RAJAWALI EMAS : JILID-10


Giam Kin lari ke sana ke mari, namun burung itu terus mengejar dan sinar hijau bersuitan di atas kepalanya. Giam Kin menjadi pucat sekali, keringat dingin bercucuran keluar. Dia menjatuhkan diri, bergulingan, tapi ke mana pun juga dia selalu dikejar oleh sinar hijau itu yang diikuti suara ketawa. Baru sekarang telinga Giam Kin mendengar suara ketawa yang mengerikan sekali, tidak semerdu tadi.

"Mampus kau.... hi-hi-hik, mampus kau...!"

Akibatnya, Giam Kin yang belum sekali pun terkena anak panah itu menjadi lemas saking lelah dan ketakutan. Gerakannya melambat dan mendadak sepasang cakar burung yang kuat sekali mencengkeram tubuhnya di bagian dada dan kepala. Terdengar suara daging dan kulit dirobek-robek diiringi suara ketawa melengking tinggi dari Kwa Hong. Beberapa kali Giam Kin mengeluarkan pekik kesakitan dan ketakutan, kemudian hening kembali di situ.

Ketika burung rajawali yang ditunggangi Kwa Hong itu kembali terbang ke atas, di bawah pohon raksasa itu tertinggal tubuh Giam Kin yang diam tak bergerak dan dalam keadaan mengerikan sekali. Pakaiannya robek-robek, dan penuh darah yang bercucuran dari dada dan mukanya yang juga sudah terobek-robek oleh cakar cakar tajam tadi.

Matanya sebelah kiri hancur, telinga kirinya juga lenyap, mulutnya robek lebar, kulit pada dadanya terbeset dan lengan kirinya tadi sudah dicengkeram sedemikian rupa oleh cakar rajawali sehingga semua urat-urat besarnya terputus dan kini lengan kiri itu kaku dengan jari-jari mencengkeram saking menahan sakit.

Matikah Giam Kin? Pada saat itu masih belum, karena masih terdengar rintihan perlahan dari dadanya. Akan tetapi kalau ada orang yang menyaksikan keadaannya, orang itu tentu tak akan mengharapkan dia dapat hidup lagi.....

********************

Sementara itu, Lee Giok terus berlari cepat sambil menangis terisak-isak. Ia telah terlepas dari cengkeraman tangan Giam Kin. Akan tetapi apa gunanya? Lebih baik ia mati saja. Mana mungkin dia dapat memandang wajah suaminya lagi. Lebih baik dia mati dari pada menanggung aib yang hebat. Lebih baik ia terjun ke dalam jurang yang curam.

Akan tetapi, apa pula artinya kalau ia mati tanpa ada yang mengetahuinya kelak? Tetap saja dia akan mati dalam keadaan menanggung malu. Lebih baik dia ke Hoa-san dan mati di sana agar suaminya kelak tahu bahwa ia telah menebus aib itu dengan nyawanya.

Di Hoa-san dia harus mati, supaya suaminya tahu bahwa sampai detik terakhir ia masih teringat kepada suaminya, masih ingin mendekatinya walau pun hanya dengan maksud mendekatkan arwahnya dengan Hoa-san!

Selain itu, alangkah akan besar dosanya kalau dia mati dengan membawa anak di dalam kandungannya. Bukankah hal itu sama artinya dengan dia membunuh anak itu? Anaknya? Anak suaminya? Tidak, ia harus menanti, biar pun hatinya akan remuk-redam. Dia harus menanti sampai anak dalam kandungannya yang sudah tiga bulan itu lahir.

Lee Giok berlari terus sampai akhirnya tubuhnya terguling menggeletak di tengah hutan saking tak kuat lagi, saking lelahnya. Sambil merintih-rintih ia merangkak ke bawah pohon yang bersih, lalu membaringkan tubuh dan pikirannya melayang-layang.

Hidupnya rusak oleh Giam Kin. Yang menjadi biang keladi adalah Kim-thouw Thian-li dan Hek-hwa Kui-bo. Semangatnya sebagai seorang gagah dalam diri Lee Giok bangkit ketika ia mengingat akan ketiga orang ini. Akan sia-sia belaka kalau ia mati sebelum ia mampu membalas, sebelum ia mampu melenyapkan tiga manusia iblis itu dari permukaan bumi. Kepandaiannya memang masih belum begitu tinggi untuk mampu mengalahkan mereka, akan tetapi ia dapat memperdalam kepandaiannya.

Setelah tidur semalam di hutan itu, pada keesokan harinya Lee Giok lalu melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sudah mengambil dua buah keputusan, yaitu sebelum ia membunuh diri untuk mencuci noda pada dirinya, ia harus lebih dahulu melahirkan anak dalam kandungannya, kemudian tugasnya yang kedua ialah membunuh tiga orang musuh besarnya itu!

Ia tidak boleh mati sekarang, ia malah harus kuat dan harus bisa memperdalam ilmunya. Pikiran inilah yang menyelamatkan nyawa Lee Giok dan dengan hati teguh nyonya muda ini melanjutkan perjalanannya menuju Hoa-san…..

********************

Gunung Min-san berada di tapal batas antara Propinsi Se-cuan, Ceng-hai, dan Kan-su. Gunung ini amat indah pemandangannya dan merupakan pegunungan yang subur sekali. Sungai-sungai besar yang amat terkenal seperti Sungai Yang-ce-kiang dan Sungai Kuning boleh dibilang mendapatkan sumber mata airnya dari Pegunungan Min-san ini, sungguh pun masih banyak pegunungan lain yang menjadi sumbernya pula.

Salah satu di antara puncak-puncak Pegunungan Min-san inilah menjadi tempat tinggal Song-bun-kwi Kwee Lun yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Song-bun-kwi. Ia dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) sebab selalu memakai pakaian putih berkabung semenjak isterinya meninggal dan ia hidup merantau bersama dengan puteri tunggalnya, Kwee Bi Goat.

Sesudah sekarang Kwee Bi Goat menikah dengan Tan Beng San dan hidup bahagia di Min-san, Kwee Lun ini tidak patut lagi dijuluki Song-bun-kwi karena ia tak lagi berpakaian berkabung, juga tak lagi hidup seperti yang sudah-sudah, yaitu seperti manusia iblis yang ditakuti orang. Kakek ini sekarang hidup tenang dan tenteram di Pegunungan Min-san ini, malah setiap hari bertani atau semedhi memperdalam ilmu batinnya.

Ada pun Kwee Bi Goat yang dahulunya gagu, tapi sekarang telah sembuh, menjadi isteri yang cantik jelita dan penuh kasih sayang bagi Beng San. Suami isteri ini bersama Kakek Kwee hidup aman dan damai di Min-san.

Akan tetapi, nasib manusia memang tidak menentu seperti air laut, kadang-kadang surut. Baru beberapa bulan saja mereka hidup penuh madu kasih dan kebahagiaan di Min-san, datanglah seorang tosu dari Hoa-san-pai yang minta bantuan Beng San untuk menolong Hoa-san-pai yang sedang ditimpa mala petaka karena pengamukan Kwa Hong.

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San yang mengingat akan hubungannya dengan Hoa-san-pai dahulu, terpaksa pergi meninggalkan isterinya yang tercinta untuk membantu Hoa-san-pai. Kepergiannya ini diakhiri dengan kehancuran hatinya sehingga membuat ia tidak berani pulang dan tidak berani bertemu muka dengan isterinya!

Berbulan-bulan Bi Goat menunggu kembalinya suaminya dengan hati penuh rindu dan kekuatiran. Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi hatinya yang penuh rasa kegelisahan. Ia takut kalau-kalau suaminya tertimpa bencana karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ada kabar beritanya dan juga tidak kelihatan pulang. Akhirnya Bi Goat lalu minta pertolongan ayahnya untuk pergi menyusul Beng San ke Hoa-san dan mencarinya sampai dapat.

"Hemmm, baru ditinggal beberapa bulan saja kau sudah rewel!" Kwee Lun mengomel. "Sudah lama aku tidak meninggalkan gunung, kalau turun gunung aku takut akan kumat penyakitku yang lama!"

Kakek yang dulu dijuluki setan berkabung itu mula-mula menolak permintaan puterinya. Ia sudah mulai senang dengan hidup bersunyi di puncak yang indah itu, hidup menikmati ketenteraman di hari tua.

"Ayah, jangan salah mengerti. Bukan sekali-kali karena aku terlalu manja dan tidak bisa ditinggalkan suami yang pergi menjalankan tugas sebagai orang gagah. Tetapi, harap Ayah ketahui bahwa sekarang kandunganku sudah lima bulan. Bagaimana kalau sampai tiba saatnya melahirkan tidak ada ayahnya di sini? Ayah, apa kau tidak kasihan padaku?" Suara Bi Goat menggetar dan hati kakek yang dulu dianggap manusia iblis itu mencair.

"Baiklah... baiklah... dasar bocah yang jadi mantuku itu tidak tahu diri! Akan kucari dia dan kuseret pulang!"

Sambil mengomel panjang pendek, kakek yang pernah menjadi tokoh nomor satu di dunia kang-ouw sebelah barat itu akhirnya turun gunung meninggalkan Min-san untuk menyusul dan mencari anak mantunya, Tang Beng San.

Sebulan sudah Song-bun-kwi Kwee Lun meninggalkan Min-san. Pada suatu sore Bi Goat duduk seorang diri di halaman depan rumahnya. Dengan penuh harapan, seperti setiap sore yang lalu, dia duduk menanti kalau-kalau ayah dan suaminya pulang.

Para pelayan yang tak kurang enam orang banyaknya, sudah selesai bekerja dan sedang asyik mengobrol di belakang rumah. Bi Goat duduk seorang diri menghadapi cangkir teh dan makanan yang mengandung khasiat penguat badan. Ayahnya banyak memberikan makanan seperti ini untuknya.

Mendadak dia mendengar suara aneh di udara. Ketika dia mengangkat muka, Bi Goat terheran-heran melihat seekor burung yang besar dan indah sekali terbang berputaran di atas puncak itu. Cahaya matahari senja yang merah membuat bulu burung itu kelihatan kuning kemerahan, amat indahnya seperti emas.

"Ahh, burung rajawali kalau aku tidak salah...," kata Bi Goat kagum sekali.

Mendadak wajahnya berubah dan nyonya muda ini cepat barigkit berdiri dari kursinya. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang ajaib. Ada seorang wanita menunggang burung rajawali itu!

"Mimpikah aku?" gumamnya seorang diri sambil menggosok-gosok matanya.

Tidak, ia tidak mimpi. Malah kini burung itu menukik turun dan tak lama kemudian burung itu sudah sampai di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari tempat Bi Goat berdiri. Wanita muda dan cantik itu melompat turun dari punggung rajawali.

Dengan hati berdebar-debar Bi Goat mendapatkan kenyataan bahwa wanita itu sedang mengandung. Malah perutnya lebih besar dari pada perutnya sendiri. Kandungan wanita itu sudah tua. Wanita itu melangkah maju, agak terhuyung-huyung.

Bi Goat adalah seorang yang pada dasarnya memiliki budi yang halus. Melihat wanita yang mengandung tua ini terhuyung-huyung dan nampak letih, mukanya pucat, ia cepat lari menghampiri dan merangkul pundaknya.

"Hati-hatilah, Cici...," katanya halus.

Wanita itu bukan lain adalah Kwa Hong! Kemarahannya ketika tadi turun dan menduga bahwa wanita cantik yang juga sudah mengandung di depannya itu tentulah isteri Beng San, agak mereda oleh sikap halus Bi Goat. Pernah ia melihat Bi Goat, akan tetapi hanya sebentar maka ia sudah lupa lagi.

Demlkian pula Bi Goat, biar pun pernah bertemu dengan Kwa Hong, tapi karena baru sekali dan hanya sebentar, ia pun sudah lupa lagi.

"Di mana Beng San? Aku ingin bicara dengannya," berkata Kwa Hong menahan marah, suaranya agak ketus dan sama sekali ia tidak menyambut baik sikap halus dari Bi Goat tadi.

Bi Goat terkejut, tapi ia menjawab juga. "Suamiku sudah beberapa bulan turun gunung, sampai sekarang belum pulang," jawabnya masih halus dan hati-hati ia bertanya, "Tidak tahu siapakah Cici ini dan ada keperluan apalah mencari suamiku?"

"Hemmm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?" tanya Kwa Hong, suaranya mengejek dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas ke bawah.

Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. "Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke Puncak Min-san ini?"

"Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong..."

"Ohhh, murid Hoa-san-pai?"

"Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San. Mana dia?"

"Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi." Bi Goat mulai tak senang hatinya.

"Aku mencari Beng San, bukan suamimu."

"Beng San adalah suamiku!" jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.

Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Dia bertanya penuh ejekan, "Berapa bulan kau mengandung?"

"Heee?! Kenapa...?" Wajah Bi Goat menjadi merah sekali. Kalau dia tidak ingat bahwa yang mengajukan pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu ia akan menjadi marah. "Sudah enam bulan, mengapa?"

Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. "Seharusnya tadi kau bilang baru enam bulan, bukannya sudah enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat kandunganku ini sudah sembilan bulan! Mana lebih dulu? Sebelum menjadi suamimu, Beng San sudah menjadi ayah dari anak yang kukandung ini, tahu?"

Seketika wajah Bi Goat menjadi amat pucat. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul merupakan pedang yang menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh tubuhnya dan suaranya pun menggigil ketika ia berseru, "Kau... kau bohong...!"

Kwa Hong memperlebar senyumnya. "Kalau tak percaya kau tanyakan saja kepada Beng San. Hayo, mana dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan kelahiran anaknya..." Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil memegangi perutnya.

"Dia sedang pergi... hee, bagaimana ini? Kau kenapa, Cici...?"

Bingung juga Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat dia tangkap lengannya. Dia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali, mulutnya merintih-rintih dan keadaannya hampir pingsan.

Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biar pun ia tadi marah sekali dan perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa Hong, akan tetapi melihat keadaan nyonya muda yang akan melahirkan itu dia menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.

"Biarlah... aku... aku harus melahirkan... di tempat tinggal... Beng San...," demikian Kwa Hong mengeluh perlahan ketika siuman.

Sementara itu, Bi Goat sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk ke dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat memang sudah mengundang seorang wanita tua yang ahli menolong orang beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa Hong dapat menerima pertolongan yang cepat.

Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau dan bercerita kepada Bi Goat tentang hubungannya dengan Beng San dulu, juga tentang pertemuannya yang terakhir. Semua diceritakan oleh Kwa Hong sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati hancur.

Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak rela kalau Beng San membagi cintanya dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan parah luka yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.

Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara pertama dari seorang bayi yang baru saja terlahir. Tangisnya memecahkan kesunyian malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi laki-laki yang montok dan sehat.

Tidak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab tangis bayi ini, suara lengking tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa Hong sambil mendekam dl atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu melengking, mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya sendiri.

Meski pun hatinya hancur, siang malam Bi Goat menunggui Kwa Hong dan merawatnya dengan baik. Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh. Dia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu ia keluar dari rumah itu memanggil rajawali emas.

Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan menyambar turun. Bi Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.

"Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu...," katanya menahan.

Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli. Ia membawa anaknya melompat ke arah punggung rajawali, lalu berkata, "Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa membunuhnya karena kalah kuat, dan aku juga tak bisa membunuhmu karena kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi kelak anak inilah yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!"

Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk-nepuk leher rajawali emas yang segera melengking tinggi dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali. Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong, kemudian dia mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas. Dia roboh pingsan di depan pintu rumahnya! Para pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang menderita kehancuran hati ini.

Bi Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas dan setiap kali panasnya naik, dia selalu mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong. Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong, namun hal itu amat sukar baginya.

Diharap-harapkan kedatangan suaminya supaya dia dapat bertanya mengenai Kwa Hong. Pengharapan bahwa suaminya akan menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya, penuh harapan. Akan tetapi, suaminya tidak kunjung pulang, malah ayahnya yang mencari dan menyusul suaminya itu, belum juga pulang.

Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah delapan bulan lamanya dia mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee Lun. Bi Goat yang sudah agak kuat segera turun dari tempat tidurnya dan keluar meyambut.

"Ayah, mana dia? Mana Beng San...?" tanyanya dengan nada suara penuh harapan.

Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya begini pucat. "Bi Goat, kau kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil melangkah maju.

"Ayah, mana suamiku? Mana Beng San-koko?" Bi Goat tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi mendesak menanyakan suaminya.

Terpaksa Kwee Lun menjawab, "Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia ke utara, mungkin terlibat lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar baru. Ahhh, anak itu memang tak tahu diri!"

Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan terakhir di hati Bi Goat. Matanya terbelalak, kemudian tertutup dan tubuhnya limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang gelisah dan keheranan ini segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat.

Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari-larian mendatangi, memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat sebaiknya.

Setelah siuman kembali Bi Goat hanya menangis terus, tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. Dan pada malam itu juga Bi Goat melahirkan kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran yang sukar sekali, membuat nenek yang membantunya bermandikan peluh, para pelayan kebingungan dan semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar menjadi makin gelisah.

Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil nama Beng San, mengeluh tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali, membuat Kwee Lun melonjak kaget dari tempat duduknya. Lalu bagaikan gila kakek ini lalu mendorong pintu kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?

Ia berdiri tegak bagai patung raksasa. Mukanya pucat, matanya melotot selebar-lebarnya, bukan memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis hebat itu, melainkan ke atas ranjang, memandang kepada Bi Goat yang telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut menyeringai kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tidak bersinar lagi karena berbareng dengan lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan nyawanya.

Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka pucat, telinga seperti tuli tidak mendengar suara tangis bayi yang bercampur dengan suara tangis para pelayan, tidak melihat betapa nenek pembantu kelahiran itu sangat sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain putih bersih.

Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, lalu setetes demi setetes air mata itu mengalir turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak, lalu terdengar suaranya parau, "Bi Goat... kenapa kau mati...? Habis aku bagaimana..." Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia menubruk maju dan kakek ini lalu menangis menggerung-gerung sambil memeluki mayat Bi Goat.

Sampai lama ia menangis bagai anak kecil. Saat ia mengangkat kembali mukanya yang menjadi basah air mata, matanya merah dan mengerikan. Ia sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke sana ke mari, menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas.

Ketika ia melihat nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia melompat maju dan sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak berkutik lagi, kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat lagi, Song-bun-kwi Kwee Lun makin beringas, matanya liar.

"Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)... ampun… hamba semua tidak berdosa. Nyonya muda jatuh sakit setelah kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini. Menurut pengakuannya, Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)... eh, bukan isteri... hubungan di luar nikah... datangnya menunggang rajawali emas, mengerikan sekali, Lo-ya... semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh sakit..."

Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara menggereng bagai seekor binatang buas, lalu terdengar suaranya, "Beng San, keparat kau... mampus kau olehku...!"

Tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang terisi bayi yang masih menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam kelahirannya sekaligus ia menangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus menghadapi kematian ibunya. Betapa memilukan.

"Mampus kau...! Mampus kau...!" Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti hendak membantingnya!

"Lo-ya..., ampunkan anak itu yang tidak berdosa..."

"Lo-yaaaa, ampun...!"

"Jangan, Lo-ya, jangan...!" Para pelayan itu menjerit-jerit.

Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak lagi menatap buntalan, melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Kakek itu lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja lahir!

Tidak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan nenek bidan itu. Dengan bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di belakang rumah dengan upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus rumah dan menanti kembalinya Beng San…..

********************

Rencana yang baru saja dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan Ho-hai Sam-ong, benar-benar dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan kedudukan dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaisar baru, Thai Cu.

Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga biar pun rahasia mereka itu telah diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang sudah berhasil meloloskan diri, akan tetapi tetap saja mereka melanjutkan rencana itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan perampok, juga pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut pasukan besar tentara.

Pada hari yang telah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat meninggalkan kota raja menuju ke utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini dikawal ketat oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu para pengawal pribadi kaisar.

Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak merasa gentar melakukan perjalanan jauh ini walau pun dia sudah tahu akan adanya banyak golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi kedudukan tinggi seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu akan siasat busuk yang direncanakan oleh Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu Siauw Ong yang sudah bersekongkol itu.

Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah. Tampaknya rakyat amat mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orang-orang bersorak memberi hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah setiap dusun tentu mengutus orang-orang muda yang gagah perkasa untuk mengiring rombongan ini sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda dusun ini, demikian seterusnya.

Kaisar amat gembira dengan ini semua. Kaisar menyangka bahwa hal itu memang sudah semestinya karena rakyat merasa sangat gembira dapat terbebas dari penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu bahwa biar pun sudah terbebas dari pada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apa lagi para petani masih sama sekali belum bebas dari pada belenggu penjajahan para tuan tanah yang kadang kala malah lebih keras dan kejam dari pada penjajah Mongol sendiri!

Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian besar dari para pengiring ini, yang terlihatnya sebagai orang-orang kampung, sebenarnya adalah orang-orang gagah dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang setia kepadanya. Mereka ini anak buah dari Tan Hok yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah masih banyak lagi orang yang mengawal secara sembunyi, ada yang mendahului rombongan, dan ada pula yang mengiring dari jauh di belakangnya.

Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam perjuangan ternyata sudah makin matang sebagai seorang pemimpin dan pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali, sesudah dia mendengar penjelasan dari Beng San tentang persekongkolan antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada Kaisar itu lalu berunding dan membuat rencana.

Cepat sekali dia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan kawan-kawan seperjuangan yang terpilih, yaitu orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, untuk secara diam-diam mengiringi, mengawal atau melindungi rombongan Kaisar yang hendak pergi ke utara.

Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok maklum akan kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San, sedangkan ia sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk menindas dan menggempur pemberontakan dari dalam yang hendak dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.

Pada saat Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho, keadaan di sungai juga ramai bukan main. Para nelayan seakan-akan datang dari segenap penjuru untuk mengelu-elukan kaisar baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian besar adalah anggota-anggota Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang anak buah Ho-hai Sam-ong yang menyelinap, dan ada beberapa orang pembunuh datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu!

Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya ketika perahu sampai di tengah sungai di kanan kiri perahu tiba-tiba timbul enam mayat di permukaan air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang tadinya berusaha melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya.

Namun anak buah Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah mengetahui akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang amat hebat tanpa diketahui oleh mereka yang berada di permukaan air.

Tahu-tahu mayat para penjahat itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.

Sesudah sampai di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan memasuki sebuah hutan yang amat lebat, mulailah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Ho-hai Sam-ong dan pasukannya yang sudah beberapa hari menghadang di tempat ini. Tiba-tiba terdengar sorak-sorai bergemuruh dan pasukan bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tak puas melihat Cu Goan Ciang menjadi Kaisar, lantas berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan senjata di tangan.

"Bunuh Ciu Goan Ciang!"

"Seret Kaisar lalim!"

Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar. Mulailah terjadi pertempuran hebat antara para penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin lama semakin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri tampaknya tenang-tenang saja karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, terus bersembunyi saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh beberapa orang pengawal pribadi.

Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu, meloncat ke dekat tandu Kaisar ini. Mereka memang sengaja mengincar Kaisar dan hendak turun tangan sendiri.

Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar, serta bendera berkibar di atasnya, Ho-hai Sam-ong girang sekali. Mereka mengeluarkan tanda suitan. Lalu bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thian-li, dan masih banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam) datang menyerbu ke tempat itu.

Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini, namun dalam beberapa gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal. Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung mendekati tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah diayunnya, mulutnya berseru,

"Ha-ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang! Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang untuk menghancurkan kepalamu!"

Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua dengan tubuh menggigll dan muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur. Kiranya orang yang berada di dalam joli itu bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar sebagai Kaisar dan memakai pakaian kaisar!

"Celaka...!" serunya dengan muka pucat. "Kita telah terjebak... dia bukan Kaisar!"

Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan para kepala bajak yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terlihat bayangan merah berkelebat cepat didahului sinar pedang yang gemilang.

Robohlah beberapa orang penjahat seperti alang-alang dibabat. Dalam waktu singkat saja pengamuk ini sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong serta dua orang pembantunya yang paling dahsyat bersama sepuluh orang lagi kepala rampok.

"Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!" teriakan yang nyaring tetapi merdu terdengar lantang.

Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li Cu yang sebenarnya sudah sejak tadi mengamuk di sebelah luar hutan untuk menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga sudah mendengar semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka cepat-cepat gadis ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang dia alami, kecuali pengalamannya dengan Beng San!

Sebagai seorang patriot berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan menjadi mantunya, telah menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa hebat seperti ketika dia mendengar bahwa Beng Kui hendak berkhianat.

Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat. Dia lalu menyuruh Li Cu berangkat lagi untuk melindungi Kaisar secara diam-diam, sementara dia sendiri pergi menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng Kui, muridnya.

Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya tepat sekali pada saat para pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan. Dia mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam yang tajam dan ampuh.

Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu, mereka menjadi marah sekali. Lui Cai melompat maju dan memaki, "Siluman cilik! Tentunya kau yang sudah membuka rahasia dan Kaisar sekarang sengaja bersembunyi. Kaulah yang bosan hidup, sekarang kami tidak akan mau mengampunimu lagi!"

Dayungnya lantas menyambar dahsyat, akan tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam sengaja dibabatkan oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu dan kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang kiranya dia tak akan dapat menang.

"Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu!" teriaknya sambil memutar dayung.

Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat bahwa yang duduk di dalam joli itu bukan Kaisar segera memutar senjata dan mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok tiga oleh Ho-hai Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia tidak gentar dan pedangnya diputar cepat untuk melayani tiga orang musuhnya yang benar-benar tangguh itu.

Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala perampok yang tadinya menyerbu ke sana untuk bersama-sama membinasakan Kaisar, sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para pengawal yang kini dibantu oleh orang-orang dari Pek-lian-pai yang tadinya menyamar sebagai petani dan nelayan.

Makin lama makin banyak anggota-anggota Pek-lian-pai yang berdatangan. Bahkan yang mendahului rombongan Kaisar sudah pula diberi tahu dan kini mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat para pemberontak terdesak hebat, apa lagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat banyak orang-orang gagah yang tinggi kepandaiannya.

Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana dapat muncul demikian banyaknya yang membantu Kaisar? Tidak salah lagi, ini tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar yang dulunya juga seorang panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong terhadap Li Cu makin menjadi.

"Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini!" seru Lui Cai.

Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang Pek-lian-pai, lantas bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggota perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia dan Ho-hai Sam-ong tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu.

Setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya, sebentar saja Li Cu menjadi terdesak hebat. Gadis ini dengan gigih mempertahankan dirinya.

"Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo, jangan banyak bertingkah!" mendadak terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San dengan tangan kosong!

Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke arah Beng San. Ada pun Ho-hai Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda yang sangat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak mereka menyerang pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng San adalah tambang di tangan Kiang Hun.

Beng San menggerakkan tangan menangkap ujung tambang. Sekali membetot tambang itu putus menjadi dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan Beng San dan menjadi senjatanya! Ketika Beng San menggerakkan tambang itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata aneh ini dari pada Kiang Hun!

Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat, maka robohlah Thio Ek Sui sambil menjerit keras. Dadanya tertembus oleh Liong-cu-kiam.

Kiang Hun menjadi gugup sekali sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Dia memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua batang tombak anggota Pek-lian-pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa.

Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang masih mengamuk mati-matian, dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak, jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung tambang itu. Ia roboh lemas dan kembali pedang pendek Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja, menamatkan riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.

"Nona Cia, awas...!"

Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan, malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk mengusir asap beracun berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya mengebutkan sapu tangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke arah Li Cu.

Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada. Meski ia sudah mengelak karena mendengar seruan Beng San, tetapi masih ada asap yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyung-huyung dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Beng San cepat-cepat memeluk dan memondongnya sambil menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat Hek-hwa Kui-bo menyambar tangan muridnya melarikan diri di antara banyak orang yang bertempur. Ia tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat berbahaya itu. Sekali meloncat ia sudah lolos dari kepungan musuh, lalu mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang, langsung ia membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.

Di bawah sebatang pohon besar yang sangat sunyi di dalam hutan itu, Beng San cepat menurunkan Li Cu dan memeriksanya. Sedikit banyak dia juga sudah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun, terutama mengenai akibat senjata beracun.

Ketika menurunkan tubuh Li Cu dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat salju dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu tercium bau wangi yang memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang tadi kena tersedot oleh gadis ini.

Beng San lalu memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati akibat dari keracunan hanya dua macam, pertama memasukkan racun yang berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit untuk memerangi racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit.

Kalau Li Cu terluka oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan cara menyedot lukanya sehingga racun yang telah bercampur dengan darah itu dapat tersedot keluar. Ada pun Li Cu terserang racun bukan melalui luka, melainkan racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana ia akan dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?

Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan oleh racun asap, Beng San cepat mengambil keputusan. Ia merasa yakin bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah mengeluarkan asap yang masuk ke dalam paru-parunya.

Ia maklum pula atau dapat menduga bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan tetapi pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong orang, terutama orang seperti Li Cu ini, dia tidak perlu takut-takut untuk mengorbankan diri sendiri!

Ketika sudah mengambil keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha pertolongannya, tiba-tiba mukanya menjadi kehijauan karena ia merasa jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat nyawa Li Cu terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong dan akan hukum adat yang berlaku tentang kesopanan antara pria dan wanita.

Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut gadis itu dengan jari tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot dengan pengerahan tenaga khikang sekuatnya!


Ia merasa betapa hawa yang dingin laksana es memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat ia melepaskan mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk bersila, mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan lweekang-nya untuk melawan hawa dingin di rongga dada itu.

Hawa Thai-yang di dalam tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas bagai api membara, terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada dan menghantam hawa dingin yang tadi memasuki dadanya melalui mulut Li Cu. Terjadilah perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi tenaga dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mukjijat sekali. Dengan hati lega orang muda itu merasa betapa perlahan-lahan tetapi pasti hawa dingin itu buyar dan lenyap.

Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li Cu masih belum sadar dan napasnya masih terengah-engah biar pun tidak seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada mulut Li Cu dan menyedot lagi.

Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang hati Beng San. Tubuh gadis yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Cu bergerak sedikit.

Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar, sudah pasti ia akan cepat-cepat melepaskan mulutnya yang menyedot! Di lain pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam mimpi. Hampir ia tak dapat percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri.

Benarkah orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini terhadap dirinya? Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali. Bukan pingsan karena pengaruh racun asap, melainkan pingsan karena hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya!

Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat betapa muka Beng San sudah mendekati mukanya dan dalam anggapannya, Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak ‘menciumnya’ lagi.

Di samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang membuat ia cepat menjerit sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga.

Tubuh Beng San terpental.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner