RAJAWALI EMAS : JILID-21


Kun Hong dan Sin-eng-cu Lui Bok telah tiba di tempat para pengemis Hwa-i Kaipang. Dari jauh Kun Hong melihat ribut-ribut di antara pengemis yang memenuhi pekarangan depan rumah perkumpulan itu. Ia mendapat keterangan dari pengemis yang dijumpainya bahwa dua orang pembantu ketua sedang ribut hendak bertempur dalam perebutan kedudukan ketua.

Kun Hong merasa kuatir sekali. Dari jauh dia segera berteriak-teriak, "Heeiii..., berhenti... dua orang pengemis tua saling pukul memperebutkan apa sih?"

Semua pengemis dan para tamu yang hadir di tempat pertemuan itu terkejut dan segera menengok. Bahkan dua orang pembantu ketua yang sedang bertempur itu pun langsung menghentikan perkelahian mereka dan menengok karena suara teriakan itu benar-benar nyaring dan mengejutkan semua orang.

Sementara itu, Kun Hong sudah mendahului Sin-eng-cu Lui Bok, memasuki gelanggang pertempuran menghadapi Coa-lokai dan Sun-lokai yang memandangnya dengan heran.

"Ji-wi Lo-enghiong, mengapa saling hantam sendiri ? Aku mendengar bahwa Ji-wi hendak memperebutkan kedudukan Ketua Hwa-i Kaipang. Kalau tak salah Hwa-i Kaipang adalah perkumpulan pengemis, mengapa yang hendak menjadi ketuanya malah harus memakai kekerasan? Apakah hendak menjadi ketua perkumpulan tukang pukul? Benar-benar salah sekali."

Coa-lokai memandang dengan mata terbelalak marah. "Kau ini bocah kurang ajar datang dari mana dan apa urusanmu dengan kami?"

Beng-lokai pengemis tua gemuk pendek yang semenjak tadi hanya diam saja melihat dua orang temannya saling serang, sekarang berdiri dan dengan marah membentak, "Bocah tak tahu adat! Kau ini datang-datang mengacau, kau disuruh kaipang dari manakah?"

Diserang dengan bentakan-bentakan ini, Kun Hong tenang saja. Akan tetapi sebelum dia menjawab, kakek pengemis tua yang berdiri di situ, Hwa-i Lokai, berseru keras. "Bagus sekali, Sin-eng-cu Lui Bok! Kau akhirnya datang juga mencariku. Akan tetapi, kuharap kau tidak membawa Hwa-i Kaipang ke dalam urusan pribadi kita berdua. Kau tunggulah aku menyelesaikan dulu pemilihan ketua baru, setelah itu aku siap untuk mati di tanganmu!"

Semua mata sekarang menengok dan memandang ke arah kakek yang memasuki tempat itu yang bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok.

"He-he-heh, Sin-chio The Kok. Tak nyana orang gagah seperti engkau ternyata wataknya pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab dan kasihan sekali melihat kau melarikan diri dan bersembunyi sampai belasan tahun." Kakek ini sampai terkekeh-kekeh menertawakan.

Muka Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lokai menjadi merah sekali. Ia merasa malu dikatakan pengecut di depan begitu banyak orang dan namanya tentu akan menjadi buah tertawaan di dunia kang-ouw. Maka cepat ia menjawab dengan suara keras,

"Heii, Sin-eng-cu Liu Bok, dengarlah baik-baik. Memang perbuatanku melarikan diri dan bersembunyi darimu itu adalah perbuatan pengecut, akan tetapi adalah sebab-sebabnya. Secara kebetulan aku bermusuhan dengan muridmu pada waktu aku merampok seorang pembesar korup dan muridmu itu membela pembesar tadi, Terjadi pertempuran antara kami dan dalam pertempuran itu ia tewas di ujung tombakku. Celakanya, setelah ia tewas, barulah aku mendengar bahwa dia adalah murid Sin-eng-cu Lui Bok. Hatiku menyesal bukan main. Telah puluhan tahun aku kagum dan menjunjung tinggi nama pendekar besar Sin-eng-cu Lui Bok, tapi sekarang aku telah membunuh muridnya. Aku menyesal dan ada dua hal yang menyebabkan aku melarikan dan menyembunyikan diri. Pertama, karena aku maklum bahwa aku takkan menang, ke dua dan ini sebetulnya yang terberat bagiku, aku tidak mungkin dapat bertanding sebagai musuh dengan pendekar yang sejak lama kukagumi dan kujunjung tinggi sebagai seorang pendekar budiman. Sin-eng-cu, hal itulah yang menyebabkan aku menebalkan muka melarikan diri dan bersembunyi. Akan tetapi hukum karma tak dapat dihindarkan manusia. Agaknya Thian yang menuntunmu sampai ke sini sehingga kau dapat menantang padaku dan agaknya memang Tuhan hendak menghabisi nyawaku sekarang juga. Hanya permintaanku, biarkanlah aku menyelesaikan lebih dulu pemilihan ketua Hwa-i Kaipang, setelah itu terserah kepadamu, aku tidak takut mati karena aku memang sudah cukup tua, Sin-eng-cu."

Lega hati Sin-chio The Kok setelah dia mengeluarkan isi hatinya yang juga didengar oleh semua orang itu.

Akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok hanya tertawa-tawa saja. Diam-diam hati kakek ini pun girang bahwa dia sebelumnya bertemu dengan Kun Hong. Kalau sampai dia membunuh orang yang segagah ini memang sayang sekali. Apa lagi ia pun maklum bahwa muridnya memang telah membela orang yang dikenal sebagai seorang pembesar korup dan sering bertindak sewenang-wenang, sungguh pun pembesar itu adalah paman muridnya.

Akan tetapi Coa-lokai yang sangat setia terhadap Hwa-i Lokai, ketika mendengar bahwa kakek tua renta yang kelihatan kurus kering itu merupakan musuh besar ketuanya, segera membentak marah, "Kau tua bangka berani menghina pangcu kami! Rasakan tanganku!" Coa-lokai menerjang dan langsung menyerang.

"Coa-lokai, jangan...!" Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lokai mencegah, akan tetapi terlambat sudah.

Coa-lokai sudah menyerang dengan hebat, bahkan mempergunakan pedangnya. Semua orang melihat betapa pedang di tangan Coa-lokai itu menyambar ganas. Semua orang juga melihat betapa kakek yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak. Akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa-lokai terlempar ke belakang. Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut! Ketika dilihat ternyata Coa-lokai yang merintih-rintih itu sudah patah tulang lengannya!

Sin-chio The Kok terkejut sekali. Bukan main hebatnya kepandaian Sin-eng-cu Lui Bok ini. Ia cepat menjura dan berkata, "Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf. Harap Sin-eng-cu suka bersabar menanti hingga aku selesai mengadakan pemilihan ketua."

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata, "Silakan..., silakan..."

Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-i Kaipang itu.

"Tak tahunya Locianpwe ini yang bernama Sin-chio The Kok dan kini menjadi Ketua Hwa-i Kaipang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok Sin-eng-cu sesudah mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua yang baru. Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua? Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan yang bertujuan memperbaiki nasib orang-orang jembel yang sengsara ini terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?"

"Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-kongcu!" Tiba-tiba Coa-lokai yang sudah berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras. "Memang Pangcu tidak perlu diganti lagi!"

"Pangcu, apa bila terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini," Kun Hong menudingkan telunjuknya ke arah Coa-lokai. "Dia jujur dan setia sekali kepadamu."

Memang biar pun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam dan sekali melihat saja dia sudah tahu bahwa Coa-lokai adalah seorang yang setia dan jujur, sama sekali tak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan, terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-eng-cu tadi, juga dari kata-katanya barusan.

Diam-diam Hwa-i Lokai kagum memandang Kun Hong. Bocah ini benar-benar luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya saja. Kalau bocah ini menyebut susiok (paman guru) kepada Sin-eng-cu, tentulah ia memiliki kepandaian hebat pula.

Pada saat itu, Sun-lokai dan Beng-lokai sudah siap mendekati Kun Hong. Sun-lokai lalu berseru marah, "Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir saja dia dari sini, dia hendak mengacaukan pemilihan ketua!"

"Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan, lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan kuhancurkan dengan kepalanku!"

"Ji-wi Lokai jangan kurang ajar terhadap tamu!" Hwa-i Lokai cepat mencegah karena dia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-eng-cu.

Kun Hong tersenyum dan Sin-eng-cu hanya tersenyum-senyum juga. "Pangcu, apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh bedanya dengan Coa-lokai."

"Ehhh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau hendak mencampuri urusan Hwa-i Kaipang?" bentak Sun-lokai.

Kini Kun Hong berbicara dengan muka sungguh-sungguh, "Lokai, aku mendengar bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-i Kaipang dan perkumpulan pengemis tentulah bertujuan untuk menolong para pengemis serta memperbaiki nasib mereka. Akan tetapi kenapa untuk menentukan seorang ketua harus memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah Hwa-i Kaipang hendak dijadikan perkumpulan tukang pukul?"

"Kau mengaku sebagai keponakan Sin-eng-cu, tetapi omongan apa yang kau keluarkan ini?" Sun-lokai membentak, makin marah, "Kalau ketua kita seorang yang lemah, mana bisa memimpin Hwa-i Kaipang?"

"Ah, salah sama sekali!" Kun Hong berseru penasaran, "Apakah hanya seorang tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara kekerasan dan kekuatan sama sekali tidak baik."

Kini Beng-lokai juga mendekati Kun Hong. "Kau anak kecil bicara besar! Kalau seorang pemimpin tidak mempunyai ilmu silat tinggi dan menggunakan kekerasan, mana bisa para anggota dipimpin dan mana mereka bisa menaati ketuanya?"

Kun Hong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.

"Inilah sebabnya kenapa aku katakan salah. Memimpin dengan kekerasan mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggotanya taat, akan tetapi hanya taat karena terpaksa! Bukan taat yang timbul dari hati yang sejujurnya, melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua yang bijaksana, yang betul-betul mampu mengatur sehingga di antara para pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran, kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali lapangan pekerjaan yang terhormat."

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-eng-cu Lui Bok yang kini semua orang di situ tahu bahwa kakek ini adalah musuh besar Ketua Hwa-i Kaipang.

"He-he-heh, Sin-chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu!"

Merah muka Ketua Hwa-i Kaipang itu dan ia pun memandang tajam. "Sin-eng-cu, apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kau pun bermaksud merampas kedudukan kaipang untuk murid keponakanmu?" Pertanyaan ini terdengar keras dan pedas sehingga para anggota Hwa-i Kaipang juga menjadi berisik.

"Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat, Sin-chio The Kok. Memang tadinya pada saat aku mengabarkan kedatanganku kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan muridku yang kau bunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah bertemu dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku itu dari otakku! Kini aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Walau pun dia ini murid keponakanku, tetapi dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru kepadanya. Karena itu, apa bila dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-i Kaipang akan menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Berbeda kalau kau atau pengemis-pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh!"

Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini. Ada perasaan lega, girang, terharu dan juga malu. Ia lalu menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali. Jadi bocah yang sikapnya aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-eng-cu!

Ia tadinya sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-eng-cu karena dalam hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu. Sekarang Sin-eng-cu malah mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua Hwa-i Kaipang.

"Sin-eng-cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya pemuda ini murid siapakah?" tanyanya agak meragu.

Kakek kurus itu tertawa lagi, "Ha-ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan suka membunuh seekor kucing pun. Akan tetapi dia ini murid suheng-ku, gurunya adalah mendiang Bu Beng Cu."

Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-chio The Kok tak pernah mendengarnya. Akan tetapi jika pemuda ini adalah murid suheng dari Sin-eng-cu, sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga.

Persoalan Ketua Hwa-i Kaipang bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang betul-betul tepat. Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama sekali belum dia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggota Hwa-i Kaipang yang ratusan orang jumlahnya?

Selagi ia ragu-ragu, Beng-lokai dan Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Beng-lokai berkata kepada Kun Hong, "Bocah ini mau menjadi ketua kami? Boleh saja, asalkan dia mampu mengalahkan aku, ha-ha-ha!"

"Juga dia harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua!" kata Sun-lokai sambil menggeser kaki mendekati.

Melihat ini, tiba-tiba saja Sin-chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus. Dua orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia berkata kepada Sin-eng-cu, "Kalau pemuda ini berani menghadapi Beng-lokai dan Sun-lokai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya menjadi ketua Hwa-i Kaipang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk membimbing para anggota tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi tanpa mempunyai kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?"

"Orang muda, kau sudah mendengar sendiri. Ketua kami sudah mengijinkan kami berdua menghadapimu. Hayo kau robohkanlah kami!" berkata Beng-lokai dengan sikap mengejek dan terdengarlah suara tertawa para pengemis pengikut kedua orang pembantu ini.

Kun Hong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah berkelahi dan aku pun tidak mau berkelahi. Aku bukanlah tukang pukul!"

Ucapan ini kembali memancing datangnya tertawaan di kalangan anggota Hwa-i Kaipang. Perkumpulan ini mengutamakan ilmu silat serta kegagahan, bahkan semua anggotanya mempelajari ilmu silat. Bagaimana sekarang hendak mengangkat seorang pemuda lemah seperti itu sebagai ketua?

Kun Hong tidak peduli akan suara tertawa dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, akan tetapi Sin-eng-cu menjadi merah mukanya.

"Ehhh, Kun Hong, kau memalukan aku saja. Apakah kau takut menghadapi dua orang pengemis busuk ini?"

Sepasang mata Kun Hong berkilat. Dia adalah keturunan seorang pendekar besar, ibunya pun seorang pendekar wanita, darah kesatria mengalir di tubuhnya dan bagi keluarganya, kata-kata takut tidak terdapat dalam kamus.

"Aku tidak pernah takut kepada siapa pun juga. Aku hanya takut kalau-kalau aku akan menyimpang dari kebenaran." Jawaban Kun Hong ini adalah ucapan kuno yang pernah ia baca dalam kitab-kitabnya.

"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo lawan kami berdua!" Beng-lokai berkata lagi.

Karena maklum bahwa Kun Hong tidak mungkin mau menyerang orang, Sin-eng-cu lalu berkata kepada dua orang pembantu ketua itu, "Heh, dua orang jembel busuk, terhadap dua orang badut seperti kalian yang jauh lebih rendah tingkatnya, murid keponakanku mana mau turun tangan? Jangan kalian hanya petentang-petenteng menjual lagak, kalau ada kepandaian, hayo kalian boleh menyerang.”

Sun-lokai orangnya cerdik. Kalau kakek ini mencampuri dan turun tangan tentu mereka akan kalah. Tadi sudah terbukti betapa hebatnya kepandaian kakek ini ketika merobohkan Coa-lokai. Malah Hwa-i Lokai sendiri kelihatan takut kepada kakek ini. Ia lalu tertawa dan berkata,

"Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang Locianpwe yang tingkatannya lebih tinggi dari kami yang bodoh. Kalau Locianpwe maju membantu bocah ini nanti, meski kami pasti akan kalah akan tetapi bukan kami yang akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw."

Sin-eng-cu memandang dengan mata melotot. "Monyet kau! Kalau aku memang punya kehendak merobohkan manusia-manusia monyet semacam kau, perlu apa aku banyak cerewet lagi? Kalian boleh serang dia, biar pun dia sampai terpukul mampus oleh kalian, aku tidak akan membantunya. Dengar janjiku ini!"

Lega dan girang hati Sun-lokai mendengar ini. Ia sudah berhasll membakar hati kakek itu dan sekarang ia dan Beng-lokai tidak usah takut akan turun tangannya kakek yang lihai itu. Mereka berdua saling memberi isyarat dengan pandang mata, lalu berbareng mereka menyerang Kun Hong sambil berkata, "Bocah sombong, awas, kalau sakit atau mati kau jangan persalahkan kami!"

Selama hidupnya Kun Hong belum pernah berkelahi. Kini menghadapi dua orang yang tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan-pukulan hebat, ia menjadi amat kaget dan gugup. Akan tetapi hanya dengan beberapa langkah saja ia sudah dapat menghindarkan diri dari penyerangan dua orang itu.

Dalam pandangannya, serangan dua orang ini amat lambat dan mudah dikelit. Rajawali Emas kalau sedang melatihnya jauh lebih gesit dan berbahaya. Oleh karena itu, dengan tenang-tenang dan mudah Kun Hong berhasil mengelakkan semua serangan yang datang bertubi-tubi dari dua orang pengemis lihai tadi.


Bagi semua orang, kecuali Sin-eng-cu Lui Bok, gerakan-gerakan Kun Hong tidak karuan dan kacau-balau, kelihatan seperti orang ketakutan dan beberapa kali terhuyung-huyung hendak roboh. Kadang-kadang dia berjongkok, berdiri, berlari kecil, malah kadang-kadang merangkak. Namun semua serangan selalu mengenai tempat kosong, bahkan menyentuh ujung bajunya pun tidak dapat.

Semakin lama para pengemis yang menonton menjadi semakin tegang dan kemudian bersorak-sorak karena perkelahian yang tidak seimbang itu memang amat lucu. Kun Hong seperti seekor tikus yang dikejar dan diperebutkan dua ekor kucing, ditubruk sini nyelinap sana, diterkam sana mengelak ke sini. Tak seorang pun menganggap bahwa pemuda itu pandai ilmu silat karena gerakan-gerakan yang kacau balau dan tidak teratur itu mana bisa disebut ilmu silat?

Bagi mereka, dianggapnya bahwa Kun Hong ketakutan dan kebingungan dan bahwa dua orang lokai itu memang sengaja tidak mau melukainya atau hendak mempermainkannya terlebih dulu. Tak seorang pun tahu bahwa diam-diam dua kakek pengemis itu kaget dan heran bukan main, tengkuk mereka terasa dingin dan bulunya pada berdiri.

Hampir mereka itu tak dapat mempercayai kalau tidak mereka hadapi sendiri. Siapa tidak merasa seram jika telah mengeluarkan seluruh kepandaian untuk memukul roboh pemuda lemah ini, akan tetapi tak pernah mengenai sasaran?

Padahal tampaknya baik pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan sudah tepat. Namun heran sekali, begitu tiba pada sasaran, mendadak yang dijadikan sasaran telah berpindah tempat. Maka setelah lewat lima puluh jurus, kedua orang pengemis ini menjadi pucat dan penuh keringat.

Selain Sin-eng-cu yang diam-diam mengagumi Kim-tiauw-kun ciptaan suheng-nya, juga Sin-chio The Kok memandang dengan mata terbelalak. Ia pun bingung dan merasa heran, apa lagi kalau melihat gerakan Kun Hong begitu kacau-balau seperti orang mabuk. Akan tetapi karena memang tingkat kepandaian The Kok sudah amat tinggi, makin lama makin teranglah baginya bahwa gerakan atau langkah-langkah kaki Kun Hong itu meski terlihat kacau, sebenarnya adalah langkah-langkah ajaib yang luar biasa sekali.

Begitu ia memperhatikan langkah-langkah itu, terasa matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia terkejut dan cepat-cepat mengumpulkan lweekang untuk menahan kepusingan. Ia mengerahkan tenaga untuk memperhatikan terus, namun akhirnya ia harus mengalah, harus mengalihkah perhatiannya. Langkah itu demikian ajaibnya dan luar biasa sehingga kalau ia paksakan, mungkin akan membuat ia jatuh pingsan!

Ketua Hwa-i Kaipang ini maklum bahwa pemuda aneh itu benar-benar telah mewarisi ilmu yang ajaib dan tahu bahwa kedua orang pembantunya tentu akan menderita celaka kalau dilanjutkan, maka ia bermaksud menghentikan pertempuran itu. Akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang gesit sekali dibarengi bentakan halus.

"Dua orang tua bangka tak tahu malu, berani kalian menghina pamanku?"

Gerakan bayangan ini gesit sekali, berbareng menyambar pula sinar hitam dan tahu-tahu Beng-lokai dan Sun-lokai terhuyung-huyung ke belakang!

Ketika semua orang memperhatikan, bayangan itu adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, yang memegang sehelai sabuk hitam yang tadi ia pergunakan untuk menyerang dua orang itu sehingga mereka terhuyung-huyung ke belakang. Pada saat berikutnya, kembali berkelebat bayangan orang dan seorang gadis lain yang juga cantik manis sudah berdiri di situ dengan sikap gagah.

Beng-lokai dan Sun-lokai kaget sekali, akan tetapi mereka menjadi marah saat mendapat kenyataan bahwa yang menyerang mereka tadi hanyalah seorang gadis muda. Berbareng mereka mencabut pedang dan siap menerjang dua orang gadis itu.

Gadis yang memegang sutera hitam itu tersenyum mengejek, sedangkan gadis kedua juga mendadak menggerakkan tangan dan tahu-tahu sebatang pedang tipis tajam sudah berada di tangannya.

"Hi-hik, kalian ini dua ekor keledai tua apakah sudah bosan hidup? Cu-cici (Kakak Cu), mari kita basmi dua ekor keledai yang sudah berani kurang ajar terhadap Paman Hong ini!"

Kun Hong segera mengenal gadis pertama, seorang gadis lincah jenaka dan cantik yang bermata seperti bintang pagi. Teringatlah ia ketika ia dahulu dikerek oleh gadis ini ke atas pohon mempergunakan sabuk sutera hitam itu.

"Ehh... ehhh... kau... anak nakal... jangan berkelahi!" katanya mencegah.

Sementara itu, Hwa-i Lokai juga mernbentak kedua orang pembantunya, "Beng-lokai dan Sun-lokai, harap kalian mundur dan simpan senjata!"

Suaranya berpengaruh dan tegas sehingga dua orang pembantunya yang masih merasa penasaran itu tidak berani membantah lagi. Dengan muka keruh mereka segera mundur.

Sementara itu, Kun Hong memandang kepada gadis-gadis itu, memandang heran dan keningnya berkerut. Ia mengenal gadis pertama yang dalam anggapannya adalah gadis yang berwatak nakal dan jahat, suka berkelahi dan kejam. Ia merasa kuatir kalau-kalau kedatangan gadis ini lagi-lagi akan mendatangkan bencana, bunuh membunuh di antara sesama manusia seperti yang ia saksikan di Hoa-san dahulu itu. Akan tetapi ia juga heran mengapa gadis itu tadi menyebutnya sebagai pamannya!

"Eh, Nona yang nakal, bagaimana kau sampai tersesat ke tempat ini dan sejak kapan aku menjadi pamanmu?" tegurnya dengan suara galak.

Gadis itu yang bukan lain adalah Kui Li Eng, berseri mukanya, matanya bercahaya jenaka dan ia tidak menjawab, melainkan menoleh kepada gadis ke dua yang bukan lain adalah Thio Hui Cu.

"Cu-cici, benar tidak ceritaku? Paman Hong ini orangnya lucu, aneh dan keberaniannya membuat aku terheran-heran. Seorang yang tidak memiliki kepandaian silat, tetapi berani merantau sampai ke sini. Malah baru saja kita lihat tadi dia dikejar-kejar dua ekor keledai, akan tetapi sedikit pun tidak takut. Agaknya di samping kelucuan dan keanehannya, dia pun memiliki nyawa rangkap."

Hui Cu yang alim dan pendiam menyembunyikan senyumnya, hanya sekilas saja berani menatap wajah Kun Hong, lalu mengalihkan pandangnya.

"Hee, jangan kau memperolok aku! Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan dan berdasarkan apa kau mengaku sebagai keponakanku?"

Senyum Li Eng melebar, membuat wajahnya yang jelita itu makin manis dan ramah. Akan tetapi di balik keramahan dan kejenakaannya tersembunyi pula sifat nakal yang terpancar keluar dari sepasang matanya.

"Paman Hong yang tercinta..."

"Hush...!" Merah muka Kun Hong. "Bicara yang benar, jangan berolok-olok!"

"Kau memang pamanku sejak aku dilahirkan dan berdasarkan kenyataan bahwa ayahmu adalah kakek guruku. Kau anaknya, kalau bukan pamanku habis apaku? Bukan hanya aku, malah Cici Hui Cu ini pun keponakanmu, karena dia adalah anak tunggal dari Supek (Uwa Guru) Thio Ki."

Kun Hong sampai meloncat-loncat saking kaget, heran, dan bingungnya. "Apa kau bilang? Mana bisa Suko (kakak Seperguruan) Thian Beng Tosu mempunyai anak?"

Li Eng terkikik sambil menutupi mulutnya. "Tentu saja yang beranak bukan Supek, akan tetapi isterinya, hi-hi-hik."

Hui Cu tidak dapat menahan geli hatinya, ditutupnya mulutnya yang kecil dengan tangan kanan. "Ihh, Eng-moi, jangan bicara tidak karuan."

Juga muka Kun Hong tampak bodoh, matanya terbelalak lebar. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti. Memang banyak hal yang tidak ia mengerti, di antaranya adalah tentang riwayat suko-nya itu, tidak tahu sama sekali bahwa suko-nya yang dahulu bernama Thio Ki itu pernah punya isteri.

"Jangan kau main-main! Apakah sepeninggalku dari Hoa-san Suko telah menikah?"

Kembali Li Eng menoleh kepada Hui Cu. "Kau lihat, Cici. Alangkah lucunya. Di samping lucu, aneh dan berani, juga ininya... kurang sekali." Ia menunjuk ke arah dahinya yang halus untuk menyindirkan tentang kebodohan Kun Hong.

"Paman Hong, nanti kalau kau sudah pulang, kau akan mendengar sendiri semuanya. Pendeknya, Cici Cu ini adalah anak tunggal dari Supek Thian Beng Tosu."

Bukan main girangnya hati Kun Hong. Dia memang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan di samping pengetahuannya yang mendalam tentang ilmu kebatinan dan filsafat yang membuatnya kadang-kadang bicara seperti seorang kakek-kakek. Mendengar ini, saking girangnya ia melompat ke depan memegang pundak Hui Cu. Dipandangnya muka nona itu dan berkatalah dia kegirangan.

"Aduh senangnya...! Aku memiliki keponakan dan tahu-tahu sudah begini besar, begini... ehhh, cantik dan manisnya. Kau bernama Hui Cu? Tentu namamu Hui Cu... tapi kenapa kau tidak mirip Suko? Ahh…, tentu mirip ibumu."

Memang watak Kun Hong aneh bukan main. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang pasti akan menganggap ia gendeng atau setidaknya kurang ajar, padahal semua itu timbul dari lubuk hatinya yang benar-benar menjadi girang bukan main.

Karuan saja Hui Cu yang alim, pendiam dan pemalu menjadi merah mukanya. Dia hanya tersenyum sedikit, memandang sekilas kemudian tunduk dengan telinga merah, apa lagi ditertawakan oleh Li Eng dan malah terdengar pula suara ketawa dari banyak pengemis yang hadir di situ.

"Iihh, Paman Hong. Kau membuat aku mengiri. Aku bisa marah, lho! Bukan hanya Enci Cu keponakanmu, aku pun keponakanmu, apa kau lupa?"

Kun Hong melepaskan pegangannya pada kedua pundak Hui Cu, lalu memandang Li Eng, keningnya berkerut. "Dia ini puteri Suko, tentu saja seperti keponakanku sendiri. Tapi kau ini, kau bocah nakal, kau anak siapa berani mengaku sebagai keponakanku?"

Li Eng cemberut. "Sudahlah, kalau kau tidak mau mengakui ayah bundaku, sudahlah...! Memang orang macam aku mana patut menjadi keponakanmu?"

Hui Cu merangkul Li Eng. "Adik Eng, jangan ngambek. Ehh, Paman Hong, sesungguhnya Eng-moi adalah keponakanmu karena dia adalah puteri tunggal dari Bibi Thio Bwee dan Paman Kui Lok yang sekarang sudah berkumpul di Hoa-san-pai."

"Begitukah?" Kun Hong sampai berteriak keras saking girangnya.

Kun Hong lalu menyambar tangan Li Eng, ditariknya dan seperti gila ia menari-nari sambil menggandeng tangan gadis itu mengelilingi lapangan.

"Bagus, kau puteri mereka? Ha-ha-ha, mereka jadinya masih hidup dan sudah kembali ke Hoa-san-pai? Aduh senangnya!"

"Hush... apa-apaan kau ini, Paman Hong?" Li Eng menjadi malu juga karena dia dipaksa menari-nari tidak karuan, "Dilihat banyak orang, apa tidak malu? Hayo kita pergi dari sini, kembali ke Hoa-san. Sukong mengharap-harap kembalimu."

Kun Hong melepaskan gandengannya. "Memang tadinya aku pun hendak kembali, apa lagi sekarang setelah semuanya berada di sana."

Kun Hong lalu menoleh kepada Sin-eng-cu Lui Bok yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan sambil tersenyum-senyum gembira. Terhadap kakek ini Kun Hong segera menjura dan berkata, "Susiok, perkenankan teecu pergi, karena teecu harus kembali ke Hoa-san."

Sin-eng-cu Lui Bok tersenyum dan berkata, "Pulanglah, Kun Hong dan berbahagialah kau. Aku pun akan mencapai kebahagiaan di puncak Bukit Kepala Naga, mendekati mendiang Suheng yang bijaksana."

Setelah berkata demikian, Sin-eng-cu Lui Bok lalu berjalan membungkuk-bungkuk sambil memutar-mutar tongkatnya. Biar pun kelihatannya jalan seenaknya, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.

Kun Hong lalu berpaling kepada Hwa-i Lokai dan menjura. "Pangcu, harap maafkan kalau kedatanganku ini mengganggu urusanmu. Sesudah Susiok pergi, urusan antara dia dan Pangcu sudah habis, perkara pemilihan ketua terserah kepadamu."

Ia menoleh kepada Li Eng dan Hui Cu, lalu berkata gembira, "Hayo, anak-anak! Hui Cu dan... ehhh, kau yang nakal siapa namamu?"

Dua orang gadis itu menutupi mulut dengan geli melihat sikap Kun Hong yang lucu dan tolol ini. "Paman Hong, namaku Kui Li Eng, jangan lupa lagi!"

"Hayo kita pergi dari sini!" kata lagi Kun Hong.

Akan tetapi Hwa-i Lokai segera melangkah maju dan menjura sambil berkata, "Nanti dulu, Siauw-sicu. Aku atas nama Hwa-i Kaipang menerima usul Locianpwe Lui Bok tadi untuk menyerahkan Hwa-i Kaipang ke dalam bimbinganmu. Aku mengangkat kau sebagai ketua baru dari Hwa-i Kaipang!"

Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lokai adalah orang yang amat luas pandangannya. Memang ia bercita-cita membuat perkumpulan Hwa-i Kaipang menjadi perkumpulan yang kuat dan sekarang ia melihat ke sempatan yang amat baik untuk memperkuat perkumpulannya itu.

Pemuda ini terang adalah seorang luar biasa. Sungguh pun kelihatannya tidak memiliki kepandaian ilmu silat, namun memiliki pribudi tinggi dan pengetahuan luas. Apa lagi yang mengusulkan supaya pemuda ini diangkat menjadi ketua adalah seorang tokoh besar, yaitu Sin-eng-cu Lui Bok yang ternyata masih susiok pemuda ini.

Sekarang, melihat sepak terjang dua orang gadis itu, jelas bahwa pemuda ini selain murid keponakan Sin-eng-cu Lui Bok, kiranya masih mempunyai hubungan erat dengan pihak Hoa-san-pai. Jika Hwa-i Kaipang dapat mengangkat pemuda ini menjadi ketua, bukankah berarti bersekutu dengan Sin-eng-cu dan Hoa-san-pai sehingga menjadi amat kuat?

Di lain pihak, Kun Hong gelagapan dan bingung setengah mati mendengar ucapan kakek itu. Dia mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangannya tanda menolak. "Tidak bisa... tidak bisa, Pangcu. Aku yang bodoh mana bisa menjadi Ketua Hwa-i Kaipang?"’

Pada saat itu terdengar suara Coa-lokai yang keras dan kasar, "Saudara-saudara para anggota Hwa-i Kaipang yang masih setia kepada Hwa-i Lokai, hayo kita lekas berlutut memberi hormat kepada pangcu yang baru!"

Pengemis tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong. Tampak di belakangnya banyak sekali para pengemis ikut berlutut. Hanya beberapa orang pengemis yang berpihak kepada Beng-lokai dan Sun-lokai tidak mau berlutut, hanya memandang kepada dua orang pemimpin mereka yang berdiri dengan muka merah.

Kun Hong menjadi semakin gugup, apa lagi ketika melihat Hwa-i Lokai sendiri menjura kemudian mengangguk-angguk berkali-kali. Ketika ia memandang kepada Coa-lokai yang memelopori para anggota itu, dia melihat wajah pengemis tua ini berpeluh, dan kelihatan jelas ia menderita rasa sakit yang hebat, sedangkan lengan pergelangan membengkak. Teringatlah ia betapa dalam membela ketuanya, pengemis ini tadi terluka oleh Sin-eng-cu Lui Bok.

Ia segera memberi isyarat dengan tangannya, berkata, "Lokai, kau ke sinilah!"

Dengan sikap hormat dan juga terheran-heran, Coa-lokai bangkit dan menghampiri Kun Hong. Pemuda ini tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang lengan kanan Coa-lokai. Beberapa kali memijat saja tahulah Kun Hong bahwa tulang lengan itu tidak patah, tetapi terlepas sambungannya. Memang sejak membaca kitab pelajaran ilmu pengobatan dari Toat-beng Yokmo, pengetahuan Kun Hong tentang luka dalam dari segala macam penyakit menjadi luar biasa sekali.

"Untung Susiok tadi masih menaruh kasihan kepadamu," katanya perlahan. "Lain kali kau jangan memandang rendah orang seperti dia, Lokai."

Ia memijat sana menotok sini dan sebentar saja sambungan tulang pergelangan itu telah baik kembali dan lengan itu mengempis lagi. "Masukkan tanganmu yang ini ke dalam saku dan jangan digerak-gerakkan selama sehari semalam. Tentu akan sembuh kembali."

Tidak hanya Coa-lokai yang kegirangan dan terheran-heran, namun semua orang di situ terheran-heran, termasuk Li Eng dan Hui Cu.

"Terima kasih atas pertolongan Pangcu," kata Coa-lokai sambil melangkah mundur.

"Aku bukan ketuamu, ketuamu adalah Hwa-i Lokai itulah," kata Kun Hong.

"Tidak, kaulah Pangcu kami yang baru, Siauw-sicu. Dan inilah tanda ketua, harap kau sudi menerimanya dariku."

Hwa-i Lokai kemudian mengeluarkan sebatang tongkat kecil yang berlukiskan kembang-kembang indah, diangsurkan pada Kun Hong. Tentu saja Kun Hong tidak mau menerima tongkat itu.

"Jangan, Pangcu. Aku tak berani menerimanya. Kau tetaplah menjadi Pangcu atau pilihlah di antara pembantumu. Aku akan pulang ke Hoa-san."

Berkerut kening Hwa-i Lokai dan wajah kakek ini menjadi pucat. "Sicu, ada satu peraturan yang kami pegang keras, yaitu apa bila kami dihina, kami harus mempertahankan nyawa untuk menebus hinaan. Penolakanmu terhadap pemilihan ketua merupakan penghinaan bagi kami. Akan tetapi, oleh karena kau adalah seorang mulia dan budiman yang sudah menolong nyawaku dari ancaman mati di tangan Sin-eng-cu, bagaimana aku bisa berbuat dosa terhadapmu? Karena itu, apa bila kau tetap menolak untuk menerima tawaran kami menjadi Pangcu dari Hwa-i Kaipang, aku tua bangka ini akan membunuh diri di depan kakimu untuk menebus penghinaan ini. Selanjutnya tentang Hwa-i Kaipang kuserahkan kepadamu!" Setelah berkata demikian, kakek itu lalu mencabut pedangnya, siap untuk melakukan pembunuhan diri.

"Heiii, jangan...!" Kun Hong cepat maju dan memegang lengan Ketua itu yang memegang pedang, "Sabarlah, Pangcu... wah, bagaimana ini baiknya? Kau tidak boleh membunuh diri!"

"Kalau Sicu menolak, terpaksa aku membunuh diri menebus penghinaan."

Kun Hong memutar otaknya dan pemuda yang cerdik ini sudah mendapat jalan.

"Baiklah... baiklah, kau simpan dulu pedangmu."

Dengan muka girang Hwa-i Lokai menyimpan pedangnya dan memberikan tongkat kecil itu. Terpaksa Kun Hong menerimanya dan para pengemis anggota Hwa-i Kaipang lantas bersorak girang, kecuali mereka yang tidak setuju.

"Begini Hwa-i Lokai. Sesudah aku menjadi ketua, tentu semua anggota Hwa-i Kaipang, termasuk kau sendiri, akan taat dan menurut perintahku, bukan?"

"Tentu saja, walau pun disuruh menyerbu ke dalam lautan api, kami akan taat terhadap perintah pangcu" kata Hwa-i Lokai penuh semangat.

"Nah, bagus! Sekarang perintahku yang pertama. Aku mengangkat kau menjadi Ji-pangcu (ketua ke dua) yang mewakili aku memimpin Hwa-i Kaipang jika aku tidak berada di sini. Kau boleh memilih pembantu sendiri dan selama aku tidak berada di sini, kaulah yang menjadi wakilku dengan kuasa sepenuhnya. Sekarang aku mempunyai keperluan penting sekali, harus kembali ke Hoa-san, maka kaulah yang menjadi wakilku untuk sementara."

Semua orang tahu belaka bahwa ini merupakan akal pemuda itu, akan tetapi karena ini merupakan perintah, tentu saja tidak ada yang berani membantah.

"Tentu saja Lokai taat terhadap perintah Pangcu, akan tetapi harap saja Pangcu tidak menganggap ini sebagai main-main dan jangan berbuat tega terhadap Hwa-i Kaipang," kata kakek itu.

Li Eng adalah seorang gadis yang banyak pengertiannya tentang dunia kang-ouw, maka ia segera berkata kepada Hwa-i Lokai, "Lokai, harap kau maklumi keadaan Pamanku ini. Ketahuilah, dia adalah putera tunggal dari Ketua Hoa-san-pai, sebelum menerima ijin dari ayahnya, mana dia berani berdiam di sini menjadi ketua Hwa-i Kaipang?"

Hwa-i Lokai nampak terkejut. Memang sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Hoa-san-pai! Akan tetapi Kun Hong sudah menerima tongkat dan sudah menjadi Ketua Hwa-i Kaipang, maka diam-diam ia menjadi makin girang.

"Ah, kiranya Pangcu kita yang baru adalah putera Hoa-san-pai Ciang-bunjin! Tentu saja perintah Pangcu kami taati dan kami harap saja setelah tiba di Hoa-san dengan selamat, lain kali Pangcu memerlukan membuang waktu untuk menengok keadaan kami."

Kun Hong girang. Ia menganggap bahwa akalnya berhasil. Hanya namanya saja menjadi ketua, apa salahnya? Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.

Akan tetapi dengan marah Beng-lokai dan Sun-lokai melompat maju. Beng-lokai bersama Sun-lokai ini tadinya masih tidak berani banyak tingkah ketika Sin-eng-cu Lui Bok masih berada di situ karena maklum akan kelihaian kakek itu. Akan tetapi sekarang setelah kakek itu pergi, mereka tidak takut lagi, lebih-lebih karena memang mereka ini mempunyai pendukung-pendukung di belakang mereka.

"Tidak adil sekali keputusan ini!" seru Sun-lokai.

"Aku tidak setuju kalau ketua baru dipilih orang luar!" seru Beng-lokai.

"Kalau Pangcu hendak mengundurkan diri, seharusnya yang menjadi calon adalah kami bertiga lokai, dan di antara kami bertiga dipilih yang paling cakap untuk menjadi ketua baru. Kenapa sekarang memilih seorang bocah luar yang masih ingusan? Aku tidak setuju akan keputusan ini!" kata pula Sun-lokai.

"Betul sekali ucapan Sun-lokai. aku pun tidak mau terima. Apa bila bocah tolol ini dapat memecahkan dadaku, baru aku mau mengakui dia sebagai Ketua Hwa-i Kaipang! Ehh, bocah sombong, hayo maju dan lawanlah aku!" Beng-lokai menantang.

"Hayo, perlihatkan kegagahanmu, kalau kau memang laki-laki!" tantang pula Sun-lokai.

Dua orang kakek itu sudah mencabut pedang masing-masing.

"Aku tidak bisa berkelahi, juga tidak mau berkelahi, Ji-wi Lokai harap sabar dan mundur karena mulai sekarang Ji-wi kuanggap bukan pengurus Hwa-i Kaipang lagi. Aku tidak mau melihat pengurus atau anggota Hwa-i Kaipang yang suka berkelahi dan kelihatan sekali hasratnya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan. Ji-wi akan memberikan contoh yang buruk kepada para anggota. Harap Ji-wi mundur."

Bukan main marahnya Beng-lokai. Terang-terangan mereka dipecat!

"Kau... kau...!" Beng-lokai hendak memaki akan tetapi saking marahnya tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, sedangkan Sun-lokai maju dengan sikap mengancam.

Hwa-i Lokai lalu membentak, "Beng-lokai dan Sun-lokai, kalian sudah mendengar perintah Pangcu. Mulai saat ini kalian bukan lagi pembantu pengurus dan juga dikeluarkan dari keanggotaan. Lepaskan tali-tali putih dari pinggang kalian."

Muka dua orang pengemis itu menjadi pucat saking marahnya. Tanpa berkata sesuatu mereka melepaskan tujuh helai ikat pinggang putih dari pinggang masing-masing, lalu dengan suara lantang mereka berkata kepada Kun Hong,

"Kami sekarang sebagai orang luar menantang kepada ketua baru dari Hwa-i Kaipang untuk mengadu kepandaian. Kalau tidak berani, maka ketua baru dari Hwa-i Kaipang hanyalah seorang pengecut hina..." Yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Beng-lokai dan terpaksa ia berhenti bicara karena tiba-tiba Hui Cu sudah berdiri di depannya dengan pedang di tangan.

"Keparat bermulut kotor!" gadis ini membentak dengan suara nyaring dan mata berapi-api, "Manusia tak tahu diri, pamanku sengaja mengalah padamu akan tetapi malah membuat kepalamu membesar dan mulutmu jadi melebar. Siapa sih yang takut terhadap manusia macammu? Biar ada sepuluh orang macam kau, majulah semua dan tidak usah Paman Hong menggerakkan tangan, biar yang sepuluh itu dilawan oleh aku seorang!"

"Hi-hi-hik!" Li Eng mengeluarkan suara ketawa ditahan. "Biasanya Enci Cu pendiam dan penyabar, sekarang mendadak pintar memaki dan mudah marah!"

Kun Hong yang kuatir kalau-kalau keponakannya mencari gara-gara, segera maju dan berkata kepada Hui Cu, "Hui Cu, jangan kau sembarangan membunuh orang. Aku larang kau membunuh orang!"

Hui Cu mengerling sekilas ke arah Kun Hong sambil menjawab, "Paman Hong, yang begini ini sesungguhnya tidak patut disebut orang dan kalau tidak dibunuh hanya akan mengotori dunia. Akan tetapi karena kau melarang, baiklah, aku takkan membunuhnya, cukup membikin dia bertobat."

Tentu saja Beng-lokai menjadi semakin marah. Orang berbicara seenaknya saja tentang dirinya, seakan-akan dia ini seekor tikus saja. Dan yang bicara hanya seorang gadis muda yang lebih patut disebut kanak-kanak. Ia mengeluarkan suara menggereng,

"Ketua baru benar-benar pengecut! Tidak berani maju sendiri mengandalkan wanita..."

"Plakk!"

Entah bagaimana, tahu-tahu tangan kiri Hui Cu sudah menampar pipi kanan Beng-lokai, membuat kakek ini sempoyongan. Dia lalu meraba pipinya yang telah menjadi bengkak. Matanya melotot, mukanya merah dan napasnya memberat, tanda bahwa kemarahannya telah amat memuncak. Saking marahnya ia sampai tak memperhitungkan bahwa dengan gerakannya tadi Hui Cu sudah memperlihatkan kelihaiannya.

"Hi-hi-hik, Enci Cu. Kalau kau nanti tidak mencuci tanganmu dengan air panas, aku tidak mau menyentuh tangan kirimu yang berbau keledai!" Li Eng berkata dan terdengarlah suara ketawa di sana-sini, terutama dari pihak para anggota yang tidak suka terhadap Beng-lokai. Memang Li Eng seorang gadis yang berwatak nakal dan pandai bicara.

Beng-lokai yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi itu, sudah menerjang Hui Cu dengan serangan pedangnya. Hui Cu cepat meloncat ke tengah pelataran dan kakek itu mengejarnya. Di sinilah Hui Cu memperlihatkan kepandaiannya. Dengan gerakan yang amat indah ia mainkan pedangnya sehingga Kun Hong yang melihat menjadi melongo.

Sebagai putera pendekar, tentu saja dia sering kali melihat orang bermain pedang, akan tetapi belum pernah ia melihat permainan pedang yang begini indahnya, bagaikan orang menari saja.

Beng-lokai juga bermain pedang, akan tetapi dibandingkan dengan permainan Hui Cu, permainan pedangnya jelek sekali sehingga mereka merupakan pasangan penari pedang yang tidak seimbang. Hampir lupa Kun Hong bahwa dua orang itu sama sekali bukannya sedang menari, melainkan sedang saling serang dan bahwa dua pedang yang berkelebat itu sebetulnya sedang mengarah nyawa.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner