RAJAWALI EMAS : JILID-05


Kini begitu berhadapan dengan Kwa Hong, Beng San memandang penuh keharuan hati dan diam-diam ia harus mengakui bahwa sebetulnya dialah yang membuat gadis murid Hoa-san-pai ini menjadi begini.

Dua orang muda ini saling pandang tanpa menghiraukan Koai Atong yang bertempur mati-matian melawan Lian Ti Tojin, juga tidak pedulikan para tosu Hoa-san-pai yang baru sekarang berani muncul dari tempat sembunyi mereka semenjak munculnya Lian Ti Tojin yang mereka takuti.

"San-ko...," akhirnya Kwa Hong mampu mengeluarkan kata-kata dengan suara setengah berbisik dan air matanya masih menitik turun, "Akhirnya kau... kau datang padaku...? Kau datang menyelamatkan nyawaku... dan kau hendak menerima diriku... hendak membawa aku pergi...? Begitukah, San-ko...?"

Pertanyaan terakhir ini diucapkan penuh harapan, seakan mengiris hati Beng San. Hanya dengan pengerahan batin yang sangat kuat saja Beng San dapat menahan air matanya supaya tidak membasahi mata.

Beberapa kali Beng San menelan ludah menahan gelora hatinya, kemudian ia pun dapat mengatasi perasaannya dan menarik muka marah lalu berkata, suaranya penuh teguran. "Hong-moi, kenapa kau lakukan semua ini? Kenapa kau mengajak Koai Atong membunuh Lian Bu Tojin dan mengacau Hoa-san-pai? Kenapa kau berbuat menggila dan merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai, malah membunuh banyak sekali orang gagah? Kulihat lima orang tosu Bu-tong-pai yang terkenal gagah dan budiman juga sudah kau bunuh. Hong-moi, kenapa kau sampai tersesat begini jauh? Kedatanganku ini untuk mencegah kau melanjutkan kegilaan ini!"

"Ohhh...!"

Kwa Hong terhuyung mundur tiga langkah dengan muka membayangkan hati yang perih seperti ditusuk jarum beracun. Kemudian setelah menghapus air matanya, ia maju lagi, wajahnya berubah beringas dan marah. Matanya bersinar-sinar penuh api dan bentaknya, "Kaulah orang pertama yang ingin sekali aku membunuhnya!"

Secepat kilat ia lalu menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai di tangannya, sedangkan tangan kirinya juga menggerakkan cambuk dengan lima panah hijau itu ke arah Beng San. Gerakannya dahsyat bukan main, penuh kemarahan dan kebencian. Gerakan maut untuk mencari korban!

Namun, kali ini serangan Kwa Hong yang dahsyat dan keji itu tidak berhasil. Kali ini dia menghadapi seorang yang telah mewarisi ilmu silat sakti, seorang yang telah menguasai ilmu silat Im-yang Sin-kiam-sut ciptaan Pendekar Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu.

Apa lagi karena dalam mempelajari gerakan-gerakan rajawali emas, baru beberapa bulan saja Kwa Hong melatih diri, maka boleh dibilang kepandaiannya dalam ilmu yang mukjijat ini belum masak benar. Mana mampu dia menghadapi serangan raja pedang seperti Beng San?

Begitu orang muda itu menggerakkan tubuh dan kedua kaki tangannya bersilat, tahu-tahu pedang pusaka Hoa-san-pai itu sudah terampas olehnya dan cambuk dengan lima anak panah itu terlepas dari pegangan Kwa Hong.

Kwa Hong berdiri lemas. Mukanya makin pucat ketika ia berhadapan dengan Beng San yang kini sudah berdiri di depannya memegang pedang Hoa-san Po-kiam dengan kedua kaki tegak terpentang dan pandang mata tajam penuh kemarahan.

"Hong-moi, sekali lagi kuperingatkan kau. Bertobatlah dan jangan kau teruskan perbuatan-perbuatanmu yang keji dan jahat!"

Tiba-tiba Kwa Hong membanting-banting kaki dan menangis tersedu-sedu. Melihat sikap itu, makin hancur hati Beng San. Kenal betul dia akan sifat Kwa Hong ini, masih sama dengan dulu, kalau jengkel membanting-banting kaki.

"Aku memang tidak kuat melawanmu. Hayo... Beng San... kau boleh bunuh aku... mari, kau teruskan pedang itu ke perutku ini... ya ke perut ini, biar mati sekalian... anak kita... uhu-hu-hu..."

Bagaikan orang gila Kwa Hong menerjang ke arah pedang di tangan Beng San yang menjadi kaget sekali mendengar ucapan terakhir yang keluar dari mulut Kwa Hong.

"Apa kau bilang...?!"

Ia meloncat ke samping, mukanya kini berubah hijau sekali, hijau mengerikan. Inilah sifat aneh dari Raja Pedang Tan Beng San. Di dalam tubuhnya sudah penuh dengan dua macam hawa, yaitu hawa Thai-yang dan Im-kang yang amat luar biasa sehingga tiap kali ia merasa kaget atau malu, mukanya berubah hijau. Sebaliknya kalau marah mukanya akan berubah merah sekali sampai kehitaman! Dapat dibayangkan betapa hebat rasa kagetnya ketika ia mendengar ucapan Kwa Hong yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya itu.

"Hayo... kau bunuh aku dan anak kita... makhluk yang tidak tahu apa-apa di perutku ini..." Kwa Hong masih maju-maju sambil rnenangis terisak-isak.

"Hong-moi...! Kau maksudkan... kau... kau mengandung... karena... dahulu itu?!" Setelah berkata demikian Beng San terhuyung-huyung, pedang pusaka Hoa-san-pai terlepas dari tangannya. Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya, seluruh tubuhnya gemetar lemah.

Sementara itu, pertempuran antara Koai Atong dan Lian Ti Tojin berjalan amat serunya. Mereka berdua secara mati-matian bertempur, mengerahkan seluruh kepandaian mereka.

Ilmu silat yang dimiliki Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang asli dan selama puluhan tahun kakek ini sudah melatih diri sehingga tingkat ilmunya benar-benar sudah jauh melampaui tingkat kepandaian asli dari Koai Atong.

Akan tetapi, biar pun baru beberapa bulan mempelajari gerakan rajawali emas, ternyata Koai Atong telah mempelajari ilmu gerakan yang hebat sekali. Kepandaian baru ini yang menyelamatkan dia sehingga sampai sekian lamanya belum juga Lian Ti Tojin berhasil memukulnya roboh.

Di samping ini, memang Lian Ti Tojin sudah terlalu tua, sudah berpuluh tahun tak pernah bertanding. Selain ini juga telah menderita luka dalam yang hebat ketika tadi ‘bertanding kekuatan’ dengan Beng San melalui suara. Meski pun makin lama Koai Atong semakin terdesak hebat, namun tidaklah mudah bagi Lian Ti Tojin untuk merobohkannya dengan cepat.

Semenjak tadi Koai Atong kebingungan. Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Kwa Hong, namun agaknya Kwa Hong sama sekali tidak pernah rnendengarnya. Kemudian setelah melihat Kwa Hong dikalahkan Beng San dan melihat ‘isterinya’ itu menangis tersedu-sedu minta mati, makin kalut pikiran Koai Atong.

Gerakan Koai Atong makin tak karuan dan beberapa kali ia terkena pukulan Lian Ti Tojin. Namun begitu roboh dia bangun kembali dan menyerang lagi dengan nekat. Koai Atong sudah muntah-muntah darah dan ia maklum bahwa sebentar lagi ia pasti tak akan kuat menahan.

Pikiran ini membuat ia menjadi nekat. Pada waktu Lian Ti Tojin mendesaknya, dia malah membiarkan dirinya dipukul, tetapi kesempatan ini ia pergunakan pula untuk menghantam pundak lawannya itu dengan Jing-tok-ciang, menggunakan seluruh tenaganya yang masih ada.

"Plakk-plakk-blugg!"

Tubuh Koai Atong terpental dan roboh tak berkutik lagi karena nyawanya telah melayang, akan tetapi juga tubuh Lian Ti Tojin terlempar. Ia masih dapat mengimbangi dan tidak roboh, hanya terhuyung-huyung dengan muka pucat lalu muntahkan darah segar tiga kali. Mukanya yang seperti tengkorak itu makin menakutkan ketika ia menoleh ke arah Beng San dan Kwa Hong.

Ia melihat Beng San menutupi muka dengan kedua tangan, sedangkah Kwa Hong yang tadinya menangis ketika melihat Koai Atong tewas, cepat menyambar pedang pusaka Hoa-san-pai di atas tanah dan cambuknya. Lian Ti Tojin marah sekali kepada Kwa Hong, biar pun ia sudah terluka parah ia masih mengerahkan tenaga dan lompat menerjang.

Kwa Hong juga meloncat ke atas punggung burungnya sehingga pada saat Lian Ti Tojin menubruk, ia disambut ‘tendangan’ cakar burung rajawali. Tubuhnya bergulingan sampai beberapa meter jauhnya dan kakek ini bangun berdiri lagi dengan terheran-heran bukan main.

Seorang jagoan ilmu silat yang bagaimana pun juga belum tentu akan dapat merobohkan dirinya hanya dengan sekali ‘tendang’ saja, akan tetapi burung itu ternyata benar-benar telah merobohkannya dengan tendangan yang bukan main hebatnya. Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan baru sekarang ia merasa dadanya sakit sekali.

Tiba-tiba berkelebat sinar hijau di atas kepalanya. Lian Ti Tojin berusaha mengelak, tapi telambat. Sambaran cambuk di tangan Kwa Hong dari atas itu amat dahsyat, apa lagi rajawali emas terbang tanpa mengeluarkan bunyi. Belakang kepala Lian Ti Tojin terkena pukulan sebuah anak panah hijau dan kakek yang sudah tua renta ini roboh terjungkal, tewas tak jauh dari mayat Koai Atong.

Setelah berhasil menewaskan Lian Ti Tojin, dari atas punggung burungnya Kwa Hong lalu kembali menyerang. Dia hendak menyerang Beng San dari atas. Dengan suaranya yang melengking tinggi Kwa Hong memberi aba-aba kepada burungnya untuk menyerang Beng San yang lihai. Baru sekarang ia teringat untuk minta bantuan rajawali emas itu.

Beng San masih berdiri membungkuk dengan kedua tangan menutupi mukanya. Ketika merasa ada angin bertiup dari atas kepalanya, secara otomatis dia menggerakkan kedua tangannya ke atas. Inilah gerakan seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya.

Ilmu kepandaian ini sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga jangankan baru dalam keadaan berduka dan masih sadar, biar pun sedang tidur andai kata ada sesuatu tentu secara otomatis ia dapat menjaga diri. Penjagaan ini dilakukan sesuai dengan datangnya serangan, maka ketika ia merasa ada angin bertiup dari atas yang mengandung tenaga dahsyat, ia pun segera menangkis.

Hebat bukan main tenaga tangkisan Beng San ini. Burung yang menerkamnya itu lantas terpukul kembali oleh hawa tangkisan sehingga terbangnya menyeleweng dan terlempar ke samping, juga beberapa helai bulunya gugur. Kwa Hong malah hampir terjungkal dari tempat duduknya!

Beng San kini memandang. Dia terkejut melihat bahwa hampir saja dia mencelakai Kwa Hong tadi, maka katanya dengan suara lemah, "Kwa Hong, kau bunuhlah aku yang penuh dosa, tapi pergunakan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong yang sudah marah itu kembali memerintahkan burungnya menyambar. Burung rajawali itu sudah sangat patuh kepada Kwa Hong. Apa lagi ketika tadi tertangkis hampir saja dia runtuh, maka dia pun marah sekali. Sambarannya kini amat hebat, tidak hanya kedua kakinya menerkam, malah pelatuknya turut pula menyerang dan mematuk.

Akan tetapi, sekarang Beng San sudah berada dalam keadaan sadar. Mana bisa burung itu mencelakainya? Dengan gerakan kaki yang ringan sekali Beng San dapat mengelak.

"Aku tidak mau terbunuh oleh burung bedebah ini, Hong-moi... kalau kau mau bunuh aku, turunlah dan bunuhlah aku dengan tanganmu sendiri..."

Kwa Hong mengeluarkan suara aneh seperti orang menangis tetapi juga seperti suara ketawa, lalu berkata, "Tidak...! Terlalu enak kalau kau mati... hi-hi-hik, kau harus hidup... Beng San, kau harus hidup untuk menebus perbuatanmu yang menghancurkan hatiku...! Kau tunggulah saja, kelak anak di kandunganku inilah yang akan membunuhmu. Anakmu sendiri... hi-hi-hik... anakmu sendiri akan membunuhmu...!"

"Hong-moi..., jangan...! Kau bunuhlah aku sekarang...!" teriak Beng San penuh kengerian.

Akan tetapi burung itu telah terbang ke atas dengan sangat cepatnya dan sebentar saja sudah membawa Kwa Hong amat jauh sehingga hanya terlihat sebuah titik kuning emas di angkasa raya!

Beng San merasa betapa matanya berkunang dan gelap, penuh oleh air mata sehingga ia gunakan kedua tangannya untuk menutup mukanya dan menguatkan hati untuk menahan tekanan batin yang maha berat itu.

Entah berapa lamanya dia berada dalam keadaan seperti itu. Barulah dia tersadar ketika mendengar suara orang berkata.

"Tan-taihiap, kau telah menyelamatkan Hoa-san-pai kami dari tangan seorang iblis jahat. Tak lain kami semua murid Hoa-san-pai menghaturkan terima kasih, dan mohon petunjuk selanjutnya."

Beng San cepat mengeringkan air matanya dan mengangkat muka memandang. Ternyata bahwa para tosu Hoa-san-pai semua telah muncul di situ dan berlutut di depannya! Ada pun yang bicara tadi adalah tosu tua yang telah datang ke Min-san dan minta pertolongan kepadanya. Tentu saja dia menjadi kaget dan sibuk sekali melihat para tosu itu berlutut memberi hormat kepadanya.

Cepat-cepat ia berkata, "Para Totiang harap lekas bangkit dan mari kita bicara baik-baik. Janganlah memberi hormat seperti ini, aku sama sekali tidak berani terima. Bangkitlah!" Di dalam suaranya mengandung pengaruh yang tak dapat dibantah lagi, maka para tosu itu lalu bangun berdiri.

Setelah para tosu itu berdiri, terjadilah keributan. Beberapa orang tosu menuding-nuding dan mencela tosu-tosu lain yang tadinya mereka anggap taat dan tunduk serta membantu Kwa Hong. Para tosu itu tentu saja menjadi ketakutan dan menyangkal sehingga terjadi percekcokan dan keributan.

Beng San yang memperhatikan keributan itu segera maju melerai sambil berkata, "Para Totiang harap jangan cekcok sendiri. Tidak ada gunanya saling menyalahkan dan tidak perlu menekan mereka yang tadinya jatuh ke bawah pengaruh Kwa Hong. Di dunia ini, manusia manakah yang tak pernah menyeleweng dan bersalah? Tanpa ada kesalahan dan dosa, manusia takkan dapat sadar dan bertobat, takkan mampu membedakan baik dan buruk. Yang penting adalah kesadaran akan dosa itu, maka walau pun tadinya ada beberapa orang Totiang yang bertindak keliru, asal sekarang sudah sadar dan bertobat, kiraku tidak perlu ditekan terus."

Para tosu dapat menerima ucapan ini dan kembali mereka berunding, kini dengan hati rukun dan tidak saling menyalahkan seperti tadi.

"Tan-taihiap, keadaan Hoa-san-pai kami sudah morat-marit dan rusak. Mohon petunjuk Taihiap bagaimana supaya Hoa-san-pai dapat dibangun kembali. Kami sudah kehilangan pimpinan," kata tosu tua.

"Aku sudah mendengar bahwa Saudara Kui Lok dan Thio Bwee diusir oleh Kwa Hong. Cucu murid yang masih ada sekarang hanyalah Thio Ki yang sekarang tinggal di Tin-yang menjadi piauwsu (pengawal barang). Para Totiang harap tinggal di sini dan mengurus semua mayat ini secara baik-baik, biarlah aku yang pergi mengabarkan ke Sin-yang dan minta kepada Saudara Thio Ki untuk datang ke sini, kemudian mengurus pembangunan Hoa-san-pai. Kurasa hanya dia seorang yang berhak, karena dia pun murid dari mendiang Lian Bu Tojin."

Para tosu menyatakan persetujuan mereka dan berangkatlah Beng San turun gunung dengan wajah muram. Pertemuannya dengan Kwa Hong tadi benar-benar membuat dia berubah menjadi manusia lain.

Ketika mendaki Puncak Hoa-san, dia adalah seorang manusia bahagia karena selama ini ia tinggal di Min-san bersama isterinya, yaitu Kwee Bi Goat, hidup dengan penuh cinta kasih dan damai, saling mencinta dan rukun. Ketika ada tosu Hoa-san-pai datang dan bercerita tentang mala petaka yang menimpa Hoa-san-pai lalu mohon pertolongannya, Beng San tidak dapat menolak karena ia mengingat akan hubungannya dengan partai itu.

Isterinya mengatakan hendak ikut, akan tetapi oleh karena Beng San tahu bahwa akan buruk jadinya kalau isterinya itu bertemu dengan Kwa Hong, maka dia mencegah dan menyatakan bahwa tidak baik bagi kesehatan isterinya untuk melakukan perjalanan jauh, karena keadaan Bi Goat yang sedang mengandung itu.

Demikianlah, dia lalu meninggalkan Bi Goat di Min-san bersama ayah mertuanya, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun. Siapa sangka bahwa pertemuannya dengan Kwa Hong akan menghancurkan hatinya seperti ini!

"Aduh... aku tidak berharga lagi mendekati Bi Goat..."

Di sepanjang perjalanan menuju ke Sin-yang mencari Thio Ki, Beng San membayangkan isterinya dengan hati remuk redam. Setelah apa yang ia lakukan bersama Kwa Hong dan ternyata Kwa Hong mengandung keturunannya, dia merasa berdosa besar dan merasa tidak berharga untuk mendekati isterinya terkasih dan suci.

Ketika mendaki Puncak Hoa-san tadi ia masih merupakan seorang suami yang bahagia. Sekarang ia meninggalkan puncak dengan hati terjepit derita sengsara.

Namun dasar seorang berwatak satria, sungguh pun diri sendiri mengalami penderitaan batin yang maha besar, akan tetapi dia terus saja melanjutkan usahanya untuk menolong Hoa-san-pai. Ia harus mencari Thio Ki dan menarik orang muda kakak Thio Bwee itu agar suka turun tangan membangun kembali Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Sekarang mari kita mendahului perjalanan Beng San yang sedang menuju ke Sin-yang untuk mencari Thio Ki dan kita melihat apa yang terjadi di Sin-yang…..

********************

Seperti telah dituturkan, Thio Ki adalah murid Hoa-san-pai juga, malah dalam tingkatnya, ia merupakan cucu murid yang paling tua. Thio Ki adalah kakak kandung Thio Bwee dan pemuda Hoa-san-pai yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka tampan ini sekarang telah bekerja membuka piauwkiok di Sin-yang.

Pada masa itu, perusahaan piauwkiok (kantor exspedisi) amat maju karena banyaknya orang jahat sehingga para saudagar selalu mengirim barang-barangnya yang berharga di bawah perlindungan jago-jago dari piauwkiok, Karena kepandaiannya memang tinggi dan sebagai murid Hoa-san-pai, sebentar saja Thio Ki sudah membuat nama baik, ditakuti penjahat dan dipercaya langganan pengirim barang.

Sekarang Thio Ki sudah menikah dengan seorang gadis bernama Lee Giok. Bukan gadis sembarangan. Selain cantik jelita juga gadis ini hebat kepandaiannya, bahkan lebih tinggi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Thio Ki sendiri.

Hal ini tidak aneh karena Lee Giok adalah seorang gadis keturunan bangsawan Kerajaan Goan yang lalu, yang menjadi murid dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan Si Raja Pedang Tanpa Tandingan! Selain menjadi murid orang sakti, Lee Giok juga terkenal sebagai seorang gadis patriot yang dalam jaman perjuangan melawan Kerajaan Mongol telah berjasa besar.

Suami isteri ini hidup rukun dan damai di Sin-yang. Thio Ki amat mencintai isterinya itu, sungguh pun sebetulnya di dalam hati kecilnya Lee Giok tidak mencinta suaminya. Bukan karena Thio Ki kurang gagah atau kurang tampan, tetapi karena cinta kasih pertamanya telah gagal, dibawa mati seorang patriot besar murid Kun-lun-pai bernama Kwee Sin.

Hal ini tidak aneh karena sebagai seorang patriot tentu saja ia kagum kepada lain orang patriot dan ketika orang yang dicintanya itu, Kwee Sin, meninggal dunia, hatinya menjadi hampa dan ia tidak banyak membantah lagi ketika ia dijodohkan dengan Thio Ki, seorang pemuda yang selain gagah juga tampan. Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati Lee Giok, yaitu bahwa suaminya ini sama sekali tidak memiliki jiwa patriotik.

Di Sin-yang mereka berdua hidup dalam keadaan cukup. Perusahaan piauwkiok yang didirikan Thio Ki mendatangkan hasil lumayan. Mereka mampu membeli sebuah rumah yang cukup besar dengan pekarangan yang luas juga.

Oleh karena pekerjaan suaminya itu mengharuskan suaminya lebih sering keluar rumah dari pada berada di rumah, untuk mengurangi kesepian, Lee Giok memelihara banyak ayam dan binatang ternak lain di rumahnya. Juga la menanam banyak kembang indah di pekarangannya.

Pada sore hari itu di pekarangan rumah Thio Ki nampak sunyi. Sehari itu tidak nampak Lee Giok atau pelayannya keluar dari dalam rumah. Padahal sudah tiga hari ini Thio Ki berada di rumah. Dan pada hari itu pun Thio Ki tidak pergi ke perusahaannya. Akan tetapi mengapa kelihatan begitu sunyi?

Malah tiga orang pelayan rumah tangga sejak pagi tadi sudah disuruh pulang semua dan disuruh libur sepekan lamanya oleh Lee Giok. Para pelayan itu amat terheran-heran, akan tetapi tidak berani membantah kehendak nyonya rumah itu.

Apakah yang terjadi? Kalau kita menengok ke dalam rumah, keadaannya lebih aneh lagi. Thio Ki dan Lee Giok berada di ruang tengah, muka mereka agak pucat dan biar pun di dalam rumah, mereka berpakaian ringkas dan di pinggang mereka tergantung pedang seperti orang yang siap akan bertempur!


Kedua orang suami isteri ini bersikap begini semenjak malam tadi. Memang tidak aneh kalau diketahui sebabnya. Ada bahaya maut mengancam keselamatan mereka, bahkan keselamatan para pelayan dan malah semua yang hidup di dalam rumah itu terancam bahaya maut.

Malam tadi, lewat tengah malarn, dua orang suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi ini mendengar tindakan kaki ringan di atas genteng rumah mereka. Thio Ki adalah seorang yang biasa melakukan perjalanan dan sudah biasa berhadapan dengan orang-orang jahat. Juga Lee Giok bukanlah pendekar kemarin sore.

Oleh karena itu, ketika mendengar suara ini mereka cepat meloncat keluar dari kamar. Tanpa mengeluarkan suara ribut-ribut mereka berdua telah mengejar, seorang lewat pintu belakang, seorang lagi lewat pintu depan, terus meloncat ke atas genteng rumah sendiri. Akan tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

Setelah mencari-cari beberapa lama, mereka melihat berkelebatnya bayangan orang dari bawah, baru saja orang itu meloncat keluar dari ruangan dalam. Gerakan orang itu gesit dan ringan sekali.

Akan tetapi Lee Giok dan Thio Ki sudah cepat menerjang ke depan untuk menghadang dan Thio Ki membentak, "Penjahat dari mana berani mampus mengganggu rumahku?"

Orang itu tertawa, suara ketawanya melengking amat tinggi dan sekali berkelebat sudah melayang melalui atas kepala suami isteri itu. Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, cepat mereka mengejar. Mereka belum sempat melihat wajah orang itu.

Ketika melihat dua orang itu mengejar, Si Penjahat lalu membalikkan tubuh di tempat yang gelap, kedua tangannya bergerak dua kali ke depan seperti orang memukul. Thio Ki dan Lee Giok segera dapat menduga bahwa itu tentulah serangan gelap, mungkin senjata rahasia, maka mereka cepat berhenti dan siap siaga.

Tidak ada senjata rahasia melayang datang, tapi tiba-tiba mereka merasa terdorong ke belakang dan hampir terjengkang roboh kalau tidak cepat-cepat berjungkir-balik. Mereka merasa dada mereka agak sesak oleh tenaga dorongan yang tidak kelihatan itu.

Pada saat mereka berdiri kembali, penjahat itu telah lenyap, hanya rneninggalkan gema suara ketawanya yang melengking tinggi, suara ketawa wanita! Juga meninggalkan ganda yang harum semerbak.

Thio Ki dan Lee Giok mengejar sampai jauh keluar rumah, namun sia-sia belaka. Dengan kecewa dan lesu mereka kembali memasuki rumah dan apa yang mereka lihat membuat mereka mengertak gigi saking marah, akan tetapi juga membuat wajah mereka pucat.

Di dalam kamar mereka, di atas dinding yang putih, terdapat tulisan-tulisan corat-coret merah yang berbunyi:

Sebelum lewat besok malam, semua yang bernyawa di rumah ini akan mati.

Tidak ada tanda tangan apa-apa dan huruf-huruf itu ditulis dengan darah. Ketika mereka memeriksa ke belakang, ternyata dua ekor anjing peliharaan yang tidur di belakang telah mati dengan kepala pecah. Agaknya darah anjing ini yang dipakai untuk menulis ‘surat maut’ itu.

"Apa kau mengenal suaranya?" akhirnya Thio Ki bertanya kepada isterinya.

Lee Giok menggelengkan kepala dan keningnya berkerut, "Jelas dia seorang perempuan, akan tetapi karena gelap tidak dapat mengenalnya. Suaranya pun seakan-akan pernah mendengarnya tapi entah di mana."

"Kepandaiannya hebat..." Thio Ki menarik napas panjang. "Entah mengapa dia melakukan ini?"

"Dia tentu tidak datang seorang diri," berkata Lee Giok, sepasang matanya yang jeli itu bergerak-gerak cerdik. "Tulisan ini baru saja ditulis, darahnya masih belum beku, bangkai anjing itu pun masih hangat. Tentu hal ini dilakukan pada saat kita mengejar penjahat perempuan itu. Yang datang ke sini pada malam ini sedikitnya tentu dua orang, mungkin pula lebih."

Thio Ki lebih gelisah mendengar ini. Dia tidak dapat menyangkal pendapat isterinya yang sangat cerdik itu. "Seorang saja demikian lihainya, kalau mereka itu berkawan, benar... berbahaya...!"

"Tak perlu gelisah. Kalau orang sudah menghendaki untuk memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali melawannya mati-matian. Hanya aku ingin sekali tahu siapa mereka dan apa sebabnya... Apakah selama beberapa bulan ini menjadi piauwsu kau tidak menanam bibit permusuhan yang hebat dengan golongan hitam (penjahat)!"

"Tidak, tidak ada. Melihat tulisan ini, agaknya Si Penulis mempunyai dendam yang amat mendalam terhadap kita." Muka Thio Ki makin pucat.

Tiba-tiba Lee Giok mengangkat alisnya, matanya bersinar-sinar. "Ahhh, siapa lagi kalau bukan dia? Hemm, sejak dulu memusuhi aku, hemm... tapi... ah, kalau benar dia kenapa ilmu kepandaiannya begitu hebat?"

"Siapakah? Siapakah yang kau maksudkan, isteriku?" Thio Ki bertanya penuh perhatian.

"Aku teringat akan Kim-thouw Thian-li...."

Thio Ki menahan napas, dia pun sekarang teringat. Memang agaknya kalau ada musuh besar wanita, kiranya dia itulah Kim-thouw Thian-li (Dewi Berkepala Emas), ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Terang)). Seorang siluman yang hebat dan kejam. Apa lagi gurunya yang bernama Hek-hwa Kui-bo (Setan Betina Hitam). Bergidiklah Thio Ki teringat mereka itu dan bulu tengkuknya meremang.

"Kalau betul dia... Hek-hwa Kui-bo... ahhh... bagaimana baiknya?" Ia nampak ketakutan sekali.

Sekali lagi lubuk hati Lee Giok tertikam oleh kekecewaan suaminya. Ia makin kenal betul bahwa di balik keangkuhan dan kegagahan Thio Ki terdapat pula sifat penakut yang tidak menyenangkan hatinya.

"Orang-orang seperti kita ini apakah pantas ketakutan menghadapi ancaman musuh?" Dalam ucapan Lee Giok ini terkandung kekecewaan dan teguran yang amat terasa oleh Thio Ki.

Maka ia segera berdiri dan menepuk dada sambil berkata, "Jangan kuatir isteriku. Aku suamimu tentu saja tidak takut menghadapi musuh yang mana pun juga, tidak pula takut menghadapi kematian sebagai orang gagah. Hanya aku meragukan apakah kita mampu melawan mereka itu kalau benar-benar mereka terdiri dari Hek-wa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li?"

Agak senang juga hati Lee Giok. Memang beginilah seharusnya sikap orang yang menjadi suaminya. "Apa bila betul dugaan kita bahwa mereka itu adalah Kim-thouw Thian-li dan gurunya, sudah tentu kita bukanlah lawan mereka. Akan tetapi, nyawa berada di tangan Thian. Jangankan baru mereka berdua, biar pun kita diancam oleh seratus orang macam mereka, kalau Thian belum menghendaki mati, kiranya kita pun akan selamat. Sebaliknya, kalau Thian sudah menghendaki kematian kita, biar pun andai kata kita melarikan diri, tentu musuh akan dapat mengejar dan membunuh kita juga. Sama-sama mati, bukankah lebih baik mati sebagai orang gagah?"

"Kau betul, isteriku. Seribu kali lebih baik mati sebagai harimau yang baru mati setelah melakukan perlawanan gigih dari pada mati sebagai seekor babi yang tidak melakukan perlawanan malah melarikan diri."

"Bukan begitu saja, pendirian seorang gagah sejati malah lebih tinggi lagi. Lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada hidup sebagai seekor babi!"

Thio Ki mengangguk-angguk. "Kau betul... kau betul..."

"Kita harus berjaga-jaga," kata pula Lee Giok.

Setelah agak lama mereka merenung, barulah Lee Giok kembali berkata, "Pertama-tama besok pagi-pagi tiga orang pelayan kita harus pergi dari sini pulang ke kampung masing-masing. Biar mereka berlibur sepekan, baru mereka diperbolehkan kembali ke sini. Aku tidak suka jika karena permusuhan kita, orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terancam bahaya."

Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang pelayan mereka suruh pulang, diberi bekal uang dan dipesan supaya jangan kembali sebelum sepekan. Kemudian suami isteri ini berjaga-jaga sehari penuh dengan pedang selalu di pinggang.

Mereka makan sambil berjaga-jaga dan tidak pernah berpisah sebentar pun juga. Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka biar pun siang hari, mereka tak berani meninggalkan kewaspadaan. Apa lagi setelah hari itu menjelang malam, mereka makin berhati-hati.

Pintu-pintu depan dan belakang mereka tutup, kemudian dipalang kuat-kuat. Hanya pintu samping yang kecil mereka tutup saja tanpa dipalangi. Dengan cerdik Lee Giok kemudian memasangkan anak panah terpentang di busur yang dihubungkan dengan pintu-pintu dan jendela sehingga siapa saja berani memasuki rumah dengan jalan merusak, pasti akan disambut anak panah.

Sedangkan dia sendiri dan Thio Ki selain membawa pedang juga menyediakan kantong senjata rahasia piauw secukupnya. Tidak begini saja, malah di depan pintu Lee Giok telah menyebar paku-paku yang sudah ditekuk sehingga merupakan perintang bagi musuh.

Setelah sore terganti malam, keadaan di rumah Thio Ki makin sunyi lagi. Memang rumah ini agak jauh dari tetangga dan mempunyai pekarangan yang luas. Apa lagi suami isteri yang berjaga-jaga di ruangan dalam itu, sejak tadi mereka hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun.

Lampu-lampu penerangan di luar rumah dipasang semua, terang benderang. Akan tetapi di sebelah dalam, di ruangan itu, sengaja digelapkan. Inilah siasat Lee Giok agar mereka dapat melihat kedatangan musuh tanpa kedudukan mereka diketahui oleh musuh itu.

Waktu merayap amat lambat. Angin bertiup agak keras, menggerakkan daun-daun pohon, mengeluarkan bunyi yang terdengar amat mengerikan bagi orang-orang yang berada di dalam cekaman ketegangan itu.

Keduanya tidak dapat melihat apa-apa, biar pun mereka mengintai dari lubang-lubang di antara pintu keluar, keadaan sunyi saja. Akan tetapi mereka memasang telinga baik-baik. Setiap bunyi harus dapat terdengar oleh mereka dan ini penting sekali bagi ahli-ahli silat. Kadang kala telinga dapat mendahului mata dan telingalah yang menyelamatkan nyawa.

Keadaan di ruangan itu begitu sunyi sehingga andai kata ada jarum jatuh, tentu segera dapat terdengar oleh mereka. Beberapa kali terdengar suara orang atau kaki kuda dari jauh, hanya sayup sampai terbawa angin lalu.

Thio Ki memandang bayangan isterinya di dalam gelap dan bangkitlah kasih sayangnya yang besar. Ngeri ia bila memikirkan bagaimana mereka nanti harus menghadapi musuh yang lihai. Bagaimana kalau sampai dia atau isterinya tewas? Terharu hatinya memikirkan dan tak terasa pula ia menjamah tangan isterinya dengan mesra dan penuh kasih.

Agaknya Lee Giok merasai ini, maka cepat-cepat mengibaskan tangan suaminya. Dalam keadaan seperti itu Lee Giok tidak mau memperlihatkan perasaan lemah, apa lagi seluruh panca indera harus dipusatkan untuk memperhatikan keadaan di luar.

"Ssttt, dengar.. baik-baik...," bisiknya memperingatkan suaminya.

"Srrtt-srttt!"

Suami isteri itu menghunus pedang, digenggam erat-erat dan berdiri siap siaga. Mereka mendengar langkah kaki yang amat ringan datang dari depan!

"Jaga kanan kiri pintu..." bisik lagi Lee Giok.

Thio Ki maklum akan maksud isterinya dan ia lalu berdiri di sebelah kiri pintu sedangkan isterinya menjaga sebelah kanan. Menurut rencana Lee Giok, kalau musuh bisa melalui lantai penuh paku, biar musuh itu mendobrak pintu kemudian menerima sambaran anak panah dan diterjang oleh mereka berdua dari kanan kiri. Walau pun musuh lebih pandai, kiranya tak akan dapat menyelamatkan diri kalau dihujani serangan seperti ini.

Suara langkah kaki yang ringan itu makin lama makin dekat, berhenti di depan pintu di mana sudah disebar paku-paku oleh Lee Giok. Keadaan makin tegang dan makin sunyi setelah langkah kaki itu berhenti dan tak terdengar lagi. Lee Giok yang biasanya tabah dan sudah biasa menghadapi saat-saat tegang ketika dia masih menjadi pejuang dahulu, kini mau tidak mau mengeluarkan keringat dingin.

Apa lagi Thio Ki yang memang sudah merasa gelisah sekali. Tubuhnya menggigil dan setiap saat ia bisa kalap, meloncat dan menerjang siapa saja yang muncul pada saat itu. Senjata-senjata rahasia sudah siap di tangan kedua orang ini.

Mendadak terdengar suara perlahan di luar pintu, suara wanita yang bicara seorang diri setengah berbisik.

"Aneh sekali... di luar terang kenapa di dalam gelap dan sunyi? Pergikah orang-orangnya? Dan paku-paku ini..." Suara itu berhenti sebentar lalu terdengar ia memanggil, "Enci Lee Giok...! Enci Lee Giok! Suci (Kakak Seperguruan)...!"

Lega bukan main hati Lee Giok setelah mengenal suara ini, seakan-akan ia merasa batu besar yang menindih dadanya dilepaskan.

"Sumoi (Adik Seperguruan)... kaukah itu, Sumoi...?" tanpa disadarinya, suara Lee Giok mengandung isak.

"Suci Lee Giok, kau kenapakah? Ah, tentu terjadi sesuatu yang hebat... jangan takut, Suci, aku datang..." Terdengar orang bergerak di luar pintu.

"Nanti dulu, Sumoi... jangan masuk...!" teriak Lee Giok akan tetapi terlambat.

Pintu telah didorong dari luar sehingga terbuka dan palangnya patah. Pada saat itu anak panah rahasia yang dipasang Lee Giok melesat ke depan, tiga batang banyaknya.

"Sumoi...!" Lee Giok menjerit.

Dari luar berkelebat bayangan merah, bukan main cepatnya dan gesitnya gerakannya dan bagai seekor burung walet menyambar kupu-kupu, bayangan itu menyambar tiga batang anak panah itu dan di lain saat ia telah meloncat masuk ke dalam ruangan, tiga batang anak panah sudah berada di tangannya. Dari sinar lampu yang menyorot masuk ke dalam ruangan melalui pintu yang terbuka, tampaklah orang itu.

Dia seorang gadis cantik jelita berpakaian merah. Pakaiannya yang warnanya merah itu berpotongan ringkas dan membuat ia selain nampak cantik juga gagah sekali. Di belakang punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya dihiasi ronce-ronce terbuat dari benang kuning. Juga pengikai rambut, ikat pinggang, dan sepatunya berwarna seperti warna ronce-ronce pedangnya.

Mukanya berkulit putih halus dan manis bentuknya, rambutnya hitam panjang. Sepasang mata yang indah bentuknya itu bersinar-sinar dan bening laksana mata ‘burung hong’. Hidung dan mulutnya bagaikan bunga-bunga yang memperindah taman sari wajahnya. Kesemuanya itu menjadikan dia seorang gadis berwajah ayu bukan main.

Siapakah gadis jelita ini? Dia bukan lain adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tiada Bandingan) Cia Hui Gan, benama Cia Li Cu. Dia telah mewarisi ilmu silat ayahnya, bahkan sudah mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang bukan main indah dan lihainya. Karena kepandaiannya dan kecantikannya inilah maka akhir-akhir ini Cia Li Cu mendapat julukan Thai-San Sian-li (Dewi Gunung Thai-san) karena memang ayahnya tinggal di Gunung Thai-san.

Seperti pernah kita ketahui, apa lagi sudah jelas diceritakan dalam cerita Raja Pedang, gadis jelita ini dipertunangkan dengan suheng-nya sendiri, yaitu Tan Beng Kui, kakak dari Tan Beng San.

Dapat dibayangkan betapa lega dan girang hati Lee Giok melihat kedatangan sumoi-nya yang mempunyai ilmu kepandaian amat tinggi itu. Saking girang dan terharunya ia segera menubruk, memeluk dan menciumi sumoi-nya sambil menangis!

"Eh-ehh-ehh... ada apakah Suci? Ci-hu (Kakak Ipar), ada masalah apakah...?" tanyanya berganti-ganti kepada Lee Giok dan Thio Ki. "Dan kenapa gelap amat di sini? Pasanglah pelita..."

Thio Ki ragu-ragu, dia belum berani menyalakan lampu. Akan tetapi di antara isaknya Lee Giok berkata, "Setelah Sumoi berada di sini, kita takut apa lagi? Hayo pasang lampunya."

Thio Ki segera menyalakan lampu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang. Li Cu semakin heran melihat keadaan suci dan cihu-nya begitu tegang, malah di dalam rumah telah melakukan persiapan seperti itu seakan-akan sedang menghadapi musuh yang luar biasa hebat. Ia sudah berpengalaman dan tentu saja tanpa diceritakan lagi ia sudah dapat menduga bahwa suci-nya menghadapi ancaman musuh.

Sebetulnya ketika datang, Li Cu sendiri membawa hati yang sakit oleh urusan pribadinya. Akan tetapi begitu melihat keadaan Lee Giok, urusan sendiri dilupakan dan dia menjadi marah sekali.

"Suci, katakan siapa yang berani kurang ajar mengancam keselamatanmu, katakan! Aku yang akan menghadapinya!"

Lee Giok menarik napas panjang, lalu menuntun tangan Li Cu diajak ke dalam kamar. Thio Ki maklum bahwa isterinya hendak memperlihatkan tulisan darah anjing itu, maka ia pun ikut masuk. Tanpa berkata apa-apa Lee Giok menuding ke arah coretan merah di tembok itu.

Li Cu memandang dan sepasang matanya yang indah berkilat.

"Keparat betul! Alangkah sombongnya. Binatang mana yang berani berbuat begini? Dia menghinamu, berarti menghinaku dan menghina ayahku. Biarkan dia datang, Suci, kita lawan dan bikin mampus Si Sombong itu!" Li Cu menjadi merah kedua pipinya saking marahnya.

"Memang aku pun tadi siap hendak melawannya, Sumoi. Dan alangkah senang hatiku melihat kau datang, kau tahu... mereka itu lihai sekali!"

Lee Giok lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan juga dugaannya bahwa penjahat itu tentu lebih dari seorang, Juga dugaannya bahwa agaknya yang akan mengganggu itu tentulah Kim-thouw Thian-li dan mungkin juga bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo.

Li Cu mengangguk-angguk, mengerti kenapa suci-nya menduga demikian. Ia tahu bahwa dahulu suci-nya ini mencinta mendiang Kwee Sin, sedangkan Kim-touw Thian-li adalah kekasih Kwee Sin. Selain permusuhan karena rasa cemburu ini, juga memang Kim-thouw Thian-li dulunya merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, sebaliknya Lee Giok adalah seorang pejuang.

"Jika betul mereka yang datang, kau dan cihu bersama-sama hadapilah Ngo-lian Kauwcu (Ketua Ngo-lian-kauw) itu, biarkan aku yang akan menghadapi Hek-hwa Kui-bo!" kata Li Cu dengan gagah dan bersemangat.

Kembali mereka melakukan penjagaan. Akan tetapi sekarang keadaan suami isteri itu tidak sekuatir tadi, meski pun ketegangan masih tetap ada di dalam hati mereka. Juga ruangan di mana mereka berjaga itu tidak digelapkan.

Dalam keadaan sunyi ini Li Cu teringat kembali akan keadaan dirinya sendiri sehingga wajahnya yang ayu itu menjadi murung. Baiknya Lee Giok terlalu tegang hatinya sehingga tidak melihat keadaan sumoi-nya ini.

Menjelang tengah malam, keadaan amat sunyi. Tiba-tiba terdengar suara ayam berkeok, lalu sunyi lagi. Sunyi yang mencekam.

Lee Giok bangkit dari tempat duduknya, wajahnya tegang. Dia saling pandang dengan suaminya dan dapat menduga bahwa tentu ada orang mengganggu binatang peliharaan mereka itu. Lee Giok memandang Li Cu dan pandang matanya mengisyaratkan bahwa agaknya musuh yang ditunggu-tunggu sudah datang!

Lee Giok beserta Thio Ki sudah berdiri dengan tangan di gagang pedang masing-masing. Hanya Li Cu yang masih duduk, sikapnya tenang. Mendadak terdengar lagi suara ayam berkeok beberapa kali, lalu sunyi kembali.

Suami isteri itu menggerakkan tangan kanan mencabut pedang, sedangkan tangan kiri bersiap di kantong piauw. Mata mereka memandang ke arah pintu yang sudah ditutup lagi. Li Cu masih seperti tadi, duduk dengan tenang seperti orang melamun. Agaknya ia masih tenggelam dalam lamunan duka tentang dirinya sendiri.

Ketegangan suami isteri itu memuncak ketika di dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara ketawa dari jauh. Setelah suara ketawa berhenti lalu terdengar suara suling ditiup perlahan. Mendengar suara suling ini, Lee Giok memegang tangan sumoi-nya yang masih duduk dan berbisik,

"Sumoi, bukankah itu si iblis Giam Kin?"

Li Cu berdiri dan berkata, "Hemmm, makin banyak iblis makin baik, biar kita basmi mereka agar dunia terbebas dari genggaman mereka!"

Suara ketawa makin lama makin dekat dan jelas terdengar bahwa suara itu adalah suara ketawa wanita, kemudian setibanya di depan rumah suara itu berhenti. Suara suling juga berhenti, keadaan sunyi sebentar lalu terdengar suara berisik mendesis-desis.

Tiga orang yang berada di dalam rumah sudah siap siaga, hanya Li Cu yang belum juga mencabut pedang. Memang bagi seorang ahli pedang seperti dia tidak mau sembarangan mencabut pedang kalau tidak perlu.

"Brakkkk!"

Tiba-tiba pintu depan pecah terbuka dan dari luar terdengar lagi suara suling lapat-lapat. Yang membuat ketiga orang muda itu terkejut adalah ratusan ekor ular besar kecil yang masuk ke rumah seperti banjir. Belasan ekor sudah memasuki ruangan itu melalui pintu.

Lee Giok dan Thio Ki kaget sekali, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar menyilaukan dan belasan ular itu sudah putus menjadi dua potong oleh sambaran pedang di tangan Li Cu. Sungguh hebat gerakan ini dan mengerikan sekali ular-ular yang sudah putus menjadi dua tapi masih berkelojotan itu. Dari luar masih membanjir terus ular-ular besar kecil, merayap melalui bangkai ular-ular yang sudah sekarat.

Kini Lee Giok dan Thio Ki sudah hilang kagetnya. Semangat mereka bangkit oleh gerakan Li Cu tadi, karena itu mereka pun menyerbu ke depan dan membabati ular-ular dengan pedang mereka.

Akan tetapi ular-ular itu masih saja membanjir masuk, malah kini merayap dari celah-celah jendela dan pintu belakang, dan baunya yang amat amis tak kuat tertahankan oleh tiga orang muda itu lebih lama lagi.

"Keluar melalui jendela terus ke atas genteng...!" kata Li Cu mendahului melompat ke jendela.

Sekali tendang jendela terpentang lebar, pedangnya berkeredepan diputar di depan tubuh ketika tubuhnya melayang keluar, tangan kiri menyambar langkan lalu tubuhnya diayun terus ke atas ke arah genteng. Perbuatannnya ini disusul oleh Lee Giok dan Thio Ki.

Baiknya Li Cu yang berada paling depan karena segera tampak sinar hijau dan putih menyambar ke arah mereka. Namun sinar-sinar senjata rahasia ini dapat ditangkis runtuh semua oleh pedang di tangan Li Cu!

Ketika mereka tiba di atas genteng dalam keadaan selamat, ternyata di situ telah berdiri dua orang wanita dan seorang laki-laki menghadapi mereka sambil tertawa mengejek. Tepat seperti yang diduga oleh Lee Giok, dua orang wanita itu bukan lain adalah Ngo-lian Kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li bersama gurunya, Hek-hwa Kui-bo.

Kim-thouw Thian-li yang sudah berusia empat puluh tahun itu masih nampak cantik jelita seperti gadis remaja saja, sikapnya pun genit dan angkuh. Ini masih tidak aneh, bahkan gurunya, Hek-hwa Kui-bo yang usianya sudah enam puluhan tahun, masih nampak cantik, memegang sapu tangan sutera beraneka warna!

Ada pun laki-laki itu adalah seorang pemuda ganteng, mukanya pucat, pakaiannya serba kuning dan di tangannya terdapat sebatang suling. Pembaca Raja Pedang tentu sudah mengenal siapa orang ini. Bukan lain adalah Giam Kin yang berjuluk Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil), murid iblis dari utara Siauw-ong-kwi.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner