RAJAWALI EMAS : JILID-09


Ia maklum bahwa kakak kandungnya itu tentulah bertempat tinggal di Nan King, di kota raja yang baru bersama ayah mertuanya, raja muda she Lu itu. Maka ia mengambil jalan ini dan mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaian ginkang-nya untuk berlari cepat, tanpa mempedulikan tubuhnya yang amat lelah dan darah segar yang mengucur keluar lagi dari luka di pundaknya karena gerakan-gerakannya ini.

Usaha mati-matian ini ternyata tidak sia-sia. Menjelang pagi dia sudah mendengar suara kaki kuda di sebelah depan, mulai memasuki hutan terakhir dalam perjalanan jauh ke kota raja itu. Hatinya masih ragu-ragu. Benarkah suara kaki kuda itu berasal dari kuda yang ditunggangi oleh Beng Kui?

Tiba-tiba semangatnya bangkit ketika lapat-lapat ia mendengar jeritan.

"Beng San...!!"

Beng San mempercepat larinya dan tak lama kemudian benar saja dia melihat Beng Kui membalapkan kudanya sambil memangku Li Cu yang masih tak berdaya karena kaki dan tangannya terbelenggu. Sambil meringankan langkah kakinya sehingga suara larinya tidak terdengar, Beng San makin mendekati dan akhirnya ia mendengar suara Beng Kui yang sedang mentertawakan, bahkan menghina.

"Li Cu, kau sekarang tergila-gila kepada Beng San? Heh-heh, benar-benar lucu. Tadinya kau marah-marah melihat aku kawin dengan puteri Raja Muda Lu dengan dasar politik, karena kelak aku ingin merebut kedudukan tinggi. Tapi cintaku masih kepada dirimu, Li Cu. Kalau kelak aku menjadi kaisar, atau setidaknya menjadi raja muda, apa salahnya kalau aku beristeri dua? Kau tetap akan menjadi isteriku yang tercinta. Kenapa kau tidak sabar dan tidak mau mengerti, lalu marah-marah? Kenapa kau sekarang malah kelihatan lebih mencinta adikku yang gila itu?"

"Dia seribu kali lebih baik dari padamu, kau laki-laki palsu, kau pengkhianat. Awas kau, Ayah pasti akan membalaskan sakit hatiku!" Li Cu berteriak-teriak.

Beng Kui tertawa mengejek, "Kau bilang Beng San lebih baik dari padaku? Ha-ha-ha, Li Cu, kau tidak mengerti. Dia adalah seorang iblis perusak wanita. Tak tahukah kau betapa murid Hoa-san-pai yang bernama Kwa Hong itu sudah dirusaknya, lantas ditinggalkannya pergi, malah dia menikah dengan anak seorang penjahat yang terkenal Song-bun-kwi? Tentang ayahmu... hemm, suhu tentu akan memaklumi pendirianku..."

Mendadak suaranya berhenti karena pada saat itu kuda yang ditungganginya terjungkal sehingga dua orang itu terlempar dari atas punggung kuda! Beng Kui terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil mencabut sepasang pedangnya, membalikkan tubuh dan dia sudah berhadapan dengan Beng San!

"Kau... lagi...?! Seperti iblis saja kau, mengapa selalu mengikuti aku?" Beng Kui berteriak marah.

Beng San tersenyum mengejek. "Bukan aku yang mengikuti kau, tapi kejahatanmu yang memaksa aku datang. Tidak boleh kau menculik seorang gadis, biar pun dia itu sumoi-mu sendiri." Sambil berkata demikian, Beng San lalu melangkahkan kaki menghampiri Li Cu yang rebah di atas tanah.

Pada saat terjatuh dari punggung kuda tadi, gadis ini masih dalam keadaan terbelenggu, maka jatuhnya lebih parah sehingga pakaiannya sampai robek-robek. Ia kini benar-benar dalam keadaan setengah pingsan, akan tetapi masih cukup sadar untuk bisa menangkap percakapan antara kakak beradik itu.

Selagi Beng San melangkah menghampiri Li Cu, Beng Kui yang sudah tak kuat menahan kemarahannya itu serentak menerjang dari belakang, menggerakkan sepasang pedang Liong-cu-kiam secepat kilat.

"Awas... Beng San... belakang...!" Li Cu yang melihat ini menjerit.

Akan tetapi gerakan Beng San bahkan mendahului jeritannya, karena pemuda ini sudah membalik, kedua tangannya bergerak, kakinya bergeser dengan langkah-langkah aneh. Secara otomatis tubuhnya menyelinap di antara sambaran dua pedang, tahu-tahu kedua tangannya sudah ‘memasuki’ ruang kosong di celah-celah kilatan pedang dan mendorong ke arah sepasang pundak lawan.

Terdengar Beng Kui mengeluh sebelum tangan Beng San sempat menyentuh pundaknya, sepasang pedangnya hampir terlepas dan di lain saat kedua pedang itu sudah berpindah ke tangan Beng San! Bukan main hebatnya gerakan ini dan dari kedua tangan Beng San itu samar-samar tampak mengebulnya uap putih.

Inilah sebuah gerakan dari ilmu silat mukjijat yang dahulu di jamannya Pendekar Sakti Bu Pun Su disebut Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih)! Karena kemahirannya dalam Im-yang Sin-kun, otomatis Beng San dapat mewarisi sebuah gerakan dari ilmu itu dan ternyata hasilnya hebat luar biasa.

Beng Kui memandang dengan muka pucat dan mata melotot. Beng San untuk sesaat juga memandang dengan muka marah dan mata berkilat, tetapi dia lalu menyerahkan pedang yang panjang itu kembali sambil berkata, "Aku sudah berjanji meminjamkan Liong-cu-kiam sepasang ini kepada kau dan Nona Cia Li Cu selama tiga tahun. Janji itu tetap berlaku. Tiga tahun setelah janjiku aku pasti akan mengambil kembali Liong-cu-kiam jantan ini dari
tanganmu."

Masih tertegun oleh kehebatan adik kandungnya yang secara mukjijat mampu merampas sepasang pedangnya, Beng Kui mengeluarkan tangan dan menerima pedangnya kembali. Kemudian setelah memandang, dengan mata melotot beberapa saat lamanya, ia menoleh ke arah Li Cu sejenak lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Beng San menarik napas panjang dan menghampiri Li Cu. Sekali pedang Liong-cu-kiam pendek itu bergerak di tangannya, nampak kilat menyambar dan sekaligus belenggu yang mengikat kaki dan tangan Li Cu putus semua tanpa terasa sedikit pun oleh gadis itu.

Li Cu meloncat bangun, mengeluh dan terhuyung-huyung ke belakang. Baiknya Beng San cepat mengejarnya dan menyambar pundaknya. Alangkah kagetnya pemuda ini pada saat melihat Li Cu sudah meramkan mata, tak ingat orang lagi, pingsan dalam pelukannya.

Beng San bingung. Ia pun meraba pergelangan lengan gadis itu dan maklumlah ia bahwa gadis ini tidak apa-apa. Hanya karena sudah banyak mengalami ketegangan, kemarahan dan kekuatiran, ditambah lagi tadi terlalu lama ia tertotok dan terbelenggu, maka begitu ia dibebaskan, di dalam batin dan pikirannya terjadi pukulan yang tak kuat ia menahannya sehingga membuatnya pingsan.

Terpaksa Beng San memondong dan membawanya lari keluar dari hutan itu. Dia merasa kuatir kalau-kalau Beng Kui tiba-tiba datang bersama kawan-kawannya. Akan payah juga kalau dia kembali dikeroyok orang-orang pandai sementara Li Cu masih pingsan. Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Belum juga dia berlari, dia melihat kuda yang tadi ditunggangi Beng Kui, sekarang sudah sembuh dan sedang makan rumput. Memang tadi ketika merobohkan kuda itu, Beng San tidak mempergunakan serangan mematikan, melainkan menotok dengan lemparan kerikil ke arah lutut kuda sehingga kuda itu terjungkal saja.

Dengan girang kini Beng San menghampiri kuda yang masih lengkap dengan pelana dan kendali itu, lalu ia melompat ke atasnya sambil merangkul Li Cu. Dengan perlahan ia lalu menjalankan kudanya ke arah utara.

Matahari telah naik tinggi ketika kuda yang ditunggangi Beng San sampai di tepi Sungai Huang-ho sebelah barat. Beng San membelokkan kudanya ke barat, menyusur sepanjang pantai sungai memasuki sebuah hutan yang segar kehijauan dan teduh.

Hari itu panasnya bukan kepalang. Walau pun tidak dibalapkan, kudanya sudah berpeluh dan napasnya terengah-engah. Beng San merasa kasihan dan menghentikan kuda itu di bawah sebatang pohon besar di mana air Sungai Huang-ho tampak indah kehijauan.

Li Cu baru saja siuman dari pingsan. Gadis ini merasa kepalanya pening sekali, matanya berputar-putar. Dia mulai membuka sedikit kedua matanya, lalu memejamkannya kembali karena sinar matahari yang menerobos dari celah-celah daun memasuki matanya.

Lalu ia teringat betapa indahnya daun-daun pohon di atas tadi, maka dibukanya kembali matanya. Memang indah! Daun-daun pohon yang kecil dengan bentuk sempurna ditimpa matahari, bersusun-susun menimbulkan warna hijau yang dihias sinar kuning emas dan bayangan kehitaman. Bagai benang-benang sutera kuning emas sinar matahari meluncur turun di antara celah-celah daun, kadang-kadang berubah kedudukan karena daun-daun itu bergerak oleh angin.

Sampai lama Li Cu terpesona dengan keindahan pemandangan yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya. Kemudian terasa olehnya pergerakan napas dan bunyi berdetik di pinggir telinganya. Makin lebar matanya dibuka.

Yang mula-mula tampak adalah sebuah hidung dan sebuah mulut dari muka yang putih. Yang paling jelas adalah bentuk dagu yang keras. Ia pun makin mengerahkan perhatian, memandang kepada muka itu. Tahulah ia sekarang bahwa yang berdetik-detik itu adalah bunyi jantung dalam dada di mana ia bersandar. Ia dipangku orang, di atas sebuah pelana kuda! Dan muka itu... muka Beng Kui!

"Bedebah kurang ajar kau!"

Li Cu seketika timbul tenaganya. Kedua tangannya meraih ke atas lalu dipukulkan dua kali ke muka itu, muka yang dibencinya, muka yang dahulu pernah dicintainya. Muka Beng Kui!

Li Cu sudah berhasil memukul. Sambil terus meloncat dia menjatuhkan diri ke pinggir, lalu berjungkir balik dan di lain saat dia sudah berdiri tegak di depan kuda, siap sedia untuk menyerang lagi. Ia melihat orang yang dipukul mukanya tadi meloncat turun, terus duduk di atas akar pohon sambil menutupi mukanya.

Beng San tak dapat mengelak ketika tadi secara mendadak Li Cu memukulnya. Memang dia pun seperti Li Cu, terpesona oleh cahaya matahari yang secara indah menghias hutan itu dengan sinar benang emas, akan tetapi warna kuning emas itu mengingatkan ia akan burung rajawali emas dan sekaligus mengingatkan ia kembali kepada Kwa Hong.

Terngiang di telinganya kata-kata tuduhan Beng Kui bahwa dia sudah merusak kehidupan Kwa Hong. Beng Kui tidak tahu keadaan yang sebenarnya, akan tetapi memang tuduhan itu tak dapat disangkalnya pula. Memang ia telah merusak kehidupan Kwa Hong. Ia telah berdosa besar, besar sekali.

Pada saat itulah Li Cu memaki dan memukul mukanya dua kali, yang pertama mengenai pinggir jidatnya dan yang ke dua mengenai pinggir mulutnya. Darah mengucur dari kedua tempat itu, sakit rasanya. Akan tetapi hati Beng San lebih sakit oleh makian tadi.

Dia dapat menahan pukulan itu, lalu meloncat turun dan menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon, menutupi mukanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua butir air mata yang berloncatan keluar. Akan tetapi tanpa disengaja kedua tangannya itu pun menyembunyikan jidat dan bibir yang mengucurkan darah.

Setelah kini agak reda peningnya, pandang mata Li Cu makin terang. Dia memandang terbelalak kepada orang yang duduk menutupi muka di bawah pohon itu. Sejenak Li Cu bingung. Ia teringat betul bahwa yang dipukulnya tadi adalah Beng Kui. Tapi orang itu... pakaian itu dan... dan pundak yang terluka itu...!

"Beng San...!” Li Cu menahan jeritnya, tangan kirinya menutupi mulut, lalu ia melangkah maju tiga tindak mendekat.

Beng San menurunkan kedua tangannya yang menutupi muka. Darah mengucur deras dari luka di jidatnya. Memang bagian tubuh yang teratas ini paling banyak rnengeluarkan darah apa bila terluka. Pandang mata Beng San kabur dan dia melihat seakan-akan Kwa Hong yang berdiri di depannya sekarang ini.

"Kau... kau boleh pukul aku lagi kalau kau suka... bunuh pun boleh...," katanya perlahan.

Meremang bulu tengkuk Li Cu saat melihat muka yang berlumuran darah dan mendengar suara yang tak berirama ini, seperti suara dari balik kubur. Dia merasa menyesal bukan main. Kenapa dia malah memukul Beng San yang telah menolongnya dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut? Timbul penyesalan dan kasihannya.

"Ahhh, jadi kaukah yang kupukul tadi?" tanyanya dengan penuh sesal sambil cepat maju menghampiri.

Setelah dekat barulah Beng San ingat kembali bahwa gadis ini sama sekali bukan Kwa Hong biar pun pakaiannya serba merah, melainkan Cia Li Cu.

"Nona Cia, ini pedangmu... ambil... ambil... ambillah sendiri..." katanya lemah.

Pedang Liong-cu-kiam pendek itu telah ia selipkan di belakang punggungnya.

"Siapa bicara tentang pedang? Mukamu itu... harus diurus dulu," kata Li Cu.

Dengan cepat gadis ini sudah berlutut di depan Beng San, kemudian dengan cekatan ia membersihkan darah dari luka di bibir dan jidat itu.Tanpa ragu-ragu lagi dan sama sekali tidak jijik Li Cu mempergunakan sapu tangannya dari sutera yang harum untuk mengusap darah. Sapu tangan itu sudah penuh darah, dan luka di kening masih terus mengucurkan darah.

"Tunggu sebentar, aku mencari air dulu," kata Li Cu.

Cepat gadis ini lari ke tepi sungai dan mengambil air dengan mempergunakan daun yang lebar. Kemudian ia datang lagi dan dicucinya luka-luka itu. Cekatan sekali ia bekerja tanpa ragu-ragu dan jari-jari tangannya dengan mesra membersihkan luka yang diakibatkan oleh pukulannya sendiri tadi.

"Wah, darahnya mengucur terus. Jidatmu ini harus dibungkus," bisik Li Cu perlahan dan agak bingung karena tidak ada obat penghenti darah di situ.

Dia mencuci sapu tangannya dan mempergunakannya untuk membalut jidat Beng San. Tentu saja untuk pekerjaan ini ia harus mengangkat kedua lengannya dan seakan-akan memeluk kepala Beng San.

Selama itu, jantung Beng San berdebar tidak karuan. Lenyaplah bayangan Kwa Hong yang selama ini mengikutinya dan membuat ia merasa berdosa hebat. Malah bayangan isterinya, Kwee Bi Goat, isterinya yang tercinta yang selama ini dirindukannya, juga tak nampak pada saat itu.

Bukan main cantik jelitanya gadis ini, demikian ia mendengar bisikan-bisikan di belakang telinganya, seakan-akan batang pohon yang dia sandari itulah yang berbisik-bisik. Cantik bagai bidadari.

Mata yang bening redup itu, mulut kecil mungil dengan hidung yang mancung. Rambut yang panjang hitam awut-awutan, kadang-kadang memperlihatkan kulit leher yang putih kekuningan.

Ketika gadis itu membalutkan sapu tangan ke belakang lehernya ia merasa seakan-akan dipeluk dan Beng San meramkan matanya. Ganda sedap mengharum membuat ia seperti mabok dan ketika ia membuka matanya, ternyata pekerjaan gadis itu sudah selesai.

Li Cu masih berlutut di depannya, mukanya sangat dekat, terlalu dekat seakan-akan dia dapat merasai tiupan napas gadis itu. Dua pasang mata bertemu, saling pandang, saling terkam dan sukar terlepas lagi. Mulut Li Cu agak terbuka, matanya redup dan bulu mata yang panjang itu bergerak-gerak.

Bisikan di belakang telinga Beng San semakin mendesak. “Dia cantik bukan main. Dan agaknya suka kepadamu. Hemmm... tunggu apa lagi? Hajar!”

Li Cu menjerit kecil sambil melompat mundur. Hampir berbareng di saat itu juga Beng San sambil duduk membalikkan tubuhnya. Tangan kanannya yang terkepal lantas memukul batang pohon besar di belakangnya.

“Blukkk!”

Saking kerasnya dia menghantam, kepalan tangan itu melesak masuk ke dalam batang pohon sampai ke pergelangan tangannya!

"Ehh... ahh... kenapa...? Kenapa kau memukul pohon...?" Li Cu yang kini sudah berdiri, memandang dengan mata terbelalak terheran-heran.

Beng San perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik napas berkali-kali. Dia masih sempat mendengar suara yang berbisik-bisik tadi seperti mentertawakannya dari jauh. Setelah dia mendengarkan betul-betul, itu sebenarnya adalah suara daun-daun pohon tertiup angin. Ia bergidik.

Betapa bahayanya bisikan-bisikan tadi. Bisikan iblis yang setiap saat menggoda manusia. Untung dia dapat mengalahkannya tadi dan biar pun kepalan tangannya terasa sakit, dia merasa lega hatinya. Kini tanpa ragu-ragu ia dapat mengangkat muka memandang wajah Li Cu.

"Beng San... kenapa kau memukul pohon...?" tanyanya sekali lagi.

"Ahh, tidak... tidak apa-apa, Nona."

"Mukamu tadi menakutkan sekali..."

"Bukan salahku. Mukaku memang buruk..."

"Sekarang tidak lagi," buru-buru Li Cu memotong. "Tadi, sedetik sebelum kau memukul pohon. Aku sampai kaget dan menjerit. Beng San, kenapa mukamu bisa berubah-ubah?"

"Sudah nasibku, Nona. Ketika kecil aku dipaksa makan racun. Apakah sekarang mukaku masih menakutkanmu?"

Li Cu memaksa senyum, matanya bersinar-sinar lagi. "Tidak lagi. Sekarang tidak. Hanya tadi sebentar... ahh, membikin aku teringat akan kata-kata Beng Kui tadi. Kau disebut iblis perusak wanita."

"Memang aku iblis... bukan hanya iblis, bahkan kau tadi pun menyebutku bedebah dan kurang ajar... memang demikianlah aku..."

Beng San menunduk dan menarik napas, merasa betapa memang ia tepat sekali disebut demikian setelah apa yang dia akibatkan pada diri Kwa Hong. Dia berdosa kepada Kwa Hong dan lebih-lebih lagi kepada Bi Goat.

"Aku tadi mengira kau Beng Kui, maka aku memaki demikian."

Kembali Beng San menarik napas panjang. "Memang tidak banyak selisihnya, Nona Cia. Kami berdua... ahh, kami bukan orang baik..."

Li Cu memandang dan menjadi terharu. Muka itu kurus benar, tapi kulitnya sekarang putih dan... hemmm, tampan sekali. Apa lagi alis yang berbentuk golok itu, dan sepasang mata yang tajam luar biasa. Rambutnya tidak terpelihara, pakaiannya pun hampir menyerupai pakaian jembel. Memang jika telihat lahirnya saja jauh bedanya dengan Beng Kui yang mentereng dan rapi. Tapi hatinya… jauh nian bedanya.

"Beng San...," katanya setelah mereka berdua tercekam oleh suasana hening.

"Malam tadi di atas genteng, kenapa kau menangis?"

"Apakah aku menangis? Aku sudah lupa...”

"Sebelum kau muncul untuk menolongku, kau menangis. Tangismu memilukan sekali biar pun hanya terdengar sebentar."

"Bisa jadi. Aku menangisi keadaanku, juga keadaan dia yang dulu kuagungkan, kukagumi sebagai kakakku yang mulia dan perkasa. Kiranya dia sama saja dengan aku..."

"Kau kenapa? Kau... kau baik sekali, Beng San." Ucapan ini terdengar lantang dan terus terang.

Ketika Beng San mengangkat muka memandang, kembali dua pasang mata bertemu dan Beng San melihat pandang mata yang jujur dan tahu bahwa pernyataan nona ini keluar dari hatinya. Ia menarik napas.

"Bukan, sayang sekali. Benar seperti yang dikatakan olehnya, aku seorang jahat, perusak hati wanita, aku seorang penuh dosa..."

“Tak percaya! Aku tidak percaya!" Suara Li Cu makin keras penuh kesungguhan.

Gadis ini diam-diam merasa aneh. Sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya. Meski pun sudah lama sekali ia bertunangan secara resmi dengan Beng Kui, namun hubungannya sama saja dengan hubungan kakak beradik, seorang suheng dan sumoi. Belum pernah jantungnya menggetar, seperti tadi ketika ia membalut kepala Beng San. Malah belum pernah berdekatan seperti tadi dengan Beng San. Apakah artinya semua ini? Dan ia sama sekali tidak mau percaya kalau Beng San seorang jahat, seorang perusak wanita.

Beng San memandang dengan melongo. Tiba-tiba dia merasa jantungnya berdebar keras. Penuh keharuan dan kengerian dia memandang pada wajah jelita itu. Sudah terlalu sering dia melihat wajah gadis-gadis yang mencintanya, terutama sekali wajah Kwa Hong dan isterinya Kwee Bi Goat. Sinar mata dan wajah mereka itu seperti wajah Li Cu sekarang ini, demikian mesra, demikian jelas cinta kasih terbayang pada sepasang mata yang bening itu.

Tak boleh ini! Sekali-kali tidak boleh! Ia tidak mau berlaku sembrono seperti dulu. Dia tak mau melukai hati gadis, apa lagi gadis seperti Li Cu. Dulu sudah banyak gadis-gadis yang hatinya terluka olehnya.

"Nona Cia, aku harus berterus terang kepadamu. Memang aku seorang laki-laki penuh dosa dan apa yang dikatakan suheng-mu tadi, semuanya betul belaka."

Kemudian dengan suara tegas jelas, sama sekali tidak ragu-ragu dengan pengakuannya itu, sebab ia hendak meringankan tekanan dosanya yang menindih isi dada, ia kemudian menceritakan kepada Li Cu telah melakukan perhubungan dengan Kwa Hong, kemudian meninggalkannya karena ia sudah jatuh cinta dengan Kwee Bi Goat dan kemudian ia ikut bersama Bi Goat ke Min-san dan menjadi suami isteri di sana. Diceritakannya pula betapa Kwa Hong menjadi rusak hatinya dan jadi seperti gila, apa lagi setelah ternyata bahwa hubungan mereka itu telah mengakibatkan Kwa Hong mengandung.

"Aku telah berdosa besar kepada Kwa Hong, aku telah merusak hidupnya. Dan aku lebih berdosa lagi kepada isteriku yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya dulu aku mengaku di depan Bi Goat, tetapi aku pengecut... aku takut kehilangan dia, jadi aku seakan-akan menipunya. Ahhh, dosaku bertumpuk-tumpuk, Nona Cia. Sudah sepatutnya kalau orang semulia engkau membenciku, menganggap rendah kepadaku seperti yang dikatakan oleh suheng-mu itu..." Demikian Beng San menutup ceritanya.

Li Cu sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka yang sebentar pucat sebentar merah. Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, mendengar akan penuturan Beng San tentang pengalaman dengan beberapa orang gadis cantik ini, dadanya terasa panas dan ingin sekali ia marah-marah! Ingin sekali ia menampar muka Beng San. Tetapi juga ingin sekali ia menangis!

"Kau... kau... laki-laki mata keranjang!" makinya dengan suara serak sambil berdiri dan berlari pergi dari tempat itu.

"Nona Cia...! Ini pedangmu, bawalah...!”

Beng San juga berdiri dan sekali ia meloncat, ia sudah berada di depan Li Cu, pedang pendek Liong-cu-kiam telah ia cabut dan ia angsurkan kepada gadis itu. Herannya bukan main ketika ia melihat muka yang jelita itu basah oleh air mata yang bercucuran.

Li Cu menggunakan tangan kiri mengusapi air matanya. Tanpa mengeluarkan kata-kata dan tanpa memandangi muka Beng San ia menyambar pedang itu lalu berlari pergi lagi. Isaknya terdengar memilukan ketika tubuhnya berkelebat di depan Beng San.

Pemuda ini berdiri bengong memandang ke arah tubuh berpakaian merah yang berlari cepat itu. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan seperti patung dia memandang ke depan sampai bayangan merah itu lenyap ditelan kejauhan.

"Ha-ha-ha-ha, puteri Bu-tek Kiam-ong itu cinta kepadamu, Adikku!” mendadak suara itu terdengar di belakang.

Beng San terkejut sekali, cepat berputar dan... dia berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh raksasa yang gagah sekali dan yang berdiri sambil tersenyum lebar dan bertolak pinggang.

"Twako...!" Beng San berseru girang dan maju merangkul laki-laki gagah perkasa itu.

"Ha-ha-ha, Beng San adikku. Di mana-mana kau selalu menghadapi keruwetan dengan wanita. Ahh, kau bikin aku mengiri saja."

"Tan-twako, jangan menggoda aku. Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja selama ini kau pergi?" Beng San menjadi gembira kembali sesudah bertemu dengan laki-laki tinggi besar itu.

Siapakah dia? Bukan seorang biasa, melainkan seorang bekas pejuang yang sudah terkenal namanya sebagai pemimpin dari perkumpulan Pek-lian-pai yang banyak jasanya dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan pemerintah Mongol. Namanya adalah Tan Hok dan semenjak dahulu menjadi sahabat baik Beng San, malah Tan Hok menganggap Beng San sebagai adik angkatnya sendiri.

Tan Hok juga seorang gagah yang memiliki ilmu silat tinggi. Sebetulnya yang membuat ia amat dikagumi Beng San bukanlah ilmu silatnya, melainkan jiwa kepatriotannya yang luar biasa besarnya. Dalam hal perjuangan, Tan Hok sama sekali tak bisa disamakan dengan orang seperti Beng Kui yang berjuang karena ada pamrih untuk memetik buah dari hasil perjuangannya itu untuk keperluan dan kesenangan diri pribadi.

Perjuangan yang dilakukan Tan Hok dengan perkumpulan rahasianya adalah perjuangan suci tanpa pamrih. Kalau pun ada pamrih, maka pamrih itu hanya ingin melihat rakyatnya terbebas dari pada belenggu penjajahan. Jadi pamrihnya bukan untuk kepentingan diri pribadi, tetapi demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena inilah setelah pemerintah Mongol tumbang, Tan Hok dan teman-temannya tidak termasuk bekas-bekas pejuang yang ikut gontok-gontokan untuk memperebutkan kedudukan dan kemuliaan di kota raja!

"Tan-twako, kau hendak pergi ke manakah?" Kembali Beng San bertanya, untuk sejenak ia lupa akan penderitaan batin yang sedang mengamuk di hatinya ketika bertemu dengan orang yang amat disayangnya ini.

"San-te (Adik San), sebetulnya tidak sengaja aku dapat bertemu dengan kau di sini. Pagi tadi aku melihat kau naik kuda sambil memangku seorang nona yang tampaknya sakit atau pingsan. Tadinya aku curiga melihat keadaan Nona itu maka aku tidak menegurmu dan diam-diam mengikutimu. Maafkan kecurigaanku ini. Kemudian aku melihat bahwa dia adalah Nona Cia Li Cu puteri Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan." Tan Hok berhenti sebentar, kemudian dengan muka sungguh-sungguh ia berkata lagi, "San-te, sebetulnya pertemuan ini sangat menggembirakan hatiku dan kebetulan sekali. Andai kata kita tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan mencarimu di Min-san untuk minta bantuanmu."

Girang hati Beng San bahwa teman baiknya ini tidak melanjutkan bicaranya tentang Li Cu. Ia sudah merasa malu sekali kalau ada orang berbicara tentang gadis-gadis yang pernah membuat hidupnya kacau-balau. Dengan penuh gairah ia lalu berkata,

"Katakanlah, Twako. Apakah urusan yang mengganggumu? Tentu adikmu ini dengan hati lapang siap sedia membantumu."

"Kalau hanya menghadapi urusan pribadi, mana aku berani mengganggumu, Adik Beng San? Hanya ada satu macam urusan yang memaksaku minta bantuan siapa pun juga."

"Urusan negara?" Beng San menduga. Dia tahu akan watak laki-laki raksasa itu.

Tan Hok mengangguk. "Patriot-patriot palsu itu benar-benar menjemukan. Mereka kini mengacau dan berusaha merampas kedudukan Kaisar Thai Cu, merasa bahwa mereka lebih berhak dari pada bekas pahlawan Giu Goan Ciang. Hemmm, benar-benar tidak ubahnya dengan anjing-anjing yang memperebutkan bangkai srigala yang tadinya mereka keroyok!"

"Aku sudah mendengar juga tentang itu, Twako, bahkan sudah bertemu dengan Ho-hai Sam-ong yang bersekongkol dengan Raja Muda Lu Siauw Ong. Aku mendengar tentang rencana mereka yang akan bergerak dari luar dan dari dalam."


"Bagus!" Tan Hok melompat bangun, lalu duduk kembali di atas akar pohon. "Jadi mereka sudah bersekongkol pula? Kalau begitu lebih mudah untuk sekaligus menghancurkan mereka. Adikku, karena inilah maka aku minta bantuanmu. Aku dan teman-temanku dari Pek-lian-pai sudah siap dan malah Kaisar sudah pula memberi bantuan pasukan untuk menumpas para pemberontak tak tahu malu itu. San-te, dengan kau di sampingku, aku akan merasa kuat untuk menghadapi mereka yang tak boleh dipandang ringan itu. Dan... perlu kuberi tahukan kepadamu, yang kau sebut Lu Siauw Ong tadi, dia itu adalah mertua dari kakak kandungmu Tang Beng Kui. Jadi... kalau kau membantuku, kau tentu akan berhadapan dengan Tan Beng Kui sebagai musuh!"

Beng San mengangguk. "Hal itu pun aku sudah tahu, Twako." Kemudian secara singkat Beng San menuturkan pertemuannya dengan kakak kandungnya itu di rumah Ho-hai Sam-ong. Hanya soal Li Cu tidak ia ceritakan.

Tan Hok amat senang mendengar ini. "Kalau begitu, mari kau ikut denganku. Kita akan bergerak dari utara, membersihkan pemberontak-pemberontak yang datang dari sana. Ho-hai Sam-ong tidak akan berani sembarangan bergerak kalau komplotan-komplotannya dari utara belum kuat benar membantunya."

"Aku bersedia membantumu, Twako. Hanya saja... aku masih belum tahu pasti, belum yakin akan tujuan pergerakanmu sekarang ini. Orang-orang itu saling memperebutkan kedudukan dan semua yang kudengar menyatakan bahwa Kaisar sekarang ini, bekas pemimpin pejuang Ciu Goan Ciang adalah seorang yang tidak adil. Sekarang ternyata kau membantu Kaisar. Apakah menurut pendapatmu Kaisar Thai Cu yang betul dan mereka yang tidak puas itu salah?"

"Adikku Beng San, kau tidak mengerti tentang keadaan negara, memang hal ini tidak aneh karena kau tidak mempedulikannya. Tetapi aku yang selalu mengikuti perkembangannya, dapat melihat dengan nyata. Dengarlah kata-kataku ini, Adikku. Sudah jelas bahwa dalam perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol, pemimpin besar Ciu Goan Ciang sudah membuktikan bahwa dialah seorang pemimpin yang pandai dan hanya dia yang akan mampu memimpin rakyat dan memajukan negara yang baru saja terbebas dari belenggu penjajahan. Andai kata bukan Ciu Goan Ciang yang dalam perjuangan dapat menyatukan semua unsur kekuatan rakyat, mana perjuangan melawan Mongol bisa tercapai?"

Tan Hok berhenti sebentar untuk meredakan gelora dalam dadanya, lalu disambungnya perlahan dan tenang,

"Bahaya yang mengancam keadaan negara masih belum lenyap. Bangsa Mongol yang melarikan diri ke utara setiap waktu tentu hendak mencoba merampas kembali tanah jajahannya. Belum lagi bangsa-bangsa lainnya yang hendak mengambil keuntungan dari keadaan kacau-balau sehabis perang. Kita semua membutuhkan bimbingan seorang yang kuat lahir batin, sedangkan perjuangan membuktikan bahwa hanya Ciu Goan Ciang yang mempunyai kemampuan untuk tugas berat itu. Pengangkatan dirinya sebagai Kaisar telah disetujui oleh semua pemimpin para pejuang." Kembali ia berhenti.

Akan tetapi Beng San mengemukakan pendapatnya. "Kalau begitu, kenapa masih banyak orang yang merasa kurang puas dan menganggap dia kurang adil karena tidak memberi kedudukan kepada para bekas pejuang?"

"Kalau menurutkan pendapat setiap orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri, di dunia ini memang tak akan pernah ada keadilan. Mana bisa timbul keadilan kalau semua orang menghendaki bahwa yang enak-enak dan yang baik-baik itu seyogianya diberikan kepadanya saja? Soal kedudukan bukan hal yang semudah orang bicarakan. Tentu saja Kaisar harus memilih orang dengan amat hati-hati untuk didudukkan pada suatu pangkat, disesuaikan dengan kecakapan orang itu. Bagaimana nanti jadinya kalau seorang bekas kepala rampok diangkat menjadi menteri yang mengurus kekayaan negara? Bagaimana akan jadinya kalau seorang yang hampir tidak pandai menulis diangkat menjadi menteri kebudayaan? Seorang yang buta akan urusan pemerintahan diangkat menjadi menteri urusan negara? Tentu akan menjadi makin kacau kalau hal-hal semacam itu dilakukan hanya untuk memenuhi pamrih bekas-bekas pejuang yang menganggap diri sendiri paling berjasa itu." Kembali Tan Hok bicara penuh semangat.

"Kalau begitu, menurut anggapan Twako, Kaisar Thai Cu atau bekas pejuang Ciu Goan Ciang itu adalah seorang yang sempurna dan semua rakyat harus mentaati saja apa yang ia kehendaki?"

Tan Hok tertawa. "Adikku. Tidak ada seorang manusia yang sempurna sama sekali di dunia ini! Para dewa sekali pun masih belum sempurna karena masih tidak luput dari kesalahan. Tentu saja Kaisar tak terkecuali. Aku takkan membantah jika ada orang yang dapat mengemukakan kesalahan-kesalahan, cacad-cacad atau kekurangan-kekurangan Kaisar. Setiap manusia sudah pasti memiliki kekurangan-kekurangan dan cacat-cacatnya. Akan tetapi dalam hal kenegaraan, adalah keliru kalau menilai kedudukan seseorang dari tabiat pribadinya. Seharusnya dilihat pelaksanaan dari tugasnya, hasil dari pekerjaannya, dan kemampuan pada dirinya. Kiraku tidak ada orang lainnya yang lebih pandai dan lebih bijaksana dan lebih tepat untuk menduduki singgasana dari pada Kaisar yang sekarang ini. Oleh karena mengingat bahwa dia adalah pusat dari kekuatan kerajaan yang baru, pusat dari pemerintahan sesudah kaum penjajah jatuh, maka sudah seharusnyalah kalau kita mendukung dan membantunya. Bukan semata-mata membela pribadi Ciu Goan Ciang yang sekarang sudah menjadi Kaisar Thai Cu, melainkan mendukung dan membela pemimpin dari bangsa kita. Kalau tidak kita bela, lalu pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak bijaksana, tidak mampu, apa lagi yang jahat seperti bekas-bekas kepala rampok macam Ho-hai Sam-ong, ahhh, akan bagaimanakah jadinya dengan negara kita?"

Setelah mendengar penjelasan dan penuturan Tan Hok secara panjang lebar, akhirnya Tan Beng San menyatakan suka ikut dan membantu Tan Hok untuk menggempur dan menghalau para pemberontak yang hendak mendatangkan kekacauan itu. Hal ini bukan semata-mata karena semangat Beng San bangkit oleh uraian Tan Hok, akan tetapi untuk melupakan atau menghibur kehancuran hatinya.

Tiba-tiba dia merasa malu untuk pulang ke Min-san, untuk berhadapan muka dengan Bi Goat, isterinya yang tercinta itu. Untuk sementara waktu dia ingin menjauh dulu. Memang kadang kala hatinya penuh rindu, perasaannya juga hancur kalau ia teringat betapa Bi Goat sudah mengandung ketika ia tinggalkan ke Hoa-san. Sudah mengandung beberapa bulan. Inilah sebabnya kenapa ia melarang ketika Bi Goat menyatakan keinginan hatinya hendak ikut pergi dengan suaminya itu ke Hoa-san…..

********************

Di puncak sebuah bukit kecil yang ditumbuhi beberapa batang pohon raksasa terdapat sebuah rumah papan yang kecil menyendiri. Tak ada rumah lain dari puncak sampai ke kaki bukit kecuali pondok kecil itu. Sunyi sepi sekelilingnya, namun harus diakui bahwa hawa udara amat sejuk dan pemandangan alam amat indahnya dari puncak itu. Di lereng dan kaki bukit tampak pohon-pohon kecil yang menghijau. Hanya di puncak itulah adanya beberapa pohon raksasa yang sudah tua dan amat besar lagi tinggi.

Seperti biasanya setiap hari, pada pagi hari itu pun sunyi, seakan-akan tempat itu tidak ada penghuninya. Akan tetapi kesunyian pagi hari itu tidak lama sebab segera terdengar lapat-lapat suara tangisan seorang wanita, tangisan yang amat memilukan. Terisak-isak wanita itu menangis, kemudian terdengar keluhannya.

"Kau bunuhlah aku... bunuhlah aku... ah, alangkah keji hatimu, kau melebihi segala iblis... kau bunuhlah aku...!"

Lalu disusul suara laki-laki, suaranya halus tapi penuh ejekan.

"Kau selalu minta mati saja, sudah sebulan lebih permintaanmu tak lain hanya itu saja. Bosan aku mendengarnya. Bukankah sudah jelas bahwa aku sangat sayang kepadamu, bahwa aku cinta padamu? Manis, apakah kau bosan tinggal di tempat sunyi ini? Apakah kau ingin ikut denganku merantau ke utara? Di sana indah sekali. Apakah kau pernah menyaksikan gurun pasir?"

"Aku tidak inginkan apa-apa kecuali mati. Kau bunuh sajalah aku!” lagi-lagi suara wanita itu memohon.

"Sudahlah, mari kau ikut ke utara. Tentu kau senang dan kau akan melihat betapa besar cintaku kepadamu." Laki-laki itu tertawa.

Tak lama kemudian tampaklah seorang laki-laki muda yang tampan keluar dari pondok itu, memondong seorang wanita muda cantik yang lemas tak berdaya, agaknya telah tertotok jalan darahnya. Laki-laki muda itu bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin, pemuda raja ular yang jahat itu. Ada pun wanita yang bukan lain adalah Lee Giok atau Nyonya Thio Ki yang telah ditawan dan dilarikannya sebulan yang lalu. Lee Giok kelihatan pucat dan berduka sekali, akan tetapi ia tidak berdaya karena memang kalah kuat dan kalah tinggi kepandaiannya.

Setelah tiba di luar pondok, Lee Giok berkata sambil menarik napas panjang, "Giam Kin, agaknya Thian sudah menakdirkan aku menjadi teman hidupmu. Sudahlah aku tidak akan membantah lagi dan aku mau ikut denganmu ke utara. Asal selama hidupku aku tak akan bertemu dengan suamiku dan kau membawa ku ke tempat yang jauh, aku menurut."

Giam Kin girang sekali dan memeluknya. "Betulkah kata-katamu ini? Aha, bagus sekali, adikku yang tercinta. Mari kubawa kau ke sorga di utara dan kita hidup bahagia di sana. Ha-ha-ha!" Seperti orang gila Giam Kin memeluk nyonya muda itu sambil menari-nari.

"Hushh, gila kau! Tak usah aku kau gendong-gendong terus seperti orang lumpuh, hayo lepaskan totokan pada tubuhku dan aku akan jalan sendiri di sisimu selama hidupku."

Sambil tersenyum-senyum dan terus menerus menggoda dengan ceriwis sekali Giam Kin lalu menurunkan Lee Giok dan menotok beberapa jalan darahnya, kemudian mengurut punggung nyonya muda yang cantik itu. Ia tidak kuatir membebaskan Lee Giok karena kalau Lee Giok melawan, dengan mudah ia akan dapat mengatasinya kembali.

Setelah bebas dari totokan, Lee Giok terhuyung-huyung lemas. Memang tubuhnya lemas sekali, terbawa oleh perihnya perasaannya yang ditahan-tahan. Pada saat Giam Kim maju memeluknya untuk mencegahnya jatuh, ia berkata, suaranya halus mesra,

"Biarkan aku mengaso di bawah pohon ini dulu, aku... aku pening dan lesu sekali."

Sambil memeluknya Giam Kin lalu membawa Lee Giok ke bawah pohon raksasa dan mendudukkannya di atas akar pohon itu yang keluar dari dalam tanah seperti tubuh ular besar. Lee Giok menjatuhkan diri duduk di situ, lalu meramkan matanya mengumpulkan tenaga. Ketika ia sedang meramkan mata, terbayanglah wajah suaminya dan terbayang pula pengalamannya ketika ia tertawan oleh Giam Kin. Hatinya bagai ditusuk-tusuk pisau rasanya dan tak tertahankan lagi kembali air matanya be bercucuran turun.

"Ahh, kekasihku, lagi-lagi kau menangis..." Giam Kin mendekat dan hendak merangkul leher Lee Giok.

Tiba-tiba saja Lee Giok menggerakkan kedua tangannya, lalu memukul ke depan sekuat tenaganya. Giam Kin memang sudah siap sedia karena orang yang cerdik ini mana mau percaya begitu saja akan sikap menyerah dari nyonya muda yang selalu berkeras untuk membencinya ini? Cepat ia melompat mundur untuk menghindarkan diri dari penyerangan tiba-tiba ini. Lee Giok juga melompat berdiri dan memandang kepada Giam Kin penuh kebencian.

"Manusia iblis! Aku Lee Giok bersumpah tidak akan mau hidup sebelum menghancurkan kepalamu, membelah dadamu dan mencabut keluar isi dadamu!" teriak Lee Giok penuh kemarahan yang meluap-luap.

"Heh-heh, galaknya… tapi malah lebih manis!" Giam Kim mengejek. "Kau perempuan tak tahu disayang orang! Aku ingin membikin kau bahagia dan ingin mencintamu selamanya. Kiranya kau seorang yang tidak punya jantung. Baiklah, aku akan menjadikan kau barang permainanku, nanti kalau sudah bosan akan kulempar ke jurang biar menjadi makanan serigala!"

Lee Giok tidak sudi mendengarkan lagi, terus saja ia menerjang dengan kaki tangannya, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membunuh manusia yang sangat dibencinya ini, yang sudah merusak hidupnya. Akan tetapi, seperti beberapa kali yang sudah-sudah, kali ini pun ia tak berhasil mengalahkan Giam Kin yang memang amat lihai itu. Ia malah dipermainkan oleh Giam Kin yang mengelak ke sana ke mari, berloncatan sambil mengejek dan menggoda.

Giam Kin ingin membuat Lee Giok kelelahan lebih dulu untuk kemudian ditawan lagi dan dipermainkan. Memang pada dasarnya hati Giam Kin memiliki kekejaman yang luar biasa, sudah bukan seperti manusia lagi. Hal ini tidak aneh kalau dipikir bahwa dia adalah murid tunggal dari manusia iblis Siauw-ong-kwi dan semenjak kecil sudah banyak melakukan kekejaman-kekejaman.

Tubuh Lee Giok masih amat lesu, maka ketika dipermainkan oleh Giam Kin dia menjadi semakin payah dan lemas. Akan tetapi dengan nekat nyonya muda ini menyerang terus mati-matian dengan tekad membunuh atau mati dalam pertempuran ini.

Tiba-tiba terdengar suara aneh di atas, suara melengking yang sangat nyaring sehingga menggetarkan jantung. Kemudian dari puncak pohon raksasa di bawah mana dua orang itu sedang bertempur, melayang turun seekor burung raksasa yang berbulu kuning emas.

Di punggung burung itu duduk seorang wanita muda cantik yang sinar matanya tajam dan liar. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk yang bercabang lima di mana terikat lima batang anak panah hijau. Di punggungnya tergantung sebuah pedang pusaka. Inilah Kwa Hong yang menunggang burung rajawali emas yang sakti itu.

"Hi-hi-hik, Giam Kin, kebetulan sekali! Tak usah aku mencarimu kau sekarang mengantar nyawa kepadaku!" kata Kwa Hong ketika ia mengenal isteri dari suheng-nya, Thio Ki.

Akan tetapi ia tidak menegur Lee Giok yang tadi amat terdesak hebat oleh Giam Kin itu. Sinar kuning emas menyambar turun dan burung itu telah menerkam ke arah kepala Giam Kin.

Bukan main kagetnya Giam Kin melihat penyerangan ini. Cepat ia melompat mundur dan membentak, "Siapa kau?!"

Bergidik juga ia melihat wanita cantik menunggang burung rajawali yang bermata liar itu.

Sementara itu Lee Giok segera mengenal Kwa Hong. Ia girang mendapat bala bantuan, akan tetapi juga heran dan kaget sekali menyaksikan keadaan Kwa Hong yang tidak wajar ini.

"Adik Hong...!" serunya.

Burung itu masih beterbangan berputar-putar di atas mereka. Kwa Hong berkata dengan suara mengejek, "Lee Giok, tidak lekas lari menunggu apa lagi? Apa kau mengharapkan tertawan oleh lawanmu yang tampan ini? Heh-heh-heh, kau mau main gila di belakang suamimu, ya?"

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Lee Giok takkan begitu kaget seperti ketika ia mendengar ejekan ini. Sejenak ia memandang dengan mata terbelalak kepada Kwa Hong yang duduk di punggung burung. Lalu terlihat olehnya, sepasang mata yang mengerikan itu. Lee Giok tertusuk hatinya, sambil terisak-isak ia lalu lari pergi dari situ, diikuti suara ketawa yang mengerikan dari Kwa Hong.

Dasar watak Giam Kin mata keranjang dan keji. Melihat nona cantik jelita di punggung burung itu, ia segera tertarik sekali hatinya. Sekarang ia sudah mengenal wanita muda yang duduk di punggung burung itu. Kwa Hong murid Hoa-san-pai yang cantik itu, yang dulu pernah membuat ia tergila-gila juga.

Karena dia sendiri seorang berwatak keji, maka sinar ganas dan liar pada sepasang mata Kwa Hong itu baginya malah mendatangkan perasaan menyenangkan, malah menjadikan Kwa Hong makin manis dalam pandang matanya. Pula ia memandang rendah kepada Kwa Hong, karena murid Hoa-san-pai saja sampai di mana sih kelihaiannya?

"Aha, kukira tadi siapa. Tidak tahunya adik manis dari Hoa-san-pai. Turunlah Nona manis, dan mari bersenang-senang dengan aku. Boleh aku membonceng di punggung burungmu yang indah itu?"

Tiba-tiba sinar hijau menyambar sebagai jawaban. Giam Kin tertawa mengejek akan tetapi segera ketawanya berubah seruan kaget ketika lima batang anak panah itu menyambar kepadanya dengan kecepatan yang amat luar biasa, seperti kilat menyambar. Ia segera menjatuhkan diri di atas tanah dan hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan dirinya.

Celaka baginya, wanita yang duduk di punggung rajawali emas itu ternyata lihai bukan main. Burungnya menyambar-nyambar rendah, sedangkan anak-anak panah pada ujung cambuk itu terus menyambar-nyambar dengan pukulan dahsyat sekali.

Giam Kin mencabut suling ularnya dan berusaha menangkis, akan tetapi baru dua kali menangkis saja sulingnya sudah terlepas dari tangannya dan mencelat entah ke mana. Demikian hebatnya tenaga pukulan Kwa Hong sampai-sampai dia sendiri tidak mampu menangkisnya.

Mulailah pengejaran yang mengerikan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner