PENDEKAR BUTA : JILID-22


"Bukan begitu, The-twako, akan tetapi soalnya karena aku harus berhubungan dengan orang yang berhak. Sesungguhnya, walau pun aku mempunyai hubungan dengan paman Tan Hok, akan tetapi aku tidak pernah diserahi sebuah pun surat rahasia, hanya aku telah merampas kembali sebuah mahkota kuno yang tadinya terampas dari tangan paman Tan Hok."

"Mahkota kuno? Ah, segala benda berharga, apa artinya diperebutkan?" terdengar suara The Sun kecewa.

Diam-diam Kun Hong mengambil kesimpulan bahwa pemuda pejuang ini ternyata belum tahu akan rahasia mahkota kuno yang menjadi tempat penyimpanan surat rahasia yang diperebutkan itu.

"Ahh, sayang sekali kalau kau tidak tahu tentang surat itu, Kwa-lote. Surat itu luar biasa pentingnya bagi perjuangan dan celakalah kalau sampai terjatuh ke tangan musuh."

"Surat apakah yang kau maksudkan itu, The-twako?" Kun Hong memancing.

The Sun tidak segera menjawab, dari gerakannya tahulah Kun Hong bahwa pemuda itu pergi mendekati pintu, agaknya menyelidik kalau-kalau ada orang yang mendengarkan di tempat itu. Akan tetapi dengan ketajaman telinganya Kun Hong yakin bahwa di tempat itu, selain mereka berdua, tidak ada orang lain lagi.

Kemudian The Sun datang lagi mendekati Kun Hong dan berkata lirih. "Surat itu adalah surat peninggalan mendiang kaisar tua yang diserahkan kepada bekas pembesar Tan Hok. Isi surat itu mengatakan bahwa kaisar tua memberi kekuasaan penuh kepada Raja Muda Yung Lo dari utara untuk mewakilinya memberi hukuman kepada kaisar muda yang baru ini andai kata kaisar baru ini menyeleweng. Nah, bukankah amat penting surat itu? Jika surat itu diperlihatkan kepada para menteri dan pembesar yang berada di kota raja, tentu menimbulkan keributan besar karena sebagian besar tentu saja akan tunduk kepada pesan terakhir kaisar tua pendiri Kerajaan Beng. Sebaliknya apa bila terjatuh ke tangan musuh dan dimusnahkan, tentu amat merugikan perjuangan."

Mendengar ini, makin menipis keraguan hati Kun Hong. Tak salah lagi, pemuda gagah ini tentulah seorang pejuang yang diberi kepercayaan dari Raja Muda Yung Lo. Memang patut diberi kepercayaan karena orang ini amat cerdik. Kalau tidak cerdik, mana mungkin seorang yang bertugas mata-mata dapat seenaknya tinggal di kota raja, malah dikenal oleh para penjaga dan pengawal istana sebagai seorang kongcu dan siucai?

Ingin sekali dia tahu murid siapakah pemuda ini dan sampai di mana tingkat ilmu silatnya. Tentu saja Kun Hong tidak berani bertanya tentang ini, apa lagi menguji kepandaiannya, namun diam-diam dia sudah menjadi makin kagum saja.

"Wah, kalau begitu benar-benar amat penting surat rahasia itu, The-twako. Sayang aku tidak tahu akan hal itu. Tentang mahkota kuno ini, aku bermaksud untuk menyerahkannya kepada seorang sahabat baikku. Karena itu kuharap kau sudi menolongku mencarikan sahabatku itu. Dia seorang pejuang kawakan dan tentu kau mengenalnya."

"Siapakah dia?"

"Dia adalah Hwa-i Lokai ketua dari perkumpulan pengemis Hwa-i Kaipang."

"Ahh, dia...?" Suara The Sun terdengar seperti orang kaget. Akan tetapi menjadi tenang kembali ketika dia berkata. "Tentu saja aku mengenalnya dengan baik. Siapa yang tidak mengenal Hwa-i Lokai yang sangat lihai? Akan tetapi, mencari Hwa-i Lokai kiranya lebih sulit dari pada mencari iblis sendiri. Perkumpulan pengemis itu merupakan perkumpulan rahasia, pengaruhnya sama besar seperti perkumpulan Pek-lian-pai yang juga menentang kaisar."

Kun Hong mengangguk-angguk. "Kurasa kalau kau dapat mencari seorang dua orang anggota Hwa-i Kaipang dan dapat mengajak mereka, tentu akan mudah menjumpai Hwa-i Lokai. Tolonglah kau cari dia dan ajak Hwa-i Lokai datang ke sini menemuiku. Asal kau katakan bahwa Kwa Kun Hong yang minta dia datang, pasti dia akan datang ke sini."

"Wah-wah, kiranya kau begini berpengaruh, Kwa-lote? Benar-benar membuat aku makin tunduk dan kagum."

"Bukan, bukan... hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan. Soalnya karena... beberapa tahun yang lalu aku pernah mencampuri urusan dalam mereka, urusan Hwa-i Kaipang dan akhirnya aku diangkat mereka menjadi ketua kehormatan. Itulah, tidak ada sebab lain."

The Sun diam sampai lama, agaknya bimbang dan ragu apakah dia akan mampu mencari kakek itu. Kemudian katanya lagi, "Kwa-lote, dari pada susah-susah mencari Hwa-i Lokai, apakah bedanya kalau kau serahkan saja tugas itu kepadaku? Disuruh ke mana pun aku akan pergi, asal saja urusan itu penting untuk perjuangan."

"Maaf, The-twako, soalnya bukan tidak percaya kepadamu, akan tetapi aku harus tidak mau mengecewakan paman Tan Hok yang sudah menaruh kepercayaan kepadaku."

Akhirnya The Sun pergi setelah berkata, "Baik, akan kucari Hwa-i Lokai. Kau tunggulah saja di sini, lote."

Ternyata Kun Hong harus menunggu sehari penuh. Hari telah mulai sore dan Kun Hong sudah kehabisan sabar. Selain merasa lelah menunggu dan lapar, dia juga tidak suka berada dalam keadaan yang serba tidak pasti itu. Dia sudah hampir pergi meninggalkan tempat itu untuk mencoba mencari sendiri ketika terdengar derap langkah beberapa orang memasuki bangunan tua ini.

Kun Hong cepat berdiri tegak menanti dengan sikap tenang namun penuh kesiap siagaan. Kiranya The Sun yang datang itu, bersama tiga orang kakek pengemis.

"Kwa-lote, tak mungkin bertemu dengan Hwa-i Lokai karena dia sedang pergi keluar kota, agaknya ke utara. Akan tetapi aku bertemu dengan tiga orang tokoh Hwa-i Kaipang, dan sekarang mereka kuajak ke sini."

Sedangkan ketiga orang pengemis tua yang pakaiannya berkembang-kembang itu begitu melihat Kun Hong lalu serentak menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata,

"Ah, kiranya Kwa-pangcu (ketua pengemis Kwa) berada di sini! Kami bertiga pengemis tua menyampaikan hormat kepada Kwa-pangcu."

"Sam-wi lokai (Saudara pengemis tua bertiga) tidak usah berlutut dan terlalu sungkan, akan tetapi aku tidak mengenal suara sam-wi. Maaf, sam-wi siapakah dan apa kedudukan sam-wi di Hwa I Kai-pang?"

"Tidak aneh jika Kwa-pangcu belum mengenal kami bertiga sebab sudah bertahun-tahun Kwa-pangcu tidak pernah datang mengunjungi Hwa-i Kaipang. Kami bertiga merupakan pembantu-pembantu Lo-pangcu di samping Coa Lokai, sebagai pengganti dari Sun Lokai dan Beng Lokai yang telah diusir. Kami bertiga tahu semua akan kejadian beberapa tahun yang lalu saat Kwa-pangcu datang dan membereskan keruwetan yang terjadi pada Hwa-i Kaipang."

Kun Hong mengangguk-angguk. Teringat ia akan semua pengalamannya beberapa tahun yang lalu sebelum kedua matanya menjadi cacat. Memang, karena dia pernah berhasil membereskan keributan yang terjadi karena perebutan kedudukan ketua di perkumpulan Hwa-i Kaipang, dia malah diangkat menjadi ketua mereka! Dengan mempergunakan akal untuk mencegah terjadinya keributan, dia lalu menerima kedudukan ketua, akan tetapi dia mewakilkannya kembali kepada Hwa-i Lokai yang dia angkat menjadi ji-pangcu (ketua ke dua).

Tiba-tiba muka Kun Hong mengerut di bagian antara kedua matanya yang buta. Kenapa ketiga orang pengemis tua ini menyebut Hwa-i Lokai sebagai lo-pangcu, tidak ji-pangcu?

"Lo-pangcu kami sedang pergi ke utara untuk tugas perjuangan, namun pangcu sudah memesan kepada kami bahwa kalau ada orang mencarinya untuk menyampaikan pesan rahasia atau surat rahasia, boleh kami mewakilinya. Oleh karena itu, setelah mendengar keterangan mengenai Kwa-pangcu dari The-kongcu, kami segera datang menghadap ke sini. Sekarang, kami menanti perintah dan petunjuk Kwa-pangcu."

Mendadak Kun Hong membuat gerakan kilat dan tahu-tahu tangannya sudah menangkap pergelangan lengan pengemis terdekat, lalu dia membentak.

"Siapakah kalian? Jangan coba-coba mengelabui orang buta! Aku tahu pasti, kalian bukan pembantu-pembantu Hwa-i Lokai!"

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar bangunan itu dan ternyata banyak sekali orang berpakaian pengawal istana berlompatan masuk. Di antara suara mereka, Kun Hong mengenal suara Tiat-jiu Souw Ki yang berseru, "Betul dia si buta yang merampas mahkota kuno. Hati-hati dia lihai!"

Pengemis yang dipegang pergelangan tangannya oleh Kun Hong itu berseru keras dan meronta. Kun Hong terpaksa melepaskan pegangannya karena dia harus menghadapi bahaya baru yang datang dari luar. Dia taksir bahwa yang datang ini ada belasan orang banyaknya dan segera terdengar suara senjata tajam dicabut dan digerakkan.

"Kwa Kun Hong, kau sudah terkepung! Lebih baik menyerah dan serahkan mahkota serta surat rahasia yang dipercayakan Tan Hok kepadamu!" terdengar suara seorang laki-laki tua yang suaranya tinggi melengking.

Dari suara gerak-gerik mereka itu Kun Hong tahu bahwa dia dikepung oleh orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi. Namun dia tidak gentar, siap mempertahankan mahkota kuno itu dengan taruhan nyawanya. Hanya satu hal yang membuat dia gelisah, yaitu keselamatan The Sun. Kasihan bila pemuda itu sampai ikut celaka akibat menolong dirinya. Dia hendak memancing pertempuran supaya semua orang mengeroyoknya, dan dalam keributan itu memberi kesempatan kepada The Sun untuk melarikan diri. Dia lalu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing penjilat kaisar lalim! Kalau memang kaisar muda yang baru ini seorang yang benar, mengapa takut akan segala surat rahasia peninggalan kaisar tua? Aku tidak tahu di mana surat yang kalian cari-cari itu, akan tetapi kalau mahkota kuno memang berada padaku. Akan tetapi jangan harap aku sudi menyerah dan memberikan mahkota kuno itu kepada siapa pun juga di antara kalian! Kalau kalian memang sanggup, boleh tangkap aku!"

Tentu saja para pengawal istana itu marah sekali mendengar betapa ada seorang buta menantang mereka. Mereka itu memaki-maki dan mulai mendesak maju untuk berlomba menangkap atau merobohkan Kun Hong.

Tiba-tiba tiga orang berpakaian pengemis itu yang berdiri paling dekat dengan Kun Hong dan yang diam-diam sudah menyiapkan senjata mereka, yaitu masing-masing sebatang tongkat, serentak menyerang Kun Hong!

Bila saja Kun Hong tadinya tidak menaruh hati curiga kepada tiga orang ini, agaknya dia akan terkena serangan gelap, atau setidaknya akan terkejut sekali. Akan tetapi dia tadi memang sudah menduga bahwa tiga orang pengemis ini adalah anggota-anggota Hwa-i Kaipang yang palsu, yang agaknya sengaja menyamar sebagai anggota-anggota Hwa-i Kaipang untuk menipunya.

Maka sekarang menghadapi serangan mereka, dia malah tertawa mengejek. Tubuhnya berkelebat cepat dan aneh, kedua tangannya bekerja dan... berturut-turut tubuh tiga orang pengemis tua itu melayang ke arah para pengawal yang maju hendak mengeroyoknya.

Akan tetapi Kun Hong segera harus mencurahkan seluruh perhatiannya guna menghadapi pengeroyokan para pengawal istana yang mulai dengan penyerangan mereka itu. Pada mulanya dia hanya mempergunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari setiap sambaran senjata, akan tetapi karena para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi, Kun Hong mulai menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.

"The-twako, harap lekas kau pergi!" Kun Hong sempat berseru beberapa kali karena dia benar-benar merasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan terbawa-bawa.

Akan tetapi tak mungkin dia dapat memperhatikan dan mencari tahu keadaan pemuda itu karena kepungan dan pengeroyokan ketat para pengawal istana itu benar-benar membuat dia sangat sibuk. Sudah ada beberapa buah senjata lawan dapat dia pukul dan terlepas dari pegangan, sedangkan tangan kirinya juga telah merobohkan tiga orang yang terkena dorongannya.

Akan tetapi serbuan para pengeroyok semakin hebat sehingga terpaksa Kun Hong kini memainkan Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam sambil tidak lupa mencelat ke sana ke mari mempergunakan langkah sakti dari ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Ributlah para pengeroyok itu, terdengar seruan-seruan kaget dan beberapa orang roboh lagi. Akan tetapi mereka itu roboh hanya untuk sejenak saja karena Kun Hong sama sekali tidak mau menggunakan pukulan maut, cukup baginya kalau dapat mendorong orang roboh atau membuat senjata mereka terlempar.

"The-twako, tinggalkan aku...!" Dia sempat berseru lagi sambil berusaha membuka jalan untuk ke luar dari rumah itu. Dia dapat menduga bahwa waktunya sekarang tentu hampir malam, karena dia tadi telah menunggu sehari penuh dan hawa siang yang panas telah mulai menghilang tadi.

"The-twako, pergilah, biar aku menghadapi sendiri anjing-anjing ini!" serunya lagi.

Kun Hong berpikir bahwa kalau hari sudah menjadi gelap dan dia sudah berhasil ke luar dari kepungan dan lari ke luar rumah, agaknya akan lebih mudah baginya untuk melarikan diri. Tentu saja dia akan dikejar, akan tetapi dia dapat merobohkan setiap orang pengejar dan mencoba untuk lari keluar dari tembok kota raja, atau mencari tempat sembunyi yang lebih baik.

"Kwa-lote, jangan khawatir, aku membantumu!" mendadak terdengar suara The Sun dan tahu-tahu pemuda itu telah berada di dekatnya, malah kini The Sun juga menggerakkan pedangnya menangkis beberapa senjata para pengeroyok.

"Ahh, jangan, The-twako. Tidak perlu kau membantuku, larilah...!" kata Kun Hong sambil menghantam runtuh sebuah tombak panjang dengan tangan kirinya yang dimiringkan.

"Aha, kau hebat, Lote. Tetapi jangan kira aku pengecut! Aku pun berani mengorbankan nyawa untuk perjuangan..."

"Ahh, jangan..." Kun Hong terharu dan saking marahnya kepada para pengeroyok, sekali kaki kirinya menendang, dua orang berteriak kesakitan dan terlempar ke belakang.

"Kwa-lote, kulihat para perwira kerajaan datang. Mereka lihai... aku tidak takut, akan tetapi sayang... bagaimana kalau sampai rahasia yang kau bawa terjatuh ke tangan mereka? Lebih baik kau serahkan padaku. Katakan ke mana harus kusampaikan, rahasia itu lebih penting dari pada nyawa kita."

Kun Hong memutar otaknya sambil menghadapi pengeroyokan yang semakin ketat itu. Benar juga, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mahkota kuno dengan rahasianya, hanya menyerahkan kepada The Sun.

"Lekas, ambil mahkota di buntalanku... kau bawa lari..."

"...mahkota...?" The Sun berbisik, suaranya kecewa, "untuk apa benda itu? Surat rahasia itu yang penting!"

"Tiada waktu bicara panjang lebar..."

Kun Hong mengambil keluar mahkota itu dan menyerahkannya kepada The Sun dengan tangan kiri, sedangkan tongkatnya diputar melindungi mereka berdua. "Bawa ini kepada anggota-anggota Pek-lian-pai, tentu mereka mengerti... lekas kau pergi..."

The Sun menerima mahkota itu. Pada waktu itu, empat orang perwira yang bersenjata golok telah menerjang masuk. Gerakan golok mereka berat dan cepat. Desir angin senjata mereka membuat Kun Hong maklum bahwa sekali ini dia harus mempertahankan dirinya mati-matian karena selain jumlah musuh sangat banyak, juga ternyata makin lama yang datang mengeroyoknya adalah orang-orang yang makin tinggi ilmu kepandaiannya.

"The-twako lekas pergi! Menanti apa lagi?" bentaknya ketika belum juga dia mendengar sahabatnya itu melompat pergi meninggalkannya.

Lama The Sun tidak menjawab, kemudian terdengar suaranya. "Nanti dulu, aku menanti saat baik..."

Pada saat itu pula, empat buah golok besar yang bergerak bagaikan empat ekor naga menyambar, bercuitan di atas kepala Kun Hong, dibarengi bentakan seorang di antara para perwira.

"Pemberontak buta, lebih baik kau menyerah!"

Kun Hong terkejut sekali. Jurus keempat buah golok yang dipersatukan ini benar-benar amat berbahaya. Cepat dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan kakinya yang kiri tiba-tiba menyapu dengan gerakan cepat tak terduga.

Empat orang perwira itu terkejut dan meloncat sambil membabatkan golok mereka. Kun Hong menangkis sekaligus, tongkatnya seakan-akan tergencet empat batang golok dari empat orang perwira yang mempersatukan tenaga.

Kun Hong menunggu saat baik untuk memperoleh kemenangan, akan tetapi tiba-tiba dia mendengar The Sun mendekatinya. Dia mengira bahwa sahabatnya ini hendak membantu dirinya karena mengkhawatirkan keadaannya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendadak dia merasa betapa jalan darahnya di punggung ditotok orang. Seketika tubuhnya menjadi lemas seperti lumpuh dan pada saat itu, sebatang pedang tajam yang datang dari tempat The Sun menyambar, menikam ke arah lambungnya!

Kun Hong mengerahkan seluruh tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dia berhasil mengusir pengaruh totokan dan jalan darahnya normal kembali, akan tetapi karena pengerahan tenaga ini, gerakannya kurang cepat ketika mengelak dan…

"Craattt!"

Ujung pedang itu biar pun tidak mengenai lambungnya, masih menancap dan mengiris robek kulit dan daging pada pangkal pahanya bagian belakang!

"The Sun keparat jahanam!" Kun Hong menggereng.

Tubuhnya menubruk maju, tongkat serta tangan kirinya dikerjakan. Gerakannya cepat laksana kilat menyambar sehingga dia berhasil merampas kembali mahkota dari tangan The Sun, akan tetapi dia tidak berhasil merobohkan The Sun yang cepat menghindar pergi sambil tertawa mengejek. Agaknya pemuda yang ternyata adalah seorang di antara para musuh itu sudah maklum akan kelihaian Kun Hong dan tidak mau secara ceroboh menyambut serangan tadi.

Kun Hong cepat menyimpan mahkota dalam buntalannya lagi dan dadanya penuh hawa amarah, penuh dendam dan penasaran. Ternyata dia telah ditipu oleh The Sun! Dia telah dipermainkan, dan tahulah pula dia sekarang bahwa tiga orang pengemis tua tadi pun adalah kaki tangan The Sun ini yang menyamar sebagai anggota-anggota Hwa-i Kaipang!

"The Sun, jahanam pengecut! Hayo maju lawan aku, jangan sembunyi seperti seorang pengecut hina!" Kun Hong menantang-nantang dengan kemarahan luar biasa.

Kun Hong tidak lagi bergerak lincah seperti tadi, melainkan berdiri seperti seekor harimau kepepet. Akan tetapi tiap ada senjata pengeroyok melayang dekat, sekali menggerakkan tongkat senjata itu akan terpental kembali.

Dari jauh terdengar The Sun menjawab dengan suara mengejek. "Pengemis buta hina, tak usah kau sombong! Lebih baik menyerah dan takluk. Kalau tidak, sebentar lagi pun kau akan roboh oleh luka itu, ha-ha-ha!"

Kun Hong menggerakkan tubuhnya, mencelat ke arah suara. Tongkat dan tangan kirinya bergerak aneh ke depan. Terdengar jerit mengerikan ketika dua orang perwira yang tidak sempat menyingkir, tahu-tahu pinggang mereka telah terbabat putus dan kepala mereka hancur mengerikan terkena hantaman atau cengkeraman tangan kiri Kun Hong. Kiranya dalam keadaan marah luar biasa ini, tanpa disadarinya Kun Hong telah mempergunakan jurus ‘Sakit Hati’ hasil ciptaannya sendiri yang ditunjukkan oleh kakek sakti Song-bun-kwi!

Bukan main marahnya para perwira ketika melihat dua orang teman mereka roboh tanpa bernyawa dalam keadaan yang begitu mengerikan. Mereka merasa ngeri, akan tetapi kemarahan membuat mereka nekat menyerbu sambil berteriak-teriak. Kini yang menyerbu adalah para perwira pilihan yang memiliki kepandaian tinggi, karena yang berkepandaian lebih rendah tingkatnya dari pada dua orang perwira yang tewas itu tidak ada yang berani maju mendekat!

Seorang perwira tinggi besar bermuka hitam, dia ini adalah orang yang siang tadi datang bersama The Sun dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dan senjatanya adalah sepasang ruyung baja yang dipasangi duri-duri, sekarang maju dan menerjang Kun Hong dengan sepasang ruyungnya menyambar dari kiri dan dari atas.

Berbareng dengan serangan ini, seorang perwira lain yang bertubuh gemuk pendek sudah menerjang pula dengan pedangnya dari belakang, menusuk punggung Kun Hong sambil menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan tenaga lweekang untuk bersiap menyusul dengan pukulan apa bila pedangnya tidak berhasil.

Beberapa detik kemudian dari pada serangan pedang ini, seorang perwira lain yang kurus dan bermuka kuning menyerang pula dari sebelah kanan. Senjatanya adalah sepasang kongce (tombak cagak) yang bergagang pendek. Gerakannya cepat bertenaga dan ujung kongce itu tergetar dengan hebat ketika dia menusuk ke arah lambung Kun Hong.

Kun Hong sudah seperti orang keranjingan. Dia tidak bergerak, seperti sebuah patung, akan tetapi andai kata Song-bun-kwi berada di situ, tentu kakek yang dijuluki iblis ini akan merasa ngeri melihat kedudukan tubuh atau pasangan kuda-kuda pemuda buta itu, sebab dia mengenal betul kuda-kuda mukjijat itu.

Tubuh pemuda buta ini tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan dengan ujungnya berjungkit, kaki kiri di belakang dengan lututnya ditekuk, tangan kanan memegang tongkat melintang di atas kepala, tangan kirinya dengan jari-jari tangan terbuka bagaikan hendak mencengkeram sesuatu dari tanah, mulutnya agak terbuka, hidungnya kembang-kempis, dadanya turun naik dan dari ubun-ubun serta kedua lengannya mengepul uap putih! Inilah kuda-kuda dari jurus Sakit Hati yang amat dahsyat dan mukjijat itu!

Kun Hong seakan-akan membiarkan tiga orang perwira dengan senjata masing-masing itu menerjangnya, dan seakan-akan sepasang ruyung baja itu sudah tentu akan meremukkan kepalanya, pedang si gemuk pendek sudah hampir menembus punggungnya dan senjata kongce itu pasti akan menembus lambungnya.

"Haiiiiittttttt!"

Tiba-tiba suara nyaring bagai guntur ini memekakkan telinga semua pengeroyok. Tampak sinar kemerahan menyambar menyilaukan mata, tubuh Kun Hong bergerak sedikit dan... ketiga orang perwira itu seakan-akan tertahan gerakannya karena tiba-tiba saja gerakan mereka terhenti, tubuh mereka berdiri kaku bagaikan disambar halilintar, sedangkan Kun Hong sudah memasang kuda-kuda lagi seperti tadi.

Semua pengeroyok berdiri bengong, lantas muka mereka menjadi pucat dan hati mereka ngeri bukan main ketika tiga orang perwira yang tadinya berdiri tegak kaku itu mendadak roboh ke atas tanah dan tubuh mereka putus menjadi dua di bagian pinggang sedangkan kepala mereka hancur!

Tanpa ada orang yang dapat melihat atau mengetahui bagaimana caranya, tiga orang perwira itu tadi sudah mati seketika karena pinggang mereka terbabat putus dan kepala mereka dihantam remuk! Inilah akibat dari jurus Sakit Hati yang kembali telah merobohkan tiga orang korban dalam waktu beberapa detik saja.

Kun Hong menggigit bibirnya menahan sakit. Luka pada pangkal paha sebelah belakang amat perih dan panas, juga ada rasa gatal-gatal yang amat nyeri. Seluruh punggungnya terasa kaku. Dia tahu bahwa lukanya itu amat berbahaya, tertusuk pedang yang ujungnya diberi racun yang amat berbahaya, mungkin racun ular.

Tentu saja dia akan dapat menyembuhkan luka itu kalau dia mendapat kesempatan. Akan tetapi dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk itu, maka satu-satunya jalan yang dapat dia lakukan hanyalah mengerahkan tenaga dalam dan mendorong hawa sakti di tubuhnya untuk menahan racun itu agar jangan menjalar ke dalam tubuh.

Sementara itu hatinya risau bukan main. Dia telah membunuh lima orang dalam waktu beberapa detik saja. Dia dapat membayangkan betapa hebat dan mengerikan kematian lima orang lawannya itu. Akan tetapi pada saat itu, walau pun agak risau dan tak enak hatinya, pikirannya memaksanya untuk tidak ambil peduli. Dia didesak, diancam maut, dan perasaannya dilukai oleh penipuan The Sun.

Betapa pun marahnya, Kun Hong bukanlah orang nekat yang hendak mengadu nyawa dengan musuh-musuhnya. Setelah merobohkan tiga orang dan tidak lagi mendengar ada pengeroyok bergerak menyerang, kakinya otomatis bergerak melangkah, menggunakan langkah-langkah yang dia namakan Hui-thian Jip-te itu menuju ke pintu bangunan tua. Dia bermaksud untuk melarikan diri, menghindarkan pertempuran lebih jauh.

Tadinya dia melayani pertempuran hanya karena dia hendak melindungi mahkota itu. Dan hampir tanpa dia sadari dia telah menggunakan jurus dahsyat itu sampai menewaskan lima orang akibat terdorong amarah yang hebat terhadap The Sun yang telah menipunya.

"Penjahat buta jangan lari!" terdengar bentakan. Kembali belasan senjata mengepungnya.

Kun Hong tersenyum mengejek, akan tetapi hatinya mengeluh. Agaknya para perwira ini benar-benar merupakan anjing-anjing penjilat yang beraninya hanya mengeroyok.

"Aku bosan mendengar suara kalian, aku hendak pergi dari sini. Siapa berani melarang?" Katanya perlahan sambil melanjutkan langkahnya keluar.

Sebatang toya dengan kuatnya menghantam belakang kepalanya dari kanan, digerakkan oleh dua buah tangan yang bertenaga besar.

"Blukkk!"

Ujung toya menghantam kepala demikian kerasnya sehingga robohlah seketika orang itu dengan kepala keluar kecap! Tetapi orang itu bukan Kun Hong, melainkan si pemegang toya sendiri.

Pada saat toya tadi menyambar, Kun Hong melejit ke samping, tongkatnya bergerak dan dengan tenaga ‘menempel’ tongkatnya seolah-olah menangkap toya itu, lalu meneruskan dengan meminjam tenaga malah ditambahnya dengan tenaga sendiri, memaksa toya itu terayun balik dan menghantam kepala si pemegangnya sendiri!

Para perwira bengong. Inilah aneh! Mana mungkin seorang perwira berkepandaian tinggi, terkenal sebagai ahli toya di antara mereka, mempunyai jurus yang demikian aneh dan goblok sehingga toya itu berbalik menghantam kepala sendiri? Memang bagi orang luar, nampaknya di pemegang toya tadi seperti memukul kepala dengan toyanya sendiri karena gerakan Kun Hong demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.

Hanya sebentar saja para perwira itu bengong, segera mereka menerjang kembali, lebih marah dan penasaran lagi. Mana patut jika sekian banyaknya perwira pilihan dari istana mengepung seorang pemuda buta saja sampai tak mampu merobohkan atau menawan?

Kun Hong terpaksa menggerakkan tongkatnya lagi. Tak mungkin ia hanya mengandalkan langkah-langkah ajaib saja menghadapi pengeroyokan dan pengepungan demikian ketat. Kembali dia mengeluh karena terpaksa dia berlaku kejam, menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan setiap orang yang menghalang jalannya.

Dia tidak mau memberi hati, tidak mau bersabar lagi karena soalnya sekarang adalah mati atau hidup. Kalau dia kalah, tentu dia akan mati dan kalau dia ingin hidup, dia terpaksa harus merobohkan, melukai bahkan mungkin membunuh orang!

Hebat pertempuran itu. Bagaikan hujan bermacam-macam senjata menerjang Kun Hong dari semua jurusan. Dan semua orang kaget, heran, kagum tiada habisnya. Orang buta itu seperti orang memiliki puluhan pasang mata saja, seakan-akan semua bagian tubuhnya bermata! Gerakannya aneh dan tampak amat lambat, tapi pada hakekatnya cepat sekali. Pukulan dan hantaman tongkatnya perlahan tapi pada hakekatnya amatlah kuat melihat betapa setiap benturan senjata pasti membuat senjata pengeroyok terlepas.

Sudah belasan orang roboh oleh tongkat, tamparan tangan kiri, atau tendangan kaki Kun Hong. Sedikit demi sedikit dia telah mendekati pintu. Biar pun belum lama dia tinggal di rumah tua ini, dia telah hafal dan sekarang tahulah dia bahwa dia sudah berada dekat dengan pintu keluar.

Dia mengeluarkan suara keras, tongkatnya berkelebat dan kembali robohlah tiga orang pengeroyoknya yang menghadang di depannya. Sekali dia menggenjot tubuh, dia sudah berhasil menerobos pintu dan kini dia telah berada di luar rumah.

Hawa malam yang dingin segar menyambutnya setelah dia keluar dari bangunan itu. Timbul semangatnya dan dia sudah siap melompat dan menggunakan ilmu lari cepatnya dengan untung-untungan karena kalau dia menabrak pohon atau terjerumus jurang, tentu dia akan celaka, Dia harus dapat membebaskan diri dari orang-orang itu, apa lagi kini selain luka itu membuat dia lelah dan kaku, juga terasa amat nyeri.

"Kwa Kun Hong, kau hendak lari ke mana? Lebih baik menyerah dan kalau kau bersedia takluk, aku yang tanggung kau akan mendapat kedudukan besar sebagai tabib negara!" tiba-tiba terdengar suara orang.

Mendengar suara ini seketika muka Kun Hong menjadi merah saking marahnya. Itulah suara The Sun!

Munculnya The Sun ini tiba-tiba menghentikan semua pengeroyokan. Dengan telinganya Kun Hong dapat mendengar betapa para perwira yang mengepungnya tadi dan yang kini sudah mengejar sampai di luar, membuat lingkaran lebar seakan-akan memberi tempat kepadanya untuk berhadapan dengan The Sun. Depan bangunan itu memang merupakan pekarangan rumput yang luas.

Kun Hong berhati-hati, tidak mau berlaku sembrono. Dia telah mendengar pula suara api menyala-nyala, dan dapat menduga bahwa tempat itu tentu diterangi oleh banyak obor yang dipegang oleh para pengawal dan penjaga.

Dia maklum bahwa The Sun memiliki kepandaian tinggi, hal ini dapat dibuktikan tadi ketika dia menerjang The Sun, dia tidak berhasil mengenai pemuda itu, hanya dapat merampas kembali mahkota kuno. Akan tetapi sebaliknya dia kena dicurangi dan dilukai.

Juga dia tahu bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran di tempat yang diterangi api obor itu, menghadapi pengeroyokan orang-orang pandai sedangkan dia sudah menderita luka parah, akhirnya dia akan roboh. Hal ini tidak ada gunanya.

Dia tidak takut mati, akan tetapi khawatir kalau-kalau mahkota berikut rahasianya itu dapat dirampas orang-orang ini. Yang paling penting menyelamatkan mahkota itu lebih dahulu, menyerahkan kepada orang yang dapat dipercaya, baru kemudian menghadapi The Sun dan menghajar orang ini.

Pikiran ini membuat Kun Hong menahan amarahnya, mendengar kata-kata The Sun yang membujuknya supaya menyerah dengan janji diberi kedudukan mulia. Tanpa menjawab, secara cepat dan sangat tiba-tiba, dia melayang ke arah orang itu sambil menggerakkan tongkatnya yang berkelebat lenyap berubah menjadi sinar kemerahan itu.

"Tranggggg!" Pedang di tangan The Sun menangkis dan bertemu dengan tongkat itu.

Kun Hong merasa betapa pedang pemuda itu adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh sehingga tidak rusak oleh pedang di dalam tongkatnya, juga ternyata betapa tenaga The Sun amat kuat. Tergetarlah telapak tangannya ketika kedua senjata tadi bertemu.

Di lain pihak, The Sun semakin kagum karena pedang pusakanya yang ampuh itu tidak mampu membikin patah tongkat si buta ini dan telapak tangannya bahkan terasa sakit.

Siapakah sebetulnya The Sun, pemuda yang amat cerdik, juga amat lihai ini? Baiklah kita menjenguk keadaan pemuda itu.

Di pegunungan Go-bi-san terdapat banyak sekali puncak-puncak yang menjulang tinggi di angkasa. Karena keadaan pegunungan yang amat luas dan penuh dengan rahasia alam ini, maka banyaklah pertapa-pertapa, orang-orang pandai dan sakti yang mengasingkan diri di sana. Malah partai Go-bi-pai terkenal sebagai partai persilatan besar yang memiliki banyak murid pandai.

Akan tetapi bukan hanya Go-bi-pai saja yang terdapat di pegunungan itu. Masih banyak lagi orang-orang pandai yang tak bergabung di partai Go-bi-pai ini, diam-diam melakukan pertapaan, bahkan kadang-kadang mereka mempunyai seorang dua orang murid rahasia yang tiada sangkut-pautnya dengan Go-bi-pai yang besar.

The Sun adalah seorang pemuda dari Go-bi-san. Ayahnya seorang bekas pembesar pada Pemerintahan Mongol yang melarikan diri setelah bangsa Mongol terusir oleh Ciu Goan Ciang dan para pejuang. Ayahnya yang bernama The Siu Kai adalah seorang pembesar militer yang mempunyai kepandaian tinggi dan merupakan seorang tokoh dari Go-bi-san pula. The Sun masih kecil sekali ketika dibawa lari mengungsi oleh ayahnya, sedangkan keluarga lain semuanya tewas dalam kekacauan perang.

The Siu Kai yang terluka hebat ketika lari ke Go-bi-san membawa puteranya, akhirnya mampu juga mencapai sebuah puncak di mana tinggal gurunya, yaitu seorang tosu tua yang bermuka dan berkulit hitam, yang puluhan tahun bertapa di puncak itu tanpa mau mencampuri urusan dunia ramai. Tosu tua ini karena kulitnya yang hitam disebut orang Hek Lojin (Orang Tua Hitam). Luka parah ditambah penderitaan selama melarikan diri ini tak dapat tertahan lagi oleh The Siu Kai dan dia pun tewas di depan kaki gurunya setelah berhasil membujuk gurunya agar supaya sudi mendidik The Sun putera tunggalnya.

Demikianlah, The Sun yang masih kecil itu akhirnya dipelihara dan dididik oleh Hek Lojin, diberi pelajaran ilmu silat dan ilmu sastera sehingga akhirnya menjadi seorang pemuda yang amat pandai, lihai dan cerdik. Makin lama Hek Lojin makin cinta kepada murid cilik ini sehingga bangkit pula gairahnya untuk urusan duniawi, akan tetapi bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi muridnya terkasih itulah.

Dia sengaja membawa The Sun turun gunung ke kota raja, malah menyuruh muridnya ini menempuh ujian di kota raja sehingga berhasil memperoleh gelar siucai. Akhirnya karena kepandaiannya, The Sun mendapat kepercayaan dari Pangeran Kian Bun Ti dan sesudah pangeran ini menjadi kaisar, The Sun tetap menjadi orang kepercayaannya, bahkan dia mendapat tugas untuk menghimpun kekuatan, mengumpulkan orang-orang pandai untuk memperkuat kedudukan kaisar baru ini yang maklum akan adanya ancaman-ancaman terhadap kedudukannya.

Memang The Sun orang yang cerdik sekali. Dia lalu menyebar mata-mata untuk menjaga keamanan kota raja, menyebar orang-orang pandai untuk menghubungi para tokoh besar di dunia kang-ouw, malah dia berhasil mendatangkan banyak orang pandai, di antaranya beberapa orang sakti yang kini sudah tinggal di kota raja pula.

"Sayang, orang muda begini cerdik pandai dan lihai merendahkan diri menjadi anjing kaisar!" tak terasa lagi Kun Hong berseru ketika pemuda itu dapat menangkis tongkatnya dengan tenaga lweekang yang mengagumkan!

The Sun tertawa mengejek. "Kaulah yang patut disayangkan, seorang pendekar buta ahli pengobatan tetapi merendahkan diri menjadi pemberontak, mudah saja dihasut oleh para pengkhianat yang hendak memberontak terhadap pemerintah yang sah!"

Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkan ejekan ini karena kembali dia sudah bergerak, kini ke kiri untuk mencari jalan ke luar. Akan tetapi angin bertiup dari arah The Sun dan kembali pedang The Sun dengan amat cepatnya telah menghadang di depannya, bahkan mengirim tusukan maut yang amat dahsyat.

Pedang yang ampuh serta digerakkan dengan jurus-jurus ilmu pedang dari Go-bi-san ini benar-benar luar biasa. Bagi mereka yang bisa melihat tampak sinar yang berkeredepan, bagi Kun Hong terdengar bunyi berdesing-desing laksana sebuah gasing berputar cepat atau seperti kitiran angin dilanda angin kencang.

"Hebat!" Dia memuji dan cepat menggerakkan tongkat.

"Trang-tring-trang-tring!”

Kembali terdengar bunyi nyaring pada saat tongkat bertemu dengan pedang dan sesudah saling serang bertukar tikaman dan babatan maut sampai tujuh jurus, keduanya kembali terpental ke belakang oleh benturan senjata yang amat keras.

Kun Hong diam-diam mengeluh di dalam hatinya. Pemuda ini benar-benar lihai. Agaknya kalau dilawan dengan Kim-tiauw-kun atau Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam saja, walau pun akan menang akan tetapi akan mempergunakan banyak waktu karena ilmu kepandaian pemuda itu memang tinggi sekali. Untuk menggunakan jurus sakit Hati, dia merasa tidak tega, Sayang seorang pemuda begini hebat dibunuh.

"Kwa Kun Hong, kau tidak mungkin dapat meloloskan diri. Lebih baik kau menyerah dan takluk, mari kita bekerja sama!" kembali The Sun membujuk.

"Tutup mulut dan tak perlu kau membujukku." Kun Hong membentak marah.

"Hemmm, kalau begitu kau memang harus mampus!" The Sun juga membentak dan dia segera menerjang dengan kilatan pedangnya yang diputar cepat di depan dadanya.

Kun Hong tahu akan kelihaian lawan ini, maka dia cepat menggerakkan tongkatnya untuk menghadapi dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam. Hebat sekali ilmu pedang warisan Si Raja Pedang Tan Beng San ini karena ke arah mana pun pedang The Sun bergerak, pada akhirnya selalu terbentur oleh tongkat yang bahkan otomatis dapat pula membalas, bacokan demi bacokan atau tusukan dengan tusukan. Mengagumkan melihat dua orang muda itu bertanding.

Keduanya sama tampan, sama lincah cekatan, sama tinggi ilmu pedangnya. Baru kali ini Kun Hong menghadapi lawan yang kuat dalam ilmu pedang sehingga dia makin kagum dan makin menyesal mengapa orang seperti ini harus menjadi lawannya.

Karena tiada niat di dalam hatinya untuk bertempur terus, dia mencari kesempatan baik. Dengan gerakan memutar, tongkatnya melakukan tusukan tujuh kali ke arah punggung lawan. Menghadapi jurus aneh dari Im-yang Sin-kiam ini, The Sun kaget. Lawan berada di depan, bagaimana ujung tongkatnya seakan-akan mengarah tengkuk dan punggungnya? Cepat dia melompat ke kiri dan memutar pedangnya melindungi tubuh.

Kesempatan ini dipergunakan Kun Hong untuk lari ke kanan, menggunakan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun sehingga beberapa bacokan golok dari para perwira yang berdiri di tempat itu mampu dia hindarkan dengan mudah. Tiga orang perwira lainnya yang sudah menghadang dia robohkan dengan dua kali dorongan tangan kirinya, sedangkan kakinya melangkah terus berloncatan ke sana ke mari ketika mainkan langkah-langkah Hui-thian Jip-te. Sebentar saja Kun Hong sudah berhasil lolos dari kepungan yang begitu ketatnya!

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan berpengaruh di sebelah depannya.

"Pemberontak buta, jangan lari! The-siucai, serahkan dia padaku!" kata-kata ini dibarengi desir angin tusukan pedang.

Kun Hong terkejut sekali dan segera dia membanting diri ke kiri. Gerakan menyelematkan diri ini dia lakukan tergesa-gesa sehingga luka pada pangkal pahanya terasa nyeri sekali, akan tetapi dia selamat dari pada sebuah tusukan yang hampir tidak mengeluarkan suara, demikian halus akan tetapi demikian kuatnya. Celaka, pikirnya, ilmu pedang orang ini luar biasa sekali.

Karena maklum bahwa yang dihadapinya seorang ahli pedang kawakan yang amat lihai, Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya membalas serangan tadi. Segera dia terlibat dalam pertandingan pedang sampai belasan jurus dengan penyerang baru ini. Makin lama makin heran dan terkejut hati Kun Hong.

Pada jurus ke lima belas, dia menggunakan tongkatnya menangkis keras sehingga kedua senjata yang bertemu itu terpental ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk berseru.

"Bukankah tuan ini Sin-kiam-eng Tan Beng Kui lo-enghiong?"

"Hemmm, kalau sudah kenal baik lekas menyerah, tak perlu melawan," jawab orang itu yang bukan lain adalah Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, majikan Pek-tiok-lim di pantai Po-hai, yaitu ayah dari Tan Loan Ki si dara lincah!

Kun Hong cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat, wajahnya berubah penuh harapan ketika dia berkata, "Lo-enghiong, harap jangan lanjutkan pertempuran, kita orang sendiri! Bukankah adik Loan Ki baik-baik saja? Dia dan aku sudah seperti saudara sendiri, kami bertemu dan bersama mengalami hal-hal hebat di Pulau Ching-coa-to, dan..."

"Tutup mulutmu! Tak perlu membawa-bawa nama anakku ke sini, keparat!" Sin-kiam-eng membentak sambil menerjang lagi, kini malah lebih hebat karena dia marah sekali.

Kun Hong cepat mengelak dan mengeluh. Celaka, pikirnya, agaknya gadis nakal lincah itu tidak pernah bercerita kepada ayahnya tentang dia sehingga sekarang Sin-kiam-eng tidak mengenalnya dan tentu saja pendekar itu amat marah mendengar puterinya disebut-sebut namanya oleh seorang yang tidak dikenal!

Sesungguhnya bukan demikianlah soalnya. Sin-kiam-eng Tan Beng Kui yang sudah sejak tadi melihat sepak terjang dan gerakan Kun Hong, diam-diam terkejut dan heran sekali karena gerakan dan langkah-langkah ajaib yang dilakukan oleh pemuda buta ini persis seperti yang dia lihat dilakukan oleh Loan Ki ketika menghadapi serangan-serangan kakek Song-bun-kwi!

Diam-diam dia terheran-heran akan tetapi juga penasaran dan amat marah. Jadi puterinya itu dalam perantauannya telah melakukan hubungan dengan seorang buta, dan menerima pelajaran dari seorang buta yang kini ternyata adalah seorang mata-mata pemberontak pula.

Inilah sebabnya ketika melihat betapa The Sun tidak sanggup mengalahkan Kun Hong, dia segera turun tangan, tidak saja untuk menyatakan kemarahannya karena persamaan ilmu pemuda ini dengan puterinya, juga untuk mencari jasa. Sebagai seorang pendatang baru yang diterima oleh The Sun, Tan Beng Kui yang bercita-cita besar ini segera ingin memperoleh kedudukan tinggi dengan jasa besar.

Ilmu pedang Sin-kiam-eng Tan Beng Kui memang hebat bukan main. Dia adalah murid kepala dari mendiang Bu-Tek Kiam-ong Cia Hui Gan ayah Cia Li Cu yang sekarang menjadi Nyonya Tan Beng San. Nyonya ini saja ilmu pedangnya sudah hebat luar biasa, apa lagi ilmu pedang Sin-kiam-eng yang menjadi kakak seperguruannya.

Memang dahulu ketika masih muda, Tan Beng Kui menjadi harapan mendiang gurunya, karena itu semua kepandaiannya diturunkan kepadanya. Ilmu Pedang Sian-Ii Kiam-sut adalah ilmu pedang turunan yang sesumber dengan Im-yang Sin-kiam, apa lagi dimainkan oleh seorang pendekar besar yang sudah matang dalam pengalaman seperti Tan Beng Kui, benar-benar membuat Kun Hong kelabakan ketika dia diterjang dengan dahsyat oleh Sin-kiam-eng.

Dengan langkah-langkah Hui-thian Jip-te, Kun Hong berusaha menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang lawan. Dia merasa segan untuk balas menyerang setelah kini dia tahu bahwa orang ini adalah ayah dari Loan Ki.

Tidak sampai hatinya, kalau dia teringat akan suara ketawa dan celoteh Loan Ki yang nakal dan lincah itu. Betapa dia ada hati untuk melawan ayah gadis jenaka itu. Dia merasa menyesal bukan main, menyesal mengapa justru ayah dara lincah itu yang kini sedang menghalangi jalan larinya, mengapa ayah Loan Ki justru menjadi pembantu kaisar baru?

Selain kebimbangan ini, ditambah lagi luka di pangkal pahanya yang parah membuat Kun Hong kurang gesit menghadapi ilmu pedang yang hebat dari Tan Beng Kui. Betapa pun lihai dan aneh langkah-langkah ajaibnya, tapi menghadapi seorang jago kawakan seperti Tan Beng Kui, tanpa melakukan perlawanan sungguh-sungguh, akhirnya dia celaka juga.

"Lo-enghiong, aku tak mau bertempur melawanmu...," kata Kun Hong dan kesempatan ini digunakan oleh lawannya untuk mendesak, memainkan jurus yang paling sulit dihadapi.

Kun Hong kaget dan masih berusaha menjatuhkan diri ke belakang, namun ujung pedang lawannya masih sempat menggores dagunya, terus merobek baju di dada dan merobek pula kulit dadanya sehingga darah bercucuran membasahi bajunya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner