RAJAWALI EMAS : JILID-14


Ahh, mengapa aku tidak tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu melakukan semua itu hanya karena hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tidak mungkin gadis seperti Li Cu bisa cinta kepadanya, seorang laki-laki yang menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong, seorang duda yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke dua anak Bi Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?

"...ah... maaf... maaf... sungguh aku tak tahu diri..."

Bagaikan mimpi kedua kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti orang mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah semua harapannya untuk dapat hidup mengenyam kebahagiaan. Hanya sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat.

“Li Cu, Li Cu....!” Jerit hatinya, “tak kuat aku berpisah dari sisimu!”

Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pula dan sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia betapa gadis itu turun perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari kamar itu. Dia tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali pula.

Jeritan jiwa menggetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa oleh kedua orang muda itu. Dalam detik itu juga terjadilah peluapan rasa melalui bibir dan gerakan mereka masing-masing. Pada saat itu pula Li Cu menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati melalui bibir-bibir yang bergetar.

"Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu...!"

"Beng San, kembalilah Beng San...!"

Keduanya terpaku kaget oleh suara masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa yang diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan terbuka dan diterima oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu saling berdekapan sambil berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu.

Sunyi senyap pada saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang merasa seakan-akan baru saja mereka mendapatkan kembali semangat mereka yang tadi hampir hilang. Sampai lama mereka berpelukan tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Beng San.

"Tapi... kau hanya mencinta Bi Goat..."

"Itu dahulu, Li Cu. Setelah dia meninggal... kaulah orang yang menggantikannya... lebih dari pada itu malah... kau mulia, setia, penuh pengorbanan. Ahhh... alangkah mulianya engkau... aku cinta kepadamu, Li Cu dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu."

"Beng San..." Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.

"Li Cu... cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?"

"Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Pada waktu kau sakit dan hilang ingatan, aku sudah suka menjadi isterimu walau pun hanya sebutan belaka. Apa lagi sekarang setelah engkau sembuh. Dan tentang cinta... belum pernah selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu."

"Li Cu, dewiku sayang..."

Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh kemesraan asmara yang bergelora dalam hati masing-masing.

"Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?"

Beng San tersenyum ditahan. "Memang aku mata keranjang. Akan tetapi, bidadari dari kahyangan sekali pun belum tentu dapat menggerakkan hatiku. Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat engkau aku jadi mata keranjang! Ahh, andai kata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk mencinta semua!"

"Ahh, kau memang mata keranjang!" tegur Li Cu manja.

"Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan mencinta? Siapa orangnya takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar wanita sejati, kau berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci murni, semoga aku dapat mengimbanginya..." Beng San merayu.

"Iihh, kau selain mata keranjang juga... ceriwis!"

Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang orang muda seperti Li Cu dan Beng San? Hati siapa takkan turut merasa senang melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori iblis iri cemburu jua yang tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang orang muda itu berbahagia dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.

Sayang, selain mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang sengsara akibat asmara yang sama. Memang asmara mendatangkan bahagia dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita yang aneh-aneh. Beng San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, untungnya dia bertemu dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.

Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal, berubah ubah dan hal yang demikian ini memang berlaku bagi segala benda, mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada dingin ada panas, ada kalanya hujan ada kalanya terang, ada kalanya sengsara ada kalanya bahagia.

Kebahagiaan datang tidak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan Beng San. Demikian pula kesengsaraan datang tanpa disadari seperti halnya penderitaan Bi Goat yang telah tiada.

Kenyataan ini merupakan pelajaran hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tidak perlu berputus asa pada waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok di kala mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir pada waktu pasang, tak kering pada waktu surut, seperti air laut yang tenang teguh sehingga sanggup menerima perubahan keadaannya tanpa menderita kerusakan.

Di antara sekian banyaknya orang yang sedang ‘surut’ nasibnya, adalah Thio Ki. Telah diceritakan di depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin.

Seperti kita ketahui, Thio Ki terbebas dari pada kematian karena mendapat bantuan Li Cu dan kemudian Beng San. Atas permintaan Beng San, Thio Ki lalu pergi ke Hoa-san untuk berobat dan membereskan urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio Ki, karena pada waktu itu Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas di tangan Kwa Hong.

Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang nasib Lian Bu Tojin dan Hoa-san-pai. Ia merasa amat marah dan gemas kepada Kwa Hong, juga amat terheran-heran mengapa Kwa Hong sekarang berubah seperti iblis dan juga amat lihai?

Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun Thio Ki menolak keras.

"Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?" teriaknya kaget. "Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula aku masih muda. Banyak para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri masih tidak kuat menjaga keselamatan Hoa-san-pai, apa lagi orang seperti aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, tetapi aku sanggup untuk sementara berada di sini untuk mempertanggung jawabkan Hoa-san-pai. Biarlah kita menanti sampai kembalinya Tan Beng San Taihiap, karena kiranya hanya dia yang akan dapat menolong kita."

Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menunggu dengan sia-sia. Malah akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan, bahkan kemudian dia sendiri lalu pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil.

Sama sekali Thio Ki tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada waktu itu Beng San sendiri juga menghadapi mala petaka yang amat hebat. Hatinya semakin risau dan di dalam hatinya ia mendapat firasat tidak enak bahwa isterinya tentu mengalami mala petaka besar. Ia berduka sekali, terutama kalau teringat bahwa isterinya itu sedang mengandung.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat membimbing para tosu di belakang kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Dahulu mereka pernah mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang tunggangan Kwa Hong.

Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke atas di mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang berkeliling.

"Ehh, burung apakah itu? Besar sekali!" katanya.

"...celaka... dia datang kembali...!" seorang tosu tua berkata.

Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan rajawalinya, maka ia pun terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa semua tosu yang berada di belakangnya sudah pada berlutut!

Burung itu terbang semakin dekat, menukik ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring. "Siapa ini berani menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau sudah bosan hidup?" Ucapan ini disusul menyambarnya sinar hijau ke arah kepala Thio Ki.

"Hong-moi...!" Thio Ki berteriak.

Teriakan Thio Ki ini menyelamatkan nyawanya karena sinar itu mendadak menyeleweng tidak jadi mengenai kepalanya, akan tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah!

"Sumoi...!" Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun.

Kiranya Kwa Hong sudah berdiri di atas tanah. Burung raksasa itu telah terbang ke atas sambil bercuitan. Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong bergerak ke arah lututnya dan... untuk kedua kalinya Thio Ki roboh lagi.

Thio Ki mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat Kwa Hong. Jelas bahwa wanita ini adalah Kwa Hong, wajahnya masih semanis dan secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu benar-benar menimbulkan kengerian padanya.

"Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biar pun engkau sendiri juga harus berlutut di depanku, di depan Ketua Hoa-san-pai!"

"Sumoi, apakah kau sudah gila?" Thio Ki segera melompat bangun. "Betulkah kau telah membunuh Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai? Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa gagah..."

Kata-kata Thio Ki terhenti karena ia sudah roboh kembali, kini agak parah karena ia kena ditampar pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa dahsyatnya. Mata Kwa Hong berkilat marah.

"Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap kurang ajar kepadaku! Kau bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri gagah apanya? Isterimu dibawa lari orang lain dan dipermainkan, kau enak saja di sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus!"

Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya. Mukanya pucat. "Sumoi... kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana dengan dia...? Apakah si bangsat Giam Kin..." Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, napasnya sesak karena gelisah dan marah.

"Hi-hik-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru senang rasanya terpisah dari orang yang kau kasihi, ya? Hu-hu-huuuu..." Mendadak Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena dia teringat akan dirinya sendiri yang juga tidak dapat berkumpul dengan orang yang dia cinta.

Thio Ki terkejut dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan hatinya sehingga ia tidak pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang tangan Kwa Hong. "Sumoi... demi Tuhan... katakanlah, di mana Giam Kin yang menculik isteriku...?"

Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan.

"Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah kubunuh!"

"Dan Lee Giok bagaimana...? Ahh, sumoi..." mata Thio Ki terbelalak dan sikapnya penuh ancaman, "apakah kau juga membunuh dia...?"

Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. "Kalau betul, kau mau apa?"

"Kau... kau... iblis kejam....!"

Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat kepandaiannya masih jauh lebih rendah, tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwa Hong. Dengan sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil merobohkannya.

Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san Po-kiam. "Hi-hik-hik, kau manusia rendah berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah kau!"

Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke arah leher Thio Ki. Pada saat itu sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga gerakan pedang tertahan di udara, disusul bentakan nyaring.

"Hong Hong!"

Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi baginya tidaklah terlalu mengagetkan. Yang membuat ia sangat kaget adalah suara bentakan tadi. Cepat ia memandang dan... tubuhnya tiba-tiba gemetar dan pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah.

Kwa Hong berdiri terpaku laksana patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah lebar menghampirinya, lelaki setengah tua yang berwajah kereng dan gagah perkasa, yang tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan.

"Ayah...!" Hati Kwa Hong menjerit, akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan suara yang serak.

Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api dan alisnya terangkat naik. Wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan dan sesal yang sangat besar. Laki-laki itu memang ayah Kwa Hong, yaitu Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong.

Di dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini melarikan diri dari Hoa-san bersama sumoi-nya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa sumoi-nya dari serangan pedang Lian Bu Tojin.

Kwa Tin Siong tidak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada Liem Sian Hwa, sumoi-nya sendiri itu. Sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam mencinta suheng-nya ini setelah hatinya hancur lebur oleh kelakuan tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai.

Setelah melarikan diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua saja di sebuah puncak gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib, pula karena mereka memang saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah saling setia dan menjadi suami isteri.

Dengan tekun kedua orang ini lalu memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka ketekunan mereka berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat sekali.

Betapa pun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang puterinya terhadap Hoa-san-pai, bahkan sudah membunuh Lian Bu Tojin, dia tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar Hoa-san-pai dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat dengan isterinya, ia lalu turun dari gunung dan pergi menuju ke Hoa-san-pai.

Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki sehingga ia dapat mencegahnya. Di belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah yang menggendong seorang anak kecil. Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah Kun Hong, anak suami isteri ini.

Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para tosu yang segera mengenal Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.

"Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau berubah menjadi iblis, membunuh Lian Bu Tojin sukong-mu sendiri, lalu merampas pula kedudukan ketua Hoa-san-pai, membunuh banyak orang tosu Hoa-san-pai, dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong..., bagaimana kau bisa berubah begini...?"

Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun ke pipinya dan ia hanya dapat berbisik, "Ayah..."

"Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui Lok dan Thio Bwee, melakukan perbuatan gila-gilaan di luar! Aku mendengar bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar biasa. Hemmm, sekarang aku, Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kau keluarkan kepandaianmu itu untuk membunuh ayahmu sendiri! Hayo, kau tunggu apa lagi?" Suara Kwa Tin Siong yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung penyesalan besar yang menusuk hatinya.

"Ayah..."

"Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku! Kau boleh mencoba membunuh ayahmu ini, kalau tidak akulah yang akan membunuhmu!"

"Ayah...!"

"Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia belum kiamat, tapi kasih sayang seorang gagah selalu berdasarkan kebenaran dan keadilan! Demi kasih sayangnya, seorang ayah yang gagah takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari keadilan dan kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu itu melampaui segala garis, hukumannya hanyalah mati! Apa bila aku tidak sanggup menghukum mati kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah!"

"Ayah...!"

Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya sebagai sifat pengecut. "Terimalah hukuman dariku!" Ia membentak.

Kwa Tin Siong menerjang ke depan dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah pukulan Hoa-san-pai yang amat hebat, pukulan penuh tenaga lweekang yang akan dapat membikin pecah sebuah batu besar. Maksudnya dengan sekali pukul saja hendak membunuh anaknya agar lekas selesai urusan yang menghancurkan hatinya itu.

Juga pukulan ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk yang biasa digunakan kalau keadaan sudah amat terdesak sehingga tak ada jalan keluar lagi. Walau pun amat hebat dan berbahaya bagi yang diserang, namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali dapat dielakkan atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah sekali dan tidak terjaga sehingga mudah dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan pukulan ini.

Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa puterinya itu sama sekali tidak mengelak! Betapa pun marahnya terhadap anaknya ini, tapi perasaan sayang dan kasih di hatinya masih lebih besar lagi. Karena itu, melihat sikap puterinya yang tidak mengelak atau melawan dan hanya meramkan mata menanti kematian, murid tertua Lian Bu Tojin ini perasaannya lantas melayang terbang.

Tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong sehingga gurunya sendiri, Lian Bu Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan bahwa Kwa Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan merobohkannya. Ia rela mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang diperbuat oleh Kwa Hong.

Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali ketika pukulannya sama sekali tidak ditangkis mau pun dielakkan oleh Kwa Hong yang menerimanya dengan mata meram! Untuk menarik kembali pukulan itu tidak mungkin lagi.

Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa Tin Siong mengenai tubuh Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong terjengkang roboh dan nyawanya tertolong. Serbuan oleh rajawali emas itu menyebabkan pukulan ayahnya hanya menyisakan setengah kekuatan saja ketika mengenai tubuhnya.

Sambil melengking keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong yang terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil membentak marah Liem Sian Hwa sudah menerjang maju dengan pedang di tangan.

Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit bukan main dan permainan pedangnya lihai sekali. Biar pun serangannya dapat dielakkan oleh burung itu, namun ia berhasii menyelamatkan suaminya dari cengkeraman kim-tiauw.

Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong yang tidak terluka berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari tangan Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan puluhan orang tosu Hoa-san-pai.

Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan hebat sekali. Tiap kali sayapnya menampar, sedikitnya ada dua orang tosu roboh. Patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak lawan.

Tapi jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang mengenai tubuhnya, beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di tangan Liem Sian Hwa sudah berhasil melukai kakinya sehingga mengeluarkan darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong yang agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.

Kwa Hong yang telah siuman kembali tiba-tiba mengeluarkan bunyi melengking panjang. Rajawali itu cepat terbang menyambar tubuh Kwa Hong, dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya itu terbang pergi dengan kecepatan yang luar biasa.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa serta para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh kengerian dan kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong menarik napas panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya sebentar itu ada delapan orang tosu yang tewas dan banyak yang terluka!

Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat menolak ketika para tosu mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang katanya pun terbunuh oleh Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki.

"Dia terlampau lihai," katanya. "Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak berani melawanku. Andai kata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan dapat hidup lagi."

Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan memperhebat latihan ilmu silat di antara para murid Hoa-san-pai untuk menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki tekun memperdalam ilmu silatnya.

Kwa Tin Siong lalu menyebar para tosu, berusaha menyelidiki untuk mencari kebenaran berita tentang Lee Giok. Dia juga berusaha mencari Li Cu dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi keterangan mengenai isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka.

Akhirnya karena putus asa, Thio Ki bahkan meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang tosu. Ia sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu silat di bawah pimpinan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.

Di bawah pimpinan suami isteri yang perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan kembali keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.

Semua orang kiranya akan menduga bahwa pasangan suami isteri ini tentu akan memberi gemblengan istimewa kepada putera mereka agar kelak menjadi seorang berkepandaian tinggi yang gagah perkasa. Namun dugaan ini keliru.

Mungkin sekali karena melihat akibat buruk pada diri puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu agaknya merasa kuatir kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai ilmu silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya melatih bun (ilmu kesusastraan) dan tentang agama…..

********************

‘Kakek Waktu’ mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tidak dapat dilawan oleh siapa dan apa pun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini ditelan oleh waktu, tanpa pengecualian, mempergunakan daya keampuhannya yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya menyerah kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai, yang paling gagah perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar, akhirnya akan menyerah kepada ‘Kakek Waktu’. Semua akan musnah sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang berada di hadapannya.

Yang sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakan-akan masa puluhan tahun hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, semua yang akan datang merupakan dugaan dan teka-teki yang takkan diketahui oleh seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat menguasai ‘Kakek Waktu’, karena Tuhanlah sang pengatur dan pengisi waktu dengan segala macam peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.

Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amatlah lambat ia merayap, lebih lambat dari pada jalannya siput. Akan tetapi kalau tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat dari pada terbangnya pesawat jet atau roket sekali pun
.

Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari lagi, tahu-tahu kita sudah dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke Hoa-san-pai dan menjadi Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam sekejap mata saja!

Selama itu, tidak terjadi hal-hal penting. Memang harus diakui bahwa setelah Kaisar yang baru berhasil menghalau dan membasmi semua bekas teman seperjuangan yang hendak memberontak, keadaan pada umumnya menjadi aman tenteram.

Di Puncak Hoa-san-pai juga terlihat aman dan damai semenjak terjadi keributan belasan tahun yang lalu akibat sepak terjang Kwa Hong. Sekarang banyak kelihatan para tosu Hoa-san-pai bekerja di sawah ladang, memikuli kaleng-kaleng air dari sumber. Bahkan dengan gembira mereka selalu terlihat berlatih ilmu silat Hoa-san-pai di halaman belakang kuil Hoa-san-pai yang besar itu.

Berbeda dengan belasan tahun yang lalu ketika Hoa-san-pai masih diketuai oleh Lian Bu Tojin, kini Hoa-san-pai tak lagi memiliki murid-murid muda yang bukan tojin. Orang-orang kelihatan berlatih ilmu silat di situ semua adalah tosu-tosu Hoa-san-pai belaka.

Para tosu amatlah maju kalau dibandingkan dengan dahulu. Dulu para tosu Hoa-san-pai kurang memperhatikan pelajaran ilmu silat yang agaknya diborong oleh murid-murid yang bukan tosu. Akan tetapi sekarang para tosu itu lekas kelihatan amat maju dalam pelajaran ini. Ilmu silat yang mereka mainkan amat baik dan gerakan mereka menunjukkan latihan matang.

Tujuh belas tahun bukanlah waktu singkat untuk mematangkan ilmu silat bagi para murid Hoa-san-pai yang tadinya memang sudah mempunyai kepandaian dasar. Apa lagi yang melatih mereka adalah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, sepasang suami isteri yang sudah mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai, terutama sekali ilmu pedangnya.

Juga Thio Ki yang sekarang telah menjadi tosu itu amat maju. Kini dia merupakan murid kepala dan sering kali mewakili Ketua Hoa-san-pai untuk melatih para tosu di pelataran belakang kuil.

Thio Ki yang sudah menjadi tosu mempunyai nama pendeta Thian Beng Tosu dan ia merupakan tosu yang amat tekun mempelajari ilmu kebatinan untuk menghibur hatinya yang tertekan hebat. Patut dikasihani nasib Thio Ki. Kalau ia terkenang kepada isterinya, Lee Giok yang menurut anggapannya sudah terbunuh oleh Kwa Hong, hatinya menjadi sangat perih. Hanya dengan membaca kitab-kitab Agama To yang membuat kedukaannya dapat terhibur.

Berbeda dengan Thio Ki yang sudah menjadi tosu, Kwa Tin Siong tidak masuk menjadi tosu. Hal ini adalah karena ia mempunyai isteri, maka biar pun ia sudah menjadi Ketua Hoa-san-pai, namun ia tetap menjadi ‘orang biasa’ dan bukan pendeta. Oleh karena itu pula, sebagai ketua umum Hoa-san-pai, ia lalu mengangkat Thian Beng Tosu (Thio Ki) menjadi ketua bagian Agama To, dibantu oleh beberapa orang tosu tua yang menjadi ahli dalam keagamaan ini.

Kwa Tin Siong sendiri hidup rukun damai dengan isterinya dan puteranya. Pekerjaannya sehari-hari selain memimpin para tosu Hoa-san-pai dalam ilmu silat, juga sering kali tampak ketua ini bekerja di sawah ladang bersama para tosu lainnya.

Seperti juga halnya dengan keadaan apa saja di jagat ini, bahwa segala sesuatu takkan kekal adanya, tak akan ada hujan atau terang tiada akhir, tak akan pula ada kedukaan atau kesenangan tiada akhir. Selama Kwa Tin Siong menjadi Ketua Hoa-san-pai, keadaan di puncak bukit itu memang tampak aman tenteram, penuh damai yang menyamankan hati.

Pada suatu hari yang amat sejuk hawa udaranya, amat nyaman cahaya matahari pagi menembusi halimun gunung, tanpa disangka-sangka datanglah hal-hal yang mengganggu ketenteraman Hoa-san-pai. Gangguan itu mula-mula terjadi pada malam hari tanpa ada seorang pun anggota Hoa-san-pai yang tahu.

Ketika pagi-pagi hari para tosu mulai dengan pekerjaan mereka sehari-hari, tiba-tiba saja seorang tosu berseru heran sambil menuding ke arah atas kuil. Seperti biasa, di puncak kuil itu berkibar bendera Hoa-san-pai yang berdasar kuning dengan tuiisan biru, tanda dari perkumpulan Hoa-san-pai.

Akan tetapi sekarang bendera itu agak turun dan di puncak tiang bendera berkibar sebuah bendera kecil yang asing. Akan tetapi dari bawah jelas terlihat bahwa bendera itu adalah sebuah bendera berdasar warna merah dengan sulaman macan hitam. Menaruh bendera di atas bendera Hoa-san-pai hanya mempunyai satu arti, yaitu orang hendak menghina dan merendahkan Hoa-san-pai.

Ribut-ribut di luar kuil ini menarik hati Thian Beng Tosu yang segera berlari keluar. Melihat bendera kecil itu, wajahnya segera berubah merah dan dia mengepal tinjunya menahan marah.

Tidak lama kemudian Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa juga berlari keluar diikuti oleh seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang berwajah tampan dan bersikap halus. Dia ini bukan lain adalah Kwa Kun Hong. Mereka diberi laporan oleh seorang tosu tentang peristiwa itu, maka tergesa-gesa keluar untuk rnenyaksikan.

Kwa Tin Siong sendiri, juga isterinya, tidak mengenal bendera merah dengan gambar harimau hitam itu. Akan tetapi ketika Kwa Tin Siong melihat sikap Thian Beng Tosu (Thio Ki) yang nampak marah, ia segera bertanya,

"Apakah kau mengenal bendera itu? Apa artinya ini?"

Thian Beng Tosu segera menjawab pertanyaan supek-nya. "Teecu mengenal baik. Tak nyana sama sekali bahwa kumpulan bangsat itu berani mengejar teecu (murid) ke sini, malah berani menghina Hoa-san-pai!" Ia menarik napas panjang. "Hemmm, tentu mereka telah mempunyai pimpinan orang pandai sehingga pada malam hari tanpa kita ketahui sama sekali dapat memasangkan bendera itu."

Liem Sian Hwa adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang semenjak dulu berwatak keras dan gagah. Kedua telinganya sudah merah ketika ia menyaksikan penghinaan bendera itu. Sekarang mendengar kata-kata murid keponakannya ia menjadi makin panas hatinya. "Huh, memasang bendera begitu saja apa sih hebatnya?"

Baru saja ia berkata demikian, tubuhnya sudah melesat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan tahu-tahu ia sudah meloncat tinggi di puncak tiang bendera! Tangan kirinya bergerak menyambar tiang bendera sehingga tubuhnya berjungkir-balik dengan lurus, lalu tangan kanannya membetot bendera kecil itu hingga lepas dari tiang. Kemudian, dengan sebelah tangan pula ia menaikkan bendera Hoa-san-pai di puncak tiang seperti semula.

Setelah semua ini ia lakukan dengan berjungkir balik dan dengan tangan kiri menahan tubuh di puncak tiang itu, ia menekan tiang dan tubuhnya melayang turun lagi. Ia hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan suara dan mukanya sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah mempergunakan banyak tenaga.

Para tosu berseru kagum dan memuji Sang Nyonya Ketua yang memang patut dipuji. Tak percuma Liem Sian Hwa mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), karena memang ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya telah mencapai tingkat tinggi sekali.

Kun Hong bersorak memuji, "Hebat...! Ibu seperti burung saja, ah... bukan main indahnya gerakan Hui-liong Cai-thian (Naga Terbang ke Langit) tadi!"

Seketika wajah Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong berubah terheran-heran. Mereka saling pandang, kemudian keduanya memandang kepada putera mereka dengan mata penuh selidik dan penuh pertanyaan.

Tentu saja mereka amat terheran-heran karena bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa gerakan tadi adalah gerakan Hui-liong Cai-thian? Padahal di antara para tosu, kiranya hanya Thian Beng Tosu seorang yang tahu akan ilmu meloncat Hoa-san-pai yang sukar ini, sedangkan Kun Hong sama sekali tidak pernah belajar silat semenjak kecilnya.

Hampir saja Kwa Tin Siong mengajukan pertanyaan, akan tetapi perhatian mereka tertarik oleh seruan Thian Beng Tosu, "Ahh, surat apakah yang tertempel di bendera itu?"

Semua orang melihat. Benar saja. Pada bendera kecil itu ada sehelai surat yang ditempel dengan tusukan jarum. Liem Sian Hwa lalu menyerahkan bendera berikut surat kepada suaminya yang segera mengambil surat itu dan membacanya. Keningnya berkerut setelah membaca, dan berkatalah Ketua Hoa-sanpai ini kepada semua tosu yang mengerumuni tempat itu.

"Gerombolan penjahat bermaksud buruk terhadap kita. Mulai saat ini kalian semua boleh terus bekerja seperti biasa, akan tetapi jangan berpisahan, harus berkelompok sedikitnya lima orang. Kalau ada orang asing naik ke gunung, jangan sembrono dan jangan mencari perkara. Langsung laporkan kepada kami."

Sambil berbisik-bisik dengan hati tegang para tosu itu ialu melanjutkan pekerjaan mereka. Kwa Tin Siong seanak isteri lalu masuk ke dalam mengajak Thian Beng Tosu.

"Ki-ji (Anak Ki)," kata Kwa Tin Siong. Memang sudah biasa ia memanggil Thio Ki dengan sebutan anak Ki, maka sampai Thio Ki menjadi tosu pun masih disebut demikian. "Apakah kau mengenal penulis surat ini?" Ia menyerahkan surat kecil itu kepada Thian Beng Tosu yang segera membacanya.

Apa bila dalam waktu dua belas jam Thio Ki tidak turun untuk mengantarkan nyawanya ke Im-kan-kok, terpaksa kami tidak melihat muka Ketua Hoa-san-pai lagi dan akan menyerbu Hoa-san-pai untuk mengambil nyawa Thio Ki.

Surat itu ditandai gambar harimau hitam dan tulisannya kasar lagi buruk, bukan tulisan seorang ahli. Membaca ini, seketika wajah Thio Ki atau sekarang bernama Thian Beng Tosu ini menjadi pucat, giginya beradu dan tangannya mengepal, surat itu diremasnya.


"Keparat betul Bhe Lam Si Macan Hitam itu!" katanya.

Thio Ki atau Thian Beng Tosu lalu bercerita. Dahulu sebelum ia menjadi tosu Hoa-san-pai dan masih menjadi seorang piauwsu (pengawal barang) di Sin-yang, pernah pada suatu hari barang kawalannya dirampok oleh segerombolan perampok yang dipimpin Hek-houw Bhe Lam. Seorang pembantunya tewas dan barang kawalan itu dirampas.

Thio Beng Tosu atau dahulu masih bernama Thio Ki bersama isterinya, Lee Giok, lalu mendatangi sarang perampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya mereka dapat mengalahkan Bhe Lam dan merampas kembali barang kawalannya. Bhe Lam berhasil melarikan diri setelah menderita luka berat.

"Demikianlah, Supek. Agaknya Bhe Lam itu tidak melupakan urusan lama dan biar pun teecu sudah menjadi tosu di sini, dia masih terus mencari teecu dan hendak membalas dendam. Perkenankan teecu pergi untuk menemuinya dan sekali ini teecu tidak akan tanggung-tanggung membasminya agar ia tidak mengacau ketenteraman dunia." Setelah berkata demikiah Thian Beng Tosu lalu bergerak hendak pergi mencari musuh besarnya.

Kwa Tin Siong menggerakkan tangan mencegah.

"Nanti dulu, jangan kau terlalu sembrono dan tergesa-gesa. Kalau dahulu dia pernah kau kalahkan dan sekarang berani datang menantang, sudah tentu dia mempunyai andalan yang kuat. Kalau tidak demikian, tak mungkin ia bersikap menantang. Pula, kalau hendak menuntut balas, mengapa harus sampai belasan tahun lamanya? Kita harus hati-hati dan jangan gegabah. Dengan mendatangi Hoa-san-pai, memasang bendera untuk menghina bendera kita, itu saja menunjukkan bahwa ia memandang rendah kepada Hoa-san-pai. Setelah ia berbuat demikian jauh, bagaimana aku bisa tinggal diam saja?"

"Yang amat mengherankan adalah tempat ia menanti di Im-kan-kok," kata Liem Sian Hwa sambil mengerutkan keningnya. "Im-kan-kok adalah tempat suci yang juga menjadi tempat larangan bagi kita, kenapa musuh justru menanti di sana? Thio Ki, kau harus berhati-hati, benar pendapat supek-mu, kita semua harus menghadapi urusan ini bersama."

Tiba-tiba Kun Hong tertawa, "Orang itu sungguh tak tahu diri sekali berani mengganggu Hoa-san-pai. Twa-suko jangan takut, orang itu memberi waktu dua belas jam, tentu nanti tengah hari ia datang. Biarkan ia datang, hendak kita lihat bagaimana macamnya. Untuk mendatangi undangannya ke Im-kan-kok hanya akan membuat dia lebih leluasa mengatur jebakan."

"Hushh, kau tahu apa tentang urusan ini?" ibunya membentak.

Kwa Tin Siong teringat akan sesuatu dan dia lalu bertanya dengan suara bengis, "Kun Hong, kau tadi tahu akan gerakan ibumu, dari mana kau tahu? Hayo bicara, jangan kau sembunyikan sesuatu dariku!"

Leher Kun Hong mengkeret ketika ia dibentak ayahnya, wajahnya menjadi merah dan ia menjawab gugup, "Ahh, tidak sekali-kali aku melanggar larangan Ayah. Aku tidak pernah mempelajari ilmu silat, hanya aku telah membaca catatan Ayah dan Ibu tentang ilmu silat Hoa-san-pai. Mempelajari tidak boleh, kalau membaca kan tidak ada larangan, bukan? Aku memang suka membaca apa saja, Ayah."

Diam-diam Ketua Hoa-san-pai ini tertegun. Membaca begitu saja tanpa mempelajari prakteknya, namun sudah dapat melihat gerakan orang, benar-benar hal ini amat luar biasa dan membutuhkan kecerdikan yang jarang bandingannya. Ia kagum dan juga bangga sekali, akan tetapi mulutnya berkata, "Hemm, lain kali kau tidak boleh membaca segala macam kitab pelajaran ilmu silat"

"Baik, Ayah," kata Kun Hong sambil tunduk.

Karena menguatirkan keselamatan puteranya yang tidak pandai ilmu silat, Kwa Tin Siong hendak menyuruh puteranya itu tinggal saja di kamarnya. Akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan perintah, tiba-tiba seorang tosu masuk dan melaporkan bahwa ada tiga orang tosu tua yaitu Pak-thian Sam-lojin datang berkunjung.

Wajah Kwa Tin Siong menunjukkan perasaan girang dan heran akan kunjungan yang tak disangka-sangka ini.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner