RAJAWALI EMAS : JILID-26


Kita tinggalkan dulu Li Eng dan Kong Bu, dua orang muda yang sama-sama berwatak aneh dan berhati keras, yang bersitegang di sepanjang jalan, saling mengejek dan saling menawan. Marilah kita mengikuti kisah Hui Cu yang pada malam hari itu dirampas oleh seorang tak dikenal, sesosok bayangan yang amat lihai sehingga dapat merampas gadis ini dari tangan Kakek Song-bun-kwi yang sakti.

Bayangan lihai yang sanggup menggempur Song-bun-kwi kemudian merampas Hui Cu itu ternyata ialah seorang pemuda tampan yang bibirnya selalu tersenyum-senyum, matanya lebar dan tajam pandangannya, hidungnya mancung dan membayangkan kejujuran dan kekerasan hati. Tubuhnya tinggi semampai, gerak-geriknya gagah membayangkan tenaga yang kuat. Siapakah dia? Kita sudah mengenalnya. Dia ini bukan lain adalah Tan Sin Lee, putera dari Kwa Hong!

Seperti sudah kita ketahui, Sin Lee turun dari puncak Lu-liang-san, turun gunung untuk melaksanakan tugas yang sudah diberikan kepadanya oleh ibunya. Ia disuruh mencari musuh-musuh ibunya, disuruh membunuh mereka itu dan disuruh pula menangkap dan menyeret Tan Beng San ke Lu-liang-san, ke depan kaki ibunya. Di dalam hatinya Sin Lee tidak dapat menerima tugas membunuh-bunuhi orang yang tidak bermusuhan dengannya itu, akan tetapi ia sudah berjanji untuk memenuhi permintaan ibunya dan menyeret Tang Beng San ke Lu-liang-san.

Dalam perjalanannya, orang muda ini tertarik pula untuk melihat keadaan kota raja selatan yang tersohor indah dan ramai. Dan kebetulan sekali pada malam hari itu dia melihat seorang kakek tinggi besar berlari secepat terbang sambil mengempit tubuh dua orang wanita muda. Kakek ini adalah Song-bun-kwi yang berhasil merampas Hui Cu dan Li Eng dari dalam Istana Kembang.

Diam-diam Sin Lee menjadi penasaran dan mengikuti dari belakang. Ia kaget sekali ketika melihat betapa larinya kakek itu cepat sekali, tanda bahwa kakek itu memiliki kepandaian tinggi. Ia tidak berani gegabah turun tangan karena selain maklum bahwa kakek itu tentu seorang berilmu tinggi, juga dia tidak tahu urusan mereka, tidak tahu siapa salah siapa benar. Karena itulah maka ia terus secara diam-diam mengikuti dari jauh dan mengintai ketika kakek itu masuk ke dalam kelenteng.

Ketika ia mendengar kata-kata kakek itu bahwa dua orang gadis ini adalah anak murid Hoa-san-pai, Sin Lee semakin kaget dan menaruh perhatian. Kata ibunya, kongkong-nya, kakeknya adalah ketua dari Hoa-san-pai! Jadi dua orang gadis ini adalah anak murid dari kakeknya! Kagum dia ketika menyaksikan keberanian dua orang gadis itu menghadapi kakek ini yang ia tidak tahu siapa adanya.

Keheranan Sin Lee makin meningkat ketika ia melihat dua orang itu nekat melarikan diri keluar dari kelenteng dikejar oleh kakek itu dan mendengar ucapan Hui Cu yang hendak membujuk kakek itu agar jangan mengganggu mereka karena mereka adalah keponakan-keponakan dari Tan Beng San dan hendak pergi ke Thai-san!

Mendengar ini, Sin Lee mendapat pikiran baik sekali. Ia harus menolong dua orang gadis itu karena mereka adalah anak murid Hoa-san-pai, berarti anak murid kakeknya pula, dan selain itu, mereka itu bisa menjadi perantara agar ia dapat naik ke Thai-san tanpa banyak rintangan, mencari Tan Beng San dan menangkapnya!

Inilah sebabnya maka tanpa ragu-ragu lagi Sin Lee menyerang kakek itu dan alangkah heran serta kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu ternyata mempunyai kepandaian yang hebat sekali. Ia menjadi gembira dan sekiranya ia tidak memiliki maksud menolong dua orang gadis itu, ingin dia menguji kepandaiannya dan melawan kakek itu sampai puas.

Akan tetapi keinginannya ini buyar ketika ia mendengar suara melengking dari jauh dan segera tahu bahwa kakek ini mempunyai pembantu yang sama lihainya, maka cepat ia menyambar Hui Cu dan dibawa lari dari tempat itu. Dari pada tidak menolong sama sekali, lumayan juga dapat menolong seorang di antara kedua murid Hoa-san-pai itu.

Hui Cu merasa sangat kaget ketika tahu-tahu ia dibawa lari seperti terbang oleh seorang laki-laki yang tidak ia lihat mukanya karena keadaan gelap. Ia tidak tahu apakah orang ini lawan ataukah kawan, akan tetapi dalam pondongan orang ini ia sama sekali tidak dapat bergerak.

Sin Lee berlari terus cepat-cepat karena ia tidak ingin kakek itu bersama pembantunya mengejarnya. Andai kata ia tidak hendak menolong orang, tentu saja ia tidak takut. Akan tetapi dengan adanya gadis yang ditolongnya ini, tentu takkan leluasa ia bergerak dan akhirnya gadis ini pun akan tertawan pula.

Sampai malam terganti pagi Sin Lee masih terus berlari keluar hutan. Pada waktu Hui Cu mendapat kesempatan memandang wajah pemondongnya di antara kesuraman cuaca fajar, gadis ini melihat wajah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Hatinya berdebar penuh kekuatiran, terutama sekali kalau dia teringat akan nasib Li Eng di tangan kakek yang menyeramkan itu.

"Kau siapakah? Kawan ataukah lawan? Ke mana kau membawaku pergi?" Dia tak dapat menguasai hatinya, akhirnya Hui Cu lalu bertanya.

Sin Lee juga kaget sekali. Ia tadi berlari sambil termenung memikirkan apa yang telah ia lakukan. Selama hidupnya baru sekali ini ia memondong wanita. Jangankan memondong, biasanya bercakap-cakap atau berdekatan pun belum pernah! Benar-benar pengalaman yang membikin ia bingung dan mendebarkan jantungnya.

Ia sampai kaget mendengar suara halus di pinggir kepalanya itu yang menyeret ia kembali kepada kesadarannya. Segera dia berhenti berlari, kemudian menurunkan gadis itu dari pondongannya, dan akhirnya memandang dengan muka merah. Dadanya makin berdebar tak karuan saat ia menatap wajah yang cantik manis, penuh ketenangan dan keberanian. Apa lagi sesudah dia bertemu pandang dengan sepasang mata bening yang memandang kepadanya penuh selidik, seakan-akan sinar mata gadis itu mampu menembus dada dan menjenguk isi hatinya.

"Ehh... maaf... aku bukanlah kawan bukan pula lawan. Tapi... aku harus menyelamatkan Nona dari tangan kakek iblis itu," katanya agak gugup.


Hui Cu cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat. "Banyak terima kasih atas pertolongan Saudara, akan tetapi... ahh, mengapa Saudara kepalang tanggung menolong kami? Apa artinya aku dapat bebas kalau adikku masih di sana? Sekali lagi terima kasih dan selamat tinggal." Hui Cu lalu membalikkan tubuhnya dan lari kembali ke arah hutan.

"Ehh, Nona... mau ke manakah kau?"

"Ke mana lagi kalau tidak kembali ke sana? Aku harus menolong adikku!" jawab Hui Cu tanpa mengurangi kecepatannya berlari.

Pemuda itu melompat dan cepat mengejarnya. Mereka kini lari berendeng.

"Apa kau gila? Kakek itu lihai sekali, kau akan ditawannya kembali."

"Jangankan ditawan, biar harus berkorban nyawa, aku rela untuk menolong adikku. Kami berdua berangkat bersama, harus pulang bersama atau mati bersama."

Sinar mata pemuda itu membayangkan kekaguman besar. "Kau hebat sekali, Nona. Inilah namanya setia kawan. Dan ilmu lari cepatmu pun boleh juga."

Senang hati Hui Cu dipuji oleh pemuda penolongnya yang ia tahu kepandaiannya sangat tinggi itu. "Ahh, mana bisa dibandingkan dengan kau?"

Ia melirik, justru Sin Lee pun mengerling. Dua pasang mata bertemu dalam kerlingan, dua buah mulut tersenyum dan sekaligus dua muka para remaja itu menjadi merah, jantung mereka berdetak liar. Mereka berlari terus tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.

"Ehh, ke arah mana jalannya? Aku bingung, tidak ingat lagi..." kata Hui Cu. Malam tadi ia dipondong, tentu saja tidak tahu jalan.

Pemuda itu tersenyum lalu berkata singkat, "Kau ikutilah aku!" kemudian ia membelok dan memasuki hutan.

Sin Lee sengaja tidak mau mengambil jalan semalam karena ia masih kuatir kalau-kalau bertemu dengan para pengejarnya. Ia kuatir kalau-kalau gadis yang luar biasa ini akan tertawan lagi oleh lawan-lawan yang amat sakti itu. Akan tetapi ia mengambil jalan yang terdekat menuju ke tengah hutan di mana terdapat kelenteng tua itu.

Ketika kelenteng itu sudah tampak, Sin Lee menahan Hui Cu. "Nona, kau bersembunyilah di sini. Biar aku yang pergi menyelidiki ke sana dan kalau ada kesempatan, akan kucoba untuk merampas adikmu itu."

Hui Cu maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat membantu penolongnya ini melawan kakek yang sakti itu. Maka, ia mengangguk dan memandang kepada Sin Lee dengan mesra, penuh pernyataan syukur dan terima kasih.

Jantung pemuda ini serasa berloncatan ketika ia melihat pandang mata itu. Dengan hati senang sekali mulailah ia menyelinap dan menyusup ke dalam semak-semak, berloncatan di antara pohon-pohon mendekati kelenteng.

Dari jauh Hui Cu memandang dengan kagum karena gerakan Sin Lee memang luar biasa sekali gesitnya. Kadang kala pemuda itu melayang ke atas pohon seperti seekor burung garuda saja sikapnya.

Tak lama kemudian, Sin Lee sudah kembali ke depan Hui Cu. Wajah pemuda ini kelihatan kecewa dan suaranya membayangkan kekecewaan pula ketika ia berkata, "Nona, aku tak melihat seorang pun di antara mereka di sana. Kelenteng itu kosong sama sekali."

Wajah Hui Cu seketika menjadi pucat. Dengan isak tertahan gadis ini melompat dan lari menuju kelenteng itu, diikuti dari belakang oleh Sin Lee. Hui Cu langsung menyerbu ke dalam kelenteng, mencari ke depan, ke belakang sambil terus memanggil-manggil nama Li Eng. Namun sia-sia belaka, di sana sunyi tidak terdapat orang yang dicarinya, bahkan bekasnya pun tidak nampak.

"Eng-moi... aduh Eng-moi... bagaimana nasibmu...?"

Hui Cu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menutupi muka. Ia tidak menangis keras-keras, akan tetapi dari pundaknya yang bergoyang-goyang dan dari celah-celah jari tangan yang membasah tahulah Sin Lee bahwa gadis ini menangis sedih sekali. Akhirnya Hui Cu dapat menguasai perasaannya dan ia bangun berdiri, mengeringkan air mata yang membasahi pipinya, lalu memandang kepada Sin Lee dengan sedih dan berkata sambil membanting kaki,

"Celaka sekali, kemana aku harus mencari Eng-moi? Ahh, kalau dia sampai kena celaka, bagaimana aku harus bicara dengan Paman dan Bibi?"

Sin Lee mengerutkan keningnya tanda bahwa ia pun ikut berpikir keras. Ia mengandung maksud hati hendak mempergunakan anak murid Hoa-san-pai yang mengaku sebagai keponakan Tan Beng San ini untuk memaksa musuh besar ibunya itu supaya memenuhi permintaannya, yaitu pergi menghadap ibunya di Lu-liang-san.

Diam-diam ia tadinya hendak menjadikan gadis ini sebagai tawanannya untuk memaksa Tan Beng San. Akan tetapi satelah ia melihat wajah Hui Cu dan melihat keadaan gadis ini, entah bagaimana timbul perasaan kasihan dalam hatinya.

"Nona, menyesal sekali malam tadi aku tidak mampu menolong adikmu. Jadi dia itu anak pamanmu? Hemm, agaknya dia dibawa pergi oleh kakek siluman itu. Kalau saja kau bisa beri tahukan kepadaku siapa adanya kakek iblis itu, kiranya aku suka untuk membantumu mengejarnya dan merampas kembali adik misanmu. Siapakah kakek itu?"

"Aku sendiri tidak tahu." Hui Cu menarik napas panjang, bingung sekali tampaknya. "Ah... benar-benar nasib kami buruk. Paman Hong masih belum kuketahui bagaimana nasibnya di tangan Pangeran jahat itu, sekarang Adik Eng terculik oleh kakek iblis pula..."

"Paman Hong siapakah?"

Karena Sin Lee dianggapnya satu-satunya orang yang pada saat itu boleh ia ajak bicara, dengan singkat Hui Cu lalu menceritakan pengalamannya, yaitu semenjak ia dan Li Eng turun dari Hoa-san dengan tujuan pergi ke Thai-san menghadiri pesta upacara pendirian partai Thai-san-pai, mewakili Hoa-san-pai.

Kemudian di tengah jalan mereka bertemu dengan Kwa Kun Hong, paman seperguruan mereka dan bersama melanjutkan perjalanan dengan singgah ke kota raja. Diceritakannya pula tentang undangan Pangeran Kian Bun Ti yang menyebabkan mereka ditahan karena menolak pemberian anugerah.

"Aku dan Adik Eng dipisahkan dari Paman Hong. Kemudian pada malam hari itu kakek iblis merampas kami dari tempat tahanan di Istana Kembang, lalu kakek itu membawa kami ke kelenteng ini, sampai akhirnya kau datang menolongku."

Sin Lee tertarik sekali, terutama mendengar tentang maksud gadis ini pergi ke Thai-san untuk memberi selamat kepada Tan Beng San. Ingin ia bertanya lebih jelas tentang ini, akan tetapi Sin Lee adalah orang yang cerdik. Ia tak mau mengutarakan rahasia hatinya dan ia berkata heran,

"Aneh sekali kakek iblis itu. Mengapa dia begitu benci kepada kau dan adik misanmu, Nona? Apakah di antara dia dan kalian ada permusuhan?"

Hui Cu menggeleng kepalanya. Akan tetapi entah bagaimana, ia menaruh kepercayaan besar kepada pemuda yang telah menolongnya ini, maka ia berkata secara terus terang, "Melihat sikap dan mendengar bicaranya, dia amat membenci Hoa-san-pai, apa lagi anak murid Hoa-san-pai yang wanita. Agaknya kakek itu mengandung sakit hati yang sangat hebat terhadap seorang wanita anak murid Hoa-san-pai." Dia mengangguk-angguk untuk meyakinkan dugaannya.

Jantung Sin Lee berdebar-debar. "Siapakah anak murid wanita Hoa-san-pai yang dapat membuat sakit hati seorang kakek begitu lihai?"

"Aku sendiri pun tidak tahu, akan tetapi aku dapat menduga... hemmm, tidak bisa lain, kalau ada tokoh kang-ouw seperti kakek itu bisa sakit hati terhadap seorang murid wanita Hoa-san-pai, tentulah... dia, siapa lagi?"

"Dia... dia siapakah, Nona? Atau... barangkali sebagai orang luar aku tidak berhak untuk mengetahui?"

Mendengar suara pemuda itu mengandung kekecewaan, hati Hui Cu menjadi tak enak. Tidak apa diberi tahu, pikirnya.

"Menurut dugaanku, murid wanita dari Hoa-san-pai yang sangat banyak musuhnya adalah bibi guruku sendiri, namanya Hong, she Kwa, entah di mana dia sekarang..."

Sin Lee menjadi pucat sekali mukanya. Dia cepat-cepat membungkuk sambil pura-pura membersihkan sepatunya yang penuh lumpur. Pada waktu ia mengangkat lagi tubuhnya, mukanya menjadi merah sekali.

"Apakah... apakah bibi gurumu itu... dahulunya amat jahat maka banyak musuhnya?" dia bertanya, suaranya biasa akan tetapi perlahan sekali.

"Banyak orang bilang begitu, tetapi ibuku tidak! Kata Ibu, Bibi Kwa Hong itulah yang telah menyelamatkan nyawa Ibu dan aku ketika dalam kandungannya, dan kata Ibu, Bibi Kwa Hong jadi berubah perangainya karena patah hati, entah apa maksudnya Ibu tidak mau menceritakan kepadaku."

Sunyi sesaat, dan suara Sin Lee semakin perlahan ketika dia bertanya, sambil lalu saja, "Jadi kau tidak membencinya?"

"Ahh, tidak...! Malah aku kasihan kepada Bibi Kwa Hong dan ingin sekali aku bertemu dengannya. Kata Ibu, Bibi Kwa Hong orangnya lincah gembira seperti Adik Eng dan cantik sekali."

Gadis itu tidak tahu bahwa ucapannya ini membuat hati Sin Lee girang bukan main! Mana dia tahu bahwa orang yang dibicarakan itu, yaitu Kwa Hong, adalah ibu dari pemuda yang sekarang berada di depannya.

"Nona, percayalah, aku Sin Lee akan berusaha menemukan kembali adik misanmu Nona Li Eng itu dan aku... aku sekarang dapat menduga siapa adanya kakek iblis itu. Hemmm, kalau saja aku tahu sebelumnya bahwa dia adalah iblis itu, takkan mungkin kutinggalkan dia sebelum berhasil membunuhnya. Kiranya ia benar-benar jahat sekali."

"Kau... kau tahu siapa kakek itu?"

"Aku dapat menduga, kalau tidak salah dialah yang berjuluk Song-bun-kwi."

"Ahh, dia...?" Wajah Hui Cu menjadi pucat. "Pernah Ibu bercerita kepadaku tentang dia... dia tokoh besar puluhan tahun yang lalu. Benarkah dia itu Song-bun-kwi?"

"Kiraku tidak keliru dugaanku. Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"

Pandang mata Hui Cu menunduk. Pemuda ini benar-benar amat baik, sopan dan ramah, tapi juga agak aneh sikapnya. "Aku Hui Cu, she Thio. Kau sendiri she apakah?"

"Aku she Tiauw, Tiauw Sin Lee." Ia sengaja menggunakan she (nama keturunan) Tiauw yang berarti rajawali karena setelah gadis ini tahu soal ibunya, ia tidak berani memakai she Kwa atau she Tan agar gadis ini tidak mencurigainya.

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Nona? Apakah kau akan melanjutkan kembali perjalananmu ke Thai-san?"

Hui Cu menggelengkan kepala. "Mana bisa aku pergi ke sana kalau Paman Hong masih ditahan di kota raja? Aku harus berusaha membebaskan Paman Hong dari tahanan."

"Di dalam ceritamu tadi kau bilang bahwa pamanmu Kwa Kun Hong itu adalah putera tunggal Ketua Hoa-san-pai, Kakek gurumu. Tentu ia lihai sekali, lalu bagaimana ia bisa tertawan?"

Hui Cu menarik napas panjang. "Kau tidak tahu tentang Paman Hong. Dia itu orang aneh sekali. Biar pun dia itu putera Ketua Hoa-san-pai, namun sedikit pun ia tidak pandai ilmu silat, malah tidak pernah belajar ilmu silat. Ia adalah ahli dalam ilmu kesusastraan, akan tetapi keberaniannya luar biasa melebihi jago silat yang mana pun juga."

Lalu ia menceritakan betapa Kun Hong berani menolak anugerah Pangeran, bahkan juga menceritakan betapa pamannya yang tidak pandai ilmu silat itu menggegerkan pemilihan ketua Hwa-i Kaipang dan akhirnya malah diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis yang berpengaruh itu!

Sin Lee mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman. "Hebat pamanmu itu, ingin sekali aku berjumpa dan bercakap-cakap dengan dia. Marilah kita tolong dia keluar dari tahanan, Nona. Akan tetapi karena kau sudah banyak dikenal, tentu kemunculanmu di kota raja akan mendatangkan keributan dan kesukaran, maka kurasa lebih baik kau bersembunyi di luar tembok kota dan biarlah aku seorang diri pergi menyelidiki keadaan pamanmu itu. Kalau mungkin aku akan turun tangan, kalau sekiranya sukar, kita berdua bisa bergerak malam nanti.”

Hui Cu girang sekali. "Saudara Tiauw, kau benar-benar telah melepas budi amat banyak kepadaku. Kau baik hati sekali dan ilmu silatmu amat lihai. Tidak tahu kau ini murid siapa dan dari golongan manakah?"

Sin Lee tersenyum. "Tak usah merasa sungkan, Nona. Sudah semestinya manusia saling menolong dalam kesukaran dan sudah menjadi kewajibanku untuk menentang yang jahat membela yang tertindas. Ada pun ilmu silatku yang masih dangkal ini kupelajari dari ibuku sendiri, bukan dari golongan mana pun juga. Harap kau jangan memuji terlalu tinggi."

Demikianlah, keduanya kemudian meninggalkan kelenteng itu menuju ke kota raja. Inilah sebabnya Song-bun-kwi tidak dapat mengejar mereka karena kakek itu tentu saja sama sekali tak pernah mengira bahwa dua orang itu malah kembali ke kelenteng mengambil jalan lain kemudian malah pergi kota raja!

Ditemani Sin Lee yang gagah perkasa sopan terhadap dirinya, Hui Cu menjadi besar hati dan ia hampir merasa yakin bahwa kalau pemuda ini mau membantunya, pasti pamannya akan dapat dibebaskannya dan agaknya soal Li Eng juga akan dapat dibereskan.

Pada saat itu Hui Cu sedang diliputi kekuatiran hebat, kuatir memikirkan nasib Kun Hong. Oleh karena inilah maka ia tidak dapat merasa terlalu sungkan berduaan dengan Sin Lee, pemuda kenalan barunya itu. Andai kata dia tidak sedang menghadapi dua perkara yang menggerogoti hatinya ini, kiranya ia akan merasa sungkan dan malu untuk mengadakan perjalanan berdua saja dengan seorang pemuda asing.

Setibanya di luar tembok kota raja, Hui Cu lalu bersembunyi di suatu tempat dan Sin Lee meninggalkannya, masuk seorang diri ke kota raja. Segera dia mencari keterangan dan kabar untuk mengetahui di mana ditahannya pemuda Hoa-san-pai yang bernama Kwa Kun Hong itu. Tetapi keterangan yang ia dapatkan membuat ia terkejut dan juga bingung.

Keterangan apakah yang ia dapat? Tidak hanya dari satu dua orang. Malah ia sengaja menangkap seorang pengawal istana dan di tempat tersembunyi ia mengancam pengawal itu untuk mengaku dan memberi keterangan mengenai Kwa Kun Hong. Dan keterangan pengawal ini sama dengan keterangan yang ia dapat di luaran, yaitu bahwa pemuda dari Hoa-san-pai yang telah ditahan karena berani membangkang terhadap perintah Pangeran Mahkota itu sudah ditolong oleh... setan dan lenyap tak berbekas!

"Hanya setan yang dapat menolong dia secara itu," demikian keterangan yang ia dapat. "Pemuda itu tahu-tahu lenyap dari dalam kamar tahanan dan sebagai gantinya Pangeran Mahkota sendiri yang berada di sana, yang marah-marah kepada penjaga minta segera dibebaskan. Setelah para penjaga membuka pintu, Pangeran Mahkota keluar kemudian memerintahkan semua penjaga masuk dalam kamar tahanan lalu dikunci dari luar. Nah, bukankah itu aneh? Padahal Pangeran Mahkota berada di dalam istananya, tidak pernah keluar, apa lagi ke kamar tahanan. Masa pemuda itu dapat berubah menjadi Pangeran? Hanya setan yang dapat menolongnya seperti itu."

Hui Cu juga bengong terlongong mendengar cerita Sin Lee atas hasil penyelidikannya ini. "Heran sekali, mana bisa terjadi begitu? Paman Hong memang sangat aneh dan berani, akan tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat. Siapa gerangan yang telah menolongnya? Apa bila memang ada seorang sakti yang menolongnya, mengapa caranya seaneh itu?"

Sin Lee tersenyum. "Berita ini tidak bohong, aku malah mendapatkan keterangan ini dari seorang pengawal istana yang kutangkap. Setan atau pun bukan, sudah terang pamanmu telah ditolong dan sudah tidak ditahan lagi. Sekarang, apa kehendakmu, Nona?"

"Semua ini aneh sekali. Adik Eng berada di tangan seorang sakti, juga Paman Hong kalau dibawa oleh penolongnya, berarti dia berada di tangan orang yang sakti dan aneh. Kupikir lebih baik aku pergi ke Thai-san menjumpai Paman Tan Beng San yang oleh ayah ibuku dianggap orang terpandai di dunia ini. Kalau tidak Paman Tan Beng San yang menolong, siapa lagi?"

Ucapan gadis ini menimbulkan perasaan campur aduk di hati Sin Lee. Ia girang karena memang itulah kehendaknya, dapat pergi ke Thai-san bersama gadis ini yang hendak ia pergunakan sebagai alat untuk memaksa agar Tan Beng San mau menghadap ibunya. Akan tetapi ia juga tak senang mendengar betapa gadis ini memuji Tan Beng San musuh besar ibunya itu sebagai ‘orang terpandai di dunia’. Huh, ingin dia membuktikan sendiri sampai di mana kelihaian Tan Beng San itu.

"Baiklah kalau begitu, Nona Thio. Mari kuantar kau ke Thai-san."

Merah wajah Hui Cu. Kalau begini sudah keterlaluan, pikirnya. "Ah, Saudara Tiauw, mana aku berani membikin kau repot? Budimu sudah terlalu besar bagiku, tak usah kau tambah lagi dengan mengantar aku ke Thai-san. Kau membikin aku menjadi malu saja."

Sin Lee tersenyum, diam-diam ia makin kagum akan sikap gadis ini. Sederhana, tenang, tabah, dan bicaranya sungguh-sungguh tanpa dibuat-buat serta memiliki pandangan jauh.

"Nona, sama sekali bukan begitu. Mana bisa kau merepotkan aku kalau aku sendiri pun juga hendak pergi ke sana? Aku memang hendak mengunjungi Thai-san, hendak melihat upacara serta hendak bertemu dengan Bu-tek Kiam-ong Tan Beng San yang namanya bahkan lebih tinggi dari pada puncak Gunung Thai-san itu." Dalam kata-kata terakhir ini terkandung ejekan.

"Betulkah begitu?" Hui Cu berkata girang, "Kalau memang begitu, tentu saja aku... senang sekali dapat melakukan perjalanan bersama denganmu, Saudara Tiauw."

Sin Lee menjura dan tersenyum "Syukur sekali kau sudi, Nona, inilah jawaban yang amat kuharapkan."

Demikianlah, dua orang muda itu melakukan perjalanan bersama menuju ke Thai-san. Mula-mula Hui Cu memang merasa agak tidak enak dan likat harus melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang bukan kerabatnya. Akan tetapi berkat sikap Sin Lee yang sopan dan memang pemuda ini wataknya riang gembira, akhirnya lenyap ketidak enakan hati gadis itu dan mereka bergaul seperti sahabat-sahabat lama…..

********************

Sekarang kita perlu menyelidiki mengenai keadaan Kun Hong. Betulkah pemuda ini sudah ditolong setan atau ditolong seorang sakti? Seperti telah kita ketahui, Kun Hong diperiksa oleh Tan-taijin yang dahulu adalah sahabat baik tokoh-tokoh Hoa-san-pai dan karenanya merasa suka dan simpati kepada putera Ketua Hoa-san-pai ini.

Oleh karena Tan-taijin ingin sekali menolong dua orang gadis murid Hoa-san-pai itu dari cengkeraman Pangeran Mahkota, maka dia menyuruh para pengawal menahan kembali Kun Hong dalam penjara dengan pesan agar Kun Hong diperlakukan sebagai tamu. Tapi betapa pun juga, para pengawal yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar tentu saja tidak membiarkan Kun Hong bebas. Pemuda ini tidak dibelenggu, akan tetapi dimasukkan kamar tahanan yang terkunci dari luar dan pemuda ini kelihatan dari luar melalui sebuah jendela yang dipalangi ruji-ruji besi.

Setelah dimasukkan lagi ke dalam kamar tahanan. Kun Hong merenung. Celaka, pikirnya, sama sekali ia tidak sangka akan begini berlarut-larut urusan itu. Ia memikirkan nasib dua orang keponakannya. Bagaimana andai kata pangeran mata keranjang itu menggunakan kekuasaannya dan melakukan paksaan?

Ahhh, dialah yang harus bertanggung jawab atas keselamatan dua orang keponakannya. Bukankah mereka itu hanya dua orang gadis muda dan bukankah dia menjadi pamannya?

Celaka, semua adalah salahku. Seandainya mereka tidak bertemu dengan aku, kiranya mereka takkan mengalami nasib seperti sekarang ini. Ah, bagaimana pun juga aku harus menolong mereka, menolong mereka bebas dari cengkeraman Pangeran Mahkota. Harus! Aku harus menolong mereka. Tapi, bagaimana caranya?

Ketika seorang pengawal membuka pintu kamarnya membawa satu baki penuh dengan hidangan yang lezat, teringatlah Kun Hong peristiwa dengan Sin-eng-cu Lui Bok yang dahulu menyihirnya sehingga roti kering berubah menjadi roti lunak dan air tawar berubah menjadi arak! Mengapa tidak ia coba kepandaian ini?

Sudah lama ia mempelajari ilmu menguasai semangat yang kitabnya ia terima dari kakek sakti itu. Belum pernah ia mencobanya, akan tetapi sekarang menghadapi mala petaka yang mengancam kedua orang keponakannya, terpaksa harus dia coba dalam usahanya menolong mereka.

"Orang muda, silakan makan. Masih baik nasibmu bahwa Tan-taijin memerintahkan agar supaya kau diperlakukan dengan baik, kalau tidak, hemm... jangan harap bisa mendapat hidangan seperti ini," kata pengawal itu yang merasa mendongkol juga.

Biasanya, apa bila ada seorang tahanan, ia dan teman-temannya mendapat kesempatan untuk memeras tahanan itu sehingga keluarga si tahanan mengeluarkan ‘uang arak’ agar si tahanan diperlakukan baik-baik. Tapi terhadap Kun Hong mereka tidak bisa memeras karena takut kepada Tan-taijin.

Kun Hong tiba-tiba bangkit berdiri dari bangkunya dan membentak sambil memandang tajam, "Heii, pengawal! Terhadap aku, Pangeran Mahkota, kau berani bersikap kurang ajar? Apa kau minta dihukum mati?"

Pengawal itu kaget, memandang dan... matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. Yang berdiri di depannya bukanlah pemuda itu tadi, tapi Pangeran Mahkota yang memandang marah. Cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut.

"Ini... ahhh, bagaimana... hamba mohon beribu ampun..." katanya gagap dengan seluruh tubuh menggigil ketakutan.

Gembira sekali hati Kun Hong ketika melihat percobaan ilmunya itu berhasil. Ia sudah berhasil menguasai semangat dan pikiran pengawal ini dengan pengaruh ilmunya.

"Lekas panggil semua pengawal ke sini. Cepat!" bentaknya.

Pengawal itu mengangguk-angguk lalu merangkak mundur, keluar dari kamar tahanan itu dan berlari-lari memanggil teman-temannya.

Sementara itu Kun Hong mengerahkan seluruh kekuatan ilmunya untuk dapat menguasai belasan orang pengawal yang memasuki kamar tahanan itu. Mereka semua menjatuhkan diri berlutut di dalam kamar itu, seperti pengawal tadi mereka mohon ampun!

"Karena orang muda itu tak bersalah, aku telah membebaskannya. Kalian ceroboh benar, sampai tidak melihat masukku dan keluarnya orang muda itu. Hemm! kalian semua harus dihukum," bentaknya.

Belasan orang itu cepat-cepat mengangguk-angguk minta ampun. Takut bukan main hati mereka karena Pangeran Mahkota terkenal bengis terhadap para pengawal.

“Sementara kalian tinggal di kamar ini, jangan keluar. Berikan kuncinya!"

Pengawal yang mengantar makanan tadi cepat merangkak maju dan menyerahkan kunci kamar itu. Kun Hong segera menyambarnya, terus berjalan keluar dengan tenangnya dan mengunci pintu kamar tahanan itu dari luar. Kemudian, seperti orang berjalan keluar dari rumahnya sendiri, dia keluar dari rumah tahanan itu tanpa ada yang merintanginya karena semua pengawal sudah ia keram dalam kamar tahanan.

Ia berjalan terus di jalan besar, bercampur dengan orang banyak dan pergi menuju ke Istana Kembang. Akan tetapi alangkah susah hatinya ketika ia mendengar peristiwa hebat yang menjadi buah bibir penduduk kota raja, yaitu tentang seorang kakek yang menyerbu Istana Kembang, membunuhi para pengawal dan seisi istana, dan menculik pergi dua orang keponakannya.

Ia bingung dan tidak tahu siapakah kakek itu, penolongkah atau penjahatkah? Bila dilihat bahwa dua orang keponakannya dibebaskan dari istana, berarti menolong, akan tetapi kalau diingat bahwa kakek itu sangat kejam, membunuhi semua pengawal dan pelayan, benar-benar mengerikan sekali, seperti bukan perbuatan manusia.

Ke mana aku harus mencari mereka? Ke mana gerangan kakek iblis itu membawa pergi Li Eng dan Hui Cu? Benar-benar gelisah hati Kun Hong memikirkan nasib kedua orang keponakannya itu dan menyesallah ia mengapa ia mengajak mereka menerima undangan Pangeran Mahkota. Alangkah gembira tadinya mereka bertiga melakukan perjalanan, dan sekarang, gara-gara pangeran mata keranjang, mereka berpisah dan ia tidak tahu harus menyusul ke mana.

Ke mana lagi jika tidak ke Thai-san, pikirnya. Li Eng dan Hui Cu bermaksud hendak pergi ke Thai-san. Bukan tidak mungkin sesudah ditolong oleh kakek itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Thai-san.

Hanya satu hal yang membuat ia ragu-ragu. Kalau dua orang gadis itu selamat, mengapa mereka tidak berusaha menolongnya? Ia merasa yakin bahwa dua orang keponakannya itu pasti tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Tak ada lain jalan lagi bagiku, pikirnya, selain melanjutkan perjalanan ke Thai-san. Syukur kalau di sana aku dapat bertemu dengan mereka, bila tidak, aku akan minta pertolongan Paman Tan Beng San untuk mempergunakan kekuatannya sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan, untuk mencari dan menolong Li Eng dan Li Cu.

Setelah mendapat keterangan tentang jurusan jalan menuju ke Thai-san, Kun Hong tidak mau membuang waktu lagi, langsung ia melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Thai-san. Sekarang ia melakukan perjalanan seorang diri, maka ia melakukan perjalanan cepat. Keindahan pemandangan di sepanjang jalan tidak terasa indah lagi karena hatinya terganggu oleh persoalan hilangnya Li Eng serta Hui Cu yang masih belum dia ketahui nasibnya.

Tanpa ia sadari, Kun Hong sekarang telah mempunyai tubuh yang amat kuat dan dapat melakukan perjalanan dengan cepat. Hatinya risau kalau ia teringat akan pengalaman-pengalamannya di kota raja. Menguatirkan keadaan Li Eng dan Hui Cu, juga kecewa dan mendongkol sekali kalau ia teringat tentang pedang Ang-hong-kiam yang dirampas oleh pemuda pesolek yang kurang ajar di rumah Tan-taijin itu.

Kalau saja dia tidak ingin cepat-cepat ke Thai-san untuk mencari kalau-kalau dua orang keponakannya selamat berada di sana, tentu lebih dulu ia akan mencari pemuda tampan yang menampar pipinya itu di rumah Tan-taijin untuk ia minta kembali pedangnya. Biarlah, sepulangnya dari Thai-san, kalau semua urusan ini sudah beres, dia pasti akan mencari pemuda itu di rumah Tan-taijin dan dengan baik ia akan minta kembali pedangnya. Kalau tidak diberikan, terpaksa ia akan menggunakan kekerasan.

Pedang itu adalah pemberian dari gurunya Bu Beng Cu. Meski sebenarnya ia tidak suka membawa-bawa apa lagi menggunakan pedang, ia tahu bahwa pedang itu benda pusaka dan akan ia berikan kepada ayahnya.

Ketika ia mulai memasuki sebuah hutan yang besar dan penuh ditumbuhi pohon-pohon raksasa, tiba-tiba dari jauh ia melihat tiga bayangan orang berlari cepat sekali. Semenjak mengalami hal-hal yang pahit di kota raja, Kun Hong menjadi sangat hati-hati.

Cepat ia menyelinap ke belakang sebatang pohon besar dan mengintai. Tiga orang itu makin dekat dan berdebarlah hati Kun Hong ketika mengenal mereka sebagai tiga orang di antara tujuh jagoan istana pengawal Pangeran Mahkota!

Ia mengingat-ingat tujuh orang jagoan yang pernah diperkenalkan kepadanya dan tahu bahwa yang sekarang berlari cepat memasuki hutan itu adalah Tiat-jiu Souw Ki Si Tangan Besi yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam bersama sepasang saudara kembar Ho-pak Siang-sai (Sepasang Singa dari Ho-pak).

Setelah mereka lewat, Kun Hong diam-diam mengikuti mereka dari belakang, menyelinap di antara pepohonan. Mereka itu adalah kaki tangan Pangeran Mahkota, sangat boleh jadi kedatangannya ini ada hubungannya dengan dua orang keponakannya.

Heran hati Kun Hong ketika ia mengikuti tiga orang itu sampai di tengah hutan ia melihat sebuah sungai besar dan di pinggir sungai itu di antara pohon-pohon tampak bangunan tembok. Kiranya di tempat terpencil ini terdapat bangunan yang sangat berbeda dengan dusun-dusun biasa, pikirnya. Ia mengikuti terus. Ketika tiga orang itu berhenti di depan sebuah jembatan, ia pun berhenti, bersembunyi dan mengintai.

Ternyata bahwa bangunan-bangunan yang besar-besar berjumlah lima, terkurung pagar tembok yang tinggi dan di sekeliling pagar tembok itu terdapat anak sungai yang agaknya menjadi cabang sungai besar yang mengalir di sebelah utara dusun ini. Jalan dari darat menuju ke dalam dusun itu hanya dihubungkan dengan jembatan kecil itu, jembatan yang bentuknya seperti bunga teratai, terbuat dari kayu berukir indah dan di atas jembatan ini terdapat belasan orang penjaga yang berpakaian seperti pendeta Agama To.

Kun Hong memperhatikan dan menduga-duga. Apakah dusun itu merupakan sekumpulan kuil besar dari para tosu. Namun, biasanya tosu-tosu kuil pegangannya hanya kitab-kitab, tasbeh dan paling-paling kipas atau kebutan, kenapa belasan orang tosu yang menjaga di jembatan itu tubuhnya tegap-tegap dan semua membawa senjata pedang atau golok?

Tiga orang pengawal Pangeran itu berdiri di mulut jembatan dan agaknya mereka tidak diperkenankan masuk. Kun Hong bisa mendengar suara Tiat-jiu Souw Ki yang parau dan keras,

"Heii, para tosu Ngo-lian-kauw! Kalian menganggap kami orang apakah? Bukalah mata dan telingamu baik-baik, aku adalah Tiat-jiu Souw Ki dan dua orang temanku lni adalah Ho-pak Siang-sai! Kami mana bisa bicarakan urusan dengan kalian? Hayo lekas kalian beri tahukan kepada Ngo-lian Kauwcu (Ketua Perkumpulan Agama Lima Teratai), bahwa kami bertiga adalah utusan-utusan Pangeran Mahkota, perlu bertemu dan bicara dengan Toat-beng Yok-mo!"

Jelas sekali kelihatan para tosu itu kaget dan gentar, juga Kun Hong ketika mendengar disebutnya nama Yok-mo, menjadi kaget dan heran. Apakah kakek itu berada di tempat ini?

"Ahh, kiranya para busu istana utusan Pangeran Mahkota yang datang. Harap Sam-wi (Tuan Bertiga) sudi menanti sebentar, kami hendak melaporkan kepada Kauwcu (Ketua Agama) tentang maksud kedatangan Sam-wi,” kata para tosu itu dengan sikap berubah hormat sekali.

Tiat-jiu Souw Ki dan dua orang temannya kelihatan tidak puas dan uring-uringan, akan tetapi karena mengindahkan nama besar dari Ngo-lian-kauw, mereka menanti di ujung jembatan dengan tidak sabar. Tak lama kemudian terdengar bunyi seruling ditiup orang, banyak sekali sehingga suaranya amat nyaring dan meriah.

Dari pintu di ujung jembatan sebelah dalam itu muncullah pasukan terdiri dari dua puluh orang wanita yang berpakaian lima warna dan di kepala masing-masing anggota pasukan terhias bunga-bunga teratai. Rata-rata para wanita ini cantik dan usianya takkan lebih dari tiga puluh tahun. Setiap anggota pasukan memegang pedang telanjang yang melintang di depan dada, nampak gagah dan berpengaruh sekali.

Di tengah pasukan ini berjalan seorang wanita tua. Umurnya tidak akan kurang dari lima puluh tahun, akan tetapi mukanya yang memang sudah cantik itu masih dibedaki dan diberi merah-merah. Pakaiannya mewah sekali, di punggungnya tergantung pedang dan pinggangnya diikat dengan sehelai sabuk merah.

Inilah Ketua Ngo-lian-kauw, Ngo-lian Kauwcu yang berjulukan Kim-thouw Thian-li (Dewi Kepala Emas) yang sangat terkenal di dunia kang-ouw. Di sebelahnya berjalan seorang kakek bongkok yang umurnya sudah tua sekali. Mulutnya yang selalu melongo itu sudah ompong semua sedangkan matanya besar sebelah. Kakek ini memegang sebuah tongkat hitam yang bengkak-bengkok. Inilah dia Toat-beng Yok-mo yang beberapa tahun terakhir ini mempunyai hubungan erat dengan Ketua Ngo-lian-kauw.

"Sungguh merupakan penghormatan besar sekali tempat kami yang buruk ini mendapat kunjungan Sam-wi Busu dari istana. Entah ada urusan apakah sampai Pangeran Mahkota mengutus Sam-wi datang ke sini?" terdengar Kim-thouw Thian-li bertanya, suaranya jelas menyatakan kebanggaan hatinya.

Tiga orang jagoan istana itu cukup mengenal siapa wanita di depan mereka itu. Bukan tergolong tokoh baik, malah dahulu terkenal sebagai pembela Kaisar Mongol dan dalam pemberontakan para pembesar belasan tahun yang lampau wanita ini pun turut campur. Pendeknya dalam perkara yang buruk-buruk sudah terlalu sering wanita ini mengotorkan tangannya. Oleh karena itu dengan suara keras dan angkuh Souw Ki berkata,

"Kami bertiga memang utusan Pangeran Mahkota, akan tetapi Pangeran Mahkota sama sekali tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Ngo-lian-kauw dan tidak mengutus kami pergi ke sini, melainkan mengutus kami menyelidiki seorang kakek yang telah mengacau di Istana Kembang."

Kim-thouw Thian-li merasa juga akan keangkuhan pengawal istana itu yang agaknya tak memandang mata kepada Ngo-lian-kauw, maka mukanya menjadi merah dan ia bertanya dengan nada mengejek, "Jika memang tidak ada urusan dengan Ngo-lian-kauw, kenapa Sam-wi Busu mencapaikan diri datang ke sini? Urusan di istana sudah tentu saja kami tidak bisa membantumu."

Tiat-jiauw Souw Ki adalah seorang bekas bajak. Wataknya keras dan kasar, tidak takut kepada siapa pun juga karena ia mengandalkan kedudukan dan teman-temannya. "Kami pun tak membutuhkan bantuan Ngo-lian-kauw. Akan tetapi kakek yang berani mengacau Istana Kembang, yang kami ketahui hanya seorang saja yang tinggal di Ngo-lian-kauw. Eh Toat-beng Yok-mo, mengaku sajalah, bukankah kau yang main-main di Istana Kembang? Kalau betul, kau menyerahlah kami tangkap, dan kembalikan dua orang gadis yang kau culik."

Mata Yok-mo yang besar sebelah itu menjadi semakin besar sebelah, yang besar jadi melotot dan yang kecil sampai meram, mulutnya mengeluarkan bunyi, "he-he-heh" tiada hentinya.

Bu Sek, yang pertama dari Ho-pak Sian-sai, berkata tak sabar, "Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Sudah berani mengacau Istana Kembang, masa takut mengakui?"

Mendadak Yok-mo tertawa bergelak, "He-heh-heh, lucunya! Di sini pun tidak kekurangan gadis-gadis yang cantik manis, mengapa harus menculik ke istana? Harap kalian jangan main-main dengan seorang tua seperti aku!"

Souw Ki saling pandang dengan sepasang saudara kembar itu, lalu Si Tangan Besi berkata, "Bagaimana kami dapat meyakininya bahwa kau tidak melakukan perbuatan itu, Toat-beng Yok-mo?"

"Heh-heh-heh, urusan menculik tentu ada buktinya. Kalian bertiga boleh mencari, apakah benar dua orang gadis itu berada di sini, heh-heh-heh!"

Sebetulnya Yok-mo sudah marah sekali dan kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin ia turun tangan memberi hajaran terhadap ketiga orang ini. Akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah utusan Pangeran Mahkota, tentu saja ia tidak berani bertindak sembrono, maklum akan hebatnya pengaruh pangeran itu yang tentu akan membuat hidupnya tidak aman lagi kalau ia sampai mengadakan permusuhan.

"Baiklah, kami akan melakukan penggeledahan di Ngo-lian-kauw. Kalau betul-betul tidak terdapat dua orang gadis yang kami cari, untuk sementara kami akan mencabut tuduhan kami."

Setelah berkata demikian Souw Ki mengajak dua orang temannya untuk menyeberangi jembatan itu. Akan tetapi tiba-tiba Kim-thouw Thian-li memberi tanda dan pasukan wanita yang mengawalnya tadi bergerak memenuhi jembatan, menghadang tiga orang busu ini.

"Hemmm, apa pula artinya ini?" Souw Ki membentak sambil menoleh kepada Kim-thouw Thian-li.

Wanita ini tertawa, masih genit suara ketawanya dan masih terbayang kecantikan wajah nenek yang sudah tua ini.

"Tiat-jiu Souw Ki dan Ho-pak Sian-sai! Sudah lama aku mendengar nama besar kalian sebagai tiga di antara tujuh orang jagoan istana yang amat terkenal. Sebaliknya kiraku kalian bertiga juga sudah mendengar nama Ngo-lian-kauw yang selamanya tidak akan mengijinkan orang luar masuk tanpa persetujuanku. Andai kalian membawa surat perintah Pangeran Mahkota, sudah tentu kami sebagai rakyat tidak akan berani membangkang, karena bukan maksud kami akan rnemberontak terhadap pemerintah. Akan tetapi, kalian datang tanpa surat perintah, siapa tahu kalau kalian hanya mengandalkan kepandaian sendiri dan nama Pangeran untuk menghina kami? Bicara tentang kepandaian, kaiian mengandalkan apakah hendak melanggar larangan Ngo-lian-kauw?"

Tiat-jiu Souw Ki merupakan seorang tokoh yang terkenal dengan kekuatannya sehingga tangannya dianggap sebagai tangan besi. Juga permainan senjata ruyung bajanya amat terkenal, senjata yang sesuai dengan tenaganya yang besar. Mendengar ejekan Ketua Ngo-lian-kauw ini, mukanya yang hitam menjadi semakin gelap. Dia menghampiri sebuah singa-singaan batu di sebelah kiri jembatan, lalu berkata,

"Singa-singaan batu ini mengandalkan kekerasannya, akan tetapi aku ini mengandalkan apakah? Tak lain mengandalkan tanganku ini!" Tangan kanannya lalu bergerak memukul perlahan dan kepala singa batu itu remuk berhamburan.

Souw Ki tertawa bergelak, "Ha-ha, hanya kelihatannya saja keras singa batu ini, kiranya begini lunak!"

"Saudara Souw, setelah kami berdua datang, sepasang singa batu ini memang tidak berhak berdiri lagi. Tetapi mengapa kau hanya melenyapkan kepalanya?" kata Bu Sek, seorang di antara Ho-pak Siang-sai yang bermuka kuning dan karenanya memiliki julukan Ui-bin-sai (Singa Muka Kuning).

Adiknya, Bu Tai yang berjuluk Ang-bin-sai (Singa Muka Merah) juga tertawa dan berkata, "Sungguh tak enak melihat Souw-twako menghancurkan singa-singa batu. Bagi yang tidak tahu dikiranya Souw-twako menghina kami!"

Dua orang saudara kembar itu menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba tampak sinar pedang berkelebat, sebuah ke sebelah kiri jembatan, satu lagi ke sebelah kanannya dan tahu-tahu terdengar suara keras. Singa batu yang sudah pecah kepalanya tadi tahu-tahu terguling roboh, sedangkan yang berada di sebelah kanan jembatan juga roboh terbabat pedang. Gerakan pedang sepasang saudara kembar ini cepat sekali dan hanya kelihatan sinar pedangnya saja, dapat diduga bahwa ilmu pedang mereka memang hebat.

"Bagus, bagus! Tiga orang busu dari Pangeran Mahkota benar-benar hebat dan gagah, sudah menang melawan dua ekor singa batu, heh-heh-heh!" Toat-beng Yok-mo tertawa, setengah mengejek.

Akan tetapi Kim-thouw Thian-li menjadi merah mukanya saking menahan marah. Kalau bukan utusan Pangeran yang melakukan perusakan terhadap hiasan jembatannya, tentu ia sudah langsung turun tangan sendiri memberi hajaran.

"Yok-mo, kalau kami belum menggeledah ke dalam, bagaimana kami bisa merasa yakin bahwa kau tidak bersalah?" Souw Ki berkata nyaring, namun Kakek Setan Obat itu hanya tertawa ha-ha he-he saja.

"Souw-busu, Toat-beng Yok-mo hanya tamuku saja dan yang bertanggung jawab tentang tempat ini adalah aku. Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang boleh memasuki tempat kami, kecuali orang yang dianggap cukup berharga dan gagah. Andai kata Sam-wi Busu sanggup melewati barisan Ngo-lian-tin kami yang ada tiga lapisan, biarlah kami anggap Sam-wi cukup berharga dan gagah untuk memasuki tempat kami."

Kim-thouw Thian-li memberi isyarat dengan tangannya dan para pengawalnya tadi segera bergerak.

Lima belas orang di antara para pengawalnya dengan pedang di tangan lalu berpencaran menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang, sekelompok menjaga dekat kepala jembatan, sekelompok kanan kiri. Mereka berdiri berjajar, sekelompok lima orang.

Souw Ki saling pandang dengan dua orang saudara kembar itu, lalu tertawa. "Kim-thouw Thian-li, kau benar-benar memandang rendah kepada kami. Jika kami tidak menunjukkan kepandaian, tentu kau tidak mengenal kelihaian kami!" kata Souw Ki sambil mengeluarkan ruyung bajanya yang berat.

"Bu-Siang-te, hayo kita gempur Ngo-lian-tin ini, tidak perlu kita sungkan-sungkan lagi!"

Bu Sek dan Bu Tai juga mencabut pedang mereka, kemudian masing-masing melompat menghadapi sekelompok Ngo-lian-tin.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner