PENDEKAR BUTA : JILID-29


"Traaanggggg…!"

Loan Ki merasa tangannya tergetar dan lebih kagetlah ia pada saat mengenal muka orang itu setelah kini berdekatan. Kiranya orang itu adalah Bun Wan, pemuda Kun-lun-pai yang pernah ia lihat ketika ia menjadi tawanan di Ching-coa-to! Ia makin marah ketika sekarang mengenal pula bahwa benda yang dirampas oleh Bun Wan dari tangan anak itu ternyata adalah mahkota kuno yang dahulu diperebutkan di Ching-coa-to.

"Ehh, kiranya kau, keparat! Kembalikan mahkota itu!"

Ia menerjang marah, pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung. Nagai Ici juga memekik dengan penasaran, menggerakkan pedang samurainya mengeroyok laki-laki itu.

Orang itu memang Bun Wan adanya, putera ketua Kun-lun-pai! Ketika dia mengenal Loan Ki dia terkejut dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat ke belakang, menggunakan ginkang-nya terus melarikan diri!

"Keparat, jangan lari!" Loan Ki membentak dan mengejar.

Nagai Ici ikut pula mengejar. Pemuda Jepang ini tertinggal jauh karena dalam hal ilmu lari cepat, dia kalah jauh oleh Bun Wan mau pun Loan Ki. Hal ini menyulitkan Loan Ki karena ia tidak ingin meninggalkan Nagai Ici di tempat asing dan berbahaya itu.

"Hayo, cepat kita kejar dia!" Loan Ki menunggu Nagai Ici, kemudian setelah temannya itu mendekat, ia menyambar tangannya dan diajaknya membalap untuk mengejar Bun Wan.

"Wah, hebat bukan main larinya. Kau kejarlah dulu, Nona, biar aku mengejar di belakang. Jangan biarkan dia minggat!"

Akan tetapi Loan Ki terpaksa memperlambat larinya. Memang ia harus mengejar Bun Wan dan merampas kembali mahkota itu yang agaknya sangat penting bagi Kun Hong. Akan tetapi sekali-kali dia tidak mau membiarkan Nagai Ici tertinggal di tempat ini, salah-salah bisa ditangkap dan didakwa mata-mata oleh para pengawal istana!

Karena waktu itu sinar matahari pagi sudah mulai mengusir kegelapan malam, maka biar pun tertinggal jauh, dapat juga Loan Ki melihat ke mana arah larinya Bun Wan. Ia terus mengajak Nagai Ici mengejar dan dengan kagum ia melihat betapa Bun Wan secara nekat sudah menerjang para penjaga pintu gerbang. Pemuda Kun-lun-pai yang berilmu pedang lihai sekali itu ternyata berhasil lolos dari pintu gerbang dan kabur keluar kota raja dengan cepat!

Pada saat Loan Ki dan Nagai Ici mengejar sampai di situ, gadis ini cepat berteriak membentak para penjaga yang agaknya hendak menghalangi mereka berdua.

"Tolol kalian semua! Tidak tahu jika aku puteri Sin-kiam-eng? Aku dan temanku bertugas mengejar bangsat yang kalian lepaskan tadi. Minggir, keparat!"

Di antara para penjaga ada yang mengenal gadis ini pada saat kemarin berjaga di pintu gerbang di mana Loan Ki masuk, maka mereka segera memberi jalan Loan Ki bersama Nagai Ici mengejar terus.

Belum lama mereka mengejar, tampak bayangan berkelebat dari sebelah kanan. Loan Ki memandang dan kagetlah dia melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Hui Kauw, nona muka hitam yang pernah dilihatnya di Ching-coa-to.

Wah, agaknya orang-orang Ching-coa-to sudah menyelundup ke kota raja, pikirnya. Tentu nona itu bersekongkol dengan Bun Wan. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu melompat dan menerjang dengan pedangnya.

"Perempuan berhati palsu!" bentaknya karena ia lalu teringat akan semua pengalamannya ketika di Ching-coa-to, di mana wanita ini hampir dijadikan pengantin dengan Kun Hong.

Hui Kauw memang sedang mengejar Bun Wan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, gadis ini meninggalkan Kun Hong untuk mencari A Wan yang sudah terlalu lama tak juga kembali.

Ketika mencari di belakang pondok, ia tidak dapat menemukan A Wan karena tidak tahu di mana anak itu menyimpan mahkota kuno. Dia berputar-putar mencari, lalu mendengar suara ribut-ribut dan masih sempat melihat A Wan dikurung beberapa orang pengawal. Hatinya kebat-kebit penuh kekhawatiran, kemudian terjadilah hal yang amat luar biasa.

Seorang kakek entah dari mana datangnya, dengan gerakan ringan seolah-olah bayangan sehingga bukan merupakan manusia lumrah lagi, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah tempat itu. Sekali menggerakkan tangan dan kaki, A Wan telah disambar dan dibawanya pergi seakan-akan melayang!

Para pengawal melongo menyaksikan hal ini, kemudian maklum bahwa kakek itu tentulah seorang sakti. Mereka melakukan pengejaran, tapi kakek itu telah lenyap dari pandangan mata.

Hui Kauw mengerahkan kepandaiannya, berlari cepat mengejar pula. Ia dapat mendahului para pengawal dan dengan cepatnya ia mengejar sampai ke luar pintu gerbang.

Kakek itu seperti bukan manusia, melarikan diri bukan melalui pintu gerbang, melainkan melayang naik ke atas tembok kota yang luar biasa tinggi itu! Dia sendiri dengan mudah dibiarkan lewat pintu gerbang oleh para penjaga. Akan tetapi sesampainya di luar tembok kota, ia tidak melihat lagi bayangan kakek aneh itu.

Selagi dia kebingungan, dia melihat seorang laki-laki berlari tergesa-gesa keluar dari pintu gerbang. Ketika dia mengenal bahwa orang itu adalah Bun Wan dan gerak-geriknya amat mencurigakan, dia cepat-cepat mengejar, tidak memperhatikan lagi dua orang yang sudah mengejar lebih dahulu. Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu Loan Ki memaki dan menerjangnya.

"Aiihhh, kiranya kau di sini?" tegurnya seraya mengelak.

"Kau dan manusia she Bun itu bersekongkol, ya? Awas, hari ini aku tak akan ampunkan kalian berdua!" seru Loan Ki mendongkol.

Memang telah menjadi kebiasaannya untuk bersikap menang-menangan sendiri sehingga ucapannya pun jumawa sekali, padahal ia tahu bahwa baik Bun Wan mau pun Hui Kauw ini memiliki kepandaian yang melebihi dirinya!

"Hee, kau jangan sembarangan menuduh!" seru Hui Kauw mendongkol. "Siapa yang sudi bersekongkol dengan dia itu? Aku pun hendak mengejarnya, karena dia kelihatan sangat mencurigakan."

Sambil berkata demikian, tanpa mempedulikan Loan Ki lagi, Hui Kauw cepat mengejar Bun Wan. Loan Ki dan Nagai Ici juga mengejar.

Dalam ilmu lari cepat, ternyata Bun Wan masih kalah setingkat oleh Hui Kauw. Memang ibu angkat nona ini, Ching-toanio, terkenal lihai ilmu lari cepatnya yang disebut Chouw-siang-hui (Terbang di Atas Rumput) dan ilmu lari cepat yang luar biasa ini juga sudah diturunkan kepada Hui Kauw. Maka sesudah lewat sepuluh li jauhnya, Hui Kauw sudah dapat menyusul Bun Wan. Sambil mencabut pedangnya Hui Kauw berseru keras,

"Berhenti dulu!" Nona ini sudah melihat betapa tangan kiri Bun Wan memegang mahkota kuno itu. "Kembalikan mahkota itu kepadaku!"

Bun Wan memandang heran dan penasaran. "Nona Hui Kauw, ketahuilah, aku merampas mahkota ini untuk ibumu!"

"Tidak peduli, kau harus serahkan kepadaku dan pergilah dengan aman."

"Tapi... bagaimanakah kau ini? Mahkota ini hendak kuserahkan ke Ching-coa-to..."

"Berikan kepadaku!"

"Nona, apakah kau sekarang membalik dan memusuhi ibumu sendiri!"

"Tak usah banyak cakap, kembalikan kepadaku!"

Bangkit kemarahan Bun Wan. Kesempatan ketika berhenti lari ini dia pergunakan untuk memasukkan mahkota kuno yang tidak besar itu ke dalam saku bajunya, kemudian dia menggerakkan pedang yang sejak tadi sudah berada di tangan kanan.

"Heemmm, banyak sekali aku mengalah kepadamu. Sekarang terpaksa aku tidak dapat menyerahkan mahkota itu kepadamu, apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"

"Pedangku akan memaksamu!" Hui Kauw membentak dan pedangnya langsung bergerak melakukan penyerangan kilat.

Bun Wan cepat menangkis dan pemuda ini maklum akan kepandaian nona yang ternyata lebih lihai dari pada Hui Siang ini, maka dia pun mengerahkan tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang kuat. Dia maklum bahwa dirinya sedang menjadi kejaran para pengawal kerajaan, maka dia tidak mau membuang banyak waktu lagi.

Semua jurus yang dimainkannya adalah jurus pilihan dari Kun-lun Kiam-sut sehingga lihainya bukan kepalang. Dia mengira bahwa dalam beberapa jurus saja, paling banyak dalam sepuluh atau belasan jurus, dia akan sudah mampu menundukkan lawannya ini.

Akan tetapi alangkah heran, kaget dan penasarannya ketika dia menghadapi ilmu pedang yang aneh dan kuat bukan main, ilmu pedang yang jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dia kenal dimiliki oleh Hui Siang dan Ching-toanio. Hebat ilmu pedang gadis muka hitam ini, malah agaknya tidak kalah oleh kepandaian Ching-toanio sendiri.

"Kau benar-benar tidak tahu orang mengalah!" bentak Bun Wan.

Pedangnya sekarang melakukan serangan kilat yang mematikan, karena dia tidak mau memberi hati lagi, apa lagi setelah melihat betapa dari jauh datang berlarian dua orang yang tadi di kota raja sudah mengeroyoknya, yaitu nona lincah galak yang dahulu pernah dia lihat di Ching-coa-to bersama Kun Hong, dan seorang pemuda yang dia tidak kenal, akan tetapi yang mempunyai pedang panjang aneh serta ilmu pedang yang ganjil pula.

Menghadapi kedua orang yang pernah mengeroyoknya tadi itu, dia tidak merasa gentar, akan tetapi ilmu pedang milik Hui Kauw ini benar-benar membuat dia pusing. Hendak lari, selain malu, juga akan percuma saja sebab tadi sudah ternyata olehnya betapa hebatnya ilmu lari cepat nona ini, sama dengan Hui Siang hebatnya.

Dengan seluruh kepandaiannya Bun Wan menyerang Hui Kauw. Terasalah oleh nona ini betapa kuat ilmu pedang pemuda Kun-lun-pai itu. Ia mulai terdesak, karena sungguh pun ilmu pedang rahasia yang dia pelajari itu adalah ilmu pedang yang aneh dan luar biasa, namun selama ini ia hanya berlatih seorang diri saja, tidak pernah ia pergunakan untuk bertempur sehingga sekarang kurang berhasil.

Tetapi betapa pun juga, daya pertahanan ilmu pedang ini jauh lebih kuat dari pada ilmu pedang yang dia pelajari dari Ching-toanio. Sungguh pun sekarang ia mulai terdesak dan jarang dapat membalas serangan lawan, namun untuk mengalahkan ilmu pedangnya ini, kiranya membutuhkan waktu yang tidak pendek.

Sementara itu, Loan Ki dan Nagai Ici yang mengejar cepat, sekarang telah tiba di tempat pertempuran. Melihat betapa Hui Kauw benar-benar bertempur melawan Bun Wan, Loan Ki dapat cepat mengambil pihak. Ia memberi tanda kepada Nagai Ici dan menyerbulah mereka berdua, langsung mengeroyok Bun Wan!

Tentu saja pemuda Kun-lun-pai itu menjadi repot bukan main, apa lagi ilmu pedang Loan Ki terhitung ilmu pedang yang tinggi juga, gayanya indah membingungkan karena ilmu pedang ini adalah Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut. Hanya saja nona ini belum matang betul kepandaiannya, karena memang dia anak manja yang sering kali malas-malasan untuk berlatih.

Juga ilmu pedang pemuda tampan gagah yang sangat aneh itu membingungkan dirinya, karena ilmu pedang pemuda itu mempunyai daya serang yang berbahaya dan luar biasa kuatnya. Walau pun jarang sekali menyerang karena gayanya banyak diam menanti saat dan kesempatan, akan tetapi sekali menyerang amat mengagetkan dan membahayakan.

Setiap ada kesempatan, pedang panjang itu lalu berkelebat seperti halilintar menyambar dan jika sekali terkena sabetannya, tentu tubuh akan putus menjadi dua potong! Apa lagi pekiknya yang sangat nyaring serta mengandung tenaga dalam, benar-benar menambah ampuhnya serangan itu.

Bun Wan mulai gelisah dan akhirnya dia dikurung rapat, menangkis kanan kiri, mengelak ke sana ke mari tanpa sanggup balas menyerang. Akhirnya dia berkata dengan suara keras, "Kalian bertiga ini apakah telah menjadi anjing-anjing istana pula? Nona Hui Kauw, apakah kau selain memusuhi ibu sendiri juga menghambakan diri kepada kaisar?"

Marah sekali Loan Ki karena dia dibawa-bawa dalam tuduhan ini. "Tutup mulutmu yang rusak! Siapa menjadi anjing istana? Kembalikan mahkota itu kepadaku. Benda itu dahulu milikku sebelum dirampas di Ching-coa-to!"

"Hemm, manusia-manusia goblok yang hanya mengejar harta benda!" Sambil menangkis pedang Loan Ki, Bun Wan kembali berteriak. "Kalau kalian menghendaki mahkota ini, aku pun tidak membutuhkannya. Akan tetapi tunggulah aku mencari sesuatu di dalamnya, setelah benda tersembunyi itu kuambil, biarlah mahkota ini kuberikan kepadamu. Bagai mana?"

Memang yang dia perebutkan adalah surat rahasia, bukan mahkotanya, maka setelah dia terdesak hebat, Bun Wan mencari akal dengan jalan damai. Kalau surat itu sudah dapat dia temukan, untuk apakah baginya mahkota emas ini?

Loan Ki dan Nagai Ici tidak tahu-menahu mengenai surat rahasia, maka mendengar ini mereka meragu dan mengendurkan penyerangan. Loan Ki masih ingat betapa di Ching-coa-to, pemuda Kun-lun-pai ini telah menolong Kun Hong dan minta kepada orang-orang Ching-coa-to untuk membebaskan Kun Hong. Oleh karena itu, ia pun tak pernah berniat membunuhnya dan kalau tidak terpaksa karena memperebutkan mahkota emas, ia pun tidak akan memusuhi pemuda ini.

Akan tetapi tidak demikian dengan Hui Kauw. Mendengar omongan Bun Wan itu, ia pun terkejut sekali. Ia mempertahankan mahkota kuno itu demi kepentingan Kun Hong dan ia telah mendengar dari Kun Hong bahwa Pendekar Buta itu sama sekali tidak menginginkan mahkota, melainkan surat rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Apa pun juga jadinya, ia harus membantu Kun Hong, dan surat itu harus dapat ia berikan kepada Kun Hong, kalau bisa tentu saja berikut mahkotanya.

"Tak usah banyak cakap, berikan mahkota itu kepadaku atau... mampuslah!" pedangnya menyambar hebat sehingga terpaksa dengan gugup dan cepat Bun Wan lalu menangkis sekuatnya.

"Trannggggg...!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika kedua batang pedang itu bertemu dengan kerasnya. Alangkah kagetnya hati Bun Wan ketika tiba-tiba pedang di tangan Hui Kauw itu begitu bertemu, terus saja menyelinap dari samping dan langsung mengirim bacokan ke arah pundaknya.

Dia segera menjatuhkan diri ke kiri dan bergulingan, maksudnya hendak menggunakan cara ini untuk menjauhkan diri, dan mencari kesempatan untuk meloncat dan melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba menyambar angin disusul bersiutnya sambaran pedang bersinar merah.

Dia lebih kaget lagi, cepat melompat bangun sambil menggerakkan pedang menangkis. Itulah pedang samurai merah dari Nagai Ici yang sudah menerjangnya, disusul pedang Loan Ki. Dalam sekejap mata saja Bun Wan sudah dikurung dan dikeroyok tiga lagi.

"Baiklah, aku akan mengadu nyawa!" teriak Bun Wan dan dia menjadi nekat, membalas serangan tiga orang pengeroyoknya dengan jurus-jurus terlihai.

Akan tetapi kenekatannya tiada guna, malah membahayakan karena memang tiga orang pengeroyoknya itu berada di pihak yang jauh lebih kuat. Lewat belasan jurus, pedang Hui Kauw berhasil melukai pundaknya yang sebelah kanan. Pada saat itu, pedang samurai merah di tangan Nagai Ici menyambar ganas ke arah lehernya.

Bun Wan tidak sempat lagi mengelak. Pundaknya terasa sakit dan menghadapi samurai merah yang berkelebat itu, dia menangkis dan pedangnya terlepas dari tangan. Tenaga Nagai Ici amat besar dan pada saat itu, pundak kanan Bun Wan sudah terluka sehingga tenaga tangan kanannya berkurang dan ketika menangkis, tanpa dapat dia pertahankan lagi pedangnya terlepas dari tangan.

Secepat kilat Hui Kauw menyambar dengan pedangnya. Terdengar kain robek dan di lain saat mahkota itu sudah berada di tangan si nona muka hitam dan baju Bun Wan sudah terobek ujung pedang.

Loan Ki dan Nagai Ici berbareng mengirim tusukan. Bun Wan maklum bahwa tak mungkin dia dapat menghindarkan dua tusukan ini, maka dia meramkan mata menanti maut.

"Traanggg! Traanggg!"

Loan Ki dan Nagai Ici cepat menarik pedang masing-masing dan merasa tangan mereka tergetar. Kiranya Hui Kauw yang menangkis senjata mereka tadi.

"Jangan bunuh dia!" kata Hui Kauw, suaranya gemetar. "Dia calon suami Hui Siang..."

Loan Ki memandang tajam pada Hui Kauw, dapat mengerti perasaan nona ini dan tidak terus menyerang.

Hui Kauw melihat Bun Wan menundukkan kepala akan tetapi sepasang mata pemuda itu melirik dengan penuh kekecewaan. Dia lalu berkata perlahan, "Pergilah!"

Bun Wan membanting kakinya. "Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan!"

Akan tetapi karena dia tidak berdaya lagi, dia memungut pedangnya lalu pergi dari tempat itu dengan cepat.

"Berikan benda itu kepadaku!" Loan Ki berkata, kini menghadapi Hui Kauw dengan sikap mengancam.

Nagai Ici juga sudah berdiri di sampingnya, siap untuk membantu nona kekasih hatinya ini menghadapi siapa pun juga. Hatinya mulai merasa kagum. Dalam waktu singkat dia telah menyaksikan banyak orang yang memiliki kepandaian hebat.

Pemuda yang dikeroyok tadi juga sangat mengagumkan hatinya. Luar biasa sekali ilmu pedangnya. Lalu nona muka hitam ini, bukan main. Apa lagi Si Pendekar Buta tadi yang dikeroyok oleh banyak orang pandai. Mulai dia merasa girang, timbul harapannya untuk mendapatkan guru sakti seperti yang dicita-citakannya.

Melihat sikap Loan Ki, Hui Kauw tersenyum. Ia maklum bahwa Loan Ki ini adalah sahabat baik Kun Hong, maka tentu saja ia tidak mau memusuhinya. Dengan halus ia berkata,

"Adik Loan Ki, ketahuilah, aku memperebutkan mahkota ini untuk kuserahkan kepada Kun Hong." Mendadak mukanya yang menghitam itu menjadi gelap karena dia merasa jengah menyebutkan nama ini di depan Loan Ki yang dahulu menyaksikan peristiwa pengantin gagal di Ching-coa-to.

"Kau bohong! Kulihat tadi Kun Hong dikeroyok dan hampir celaka oleh banyak orang pandai, kau tidak membantunya malah ikut memperebutkan mahkota."

Kaget sekali hati Hui Kauw mendengar ini. "Betulkah itu? Siapa yang mengeroyoknya?"

"Kulihat ada seorang hwesio kosen, seorang laki-laki hitam, seorang pemuda berpedang dan... dan..." Loan Ki lantas tergagap karena berat rasa lidahnya untuk menyebut nama ayahnya.

"Dan ayahmu juga?" Hui Kauw menegas dengan muka berubah pucat dan hati berdebar penuh kecemasan.

Celaka kalau Kun Hong sudah dilihat musuh dan dikeroyok. Pantas saja A Wan juga diganggu, kiranya para jagoan istana sudah datang. Ia tahu bahwa pasti ayah Loan Ki, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui juga ikut pula mengeroyok, biar pun Loan Ki diam saja namun sinar mata gadis lincah itu nampak gugup dan malu.

"Adik Loan Ki, kau berpihak kepada siapakah? Kun Hong atau ayahmu?" Mendadak Hui Kauw bertanya dengan sungguh-sungguh.

Bingunglah Loan Ki saat ditanya begini oleh Hui Kauw, "Ahh... aku tak bisa memilih..." akhirnya dia menjawab juga. "Kalau tadi aku tidak melihat ayah di sana, pasti temanku ini aku ajak membantu Kun Hong..."

Hui Kauw segera mengambil keputusan cepat.

"Bagus, adikku." katanya sambil memegang tangan Loan Ki yang menjadi kaget melihat perubahan sikap ini. "Kau terimalah mahkota ini dan kau wakililah Kun Hong. Kau tentu mau membantunya, bukan?"

Melihat Loan Ki mengangguk tanpa menjawab, Hui Kauw cepat menyambung, "Tidak ada banyak waktu lagi. Mahkota ini mengandung sebuah surat rahasia yang menjadi rebutan. Kau wakili Kun Hong, bawa mahkota ini ke utara dan berikan kepada Raja Muda Yung Lo. Dengan begini tidak akan sia-sia Kun Hong mempunyai sahabat yang dia aku sebagai adik seperti kau ini, Maukah kau?"

Loan Ki adalah seorang yang jujur, dia percaya kepada Hui Kauw. "Dan kau sendiri?" tanyanya. "Kenapa bukan kau sendiri yang mewakilinya?"

"Bodoh kau! Bukankah Kun Hong dikeroyok di sana? Aku harus membantunya, aku harus menolong... suamiku...!" Berkata begini, Hui Kauw melepaskan mahkota di tangan Loan Ki, lalu melesat pergi dengan kecepatan kilat.

Loan Ki melongo sampai lama. Dia baru sadar ketika Nagai Ici menegurnya. Cepat-cepat mahkota itu dia simpan dalam buntalan pakaian.

"Jadi Pendekar Buta yang gagah itu adalah suami nona muka hitam ini, nona Loan Ki?"

"Bukan... ehh, tapi... ohhh,... begitulah agaknya...," jawabnya tidak karuan. Kemudian dia memandang tajam kepada jago muda Jepang itu. "Nagai Ici, aku akan pergi memenuhi permintaannya. Aku akan membawa mahkota ini ke utara dan akan kusampaikan kepada Raja Muda Yung Lo. Apakah kau suka ikut denganku?"

Serta merta Nagai Ici mengangguk. "Tentu saja, Nona, Ke mana pun kau pergi, kalau kau menghendaki, tentu aku menyertaimu. Malah... kalau kau mengijinkan, aku... aku akan membantumu dalam segala hal, biar kupertaruhkan nyawaku, selamanya..."

Kaku dan tidak karuan kalimat yang keluar dari mulut Nagai Ici, karena sukar sekali dia mengeluarkan isi hatinya yang berdebar-debar itu dengan bahasa yang belum betul-betul dikuasainya.

Sepasang mata yang jeli itu melebar, kemudian meledaklah suara tawa dari mulut yang berbibir manis mungil dan merah segar itu, yang segera ditutupnya dengan tangan. "Kau lucu... hi-hik. Tetapi kau baik sekali, Nagai Ici. Mulai sekarang, jangan sebut aku dengan nona-nonaan segala, cukup sebut namaku saja."

Dengan hati penuh kebahagiaan, Nagai Ici mengangguk-angguk. Akan tetapi mukanya berubah ketika dia melihat ke belakang Loan Ki dan cepat dia menuding. "Lihat, siapa mereka?"

Loan Ki cepat membalikkan tubuh dan melihat beberapa orang berlari cepat sekali dari arah kota raja. Ada empat orang yang berlari cepat ini dan melihat cara mereka berlari, kagetlah Loan Ki.

"Cepat, kita harus segera pergi. Mereka itu jagoan-jagoan istana yang mengejar!"

Para pengejar itu masih terlalu jauh sehingga Loan Ki tidak dapat melihat siapa adanya mereka. Akan tetapi dengan hati kebat-kebit ia menduga apakah ayahnya juga terdapat di antara mereka yang mengejarnya itu. Tanpa banyak cakap lagi ia menyambar tangan Nagai Ici dan berlari-larilah kedua orang muda itu menuju ke timur.

Celakanya, empat orang itu kini memutar arah dan jelas bahwa mereka itu mengejar dua orang muda ini. Lebih payah lagi, jalan menuju ke timur ini melalui tegal rumput yang gundul, tidak ada pohonnya sama sekali sehingga mereka berdua mudah tampak dari jauh.

Di depan, kurang lebih lima li dari situ, kelihatanlah sebuah hutan yang hijau tebal. Melihat hutan di depan ini Loan Ki mengajak Nagai Ici mempergunakan seluruh kekuatan untuk berlari cepat karena jika sampai mereka berdua dapat mencapai hutan sebelum tersusul, mereka akan mendapatkan tempat bersembunyi.

Sampai tersengal-sengal napas dua orang muda itu akibat mereka menggunakan tenaga melewati ukuran dalam usaha mereka membalap ini.

Nagai Ici agaknya kurang setuju dan beberapa kali sambil terengah-engah dia berkata, "Kenapa kita harus berlari-lari seperti dikejar setan? Empat orang itu kita lawan saja, takut apa?"

Memang, sebagai seorang pendekar, pantang baginya berlari-lari seperti ini, melarikan diri dari hanya empat orang yang mengejar mereka.

Loan Ki tadi sudah menengok beberapa kali dan jantungnya serasa hampir copot ketika ia mengenal bahwa seorang di antara keempat pengejar itu adalah... ayahnya! Mendengar ucapan Nagai Ici, dengan tersengal-sengal dia menjawab, "Kau tahu apa...? Seorang di antara mereka adalah ayah!"

Nagai Ici terkejut, akan tetapi anehnya, dia malah mengendurkan larinya.

"Hee, hayo lari cepat. Bagaimana sih engkau ini?"

Nagai Ici tersenyum, tampan sekali. "Kau aneh, Nona... ehh, Loan Ki. Kalau dia ayahmu, mengapa takut setengah mati? Bukankah kita pergi ke kota raja justru untuk mencari beliau?"

Dengan habis sabar Loan Ki menggoyang-goyang kepalanya sehingga rambutnya yang awut-awutan karena dipakai berlari itu kini sebagian menutupi pipinya, manis sekali. Dia menyambar tangan Nagai Ici lagi dan ditariknya untuk berlari lebih cepat.

"Kau tidak tahu...! Ayah membantu mereka, membantu kaisar..."

Nagai Ici tidak mengerti. "Biar pun begitu, masa hendak menyerang anak sendiri? Takut apa?"

"Iihhh, bodohnya! Aku tidak takut mereka menyerangku, tapi aku takut mereka merampas mahkota ini. Hayo!"

Nagai Ici mulai mengerti dan dia mau berlari lebih cepat lagi. Diam-diam dia bingung juga. Benar-benar kacau-balau. Sang ayah membantu kaisar, tapi si anak memusuhinya. Bagai mana ini? Mana yang benar? Apa pun juga jadinya, dia akan membantu dan membela Loan Ki, salah atau benar!

"Heeeiiiii... Loan Ki...! Berhenti...!" Mendadak terdengar suara bentakan Sin-kiam-eng Tan Beng Kui.

Loan Ki pucat. Mereka sudah tiba di pinggir hutan, tetapi suara ayahnya sudah dekat di belakang. Ketika ia menengok ternyata empat orang pengejar itu sudah dekat sekali. Tak mungkin dapat bersembunyi lagi, biar pun sudah tiba di pinggir hutan.

Loan Ki putus asa dan terpaksa dia berhenti, membalikkan tubuh, tangan Nagai Ici dia lepaskan, sepasang matanya yang jeli bersinar-sinar memandang ke depan. Nagai Ici juga berdiri tegak, dadanya yang bidang turun naik karena napasnya memburu. Dia pun bersiap-siap membela nona itu, mempertaruhkan segalanya.

Empat orang pengejar itu bukan lain adalah tokoh-tokoh istana, Sin-kiam-eng Tan Beng Kui, Lui-kong Thian Te Cu, Bhok Hwesio dan It-to-kiam Cui Hwa! Cepat sekali gerakan mereka dan dalam beberapa menit saja mereka sudah tiba di situ, dan tidak seorang pun di antara mereka yang terengah-engah seperti halnya Loan Ki dan Nagai Ici.

Empat orang ini tadinya mengejar keluar kota raja ketika melihat rajawali emas membawa lari Kun Hong. Sebelum keluar dari kota raja, mereka mendengar pula dari beberapa orang pengawal istana tentang mahkota kuno yang katanya dirampas oleh seorang pria tidak dikenal dan yang dikejar oleh sepasang orang muda, yaitu puteri Sin-kiam-eng dan temannya.

Mendengar ini, Tan Beng Kui terkejut. Tak disangkanya bahwa Loan Ki sudah berada di kota raja, bersama seorang pemuda tampan yang gagah. Siapakah pemuda itu? Karena khawatir akan keadaan anaknya, maka dia lalu mengejar, bersama tiga orang itu yang juga ingin mengejar Kun Hong.

"Loan Ki, kenapa engkau berlari-lari?" ayahnya bertanya, suaranya bengis dan matanya menatap wajah puterinya dengan tajam.

Tan Beng Kui lalu mengerling penuh curiga kepada pemuda tampan di sebelah puterinya. Diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda itu tampan dan gagah, dengan pedang panjang yang melengkung di pinggang. Pemuda yang sama tidak dikenalnya.

"Ayah... aku... aku menyusul Ayah ke kota raja dan..."

"Omitohud, kiranya puteri Tan-sicu? Benar-benar hebat, ayah harimau anak pun harimau pula. Nona, apakah kau sudah berhasil merampas mahkota kuno itu?" tanya Bhok-Hwesio sambil tertawa bergelak dan matanya yang lebar memandang ke arah buntalan pakaian di punggung Loan Ki. Buntalan itu menjendol dan mencurigakan.

Loan Ki tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar pertanyaan ini, matanya menatap wajah ayahnya, penuh permohonan dan pengharapan. Akan tetapi wajah Tan Beng Kui dengan bengis tidak memberi hati kepadanya, malah terdengar orang tua itu bertanya,

"Loan Ki kau dengar pertanyaan Bhok Losuhu? Mana mahkota itu, apakah kau sudah merampasnya?"

Biar pun ia sudah biasa dimanja, akan tetapi Loan Ki selamanya tak pernah berbohong kepada ayahnya karena ayahnya sangat benci kepada kebohongan dan semenjak kecil menanamkan dalam hati anaknya agar tidak suka berbohong.

"Sudah, Ayah. Akan tetapi mahkota kuno ini adalah milikku. Dahulu akulah yang sudah merampasnya dari tangan para perampok, dan kini sudah kembali kepadaku. Benda itu punyaku, Ayah. Sungguh, punyaku dan tidak boleh diminta oleh orang lain!"

Sin-kiam-eng cukup mengenal watak puterinya. Jujur dan keras hati. Sekali berkata tidak boleh, tentu akan mempertahankannya! Dia menjadi ragu-ragu dan berkata kepada Bhok Hwesio.

"Ada betulnya juga ucapan anak ini. Benda itu dahulu lenyap, lalu terjatuh ke tangan perampok dan anakku yang merampasnya."

Bhok Hwesio tertawa pula. "Menurut The-kongcu, yang terpenting bukanlah mahkotanya, melainkan surat yang tersimpan di dalamnya. Nona, biarkan pinceng (aku) memeriksa sebentar mahkota itu, untuk mencari surat rahasia yang tersembunyi di dalam benda itu. Pinceng hanya membutuhkan surat itu, apa bila sudah terdapat, biarlah benda emas itu pinceng berikan kepadamu untuk main-main. Ha-ha-ha!"

Loan Ki mengerutkan kerungnya. Ia pun bukan seorang bodoh. Ia tahu bahwa Kun Hong mempertahankan mahkota itu bukan semata-mata karena emasnya, akan tetapi karena rahasia yang dikandungnya itulah. Susah payah mahkota itu hendak disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo, tentu saja bukan karena benda itu terbuat dari pada emas berharga, melainkan karena hendak menyampaikan surat rahasia itulah. Sekarang surat itu hendak diambil, habis untuk apa mahkota itu dibawa-bawa ke utara? Apa kepentingannya lagi kalau suratnya sudah diambil?

"Siapa yang percaya omonganmu? Aku tak mengenalmu!" jawabnya sambil memandang hwesio itu dengan sinar mata berapi, sedikit pun juga tidak memperlihatkan rasa takut.

"Ha-ha-ha, betul-betul anak harimau! Nona, pinceng adalah sahabat baik ayahmu, masa kau tidak percaya?" kata hwesio itu.

"Loan Ki, kau berikan mahkota itu untuk diperiksa oleh Bhok-losuhu."

Loan Ki merengut kemudian ia menepuk-nepuk buntalan pada punggungnya. "Ayah, aku mendapatkan ini dengan susah payah, dengan pedang dan dengan bahaya maut. Masa sekarang orang lain begini mudah hendak menerimanya dariku? Aku mendapatkan benda ini dengan mengandalkan kepandaian, masa orang lain tanpa mengandalkan kepandaian boleh mengambil begitu saja? Ayah, di mana kehormatan kita?"

"Omitohud, benar-benar cerdik dan gagah anakmu, Tan-sicu. Eh, saudara Lui-kong Thian Te Cu, maukah kau mewakili kita dan memperlihatkan sedikit kepandaian kepada Nona ini untuk memindahkan mahkota itu ke tangan kita?"

Lui-kong Thian Te Cu terkekeh ketawa, kemudian melangkah maju. Loan Ki memandang tajam. Kalau saja keadaannya tidak begitu menegangkan hati, tentu ia sudah tertawa geli melihat orang ini. Seorang kakek bertubuh pendek gemuk tetapi tangannya panjang sekali sampai hampir mencapai tanah, mukanya bulat seperti muka kanak-kanak. Mau apakah badut ini, pikirnya.

"Nona, kepandaian manusia tiada batasnya, akan tetapi kau hendak main-main dengan kepandaian. Jangan katakan aku orang tua keterlaluan terhadapmu kalau terpaksa aku mempergunakan kebodohan untuk mengambil mahkota itu dari buntalan di punggungmu. Tan-sicu, maafkan aku, bukan maksudku menghina puterimu. Nona, awas!"

Tiba-tiba tangannya yang kanan terulur panjang, tangan itu bergerak cepat dan tahu-tahu sudah melewati kepala Loan Ki kemudian melengkung hendak merenggut buntalan dari punggung!

Loan Ki terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan kaki mengelak. Berkat ilmu langkah ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong, dengan tiga kali gerakan kaki dia dapat berhasil membebaskan diri dari kurungan lengan panjang itu.

"Ho-ho-ho, kau hebat, Nona!" kata Thian Te Cu yang kini tidak berani memandang rendah lagi. Tubuhnya berkelebat dan seperti seekor burung menyambar-nyambar, dia berusaha merenggut buntalan dari punggung Loan Ki.

"Jangan kurang ajar!" tiba-tiba Nagai Ici membentak dan sekali dia menggerakkan dua tangannya, dia sudah berhasil menangkap kakek itu dan di lain saat kakek itu sudah terlempar ke udara oleh ilmu gulatnya.

Hebat kejadian ini, sampai-sampai membuat Bhok Hwesio, Tan Beng Kui dan Gui Hwa melongo saking kaget dan herannya, mengira bahwa pemuda teman Loan Ki itu begitu saktinya sehingga Thian Te Cu yang demikian lihai itu dalam satu gebrakan saja dapat dilempar ke udara!

Padahal kejadian itu bisa timbul karena Thian Te Cu terlalu memandang rendah kepada pemuda ini dan tidak mengenal keanehan ilmu gulat Jepang sehingga tanpa dapat dia pertahankan lagi, kakek gemuk pendek ini melayang ke udara bagaikan sebuah peluru kendali. Akan tetapi segera Thian Te Cu dapat menguasai kekagetannya dan dengan cekatan dia dapat melayang turun kembali lalu tiba-tiba dia menyerang Nagai Ici.

Pemuda Jepang ini karena marah hendak melindungi Loan Ki, menyambut serangan si kakek dengan kepalan tangannya. Akan tetapi kali ini dia kaget, karena begitu kepalan tangannya bertemu dengan telapak tangan kakek itu, dia berteriak kesakitan dan menarik kembali tangannya yang sudah menjadi bengkak. Sambil meringis kesakitan Nagai Ici memegangi kepalan tangan kiri itu dengan tangan kanannya.

"Kakek jahat, berani kau melukai temanku!" Loan Ki berseru dan kini ia sudah mencabut pedang, langsung ia menerjang Thian Te Cu.

Namun kakek yang lihai ini sudah bersiap sekarang. Dengan gerakan aneh dia miringkan tubuhnya, tangan kirinya diulur mencengkeram tangan Loan Ki yang memegang pedang.

Gadis itu kaget, cepat menarik kembali pedangnya, akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa buntalan pada punggungnya sudah direnggut orang. Ketika ia menoleh, kiranya tangan kanan yang panjang dari Thian Te Cu sudah berhasil merampas buntalan itu. Kini kakek itu sambil terkekeh-kekeh menyerahkan mahkota kepada Bhok Hwesio dan melemparkan buntalan pakaian kembali kepada Loan Ki yang menyambutnya dengan uring-uringan.

"Bagaimana tanganmu?" Ia menghampiri Nagai Ici yang memperlihatkan kepalan tangan kiri yang membengkak.

Loan Ki mengurut pergelangan lengan itu beberapa kali dan sebentar saja bengkak itu mengempis. Memang tangan Nagai Ici itu tidak terluka, hanya keseleo saja ketika bertemu dengan telapak tangan Thian Te Cu yang mengandung tenaga lweekang amat kuat.

Diam-diam Sin-kiam-eng menyaksikan semua peristiwa itu. Jantungnya serasa tertikam ketika dia menyaksikan sikap mesra Loan Ki terhadap pemuda itu, dan dia pun terharu menyaksikan betapa pemuda aneh itu tadi tanpa mengukur kepandaian sendiri sudah berani membela Loan Ki mati-matian.

Sementara itu, Bhok Hwesio sudah mulai memeriksa mahkota. Diputar-putar ke sana ke mari, lalu diperiksa sebelah dalamnya. Dipencet sana, pencet sini, akan tetapi tidak dapat dia menemukan sesuatu. Dengan kening berkerut hwesio itu lalu menggunakan tenaga tangannya yang luar biasa. Sekali dia berseru keras, kedua tangannya telah mematahkan mahkota menjadi dua! Dia memeriksa secara teliti dan tampaklah olehnya tempat rahasia di dalam mahkota yang sudah kosong!

"Omitohud... orang muda hendak mengakali orang tua!"

Dia melemparkan potongan mahkota ke atas tanah dan kini memandang kepada Loan Ki dengan muka merah. "Nona, di dalam mahkota ini terdapat surat rahasianya, tetapi kini ternyata sudah kosong. Harap kau jangan main-main dan lekas serahkan surat itu kepada pinceng."

Loan Ki sendiri heran dan penasaran ketika melihat bahwa mahkota itu ternyata tidak mengandung sesuatu. Hampir saja dia melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia. Apa artinya dia membawa benda itu jauh-jauh ke utara kalau ternyata tidak ada apa-apanya? Siapakah yang telah mengambil isi mahkota itu?

"Aku tidak tahu tentang surat-surat segala," katanya.

Bhok Hwesio menoleh kepada It-to-kiam Gui Hwa. "It-to-kiam lihiap, kau seorang wanita, maka sepantasnya kaulah yang menggeledah Nona ini. Tentu surat itu telah diambil dan disimpannya."

It-to-kiam Gui Hwa adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya kecil kurus, gerak-geriknya gesit. Ia melangkah maju dan siap menggeledah tubuh Loan Ki.

Nona ini mengerutkan keningnya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya.

"Nona cilik, harap kau jangan mempermainkan kami orang-orang tua. Serahkan saja surat itu dari pada aku terpaksa harus menggunakan kekerasan," Gui Hwa mengancam.

"Ayah, apakah kau akan membiarkan saja anakmu dihina orang?" Loan Ki menjerit sambil memandang ayahnya.

Sin-kiam-eng Tan Beng Kui bingung. Tentu saja dia pun tidak senang melihat puterinya didesak begitu rupa dan diperlakukan dengan cara menghina.

"Loan Ki, kalau kau memang sudah mengambil surat itu, kau serahkan saja, jangan kau mencampuri urusan negara ini," katanya dengan suara bengis dan berpengaruh.

"Aku tidak tahu menahu tentang surat, Ayah," kata Loan Ki, suaranya tegas karena dia memang tidak membohong.

"Lebih baik jika kau berterus terang saja, Nona. Jangan main-main!" It-to-kiam Gui Hwa mengancam.

"Nenek buruk, aku sudah berterus terang, tidak tahu-menahu tentang surat itu. Kau mau apa?!" bentak Loan Ki.

"Baik, kalau begitu jangan salahkan aku jika pedangku akan merobek-robek bajumu dan menelanjangimu di sini." Gui Hwa berseru marah sambil mencabut pedangnya yang tipis dan panjang.

"Srattttt!"

Loan Ki juga mencabut pedangnya dan berkata kepada ayahnya dengan suara getir, "Ayah, bila kau tetap membiarkan anakmu dihina orang, biarlah sekarang pedangku yang akan melindungiku, lihatlah betapa anakmu tidak akan membiarkan begitu saja dihina lain orang!"

Tan Beng Kui bingung, akan tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, Gui Hwa telah menerjang maju menggerakkan pedangnya dengan maksud merobek-robek pakaian Loan Ki agar surat yang disembunyikan dapat dirampas, karena kalau digeledah begitu saja gadis ini tentu tidak akan mau menyerah.

Loan Ki dengan marah juga menggerakkan pedang sehingga dua orang wanita tua dan muda ini sudah bertempur dengan hebat, seru dan mati-matian.

"Jangan menghina Loan Ki!" Nagai Ici yang sudah sembuh tangan kirinya, ternyata telah mencabut pedang samurainya dan kini maju hendak membantu Loan Ki. Sikapnya garang dan bersemangat seperti seekor singa muda.

"Ho-ho-ho-ho, pemuda sombong, jangan bergerak!" Lui-kong Thian Te Cu melompat ke depan, menghadang gerakan Nagai Ici dan dia pun sudah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang tanduk seperti tanduk rusa yang panjangnya kurang lebih empat kaki, runcing dan bengkok-bengkok.

Dengan gerakan cepat dia mendahului pemuda ini, mengirim pukulan dengan senjata aneh ini ke arah pundak kanan untuk membuat tangan pemuda itu lumpuh. Dia pun sama sekali tidak berniat membunuh pemuda ini, hanya untuk merobohkan dan mengalahkan pemuda ini.

"Traaanggg... singgg... Hiaaaaattttt!!"

Kaget bukan main Lui-kong Thian Te Cu. Seperti juga tadi, kali ini dia dibikin kaget oleh gerakan aneh pemuda ini karena begitu menangkis, pedang panjang itu langsung saja menyambarnya dengan kecepatan luar biasa dan tenaga yang amat kuat. Hampir saja dia celaka oleh serangan balasan yang otomatis dari Nagai Ici ini, karena kalau dia tidak cepat-cepat membuang diri ke belakang dan lehernya terkena sambaran pedang panjang itu, tentu sekarang dia sudah menjadi setan tanpa kepala.

"Wah-wah, ilmu pedang ganas seperti iblis mengamuk! Kau ini orang apakah?" bentak kakek itu yang cepat menerjang kembali, kini dengan hati-hati sekali mainkan senjatanya yang aneh.

Karena memang tingkat kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi dari pada Nagai Ici, maka sebentar saja jago muda Jepang itu sudah menjadi repot sekali, terpaksa menggerakkan pedang samurainya ke sana sini untuk menangkis tanduk rusa yang sepertinya sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya, mengurung dirinya dari segala penjuru.

Juga Loan Ki amat repot menghadapi pedang It-to-kiam Gui Hwa. Nenek ini merupakan seorang tokoh Kun-lun-pai dan dalam hal ilmu pedang, kepandaiannya bahkan lebih matang dari pada kepandaian Bun Wan. Tentu saja tingkatnya jauh lebih tinggi dari pada Loan Ki.

Dengan mudah saja nenek ini mempermainkan Loan Ki yang terpaksa mempergunakan langkah ajaib untuk menyelamatkan diri. Namun, mana bisa orang bertempur hanya main tangkis dan kelit saja? Kalau diteruskan, akhirnya dia tentu akan celaka, akan terobek bajunya dan mengalami hinaan yang hebat.

Melihat keadaan itu, Tan Beng Kui menjadi lemas kaki tangannya, jantungnya berdebar dan kerongkongannya terasa kering.

Tiba-tiba saja terdengar suara keras dan... pedang samurai di tangan Nagai Ici sudah terlempar ke atas kemudian jatuh menancap tanah, sedangkan pangkal lengan kanan pemuda itu sendiri sudah terluka oleh pukulan senjata Thian Te Cu. Pukulan keras yang membuat lengan itu serasa lumpuh dan pemuda ini hanya berdiri memegangi lengannya, tidak mampu berdaya lagi menghadapi kakek yang lihai itu. Thian Te Cu tertawa-tawa bergelak atas kemenangannya.

Akan tetapi, melihat betapa Loan Ki didesak hebat oleh Gui Hwa, Nagai Ici mengeluarkan pekik menyeramkan dan dengan tangan kosong dia maju menyerbu, menerkam Gui Hwa tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri!

Gui Hwa terkejut sekali, cepat menghindar, namun ujung bajunya kena dipegang oleh Nagai Ici dan terdengar suara keras ketika baju itu terobek oleh cengkeraman pemuda ini. Baju robek menjadi dua sehingga tampaklah pakaian dalam nenek itu.

Dasar Loan Ki seorang yang nakal. Melihat ini, saking girangnya karena Nagai Ici ternyata berani mati membelanya, ia mengejek, "Hi-hik, nenek buruk, baju siapakah yang robek?"

Gui Hwa menjerit marah, pedangnya cepat berkelebat ke arah dada Nagai Ici merupakan tusukan maut. Kini ia tidak main-main lagi. Tadi sengaja ia tidak mau melukai Loan Ki, hanya berusaha mendesaknya dan mencari kesempatan untuk merobek-robek pakaian gadis itu. Kini dalam kemarahannya, ia menggunakan jurus mematikan untuk membalas perbuatan Nagai Ici yang ia anggap penghinaan besar itu.

Agaknya pemuda ini tidak akan mampu mempertahankan dirinya lagi. Baiknya Loan Ki yang melihat bahaya ini, cepat menangkis pedang Gui Hwa sehingga Nagai Ici terlepas dari pada bahaya maut.

"Minggirlah, kau sudah terluka...," pinta Loan Ki sambil mendorong pemuda itu ke pinggir.

Ia sendiri menghadapi Gui Hwa yang kini menyerangnya tanpa sungkan-sungkan lagi. Semua jurus yang dia lancarkan dalam penyerangan ini adalah jurus yang mengandung hawa maut, tidak main-main lagi seperti tadi. Loan Ki berusaha mempertahankan diri, namun pada suatu saat ia kurang cepat dan…

"Breett!" ujung bajunya terbabat putus sebagai pengganti lengannya!

Ia menjadi pucat, tetapi tetap melawan terus, biar pun ia didesak hebat.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner