RAJAWALI EMAS : JILID-33


Kun Hong menggigit bibir, kemudian menekan debar jantungnya dan menjawab, suaranya bersungguh-sungguh,

"Bi-moi, aku suka kepadamu, aku suka sekali kepadamu. Entah mengapa, dahulu ketika kau menampar pipiku dan merampas pedangku, aku benci sekali kepadamu. Aku benci dan selalu mendongkol kepadamu. Setelah itu aku terheran sendiri mengetahui bahwa kebencian dan kemarahanku kepadamu itu bukan karena pribadimu, melainkan karena aku merasa bahwa kau tidak suka kepadaku! Aku tidak senang karena kau tidak suka padaku, begitu perkiraanku dahulu. Setelah kita saling jumpa kembali, dan kau... kelihatan suka kepadaku, tidak membenciku, malah membelaku, aku... ahh, sejak itu lenyap semua kebencianku kepadamu, menjadi suka sekali. Ketika kau pergi, ahh... memalukan sekali, aku merasa rindu, ingin bertemu, ingin berdekatan. Kuanggap kau sebagai sahabat yang luar biasa, entah mengapa, rasa sayang memenuhi hatiku. Setelah sekarang ternyata kau seorang wanita, ahhh... tak tahu aku, aku bingung, Moi-moi."

Bulan bersembunyi di balik awan sehingga Kun Hong tidak melihat betapa mata gadis itu menjadi basah air mata, tapi mulut gadis itu tersenyum bahagia.

"Hong-ko, katakan terus terang, apakah kau sekarang, setelah melihat bahwa sahabatmu ini seorang wanita, masih sayang kepadaku?"

"Ahh, soal itu... itu... ahh, mana aku berani begitu kurang ajar, Moi-moi? Mana aku berani menyatakan hal demikian kurang ajar? Kau adalah puterinya Paman Tan Beng San, kau berkepandaian tinggi, kau cantik jelita, sedangkan aku..."

"Kau seorang pemuda luar biasa, Hong-ko, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang seperti kau. Kau hebat, kau mengagumkan hatiku dan aku... aku amat suka kepadamu, Hong-ko. Hanya sayang..."

"Sayang... apakah, Moi-moi?"

"Hong-ko, apakah kau benar-benar tidak mengerti ilmu silat? Enci Hui Cu dan Enci Li Eng bercerita banyak tentang kau, katanya kau mengerti banyak teori ilmu silat, tetapi tidak pernah melatihnya. Betulkah?"

"Hemm, agaknya betul begitu."

"Kalau begitu, mudah saja kau berlatih silat. Kau berbakat baik sekali. Aku yakin, apa bila kau sudah berlatih, aku sendiri pun tak akan mampu melawanmu!" Cui Bi tampak gembira sekali.

"Sstttt...!" Tiba-tiba Kun Hong berdiri dan menoleh. Cui Bi juga menoleh dan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali, menghilang di dalam gelap.

"Ada orang...," kata Cui Bi, terheran-heran mengapa ia kalah dulu oleh Kun Hong melihat orang itu tadi.

Kun Hong juga sadar bahwa tanpa terasa dia telah memperlihatkan kelihaian matanya, maka cepat-cepat ia berkata, "Aku kebetulan menengok dan melihat bayangannya. Adik Cui Bi, lebih baik kita berpisah, biarlah besok masih banyak waktu bercakap-cakap. Tidak baik orang melihat kita bicara berdua di sini."

Cui Bi mengangguk. "Dan... Hong-ko, apakah kau masih tetap bersikeras hendak pergi meninggalkan aku?"

"Tidak, tidak nanti!" kata Kun Hong.

"Selamanya?" desak Cui Bi.

Makin berdebar hati Kun Hong, apa lagi melihat gadis itu berdiri amat dekat. Tanpa terasa lagi ia pun memegang kedua tangan gadis itu, ditekannya erat-erat untuk beberapa detik sambil berkata, "Selamanya tidak akan kutinggalkan kau..."

Begitu Kun Hong melepaskan pegangan tangannya, gadis itu lari memasuki pondoknya, meninggalkan suara keluhan panjang, setengah tertawa setengah menangis.

Untuk beberapa menit Kun Hong berdiri mematung di tempat itu, lalu perlahan berjalan pulang ke pondoknya dengan wajah berseri-seri. Wajahnya berubah dan menjadi merah ketika dia memasuki pondok. Dia melihat Kong Bu sudah berbaring di atas dipan sambil memandang kepadanya dengan tersenyum.

"Kau sudah pulang...?" Kun Hong bertanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Kong Bu tersenyum lebar, "Sudah semenjak tadi aku menantimu. Ke manakah kau pergi, Saudara Kun Hong?"

"Aku... aku pergi buang air ke anak sungai di sana..."

"Ohh, begitukah?"

Kun Hong tak mau banyak bicara lagi dan segera merebahkan diri di atas dipan yang lain, lalu pura-pura tidur. Padahal sampai jauh tengah malam ia tidak dapat tidur. Wajah yang cantik itu terbayang-bayang terus di depan matanya. Lewat tengah malam barulah dapat tidur.

Pagi-pagi sekali Kun Hong telah terbangun akibat mendengar suara orang di luar pondok. Ketika ia bangkit duduk, ia tidak melihat lagi Kong Bu, maka ia segera memburu keluar. Tersipu-sipu pemuda ini ketika melihat Cui Bi sudah berada di luar dengan pakaian pria. Ia tidak jadi keluar dan berhenti di belakang daun pintu. Ia mendengar Cui Bi berkata,

"Kalau kau tidak melayaninya dan mengalahkannya, dia akan selalu memandang rendah kepadamu, Bu-ko."

"Aihh, kau ini ada-ada saja. Bagaimana kalau terlihat oleh seorang tamu?"

"Tidak mungkin," jawab Cui Bi, "aku yang akan membawa kalian ke tempat rahasia. Kau ikutlah."

Kong Bu mengomel tidak jelas dan agaknya ragu-ragu, akan tetapi mereka lalu berjalan meninggalkan pondok. Kun Hong tertarik sekali, lalu diam-diam ia mengintai dan setelah dua orang itu pergi jauh, ia cepat menyelinap keluar dan mengikuti dari belakang.

Udara amat dingin dan keadaan masih agak gelap, memudahkan ia mengikuti mereka itu. Dua orang itu berhenti sebentar di depan pondok ke dua di mana Li Eng dan Hui Cu telah menunggu. Empat orang muda itu lalu berjalan cepat ke arah utara, menjauhi kelompok pondok para tamu.

Kun Hong makin terheran-heran dan diam-diam ia terus mengikuti mereka. Ia melihat Cui Bi memimpin perjalanan, memasuki hutan. Heran betul ia melihat cara gadis itu membawa teman-temannya pergi.

Pertama-tama masuk hutan, baru lewat seratus meter membelok ke kanan dan... keluar lagi dari hutan, lalu masuk lagi dan keluar lagi dari sebelah kiri. Kun Hong amat cerdik. Ia tadi sudah amat curiga ketika Cui Bi bicara tentang tempat rahasia, maka diam-diam ia menaruh perhatian dan selalu mengikuti jejak mereka. Karena perhatiannya itu maka ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu selalu berbelok sesudah mereka melewati sembilan buah pohon besar.

Setelah keluar masuk hutan sembilan kali, sampailah mereka di tempat terbuka, sebuah padang rumput yang luas. Cui Bi dan teman-temannya berhenti. Kun Hong juga berhenti tak jauh dari situ dan bersembunyi dalam segerombol pohon kembang. Ia berjongkok dan mengintai.

Ia melihat Cui Bi membuat guratan di atas tanah, guratan yang merupakan garis kurung selebar sepuluh meter. Hebat gadis ini. Dengan jari telunjuk ia menggurat dan rumput di atas tanah seperti dicabuti, tampak nyata garis lingkaran itu seperti dipacul saja!

"Nah, kalian sudah berjanji kalau bertemu kembali akan mengadu kepandaian. Keduanya penasaran dan hal ini harus dilakukan untuk menentukan siapa di antara kalian yang lebih pandai. Aku tidak suka melihat kalian saling mendendam dan penasaran. Sekarang kalian bertandinglah, lapangan luas tidak ada yang mengganggu. Siapa yang pedangnya jatuh terlempar atau badannya terdesak dari lingkaran ini dianggap kalah. Setuju?"

Tanpa menjawab Li Eng mengangguk dan mencabut pedangnya, dilintangkan di depan dada dan memandang tajam kepada Kong Bu. Pemuda ini mula-mula nampak ragu-ragu, lalu dengan sikap ‘apa boleh buat’ dari menggeleng-geleng kepala serta menarik napas panjang, mencabut keluar pula pedangnya dan memasang kuda-kuda.

Kun Hong terheran-heran dan mendongkol. Kenapa Cui Bi seolah-olah hendak mengadu keponakannya itu dengan Kong Bu?

Semua ini adalah gara-gara Cui Bi. Di dalam pondok, gadis ini menggoda Li Eng yang dikatakannya menyukai Kong Bu. Li Eng menyangkal, malah menyatakan bahwa ia akan menantang pemuda itu yang dijawab oleh Cui Bi dengan memanaskan hati. Katanya Li Eng tak akan menang. Demikianlah, dengan perantaraan Cui Bi lalu diajukan tantangan pertandingan ini.

Kun Hong tidak tahu akan kecerdikan Cui Bi yang bermata tajam itu. Gadis ini sudah dapat menduga bahwa kakak tirinya dan Li Eng ini saling mencinta, akan tetapi keduanya berkeras kepala menyangkal. Maka jalan satu-satunya untuk ‘saling menemukan’ mereka hanyalah memancing mereka bertanding!

Kedua orang muda itu sudah mulai menggerakkan pedang masing-masing dan terjadilah pertandingan pedang yang bukan main hebat dan serunya. Bayangan keduanya lenyap ditelan sinar pedang masing-masing dan sebentar kemudian terdengarlah angin bersuitan diseling suara nyaring kalau pedang itu bertemu mengeluarkan suara berdenting disusul muncratnya bunga api.

Tadinya Kun Hong hendak melompat keluar untuk mencegah, akan tetapi maksud hatinya ini ia batalkan. Ia melihat sesuatu yang aneh dalam pertandingan itu. Ia memasang mata dan memperhatikan.

Tidak salah lagi! Dua orang muda yang tampaknya bertempur mati-matian itu sebetulnya saling mengalah dan tidak rnenyerang dengan sungguh-sungguh! Li Eng menang cepat, kalau ia mau mempergunakan kecepatannya, kiranya ia akan dapat melakukan serangan maut yang akan membahayakan keselamatan Kong Bu. Sebaliknya, dengan ilmu pedang yang ganas, yaitu Yang-sin Kiam-sut, pemuda ini sebetulnya menang setingkat.

Dengan geli hatinya Kun Hong melihat betapa setiap kali Kong Bu melancarkan serangan ganas dan ujung pedangnya sudah mengancam lawan, akan tetapi tiba-tiba pedangnya itu menyeleweng ke samping, tidak melanjutkan serangan. Kalau hanya terjadi sekali dua kali saja hal ini kiranya tidak akan kentara, akan tetapi karena terlalu sering, jelas bahwa hal itu ia sengaja karena ia tidak mau melukai lawannya!

Demikian pula di pihak Li Eng. Kecepatan pedangnya pada saat ditangkis lawan, demikian hebat sehingga kalau ia mau, menurut penglihatan Kun Hong yang tajam, pedang itu bisa dilanjutkan untuk terus menusuk lawan, namun kerap kali Li Eng hanya menarik pedang yang tertangkis, sama sekali tidak mau mencelakai lawan.

Dua ratus jurus telah lewat dan agaknya sikap mengalah itu diketahui juga oleh keduanya, buktinya muka mereka menjadi merah akan tetapi sinar mata mereka berseri. Ketika Kun Hong melirik ke arah Cui Bi, gadis ini pun tertawa-tawa, hanya Hui Cu yang tidak setinggi itu tingkatnya, memandang penuh kekuatiran dan tentu saja berdoa untuk kemenangan Li Eng!

Kong Bu mulai mundur teratur dan Li Eng dengan girang mendesaknya. Memang maksud keduanya sama sekali tidak mau melukai lawan yang mereka ‘benci’, melainkan hendak mencari kemenangan dengan mendesak lawan mundur dari lingkaran atau memukul jatuh pedangnya.

Terdesaknya Kong Bu ini bukanlah pura-pura lagi, karena memang saking terus-menerus mengalah dan memang kalah dalam kegesitan, akhirnya Kong Bu yang terdesak. Hui Cu berseri mukanya akan tetapi Cui Bi mengerutkan kening.

Ia maklum bahwa kakak tirinya sebetulnya tidak kalah, kalau sampai keluar dari lingkaran, bukankah akan memalukan dia juga? Ia mengepal tangan menggigit bibir dan pada saat itu Kong Bu sudah tinggal selangkah lagi keluar dari lingkaran.

Li Eng gembira, mendesak dengan tusukan digetarkan yang mengancam leher terus ke pusar lawan. Kali ini mau tidak mau Kong Bu harus melompat keluar lingkaran!

"Tranggg!"

Kong Bu benar-benar keluar lingkaran, akan tetapi pedangnya secepat kilat menangkis dari atas ke bawah sambil mengerahkan tenaga sehingga pedang itu terlepas dari cekalan tangan Li Eng.

Kong Bu cepat mengambil pedang dan mengembalikan kepada Li Eng sambil berkata, "Aku menyerah kalah, aku keluar dari lingkaran. Hebat benar ilmu pedangmu, Nona."

Merah wajah Li Eng namun wajahnya berseri. Ia menerima pedang dan menjura berkata, "Bukan, akulah yang kalah. Pedangku terpukul jatuh."

Cui Bi bertepuk-tepuk tangan sambil menari-nari. "Hi-hi-hi, bagus... bagus! Kalian sudah saling mengalah, hi-hi-hi, bagus! Lenyaplah benci, muncullah perasaan suci!"

"Idihhh... kau... ceriwis...!"

Li Eng melompat dan mencubit bibir Cui Bi, namun sekali mengelak serangan ini luput. Li Eng lalu lari meninggalkan tempat itu.

"Eng-moi, tunggu...!" Hui Cu yang kuatir kalau-kalau adiknya itu marah-marah lalu segera mengejar.

"Heiii, kalian jangan pergi, nanti tersesat jalan. Tidak mudah jalan pulang!" Cui Bi berseru.

Akan tetapi dua orang gadis Hoa-san-pai itu tidak mempedulikan seruannya dan terus berlari, Li Eng lebih dulu, dikejar Hui Cu.

"Biarlah, anak-anak nakal itu tidak kapok kalau belum kebingungan dan tersesat di sini. Hemmm, biar mereka melihat kelihaian jalan rahasia Thai-san-pai!" kata Cui Bi. "Jangan kuatir," katanya kepada Kong Bu, "nanti mereka akan kucari."

Setelah berkata demikian, Cui Bi menghampiri Kong Bu, menggandeng tangan pemuda itu diajak duduk dl bawah pohon yang besar, agak jauh dari tempat sembunyi Kun Hong. Pemuda ini kini hanya dapat memandang dari jauh akan tetapi tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dia hanya melihat mereka bercakap-cakap, kadang-kadang Cui Bi tertawa, kadang-kadang menggelengkan kepala dan kelihatan berduka.

Apakah yang dipercakapkan oleh dua orang muda itu?

"Hi-hi-hik Bu-koko, sekarang apakah kau mau menyangkal lagi? Jelas kau mengalah dan tidak tega melukai Enci Li Eng, itu hanya berarti bahwa kau sama sekali tidak membenci dia, sebaliknya kau... mencintanya. Nah, coba kalau berani menyangkal sekarang!" kata Cui Bi sambil tertawa-tawa menggoda.

Kong Bu menarik napas panjang. "Sudahlah, aku mengaku. Memang dia itu amat menarik hatiku, aku... aku kagum kepadanya."

"Katakanlah cinta, masa hanya kagum?" desak Cui Bi.

"Kau anak nakal! Ya, baiklah, aku cinta kepadanya. Akan tetapi, jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun mencinta... kutu buku itu! Hayo, coba kalau kau berani menyangkal setelah pertemuan kalian malam tadi."

Berubah merah wajah Cui Bi ketika dengan mata terbelalak dia memandang kakak tirinya. "Heee...?! Jadi bayangan itu... kaukah itu?"

Tiba-tiba saja Cui Bi menutupi muka dengan kedua tangan dan terdengar dia menangis terisak-isak.

Kong Bu kaget dan memegang tangan adik tirinya itu, "Eh, Bi-moi, kenapa kau menangis? Maafkan, aku tidak sengaja hendak menyakiti hatimu, maafkan godaanku tadi."

Sambil menangis tersedu-sedu Cui Bi menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak... kau tidak menggodaku... Bu-ko, memang aku... aku cinta kepadanya... tetapi, ahhh, bagaimana tak akan hancur hatiku karena aku dipaksa berjodoh dengan orang lain...?"

Saking sedih dan hancur hatinya Cui Bi menjatuhkan diri, menubruk Kong Bu kemudian menangis di atas dada kakak tirinya itu. Ayah dan ibunya hendak memaksa dia berjodoh dengan lain orang, dan sekarang hanya ada kakak tirinya ini yang menjadi satu-satunya orang yang kiranya dapat ia sambati, dapat ia mintai tolong.

"Tenanglah, Moi-moi, tenanglah... nanti di depan Ayah, aku pasti akan bilang untukmu..." Kong Bu dengan terharu mengusap-usap rambut kepala adiknya dan membiarkan gadis itu menangis dan menyembunyikan muka di atas dadanya.

Di tempat persembunyiannya, Kun Hong yang hanya dapat melihat adegan ini dari jauh tanpa dapat mendengar pembicaraan mereka, seketika menjadi pucat. Seluruh tubuhnya gemetar, kepalanya terasa berputar dan matanya berkunang-kunang. Hampir ia tak dapat mempercayai adegan yang dilihatnya.

Dua orang itu berpeluk-pelukan. Ahh, jahat benar cucu Song-bun-kwi, sejahat kakeknya. Dan keji benar Cui Bi, setelah malam tadi demikian mesra sikapnya. Hemm, gadis keji ini hendak mempermainkannya rupanya. Hati Kun Hong sakit sekali. Belum pernah selama hidupnya ia merasa sakit hati seperti ini. Kedua matanya yang berapi-api meneteskan dua butir air mata.

Kong Bu, kau keparat...! Sudah jelas bahwa kau berusaha menarik hati Li Eng, terang dalam pertandingan tadi kalian saling mengalah. Bahkan Cui Bi mengucapkan kata-kata menyindir tentang perasaan Kong Bu dan Li Eng. Tapi sekarang... ahh, kalian dua orang berhati binatang. Tak bermalu!

Hampir Kun Hong tak kuat menahan hatinya, hampir ia melompat dan menerjang mereka dengan kata-kata pedas. Akan tetapi dia menahan hatinya ketika melihat dua orang itu bangkit berdiri, berjalan bergandengan tangan sampai dekat tempat ia bersembunyi.

"Bu-ko, biar sekarang kususul Enci Li Eng dan Enci Hui Cu. Akan kubawa kalian semua menghadap Ayah."

Kong Bu hanya mengangguk. Cui Bi lalu lari dari tempat itu, tubuhnya lenyap di antara pohon-pohon. Kun Hong yang sudah tak dapat menahan hatinya lagi, melompat keluar.

Kong Bu memandang kaget, "Ehh, Saudara Kun Hong, kau di sini?"

Kekagetan Kong Bu bukan hanya disebabkan munculnya Kun Hong yang tidak disangka-sangkanya itu, akan tetapi terutama sekali karena melihat pemuda ‘kutu buku’ ini beringas mukanya, matanya berapi-api dan tangannya memegang sebatang pedang yang sinarnya kemerahan.

Pemuda yang biasanya sopan santun dan lemah lembut ini kelihatannya bengis sekali. Wajahnya tersinar cahaya matahari pagi yang kini mulai menerobos dari celah-celah daun pohon.

"Kong Bu, cabut pedangmu!" tiba-tiba saja Kun Hong berkata, suaranya menggeledek tak seperti biasanya.

Kong Bu makin kaget dan heran.

"Ehh, apa maksudmu, Saudara Kun Hong?" tanyanya bingung.

"Jangan kau berpura-pura lagi. Aku sudah melihat semua perbuatanmu yang tak senonoh dengan... Nona Tan Cui Bi. Kau... kau manusia rendah! Kau memikat hati Li Eng dengan kepandaianmu, kau memperlihatkan sikap mengalah di dalam pertandingan sehingga dia jatuh dan mengira bahwa kau cinta kepadanya. Kiranya kau hanya mempermainkannya, diam-diam kau main gila dengan Nona Cui Bi! Hemmm, Kong Bu, aku seorang penyabar, akan tetapi kali ini kita harus mengadu nyawa! Bersiaplah!"

Melihat semua ini, melihat sikap menantang dari Kun Hong, melihat pula cara Kun Hong memegang pedang seperti orang memegang pisau dapur, mendadak Kong Bu tak dapat menahan gelak tawanya yang bergema di sekitar tempat itu.

"Keparat, tak usah mentertawakan! Kalau kau memang jantan, cabut pedangmu!" Makin panas hati Kun Hong, "Tak dapat aku membiarkan kau merusak hati Li Eng!"

"Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong. Hebat benar kau! Aku kagum melihat keberanianmu. Akan tetapi kenapa kalau aku merusak hati Nona Li Eng? Katakanlah saja aku merusak hatimu, kau anggap aku merampas Cui Bi darimu! Ha-ha-ha, apa kau kira aku tidak tahu akan pertemuanmu dengan Cui Bi malam tadi? Kau mencinta Cui Bi dan kini kau cemburu kepadaku."

Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. "Hemm, apa lagi kalau sudah tahu akan hal itu, berarti makin jahatnya hatimu dan rendahnya Bi-moi."

"Tak boleh kau memaki Cui Bi!"

"Aku tidak memaki, kenyataan yang amat rendah membuktikan."

"Ehh, Kun Hong, kau makin menghina. Kau kira aku takut padamu?" Kong Bu mencabut pula pedangnya. "Mari, mari... kalau kau ingin main-main denganku, boleh!"

"Majulah, tak usah banyak cakap!" Kun Hong menantang.

Melihat betapa pemuda Hoa-san-pai itu memegang pedang dengan ujung pedang terseret di atas tanah, Kong Bu makin geli dan ia menggertak, "Awas pedang!"

Cepat seperti kilat menyambar pedangnya menusuk ke arah dada Kun Hong. Akan tetapi secepat itu pula dia menarik kembali pedangnya ketika melihat betapa Kun Hong sama sekali tidak melakukan gerakan untuk menangkis mau pun mengelak.

"Ehh, benar-benarkah kau hendak mengadu pedang denganku?"

"Siapa mau main-main denganmu?" jawab Kun Hong.

"Kenapa kau tidak menangkis atau mengelak?"

"Hemmm, pedangmu belum menyentuh bajuku, kau sudah ribut-ribut? Hayo seranglah, kalau kau memang laki-laki!"

Kong Bu kembali menggerakkan pedangnya, kali ini membacok ke arah leher lawannya itu. Ketika pedangnya tinggal beberapa sentimeter lagi dari leher Kun Hong dan kali ini juga Kun Hong tidak menangkis mau pun mengelak, Kong Bu terkejut sekali dan cepat merubah arah pedang sehingga membabat atas kepala Kun Hong.

Kun Hong tersenyum. Tentu saja dia sudah siap sedia dan dia dapat mengikuti gerakan pedang itu dengan baik sekali sehingga dia tidak perlu menangkis atau mengelak sebelum benar-benar dia terancam.

"Mengapa tidak jadi menyerang? Apakah kau takut?" ejeknya.

Kong Bu benar-benar kagum sekali. Belum pernah ia menemui seorang yang begini besar keberaniannya, menanti datangnya pedang dengan mata tidak berkedip sedikit pun.

"Hebat! Kau benar-benar gagah berani, Saudara Kun Hong. Biarlah tak perlu lebih lama lagi aku menggodamu."

Kong Bu menyimpan pedangnya. "Ketahuilah, kau yang gagah dan cerdik ini, kali ini kau seakan-akan buta karena cinta kasih mengeruhkan hati dan pikiranmu sehingga kau tidak melihat kenyataan bahwa apa yang kau lihat antara aku dan Cui Bi itu bukanlah hal yang perlu kau ributkan. Ketahuilah, dia dan aku adalah saudara tiri, kami sama-sama anak Ayah Tan Beng San, dia lahir dari Ibu Cia Li Cu dan aku dari Ibu Kwee Bi Goat. Kau tahu apa yang kami bicarakan tadi? Dia menangis karena cintanya kepadamu!"

Lemas seluruh sendi tulang di tubuh Kun Hong. Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya dan memegang lengan Kong Bu yang kuat, "Ahh, Saudaraku, aku benar-benar buta! Aku layak kau maki, layak kau pukul. Hemmm, orang macam aku ini mana ada harga untuk mencintanya?"

Kong Bu tertawa gembira. "Sudahlah, Saudara Kun Hong, tak perlu kau merendahkan diri. Salah mengerti ini sudah dapat dilenyapkan, itu bagus sekali. Tentang adikku Cui Bi, tak usah kau kuatir, dia benar-benar mencintamu. Hanya aku masih sangsi apakah cintamu kepadanya betul-betul sebesar perasaannya terhadapmu."

"Saudara Kong Bu," kata Kun Hong bernafsu. "Biarlah bumi dan langit menjadi saksi, dan dengarlah sumpahku bahwa aku mencinta Bi-moi sepenuh jiwaku dan aku rela berkorban nyawa untuknya!"

"Bagus! Aku menjadi saksi!"

"Jangan mau menang sendiri, Saudara Kong Bu. Sikapmu terhadap keponakanku Li Eng juga tidak berterus terang. Dahulu kau mengalah dan membiarkan dirimu ditawan, lalu tadi kau sengaja berlaku mengalah dalam pertandingan. Apa artinya? Seorang laki-laki sejati tidak akan ragu-ragu untuk menyatakan perasaannya secara jujur."

Merah muka Kong Bu, akan tetapi sambil tersenyum ia mengangkat dada berkata, "Kau telah memberi contoh. Aku pun bersumpah bahwa aku betul-betul mencinta Nona Kui Li Eng dengan sepenuh jiwaku."

Tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan dan tertawa, "Bagus, bagus... sudah kudengar sumpah dua orang. Awas, aku menjadi saksi utama!"

Muncullah Hui Cu dari balik sebatang pohon. Gadis ini dengan wajah berseri-seri berkata sambil menoleh ke belakang. "Adik Eng, Adik Cui Bi, keluarlah, kenapa malu-malu kucing bersembunyi saja?"

Dengan muka merah dan ditundukkan, dua orang gadis itu membiarkan mereka tertarik keluar oleh Hui Cu. Kun Hong dan Kong Bu sangat terkejut dan tentu saja menjadi malu sekali, wajah mereka merah sampai ke telinga.

Kiranya tempat rahasia itu hebat sekali sehingga di tempat ini ada tiga orang gadis muncul tanpa mereka ketahui sama sekali! Tentu mereka bertiga tadi telah melihat dan sekaligus mendengar segala-galanya.

Terdengar Li Eng berkata malu-malu kepada Cui Bi sambil merangkul gadis berpakaian pria itu, "Adik Bi, maafkanlah aku..."

Apakah yang terjadi? Seperti telah kita ketahui, Cui Bi pergi menyusul Hui Cu dan Li Eng. Karena jalan rahasia itu memang sulit sekali, akhirnya Li Eng tersesat, malah Hui Cu yang mengejarnya juga tersasar sehingga dua orang gadis ini terpisah, makin lama makin jauh. Cui Bi yang mengenal jalan rahasia itu mengejar Li Eng dan... tanpa disadari oleh Li Eng sendiri, sebetulnya Li Eng telah mengambil jalan memutar kembali ke tempat semula.

Karena inilah maka tadi ia sempat menyaksikan, seperti juga Kun Hong, adegan mesra antara Cui Bi dan Kong Bu. Begitu melihat Cui Bi hendak mencarinya, Li Eng sengaja menunggu dan segera memaki setelah melihat Cui Bi muncul di depannya,

"Bagus, kau perempuan tak tahu malu! Kau mendorong-dorongku kepada Kong Bu, kau sendiri menyatakan cintamu kepada Paman Hong, akan tetapi apa yang kau lakukan tadi? Benar-benar tak tahu malu!"

Tentu saja Cui Bi kaget sekali. Akan tetapi dia segera dapat menduga apa yang menjadi sebabnya, maka ia tersenyum manis.

"Enci Li Eng, kemarahanmu ini malah menggirangkan hatiku, tanda bahwa rasa cemburu di hatimu ini membuktikan betapa besar cinta kasihmu kepada kakak tiriku Kong Bu."

"Kakak tiri? Apa maksudmu?"

"Dia putera Ayah, dari Ibu Kwee Bi Goat, tentu saja dia kakak tiriku. Nah, apa kau masih cemburu?"

Bukan main menyesal dan malunya hati Li Eng maka ia hanya bengong saja dan tidak membantah ketika Cui Bi menarik tangannya untuk menyusul Hui Cu. Setelah bertemu, mereka bertiga kembali ke tempat tadi melalui jalan rahasia yang sangat dekat sehingga mereka sempat menyaksikan keributan antara Kun Hong dan Kong Bu, bahkan sempat pula mendengar sumpah cinta kasih mereka. Kini tibalah giliran Hui Cu untuk menggoda mereka dan menyatakan kegembiraannya.

Pada pertemuan yang serba menggembirakan ini, Kun Hong agak gelisah melihat betapa wajah kekasihnya itu muram seperti matahari tertutup awan. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani untuk bertanya.

Di lain pihak, Cui Bi yang masih amat sungkan dan likat, segera berkata, "Sekarang tiba waktunya kita naik ke puncak menghadap Ayah. Hati-hati, jalan rahasia ini amat sulit, dan aku kuatir kalau-kalau perjalanan kita ini ada yang mengikuti. Kong Bu-koko, aku menjadi penunjuk jalan di depan dan biarlah kau jalan paling belakang sambil meneliti kalau-kalau ada musuh yang mengikuti perjalanan kita ke puncak."

"Adik Bi, apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan?" Kong Bu bertanya.

"Agaknya selama ini ada orang yang memata-matai kita. Malam itu..." Cui Bi melirik ke arah Kun Hong yang juga teringat akan bayangan semalam.

"Apakah itu bayanganmu Bu-koko?"

Kong Bu menggeleng kepala, wajahnya serius. "Aku hanya melihat dari jauh dari belakang pondok, mana bisa kau melihat bayanganku?"

"Hemm, agaknya orang lain. Mari, jangan membuang waktu," berkata Cui Bi yang segera memimpin perjalanan itu dengan hati-hati dan perlahan.

Jalan rahasia itu memang amat sukar. Kalau bukan orang Thai-san-pai, takkan mungkin dapat mencarinya. Jalan yang luas dihindari, akan tetapi gerombolan pohon yang sangat lebat malah dimasuki, semua ini memakai perhitungan, dan sebagai tanda-tanda hanyalah pohon-pohon yang tumbuh malang melintang tidak teratur di sekitar puncak.

Cui Bi membawa mereka menyusupi celah antara dua batang pohon yang berdampingan sehingga mereka hanya dapat bergerak maju dengan tubuh miring, melewati tetumbuhan penuh duri dan akhirnya mereka terhalang oleh sebuah rawa yang lebarnya tidak kurang dari lima puluh meter.

Di atas rawa ini dipasangi jembatan bambu melintang, terdiri dari dua batang bambu yang disambung-sambung tanpa pegangan. Jembatan itu sempit dan kalau dilalui orang tentu memerlukan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Pendeknya, orang biasa takkan mampu melewati jembatan yang cukup panjang ini.

Akan tetapi, para muda itu terheran-heran melihat Cui Bi tidak mengajak menyeberangi rawa melalui jembatan itu, melainkan langsung turun ke dalam rawa!

"Ehh, ada jembatan mengapa menyeberang rawa yang airnya begitu kotor, dan siapa tahu kalau membuat kita tenggelam?" teriak Li Eng yang berjalan di belakang Cui Bi.

Cui Bi berhenti, menoleh dan tertawa. "Di antara seratus orang, tentu tak ada seorang pun yang tidak mengira bahwa perjalanan selanjutnya tentu melalui jembatan yang sukar ini. Akan tetapi ini hanya perangkap bagi musuh yang mencoba-coba memasuki jalan rahasia ini. Siapa yang menyeberang melalui bambu ini, akan tersesat jauh dan akan menghadapi bahaya yang hebat di sebelah sana. Sekarang ikutilah saja bekas jejak kakiku dan jangan sampai terpeleset!"

Dengan perlahan supaya dapat diikuti dengan seksama oleh kawan-kawannya, Cui Bi lalu melangkahkan kaki ke dalam rawa dan... kiranya di dekat permukaan air rawa yang hitam itu dipasangi patok-patok tertentu yang cukup lebar sebagai injakan kaki. Patok-patok ini dipasang sedemikian rupa sehingga hanya mereka yang telah hafal saja yang akan dapat mencarinya.

Cui Bi melangkah, ke kanan sembilan langkah, memutar ke kiri sembilan langkah, lurus sembilan langkah lalu membelok lagi ke kanan dan kemudian melalui bawah jembatan bambu itu, sama sekali tidak menyeberang, tapi menyusur sepanjang rawa itu memanjang ke kiri. Dilihat dari jauh, lima orang muda itu seakan-akan berjalan di atas air rawa! Sama sekali bukan seberang di mana jembatan itu berakhir yang dituju oleh Cui Bi, melainkan membelok dan lenyap di tikungan yang penuh dengan tetumbuhan liar.

Setelah melangkah sebanyak sembilan puluh sembilan langkah, mereka tiba di seberang sana dan meloncat ke daratan yang indah, penuh kembang dan rumput hijau.

"Kita berhenti di sini, di sebelah sana ada terowongan yang menuju ke puncak. Biarlah aku sendiri yang akan naik melapor kepada Ayah. Biasanya Ayah kalau hendak menemui para murid tentu keluar dari terowongan itu. Tak sembarang orang diperbolehkan melalui terowongan. Nah, kalian tunggu sebentar, aku segera kembali bersama Ayah."

Lin Eng, Hui Cu, Kun Hong dan Kong Bu terpaksa menanti di situ sungguh pun Kong Bu dan Li Eng yang keras hati itu tidak sabar dan tidak puas mengapa diadakan peraturan seperti ini. Mereka tentu saja tidak tahu betapa dulu Beng San mempunyai banyak sekali musuh-musuh yang sangat lihai, yang selalu berusaha menyerbu tempat tinggalnya untuk membalas dendam. Untuk menjaga keselamatan keluarganya, terpaksa pendekar ini lalu membuat tempat yang penuh rahasia ini.

Baru saja Cui Bi lenyap di sebuah tikungan, tiba-tiba Kun Hong yang kebetulan menengok ke belakang berseru, "Ada orang datang!"

Semua orang segera menengok dan cepat meloncat berdiri dari tempat duduk mereka di atas tanah. Benar saja, sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit dan ringan sekali berloncatan dari patok ke patok, persis seperti yang mereka lakukan dengan hati-hati dan perlahan tadi.

"Wah, ia tentu mengikuti kita sejak tadi dan diam-diam memperhatikan jalan rahasia untuk menyeberangi rawa!" Kata Li Eng sambil siap untuk menghadapi lawan.

Empat orang muda ini maklum bahwa yang datang adalah seorang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh hebat sekali. Kong Bu melompat ke dekat rawa.

"Dia lihai, biarlah aku menghadapinya!" dengan kata-kata demikian dia hendak mencegah kekasihnya itu berhadapan dengan lawan yang demikian lihainya.

Orang yang berloncatan itu tiba-tiba berhenti, agaknya menjadi ragu-ragu melihat bahwa orang-orang yang diikutinya itu ternyata berhenti dan telah melihatnya. Tetapi agaknya ia sudah merasa kepalang dan kini malah meloncat-loncat lagi dengan cekatan dan lebih cepat dari tadi.

Kedua lengannya berkembang ke kanan kiri, pakaian di tubuhnya berkibar, dipandang dari jauh seperti seekor burung besar. Kun Hong hampir berseru kaget karena dia mengenal bahwa langkah-langkah dan gerakan itu mirip betul dengan langkah ajaib Kim-tiauw-kun.

"Dia bukan musuh...!" Tiba-tiba Hui Cu berseru. “Dia... dia Saudara Tiauw...!"

Memang benar dugaan gadis ini yang tak pernah dapat melupakan pemuda penolongnya itu sehingga dari jauh saja dia sudah mengenalnya. Bayangan yang datang berlompatan seperti terbang itu bukan lain adalah Sin Lee!

Akan tetapi seruan Hui Cu tidak berpengaruh bagi Kong Bu yang tidak mengenal pemuda itu. Dia membiarkan Sin Lee melakukan loncatan terakhir hingga berada di darat, lalu dia memapaki dan berkata, suaranya ketus,

"Siapa kau dan apa maksudmu mengikuti kami?"

Sin Lee adalah seorang pemuda yang berwatak kasar, juga jujur dan tidak pernah merasa takut terhadap siapa pun juga. Ia dapat merasakan ketusnya suara pemuda tampan yang menyambutnya, maka ia menjawab sama ketusnya, "Tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu sobat, perlu apa kau banyak bertanya?"

Lalu ia menoleh ke arah Hui Cu, mengangkat tangan memberi hormat pula kepada Kun Hong sambil berkata, "Maafkan aku, sengaja aku menyusul ke sini sebab aku ingin sekali bertemu dengan Ketua Thai-san-pai."

Di sini sudah tidak ada Cui Bi dan tiga orang muda Hoa-san-pai itu termasuk tamu, tentu saja mereka tidak berhak melarang orang lain yang juga hendak bertemu dengan Ketua Thai-san-pai. Apa lagi Kun Hong dan dua orang keponakannya itu seperti orang kesima melihat betapa dua orang muda yang sama gagah sama tampan itu benar-benar mirip satu dengan yang lain!

Tetapi, Kong Bu yang merasa bahwa sebagai putera Ketua Thai-san-pai ia pun berhak melindungi kehormatan Thai-san-pai, segera membentak,

"Kau datang memata-matai kami. Kau mengikuti kami dengan diam-diam, perbuatanmu ini saja sudah cukup menyakinkan bahwa kau tentulah seorang jahat! Hayo mengaku kau siapa dan apa maksud kedatanganmu?"

"Saudara Kong Bu, dia bukan orang jahat!" serta merta Hui Cu membela, nada suaranya mengandung kemarahan. "Dialah yang menolong aku ketika kakekmu menculikku!"

Karena panas mendengar penolongnya dimaki, Hui Cu tak dapat mengendalikan hatinya dan sengaja ia mencela kakek Kong Bu. Hal ini tentu saja membuat Kong Bu makin tak senang kepada pendatang ini.

Hemmm, kiranya inilah orangnya yang oleh kakeknya dianggap lihai dan yang ternyata berhasil merampas Hui Cu dari tangan kakeknya. Ia memandang tajam, sinar matanya berapi-api.

Ada pun Sin Lee ketika mendengar pembelaan Hui Cu, diam-diam merasa puas sekali, kemudian dia bertanya, suaranya mengandung ejekan, "Sobat, kau bersikap seolah-olah kau raja tempat ini. Apa hubunganmu dengan Ketua Thai-san-pai dan betulkah kata-kata Nona Hui Cu bahwa kau cucu iblis tua Song-bun-kwi?"

Segera Kong Bu memandang dengan mata melotot, "Keparat, tutup mulutmu yang kotor! Song-bun-kwi memang kakekku dan Ketua Thai-san-pai ayahku, kau mau apa?"

"Bagus! Kiranya kau si keparat, keturunan para pembunuh ayahku! Hemm, setelah kita bertemu di tempat ini, jangan harap kau mampu lepas dari tanganku!" Sin Lee mencabut pedangnya dan memandang penuh kebencian.

"Ho-ho-ho, manusia sombong, bukan aku yang akan roboh, melainkan kau yang akan menggeletak tak bernyawa di depan kakiku! Hayo, jika kau memang jantan katakan siapa namamu dan mengenai kematian ayahmu. Memang entah sudah berapa ratus manusia jahat yang tewas di tangan Ayah dan kakekku, agaknya termasuk ayahmu itulah!" Kong Bu mengejek dan mencabut pula pedangnya.

Sin Lee menggerakkan pedangnya, lalu menerjang sambil berkata, "Ibuku Kwa Hong dan ayahku terbunuh oleh kakekmu. Mampuslah kau!"

Terjangan ini hebat sekali, seperti seekor burung menyerbu. Akan tetapi Kong Bu sudah waspada. Pemuda ini sudah mengerti bahwa kini ia menghadapi lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Cepat ia mengeluarkan suara melengking dan pedangnya menangkis, tubuhnya menggeliat dan tiba-tiba ia sudah balas menyerang tidak kalah cepatnya. Akan tetapi, serangan yang biasanya sukar dihindarkan oleh lawan ini ternyata dengan mudah dielakkan oleh Sin Lee yang menggeser kakinya secara aneh.

Segera dua orang muda ini bertanding dengan hebat sekali. Pedang di tangan mereka bersuitan, mengeluarkan angin yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin. Mata pedang menyambar-nyambar mencari mangsa dan di antara mereka terdengar lengking-lengking saling bersahut, suara yang menggetarkan jantung karena suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam.

Melihat ‘kekasihnya’ bertempur, Li Eng sudah mencabut pedangnya pula, siap untuk maju membantu. Akan tetapi Hui Cu menyentuh lengannya dan ketika Li Eng menengok, dia terheran melihat bahwa Hui Cu menangis!

"Adik Eng..., jangan... jangan serang dia... dia itu penolongku..."

Li Eng bingung sekali. "Tapi... tapi... pertandingan ini begini hebat, salah seorang tentu akan celaka..." katanya penuh kekuatiran. Tentu saja kuatir kalau-kalau Kong Bu yang terluka.

Sementara itu, Kun Hong sangat tertarik, terheran-heran melihat gerakan pedang serta gerakan kaki yang dimainkan Sin Lee. Itulah Kim-tiauw-kun, pikirnya. Kim-tiauw-kun yang tidak sempurna dan tidak lengkap namun dilengkapi dengan ilmu silat lain yang aneh.

Melihat cara dua orang pemuda itu bertanding, Kun Hong segera maklum bahwa dengan pedangnya dia sanggup memisahkan mereka, sanggup melerai. Akan tetapi karena dia melihat bahwa keduanya setingkat dan seimbang kepandaiannya, dia tidak terburu-buru melerai. Dia ingin melihat lebih lama lagi ilmu silat yang dimainkan oleh Sin Lee.

"Kalian tak usah kuatir, mereka takkan celaka, keduanya sama tangguh, kita nonton saja," katanya.

Li Eng mengerutkan kening, juga Hui Cu. Entah mengapa, ada sesuatu perasaan yang membuat mereka saling menjauhi! Memang keduanya terpisah oleh perasaan yang saling bertentangan, yang seorang memihak Kong Bu yang seorang lagi memihak Sin Lee. Biar pun mereka berdua merasa sungkan untuk membantu namun diam-diam mereka sudah mengambil keputusan, terutama Li Eng, bahwa kalau sampai orang yang dicintai terluka, tentu dia akan menyerbu dan menuntut balas.

Pertandingan itu benar-benar seru sekali. Ketika di antara permainan pedangnya Sin Lee kelihatan memutar-mutar tangan kiri, diam-diam Kun Hong menjadi gelisah dan otomatis dia mengambil beberapa buah batu kecil siap untuk disambitkan ke arah pergelangan tangan kiri Sin Lee andai kata ia melihat Kong Bu terancam bahaya.

Ia sudah mengenal kehebatan pukulan tangan kiri dengan tangan diputar-putar ini. Pernah ia melihat Sin Lee merobohkan Kim-thouw Thian-li dengan pukulan semacam ini yang mengakibatkan luka dalam yang hebat dan mengandung hawa beracun.

Benar saja, setelah memutar-mutar tangan kiri beberapa kali, Sin Lee lalu mengeluarkan seruan dan mendorongkan tangan kirinya itu ke depan. Kun Hong sudah menegang urat tangannya, akan tetapi dia menjadi lega ketika melihat Kong Bu mengeluarkan seruan keras sekali, tangan kirinya juga mendorong ke depan dengan jari tangan terbuka. Dua hawa pukulan yang sama hebatnya bertemu dan... akibatnya keduanya terjengkang ke belakang!

"Ahh... kau tidak apa-apa...?" Li Eng memburu Kong Bu.

Sedangkan Hui Cu memburu Sin Lee, juga bertanya, "Kau tidak apa-apa...?"

Kedua orang pemuda itu menggeleng kepala, lalu dengan beringas menerjang maju lagi, bertanding lebih hebat dari pada tadi.

Li Eng dan Hui Cu sudah mencabut pedang, agaknya sudah gatal-gatal tangan mereka hendak membantu kekasih masing-masing. Tapi Kun Hong segera mendatangi mereka, menarik tangan mereka diajak duduk di bawah pohon, menjauhi pertempuran.

"Kalian bocah-bocah nakal, untuk apa mesti turut-turut? Yang seorang anak Bibi Bi Goat dan paman Beng San, yang seorang lagi anak Enci Kwa Hong dan Paman Beng San, mengapa turut-turut? Kulihat mereka sama pandai, sama kuat, nanti kalau memang ada yang terdesak, barulah kita maju untuk melerai sebelum ada yang terdesak. Kalau kita memisah, tentu mereka penasaran dan tidak mau menerima. Biarlah saja, kita nonton di sini."

Sin Lee yang selama ini belum pernah menemui tandingan berat kecuali pada waktu dia bergebrak sejurus saja dengan Kakek Song-bun-kwi, menjadi penasaran sekali. Ia lantas memekik-mekik dan tubuhnya kadang-kadang meloncat tinggi, kadang-kadang menerjang dari kanan kiri seperti orang terhuyung-huyung, beberapa kali mempergunakan gerakan seperti rajawali emas, menyerang dengan pedang akan tetapi yang betul-betul merupakan serangan adalah pukulan tangan kiri, kadang-kadang menerjang hebat dengan pedang, pukulan tangan kiri dan tendangan bertubi-tubi dengan kedua kakinya! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Akan tetapi Kong Bu benar-benar kuat sekali penjagaannya. Juga cucu Song-bun-kwi ini merasa sangat penasaran sampai mukanya menjadi merah, matanya mendelik marah. Selamanya, kecuali ketika bertanding melawan Li Eng, belum pernah ia bertemu tanding sehebat pemuda ini.

Kadang kala ia dibikin bingung oleh gerakan-gerakan yang aneh dan ajaib, namun berkat gemblengan kakeknya yang amat hati-hati mengajar cucunya, Kong Bu dapat menangkis semua serangan lawan, bahkan dia pun mampu membalas tak kalah hebatnya. Ia malah mengeluarkan Yang-sin Kiam-sut yang berhawa panas, dan setelah dia memainkan ilmu pedang ini, benar saja ia mampu mendesak lawan.

Namun Sin Lee dengan langkah ajaib yang ia warisi dari ibunya, dapat menghindarkan kurungan-kurungan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ini, sehingga walau pun dia terdesak oleh ilmu pedang aneh ini, namun belum pernah pedang lawan dapat menyentuh ujung bajunya.

Sudah empat ratus jurus lebih dua orang muda itu bertanding seperti dua ekor naga atau dua ekor singa. Kun Hong sudah mulai ragu-ragu dan sudah timbul niat di hatinya untuk turun tangan melerai. Kalau ia turun tangan, tentu saja berarti ia membuka rahasia sendiri, karena kalau bukan seorang yang memiiiki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat mendekati dua orang muda yang sedang bertanding itu, apa pula memisah.

Pada saat Kun Hong meragu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang. Kun Hong melihat bahwa orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, memelihara jengot pendek, pakaiannya sederhana dan tubuhnya sedang, matanya berkilat-kilat bagai mata harimau, di punggungnya tergantung pedang.

Bayangan orang ini langsung menyerbu ke dalam gelanggang pertandingan, gerakannya gesit dan luar biasa sekali sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata. Tetapi tahu-tahu dua orang yang bertanding tadi seperti terdorong oleh angin yang mengandung kekuatan tak terlawan, keduanya terpental ke belakang, terhuyung-huyung mundur masing-masing lebih dari tujuh langkah!

Beberapa detik kemudian muncullah seorang wanita cantik, usianya juga hampir empat puluh, dandanannya sederhana pula, ringkas dan rambutnya yang hitam itu digelung ke atas, sebatang pedang menempel pula di punggung. Biar pun sudah setengah tua wanita ini masih tangkas dan cantik, sepasang pipinya masih segar kemerahan dan gerakannya tangkas biar pun melihat perutnya yang agak besar itu mudah diketahui bahwa ia sedang mengandung muda.

Di belakang wanita ini berlari-lari Cui Bi yang kini berpakaian sebagai seorang gadis cantik sehingga untuk sejenak Kun Hong memandang dengan muka merah dan mata melotot sukar dikejapkan!

Mudah diduga bahwa laki-laki yang memisah pertandingan itu bukan lain adalah Si Raja Pedang Tan Beng San sendiri, sedangkan wanita cantik yang mengandung itu adalah Cia Li Cu.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner