RAJAWALI EMAS : JILID-02


Hoa-san-pai adalah partai persilatan yang besar dan sudah terkenal semenjak ratusan tahun. Sayang sekali partai besar ini menjelang berakhirnya pemerintahan Goan menjadi berantakan. Semenjak dahulu Hoa-san-pai menggembleng pendekar-pendekar budiman sehingga nama baiknya makin harum saja.

Mungkin sudah kehendak Tuhan bahwa segala apa di dunia ini, sampai nama sekali pun, tidak akan kekal adanya. Ada kalanya naik dan ada kalanya turun, ada pasang surutnya.

Nasib yang menimpa Hoa-san-pai ketika di bawah pimpinan Lian Bu Tojin memang amat menyedihkan. Akibat kesalah pahaman disebabkan hal-hal yang amat berbelit-belit dalam masa perjuangan meruntuhkan Kerajaan Mongol dan mengusir penjajah itu dari tanah air, Ketua Hoa-san-pai ini kehilangan semua muridnya yang paling ia andalkan dan sayang.

Empat orang muridnya yang dahulu terkenal sebagai Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san) sekarang sudah tidak ada lagi. Murid pertama, Kwa Tin Siong, sudah minggat entah ke mana setelah tangannya buntung oleh pedang gurunya, pergi bersama murid ke empat, Liem Sian Hwa. Dua yang lain, yaitu murid kedua dan ke tiga, telah tewas dalam permusuhan dengan Kun-lun-pai yang terjadi akibat kesalah pahaman yang hebat.

Memang masih ada empat orang cucu muridnya, yaitu Kwa Hong yang entah ke mana perginya, tetapi kemudian didengar oleh kakek Ketua Hoa-san-pai itu bahwa Kwa Hong sudah hidup bersama Koai Atong. Cucu murid yang lainnya adaiah Kui Lok yang sekarang menjaga Hoa-san-pai bersama Thio Bwee.

Kakek ini sudah rnengambil keputusan untuk merangkapkan dua orang cucu muridnya ini yaitu Kui Lok dan Thio Bwee menjadi suami isteri. Cucu murid ke empat adalah Thio Ki, yaitu kakak dari Thio Bwee yang kini telah bekerja sebagai kepala perusahaan piauw-kiok (pengawal pengantar barang) di Sin-yang. Juga Thio Ki sudah ia jodohkan dengan murid Raja Pedang Cia Hui Gan, yaitu Nona Lee Giok yang patriotik.

Akan tetapi Lian Bu sangat berduka kalau ia teringat akan muridnya yang terkasih, yaitu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ke manakah perginya dua orang itu? Pula, ia merasa sedih dan kecewa sekali apa bila dia teringat akan Kwa Hong yang kabarnya tinggal di puncak Lu-Liang-san bersama Koai Atong!

Jika perbuatan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa itu dapat dianggap merusak nama dan kehormatan Hoa-san-pai, maka yang merusak itu adalah dua orang murid Hoa-san-pai sendiri. Akan tetapi kalau sampai terdengar orang kang-ouw tentang Koai Atong dan Kwa Hong, bukankah itu berarti bahwa Koai Atong sengaja hendak menghina Hoa-san-pai dan memandang rendah dan ringan kepadanya?

Pikiran inilah yang selalu mengganggu kakek ini dan membuat ia mengambil keputusan untuk rnencari Ban-tok-sim Giam Kong untuk diminta pertanggungan jawabnya terhadap perbuatan Koai Atong dan kalau guru Tibet ini tidak mau mempertanggung jawabkannya, ia sendiri akan mencari Kwa Hong dan Koai Atong di Lu-liang-san. Dan adalah keputusan ini yang membuat pada suatu hari Lian Bu Tojin berhadapan dengan Ban-tok-sim Giam Kong di tepi gurun pasir di luar tembok besar sebelah utara.

Ban-tok-sim Giam Kong adalah seorang hwesio bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam sekali. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, tetapi masih nampak kuat. Tongkat hwesio yang selalu berada di tangannya juga berat, tanda bahwa tenaga hwesio tua ini besar. Sepasang mata hwesio ini memancarkan sinar penuh semangat dan matanya sekarang juga bersinar-sinar ketika dia bertemu dengan Lian Bu Tojin di tempat yang tak disangka-sangkanya itu.

"Omitohud...!" dia mengeluarkan kata-kata pujian sambil merangkapkan kedua tangan ke depan dada, menyembah sebagai tanda hormat. "Angin apa yang meniup Toyu datang ke tempat ini?"

Lian Bu Tojin merangkapkan kedua tangan pula, lalu ia menjura, "Bagus sekali, agaknya memang Thian sudah menghendaki pertemuan kita ini. Losuhu, sengaja pinto mencarimu untuk membicarakan sesuatu urusan amat penting."

"Omitohud, pinceng tidak ingin mendahului kehendak Thian. Akan tetapi, bukankah Toyu mencari pinceng karena urusan muridmu dan muridku?"

"Siancai... siancai...," kata Lian Bu Tojin heran. "Kiranya Losuhu sudah maklum pula akan hal itu. Losuhu, di antara kita ada pertalian persahabatan ketika kita bersama menghadapi bangsa Mongol. Oleh karena itu pula, pinto mohon Losuhu sudi mengingat hubungan baik itu dan suka meluruskan jalan yang bengkok." Kata-kata meluruskan jalan yang bengkok ini berarti membetulkan sesuatu yang salah atau yang tidak wajar.

Giam Kong Hwesio tertawa sambil berdongak, giginya yang masih lengkap dan kuat itu berkilat-kilat putih di ballk kulit mukanya yang hitam.

"Lian Bu-toyu memakai kata-kata halus tetapi maksudnya hendak menyalahkan pinceng dalam hal ini, ha-ha-ha! Sebetulnya, pinceng sendiri pun sangat heran mengapa muridmu yang muda dan cantik jelita itu suka kepada murid pinceng yang bodoh dan gila. Kalau muridmu suka, mengapa hendak menyalahkan pinceng?"

Wajah Lian Bu Tojin yang putih itu berubah agak merah. Benar-benar memalukan sekali sikap Kwa Hong itu, akan tetapi betapa pun juga, ia harus menjaga nama dan kehormatan Hoa-san-pai.

"Pinto meragukan apakah Kwa Hong dengan suka rela ikut dengan muridmu. Harus diakui bahwa kepandaian muridmu itu jauh lebih tinggi dari pada Kwa Hong. Andai kata muridmu itu hendak mengambil Kwa Hong sebagai jodohnya, itu pun harus melalui saluran-saluran yang terhormat. Maka dari itu, Losuhu, telah jelas bahwa muridmu melanggar kesusilaan, menghina Hoa-san-pai. Apa bila Losuhu tidak mau turun tangan sendiri, terpaksa untuk menjaga nama baik Hoa-san-pai, pinto yang akan mewakili Losuhu."

Kali ini Ban-tok-sim Giam Kong tidak tertawa lagi, menarik muka sungguh-sungguh dan berkata, "Lian Bu-toyu, kau enak saja bicara seperti orang yang bersih mulus! Ketahuilah, di dalam urusan antara muridmu dan muridku ini terdapat rahasia yang pinceng sendiri masih belum dapat pecahkan. Kau tahu, Atong selama hidupnya sangat taat dan takut kepadaku, akan tetapi sekali ini dia membangkang dan sama sekali tidak mau kembali kepada pinceng. Ini tidak sewajarnya dan agaknya muridmu itulah yang memaksanya, entah dengan pengaruh apa. Selain dari itu, supaya kau tahu saja, pinceng yang menjadi gurunya tahu betul bahwa diri Koai Atong itu tidak normal lagi, tidak mungkin dia mampu menjadi seorang suami karena pinceng sendiri yang dulu sudah turun tangan mematikan pembangkit nafsunya. Dia akan tetap menjadi kanak-kanak sampai matinya kelak dan tak mungkin dia akan mampu melakukan hubungan dengan wanita sebagai suami isteri. Nah, setelah keadaan seperti ini, lalu sekarang pinceng mendengar dia mati-matian mengaku sebagai suami muridmu, bukankah hal ini aneh sekali?"

Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Orang seperti Ban-tok-sim Giam Kong ini tidak aneh bila melakukan kekejian seperti yang dilakukan terhadap Koai Atong itu dan kata-katanya itu boleh dipercaya. Diam-diam ia merasa heran sekali.

Bukan tidak mungkin kalau sebaliknya Kwa Hong yang mempengaruhi bocah tua itu. Ia mengenal baik Kwa Hong yang keras hati dan tidak mau kalah dalam segala hal. Akan tetapi mengapa Kwa Hong melakukan hal itu?

"Giam Kong Losuhu, kalau begitu, karena hal ini menyangkut muridmu dan muridku, jadi menyangkut nama baik kedua pihak, maka marilah kita berdua pergi ke Lu-liang-san dan sama melihat, sebetulnya apakah yang terjadi di sana dan siapa di antara keduanya itu yang bersalah harus kita hukum."

"Usulmu baik sekali, Toyu."

Berangkatlah dua orang kakek pendeta itu menuju ke Lu-liang-san. Keadaan dua orang kakek ini amat jauh berbeda. Giam Kong Hwesio adalah seorang kakek tinggi besar yang bermuka hitam dan tangannya menyeret sebuah tongkat yang besar dan berat, tongkat hwesio yang kepalanya diukir kepala binatang sakti kilin.

Ada pun Lian Bu Tojin yang beberapa tahun lebih muda dari pada hwesio tua itu adalah seorang pendeta tosu yang tinggi kurus, jenggotnya panjang sampai ke perut, pakaiannya sederhana sekali dan tangannya membawa sebatang bambu yang ringan. Di punggung tosu ini tergantung pedang pusaka Hoa-san-pai.

Walau pun dua orang kakek ini sudah tua sekali, sudah lebih enam puluh tahun, namun berkat tingkat kepandaian mereka yang tinggi, dengan ilmu lari cepat mereka, dalam beberapa hari saja mereka sudah mulai mendekati Bukit Lu-liang-san yang sunyi. Akan tetapi mencari dua orang di atas pegunungan yang banyak puncaknya dan kaya akan hutan-hutan lebat itu bukanlah pekerjaan mudah.

Setelah berkeliaran beberapa hari barulah pada suatu pagi mereka berhasil menemukan Koai Atong. Ini pun kalau Koai Atong tidak sedang memanggang daging harimau kiranya masih belum akan dapat ditemukan oleh dua orang kakek itu.

Asap yang bergulung-gulung itulah yang menarik hati dua orang kakek ini dan akhirnya mereka melihat Koai Atong sedang memanggang daging dalam sebuah hutan yang lebat. Koai Atong tertawa-dan menyanyi seorang diri, nampaknya gembira bukan main.

Giam Kong Hwesio yang menghampiri dengan diam-diam merasa terharu juga. Ia sudah terlalu kenal akan watak muridnya ini dan ia dapat melihat betapa muridnya itu betul-betul merasa bahagia hidupnya. Maka meragulah ia, apakah ia harus mengganggu kehidupan yang begitu tenteram dan bahagia dari Koai Atong? Akan tetapi karena ada urusan yang menyangkut diri Kwa Hong murid Hoa-san-pai, tentu saja ia pun tidak dapat mendiamkan saja.

"Koai Atong, sedang apa kau di sini seorang diri?" tegur Giam Kong Hwesio.

Koai Atong nampak kaget, apalagi setelah menengok ia melihat gurunya bersama Lian Bu Tojin sudah berdiri di depannya. Saking gugupnya ia lalu mendekatkan daging yang baru dipanggangnya itu ke mulut, lalu... digigitnya daging setengah matang yang masih panas sekali itu. Ia seperti lupa diri dan terus makan daging yang masih mengebul itu dengan enaknya sambil kedua matanya memandang kepada dua orang kakek itu, terbelalak.

"Koai Atong, suhu-mu bertanya kenapa tidak kau jawab?" kata Lian Bu Tojin, suaranya terdengar tenang serta penuh kesabaran. Ketua Hoa-san-pai ini memang tidak pernah memperlihatkan kandungan hatinya sehingga di dalam keadaan marah atau duka ia bisa tertawa.

"Aku... aku sedang makan…" jawab Koai Atong gugup. "Suhu dan Totiang... apakah suka makan daging?"

Kalau saja pertanyaan barusan bukan diajukan oleh Koai Atong yang sudah mereka kenal wataknya yang kekanak-kanakan, sudah tentu akan merupakan pertanyaan yang sifatnya menghina. Masa dua orang pendeta yang pantang makan bernyawa ditawari daging?

"Atong, kedatangan pinceng dan Lian Bu-toyu ke sini bukan untuk makan daging, tetapi untuk mencari kau dan Nona Kwa Hong. Kabarnya kau dan Nona Kwa Hong berada di sini, sekarang di mana adanya nona itu?"

Mendengar pertanyaan gurunya, Koai Atong lalu berdiri, mulutnya masih bergerak-gerak makan daging panas.

"Ada keperluan apakah kau mencari isteriku?"

Terbelalak mata Giam Kong Hwesio mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar serta menantang ini. "Atong, apa kata mu? Sejak kapan kau memperisteri dia?"

"Semenjak... sejak lama, entah berapa lama. Enci Hong adalah isteriku dan kelak kalau anaknya terlahir, anak itu adalah anakku!" Otomatis Koai Atong meniru kata-kata yang harus ia janjikan kepada Kwa Hong dahulu.

Mendengar kata-kata ini, dua orang kakek itu saling pandang dan keduanya melangkah heran. Keheranan itu perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan karena mereka berdua menganggap bahwa hal ini benar-benar keterlaluan.

Dua orang bersuami isteri sampai hampir punya anak dan semua itu terjadi di luar tahu guru masing-masing, terjadi begitu saja tanpa ada pengesahan. Benar-benar merupakan tamparan bagi orang yang menjadi gurunya.

"Atong, jangan kau main gila!" bentak Giam Kong Hwesio dengan muka makin menghitam karena menahan kemarahannya. "Benar-benarkah kau menjadi suami Nona Kwa Hong? Jangan berdusta, jawab terus terang!"

Biasanya apabila gurunya sudah membentaknya seperti itu, hati Koai Atong menjadi jeri dan takut, lalu serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi kali ini ia tetap berdiri dan biar pun wajahnya berubah pucat dan tubuhnya menggigil, ia menjawab, "Betul, Suhu. Enci Hong adaiah isteriku, aku suaminya dan anaknya kelak akan menjadi..."

"Tutup mulut!" Giam Kong Hwesio membentak marah sekali. "Atong, lupakah kau bahwa dalam segala hal kau harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pinceng? Diam-diam kau mengaku sebagai suami Nona Kwa Hong, siapa yang memaksamu berbuat demikian?"

"Enci Hong yang meminta begitu, Suhu... dan aku... aku tidak bisa menolaknya, tidak mau aku membikin Enci Hong marah dan berduka."

Giam Kong Hwesio lalu melirik ke arah Lian Bu Tojin, sinar matanya seolah-olah berkata, "Nah, semua adalah kesalahan muridmu!"

Akan tetapi Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang ke sana ke mari, agaknya mencari Kwa Hong.

"Atong, sekarang juga kau harus tinggalkan tempat ini dan ikut bersama pinceng!"

Wajah Koai Atong semakin pucat. "Apa...? Pergi meninggalkan Enci Hong...? Tidak, Suhu. Aku tidak mau, aku tidak bisa berpisah dari Enci Hong. Karena itu aku tidak mau pergi ikut denganmu!"

"Setan! Atong, apakah kau hendak melawan gurumu?"

"Siapa pun juga tak boleh memisahkan aku dengan Enci Hong!" Koai Atong masih tetap membantah.

"Keparat, kalau begitu lebih baik pinceng melihat kau mati!"

Tiba-tiba tubuh yang tinggi besar dari Giam Kong Hwesio itu bergerak dan tahu-tahu dia sudah mengirim serangan maut ke arah kepala Koai Atong.


Ia sudah maklum sampai di mana tingkat kepandaian muridnya ini, yaitu tidak selisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka begitu turun tangan ia segera mengirim pukulan dengan jurus yang mematikan dan yang kiranya tak akan dapat dihindarkan oleh muridnya itu.

Akan tetapi, di luar dugaannya sama sekali, tubuh Koai Atong bergerak sedikit, kakinya menggeser dan kedua lengannya dikembangkan seperti sayap dan... serangan itu hanya mengenai tempat kosong Giam Kong Hwesio terkesiap, bukan karena dihindarkannya serangannya, melainkan cara muridnya itu bergerak menyelamatkan diri. Gerakan kaki dan kedua tangan muridnya itu sama sekali asing baginya.

"Murid murtad, kau sudah mempelajari ilmu silat lain pula? Nah, pergunakan ilmu silat barumu untuk menghadapi ini!"

Kembali Giam Kong Hwesio menyerang, kini dia menyerang sambil mengerahkan tenaga Jing-tok-ciang yang luar biasa hebatnya. Akan tetapi ia kembali kecele sampai berkali-kali. Serangannya susul-menyusul sampai dua puluh empat jurus tanpa berhenti, akan tetapi kesemuanya itu dapat dihindarkan dengan arnat mudahnya oleh Koai Atong.

Melihat hal ini tadinya Lian Bu Tojin sendiri mengira bahwa Giam Kong Hwesio hanya menggertak muridnya dan masih merasa sayang untuk menghukumnya. Tetapi sesudah melihat betapa Giam Kong Hwesio makin lama makin marah dan serangan-serangannya betul-betul amat berbahaya, ia mulai memperhatikan dan amat heranlah hatinya sendiri menyaksikan betapa luar biasa dan anehnya gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Koai Atong itu.

Tubuh Koai Atong yang tinggi besar itu agak membungkuk, kakinya berloncatan ke sana sini, kedua lengannya dikembangkan seperti burung yang hendak terbang. Dan setiap kali serangan datang selalu otomatis kaki dan tangannya bergerak secara aneh, tetapi selalu dapat menghindarkan semua pukulan pula.

"Kurang ajar, kau benar-benar hendak melawan gurumu sendiri? Atong, kalau begitu biar pinceng mengadu nyawa denganmu!" seru Giam Kong Hwesio yang menjadi marah luar biasa.

Tiba-tiba terdengar suara merdu dari atas, "Koai Atong, hwesio buruk itu bukan gurumu lagi, balaslah dengan Jing-tok-ciang yang baru kita latih kemarin!"

Wajah Koai Atong berseri-seri mendengar suara ini, lalu ia pun menjawab, "Baiklah, Enci Hong. Ehhh, hwesio buruk, kau bukan guruku lagi dan sekarang kau rebahlah!" Sambil berkata demikian Koai Atong memutar-mutar lengan kiri hendak menggunakan pukulan Jing-tok-ciang.

Tentu saja serangan ini dipandang ringan oleh Giam Kong Hwesio. Dialah yang dahulu menciptakan ilmu Pukulan Jing-tok-ciang ini, masa kini ia hendak diancam dengan ilmu pukulan ciptaannya itu? Hampir ia tertawa melihat bekas muridnya memutar-mutar tangan kirinya. Tepat seperti yang dahulu dia ajarkan, tangan kiri Koai Atong mendorong dengan tenaga Jing-tok-ciang.

Tentu saja sebagai penciptanya, Giam Kong Hwesio tahu cara pemecahannya, bahkan tahu cara untuk membalas secara hebat. Diam-diam ia mengerahkan tenaga dan dengan Jing-tok-ciang pula tapi dengan tenaga ‘menyedot’ ia menangkis dengan tangan kanannya kepada dorongan tangan kiri muridnya itu.

Dua tangan bertemu dan saling menempel. Giam Kong Hwesio sudah merasa girang karena kali ini dia pasti akan dapat merobohkan bekas muridnya itu. Siapa kira tiba-tiba tangan kanan Koai Atong bergerak mendorong dan... ternyata tangan kanan inilah yang mengandung tenaga Jing-tok-ciang sepenuhnya sedangkan tangan kirinya tadi hanyalah gertak atau tipuan belaka.

"Bukkk!"

Tubuh Giam Kong Hwesio terhuyung-huyung, matanya terbelalak melotot memandang kepada Koai Atong, kemudian ia roboh terguling dengan mata masih melotot akan tetapi putus nyawanya. Hwesio Tibet ini sudah tewas di tangan muridnya sendiri, bahkan oleh ilmu pukulan yang dulu ia ciptakan sendiri.

Akan tetapi Jing-tok-ciang yang dipergunakan oleh Koai Atong ini telah berubah banyak. Gerakannya sudah dicampur dengan gerakan aneh yang dia pelajari bersama Kwa Hong dari burung rajawali emas!

Lian Bu Tojin sejak tadi memandang ke atas, ke arah suara. Ternyata Kwa Hong sedang duduk di atas punggung seekor burung rajawali yang berbulu kuning emas. Agaknya burung itu tadi terbang mendatang dengan gerakan sayap yang amat halus sehingga tidak menimbulkan suara dan telah hinggap di cabang dengan Kwa Hong di punggungnya.

Hampir Lian Bu Tojin tidak mengenal muridnya ini lagi. Kwa Hong memakai pakaian serba putih, tidak merah seperti dulu lagi, dan ia duduk di atas punggung rajawali dengan lagak angkuh dan agung seperti seorang ratu duduk di atas singgasana dari emas!

Sama sekali Kwa Hong tidak pernah melirik ke arah Lian Bu Tojin. Begitu melihat Giam Kong Hwesio roboh dan tewas, Kwa Hong tertawa dengan suara yang membikin bulu tengkuk berdiri. Dalam pendengaran Lian Bu Tojin, suara itu setengah tertawa setengah menangis.

Betapa pun juga, melihat Koai Atong membunuh gurunya sendiri, Lian Bu Tojin menjadi marah sekali.

"Koai Atong, benar-benar kau murid durhaka. Berani kau membunuh gurumu sendiri?"

Sementara itu, Koai Atong berdiri seperti patung memandangi tubuh suhu-nya yang rebah telentang dengan mata mendelik dalam keadaan tak bernyawa lagi itu. Sekarang, setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Lian Bu Tojin, Koai Atong segera berlutut sambil menangis menggerung-gerung.

"Suhu... Suhu... kenapa kau diam saja? Suhu... apakah betul-betul kau mati? Ahhh, Suhu, jangan tinggalkan murid seorang diri di dunia ini. Suhu... jangan mati, Suhu...!"

Tiba-tiba saja berkelebat bayangan putih dari atas pohon dan tahu-tahu Kwa Hong sudah berdiri di dekat Koai Atong, memegang pundak Koai Atong dan diguncang-guncang keras.

Lian Bu Tojin diam-diam merasa kaget dan kagum menyaksikan gerakan Kwa Hong saat melayang turun tadi, seperti seekor burung saja gerakannya dan demikian ringannya! Dari mana gadis ini mempelajari semua itu?

"Koai Atong, apakah kau sudah gila? Hwesio buruk ini sudah mati, kenapa kau menangis segala macam?"

Koai Atong bangkit berdiri sambil menyusuti air matanya, "Dia adalah guruku, Enci Hong. Dia guruku yang baik... uhh-uhhhuu... jika dia mati, bagaimana dengan diriku? Uhuhuu..."

"Goblok! Apa kau lupa ada aku di sini. Kau boleh pilih, mau ikut gurumu mampus atau mau hidup bersama aku di sini?"

Seketika berubah wajah Koai Atong. Ia nampak gugup dan cepat sekali tersenyum dan menyusut kering air matanya, "Ohh, benar juga. Aku keliru tadi, Enci Hong. Biarkan dia mampus, hwesio buruk itu yang mau membawa aku pergi darimu. Ha-ha-ha!"

Mendengar dan melihat ini semua, Lian Bu Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekarang jelaslah baginya bahwa kesalahannya bukan terletak pada diri Koai Atong, melainkan sepenuhnya adalah karena perbuatan Kwa Hong. Terang bahwa Koai Atong hanya menurut saja apa kehendak Kwa Hong.

Yang ia tidak mengerti kenapa Kwa Hong melakukan ini semua? Mungkinkah Kwa Hong jatuh cinta kepada orang seperti Koai Atong? Ia menggeleng-gelengkan kepala. Kalau ada kemungkinan ini tentu ada kemungkinan lain, yaitu bahwa Kwa Hong telah menjadi gila!

"Ehh, tosu tua. Mau apa kau datang ke tempat kami ini?"

Lian Bu Tojin memandang kepada Kwa Hong dengan mata terpentang lebar sekali. Apa benar ini Kwa Hong gadis cucu muridnya yang dulu hanya takut kepadanya seorang?

"Hong Hong, benar-benarkah kau sudah lupa kepada pinto? Lupakah kau kepada kakek gurumu sendiri? Pinto adalah Lian Bu Tojin dari Hoa-san-pai, Hong Hong, setelah kakek gurumu datang, apakah kau tidak lekas berlutut memberi hormat?"

Koai Atong berkata, "Enci Hong, dia ini Ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin, kakek gurumu yang galak, Lekas berlutut, kau nanti mendapat marah bisa sulit!"

Akan tetapi tiba-tiba Kwa Hong tertawa bergelak-gelak, lalu berkata dengan nada suara galak, "Lian Bu Tojin, siapa tidak tahu bahwa kau adalah Ketua Hoa-san-pai yang mulia dan gagah perkasa, seorang guru besar yang hendak membunuh murid sendiri kemudian membuntungi lengan kiri murid sendiri? Hah, kau menjemukan hatiku. Tosu tua bangka bau, lekaslah pergi dari sini sebelum timbul seleraku untuk membuntungi tanganmu atau bahkan lehermu!"

Sesabar-sabarnya manusia, masih ada batasnya. Kalau yang memakinya itu seorang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, mungkin Lian Bu Tojin takkan melayaninya dan akan pergi begitu saja. Akan tetapi Kwa Hong adalah cucu muridnya. Seorang cucu murid berani memaki-maki kakek gurunya, hal ini benar-benar di luar batas kesabaran Lian Bu Tojin.

"Kwa Hong, kau benar-benar kurang ajar sekali. Kau sebagai anak murid Hoa-san-pai sudah mengotorkan serta mencemarkan nama Hoa-san-pai dengan perbuatanmu yang kotor tak tahu malu ini. Percuma pinto menjadi Ketua Hoa-san-pai jika tidak bisa memberi hukuman kepadamu!" Setelah berkata begitu, dengan amarah meluap-luap Lian Bu Tojin lalu menerjang maju sambil memutar tongkat bambunya, melakukan serangan kepada Kwa Hong.

Dengan amat mudah Kwa Hong mengelak, lantas membalas dengan pukulan yang aneh sekali gerakannya, dari samping. Melihat betapa gerakan tangan itu ketika memukul agak diputar, tak salah lagi tentu ini sebuah pukulan Jing-tok-ciang, akan tetapi juga lain sekali gerakannya dengan Jing-tok-ciang dari Giam Kong Hwesio yang pernah dilihat oleh Lian Bu Tojin.

Betapa pun juga Lian Bu Tojin tidak berlaku sembrono dan mengelak sambil menotokkan ujung tongkat bambunya ke arah jalan darah di pinggang bekas cucu murid itu. Lagi-lagi Kwa Hong mengelak dan diam-diam Lian Bu Tojin menjadi kagum. Gerakan Kwa Hong ini persis gerakan Koai Atong ketika mengelak dari serangan Giam Kong Hwesio tadi.

Gerakannya sederhana tapi aneh dan cepat bukan main, sedikit saja pindahkan kaki dan kembangkan kedua lengan, serangan yang sulit-sulit sudah dapat dihindarkannya. Dilihat sepintas lalu bagaikan Ilmu Silat Ho-kun dari Siauw-lim-si, akan tetapi kedudukan kakinya berbeda, lagi pula gerakan ini mengandung kegagahan yang tak dapat disamakan dengan burung ho (bangau) dari Ilmu Silat Ho-kun.

Karena tidak dapat mengenali ilmu silat apa yang dipergunakan oleh Kwa Hong untuk menghadapi serangan-serangan tongkat bambunya, kakek Ketua Hoa-san-pai itu menjadi penasaran sekali. Apalagi kalau diingat bahwa ia tadi menyerang dengan menggunakan senjata walau pun hanya sebatang tongkat bambu, sedangkan bekas cucu muridnya itu bertangan kosong!

Alangkah akan malunya kalau ada orang yang mendengar bahwa dia, Ketua Hoa-san-pai, menggunakan senjata tongkatnya yang sudah terkenal, dalam belasan jurus masih tidak mampu merobohkan cucu muridnya sendiri yang bertangan kosong.

Mengingat hal ini, Lian Bu Tojin lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu silatnya yang paling tinggi, inti dari pada Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang karena sulitnya memang belum pernah ia turunkan kepada Kwa Hong. Hanya ayah Kwa Hong, murid pertama dari Hoa-san-pai, Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong saja yang pernah mempelajari ilmu pedang ini, tapi juga belum sempurna betul.

Bukan main hebatnya ilmu pedang ini. Meski hanya dimainkan dengan sebatang tongkat bambu, akan tetapi bahayanya bukan main. Tongkat bambu itu berubah menjadi segulung sinar yang menyambar-nyambar dan mengurung diri Kwa Hong dari segala jurusan.

Tadi Kwa Hong selalu berhasil menghindarkan diri dari serangan bekas kakek gurunya karena ia memang sudah mengenal ilmu silat Hoa-san-pai dengan baik. Seperti juga Koai Atong, selama beberapa bulan di dalam hutan dia sudah berhasil mempelajari banyak gerakan dari burung rajawali emas itu dan bersama-sama Koai Atong yang memang amat cerdas dalam hal ilmu silat, mereka telah berhasil mengambil intisari dari pada gerakan-gerakan burung aneh itu sehingga dapat menggunakan dalam pertempuran.

Akan tetapi yang dapat mereka petik dalam beberapa bulan ini hanya gerakan mengelak saja. Dan itu pun belum sempurna betul, sungguh pun memang sudah amat hebat kalau dipergunakan dalam pertempuran.

Sekarang setelah Lian Bu Tojin mengeluarkan ilmu pedang yang menjadi inti dari pada Hoa-san Kiam-hoat, Kwa Hong menjadi terkejut. Tongkat bambu itu mengeluarkan hawa dingin dan membuat matanya berkunang. Baru ia tahu sekarang bahwa kakek gurunya ini, Ketua Hoa-san-pai memang tidak mempunyai nama kosong belaka.

Dia mengeluarkan pekik menyeramkan dan kini menggunakan segala ingatannya untuk mulai meniru gerakan-gerakan dari burung rajawali emas. Bukan hanya gerakan untuk mengelak dari bahaya, juga sedikit-sedikit ia mulai menggunakan gerakan menyerang dari burung itu.

Kedua kakinya kadang-kadang melompat dan menerjang dalam tendangan-tendangan sebagai pengganti kedua kaki burung kalau mencakar dan menendang, kedua tangannya secara aneh dan tiba-tiba menghantam dari samping seperti gerakan sayap dan kadang-kadang menotok lurus dari depan seperti gerakan patuk burung.

Bagaimana pun juga, Kwa Hong menjadi girang karena dia dalam beberapa puluh jurus gerakannya mengelak masih berhasil menyelamatkan dirinya dari ancaman senjata kakek itu. Akan tetapi, makin lama semakin terasa olehnya betapa gulungan sinar itu semakin menekan dan mengurung semakin rapat sehingga sudah tak mungkin lagi baginya untuk membalas. Repot juga kalau harus terus-menerus mengelak dari sinar tongkat yang amat berbahaya itu.

"Koai Atong, bantu aku!" Akhirnya Kwa Hong tidak tahan dan minta bantuan temannya.

Koai Atong mengeluarkan suara melengking keras meniru suara lengking burung rajawali, kemudian tubuhnya yang tinggi besar itu menerjang maju sambil tangannya mengirimkan pukulan Jing-tok-ciang ke arah tubuh kakek Ketua Hoa-san-pai.

Lian Bu Tojin terkejut juga ketika merasa ada angin dingin menyambar dahsyat dari arah samping. Cepat ia mengelak dan memutar tongkatnya menotok sekaligus ke tiga tempat berbahaya di tubuh Koai Atong.

Tetapi sambil terkekeh Koai Atong mengelak dua kali, kemudian menangkis sekali tongkat bambu itu dengan sabetan lengannya dari samping. Lian Bu Tojin kaget ketika merasa betapa sabetan itu mengandung tenaga yang amat dahsyat dan lebih-lebih lagi kagetnya ketika melihat bahwa ujung tongkat bambunya telah remuk!

"Keparat, hari ini pinto harus memberi hajaran kepada kalian berdua!"

Lian Bu Tojin berseru sambil mencabut keluar pedang pusakanya. Cahaya berkelebat menyilaukan pada waktu pedang pusaka itu tercabut. Inilah pedang pusaka Hoa-san-pai (Hoa-san Po-kiam) yang menjadi tanda kekuasaan. Sejak Hoa-san-pai didirikan, pedang ini turun-temurun berada di tangan para ketua Hoa-san-pai.

Semenjak dulu, biasanya pedang pusaka ini hanya dipergunakan untuk upacara-upacara peringatan untuk menghormati para ketua Hoa-san-pai dan sangat jarang dipakai untuk bertempur. Akan tetapi kali ini karena menghadapi lawan berat dan pula harus menjaga nama baik Hoa-san-pai, maka Lian Bu Tojin tidak ragu-ragu lagi untuk menghunusnya dan mempergunakannya.

Memang pada hakekatnya tingkat ilmu kepandaian dua orang itu, Koai Atong dan Kwa Hong masih jauh di bawah tingkat Lian Bu Tojin. Jika tadi Koai Atong berhasil membunuh gurunya adalah karena Giam Kong Hwesio sama sekali tidak pernah menyangka bahwa muridnya sudah mendapatkan kepandaian yang sedemikian anehnya, padahal menurut tingkat, tentu saja Koai Atong masih belum dapat menyamai gurunya.

Walau pun Koai Atong dan Kwa Hong mendapatkan ilmu yang amat mukjijat, yaitu dari gerakan burung rajawali emas itu, namun mereka baru berlatih beberapa bulan saja. Lagi pula mereka baru berlatih gerakan untuk mempertahankan diri, maka mereka pun hanya kuat sekali dalam hal ini. Untuk balas menyerang ternyata ilmu kepandaian mereka masih belum dapat menyamai tingkat Lian Bu Tojin.

Apalagi sekarang mereka berdua bertangan kosong menghadapi Lian Bu Tojin yang amat marah dan yang bersenjatakan pedang pusaka Hoa-san-pai yang ampuh sekali itu. Meski pun mereka selalu mampu menghindar dari sambaran pedang, namun untuk membalas benar-benar merupakan hal yang amat sulit. Jika dibiarkan saja harus terus menghadapi gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata ini, akhirnya tentu salah seorang di antara mereka akan terluka atau bahkan terbunuh.

"Kim-tiauw-heng! Hayo kau bantu kamil" Tiba-tiba Kwa Hong berteriak dan mengeluarkan suara bersuit nyaring.

Lian Bu Tojin terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sinar kuning emas berkelebat dari atas dan tahu-tahu ia sudah diserang secara bertubi-tubi oleh sepasang cakar, sebuah patuk dan sepasang sayap. Serangan ini hebat luar biasa, akan tetapi sebagai seorang ahli, ia tidak menjadi gugup, malah memusatkan gerakan pedangnya menjadi sebuah lingkaran untuk menghantam ke arah burung rajawali itu.

Hebatnya, walau pun tadinya menyerang dengan dahsyat, begitu menghadapi serangan maut dari pedang pusaka itu, burung rajawali ini dapat secara aneh dan cepat sekali merubah gerakannya. Sekali melejit ia dapat menyelinap di antara gulungan sinar pedang dan berhasil menyelamatkan diri, lalu terbang berputaran di atas kepala Lian Bu Tojin, menanti kesempatan baik untuk menyerang lagi.

"Kim-tiauw-heng, kau rampas pedangnya!" kembali Kwa Hong berseru.

Lian Bu Tojin mengira bahwa ucapan ini hanya gertakan saja. Ia tidak mengenal rajawali emas. Burung itu lain dengan burung-burung biasa. Agaknya dulu pernah dipelihara orang sakti maka burung ini mudah sekali menangkap perintah manusia.

Begitu mendengar seruan ini, ia lalu menyambar-nyambar dan sekarang ia benar-benar berusaha merampas pedang, memukulkan kedua sayapnya ke arah kepala Lian Bu Tojin disusul cengkeraman-cengkeraman kedua kakinya ke arah pedang pusaka Hoa-san-pai!

Barulah hati Lian Bu Tojin amat terkejut. Menghadapi dua orang murid murtad itu sudah merupakan hal yang bukan ringan karena mereka memiliki ilmu mengelak yang benar-benar membuat ia sukar merobohkan mereka. Sekarang ditambah lagi seekor burung yang demikian dahsyat serangannya, benar-benar ia mengeluh di dalam hatinya.

Pada saat dengan gerakan-gerakan aneh Kwa Hong dan Koai Atong maju mendesaknya sedangkan burung itu tiada hentinya menyambar-nyambar di atas kepalanya, mau tak mau Lian Bu Tojin berseru, "Celaka...!"

Karena kemarahannya ditujukan kepada Kwa Hong, maka dengan nekat orang tua ini lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Kwa Hong. Biarlah aku mati asal aku dapat lebih dahulu membunuhnya agar nama baik Hoa-san-pai dapat dipertahankan, pikir kakek ini.

Serangannya hebat sekali. Biar pun Kwa Hong sudah mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali emas, dengan gesit menggeser ke sana ke mari, namun ke mana saja dia bergerak, ujung pedang pusaka itu selalu mengikutinya dan mengarah kepada bagian-bagian tubuhnya yang paling berbahaya! Ketika mendapatkan kesempatan baik Lian Bu Tojin mempercepat gerakannya. Tanpa mempedulikan lagi bagian tubuhnya yang lain terbuka untuk masuknya serangan, ia menerjang dan maju menusuk leher Kwa Hong dengan sebuah tikaman maut!

Kwa Hong menjerit ngeri, namun masih ingat untuk menggerakkan kakinya secara aneh sambil melempar diri ke kiri. Namun ujung pedang di tangan Lian Bu Tojin masih terus mengejar lehernya.

Pada saat itu pula Koai Atong menghantam dari samping dengan pukulan Jing-tok-ciang. Keras sekali pukulan ini dan tubuh Lian Bu Tojin sampai tergoyang-goyang, namun tetap saja pedangnya ditusukkan terus. Andai kata ia tidak terpukul oleh pukulan Jing-tok-ciang begitu kerasnya, tentu nyawa Kwa Hong tidak dapat diselamatkan lagi. Sekarang karena pukulan yang hebat ini, tangannya tergetar dan tusukan pedangnya meleset dan hanya menancap di pundak Kwa Hong.

Gadis itu menjerit kesakitan dan pada saat itu dari atas menyambar bayangan kuning emas, kemudian sebuah sayap besar menghantam kepala Lian Bu Tojin. Kakek ini biar pun sudah terluka parah oleh pukulan Koai Atong, masih dapat mengangkat tangan kiri menangkis. Hantaman sayap demikian hebatnya, sama sekali tidak terduga oleh Lian Bu Tojin hingga tubuhnya terlempar sejauh empat meter lebih dan tahu-tahu pedangnya yang ia pakai menusuk Kwa Hong tadi telah berpindah ke dalam paruh si Rajawali Emas!

Kwa Hong cepat mengambil pedang pusaka itu dari paruh burungnya, lalu ia terhuyung-huyung maju sambil mendekap pundaknya yang mengucurkan darah. Ada pun Koai Atong ketika melihat Kwa Hong terluka dan berdarah, menjadi marah sekali. Sambil memekik keras ia menubruk maju hendak menyerang Lian Bu Tojin lagi.

Akan tetapi kakek ini sudah duduk bersila mengatur napas karena luka di dadanya akibat pukulan Jing-tok-ciang amat hebatnya. Agaknya ia takkan dapat menghindarkan bahaya maut lagi kalau Koai Atong menyerangnya.

"Jangan bunuh dia!" tiba-tiba Kwa Hong membentak.

Koai Atong kaget dan menahan pukulannya, dengan heran ia mundur memandang Kwa Hong. Kwa Hong yang kelihatan menyeramkan karena pundaknya mengucurkan darah yang membasahi bajunya itu, tersenyum dengan muka pucat, lalu berkata,

"Jangan bunuh dia, enak benar kalau dia mampus. Biar dia menderita, biarlah dia tahu rasanya bagaimana kalau orang terhina, bagaimana rasanya tangan dibikin buntung." Sambil berkata demikian tiba-tiba tangannya yang memegang pedang bergerak menyabet dan... tangan kanan Lian Bu Tojin sebatas pergelangannya terbabat buntung!

Kakek itu membuka matanya, menarik napas panjang lalu berdiri. Dengan tangan kirinya ia memijat pada beberapa tempat di lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah sehingga darahnya tidak mengucur terus. Kemudian ia memandang ke arah Kwa Hong dengan sinar mata yang berubah seakan-akan kilat menyambar sehingga untuk sejenak Kwa Hong tertegun dan terkesima. Betapa pun juga, pengaruh yang keluar dari sinar mata itu membangkitkan kenangan lama dan membayangkan pengaruh kakek itu atas dirinya bertahun-tahun yang lalu.

Koai Atong tertawa, "He-heh-heh, tosu tua, kau datang bersama hwesio itu, kalau pergi jangan lupa membawa temanmu itu bersama!" Maksud Koai Atong dengan kata-kata ini bukan sekali-kali untuk mengejek atau menggoda, melainkan dengan maksud hati hendak menyenangkan Kwa Hong.

Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa dan ucapan Koai Atong ini menguntungkan Kwa Hong karena seketika sinar mata kakek itu menjadi biasa kembali. Lian Bu Tojin lalu memungut buntungan tangannya dari atas tanah, kemudian dengan lengan kiri ia memanggul tubuh Giam Kong Hwesio lalu berjalanlah ia cepat meninggalkan tempat itu.

Benar-benar hebat sekali Ketua Hoa-san-pai ini. Lukanya akibat pukulan Jing-tok-ciang dari Koai Atong tadi hebat bukan main, ditambah lagi tangan kanannya buntung, namun sedikit pun dia tidak pernah merintih, malah masih dapat pergi cepat sambil memondong jenazah Giam Kong Hwesio dan membawa buntungan tangannya!

Kejadian ini cukup hebat sehingga untuk beberapa lama Kwa Hong termenung, kemudian baru ia merawat luka di pundaknya. Diam-diam Kwa Hong girang sekali karena sekarang terbukti bahwa latihan-latihan yang mereka lakukan dengan ilmu silat yang gerakannya mengambil intisari dari gerakan rajawali emas itu benar-benar tadi telah memperlihatkan kehebatannya.....

********************


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner