RAJA PEDANG : JILID-33


Pertempuran antara Thio Ki dan Kui Lok berjalan makin seru dan ramai. Memang kedua orang muda ini setingkat kepandaiannya, apa lagi mereka memang terdidik semenjak kecil dalam satu perguruan, tentu saja sudah saling mengenal gerakan masing-masing.

Bagi orang yang mengenal ilmu pedang Hoa-san-pai, tentu menyangka bahwa mereka itu main-main saja atau tengah berlatih. Akan tetapi bagi orang luar mereka kelihatan sedang bertempur dengan hebat, karena memang ilmu pedang Hoa-san-pai kelihatan amat cepat dan bergaya indah.

Sesungguhnya mereka ini sama sekali tidak main-main, melainkan saling serang dengan mengeluarkan gerakan-gerakan mematikan. Tiada lagi pilihan bagi Thio Ki dan Kui Lok. Mereka harus memilih satu di antara dua, membunuh lawan untuk bebas bersama Kwa Hong, atau terbunuh.

Sudah tentu tak ada seorang pun di antara mereka yang sudi mengalah. Bukan persoalan mati hidup yang penting bagi mereka, melainkan persoalan mendapatkan atau kehilangan diri Kwa Hong, yang mereka cinta!

”Thio-suheng! Kui-suheng! Dengarkan aku baik-baik!" tiba-tiba Kwa Hong berseru nyaring dengan suara terisak. "Dengarkan sumpahku ini! Siapa pun juga di antara kalian yang menang dalam pertandingan ini, aku tidak sudi menjadi isterimu! Nah, dengar! Siapa pun juga yang menang, takkan menjadi suamiku malah akan menjadi musuh besarku selama hidup karena telah membunuh seorang saudara seperguruan!"

Seketika wajah dua orang pemuda Hoa-san itu menjadi amat pucat dan pedang mereka tertahan. Peluh memenuhi leher dan muka, mata mereka memandang ke arah Kwa Hong dengan sedih, kaget dan bingung.

"Sumoi... kalau begitu... siapakah yang kau... kau cinta?" bertanya Thio Ki dengan suara serak.

"Ya, katakan siapa orangnya yang kau cinta, Hong-moi, agar kami tidak penasaran dan tidak menganggap kau membohong untuk mencegah kami saling bertempur," kata Kui Lok dengan wajah pucat.

Kwa Hong bingung mendengar kata-kata mereka itu. la maklum bahwa kalau ia tidak bisa menjawab, keduanya tentu akan bertanding lagi karena menganggap bahwa dia hanya membohong untuk mencegah mereka saling serang. Kalau ia mengaku, ahh, bukankah hal itu amat memalukan?

Akan tetapi, keadaan sudah mendesak. Dari pada kedua suheng-nya mati saling serang, lebih baik mereka itu tewas sebagai orang-orang gagah. Lagi pula, dia sendiri sudah tak mempunyai harapan untuk hidup lebih lama lagi atau keluar dari tempat ini dengan selamat, maka apa salahnya kalau ia mengeluarkan isi hatinya?

Dengan muka merah, air mata mengalir di kedua pipinya, tapi sambil mengangkat dada dan dengan suara yang nyaring ia berkata. "Aku mencintai kanda Beng San!"

Pada saat itu terdengar suara ketawa keras. "Ha-ha-ha-ha! Kiranya nona manis ini tidak suka menjadi isteri seorang di antara suheng-nya."

Dan cepat sekali seperti terbang saja tahu-tahu tubuh Giam Kin sudah berada di tengah ruangan itu. Ia menoleh ke arah Souw Kian Bi dan menjura sambil berkata. "Taijin tadi menyatakan bahwa siapa yang menang akan mendapatkan diri nona Kwa Hong yang manis ini. Sekarang dua orang Hoa-san ini tidak mau lagi saling serang agaknya, biarlah hamba merobohkan mereka berdua dan hadiahnya tentu saja diri nona manis ini. Hamba mengharapkan perkenan Taijin."

"Giam Kin, bukankah nona yang satu lagi dari Hoa-san-pai yang kau cinta?" tanya Souw Kian Bi sambil tersenyum.

Giam Kin tertawa lagi memandang ke arah Kwa Hong sambil menyeringai. "Yang itu juga cinta, yang ini juga suka. Kalau bisa kedua-duanya pun boleh. Ha-ha-ha!"

"Dasar mata keranjang. Nah, kau hadapi dua orang itu, apa bila kau menang, boleh kau ambil nona ini," kata Souw Kian Bi pula sambil tertawa geli.

Sementara itu, pengakuan Kwa Hong bahwa dia mencinta Beng San tadi memang sudah dapat diduga lebih dulu oleh Thio Ki dan Kui Lok. Dahulu, di puncak Hoa-san, ketika Kwa Tin Siong hendak memaksa Kwa Hong untuk menikah dengan Thio Ki, gadis ini pun memberontak dan menolak, malah berani mengaku di depan ayahnya bahwa dia suka kepada Beng San.

Akan tetapi dahulu itu mereka semua mengira bahwa Kwa Hong yang terkenal keras hati, keras kepala itu mengaku demikian hanya untuk mencari alasan penolakannya belaka. Pada waktu itu, siapa bisa percaya bahwa Kwa Hong mencinta seorang pemuda tolol seperti Beng San?

Tapi pengakuan sekarang ini lain lagi, tak mungkin Kwa Hong main-main di depan jurang kematian. Dua orang saudara seperguruan ini saling pandang dan mata mereka menjadi basah.

Sungguh mereka senasib sependeritaan. Keduanya telah kehilangan ayah, dan keduanya sekarang kehilangan kekasih pula. Dalam pertemuan pandang mata ini sekaligus lenyap semua kebencian, lenyap semua persaingan, dan timbullah kasih sayang antara saudara seperguruan yang mesra. Timbul kasih sayang dan kesetia kawanan.

Baru terbuka mata hati mereka betapa mereka tadi bersikap amat pengecut dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Baru teringat bahwa sebagai murid-murid Hoa-san-pai seharusnya mereka bersikap gagah perkasa, menghadapi kematian di tangan musuh dengan pedang di tangan, siap mati demi membela kebenaran, apa lagi dalam hal ini membela tanah air dan bangsa.

"Lok-te, mari kita basmi anjing-anjing penjajah," bisik Thio Ki.

"Ki-suheng, aku sehidup semati denganmu!"

Keduanya melangkah maju dan mereka saling peluk dengan air mata bercucuran. Kedua saudara seperguruan ini kemudian membalik menghadapi Giam Kin dengan pedang di tangan. Kini pedang itu tetap dan kokoh di dalam genggaman tangan orang-orang yang sudah siap mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!

Sambil tertawa-tawa Giam Kin mencabut pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, kemudian membentak keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan gerakan cepat sekali dia telah mengirim serangan bertubi-tubi ke arah Thio Ki dan Kui Lok.

Tentu saja kedua orang pemuda Hoa-san ini segera menangkis dan balas menyerang. Namun segera dapat diketahui bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh di bawah Giam Kin karena biar pun mengeroyok dua, segera sinar pedang Giam Kin mendesak dan menindih kedua pedang mereka. Betapa pun juga, karena dua orang pemuda ini sekarang bertempur dengan semangat menyala-nyala dan nekat, tidak mudah bagi Giam Kin untuk merobohkan mereka dalam waktu singkat.

Tadinya pada waktu melihat dua orang murid Hoa-san-pai itu sudah saling serang untuk memperebutkan diri Kwa Hong, Beng San merasa sangat kecewa dan luar biasa muak sehingga dia tidak ambil peduli. Bahkan kiranya dia akan mendiamkan saja andai kata melihat dua orang pemuda itu tewas di tangan musuh.

Akan tetapi sekarang, melihat perubahan sikap mereka, dia menjadi terharu dan girang serta kasihan juga. Melihat betapa mereka berdua kini mati-matian mempertahankan diri dari serangan Giam Kin yang ganas dan keji serta maklum bahwa tak lama lagi mereka tentu akan roboh, Beng San lalu mengambil keputusan untuk turun tangan sekarang juga. Betapa pun juga akhirnya dia harus turun menolong Kwa Hong.

"Saudara Thio Ki dan Kui Lok, berikan iblis ular ini kepadaku!"

Sambil mengeluarkan seruan nyaring ini Beng San sudah melayang turun dan tahu-tahu dua orang seperguruan dari Hoa-san-pai itu tertolak mundur sampai beberapa tindak ke belakang sedangkan Giam Kin yang mendesak maju merasa tangannya sakit sekali.

Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa pedangnya di tangan kanan sudah pindah tangan, dan sekarang dipegang oleh pemuda yang bukan lain adalah Tan Beng San si pemuda sastrawan yang lemah dan tolol! Giam Kin yang mukanya kepucat-pucatan itu menjadi makin pucat, sejenak dia berdiri terlongong.

Geger di tempat itu ketika tahu-tahu muncul Beng San. Bukan saja para penjaga yang kaget, juga orang-orang sakti seperti Siauw-ong-kwi dan Hek-hwa Kui-bo terkejut bukan main, juga malu karena mereka sebagai orang-orang sakti sampai tidak tahu bahwa di atas genteng bersembunyi seorang muda yang agaknya telah mengintai semenjak tadi.

Ada pun Thio Ki serta Kui Lok yang melihat kemunculan Beng San dan menyaksikan kehebatan pemuda ini yang sekaligus dapat merampas pedang Giam Kin, menjadi girang dan kagum bukan main. Mereka memutar pedang dan berteriaklah Thio Ki.

"Saudara Beng San lekas kau selamatkan Sumoi!"

"Betul! Kau larikan Hong-moi, biar kami berdua menahan mati-matian!" teriak pula Kui Lok sambil siap-siap menahan penyerbuan para musuh yang amat banyak itu.

Yang paling girang adalah Kwa Hong. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini sudah maklum akan kelihaian Beng San, bahkan sudah secara berterang mengaku cinta. Akan tetapi dia lalu kecewa saat mendengar pengakuan Beng San yang ternyata hanya suka kepadanya sebagai seorang kakak, membuat dia patah hati dan lari pergi.

Tadinya dia sudah merasa kecewa dan benci kepada Beng San, akan tetapi sekarang melihat munculnya pemuda yang sudah berhasil menguasai cinta kasihnya itu, timbul pula perasaan mesra dan dia berseru girang. "San-ko, akhirnya kau datang juga menolongku!"

Akan tetapi Beng San tak dapat atau tak sempat menjawab semua seruan ini karena pada saat itu melayang beberapa orang yang segera menyerangnya dengan hebat. Mereka ini adalah Siauw-ong-kwi, Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin yang tanpa malu-malu lagi lalu mengeroyoknya.

Beng San memutar pedang rampasannya dan melayani mereka, memainkan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang sekaligus merupakan gundukan sinar pedang yang amat hebat bagaikan nyala api berkobar-kobar dahsyat menghantam tiga orang lawannya. Hek-hwa Kui-bo sudah tahu bahwa pemuda ini memiliki Im-yang Sin-kiam-sut, maka dia tidak amat heran, yang amat kaget dan heran adalah Siauw-ong-kwi dan Giam Kin.

Sementara itu, Thio Ki dan Kui Lok maju menyerbu Pangeran Souw Kian Bi yang mereka anggap adalah pemimpin pihak musuh. Tetapi sebelum senjata mereka dapat mendekati pangeran itu, beberapa orang perwira telah meloncat maju dan menghadapi mereka. Sebentar saja Thio Ki dan Kui Lok telah dikeroyok oleh empat orang perwira yang berilmu tinggi dan mereka berdua kembali terdesak hebat.

Kwa Hong yang masih terbelenggu tangannya dapat menonton dengan hati berdebar, akan tetapi pandang matanya selalu diarahkan kepada Beng San. Hatinya gelisah akan tetapi juga lega, tidak penasaran seperti tadi. Sekarang ia mempunyai keyakinan bahwa andai kata ia mati, Beng San juga tewas di tangan musuh, kalau Beng San berhasil, tentu ia akan diselamatkan pemuda pujaan hatinya itu. Mati hidup bersama Beng San, dan ia takkan penasaran lagi. Wajah yang tadinya pucat menjadi agak kemerahan, air matanya berhenti menitik dan pandang matanya berseri-seri.

Jika dua orang murid Hoa-san-pai itu telah nekat dan tak mengenal takut lagi, sedangkan Kwa Hong dalam kegembiraannya melihat Beng San tidak gentar menghadapi kematian pula, adalah Beng San yang diam-diam merasa khawatir sekali.

Memang, dengan ilmu pedangnya dia masih mampu mempertahankan diri apa bila hanya dikeroyok oleh Hek-hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi dan Giam Kin saja. Apa lagi penyerangan Hek-hwa Kui-bo mempergunakan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut yang sudah dihafalkan benar.

Dengan ilmu pedangnya dia tidak hanya dapat mempertahankan diri, bahkan dapat pula menyerang dengan gerakan-gerakan dahsyat sehingga sesudah berlangsung dua puluh jurus, ujung pedangnya dengan sinarnya yang gemilang berhasil melukai pundak Giam Kin, membuat pemuda itu terhuyung mundur dengan ketakutan dan tidak berani maju lagi. Akan tetapi melihat keadaan Thio Ki dan Kui Lok, yang sudah terdesak hebat, apa lagi melihat Kwa Hong yang terbelenggu dan tak berdaya sama sekali, hatinya gelisah bukan main.

Kekhawatirannya segera terbukti pada waktu terdengar seruan mengaduh, kemudian Kui Lok terhuyung-huyung karena paha kirinya terluka golok lawan. Thio Ki memutar pedang dengan marah, akan tetapi dia pun hampir roboh ketika pundak kirinya kena dikemplang toya seorang perwira.

Dua orang muda ini mengamuk hebat, sudah merobohkan empat orang lawan, akan tetapi karena jumlah lawan jauh lebih besar dan yang roboh selalu ada penggantinya, akhirnya mereka juga terluka. Namun, semangat Thio Ki dan Kui Lok patut dikagumi. Walau pun sudah terluka mereka masih memutar pedang dan Ilmu Pedang Hoa-san-pai yang cepat itu membuat para pengeroyok mereka belum dapat mendekati dua orang pemuda itu.

"Souw Kian Bi! Tan Beng Kui! Apakah kalian tidak malu? Lepaskan tiga orang anak murid Hoa-san-pai. Bukankah dulu kalian telah berjanji dengan Lian Bu Tojin takkan memusuhi Hoa-san-pai?" Beng San berteriak-teriak. Tanpa ragu-ragu dia menyebut nama kakaknya begitu saja karena sudah timbul kebencian dalam hatinya terhadap kakak kandungnya itu yang dianggapnya terlalu keji.

Kelihatan Tan Beng Kui berbisik-bisik kepada Souw Kian Bi. Bukan main lihainya Beng San! Meski pun sedang menghadapi pengeroyokan orang-orang sakti, namun dia masih dapat mendengar percakapan mereka.

"Taijin, kalau kita ampunkan mereka, banyak keuntungan yang akan kita dapat,” bisik Tan Beng Kui.

Pangeran itu mengerutkan kening. "Hemmm, Tan-ciangkun, apakah kau kasihan melihat adik kandungmu?"

Tan Beng Kui tertawa. "Ha, kiranya Pangeran sudah tahu akan hal itu. Memang, dia itu adalah adik kandungku yang dulu lenyap ditelan air bah. Akan tetapi setelah dia menjadi pembantu pemberontak, mana ada hubungan darah lagi antara dia dengan aku? Usulku hanya untuk kebaikan kita, bukan untuk aku pribadi. Pertama, dengan mengampunkan murid-murid Hoa-san-pai, tentu Lian Bu Tojin akan berterima kasih dan akan melupakan permusuhan dengan kita, tidak akan suka membantu para pemberontak. Kedua kalinya, kulihat bocah itu lihai sekali ilmu silatnya. Kalau dia mau berjanji tak akan memusuhi kita, apa lagi kalau mau membantu kita, bukankah dia akan merupakan tenaga bantuan yang bahkan lebih hebat dari pada para locianpwe itu? Dan lebih baik lagi kalau kita dapat mengikatkan dia dengan Hoa-san-pai, misalnya dengan... mengawinkan dia dengan gadis Hoa-san-pai ini, sehingga mau tak mau dia tentu tidak akan mengingkari perjanjian antara Hoa-san-pai dengan kita. Lalu diatur begini...”

Suara Tan Beng Kui menjadi bisik-bisik dan Beng San yang didesak hebat oleh Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi, sekarang tak bisa menangkap lagi apa yang diucapkan kakak kandungnya itu. Diam-diam dia mendongkol sekali dan lebih hati-hati terhadap kelicikan orang.

Tiba-tiba saja Pangeran Souw Kian Bi berdiri dari kursinya, kemudian berseru menyuruh orang-orangnya untuk berhenti menyerang. Thio Ki dan Kui Lok yang ditinggalkan para pengeroyoknya menjadi lemas dan setelah berhenti bersilat mereka menjadi pening dan roboh tak bertenaga lagi.

Pada saat Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi menunda penyerangan mereka, Beng San juga melompat ke belakang. Dengan tenang dan penuh tantangan Beng San berpaling kepada Souw Kian Bi.

"Hemmm, permainan apa lagi yang hendak kau keluarkan, Pangeran?" tanyanya.

"Orang muda, kau hebat sekali. Sayang kalau orang seperti kau dan teman-temanmu ini sampai tewas di sini."

"Hemmm, mudah saja kau bicara. Siapa bilang kami akan tewas? Mungkin kau yang akan mati lebih dulu!" jawab Beng San.

"Ha, orang muda, selain hebat kau pun sombong dan berani sekali! Tidak perlu lagi kau membuka mulut besar di sini sebab kau pun tentu maklum bahwa andai kata kau memiliki kepandaian berlipat sepuluh kali, belum tentu kau dan teman-temanmu akan dapat lolos dari tempat ini. Apa kau hendak berkukuh bahwa kau dapat melawan ribuan orang tentara kami? Masukmu ke sini mungkin dapat kau lakukan karena kurang telitinya penjagaan, akan tetapi bagaimana kau akan dapat lari pergi? Lihat!"

Telunjuk pangeran ini menuding ke sekelilingnya dan Beng San dengan lirikan matanya mendapat kenyataan bahwa tempat itu sudah terkurung rapat oleh ribuan orang tentara. Bahkan di atas genteng sekarang telah siap menanti banyak sekali tentara dengan anak panah terpasang di busur. Jangankan hanya seorang manusia, bahkan seekor burung yang pandai terbang sekali pun kiranya tak akan mungkin meloloskan diri dari tempat itu.

Akan tetapi dia masih bersikap tenang-tenang saja, malah dengan sekali loncat dia telah berada di dekat Kwa Hong, sekali renggut dan sekali tepuk dia telah berhasil memutuskan tali belenggu lengan gadis itu dan membebaskannya dari totokan.

"San-ko, biarlah kita mati bersama..." Kwa Hong berkata mesra dan tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi ia merangkul lengan tangan Beng San.


Melihat ini, Thio Ki dan Kui Lok yang sudah lemas itu menjadi pucat dan mengeluh dalam hati. Mereka berebut mati-matian, kiranya gadis itu memilih orang lain!

"Pangeran Souw Kian Bi, sekarang apa yang menjadi maksud kehendakmu?" dengan tenang Beng San bertanya. “Jangan kau kira bahwa kami berempat takut akan kematian. Orang-orang gagah rela berkorban nyawa demi kebenaran dan keadilan."

"Bagus, kau benar-benar gagah perkasa, Beng San. Dan kami semua amat suka melihat orang-orang gagah seperti kalian itu, sayang kalau sampai tewas. Kalian masih muda, juga berkepandaian tinggi."

"Apa maksudmu? Berterus teranglah!" kata Beng San tak sabar lagi mendengar musuh memuji-muji itu.

Souw Kian Bi tertawa. "Beng San, sebetulnya Hoa-san-pai bukanlah musuh kami selama Hoa-san-pai juga tidak membantu kaum pemberontak. Permusuhan kecil ini hanya terjadi karena salah paham. Sekarang, melihat bahwa tidak ada kaum pemberontak berusaha menolong murid-murid Hoa-san-pai yang tertawan, kami anggap tidak ada perlunya kalau permusuhan ini diteruskan. Kami akan membebaskan kalian berempat dan sebagai tanda persahabatan, marilah kita makan minum bersama.”

Bukan main girangnya hati Thio Ki dan Kui Lok mendengar ini. Juga Kwa Hong girang sekali, dipeluknya lengan Beng San lebih erat lagi sambil dia berbisik, "San-ko, semenjak sekarang, jangan kau tinggalkan aku lagi..."

"Tenanglah, Hong-moi, tenanglah kau..." Beng San berkata sambil mengelus-elus pundak gadis itu, dalam hatinya bingung sekali menyaksikan sikap Kwa Hong seperti ini.

Tentu saja di tempat itu, disaksikan oleh banyak orang, dia merasa sangat malu melihat sikap Kwa Hong, akan tetapi juga tidak berani menegur gadis itu karena khawatir akan menyinggung perasaan orang. Pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan Tan Beng Kui kepada Pangeran Souw Kian Bi tadi dan otaknya diputar untuk mencari jalan keluar dari tempat itu.

Terang bahwa kalau dia nekat mengamuk, tiga orang murid Hoa-san-pai ini akan celaka. Bahkan dia sendiri sedikit sekali ada harapan untuk mampu lolos dari kepungan ribuan orang tentara itu. Lebih baik sekarang dia menerima uluran tangan pangeran itu untuk menjauhi pertempuran, apa salahnya? Ini hanya siasat untuk menyelamatkan murid-murid Hoa-san-pai, terutama Kwa Hong. Maka dia tidak membantah lagi dan dengan tenang dia mengajak Kwa Hong menerima tawaran Pangeran Souw Kian Bi.

Atas perintah pangeran itu, ruangan yang tadinya menjadi medan pertempuran, sekarang cepat dibersihkan dan diatur menjadi ruang pesta. Seperti sulapan saja, dalam sekejap meja-meja diatur dan hidangan yang mewah dikeluarkan.

Biar pun lemas, Thio Ki dan Kui Lok yang telah mendapat pengobatan, dapat pula duduk menghadapi meja hidangan. Arak wangi menyegarkan tubuh mereka dan membangkitkan semangat lagi, meski mereka tidak mau bicara dan muka mereka masih membayangkan penderitaan batin karena melihat sikap Kwa Hong yang demikian mesra terhadap Beng San.

Tan Beng Kui juga berubah sikapnya. Sambil berdiri dia mengangkat cawan arak dan berkata kepada Beng San, "Setelah bertemu dalam keadaan dewasa, aku mengucapkan selamat kepadamu, adik Beng San. Engkau telah memperoleh kepandaian tinggi, juga memperoleh... hemmm..." ia melirik ke arah Kwa Hong, "seorang calon isteri yang gagah dan cantik. Kionghi… kionghi (selamat-selamat)!"

Girang juga hati Beng San. la menahan air matanya yang hendak menitik turun. Betapa pun juga, Beng Kui adalah orang yang selama ini dia rindukan dan kenangkan. Kakak kandungnya yang dahulu sangat menyayanginya, akhirnya sekarang mau mengakuinya.

Akan tetapi di balik keharuan dan kegirangan hatinya ini terkandung kepahitan dan kenyataan bahwa sikap kakak kandungnya ini hanya siasat belaka. Siasat untuk menarik dia, mempergunakan tenaganya untuk mengabdi kepada pemerintah penjajah.

la pun berdiri dan mengangkat cawannya pula. "Kakak Beng Kui, alangkah bahagianya hatiku karena kau mau mengaku adikmu ini. Sayang seribu kali sayang, jalan kehidupan kita bersimpangan. Betapa pun juga, adikmu selalu memujikan supaya kau selamat dan akhirnya dapat memilih jalan baik. Ada pun mengenai nona Kwa Hong ini, harap jangan salah sangka. Tak berani aku menganggap dia sebagai... sebagai calon isteri..."

Pangeran Souw Kian Bi beserta Tan Beng Kui tertawa bergelak-gelak sehingga di dalam suasana riuh rendah itu orang tidak memperhatikan betapa dua titik air mata mengalir turun dari sepasang mata Kwa Hong, namun cepat diusapnya.

"Ha-ha-ha-ha, adikku yang baik. Orang gagah laksana engkau ini, mana boleh bersikap malu-malu kucing? Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa antara kau dan nona ini terjalin kasih sayang yang amat besar? Jangan kau khawatir, karena kita tidak mempunyai orang tua lagi, aku boleh dibilang mewakili orang tuamu. Akulah yang akan melamarkan nona ini dari tangan Lian Bu Tojin untukmu. Aku tanggung pasti akan diterima. Ji-wi Locianpwe, bagaimana pendapat Ji-wi (kalian)?" Beng Kui berpaling kepada Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi yang duduk di situ pula bersama Kim-thow Thian-Ii dan Giam Kin.

"Hemmm, baik-baik..." berkata Hek-hwa Kui-bo sambil menenggak araknya. Dia nampak kaget karena semenjak tadi nenek ini menatap wajah Beng San tiada sudahnya.

Sukar untuk membaca isi hati nenek ini, hanya Beng San yang tahu betapa inginnya nenek ini merampas kepandaian Yang-sin Kiam-sut dari padanya untuk memperlengkapi Ilmu Im-sin Kiam-sut yang dahulu dicuri oleh Hek-hwa Kui-bo dari tangan kakek Phoa Ti.

Siauw-ong-kwi sebaliknya tertawa terkekeh-kekeh. "Orang muda saling cinta, menunggu apa lagi kalau tidak cepat-cepat dirangkapkan? Asal saja tidak mengulang penyakit lama, kalau sudah berjodoh dan punya anak, lalu bosan dan mencari yang lain. Heh-heh-heh! Kebetulan sekali Tan-ciangkun hendak pergi meminang ke Hoa-san, karena aku pun hendak melamarkan nona hitam manis dari Hoa-san-pai untuk muridku, si gila Giam Kin. Ha-ha-ha!"

Giam Kin juga tertawa. Pemuda ini semenjak tadi hanya tersenyum-senyum saja sambil menyikat hidangan-hidangan yang paling enak, tiada hentinya minum arak seakan-akan semua arak itu dituang ke dalam gentong yang tak berdasar.

Thio Ki dan Kui Lok ternyata tidak kuat minum banyak. Setelah menerima penghormatan Pangeran Souw Kian Bi dan Tan Beng Kui sebanyak lima cawan saja mereka sudah menjadi pening dan tak dapat ditahan lagi keduanya tertidur di atas kursi masing-masing. Hal ini terutama sekali karena tubuh mereka yang masih lemah akibat pertempuran hebat tadi yang menghabiskan sebagian besar tenaga mereka.

"Ha-ha-ha, dua orang ini agaknya belum dapat merasakan kesenangan berpacaran, maka kesenangan satu-satunya hanya tidur saja!" kata Pangeran Souw Kian Bi yang segera memanggil pelayan dan menyuruh beberapa orang pelayan menidurkan dua orang tamu ini ke dalam sebuah kamar yang bersih.

Ketika melihat Beng San mengerutkan kening atas kejadian ini, Beng Kui segera berkata. ”Adik Beng San, tidak usah kau berkhawatir. Biarlah dua orang saudara itu melepaskan lelah lebih dahulu. Nanti setelah mereka bangun, kami akan antarkan kalian semua keluar dari tempat ini dan memberi kuda yang terbagus."

Kemudian dia bertepuk tangan tiga kali. Tiga orang yang berpakaian seragam kemerahan keluar dari tempat sembunyi. Mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi dari pangeran dan perwira itu.

"Ambil Arak Pengantin Merah," kata Tan Beng Kui sambil tertawa-tawa riang.

Tak lama kemudian orang-orang itu kembali membawa seguci arak merah yang harum sekali baunya.

Wajah Kwa Hong dan Beng San menjadi kemerahan, akan tetapi diam-diam Beng San menjadi amat curiga hatinya. Namun apa yang dapat dia katakan? la hanya melihat saja betapa pangeran dan kakak kandungnya itu menuangkan arak merah ke dalam cawan mereka, juga cawan-cawan Hek-hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi, Kim-thouw Thian-li, Giam Kin dan beberapa orang perwira tinggi yang ikut mengawani mereka dalam pesta ini.

"Adik Beng San, arak ini namanya Arak Pengantin Merah. Biar pun kalian belum menjadi pengantin, akan tetapi hatiku sudah amat kegirangan dan mari kita minum tiga cawan untuk kebahagiaan calon sepasang mempelai!"

"Beng Kui-koko, aku... aku dan Hong-moi ini... ehhh..." gugup sekali Beng San.

Akan tetapi ketika dia melirik ke arah Kwa Hong, dia melihat nona ini biar pun mukanya merah sekali, namun sudah mengangkat pula cawan araknya dan sepasang mata bintang itu kelihatan membasah. la tidak tega untuk menolak lagi, dan pula, bukankah semua ini hanya siasat yang mereka pergunakan untuk berhasil meloloskan diri dari situ? Tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengangkat cawan araknya dan menenggak araknya perlahan.

Ia menaruh perhatian dan waspada, akan tetapi ketika merasa bahwa arak itu hanya wangi dan enak, dan tidak ada reaksi apa-apa dari tubuhnya yang penuh hawa Im dan Yang itu, dia menelan terus dan tidak menolak ketika kakaknya menuangkan arak merah itu sampai tiga kali dalam cawannya. Juga Kwa Hong minum tiga cawan penuh.

Kembali Tan Beng Kui bertepuk tangan dan sekarang memerintahkan pelayan supaya mengeluarkan hidangan yang disebut masakan ‘anak naga’. Ternyata hidangan ini berupa masakan ikan laut yang amat aneh bentuknya, benar-benar hampir menyerupai naga kecil.

"Ikan macam ini hanya dapat ditemukan di laut sebelah utara," kata Pangeran Souw Kian Bi. "Baik sekali untuk kesehatan, terutama untuk... calon pengantin baru, ha-ha-ha!"

Semua orang tertawa gembira kecuali Beng San yang menundukkan mukanya dengan hati tidak enak sekali, sedangkan Kwa Hong juga menundukkan mukanya yang kemerah-merahan. Akan tetapi bagi gadis ini keadaan itu amat membahagiakan hatinya. la merasa seolah-olah memang sedang menghadiri pesta pernikahannya sendiri bersama Beng San!

Biar pun malu-malu, Beng San dan Kwa Hong tidak dapat menolak ketika dipersilakan makan daging ‘anak naga’ yang ternyata sedap dan lezat rasanya. Tiba-tiba Beng San meramkan matanya. Dia merasa kepalanya agak terputar dan sepasang matanya berat. Dikerahkannya tenaganya, akan tetapi, semakin dia mengerahkan tenaga Iweekang-nya ternyata semakin pusing pula kepalanya!

"Celaka..." dia mengeluh dan tanpa dapat ditahan lagi dia menjatuhkan kepalanya di atas kedua lengannya di meja. Sepasang sumpitnya jatuh.

"San-ko... kau kenapa...?” Kwa Hong segera memegang pundaknya.

"Ha-ha-ha, dia tidak apa-apa, Nona. Mungkin karena tidak biasa minum arak maka dia menjadi mabuk seperti dua orang saudara tadi."

"Tidak...! Kalian tentu bermain curang! Kalian sengaja sudah meracuni dia...!" Kwa Hong serentak berdiri dan menjadi marah sekali, siap hendak mengamuk.

"Jangan salah sangka yang bukan-bukan. Bukankah kau calon adik iparku. Dia ini adalah adik kandungku, dan sekarang bukan musuh kami lagi, untuk apa kami berlaku curang? Apa bila kau tidak percaya, biarlah dia disuruh mengaso di dalam kamar, dan kau boleh mengawani dan mengurusnya."

Beberapa pelayan diberi perintah dan tubuh Beng San yang sudah lemas itu diangkat orang menuju ke sebuah kamar. Kwa Hong dengan siap sedia dan waspada mengikuti dari belakang.

Begitu memasuki kamar, wajah Kwa Hong berubah makin merah. Bukan main indahnya kamar itu dan sudah diatur amat mewah seperti kamar pengantin saja. Tempat tidurnya, kelambu, perabot-perabotnya, semuanya serba baru. Seprei dan sarung bantalnya semua berkembang indah, menggambarkan sepasang burung hong yang sedang bercumbuan. Daun-daun jendela dan daun pintu menggambarkan pasangan-pasangan burung yang amat rukun dan penuh kasih mesra.

Hatinya berdebar tidak karuan ketika para pelayan itu segera meninggalkan kamar dan membiarkan dia berdua saja dengan Beng San. Malah pelayan terakhir dengan perlahan menutupkan daun pintu dari luar.

Dengan amat susah payah Kwa Hong melawan perasaan aneh dan debar jantung yang menyesakkan dadanya itu, lalu dia memeriksa keadaan Beng San dengan hati khawatir. Pemuda itu mengeluh perlahan, nampak gelisah dan kepalanya bergerak ke kanan kiri. Wajahnya menjadi merah bagaikan udang direbus dan perlahan-lahan berganti menjadi pucat kehijauan. Diam-diam Kwa Hong gelisah dan terheran-heran.

Teringatlah dia akan muka pemuda ini yang semenjak dahulu sering kali berubah-ubah warnanya sehingga dahulu dia menyebutnya sebagai ‘bunglon’.

"San-ko... San-ko... bagaimana rasa badanmu...?" tanyanya khawatir sambil menyentuh jidat pemuda itu.

Cepat ia menarik kembali tangannya karena jidat itu terasa dingin seperti es! Dan ketika perlahan-lahan muka itu berubah kemerah-merahan lagi, jidatnya pun berubah menjadi panas seperti api.

"San-ko... ahhh, San-ko, kau diracun orang..."

Kwa Hong saking bingung dan khawatirnya lalu memeluk Beng San dan menangis sedih. Sementara itu, ia sendiri merasa betapa ada sesuatu yang aneh terjadi dalam tubuhnya. Darahnya mengalir cepat dan panas, napasnya sesak serta mukanya menjadi merah sekali.

"Hong-moi... Hong-moi... jangan menangis... ah, Hong-moi, apa yang terjadi...? Aduh, kau cantik sekali Hong-moi."

Kagetlah Kwa Hong ketika tiba-tiba Beng San memeluknya. Ketika ia memandang, ia melihat pemuda itu memandangnya dengan mata setengah terkatup, sambil mulutnya berbisik-bisik dalam keadaan setengah sadar.

Kwa Hong amat mencinta Beng San. Semenjak pertemuannya dahulu, ia sudah memiliki perasaan luar biasa terhadap Beng San. Makin lama perasaan ini menjadi makin kuat dan akhirnya, pertemuan mereka kembali ketika sudah dewasa, membuat perasaan luar biasa itu berkembang menjadi perasaan cinta kasih yang mesra.

Apa lagi sesudah mendapat kenyataan bahwa Beng San adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu sakti, cinta kasihnya menjadi makin hebat dan ia rela meninggalkan siapa saja, rela melakukan apa saja demi cinta kasihnya terhadap pemuda ini. Sekarang, baru sekarang, ia melihat sikap Beng San yang membalas cintanya.

la tidak tahu bahwa keadaan Beng San dalam setengah sadar, tidak tahu bahwa Beng San berada dalam pengaruh obat mukjijat, tidak sadar pula bahwa dia sendiri pun sudah terpengaruh obat beracun itu.

Betapa pun kuat batin orang, kalau dia masih muda, mudah sekali dia tunduk kepada nafsu. Apa lagi dalam keadaan seperti mereka itu yang terkena racun, dalam keadaan setengah sadar, mudah sekali bagi iblis untuk menguasai hati dan pikiran mereka.

Maka, berbahagialah orang-orang muda yang berbatin teguh, yang kuat untuk menahan nafsu, yang selalu ingat akan susila, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sebaliknya, celakalah mereka yang berbatin lemah!

Masa muda remaja adalah masa yang paling gawat dan paling berbahaya dalam hidup manusia. Justru di masa inilah, masa akil baliq, pada waktu keadaan jasmani manusia sedang berkembang dan di waktu semangat sedang bernyala-nyala, pada waktu manusia mengalami perubahan dari kehidupan kanak-kanak berubah menjadi manusia dewasa, dalam penghidupan paling banyak datang godaan yang beraneka macam.

Dalam menanjaknya usia dewasa ini manusia masih belum banyak mengalami derita pengalaman pahit getir sebagai akibat dari perbuatannya yang hanya menuruti perasaan hati dan nafsu. Oleh karena kurang pengalaman ini membuat dia lalai dan lengah. Jiwa yang belum matang oleh gemblengan hidup penderitaan, membuat hanya melihat hal-hal dari segi keindahannya dan kenangannya belaka. Tidak cukup luas pandangannya, tidak cukup jauh wawasannya dan semuanya ini mengakibatkan pertahanan batin yang amat lemah menghadapi godaan iblis yang selalu mengintai di balik hati perasaannya
.

Orang muda seperti Beng San sesungguhnya tak mudah tergelincir oleh perangkap yang dipasang iblis di mana-mana, yang membahayakan setiap langkah dalam kehidupannya. Semenjak kecil biar pun jauh orang tua, namun boleh dibilang Beng San menemukan keadaan yang amat menguntungkan batinnya. Hidup sebagai kacung di kelenteng dekat dengan orang-orang saleh yang selalu mengutamakan perbuatan baik, selalu mempelajari ilmu filsafat kebatinan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan dan mengharamkan perbuatan maksiat.

Godaan terbesar dan paling berbahaya bagi orang muda, yaitu godaan berupa nafsu pelanggaran susila, sebetulnya tidak akan mudah menundukkannya. la sudah digembleng oleh orang-orang sakti, sudah memiliki dasar batin seorang ksatria utama, kiranya dia akan lebih suka kehilangan nyawanya dari pada melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan dan peri kemanusiaan.

Akan tetapi, malang baginya, pada waktu itu dia sudah kehilangan kesadarannya akibat obat yang tercampur dalam arak dan makanan. Obat mukjijat yang membuat dia lupa diri dan hanya menjadi hamba dari nafsu tidak sewajarnya yang timbul oleh obat beracun itu. Semua ini ditambah lagi oleh keadaan Kwa Hong yang memang mencintanya, seorang gadis muda yang semenjak kecil sudah memiliki sifat hendak menurutkan kata hati sendiri, yang lebih-lebih lagi pada waktu itu juga dipengaruhi oleh racun yang membuat ia menjadi hamba nafsu mukjijat.

Namun, agaknya memang segala macam peristiwa di dunia ini sudah ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, boleh berikhtiar sedapatnya, bahkan sudah menjadi kewajiban manusia untuk berusaha dan berikhtiar, namun akhirnya hanya Tuhan yang menentukan.

Peristiwa yang nampak kecil selalu menjadi sebab dari perkara besar. Setitik bunga api dapat menyebabkan kebakaran sebuah kota. Peristiwa yang terjadi malam itu pun kelak mengakibatkan terjadinya cerita hebat, cerita yang berjudul RAJAWALI EMAS yang akan menjadi cerita tersendiri sebagai lanjutan cerita RAJA PEDANG ini.....

********************

Gemuruh disertai hiruk-pikuk teriakan-teriakan di luar kamar membangunkan Beng San dari tidurnya. Pemuda ini membuka mata dan tubuhnya yang sudah memiliki kepandaian silat itu otomatis melompat turun dari pembaringan, segera siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Kekagetan suara gemuruh itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekagetannya ketika dia melihat keadaan di dalam kamar yang indah ini. Kwa Hong juga tidur di atas pembaringan itu dalam keadaan yang membuat wajah pemuda ini seketika pucat. Ingatan dalam otaknya segera dapat membayangkan kembali apa yang telah terjadi malam tadi.

Kwa Hong juga terkejut mendengar suara gemuruh di luar. Gadis ini membuka mata, bangun duduk dan melihat Beng San sudah berdiri di pinggir pembaringan. Mata gadis ini memandang sayu, bibir mengulum senyum dan kedua pipinya menjadi merah.

Beng San merasa seakan-akan jantungnya ditusuk pedang. Dia terhuyung mundur tiga langkah. Sekarang ingatannya semakin terang dan sambil memekik aneh dia melompat keluar kamar, sekali dorong dia merobohkan daun pintu dan terus meloncat keluar.

Dua orang perwira datang menubruk dengan pedang di tangan. Tapi Beng San segera timbul marahnya, kemarahan luar biasa yang baru sekali ini dia alami selama hidupnya. Tangannya menyambar dan dua orang perwira itu roboh dengan kepala remuk. Baru kali ini Beng San membunuh orang, membunuh dengan sengaja karena kemarahannya.

la berlari terus keluar dari bangunan itu dan kiranya di dalam cuaca pagi yang masih remang-remang itu terjadi peperangan hebat. Benteng itu ternyata diserbu orang dan di sana-sini terjadi perang tanding yang amat hebat.

Semua ini membuat dia berdiri mematung. Dari gerakan orang-orang itu dan menilik dari pakaian mereka, dia dapat menduga bahwa penyerang itu tentulah barisan orang-orang Pek-lian-pai. Dia melihat pula tosu-tosu Hoa-san-pai dan orang-orang Kun-lun-pai!

Kiranya Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai telah bergabung dengan Pek-lian-pai lalu menyerbu benteng ini. Juga dia melihat Lian Bu Tojin sendiri bersama Pek Gan Siansu ikut pula mengamuk, malah dua orang ini menandingi Hek-hwa Kui-bo dan Siauw-ong-kwi. Juga tampak olehnya Thio Bwee ikut berperang di samping Thio Ki dan Kui Lok.

Yang amat mengherankan hatinya, di situ hadir pula nona Lee Giok yang dulu menyamar sebagai nyonya Liong atau yang oleh Pangeran Souw Kian Bi disebut Ji-enghiong. Gadis itu ikut bertempur di samping lima orang gadis lain yang ilmu pedangnya hebat-hebat!

Melihat semua orang gagah ini menyerang barisan pemerintah, hati Beng San semakin perih. Semua orang itu, patriot-patriot sejati, orang-orang gagah perkasa sejati, berjuang untuk negara, mati-matian bertempur untuk mengusir penjajah. Dan dia? Ahh, dia sudah kena dibujuk oleh musuh. Untuk menolong nyawa sendiri dan nyawa Kwa Hong serta dua orang Hoa-san-pai, dia malah sudi berpesta-pora dengan musuh.

Lebih hebat lagi, dia dan Kwa Hong... ahhh, mengapa terjadi hal itu.....?


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner