RAJAWALI EMAS : JILID-16


Pada saat itu pula Bhe Lam berseru kesakitan dan menarik kembali tangannya. Ternyata bahwa tangannya itu tersambit sebutir buah mentah yang dilempar dari atas.

Tiba-tiba dari atas pohon meluncur benda panjang hitam yang secara kilat telah membelit pinggang Kun Hong dan... pemuda itu seperti terbang melayang ke atas pohon. Kun Hong berteriak-teriak kaget dan tahu-tahu dia sudah duduk di atas cabang pohon dekat Li Eng yang tertawa-tawa sambil mengomel.

"Kenapa kau begini tolol, membiarkan dirimu menjadi buah tertawaan orang dan menjadi bahan pukulan? Lebih baik duduk di sini menonton, kan enak?"

Kun Hong berpegangan kuat-kuat pada batang pohon yang didudukinya, masih kaget dan terheran-heran. Ketika ia melihat, ternyata bahwa gadis itu tadi telah mengereknya naik dengan sehelai sabuk sutera yang hitam dan panjang sekali. Diam-diam ia merasa kagum dan juga heran. Akan tetapi wajahnya segera berubah pucat karena tubuhnya bergoyang, ia merasa ngeri duduk di tempat yang begitu tinggi.

"Apa kau takut jatuh?"

"Ti...tidak!" Kun Hong dapat menetapkan hatinya.

Ia merasa malu kepada gadis cilik ini kalau duduk di atas cabang pohon saja ketakutan. Ia memandang ke bawah dan melihat bahwa semua orang sedang memandang ke atas.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa tadinya terkejut sekali, akan tetapi sesudah melihat putera mereka duduk dengan aman di dekat gadis bernama Li Eng itu serta mendengar percakapan mereka, kini keduanya merasa lega dan juga geli. Di atas pohon itu putera mereka akan aman, apa lagi gadis aneh itu agaknya melindunginya.

Karena ada urusan yang lebih penting dihadapi, maka mereka lalu menujukan perhatian pada Hek-houw Bhe Lam dan teman-temannya. Sekarang Kwa Tin Siong bisa menduga dengan hati lega bahwa gadis yang amat lihai itu kiranya bukan teman rombongan musuh ini, buktinya tadi menyambit tangan Bhe Lam untuk menolong Kun Hong.

Li Eng berbisik di dekat telinga Kun Hong, "Kakek ompong itu lihai sekali. Dia membunuh tosu itu dengan racun ular laut hitam yang sangat berbahaya. Hemmm, hendak kulihat siapa yang berani menjamah mayat itu..."

Kun Hong bergidik, "Dia pembunuh keji, harus ditangkap, harus diseret ke pengadilan!"

Gadis itu terkikik tertawa lalu menutup telinga Kun Hong seperti anak kecil bermain-main menggoda temannya. "Kau ini orang aneh... hi-hi-hi, menggelikan sekali. Bagaimana bisa menangkap dia?"

"Tak peduli dia lihai, dia harus tunduk kepada hukum!"

"Ssttt, jangan ribut-ribut, kau lihat saja...," gadis itu berbisik lagi.

Kun Hong merasa tidak enak sekali. Gadis itu duduk terlalu dekat dengannya, tidak hanya berendeng melainkan berhimpitan sehingga pundaknya menyentuh pundak gadis itu. Saat gadis itu berbisik, lehernya tertiup napas hangat dan hidungnya mencium bau harum yang keluar dari rambut gadis itu yang berkibar tertiup angin mengenai leher dan mukanya.

Ingin ia menjauhkan diri, akan tetapi ia tidak berani bergerak karena cabang itu demikian kecil dan bergoyang-goyang terus. Mengerikan! Terpaksa dia mengalihkan perhatiannya dan memandang ke bawah.

Pak-thian Sam-lojin baru saja menderita penghinaan hebat dari Li Eng. Oleh gadis cilik itu mereka seolah-olah dipermainkan di depan anggota Hoa-san-pai. Betul-betul memalukan betapa tiga orang tokoh besar seperti mereka telah dipermainkan sedemikian rupa oleh gadis yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw, malah yang mempergunakan ilmu silat Hoa-san-pai untuk mempermainkan mereka itu.

Mereka bertiga dapat menduga bahwa meski di luarnya Ketua Hoa-san-pai tidak senang melihat gadis itu mempermainkan mereka, namun karena gadis itu memainkan ilmu silat Hoa-san-pai, sudah barang tentu para tosu Hoa-san-pai sedikit banyak merasa bangga dan senang. Hati mereka masih penuh dengan dendam dan amarah, maka kedatangan rombongan musuh-musuh Hoa-san-pai ini hendak mereka gunakan untuk ‘mencuci muka’ mereka dan memperlihatkan kegagahan.

Orang pertama yang melangkah maju adalah Bu Tosu yang jenggotnya tinggal sepotong, sekarang panjangnya hanya sebatas leher karena tadi telah direnggut putus oleh Li Eng yang nakal. Begitu melangkah maju ia membuka mulut dan berkata dengan nyaring,

"Yok-mo, keadaan negara sedang aman dan damai, mengapa kau orang tua mencari perkara di Hoa-san-pai? Kau lihat, kami bertiga orang-orang tua dari Pak-thian sengaja datang ke Hoa-san untuk bertemu dan beramah-tamah dengan Ketua Hoa-san-pai, Kwa Sicu yang gagah. Setelah melihat kami bertiga, apa kau tidak dapat mengingat hubungan lama dan menjadi tamu yang terhormat agar kita dapat minum arak bersama?"

"Heh-heh-heh, Pak-thian Sam-lojin benar-benar seperti bunglon, plin-plan!" kata Yok-mo sambil tertawa terkokeh-kekeh, "Dahulu kau menjadi begundal Kaisar, diam-diam dahulu menganggap Hoa-san-pai sebagai musuh, walau pun di luarnya kalian berpura-pura baik. Sekarang kalian mendekati Hoa-san-pai, he-he-heh, bukankah karena kalian tertarik oleh kedudukan Ketua Hoa-san-pai? Memang bagus sekali, bagus untuk kalian tentu, itu pun kalau kalian bisa memimpin para tosu di Hoa-san."

Wajah tiga orang tosu itu menjadi merah sekali. Diam-diam Kwa Tin Siong merasa heran mendengar ini dan memandang ke arah tiga orang tamunya dengan tajam penuh selidik.

"Isteriku yang manis, katakan, bukankah tiga orang keledai tua ini teman seperjuanganmu membantu Kaisar Mongol? Heh-heh-heh."

Kim-thouw Thian-li menjebirkan bibirnya yang masih digincu merah sekali. "Memang betul, tetapi mereka ini hanya mendesak-desak apa bila ada rejeki untuk dibagikan, sebaliknya segera kabur pada waktu ada bahaya mengancam. Siapa sudi mengaku mereka sebagai teman?"

Makin merah wajah tiga orang kakek itu. "Jangan buka mulut seenaknyal" kata Kui Tosu sambil mencabut pedangnya. "Apakah kalian kira kami Pak-thian Sam-lojin takut kepada kalian?"

Bu Tosu segera menyambung. “Yok-mo, tadi aku bicara baik padamu tetapi kau malah menghina. Menurut pendapat kami, sesungguhnya tidak ada perlunya kalian memusuhi Hoa-san-pai. Apa lagi datang-datang kalian sudah membunuh seorang tosu Hoa-san-pai, benar-benar ini keterlaluan. Kalau kau mau bicara tunggulah aku menyingkirkan mayat ini, kasihan sekali saudara ini menggeletak di sini."

Dari atas pohon Kun Hong bicara perlahan, "Hemmm, aneh sekali. Tadinya ketiga orang kakek itu sombong dan keras, kenapa sekarang tosu itu begitu baik hatinya?"

"Hi-hi-hik, baik apanya? Sebentar lagi ia akan mampus!" jawab Li Eng.

"Apa maksudmu...?" Kun Hong kaget bukan main. Memang ia merasa paling ngeri kalau mendengar orang bicara tentang mati begitu gampangnya.

"Begitu ia menyentuh mayat ia akan mati...," kata pula Li Eng tak pedulikan.

Kun Hong terkejut dan cepat memandang ke bawah. Pada saat itu, dengan lagak gagah, dan hal ini terutama sekali untuk ‘mencuci muka’ mereka dari semua hinaan dan untuk memamerkan di depan para tosu Hoa-san-pai bahwa dia adalah seorang yang berhati penuh welas asih, Bu Tosu berlutut dan mengangkat mayat itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget.

Disusul oleh suara ketawa terkekeh-kekeh dari Yok-mo, Bu Tosu melepaskan lagi mayat itu. Ia cepat meloncat berdiri, akan tetapi segera terhuyung-huyung ke belakang.

"Kenapakah, Suheng...?" tanya Lai Tosu dan hendak memegang kakak seperguruannya.

"Mundur dan jangan sentuh!" seru Kui Tosu sambil mendorong pergi Lai Tosu.

Sungguh keadaan Bu Tosu amat mengerikan. Kedua tangannya menjadi kehitaman dan dia menjerit-jerit kesakitan.

"Maaf Ji-sute, terpaksa untuk menolong nyawamu!" Kui Tosu berseru dan menggerakkan pedangnya membacok.

"Crokkk!"

Kedua lengan Bu Tosu terbabat putus sebatas pergelangan tangan. Dua buah tangan yang sudah hitam sekali itu jatuh ke atas tanah dan sedikit pun tidak ada darah keluar. Mengerikan sekali.

"Bagaimana, Ji-sute?" Kui Tosu melihat penuh perhatian.

Bu Tosu masih menjerit-jerit dan ternyata warna kehitaman sudah menjalar di lengannya yang sebelah kanan, ada pun lengan kirinya yang buntung mulai mengeluarkan darah. Hal ini berarti bahwa racun itu sudah menjalar terus ke lengannya yang kanan.

Melihat ini, dengan muka sedih sekali Kui Tosu kembali menggerakkan pedangnya dan...

“Crokk!”

Lengan kanan Bu Tosu sebatas pundak terbabat putus! Dari luka di pundak itu mengucur darah merah, berarti bahwa racun itu sudah tidak berada di tubuhnya.

"Tertolong jiwamu, Ji-sute...," kata Kui Tosu dengan lega.

Akan tetapi tiba-tiba Bu Tosu mengeluarkan suara serak yang amat keras dan tubuhnya yang sudah tak bertangan lagi itu menerjang maju, kepalanya menyeruduk ke arah perut Yok-mo.

Kakek iblis ini terkekeh-kekeh lagi, tangan kanannya bergerak dan ujung tongkat hitamnya menotok ubun-ubun kepala lawannya. Tanpa mengeluarkan suara lagi Bu Tosu langsung roboh dan... tubuhnya berubah menjadi hitam. Kiranya ujung tongkat itu mengeluarkan racun yang amat hebatnya.

"Keparat keji!" teriak Kui Tosu dan Lai Tosu yang cepat mengerjakan pedang mereka menggempur Yok-mo.

Oleh karena urusan Hoa-san-pai belum disinggung-singgung dan pertempuran antara tiga orang tamunya melawan pihak musuh ini terjadi karena pembunuhan atas diri Bu Tosu, maka Kwa Tin Siong ragu-ragu dan belum mau turun tangan. Dia hanya melihat betapa dua orang tosu itu mengeroyok Yok-mo.

Juga dari pihak Yok-mo, hanya seorang iblis tua ini saja yang bergerak dan menghadapi pengeroyokan itu. Kim-thouw Thian-li, Bhe Lam yang lain-lain hanya menonton. Bahkan Kim-thouw Thian-li hanya tersenyum mengejek saja, seolah-olah pertempuran yang terjadi antara suaminya dan dua orang tosu itu hanya main-main saja.

Di atas pohon terjadi keributan. Dengan muka pucat Kun Hong melihat semua itu. Hatinya ngeri bukan main, tubuhnya menggigil, tapi ia masih dapat memandang kepada Li Eng dengan mata melotot marah.

"Kau... kau gadis berhati kejam. Jadi kau sudah tahu bahwa siapa yang memegang mayat itu akan mati?"

Li Eng balas memandang, masih tersenyum lalu mengangguk lucu. Bibirnya tertutup tapi mulutnya bergerak-gerak seakan-akan giginya menggigit-gigit sesuatu dan kebiasaan ini membuat ia nampak makin manis saja.

Bukan kepalang kemarahan Kun Hong. "Kau... kau patut dihajar!"

Tangannya diangkat, lalu digerakkan menampar pipi kiri gadis itu. Li Eng dengan enaknya menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu mengenai angin saja dan... tubuh Kun Hong terguling dari atas cabang.

Dalam kemarahannya tadi ia sampai lupa kalau ia duduk di atas cabang pohon, maka ia berani menampar sekuat tenaga. Karena tamparannya tidak mengenai sasaran, maka ia terpelanting dan jatuh!

Tubuh Kun Hong tiba-tiba terhenti di tengah udara. Ia merasa pinggangnya dilibat sutera hitam, lalu perlahan-lahan tubuhnya dikerek naik, bukan di cabang yang tadi, melainkan di sebuah cabang yang berada paling tinggi di pohon itu. Di situlah ia didudukkan, di atas cabang yang kecil sehingga cabang itu melengkung dan bergoyang-goyang pada saat ia duduk diatasnya. Li Eng sambil tertawa turun lagi dan duduk di atas cabang besar yang tadi, jauh di bawah Kun Hong.

"Heee..., turunkan aku...!" Kun Hong berteriak-teriak sambil memeluk ranting-ranting yang berada di dekatnya. Bukan main ngerinya melihat ke bawah, begitu tinggi tempatnya dan cabang itu bergoyang-goyang keras.

Li Eng menoleh ke atas, tersenyum mengejek. "Diamlah, jangan berteriak-teriak dan lebih baik nonton pertunjukan hebat di bawah. Kalau kali ini kau banyak bergerak dan jatuh, aku malas untuk menolongmu lagi."

Menghadapi gadis yang nakal itu, Kun Hong yang biasanya pandai berdebat dan tak mau kalah, menjadi diam dan memeluk cabang kuat-kuat sambil memandang ke bawah. Apa yang dilihatnya di bawah membuat ia semakin ngeri. Ia melihat betapa kedua pihak, yaitu pihak Hoa-san-pai dan pihak Bhe Lam dan teman-temannya, kini sudah mulai bertempur sehingga terlihat seperti perang kecil.

Ternyata bahwa Kui Tosu dan Lai Tosu tak dapat menandingi permainan tongkat Yok-mo yang luar biasa dan amat ganas itu. Kakek ompong bongkok ini biar pun dikeroyok dua oleh Kui Tosu dan Lai Tosu yang memiliki tingkat ilmu pedang yang tinggi, tidak menjadi gugup. Terutama sekali ia mengandalkan kepada tongkat hitamnya yang benar-benar membuat dua orang tosu itu agak jeri dan ngeri mengingat akan keampuhan racun yang berada dalam tongkat itu. Makin lama makin terdesaklah Kui Tosu dan Lai Tosu.

Melihat keadaan demikian itu, hati Kwa Tin Siong menjadi tidak enak sekali. Memang harus diakui bahwa kedua orang tosu ini bertempur untuk membalas kematian saudara mereka, dan tak ada hubungannya dengan Hoa-san-pai. Akan tetapi maksud kedatangan mereka mula-mula adalah untuk membantu Hoa-san-pai sungguh pun tadi ia meragukan akan maksud-maksud tersembunyi lain yang masih belum terbukti. Andai kata tiga orang tosu tua itu tidak datang ke Hoa-san-pai di saat Hoa-san-pai didatangi musuh-musuh, sudah pasti mereka takkan menemui kesulitan, Bu Tosu tak akan tewas dan kedua orang tosu itu tidak akan bertempur melawan Yok-mo yang lihai itu.

Namun, Kwa Tin Siong tetap merasa enggan untuk ikut mencampuri pertempuran ini. Dia adalah seorang Ketua Hoa-san-pai, maka untuk menjaga nama baik Hoa-san-pai, segala sepak terjangnya ia perhitungkan betul.

Pada saat ia meragu, tiba-tiba saja Hek-houw Bhe Lam sambil tertawa melangkah maju menghadapi Thian Beng Tosu dan berkata, "Thio Ki, meski pun kau sudah menyamar sebagai tosu, jangan kira kau akan terlepas dari tanganku!"

"Bhe Lam, sungguh sayang sekali bahwa selama belasan tahun ini kau masih belum mau kembali ke jalan benar. Pinto tidak menyamar, memang pinto sekarang bukan Thio Ki lagi melainkan Thian Beng Tosu dan kalau kau masih saja menaruh dendam atas hukuman yang jatuh kepadamu ketika kau melakukan kejahatan dahulu, majulah. Kali ini pinto tidak akan memberi ampun lagi kepadamu."

"Ha-ha-ha, keledai busuk yang sombong. Kematian sudah di depan mata masih hendak berlagak lagi?"

Hek-houw Bhe Lam meloloskan golok besarnya dan segera maju menerjang. Thian Beng Tosu juga sudah mencabut pedangnya dan dua orang musuh lama ini segera bertanding.

Melihat betapa pihak lawan sudah mulai menyerang, Kwa Tin Siong membuang keraguan hatinya dan segera dia berseru keras, "'Toat-beng Yok-mo, sebagai seorang tokoh besar tidak seharusnya kau mengacau Hoa-san-pai. Aku yang bertanggung jawab di sini, tidak bisa membiarkan kau menyebar kematian!"

Dengan Hoa-san Po-kiam di tangannya dia lantas melompat ke gelanggang pertempuran, membantu Kui Tosu dan Lai Tosu yang sudah terdesak hebat sekali oleh tongkat hitam di tangan Yok-mo itu. Makin hebat pertandingan itu, dan Toat-beng Yok-mo tetap melayani tiga orang lawannya sambil terkekeh-kekeh.

Kim-thouw Thian-li sudah mencabut pedangnya dan di lain saat ia sudah dihadapi oleh Liem Sian Hwa yang juga sudah memegang pedang telanjang. Dua orang musuh besar ini saling berhadapan dan saling memandang penuh kebencian.

Memang semenjak dahulu Sian Hwa sangat membenci Ketua Ngo-lian-kauw ini. Wanita inilah yang mendatangkan segala penderitaan bagi dia dan Hoa-san-pai, membuat dirinya harus kehilangan tunangannya, yaitu Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Gara-gara wanita ini pula maka ia dan suaminya yaitu Kwa Tin Siong bekas suheng-nya, lari dari Hoa-san-pai dan suaminya itu sampai terbabat putus tangan kirinya.

Kini wanita ini berani kembali datang mengacau Hoa-san-pai, mengacau penghidupannya yang sudah belasan tahun dalam ketenteraman. Dapat dibayangkan betapa kemarahan dan kebenciannya memuncak.

"Siluman betina dari Ngo-lian-kauw, hari ini aku Liem Sian Hwa harus mengadu nyawa denganmu!"

"Hemmm, perempuan tak tahu malu, kebetulan sekali kalau kau sudah bosan hidup. Hayo majulah, aku akan mengantarmu ke neraka!" Kim-thouw Thian-li mengejek.

Sian Hwa berseru keras dan pedangnya berkelebat menyerang, ditangkis oleh Kim-thouw Thian-li. Mereka pun segera terlibat dalam pertempuran dahsyat yang mati-matian.

Sementara itu, tanpa dikomando lagi, para tosu Hoa-san-pai sudah maju menyerang tiga puluh orang pengikut Bhe Lam dan terjadilah perang kecil yang diikuti teriakan-teriakan sehingga keadaan di puncak Hoa-san-pai yang biasanya tenang dan damai itu sekarang menjadi kacau dan gaduh.

Dalam hal ini Hek-houw Bhe Lam salah hitung. Ia masih mengira bahwa tosu Hoa-san-pai adalah tosu-tosu yang hanya pandai membaca kitab saja. Ia tidak tahu akan perubahan di Hoa-san-pai semenjak Kwa Tin Siong menjadi ketua.

Sekarang jauh berbeda dengan dulu. Setiap orang tosu Hoa-san-pai adalah ahli-ahli silat yang tekun melatih diri sehingga rata-rata mereka mempunyai kepandaian yang lumayan. Apa lagi jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada anak buah Bhe Lam sehingga anak buahnya itu setiap orang harus melawan sedikitnya tiga orang tosu!

Memang, apa bila melihat para pemimpinnya, terlihat Bhe Lam sudah memperhitungkan masak-masak bahwa tokoh-tokoh yang menyertainya itu akan mampu mengalahkan para pimpinan Hoa-san-pai. Akan tetapi, dalam hal anak buahnya, benar-benar ia salah hitung.

Anak buahnya memang para perampok yang kejam dan yang sudah biasa menghadapi pertempuran. Akan tetapi berhadapan dengan jumlah banyak, apa lagi yang memiliki ilmu silat Hoa-san-pai asli, anak buahnya tak dapat berkutik. Sebentar saja korban di pihaknya bergelimpangan!

Toat-beng Yok-mo tidak saja amat hebat dalam ilmu pengobatan, juga ilmu silatnya bukan main tingginya. Hal ini tidaklah aneh jika diingat bahwa ia masih keturunan langsung dari pada Yok-ong (Raja Obat) yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu. Walau pun dikeroyok tiga, ia masih mampu mengimbangi permainan tiga orang lawannya, malah dengan tongkatnya ia mampu mendesak Kui Tosu dan Lai Tosu.

Baiknya Kwa Tin Siong tadi segera maju. Terhadap pedang Ketua Hoa-san-pai ini dia tak berani main-main. Ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimainkan Kwa Tin Siong benar-benar telah mencapai tingkat tinggi sehingga mengganggu pergerakannya. Apa lagi pedang itu adalah pedang Hoa-san Po-kiam yang ampuh.

Pertandingan antara Thian Beng Tosu dan Hek-houw Bhe Lam juga ramai sekali. Boleh dibilang kepandaian dua orang ini berimbang karena ternyata selama ini Bhe Lam sudah memperdalam ilmu kepandaiannya. Si Macan Hitam itu mainkan goloknya dengan ilmu golok dari utara yang mengandalkan tenaga, maka sekarang dilayani dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang mengandalkan tenaga lembut serta kecepatan, pertempuran ini ramai sekali dan seimbang. Sinar golok dan pedang bergulung-gulung menyilaukan mata dan di antara siutan desing kedua senjata ini terdengar seruan-seruan dan bentakan Hek-houw Bhe Lam.

Sementara itu, di lain bagian, Kim-thouw Thian-li mendesak Liem Sian Hwa dengan hebat. Ketua Ngo-lian-kauw ini seperti biasa bersenjatakan sebatang golok dan sehelai selampai merah. Ilmu pedang Liem Sian Hwa cepat dan ganas, gerakan tubuhnya ringan bagaikan burung menyambar-nyambar.

Memang tak mengecewakan nyonya ini memiliki julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) karena permainan pedangnya demikian cepat sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung menelan lenyap bayangannya sendiri. Akan tetapi kini menghadapi Kim-thouw Thian-li, ia menemukan tandingan yang berat.

Tingkat kepandaian Ketua Ngo-lian-kauw ini memang lebih tinggi dari padanya, apa lagi setelah Kim-thouw Thian-li mewarisi ilmu pedang Im-sin Kiam-sut dari gurunya, Hek-hwa Kui-bo, biar pun hanya beberapa jurus. Di samping ini, ilmu pedangnya Ngo-lian Kiam-sut yang dibantu dengan sambaran-sambaran selampai merahnya, benar-benar sangat lihai dan berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, barulah Sian Hwa dapat mengimbanginya, namun tetap saja pihak lawan lebih sering melancarkan serangan dari padanya.

Pada suatu saat, secara aneh selampai merah itu menyambar dan melibat pedang Sian Hwa. Terjadilah tarik menarik dan dalam saat yang berbahaya ini, golok di tangan kanan Kim-thouw Thian-li menyambar ke arah leher Sian Hwa!

Bingung sekali Sian Hwa menghadapi ini. Pedangnya belum dapat ia lepaskan dari libatan selampai dan serangan golok itu tak mungkin ia elakkan tanpa meloncat mundur. Apakah ia harus melepaskan pedangnya?

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kim-thouw Thian-li menjerit, "Keparat curang!"

Dan Ketua Ngo-lian-kauw ini menarik kembali golok dan selampainya sambil melangkah mundur. Ternyata dari atas pohon sudah menyambar sebutir buah mentah yang tepat menghantam jalan darah di dekat sikunya sehingga ia merasa tangannya lumpuh. Itulah perbuatan Li Eng yang sekarang tertawa-tawa di atas pohon sambil menonton jalannya pertandingan. Tadi ketika ia melihat keadaan Sian Hwa terancam bahaya, ia segera turun tangan dan membantu.

Baik Sian Hwa mau pun Kim-thouw Thian-li tahu akan campur tangan gadis di atas pohon itu, karena tadi pun mereka sudah melihat kelihaian gadis aneh itu yang menolong Kun Hong dari serangan Bhe Lam menggunakan sambitan serupa.

"Siluman cilik, apa kau sudah bosan hidup?" Kim-thouw Thian-li memaki sambil goloknya diacung-acungkan ke arah Li Eng di atas pohon.

"Hi-hi-hi, siluman besar, kau sudah tua tentu kau akan mati lebih dulu dari padaku!" jawab Li Eng. Sambil menjawab sekaligus kedua tangannya diayun ke depan, maka puluhan butir buah mentah itu menyambar ke arah delapan belas jalan darah di tubuh Kim-thouw.

Ketua Ngo-lian-kauw ini kaget sekali. Ia cepat memutar goloknya menangkis, akan tetapi masih ada tiga butir ‘senjata rahasia’ yang mengenai tubuhnya. Baiknya buah itu biar pun masih mentah tapi tidak seberapa keras dan lweekang-nya sendiri sudah amat kuat maka ia tidak terluka parah, hanya merasa gemetar dan lumpuh di bagian yang kena sambit.

Pada saat itu, Sian Hwa tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini. Bagaikan seekor burung walet ia lalu menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyilaukan mata. Kim-thouw Thian-li berusaha menangkis, namun meleset tangkisannya karena pada saat itu ia masih belum dapat menguasai dirinya karena sambitan Li Eng tadi.

Pedang di tangan Sian Hwa bagaikan kilat menyambar menusuk lehernya. Ia membuang diri ke belakang sambil miringkan bagian atas tubuhnya sehingga pedang itu tidak tepat mengenai leher melainkan menyambar pundaknya.

Kim-thouw Thian-li menjerit kesakitan, pundaknya tertusuk pedang. Cepat dia melompat berjungkir-balik ke belakang lalu... melarikan diri secepatnya dengan pundak bercucuran darah!

Sebetulnya Lim Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu ia mendengar pekik mengerikan dan ketika ia menengok ke arah gelanggang pertempuran, ternyata Kui Tosu terkena tusukan tongkat Toat-beng Yok-mo hingga tubuhnya menjadi hangus, sedangkan di saat berikutnya Lai Tosu terkena hantaman tangan kiri kakek bongkok yang lihai itu sehingga kepalanya pecah dan tewas di saat itu juga! Bukan main hebatnya kepandaian Yok-mo yang merobohkan dua orang lawannya dalam keadaan tertawa-tawa.

Terkejut hati Liem Sian-Hwa. Ia membatalkan niatnya mengejar Kim-thouw Thian-li dan cepat ia melompat dekat suaminya lalu langsung mengeroyok Yok-mo. Kalau tadi dibantu oleh dua orang tosu tua itu saja suaminya tidak mampu mengalahkan Yok-mo, apa lagi sekarang seorang diri. Karena inilah maka Sian Hwa lalu membantu suaminya dan suami isteri ini dengan mati-matian lalu mengeroyok Yok-mo yang masih saja melayani mereka sambil tertawa-tawa.

Baru setelah melihat Sian Hwa menerjangnya, kakek bongkok itu nampak kaget.

"Ehh, ehhh... mana isteriku?"

"Sudah terluka pundaknya dan kabur. Sekarang giliranmu untuk mampus!" bentak Sian Hwa.

Ucapan ini membuat Yok-mo marah bukan main. Dengan seruan seram seperti teriakan binatang buas ia menerjang dengan tongkatnya yang hebat, kini tidak tertawa-tawa lagi, dan gerakan tongkatnya benar-benar luar biasa sekali membuat suami isteri itu terdesak hebat.

Pertempuran antara anak-anak buah Hek-houw Bhe Lam dan para tosu Hoa-san-pai tidak berlangsung lama. Karena kalah banyak dan para tosu Hoa-san-pai sekarang rata-rata juga pandai ilmu silat, sebentar saja tiga puluh orang pengikut Bhe Lam itu roboh semua, tewas atau terluka. Tak seorang pun berhasil melarikan diri.

Melihat keadaan ini, apa lagi tadi melihat Kim-thouw Thian-li sudah melarikan diri, hati Bhe Lam menjadi keder juga dan karena itu permainan goloknya lantas menjadi kacau-balau. Kesempatan baik ini dipergunakan oleh Thian Beng Tosu untuk mempercepat permainan pedangnya dan dengan serangan miring dari samping kiri, sesudah memancing dengan sebuah tendangan, ia berhasil melukai lengan kanan Bhe Lam.

Kepala rampok ini terluka parah. Dia berteriak marah dan menyambitkan piauw dengan tangan kirinya ke depan. Thian Beng Tosu cepat membuang diri ke kanan dan dua buah senjata rahasia piauw meluncur lewat di dekat lehernya. Ketika ia memperbaiki kembali posisinya, ternyata lawannya sudah lari jauh.

"Hek-houw, kau hendak lari ke mana?" Thian Beng Tosu cepat melompat dan mengejar musuh besarnya itu.

Ada pun Kun Hong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan secara besar-besaran yang terjadi di dalam pertempuran ini, mukanya menjadi pucat, napasnya sesak dan matanya melotot lebar.

"Celaka... celaka... bagaimana Hoa-san-pai bisa menjadi begini...?" Berulang-ulang dia berseru dengan ngeri dan panik.

Sekarang yang bertempur di bawah hanya tinggal kedua orang tuanya yang mengeroyok Toat-beng Yok-mo. Melihat betapa semua teman kakek bongkok itu tewas atau terluka dan ada yang lari, Kun Hong menjadi kasihan sekali. Peristiwa hebat yang ia saksikan di bawah itu sama sekali tak pernah terduga dapat terjadi.

Ia yang selalu belajar tentang kebajikan, tentang KeTuhanan dan peri kemanusiaan, tentu saja dalam mimpi pun belum pernah melihat manusia saling bunuh seperti ini. Semua ini membuat ia lupa akan ketakutan berada di atas cabang kecil di tempat begitu tinggi. Ia melihat gadis nakal itu masih saja duduk dengan kedua kaki tergantung dan tertawa-tawa.

Ia teringat bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang aneh. Maka cepat Kun Hong melorot turun dari cabang yang didudukinya dan tanpa takut sedikit pun ia melalui cabang-cabang mendekati Li Eng. Gadis itu sampai terkaget-kaget ketika tahu-tahu pemuda itu berada di dekatnya.

"Ehhh, kau berani turun?" tanyanya heran.

"Kau... kau tolonglah aku... kau turunlah dan pergunakan kepandaianmu untuk melerai mereka. Jangan biarkan ayah ibu membunuh orang atau terbunuh..."

Gadis itu tersenyum lebar sehingga kelihatan deretan giginya putih mengkilap dan teratur rapi seperti mutiara berderet. "Jadi kau ini anak mereka? Anak Ketua Hoa-san-pai? Kok aneh benar, orang-orang Hoa-san-pai itu biar pun kepandaiannya tidak tinggi tapi cukup bersemangat dan gagah, kenapa anaknya keluar tikus seperti kau?"

"Kau mau menolong tidak?" tanya Kun Hong gemas.

Gadis itu menggelengkan kepala. "Ketua Hoa-san-pai she Kwa adalah orang yang harus kubunuh, juga kakek bongkok itu aku tidak suka, mengapa aku harus melerai mereka? Biarlah mereka saling bunuh. Hi-hi-hik!"

Kun Hong tahu bahwa dia tidak dapat memaksa gadis itu, maka dia lalu melorot turun dengan susah payah dari pohon itu, ditertawai oleh gadis itu yang kembali menggodanya. "Hi-hi-hik, kau seperti anak monyet menuruni pohon!"

Kun Hong tidak pedulikan lagi padanya. Setelah tiba di bawah dia lalu lari menghampiri medan pertempuran. Ia bergidik pada waktu berlari melalui mayat-mayat manusia yang menggeletak di kanan kiri, ngerinya bukan main.

"Ayah... Ibu... sudahlah, jangan berkelahi lagi... sudah terlalu banyak korban...!" teriaknya berulang-ulang sambil mendekati pertempuran yang sedang hebat-hebatnya itu.

"Kun Hong, pergi...!" ibunya berteriak kaget melihat puteranya berani mendekati tempat itu.

Akan tetapi Kun Hong nekat dan makin dekat. "Jangan bunuh orang lagi, Ibu... ah, celaka sekali... bagaimana Hoa-san bisa menjadi tempat penyembelihan manusia...?" Kun Hong hampir menangis.

Akan tetapi pada saat itu ayahnya berseru, "Pergi kau...!"

Dan sebuah tendangan membuat Kun Hong terpelanting sejauh lima meter lebih. Ayahnya telah menendangnya! Biar pun ia tidak merasa sakit, tapi Kun Hong merangkak bangun dengan mata terpentang lebar. Bagaimana ayahnya sudah berubah begitu ganas? Dia sendiri malah ditendangnya!

Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak mengetahui bahwa dengan mendekati tempat pertempuran itu, nyawanya berada di dalam bahaya karena gerakan tongkat Yok-mo dan pedang ayah serta ibunya mengandung tenaga lweekang yang hawa pukulannya saja akan cukup membuat Kun Hong tewas. Tidak tahu pula ia bahwa tendangan ayahnya tadi adalah usaha untuk menjauhkan dia dari tempat berbahaya itu.

Kebetulan sekali Kun Hong terpelanting ke dekat tumpukan mayat-mayat para anak buah perampok. Ia melihat mayat-mayat itu dalam keadaan luka hebat, malah ada di antaranya yang belum mati, terluka parah dan mengaduh-aduh. Darah berceceran di mana-mana.

Kun Hong merasa hendak muntah melihat itu semua. Ia lalu bangkit berdiri, memegangi kepalanya sambil mengeluh, "Keji... kejam sekali... ah, tak sudi aku melihatnya...," Ia lalu lari tersaruk meninggalkan Puncak Hoa-san.


Sementara itu, Toat-beng Yok-mo masih terus mendesak suami isteri itu dengan tongkat hitamnya. Makin lama makin beratlah bagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ternyata baik dalam tenaga lweekang, apa lagi dalam ilmu silat, kakek bongkok itu masih setingkat lebih tinggi dari pada mereka.

Apa lagi setelah Toat-beng Yok-mo mendengar tentang terlukanya Kim-thouw Thian-li. Ia menjadi marah bukan main sehingga gerakan-gerakan tongkatnya mengandung ancaman maut karena digerakkan dengan penuh nafsu membalas dendam dan membunuh.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa repot sekali menghadapi amukan kakek bongkok itu. Mereka maklum bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, mereka tentu akan celaka.

Anak buah Hoa-san-pai tidak ada yang berani mencoba untuk membantu tanpa menerima perintah ketua mereka. Selain ini, mereka juga tidak berani sembarangan mendekati pertempuran yang demikian dahsyatnya, karena maklum pula bahwa kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat mereka yang sedang bertanding.

Namun demikian, jika Kwa Tin Siong mau mengeluarkan perintah, para murid Hoa-san-pai tentu tidak akan ragu-ragu dan takut-takut untuk menyerbu. Meski di antara mereka tentu banyak yang roboh binasa, kakek bongkok itu sendiri sudah pasti takkan kuat menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang.

Akan tetapi, Kwa Tin Siong adalah seorang yang berjiwa gagah. Mana mungkin ia mau mengeluarkan perintah kepada para muridnya untuk melakukan pengeroyokan? Di dalam hukum persilatan, mengandalkan banyak teman untuk mengeroyok adalah perbuatan hina yang akan menjatuhkan nama baik. Sedangkan nama baik bagi seorang gagah lebih berharga dari pada selembar nyawa. Karena inilah maka baik Kwa Tin Siong mau pun isterinya, biar pun sudah terdesak hebat dan berada dalam ancaman maut, mereka tidak mau membuka mulut minta bantuan para murid Hoa-san-pai dan melawan mati-matian.

Pada saat itu terdengarlah teriakan dari atas pohon, "Heiii, kakek bongkok buruk! Ketua Hoa-san-pai masih ada urusan dengan aku, tak boleh kau membunuhnya!"

Suara ini adalah suara Li Eng yang segera dapat mengetahui bahwa suami isteri Ketua Hoa-san-pai itu tidak akan menang melawan Si Kakek Bongkok yang mengerikan dan amat lihai itu. Kedua tangannya segera bekerja, menyambit-nyambitkan buah mentah dari pohon yang ia duduki cabangnya itu.

Sambitan gadis ini bukan main-main dan tidak boleh dipandang ringan karena dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang yang luar biasa. Sambitannya susul-menyusul dan walau pun kakek bongkok itu dikeroyok dua oleh suami isieri Hoa-san-pai sehingga tubuh ketiga orang itu berkelebatan dan berloncatan ke sana ke mari, namun sambitan-sambitan Li Eng selalu tepat menuju sasarannya, yaitu bagian-bagian lemah dan jalan-jalan darah di tubuh Toat-beng Yok-mo! Akan tetapi alangkah kaget hati Li Eng ketika melihat bahwa semua buah mentah yang ia sambitkan itu, jatuh runtuh berserakan begitu mengenai tubuh Toat-beng Yok-mo.

"Siluman cilik, tunggu saja kau, akan datang giliranmu nanti!" Yok-mo membentak dengan nada mengejek sambil memperhebat tekanan tongkat hitamnya kepada suami isteri yang sudah mandi keringat dan sudah mulai kehabisan tenaga itu.

Li Eng segera memutar otaknya. Ia dapat menduga bahwa tentu kakek itu memiliki daya kekebalan yang dapat menutup jalan darah yang terkena sambitan, maka tidak terluka oleh sambitannya. Ia segera berseru nyaring mentertawakan,

"Hee, kakek ompong! Kau hendak menyombongkan kepandaianmu, ya? Baiklah, matamu yang besar sebelah itu amat tidak menyenangkan hatiku, hendak kubikin meram semua!"

Kembali kedua tangan Li Eng bergerak. Bagaikan peluru-peluru besi buah-buah mentah itu meluncur susul-menyusul, kini yang dijadikan sasaran adalah mata yang besar sebelah di muka Toat-beng Yok-mo!

Kali ini terdengar Tok-mo berseru marah sekali. Betapa pun saktinya, tidaklah mungkin manusia dapat membikin sepasang biji matanya kebal! Dan ia maklum bahwa satu kali saja matanya terkena sambitan itu, ia akan menjadi buta.

Repot juga tangan kirinya bergerak-gerak menyampok runtuh ‘senjata-senjata rahasia’ yang tiada habisnya menyerang matanya itu. Tentu saja perhatiannya menjadi terpecah, malah boleh dibilang sebagian besar ditujukan untuk menyelamatkan kedua matanya dari serangan hebat dari atas pohon itu.

Oleh karena inilah maka Kwa Tin Siong dan isterinya mendapatkan ‘angin baru’. Melihat kekosongan-kekosongan dan kelemahan-kelemahan pada lawan, maka mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini dan segera menghujankan serangan-serangan maut.

"Ceppp!"

Ujung pedang di tangan Liem Sian Hwa menancap di pundak kiri Yok-mo. Terdengar raungan mengerikan, tangan kiri Yok-mo mencengkeram ke depan dan...

“Pletakk!” ujung pedang Sian Hwa patah.

Akan tetapi, sekali lagi Yok-mo meraung hebat ketika pedang Kwa Tin Siong menusuk lambungnya. Cepat ia miringkan tubuh dan tongkat hitamnya menghantam pedang itu.

Bukan main kagetnya Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Tangkisan tongkat hitam itu hampir saja membuat pedang Hoa-san Po-kiam terlempar dari tangannya. Kwa Tin Siong cepat melompat mundur dan terhuyung-huyung, sedangkan Sian Hwa melompat mundur sambil melihat pedangnya yang sudah buntung. Bukan main hebatnya kakek tua itu, biar pun terluka di pundak dan lambung, namun masih demikian hebatnya sehingga hampir Kwa Tin Siong suami isteri celaka.

"Aduh, keparat...!" Yok-mo menjerit ketika pinggir mata kirinya tersambar buah mentah.

"Hi-hi-hik, siluman tua, sekarang kedua matanya sipit, tidak besar sebelah lagi, tapi lebih menjijikkan...!" Li Eng menggoda.

Kemarahan Yok-mo tak tertahankan lagi. Ia telah menderita dua luka tusukan oleh suami isteri Hoa-san-pai, dan luka di pinggir mata oleh gadis nakal di atas pohon itu. Semua ini adalah gara-gara gadis di pohon itu, maka kemarahannya segera tertumpah kepada Li Eng.

"Siluman cilik, kau harus mampus sekarang!"

Tubuhnya dienjot dan dengan cepat sekali ia telah melayang naik ke atas pohon sambil memutar tongkatnya karena ia hendak membunuh gadis itu dengah sekali serang untuk melampiaskan kemarahan hatinya.

"Celaka... kita harus bantu dia...," kata Kwa Tin Siong kepada Sian Hwa.

Isterinya mengangguk menyetujui karena sepadang suami isteri ini maklum bahwa tadi mereka telah ditolong dan dibantu oleh sambitan-sambitan gadis itu. Bagaikan sepasang burung garuda, kedua suami isteri ini meloncat dan menerjang Yok-mo dari belakang.

"Krakkk... bruuuukk!"

Cabang yang tadi dipakai duduk Li Eng menjadi patah dan tumbang oleh pukulan tongkat hitam Yok-mo. Akan tetapi Li Eng tidak ikut jatuh karena tanpa diketahui penyerangnya gadis itu telah berada di cabang yang lebih tinggi lagi.

"Hi-hi-hik, kakek bongkok ompong, aku di sini!"

Akan tetapi Toat-beng Yok-mo sekarang terpaksa melayani suami isteri yang ternyata sudah mengejar dan menyerangnya.

"Hei, kakek bongkok yang tak tahu malu, apakah kau sudah menyerah dan tidak berani mengejarku? Hi-hi-hik, beranimu hanya terhadap suami isteri yang tiada guna itu. Dan kalian, suami isteri Ketua Hoa-san-pai she Kwa, jangan begitu tak tahu malu. Aku tidak minta bantuan kalian, tahu?"

Mendengar ini, Yok-mo mengeluarkan seruan marah dan kembali dia meloncat ke atas dengan tongkat hitam diputar.

Li Eng sudah siap menanti, malah dia sempat berteriak, "Manusia she Kwa jangan bantu aku, aku tidak sudi!"

Ucapan ini tentu saja membuat Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa membatalkan niat mereka membantu dan membuat mereka marah juga malu. Terpaksa mereka lalu berdiri di tengah lapangan sambil menonton.

Kembali terdengar suara hiruk-pikuk. Cabang-cabang serta ranting-ranting pohon besar itu susul-menyusul patah dan tumbang karena hantaman tongkat Yok-mo. Akan tetapi, cepat dan ringan seperti seekor burung Li Eng sudah berpindah-pindah cabang sehingga dalam waktu yang tak begitu lama pohon itu sudah menjadi pohon gundul, hanya tinggal batangnya. Kemana perginya Li Eng?

Gadis yang lihai ini ternyata sudah melompat jauh dan telah berada di sebuah pohon lain yang lebih besar dan tinggi.

"Hi-hi-hik, Toat-beng Yok-mo. Benar-benarkah engkau hendak mencabut nyawaku? Aku berani mempertaruhkan kepalamu bahwa kau tak akan mampu?"

Digoda seperti ini, Yok-mo menjadi kehilangan kewaspadaannya, menjadi makin marah. Dengan tekad bulat untuk membunuh Li Eng, ia melompat juga mengejar ke arah pohon itu.

Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika tiba-tiba ada sinar hitam meluncur memapaki tubuh yang masih terapung di udara dalam lompatannya tadi. Benda itu bagaikan seekor ular hidup yang besar dan panjang, telah mematuk ke arah leher, dada dan pusarnya dengan gerakan bertubi-tubi dan berganti-ganti.

Kalau dia tidak sedang meloncat tentu dengan mudah dia akan menghadapi serangan macam itu, akan tetapi celakanya kini tubuhnya sedang di udara. Ia memutar tongkatnya untuk menangkis, akan tetapi tiba-tiba sinar hitam yang ternyata adalah sehelai sutera itu telah melibat-libat tongkat di tangannya. Yang hebat, sutera itu seperti hidup saja karena dengan tenaga terbagi-bagi sekarang membetot-betot tongkat hitamnya dengan kekuatan yang mengagetkan.

Karena Yok-mo memaksa diri mempertahankan tongkatnya agar jangan sampai dirampas lawan, maka kekuatan lompatannya menjadi patah setengah jalan dan sekarang tubuhnya mulai jatuh ke bawah. Ia masih memegangi tongkatnya yang terlibat sutera, karena itu sekarang ia jadi menggantung pada tongkatnya!

"He-he, Yok-mo, kau seperti seekor laba-laba besar hendak bertelur!" Li Eng mengejek sambil menarik-narik suteranya sehingga tubuh kakek itu pun ikut ‘menari-nari’ di bawah gantungan.

"Siluman cilik, akan kubetot jantungmu, akan kukorek otakmu, dan kujadikan bahan obat jin-sin-tan!" Yok-mo memaki-maki sekaligus mengancam, kemudian ia merambat ke atas melalui tongkatnya.

Sebentar kemudian ia telah berhasil menyambar sabuk hitam itu, melepaskan tongkatnya dan dengan sikap liar yang mengerikan ia mulai merayap naik melalui sabuk hitam, makin mendekati tempat Li Eng duduk, yaitu di sebuah cabang besar.

"Hemmm, bocah liar itu mencari penyakit!" gumam Kwa Tin Siong.

Ia sebetulnya tidak ingin melihat gadis yang aneh dan pandai ilmu silat Hoa-san-pai itu celaka di tangan Yok-mo, akan tetapi karena bocah itu sendiri melarang ia membantu, tentu saja ia malu untuk turun tangan.

"Melihat sikapnya, ia pun tentu bukan murid orang baik," kata Liem Sian Hwa. "Akan tetapi dia demikian cantik dan muda, kasihan kalau sampai mengorbankan nyawa di tangan Yok-mo. Apa lagi disengaja mau pun tidak dia tadi telah menolong kita. Tunggu saja, bila dia terancam, tidak peduli dia tidak suka dibantu, kita turun tangan."

Kwa Tin Siong menyetujui usui isterinya ini. Maka, mereka lalu siap-siap di bawah pohon untuk membantu apa bila sewaktu-waktu gadis itu terancam bahaya di tangan Yok-mo yang mukanya sudah merah hitam saking marahnya itu.

"Monyet tua, kau mau buah mentah? Nih, makan!"

Dan segera menghujanlah buah-buah mentah ke arah tubuh dan muka Yok-mo. Karena sambaran buah-buah itu sebagian besar ditujukan pada kedua matanya, terpaksa Yok-mo menundukkan muka, meramkan mata dan menutup jalan-jalan darah yang berbahaya agar jangan sampai tertotok oleh sambitan-sambitan itu.

Sementara itu ia merambat terus ke atas, semakin mendekati Li Eng. Ia merasa betapa luka-luka di pundak dan lambungnya mengucurkan darah dan terasa sakit sekali. Akan tetapi dengan mengeraskan hati, kakek yang sudah marah karena dipermainkan Li Eng ini terus mengerahkan tenaga merayap ke atas.

Hampir ia mencapai tempat Li Eng dan ia pun telah mengangkat tongkat hitamnya untuk menyerang gadis itu. Tiba-tiba saja tubuh Yok-mo meluncur ke bawah dan baru berhenti setelah ia hampir menyentuh tanah.

Yok-mo memaki-maki, kiranya sutera hitam itu diulur oleh Li Eng! Sambil memaki-maki Yok-mo merayap lagi, merambat ke atas dengan cepat sekali. Sebaliknya, Li Eng juga memaki-maki, mengejek sambil menyambit muka kakek itu dengan buah-buah mentah.

Biar pun kakek itu kebal dan tidak terluka oleh sambitan-sambitan itu, namun ia sedikitnya merasa mukanya sakit dan pedas. Ia mempercepat rambatannya ke atas dan sebentar saja ia sudah mendekati Li Eng lagi. Akan tetapi... tiba-tiba tubuhnya meluncur turun lagi sampai dekat tanah.

Sambil memutar tongkatnya melindungi muka dari sambitan buah, Yok-mo memandang dan dengan girang ia melihat bahwa kini gadis itu memegangi ujung sutera hitam. Hal ini berarti bahwa sutera yang panjang itu sudah habis dan tak akan dapat diulur lagi.

"Keparat cilik, kau hendak lari ke mana sekarang?" teriaknya sambil merambat lagi ke atas dengan cepat.

"Keparat gede!" Li Eng balas memaki. "Aku tidak lari ke mana-mana, kaulah yang jangan lari."

Begitu tubuh kakek itu sudah sampai di atas, gadis yang nakal ini sekaligus melepaskan sutera yang dipegangnya. Tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh kakek itu jatuh ke bawah! Baiknya ia memang lihai sekali sehingga jatuhnya enak saja dengan kedua kaki di atas tanah.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner