RAJAWALI EMAS : JILID-19


Kun Hong dibawa terbang jauh sekali oleh rajawali emas. Semenjak pergi meninggalkan Lu-liang-san burung ajaib ini tidak mau kembali lagi dan selama itu ia terbang dan tinggal di tempatnya yang lama, yaitu di puncak sebuah bukit yang tak pernah didatangi manusia.

Kadang-kadang ia meninggalkan tempatnya ini. Tidak seperti dulu ketika masih dipelihara oleh Kwa Hong, sekarang ia bebas lepas dan bisa pergi ke mana saja ia suka. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong.

Binatang ini memang amat mengenal budi orang. Sekali saja orang sudah melepas budi kepadanya, ia tentu akan membalasnya dengan penuh kesetiaan. Akan tetapi sebaliknya, kalau ia disakiti, ia pun akan membenci yang menyakitinya.

Tanpa disengaja Kun Hong sudah memberi katak putih yang segera dikenal dan ditelan oleh burung ajaib ini, dan karena itu selamatlah ia dari racun hebat yang melukai kakinya. Pertolongan ini membuat dia sangat suka dan setia kepada Kun Hong dan sekarang dia hendak membawa pemuda itu terbang ke tempat tinggalnya, di puncak sebuah bukit yang pada jaman dahulu dikenal sebagai Bukit Kepala Naga. Puncak ini disebut Kepala Naga karena bentuknya dilihat dari barat memang menyerupai bentuk kepala naga.

Kun Hong tidak tahu ke mana ia sedang dibawa oleh burung itu. Anehnya, pada waktu tengah hari dan malam, burung itu selalu berhenti di sebuah hutan dan tanpa diminta lagi lalu mencarikan buah-buahan yang segar dan enak untuk pemuda itu. Tentu saja Kun Hong girang sekali mendapatkan kawan yang baik. Apa lagi selamanya dia tidak pernah turun gunung, sekarang begitu turun gunung ia mengalami hal-hal yang amat aneh.

Biar pun ayahnya adalah Kwa Tin Siong dan juga menjadi ayah Kwa Hong, namun Kun Hong belum pernah diceritakah mengenai kakak perempuannya lain ibu itu, maka ia pun tak pernah mendengar tentang adanya rajawali emas. Para tosu Hoa-san-pai yang sudah dipesan keras oleh Kwa Tin Siong, tidak ada yang pernah bercerita tentang peristiwa yang mencemarkan nama baik Ketua Hoa-san-pai itu. Andai kata ia pernah mendengar tentang Kwa Hong yang datang menyerbu ke Hoa-san-pai naik rajawali emas, kiranya pemuda ini akan dapat mengenal burung itu.

Setelah lewat lima hari, tibalah burung rajawali emas itu ke puncak gunung Kepala Naga. Ia menukik ke bawah dan Kun Hong pun merangkul leher burung, mencengkeram kalung mutiara itu sambil meramkan matanya. Ia merasa ngeri sekali melihat betapa dia dibawa burung itu meluncur turun, seakan-akan hendak ditumbukkan kepada jurang-jurang dan batu-batu yang menanti di bawah, jurang-jurang yang menganga laksana mulut harimau dan batu-batu meruncing seperti ujung pedang dan golok.

Setelah burung itu hinggap di atas tanah barulah ia berani membuka sepasang matanya. Alangkah herannya pada saat ia melihat bahwa burung rajawali itu telah berdiri di depan sebuah goa yang bentuknya seperti mulut naga.

Goa batu itu amat lebar dan dalam, letaknya di depan jurang yang sangat terjal sehingga kalau bukan burung yang pandai terbang, manusia biasa kiranya tidak mungkin sanggup mendatangi tempat ini. Pemandangan alam dari tempat itu, dari depan goa itu, alangkah indahnya, seakan-akan dunia terletak di bawah kaki goa.

Kun Hong segera melompat turun dari punggung rajawali. Ia mendekati goa, akan tetapi tidak berani masuk karena ia merasa seakan-akan sedang berdiri di depan tempat tinggal seseorang sehingga ia tidak berani masuk begitu saja tanpa perkenan si pemilik tempat tinggal! Namun tiba-tiba burung itu mengeluarkan suara perlahan dan dari belakangnya burung itu pelan-pelan mendorong punggungnya, seakan-akan hendak menyuruh pemuda itu memasuki goa.

Melihat letak goa itu yang demikian sulit untuk didatangi manusia, Kun Hon lalu menduga bahwa goa itu tidak mungkin didiami oleh manusia, dan karena itu dia lalu memasukinya. Ia terheran-heran melihat bahwa di dalam goa itu terbagi menjadi tiga, yaitu bagian depan dan di sebelah dalam terdapat dua buah ruangan tertutup. Pintunya juga merupakan pintu batu, akan tetapi bentuknya jelas adalah buatan manusia!

Dengan hati berdebar-debar ia mendorong pintu batu di sebelah kiri. Akan tetapi betapa pun ia mengerahkan tenaga, pintu batu itu bergerak sedikit pun tidak! Tiba-tiba terdengar burung itu bersuara di belakangnya, lalu dengan sayap kanannya burung itu mendorong perlahan dan... pintu batu itu terbuka!

"Tiauw-ko, kau benar-benar kuat sekali!" Kun Hong memuji dan makin berdebar hatinya ketika ia melangkah masuk.

"Locianpwe (sebutan untuk orang tua yang pandai) atau arwahnya yang mulia, harap sudi mengampuni kelancanganku ini," katanya dengan bisikan perlahan.

Mulailah ia merasa seram karena di dalam kamar batu ini ia melihat ada sebuah meja sembahyang! Tempat lilin yang amat kuno terletak di kanan kiri ujung meja dan di atas dua tempat lilin ini masih tertancap dua batang lliin merah. Lilin-lilin itu tak menyala, akan tetapi sisa-sisa lilin yang meleleh bekas terbakar masih kelihatan seakan-akan baru saja dipadamkan. Ketika Kun Hong mendekati, tampak nyata olehnya bahwa lilin sudah lama sekali tidak dinyalakan orang, buktinya di atasnya terdapat banyak sarang laba-laba. Di tengah-tengah meja kelihatan sebuah kitab yang tebal dan sudah tua sekali.

Ketika melihat sebuah kitab kuno, bukan main girangnya hati Kun Hong. Ingin segera dia menyambar kitab itu untuk dibacanya, akan tetapi karena sejak kecil ia dijejali pelajaran dan tata-susila, ia tidak berani melakukan hal itu.

Karena keinginannya melihat buku itu amat keras, ia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang lalu berkata keras-keras,

"Locianpwe pemilik kitab di atas meja, harap sudi memberi perkenan kepada teecu untuk mengambilnya dan membaca isinya." Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata ini sambil membentur-benturkan jidatnya pada lantai untuk memberi hormat kepada pemilik kitab yang tidak diketahuinya siapa dan yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati itu.

Ketika sedang berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di atas lantai depan meja sembahyang itu, matanya melihat ukiran-ukiran huruf kecil-kecil di bawah meja. Ukiran huruf-huruf itu sedemikian kecilnya sehingga apa bila orang tidak mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh lantai kiranya takkan dapat melihatnya.

Tidak akan ada huruf-huruf yang terlewat begitu saja oleh sepasang mata Kun Hong yang selalu haus akan bacaan, apa lagi kalau huruf-huruf itu berada di tempat yang begitu aneh dan goresan huruf-huruf itu amat indahnya. Ia segera membacanya,

'Dapat masuk berarti jodoh. Dapat membaca berarti tahu sopan santun dan murid yang baik. Untuk mengambil kitab singkirkan dahulu anak-anak panah di bawah meja. Setelah hafal kitab baru ambil pedang di kamar semedhi.'

Beberapa kali Kun Hong membaca tulisan kecil-kecil itu dan ia merasa seakan-akan surat itu ditujukan kepadanya! Setelah jelas akan pesan di dalam surat berukir yang aneh itu, ia lalu melongok ke bawah meja.

Dan betul saja, di bawah meja itu tersembunyi tiga batang anak panah yang dipasangi per sehingga kalau ada orang mengambil kitab di atas meja itu, per akan menggerakkan tiga batang anak panah tadi yang tentu akan tertendang dan menyerang orang yang berdiri di depan meja. Karena anak-anak panah itu akan menyerang dari bawah meja, kiranya tak mungkin orang akan dapat menghindarkan penyerangan gelap yang amat dekat ini.

Kun Hong bergidik. Dia cepat-cepat mengulur tangan mengambil tiga batang anak panah itu. Tercium bau yang harum dan di ujung tiga batang anak panah itu berwarna hijau. Pemuda ini dapat menduga bahwa ujung anak panah itu tentu diberi racun yang amat berbahaya.

Dengan jijik ia lalu menaruh ketiga batang anak panah itu di atas meja, lalu ia memberi hormat lagi sambil berkata, "Terima kasih atas kepercayaan dan petunjuk Locianpwe."

Ia lalu mengulurkan tangan mengambil kitab kuno itu dari tengah meja dan pada saat itu terdengarlah jepretan per di bawah meja. Biar pun sudah dapat menduga akan hal ini dan sudah yakin bahwa anak panah itu sudah ia singkirkan, namun kaget jugalah Kun Hong mendengar jepretan ini.

Dilihatnya bahwa di bawah kitab tadilah yang menghubungkan per-per itu sehingga apa bila kitab diambil per-per itu bekerja di bawah meja. Ah, kalau tadi ia berlaku lancang dan langsung saja mengambil kitab itu, sudah dapat dipastikan bahwa berbareng pada saat terdengar suara menjepret, ia akan roboh telentang dengan tiga anak panah tertancap di perutnya! Dengan kitab di tangan, Kun Hong cepat-cepat memberi hormat lalu keluar dari kamar itu.

Setibanya di ruangan depan, ternyata rajawali emas telah menantinya dan burung ini telah memperoleh banyak sekali buah-buahan, malah di antaranya terdapat seekor kelinci yang sudah mati.

"Aduh, kau mendapatkan kelinci gemuk? Sayang, Tiauw-ko, bagaimana kita akan dapat memakannya?"

Burung itu lalu mendorong Kun Hong ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah batu halus rata berbentuk meja. Di situ bertumpuk rumput-rumput kering dan dengan paruhnya burung luar biasa ini mengambil sedikit rumput kering, di taruhnya di atas meja. Kemudian ia menggerakkan kepalanya, paruhnya yang runcing dan keras seperti baja itu memukul pinggir meja dan... bunga api berpijar.

Kun Hong girang sekali dan pemuda yang cerdik ini segera dapat menangkap maksud si burung. Ia cepat-cepat mengambil rumput kering lagi dan menaruh dekat pinggiran meja. Beberapa kali burung itu memukul batu itu dengan paruhnya hingga akhirnya bunga api menyentuh rumput kering dan terbakarlah rumput itu. Dengan cara demikian Kun Hong dapat membuat api unggun dan dapat memanggang daging kelinci.

Setelah makan dan perutnya kenyang, pemuda itu mulai membuka-buka lembaran kitab kuno tadi. Pada lembar pertama terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar yang berbunyi: SALINAN IM YANG BU TEK CIN KENG.

Karena tidak tahu apa artinya Im-yang Bu-tek Cin-keng, Kun Hong membuka lembaran ke dua dan segera ia amat tertarik membaca tulisan yang bersifat keluhan dan penjelasan. Tulisan itu berbunyi demikian,

Telah bertumpuk dosa-dosaku. Ratusan orang sudah kubunuh dengan anggapan bahwa itu adalah perbuatan baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat, Anggapan yang sesat! Aku tidak mampu memberi kehidupan, lalu bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan? Aku sangat berdosa! Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapa pun jahat si manusia itu, bukanlah perbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula.’

Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang, lalu mengangguk-angguk. Betul sekali Locianpwe ini, soal mati dan hidup manusia bukanlah urusan manusia, melainkan Yang Maha Kuasa. Membunuh orang lain, bukankah itu namanya melancangi dan mendahului Tuhan? Sayang, agaknya Locianpwe ini baru sadar setelah dia melakukan pembunuhan ratusan kali. Ia membaca terus tulisan yang merupakan permulaan isi kitab itu.

Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat sakti, tiada duanya di dunia ini. Orang macam aku mana dapat menyalinnya? Pengertianku terbatas dan salinanku tentu banyak yang menyeleweng. Karena itu aku hanya menyalin apa yang kuketahui saja dan kucampur dengan gerakan-gerakan burungku rajawali emas. Karena itu maka ilmu di dalam kitab ini kuberi nama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Muridku yang membaca kitab ini harus bersumpah dalam hatinya bahwa ke satu dia tidak boleh membunuh sesama manusia dengan alasan apa pun juga. Ke dua dia tidak boleh mempergunakan ilmu ini untuk menyerang orang. Ke tiga ilmu Kim-tiauw-kun ini hanya untuk membela diri dari serangan orang, serta hanya terbatas untuk mengalahkan lawan saja.’

Kun Hong makin tertarik. "Bagus," pikirnya. "Inilah ilmu yang baik sekali. Aku sendiri paling benci melihat pembunuhan antara sesama manusia. Kalau aku dapat mempelajari ilmu ini, kiranya aku akan mampu mencegah orang-orang berkepandaian main hakim sendiri membunuhi orang sesuka hati. Kalau ada orang jahat, aku dapat gunakan kepandaian ini untuk mengalahkannya dan menangkapnya untuk diserahkan kepada yang berwajib agar dijatuhi hukuman. Bagus sekali! Locianpwe, teecu bersumpah akan memenuhi semua syarat itu."

Semenjak saat itu, dengan tekun Kun Hong membaca kitab yang berisi pelajaran ilmu silat sakti itu. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa secara tak sengaja atau sadar ia telah mewarisi ilmu silat yang bukan main hebatnya, yang hanya setaraf dengan Im-yang Sin-hoat karena dari satu sumber. Ia tidak tahu pula siapa gurunya, siapa penulis kitab itu yang hanya menandainya dengan tiga buah huruf berbunyi ‘BU BENG CU’ yang artinya ‘TIADA NAMA’!

Di samping membaca kitab Kim-tiauw-kun ini, tidak lupa Kun Hong yang dengan girang mendapat kenyataan bahwa tiga buah kitab milik Yok-mo masih berada di saku jubahnya, membaca pula tiga buah kitab pengobatan itu. Pengetahuannya tentang perjalanan darah yang secara lengkap tertulis dalam kitab Yok-mo, memperlancar pengertiannya terhadap isi kitab Kim-tiauw-kun.

Kun Hong memang memiliki kecerdasan luar biasa. Dalam waktu setahun lebih saja ia sudah mampu membaca habis empat buah kitab itu, tidak hanya membaca habis, malah sudah dapat menghafalnya di luar kepala! Tentu saja, ilmu silat tidak dapat disamakan dengan ilmu pengobatan yang cukup dihafal, melainkan harus dilatih dalam praktek.

Oleh karena di dalam kitab Kim-tiauw-kun itu terdapat peringatan bahwa si murid harus betul-betul menyempurnakan latihan gerakan kaki, maka Kun Hong juga melatih dirinya dalam gerakan ini, dalam langkah-langkah ajaib yang kadang-kadang membuat kepalanya pening dan mau muntah-muntah.

Baiknya kalau ia sedang bergerak seperti itu, burung rajawali sambil mengeluarkan suara girang tentu mendekatinya lalu bergerak-gerak persis seperti langkah-langkah di dalam pelajaran itu, sengaja memberi contoh kepadanya! Bukan main girangnya hati Kun Hong dan mulai saat itu ia selalu berlatih bersama burung rajawali emas.

Orang yang menamakan dirinya Bu Beng Cu dan yang menyalin ilmu silat itu, sebenarnya adalah orang sakti yang menyembunyikan dirinya di tempat ini karena merasa menyesal sekali akan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang jahat yang sudah banyak ia lakukan. Bu Beng Cu ini telah mewarisi sebagian dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Setelah tua dan menyesali perbuatannya, Bu Beng Cu membawa burung peliharaannya ke puncak Gunung Kepala Naga ini, menyembunyikan diri dan menuliskan sari dan pokok dari semua ilmu yang dia miliki. Bu Beng Cu terus tinggal di tempat itu sampai kemudian ia meninggal dunia dengan hanya ditemani burungnya yang setia.

Tentu saja setelah majikannya meninggal, burung itu merasa kesepian dan akhirnya ia terbang dari tempat itu sampai ia berjumpa dengan Kwa Hong dan dipelihara oleh Kwa Hong. Betapa pun juga, burung ini mempunyai perasaan atau naluri yang tajam.

Agaknya ia maklum bahwa Kwa Hong dan kemudian puteranya Sin Lee bukanlah orang yang memiliki budi luhur, maka tidak ia bawa mengunjungi goa di puncak Gunung Kepala Naga itu. Barulah setelah ia bertemu dengan Kun Hong, segera perasaan atau nalurinya menyatakan kepadanya bahwa pemuda inilah yang paling tepat untuk dihadapkan kepada peninggalan majikan tuanya.

Waktu satu setengah tahun bukanlah waktu lama untuk orang yang belajar. Akan tetapi, satu setengah tahun di dalam goa di puncak gunung yang tak pernah dikunjungi manusia, benar-benar membuat Kun Hong berubah menjadi manusia lain! Ilmu langkah ajaib itu ia sudah hafal benar sehingga dalam latihan-latihan, biar pun burung rajawali itu menyerang dirinya dengan hebat, namun tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya.

Tidak hanya dalam ilmu silat, akan tetapi juga dalam pengertiannya tentang pengobatan, membuat ia seakan-akan terbuka mata batinnya akan diri manusia. Dari pelajaran ini ia seakan-akan lebih mengenal dirinya sendiri, lebih mengenal manusia pada umumnya, tidak hanya lahiriah, akan tetapi mendalam sampai ke jalan darahnya, sampai kepada alat-alat terkecil dalam tubuh. Semua pengertian baru ini ia gabungkan dengan pelajaran yang banyak ia dapatkan dahulu tentang kebatinan, tentang kehidupan, sehingga pemuda yang baru berusia dua puluh tahun ini sekarang memiliki pandangan yang amat tajam tentang diri manusia.

Setelah hafal benar akan isi kitab Kim-tiauw-kun, barulah Kun Hong berani menghampiri pintu kamar ke dua di dalam goa itu. Seperti pintu pertama, pintu ke dua ini pun terbuat dari batu yang tebal dan berat. Akan tetapi, alangkah jauh bedanya dengan satu setengah tahun yang lalu, dengan sekali dorong saja Kun Hong dapat membuka daun pintu yang tebal itu!

Sama sekali ia tidak menjadi girang atau bangga dengan hal ini, karena sesungguhnya ia sudah tidak ingat lagi betapa dahulu tanpa bantuan rajawali emas, tidak mungkin ia dapat membuka pintu ini. Semua ini adalah hasil latihannya dalam semedhi dan pernapasan, sesuai dengan petunjuk dalam kitab Kim-tiauw-kun itu.

Tenaga dalamnya telah bangkit dan bergerak tanpa ia sadari. Hawa sakti dalam tubuh telah ada di dalam diri tiap manusia, hanya saja hawa ini seakan-akan tertidur karena semenjak kecil sampai mati tua, sebagian besar manusia di dunia ini kerjanya hanya mengumbar hawa nafsunya belaka.

Kun Hong yang sudah mengangkat sebelah kaki untuk melangkah memasuki kamar ke dua itu, mendadak menahan kakinya karena mendengar burung rajawali yang berdiri di belakangnya mengeluarkan suara aneh sekali. Seakan-akan burung itu bersusah hati dan menangis. Ketika ia menengok ke belakang, burung itu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali lalu mencoba untuk menggigit baju Kun Hong dan menariknya mundur.

"Jangan Tiauw-ko. Bagaimana pun juga aku harus memasuki kamar ini, sesuai dengan petunjuk Locianpwe bahwa setelah aku hafal akan isi kitab, aku boleh masuk ke sana dan mengambil pedang. Bukan sekali-kali karena aku ingin sekali memiliki pedang, ah, bukan, Tiauw-ko. Bagiku, sebatang pedang apalah artinya? Untuk apa pula? Akan tetapi karena Locianpwe sudah memesan, mana aku berani membangkang?"

Sesudah berkata demikian dan menghindarkan diri dari gigitan patuk burung itu, dengan tabah Kun Hong melangkah memasuki kamar yang agak gelap itu. Begitu masuk ia pun tertegun dan memandang dengan mata terbelalak ke depan.

Di ujung kamar itu terdapat sebuah kursi batu dan di atas kursi batu ini duduk sebuah... kerangka manusia! Tengkorak manusia ini masih utuh dan sepasang lubang bekas mata itu seolah-olah tengah memandang padanya. Tangan kanan kerangka ini mencengkeram sebatang pedang yang bersinar kemerahan.

Dari kaget Kun Hong berbalik menjadi terharu. Inikah kiranya Bu Beng Cu, gurunya yang meninggalkan kitab itu? Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong melangkah maju lagi, kemudian menjatuhkan dirinya berlutut di depan kerangka itu.

"Locianpwe, alangkah buruknya nasibmu, sampai meninggal pun tidak ada orang yang menguburmu..."

Ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba lantai yang diinjaknya bergoyang-goyang keras. Cepat ia meloncat bangun dan tiba-tiba dari sebelah kanannya menyambar anak panah! Kun Hong cepat menggeser kakinya, menarik tubuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu. Akan tetapi terdengar lagi suara…

"Ser-ser-ser!" dan banyak anak panah menyambarnya dari empat jurusan, sementara itu lantai masih bergoyang-goyang.

Kun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia segera memusatkan pikiran dan kedua kakinya cepat bergerak-gerak dalam langkah ajaib, tubuhnya bergerak-gerak dalam Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Sedikitnya ada lima puluh batang anak panah yang terus menerus menyambar, akan tetapi setelah pemuda ini melakukan gerak langkah ajaib, semua penyerangan itu sama sekali tak dapat menyentuhnya. Setelah anak panah habis menyambar, lantai berhenti sendiri dan yang terlihat hanyalah puluhan batang anak panah
berserakan di atas lantai.

Kun Hong tidak mengerti apa maksudnya penyerangan itu, siapa yang menyerang dan mengapa lantai bergoyang-goyang, Akan tetapi karena ia memasuki kamar ini atas pesan Locianpwe untuk mengambil pedang, ia melangkah maju terus dengan hati-hati sekali.

Dengan halus ia menarik pedang itu dari dalam tangan kerangka itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kerangka yang tadinya duduk itu menjadi runtuh dan terlepaslah tulang-tulang rangka itu berjatuhan ke atas lantai pula. Tengkoraknya pun menggelinding sampai ke tengah kamar.

Di antara tulang-tulang ini, melayang sehelai kain kuning yang ternyata ada tulisannya begini:

APA BILA KAU TERLUKA ATAU MATI, MAKA KAU TIDAK PATUT MENJADI PEWARIS KIM-TIAUW-KUN.

Setelah membawa tulisan itu, tersenyumlah Kun Hong. Kiranya semua itu merupakan ujian baginya. Locianpwe Bu Beng Cu yang aneh dan sakti ini telah mengatur sebelum tiba ajalnya, membuat semua alat rahasia itu agar setelah ia mati, ia masih dapat menguji calon muridnya, baik menguji pribudinya seperti yang ada di bawah meja sembahyang, juga menguji kepandaiannya setelah mempelajari ilmu silat itu.

Benar-benar seorang manusia yang hebat. Pantas saja burung rajawali tadi seakan-akan hendak mencegahnya memasuki kamar, agaknya burung itu sudah tahu akan bahaya ujian ini dan hendak mencegahnya memasuki kamar itu.

Sebagai seorang yang mempunyai pribudi luhur, tidak tegalah hati Kun Hong melihat kerangka orang sakti itu berserakan di dalam kamar. Ia lalu mengumpulkan kerangka itu dan dengan khidmat dibawanya kerangka itu keluar, kemudian digalinya lubang di ruang depan menggunakan pedang itu dan dikuburnya kerangka tadi. Selama dia melakukan semua ini, burung rajawali emas mengeluarkan suara keluhan seperti orang berkabung dan menangis!

Kun Hong lalu berkata kepada burung itu, "Tiauw-ko, sekarang sudah tiba waktunya aku harus pergi dari tempat ini. Kitab ini kutinggalkan di tempat semula karena aku sudah membaca semua isinya. Ada pun pedang yang indah ini, karena telah diberikan kepadaku oleh mendiang Locianpwe, akan kubawa dan kuserahkan kepada Ayah yang amat suka akan pedang-pedang pusaka."

Pemuda itu mengembalikan kitab Kim-tiauw-kun di atas meja sembahyang, sedangkan tiga buah kitab lain milik Yok-mo ia kantongi kembali karena ia hendak mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Pedang indah itu ia masukkan ke dalam sarung pedang yang sederhana dan yang ia temukan juga di kamar ke dua, lalu ia ikat di pinggang, ditutupi jubahnya. Pakaian pemuda ini sudah lapuk dan berlubang di sana-sini, maklum sudah setahun setengah ia tidak pernah berganti pakaian.

Kim-tiauw agaknya maklum bahwa pemuda itu hendak pergi. Ia kelihatan berduka, akan tetapi karena tak dapat bicara, ia hanya mengeluarkan suara mencicit seperti burung kecil.

"Nah, Tiauw-ko, tolonglah kau antarkan aku turun dari puncak ini," kata Kun Hong setelah untuk penghabisan kali ia memberi hormat kepada kuburan kerangka Bu Beng Cu.

Burung itu lalu mendekam di hadapan Kun Hong. Pemuda ini segera meloncat ke atas punggungnya dan sekali lagi pemuda ini mengalami ‘terbang’ di angkasa.

Ia masih merasa ngeri seperti dulu. Akan tetapi entah bagaimana, setelah satu setengah tahun ia melatih diri di goa itu, ia merasa hatinya lebih tenang dan tabah. Dengan gembira ia sekali lagi menyaksikan pemandangan alam yang amat luar biasa dilihat dari angkasa, dari atas punggung burung raksasa itu.


Akan tetapi, pengalaman hebat ini tak lama ia rasakan sebab burung itu segera melayang turun ke bawah kaki gunung, kemudian hinggap di atas tanah. Ia mengeluarkan suara melengking yang tidak diketahui artinya oleh Kun Hong. Akan tetapi pemuda ini segera meloncat turun.

"Tiauw-ko, kenapa hanya sampai di sini? Kalau bisa, tolong kau antarkan aku kembali ke Hoa-san."

Burung itu kembali mengeluarkan suara melengking tinggi, lalu burung itu mengangguk di depan Kun Hong tiga kali, setelah itu ia pentang kedua sayapnya dan... terbang naik lagi ke puncak.

"Ahh, jadi dia tidak mau ikut dan hendak kembali ke sana? Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan ini dengan jalan kaki."

Kun Hong tidak menjadi kecewa, malah ia merasa berterima kasih sekali kepada burung itu. Sebetulnya kalau boleh ia tidak ingin berpisah dari sahabatnya yang baik itu.

"Kim-tiauw-ko, terima kasih atas semua kebaikanmu!" ia berteriak ke arah burung yang sudah terbang meninggi.

Ia kaget dan terheran sendiri ketika suaranya itu mendatangkan gema di empat penjuru, amat nyaring teriakannya. Semuanya ini adalah berkat kemajuannya dalam latihan-latihan sehingga tanpa disadarinya, ia telah memiliki tenaga khikang yang tinggi.

Setelah burung itu lenyap, baru Kun Hong melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mengenal jalan, maka ia berjalan ke mana saja yang ia rasa senang dengan harapan untuk tiba di sebuah dusun, berjumpa orang dan menanyakan jalan ke Hoa-san.

Memang tadinya ia merasa tidak senang bila mengenang akan pembunuhan di Hoa-san dan tidak ada keinginan kembali. Akan tetapi betapa pun juga dia merasa rindu kepada orang tuanya dan ingin bertemu dengan mereka untuk menceritakan pengalamannya yang hebat bukan main…..

********************

Semenjak dunia berkembang, sudah menjadi kenyataan bahwa di dalam hidup menderita sengsara, manusia akan mencari Tuhan karena sudah kehabisan akal dan tidak berdaya untuk memperbaiki hidupnya yang penuh derita itu. Berpalinglah manusia yang menderita sengsara, mencari-cari Kekuasaan Tertinggi yang tadinya terlupa olehnya di kala ia tidak berada dalam penderitaan hidup.

Sebaliknya, di kala menikmati hidup penuh kesenangan dan kecukupan, manusia sama sekali lupa akan Tuhannya, lupa bahwa segala kesenangan yang dapat ia rasakan pada hakekatnya adalah rahmat dari Tuhan. Dalam mabuk kesenangan manusia jadi sombong, mabuk kemenangan dan kemuliaan duniawi, merasa seakan-akan semua hasil gemilang itu adalah hasil kepandaiannya sendiri.

Manusia yang sedang ditimpa kesengsaraan sering kali mencari kesalahan sendiri yang menyebabkan ia menderita, sering mengakui kesalahannya dan bertobat, berjanji takkan mengulangi perbuatannya yang sesat. Sebaliknya, di dalam mabuk kemuliaan, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain mengira bahwa dirinya sendiri yang benar dan karena kebenarannya itulah maka ia dapat hidup dalam kemuliaan.

Alangkah bodohnya manusia, alangkah pelupa dan mudahnya mabuk oleh kesenangan duniawi! Lupa sudah bahwa segala apa yang dipisah-pisahkan manusia dan diberi istilah kesenangan atau kesengsaraan itu adalah sesuatu yang sifatnya sementara belaka. Baik kesenangan dan kesengsaraan yang sebetulnya bukanlah merupakan sifat dari sesuatu keadaan, melainkan lebih merupakan pendapat menurut selera seorang, takkan abadi dan tidak merupakan hal yang sementara terasa, malahan umurnya amat pendek, sependek umur manusia di dunia ini.

Baik mereka yang mabuk kemenangan pada waktu usahanya berhasil gemilang, mau pun mereka yang putus asa dan nelangsa di waktu mengalami derita kekalahan, mereka ini adalah manusia-manusia yang bodoh dan mau membiarkan dirinya diombang-ambingkan dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri.

Bahagialah orang yang selalu berpegang kepada kebenaran, yang selalu waspada akan langkah hidupnya sendiri supaya tidak menyeleweng dari kebenaran, dan dalam pada itu selalu mendasarkan segala sesuatu yang menimpa dirinya, baik itu menyenangkan badan mau pun sebaliknya, sebagai kehendak dari pada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menentukan segalanya, yang tak dapat diubah oleh kekuasaan mana pun juga di dunia ini.

Apa bila kita adakan perbandingan, maka mereka yang tertimpa kesengsaraan hidup dan membuat mereka berpaling mencari Tuhannya, jauh lebih bahagia dari pada mereka yang hidup bergelimang dalam kemewahan dan membuat mereka lupa akan Tuhannya
.

Demikian pula dengan Kaisar dan para pembesar Kerajaan Beng. Pada mulanya, dalam perjuangan mereka mengusir penjajahan Mongol dari tanah air, mereka berpegang pada kebenaran jiwa, mereka penuh dengan sifat patriotisme, sepak terjang dalam perjuangan hanya didasarkan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Dalam keadaan seperti itu mereka yakin sepenuhnya akan kebenaran mereka, dan yakin bahwa manusia dalam kebenaran sepak terjang hidupnya selalu akan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun, sungguh menyedihkan. Setelah usaha perjuangan mereka berhasil, terjadilah hal yang agaknya merupakan penyakit turunan bagi seluruh manusia. Terjadilah perebutan kemuliaan! Lebih menyedihkan lagi, setelah mereka yang berhasil dalam perebutan ini menduduki tempat tinggi dan mengenyam kemuliaan, mereka lalu mabuk!

Banyak di antara pembesar, malah sampai Kaisar sendiri, yang dulunya terkenal sebagai pejuang-pejuang patriotik, setelah mendapatkan kemuliaan dan kebesaran, lalu lupa akan kebenaran. Mereka dirangsang oleh nafsu-nafsu mereka sendiri.

Ada yang tamak akan harta benda, kerjanya hanya mengumpulkan harta dengan jalan yang tidak halal, melakukan korupsi besar-besaran tanpa menghiraukan sedikit pun nasib rakyat jelata yang dahulunya mereka bela dengan perjuangan mati-matian. Ada yang menurutkan nafsu binatang saja, tanpa mengenal malu mengumpulkan wanita-wanita muda dan cantik untuk mereka jadikan alat pengumbar nafsu. Banyaklah macamnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang mabuk kemulian duniawi ini.

Akibat dari semua ini, pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri tetap saja tidak dapat mengangkat rakyat jelata dari kemiskinan dan kesengsaraan hidup. Tetap saja rakyat yang dijadikan sapi perah, diperas keringat dan darahnya oleh pemimpin-pemimpin kecil.

Di lain pihak pemimpin-pemimpin kecil ini diperas oleh atasan mereka, dan si atasan ini diperas lagi oleh atasannya yang lebih tinggi kedudukannya. Sogok dan fitnah merajalela dan kebenaran yang berlaku bukanlah kebenaran sejati karena siapa yang memiliki uang, dialah yang menang.

Semenjak penjajah Mongol terusir dan Ciu Goan Ciang menjadi kaisar, rakyat tetap saja masih menderita. Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan oleh bangsa Mongol dari utara, pemberontakan-pemberontakan dari suku-suku bangsa kecil di barat dan utara, gangguan bajak-bajak laut bangsa Jepang, menambah beban hidup rakyat yang sudah menderita.

Seperti tercatat dalam sejarah, di mana pun tidak atau belum ada kemakmuran dalam kehidupan rakyat jelata, di situ tentulah muncul rasa penasaran, dan kembali yang kuat merajalela dan pada umumnya lalu berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia yang menang. Orang-orang jahat bermunculan, mengganas sewenang-wenang karena para pembesar dan alat-alat pemerintah hanya mengurus isi kantongnya sendiri.

Karena banyaknya orang-orang jahat, maka di sana-sini muncullah kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan yang mempunyai wilayah sendiri-sendiri. Dan hal ini tentu saja mengakibatkan permusuhan dan persaingan di antara golongan ini.

Syukurlah bahwa masih banyak terdapat orang-orang gagah yang tidak sudi ikut-ikutan memperebutkan kedudukan dan kemuliaan untuk diri sendiri. Banyak di antara para bekas pejuang yang masih terbuka mata batinnya, dapat melihat betapa tersesatnya mereka yang mabuk kemuliaan itu.

Mereka orang-orang gagah sejati ini tetap hidup di antara rakyat jelata, tidak segan-segan untuk mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, bahkan cukup banyak yang hidup hanya mengandalkan belas kasihan orang! Makin lama semakin banyaklah orang-orang yang hidupnya seperti pengemis. Sudah tentu saja sebagian besar di antara mereka ini adalah orang-orang malas.

Karena makin lama jumlahnya semakin banyak, mulailah orang jahat mengincar mereka yang dianggap sebagai golongan tersendiri yang bukan tidak kuat. Maka dimasukinyalah kelompok ini dan didirikan perkumpulan-perkumpulan pengemis!

Celakanya, kaipang (perkumpulan pengemis) ini dibentuk atas prakarsa orang-orang yang memang jahat sehingga pendirian ini sama sekali bukan diadakan untuk usaha perbaikan nasib orang-orang gelandangan itu, sama sekali bukan. Memang, ada juga manfaatnya bagi keadaan hidup para pengemis ini, namun dengan cara yang tiada bedanya dengan penjahat.

Dengan adanya perkumpulan-perkumpulan ini, para pengemis lalu diharuskan mentaati peraturan perkumpulan. Hasil mengemis harus dikumpulkan dan tak boleh dipakai sendiri, sebaliknya soal makan mereka dijamin oleh perkumpulan.

Melihat para pengemis yang bergabung ini, tidak ada yang berani menolak permintaan mereka, karena hal ini bisa mengakibatkan si penolak itu celaka, dianiaya dan dirampok hartanya! Jadi tegasnya, cara para pengemis dari kaipang-kaipang itu bekerja hanya tampaknya saja mengulurkan tangan minta sedekah, akan tetapi pada hakekatnya sama dengan perampok yang datang mengacungkan golok!

Pada mulanya memang penduduk setiap kota dan para pembesar dan petugas berusaha membasmi kaipang-kaipang ini. Akan tetapi, karena para pengemis itu sudah bercampur dengan para penjahat yang merasa lebih aman bersembunyi di antara kaum jembel itu, usaha ini sia-sia belaka. Apa lagi setelah organisasi pengemis itu makin meluas sehingga di setiap tempat ada cabangnya, kemudian para pengurus pengemis terdiri dari ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi, petugas-petugas keamanan menjadi tak berdaya.

Seperti dikatakan tadi, syukur bahwa tidak semua manusia di dunia ini berpikiran cupat dan berwatak remeh. Orang-orang gagah yang melihat adanya gejala-gejala tak baik ini, yang berarti akan menambahi beban rakyat jelata karena pemerasan oleh para perampok berpakaian pengemis ini, segera turun tangan.

Ada yang secara langsung menggunakan kekerasan menentang para kaipang ini. Tetapi akhirnya mereka itu dikeroyok dan kalah, malah ada yang tewas. Ada yang menentang secara diam-diam, menunggu saat baik, kemudian mereka ini malah memasuki kaipang-kaipang itu, menjadi anggota dengan maksud membelokkan kejahatan para pengemis ke arah kebaikan.

Demikianlah, jangan dikira bahwa semua anggota kaipang itu jahat karena di dalamnya juga banyak terdapat orang-orang gagah yang senantiasa menanti kesempatan baik untuk menggulingkan kedudukan ketua masing-masing sehingga jika pimpinan sudah jatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak jahat ini, sudah tentu perkumpulan itu akan dibawa ke jalan benar.

Karena hal ini terjadi selama penjajah jatuh, jadi dua puluh tahunan, maka sekarang telah banyaklah perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh ketua-ketua yang baik sehingga perkumpulan ini betul-betul menjadi perkumpulan untuk memperbaiki nasib para anggota. Di dalam kaipang yang bersih ini diadakan latihan-latihan semacam sekolah, di mana para anggotanya diajar untuk memiliki sesuatu kepandaian tertentu, misalnya pertukangan dan lain-lain. Sesudah itu mereka itu diharuskan mencari pekerjaan sebagai sumber nafkah dan setelah mendapatkan pekerjaan sudah tentu mereka ini tak diperbolehkan mengemis lagi dan tidak lagi menjadi anggota biar pun masih ada hubungan persaudaraan.

Nah, demikianlah keadaan di waktu itu. Di satu pihak kaipang-kaipang yang dipimpin oleh orang-orang jahat masih mengganas, di lain pihak ada pula kaipang-kaipang yang bersih sehingga kemudian terkenallah sebutan Pek-kaipang (Perkumpulan Pengemis Putih) dan Hek-kaipang (Perkumpulan Pengemis Hitam). Sudah tentu Pek-kaipang adalah golongan yang baik sedangkan Hek-kaipang golongan yang jahat. Karena ada dua golongan yang berlainan sifatnya, tidak dapat dicegah lagi adanya persaingan dan permusuhan di antara dua golongan ini sehingga sering kali terjadi pertempuran-pertempuran dan pertumpahan-pertumpahan darah.

Di antara Pek-kaipang, perkumpulan pengemis Hwa-i Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) adalah yang paling terkenal dan kuat. Perkumpulan pengemis ini memiliki anak buah paling banyak dan karena ketuanya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan pengurusnya juga mendapat latihan ilmu silat tinggi, maka banyak kaipang lain yang tunduk kepada Hwa-i Kaipang.

Pusat perkumpulan ini di kaki Gunung Ta-pie-san, sebelah barat kota raja Nanking. Ada pun ketuanya adalah seorang kakek gagah perkasa yang usianya sudah tinggi sekali tapi memiliki kepandaian yang amat hebat. Kakek pengemis ini tidak pernah memperkenalkan namanya dan hanya mengaku berjuluk Hwa-i Lo-kai (Pengemis Tua Berbaju Kembang).

Sesudah para pengemis berkali-kali ditolong oleh kakek yang berkepandaian tinggi ini, maka ia lalu diangkat menjadi ketua dan perkumpulan yang dipimpinnya lalu diberi nama Hwa-i Kaipang. Semua anggota Hwa-i Kaipang selalu memakai baju berkembang, biar pun sudah lapuk atau penuh tambalan!

Pada suatu hari terjadilah berita yang menggemparkan ‘dunia pengemis’ itu. Pengemis mana yang tidak akan terkejut mendengar berita bahwa Ketua Hwa-i Kaipang hendak mengundurkan diri dan di pusat perkumpulan itu hendak diadakan pemilihan pengurus baru? Hal itu menjadi bahan percakapan yang ramai, tidak saja di antara para pengemis, bahkan boleh dibilang juga di antara para orang gagah di dunia kang-ouw karena sebagai perkumpulan besar, Hwa-i Kaipang mengundang para orang gagah untuk menjadi saksi dalam pemilihan ketua baru ini.

Menjelang datangnya hari pemilihan ketua, keadaan di sekitar kaki Gunung Ta-pie-san menjadi ramai sekali. Banyak tokoh-tokoh perkumpulan pengemis dari daerah lain datang dengan pakaian mereka yang beraneka ragam dan beraneka macam.

Kalau melihat banyak pengemis dari berbagai aliran berkumpul di tempat yang luas itu, benar-benar mereka itu seperti bukan pengemis-pengemis, melainkan anak buah dari pasukan-pasukan! Biar pun pakaian mereka tambal-tambalan, ada pula yang sudah lapuk, namun warnanya seragam. Ada yang serba hitam, ada yang serba merah, ada yang putih, hijau, biru dan banyak lagi macam warnanya. Para anggota Hwa-i Kaipang tentu saja berbaju kembang semua!

Mereka yang sudah datang bertanya-tanya mengapa Hwa-i Lo-kai hendak mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Akan tetapi tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini, bahkan para anggota Hwa-i Kaipang sendiri tak ada yang dapat memberi keterangan.

Hwa-i Kaipang atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang pada waktu itu sudah merupakan perkumpulan yang besar, mungkin terbesar di antara perkumpulan pengemis yang ada di daerah itu. Malah dapat dikatakan bahwa perkumpulan ini paling makmur, mempunyai rumah pertemuan yang besar dengan perabot-perabot rumah yang lengkap, memiliki ruangan tempat para pengemis cilik belajar sesuatu pekerjaan dan lain-lain. Hal ini adalah karena sepak terjang perkumpulan ini yang betul-betul merupakan perkumpulan sosial hendak memberi bimbingan kepada kaum gelandangan itu supaya bisa hidup lebih baik dan terangkat nasibnya, telah menarik hati banyak dermawan yang banyak memberi sumbangan-sumbangan kepada Hwa-i Kaipang.

Tidak hanya dalam soal usaha memperbaiki nasib para pengemis. Juga dalam organisasi sendiri, makin lama perkumpulan ini menjadi makin kuat. Makin banyak saja pemuda yang tinggi ilmu silatnya dan ini boleh dibilang semua telah menjadi murid Hwa-i Lo-kai.

Tentu saja para pengurus ini tadinya memang sudah memiliki kepandaian dari berbagai macam aliran. Akan tetapi sesudah mereka menggabungkan diri di Hwa-i Kaipang, dan menyaksikan sendiri betapa tingginya ilmu silat ketuanya, mereka kemudian minta diberi pelajaran ilmu silat.

Ketua Hwa-i Kaipang ini selalu suka menurunkan kepandaiannya dan ia mengajarkan beberapa ilmu pukulan yang ia sesuaikan dengan watak dan keadaan jasmani si murid. Makin lama makin banyaklah anggota Hwa-i Kaipang yang mendapatkan kemajuan hebat dalam kepandaian ilmu silat mereka. Bahkan kemudian hampir tidak ada seorang pun anggota pengurus yang tidak berilmu tinggi.

Hwa-i Lo-kai sendiri maklum bahwa di antara perkumpulan pengemis yang amat banyak itu, tidak jarang merupakan perkumpulan pengemis palsu yang sesungguhnya lebih patut disebut perkumpulan penjahat. Juga ia tahu betapa perkumpulan-perkumpulan jahat ini mengandalkan kekerasan, tidak hanya melakukan pemerasan terhadap penduduk, juga kadang-kadang berani menindas perkumpulan lain yang lebih lemah.

Karena itu, kakek ini melihat betapa penting bagi perkumpulan yang dipegangnya untuk memperkuat diri dengan pengurus-pengurus yang pandai ilmu silat. Hal ini pulalah yang membuat ia mulai mengadakan susunan dalam pengurusnya, membagi-bagi tugas sesuai dengan kemampuan dan kepandaian mereka.

Untuk membedakan tingkat kepandaian ilmu silat, dia mengadakan ujian lalu memberi tanda tingkat kepada para muridnya itu. Tanda tingkat ini merupakan tali ikat pinggang berwarna putih dari serat biasa. Makin banyak tali ini yang mengikat pinggang seorang pengemis Hwa-i Kaipang, makin tinggilah tingkat ilmu silatnya.

Di antara para pengurus dan pembantu ketua itu, rata-rata hanya memiliki empat helai ikat pinggang. Jumlahnya ada dua puluh orang lebih. Yang mempunyai lebih dari empat helai amat jarang. Yang paling tinggi tingkatnya di antara mereka hanya tiga orang. Mereka ini telah mempunyai tujuh helai tali putih yang mengikat pinggang mereka.

Tiga orang inilah yang dalam segala hal mewakili Hwa-i Lo-kai dan mereka boleh dibilang sudah memegang seluruh urusan perkumpulan itu sebagai wakil ketua. Mereka adalah Coa-lokai, Beng-lokai, dan Sun-lokai. Lokai artinya ‘pengemis tua’ akan tetapi sebutan ini dalam perkumpulan itu berarti menghormat, karena yang berhak menyebut diri lokai hanyalah ketua mereka dan tiga orang tangan kanan inilah!

Jadi panggilan lokai ini seakan-akan merupakan panggilan penghormatan seperti lajimnya sebutan ‘yang mulia’ dan ‘paduka’! Memang dalam perkumpulan yang aneh ini banyak terdapat aturan dan hal-hal aneh pula.

Sudah bisa dibayangkan bahwa jika Hwa-i Lo-kai mengundurkan diri, calon penggantinya tentulah seorang di antara tiga kakek ini. Hal ini tidak hanya menjadi pendapat para anggota, malah juga pendapat orang-orang luar dan juga demikianlah kata hati tiga orang itu sendiri.

Oleh karena itu, diam-diam seperti ada persaingan di antara mereka dan secara diam-diam pula tiga orang pembantu ini mendekati para anggota dan sedapat mungkin menarik sebanyak-banyaknya sahabat agar mendukungnya dalam ‘pemilihan umum’ itu nanti. Sudah bukan hal aneh lagi apa bila mereka ini menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk kepada para anggota yang suka memilihnya.

Pagi hari pada waktu pemilihan, para anggota sudah berkumpul di pekarangan yang amat luas di depan rumah pertemuan Hwa-i Kaipang. Pengemis-pengemis berpakaian baju kembang yang tidak kurang dari seratus orang jumlahnya duduk di belakang ketua dan para pengurus mereka.

Ada pun para tamu merupakan kelompok-kelompok yang duduk di atas tanah juga, menghadap tuan rumah. Ada kelompok pengemis berpakaian hijau, merah, hitam, putih dan lain-lain yang dipimpin oleh ketua atau wakil masing-masing. Uniknya, pertemuan ini sama sekali tidak dilengkapi kursi, bangku atau pun meja dan semua yang hadir duduk begitu saja di atas tanah, ada yang bersila, ada yang berjongkok.

Hwa-i Lo-kai tampak duduk bersila sambil meramkan mata. Dia adalah seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus. Rambutnya yang panjang tidak terawat, pakaiannya berkembang sederhana, terdapat tiga tambalan di pundak dan dada. Pinggangnya diikat dengan tali putih terbuat dari sutera. Di pinggang kiri tergantung sebuah guci arak dari perak dan ia tidak kelihatan membawa senjata.

Di sebelah kanannya duduklah tiga orang pembantunya yang terkenal, yaitu Coa-lokai yang bertubuh tinggi besar bermata lebar dan gerak-geriknya kasar. Beng-lokai orangnya gemuk pendek berkulit kuning dan bermata sipit, tersenyum-senyum gembira. Sun-lokai orangnya kecil agak bongkok, matanya tajam bergerak ke sana ke mari.

Tiga orang pembantu ini semuanya memakai baju berkembang dengan ikat pinggang tali putih tujuh helai yang membelit pinggang. Berbeda dengan Sang Ketua, ketiga orang ini masing-masing memanggul sebatang pedang di punggungnya.

Para pembantu lain yang lebih rendah tingkatnya, yaitu yang bertali pinggang enam ada dua orang, yang bertali pinggang lima ada tujuh orang dan sebelas orang bertali pinggang empat duduk di sebelah kiri ketua ini dengan sikap menghormat.

Keadaan di situ cukup ramai. Walau pun semua orang sudah duduk di atas tanah tanpa seorang pun kelihatan berdiri, namun mereka saling bicara perlahan, ada yang berbisik-bisik sehingga tempat itu menjadi berisik juga.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner