Dengan mesra dan halus ia menaruh tapak tangannya di atas kening Kwee Sin dan berkata merdu.

"Kau mulai terserang demam, Kwee-koko. Akan tetapi tidak apa-apa, kau tidurlah, biarlah kumasakkan obat untukmu."


Dengan sangat teliti wanita ini merawat Kwee Sin. Sikapnya penuh kasih dan mesra, selama dua hari dua malam tak pernah meninggalkan kamar itu, tak pernah tidur.

Biar pun sedang menderita demam, Kwee Sin masih ingat akan semua ini dan diam-diam dia merasa amat terharu dan berterima kasih sekali. Belum pernah selama hidupnya dia mempunyai seorang yang begini baik terhadap dirinya, bahkan tunangannya sendiri, nona Liem Sian Hwa, belum pernah bersikap sedemikian manis dan penuh kasih.

Kwee Sin adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam menghadapi godaan wanita. la belum dapat membedakan antara kasih sayang yang murni dengan kasih sayang seperti yang dikandung dalam hati seorang wanita seperti Kim-thouw Thian li.

Tak dapat disangkal bahwa meski pun masih muda, pengalaman Kwee Sin dalam dunia kang-ouw sudah banyak sekali. Namun tentang cinta kasih, dia benar-benar masih hijau dan hatinya masih bersih sehingga dia menganggap sikap wanita itu sebagai cinta yang benar-benar murni.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner