RAJAWALI EMAS : JILID-31


Melihat perhatian Kong Bu itu, Cui Bi melanjutkan ceritanya penuh semangat, matanya berapi-api, kedua pipinya merah.

"Kemudian terjadilah mala petaka menimpa. Kwa Hong ternyata sudah mengandung dari hubungan yang berlangsung di luar kesadaran Tan Beng San itu. Malah Kwa Hong yang tak tahu malu itu mengunjungi ibumu di Min-san, dan melahirkan anaknya di sana. Hal itu terjadi ketika kakekmu sedang merantau dan ayahmu, Tan Beng San itu, sedang sibuk pula membantu perjuangan. Setelah Kwa Hong pergi bersama anaknya, ibumu menjadi berduka sekali, maklumlah hati wanita, penuh sakit hati, penuh iri dan cemburu, merasa bahwa cinta kasihnya yang mendalam itu dicemarkan. Dan... saking tak kuasa menahan kesedihan hatinya, ia meninggal dunia setelah melahirkan kau..." Sampai di sini suara Cui Bi terdengar serak. Isaknya dalam dada jelas membayangkan keharuan hatinya.

Kong Bu merasa dadanya sesak, sedu-sedan naik ke kerongkongannya. Akan tetapi dia menguatkan hati, menggigit bibirnya sehingga hanya kedua matanya saja yang nampak menjadi merah, sikapnya menakutkan.

"Kau tahu bagaimana keadaan ayahmu ketika dia mendengar tentang kematian isterinya yang tercinta itu? Dia menjadi... menjadi gila..." kembali suara itu parau dan lirih, dan Cui Bi terpaksa berhenti karena terbatuk-batuk, agaknya menahan keharuan hatinya.

"Gi... gila...?" Kong Bu sempat bertanya di antara sedu-sedan yang kembali naik lagi ke kerongkongannya.

"Ya, gila, atau hilang ingatan. Pada waktu itu... hemm, di antara dia dan... Cia Li Cu..."

“Isterinya yang sekarang?"

"Ya, di antara mereka itu terjalin persahabatan yang amat erat, akan tetapi jangan salah artikan. Tan Beng San tetap tidak dapat mencinta lain orang kecuali isterinya, ini terbukti ketika mendengar kematian isterinya dia lalu lupa segalanya, yang diingat hanya isterinya itu. Melihat hal ini, Cia Li Cu amat terharu. Harus diakui Cia Li Cu mencintanya sepenuh jiwa. Ia hendak menghibur pendekar ini, namun apa yang terjadi? Dalam pandangan Tan Beng San yang sudah hilang ingatan itu, Li Cu terlihat seperti ibumu yang telah meninggal dan seterusnya menganggap bahwa Cia Li Cu adalah Kwee Bi Goat!"

"Ahh..." Kong Bu menahan napas, amat tertarik dia dan keharuan bergumul di hatinya.

"Cia Li Cu, puteri Raja Pedang Tanpa Tanding Cia Hui Gan, demi cintanya mengorbankan nama baiknya, malah nekat menantang ayahnya, memelihara Tan Beng San dengan hati hancur karena melihat orang yang dicintanya itu menganggapnya sebagai wanita lain. Adakah pengorbanan lebih besar dari ini? Adakah cinta kasih yang lebih besar dari ini?" Cui Bi nampak bangga.

Kong Bu mulai bingung. Kalau betul begini jalan ceritanya, ahh, ayahnya tidak bersalah, malah patut dikasihani.

"Nah, kau tahu, sampai sekarang pun Cia Li Cu yang kini sudah menjadi isteri sah dari Tan Beng San yang akhirnya mendapatkan kembali ingatannya dan mengawini Cia Li Cu, sama sekali tidak ada hati yang memusuhi mendiang Kwee Bi Goat ibumu, apa lagi kau sebagai putera suaminya yang semenjak kecil dibawa lari oleh kakekmu. Kau dicari-cari oleh ayahmu, tetapi tidak bertemu dan kakekmu hendak mengadu kau dengan ayahmu sendiri."

Kong Bu menundukkan mukanya, mukanya merah sekali dan ia berusaha keras menahan sedu-sedan yang sudah hampir meledak di dadanya.

"Ibu... Ayah...," bisiknya, keadaannya mengharukan sekali.

Pemuda itu teringat betapa ia tidak pernah melihat ibunya yang sudah mati, juga tidak pernah melihat ayahnya yang harus diakui sangat mendatangkan rasa rindu di hatinya. Tapi bujukan-bujukan kakeknya membuat ia membenci ayahnya yang disangkanya telah menyeleweng dan menyakiti hati ibunya. Siapakah yang benar? Cerita kakeknya ataukah cerita orang ini? Siapakah orang ini? Apakah dia tidak berbohong?

Ia cepat mengangkat kepala memandang dan kagetlah dia, pemuda tampan di depannya itu memandang kepadanya dengan mata merah, air mata membanjir di kedua pipinya, dan bibirnya yang gemetar itu dikatupkan menahan isak tangis!

Wajah Kong Bu pucat sekali. Mukanya membayangkan hati yang hancur. Seorang yang bagaimana pun keras hatinya sekali pun tentu akan kasihan melihatnya pada saat itu.

Makin deras air mata mengalir sepanjang pipi Cui Bi dan tiba-tiba pemuda tampan ini memegang kedua tangan Kong Bu, bibirnya berbisik perlahan dan menggetar.

"Aduh..., kasihan sekali kau... Koko..."

Kong Bu tersentak kaget dan balas memegang tangan pemuda itu.

"Kau... kau siapakah?" Tentu saja ia heran dan kaget mendengar pemuda itu memanggil dirinya koko (kakak).

Dengan lengan bajunya pemuda tampan itu mengusap air matanya pada kedua pipinya sebelum menjawab, akan tetapi air matanya mengalir terus.

"Aku... aku adalah adik tirimu... aku... aku anak dari ayahmu dan ibuku adalah Cia Li Cu..."

Kong Bu merenggutkan tangannya terlepas, meloncat mundur sambil berdiri dan berseru, suaranya keras sekali, "Bohong! Kau penipu, pembohong! Sudah sering aku mendengar bahwa... Ayah dan Cia Li Cu hanya mempunyai seorang anak tunggal, seorang anak perempuan... bagaimana kau ini...?"

Cui Bi sudah berdiri pula, air matanya masih membasahi kedua pipinya.

"Koko, tidak tahukah kau bahwa aku...?"

Ia menggosok kedua anak telinganya sehingga tampak lubang anak telinga yang tadinya ditutup semacam bedak, dibukanya penutup kepala sehingga terurailah rambutnya yang panjang dan halus berombak.

Muka Kong Bu makin pucat. "Kau... kau seorang gadis...?"

"Koko, tidak dapatkah kau melihat bahwa ilmu pedangku adalah warisan Ayah dan Ibu? Koko, Ayah banyak menderita kalau memikirkan kau, kau amat dirindukan Ayah... juga Ibu, percayalah, Ibu sama sekali tidak menganggap kau sebagai orang lain, demikian pula aku... kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri..."

Tak dapat tertahan lagi, air mata yang sejak tadi sudah menekan di kedua mata Kong Bu, kini berlinang jatuh menetes. Pemuda itu menutupkan kedua tangan di depan muka untuk menyembunyikan tangis, namun air mata yang tak banyak itu tetap menetes keluar dari celah-celah jari tangannya, sedangkan sedu-sedan yang ditahan-tahannya membuat dua pundaknya yang bidang itu bergerak-gerak.

"Koko...," suara halus itu dekat sekali karena gadis itu sudah mendekatinya.

Kong Bu menurunkan kedua tangan, melihat wajah yang memandang penuh iba, penuh permohonan agar diakui sebagai saudara, dengan air mata membasahi pipi.

"Moi-moi (adik perempuan)..."

Kong Bu memeluk dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya, kepalanya berdongak dan kedua matanya meram, air matanya bertetesan ke atas rambut Cui Bi.

"Ibu... semoga kau mengampuni anakmu..."

Sampai beberapa lamanya kedua orang muda seayah ini saling peluk dan bertangisan. Akhirnya keduanya mampu menguasai hati masing-masing dan dengan agak malu-malu mereka melepaskan pelukan, kemudian saling pandang.

Setelah keharuan mereda, mereka saling memandang kagum. Perlahan-lahan tersembul senyum di bibir Cui Bi yang ternyata adalah seorang gadis yang amat cantik jelita itu.

"Koko, alangkah bahagianya hatiku. Ayah dan Ibu setiap hari menangis kalau mengingat kau. Mereka amat kuatir kalau-kalau hatimu sudah diracuni, kuatir kalau-kalau kau akan datang dan mengganggu Ayah Ibu sebagai musuh besar. Syukur bahwa kau ternyata memiliki jiwa ksatria, seperti yang diharapkan ayah karena kata Ayah, ibumu pun seorang yang berbudi halus."

"Aku pun bahagia sekali dapat bertemu dengan kau, Moi-moi. Ah, alangkah bodohku..." ia menghela napas panjang. "Aku memang tahu akan watak Kakek yang keras dan aneh... dan diam-diam aku sudah tidak cocok. Baiknya aku bertemu dengan kau dan insyaf. Ah, kalau tidak... bagaimana mungkin aku dapat menjual lagak memamerkan kebodohanku di depan ibumu, sedangkan terhadap kau saja aku sudah kalah jauh?"

Cui Bi tertawa dan memegang tangan kanan kakaknya. "Iihh, kau memang amat pandai merendah. Siapa bilang kau akan kalah jauh? Hemmm, sedangkan kau belum menerima apa-apa dari Ayah saja, sudah setengah mampus aku melawanmu, apa lagi kalau kau sudah menerima warisan dari ayah, pendeknya aku bukan apa-apa bagimu."

"Moi-moi, kau manis sekali, ahhh, alangkah bangga hatiku mempunyai adik seperti kau!" Kong Bu meraba dagu gadis itu dengan hati penuh kasih sayang.

Cui Bi melengos, manja. "Ahh, bisa saja kau, siapa tidak tahu bahwa aku jelek? Kaulah yang gagah perkasa, benar-benar Ayah akan menari kegirangan kalau nanti melihatmu. Ehhh, Koko, bagaimana kita ini? Kakak beradik tetapi tidak saling mengetahui namanya!" Keduanya berpandangan lalu tertawa bergelak!

Memang, dua orang ini adalah keturunan orang sakti dan aneh, maka watak mereka juga aneh. Lebih-lebih jiwa muda mereka membuat mereka mudah merasa gembira.

"Namaku Kong Bu, Tan Kong Bu. Namamu siapa, adikku yang manis?"

"Aku Cui Bi, Tan Cui Bi."

"Bi-moi, mengapa kau menyamar sebagai seorang pemuda? Ha, hampir saja aku kena terpedaya olehmu. Benar-benar tidak dapat diduga bahwa kau seorang gadis yang manis, pandai benar kau menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan ganteng lagi pesolek. Sampai-sampai lubang daun telingamu dapat kau tutupi dengan baik, tidak kentara sama sekali."

Heran sekali, Kong Bu melihat wajah adiknya yang tadinya berseri-seri itu tiba-tiba saja menjadi muram.

"Menyamar sebagai pria sudah biasa kulakukan, Ko-ko, dan dalam hal ini Ayah dan Ibu memberi nasehat-nasehatnya. Memang kalau melakukan perjalanan di dunia kang-ouw, aku lebih leluasa kalau menyamar sebagai seorang laki-laki. Akan tetapi kali ini... ah, tidak apa aku berterus terang, bukankah kau kakakku sendiri? Dan siapa tahu, kau akan dapat membantu aku meringankan penderitaan yang amat membingungkan hatiku ini, Bu-ko."

"Ehh, semuda ini, segembira ini dapat menderita kesusahan? Ada apakah, Bi-moi? Apa yang kau susahkan? Tentu saja aku siap sedia menolongmu."

Gadis ini menarik tangan kakaknya, diajaknya duduk di tempat yang teduh. Lalu menarik napas panjang, kelihatan berduka.

"Kau tidak tahu, Bu-ko. Kali ini aku bukan melakukan perjalanan untuk bersenang-senang seperti biasa, melainkan... aku telah lari dari Thai-san, pergi meninggalkan rumah tanpa pamit!"

"Heee?! Kenapa? Kau dimarahi ayah ibumu?"

"Bukan, bukan mereka yang marah, melainkan akulah yang marah kepada mereka."

"Aaiiih, kenapa kau ini? Tak baik marah-marah kepada orang tua, durhaka kau nanti."

"Panjang ceritanya, Bu-ko. Tapi biar kusingkat saja. Kau tahu, Koko, selama aku berada di Thai-san bersama orang tuaku, entah sudah berapa belas kali, bahkan mungkin puluhan kali selama dua tahun ini, orang tuaku menerima lamaran orang atas diriku."

Gadis yang masih berpakaian pria itu merah sekali wajahnya, akan tetapi Kong Bu justru tertawa tergelak.

"Mengapa kau tertawa-tawa?" tanyanya cemberut.

"Ha-ha-ha, kau gadis cantik jelita dan manis, usiamu juga tentu ada tujuh belas tahun, apa anehnya jika menerima banyak lamaran? Andai kata bukan kakakmu, aku sendiri mau melamar. Ha-ha-ha!"

"Iihh, ceriwis kau!" Wajah itu semakin merah. "Jangan mentertawakan aku, Koko, hatiku benar-benar baru resah, nih!"

"Ya sudahlah, kau teruskan ceritamu."

"Ayah dan Ibu sudah merasa jengkel sekali karena aku selalu menolak keras kalau ada pinangan orang. Akhirnya, Ayah dan Ibu menerima pinangan putera Ketua Kun-lun-pai, katanya puteranya seorang she Bun yang menjadi Ketua Kun-lun-pai dan yang menjadi sahabat baik Ayah. Malah menurut cerita Tan-pek-hu di kota raja yang dahulunya adalah tokoh Pek-lian-pai yang terkenal dalam perjuangan, orang she Bun itu adalah keturunan pendekar besar dari Kun-lun-pai sedangkan isterinya merupakan keturunan dari patriot pemimpin Pek-lian-pai, she Thio."

"Waduh, kiong-hi... kiong-hi (selamat, selamat), adikku...!"

"Selamat hidungmu!" Cui Bi memotong dan melerok, mulutnya cemberut marah. "Orang berkeluh-kesah, berduka dan bingung, kok justru diberi selamat. Bukankah kau ini malah memperolok aku, Koko? Bagus benar ya menjadi kakak orang begini kejam!"

"Lho-lho-lho, nanti dulu, jangan marah-marah tidak karuan. Orang muda she Bun itu dilihat dari keturunannya, baik dari ayah mau pun dari ibunya, benar-benar hebat. Kalau ayah bundamu sudah menerima pinangan itu, bukankah berarti pemuda she Bun itu menjadi calon adik iparku? Tentu saja aku senang sekali mempunyai calon adik ipar keturunan orang-orang ternama dan gagah begitu. Apakah kau tidak senang menjadi... eh, anunya?"

Dengan gemas Cui Bi mengulur tangan dan mencubit lengan kakaknya sampai Kong Bu mengaduh-aduh kesakitan.

"Kau nakal benar, Bu-ko. Benci aku kalau begini. Kau mau menolong adikmu atau tidak?"

"Tentu, tentu... tapi lepaskan dulu cubitanmu, ahh, bisa pecah-pecah kulit lenganku nanti. Teruskanlah ceritamu, aku berjanji tak akan menggodamu lagi."

Kong Bu yang baru sekarang merasakan kenikmatan bergurau dengan seseorang yang mendatangkan rasa sayang, benar-benar gembira sekali, akan tetapi juga kuatir melihat betapa adiknya itu bersungguh-sungguh.

"Tentu saja aku menolak keras. Aku tidak sudi menikah apa lagi dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat. Ayah dan Ibu marah-marah, aku pun marah dan akhirnya aku lari meninggalkan rumah tanpa pamit. Aku bersembunyi di rumah Pek-hu di kota raja. Nah, Bu-ko, sukakah kau menolongku kalau nanti kau bertemu dengan Ayah dan Ibu. Kau bujuklah mereka supaya jangan memaksa aku menikah, supaya pinangan yang sudah diterima itu dibatalkan saja dan katakan bahwa aku masih kecil."

Mau tak mau Kong Bu menahan ketawanya. Senang dan sayang benar ia kepada adiknya yang lucu ini.

"Usiamu berapa sih, Moi-moi."

"Kata Ayah, hanya selisih dua tahun denganmu."

"Nah, kalau begitu sudah tujuh belas tahun. Mana bisa dibilang masih kecil?"

"Kau menggoda lagi. Mau tidak membantuku?"

"Ya, baik... baik... biar kelak aku membujuk orang tuamu."

Cui Bi memegang tangan kakaknya dan ditarik bangun, menari-nari seperti orang yang kegirangan sekali. "Terima kasih, terima kasih... wah, aku percaya bahwa Ayah pasti akan meluluskan permintaanmu, kau seorang anak yang disayang, dan baru saja bertemu. Eh, Bu-ko, kau nakal sekali, ya? Gadis Hoa-san-pai yang cantik manis itu, hemmm, kau telah pura-pura kena ditawan. Hemmm, senang sekali, ya? Hi-hi-hik, kau pembohong besar. Katanya benci perempuan murid Hoa-san-pai, tetapi yang satu ini, aku berani bertaruh potong kepala bebek bahwa kau suka kepadanya!"

Kong Bu merenggut lepas tangannya, melotot. "Gila kau! Jangan main-main, ya? Siapa suka perempuan galak seperti setan itu?"

"Galak-galak tetapi manis, seperti setan tetapi menarik hati, bukan begitu? Ah, Koko, aku tidak boleh kau bohongi, ya? Biarlah aku berjanji, kelak kalau kau benar-benar sudah menolongku sehingga ikatanku dengan pemuda Ku-lun-pai itu dapat dibatalkan, aku akan membalas budimu. Aku akan menjadi perantara, akan kubujuk Ayah agar supaya pergi mengajukan pinangan ke Hoa-san!"

"Hush, jangan ngaco!" Kong Bu mendelik dan membentak-bentak, akan tetapi ia sendiri merasa aneh mengapa jantungnya jadi berdebar begini macam?

"Bimoi, aku heran sekali kenapa kau dapat melihat kedatanganku di kuil dengan... ehm, gadis Hoa-san-pai itu? Kulihat tadi yang berada di kuil itu hanyalah seorang pemuda dari Hoa-san-pai yang bijaksana dan halus budi, seorang pemuda lemah akan tetapi bicaranya menusuk perasaan benar, tepat dan bijaksana. Menurut pengakuannya dia adalah paman dari gadis Hoa-san-pai itu."

"Ahh, kau maksudkan Hong-ko?"

"Ehh, Hong-ko siapa? Kau kenal dia?"

Cui Bi tersenyum. "Seorang kutu buku, tetapi dia itu putera tunggal Ketua Hoa-san-pai, pandai ilmu surat tidak pandai ilmu silat. Memang dia orang yang luar biasa. Tentu saja aku kenal dia, malah berhari-hari aku melakukan perjalanan bersama dia."

"Hee...?"

"Jangan memandang seperti itu. Ihhh, pikiranmu agaknya penuh dengan dugaan yang bukan-bukan dan fitnah-fitnah keji. Sampai sekarang dia menganggap aku sebagai laote (adik laki-laki)." Cui Bi tertawa geli dan Kong Bu juga tertawa.

"Sudahlah, mari kita cepat-cepat pulang ke Thai-san, Bu-ko. Kalau bersamamu aku berani pulang. Akan tetapi karena Ayah hendak merayakan pendirian perkumpulan Thai-san-pai, lebih baik kita melihat-lihat di kaki Gunung Thai-san dulu dan menyelidiki kalau-kalau ada orang jahat hendak datang mengacau. Kau tahu, sudah terlalu banyak Ayah membasmi golongan-golongan jahat sehingga dapat diduga bahwa akan banyak musuh yang datang mengacau dan berusaha menggagalkan pendirian Thai-san-pai. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu Ayah."

Kong Bu hanya mengangguk-angguk. Berangkatlah dua orang kakak beradik ini. Mereka sengaja menguji kepandaian masing-masing dan berlari cepat. Betapa kagum hati mereka karena dalam kemahiran ilmu lari cepat ini mereka berimbang.

Cui Bi menang ringan tubuhnya dan menang gesit gerakannya, akan tetapi ia kalah napas melawan kakak tirinya itu…..

********************

"Apa kau bilang, Li Eng? Jadi pemuda gagah tadi punya sakit hati terhadap Hoa-san-pai? Mengapa demikian?" tanya Kun Hong.

'Dia cucunya Song-bun-kwi dan Song-bun-kwi agaknya benci sekali kepada Hoa-san-pai karena... hmmm, apakah kau belum pernah dengar tentang... Enci (Kakak Perempuan) tirimu, Paman Hong?"

"Enci tiri? Mana aku mempunyai Enci tiri? Ayah dan Ibu tak pernah bercerita tentang itu!"

Sebetulnya Li Eng juga tidak berani lancang bercerita, akan tetapi keterangan Kun Hong ini malah membangkitkan keinginan hatinya untuk menyampaikan rahasia itu. Dia sendiri merasa heran mengapa orang tidak menceritakan hal Kwa Hong kepada pamannya ini.

"Paman Hong, dulu sebelum ayahmu menikah dengan ibumu yang menjadi sumoi sendiri dari ayahmu, ayahmu sudah memiliki seorang anak perempuan bernama Kwa Hong. Nah, Bibi Kwa Hong inilah yang menimbulkan permusuhan hebat di mana-mana, karena sepak terjangnya yang... hemmm, malah orang tuaku sendiri pun mendendam sakit hati kepada Bibi Kwa Hong yang betul-betul seperti iblis wanita itu."

"Li Eng, yang betul kau bicara. Kalau memang benar dia itu kakak tiriku, berarti dia itu masih bibimu. Bagaimana kau bisa bicara tentang bibimu sendiri?"

"Ah, ternyata kau tidak tahu apa-apa, Paman Hong. Nah kau dengarlah aku bercerita, tapi jangan tersinggung, ya? Aku hanya menceritakan apa yang kudengar dari Ayah dan Ibu. Ingatkah dahulu ketika kau bercerita kepada aku dan Enci Hui Cu tentang burung rajawali emas dan kami bertanya kepadamu tentang dia, siluman betina? Nah, yang kami maksud dahulu itu bukan lain adalah Kwa Hong, enci-mu itulah!"

"Hemmm, kau benar-benar kurang ajar. Kalau benar aku mempunyai kakak perempuan berarti dia bibimu."

"Memang betul, akan tetapi bibi macam bagaimana? Kau dengarlah!"

Li Eng lalu menceritakan tentang Kwa Hong. Betapa wanita ini karena jebakan musuh, mengadakan hubungan dengan Tan Beng San dan betapa wanita ini lalu berubah seperti Siluman, naik burung rajawali emas dan mengacau ke mana-mana. Bahkan Kwa Hong hampir membunuh ayah bunda Li Eng, mengusirnya dan menduduki Hoa-san-pai sebagai ketua. Ia menceritakan pula kenapa Song-bun-kwi mendendam, yaitu dalam hubungannya dengan puterinya, Kwee Bi Goat yang menjadi nyonya Tan Beng San dan yang akhirnya meninggal dunia karena berduka.

"Dia jahat luar biasa, Paman Hong. Dia seperti iblis betina, naik burung rajawali menyebar maut di mana-mana. Entah bagaimana, menurut Ayah dan Ibu, kepandaiannya hebat sekali sampai-sampai Sucouw Lian Bu Tojin, guru ayahmu, juga tewas di tangannya. Dia telah menyakitkan hati isteri Paman Tan Beng San sehingga tak kuat menahan dan tewas setelah melahirkan... heeiii! Tentu dia orangnya!" Tiba-tiba Li Eng meloncat berdiri dan termenung.

"Dia siapa? Apa maksudmu?" tanya Kun Hong.

Li Eng menepuk-nepuk pahanya.

"Siapa lagi kalau bukan dia?! Pemuda itu, cucu Song-bun-kwi, si keparat itu, siapa lagi kalau bukan putera Kwee Bi Goat, putera Paman Tan Beng San."

"Apa?! Pemuda gagah perkasa tadi putera Paman Tan Beng San yang lahir dari Bibi Kwee Bi Goat itu?"

Kun Hong tertarik sekali akan cerita tadi dan diam-diam ia merasa menyesal bukan main bahwa semua hal yang sekarang menimbulkan permusuhan hebat itu adalah gara-gara kakak perempuannya, Kwa Hong. Tahulah dia sekarang mengapa ayahnya begitu keras kepadanya, melarang dia berlatih ilmu silat. Kiranya di sinilah letak rahasianya. Ayahnya sudah kapok, tidak ingin melihat anaknya rusak lagi karena kepandaian silat! Wajahnya pun menjadi muram.

"Ahh, nasib Ayah yang buruk... ahhh, ingin aku bertemu dengan Enci Kwa Hong, ingin aku nasehatkan padanya agar minta ampun kepada ayah, kepada semua orang yang pernah disakiti hatinya."

"Hemmm, aku sangsi apakah dia akan mau... haiii, di sana ada orang bertempur?"

Li Eng menunjuk ke depan. Ketika Kun Hong memandang, benar saja ia melihat seorang pemuda dengan hebatnya bertempur dikeroyok oleh dua orang lawannya. Cepat-cepat ia mengikuti Li Eng yang sudah lari lebih dulu ke tempat pertempuran itu.

"Enci Hui Cu...!" Di lain saat Li Eng sudah berpelukan dengan Hui Cu.

"Eng-moi...!" Paman Hong...!"

Saking girangnya, Hui Cu menangis dalam rangkulan Li Eng. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dua orang itu berada dalam keadaan selamat, malah dapat bertemu dengannya di situ. Mereka belum dapat bicara banyak karena perhatian mereka kembaii tertuju kepada pertempuran hebat yang masih berlangsung.

Hebat sekali pemuda itu. Akan tetapi kedua orang pengeroyoknya pun luar biasa, yaitu seorang nenek tua sekali dan seorang wanita tua yang masih berwajah cantik. Siapakah mereka ini? Pemuda itu tak lain adalah Sin Lee, ada pun pengeroyoknya adalah Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li!

"Adik Eng..., lekas, kau bantulah dia..." berkata Hui Cu kepada Li Eng. "Aku... aku sendiri sudah terluka..."

Semenjak tadi Kun Hong bengong karena menyaksikan sesuatu yang membuat dia amat terheran-heran, yaitu gerakan pemuda gagah yang dikeroyok itu. Ilmu silat pemuda itu! Bukankah gerakan kaki itu mirip benar dengan Kim-tiauw-kun? Kaki yang meloncat-loncat itu, kedua lengan yang dikembangkan seperti sayap burung. Ahh, meski pun menyimpang dari aslinya, namun tidak salah lagi, pemuda itu tentu pernah mempelajari Kim-tiauw-kun. Inilah yang membuat dia bengong dan membuat dia lengah, tidak melihat bahwa Hui Cu telah terluka.

Sekarang mendengar ucapan ini, cepat ia memandang dan berseru, "Ahhh, Hui Cu. Kau terluka dengan senjata beracun!"

Cepat ia memegang tangan kiri gadis itu dan menariknya dekat. Tanpa ragu-ragu lagi ia merobek lengan baju bagian atas dan benar saja, di balik lengan baju yang sudah sedikit robek dan berdarah itu tampak kulit pangkal lengan dekat pundak hitam membengkak!

Li Eng mengeluarkan seruan tertahan, namun ia segera bertanya, "Enci, ia siapakah dan kenapa harus dibantu?"

"Lekas... dua orang itu, Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Mereka amat jahat dan lihai. Tolong bantulah dia... dia itu... ehhh, dia penolongku."

Li Eng tak usah diperintah dua kali. Mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah penolong Hui Cu, apa lagi sesudah mendengar bahwa nenek buruk rupa saking tuanya itu adalah Hek-hwa Kui-bo dan wanita tua yang cantik itu Kim-thouw Thian-li, Li Eng cepat mencabut pedang dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran sambil berseru,

"Bagus sekali! Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, sudah lama aku mendengar nama kalian yang busuk, lihat, aku Kui Li Eng dari Hoa-san-pai datang untuk menagih semua hutang-hutangmu kepada Hoa-san-pai!"

Memang gadis ini sudah mendengar dari ayah bundanya mengenai kejahatan dua orang tokoh ini, terutama tentang perbuatan Kim-thouw Thian-li yang dulu banyak berbuat jahat terhadap Hoa-san-pai.

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya kaget sekali melihat serbuan seorang gadis cantik yang mengaku sebagai murid Hoa-san-pai itu. Tadinya mendengar suara Li Eng, mereka tidak pandang sebelah mata, karena apa sih kepandaian seorang anak murid Hoa-san-pai yang masih begitu muda? Namun begitu pedang di tangan Li Eng berkelebat, mereka menjadi terkejut sekali.

Menghadapi pemuda ini saja, walau pun mereka berhasil mendesak dengan keroyokan mereka, akan tetapi tak mudah untuk merobohkannya. Apa lagi sekarang muncul seorang gadis yang demikian ganas ilmu pedangnya.

"Kau bereskan anak iblis ini, biar kubunuh gadis liar ini!" kata Hek-hwa Kui-bo kepada muridnya.

Ia percaya bahwa Kim-thouw Thian-li akan dapat menahan Si Pemuda sedangkan ia akan cepat-cepat membunuh gadis itu sebelum dua orang muda yang lain itu dapat membantu. Akan tetapi, bicara memang mudah.

Kepandaian Sin Lee hebat sekali dan sekarang menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang diri saja, segera keadaan berubah hebat. Bila tadi Sin Lee terdesak, hal itu tidaklah amat mengherankan.

Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, setingkat dengan tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi dan lainnya. Lebih-lebih nenek ini mengandalkan ilmu pedangnya yang sakti, yaitu Im-sin Kiam-hoat. Apa lagi karena nenek ini dibantu oleh muridnya yang hampir sama lihainya, Kim-thouw Thian-li ketua dari Ngo-lian-kauw.

Betapa pun lihainya Sin Lee, dia terdesak hebat juga oleh dua orang pengeroyoknya itu. Kim-touw Thian-li hebat permainan goloknya yang dibantu sehelai selampai merah yang mengandung racun. Gurunya, Hek-hwa Kui-bo juga menggunakan dua buah senjata, yaitu sebatang pedang serta sehelai sapu tangan beraneka warna yang racunnya lebih jahat lagi.

Juga Hek-hwa Kui-bo kecele apa bila tadi ia memandang rendah gadis muda belia yang cantik murid Hoa-san-pai ini. Sejak dahulu Hek-hwa Kui-bo memandang rendah kepada Hoa-san-pai, sama sekali ia tak tahu bahwa di Hoa-san-pai telah terjadi perubahan besar.

Hoa-san-pai sekarang jauh bedanya dengan Hoa-san-pai pada dua puluh tahun yang lalu. Setelah Kui Lok dan isterinya, Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai ini mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai asli dari Lian Ti Tojin, yang sekarang diwarisi pula oleh Kui Li Eng, hebatlah ilmu silat Hoa-san-pai itu.

Baru kini Hek-hwa Kui-bo mendapat kenyataan bahwa sama sekali salah bila memandang rendah golongan lain. Begitu mulai serang menyerang dengan Li Eng, nenek itu kaget dan terpaksa segera mengeluarkan ilmu pedangnya yang ampuh, Im-sin Kiam-hoat dibantu permainan sapu tangan aneka warna yang mengeluarkan bau yang memuakkan.

Li Eng harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan menjaga diri dari pengaruh racun itu dengan hawa murni. Beberapa kali selama perjalanannya, dia sudah bertemu dengan orang-orang sakti. Hal ini membuat Li Eng berhati-hati kali ini.

Sementara itu, setelah memeriksa sebentar, Kun Hong pun berkata, "Hui Cu, jahat benar orang yang melepas Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Bunga) ini. Jarum yang halus itu masih berada di lenganmu. Kau diamlah, kendurkan semua urat dilengan kananmu!"

Hui Cu memandang pamannya dengan keheranan, akan tetapi mentaati permintaan ini. Kun Hong lalu menggunakan jari telunjuknya menotok beberapa jalan darah di siku serta pundak dan seketika gadis itu merasa lengannya lumpuh!

"Diam saja, sakit sedikit, hendak kuambil keluar jarum itu," kata Kun Hong dan pemuda ini segera memijit-mijit lengan yang luka itu.

Tidak lama kemudian, ujung jarum dari luka itu mulai tersembul. Hui Cu menggigit bibir menahan sakit. Sekali lagi Kun Hong memencet, jarum itu keluar dari luka. Jarum yang amat lembut, sebesar ujung rambut.

"Nah, sekarang sudah tidak berbahaya lagi, tunggu kelak kita akan mencari obat untuk menyembuhkannya sama sekali. Biar kukeluarkan dulu sebagian darah yang teracun."

Ia mengurut lengan itu dari atas ke bawah dan dari luka itu keluarlah darah menghitam. Setelah itu ia membebaskan totokannya.

"Aih, Paman Hong. Tidak kusangka... ternyata kau begini pandai..." Hui Cu berkata, penuh kekaguman.

"Pandai apa? Hanya sedikit ilmu pengobatan yang kuketahui dari membaca kitab-kitabnya Yok-mo. Lihat, Li Eng dan penolongmu itu masih bertempur hebat."

Keduanya lalu memandang ke arah pertempuran. Ternyata Sin Lee kini dapat mendesak Kim-thouw Thian-li dengan hebatnya. Pedang pemuda ini amat kuat dan aneh gerakannya dan sekali lagi Kun Hong tertegun karena ia mengenal ilmu pedang ini yang mengandung inti Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Akan tetapi sifatnya sudah berubah, ganas dan merupakan tangan maut mengintai korban.

"Ahh, ganas... ganas...," katanya penuh kekuatiran.

Ia semakin terheran-heran ketika mengenal bahwa inti sari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun yang dimainkan pemuda itu bercampur dengan ilmu pedang Hoa-san-pai sehingga merupakan ilmu silat kombinasi yang tidak menyerupai Hoa-san Kiam-hoat mau pun Kim-tiauw-kun lagi.

Desakan-desakan Sin Lee terhadap Kim-thouw Thian-li semakin dahsyat. Kini wanita itu benar-benar merasa kewalahan menghadapi serangan-serangan yang banyak memakai gerak-gerak tipu ini. Mulailah ia ketakutan setelah pundaknya tercium oleh ujung pedang lawannya.

Hebat serangan Sin Lee. Mula-mula pedangnya menyambar ke arah pusar. Pada waktu Kim-thouw Thian-li menangkis sambil mengebutkan sabuk merah ke arah muka Sin Lee, pemuda ini mengibaskan tangan kiri menangkis dengan hawa pukulannya, melanjutkan dengan tusukan pedang yang diputar-putar di depan muka wanita itu.

Mata Kim-thouw Thian-li menjadi silau dan cepat-cepat menarik pedang untuk menangkis lagi. Siapa kira, serangan ini hanya pancingan belaka supaya ia mengangkat pedangnya karena tahu-tahu pemuda itu mengirim pukulan keras ke arah ulu hati, menggunakan tangan kiri yang diputar-putar lebih dulu.

Kim-thouw Thian-li mengeluarkan jeritan kaget karena hawa pukulan tangan kiri pemuda itu mendatangkan angin dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya menggigil dan lemas. Cepat-cepat wanita itu mengerahkan lweekang-nya sambil membanting tubuh ke kanan untuk menghindarkan diri dari pukulan dahsyat itu, namun ujung pedang Sin Lee sudah menyambar datang memenggal leher!

"Celaka!"

Kim-thouw Thian-li menggerakkan kepalanya menjauh, akan tetapi pundaknya masih saja tercium ujung pedang, bajunya robek berikut kulit pundak dan sedikit dagingnya. Mulailah ia menjadi gentar, apa lagi ketika Sin Lee terus menerus mendesaknya dengan serangan pedang yang gencar diselingi pukulannya yang dahsyat itu.

Kun Hong yang menyaksikan pukulan dengan tangan lebih dulu diputar-putar ini, menjadi bingung. Di dalam Kim-tiauw-kun tidak ada pukulan macam itu.

Memang, ilmu pukulan ini merupakan ilmu dari kaum sesat yang hanya dipergunakan oleh golongan hitam. Inilah ilmu pukulan Jing-tok-ciang (Pukulan Racun Hijau) yang Sin Lee warisi dari ibunya dan di lain pihak Kwa Hong ibunya itu dahulu menerimanya dari Koai Atong. Dahsyat bukan main Jing-tok-ciang ini karena baru angin pukulannya saja sudah mengandung hawa luar biasa yang dapat mematikan lawan.

Dengan marah sekali Kim-thouw Thian-li mengebutkan sabuk merahnya sambil berseru nyaring. Debu kemerahan langsung menyambar ke arah Sin Lee. Inilah racun berbahaya yang keluar dari dalam sabuk itu, yang dipergunakan Ketua Ngo-lian-kauw hanya kalau menghadapi lawan yang tangguh. Debu merah ini berbau harum sekali, begitu harumnya sampai dapat merampas ingatan dan semangat orang!

Namun sudah banyak Sin Lee mendengar tentang Ketua Ngo-lian-kauw ini dari ibunya, dan sudah tahu pula ia apa artinya debu merah ini. Ia tidak berani memandang rendah, terdengar dia melengking tinggi dan tubuhnya meloncat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan.

Hebatnya, dari udara dia dapat melakukan gerakan menerjang ke depan bawah sambil memutar dari kiri sehingga tidak bertemu dengan awan debu merah. Pedangnya cepat dikerjakan dan tangan kirinya juga diputar-putar, siap melakukan pukulan.

Kim-thouw Thian-li berhasil menangkis tusukan pedang Sin Lee, namun sebuah pukulan Jing-tok-ciang yang tak tersangka-sangka datangnya, mengenai pundak kirinya. Perlahan saja pukulan itu, namun ketika jari-jari tangan pemuda itu menyentuh pundaknya, wanita ini memekik keras dan terhuyung-huyung lalu roboh!

Dengan sekuat tenaga dia menghimpun hawa Im-sin-kang di tubuhnya untuk melawan pukulan yang membuat seluruh isi dadanya terasa membeku. Pada saat itu Sin Lee sudah tidak mau memberi hati lagi, menerjang dengan pedang diputar lalu ditusukkan seperti lagak seekor burung mematuk mangsanya.

"Heee, jangan bunuh orang...!" Kun Hong sudah sampai di situ dan menyelinap di antara sinar pedang Sin Lee.

Hui Cu kaget sekali dan hendak menarik tangan pamannya ketika dia melihat pamannya dengan gerakan tidak karuan dan kacau menubruk Sin Lee. Akan tetapi secara aneh sambarannya meleset dan tubuh Kun Hong terus menyerbu ke depan.

Hui Cu hampir menjerit karena kuatir kalau-kalau pamannya itu yang tidak pandai silat terkena senjata Sin Lee. Akan tetapi ia melihat Sin Lee mencelat mundur sambil berseru.

"Kau…?!"

Kuatir kalau-kalau Sin Lee akan menyerang Kun Hong, Hui Cu segera lari menghampiri dan berkata, "Jangan... dia adalah pamanku."

Sin Lee tertegun. Tadi dia terpaksa harus menarik kembali pedangnya dan meloncat ke belakang karena pemuda aneh itu yang menyelinap masuk sudah memasang dua jari tangannya memapaki tangannya yang memegang pedang sehingga kalau ia meneruskan tusukannya kepada Kim-thouw Thian-li, sudah tentu pergelangan tangannya akan tertotok dan pedangnya akan terlepas.

Heran ia bagaimana paman dari Hui Cu dapat mengenal kelemahan pergerakannya tadi? Dan sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa ‘paman’ ini masih seorang muda sebaya dia!

"Dia... dia pamanmu yang bernama Kun Hong itu?" tanyanya memandang ke arah Kun Hong yang menghampiri Kim-thouw Thian-li yang sudah duduk bersila dan mengerahkan lweekang untuk melawan hawa dingin yang menyerang isi dadanya.

"Ya, maklumlah dia... dia paling anti bunuh membunuh, karena itu maka tadi mencegah kau membunuh Kim-thouw Thian-li..."

"Kau... tidak apa-apa?" tanya Sin Lee memandang penuh perhatian.

"Tidak, Paman Hong sudah mengobatiku, tidak kusangka dia pandai. Saudara Tiauw, kau tolong bantulah adik Li Eng melawan Hek-hwa Kui-bo."

Pada saat itu pertempuran antara Li Eng dan Hek-hwa Kui-bo masih berjalan seru sekali. Akan tetapi, betapa pun lihainya Li Eng, menghadapi tokoh sakti ini dia jadi terdesak juga. Apa lagi pedang nenek itu menyambar-nyambar ganas dengan ilmu pedangnya Im-sin Kiam-sut.

Mendengar permintaan Hui Cu, Sin Lee cepat melompat dan langsung menerjang nenek itu dengan pedangnya.

"Iblis tua, kau mampuslah!"

Pedangnya menyambar-nyambar bagai kilat dan Hek-hwa Kwi-bo terpaksa mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Li Eng diam-diam merasa lega bahwa dia mendapat bantuan seorang yang begini kuat. Diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan cucu Song-bun-kwi.

Ada persamaan wajah serta bentuk badan di antara dua orang pemuda ini, hanya cucu Song-bun-kwi itu lebih kekar dan lebih tampan dalam pandangannya. Juga dalam ilmu kepandaian, keduanya sama-sama hebat.

Kun Hong menghampiri Kim-thouw Thian-li yang duduk bersila. Wajah wanita itu muram, mengandung cahaya kehijauan yang aneh. Kun Hong tahu bahwa wanita ini telah terluka berat, luka dalam yang mengandung hawa pukulan beracun. Ia pernah bertemu dengan Ketua Ngo-lian-kauw ini dan ia dapat menduga bahwa orang ini bukanlah orang baik-baik, tetapi hatinya yang penuh welas asih membuat ia berkasihan melihat orang itu terluka dan bermaksud untuk mengobatinya.

"Kauwcu, kau terluka hebat"

Tanpa ragu-ragu ia memegang pergelangan tangan kiri wanita tua itu. Beberapa detik ia memeriksa keadaan orang melalui ketukan jalan darahnya, dan ia kaget sekali.

"Kauwcu, kau telah terkena racun hawa pukulan yang mengandung daya Im-kang. Jangan kerahkan tenaga keluar, jangan pula kau melawan dari dalam. Aku akan berusaha untuk menolongmu." Setelah berkata demikian, Kun Hong menotok ke bagian pundak dan mengurut bagian punggung.

Kim-thouw Thian-li membuka matanya. Dia kaget bukan main melihat bahwa orang yang bicara hendak menolongnya adalah orang Hoa-san-pai yang pernah datang ke tempatnya kemudian dibawa pergi Song-bun-kwi. Orang ini terang pihak musuh, mana ia percaya hendak mengobatinya? Tentu hendak menipunya dan hendak mencelakainya. Ia cepat mengangkat tangan mengirim pukulan keras.

"Eh, jangan kerahkan tenaga, berbahaya!” Kun Hong berseru namun terlambat, tubuhnya mencelat dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya!

"Paman Hong... kau... kau tidak apa-apa?" Hui Cu mendekati, melupakan lukanya sendiri.

Dia terheran-heran melihat pamannya ini merangkak bangun, sama sekali tidak terluka, hanya keningnya yang bertumbukan dengan batu pada saat ia terlempar tadi agak benjol setengah telur besarnya.

Pemuda ini menggeleng kepala dan memandang ke arah Kim-thouw Thian-li, lalu menarik napas panjang.

"Kehendak Thian tak dapat diubah... dia seperti membunuh diri..."

Hui Cu tidak mengerti dan menengok ke arah Ketua Ngo-lian-kauw dan... ternyata wanita itu telah rebah telentang dengan wajah kehijauan. Ketika dia mendekati, ternyata bahwa Kim-thouw Thian-li telah tewas! Diam-diam Hui Cu girang sekali, karena ia benci wanita Ketua Ngo-lian-kauw yang terkenal jahat dan yang dahulu sudah banyak membikin susah orang-orang tua di Hoa-san-pai.

Hek-hwa Kui-bo benar-benar hebat sekali. Nenek ini usianya sudah amat tua, mukanya sudah penuh keriput dan matanya cekung seperti mata tengkorak. Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang sudah mendekati lubang kubur.

Namun dalam pertempuran dia benar-benar bagaikan iblis betina. Tenaga lweekang-nya masih mengatasi kedua orang muda yang mengeroyoknya itu, juga ilmu pedangnya yang berdasarkan ilmu sakti Im-sin Kiam-sut bercampur dengan ratusan macam gerakan ilmu silat yang dimilikinya, membuat dua orang pengeroyoknya itu harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk menekannya. Kali ini nenek ini benar-benar menghadapi lawan berat.

Sin Lee adalah putera Kwa Hong yang telah mewarisi kepandaian ibunya yang luar biasa, kepandaian campuran antara ilmu silat Hoa-san-pai, Ilmu Silat Jing-tok-ciang ditambah lagi ilmu silat yang dipelajari oleh Kwa Hong dari rajawali emas. Ada pun Kui Li Eng mempunyai ilmu silat Hoa-san-pai yang asli, yang tadinya masih merupakan rahasia bagi Hoa-san-pai sendiri sebelum ayah bundanya bertemu dengan Lian Ti Tojin. Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang asli ini berlipat kali lebih lihai dari ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya.

Perlahan tapi tentu, Hek-hwa Kui-bo mulai terdesak. Dua buah pedang di tangan dua orang muda itu benar-benar membuat dia sebentar-sebentar memekik marah dan heran. Akan tetapi ketika nenek ini melihat bahwa muridnya yang terkasih itu tewas sebagai akibat pukulan pemuda yang sekarang mengeroyoknya, ia menjadi marah sekali dan juga kuatir.

Sambil memekik keras, sabuknya lalu dikebut-kebutkan sehingga mengepullah debu yang bermacam-macam warnanya dan di antara kepulan debu ini berkelebatan sinar-sinar yang menyembunyikan jarum-jarum lembut yang mengandung racun sama hebatnya dengan racun debu beraneka warna itu! Inilah penyerangan hebat luar biasa yang jarang dapat dihindarkan oleh lawan yang bagaimana tangguh pun.

"Awas...!" teriakan ini sekaligus keluar berbareng dari mulut Li Eng dan Sin Lee.

Dan berbareng pula seperti mendengar komando, dua orang muda ini membanting tubuh ke belakang, berjungkir balik dan menggelundung pergi seperti binatang trenggiling turun gunung.

Kiranya keduanya sudah mendengar dari orang tua masing-masing mengenai kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan tentang senjata rahasia yang amat ampuh dari nenek iblis ini, yaitu debu beracun yang disebut Ngo-hwa Tok-san (Bubukan Racun Lima Kembang) dan juga jarum-jarum beracun Ngo-hwa Tok-ciam.

Karena inilah maka mereka berdua tidak berani menyambut atau menangkis, melainkan membuang diri dengan cara pengelakan yang paling tepat untuk menghindarkan diri dari serangan debu dan jarum-jarum itu. Biar pun begitu, kedua orang muda ini merasa angin berseliweran di atas punggung mereka, hanya beberapa senti meter saja jauhnya, tanda bahwa jarum-jarum beracun itu hampir saja mengenai tubuh mereka.

Setelah menggelundung jauh, keduanya lalu berloncatan bangun dengan keringat dingin mengucur. Hampir saja mereka menjadi korban. Keduanya segera memutar tubuh untuk menghadapi nenek yang ganas itu, akan tetapi nenek itu sudah tidak kelihatan lagi.

Kiranya ketika melihat dua orang pengeroyoknya bergulingan tadi, Hek-hwa Kui-bo yang tahu betul bahwa melanjutkan pertempuran melawan kedua orang muda itu merupakan bahaya sedangkan muridnya telah tewas, cepat melompat kemudian menyambar jenazah Kim-thouw Thian-li dan membawanya lari secepat terbang dari tempat itu.

Kun Hong dan Hui Cu yang melihat ini, hanya dapat memandang saja. Bagi Hui Cu yang maklum akan tingkat kepandaiannya, tidak berani dia menghalangi, ada pun Kun Hong memang tidak mau menghalangi, malah ia bersyukur bahwa jenazah Ketua Ngo-lian-kauw itu ada yang membawa pergi dan mengurusnya.

Hui Cu dengan muka gembira memperkenalkan Sin Lee kepada Li Eng dan Kun Hong. Li Eng yang berwatak lincah gembira itu menjura dan berkata,

"Tiauw-enghiong benar-benar gagah perkasa dan lihai sekali, membuat aku kagum sekali. Apa lagi karena Tiauw-enghiong telah menolong Enci Hui Cu dari tangan Song-bun-kwi, benar-benar merupakan budi yang tak akan pernah dilupa oleh... Enci Hui Cu." Setelah berkata demikian ini, dengan sinar mata yang nakal sekali Li Eng mengerling kepada Hui Cu yang menjadi merah dadu warna pipinya.

"Menyesal sekali bahwa dahulu itu aku tidak sempat pula menolongmu dari tangan kakek itu, Nona, karena kakek itu memang lihai sekali. Terpaksa aku hanya dapat mengajak Nona Hui Cu pergi," jawab Sin Lee yang tadi merasa tersindir mengapa dahulu itu yang ditolongnya hanya Hui Cu seorang.

Sementara itu, Kun Hong memandang kepada Sin Lee dengan mata tajam penuh selidik. Ia mengenal ilmu silat pemuda ini. Oleh karena otaknya yang cerdik, dia lalu membuat rangkaian dan dugaan.

Gurunya, Bu-beng-cu sudah lama meninggal dunia. Kiranya sampai mati pun guru besar itu tidak pernah menerima murid, buktinya ilmunya ditinggalkan dalam bentuk kitab. Kalau ada orang lain mampu mewarisi Kim-tiauw-kun, tentulah melalui burung rajawali emas itu. Dan Kim-tiauw-kun yang dimainkan oleh pemuda ini kacau-balau dan tercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, malah ada pula ilmu silat dari Hoa-san-pai di dalamnya. Satu-satunya orang selain dia, yang ada hubungannya dengan rajawali emas, seperti yang ia dengar dari dua orang murid keponakannya, hanyalah Kwa Hong, kakak perempuannya lain ibu itu.

Jadi pemuda ini... kiranya tak akan terlalu ngawur kalau ia menduga bahwa pemuda ini tentulah anak dari Kwa Hong.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner