RAJA PEDANG : JILID-31


"Sekarang pertanyaan ke empat, memang aku menjadi pembesar di kota raja. Terhadap permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku tak dapat berbuat apa-apa karena kedudukanku sebagai perwira. Dan untuk hal ini pun aku mempunyai rahasia pribadi yang tak dapat kujelaskan sekarang mau pun kelak karena rahasia itu akan kubawa mati. Nah, para orang gagah dari Hoa-san-pai, aku Kwee Sin sudah menjelaskan semua."

Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan Lian Bu Tojin, kemudian dia maju dan berkata pula, suaranya nyaring jelas, "Kwee Sin, kami rasa pengakuan-pengakuanmu itu cukup jujur, kecuali mengenai rahasia pribadi yang kau sembunyikan. Kami kira kau akan cukup jujur pula untuk mengakui bahwa perbuatanmulah yang jadi biang keladi semua permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Selamanya dua partai ini menjadi sahabat-sahabat baik, malah telah ada ikatan kekeluargaan antara kedua partai melalui sumoi dan engkau. Akan tetapi, dengan tak kenal malu kau telah melakukan perhubungan gelap yang sangat hina dengan siluman betina Kim-thouw Thian-li dari Ngo-lian-kauw sehingga terlihat oleh ayah sumoi dan mengakibatkan ayah sumoi dibunuh oleh Kim-thouw Thian-li. Kemudian kau bukannya insyaf, malah kau melanjutkan hubungan itu dengan pihak Ngo-lian-kauw, ditambah lagi menduduki jabatan perwira di kota raja. Sekarang hendak kami tanya, bagai mana pertanggungan jawabmu terhadap semua ini? Ingat, bahwa karena perbuatanmu yang rendah itu, telah banyak jatuh korban, baik di pihak Hoa-san-pai mau pun dari pihak Kun-lun-pai. Dan tanpa ada pertanggungan jawabmu, kiranya dua pihak akan terus turun tangan."

Dengan sikap gagah Kwee Sin mengangkat dada dan berkata nyaring, "Sejak kecil aku dididik oleh Kun-lun-pai untuk menjadi seorang laki-laki yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran." Sampai di sini suaranya menggetar terharu dan dia mengerling ke arah Pek Gan Siansu yang duduk tak bergerak seperti patung. "Sudah tentu saja aku mengakui semua kesalahanku, yaitu bahwa karena hubunganku dengan Kim-thouw Thian-li maka terjadi keributan dan permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Para orang gagah Hoa-san-pai, aku Kwee Sin mengaku berdosa dan terserah hukuman apa yang hendak kalian jatuhkan kepadaku."

Kembali Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan gurunya, kemudian dia menerima sebatang pedang dari tangan Lian Bu Tojin, pedang pusaka Hoa-san-pai! Dengan tenang dan suara tegas Kwa Tin Siong berkata, "Kesalahanmu terhadap Hoa-san-pai menimbulkan banyak korban nyawa anak murid Hoa-san-pai, karena itu seperti keharusan hukum kang-ouw, hutang nyawa bayar nyawa. Kwee Sin, mengingat akan hubungan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, Suhu memberi keringanan kepadamu dan mempersilakan kau menjatuhkan hukuman bayar hutang nyawa dengan tanganmu sendiri."

Kwee Sin memandang ke arah pedang itu, lalu menerimanya dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Gan Siansu. "Suhu, perkenankanlah teecu mohon kemurahan hati Suhu untuk terakhir kali. Teecu yang banyak berdosa terhadap Suhu, mohon supaya Suhu yang menjalankan hukuman ini sebagai penebus dosa teecu."

Wajah Pek Gan Siansu agak pucat. Sebetulnya di lubuk hatinya, kakek ini amat sayang kepada Kwee Sin, akan tetapi karena kenyataannya membuktikan bahwa Kwee Sin telah melakukan penyelewengan, dia pun tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyesal.

"Kau bukan muridku lagi, aku tidak berhak mencampuri urusan hukuman."

Mendengar ini, Kwee Sin bangkit berdiri dengan air mata berlinang, lalu berkata perlahan, "Kwee Sin memang sudah terlalu berdosa, patut mengakhiri hidupnya..."

Pedang berkelebat ke arah lehernya.

"Kwee-enghiong...!" Jerit melengking ini terdengar dibarengi oleh berkelebatnya bayangan kuning yang ternyata adalah seorang gadis cantik berbaju kuning.


Akan tetapi terlambat datangnya, pedang di tangan Kwee Sin sudah membabat lehernya. Jeritan tadi hanya mengagetkan Kwee Sin sehingga gerakan pedangnya agak tertahan dan batang lehernya tidak putus. Akan tetapi luka di lehernya cukup hebat, membuat dia roboh terguling bermandi darah.

Gadis itu menangis dan menubruknya, memeluk dan mengangkat tubuh bagian atas yang dipangkunya. "Kwee-enghiong... kau... kau... ahhh, mengapa kau mau menuruti kemauan orang-orang yang mau enak sendiri? Kwee-enghiong... kau dengarkan aku, kau dengar aku... aku Lee Giok, aku cinta padamu, ahhh… jangan kau tinggalkan aku..."

Nona baju kuning ini bukan lain adalah Lee Giok yang sudah kita kenal suka menyamar sebagai nyonya Liong, mendekap kepala yang berlumuran darah itu sambil menangis. Dia kemudian kelihatan beringas dan marah, diletakkan kembali Kwee Sin ke atas tanah lalu dia meloncat berdiri menghadapi orang-orang Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai yang bengong menyaksikan itu semua.

"Kalian orang-orang kejam! Kalian orang-orang buta tak mengenal orang! Kalianlah yang memaksa Kwee-enghiong membunuh diri!"

Liem Sian Hwa makin sakit hatinya melihat betapa sekarang, selain Kim-thouw Thian-li, ada lagi seorang gadis cantik yang mencinta Kwee Sin dan datang-datang memaki-maki, maka ia pun membentak, "Siluman dari mana datang-datang hendak mencampuri urusan kami?" la melangkah maju dan mencabut pedangnya.

Lee Giok dengan mata berapi memandang Sian Hwa. "Hemm, kau tentulah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa yang dulu menjadi tunangan Kwee-enghiong, bukan? Orang yang mabuk akan dendam, yang memikirkan diri sendiri, yang sempit pandangan. Orang seperti kau ini mana patut disandingkan Kwee-enghiong yang gagah perkasa?"

"Cih, asal buka mulut saja," Sian Hwa balas memaki. "Dia begitu hina untuk berhubungan dengan ketua Ngo-lian-kauw, dan merendahkan diri dengan menjadi kaki tangan penjajah, menjadi pengkhianat bangsa. Dan kau masih memuji-mujinya. Kiranya kau pun tidak akan jauh sifatnya dengan orang-orang macam dia dan Kim-thouw Thian-li!"

"Bodoh! Goblok orang-orang macam kalian!" Lee Giok memaki, air matanya bercucuran. "Ahhh... buta kalian! Dia ini adalah Si-enghiong..."

Tiba-tiba Pek Gan Siansu yang merasa curiga akan semua adegan itu, bertanya. "Siapa itu Si-enghiong (Pendekar keempat)?"

"Nona Lee... ehh, Siok-moi... aku...?”

Mendengar suara ini Lee Giok tidak pedulikan semua orang dan cepat berlutut.

“…kau hati-hatilah... mereka sudah tahu... sudah mulai mencurigai... kita sudah… mereka ketahui… awas... lekas peringatkan dia..."

"Siapa?" Lee Giok bertanya, suaranya tergetar, air matanya mengucur deras.

"Ji-enghiong..."

"Siapa dia? Siapa Ji-enghiong? Lekas kau katakan, sampai sekarang aku sendiri belum tahu siapa Ji-enghiong. Lekas katakan..."

"Dia... dia... dia… ahhhhh...” Kwee Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah kehilangan nyawanya.

Lee Giok memeluk dan menangis tersedu-sedu, tak peduli bahwa darah dari leher Kwee Sin membasahi muka dan pakaiannya. Semua orang terharu juga melihat kejadian ini dan tanpa terasa mata Sian Hwa juga menjadi basah.

Pek Gan Siansu tidak tega hatinya. "Lim Kwi, kau rawatlah baik-baik jenazah Kwee Sin. Biar pun dia bukan muridku lagi tapi..."

Lim Kwi yang pada dasarnya berwatak penuh welas asih dan dia memang suka kepada Kwee Sin, segera melangkah maju hendak mengangkat jenazah Kwee Sin.

Akan tetapi Lee Giok membentak. "Jangan sentuh dia!"

Dia lalu bangkit berdiri, dadanya turun naik, napasnya memburu, matanya berkilat-kilat. Wajahnya pucat dan menjadi mengerikan karena berlepotan darah Kwee Sin.

"Kalian tidak berharga untuk menyentuhnya! Kalian ini pengecut-pengecut tak tahu malu. Bermata dua tapi buta tak melihat, tidak dapat membedakan mana yang palsu mana yang tulen, tidak tahu mana yang baik mana yang buruk. Kalian tidak tahu siapa dia yang kalian paksa bunuh diri ini? Dia adalah orang ke dua di kota raja yang memimpin para pejuang melakukan gerakan di bawah tanah. Dia ini adalah orang kepercayaan Ciu-taihiap. Kalian tahu mengapa dia melakukan hubungan dengan Kim-thouw Thian-li? Hal itu disengaja, karena merupakan rencana dari atasan. Kalau tidak mendekati Kim-thouw Thian-li, mana dia bisa memasuki kota raja, mendapat kepercayaan orang-orang yang berkuasa di kota raja? Dia sengaja mengorbankan perasaannya, sengaja menghubungi Kim-thouw Thian-li sehingga para pembesar di kota raja percaya kepadanya, sehingga dengan aman dan mudah dia dapat mengorek rahasia-rahasia ketentaraan dan bisa membantu dan memberi petunjuk kepada saudara-saudara seperjuangan yang bergerak di luar kota raja! Jasanya untuk perjuangan sudah banyak sekali, dia seorang patriot sejati yang tidak segan-segan mengorbankan perasaan, mengorbankan kekasih, mengorbankan segalanya untuk tanah air dan bangsa. Dan kalian ini... orang-orang yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri, tidak peduli akan perjuangan bangsa, malah ribut saling gontok-gontokan antara saudara sendiri, orang-orang macam kalian ini sekarang memaksa dia membunuh diri? Celaka... celaka... semoga Thian mengutuk kalian semua!"

Lee Giok menangis lagi dan semua orang yang berada di situ terpaku dengan muka pucat dan sinar mata bingung. Tidak terkecuali Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin yang saling pandang dengan muka pucat dan sedih. Mereka masih ragu-ragu akan kebenaran semua keterangan nona yang tidak mereka kenal itu.

Keterangan ini aneh luar biasa, terlalu asing sehingga kelihatan agak mustahil. Kwee Sin menjadi pemimpin pejuang di kota raja? Dan semua kelakuannya yang dipandang rendah itu adalah siasat untuk perjuangan?

Akan tetapi keterangan mereka itu lenyap seketika setelah terjadi hal berikutnya…..

Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan, "Tangkap pemberontak! Tangkap mata-mata pemberontak!" Dan serta merta muncullah rombongan pasukan tentara pemerintah yang bersenjata lengkap, jumlahnya seratus orang lebih!

Bukan main kaget hati Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin ketika melihat bahwa di antara pasukan itu terdapat seorang wanita cantik berusia empat puluh tahun lebih, membawa sapu tangan sutera beraneka warna dan seorang kakek berbaju kuning. Betapa tidak akan kaget hati mereka karena wanita yang sebenarnya sudah berusia enam puluh tahun itu adalah Hek-hwa Kui-bo, sedangkan kakek itu adalah tokoh utara yang paling terkenal, yaitu Siauw-ong-kwi Si Raja Setan Cilik, guru dari Giam Kin pemuda pemelihara ular.

Pemuda itu sendiri juga tampak tersenyum-senyum, matanya liar menyambar-nyambar ke arah Kwa Hong dan Thio Bwee. Di sampingnya terlihat pula seorang wanita cantik yang bersikap genit, berpakaian indah dan pesolek. Kim-thouw Thian-li!

Begitu melihat tubuh Kwee Sin yang menggeletak mandi darah di atas tanah, Kim-thouw Thian-li melompat mendekati. Tadinya orang mengira bahwa dia tentu akan menangis menggerung-gerung menyedihi kematian kekasihnya itu. Akan tetapi siapa kira, setelah melihat bahwa Kwee Sin betul-betul sudah mati, ia lalu meludah ke arah tubuh itu sambil berkata.

"Cih, keparat keji! Bertahun-tahun kau menipuku, kusangka betul-betul setia, kiranya kau pemimpin mata-mata anjing pemberontak!" Kakinya diangkat, kemudian dia menendang muka mayat itu.

"Kim-thouw Thian-li siluman betina, jangan kau hina dia!" Lee Giok marah sekali. Dia lalu melompat dan memukul kepala ketua Ngo-lian-kauw itu. Kim-thouw Thian-li menangkis.

"Plakk!" Dua lengan halus bertemu dan keduanya terhuyung mundur.

Diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget, sama sekali tak menyangka bahwa nona yang biasa menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga. Pantas ia menjadi pemimpin mata-mata seperti yang disangka oleh Pangeran Souw Kian Bi, pikirnya.

"Hemmm, kau inikah yang selama ini diam-diam menjadi Ji-enghiong?" ejek Kim-thouw Thian-li dengan suara dingin.

Lee Giok nampak terkejut sekali. "Apa kau bilang ba... bagaimana kau bisa tahu tentang Ji-enghiong?"

"Hi-hi-hi-hi, mata-mata hina…! Kami sudah tahu bahwa Kwee Sin si keparat itu adalah Si-enghiong, dan kau adalah Ji-enghiong? Kalian memimpin mata-mata pemberontak di kota raja."

Tiba-tiba Lee Giok tertawa girang sekali. "Bagus, bagus! Jadi kau sudah tahu sekarang? Memang betul, Kim-thouw Thian-li, Kwee-enghiong adalah pemimpin mata-mata pejuang yang memang bernama Si-enghiong. Jadi selama ini dia bekerja untuk kepentingan para pejuang. Pembesar-pembesar di kota raja telah dipermainkan termasuk kau. Kau kira dia betul-betul cinta kepada siluman macammu? Cih, tak tahu malu. Dan aku... aku memang Ji-enghiong. Nah, kau mau apa?"

Bukan main marahnya Kim-thouw Thian-li mendengar ejekan-ejekan ini. Dengan gerak mata cerdik Kim-thouw Thian-li memandang kepada pihak Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.

"Cuwi sekalian dari Hoa-san-pai serta Kun-lun-pai, wanita ini adalah seorang pemimpin pemberontak, terpaksa aku dan teman-teman hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kubawa ke kota raja."

Akan tetapi sementara itu Liem Sian Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Inilah Kim-thouw Thian-li, perempuan yang bukan saja merenggut nyawa ayahnya, akan tetapi bahkan yang merampas tunangannya pula. Sekarang mendengar wanita ini hendak membujuk gurunya dan Pek Gan Siansu, ia lantas menerjang dan memaki. "Siluman keji, kau telah membunuh ayahku. Rasakan pembalasanku!"

Pedangnya segera berkelebat menusuk. Kim-thouw Thian-li tertawa dan mengelak, cepat mengeluarkan golok dan membalas serangan Sian Hwa.

Sementara itu, Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin terbangun semangat mereka setelah mendengar dan melihat sendiri kenyataan bahwa Kwee Sin betul-betul seorang pemimpin pejuang, ditambah pula oleh sikap Lee Giok yang gagah perkasa dan patriotik. Dua orang kakek ini begitu bertukar pandang sudah mengambil keputusan yang sama, yaitu akan membela Lee Giok demi penghargaan mereka terhadap perjuangan Kwee Sin.

Sekarang melihat bahwa Sian Hwa telah bertempur melawan Kim-thouw Thian-li dan hal ini tak mungkin mereka hentikan atau cegah mengingat bahwa Sian Hwa tentu akan nekat membalas dendam, melihat pula bahwa bentrokan antara mereka dan pihak pemerintah sudah tidak dapat dicegah lagi, lalu keduanya melangkah maju, siap menghadapi segala kemungkinan. Thio Ki dan Kui Lok juga meloncat maju membantu bibi guru mereka.

"Siluman Ngo-lian-kauw, kaulah pembunuh ayah kami!" teriak mereka sambil menerjang maju.

Kim-thouw Thian-li masih tertawa-tawa dan menghadapi tiga orang itu dengan mainkan goloknya.

"Lian Bu Totiang, apa kau membiarkan saja anak-anak muridmu memberontak?"

Hek-hwa Kui-bo meloncat maju ke hadapan ketua Hoa-san-pai. Loncatannya luar biasa sekali, kedua kakinya seperti tidak bergerak tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan kakek Hoa-san-pai itu. Semua orang yang melihat ini menjadi kagum dan juga keder.

Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan sikapnya yang kereng dan pedang pusaka yang tadi dipergunakan Kwee Sin membunuh diri di tangan kanannya, memandang nenek yang kelihatannya muda itu sambil berkata.

"Hek-hwa Kui-bo, enak saja kau memutar balikkan fakta. Adalah kau yang membiarkan muridmu Kim-thouw Thian-li itu untuk melakukan perbuatan fitnah dan mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, membiarkan muridmu membunuh anak-anak murid Hoa-san-pai dan malah kau selalu membantunya. Sekarang kau datang ke mari pura-pura mencela kepada pinto. Heh, meski pun kau lihai, akan tetapi kejahatanmu pasti tak akan membawa kau kepada kebahagiaan dan keselamatan."

"Hi-hi-hi, tosu bau. Kaulah yang akan mampus, masih banyak tingkah lagi.”

Dengan mengeluarkan suara melengking aneh, Hek-hwa Kui-bo menggerakkan tangan. Tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangannya dan cepat ia menyerang ketua Hoa-san-pai itu.

Lian Bu Tojin maklum akan kelihaian wanita ini, maka dia tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan balas menyerang. Seperti juga pada saat ketua Hoa-san-pai ini mengejar Hek-hwa Kui-bo ketika nenek ini menculik Kwee Sin, sekarang Lian Bun Tojin mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang yang dimiliki nenek ini hebat bukan main, kelihatan tidak mengandung tenaga besar akan tetapi hawa pedangnya dingin dan cepat.

Inilah Ilmu Pedang Im-sin-kiam yang dipelajari nenek ini dari kitab yang ia rampas atau curi dari Phoa Ti. Biar pun Lian Bu Tojin sudah mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya, namun tetap saja semua kekuatan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut seakan-akan ditelan oleh hawa dingin ilmu pedang Hek-hwa Kui-bo. Betapa pun juga, Lian Bu Tojin adalah seorang pendeta yang mengutamakan kehidupan suci serta bersih, maka daya tahan di dalam tubuhnya amat kuat dan tidak mudah bagi Hek-hwa Kui-bo untuk merobohkannya secara cepat.

"Heh-heh-heh, nona-nona manis, mari kita main-main sebentar!" Giam Kin ternyata sudah melompat maju dan dengan sikap ceriwis sekali pemuda ini mengulur kedua tangannya untuk menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee.

Dua orang gadis ini membentak dan memaki, sambil mengelak dan mencabut pedang lalu dengan gemas mereka mengeroyok Giam Kin.

Sementara itu, semenjak tadi Bun Lim Kwi memandang ke arah Giam Kin, maka ketika mendengar Kwa Hong dan Thio Bwee memaki-maki dan menyebut nama pemuda muka pucat itu, darahnya segera naik. Jadi inikah orang yang bernama Giam Kin, yang secara pengecut pernah menyerang dan merobohkannya ketika dia bertempur melawan Thio Eng dahulu itu? Hampir saja nyawanya melayang karena pemuda muka pucat yang jahat itu.

"Suhu, dialah orangnya yang hampir saja menewaskan teecu dengan serangannya yang amat curang. Teecu hendak membalas," bisiknya kepada Pek Gan Siansu.

Ketua Kun-lun-pai ini mengangguk, berkata perlahan. "Sudah sepatutnya sekarang kita membantu Hoa-san-pai menghadapi orang-orang jahat itu."

Dengan girang Bun Lim Kwi mencabut pedangnya dan menerjang Giam Kin yang sedang melayani dua orang gadis Hoa-san-pai dengan enak sambil menggoda mereka dengan omongan kasar dan kotor itu.

"Nona berdua harap mundur, biarkan aku memberi hajaran kepada manusia bermulut kotor ini!" bentak Bun Lim Kwi sambil memutar pedangnya.

Akan tetapi karena amat marah kepada Giam Kin, Kwa Hong dan Thio Bwee mana mau meninggalkannya? Dengan begitu Giam Kin segera terkepung dan dikeroyok tiga orang. Giam Kin sibuk sekali. Biar pun dia amat lihai namun dikeroyok oleh tiga orang ini, apa lagi ilmu silat Bun Lim Kwi memang hebat, segera dia terdesak dan sibuk menangkis ke sana ke mari.

"Hemm, curang... curang...! Kulihat ilmu pedang Kun-lun-pai ikut membela Hoa-san-pai!" Suara ini keluar dari mulut Siauw-ong-kwi yang sudah melangkah maju hendak menolong muridnya.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan putih berkelebat dan Pek Gan Siansu sudah berdiri di depannya dengan pedang pusaka Kun-lun-pai di tangan.

"Perlahan dulu, Siauw-ong-kwi. Biarkan saja bocah sama bocah, tua bangka seperti kau lawannya juga tua bangka seperti aku!"

Siauw-ong-kwi membelalakkan matanya dan tertawa. "Ha-ha-ha, sejak kapan Kun-lun-pai menjadi pembantu para pemberontak?"

"Sejak orang-orang seperti engkau membantu penjajah menindas rakyat," jawab ketua Kun-lun-pai tenang.

"O-ho, Pek Gan Siansu, artinya kau menantang Siauw-ong-kwi?"

"Pinto tidak menantang siapa pun juga. Akan tetapi, Siauw-ong-kwi, semenjak dulu pinto sudah mengenal nama Siauw-ong-kwi sebagai seorang aneh yang tidak suka melanggar kepantasan, seorang tokoh utama di utara yang tak berlepotan lumpur kejahatan. Kiranya sekarang kau terseret ke dalam perangkap penjajah, bahkan kau membiarkan muridmu berlaku keji dan jahat tanpa menghukumnya. Muridmu secara curang pernah berusaha membunuh muridku, sekarang kau hendak membantunya pula. Mana pinto dapat diamkan saja?"

"Bagus Pek Gan Siansu, di antara kita terdapat perbedaan paham, kau sebagai antek pemberontak dan aku sebagai antek pemerintah. Mari, mari... kita bermain-main sebentar, sudah lama tanganku gatal-gatal untuk merasai lihainya pedang Kun-lun-pai!"

Dua orang ini segera bergerak dan bertandinglah keduanya. Pedang Pek Gan Siansu tak usah disangsikan lagi amat hebat gerakannya, kuat dan meski digerakkan secara lambat, namun sinar pedangnya saja cukup untuk merobohkan lawan yang kuat.

Pada lain pihak, Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh paling lihai dari utara. Ilmu silatnya aneh, berinti ilmu tangkap yang menjadi dasar ilmu gulat Mongol, sekarang dia mainkan dengan kedua ujung tangan bajunya yang panjang sehingga bila dipandang sekelebatan tampaknya seolah-olah Siauw-ong-kwi memainkan sepasang pedang.

Jangan dipandang rendah sepasang ujung lengan baju ini. Walau pun terbuat dari kain lemas biasa, namun mengandung tenaga Iweekang yang hebat, kuat untuk menangkis pedang. Kadang-kadang lemas mengancam lawan dengan jeratan maut, kadang-kadang kaku seperti pedang baja atau seperti toya besi!

Kim-thouw Thian-li yang melihat betapa kedua pihak sudah saling gempur segera bersuit keras dan pasukan pemerintah itu sambil berteriak-teriak hiruk-pikuk serentak bergerak menyerbu ke atas. Para tosu Hoa-san-pai yang melihat hal ini tanpa menanti perintah lagi segera memapaki dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat di puncak Hoa-san-pai itu. Akan tetapi ternyata keadaan amat tidak menguntungkan pihak Hoa-san-pai.

Jumlah pasukan pemerintah tidak saja lebih besar, juga mereka ini memang pasukan pilihan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Souw Kian Bi, pasukan yang terbentuk dari serdadu-serdadu yang kosen dan ahli golok, lebih terkenal disebut Barisan Golok Maut. Sebentar saja belasan orang tosu Hoa-san-pai roboh terbacok golok dan keadaannya amat terdesak.

Keadaan pertempuran yang dihadapi para jago Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai itu juga amat buruk. Menghadapi Sian Hwa yang dibantu dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, ketua Ngo-lian-kauw, Kim-thouw Thian-Ii ternyata jauh lebih lihai. Permainan goloknya biar pun lihai dan aneh, masih belum mampu menindih ilmu pedang tiga orang murid Hoa-san-pai ini.

Akan tetapi sekarang Kim-thouw Thian-li sudah mengeluarkan selendang merahnya yang mengandung hawa beracun, dan pada saat yang amat tak terduga-duga ia mengebutkan selendang merah itu. Bau harum semerbak menyambar. Thio Ki dan Kui Lok yang masih kurang pengalaman, kurang cepat menghindar dan robohlah mereka bergulingan dalam keadaan pingsan.

Liem Sian Hwa yang menjadi marah sekali lalu mempergunakan kesempatan itu. Selagi Kim-thouw Thian-li tertawa-tawa kegirangan dan memerintahkan beberapa serdadu untuk menawan dua orang pemuda ini, setelah tadi berhasil menggulingkan tubuh menghindar dari hawa beracun, dia cepat melompat tinggi kemudian dari atas ia menggunakan gerak tipu Hui-liong Jip-hai (Naga Terbang Memasuki Lautan), dan pedangnya bergerak cepat menyerang lawannya. Tidak percuma nona ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya cepat sekali, sehingga bayangan tubuhnya dan sinar pedang menjadi satu.

Kim-thouw Thian-li kaget bukan main, cepat menangkis dengan golok sambil miringkan tubuh berusaha menyelamatkan dirinya. Akan tetapi tetap saja ujung pedang Sian Hwa secara kilat sudah menyerempet pundaknya sehingga baju pada bagian pundak terbabat robek berikut kulitnya yang putih halus dan darah bercucuran keluar.

"Keparat, rasakan pembalasanku!” Kim-thouw Thian-li berseru keras.

Dia cepat-cepat memberi bubuk obat pada pundaknya yang terluka, kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia menerjang Liem Sian Hwa dengan nafsu membunuh.

Sian Hwa memutar pedang mempertahankan, diri, namun maklum bahwa ia kalah tenaga dan bingung menghadapi ilmu golok yang aneh dan ganas itu. Betapa pun juga, dengan mengertakkan giginya nona pendekar ini melakukan perlawanan nekat. Hatinya gelisah sekali melihat betapa dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, sudah menjadi orang-orang tawanan, diikat kaki tangan mereka dan dibawa mundur oleh beberapa orang serdadu musuh.

Kwa Tin Siong juga sudah melihat betapa dua orang murid keponakannya ini tertawan. Akan tetapi dia pun hanya dapat bergelisah saja karena semenjak pertempuran hebat itu dimulai, Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong ini sudah menerjang maju dan dikeroyok oleh lima orang perwira pasukan musuh secara berganti-ganti. Sudah banyak lawan roboh oleh pedangnya yang lihai, akan tetapi dikeroyok begitu banyak lawan tangguh, dia menjadi terdesak juga dan tidak berdaya menolong dua orang keponakan yang tertawan itu.

Kini melihat betapa sumoi-nya didesak hebat oleh Kim-thouw Thian-li yang ganas, dia berkhawatir sekali. Sambil berseru keras pedangnya diputar seperti ombak menggelora sehingga dua orang pengeroyoknya roboh dan yang lain terpaksa mundur dengan gentar. Kesempatan ini digunakan oleh Kwa Tin Siong untuk melompat dan menerjang Kim-thouw Thian-li.

"Sumoi, jangan khawatir, mari kita bunuh siluman betina ini!" serunya dan pedangnya yang masih berlepotan darah itu menerjang kuat.

"Hi-hi-hi, seorang sumoi dan suheng-nya yang tak bermalu!" Sambil menangkis Kim-thouw Thian-li mentertawakan mereka. "Di luar mengaku sebagai sumoi dan suheng, di mulut memaki-maki Kwee Sin yang serong, tetapi ini bagaimana? Ha-ha-hi-hi-hi, tak bermalu, muka tebal! Siapa tidak tahu bahwa kalian sudah bertahun-tahun main gila? Di depan guru bersikap alim, katanya saudara seperguruan, tapi di belakang guru? Hi-hi-hi, hanya kamar kosong menjadi saksi percintaan kotor sumoi dan suheng!"

Kata-kata yang dikeluarkan Kim-thouw Thian-li ini keras dan nyaring sehingga terdengar oleh semua orang di situ. Wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi pucat saking marah mereka. Liem Sian Hwa hampir saja pingsan saking marahnya sehingga gerakan pedangnya malah menjadi lambat dan akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh pingsan.

Kwa Tin Siong membentak, "Siluman betina, mampuslah!"

Pedangnya langsung menyambar, akan tetapi dengan enak Kim-thouw Thian-li dapat pula menangkisnya.

"Ha-ha-ha-ha, malu kan? Kalian saling cinta, siapa tidak tahu akan hal ini? Haiii...! Lian Bu Tojin, kau tosu tua bangka sudah buta, tidak tahu di belakangmu dua orang muridmu main gila?" Tapi ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena serangan hebat yang dilakukan Kwa Tin Siong.

Ucapan Kim-thouw Thian-li yang nyaring ini hebat akibatnya. Lian Bu Tojin yang ketika itu sedang bertanding mati-matian melawan Hek-hwa Kui-bo, seketika tergetar tubuhnya dan pada saat dia menengok ke arah Kwa Tin Siong, dia kurang keras menangkis serangan kebutan sapu tangan sutera yang digerakkan oleh Hek-hwa Kui-bo.

"Plakkk!"

Ujung sapu tangan menghantam dadanya dan Lian Bu Tojin terhuyung mundur dengan muka pucat. Akan tetapi sambil menahan napas kakek ini masih dapat terus melompat ke dekat Kim-thouw Thian-li yang masih mendesak Kwa Tin Siong dengan golok dan dengan mulut yang melontarkan kata-kata menghina tentang dia dan sumoi-nya.

Lian Bu Tojin cepat menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan. Kim-thouw Thian-li berusaha mengelak, namun terlambat.

"Dukkk!"

Punggung Kim-thouw Thian-li kena digempur hingga tubuhnya mencelat terguling-guling dan roboh tak bergerak. Darah merah mengalir dari mulut perempuan ini.

Lian Bu Tojin dengan mata mendelik menghadapi Kwa Tin Siong. "Tin Siong, betulkah kau... kau... betulkah apa yang diucapkan siluman tadi? Betul kau... kau mencinta Sian Hwa?" tanyanya, suaranya yang biasanya lemah lembut itu sekarang kaku parau sebab kemarahannya sudah memuncak.

Selama hidupnya Kwa Tin Siong tak pernah berbohong kepada suhu-nya. Dengan kepala tunduk dia menjawab, "Teecu memang cinta kepada Sumoi, Suhu. Akan tetapi cinta yang bersih... tidak seperti yang dimaksud oleh siluman itu..."

Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek. "Ha-ha-ha, cinta kasih antara laki-laki gagah dan perempuan cantik, mana bisa bersih-bersihan? Ha-ha-ha-ha-ha, pintar juga Kwa Tin Siong! Dari pada sumoi-nya tidak laku menjadi perawan tua... Ha-ha-ha-ha-ha duda dan perawan tua, sudah cocok!" Bukan main hebatnya penghinaan ini yang keluar dari mulut Giam Kin.

"Blukkk!"

Dalam kemarahannya, Bun Lim Kwi menggunakan kesempatan saat Giam Kin memecah perhatiannya untuk melontarkan penghinaan ini. Dia berhasil memukul pundak Giam Kin dengan tangan kirinya. Inilah pukulan Pek-lek-jiu dan andai kata orang lain yang terpukul pasti akan roboh binasa.

Akan tetapi Giam Kin adalah orang yang sudah mempunyai kepandaian tinggi. Pukulan ini benar merobohkannya, akan tetapi sambil roboh dia sempat menyambitkan segenggam jarum-jarum halus ke arah Bun Lim Kwi.

Jago muda Kun-lun-pai ini dahulu ketika bertempur melawan Thio Eng pernah roboh dan hampir tewas oleh jarum-jarum berbisa ini. Maka dengan kaget dia melompat jauh untuk menghindar sambil berseru kepada Thio Bwee dan Kwa Hong.

"Ji-wi lihiap, awas!"

Baiknya jarum-jarum itu memang tidak disambitkan ke arah dua orang nona yang ikut mengeroyok Giam Kin ini, maka mereka tak terancam oleh senjata rahasia yang jahat itu. Sementara itu, Kwa Hong yang juga mendengar ucapan-ucapan keji Kim thouw Thian-li tadi, sekarang berdiri dengan muka pucat dan memandang ke arah ayahnya yang ditegur oleh Lian Bu Tojin dan ke arah bibi gurunya yang masih rebah pingsan.

Ada pun Lian Bu Tojin ketika mendengar pengakuan dari Kwa Tin Siong dan kemudian mendengar ucapan Giam Kin, tubuhnya menjadi limbung.

"Huaaak…!”

Dari mulutnya tersembur darah segar. Inilah akibat pukulan selendang sutera Hek-hwa Kui-bo tadi. Kemudian orang tua ini menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai yang lalu dibacokkan ke arah tubuh Liem Sian Hwa yang menggeletak di atas tanah.

"Suhu…! Ampunkan Sumoi..."

Kwa Tin Siong menubruk maju, menghalangi tubuh sumoi-nya. Lian Bu Tojin kaget dan menahan pedangnya, akan tetapi karena dia sudah terluka gerakannya kurang kuat dan pedang itu tetap masih membacok ke arah leher muridnya yang tertua. Terpaksa Kwa Tin Siong menangkis dengan tangan kirinya.

"Crakkk!"

Pedang pusaka Hoa-san-pai yang amat tajam dan ampuh itu tanpa ampun lagi membabat putus lengan kiri Kwa Tin Siong sebatas pergelangan tangan! Kwa Tin Siong masih terus berjongkok, memondong tubuh Liem Sian Hwa dengan tangan kanannya. Dia berdiri lalu berjalan pergi terhuyung-huyung dengan langkah limbung, tapi cepat sekali dia sudah lari turun gunung.

"Ayah...!" Kwa Hong menjerit dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba dia pun roboh terguling.

Ternyata dalam keadaan kacau itu, selagi semua orang mencurahkan perhatian ke arah peristiwa itu, Giam Kin sudah meloncat maju dan menotoknya roboh. Kejadian ini seperti menjadi tanda bahwa pertempuran di mulai lagi. Bun Lim Kwi menggerakkan pedang menyerang Giam Kin, dibantu Thio Bwee dan kembali mereka bertempur.

"Beraninya kau melukai muridku!" Hek-hwa Kui-bo yang tadi maju menolong Kim-thouw Thian-li yang terluka oleh pukulan Lian Bu Tojin, sekarang melayang maju menyerang ketua Hoa-san-pai itu.

Akan tetapi Lian Bu Tojin sudah menderita luka batin yang amat hebat, sekarang kakek ini malah duduk bersila dan meramkan matanya. Agaknya kakek Hoa-san-pai ini sudah menderita kesedihan terlalu besar karena persoalan murid-muridnya sehingga sekarang dia sengaja menanti pukulan maut lawannya tanpa mau membela diri.

Pada saat itu, terdengar sorak-sorak gemuruh di sekeliling tempat pertempuran. Tiba-tiba muncullah ratusan orang gagah perkasa yang dipimpin oleh seorang tinggi besar. Semua orang menjadi kaget sekali bahkan Hek-hwa Kui-bo sendiri sampai menahan pukulannya.

Akan tetapi setelah menengok dan melihat bahwa yang datang adalah orang-orang yang biasanya disebut pejuang atau yang oleh pemerintah dianggap pemberontak, Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan dengus menghina dan ia melanjutkan pukulannya.

"Lian Bu Tojin, bersiaplah untuk mampus!"

Pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan ujung selendang sutera menotok ke arah ubun-ubun kepala Lian Bu Tojin. Dua serangan mematikan yang agaknya akan segera menamatkan nyawa ketua Hoa-san-pai. Akan tetapi pada saat itu tampak dua sinar hitam menyambar.

"Tranggg…!"

Pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo terpukul ke samping sedangkan sinar hitam kedua telah menyambar ke arah siku kirinya, membuat tangan kirinya menjadi lemas dan hawa Iweekang yang tersalur ke arah selendang itu lenyap sehingga selendangnya berubah lemas seperti kain biasa. Sekaligus sambaran dua benda hitam yang ternyata hanya dua buah kerikil itu telah melumpuhkan serangan maut Hek-hwa Kui-bo dan menolong nyawa Lian Bu Tojin!

Hek-hwa Kui-bo kaget dan marah sekali, cepat memutar tubuh dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bukan lain adalah Beng San. Pemuda ini tersenyum kepadanya.

"Apakah selama ini kau baik-baik saja, Hek-hwa Kui-bo?"

Hek-hwa Kui-bo tertegun dan meragu. Serasa ia mengenal muka pemuda ini, akan tetapi kalau diingat akan kepandaian pemuda ini yang luar biasa tadi ia ragu-ragu dan merasa tidak pernah mengenal seorang pemuda dengan kepandaian demikian hebatnya.

”Kau siapakah?"

"Hek-hwa Kui-bo, lupakah kau kepadaku? Ingatlah akan pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee
dan Ci-hwee..."

"Ahhh, kau Beng San siluman cilik...," dengan marah Hek-hwa Kui-bo teringat akan kitab Im-yang Sin-kiam. "Bagus, kau serahkan Yang-sin Kiam-sut kepadaku!"

Berbareng dengan bentakan ini dia langsung menyerang dengan pedangnya. Beng San mengelak dan melihat bahwa nenek itu menyerangnya dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam, tentu saja dengan mudah dia dapat menghindarkan diri. Akan tetapi karena dia sendiri tidak bersenjata, sukar juga baginya untuk balas menyerang nenek yang kepandaiannya hebat itu sehingga dia hanya main mundur, mengelak ke kanan kiri, meloncat ke sana ke mari.

Sementara itu, rombongan orang gagah yang ternyata dipimpin oleh Tan Hok itu sudah menggempur pasukan pemerintah sehingga perang tanding menjadi semakin ramai. Akan tetapi keadaannya sekarang berubah sama sekali. Apa bila tadi para tosu Hoa-san-pai melakukan perlawanan sia-sia dan banyak di antara mereka yang roboh binasa, sekarang keadaannya berbalik.

Tidak saja para anggota Pek-lian-pai yang datang ini rata-rata memiliki kegagahan dan kepandaian, juga jumlah mereka jauh lebih besar sehingga pasukan pemerintah ditekan hebat dan benar-benar terdesak. Sebentar saja banyak serdadu Mongol roboh dan yang lainnya mulai lemah semangat.

Pertempuran yang hebat dan seru adalah pertempuran antara Pek Gan Siansu dengan Siauw-ong-kwi. Dua orang tokoh besar ini benar-benar memiliki kepandaian yang hebat. Mereka tidak mempunyai permusuhan pribadi, akan tetapi seperti sudah sering kali terjadi, apa bila dua orang tokoh besar bertempur dan saling mengeluarkan kepandaian, mereka tidak mau saling mengalah.

Mereka bertempur sejak permulaan tadi sampai sekarang, tak pernah berhenti dan sudah mengeluarkan kepandaian masing-masing sampai dua ratus jurus lebih. Betapa pun juga, ilmu kepandaian Pek Gan Siansu adalah ilmu yang bersumber pada ilmu bersih dan asli keturunan Kun-lun-pai, maka dasarnya amat kuat.

Sebaliknya, Siauw-ong-kwi mendapatkan kepandaiannya dari kumpulan bermacam ilmu silat dan baginya tidak ada pilihan apakah ilmu silat itu kotor mau pun bersih sifatnya, semua dipelajari sejak muda dan dari kumpulan ilmu-ilmu silat inilah dia menciptakan ilmu silatnya sendiri yang ganas dan lihai, yaitu dengan senjata kedua ujung lengan bajunya yang panjang.

Mungkin karena kalah murni sumber ilmu kepandaiannya, maka setelah lewat dua ratus jurus, perlahan-lahan Siauw-ong-kwi mulai terdesak oleh sinar pedang Pek Gan Siansu yang hebat itu. Terpaksa dia diam-diam harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut memang benar-benar lihai sekali.

"Ha-ha-ha, Pek Gan Siansu, ilmu pedang Kun-lun benar-benar bukan omong kosong saja. Kulihat barisan pemberontak sudah menyerbu, terpaksa aku tidak suka melayanimu lebih lama lagi. Nanti saja pada pertemuan mendatang kita lanjutkan untuk menentukan siapa sebenarnya Raja Pedang!"

"Siauw-ong-kwi, kau terlalu memuji. Kepandaianmu juga pinto lihat banyak lebih lihai dari pada dulu. Dalam pertemuan di Thai-san nanti kiranya pinto takkan kuat menghadapimu."

Ucapan kakek Kun-lun-pai ini memang dengan sejujurnya. Tadi dia dapat menindih lawannya dengan ilmu pedangnya yang lebih murni dan lebih kuat, akan tetapi dalam hal tenaga dan keuletan, kalau pertempuran ini terus dilanjutkan, dia pasti akan kalah oleh Siauw-ong-kwi yang belasan tahun lebih muda itu.

Siauw-ong-kwi kemudian melesat ke arah muridnya. Ketika itu Giam Kin sudah terdesak hebat oleh Bun Lim Kwi yang dibantu oleh Thio Bwee. Sekali kebutkan ujung lengan bajunya, Siauw-ong-kwi sudah membuat pedang Lim Kwi dan Thio Bwee terpental ke belakang, malah Thio Bwee terhuyung beberapa tindak. Sedangkan Lim Kwi yang lebih tinggi ilmunya hanya tergetar tangannya, tetapi sudah cukup untuk memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk meloncat ke belakang dan menyusul gurunya lari pergi.

Hek-hwa Kui-bo masih saja mengejar-ngejar Beng San dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam. Hatinya terasa makin penasaran karena dia belum juga dapat merobohkan pemuda ini. Sebetulnya, jangankan merobohkan, ujung pedangnya bahkan belum pernah mencium ujung baju pemuda itu yang dengan gesit melompat ke sana ke mari dengan gerakan tidak karuan seperti orang ketakutan, namun setiap lompatannya merupakan kelitan yang amat sempurna dan tepat untuk menghindari serangan-serangan jurus Im-sin Kiam hoat.

Orang-orang yang berada di situ tadinya sedang sibuk menghadapi lawan masing-masing, maka kedatangan Beng San tidak menarik perhatian. Tetapi sekarang mereka mendapat kesempatan menonton, maka mereka merasa amat heran dan juga khawatir menyaksikan pemuda itu terus dikejar-kejar oleh Hek-hwa Kui-bo.

Pek Gan Siansu adalah seorang tokoh besar yang tajam penglihatannya. Melihat keadaan Beng San, sama sekali dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu pemuda aneh ini memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi karena dia pun maklum akan keganasan Hek-hwa Kui-bo, maka dia segera berkata, "Ha-ha-ha, sungguh lucu bukan main. Hek-hwa Kui-bo dengan pedangnya mengejar-ngejar seorang pemuda. Memalukan betul!"

Oleh karena Hek-hwa Kui-bo sendiri maklum bahwa pemuda itu adalah seorang ahli waris Im-yang Sin-kiam, sekarang melihat pertempuran sudah berhenti dan para serdadu sudah lari cerai-berai, apa-lagi Siauw-ong-kwi sudah pergi juga, dia merasa tidak ada harapan kalau harus mengamuk seorang diri.

"Bocah, kalau memang kau ada kepandaian, kelak di Thai-san kita bertemu pula!" katanya gemas dan sekali berkelebat, nenek itu sudah pergi menyusul muridnya dan rekannya yang lain-lain, yang sudah lari lebih dahulu.

Hebat sekali akibat pertempuran itu. Banyak sekali, lebih dari empat puluh orang tosu Hoa-san-pai, menggeletak mati atau terluka. Juga ada beberapa belas orang Pek-lian-pai terluka dan serdadu-serdadu itu meninggalkan mayat dan teman-teman terluka sebanyak tujuh puluh orang lebih.

Di tempat itu penuh dengan mayat dan orang-orang terluka. Darah mewarnai rumput dan tanah, mengerikan sekali…..


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner