RAJA PEDANG : JILID-19


Akhirnya fajar menyingsing. Suara-suara dalam hutan sudah berubah, bukan lagi suara burung malam, jengkerik diseling meraungnya binatang-binatang buas, suara yang seram menambah kegelisahan hati Beng San yang tak sabar, melainkan sudah berubah menjadi suara burung-burung pagi berkicau ramai indah, menambah kegembiraan hati Beng San yang melihat bahwa apa yang dinanti-nantikan akhirnya menjelang tiba.

Ciu Tek mengeluarkan sisa daging rusa yang masih disimpannya, lalu dipanggang dan memberi sebagian kepada Beng San. Akan tetapi dengan halus Beng San menolaknya, menyatakan bahwa dia tidak lapar. Memang, dia hanya lapar bertemu orang tuanya, yang lain-lain dia tidak peduli lagi.

Akhirnya, setelah matahari mulai menerobos cahayanya di antara daun-daun pohon, dari jauh terdengar derap kaki kuda dan tidak lama kemudian muncullah dua orang. Seorang laki-laki tinggi tegap berusia empat puluh tahun yang bermuka pucat, matanya sipit dan dengan kumis melintang meloncat turun dari kudanya, diturut oleh seorang wanita cantik berpakaian indah, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Sambil tersenyum-senyum dua orang ini menghampiri Beng San dan Ciu Tek.

Beng San segera bangkit berdiri, memandang bergantian pada dua orang itu. Lehernya terkancing, seakan-akan ada hawa menyesak dari dada memenuhi kerongkongannya.

"Adik Beng San, itulah mereka, ayah beserta ibumu. Sambutlah," berkata Ciu Tek sambil tersenyum. "Baik-baiklah kau dengan ayah ibumu, aku harus pergi."

Ciu Tek segera meninggalkan tempat itu tanpa pernah mendapat jawaban Beng San yang seakan-akan tidak mendengarnya, karena anak ini seperti terpukau berdiri memandang dua orang yang baru datang itu.

"Beng San, ahh... kau sudah begini besar... ahh, sampai pangling aku... hampir delapan tahun kau lenyap... ahh, biarkan aku melihat tanda di pundakmu, Beng San. Betulkah kau Beng San anakku? Betulkah ada tahi lalat di pundakmu?" kata wanita itu dengan suara terputus-putus. Sapu tangannya digosok-gosokkan di matanya yang bercucuran air mata.

Laki-laki itu pun melangkah maju, suaranya besar parau. "Tak salah lagi, inilah anak kita. Biar kita buktikan tandanya. Beng San, coba kau lepas bajumu..."

Gemetar seluruh tubuh Beng San. Entah apa yang dirasanya di saat itu, dia sendiri tidak tahu. Seperti dalam mimpi tangannya membuka kancing bajunya hingga baju itu terbuka dan tampak dada beserta pundaknya. Sebuah andeng-andeng (tahi lalat) kecil menghias pundak kirinya. Melihat ini wanita itu lalu menubruk dan merangkulnya.

"Ahh, kau betul Beng San anakku...” Diciuminya pipi dan leher Beng San.

Anak ini merasa jengah dan malu. Seharusnya dia tidak usah merasa malu, bisik hati nuraninya, kan dia ibuku? Tapi entah, tanpa disengaja dia menjauhkan mukanya dan dia memandang muka cantik yang berbedak tebal serta beraroma harum minyak wangi itu, memandang sepasang mata yang bergerak liar dan genit, mulut yang dilapisi cat merah, indah bentuknya dan selalu tersenyum akan tetapi agak terlampau lebar itu, giginya yang kecil-kecil meruncing tampak ketika dia tersenyum.

"Beng San, anakku… mari sini, Nak... biarkan ibumu memelukmu..."

Beng San bergidik, akan tetapi dia memaksa diri melangkah maju dan membiarkan ibunya merangkul dan mendekapnya. Ketika dia merasa betapa air mata yang hangat menjatuhi pipinya, hatinya menjadi terharu dan tak terasa pula dia pun menangis terisak-isak.

"Ayah... Ibu...? Kenapa... kenapa…?" bibirnya berbisik, hatinya penuh keharuan ketika dia dipeluk ibunya dan kepalanya dibelai kedua tangan ayahnya yang sudah mendekat pula.

"Kenapa…? Apa yang hendak kau tanyakan, Beng San...?" Ibunya bertanya.

Sebetulnya hati Beng San berteriak-teriak kecewa, kenapa ayahnya tidak segagah ayah Kwa Hong dan kenapa ibunya begini... pesolek, sama sekali tidak kelihatan agung seperti yang dia gambar-gambarkan tadi malam?

Akan tetapi mulutnya tentu saja tidak berani meneriakkan suara hatinya ini dan dia hanya berbisik. "Kenapa Ayah dan Ibu membiarkan anak terlunta-lunta sampai sembilan tahun?"

"Membiarkan terlunta-lunta? Ahhh, kau tidak tahu, Beng San. Kami telah mencari-carimu setengah mati, malah mengerahkan semua kawan Pek-lian-pai untuk mencarimu," kata ibunya yang bernama Bhe Kit Nio. "Ah, pakaianmu begini kotor, sudah rombeng pula. Aku tadi membawa pakaian untukmu, anakku. Mari kugantikan kau dengan pakaian baru." la berlari ke arah kudanya dan mengambil satu stel pakaian dari sutera indah berwarna biru muda untuk Beng San.

Tanpa disengaja Beng San tersipu-sipu malu. "Biarlah, Ibu, biar kupakai sendiri."

Beng San menerima pakaian itu dan lari sembunyi ke belakang sebatang pohon besar. Cepat-cepat dia memakai pakaian itu, akan tetapi tidak membuang pakaian lamanya. Dia hanya merangkapkan pakaian baru itu di luar pakaiannya yang lama. Setelah dia muncul kembali, ibunya berkata.

"Ahh, coba lihat. Alangkah tampannya anak kita..." Sambil tertawa ibu muda ini berlari dan memeluk lagi leher Beng San.

Beng San mendapat kenyataan betapa ayahnya semenjak tadi hanya diam saja. Agaknya ayahnya memang pendiam dan tidak bisa banyak bicara. Dia merasa tidak enak kalau didiamkannya saja. Sejak tadi hanya ibunya yang bicara terus. Ternyata ibunya memang pandai bicara.

Dia teringat akan Kwa Hong. Memang, kalau dibandingkan, Kwa Hong jauh lebih pandai bicara dari pada Kui Lok atau Thio Ki. Bahkan Thio Bwee yang amat pendiam juga lebih pandai bicara. Apakah memang wanita sudah semestinya lebih pandai bicara dari pada kaum laki-laki?

"Ayah, aku pernah bertemu dengan Tan-twako, pemimpin Pek-lian-pai. Kenapa dia tidak tahu bahwa aku adalah anak Ayah dan Ibu?"

Ayahnya nampak bingung. "Tan-twako...? Siapa itu... ahh, ingat aku. Kau maksudkan Tan Hok?"

"Ketahuilah, Beng San," Ibunya menyambung cepat. "Tan Hok itu adalah pemimpin dari Pek-lian-pai cabang selatan, jadi berpisahan dengan kami. Ayahmu dan aku mempunyai hubungan dengan Pek-lian-pai cabang utara. Memang belum lama ini kami telah bertemu dengan Tan Hok dan dari dialah kami mengetahui tentang kau dan timbul dugaan bahwa kau adalah putera kami. Dan ternyata benar, terima kasih kepada para sianli (dewi) di kahyangan."

Hemmm, ibunya menyatakan terima kasih kepada dewi. Agaknya ibunya ini penyembah Kwan Im Pouwsat, pikir Beng San. la masih belum biasa dengan keadaan ini, keadaan berayah ibu, maka dia merasa canggung dan masih saja dia terasa dirinya asing.

”Sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu semenjak kau terbawa hanyut oleh Sungai Huang-ho, anakku,” Ibunya berkata sambil duduk di sebelahnya, memegangi tangannya dengan sikap yang penuh kasih sayang.

Terharu juga Beng San melihat sikap Ayahnya yang terus diam saja, hanya membuat api unggun dan memanggang daging yang agaknya tadi sengaja dibawa. Hal yang amat kecil ini saja tidak terluput dari perhatian Beng San.

Mengapa justru ayahnya yang memanggang daging? Bukankah seharusnya ibunya yang melakukannya? Kenapa ibunya agaknya tak mengacuhkan dan kenapa ayahnya kelihatan takut-takut kepada ibunya?

"Beng San, kenapa melamun? Aku minta kau ceritakan pengalamanmu."

Ketika hendak mulai bercerita, Beng San tiba-tiba teringat bahwa keadaan dirinya amat berbahaya. Dia lalu teringat akan pesan Lo-tong Souw Lee. Karena dia mengerti tentang Im-yang Sin-kiam-sut dan tahu di mana keberadaan Lo-tong Souw Lee, dirinya menjadi terancam, dicari oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw. Kalau kini dia menceritakan semua itu kepada ayah bundanya, bukankah itu sama saja dengan menimpakan semua bahaya ini ke pundak orang tuanya juga?

"Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya, aku sudah tak ingat lagi," ia mulai menuturkan pengalamannya, "tahu-tahu aku sudah berada di Kelenteng Hok-thian-tong dan menjadi kacung melayani para hwesio di sana."

la menarik napas panjang karena teringat lagi pada kelenteng yang terbakar itu. "Aku tidak ingat apa-apa lagi, yang kuingat hanya bahwa aku hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho dan bahwa namaku Beng San."

"Kasihan kau, anakku..." Bhe Kit Nio memeluknya dan kembali air matanya bercucuran.

Beng San merasa amat heran betapa mudahnya air mata mengucur dari sepasang mata ibunya.

"Lalu bagaimana lanjutannya, Nak?"

Sementara itu, Ouw Kiu sudah pula duduk di situ, mendengarkan cerita Beng San sambil memegang ujung ranting yang dipergunakan untuk menusuk dan memanggang daging. Matanya yang bersinar suram itu lebih banyak menatap daging di dalam api, jarang sekali menatap wajah Beng San, bahkan agaknya menghindari pandang mata Beng San yang tajam luar biasa itu.

Beng San kemudian menuturkan dengan suara perlahan semua pengalamannya, bahkan menuturkan dengan bangga bahwa dia telah diangkat sebagai murid dan ahli waris oleh mendiang Phoa Ti dan The Bok Nam yang tewas di dalam jurang. Ketika dia bercerita sampai di sini, ayahnya nampak tenang saja, akan tetapi ibunya berseru kaget.

"Apa?!" Kau diambil murid Thian-te Siang-hiap? Kalau begitu kau menjadi ahli warisnya dan mewarisi Im-yang Sin-kiam-sut?" Sepasang mata ibunya terbelalak memandangnya, alisnya diangkat dan mulutnya terbuka.

Kembali Beng San merasa bahwa ibunya ini dalam segala gerak-geriknya nampak terlalu dibuat-buat. Dia lebih bangga akan sikap ayahnya yang pendiam dan seakan-akan tidak peduli, patut menjadi sikap seorang gagah perkasa, sungguh pun corak ayahnya ini lebih banyak menakutkan dari pada gagah. Betapa pun juga, dia merasa bangga bahwa ibunya juga mengenal nama Thian-te Siang-hiap dan tahu akan Im-yang Sin-kiam-sut.

"Ahh, aku hanya baru mempelajari teorinya saja, Ibu, prakteknya sih masih jauh dari pada sempurna. Aku masih sedang melatihnya, baru pada tingkat permulaan."

"Bagus, anakku. Ahhh, kau anakku yang beruntung, anakku yang bernasib baik!" Ibunya memeluknya serta mencium keningnya. Kembali Beng San merasa pipinya merah dan panas, hatinya malu dan jengah.

"Teruskanlah, Nak, teruskan penuturanmu."

"Ahh, Ibu, kau bilang aku beruntung dan bernasib baik. Sebaliknya dari pada itu, setelah menerima warisan ilmu itu, hidupku seperti terkutuk. Aku dipakai rebutan oleh orang-orang jahat, malah sudah beberapa kali hampir saja aku dibunuh karena warisan ini,” Beng San berkata menyesal.

"Ehhh...?? Siapa berani mengganggumu, siapa sih berani mau membunuhmu? Keparat, kuhancurkan kepalanya nanti!" Nyonya muda itu mengepal tinjunya yang kiri sedangkan tangan kanannya meraba gagang pedangnya. Sikapnya mengancam dan gagah sekali.

Untuk sejenak hati Beng San jadi terhibur. Bangga dia melihat sikap orang yang menjadi ibunya ini, yang demikian ganas hendak membelanya.

"Ahh, Ibu... itulah celakanya... selama ini yang selalu mengejar-ngejarku dan mengancam keselamatanku adalah orang-orang yang layak disebut iblis, tokoh besar yang amat sakti dan tinggi kepandaiannya, sukar sekali dilawan..."

"Hemmm, siapa mereka? Katakan!" Ouw Kiu yang sejak tadi hanya diam saja tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang parau.

Kembali Beng San merasa bangga karena ayahnya ini pun agaknya marah mendengar bahwa dia hendak diganggu orang. Baru kini dia merasa alangkah enak dan senangnya mempunyai ayah ibu, ada orang yang melindungi dan membelanya!

"Pertama adalah Song-bun-kwi, ke dua Hek-hwa Kui-bo, dan masih banyak lagi, mungkin semua orang di dunia kang-ouw hendak menangkapku karena mereka ingin merebutkan Im-yang Sin-kiam-sut."

Beng San memandang tajam ayah bundanya. Dia tak akan heran kalau melihat mereka kaget dan khawatir. Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat ayahnya bahkan hanya mengangguk-angguk dan ibunya malah tertawa nyaring!

"Ha-ha-ha, Beng San. Cuma orang-orang macam Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo saja kau anggap hebat? Ahh, tadinya kukira iblis neraka yang mengganggumu. Kalau hanya mereka itu, andai kata ibumu ini tidak kuat melawannya, pasti mereka akan diganyang mentah-mentah oleh ayahmu! Jangan khawatir, anakku. Kau belum tahu bahwa ayah dan ibumu juga bukan orang lemah, apa lagi ayahmu. Hemmm, kiranya pasangan kami tak kalah terkenalnya. Kebetulan sekali kau segera dapat kami temukan, kalau tidak, ahhh... sangat berbahaya. Kau harus lekas beri tahukan Im-yang Sin-kiam-sut kepada kami. Di bawah pimpinan ayahmu, kau akan dapat kemajuan pesat dan akan kuat membantu kami menghadapi musuh-musuhmu itu."

Namun Beng San masih ragu-ragu. Betulkah ayah bundanya akan mampu menghadapi Hek-hwa Kui-bo atau Song-bun-kwi? la tak mau menyeret ayahnya atau ibunya sehingga jiwa mereka terancam pula.

la menggeleng kepala dan berkata, "Biarlah, Ibu. Biar aku sendiri saja yang mengerti ilmu sial itu, agar Ayah jangan ikut terancam keselamatannya.”

“Hemmm, agaknya kau belum percaya akan kepandaian ayahmu. Biarlah lain waktu kau akan melihat sendiri buktinya. Sekarang, kau lanjutkan dulu ceritamu."

Beng San lalu menceritakan pengalamannya ketika dia ditolong oleh Lo-tong Souw Lee dan kemudian menerima latihan-latihan dari kakek buta itu serta mendapat penjelasan-penjelasan bagaimana dia selanjutnya harus melatih diri agar dapat mempelajari Im-yang Sin-kiam-sut yang sudah dihafalnya di luar kepala itu.

"Ahhh... kau malah bertemu dengan dia juga? Apakah Liong-cu Siang-kiam masih ada padanya?" tanya ibunya, nampak kaget dan terheran-heran.

"Masih ada. Bagaimana Ibu bisa tahu tentang Liong-cu Siang-kiam dan apakah Ibu juga mengenal Lo-tong Souw Lee?"

"Hi..hi..hi, bocah bodoh. Siapa tidak tahu tentang Liong-cu Siang-kiam yang dicuri kakek itu dan menghebohkan orang seluruh negara? Dan tentang Lo-tong Souw Lee sendiri... ahhh, dia itu adalah sahabat baik ayahmu!"

"Sahabat baik Ayah?" Beng San menengok kepada ayahnya yang kini telah memandang panggang dagingnya dengan muka muram lagi. "Akan tetapi dia sudah sangat tua, dan malah sudah buta, sedangkan Ayah... Ayah masih muda..."

"Dalam persahabatan orang tidak melihat perbedaan usia," ibunya membantah, "ayahmu sahabat baik Lo-tong Souw Lee. Kalau bukan sahabat baik, apakah ayahmu tidak sudah pergi mencarinya untuk merampas kembali Liong-cu Siang-kiam seperti tokoh-tokoh lain? Karena sahabat baik, ayahmu segan melakukan itu. Sekarang kebetulan sekali, Beng San. Kalau Lo-tong Souw Lee sudah berlaku amat baik kepadamu, kepada anak kami, sudah selayaknya kalau kami juga membelanya dari ancaman orang-orang kang-ouw. Aku usulkan supaya kita bertiga pergi mengunjunginya, di sana kau boleh memperdalam Ilmu Im-yang Sin-kiam-sut di bawah asuhan ayahmu sementara kita bersama menjaga keselamatan orang tua yang sudah buta itu." Ibunya lalu meraba pundak ayahnya dan bertanya, "Ehh, bagaimana pendapatmu?"

Ouw Kiu menoleh dan tersenyum masam kepada isterinya. "Boleh... boleh..."

"Beng San, kau katakan di mana tempat sembunyinya kakek tua buta itu? Kita segera pergi mengunjunginya sekarang juga."

Beng San ragu-ragu. Benarkah kedua orang tuanya akan dapat melindungi Lo-tong Souw Lee? Apa bila tidak benar, berarti mengunjunginya sama dengan memancing datangnya bahaya untuk kakek yang sudah buta itu. la harus melihat gelagat, jangan sampai malah membahayakan keselamatan Lo-tong Souw Lee dan juga keselamatan ayah bundanya.

Tiba-tiba Beng San merasa terkejut sekali. Telinganya mendengar sesuatu, perasaannya tersentuh dan tahulah dia bahwa ada orang pandai di dekat sana. Sebelum dia dapat bicara, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Sin-siang-hiap (Sepasang Pendekar Sakti)! Serahkan anakmu kepadaku!"

Dan tiba-tiba saja di situ sudah muncul Hek-hwa Kui-bo dengan sikap mengancam sekali. Beng San memandang dengan mata terbelalak kaget dan penuh kekhawatiran.

Ibunya segera melompat mendekatinya dan memeluknya. "Jangan takut, lihat saja bagai mana ayahmu menggempurnya," bisiknya.

Ouw Kiu, ayah Beng San, berdiri dengan malas-malasan, memandang kepada Hek-hwa Kui-bo dan berkata. "Hek-hwa Toanio, harap kau jangan mengganggu anakku." Sambil berkata demikian Ouw Kiu merangkapkan kedua tangan memberi hormat.

Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara menyindir. Tiba-tiba tubuhnya melayang dan kedua tangannya sudah melakukan pukulan, mendorong ke arah dada Ouw Kiu.

Dengan tenang Ouw Kiu membuka kedua lengannya dan sepasang telapak tangannya menyambut serangan nenek itu. Terdengar suara keras dan... tubuh nenek itu mencelat ke belakang lalu terhuyung-huyung, mukanya berubah pucat. Sedangkan Ouw Kiu masih berdiri tegak sambil tersenyum tenang, seperti tak pernah terjadi sesuatu.

Sambil mengeluarkan suara pekik yang mengerikan, tubuh Hek-hwa Kui-bo berkelebat dan lenyap dari situ. Keadaan kembali sunyi dan Beng San memandang kepada ayahnya penuh kekaguman, matanya melotot dan mulutnya melongo.

Demikian mudah ayahnya mengalahkan Hek-hwa Kui-bo. Padahal nenek itu amat ditakuti oleh seluruh dunia kangouw. Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya. Saking girang, kagum dan bangganya, dia lari menghampiri ayahnya, memeluk pinggang ayahnya sambil terisak-isak. Baru kali ini dia berpelukan dengan ayahnya yang hanya mengelus-elus rambut kepalanya.

Sekarang Beng San tak ragu-ragu lagi untuk mengajak kedua orang tuanya mengunjungi Lo-tong Souw Lee. Mereka bertiga melakukan perjalanan cepat melalui sepanjang Sungai Huang-ho sambil melihat-lihat keindahan pemandangan.

Memang, lembah Sungai Huang-ho menjadi tamasya alam yang amat indahnya di waktu airnya tidak mengamuk. Akan tetapi kalau musim hujan tiba dan sungai itu mengamuk, semua pemandangan indah akan lenyap dan berubah menjadi keadaan yang mengerikan.

Dengan gembira ayah ibu dan anak ini melakukan perjalanan. Hati Beng San tenang dan tentram. Ayahnya demikian lihai, tentu ibunya juga. la takut apa? Bahkan ketika mereka bertiga pada suatu hari, beberapa pekan kemudian, tiba-tiba berhadapan muka dengan Song-bun-kwi, Beng San masih enak-enak dan malah tersenyum mengejek.

"Ehh, Song-bun-kwi, kalau sekarang kau masih berani menggangguku, barulah kau boleh membanggakan diri sebagai seorang jagoan. Hayo, kau lawanlah ini Ayahku dan Ibuku. Sin-siang-hiap!"

Ayah dan ibunya dijuluki Sin-siang-hiap atau Sepasang Pendekar Sakti, karena bukankah kedua-duanya memakai julukan yang ada huruf saktinya? Ayahnya berjuluk Naga Sakti Terbang, ibunya berjuluk Pedang Sakti Cantik, jadi keduanya mendapat julukan Sepasang Pendekar Sakti!

Song-bun-kwi berdiri bengong, seperti terheran-heran melihat anak yang selama ini selalu dicari-carinya akan tetapi tak tersangka-sangka dapat bertemu dengannya di tepi Sungai Huang-ho. Dan anak ini begini enak-enak dan tenang saja, tidak lari seperti dulu.

Sementara itu, Beng San menoleh kepada orang tuanya dan bukan main herannya ketika dia melihat orang tuanya itu nampak pucat sekali saat berhadapan dengan Song-bun-kwi. Lebih-lebih lagi herannya ketika dia melihat tubuh ayahnya menjadi gemetar, dua kakinya menggigil. Ibunya juga pucat dan hanya meraba gagang pedang tanpa mencabutnya.

"Sin-siang-hiap? Ha-ha-ha, Sin-siang-hiap?" Song-bun-kwi mengeluarkan suara mengejek dan tubuhnya berkelebat ke depan. Sekaligus dia telah mengirim dua serangan ke arah Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio.

Kedua orang suami isteri ini cepat mengelak, akan tetapi tetap saja mereka keserempet angin pukulan Song-bun-kwi sampai terlempar beberapa meter dan bergulingan menjauh. Kiranya mereka memang sengaja menggunakan Ilmu Trenggiling Turun Gunung itu, untuk menggelindingkan tubuhnya sampai jauh, kemudian sama-sama meloncat bangun dan... melarikan diri!

Beng San merasa heran dan amat marah. Akan tetapi kemarahannya lebih besar lagi. Ia menerjang maju sambil memaki, "Iblis tua, berani kau memukul ayah bundaku?!"

Song-bun-kwi mengelak dan hendak menangkap tangan Beng San, akan tetapi alangkah kagetnya pada saat tangan itu menyelinap ke bawah dan tahu-tahu pahanya kena dipukul oleh Beng San! Ia merasa seakan-akan tulang pahanya hendak patah dan terasa dingin seperti kemasukan es.

la kaget sekali, maklum bahwa dia kena pukulan Im-sin-kiam dari bocah itu. Bukan main keder hatinya. Andai kata latihan anak itu sudah lebih matang, sangat boleh jadi pahanya akan patah! Hebat sekali, anak ini tak boleh dibuat main-main, pikirnya.

la lalu mengamuk dengan pukulan-pukulan aneh kalang-kabut. Kasihan sekali Beng San. Benar bahwa dia sudah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi sekali, akan tetapi justru karena terlalu tinggi ilmu itu, sebelum dia melatihnya dengan sempurna, kepandaian silatnya jadi amat terbatas.

Menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi, mana dia dapat menandinginya? Dalam beberapa belas jurus saja dia sudah roboh tertotok jalan darahnya, tidak mampu bergerak lagi karena lumpuh kaki tangannya!

Sambil tertawa-tawa Song-bun-kwi mengempit tubuh Beng San dan membawanya berlari pergi dari tempat itu, terus berlari di sepanjang tepi Sungai Huang-ho sampai dia tiba di daerah tepi sungai yang bertebing tinggi dan curam. Beng San masih tak dapat bergerak sedikit pun juga, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan berusaha membebaskan diri dari totokan.

"Heh, bocah setan!" Song-bun-kwi berkata sambil tertawa-tawa. "Akhirnya kau terjatuh juga di tanganku. Hayo sekarang lekas kau berikan Im-yang Sin-kiam-sut kepadaku dan beri tahu pula di mana tempat sembunyinya si maling Lo-tong Souw Lee itu."

Beng San lumpuh hanya kaki tangannya, akan tetapi dia dapat mempergunakan panca inderanya, dapat pula bicara. Akan tetapi terhadap Song-bun-kwi dia tidak sudi membuka mulut, maka dia hanya memandang lalu menggelengkan kepalanya.

"Bocah bandel, apakah kau lebih sayang Im-yang Sin-kiam-sut dan lebih sayang kakek buta mau mampus itu dari pada nyawamu? Lihat ke bawah itu, air Sungai Huang-ho amat dalam dan deras di bawah itu. Kalau kau tetap membandel aku akan melempar engkau ke sana!"

Dia memegang tubuh Beng San sedemikian rupa di atas tebing sehingga muka anak itu menghadap ke bawah, langsung melihat air yang mengalir deras dan berombak-ombak mengerikan. Dari atas, air itu kelihatan seperti air yang mendidih.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya perasaan ini, Beng San merasa ketakutan sekali melihat air itu. Baru sekali ini selama hidupnya dia merasa ketakutan yang amat sangat menyesakkan dadanya. Semua bulu di tubuhnya meremang dan mukanya menjadi pucat kehijauan.

la melihat air yang bergolak itu seperti ribuan muka iblis yang sangat menakutkan, yang akan menerkamnya, akan menghanyutkannya. Saking takutnya dia sampai tak dapat lagi mendengar ancaman-ancaman serta bujukan-bujukan Song-bun-kwi sehingga dia sama sekali tidak menjawab, hanya terbelalak memandang ke arah air di bawah itu.

"Iblis cilik, kalau begitu kau harus mampus. Agar rohmu tidak menjadi setan penasaran yang menggangguku, dengar apa sebabnya aku membunuhmu. Hal pertama karena kau tidak mau membuka rahasia Im-yang Sin-kiam-sut dan tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee, dan kedua karena kau mengetahui rahasia Yang-sin-kiam yang kumiliki. Nah, jadilah setan Sungai Huang-ho!" Song-bun-kwi lalu melempar tubuh Beng San ke bawah!

Beng San mengeluarkan pekik mengerikan saking takutnya. Dan pada saat itu terdengar pekik lain, pekik yang melengking tinggi dari bayangan merah yang berkelebat cepat ke tempat itu. Di lain saat, bayangan merah yang ternyata adalah Bi Goat si bocah gagu itu telah melemparkan segulung tambang ke bawah.

Dengan gerakan istimewa, tambang yang meluncur seperti ular ini berhasil menggulung tubuh Beng San pada bagian ujungnya sehingga tubuh Beng San tergantung di udara, tidak terbanting ke air dan batu-batu karang. Bukan hal kebetulan saja Bi Goat membawa tambang, karena tadinya memang Song-bun-kwi mengajaknya berkeliaran di tepi sungai, di tebing-tebing tinggi itu untuk mencari sarang burung dan mereka memerlukan tambang yang panjang untuk mencari sarang ini di tempat-tempat yang sukar.

"Bi Goat, kurang ajar kau!" Song-bun-kwi berteriak.

Sekali renggut dia sudah merampas ujung tambang itu, kemudian dengan sekali dorong tubuh Bi Goat telah terjengkang. Song-bun-kwi lalu mengulur tambang itu sehingga tubuh Beng San sekarang terapung di air yang mengamuk.

Beng San masih menjerit-jerit ketakutan, apa lagi sekarang setelah dia dipermainkan air yang berombak-ombak itu. la meronta-ronta, tanpa disadari dia sudah bebas dari totokan dan sekarang dia mencoba untuk berenang sambil menjerit-jerit. Akan tetapi tentu saja usahanya ini sia-sia karena tambang itu masih mengikat pinggangnya dengan erat.

Pada saat dia melihat ke atas sambil terengah-engah, dia melihat Bi Goat berlutut sambil bergerak-gerak seperti menangis di depan Song-bun-kwi, telunjuknya menuding-nuding ke arah bawah, ke air di mana Beng San dipermainkan maut.

"Bi Goat... tolong...!" Beng San menjerit sekerasnya dan suaranya nyaring sekali.

Sekarang Bi Goat melompat berdiri, menjambak-jambak rambut dan membanting-banting kaki di depan Song-bun-kwi yang hanya tertawa dan menggelengkan kepala. Kemudian Song-bun-kwi menjenguk ke bawah dan berteriak, suaranya dikerahkan dengan kekuatan khikang mengatasi suara air sehingga dapat terdengar oleh Beng San.

"He, Beng San iblis cilik! Bagaimana apakah kau menyerah? Kalau kau mau memenuhi permintaanku tadi, kau akan kunaikkan dan tidak jadi mampus ditelan air!"

Beng San memang takut, takut bukan main, malah takut yang tidak sewajarnya, mungkin karena dahulu di waktu kecil dia pernah mengalami pula ketakutan sehebat ini ketika dia hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho. Akan tetapi jiwa satria masih bersemayam dalam tubuhnya.

Dia tidak suka melanggar janjinya, janji terhadap Phoa Ti dan The Bok Nam yang sudah mati, bahwa dia akan memegang teguh rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, termasuk janjinya terhadap Lo-tong Souw Lee takkan menceritakan tempat sembunyi kakek itu. Lebih baik mati dari pada melanggar janji sendiri.

Demikianlah pendirian seorang satria, seorang pendekar. Beng San tidak takut mati, akan tetapi sekarang dia benar-benar takut. Setiap pucuk ombak air merupakan cakar iblis yang hendak mencekik dan mencengkeramnya.

"Song-bun-kwi, kau boleh minta apa saja, tapi yang dua itu tidak mungkin!" jawabnya di antara suara air.

Song-bun-kwi marah. Ia mengangkat tambang dan melepaskannya kembali sampai tubuh Beng San tenggelam ke dalam air, mengangkat lagi, melepaskan lagi. Berkali-kali tubuh Beng San timbul tenggelam di antara deru suara air yang mengalir deras.

Beng San takut setengah mati, takut dan juga gelagapan sukar bernapas. Entah bagai mana, sekarang baginya tidak ada Song-bun-kwi lagi, tidak ada siapa-siapa, yang teringat olehnya hanyalah air, air, air! la merasa dihanyutkan air yang luar biasa kerasnya, merasa takut dan tiba-tiba dia teringat akan ayahnya, akan ibunya, akan kakaknya!

"Ayahhhhh...!" la berteriak-teriak membayangkan wajah ayahnya.

"Ibuuuuu...!" Kembali dia berteriak-teriak ketika mendapat kesempatan, yaitu pada waktu Song-bun-kwi menarik tambang ke atas.

"Kakak...! Kakak Kui...!” Ia menjerit lagi.

Pada saat itu Bi Goat juga berteriak-teriak menangis, berusaha mencegah Song-bun-kwi menyiksa Beng San. Akan tetapi Song-bun-kwi malah memaki dan menendangnya.

Bi Goat berkali-kali menengok ke bawah. Ketika ia melihat betapa Beng San menjerit-jerit dengan muka ketakutan setiap kali tubuhnya timbul di permukaan air, dia mengeluarkan teriakan melengking tinggi lalu... Bi Goat melompat ke bawah. Air sungai muncrat tinggi ketika tubuh Bi Goat menimpanya dan tertelan air yang mendidih itu.

Walau pun tadinya memaki-maki dan menendang Bi Goat, namun begitu melihat anak itu dengan nekat terjun ke bawah, Song-bun-kwi menjadi sangat bingung dan terkejut sekali. Keselamatan anaknya berbahaya sekali, terancam maut yang mengerikan.

Cepat dia menggerakkan tambang yang dipegangnya dan ujung yang melibat tubuh Beng San segera terlepas. Kemudian dengan gerakan yang aneh tambang itu meluncur ke arah jatuhnya Bi Goat. Tepat setelah tubuh anak baju merah ini timbul di permukaan air, tali itu melibat pinggangnya dan sekali sendal saja tubuh Bi Goat melayang kembali ke darat!

Akan tetapi ketika Song-bun-kwi kembali menjenguk ke bawah, tubuh Beng San sudah lenyap. Tentu setelah tidak terikat oleh tambang lagi, anak itu sudah terbawa hanyut oleh air yang begitu derasnya. Bi Goat menangis, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, pakaiannya basah kuyup.

"Sudah, diamlah. Dia anak jahat, apa bila tidak dilenyapkan dari muka bumi kelak hanya akan menimbulkan geger saja. Sakitkah badanmu? Apakah tidak terluka?"

Song-bun-kwi yang mendadak merasa kasihan kepada anaknya, mendekati Bi Goat lalu memondongnya, merangkulnya. Bi Goat hanya menangis di pundak ayahnya yang aneh itu. Perlahan-lahan Song-bun-kwi yang memondong anaknya pergi dari situ, seperti orang melamun. Ia merasa lega karena mengira bahwa Beng San, anak yang menjadi orang ke dua setelah dia yang mengerti akan Ilmu Silat Yang-sin Kiam-sut, sekarang tentu telah mati tenggelam di dasar Sungai Huang-ho.

Betulkah Beng San sudah mati seperti yang diharapkan dan diduga oleh Song-bun-kwi? Agaknya kakek yang sakti ini lupa bahwa mati hidup seseorang tergantung sepenuhnya kepada kehendak Yang Maha Kuasa.

Apa bila Tuhan belum menghendaki kematian seseorang, jangankan baru dia terancam bahaya maut seperti Beng San. Meski pun orang itu diancam bahaya maut dengan hujan api sekali pun, dia akan selamat dan terluput dari bahaya maut yang mengancamnya itu. Sebaliknya, apa bila Tuhan sudah menghendaki kematian seseorang, biar pun dia akan berlari ke ujung dunia atau berlindung ke dalam gedung baja, maut tetap akan mencabut nyawanya tanpa dapat ditawar-tawar atau diperpanjang sedikit pun lagi.

Kelihatannya memang Beng San sudah tidak berdaya, dan memang anak ini juga sudah kehabisan akal. Bagaikan seorang yang sudah berubah ingatannya, Beng San terbawa hanyut oleh air dan setiap kali kepalanya tersembul di permukaan air, jauh dari tempat dia hanyut tadi, dia lalu memekik-mekik memanggil ayahnya, ibunya, dan seorang yang dia panggil Kui-ko (kakak Kui).

Akhirnya saking lelah dan banyaknya minum air sungai, Beng San tidak ingat diri lagi dan tahu-tahu ketika siuman kembali, dia mendapatkan dirinya sudah menggeletak di dalam sebuah perahu kecil. Tubuhnya sudah terbaring di situ, telanjang bulat dan terbungkus dengan selimut hangat.

Ketika dia melirik, dia mendapatkan pakaian bututnya sedang dijemur di pinggiran perahu sedangkan di kepala perahu kecil itu duduk berjongkok seorang laki-laki tua bertopi lebar. Laki-laki ini mukanya kurus, penuh gurat-gurat hidup tanda banyak menderita.

Laki-laki itu duduk tak bergerak. Matanya sayu melamun ke permukaan air, melihat tali pancingnya yang bergerak-gerak perlahan, terbawa aliran air yang tenang di bagian itu. Di dekatnya kelihatan tiga ekor ikan sebesar betis yang sudah mati, tetapi masih segar.

Beng San diam saja, berusaha mengingat-ingat. Mula-mula dia teringat akan air besar yang menghanyutkan, yang mengerikan dan sekaligus dia membayangkan kembali wajah seorang laki-laki tua yang berpakaian sebagai petani, yang bermata tajam dan bermulut selalu tersenyum, wajah yang amat disayangnya, wajah ayahnya.

Lalu menyusul wajah yang menimbulkan rasa mesra dalam hatinya, wajah seorang wanita yang agung, berkulit hitam manis, berambut hitam panjang digelung di belakang leher. Wajah yang bermata sayu dan lembut, yang selalu bicara halus penuh kasih sayang kepadanya, wajah ibunya!

Dan terakhir terbayang olehnya wajah seorang anak laki-laki yang nakal, yang sering kali menggodanya akan tetapi yang menjadi temannya bermain sejak kecil, wajah kakaknya yang bernama Tan Beng Kui. Dan dia sendiri bernama Tan Beng San!

Kini ia teringat semua, malah dusunnya ia ingat pula bentuk dan macamnya. Ada telaga kecil di dekat sungai, telaga yang banyak ikannya, dan sering kali dia dan kakaknya diajak memancing ikan di telaga itu oleh ayahnya. Hanya nama ayah ibunya dan nama dusun itu dia tidak tahu.

Berdebar hati Beng San teringat akan ini semua. la tidak tahu bahwa dulu dia kehilangan ingatan oleh air Sungai Huang-ho dan sekarang dia mendapatkan kembali ingatannya, oleh air Sungai Huang-ho pula. Yang membuat Beng San berdebar-debar adalah karena sekarang dia teringat pula akan Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio yang mengaku menjadi ayah bundanya!

Bagaimana bisa terjadi demikian? Apakah betul mereka itu adalah kedua orang tuanya? Ataukah bayangan lelaki petani dan wanita berwajah agung itu adalah orang tuanya yang sesungguhnya? Dan Tan Beng Kui?

Beng San masih bingung, lalu kepalanya membayangkan Bi Goat. Gadis cilik yang gagu itu, yang menangis dan berusaha menolongnya, yang kemudian secara nekat meloncat ke air untuk menolongnya tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri.

Teringat akan ini, membayangkan wajah Bi Goat menangis untuk dirinya, berganti-ganti dengan wajah ayahnya, wajah ibunya, dan wajah kakaknya, tanpa terasa lagi Beng San mengeluh dan dua titik air mata yang panas mengalir keluar membasahi pipinya.

"He, kau sudah bangun?"

Tukang pancing itu mendengar keluhannya. Dia berdiri lalu menghampiri. Perahu kecil itu goyang-goyang ketika si tukang pancing berjalan.

Ternyata dia seorang kakek yang berusia lima puluh tahunan, bertubuh kurus. Wajahnya kering terbakar matahari dan penuh guratan, matanya sayu tetapi kadang-kadang lincah berseri. Mulutnya yang ompong membayangkan ketenangan batin seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia.

Beng San cepat bangkit dari tidurnya, mengusap air matanya kemudian menjatuhkan diri berlutut, "Kakek yang baik, agaknya kau yang telah menolongku dari dalam air."

Kakek itu memegang pundak Beng San. "Tadi kukira kau ikan besar yang tersangkut di pancingku. Aku sudah girang sekali, mengira mendapat ikan yang besar sekali, tapi ketika kutarik..."

"Kau kecewa karena hanya aku...” sambung Beng San tak dapat menahan kata-katanya ini karena melihat sikap tukang pancing itu lucu dan jenaka.

"Ha-ha-ha, tidak demikian. Aku malah lebih gembira, pertama karena tanpa kusengaja aku dapat menolong seseorang dari kematian, ke dua, aku bakal mendapatkan kawan baik untuk bekerja sama mencari ikan. Eh, anak nakal, siapa namamu dan kenapa kau hendak menyaingi ikan-ikan di air, berkeliaran di dalam air Sungai Huang-ho?"

Melihat sikap kakek itu dan mendengar kata-katanya yang jenaka, sebuah plkiran baik menyelinap ke dalam otak Beng San. Mengapa tidak? Akan aman dia kalau berada di dekat kakek ini, menyamar sebagai tukang ikan, setiap hari di perahu mencari ikan. la bisa menyembunyikan diri dari Song-bun-kwi dan yang lain-lain.

Tentu mereka itu tidak ada yang mengira bahwa Beng San, anak yang mewarisi Im-yang Sin-kiam dan yang mengetahui tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee telah menjadi nelayan.

"Kakek yang baik hati, namaku Siauw-kui (Setan Kecil), sebatang kara di dunia ini. Kalau kau mau mengambil aku sebagai pembantumu, ahh, kakek yang baik, setiap malam aku akan bersembahyang kepada dewa-dewa sungai supaya kau diberi umur panjang dan banyak rejeki."

Kakek itu tertawa bergelak, terlihat mulutnya yang tidak bergigi. "Ha-ha-ha, siapa butuh umur panjang? Tentang rejeki, asal kau mau benar-benar membantuku, tentu banyak ikan dapat diangkat ke perahu."

Kakek itu adalah seorang nelayan tua bernama Gan Kai, seorang duda tua yang juga hidup sebatang kara, malah tidak mempunyai rumah tinggal, rumahnya ya perahu kecil itulah! Maka sungguh tepat sekali bagi Beng San untuk tinggal bersama kakek Gan ini, karena selain terjamin hidupnya, dia pun dapat bersembunyi dan setiap saat dapat berlatih ilmu silat dengan amat tekunnya.

la mengambil keputusan untuk berlatih dengan giat. Setelah sempurna kepandaiannya, dia akan mengunjungi Lo-tong Souw Lee, kemudian dia akan mencari ayah bundanya, dan juga kakaknya. la tidak tahu lagi nama orang tuanya, juga dia tidak tahu lagi nama dusunnya, tetapi asal dia menjelajahi dusun-dusun di pinggir sungai di sekitar Kelenteng Hok-thian-tong, masa tidak akan dapat dia temukan?

Otaknya berpikir, hatinya berharap, namun takdirlah yang menentukan…..

********************

Setiap orang yang mengingat-ingat masa lampau, mengenang kembali masa lampau beberapa tahun yang lalu, akan mendapat kesan betapa cepatnya jalannya sang waktu. Penulis sendiri tiap kali mengenangkan masa kanak-kanaknya yang sudah puluhan tahun yang lalu, selalu merasa seakan-akan masa itu baru terjadi kemarin-kemarin ini, serasa masih membayang di pelupuk mata ketika bermain-main dengan anak-anak lain, mencari ikan-ikan kecil di sungai, atau tiduran di punggung kerbau, atau bermain-main di bawah air hujan!

Memang waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai tidak terasa oleh manusia di dunia. Begitu pula dengan jalannya cerita ini. Baru saja kita mengikuti pengalaman-pengalaman Beng San, sebentar kita tinggalkan, ehhh, tahu-tahu delapan tahun sudah lewat dengan amat pesatnya!

Selama itu, Tiongkok mengalami kekacauan terus-menerus. Bahkan kekacauan ini juga mempengaruhi keadaan penghidupan dalam istana. Pangeran-pangeran yang berkuasa saling memperebutkan kekuasaan, saling berkomplot dengan para pembesar bu (militer), saling jatuh-menjatuhkan sehingga dalam jangka waktu kurang lebih dua puluh lima tahun (1307-1332) saja pemerintah Goan (Mongol) ini sudah berganti kaisar sebanyak delapan kali!

Ketika cerita ini terjadi, raja terakhir yang menduduki tahta adalah Kaisar Sun Ti. Di bawah tekanan Kaisar Sun Ti inilah penghidupan rakyat pribumi (Han) amat tertindas dan tidak tertahankan lagi. Mulailah timbul pemberontakan di sana-sini, yang terbesar dan terkenal adalah Partai Teratai Putih (Pek-lian-pai) yang pada awal mulanya hanyalah merupakan pemberontakan dari para petani di utara yang sudah tidak kuat lagi menderita penindasan para hartawan dan bangsawan setempat. Lama kelamaan partai ini menjadi makin kuat, bahkan lalu diikuti atau dimasuki pula oleh orang-orang gagah dunia kang-ouw sehingga merupakan kesatuan yang amat ditakuti oleh bangsawan-bangsawan Mongol.

Pemberontakan-pemberontakan kecil pecah di sana sini, satu dihancurkan timbullah dua, sehingga semenjak Kaisar Sun Ti naik tahta, kaisar ini tidak pernah mengenal apa yang disebut aman dan damai di Tiongkok.

Banyak pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan tercatat namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah, misalnya Liu Hok Tung, Kok Ci Seng, Thio Se Cheng, Tan Yu Liang, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang memimpin rakyat untuk menghalau kaum penjajah Mongol dari tanah air mereka.

Tiga puluh tahun lebih pemberontakan-pemberontakan ini berjalan, semakin hari semakin hebat sehingga akhirnya, seperti tercatat dalam sejarah, pemberontakan-pemberontakan inilah yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Mongol yang menjajah daratan Tiongkok hampir seratus tahun lamanya.

Seperti telah disebutkan di atas, waktu delapan tahun berjalan dengan amat cepatnya dan saat itu keadaan masih penuh dengan kekacauan yang diakibatkan oleh pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Goan-tiauw…..

********************

Pada suatu pagi yarig cerah, di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Cin-lin-san, di depan sebuah goa yang dinamakan goa Ular, tampak seorang pemuda tengah berlutut di depan seorang kakek yang sudah tua sekali.

Kalau baru melihat saja orang tentu mengira bahwa kakek ini bermata lebar, akan tetapi setelah lama memandang dan melihat bahwa mata kakek itu melotot tak pernah berkedip, akan tahulah orang bahwa dia adalah seorang kakek yang buta matanya. Rambutnya yang putih panjang riap-riapan di kedua pundaknya. Muka dan tubuhnya hanya tinggal kulit membungkus tulang belaka. Ada pun pemuda yang berlutut itu nampaknya terharu sekali.

"Mohon Locianpwe sudi memberikan maaf sebesarnya karena teecu telah meninggalkan Locianpwe bertahun-tahun. Ternyata Locianpwe masih berada di sini dan dalam keadaan menderita," terdengar pemuda itu berkata sambil memandang tubuh yang kurus kering itu dengan perasaan kasihan.

Kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, seperti jerami kering yang tertiup angin. Mulutnya bergerak-gerak beberapa lama, baru terdengar dia berkata perlahan. "Ahhh, anak baik, alangkah bahagia rasa hatiku akhirnya dapat mendengar suaramu. Akhirnya kau datang juga, hampir aku tak kuat lagi menahan..."

Kakek itu kemudian duduk bersila dan meraba-raba pundak pemuda tadi. Beberapa kali meraba-raba kemudian kakek itu berkata penuh kekaguman, "Hebat... dahulu aku pun tak sekuat engkau sekarang. Bukan main…, ahhh, kalau saja aku mendapatkan kesempatan melihat... ehh, maksudku mendengar kau main Liong-cu Siang-kiam dalam Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut, mati pun aku akan puas. Mainkanlah, mainkanlah sekali ini saja, untuk mengantar perjalananku yang amat jauh...”

Kakek itu lalu mengeluarkan sepasang pedang yang berkilauan cahayanya, memberikan sepasang pedang itu kepada pemuda tadi. Sepasang mata pemuda itu berkilat-kilat tajam ketika dia melihat sepasang pedang ini. la menerima sepasang pedang itu, memeriksanya dengan teliti lalu bertanya,

"Locianpwe, betulkah sepasang pedang ini yang bernama Liong-cu Siang-kiam, sepasang pedang yang selama puluhan tahun diperebutkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw?"

Kakek buta itu tersenyum. "Beng San, apakah kau sudah lupa lagi? Bukankah dahulu kau pernah melihatnya, bahkan pernah menggunakannya pada saat kau berhadapan dengan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo? Inilah Liong-cu Siang-kiam, pedang peninggalkan sepasang pendekar yang sakti, yaitu pendekar sakti Sie Cin Hai pada ratusan tahun yang lalu. Pedang ini asalnya dimiliki seorang pendekar yang terkenal sebagai seorang raja pedang. Oleh karena itu, pada jaman sekarang ini hanya kaulah, Beng San, orang yang berhak menggunakannya, sebab hanya kau yang menjadi ahli waris Im-yang Sin-kiam-sut. Hayo, berdirilah, dan kau mainkan Im-yang Sin-kiam-sut untukku..!"

Kakek itu terengah-engah, nampaknya sangat tegang dan gembira sekali, perasaan yang memberi pukulan hebat pada tubuhnya yang memang sudah amat lemah.

Orang muda itu setelah menimang-nimang kedua pedang tadi, yang panjang di tangan kanan sedangkan yang pendek di tangan kiri, lalu bangkit berdiri, meloncat agak jauh ke tempat yang luas di depan goa itu, kemudian dia bersilat dengan amat cepat dan sigap. Sepasang pedang itu berkelebat menyambar-nyambar ke kanan kiri, depan belakang, dan atas bawah seperti dua ekor naga yang sedang bermain-main di angkasa!

Mendadak muka Lo-tong Souw Lee yang sangat kurus itu menjadi pucat pasi. Kedua lengannya dikembangkan, kedua tangan seperti hendak mencengkeram ke depan dan dia berteriak, penuh kepahitan, "Heeeiii, itu bukan Im-yang Sin-kiam... itu... itu... ahhh, kau bukan Beng San... aduhai celaka, kau bukan Beng San...!"

Terdengar suara ketawa, angin sambaran pedang terhenti dan Lo-tong Souw Lee tidak mendengar apa-apa lagi, tanda bahwa orang muda itu sudah pergi jauh.

"Beng San... sia-sia aku menanti sampai tahunan... aduh, mataku yang buta... celaka..."


Kakek ini terhuyung-huyung, wajahnya makin pucat, dia mendekap dadanya lalu roboh tertelungkup di depan goa itu.

Dari puncak Cin-lin-san itu, bayangan pemuda tadi dengan amat cepatnya dan ringannya seperti melayang-layang turun dari jurusan utara. Sepasang pedang tadi tidak kelihatan dia bawa lagi karena sudah dia sembunyikan di balik jubah luarnya yang panjang.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner