PENDEKAR BUTA : JILID-32


Orang ini berhenti di dekat tempat suami isteri itu tidur. Dengan kaget Kong Bu melihat seorang kakek tua yang berpakaian serba kuning, seorang kakek yang kepalanya gundul dan kulitnya hitam seluruhnya!

Sambil menyeret sebatang tongkat panjang berwarna hitam pula, kakek tadi melangkah datang dengan langkah-langkah lebar, dengan kakinya yang telanjang dan hitam sampai ke telapak-telapaknya. Sejenak kakek itu berdiri termangu, memandang suami isteri yang masih tidur pulas. Lama dia menatap wajah Li Eng yang cantik jelita dan tampak manis dalam tidurnya. Kemudian dia tertawa berkakakan.

"He-he-he-heh! Wah, aku benar-benar sudah tua bangka, sudah hampir mati nafsu-nafsu badan yang reyot ini. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, tentu takkan kulewatkan saja mereka ini. Yang jantan kubikin mampus, yang betina kuambil. Ha-ha-ha!"

Dia mengamat-amati lagi sambil tertawa ha-ha-he-he, amat menyeramkan.

"Wah-wah, pakai bawa-bawa pedang segala. Jangan-jangan anggota pemberontak? Hee, bocah, enak saja kalian tidur bermesra-mesraan, mabuk yang-yangan (bercintaan), hayo bangun!" ujung kakinya bergerak mencongkel tanah.

Bukan main kagetnya hati Kong Bu ketika segumpal tanah melayang dengan kekuatan dahsyat ke arah kepalanya! Tentu saja dia tidak mau dilukai, tidak sudi dihina seperti itu. Tubuhnya bergerak melejit dan tahu-tahu dia telah berdiri dengan tubuh tegak dan gagah, gumpalan tanah itu sama sekali tidak menyentuhnya.

"Ha-ha-he-heh, benar juga! Kiranya yang jantan ini mempunyai sedikit kepandaian. Entah bagaimana yang betina!" Kembali ibu jari kaki kanannya mencokel tanah dan segumpal tanah melayang ke arah muka Li Eng.

Kong Bu marah sekali, tubuhnya segera terayun dan dia hendak menyambar tanah yang mengancam muka isterinya itu. Akan tetapi tiba-tiba Li Eng sudah pula mengulur tangan. Tanpa membuka matanya ia telah dapat menangkap gumpalan tanah itu dengan tangan kanannya, kemudian seperti tidak sengaja tangannya bergerak dan... gumpalan tanah itu melayang cepat ke arah muka kakek itu, senjata makan tuan!

"Ah, lihai...!" Kakek itu berseru, kaget juga menyaksikan demonstrasi kepandaian wanita muda itu dan cepat-cepat dia menundukkan muka untuk membiarkan tanah itu lewat di atas kepalanya.

Tentu saja kakek ini kaget dan heran karena dia tidak tahu bahwa Kui Li Eng adalah puteri tunggal Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang tokoh Hoa-san-pai yang sudah mewarisi ilmu kepandaian asli dari Hoa-san, termasuk ilmu mempergunakan senjata rahasia!

Li Eng memang sudah sadar ketika mendengar suara kakek itu tadi, tetapi ia pura-pura masih tidur. Sekarang dia melompat bangun dan berdiri di samping suaminya, matanya yang jeli dan tajam menatap kakek itu, menaksir-naksir dan mengingat-ingat.

Akan tetapi, seperti juga suaminya, dia merasa belum pernah bertemu atau mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw seperti kakek ini. Ia juga tidak berani memandang rendah karena dari tenaga cokelan ibu jari kaki kakek itu saja, tadi telah menggetarkan tangannya yang menerima tanah, tanda bahwa kakek ini memiliki lweekang yang tinggi tingkatnya.

"Locianpwe ini siapa dan mengapa mengganggu kami berdua suami isteri yang sedang beristirahat?" Kong Bu bertanya sambil menjura. Sikapnya cukup sopan akan tetapi tidak terlalu merendah.

Kakek itu tidak menjawab, malah matanya tak berkedip memandang pada Li Eng. Bukan memandang wajahnya, melainkan memandang ke arah... perutnya! Tentu saja Li Eng merasa mendongkol bukan main berbareng juga ngeri. Mata dengan manik mata yang kelihatan terlalu putih di balik wajah hitam itu seakan-akan menelanjangi dirinya dengan pandangannya itu.

"He, Kakek! Kau melihat apa?!" bentaknya marah.

"He-heh-heh, melihat perutmu. Ha-ha-ha, suami isteri yang aneh! Isteri lagi mengandung tetapi malah diajak berkeliaran di hutan liar, apakah mengidam binatang hutan?"

"Kakek tua bangka, sudah tua semakin kurang ajar! Tutup mulutmu yang kotor itu!" Li Eng makin marah, memaki-maki.

"He-heh-heh, memang begitulah. Kalau belum sebulan, hawanya ingin marah saja, tanda anak perempuan! Ha-ha-ha!"

Li Eng sudah bergerak hendak menyerang kakek ini, akan tetapi Kong Bu memegang lengannya. Diam-diam ada perasaan aneh menyelinap di hati Kong Bu. Memang sikap Li Eng aneh, aneh bukan main. Tadi pun ia sudah terheran-heran menyaksikan perubahan pada sikap isterinya. Jadi inilah rahasianya?

Benar-benarkah isterinya mengidam, mulai mengandung? Wah, jika betul begitu, jangan kata harus memarahi kakek itu, malah mau rasanya dia merangkul dan mencium muka tua yang hitam itu! Perasaan girang luar biasa menyelubungi hati Kong Bu, tanpa terasa lagi dia sudah melingkarkan lengan kirinya pada pinggang isterinya dengan mesra, lalu bertanya,

"Locianpwe, siapakah nama Locianpwe yang mulia? Dan Locianpwe ada keperluan apa dengan kami suami isteri?"

"Kau beruntung, orang muda. Isterimu cantik jelita, kepandaiannya juga lumayan, lincah gembira dan sekarang sudah dapat diharapkan akan menghadiahkanmu seorang bocah perempuan. Ha-ha-ha-ha, kau mau tahu siapa aku? Tua bangka ini orang tidak terkenal, disebut Hek Lojin dari Go-bi."

Kong Bu belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi dia segera menjura dengan hormat lalu memperkenalkan diri. "Saya bernama Tan Kong Bu dan ini isteri saya. Tidak tahu ada keperluan apakah Locianpwe menemui kami?"

"Tidak ada apa-apa... kebetulan saja... ahh, barang kali kau tadi melihat adanya seorang pemberontak muda yang matanya buta. Aku sedang mencari-cari dia itu. Apakah kalian melihatnya?"

Diam-diam Kong Bu dan juga Li Eng terkejut. Tak bisa salah lagi, tentu Kun Hong yang dimaksudkan. Tetapi mengapa pemberontak? Ahh, jangan-jangan orang lain, di dunia ini banyak orang muda yang buta.

Dengan menekan debaran jantungnya, Kong Bu bertanya lagi, "Kami tidak melihatnya. Siapakah dia itu, Locianpwe? Mana ada orang muda buta bisa jadi pemberontak?"

Kakek itu terkekeh-kekeh, "Ha-ha-ha, memang lucu. Ini tanda bahwa mereka di kota raja tidak becus apa-apa. Katanya pemberontak buta itu mengacau kota raja, hampir tertawan lalu dapat lolos ditolong seekor burung rajawali emas. Dasar goblok semua yang di kota raja. Termasuk hwesio gundul Siauw-lim itu hanya lagaknya saja besar. Buktinya dengan mengeroyok pun tidak dapat menangkap seorang muda buta. Padahal... he-he-heh-heh, ketika bertemu dengan aku, pemuda buta dan burungnya itu... ha-ha-heh-he-heh, dia berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali, di hadapanku, bahkan kulangkahi kepalanya dengan sebelah kakiku. Hah, sayang sekali, kalau aku tahu dia itu seorang pemberontak, sudah tentu tidak akan dapat kulepas dan kuampuni begitu saja!"

Sekarang yakinlah hati Kong Bu dan Li Eng bahwa yang dimaksudkan oleh kakek aneh ini tentulah Kun Hong. Di dunia ini siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang biar pun matanya buta dapat mengacau kota raja? Siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang ditolong oleh rajawali emas? Hati Li Eng sudah panas bukan main, tetapi ia masih menekan suaranya ketika berkata,

"Kau mencari dia mau apakah, Kakek?" Tidak bisa ia harus mencontoh suaminya yang menyebut Locianpwe kepada kakek hitam yang dianggapnya kurang ajar ini.

"Ha-ha-heh-heh, mau apa tanyamu? Matanya sudah buta, tinggal telinganya yang harus dibikin tuli, hidungnya kuhancurkan, mulutnya kurobek, benci aku kepada pemberontak, benci..."

"Keparat jahanam!" Li Eng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan sekali bergerak, pedangnya sudah berada di tangan. "Enak saja mulutmu yang busuk itu mengoceh tidak karuan. Bukankah orang yang kau maksudkan itu bernama Kwa Kun Hong?"

"Heh, benar... kau tahu...?"

"Tentu saja, kakek jahanam! Dia adalah pamanku dan tidak usah kau mencari dia, pedang di tanganku sudah sanggup mengirim kau pulang ke neraka jahanam!"

Li Eng tidak memberi kesempatan lagi, segera dia menerjang dengan pedangnya. Sinar putih bergulung-gulung melayang ke arah kakek itu.

"Ayaaaaaaa, kiranya kalian juga pemberontak-pemberontak, ha-ha-he-he-heh!" Kakek itu cepat mengelak dan diam-diam dia terkesiap juga menyaksikan kilatan sinar pedang yang demikian hebatnya.

"Benar, isteriku! Kakek iblis ini harus dibasmi!" bentak pula Kong Bu dan kembali sinar pedang yang panjang menyambar.

Kakek ini makin kaget dan tahulah dia bahwa dua orang ini biar pun masih muda-muda, namun ternyata sudah memiliki ilmu pedang yang jempolan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Kakek ini memang Hek Lojin adanya, orang tua lihai dari Go-bi, guru The-kongcu atau The Sun. Sudah kita ketahui bahwa kakek ini pernah bertemu dengan Kun Hong dan rajawali emas, dan hampir terjadi peristiwa kalau saja Kun Hong tidak bersabar dan mengalah.

Ketika Hek Lojin ini memasuki kota raja, dia disambut dengan segala kehormatan oleh The Sun. Akan tetapi ketika kakek aneh ini mendengar tentang Kun Hong dan rajawali emas, dia mengejek kemudian menceritakan pengalamannya menghina pemuda buta itu kepada The Sun dan para jagoan istana yang ikut menyambutnya.

"Heh-heh-heh, A Sun, muridku, mengapa kalian begitu goblok? Menangkap pemberontak buta seperti dia saja tidak becus, padahal di kota raja ini terdapat banyak orang. Heh-heh, percuma saja kalau begitu. Habis, Thian Te Cu ini apa saja kerjanya?" Dia menuding adik seperguruannya yang hadir pula di situ, dan mengerling kepada semua yang hadir.

"Suheng, biar pun dia masih muda, si buta itu benar-benar lihai sekali," bantah Thian Te Cu dengan muka merah karena ditegur dan diketawai suhengnya di depan banyak orang.

"Uuaaah, lihai apanya? Kalau dia lihai kenapa mau berlutut dan mengangguk tujuh kali di depan kakiku, saat kepalanya kulangkahi kaki dia juga tidak berani apa-apa. Dasar kalian yang tiada gunanya. Uhh!"

Kakek hitam ini memang sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di dalam hutan di atas gunung sehingga wataknya sudah berubah seperti orang hutan saja. Dia tak peduli lagi akan sopan santun dunia ramai, bicara asal membuka mulut saja, tidak peduli apakah kata-katanya menyinggung orang ataukah tidak. Karena terlalu tua, agaknya dia sudah pikun atau sudah lupa akan tata susila atau tata cara pergaulan.

Bhok Hwesio sebaliknya adalah seorang hwesio yang menjaga keras peraturan, seperti umumnya hwesio-hwesio dari Siauw-lim-pai. Semenjak tadi dia sudah mendelik-mendelik memandang kepada kakek hitam itu. Akan tetapi karena dirinya tersinggung tidak secara langsung dan kakek hitam itu hanya menegur sute-nya sendiri, dia pun berusaha untuk menahan kesabaran dengan muka merah.

Sekarang, mendengar betapa kakek hitam itu berkali-kali menyebut ‘kalian’ goblok, tiada gunanya dan lain-lain, dia menjadi marah sekali. Terdengar dia mendengus satu kali dan tiba-tiba meja di depannya sudah amblas ke bawah sampai dua puluh senti lebih. Empat kaki meja itu amblas menembus lantai yang keras dari ruangan itu, amblas sama sekali tanpa mengeluarkan bunyi seakan-akan empat kaki meja itu menembus agar-agar saja.

Dalam kemarahannya, hwesio Siauw-lim ini ternyata sudah menggunakan lweekang-nya yang memang sangat mengagumkan dan sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Semua orang kaget dan diam-diam merasa tidak enak, maklum bahwa hwesio ini marah kepada kakek hitam itu.

"Hemmm, sudah pernah pinceng mendengar nama besar Hek Lojin dari Go-bi yang tinggi menyundul langit. Dengan adanya Hek Lojin di sini, orang-orang macam pinceng ini apa gunanya lagi? Lebih baik pergi dan membaca doa di kelenteng! Tetapi, biasanya kalau geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat."

Hek Lojin pelototkan matanya. Tentu saja kakek ini maklum apa artinya ucapan ‘geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat’ itu yang boleh diartikan, bicara besar, belum tentu kepandaiannya tinggi. Melihat hwesio Siauw-lim itu sudah bangkit dari tempat duduknya, dia pun berdiri dan berkata, "He-heh-heh, hwesio tukang berdoa. Boleh kita coba-coba!"

"Omitohud, pinceng ingin sekali menerima petunjuk!"

The Sun menjadi sibuk. Cepat-cepat dia bangkit dan berdiri di antara kedua jago tua yang sudah hendak saling terjang ini. "Suhu... Losuhu... harap ji-wi sudi duduk kembali. Harap suka melihat muka teecu... yang dalam hal ini mewakili kaisar. Ji-wi dipersilakan datang untuk menghadapi para pemberontak, bukan untuk saling bermusuhan. Harap suka ingat bahwa para pemberontak belum tertumpas."

Bhok Hwesio menarik napas panjang dan duduk kembali. "Maaf, pinceng sampai lupa diri, omitohud..."

Hek Lojin nampak uring-uringan. "Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!" Setelah berkata demikian, kakek hitam ini melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.

Demikianlah, dengan hati marah.Hek Lojin keluar dari kota raja untuk mengejar Kun Hong. Dia hendak membuktikan kesanggupannya, hendak membuktikan omongannya. Dia yakin bahwa dengan mudah dia akan dapat membunuh burung rajawali dan lebih mudah lagi menawan pemberontak buta yang sudah amat takut terhadapnya itu.

Karena mendongkol kepada sute-nya yang menjadi tosu, mendongkol pula kepada Bhok Hwesio, maka di sepanjang jalan dia menyanyikan sajak-sajak Agama To dan Buddha sambil mengejek, dan kebetulan sekali dia bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng.

Suami isteri muda itu menjadi amat marah setelah mendengar bahwa kakek ini memusuhi Kun Hong. Sesudah mereka berdua serentak maju menyerang mempergunakan pedang mereka, barulah Hek Lojin menjadi kaget. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ilmu pedang kedua orang muda ini begitu hebat, menyambar-nyambar seperti sepasang burung garuda sakti.

Gaya permainan kedua suami isteri itu jauh berbeda dan inilah yang membuat dia kagum dan terheran. Jelas bahwa suami isteri ini memiliki ilmu pedang dari dua macam sumber yang sama tingginya. Jika tadinya Hek Lojin bersikap main-main dan bermaksud melayani kedua orang itu dengan memandang rendah, kini dia bersungguh-sungguh. Cepat dia pun menggerakkan tongkat hitamnya yang panjang itu, menangkis sekaligus balas menyerang dengan hebatnya.

Sekali bertemu senjata, baik Li Eng mau pun Kong Bu terkejut karena tenaga kakek hitam ini benar-benar dahsyat bukan main. Hampir saja pedang mereka terlempar ketika beradu dengan tongkat hitam panjang. Mereka berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa apa bila pertempuran dilakukan dengan mengandalkan tenaga, mereka akan kalah jauh.

Di lain pihak, kakek itu pun kagum ketika pada pertemuan pertama antara senjata mereka tadi, dia masih belum mampu memukul jatuh pedang-pedang lawan. Ini saja menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya yang masih amat muda-muda itu benar-benar murid-murid orang sakti. Kiranya dalam hal kepandaian, suami isteri ini satu tingkat dengan muridnya, The Sun. Padahal, tadinya dia menyangka bahwa di dunia ini belum tentu dapat dicari keduanya seorang muda dengan kepandaian setingkat muridnya itu.

Pertempuran itu berjalan cepat sekali. Dua puluh jurus telah lewat dan masih saja mereka bertempur mempergunakan kecepatan. Suami isteri itu memang sengaja mengerahkan ginkang dan hendak mencari kemenangan mempergunakan kelincahan. Siapa kira, kakek hitam itu pun ternyata merupakan seorang ahli ginkang yang hebat sehingga ketika kakek ini menandingi mereka, maka bayangan tiga orang itu lenyap terbungkus sinar senjata.

Tiba-tiba Hek Lojin tertawa. Setelah dua puluh jurus, barulah dia mengenal ilmu pedang Li Eng. Kiranya ilmu pedang wanita muda ini adalah Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat.

Akan tetapi baru sekarang dia menghadapi ilmu pedang Hoa-san-pai yang sehebat ilmu pedang yang dulu pernah dimainkan oleh mendiang Lian Ti Tojin tokoh Hoa-san-pai yang mengasingkan diri. Dia tidak tahu bahwa memang orang tua Li Eng adalah murid Lian Ti Tojin yang sudah mewariskan ilmu pedangnya kepada mereka.

"Wah, kau masih apanya Lian Ti Tojin dari Hoa-san-pai?" Kakek itu sempat pula menegur dengan gembira. "Dan kau ini bocah, dari mana kau memperoleh ilmu pedang aneh ini!" tegurnya kepada Kong Bu.

Li Eng kaget juga mendengar disebutnya kakek gurunya yang memang menjadi pewaris ilmu pedangnya. Ada pun Kong Bu yang ingin menggertak segera menjawab, "Kakekku Song-bun-kwi yang mengajar kepadaku!"

"Wuuuuuttttt... tranggggg...!"

Tak dapat dihindarkan lagi, pedang Kong Bu bertemu dengan tongkat, sedangkan Li Eng dapat cepat mengelak. Kong Bu merasa betapa telapak tangannya seperti dibakar, maka cepat-cepat dia mengerahkan lweekang untuk melawan hawa itu. Kakek itu sudah berdiri tertawa dan tongkatnya berdiri pula di depannya.

"Ha-ha-heh-heh, kiranya kau cucu setan bangkotan itu? Ha-ha-ha, ketika kakekmu masih muda, pernah dia bertekuk lutut di depan kakiku, tahukah kau? Ha-ha-ha, Song-bun-kwi, dahulu kau kalah, sekarang kau mewakilkan kepada cucumu untuk menderita kekalahan kedua kalinya. Dan Lian Ti Tojin, dahulu kau belum sanggup mengalahkan aku, apa lagi sekarang bocah perempuan yang mengandung ini, heh-heh-heh!"

"Sombong!" Li Eng dan Kong Bu berteriak hampir berbareng.

Mereka berdua marah sekali mendengar ejekan-ejekan dan hinaan ini. Betapa pun juga, tadi mereka belum kalah, malah belum terdesak hanya baru kalah tenaga saja. Mereka tidak takut dan setelah berteriak demikian, keduanya menyerbu lagi mengirimi serangan-serangan maut.

Akan tetapi kini kakek itu mengubah gerakannya. Tongkatnya yang panjang itu berputar seperti kitiran angin, cepat dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat. Cara kakek itu menyerang bukan seperti ilmu silat lagi, akan tetapi seperti sebuah kitiran angin besar yang tiada hentinya berputar dan menerjang mereka dengan kekuatan yang dahsyat!

Kong Bu dan Li Eng adalah keturunan orang-orang pandai yang mempunyai kepandaian tinggi. Akan tetapi mereka ini ketinggalan jauh kalau dibanding dengan kakek ini dalam hal pengalaman bertempur. Menghadapi cara bertempur kakek ini, mereka menjadi repot dan bingung. Berusaha menangkis dengan pedang, akan tetapi setiap kali bertemu tongkat, pedang mereka terpental dan mereka terpaksa meloncat ke sana ke mari supaya jangan terkena sambaran tongkat yang luar biasa itu. Sama sekali mereka tak pernah mendapat kesempatan untuk balas menyerang!

Tiba-tiba saja, seperti juga mulainya, kakek itu menghentikan pemutaran tongkatnya dan bersilat lagi, malah seperti sengaja telah memberi lowongan-lowongan kepada dua orang lawannya. Girang hati Kong Bu dan Li Eng melihat ini, menduga bahwa kakek itu tentu lelah memutar tongkat seperti itu dan sekarang hendak beristirahat dan bersilat biasa. Kesempatan baik ini mereka pergunakan dan cepat mereka menyerbu, membalas dengan serangan-serangan maut yang amat berbahaya.

Mendadak kakek itu berseru keras dan tongkatnya kembali diputar secara tiba-tiba dan tidak terduga.

“Trang-trang!” terdengar suara keras sekali.

Tanpa dapat dicegah lagi pedang Kong Bu dan Li Eng terpental, terlepas dari pegangan. Pedang Kong Bu melesat ke kanan dan pedang Li Eng melesat ke kiri, menancap sampai amblas sebatas gagang pada tanah beberapa meter jauhnya!

"Ha-ha-ha-he-he-he, baru kenal kelihaianku, ya?" Kakek itu mengejek.

Kembali tongkatnya berputaran menerjang suami isteri yang sudah tidak bersenjata lagi itu! Namun dua orang muda itu bukanlah orang-orang lemah, biar pun mereka sudah tidak bersenjata lagi, tidaklah mudah merobohkan mereka.

Biar pun tongkat itu berputar seperti kitiran, namun tubuh mereka melesat dan menyelinap di antara bayangan tongkat. Ginkang mereka demikian hebatnya sehingga tubuh mereka seakan-akan bayang-bayang yang sukar dipukul tongkat.

"Bagus, bagus...! Orang-orang muda cukup mengagumkan... ha-ha-ha, tetapi harus roboh oleh Hek Lojin!"

Kakek itu menerjang terus, sekarang dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh. Memang ilmu tongkat kakek ini hebat bukan main. Tongkat yang diputar oleh dua tangannya itu, kadang-kadang bisa dioper dengan tangan kanan saja, malah ada kalanya tongkat berputar cepat mendesing ke atas, dilepas oleh kedua tangan yang melakukan pukulan-pukulan ke depan dan tongkat itu tanpa dipegang lagi terus berputaran di atas kepala, dan disambut lagi dengan enaknya.

Payah juga Kong Bu dan Li Eng menghadapi penyerangan kakek kosen. Mereka sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri karena tak sanggup melawan lagi. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu membentak keras, tongkatnya melayang dan menyerang kedua orang muda itu tanpa dia pegang, sedangkan tubuhnya mengikuti tongkatnya, kedua tangannya melakukan tamparan-tamparan disertai tenaga lweekang.

Melihat Li Eng terpeleset ketika mengelak dari tongkat dan terdorong oleh angin pukulan lawan, Kong Bu kaget. Cepat dia menghadang desakan kakek itu. dengan mengerahkan tenaga dia menangkis dengan tangan kiri.

"Krakkk!"

Lengan kirinya patah ketika bertemu dengan tangan si kakek, dan sebuah tendangan membuat Li Eng terjungkal!

Kong Bu marah bukan main. Dengan nekat dia lantas menggunakan tangan kanannya menerjang, akan tetapi dia pun harus terjungkal ketika kakek itu mendorong dengan dua tangannya dari samping. Kepalanya terasa pening sekali, namun Kong Bu masih dapat melompat ke tempat di mana isterinya roboh. Dengan tubuhnya dia melindungi Li Eng, siap mengadu nyawa dengan kakek sakti itu.

Hek Lojin meringis, terkekeh-kekeh dan menghampiri kedua orang itu sambil menyeret tongkatnya. “Heh-heh-heh…!”

Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, suara seperti orang menangis terdengar dari jauh. Mendengar ini, Kong Bu kaget dan juga girang, lalu dia mengerahkan khikang dan mengeluarkan teriakan panjang pula yang bergema di seluruh hutan.

Kakek itu berhenti, menengadah lalu tertawa bergelak. "Ha-ha-heh-heh, itu si tua bangka Song-bun-kwi agaknya! Ha-ha-ha, biar dia datang, sekalian kubereskan!"

Bayangan putih berkelebat dan benar saja, di situ telah berdiri Song-bun-kwi Kwee Lun dengan sikapnya yang garang! Melihat betapa sepasang suami isteri itu rebah di bawah pohon, kemarahannya langsung memuncak. Dengan sepasang mata laksana berapi-api dia memandang kakek hitam itu lalu memaki,

"Keparat jahanam si tua bangka Hek Lojin! Jadi kau belum mampus juga? Berpuluh tahun kucari, kau mengumpet, bersembunyi. Sekarang sudah tua bangka mau mampus berani muncul mengantarkan nyawa! Kenapa kau tidak langsung mencariku, biar tua sama tua, melainkan mengganggu anak-anak muda? Tidak tahu malu!"

"Heh-heh-heh, Song-bun-kwi, bagus sekali kau sendiri datang, kau mbahnya (kakeknya) pemberontak! Kau mengajar anak-anak menjadi pemberontak, ya? Dasar iblis! Bagus kau sudah datang, dahulu kau pernah kalah tetapi belum mampus, biar sekarang kutamatkan riwayatmu!"

Kedua orang kakek itu sudah mulai bertempur sebelum ucapan ini habis. Song-bun-kwi sudah mengeluarkan suling beserta pedangnya, menerjang dengan ilmu pedangnya yang paling dia andalkan, yaitu Yang-sin Kiam-sut, sedangkan sulingnya juga memainkan ilmu silatnya sendiri yang luar biasa.

Hek Lojin maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maklum pula bahwa sejak kekalahannya puluhan tahun yang lalu, tentu Song-bun-kwi sudah mempersiapkan diri dan telah mendapatkan ilmu-ilmu baru. Begitu merasai hawa panas dari pedang kakek Song-bun-kwi, dia terkejut dan cepat dia memutar tongkatnya.

Sebaliknya Song-bun-kwi juga cukup mengenal Hek Lojin. Empat puluh tahun yang lalu memang dia pernah bertemu dengan kakek hitam itu dan dalam pertandingan yang hebat, dia sudah dilukai dan terpaksa dia harus mengaku kalah. Semenjak itu, tidak pernah lagi dia bertemu dengan Hek Lojin yang memang mengasingkan diri karena terlalu banyak musuh. Sekarang, tidak disangka-sangka dia bertemu dengan musuh lamanya, tentu saja dia lalu berusaha sungguh-sungguh untuk membalas kekalahannya pada puluhan tahun yang lalu.

Sebenarnya Hek Lojin masih belasan tahun lebih tua dari pada Song-bun-kwi, termasuk tokoh lama yang sudah tua sekali. Akan tetapi karena kakek ini memang luar biasa dan hidup di alam terbuka jauh dari pada dunia ramai, agaknya dia memiliki kekuatan yang lebih dari pada manusia biasa. Selain tenaganya tidak normal, juga kepandaiannya aneh dan bersifat liar dan ganas.

Memang dia memiliki banyak ilmu silat yang dikenal di dunia kang-ouw sebagai ilmu-ilmu silat kelas tinggi, seperti yang dia turunkan kepada The Sun. Akan tetapi di samping ini, dia masih mempunyai ilmu berkelahi yang hanya dia miliki sendiri dan yang jarang dia pergunakan di dalam pertempuran dan tidak pernah dia turunkan kepada siapa pun juga.

Ilmu ini merupakan ilmu berkelahi yang menyimpang dari pada ilmu silat yang timbul dari perasaan dan naluri, seperti ilmu berkelahi yang dimiliki oleh para binatang buas di dalam hutan. Oleh karena itu, tadi ketika dia memutar-mutar tongkatnya secara liar, Kong Bu dan Li Eng yang tidak biasa menghadapi ilmu berkelahi seperti ini menjadi kebingungan dan mudah dikalahkan.

Sekarang, ketika menghadapi Song-bun-kwi, kakek hitam ini berlaku sangat hati-hati dan karenanya dia malah tidak mau ngawur seperti tadi, melainkan menggunakan jurus-jurus ilmu silatnya yang beraneka ragam dan rata-rata dari tingkat tinggi itu.

Hebat pertandingan ini. Tenaga Iweekang Hek Lojin sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya. Akan tetapi sekali ini dia menemukan tandingan, karena Song-bun-kwi adalah seorang kakek yang dijuluki iblis sedang nama julukan Song-bun-kwi saja artinya Setan Berkabung! Meski pun Song-bun-kwi diam-diam harus mengakui bahwa dia masih belum dapat menandingi tenaga dalam kakek hitam itu, akan tetapi setidaknya tingkatnya tidak kalah jauh seperti ketika tadi kakek itu menghadapi Kong Bu dan Li Eng.

Sebetulnya Hek Lojin adalah seorang ahli agama, oleh karena itulah maka tadi Kong Bu dan Li Eng sempat mendengar nyanyian-nyanyian agama yang merupakan ayat-ayat suci dari Agama Buddha dan Agama To. Akan tetapi, agama-agama pada waktu itu banyak disalah gunakan orang.

Banyaklah kaum persilatan yang mempelajari agama bukan karena pelajaran hidupnya yang baik, bukan karena untuk mencari jalan pendekatan dengan Tuhan, namun mereka ini bermaksud untuk mengambil bagian-bagian mistik dan gaib dari pada agama itu. Oleh karena inilah maka timbul banyak aliran yang menggunakan agama itu untuk mempelajari segala macam ilmu gaib yang mereka gabungkan dengan ilmu silat sehingga terkenallah ilmu-ilmu silat yang disebut ilmu silat hitam.

Demikian pula tenaga mukjijat yang dimiliki kakek hitam itu bukan semata-mata tenaga sinkang murni dari dalam tubuh yang memang dimiliki oleh semua orang, akan tetapi juga diperkuat oleh tenaga dari ilmu hitam yang dia dapatkan dengan cara bermacam-macam dan amat mengerikan.

Kong Bu dan Li Eng melihat pertempuran ini dengan hati amat khawatir. Apa lagi setelah pertandingan itu berlangsung seratus jurus lebih, mereka merasa gelisah sekali karena kini tampak oleh mereka betapa keadaan Song-bun-kwi mulai terdesak. Kong Bu ingin membantu kakeknya, tetapi tidak mungkin dia dapat bertempur dengan tangan kiri patah tulangnya dan dadanya masih sesak oleh tenaga dorongan kakek itu. Juga Li Eng sudah terluka, pahanya telah terkena tendangan dan terasa sakit sekali.

Tiba-tiba saja terdengar bentakan-bentakan hebat dan suara nyaring beradunya senjata-senjata kedua kakek itu. Kiranya mereka sudah mempergunakan seluruh tenaga untuk mengadu senjata. Akibatnya, suling remuk pedang patah, akan tetapi tongkat hitam itu pun terlempar jatuh sampai beberapa meter jauhnya!

Kedua orang kakek itu tertawa saling mengejek, lalu pertandingan dilanjutkan dengan dua pasang tangan kosong. Akan tetapi, sambaran angin pukulan kedua pihak membuktikan bahwa pertandingan tangan kosong ini tidak kalah hebatnya dibandingkan pertandingan dengan senjata tadi.

Setiap pukulan yang dilancarkan adalah pukulan maut yang mengandung hawa pukulan dahsyat. Angin pukulan bersiutan, membuat daun-daun pohon di sekelilingnya rontok dan debu berhamburan dari kedua kaki mereka.

Dalam pertempuran ini, Song-bun-kwi lebih terdesak lagi. Dengan penggunaan senjata, dia masih dapat mengimbangi lawannya, akan tetapi pertandingan dengan tangan kosong semata-mata hanya mengandalkan kecepatan gerak dan besarnya tenaga dalam. Dalam kecepatan, Song-bun-kwi sebanding dengan lawannya, namun dalam hal tenaga, karena lawannya mempunyai tenaga mukjijat, Song-bun-kwi terpaksa harus mengakui bahwa tiap kali tangannya bertemu dengan tangan lawan, jantungnya terasa sakit seperti ditusuk!

Namun, kakek ini tidak akan mendapat julukan iblis Song-bun-kwi kalau dia mau mengaku kalah. Dengan semangat menyala-nyala, Song-bun-kwi nekat terus menerjang dengan pengerahan seluruh tenaga dan gerakan-gerakannya semakin cepat saja. Kakek hitam tertawa-tawa melayani dan dalam sekejap mata kedua kakek itu lenyap terbungkus debu yang mengebul dari bawah.

Hebat bukan main pertarungan ini, seperti pergumulan dua ekor naga, atau perkelahian dua ekor harimau buas, pantang menyerah, pantang undur. Kong Bu dan Li Eng makin merasa khawatir, akan tetapi keduanya tidak berdaya karena sebagai ahli-ahli silat tinggi, maklumlah mereka bahwa sekali mereka maju belum tentu mereka dapat menguntungkan Song-bun-kwi akan tetapi yang pasti mereka akan celaka. Hawa pukulan dengan tenaga dahsyat yang menyambar di sekeliling dua orang kakek itu tidak terlawan oleh mereka.

Tiba-tiba kedua orang kakek itu berhenti bersilat dan tubuh mereka mencelat ke belakang, masing-masing dua meter lebih, berdiri saling pandang dengan muka mengerikan. Hek Lojin sudah tidak tertawa lagi, mukanya yang hitam itu berkilat-kilat penuh peluh, mulutnya menyeringai, matanya berseri-seri. Muka Song-bun-kwi juga penuh keringat, agak pucat dia, matanya berapi-api penuh kemarahan.

Kemudian keduanya melompat ke depan, saling terjang dan terdengar suara berdebugan dua tiga kali dan akibatnya, tubuh mereka terlempar ke belakang lagi. Kembali mereka saling terjang dan terdengar pukulan-pukulan yang mengakibatkan mereka terlempar lagi. Adegan seperti ini terulang sampai empat lima kali. Muka Song-bun-kwi makin pucat, muka Hek Lojin semakin penuh dengan keringat.

Tiba-tiba kakek hitam itu bergelak. "Ha-ha-ha-heh-heh, Song-bun-kwi tua bangka iblis! Kau benar-benar berkepala batu, sudah kalah tidak mau mengakui kekalahan. Ha-ha-ha, sudah puas hatiku dengan perkelahian hari ini, aku sudah lelah. Kalau kau masih dapat hidup, lain hari kita lanjutkan, kalau kau mampus karena perkelahian ini, mampuslah dan rasakan hukuman neraka. Ha-ha-ha!"

Kakek hitam itu melangkah mundur ke tempat tongkatnya, mengambil senjata itu dan menyeretnya pergi dari situ. Masih terdengar suara ketawanya yang bergema dari jauh.

Song-bung-kwi masih berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang seperti tadi, napasnya tersengal-sengal, mukanya pucat dan hidungnya kembang-kempis. Tiba-tiba dia menekan ulu hatinya dan kakek kosen ini pun muntah-muntah. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

"Kakek...!" Kong Bu cepat-cepat melompat menghampiri, Li Eng juga terpincang-pincang lari menghampiri.

Seakan-akan telah kehabisan tenaga, Song-bun-kwi sudah jatuh terduduk. Dia berusaha menghapus bibirnya dengan ujung lengan baju dan terdengar dia bergumam perlahan, "...hebat sekali... Hek Lojin iblis..."

Kong Bu sudah berlutut di depannya, juga Li Eng. Kagetlah dua orang ini ketika melihat bahwa leher, pundak, dada dan perut kakek itu terluka oleh pukulan yang meninggalkan bekas membiru Sedangkan baju pada bagian terpukul itu pun berlubang besar seperti bekas terbakar.

Kiranya dalam gebrakan-gebrakan terakhir tadi, dua orang kakek sakti itu telah melakukan jurus-jurus yang mematikan, jurus-jurus nekat yang berdasarkan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya pukulan! Tadi empat kali Song-bun-kwi telah menerima pukulan maut Hek Lojin, sebaliknya Hek Lojin juga sudah menerima empat kali pukulan Song-bun-kwi yang datangnya hampir pada saat yang sama itu.

Pukulan Song-bun-kwi dapat diterima oleh Hek Lojin, menimbulkan luka ringan yang tidak membahayakan nyawanya. Sebaliknya pukulan-pukulan Hek Lojin sedemikian hebatnya sehingga membuat Song-bun-kwi sekarang muntah-muntah darah dan sudah menderita luka yang amat parah.

Akan tetapi daya tahan Song-bun-kwi dan semangatnya memang luar biasa sekali. Kalau orang lain yang menderita seperti dia, tentu tadi sudah roboh di bawah kaki lawannya. Namun Song-bun-kwi sanggup menahan diri, menahan rasa nyeri dan dengan semangat pantang mundur dia menukar pukulan sampai empat kali.

Hek Lojin tadi menjadi terkejut sekali dan diam-diam merasa jeri. Dia sendiri, meski pun ringan, sudah merasa terluka oleh pukulan-pukulan Song-bun-kwi, akan tetapi mengapa Song-bun-kwi agaknya tidak merasai pukulannya yang empat kali itu? Padahal pukulan-pukulannya tadi adalah pukulan maut yang mengandung tenaga mukjijat!

Itulah sebabnya mengapa Hek Lojin tadi meninggalkan Song-bun-kwi, sama sekali bukan karena merasa menang, melainkan karena jeri! Setelah lawannya pergi, barulah terasa oleh Song-bun-kwi akan kehebatan bekas pukulan lawan dan sekarang dia terkulai tidak berdaya. Dia maklum bahwa dia telah menerima pukulan-pukulan maut yang meremukkan isi dadanya, dan tahu bahwa dia tidak akan tertolong lagi.

Melihat Kong Bu dan Li Eng berlutut di dekatnya, timbul rasa kecewanya terhadap kedua orang ini. Sampai mau mati pun dia masih kecewa karena belum mempunyai cucu buyut. Dasar kakek ini seorang yang amat aneh wataknya. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong pergi dua orang itu sambil berkata,

"Pergi... pergi... biar aku tidak punya cucu juga tidak apa...!"

Suara kakek ini bernada penuh penyesalan, penuh kekecewaan karena merasa tertikam perasaannya ketika teringat bahwa dalam menghadapi saat terakhir dalam hidupnya ini, dia masih dikecewakan oleh Kong Bu yang dia kasihi, dikecewakan karena cucunya ini tidak mempunyai keturunan!

"Kongkong (kakek)...!" Kong Bu mendekati kakeknya lagi, suaranya penuh keharuan. Li Eng juga mendekat lagi, air matanya mengalir.

"Sudahlah, meski sampai mati pun aku tetap kecewa padamu...!" kata pula Song-bun-kwi ketus sambil bangkit berdiri dengan susah payah dan kakek ini sudah bersiap melangkah maju meninggalkan mereka.

Tiba-tiba Li Eng memegang lengannya. Dengan suara terisak-isak ia berkata, "Kongkong, aku... aku... ahhh, kau sudah akan mempunyai cucu buyut..."

"Haaaaa?? Apa kau bilang...?!"

Mata dan mulut kakek itu terbuka selebar-lebarnya saat dia menatap wajah Li Eng yang sudah basah air mata karena ia sudah mulai menangis tersedu-sedu, sambil merangkul dan mengganduli pundak kakek itu. Melihat Li Eng tidak mungkin dapat menjawab karena menangis itu, Kong Bu yang menjawab dengan muka berseri dan mata bersinar,

"Betul, Kongkong, Li Eng sudah mengandung. Cucu buyutmu pasti bakal terlahir!"

"Wah-wah! Betulkah ini? Li Eng, betulkah ini?" Kakek ini berteriak sambil memegang dua pundak Li Eng dan mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya.

Li Eng tersenyum dalam tangisnya, menahan air mata dengan memeramkan mata, dan hanya dapat mengangguk dengan gerakan meyakinkan.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Song-bun-kwi, kau tua bangka goblok, kau manusia tolol! Ha-ha-ha-ha, Li Eng, kau anak baik!"

Serentak tubuh Li Eng yang dia pegang pada kedua pundaknya itu dia lontarkan ke atas. Tubuh Li Eng melayang ke atas kurang lebih tiga meter tingginya, diterima dengan penuh kasih sayang lalu dilontarkan lagi sampai tiga kali. Kemudian dia memeluk Li Eng dan menciumi rambutnya, membiarkan Li Eng terisak-isak bahagia di dadanya.

"Li Eng, mana dia? Mana cucu buyutku? Tidak bisakah kau lahirkan dia sekarang saja? Aku sudah ingin memondongnya, menimangnya, ha-ha-ha!"

"Iihhh, Kakek ini...!" Li Eng menundukkan mukanya, jengah.

"Ha-ha-ha, Song-bun-kwi tolol, siapa bilang cucuku tidak becus dan goblok? Ha-ha-ha, Kong Bu, kau hebat...!"

Dia sudah melepaskan Li Eng, lalu menghampiri Kong Bu dan menepuk-nepuk pundak cucunya itu. Kalau saja bukan Kong Bu yang ditepuknya, tentu pundak itu akan remuk.

"Ha-ha-ha-ha, aku punya cucu buyut..." Kakek itu tertawa terus terbahak-bahak, makin lama makin aneh suara ketawanya.

"Kongkong...!" Li Eng dan Kong Bu menjerit berbareng sambil menubruk maju.

Akan tetapi Song-bun-kwi sudah terguling roboh, terlentang dengan mata melek dan mulut terbuka, wajahnya masih tertawa-tawa akan tetapi napasnya berhenti. Kakek itu sudah mati dalam keadaan tertawa bahagia. Kiranya dalam kegirangannya yang melewati batas tadi, dia sudah banyak mengerahkan tenaga dan hal ini memperhebat luka-lukanya yang memang sudah terlalu parah hingga akhirnya merenggut nyawanya sebelum dia sempat menghabiskan ketawanya!

Li Eng dan Kong Bu memeluki tubuh kakek itu sambil menangis. Angin yang tadi bertiup dan bermain-main di antara daun-daun pohon, sekarang berhenti. Sunyi senyap di dalam hutan itu, seakan-akan hutan, angin dan penghuni hutan ikut menyatakan bela sungkawa atas kematian kakek sakti yang hidupnya sering menggemparkan dunia kang-ouw itu…..

********************

"Kim-tiauw-ko, aku ingin sekali pergi ke Ching-coa-to. Ah, alangkah akan mudahnya kalau kau dapat menerbangkan aku ke pulau itu, kita tak akan bingung menghadapi jalan-jalan rahasia. Ah, sayang, Tiauw-ko, kau tak tahu di mana adanya pulau itu...," kata Kun Hong sambil mengelus-elus leher burung itu.

Betapa pun cerdik pandainya, seekor burung hanyalah seekor binatang biasa saja, tentu saja tidak memiliki akal dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Si Pendekar Buta. Dia hanya mengeluarkan suara mencicit bingung melihat sahabatnya ini bersikap kecewa dan menyesal.

Mereka masih berada di dalam sebuah hutan, sudah beberapa hari mereka melakukan perjalanan keluar hutan. Kun Hong bingung karena tidak bertemu manusia yang dapat dia tanyai jalan.

Sebetulnya sudah banyak hal yang menghilangkan kegelisahannya. Cui Sian telah berada di tangan orang yang boleh dipercaya dan anak itu selamat. Surat wasiat juga sudah diantarkan ke utara, dan dia merasa yakin bahwa Sin Lee dan Hui Cu pasti akan dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. A Wan juga berada bersama paman gurunya, aman dan selamat.

Tinggal dua lagi tugas yang harus dia selesaikan. Pertama mencari orang-orang Ching-coa-to dan memberi hajaran atas kejahatan mereka terhadap Thai-san-pai. Ke dua... ya, yang ke dua inilah yang membingungkan hatinya. Tentang Hui Kauw! Bagaimana baiknya dengan nona itu?

Harus dia akui bahwa dia betul-betul mencinta Hui Kauw. Cinta kasihnya terhadap Cui Bi sekarang agaknya sudah berpindah kepada Hui Kauw seluruhnya. Dia merasa kesepian, rindu, dan merasa seakan-akan hidupnya tidak lengkap, kehilangan semangat hidup dan kegembiraan, akibat berpisah dari nona bersuara bidadari itu. Dia tahu bahwa hidupnya selanjutnya akan merana, akan kosong hampa dan tidak ada artinya tanpa Hui Kauw.

"Uhh, urusan besar belum selesai, sudah memikirkan yang bukan-bukan..." Dia menepuk kepala sendiri dan rajawali emas itu menggereng perlahan.

"Kim-tiauw, betapa tidak enaknya menjadi manusia!" kembali Kun Hong mengeluh sambil duduk di atas batu besar di dekat burung itu. "Tiada hentinya manusia terganggu dalam hidupnya yang terbelit-belit dan terikat oleh segala macam kewajiban, dan terkacau oleh segala macam perasaan. Kau inilah makhluk bahagia, kim-tiauw, karena selama hidupmu kau tidak pernah memusingkan sesuatu."

Burung itu mengeluarkan suara panjang seakan-akan membantah pendapat ini dan sama sekali tidak menyetujuinya. Kun Hong merenung. Betulkah seperti yang dia katakan tadi? Apakah tidak sebaliknya dari pada itu? Bukanlah segala ikatan dalam hidup itulah yang membuat hidup ini berisi dan pantas diderita? Bukankah kehidupan burung dan segala macam makhluk selain manusia di dunia ini yang amat menjemukan?

Bayangkan saja. Bila hidup tanpa adanya susah, senang, puas, kecewa, dan lain-lain perasaan yang saling bertentangan, apakah tidak akan merupakan siksaan karena tiada perubahan, sunyi sepi dan seolah-olah sudah mati saja? Bagaikan samudera, apa artinya tanpa gelombang membadai yang membuat samudera nampak hidup? Apa artinya dunia ini tanpa angin, lelap lengang dan sunyi mati. Demikian pula hidup ini, akan terasa sunyi membosankan apa bila tidak ada ikatan-ikatan yang mengakibatkan manusia merasakan susah senang, jatuh bangun dan sebagainya.

Teringat dia akan filsafat-filsafat kuno dan dia tersenyum seorang diri. Memang hebat para budiman dan bijaksana jaman dahulu, telah dapat meneropong isi dari pada hidup. Dia menepuk-nepuk leher kim-tiauw, kini wajahnya berseri dan hatinya tenang,

"Kim-tiauw, alangkah bodohku, sampai lupa akan kenyataan yang tidak terbantah lagi itu. Siapa mencari senang, dia sekali-kali tentu bertemu susah. Siapa mencari untung sekali-kali akan bertemu rugi. Siapa mencari puas, sekali-kali akan ketemu kecewa. Memang sudah semestinya begitu. Kalau tidak ada atas, mana bisa ada bawah? Kalau tidak ada senang, mana bisa bilang ada susah? Manusia adalah makhluk yang paling berbahagia, kim-tiauw, sebab mengenal keduanya itu, mengenal dan merasakan akibat dari kekuatan Im dan Yang (positive dan negative). Ha-ha-ha, kaulah yang patut dikasihani, kim-tiauw."

Kini kim-tiauw itu bersuara girang, sekan-akan dia ikut bergembira mendengar sahabatnya sudah bisa tertawa-tawa kembali. Tiba-tiba mereka berdua serentak diam memperhatikan. Terdengar suara kaki orang banyak menuju ke arah tempat itu. Rajawali emas sudah siap, bulu tengkuk burung itu sudah mulai berdiri, tanda bahwa dia telah siap menyerang lawan.

"Sssttt, jangan sembrono kim-tiauw-ko, kita lihat dulu mereka itu kawan ataukah lawan."

Betapa pun juga, Kun Hong sudah siap pula berdiri di dekat burung itu, menanti dengan penuh kewaspadaan. Dia taksir sedikitnya ada tujuh orang yang bergerak makin dekat itu. Maklum akan watak burung rajawali yang mudah curiga itu. Kun Hong sengaja merangkul lehernya untuk mencegah burung itu menerjang orang secara sembrono sebelum dia dapat mengetahui siapa mereka itu.

"Pangcu (ketua)... kami para anggota Hwa-i Kaipang datang menghadap..." tiba-tiba saja seorang di antara mereka berseru dari jauh.

Kun Hong bernapas lega, "Kim-tiauw-ko, agaknya mereka itu teman-teman sendiri, jangan kau ganggu."

Tidak lama kemudian muncullah delapan orang yang serta merta berlutut di depan Kun Hong. Pendekar muda ini teringat akan tipuan yang dilakukan The Sun yang pernah mendatangkan beberapa orang anggota Hwa-i Kaipang yang palsu. Orang-orang ini pun juga tidak dia kenal, mana dia tahu kalau mereka adalah betul-betul anggota perkumpulan pengemis itu?

"Apakah di antara kalian ada yang mengenal Coa-lokai?" dia memancing.

Terdengar jawaban dua orang yang berada di sebelah kanan, "Siauwte adalah murid suhu Coa-lokai."

Tiba-tiba Kun Hong bergerak dan tahu-tahu dia telah mengirim dua serangan kepada dua orang itu. Sebagai ahli-ahli silat, dua orang itu otomatis menggerakkan tangan menangkis. Akan tetapi akibatnya, keduanya terjungkal dan terlempar ke belakang sampai tiga meter jauhnya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner