RAJAWALI EMAS : JILID-04


Menjelang pagi, di antara suara gemuruh air terjun, terdengar kicau burung dari luar. Kui Lok serta Thio Bwee baru saja sadar dari semedhinya, dan sekarang mereka menikmati pendengaran-pendengaran yang aneh itu.

Suara air terjun, desir angin, kicau burung, kokok ayam hutan, betul-betul mendatangkan ketenangan dan mendatangkan suasana penuh damai dan tenteram di dalam hati. Yang amat mengherankan mereka, bagaimana suara-suara penghuni hutan itu dapat terdengar dari dalam kamar itu. Lama mereka masih duduk termenung, tak merasa betapa matahari makin lama makin terang cahayanya.

Ada angin bertiup dari arah pintu dan lampu kecil itu padam. Tapi kamar ini tidak menjadi gelap karena ternyata bahwa cahaya matahari sudah sampai juga ke tempat itu. Kui Lok merasa tidak enak apa bila diam saja di situ, karena itu sambil memberanikan hatinya dia mengajak Thio Bwee untuk keluar dari kamar. Begitu keluar dari kamar telinga mereka mendengar suara orang bicara, suaranya parau dan jelas,

"Kenapa tidak kau bunuh saja? Huh, kau sudah ingin keluar dari sini agaknya! Tua bangka bodoh!"

Mendengar ini, Kui Lok dan Thio Bwee bergidik. Akan tetapi dengan nekat mereka malah menuju ke arah suara dan di dalam sebuah ruangan batu mereka melihat seorang kakek tinggi kurus sedang duduk bersila dan menuding-nuding ke arah hidungnya sendiri sambil memaki-maki! Kakek itu rambutnya panjang sekali, dibiarkan terurai sampai ke pahanya, pakaiannya sederhana dari kain kasar berwarna putih.

"Apa kau kasihan melihat pemuda ganteng? Ataukah kau jatuh hati melihat gadis cantik manis? Aha, bukan semua itu, kau tergila-gila untuk sekali lagi melihat manusia ramai! Waah, tak tahu malu, tua bangka gila!"

Orang tua itu seakan-akan tidak melihat kedatangan Kui Lok dan Thio Bwee.

Dua orang muda itu cepat berlutut setelah mereka memasuki ruangan dan Kui Lok segera berkata, ''Teecu berdua Kui Lok dan Thio Bwee datang menghadap Locianpwe."

Pemuda itu tak berani menyebut supek karena selama hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Lian Ti Tojin, mana dia tahu apakah kakek ini betul supek-nya itu ataukah bukan?

Tanpa menengok ke arah mereka kakek itu tiba-tiba saja bertanya, "Kalian masih punya hubungan apa dengan Lian Bu?"

"Beliau adalah Suhu teecu berdua...," kata Kui Lok, masih ragu-ragu apakah orang ini benar-benar tokoh aneh dari Hoa-san-pai yang selama ini merupakan iblis yang sangat ditakuti oleh seluruh anggota Hoa-san-pai.

"Kau jangan bohong! Lian Bu hanya lebih muda beberapa tahun dariku. Sebagai Ketua Hoa-san-pai masa mempunyai murid-murid begini muda dan tidak becus apa-apa?"

"Teecu berdua... tadinya memang cucu-cucu murid, tapi akhir-akhir ini berlatih langsung di bawah petunjuk Lian Bu Tojin suhu."

"Tidak becus... tidak becus… he, orang-orang muda, apakah gurumu tidak memberi tahu bahwa siapa pun tidak boleh datang ke Im-kan-kok? Bahwa siapa pun yang mendatangi tempat ini akan kubunuh mampus?" pertanyaan ini diucapkan dengan suara kereng.

"Teecu memang sudah tahu... dan sekiranya Locianpwe ini benar adalah Supek Lian Ti Tojin, teecu berdua hanya mohon ampun..."

"Kalian sudah tahu tapi berani juga datang ke sini?"

Sebelum Kui Lok dan Thio Bwee dapat melihat apa yang dilakukan kakek itu, tahu-tahu mereka berdua sudah terguling dan pingsan lagi! Mereka tadi hanya melihat kakek tua itu menggerakkan lengan kanannya dan tahu-tahu mereka roboh tidak ingat apa-apa.

Pada saat mereka sadar kembali, kakek itu masih duduk bersila seperti tadi dan Kui Lok segera menolong Thio Bwee. Keadaan mereka makin payah karena selain terluka pundak mereka dan dua kali dipukul roboh, juga semenjak kemarin perut mereka kosong sama sekali.

Kui Lok girang bahwa Thio Bwee juga segera sadar kembali dan agaknya pukulan jarak jauh dari kakek itu hanya membuat mereka roboh dan pingsan saja, namun tidak teluka hebat. Kedua orang muda ini heran mengapa kakek itu tidak membunuh mereka.

"Anak murid Hoa-san-pai sampai terluka oleh Jing-tok-ciang (Racun Hijau)..., hemmm, memalukan sekali...!" Kakek itu berkali-kali mengucapkan kata-kata ini seorang diri, sedikit pun tidak menoleh ke arah dua orang muda itu.

Mendengar ini, timbul harapan dalam hati Kui Lok. Serta-merta ia berlutut di depan kakek itu dan berkata, "Teecu berdua datang menghadap Supek untuk memohon pertolongan Supek... Hoa-san-pai terancam bahaya kemusnahan. Supek harap maklum bahwa Suhu telah tewas terbunuh orang..."

"Hemmm, tidak sejak dulu-dulu terbunuh orang sudah amat mengherankan. Sebodoh dia menjadi ketua, hemmm..."

Bingung dan mendongkol juga hati Kui Lok melihat sikap orang yang menjadi supek-nya ini. Benar-benar berwatak aneh dan luar biasa.

"Supek, tidak saja Suhu sudah tewas, akan tetapi musuh besar itu juga menewaskan sepuluh orang suheng..."

"Gurunya tolol mana mungkin murid-muridnya tidak goblok? Jika mampus karena ketidak becusan sendiri, untuk apa kau ceritakan kepadaku?" kakek itu memotong tanpa menoleh kepada Kui Lok.

"Supek, musuh itu masih merampas pedang pusaka Hoa-san-pai dan sekarang malah menduduki Hoa-san-pai dan mengangkat diri sendiri sebagai ketua!"

Untuk sejenak kakek itu diam tak bergerak dan tak bersuara seakan-akan kaget juga dan berpikir. Akan tetapi segera ia mengangguk-angguk dan berkata, "Biar, lebih baik begitu! Biar pun murid Hoa-san-pai sendiri yang menjadi ketua kalau tidak becus macam Lian Bu, untuk apa? Biarlah dipegang orang lain, tentu lebih lihai dari Lian Bu dan lebih bijaksana!"

Kui Lok tercengang dan habis akal. Thio Bwee sejak tadi diam saja, akan tetapi hatinya panas bukan main.

"Sudahlah, Suheng, untuk apa bicara lagi kepada seorang murid Hoa-san-pai yang tidak berbudi? Kalau didengar kata-katanya, apa sih bedanya dia dengan iblis betina Kwa Hong yang sudah merampas kedudukan Suhu? Keduanya sama-sama murid Hoa-san-pai yang murtad dan khianat!"

Tiba-tiba saja kakek aneh itu menoleh ke arah mereka dan dua orang muda itu hampir mengeluarkan suara jeritan saking terkejut dan ngerinya. Nampak muka kakek itu seperti bukan muka manusia lagi, akan tetapi lebih mirip muka tengkorak! Muka itu sama sekali tidak ada dagingnya, hanya tulang tengkorak terbungkus kulit kering. Mulutnya terbuka kosong, lubang hidungnya menjadi satu dan sepasang matanya bersembunyi amat dalam sehingga sepintas lalu seakan-akan kedua lubang matanya itu kosong saja!

"Apa yang kau bilang?" tanyanya dan sepasang biji mata yang bersembunyi dalam-dalam di kepala itu mengintai kepada Thio Bwee, amat tajam menakutkan.

"Oh... tidak... tidak..." Thio Bwee memalangkan lengan kanan di depan mukanya sambil mundur-mundur ketakutan.

Mulut yang ompong kosong itu terbuka lebar, lalu mengeluarkan suara ketawa yang amat menyeramkan, kemudian disambung kata-katanya dengan suara kereng, "Bocah, coba katakan lagi. Betulkah yang menewaskan Lian Bu dan yang merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai adalah seorang murid Hoa-san-pai sendiri?"

Karena Thio Bwee masih belum dapat menguasai dirinya, Kui Lok cepat berkata, "Betul sekali, Supek. Musuh besar itu malah seorang gadis muda dan masih terhitung saudara seperguruan teecu berdua. Akan tetapi dia telah murtad, menikah dengan seorang ahli racun hijau bernama Koai Atong kemudian bersama suaminya itu mengacau Hoa-san-pai dan merampas kedudukan ketua." Lalu secara singkat namun jelas Kui Lok menceritakan kejadian hebat yang menimpa Hoa-san-pai.

"Ha-ha, aku mau lihat! Mau lihat macam apa bocah yang berani menyaingi Lian Ti Tojin dalam hal pengkhianatan terhadap partai itu. Apakan dia selihai aku? Ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu ia telah meloncat sampai ke pintu ruangan.

Sekarang tampak oleh Kui Lok dan Thio Bwee betapa tubuh kakek itu pun hampir sama dengan keadaan mukanya, kurus kering seperti rangka hidup!

Sesampainya di situ tiba-tiba dia berhenti dan berkata seorang diri, "Tidak bisa... tidak bisa... kalau aku pergi harus ada yang menggantikan aku di sini. Ha, benar juga. Kalian berdua harus menggantikan aku di Im-kan-kok sini, seharusnya sampai empat puluh tahun. Akan tetapi karena kalian berdua, maka hukuman buat kalian hanya dua puluh tahun seorang. Sebelum dua puluh tahun tak boleh keluar dari sini. Bersumpahlah!"

Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang. Thio Bwee nampak agak ragu-ragu. Bagaimana mungkin mereka harus berdiam di situ selama dua puluh tahun?

Akan tetapi Kui Lok segera berkata, "Bwee-moi, kita sudah terluka parah. Agaknya biar pun kuat keluar dari tempat ini, belum tentu bisa hidup lebih lanjut. Lian Ti supek, teecu berdua sanggup tinggal di sini sampai dua puluh tahun asal saja Supek suka pergi ke Hoa-san-pai dan menyelamatkan partai dari cengkeraman siluman betina Kwa Hong."

"Bersumpahlah!"

Tanpa ragu-ragu lagi Kui Lok dan Thio Bwee bersumpah takkan meninggalkan tempat itu sebelum dua puluh tahun!

Mendengar sumpah ini, kakek itu tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha, senang hatiku. Ada dua orang sekarang yang akan dapat merasakan bagaimana hebat penderitaanku di sini selama empat puluh tahun lebih ini. Ha-ha-ha!"

Diam-diam Kui Lok merasa gemas juga. Kiranya supek-nya ini pun bukan orang baik-baik, orang yang merasa girang melihat orang lain menderita. Saking gemasnya dia berkata untuk mengecewakan hati kakek itu, "Supek keliru sangka. Teecu berdua sudah terluka hebat oleh racun Jing-tok, kiranya tak akan lama hidup di dunia ini dan tidak akan lama merasakan penderitaan seperti yang Supek rasakan!"

"Uh-uh, goblok! Kau kira aku sebodoh kau dan gurumu? Sebelum aku pergi kalian sudah akan sembuh. Hayo kalian pelajari ini dan ikuti perbuatanku!"

Setelah berkata demikian kakek itu berjungkir balik, dua kakinya ke atas dan kepalanya di bawah, di atas tanah. Dengan jungkir balik ini ia ‘berdiri’ di atas kepalanya dengan tubuh lurus.

Kui Lok dan Thio Bwee tak berani membantah, apa lagi mereka juga dapat menangkap maksud kakek itu yang hendak menyembuhkan mereka. Keduanya lalu berjungkir balik dan menggunakan kepandaian untuk ‘berdiri’ di atas kepala dengan tubuh lurus-lurus.

"Lihat baik-baik, tiru gerakan kedua tanganku, terutama gerakan tangan kiri!"

Kakek itu dengan perlahan kemudian menggerak-gerakkan dua lengannya seperti orang bersilat. "Salurkan hawa Thai-yang dari pusar ke dada, tekan dengan kekuatan dalam supaya berputar tiga belas kali di dada lalu kerahkan tenaga ke pundak yang terluka, terus ke sepanjang lengan kiri sambil pukulkan begini!"

Kakek itu bergerak-gerak dan memberi petunjuk yang dituruti oleh dua orang itu dengan taat. Pelajaran ini ada hubungannya dengan ilmu silat Hoa-san-pai, maka sebagai anak murid Hoa-san-pai yang sudah tinggi ilmunya tentu saja mereka dapat melakukan semua petunjuk itu dengan baik dan tepat.

Tiba-tiba Kui Lok dan Thio Bwee berseru girang karena dari pundak mereka mengucur darah kental hijau, tanda bahwa racun yang berada pada tubuh mereka mulai mengucur keluar. Mereka semakin giat melakukan gerakan itu dan terus-menerus darah kehijauan mengalir keluar dari pundak mereka.

Saking gembira hati mereka melihat hasil pengobatan ini, mereka sampai lupa dan tidak memperhatikan lagi kepada kakek yang tadi memberi petunjuk kepada mereka dan yang sekarang sudah tidak terdengar suaranya lagi. Ketika mereka kelelahan dan beristirahat, barulah ternyata oleh mereka bahwa kakek itu telah lenyap dari situ!

Dua orang muda itu saling pandang. Darah berwarna kehijauan membasahi lantai. Dalam pertemuan pandang mata ini jalan pikiran mereka sama. Mereka maklum bahwa kakek itu sudah keluar dan mereka sudah bersumpah untuk tidak keluar dari tempat itu selama dua puluh tahun! Mulut tidak bicara akan tetapi sinar mata mereka bicara banyak, dan tak tertahankan lagi Thio Bwee menubruk Kui Lok sambil menangis tersedu-sedu.

Untuk sesaat Kui Lok memeluk Thio Bwee dan membiarkan kekasihnya itu menuangkan kedukaan hatinya melalui air matanya, lalu sambil mengelus-elus kepala Thio Bwee, dia berkata,

"Lapangkan hatimu, Moi-moi. Asal kita masih selalu berdampingan, kiranya kita tak perlu takut atau berduka. Andai kata tidak akan terjadi perubahan dalam kehidupan kita dan harus berada di sini sampai dua puluh tahun, apa boleh buat, hitung-hitung kita berkorban untuk Hoa-san-pai! Sekarang yang penting kita harus memeriksa tempat ini. Kalau Supek sampai bisa hidup di sini selama empat puluh tahun tentu di sini cukup bahan makanan dan kebutuhan hidup. Sementara itu, kita betul-betul sehat dan terhindar dari bahaya keracunan."

Lambat laun Thio Bwee terhibur juga. Apa lagi karena apa bila mereka keluar dari goa, pemandangan di sekitar air terjun benar-benar hebat dan indah bukan main, lagi pula di sana banyak terdapat buah-buahan dan binatang-binatang yang akan menjadi makanan mereka.

Yang paling menggembirakan hati mereka adalah ketika di sebuah ruangan di bawah tanah, mereka melihat betapa dinding ruangan itu penuh dengan ukir-ukiran yang berupa huruf-huruf dan gambar-gambar. Inilah pelajaran ilmu silat yang selama ini diciptakan oleh supek mereka di tempat itu. Ilmu silat aneh yang bersumber kepada ilmu silat Hoa-san-pai yang asli, jauh lebih hebat dan dahsyat dari pada ilmu silat yang pernah mereka pelajari di Hoa-san-pai.

Kita tinggalkan dahulu dua orang muda yang saling mencinta dan yang terpaksa hidup sebagai suami isteri di Lembah Akhirat itu. Hidup laksana Adam dan Hawa di Taman Firdaus! Jauh dari dunia ramai, hanya berteman dengan bunga-bunga, buah-buahan dan binatang-binatang hutan…..

********************

Ramai sekali di Puncak Hoa-san-pai pada pagi hari itu, tanda bahwa tentu telah terjadi hal-hal luar biasa. Memang sudah sering kali, hampir setiap hari di Puncak Hoa-san terjadi hal-hal aneh semenjak Kwa Hong menjadi Ketua Hoa-san-pai.

Hampir setiap hari ada saja tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi sahabat baik mendiang Lian Bu Tojin naik ke puncak. Mereka tidak saja mengabarkan tentang kematian kakek itu, tetapi juga untuk menyaksikan sendiri kekacauan Hoa-san-pai karena merasa penasaran. Dan hebatnya, setiap kali ada tokoh persilatan naik ke puncak, sebagian besar dari pada mereka ini tidak bisa turun lagi karena mereka itu binasa di bawah tangan Kwa Hong, Koai Atong, atau rajawali emas!

Pagi hari ini Beng Tek Cu, tosu dari Bu-tong-pai yang sejak dahulu menjadi sahabat baik Lian Bu Tojin bersama empat orang adik seperguruannya, naik ke Puncak Hoa-san-pai. Perlu diketahui bahwa Beng Tek Cu ini adalah tokoh Bu-tong-pai yang dahulu di waktu Hoa-san-pai bermusuhan dengan Kun-lun-pai, tosu ini berpihak kepada Lian Bu Tojin. Oleh karena itu, tidak heranlah apa bila tosu tua ini sengaja mendaki Puncak Hoa-san-pai ketika ia mendengar berita mengejutkan bahwa Lian Bu Tojin tewas oleh seorang cucu muridnya sendiri yang sekarang telah menduduki kursi ketua di Hoa-san-pai!

Beng Tek Cu ini orangnya tinggi besar dan gagah. Biar pun usianya sudah enam puluh tahun lebih namun masih tampak kuat dan bersemangat, wataknya sejak muda galak dan jujur dan ilmu pedangnya sudah terkenal di empat penjuru dunia persilatan. Empat orang sute-nya juga bukan tokoh-tokoh rendah, melainkan jago-jago Bu-tong-pai yang sudah menguasai ilmu silat dan Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat.

Bukan main rnarah dan herannya hati Beng Tek Cu ketika ia mendengar bahwa sahabat baiknya Lian Bu Tojin, tewas oleh muridnya sendiri. Ia sudah mengenal Kwa Hong, malah semua murid Hoa-san-pai sudah dikenal oleh tosu Bu-tong-pai ini. Maka dengan amarah yang meluap-luap dan juga terheran-heran ia segera membawa adik-adik seperguruannya untuk ‘membereskan’ kerusuhan di Hoa-san-pai.

Baru saja memasuki wilayah Hoa-san-pai di kaki Hoa-san itu ia dan adik-adiknya sudah melihat perubahan hebat yang terjadi pada partai persilatan besar di puncak itu. Para tosu anggota Hoa-san-pai tidak ada lagi yang menyambut dengan penuh penghormatan dan ramah-tamah seperti dulu.

Malah di sana-sini terdapat tosu-tosu yang segera menyelinap pergi sambil memandang penuh curiga ketika lima orang tosu Bu-tong-pai ini naik ke gunung itu. Telinga mereka yang sangat terlatih sudah mendengar di sebelah atas orang-orang berteriak sambung-menyambung ke atas, melaporkan kedatangan mereka.

"Beng Tek Cu serta empat orang sute-nya dari Bu-tong-pai hendak menghadap Nio-nio (Dewi)...!"

Beng Tek Cu mendongkol sekali, apa-lagi mendengar sebutan Nio-nio itu. Hemm, bukan main sombongnya. Apakah Kwa Hong gadis muda itu yang kini mengangkat diri menjadi ketua dan disebut Dewi? Kedatangannya sudah diketahui, tuan rumah atau nyonya rumah tentu sudah mengadakan persiapan. Entah sambutan apa yang akan ia terima. Beng Tek Cu mengajak adik-adiknya mempercepat perjalanan ke puncak.

Setelah mereka makin tinggi mendaki, di kanan kiri jalan makin sering mereka melihat tosu-tosu Hoa-san-pai melakukan penjagaan, tidak seperti dulu dengan ramah-tamah dan hormat menyambut kedatangan para tamu, namun dengan cara bersembunyi-sembunyi.

Akan tetapi tak dapat mereka menahan kemarahan hati mereka lagi sewaktu sampai di lereng terakhir bawah puncak, mereka melihat kuburan-kuburan baru berderet-deret, tidak kurang dari dua puluh jumlahnya. Di depan kuburan itu terdapat bong-pai (batu nisan) sederhana dan kasar yang ditulisi nama-nama yang dikubur.

Lima orang tosu Bu-tong-pai ini sudah mendengar akan korban-korban yang jatuh sejak Hoa-san-pai dipegang oleh Kwa Hong, yaitu mereka yang datang karena tidak senang dan hendak membela mendiang Lian Bu Tojin. Jadi dengan maksud yang sama dengan maksud mereka sekarang. Agaknya sengaja para korban itu dikubur di pinggir jalan naik ke puncak agar semua pendatang melihatnya! Alangkah sombongnya!

"Kwa Hong murid durhaka! Kejahatanmu sudah melewati takaran dan kini pinto datang untuk mengakhiri keganasanmu!" Beng Tek Cu berteriak dengan pengerahan khikang-nya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema sampai ke puncak gunung.

Belum lenyap gema suaranya yang keras itu, dari puncak gunung tampaklah bayangan seorang tinggi besar berlari-lari cepat turun ke arah mereka. Para tosu Hoa-san-pai yang tadinya bersembunyi di kanan kiri jalan, sekarang juga muncul dengan pedang di tangan dan dengan sikap siap untuk mengeroyok.

Akan tetapi Beng Tek Cu dan kawan-kawannya berdiri dengan tenang, sama sekali tidak gentar terhadap kemunculan para tosu Hoa-san-pai itu. Mereka menujukan pandangan mata mereka kepada orang tinggi besar yang berlari turun seperti terbang cepatnya itu.

Diam-diam Beng Tek Cu terkejut dan kagum menyaksikan ginkang orang itu. Demikian hebatnya sehingga gerakannya bagaikan burung terbang saja, kedua kaki seakan-akan tidak menyentuh tanah dan kedua lengan yang panjang itu dikembangkan ke kanan kiri dan digerakkan seperti gerakan sayap burung!

Orang itu bukan lain adalah Koai Atong! Bocah tua ini marah sekali mendengar orang memaki-maki Kwa Hong. Maka cepat ia menyambut musuh-musuh baru ini. Di lain pihak, Beng Tek Cu dan teman-temannya yang belum pernah melihat Koai Atong, merasa heran dan juga geli setelah Koai Atong datang dekat.

Mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar setengah tua yang pakaiannya berkembang-kembang dari topi sampai sepatunya pun berkembang, gerak-geriknya seperti anak kecil dan lebih pantas kalau orang itu dimasukkan golongan orang gila. Melihat keadaan orang ini, dapatlah Beng Tek Cu dan kawan-kawannya menduga bahwa mereka berhadapan dengan Koai Atong, tokoh aneh di dunia kang-ouw yang sekarang kabarnya telah menjadi suami Kwa Hong! Kalau gadis murid Hoa-san-pai yang cantik jelita itu tidak menjadi gila otaknya, mana mungkin sudi menjadi isteri orang macam ini?

Sementara itu, setelah berhadapan dan melihat bahwa yang memaki-maki ‘isterinya’ adalah lima orang tosu yang tidak dikenalnya, Koai Atong menuding dan membentak,

"Tosu-tosu bau dari mana berani mampus, datang-datang memaki Enci Hong!"

"Sobat yang baru datang ini apakah bukan Koai Atong?" tanya Beng Tek Cu karena masih ragu-ragu apakah betul Koai Atong yang terkenal itu hanya seperti orang gila ini.

Koai Atong membelalakkan kedua matanya yang sudah lebar itu. "Ehhh? Kau juga tahu namaku? Siapakah kau tosu yang sudah kenal namaku?"

"Pinto Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai dan mereka ini adalah sute-sute-ku. Koai Atong, pinto mendengar bahwa kau dan Kwa Hong murid murtad dari Hoa-san-pai itu sudah membunuh Lian Bu Totiang, membunuh tosu-tosu Hoa-san-pai dan banyak orang-orang gagah yang datang ke sini, kemudian malah merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai. Benarkah semua pengacauan ini? Koai Atong, kau sebagai murid seorang sakti seperti Giam Kong Hwesio, kenapa menjadi tersesat sampai begini jauh?"

Menghadapi ucapan ini dan melihat pandang mata Beng Tek Cu yang tajam berpengaruh, Koai Atong menjadi jeri juga. Ia menundukkan muka dan tidak dapat menjawab, seperti anak kecil dimarahi ayahnya! Pada saat itu, terdengar suara melengking tinggi, datangnya dari udara dan amat nyaring menyakitkan anak telinga.

"Beng Tek Cu! Kau dan sute-sute-mu pergilah dari sini dan jangan mencampuri urusan Hoa-san-pai!"

Jelas bahwa itu adalah suara wanita yang merdu tapi nyaring dan melengking tinggi. Beng Tek Cu dapat menduga bahwa suara itu tentulah suara Kwa Hong, akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana suara itu datangnya dari atas!

"Kwa Hong murid murtad, pinto datang untuk mengakhiri riwayatmu yang busuk!" teriak Beng Tek Cu.

"Koai Atong, tolol! Orang memaki aku, mengapa diam saja? Serang dan bunuh mereka semua tosu-tosu bau ini!" Suara Kwa Hong terdengar lagi.

Tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan pekik melengking seperti burung dan tahu-tahu dia telah menggerakkan kedua lengannya yang panjang untuk menyerang kalang-kabut pada lima orang tosu itu.

Beng Tek Cu dan sute-sute-nya cepat mengelak, akan tetapi tetap saja dua orang tosu Bu-tong-pai itu terkena pukulan yang sangat aneh gerakannya sehingga mereka roboh terguling! Beng Tek Cu marah dan juga heran bukan main.

Sute-sute-nya itu terhitung murid-murid Bu-tong-pai tingkat dua, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga lweekang yang sudah kuat sekali. Akan tetapi bagaimana begitu mudah roboh hanya oleh sekali serangan Koai Atong ini? Ia sendiri ketika mengelak tadi sengaja mengebutkan lengan baju untuk menahan pukulan, akan tetapi lengan bajunya terpukul membalik dan ujungnya sudah hancur.

"Koai Atong, kau menjadi antek siluman betina jahat. Patut dibasmi lebih dulu!" Beng Tek Cu membentak sambil mencabut pedangnya.

Dua orang sute-nya yang tadi roboh oleh pukulan Koai Atong, juga sudah bangun kembali
dan seperti yang lain-lain, dengan marah mereka pun mencabut pedang. Baiknya dalam gebrakan pertama tadi Koai Atong hanya menggunakan gaya serangan rajawali emas tanpa mempergunakan hawa pukulan Jing-tok-ciang, maka dua orang tosu yang terpukul roboh tidak mengalami luka hebat.

Sekarang lima orang tosu itu dengan pedang di tangan mengurung Koai Atong. Orang tinggi besar ini nampak kebingungan. Memang bertempur bagi Koai Atong merupakan permainan yang rnenyenangkan, maka ia pun tertawa-tawa ha-ha-hi-hi sambil berputaran perlahan dan melirik-lirik lima orang lawannya. Kedua kakinya berjungkit, kedua lengan dikembangkan dan bergerak-gerak seperti sayap burung hendak terbang, sikapnya lucu sekali tapi juga aneh dan membuat lima orang tosu Bu-tong-pai itu berhati-hati sekali tidak segera menyerang.

Beng Tek Cu memberi tanda isyarat kepada adik-adiknya dan lima orang tosu ini secara otomatis kemudian mengambil posisi masing-masing dan membentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin. Dengan teratur dan otomatis kelimanya lantas bergerak melangkah maju mengitari Koai Atong, tanpa menyerang akan tetapi sikap dan kedudukan mereka sering berubah-ubah, kelihatan indah sekali seperti gerakan tarian yang teratur. Pedang mereka berkelebatan berpindah-pindah pasangan kuda-kuda, ke mana pun mereka melangkah, mata mereka mengincar ke arah Koai Atong.

Meski pada umumnya Koai Atong amat bodoh dan sederhana pikirannya seperti seorang kanak-kanak, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia sudah berpengalaman banyak. Selama mengikuti suhu-nya dahulu, dia telah merantau dari dunia barat sampai ke lautan timur, entah sudah berapa ratus kali pertempuran dia alami.

Tentu saja melihat Bu-tong Ngo-heng-tin ini, dia segera maklum bahwa dia menghadapi barisan yang amat tangguh dan berbahaya. Sama sekali dia tidak gentar, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa dia merasa bingung juga.

Ia dan Kwa Hong hanya meniru gerakan-gerakan rajawali emas dalam menghadapi lawan seorang, belum pernah melihat bagaimana gerakan burung sakti itu kalau menghadapi keroyokan seperti sekarang ini. Maka sudah tentu saja ia tak akan dapat mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali emas dan terpaksa menggunakan kepandaiannya sendiri, terutama sekali Jing-tok-ciang.

"Hei, Koai Atong, apa kau takut menghadapi Ngo-heng-tin kami? Kalau takut, lekas kau berlutut dan minta ampun!" ejek Beng Tek Cu dan keempat orang sute-nya segera pula mengeluarkan kata-kata memaki dan mengejek.

Memang inilah termasuk siasat dari pada Ngo-heng-tin, yaitu membuat lawan menjadi marah dan memancing lawan agar supaya menyerang. Koai Atong memang seperti anak kecil. Begitu diejek dan dimaki-maki, ia menjadi marah dan cepat ia memutar lengan kiri menyerang ke arah Beng Tek Cu. Hebat sekali serangannya karena memang semenjak berpisah dari gurunya, dia sudah memperdalam Ilmu Pukulan Jing-tok-ciang ini, apa lagi gerakannya sudah dicampur pula dengan gerakan rajawali!

Beng Tek Cu maklum akan kehebatan serangan ini, maka dia cepat melompat mundur sambil memutar pedangnya. Koai Atong sebaliknya kaget bukan main karena pada saat ia bergerak menyerang itu, ia mendengar desir angin dari kanan kiri dan belakang, melihat pula empat sinar menyambar dan menyerang ke arah empat bagian tubuhnya yang paling lemah!

Terpaksa ia menarik kembali serangannya terhadap Beng Tek Cu tadi dan menggunakan kegesitannya untuk mengelak dari empat serangan itu. Dalam kemarahannya dia lantas menyerang seorang di antara empat tosu itu yang terdekat.

Akan tetapi, seperti juga tadi, yang diserangnya melompat mundur dan empat tosu yang lain berbareng menyerangnya dengan pedang dari belakang dan kanan kiri.

Inilah kehebatan Bu-tong Ngo-heng-tin. Memang kelihaiannya baru terasa apa bila lawan menyerang seorang di antara lima pelakunya. Karena ketika menyerang si Penyerang ini otomatis tentu membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka dan kesempatan inilah yang dipakai oleh empat orang tosu lain untuk menyerang, sedangkan seorang tosu yang diserang harus menjauhkan diri dan menyelamatkan diri sendiri.

Koai Atong mulai bingung dan repot sekali. Serangannya selalu gagal. Bagaimana tidak akan gagal kalau begitu menyerang seorang, ia lalu dihantam oleh empat orang? Bukan hanya gagal, malah setiap kali menyerang berarti ia terancam bahaya maut.

Ia banyak pengalaman, maka setelah beberapa kali gagal menyerang malah terdesak hebat, akhirnya Koai Atong tidak mau menyerang lagi dan berdiri diam saja menjaga diri. Dan ternyata dugaannya benar, lima orang lawannya itu pun berdiri diam menunggu dia melakukan penyerangan seperti tadi!

Memang lima orang dalam bentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin ini mempergunakan tipu Memancing Ular Keluar dari Rumput. Sekarang setelah Koai Atong diam saja, dengan sendirinya tipu mereka itu gagal. Sampai lama dua pihak saling menunggu agar lawan menyerang lebih dulu, akan tetapi keduanya tidak mau mengalah.

Beng Tek Cu memberi isyarat lagi dan tiba-tiba seorang tosu yang berdiri di sebelah kiri Koai Atong menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah lambung bocah tua itu. Belum sampai serangan ini sudah disusul oleh tosu ke dua di belakangnya, lalu disusul tosu lain dan demikianlah, dalam sekejap mata saja lima orang tosu itu susul-menyusul dalam serangan mereka.

Koai Atong tadinya menunggu datangnya serangan untuk merobohkan Si Penyerang itu. Tapi siapa kira serangan itu datangnya susul-menyusul secara otomatis dan teratur sekali sehingga kembali ia sibuk melayani semua serangan tanpa mendapat kesempatan sama sekali untuk balas menyerang! Malah kadang-kadang serangan bertubi-tubi itu tiba-tiba berubah sifatnya menjadi serangan serentak berbareng, lalu bertubi-tubi lagi. Inilah gerak tipu dalam Bu-tong Ngo-heng-tin yang disebut Serangan Angin Topan.

Andai kata para tosu itu hanya mengeroyoknya mengandalkan ilmu silat saja, kiranya tak sukar dan tidak akan memakan waktu lama bagi Koai Atong untuk merobohkan mereka seorang demi seorang. Akan tetapi karena mereka menggunakan gerakan teratur dalam barisan Bu-tong Ngo-heng-tin yang amat lihai, kini Koai Atong bingung sekali dan terdesak hebat.

"Curang... kalian curang... Enci Hong bantulah aku...! Tosu-tosu bau ini curang dan lihai sekali...!"

Terdengar suara melengking tinggi, makin lama semakin dekat dan lima orang tosu itu menanti dengan hati berdebar dan sikap waspada. Kemudian disusul suara wanita, "Koai Atong, kau benar-benar memalukan. Melawan lima orang keledai bau ini saja kalah? Itu sangat memalukan Hoa-san-pai!"

Dan lima orang tosu itu kaget sekali ketika memandang ke atas mereka melihat Kwa Hong duduk di atas punggung seekor burung rajawali emas, bukan seperti manusia lagi, lebih patut bagaikan seorang dewi atau sebangsa siluman! Akan tetapi mereka tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi karena mendadak burung rajawali yang indah itu sudah menukik ke bawah, menyambar ke arah mereka.

Sepasang cakar yang kuat ditambah sebuah patuk yang menyerang mereka, disusul oleh lima sinar hijau. Hebat bukan main serangan ini, hebat dan tidak tersangka-sangka.

Oleh karena diserang sekaligus, lima orang tosu itu tak sempat menyusun dan mengatur barisan, otomatis mereka bergerak sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri, ada yang mengelak jauh dan ada yang menangkis dengan pedang. Kasihan sekali dua orang tosu yang menangkis dengan pedang. Pedang mereka patah dan leher mereka disambar sinar hijau. Mereka menjerit dan roboh terguling, tewas di saat itu juga menjadi korban panah hijau di ujung cambuk Kwa Hong!

Koai Atong tertawa bergelak, lalu tubuhnya yang tinggi besar itu rnenerjang maju. Kini barisan itu sudah pecah dan buyar, maka beberapa kali serang saja Koai Atong sudah dapat merobohkan dua orang tosu yang lain, dipukulnya tewas dengan Jing-tok-ciangnya yang lihai.

Kini tinggal Beng Tek Cu yang sejak tadi masih sempat mengelak dan menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun maklum bahwa menghadapi dua orang aneh ini ia tidak berdaya. Ilmu silat yang dimainkan Koai Atong amat dahsyat, sedangkan bantuan yang dilakukan oleh Kwa Hong di atas punggung rajawali emasnya lebih dahsyat lagi. Ia masih mencoba untuk melakukan serangan penghabisan dengan pedangnya, diputarnya senjata ini dan dengan jurus terlihai dari Bu-tong-pai ia menerjang Koai Atong.

Namun enak saja Koai Atong menggerakkan kaki dan mengembangkan lengan, semua serangannya terhindar. Dari atas burung rajawali menyambar dan biar pun Beng Tek Cu sudah berusaha untuk mengelak, namun tetap saja tubuhnya menjadi korban sambaran dua buah panah hijau. Ia menjerit, pedangnya terlepas, tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh dengan kedua mata melotot.

"Kurang ajar...! Inikah iblis cilik yang sudah mengotorkan nama Hoa-san-pai?" Suara ini pun datangnya dari atas, amat mengagetkan Kwa Hong dan Koai Atong karena terdengar parau dan menusuk telinga.

Ketika mereka menengok ke kanan kiri, tidak kelihatan seorang pun manusia. Diam-diam Kwa Hong bergidik juga dan ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti datang. Kalau teringat akan dongeng tentang Lembah Akhirat yang didengarnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Hoa-san-pai, dia merasa seram. Diperintahnya rajawali emas untuk turun dan hinggap di atas tanah. Ia meloncat turun dan mendekati Koai Atong.

"Koai Atong, siapa yang bicara tadi?"

Koai Atong juga celingukan menoleh ke kanan kiri, lalu menggeleng kepalanya. Dia tidak pernah mendengar tentang cerita Hoa-san-pai, maka ia tidak merasa takut, hanya amat terheran-heran.

"Jangan-jangan itu tadi suara rohnya Beng Tek Cu!" katanya.

Tiba-tiba terdengar lagi suara itu, kini tidak hanya keras dan parau, malah menggetarkan jantung dan menusuk-nusuk anak telinga, suara menggetar yang amat hebat, membuat sebelah dalam telinga seakan-akan hendak pecah!

Inilah suara orang bernyanyi dan kata-kata yang dinyanyikannya adalah ujar-ujar dalam kitab To-tek-keng:

Orang baik adalah guru orang tidak baik,
orang tidak baik adalah murid orang baik,
siapa tidak menjunjung tinggi gurunya,
ia akan tersesat jauh,
inilah kegaiban berahasia
.

Suara yang menyanyikan ujar-ujar ini demikian keras dan buruknya, sangat tidak enak didengar sehingga Koai Atong dan Kwa Hong menggigil seluruh tubuh mereka, hampir tidak kuat mendengar lebih lama lagi. Dua orang ini merasa betapa suara itu memasuki telinga dan terus menusuk ke dalam jantung, seakan-akan menyerang semua isi dada dan hendak memecahkan kepala.

Sebagai seorang ahli silat tinggi, Koai Atong kaget sekali dan cepat-cepat ia duduk bersila mengerahkan lweekang-nya untuk menahan pengaruh luar biasa dari suara nyanyian itu. Kwa Hong juga maklum akan hal ini, maka dia pun cepat mengerahkan lweekang-nya. Bahkan burung rajawali emas, biar pun tidak terpengaruh secara mutlak, juga kelihatan gelisah dan mengeluarkan suara merintih bagaikan orang menangis. Hebatnya, nyanyian dengan suara buruk itu diulang-ulang terus dan makin lama makin pucatlah muka Koai Atong dan Kwa Hong.

Bagi ahli-ahli silat yang tingkatnya telah tinggi, melakukan serangan tanpa menggerakkan anggota tubuh bukanlah hal yang aneh. Jangan dikira bahwa suara itu tidak akan dapat dipergunakan sebagai senjata. Malah dapat dijadikan senjata yang lebih ampuh dari pada tajamnya pedang.

Bagi seorang yang tingkat lweekang-nya sudah tinggi, yang tenaga dalamnya sudah kuat sekali, maka di dalam suaranya dapat diisi getaran yang cukup kuat untuk merobohkan seorang pandai! Getaran ini bisa melemahkan semangat, bisa menggetarkan jantung dan menghancurkan urat-urat syaraf.

Orang yang bernyanyi-nyanyi kali ini memang agaknya sengaja hendak mempergunakan lweekang dan khikang di dalam suaranya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong, untuk membunuh mereka tanpa menggerakkan kaki tangan.

Akan tetapi, dalam saat-saat yang amat berbahaya bagi dua orang itu, tiba-tiba terdengar suara lain dari arah yang berlawanan. Juga suara ini adalah suara orang bernyanyi, akan tetapi suaranya nyaring dan gagah, enak didengar dan sekaligus mempunyai pengaruh melawan suara pertama yang buruk dan tidak enak tadi. Anehnya, juga nyanyian ini adalah nyanyian yang kata-katanya diambil dari ayat-ayat To-tek-keng!

Mengenal keadaan orang lain adalah bijaksana,
mengenal keadaan diri sendiri adalah waspada.
Mengalahkan orang lain adalah kuat,
menaklukkan diri sendiri adalah gagah perkasa.
Puas dan mengenal batas berarti kaya raya,
memaksakan kehendak sendiri berarti nekat.
Tahu diri dan tahu kewajiban akan berlangsung,
mati tidak tersesat berarti panjang umur
.

Baru satu kali saja suara nyanyian ini terdengar, suara pertama tadi segera lenyap dan tak terdengar lagi. Juga Kwa Hong dan Koai Atong sudah tidak lagi tersiksa oleh pengaruh suara pertama dan keduanya sekarang sudah meloncat berdiri dengan sikap waspada dan hati-hati.

"Siapa pun hendak membela si jahat, aku tidak takut! Siluman betina yang mengotorkan Hoa-san-pai harus kubasmi!" Baru saja terhenti kata-kata ini, tahu-tahu di depan Kwa Hong dan Koai Atong sudah berdiri seorang kakek yang tinggi kurus, rambutnya panjang awut-awutan, mukanya persis tengkorak hidup dengan sepasang mata yang berlubang dalam.

"Setan...! Ada setan...!" Otomatis Koai Atong mundur-mundur dan bersembunyi di belakang Kwa Hong.


Kakek yang seperti tengkorak hidup itu bukan lain adalah Lian Ti Tojin, yang kini tertawa terkekeh-kekeh akan tetapi tidak memandang kepada Koai Atong, melainkan menoleh ke kanan kiri seperti tengah mencari orang lain. Memang dia sedang mencari orang yang tadi melawan nyanyiannya yang juga seperti dia tadi sudah bernyanyi tanpa memperlihatkan diri.

"Pembela si jahat, keluarlah saja kalau memang hendak melawan aku!" katanya.

Tiba-tiba dari mulutnya menyembur darah segar! Dia terbatuk-batuk beberapa kali dan tahulah Kwa Hong dan Koai Atong bahwa kakek ini ternyata telah menderita luka dalam yang hebat! Bagaimanakah Lian Ti Tojin dapat menderita luka seperti itu? Bukan lain karena ‘adu suara’ tadi.

Kakek ini sudah amat tua, mungkin ia kuat bertahan hidup sampai sekian lama karena ia berada dalam goa itu. Sekarang, begitu keluar di dunia ramai, dia sudah merasa betapa kesehatan tubuhnya terganggu hebat. Apa lagi ketika dia sedang menggunakan ilmunya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong dengan suaranya tadi, dia telah mendapat perlawanan dari suara orang lain.

Dia harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dalam ‘adu tenaga’ ini dan oleh karena tubuhnya yang sudah terlalu tua itu memang mulai lemah, ia menderita luka dalam yang hebat sekali. Karena kelemahannya inilah maka dia tadi tidak segera keluar, melainkan menggunakan suaranya untuk menyerang dua orang yang dianggapnya perusak nama Hoa-san-pai.

Tadinya Kwa Hong dan Koai Atong kaget dan jeri, akan tetapi setelah melihat kakek itu memuntahkan darah dan tahu bahwa dia itu luka hebat, mereka tidak takut lagi. Malah Koai Atong lalu menuding sambil memaki.

"Kakek tua bangka bikin kaget orang saja. Kukira kau tadi setan! Mau apa kau datang ke sini?" Lalu ia menuding ke arah mayat lima orang tosu Bu-tong-pai tadi. "Apa kau datang mau membeli bangkai-bangkai ini?"

Kwa Hong segera membentak, "Atong, jangan main-main!"

Kwa Hong lebih tajam pandang matanya dan ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang sakti, dia malah setengah menduga bahwa kakek ini agaknya ‘orang aneh’ dari Lembah Akhirat.

"Aku mau bertemu dengan Ketua Hoa-san-pai. Mana dia?" Lian Ti Tojin berkata sambil memandang Kwa Hong dengan sinar mata yang membuat Kwa Hong merasa ngeri.

Akan tetapi Kwa Hong sekarang sudah berbeda jauh dengan Kwa Hong dahulu. Setelah merobohkan banyak jago-jago terkenal, dia memandang rendah kepada orang lain dan mempunyai keyakinan penuh akan kelihaian diri sendiri ditambah bantuan Koai Atong dan burung rajawali emas. Dengan mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya ia lantas menjawab gagah.

"Orang tua, akulah Ketua Hoa-san-pai. Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke sini?"

Kakek itu tertegun. Diam-diam Lian Ti Tojin memang terheran sekali. Benar-benar gadis cantik jelita dan muda belia inikah yang telah mengacau Hoa-san-pai? Benarkah gadis ini yang sudah membunuh sute-nya, Lian Bu Tojin? Sukar untuk dapat dipercaya.

"Kau Ketua Hoa-san-pai? Apa buktinya?" tanyanya memancing karena masih ragu-ragu.

Tadi ia hanya melihat dari jauh, malah mendengar pula betapa dua orang ini menewaskan lima tosu itu, maka biar pun ia yakin bahwa dua orang ini pengacaunya, namun sama sekali tak pernah ia sangka bahwa wanitanya demikian muda belia, bahkan masih seperti kanak-kanak! Maka setelah berhadapan muka ia malah menjadi ragu-ragu.

Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek, tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san Po-kiam sudah dihunusnya. "Inilah tandanya bahwa aku Ketua Hoa-san-pai!"

Wajah kakek yang seperti mayat itu menjadi makin mengerikan ketika ia berdongak dan mengeluarkan keluhan panjang.

"Ahhh... hukum karma... inilah hukum karma...! Kwa Hong, kau murid Hoa-san-pai murtad, membunuh guru, merampas pedang, menduduki kursi Ketua dan aku... ha-ha-ha, akulah yang harus membasmi! Hukum karma...! Dulu aku pun melakukan perbuatan dosa seperti yang kau lakukan. Aku menyeleweng, menurutkan nafsu, mengganggu anak bini orang, membunuh jago-jago ternama. Pada waktu guru menegur, malah kulawan dan kubunuh, ha-ha-ha...! Aku berdosa besar... aku menyesal... kuserahkan kedudukan ketua kepada sute Lian Bu Tojin. Aku lalu menghukum diri di Im-kan-kok, puluhan tahun menyesali perbuatan sendiri, namun agaknya Thian masih belum sudi mengampuni dosa-dosaku. Buktinya, hari ini aku dihadapkan dengan engkau! Aku masih mempunyai tugas terakhir, menolong nama baik Hoa-san-pai. Agaknya inilah penebusan dosaku... ha-ha-ha-ha-ha, hukum karma...!"

Wajahnya tiba-tiba berubah lagi dan sepasang matanya menyambar seperti kilat ketika ia membentak, "Kwa Hong, kau berhadapan dengan supek-mu. Hayo lekas berlutut minta ampun dan mengakui dosamu!"

Suaranya seperti halilintar menyambar dan selagi Kwa Hong terpengaruh oleh bentakan hebat ini tiba-tiba secepat kilat tangan kakek itu bergerak merampas pedang.

Kwa Hong kaget dan biar pun serangan itu mendadak sekali namun kedua kakinya yang bergerak aneh seperti kaki burung dapat membuat dia mengelak. Sayang sekali, lengan tangan kakek itu setelah tidak berhasil merampas pedang masih terus bergerak mulur (memanjang) dan tahu-tahu pedang Hoa-san-pai telah dapat dirampas oleh Lian Ti Tojin!

"Ha-ha-ha, po-kiam ini memang seharusnya di tanganku..." Kakek itu bergelak akan tetapi suara ketawanya berhenti ketika tiba-tiba tubuhnya terlempar ke samping dan terhuyung-huyung.

Ternyata dengan gerakan ‘sayap rajawali’ Koai Atong telah menyerangnya dan membuat kakek itu terhuyung-huyung. Begitu hebatnya serangan Koai Atong ini. Di lain pihak, Koai Atong yang tadi marah sekali melihat orang itu berani merampas pedang dari tangan Kwa Hong, juga kaget dan kagum melihat kakek yang hampir mati saking tuanya itu hanya terhuyung-huyung dan tidak roboh terkena pukulannya Jing-tok-ciang yang ampuh.

Lian Ti Tojin marah dan cepat memasang kuda-kuda, kemudian dua orang aneh itu saling serang dengan hebat. Kwa Hong memandang dengan muka pucat, apa lagi ketika Lian Ti Tojin tiba-tiba saja dapat memisahkan diri dari Koai Atong lalu dengan pedang pusaka di tangan melakukan penyerangan hebat sekali kepadanya.

Serangan ini hebat bukan main, sinar pedang sampai menjadi panjang seperti pelangi dan sepasang mata Kwa Hong silau karenanya. Bahkan Koai Atong sendiri tidak berdaya melihat Kwa Hong terancam bahaya maut.

Pedang pusaka Hoa-san-pai yang ampuh di tangan Lian Ti Tojin yang lihai itu berkelebat menyambar ke arah tenggorokan Kwa Hong, agaknya takkan dapat dihindarkan lagi oleh Kwa Hong.

"Traaaangggg!" Bunga api muncrat menyilaukan mata.

Lian Ti Tojin berteriak kaget dan heran. Pedang pusaka Hoa-san-pai itu terlepas dari pegangannya yang terasa sakit, dan sebelum pedang itu jatuh ke atas tanah, Kwa Hong sudah menyambar dan memegangnya. Di depan kakek ini berdiri seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah yang memegang sebatang pedang yang kini sudah buntung karena beradu dengan pedang pusaka Hoa-san-pai tadi!

Kakek sakti itu kaget dan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang biar pun masih muda akan tetapi mempunyai kepandaian tinggi. Agaknya pemuda inilah yang tadi bernyanyi melawan pengaruh suaranya.

Akan tetapi sebelum ia sempat menegur, Koai Atong sudah menerjangnya dengan hebat. Terpaksa Lian Ti Tojin mengelak dan melayani Koai Atong dan kembali dua orang aneh ini bertempur hebat. Pertempuran kini lebih hebat dan seru dari pada tadi karena Lian Ti Tojin tidak memegang pedang lagi.

Sementara itu, Kwa Hong dengan pedang pusaka di tangan, berdiri memandang laki-laki yang telah menolongnya dari ancaman maut tadi. Wajahnya pucat, air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya. Sinar matanya penuh kasih mesra, penuh harap yang bercampur kekuatiran, bibirnya menggigil tanpa dapat mengeluarkan suara.

Ada pun laki-laki muda itu berdiri mematung memandang pada Kwa Hong, sinar matanya penuh iba hati dan juga penyesalan. Anehnya, wajahnya yang tampan dengan kulit muka yang tadinya putih sehat itu perlahan-lahan mulai berubah kehijauan!

Siapakah pemuda ini? Bukan lain orang, dia ini adalah Tang Beng San, pemuda yang menggemparkan dunia persilatan ketika beberapa bulan yang lalu dia secara tidak resmi merebut gelar kejuaraan ilmu pedang dan berhak disebut Raja Pedang!

Tan Beng San inilah yang menjadi biang keladi sehingga kini timbul peristiwa hebat di Hoa-san-pai, karena sebenarnya dia inilah yang menghancurkan kalbu dan mematahkan hati Kwa Hong. Kwa Hong mencintanya sepenuh jiwa raganya dan di antara mereka telah ada hubungan yang sungguh pun terjadi bukan atas kehendak mereka melainkan karena pengaruh racun yang hebat, namun hubungan itulah yang mengakibatkan Kwa Hong mengandung!

Dan seperti kita telah baca dalam cerita Raja Pedang, Beng San tidak bersedia menjadi suami Kwa Hong karena memang dia telah mencinta orang lain, yaitu Kwee Bi Goat puteri tunggal Song-bun-kwi Kwee Lun.

Melihat adanya seorang tosu Hoa-san-pai tua yang muncul pula di belakang Beng San, dapat diduga bagaimana Raja Pedang ini bisa sampai di tempat ini. Tak lain adalah tosu Hoa-san-pai lalu lari minta bantuan kepada Beng San di Min-san. Di sana ia menuturkan segala peristiwa yang terjadi di Hoa-san-pai.

Mendengar penuturan itu, Beng San menjadi marah serta berduka sekali. Hubungannya dengan Hoa-san-pai demikian baik dan dia sangat sayang kepada Lian Bu Tojin. Maka, mendengar bahwa kakek ini dibunuh oleh Kwa Hong dan Koai Atong, ia menjadi berduka sekali.

Apa lagi yang membunuhnya adalah Kwa Hong.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner