PENDEKAR BUTA : JILID-24


Setelah mereda gelora perasaannya Kun Hong melepaskan kedua tangan Hui Kauw, celingukan ke kanan kiri lalu bertanya, "Mana dia...?"

"Kau mencari siapa?"

"Janda itu... Yo-twaso, di mana dia?"

"Oh, kau maksudkan perempuan hina, pelacur itu?" kata Hui Kauw, suaranya terdengar kaku karena hatinya mengkal kalau ia teringat akan wanita muda cantik yang genit cabul dan yang ia lihat memeluk Kun Hong itu.

"Perempuan hina? Pelacur? Apa maksudmu, Hui Kauw?" Kun Hong bertanya dengan perasaan amat heran mengapa gadis yang berperasaan halus dan berbudi mulia ini bisa tiba-tiba memaki-maki janda Yo sedemikian rupa!

"Dia bukan perempuan baik-baik, Kun Hong. Bagaimana kau yang tadinya di keroyok dan melarikan diri itu tiba-tiba saja bisa berada di dalam pondok perempuan itu? Sayang aku datang terlambat sehingga tahu-tahu sudah mendengar bahwa kau telah melarikan diri dan dikejar-kejar oleh para perwira istana."

Teringatlah sekarang Kun Hong akan pertempuran itu dan cepat-cepat dia bertanya, "Ah, habis bagaimana dengan para anggota Hwa-i Kaipang? Bagaimana jadinya dengan Hwa-i Lokai?" tanyanya penuh kekhawatiran.

Hui Kauw menarik napas panjang. "Sebagian besar dari mereka tewas. Lebih dua puluh orang tewas, termasuk ketuanya. Hanya beberapa orang saja selamat, tapi masih menjadi buruan sampai sekarang."

Kun Hong membanting-banting kaki dan dia menangis di dalam hatinya.

"Celaka, aku benar-benar telah membikin celaka banyak orang gagah. Ah... benar-benar celaka, dan benda yang kulindungi, yang sudah menjatuhkan korban banyak orang gagah itu sekarang masih tertinggal di rumah Yo-twaso..."

"Heee? Kau tinggalkan mahkota itu di sana? Tadi aku sudah merasa heran melihat kau menggeletak tanpa apa-apa, malah tongkatmu juga tidak nampak. Wah, berbahaya kalau begitu. Kun Hong aku tidak percaya kepada perempuan itu. Tentu sekarang mahkota dan tongkatmu sudah ia berikan kepada perwira istana."

Kun Hong menggelengkan kepala. "Kau salah sangka, Hui Kauw. Perempuan itu adalah seorang janda yang dahulu pernah kutolong. Yo-twaso orangnya baik, harap kau jangan keliru sangka yang bukan-bukan!"

"Dia baik? Huhh, kau tertipu, Kun Hong. Memang dia seorang janda muda yang cantik manis. Tapi wataknya tidak sebersih mukanya. Dia seorang perempuan genit dan cabul."

"Hee? Apa yang telah terjadi sampai kau menuduhnya demikian? Aku melarikan diri dan membentur pohon, tidak ingat apa-apa lagi. Ketika aku sadar, aku sudah berada dalam pondok Yo-twaso, lalu aku pingsan tidak ingat apa-apa lagi. Apakah yang telah terjadi? Apakah kau mengenal Yo-twaso?"

"Aku tidak kenal perempuan itu. Akan tetapi ketika aku mengejar dan mencarimu, aku melihat dia main gila dengan The Sun, orang kepercayaan kaisar, penghimpun para orang kang-ouw di istana. Coba saja bayangkan, dia main gila dengan The Sun dan sesudah kongcu hidung kerbau itu pergi, dia memelukimu dan menangisimu. Hemmm, masih baik aku tidak tusuk dia dengan pedangku, hanya menendangnya roboh ketika aku merampas dan membawamu ke sini."

"Celaka...!" Tiba-tiba Kun Hong berseru sambil melompat hingga mengagetkan Hui Kauw. Kemudian Pendekar Buta itu mengeluh dengan suara seperti orang akan menangis. "Ah, celaka betul... Yo-twaso... Yo-twaso... kenapa engkau berkorban untukku sampai sehebat itu?" Kun Hong menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dia benar-benar menangis.

Hui Kauw memegang tangan Kun Hong, suaranya gemetar karena dia menduga hal-hal yang hebat, "Kenapa? Apa artinya semua ini Kun Hong?"

"Ahhh, Hui Kauw, kau tidak tahu. Dia... dia telah berkorban untuk keselamatanku, dengan pengorbanan yang lebih hebat dari pada nyawa...! The Sun itulah orangnya yang sudah menipuku, dan dia pula yang telah melukai pangkal pahaku secara curang, kemudian dia yang mengejar ketika aku melarikan diri. Dan aku berada dalam pondok Yo-twaso dalam keadaan pingsan tak berdaya. Lalu kau melihat Yo-twaso... dan The Sun itu... ahhh, aku dapat membayangkan hal apa yang telah dilakukan oleh Yo-twaso untuk menyelamatkan nyawaku. Yo-twaso tentu tahu bahwa kalau The Sun melihat aku di sana tentu aku akan dibunuhnya. Yo-twaso mempergunakan senjata tunggalnya sebagai wanita lemah, yaitu kecantikannya dan dia... ahh, dia mempergunakan itu untuk memikat The Sun sehingga penjahat itu tidak memperhatikan dan tidak mencari aku lagi..."

Bukan main kagetnya hati Hui Kauw mendengar penjelasan ini.

"Wah... celaka... aku bahkan menendangnya dua kali! Dan kau... ketika rebah di kamar itu, kulihat mukamu berbedak langes hitam dan rambutrnu penuh pupur, sekelebatan kau seperti seorang kakek lagi berbaring... wah kau betul Kun Hong! Tentu Yo-twaso sudah sengaja menaruh semua itu agar kau disangka seorang tua untuk mengelabui mata The Sun. Celaka, ahhh... alangkah bodohku... Kun Hong, kau maafkan kebodohanku..." Hui Kauw benar-benar merasa menyesal sekali atas kesembronoannya telah menuduh yang bukan-bukan kepada seorang wanita yang demikian berbudi.

Kun Hong memegang lengan Hui Kauw. "Hui Kauw, hayo antar aku ke sana, sekarang juga. Selain aku harus menghaturkan rasa terima kasihku, juga aku merasa khawatir akan keselamatan Yo-twaso dan A Wan, anaknya. Lagi pula, aku harus mengambil kembali tongkatku dan mahkota itu sebelum terjatuh ke tangan The Sun dan kawan-kawannya."

Karena merasa sangat menyesal akan perbuatannya terhadap janda muda itu maka Hui Kauw tak berani membantah lagi. Segera digandengnya tangan Kun Hong dan dibawanya Pendekar Buta itu melesat keluar melalui jendela, terus meloncat naik ke atas genteng dan dua orang itu mempergunakan ginkang mereka berloncatan dari genteng ke genteng, cepat laksana bayangan hantu di malam gelap.

Waktu itu tengah malam sudah jauh terlewat, malah hari sudah hampir pagi. Ayam-ayam jantan sudah mulai berkokok dan sungguh pun belum kelihatan orang-orang keluar dari rumah masing-masing, tetapi kegelapan malam sudah mulai melepaskan dunia dari pada cengkramannya yang memabukkan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kun Hong dan Hui Kauw ketika mereka meloncat turun ke halaman rumah kecil janda Yo, mereka mendengar suara tangis seorang anak kecil yang menggerung-gerung penuh kedukaan.

"A Wan, ada apakah...?" Kun Hong tidak sabar lagi dan segera mendorong pintu yang sudah berada di depannya. Bersama Hui Kauw dia lari memasuki pondok kecil itu.

"Ahhhhh...!" Tangan Hui Kauw yang menggandeng tangannya menggigil dan suara gadis ini gemetar.

"Ada apa? Hui Kauw, kau melihat apa? A Wan, mengapa kau menangis?"

"Paman...!" A Wan menubruk kaki Kun Hong dan tangisnya makin menjadi-jadi sampai akhirnya dia menjadi sesak napas dan terguling pingsan di kaki Pendekar Buta itu.

“Kun Hong... dia... Yo-twaso itu... entah kenapa dia..."

"Mana Yo-twaso? Mana...?"

Hui Kauw menarik tubuh A Wan, dikempitnya dan dengan hati tidak karuan ia menuntun Kun Hong maju.

"Dia di lantai...," bisiknya.

Kun Hong berlutut, tangannya meraba dan... begitu menyentuh tubuh janda Yo, jari-jari tangannya cepat bergerak memeriksa nadi tangan, memeriksa detik jantung, lalu meraba leher. Dia mengeluh panjang, melepaskan tangan mayat itu, kemudian menutupi mukanya dengan tangan. Mulutnya berkata lirih,

"Yo-twaso... engkau sudah berkorban untukku... alangkah besar budi yang kau limpahkan kepadaku. Yo-twaso, biarlah aku bersumpah, aku tidak mau menjadi orang sebelum aku membalas ini semua kepada si keparat The Sun..."

"Tidak...!" Tiba-tiba A Wan yang sudah siuman melepaskan diri dari pangkuan Hui Kauw yang juga menangis perlahan saking terharunya.

A Wan berlari menghampiri dan memeluk tubuh ibunya, lalu memandang Kun Hong dan berkata lagi. "Tidak, Paman, tidak boleh begitu. Akulah yang akan membalas dendam Ibu terhadap The Sun! Sebelum... sebelum Ibu mati, ia sudah meninggalkan pesan kepadaku supaya membalas budi Paman dan membalas dendam kepada The Sun. Ah, Ibu... Ibu...!"

Tiba-tiba Kun Hong yang sudah mampu menguasai perasaannya itu bangkit berdiri dan sekali tarik dia sudah membuat A Wan berdiri pula. "Cukup bertangis-tangisan ini! Tanpa kegagahan, mana dapat kau membalas dendam itu? Dan kalau mempelajari kegagahan, harus pantang menangis kau dengar? A Wan, mulai sekarang kau menjadi muridku!"

"Suhu (guru)...!" A Wan lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kun Hong, terisak-isak menahan tangisnya.

"Sekarang, ceritakan apa yang telah terjadi dengan ibumu!"

Sambil menahan isaknya A Wan kemudian menceritakan pengalamannya semenjak dia dan ibunya menolong Kun Hong yang sudah menggeletak pingsan di belakang rumah. Kemudian betapa dia disuruh ibunya memanggil sinshe Thio, akan tetapi meski pun dia membujuk-bujuk namun sinshe itu tidak mau menolong, malah memaki dan memukulnya.

Lalu dia bercerita dengan air mata bercucuran akan tetapi tidak berani mengeluarkan suara tangisan, betapa ketika dia pulang, dia mendengar jerit ibunya memanggil namanya dan pada waktu dia memasuki rumah, ibunya sudah menggantung lehernya dengan ikat pinggang.

Kun Hong menarik napas panjang dan menoleh kepada Hui Kauw, berkata dengan suara tergetar, "Dia mencuci noda dengan nyawa. Hui Kauw, adakah orang yang lebih mulia dari padanya?"

Hui Kauw tidak menjawab, hanya terisak perlahan menekan keharuan hatinya ketika dia memandang ke arah mayat nyonya Yo yang masih menggeletak di lantai. Perlahan-lahan dia melangkah maju, mengangkat mayat itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas pembaringan, lalu menggunakan selimut butut yang berada di situ untuk menutupi tubuh dan muka mayat itu. Semua ini dia lakukan penuh hormat dan dengan diam-diam, diikuti pandang mata A Wan dan pendengaran Kun Hong.

Ketika menyingkap selimut tadi, Hui Kauw melihat tongkat Kun Hong. Diambilnya tongkat itu dan diserahkan kepada Kun Hong tanpa berkata-kata. Kun Hong merasa tangannya tersentuh tongkat, dengan hati lega dia menerima senjata ini.

"A Wan, dahulu kau dan ibumu diantar Lao Tui pergi ke kota Cin-an, bagaimana kau dan ibumu bisa tinggal di kota raja ini?"

Dengan singkat anak itu lalu menuturkan pengalamannya yang penuh duka dan derita. Memang sangatlah buruk nasib dia dan ibunya. Lao Tui yang berhati palsu itu kiranya berlaku curang. Anak dan ibu ini tidak diantar ke Cin-an sebagaimana yang dikehendaki nyonya Yo, melainkan diam-diam dia bawa ke kota raja!

Sesudah sampai di kota raja mereka menginap dalam sebuah rumah penginapan dan di tempat inilah diam-diam Lao Tui kabur membawa semua uang pemberian Song-wangwe, membiarkan janda muda itu bersama anaknya sendirian di kota raja yang besar dan ramai itu!

Dapat dibayangkan betapa bingung dan susahnya hati nyonya janda Yo. Seorang wanita dari dusun seperti dia, kini tahu-tahu berada di kota besar tanpa uang tanpa sandaran!

Dengan amat sengsara janda muda ini bekerja keras sebagai tukang cuci, sekedar untuk dapat mencegah kelaparan dan hidup dalam keadaan yang amat miskin dengan anaknya. Tentu saja banyak gangguan yang dia alami, namun janda muda ini berhati keras dan dapat menjaga diri sehingga biar pun ia dan anaknya hidup miskin dan serba kekurangan, menyewa sebuah pondok seperti gubuk, namun di dalam kemiskinan itu dia tetap dapat menjaga kebersihan diri dan namanya.

"Ibu dan teecu (murid) hidup dalam kemiskinan, Ibu bekerja mencuci pakaian dan teecu membantu dengan bekerja sebagai penggembala, sampai pada malam hari itu kebetulan sekali kami bertemu lagi dengan Suhu," A Wan mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh keharuan hati oleh Kun Hong dan Hui Kauw.

"Memang nasib ibumu amat buruk, akan tetapi besarkan hatimu, Wan-ji, karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukanlah kehendak manusia. Sudah ditakdirkan ibumu pergi menyusul arwah ayahmu di waktu dia masih muda. Mereka itu, ayah bundamu itu, meninggalkan kau seorang diri di dunia, tentu mereka percaya dengan penuh keyakinan bahwa sebagai ahli waris mereka engkau akan mewarisi pula budi pekerti ayahmu yang wataknya gagah perkasa dan ibumu yang suci budinya."

A Wan mendengarkan dengan kepala tertunduk untuk menyembunyikan mukanya yang kembali menjadi merah lagi.

"Wan-ji (anak Wan), ketika kau dan ibumu menolongku ketika aku pingsan, apakah kau melihat buntalan pakaianku? Adakah kau melihat sesuatu dalam buntalan pakaian itu?"

"Suhu maksudkan sebuah benda seperti topi yang gilang-gemilang berwarna kuning?"

"Betul...," Kun Hong berdebar gembira. "Di mana berada benda itu?"

"Ada teecu simpan. Suhu jangan khawatir, teecu sembunyikan di tempat rahasia. Begitu melihat benda itu, teecu bisa menduga bahwa tentu Suhu sedang memperebutkan benda itu dengan musuh-musuh Suhu, maka sengaja teecu sembunyikan selagi Suhu pingsan. Tunggu sebentar Suhu, teecu hendak mengambilnya, teecu simpan di belakang rumah." Anak itu lalu keluar melalui pintu belakang.

"Kun Hong, cerdik sekali Wan-ji itu, pantas dia menjadi muridmu, pula sudah sepatutnya kalau kita membalas budi mendiang Yo-twaso...," kata Hui Kauw terharu.

"Kau betul, Hui Kauw, dan kita harus membantu Wan-ji mengurus penguburan jenazah Yo-twaso. Sambil menanti Wan-ji dan datangnya pagi, baik kau ceritakan pengalamanmu. Tadi itu rumah siapakah? Apakah kau berhasil bertemu dengan orang tuamu?"

Dua orang muda itu duduk berhadapan di atas lantai tanah yang hanya bertikar rombeng di rumah itu. Di dekat mereka, jenazah nyonya janda Yo terbaring kaku. Api lampu minyak kecil membuat ruangan itu remang-remang.

Suara Hui Kauw yang halus itu terdengar ketika dia mulai menceritakan pengalamannya setengah berbisik-bisik. Sebaiknya kita ikuti saja pengalaman nona ini sejak dia berpisah dari Kun Hong setelah membantu pemuda buta itu memperoleh kembali mahkota kuno dari tangan Hui Siang dan Bun Wan di Pulau Ching-coa-to.

Hui Kauw meninggalkan Pulau Ching-coa-to dengan perasaan hancur dan hati penuh duka nestapa. Memang baginya pulau itu bukanlah tempat yang mendatangkan kenangan indah dan andai kata ia dapat pergi meninggalkan pulau ini setahun yang lalu, agaknya ia akan merasa gembira, bahagia dan bebas seperti burung terlepas dari sangkarnya.

Ching-toanio dan Hui Siang bukan merupakan orang-orang yang mengasihinya, sungguh pun ia sendiri cukup berusaha untuk memaksa hati menyayang mereka untuk membalas budi mereka, terutama budi Ching-toanio yang sudah memeliharanya semenjak dia kecil, sungguh pun wanita itu telah menculiknya dari tangan ayah bundanya yang asli.

Andai kata sebelum terjadi peristiwa keributan karena kedatangan Kun Hong di pulau itu ia bisa berhasil meninggalkan pulau, hal itu akan merupakan kebebasan dan kebahagiaan baginya. Akan tetapi, apa hendak dikata. Nasibnya menghendaki lain.

Nasib sudah mempertemukan ia dengan Kun Hong Pendekar Buta itu, orang muda buta yang sekaligus menarik hatinya dan menjatuhkan cinta kasihnya. Harapannya untuk bisa hidup berbahagia sebagai isteri Kwa Kun Hong timbul ketika Ching-toanio membujuknya untuk melakukan upacara pernikahan dengan Si Pendekar Buta.

Menyaksikan wajah Si Pendekar Buta yang simpatik, budi pekertinya yang baik, sikapnya yang gagah perkasa dan kepandaiannya yang tinggi, di dalam hatinya Hui Kauw sudah jatuh benar-benar. Kebutaan mata Kun Hong sama sekali tidak mengecewakan hatinya, bahkan merupakan hiburan baginya karena dengan demikian laki-laki yang dia harapkan menjadi suaminya itu tidak akan dapat melihat betapa wajahnya yang berkulit halus itu berwarna kehitaman yang menurut pandang mata setiap orang laki-laki tentu menjemukan dan buruk sekali!

Siapa dapat mengira bahwa semua itu hanyalah tipuan belaka, siasat yang dijalankan oleh Ching-toanio dan kawan-kawannya untuk menjebak Kun Hong dan menarik pemuda perkasa itu sebagai pihak mereka. Sebagai seorang laki-laki gagah, tentu saja Kun Hong merasa terhina sehingga menolak pernikahan yang hanya merupakan siasat. Akibatnya perasaan Hui Kauw hancur luluh, remuk redam dan buyarlah semua khayal dan lamunan yang muluk-muluk tentang hidup bahagia bersama Kun Hong.

Kini sia sudah terpisah dari Kun Hong, meninggalkan pemuda itu sesudah membantunya mendapatkan mahkota kuno kembali. Sedikitnya hatinya telah terhibur. Tidak saja ia telah berjasa dan membalas budi Kun Hong, juga dia mendapat kenyataan bahwa Pendekar Buta itu sebetulnya menaruh hati cinta kasih pula kepadanya. Dia tidak bertepuk tangan sebelah.

Kalau teringat akan ini, ingin rasanya Hui Kauw menari-nari saking bahagia rasa hatinya. Kun Hong juga mencintainya! Kebahagiaan apakah di dunia ini yang lebih besar dari pada keyakinan bahwa orang yang dicintanya itu ternyata membalas dengan cinta kasih yang sama besarnya pula?

Namun, duka dan suka memanglah sepasang saudara kembar. Masing-masing tak dapat berjauhan dan masing-masing siap menggantikan kedudukan saudara kembarnya. Rasa suka karena mengetahui tentang cinta kasih Kun Hong kepadanya ini segera tertutup oleh duka yang amat besar, yaitu kenyataan bahwa Kun Hong tidak akan dapat mengawininya karena pemuda buta itu seluruh hati dan perasaannya masih terikat oleh cinta kasihnya kepada mendiang Cui Bi, dan perasaan ini memaksa Si Pendekar Buta untuk bersetia terus kepada mendiang kekasihnya itu!

Demikianlah, dengan dada kosong karena hatinya sudah tertinggal bersama Si Pendekar Buta, dan perasaan amat berat karena semenjak saat itu ia harus hidup sendiri, Hui Kauw melakukan perjalanan cepat sekali dengan tujuan kota raja. Selama hidup belum pernah ia melakukan perjalanan jauh, apa lagi ke kota raja, karena ia seakan-akan ‘dikurung’ oleh Ching-toanio di dalam pulau. Kalau nenek itu bepergian, tentu Hui Siang yang diajak serta.

Justru hal ini malah mendatangkan hiburan bukan kecil bagi Hui Kauw. Biasanya ia hanya melihat pemandangan di sekitar pulau saja, kali ini setelah melakukan perjalanan jauh melalui gunung-gunung, ia terpesona dan beberapa kali sampai terhenti untuk menikmati tamasya alam yang amat indahnya.

Selain minggat dari pulau Ching-coa-to, tujuan perjalanannya adalah untuk mencari ayah bundanya di kota raja. Hal ini sebenarnya telah menjadi niat hatinya sejak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi ia selalu kurang berani melakukannya. Sekarang karena keadaan memaksanya, ia dapat melaksanakan niatnya itu.

Meski pun perasaan ini mendatangkan kegirangan di hatinya, namun juga mendatangkan keraguan dan kekhawatiran. Dia sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah ayah bundanya, juga tak tahu nama mereka. Yang pernah ia dengar dari pelayan tua di Ching-coa-to yang merasa sakit hati karena disiksa oleh Ching-toa-nio dan membuka rahasia ini kepadanya hanyalah bahwa ia bukanlah anak Ching-toanio, bahwa ketika masih amat kecil ia diculik oleh Ching-toanio dari kota raja dan bahwa dia adalah anak keluarga kaya raya she Kwee!

Ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat berjumpa dengan ayah bundanya, apakah ia akan berhasil mencari seorang she Kwee di kota raja tanpa bahaya keliru cari? Bagai mana kalau ia bertemu dengan keluarga Kwee yang kaya raya di kota raja akan tetapi sebetulnya keluarga itu bukanlah keluarganya? Mungkinkah ayah bundanya akan dapat mengenal puterinya yang lenyap ketika masih amat kecil? Apa lagi kalau ia ingat bahwa sekarang mukanya telah menjadi hitam! Kalau berpikir sampai di sini, Hui Kauw menjadi amat gelisah.

Para penjaga pintu gerbang tembok kota raja, tentu saja tidak membiarkan gadis ini lewat begitu saja tanpa diperiksa. Akan tetapi melihat sikap yang lemah lembut namun kereng, melihat pedang yang tergantung di punggung Hui Kauw, mereka maklum bahwa gadis ini adalah seorang gadis kong-ouw yang berkepandaian, maka mereka pun tidak berani main gila.

Tentu saja hal ini sebagian besar dikarenakan wajah Hui Kauw yang hitam dan karenanya tidak menarik. Andai kata wajahnya yang sebetulnya amat cantik jelita itu tidak bercacat dengan warna kehitaman itu, kiranya ia tak akan terluput dari pada godaan dan kekurang ajaran para penjaga itu. Setelah diperiksa sebentar ia lalu diperbolehkan masuk.

Dapat dibayangkan betapa kagum dan herannya hati gadis ini ketika ia sudah memasuki kota raja dan melihat keramaian yang luar biasa itu. Bingung ia dibuatnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari sebuah rumah penginapan.

Seorang pelayan muda dengan muka cengar-cengir maju menyambutnya. Hampir semua pelayan rumah penginapan di kota raja mengenal orang-orang kang-ouw, maka pelayan muda ini pun tentu saja dengan mudah dapat menduga bahwa tamunya seorang wanita muda yang datang sendirian ini tentu seorang wanita kangouw.

"Nona mencari kamar? Kebetulan masih ada yang kosong di sebelah belakang. Silakan Nona mengikuti saya."

Hui Kauw merasa tidak senang dan sangat sebal melihat muka pelayan muda yang terus mesam-mesem ini. Akan tetapi ia tidak berkata apa-apa dan berjalan perlahan mengikuti pelayan itu.

Rumah penginapan itu cukup besar dan mereka berjalan melalui beberapa ruangan. Di ruangan sebelah dalam terdapat tiga orang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang duduk bercakap-cakap. Ketika Hui Kauw lewat, mereka menghentikan percakapan itu dan tiga pasang mata dengan cara yang tidak sembunyi-sembunyi menatap gadis ini yang berjalan dengan tenang tanpa menoleh ke sana ke mari.

Akan tetapi diam-diam Hui Kauw melirik dan memperhatikan keadaan di situ sehingga ia bisa mengetahui betapa kamar-kamar penginapan itu penuh dengan para tamu yang juga semua menengok dan memandangnya dari jendela atau pintu kamar mereka. Diam-diam ia mendongkol sekali dan menganggap bahwa para lelaki di kota raja adalah sebangsa laki-laki kasar dan tidak sopan terhadap wanita.

Kamar itu biar pun kecil tetapi cukup bersih, biar pun baunya apek dan menyebalkan hati Hui Kauw. Nona ini cepat mengeluarkan beberapa potong uang kecil dan diberikannya kepada pelayan itu.

Setelah menerima persenan yang besar ini sikap pelayan itu otomatis berubah. Tubuhnya membungkuk-bungkuk, mukanya berseri dan senyumnya melebar memamerkan deretan gigi menguning.

"Terima kasih, Nona yang gagah. Terima kasih. Apakah ada sesuatu perintah dari Nona? Barang kali Nona membutuhkan bantuan saya...," katanya menjilat.

Oleh karena pelayan ini merupakan orang pertama yang dihubunginya dan yang dapat diajaknya bercakap-cakap, Hui Kauw segera berkata, "Barang kali kau bisa menunjukkan kepadaku di mana rumah keluarga Kwee yang kaya raya di kota raja ini."

Biar pun Hui Kauw sudah memandang tajam, ia merasa sukar untuk dapat menangkap perasaan pelayan itu sebab mukanya berubah-ubah. Mula-mula matanya terbelalak bagai orang keheranan, kemudian terbayang ketakutan, akhirnya keningnya berkerut bagaikan orang bercuriga, tapi mulutnya masih tersenyum.

"Keluarga Kwee...? Kaya raya...? Ehm, di mana, ya? Nona, di sini banyak sekali keluarga Kwee. Yang kaya raya juga sangat banyak, apa lagi yang miskin. Keluarga mana yang Nona maksudkan? Siapa nama hartawan itu?"

Mendengar ini saja Hui Kauw sudah kecewa. Mana dia bisa tahu namanya? Dan kalau ia sendiri tahu yang ia maksudkan, tentu ia tak akan bertanya-tanya lagi, pikirnya mengkal.

"Aku tidak tahu namanya, yang kuketahui hanya bahwa dia adalah seorang hartawan she Kwee."

Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gepeng. "Wah, susah kalau begitu, Nona. Di sini banyak hartawan she Kwee, entah ada berapa puluh orang!"

Hui Kauw menggerakkan tangan dan pada lain saat dia telah memperlihatkan dua potong uang emas. "Kau suka menerima hadiah ini?"

Pelayan itu bengong, tidak dapat segera menjawab, hanya kala-menjing di lehernya yang kecil itu bergerak naik turun. Setahun bekerja penuh di penginapan itu, tak mungkin bisa mendapatkan emas dua potong itu, pikirnya mengilar. Saking kacau hatinya, dia tak dapat menjawab, hanya mengangguk-angguk seperti ayam mematuki beras.

Hui Kauw menahan senyum. "Aku tidak mempunyai kenalan di kota raja ini, oleh karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Kau carilah keterangan tentang keluarga hartawan Kwee yang anak perempuannya pernah diculik orang belasan tahun yang lalu. Nah, emas ini menjadi milikmu apa bila kau bisa mendapatkan keterangan itu, malah akan kutambah kalau kelak ternyata bahwa keteranganmu tidak keliru."

"Boleh... baik, Nona... akan segera saya kerjakan perintah Nona setelah selesai pekerjaan saya nanti." Akhirnya si pelayan dapat juga menjawab, lalu cepat-cepat dia keluar dari kamar itu.

Hui Kauw juga melangkah ke luar kamar dan matanya bersinar-sinar ketika dia melihat berkelebatnya sesosok bayangan yang agaknya mempunyai niat tidak baik. Akan tetapi karena berada di tempat asing, ia diam saja, hanya bersiap menjaga diri dari pada segala kemungkinan.

Malam itu sehabis makan sekedarnya, Hui Kauw merebahkan diri di atas pembaringan. Jengkel juga hatinya menanti-nanti pelayan yang belum kunjung datang. Akan tetapi dia menghibur hati sendiri dengan pikiran bahwa tentu tidak mudah melakukan penyelidikan tentang orang yang tak diketahui betul keadaannya di dalam kota sebesar itu.

Ia menutup kelambu, akan tetapi sengaja ia tidak membuka pakaian, malah ia berbaring dengan pakaian lengkap dan pedang di dekat bantal. Lilin sudah ia tiup padam karena memang ia ingin mengaso sambil menenteramkan pikirannya yang risau.

Sukar sekali ia tidur. Pikirannya kacau-balau, sebagian besar berpikir tentang Kun Hong dengan hati duka, sebagian lagi membayangkan pertemuannya dengan ayah bundanya. Masih hidupkah mereka? Andai kata masih hidup dan dapat bertemu muka dengannya, sukakah mereka menerimanya sebagai anak? Bagaimana nanti sikap mereka terhadap dia? Masih adakah kasih sayang mereka? Bagaimana nanti sikapnya sendiri terhadap mereka? Semua ini membuat dadanya berdebar-debar dan membuat sepasang matanya terbuka lebar tidak mau dimeramkan.

Menjelang tengah malam, suara-suara di dalam rumah penginapan besar itu telah lenyap. Keadaan sunyi menandakan bahwa para tamu sudah tidur. Dari dalam kamarnya, Hui Kauw dapat mendengar suara orang-orang mendengkur dari kamar lain. Hal ini semakin memusingkan kepalanya dan menjengkelkan hatinya.

Jemu sekali ia di dalam penginapan ini. Seribu kali dia lebih suka bermalam di sebuah hutan, di atas dahan pohon besar, lebih segar dan nikmat, dapat mengaso betul-betul. Hawa di dalam kamar itu pengap, membuat napas menjadi sesak.

Tiba-tiba ia tersentak kaget. Ada suara di jendela kamarnya. Tapi, sebagai seorang gadis pendekar yang berilmu tinggi, hanya beberapa detik saja dia tegang, selanjutnya sambil tersenyum mengejek dia tenang-tenang rebah sambil menunggu apa yang akan datang.

Hatinya terasa geli mendengar betapa daun jendela dikorek-korek dengan senjata tajam. Agaknya ada pencuri yang hendak membuka jendela kamar, pikirnya. Akan tetapi ketika ia mencurahkan perhatian dan menggunakan pendengarannya, terdengar lebih dari pada dua buah kaki yang berpijak di lantai.

Hemmm, apakah di kota raja yang begini ramainya terdapat juga perampok-perampok? Sungguh-sungguh berani mati penjahat-penjahat ini, pikirnya. Rumah penginapan adalah tempat umum dan di sana banyak terdapat tamu, bagaimana mereka ini berani datang melakukan kejahatan di sini? Kalau ketahuan, apakah mereka tak akan dikeroyok sampai mampus?

"Kraaakkk!"

Akhirnya daun jendela terbuka. Tiga sosok bayangan yang gerakannya ringan meloncat memasuki kamar melalui jendela itu.

Diam-diam Hui Kauw terkejut karena gerakan tiga orang itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah merupakan penjahat-penjahat biasa, akan tetapi orang-orang yang mempunyai kepandaian lumayan. Akan tetapi ia tetap rebah saja sambil mempersiapkan pedangnya.

Hui Kauw lalu membentak halus. "Tiga orang tikus kecil apakah sudah bosan hidup? Hayo lekas keluar lagi sebelum nonamu habis sabar!" Memang ia tidak mau mencari perkara di kota raja yang asing baginya ini.

Tiga orang itu tidak bergerak, malah seorang di antaranya menyalakan lilin sehingga Hui Kauw dapat melihat bahwa mereka adalah tiga orang tinggi besar yang siang tadi duduk di ruangan tengah.

"Nona muka hitam, jangan sombong," cela seorang di antara mereka.

"Hemm, benar-benar tidak tahu telah diberi kelonggaran," kata orang ke dua.

Orang ke tiga yang menyalakan lampu itu berkata sambil memandang Hui Kauw yang sudah bangun dan duduk di pinggir pembaringannya, "Nona, kami bertiga sudah banyak mengalah, sengaja tidak membikin ribut di depan umum agar kau tak mendapatkan malu. Karena itulah maka kami diam-diam mendatangimu pada waktu malam-malam begini agar orang-orang tidak ada yang tahu."

Hui Kauw mengerutkan kening, membentak, "Orang-orang kurang ajar, kalian bicara apa? Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, hayo lekas minggat dari sini!"

Gadis ini sekarang sudah marah dan sudah turun dari pembaringan, berdiri tegak dengan sikap kereng dan dengan pedang di tangan.

Seorang di antara mereka yang matanya juling tertawa mengejek, sambil cengar-cengir berkata, "Nona, agaknya kau belum tahu siapa kami, maka sikapmu kasar. Ketahuilah, kami adalah petugas-petugas dari istana, kami mata-mata dan penyelidik yang bertugas di rumah penginapan ini. Entah sudah berapa banyak mata-mata pengkhianat dan kaum pemberontak kami tangkap! Nah, lebih baik sekarang simpan kembali pedangmu dan kau baik-baik membiarkan kami menggeledah dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan."

"Siapa peduli tentang keadaan kalian? Siapa pun juga kalian, tidak patut memasuki kamar orang seperti pencuri-pencuri busuk. Kalau ada keperluan datanglah besok dengan cara yang sopan. Aku bukan pengkhianat, bukan pula pemberontak, peduli apa dengan segala kedudukan kalian? Hayo minggat!"

"Ha-ha-ha, galak benar," orang ke dua yang kumisnya panjang tertawa,

"Biar pun mungkin bukan pemberontak, akan tetapi setidaknya tentu sebangsa perampok atau maling tunggal yang datang dari luar kota raja hendak mengacau atau mencuri di sini. Nona tangan panjang, kau menyelidiki keadaan seorang hartawan di kota raja, apa maksudmu selain hendak memindahkan sebagian hartanya ke tanganmu?"

"Keparat, berani kalian menghina orang!"

Tubuh Hui Kauw bergerak dan terdengarlah suara…

"Plak-plak, blukk, ngekkk!"

Lalu terdengar pula susulan suara pekik tiga orang itu mengaduh-aduh diakhiri dengan melayangnya ketiga tubuh mereka keluar melalui lubang jendela. Mereka masih terdengar mengaduh-aduh, lalu merangkak-rangkak dan akhirnya terdengar berderap-derap langkah mereka pergi meninggalkan tempat itu!

Hui Kauw tersenyum mengejek dan juga merasa geli hatinya. Begitu sajakah penyelidik-penyelidik dari istana? Ia membersihkan kedua tangannya dengan taplak meja di kamar itu. Dua tangannya baru saja ‘makan’ muka dan kepalannya menjotos dada orang-orang itu. Dengan tenang Hui Kauw menutupkan daun pintu jendelanya kembali, menyimpan pedangnya kemudian merebahkan diri di atas pembaringan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.

Menjelang pagi nona itu tiba-tiba terbangun. Enak juga ia tidur dari tengah malam tadi. Tidur pulas tiga empat jam baginya cukup sudah. Kini dia terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya. Banyak orang berkumpul di luar kamarnya, sedikitnya ada sepuluh orang.

“Di sini kamarnya…!” terdengar suara.

Mendengar suara ini Hui Kauw cepat turun dari pembaringan, menggosok-gosok mukanya dengan sapu tangan, membereskan rambut beserta pakaiannya yang kusut, mengikatkan pedang di pinggangnya dan mengencangkan tali sepatunya. Malah untuk menjaga segala kemungkinan ia mengikatkan pula buntalan pakaian di atas punggungnya.

"Duk-duk-duk!” Pintunya mulai digedor orang.

"Buka pintu! Kami pengawal istana hendak memeriksa!"

Huh, menyebalkan, pikir Hui Kauw. Kiranya di kota raja berkeliaran segala anjing istana yang kerjanya hanya mengganggu orang. Hemmm, lihat mereka hendak apa terhadapku. Kakinya melangkah ringan dan sekali tangannya bergerak, pengganjal daun pintu terlepas dan daun-pintu terbuka lebar-lebar.

Dengan tenang Hui Kauw berdiri tegak. Sikapnya gagah dan matanya tajam menatap ke luar kamar. Kiranya di luar kamarnya telah berkumpul sedikitnya selosin orang, dikepalai laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang bersikap gagah dan sombong. Sebuah senjata ruyung baja yang besar tergantung di pinggangnya.

Melihat pakaian orang ini lebih mewah dan berbeda dari orang-orang yang lain, dapatlah Hui Kauw menduga bahwa tentunya orang ini pemimpin mereka itu. Dengan tenang dia melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut berhadapan dengan selosin laki-laki yang tampaknya tinggi-tinggi besar dan gagah-gagah itu.

"Hemmm, kiranya orang-orang lelaki di kota raja ini hanya kelihatannya saja gagah dan sombong," kata Hui Kauw perlahan akan tetapi suaranya mengandung penuh penyesalan dan ejekan, "Malam tadi tiga ekor anjing menggonggong dan berlagak membuat orang sukar tidur enak, dan sekarang pagi-pagi sekali serombongan orang kasar menggedor pintu. Apa kehendak kalian?" Hui-Kauw sengaja berkata demikian ketika melihat bahwa tiga orang laki-laki malam tadi berada di dalam rombongan ini pula.

Tiga orang laki-laki itu menjadi merah mukanya, mata mereka melotot lebar akan tetapi jelas mereka kelihatan gentar. Siapa orangnya yang tidak menjadi gentar jika malam tadi mengalami hal seperti mereka?

Tanpa mereka ketahui bagaimana caranya, tadi malam gadis bermuka hitam itu sudah membuat mereka kalang-kabut dan babak-belur sehingga dalam keadaan hampir pingsan tahu-tahu mereka mendapatkan diri sendiri telah berada di luar kamar! Tentu saja mereka merasa seperti telah bertemu dan melawan setan karena mereka yang terkenal sebagai orang-orang berkepandaian tinggi bagaimana bisa mengalami hal seperti itu anehnya.

Semalam dengan tubuh sakit-sakit dan semangat terbang melayang, mereka menyeret kedua kaki melarikan diri dan langsung melaporkan hal aneh itu pada seorang pengawal istana yang menjadi kepala mereka.

Pengawal istana yang sekarang membawa sebelas anak buahnya, yang pagi-pagi sekali mendatangi kamar tamu hotel yang aneh dan mencurigakan itu, bukan lain adalah Tiat-jiu Souw Ki yang sudah kita kenal lama! Seperti telah kita ketahui, semenjak masih sebagai pangeran, kaisar yang sekarang, yaitu dahulunya Pangeran Kian Bun Ti, sudah banyak mempunyai kaki tangan terdiri dari jago-jago silat. Dahulu dia terkenal mempunyai tujuh orang pengawal jagoan yang terdiri dari orang-orang gagah, di antaranya adalah Tiat-jiu Souw Ki itulah.

Setelah Kian Bun Ti menjadi kaisar, hanya tinggal tiga orang di antara tujuh jagoannya yang masih ada dan yang masih dia pergunakan tenaganya sebagai pengawal istana. Mereka ini adalah Tiat-jiu Souw Ki, Bhong Lo-koai dan Ang Mo-ko.

Dua orang kakek ini ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada Tiat-jiu Souw Ki, akan tetapi karena watak mereka yang aneh, jarang sekali mereka keluar bila tidak menghadapi urusan besar. Mereka lebih suka bertugas di dalam istana menjaga keselamatan kaisar.

Berbeda dengan Tiat-jiu Souw Ki yang lebih suka berkeliaran di luar. Baginya, bertugas di luar istana memiliki kesempatan lebih banyak untuk dapat melampiaskan nafsu-nafsunya, mudah mencari ‘rejeki’ dengan memeras atau merampas, mudah pula mempermainkan anak isteri orang yang menjadi sebuah di antara hobby-nya (kegemarannya)!

Di bagian awal cerita ini sudah dituturkan betapa Tiat-jiu Souw Ki yang tadinya berhasil merampas kembali mahkota kuno yang dicuri oleh Tan Hok dari dalam istana kemudian ‘ketemu batunya’ saat Tan Loan Ki Si Walet Jelita mempermainkan dan mengalahkannya serta merampas kembali mahkota itu.

Hati Souw Ki amat penasaran. Dia, seorang pengawal kaisar, berjuluk Tiat-jiu (Si Tangan Besi), ahli bermain ruyung baja, masih dibantu pula oleh anak buah perampok-perampok Hui-houw-pang dan Kiang-liong-pang serta si tosu bopeng Ban Kwan Tojin, kalah oleh seorang dara jelita yang masih setengah kanak-kanak! Mulai saat itu Tiat-jiu Souw Ki menaruh hati benci terhadap wanita-wanita kang-ouw.

Maka begitu mendengar dari anak buahnya bahwa di dalam penginapan di kota raja itu terdapat seorang wanita kang-ouw yang mencurigakan akan tetapi berilmu tinggi, hatinya tertarik dan penasaran. Mana bisa di dunia ini ada wanita ke dua yang boleh begitu saja menghinanya? Demikianlah, pagi-pagi benar dia mengajak sebelas orang anak buahnya yang pilihan mendatangi penginapan itu dan menggedor pintu kamar Hui Kauw.

Melihat sikap Hui Kauw yang menantang dan kereng, Tiat-jiu Souw Ki menjadi panas perutnya. Dia seorang mata keranjang, dan agaknya kalau nona yang bentuk tubuhnya menggairahkan ini tidak hitam mukanya, agaknya siang-siang kemarahannya sudah akan mencair kembali.

Akan tetapi kehitaman muka Hui Kauw memang menyembunyikan kecantikannya dan hal ini agaknya membuat Souw Ki semakin panas perutnya sehingga meledaklah suaranya membentak.

"He, monyet betina muka hitam! Siapa kau berani bersikap sombong di depan Tiat-jiu Souw Ki? Mendengar laporan anak buahku, kukira kau seorang tokoh kang-ouw yang bernama besar sehingga pagi-pagi aku datang sendiri untuk melihat. Siapa tahu kiranya hanya seekor monyet hitam, lutung hitam. Hayo lekas berlutut menyerah!"

Sebetulnya Hui Kauw adalah seorang yang memiliki watak penyabar dan luas pandangan. Semalam sudah ia buktikan betapa wataknya sangat halus dan pemurah sehingga tiga orang laki-laki kasar yang sudah menghinanya itu masih dia ampuni dan hanya memberi hajaran sedikit dan tidak mengakibatkan luka-luka parah. Namun, sesabar-sabarnya hati wanita, kalau dimaki dan diperolok tentang keburukan mukanya, ia tentu akan marah juga.

Demikian pula Hui Kauw. Ia maklum bahwa mukanya memang hitam dan buruk, akan tetapi bukan untuk diperolok oleh seorang laki-laki macam Souw Ki ini. Dengan kilatan mata yang bercahaya, gadis itu menudingkan telunjuknya yang runcing ke muka Souw Ki sambil berkata.

"Bangsat rendah bermulut kotor, mukamu sendiri hitam dan buruk, masih berani memaki orang lain? Tidak peduli kau siapa, aku adalah seorang baik-baik yang tidak pernah dan tidak akan melakukan kejahatan. Mengenai maksud kedatanganku di kota raja adalah urusanku sendiri, siapa berhak mencampuri? Tadi malam aku masih mengampuni tiga ekor anjing kecil, akan tetapi sekarang kalau ada anjing besar berani menggonggong tak tahu malu, agaknya aku takkan puas kalau belum dapat menghajar moncongnya sampai tanggal semua giginya!"

Dapat dibayangkan betapa marahnya Tiat-jiu Souw Ki mendengar kata-kata menghina ini. Jelas bahwa gadis muka hitam ini memakinya sebagai anjing besar yang hendak dihajar moncongnya dan ditanggalkan giginya.

"Bangsat betina! Tidak biasa aku, Tiat-jiu Souw Ki Si Tangan Besi bertempur melawan perempuan, akan tetapi karena kau terlalu kurang ajar sudah semestinya kau mengenal tangan besiku."

"Hemm, kau mau mengeroyok? Aku tidak takut!" kata Hui Kauw, masih tenang sikapnya dan sama sekali ia tidak meraba gagang pedangnya.

Dia tahu bahwa kepandaian seseorang dapat diukur dari sikapnya. Sikap Souw Ki yang sombong ini sama sekali tidak mencerminkan ilmu yang tinggi sehingga tak perlu pula ia berkhawatir.

"Wah-wah, kau benar-benar memandang rendah, keparat! Agaknya kau memiliki sedikit kepandaian maka berani malang-melintang di kota raja. Siapa hendak mengeroyokmu? Dua buah jari tanganku saja sanggup membuat kau berkeok-keok minta ampun. Mari... mari... boleh kita bertanding di tempat yang lapang!"

Dia melangkah lebar ke ruangan dalam di mana terdapat ruangan yang lapang setelah meja kursi didorong ke pinggir tembok. Dengan lagak gagah dibuat-buat Souw Ki berdiri di tengah ruangan ini, menanti dengan sikap jagoan yang sudah pasti akan mendapatkan kemenangan, sama sekali tidak sadar bahwa sikapnya ini saja sudah menunjukkan sikap pengecut besar karena sebagai jago, yang dinanti bukanlah jago lain melainkan seekor ayam betina!

Hui Kauw dengan senyum dikulum dan menahan kemengkalan hati, melangkah pula ke ruangan ini. Dia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada pemimpin orang istana ini agar selanjutnya dia tidak mendapat banyak gangguan lagi.

Panas juga hatinya melihat betapa laki-laki tinggi besar itu sudah memasang kuda-kuda, mulutnya menyeringai penuh ejekan dan cemooh, matanya melirik memandang rendah. Menurutkan gelora hati panas Hui Kauw lantas menggenjot tubuhnya dan melayangkan tubuhnya itu ke tengah ruangan, tepat berhadapan dengan Souw Ki.

Pengawal istana ini kaget, maklum bahwa lawannya ini kiranya benar-benar mempunyai kepandaian tinggi, buktinya dia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lumayan. Bagus, pikir si pongah, makin tinggi ilmunya makin baik sehingga aku tak akan ditertawai anak buahku, disangka hanya pandai mengalahkan wanita cantik dan lemah saja. Biarlah iblis betina ini kutundukkan dengan kepandaian, pikirnya.

Betapa pun juga, sesudah berhadapan dengan calon lawannya, Hui Kauw yang berhati lembut itu sudah merasa menyesal. Saat ini dia sedang berusaha mencari orang tuanya. Kedatangannya ke kota raja adalah untuk urusan itu, bukan untuk berkelahi! Sekarang, belum apa-apa dia sudah mendatangkan keonaran dan sudah hendak bentrok dengan petugas-petugas istana!

"Tiat-jiu Souw Ki," katanya dengan suara lembut akibat penyesalan ini. "Terus terang saja, aku sebenarnya tidak suka ribut-ribut karena kedatanganku di kota raja ini bukan untuk mencari keributan dengan siapa pun juga. Anak buahmu kuhalau pergi karena mereka malam-malam mengganggu dan memasuki kamarku. Melihat julukanmu, tentulah kau pun seorang kang-ouw yang tahu akan sopan-santun di dunia kang-ouw, dan biarkanlah aku melanjutkan urusanku sendiri dan kita tidak saling ganggu."

Belasan tahun yang lalu, sebelum bintangnya naik menjadi pengawal pangeran, Tiat-jiu Souw Ki adalah seorang bajak sungai yang terkenal. Tentu saja dia tahu akan peraturan dunia persilatan, dunia perantauan dan dunia kaum hitam. Maka dia tertawa bergelak mendengar ucapan Hui Kauw ini dan menjawab.

"Ha-ha-ha, ucapanmu seperti kau ini seorang tokoh kang-ouw yang hebat saja! Bocah, aku Tiat-jiu Souw Ki sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw dan andai kata kau seorang tokoh sekali pun, kau juga masih harus menghormati aku, apa lagi kau sama sekali tidak kukenal dan kau seorang pelonco dalam dunia kang-ouw, mana bisa aku berlaku sungkan lagi? Kecuali kalau kau mau berterus terang menyatakan siapa namamu, dari mana kau datang dan apa niatmu memasuki kota raja, baru aku mau menimbang-nimbang untuk mengampunimu."

Ucapan ini benar-benar amat sombong dan memandang rendah.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner