RAJAWALI EMAS : JILID-35


Beng San mengeluarkan seruan keras sekali. Mukanya berubah merah lalu kehitaman. Ini menandakan bahwa kemarahan mengganggu hatinya.

Cara bertempur tokoh-tokoh hitam ini benar-benar licik dan curang sekali, menggunakan jumlah banyak untuk mengeroyok. Padahal mereka semua itu, satu demi satu merupakan tokoh-tokoh yang amat terkenal dan tak sepatutnya mengeroyok musuh, apa lagi dengan begitu banyak melawan seorang lawan!

Pedangnya digerakkan, berubah menjadi segulung sinar berkeredepan dan mengeluarkan bunyi mengaung. Hujan serangan lima orang lawannya itu semua dapat tertangkis oleh sinar pedangnya, malah tangan kirinya yang bergerak-gerak mengeluarkan hawa pukulan dahsyat, selain menangkis serangan-serangan jarak jauh dari Pak-thian Locu, sekaligus juga menanggulangi serangan-serangan Siauw-ong-kwi dan Tok Kak Hwesio.

Kwa Hong dan Sin Lee berdiri bengong, penuh kekaguman melihat bagaimana Beng San mengeluarkan kepandaiannya menghadapi lima orang tokoh-tokoh besar yang semuanya memiliki kepandaian tinggi itu. Terasa oleh ibu dan anak ini betapa kalau tadi Beng San betul-betul mengeluarkan kepandaian, mereka tentu sudah roboh olehnya.

Beng San maklum bahwa kalau dia membiarkan dirinya terkurung menghadapi sekaligus lima orang pengeroyoknya, sulit baginya memperoleh kemenangan. Maka sambil mainkan ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut yang hebat, yang sekaligus dapat dia pergunakan untuk melayani serangan-serangan lawan yang dasarnya berbeda, baik serangan dengan mengandalkan tenaga Yang-kang mau pun tenaga Im-kang, ia menggunakan kegesitan melompat ke sana ke mari, menerjang dari seorang lawan kepada lawan lain sehingga ia terbebas dari pengurungan yang ketat.

Akan tetapi cara ini tidak dapat digunakan daya serangnya karena hanya sejurus saja lalu harus menghadapi lain lawan, sedangkan semua lawannya adalah orang-orang yang tidak mungkin dapat dirobohkan hanya dengan satu dua jurus serangan saja. Apa lagi pukulan-pukulan jarak jauh dari Pak-thian Locu benar-benar hebat sekali, mendatangkan angin berdesir yang hanya dapat dia tolak dengan pukulan tangan kiri yang mengeluarkan uap putih. Dengan pukulan yang setingkat dengan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Gaib Awan Putih) ini dia mampu membuat setiap pukulan kakek tua renta itu membalik, sehingga berkali-kali kakek ini mengeluarkan seruan memuji.

Pertandingan yang tidak seimbang ini berjalan semakin seru dan hebat. Beng San harus mengerahkan seluruh tenaga dan segenap kepandaiannya, barulah ia bisa mengimbangi pengeroyokan itu. Makin lama seruannya makin nyaring, hawa pukulan yang menyambar dari sinar pedangnya makin kuat sehingga beberapa kali Hek-hwa Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo terpaksa harus meloncat jauh untuk menghindarkan diri dari hawa maut yang menyambar dari sinar pedang Beng San.

Juga Tok Kak Hwesio telah dua kali terhuyung hampir jatuh akibat tangkisan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang hebat. Malah Siauw-ong-kwi pernah terpaksa menggulingkan tubuh ke atas tanah ketika kedua ujung lengan bajunya membalik dan memukul dirinya sendiri karena tangkisan pendekar yang sakti itu!

Kwa Hong semakin kagum, akan tetapi kekagumannya itu kalah oleh dendam di hatinya terhadap orang yang paling dicintanya ini. Melihat betapa pengeroyokan kelima orang itu ternyata belum cukup kuat untuk merobohkan Beng San, ia lalu berseru kepada Sin Lee,

"Anakku, kesempatan baik tiba, hayo kita serbu dia!" Ia sendiri pun lalu menerjang maju dengan pedang dan cambuknya.

"Ibu..." Sin Lee meragu, tetap tidak bergerak dari tempat ia berdiri.

Memang ia ikut pula membenci Beng San karena pengaruh ibunya, akan tetapi wataknya yang menjunjung tinggi kegagahan itu tidak mengijinkan ia lalu melakukan pengeroyokan seperti itu. Untuk membela ibunya, ia akan sanggup menghadapi Beng San dan mengadu nyawa dengan ayahnya yang telah menyakiti hati ibunya, ia rela mempertaruhkan jiwanya. Akan tetapi mengeroyok seperti ini? Ia tidak sanggup melakukannya. Karena itu ia diam saja, tidak mau turun tangan biar pun Kwa Hong sudah menerjang hebat ke arah Beng San.

Beng San sama sekali tidak menduga bahwa Kwa Hong akan menyerangnya sehebat itu dari belakang selagi ia tidak bersiap, tahu-tahu ujung pedang Kwa Hong telah menyambar ke arah leher dan sebuah anak panah di ujung cambuk menghantam ke arah dadanya. Secepat kilat ia miringkan kepala, membiarkan pedang itu lewat di dekat kulit lehernya, sementara tangan kirinya menangkis anak panah yang tak mungkin dapat ia elakkan pula, juga tak mungkin ditangkis karena pedangnya pada detik itu sedang menangkis tongkat Yok-mo dan pedang Hek-hwa Kui-bo.

"Krakkk!"

Kwa Hong menjerit dan anak panah di ujung cambuknya patah-patah, telapak tangannya terasa sakit sekali dan hanya dengan melompat mundur ia dapat menguasai anak panah lain yang membalik tidak karuan. Akan tetapi lengan Beng San luka membiru dan baju pada lengannya itu robek.

Kalau lain orang yang terkena ujung anak panah hijau ini tentu akan terluka hebat yang akan mendatangkan kematian karena ujung anak panah ini mengandung racun hijau. Namun di tubuh Beng San penuh dengan hawa Im juga, maka tangkisan itu tidak melukai kulitnya, hanya membuat kulit lengannya membiru dan terasa agak linu.

Hal ini tidak mengecilkan hatinya, malah menimbulkan semangat perlawanan lebih hebat lagi. Teriakan dan seruannya menggema di udara dan gerakan pedangnya makin hebat!

Kwa Hong melanjutkan pengeroyokannya. Ia marah karena anak panahnya rusak sebuah. Akan tetapi ia lebih hati-hati lagi, menjaga agar jangan sampai senjatanya dirusak pula. Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa mengerikan disusul ucapan nyaring,

“Beng San kau lihat, siapa ini? Menyerahlah, kalau tidak anakmu ini akan kuhancurkan di depan matamu!"

Beng San melirik dan seketika wajah yang merah menghitam itu berubah pucat dan hijau. Ia melihat seorang manusia yang mengerikan sekali, seorang laki-laki berpakaian kuning yang mukanya seperti setan.

Mata kiri orang ini hanya tinggal lubangnya saja seperti mata tengkorak, tinggal mata kanannya yang liar merah. Mulutnya robek melebar, kelihatan giginya sebelah kiri. Telinga kirinya juga buntung tinggal kulit sedikit di dekat lubang. Tangan kirinya kaku dan jari-jari tangan ini seperti cakar burung, bukan tangan manusia lagi.

Meremang bulu tengkuk Beng San melihat orang ini akan tetapi berbareng hatinya terkejut bukan main karena orang yang sekarang ia kenal sebagai Giam Kin ini tangan kanannya menangkap Cui Bi yang agaknya sudah pingsan. Tubuh gadis ini lemas menggelantung pada lengan kanan Giam Kin!

"Giam Kin iblis laknat, lepaskan anakku!"

Dengan gelisah Beng San melompat ke arah Giam Kin, namun dia dihujani senjata oleh para pengeroyoknya sehingga terpaksa ia menangkis dan tak dapat mendekati Giam Kin. Hatinya gelisah bukan main.

"Giam Kin pengecut, jangan ganggu anakku!"

"Ha-ha-he-heh, baru sekarang kau ketakutan, ya? Kalau tidak ingin melihat anak gadismu yang cantik molek ini celaka, kau harus menyerah!" jawab Giam Kin dengan suaranya yang sekarang menjadi tidak karuan karena mulutnya sudah robek.

Lemas seluruh tubuh Beng San. Bagaimana ia dapat mengorbankan puterinya yang dia cinta setengah mati itu? Ia melompat mundur dan berkata lemah, "Aku menyerah. Tetapi jangan ganggu puteriku..."

Akan tetapi gerakannya yang menarik kembali pedang dan melompat mundur ini lantas dipergunakan oleh musuh-musuhnya untuk mendesak.

"Dukkk!"

Sebatang anak panah hijau di tangan Kwa Hong menghantam dadanya, membuat Beng San terhuyung-huyung ke belakang. Ia masih sempat melindungi leher dan kepalanya dari cengkeraman Tok Kak Hwesio dan hantaman ujung lengan baju Siauw-ong-kwi, namun dalam keadaan terhuyung-huyung itu, ia tidak mampu mengelak dari hantaman ujung selampai Hek-hwa Kui-bo yang mengenai pundak dekat leher, menotok jalan darahnya.

Beng San mengerahkan tenaga untuk melawan totokan ini, akan tetapi karena hantaman pada dadanya oleh anak panah Kwa Hong tadi melumpuhkan sebagian tenaganya, maka totokan ini masih membawa pengaruh hebat. Dia menjadi pening dan muntahkan darah segar.

Pada saat yang amat berbahaya itu, datang lagi dorongan pukulan Pak-thian Locu yang mengakibatkan angin pukulan mendorong dadanya. Beng San tak mampu menahan dan roboh telentang. Baiknya tubuhnya memang kuat sekali, maka ketika terjengkang ini dia menahan napas dan menyalurkan hawa murni dalam tubuh untuk melawan pengaruh tiga pukulan hebat itu, pada dada, pundak dekat leher dan ulu hati.

Sekali lagi ia muntahkan darah segar. Wajahnya menjadi pucat dan ia melompat sambil memutar pedangnya sekaligus menangkis hujan senjata.

"Curang...!" serunya.

Sekarang kemarahannya membuat uap putih mengebul keluar dari ubun-ubun kepalanya. Kemarahan membuat gerakannya seperti seekor naga terbang. Dia menerjang maju dan terdengar Hek-hwa Kui-bo menjerit sambil melompat mundur, selampainya putus terbabat pedang dan lengannya masih tergores ujung pedang sehingga mengeluarkan darah. Juga para pengeroyok lain terpaksa melangkah mundur setindak saking hebatnya daya serang Beng San ini.

Beng San hendak melompat ke arah Giam Kin lagi, akan tetapi para pengeroyoknya telah menghalanginya pula.

"Giam Kin, lepaskan anakku! Lepaskan dia dan aku akan menyerah!" bentak Beng San, suaranya menggeledek.

"Ha-ha-ha, jangan lepaskan, orang ini harus dibikin mampus bersama anaknya!" tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu Song-bun-kwi telah muncul di situ bersama Kong Bu.

Datang-datang kakek ini langsung saja menerjang sambil menggerakkan pedangnya yang mengaung hebat, menggunakan Ilmu Silat Pedang Yang-sin Kiam-sut yang ganas sekali. Melihat datangnya Song-bun-kwi, para pengeroyok timbul kembali semangat mereka dan pengeroyokan makin hebat.

"Hi-hi-hik, dasar dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, Beng San!" Kwa Hong bersorak dan kembali ia menganjurkan puteranya, "Sin Lee, hayo kau ambil bagian dalam pesta ini!"

Namun Sin Lee hanya berdiri tegak dengan wajah pucat, mata membelalak dan tubuh gemetar. Muak ia melihat pengeroyokan itu dan makin lama makin bangga dan kagumlah ia menyaksikan sepak terjang orang yang menjadi ayahnya ini.

Ada pun Kong Bu pada waktu sampai di tempat itu, juga berdiri mematung dengan mata seakan-akan mengeluarkan api. Ia tidak peduli melihat kakeknya yang sudah menyerang mati-matian dan melihat jalannya pertempuran dengan hati tidak karuan. Sedih ia melihat orang yang menjadi ayahnya itu dikeroyok sedemikian rupa, mau membela, tapi ia segan kepada kakeknya.

Walau pun sudah terluka di tiga tempat dan pengeroyoknya bertambah dengan seorang yang sehebat Song-bun-kwi, namun permainan pedang Im-yang Sin-kiam-sut dari Beng San benar-benar hebat sekali sehingga ia dapat melindungi tubuhnya dari hujan senjata itu.

Akan tetapi, kembali terdengar suara Giam Kin tertawa.

"Ha-ha-ha, Beng San, lihatlah! Kau masih mau melawan terus? Lihat ini anakmu!" Setelah berkata demikian, tangan kirinya yang berupa cakar mengerikan itu bergerak dan…

"Brettt!" baju luar yang dipakai Cui Bi terobek lebar, memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna merah muda.

Gelap rasanya mata Beng San. "Giam Kin keparat...! Lepaskan anakku..."

Karena perasaannya tertusuk, gerakannya sedikit terlambat. Pedang Song-bun-kwi yang tadinya menusuk pusarnya itu kurang cepat ia elakkan sehingga pahanya telah tertusuk pedang.

Beng San menggulingkan tubuhnya ke belakang. Sinar pedangnya berkelebat menjaga diri dan ketika ia melompat bangun lagi, darah keluar bercucuran dari paha kanannya. Ia terpincang-pincang, darah mengucur banyak sekali, namun pedangnya masih dimainkan rapi menghalau setiap senjata yang hendak merenggut nyawanya. Tetapi ia tidak mampu balas menyerang karena perhatiannya kini terbagi untuk mengawasi keadaan Cui Bi yang sama sekali tidak berdaya di dalam tangan manusia iblis itu.

"Ha-ha-ha, Beng San, kau takkan dapat melepaskan dirimu. Kau boleh mati dengan mata melek karena anakmu ini tak akan dapat bebas pula. Ha-ha-ha!"

Suara ketawa Giam Kin bergema di hutan itu ketika ia memanggul tubuh Cui Bi dan lari pergi dari situ.

"Lepaskan anakku!" Beng San menjerit, tangan kirinya menyambar sebuah batu kecil dan dilemparkannya ke arah Giam Kin.

Hebat lemparan ini, karena tubuh Giam Kin segera terguling. Akan tetapi manusia iblis itu bangun lagi, kemudian sambil tertawa-tawa dia lari terus memanggul tubuh Cui Bi.

"Kau mau bawa ke mana anakku?!" Beng San memekik lagi.

Akan tetapi mendadak sebuah pukulan ujung lengan baju Siauw-ong-kwi tepat mengenai kaki kirinya, membuat ia terguling roboh. Ia berusaha bangun, akan tetapi tidak mampu karena urat di dekat lututnya terpukul hebat.

Oleh karena kakinya lumpuh, maka terpaksa sambil duduk Beng San menahan datangnya semua senjata dengan cara memutar pedangnya secara luar biasa sekali. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu tentu saja dia tidak mampu melawan tujuh orang lihai itu yang seakan-akan berlomba hendak berdulu-duluan mencabut nyawanya. Pundaknya tertusuk pedang lagi dan lengan kirinya juga dihantam tongkat hitam Yok-mo, membuat lengan kirinya juga lumpuh.

Pada saat itu terdengar teriakan menyeramkan. Sesosok bayangan menyerbu ke dalam pengeroyokan itu dan tahu-tahu tubuh Beng San sudah dipondong orang yang langsung memutar-mutar pedangnya menghadapi para pengeroyok itu. Orang ini bukan lain adalah Kong Bu! Beng San yang dipondong juga masih memainkan pedangnya untuk menangkis hujan senjata.

"Anakku... anak Bi Goat... akhirnya kau... mau menolongku...?” terengah-engah Beng San berkata, air mata menitik turun dari matanya.

"Kong-bu, gilakah kau?!" seru Song-bun-kwi dan cepat kakek ini menggerakkan pedang menangkis tongkat hitam Yok-mo yang hampir mengenai kepala cucunya.

"Kakek, biar aku mati membela ayahku yang jauh lebih gagah dari pada kalian semua!” teriak Kong Bu, matanya mengeluarkan cahaya berapi, pipinya basah oleh beberapa butir air mata yang menitik turun.

"Ha-ha-ha-ha, Song-bun-kwi tua bangka gila, cucumu sendiri mengkhianati kau!" Yok-mo mengejek dan bersama yang lain-lain mereka lalu menerjang Kong Bu.

Sekali lagi terdengar teriakan melengking yang tinggi dan nyaring, dan Sin Lee sekarang memutar pedang membantu Kong Bu!

"Sin Lee, mundurlah kau!" Kwa Hong menjerit.

"Tidak, Ibu. Aku tidak suka melihat ini semua! Ayah seorang gagah perkasa, patut kubela dengan taruhan nyawa! Majulah, kalau perlu aku akan melawan kau sendiri!"

Kwa Hong menjerit dan menangis, menarik kembali senjatanya. Pada waktu itu, Yok-mo, Tok Kak Hwesio, Siauw-ong-kwi, Hek-hwa Kui-bo dan Pak-thian Locu yang telah menjadi marah sekali lantas menerjang dua orang muda yang dengan semangat tinggi melindungi Beng San, orang yang menjadi ayah mereka tetapi yang harus mereka benci dan musuhi itu.

"Sin Lee... terima kasih... ah, Thian Yang Maha Adil... aku rela mati sekarang..." kata Beng San, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas dan ia menjadi pingsan dalam pondongan Kong Bu.

Betapa pun lihainya Kong Bu dan Sin Lee, menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh besar itu mereka menjadi repot sekali. Apa lagi Kong Bu yang harus memondong tubuh ayahnya sehingga pada saat itu, ketika ia menangkis sambaran pedang Hek-hwa Kui-bo yang membuat lengannya terasa kesemutan, ia tidak dapat menghindar lagi dari pukulan mendorong yang dilakukan oleh kakek tua renta, Pak-thian Locu.

"Berani kau menyerang cucuku?" Tiba-tiba Song-bun-kwi meloncat maju dan menangkis pukulan ini.

"Dukkk!"

Hebat sekali pertemuan dua lengan orang sakti ini, akan tetapi akibatnya Song-bun-kwi terdorong mundur tiga langkah sedangkan kakek renta itu hanya bergoyang-goyang saja tubuhnya. Kaget bukan main Song-bun-kwi, sedangkan Siauw-ong-kwi tertawa-tawa,

"Ha-ha-ha, Song-bun-kwi manusia iblis! Baru sekarang kau bertemu tanding, perkenalkan dia adalah twa-suheng-ku Pak-thian Locu,"

"Aihh-aihhh, kiranya setan tua bangkotan dari Utara. Jangan takabur, aku Song-bun-kwi selamanya tidak pernah takut, baik kepadamu atau pun kepada twa-suheng-mu yang mau mampus ini!" serentak Song-bun-kwi menerjang kakek itu dengan pedangnya sehingga terjadilah pertandingan hebat.

Sementara itu, melihat betapa Sin Lee kerepotan dikeroyok Yok-mo, Tok Kak Hwesio dan sekarang Hek-hwa Kui bo juga menerjang Sin Lee karena Song-bun-kwi sudah dihadapi Pak-thian Locu sedangkan Kong Bu diserang Siauw-ong-kwi. Kwa Hong mengeluarkan suara melengking, dengan marah sekali ia menyerbu untuk menolong puteranya!

Makin hebatlah pertempuran itu. Akan tetapi, Song-bun-kwi perlahan-lahan terdesak oleh Pak-thian Locu yang luar biasa. Kong Bu yang memondong tubuh Beng San juga repot menghadapi Siauw-ong-kwi, sedangkan Sin Lee biar pun sudah dibantu ibunya, tetap saja terkurung hebat oleh Toat-beng Yok-mo, Tok Kak Hwesio, dan Hek-hwa Kui-bo.

Song-bun-kwi mulai sibuk, apa lagi melihat Kong Bu terdesak hebat oleh Siauw-ong-kwi. Memang di antara mereka semua, yang paling payah adalah Kong Bu. Di samping harus menggendong Beng San yang tidak ingat atau pingsan, juga hati pemuda ini gelisah sekali memikirkan nasib adik tirinya, Cui Bi yang tadi dibawa lari oleh manusia bermuka iblis itu. Harus diakui bahwa di dalam hatinya, Kong Bu amat sayang kepada adik tirinya itu.

Dia tadi bermaksud menolong. Siapa tahu keadaan lawan sangat tangguh dan ayahnya sudah pingsan sehingga tidak mampu melawan lagi. Hatinya gelisah, ditambah lawannya Siauw-ong-kwi, merupakan tokoh utama dan utara yang kepandaiannya setingkat dengan kakeknya!

"Bagus, kau pemuda jahat kini harus membalas kematian muridku!" berkali-kali Hek-hwa Kui-bo berteriak keras sambil mendesak Sin Lee dengan pedangnya.

Kwa Hong maju hendak membantu puteranya. Akan tetapi, dia ditahan oleh Toat-beng Yok-mo serta Tok Kak Hwesio, dua orang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi pula.

Permainan pedang Hek-hwa Kui-bo adalah ilmu pedang Im-sin Kiam-sut, hebat bukan main dan mempunyai daya serang yang mengandung tenaga Im-kang. Sin Lee juga amat kuat ilmu pedangnya. Gerakan kakinya sangat membingungkan dan serangan-serangan yang dilancarkannya ganas sekali. Namun menghadapi nenek ini, dia kalah pengalaman, kalah tenaga, bahkan kalah segala-galanya. Biar pun telah mengerahkan kepandaiannya, tetap saja ia terkurung oleh sinar pedang Hek-hwa Kui-bo, bahkan terancam hebat.

Pada saat yang amat berbahaya itu, tiba-tiba saja terdengar bentakan-bentakan nyaring. Seorang wanita yang bergerak bagai seekor naga betina menerjang dengan pedang yang menyambar laksana kilat.

Siauw-ong-kwi yang diserang oleh wanita ini sangat kaget dan menangkis dengan lengan baju. Pedang wanita itu tertangkis, menyeleweng ke samping, akan tetapi ujung lengan baju Siauw-ong-kwi robek!

"Orang-orang tua pengecut!" wanita itu berteriak dan ia berseru kaget melihat keadaan Beng San dalam pondongan Kong Bu.

Wanita ini bukan lain adalah Cia Li Cu. Melihat suaminya mandi darah dan dengan muka pucat pingsan di dalam pondongan Kong Bu, ia menjerit dan cepat menubruk. Kong Bu memberikan tubuh Beng San kepada ibu tirinya ini dan sekarang dengan penuh semangat ia memutar pedangnya menghadapi Siauw-ong-kwi.

"Jangan kuatir, kami bantu!" terdengar suara wanita lain dan muncullah Li Eng dan Hui Cu.

Li Eng langsung membantu Kong Bu dan Hui Cu segera membantu Sin Lee. Hal ini terjadi karena dorongan hati masing-masing melihat laki-laki perampas hati mereka itu terdesak oleh lawan. Di belakang dua orang gadis ini muncul puluhan orang anggota Thai-san-pai yang semua telah mencabut pedang.

Melihat ini Hek-hwa Kui-bo berseru keras, "Cukup kita bermain-main! Biar besok pada pembukaan Thai-san-pai dilanjutkan, ha-ha-ha-ha!"

Nenek ini cepat melompat ke belakang, diturut oleh yang lain-lain karena mereka melihat keadaan tidak menguntungkan pihak mereka. Apa lagi sesudah Beng San terluka hebat, besok lusa mudah saja bagi mereka untuk menantang sekalian menggagalkan pendirian Thai-san-pai, membalas dendam dan merusak nama Thai-san-pai dan ketuanya di muka semua orang kang-ouw!

Sementara itu, Li Cu yang melihat keadaan suaminya parah sekali, tidak sempat mencari tahu lagi, juga tidak bertanya kepada Song-bun-kwi mau pun Kwa Hong yang tadi ia lihat sekelebatan berkelahi di pihak suaminya. Sambil mengeluh penuh kegelisahan nyonya ini memondong tubuh suaminya dan dibawa lari menuju puncak.

"Heii, Kong Bu, kau hendak ke mana?!" Song-bun-kwi berteriak melihat cucunya dengan pedang di tangan berlari cepat.

"Harus kutolong adik Cui Bi dari tangan manusia bermuka iblis itu!" jawab Kong Bu tanpa menengok.

"Aku ikut!" Sin Lee juga berseru dan tubuhnya melompat jauh mengejar Kong Bu dengan pedang di tangan.

Kong Bu menoleh sambil lari, Sin Lee memandang. Dua orang pemuda ini berpandangan dan biar pun mulut mereka tidak berkata apa-apa namun sinar mata mereka seakan-akan telah saling dapat menemukan isi hati masing-masing. Tanpa sekecap pun kata-kata dua orang muda seayah ini telah bersekutu!

Li Eng dan Hui Cu saling pandang dan Hui Cu berkata kaget, "Eh, Adik Eng, mana Paman Hong?"

Li Eng menengok ke sana ke mari, berkata kuatir juga, “Tadi kulihat dia berlari di belakang kita... ah, jangan-jangan dia ketinggalan jauh. Mari kita susul Bibi, keadaan Paman Beng San kulihat tadi amat menguatirkan."

Dua orang gadis ini lalu berlarian menyusul Li Cu, hendak membantu bibi itu dan juga hendak mencari Kun Hong yang tadi datang bersama mereka. Para anggota Thai-san-pai juga berbondong-bondong sudah mengikuti nyonya ketua mereka kembali ke puncak.

Setelah keadaan di situ sunyi, Kwa Hong dan Song-bun-kwi hanya bisa saling pandang dengan muka kecewa. Keduanya merasa kecewa dan tertusuk hatinya karena sikap cucu dan putera mereka. Lebih-lebih Kwa Hong. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa Sin Lee akan membalik dan memberontak, membela ayahnya dan menentangnya.

"Sin Lee...!" Akhirnya ia memekik nyaring dan tubuhnya melesat ke satu jurusan, agaknya hendak mengejar puteranya.

Song-bun-kwi menampari kepalanya sendiri, bicara seperti orang gendeng, "Goblok kau, tua bangka goblok! Mana bisa kau memisahkan anak dari ayahnya? Goblok kau hendak mencelakakan cucumu sendiri, tolol!"

Dan ia pun pergi dari situ dengan langkah gontai, wajahnya nampak makin tua dan sinar mata yang semula liar itu menjadi lunak dan muram.

Bagaimanakah Cui Bi, gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu sampai terjatuh ke dalam tangan Giam Kin?

Pagi hari itu Cui Bi sangat kuatir. Dia tidak melihat ayahnya berada di puncak, dan setelah mencari ke mana-mana tetap tidak dapat menemukan ayahnya itu, bahkan ibunya sendiri tidak tahu ke mana ayahnya pergi.

Cui Bi maklum bahwa pertemuan antara ayahnya dengan dua orang puteranya itu amat mengganggu hati serta pikiran ayahnya, apa lagi dua orang putera itu telah dididik orang untuk memusuhinya. Ia maklum pula bahwa ayahnya amat berduka dan gelisah.

Cui Bi amat kuatir dan timbul dugaannya bahwa ayahnya tentu keluar dari puncak untuk pergi mencari kedua orang puteranya itu. Karena itu dia pun lalu diam-diam keluar dari terowongan, turun dari puncak mencari ayahnya.

Baru saja ia menyeberangi rawa, ia mendengar suara suling yang amat aneh dan merdu dari arah kiri. Cepat ia membelok ke arah ini dan dalam sebuah hutan kecil ia melihat seorang laki-laki yang mukanya membuat Cui Bi terasa seram dan ngeri.

Laki-laki ini mukanya seperti iblis yang mengerikan dengan mata kirinya yang bolong kosong, mulutnya yang robek lebar, telinga kiri buntung, tangan kirinya yang kaku seperti cakar setan. Namun sebagai puteri pendekar sakti yang sudah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw, hanya sebentar saja Cui Bi telah dapat menguasai perasannya kembali dan ia mulai tertarik oleh perbuatan laki-laki bermuka iblis itu.

Lelaki itu dengan tangan kanannya yang normal sedang meniup suling. Bukan main aneh dan indahnya suara suling itu dan yang lebih menarik hati Cui Bi lagi, di depan laki-laki yang duduk bersila di bawah pohon itu, kelihatan lima ekor ular besar tengah ‘berdiri’ di atas ekornya dan menari-nari, melenggak-lenggok amat lemasnya!

Cui Bi memang sudah beberapa kali pernah melihat ahli-ahli ular meniup suling membuat ularnya menari-nari, akan tetapi baru kali ini ia melihat lima ekor ular sekaligus menari dan dapat ‘berdiri’ setinggi itu. Benar-benar hebat dan lucu. Tak tertahankan gadis itu tertawa dan datang menghampiri laki-laki itu, ikut duduk dekatnya dan berkata,

"Bagus dan lucu sekali...!"

Laki-laki itu tidak menoleh, terus melanjutkan tiupannya akan tetapi mata kanannya itu melirik ke arah Cui Bi lalu mengeluarkan sinar yang aneh. Sekali ini Cui Bi mengenakan pakaian wanita yang ringkas sehingga ia kelihatan sebagai seorang gadis muda remaja yang cantik dan manis. Pedang tergantung di punggung dan dari senjata inilah orang akan dapat menduga bahwa dia adalah seorang gadis kang-ouw.

Melihat gadis cantik itu memandang kepada ular-ular itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri, laki-laki itu tanpa menunda tiupan sulingnya bertanya, "Kau siapa, Nona? Apakah tidak takut ular?"

Cui Bi menoleh dan bukan main herannya. "Kau hebat sekali, Lopek (Uwa). Sekaligus menyuling dan bicara. Bukan main! Kau tentu seorang di antara para tamu Thai-san-pai, bukan? Apakah kau sudah kenal baik dengan Ayah? Tetapi Ayah belum pernah bercerita kepadaku tentang seorang temannya yang pandai meniup suling menjinakkan ular."

"He-he, jadi kau puteri Ketua Thai-san-pai? Pantas saja tidak takut ular, akan tetapi coba kau lihat ular-ularku yang lainnya, entah takut tidak?" Dia lalu bangkit berdiri dan tiupan sulingnya berubah nyaring dan lebih aneh lagi.

Cui Bi tadinya tersenyum-senyum saja karena mana dia takut segala macam ular? Sekali gerakkan pedang ia sanggup membunuh lima ekor ular besar itu! Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berubah sedikit ketika ia mendengar suara berisik, suara mendesis-desis yang datang dari segala penjuru.

Sebentar kemudian puluhan, malah ratusan ekor ular merayap datang dari segala jurusan, bahkan ada yang datang dari atas pohon, merayap-rayap turun dengan cepatnya seperti memenuhi panggilan suara suling itu! Dalam beberapa menit saja mereka berdua sudah dikurung oleh ratusan ekor ular besar kecil, di antaranya banyak pula terdapat ular-ular berbisa.

Mau tak mau Cui Bi menjadi pucat juga dan jijik. Ia merasa bulu di tubuhnya meremang dan segera dia mencabut pedangnya untuk menjaga kalau-kalau ada ular yang hendak menyerangnya.

"Jangan kuatir, selama ada aku di sini, mereka takkan berani mengganggumu, Nona. Aku hanya ingin memperlihatkan mereka padamu, mereka itu bagus dan menarik, bukan? Apa kau mau melihat mereka itu semua menari-nari?"

Cui Bi menggeleng kepala, menahan napas, bau yang amat amis memuakkan perutnya, bukan main bau itu, amis dan menyengat.

"Cukup... aku tidak ingin melihat mereka, Lopek, suruhlah mereka pergi..."

Laki-laki itu yang bukan lain adalah Giam Kin mengangguk-angguk dan meniup sulingnya, kini berlagu amat merdu dan... ular-ular itu merayap pergi semua, berlenggang-lenggok menggelikan dan sebentar saja sudah lenyap semua, tak seekor pun berada di situ. Cui Bi menarik napas lega dan menyimpan kembali pedangnya.

Mata Giam Kin berkilat ketika ia melihat cara gadis itu tadi menarik keluar pedang dan cara menyimpannya lagi. Matanya yang tinggal sebelah itu dapat melihat bahwa gadis ini bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang ahli pedang yang lihai sekali.

"Wah, celaka.,.." Tiba-tiba Giam Kin berseru, nampak gugup dan bingung sekali, matanya yang tinggal sebelah itu menatap wajah Cui Bi. "Aku... aku kesalahan terhadap ayahmu, Nona. Ah, Tan Beng San Taihiap tentu akan marah kepadaku."

"Kenapa, Lopek? Kau tidak bersalah apa-apa."

"Celaka, Nona yang baik. Kau... kau sudah terkena racun ular berbisa yang berbahaya sekali!" Giam Kin membanting-banting kakinya, "Ayahmu tentu akan marah kepadaku. Coba kau menarik napas dalam-dalam, bukankah tercium bau yang amis? Apakah kau tidak merasa jantungmu berdebar-debar?"

Dengan muka berubah Cui Bi menarik napas dalam. Memang, bau amis yang tadi masih teringat olehnya sehingga ketika diingatkan, seakan-akan ia mencium bau amis itu makin jelas terasa dari pada tadi, ia pun merasa jantungnya berdebar. Ia mengangguk gelisah.

"Nah, itu tanda kau keracunan. Cepat, kau pakai obat ini. Aku sendiri tidak terpengaruh racun karena membawa bunga ajaib ini. Kau ciumlah dan sedot wangi bunga ini, pasti sekaligus lenyap pengaruhnya racun itu."

Cui Bi menerima setangkai bunga yang tadinya entah berwarna apa karena bunga itu sudah melayu dan tinggal berwarna kuning gelap, warna daun mulai mengering. Ia masih ragu-ragu.

"Tapi... tapi... bagaimana aku bisa keracunan kalau tak ada seekor ular pun menyentuhku tadi?"

"Ah, kau tidak tahu, Nona. Di antara ular-ular tadi banyak ular beracun yang berbahaya sekali. Pada saat melihat kita, sudah jamak ular-ular beracun tadi berniat menggigit dan mengeluarkan racunnya, akan tetapi mereka itu tertahan dan tidak berani dengan suara sulingku. Racun mereka yang keluar dari mulut mereka berceceran di atas tanah dan hawa pagi ini banyak keluar dari dalam tanah, membubung ke atas. Racun ular yang sudah berada di tanah itu hawanya terbawa oleh hawa tanah, memasuki hidung kita dan kau yang tidak berdekatan bunga penawar racun ini tentu saja keracunan, Sudahlah, kau segera cium obat penawar ini, kalau tidak... nanti akan terlambat dan kau akan celaka. Lekas..." Laki-laki itu nampak gugup dan bingung sekali.

Cui Bi memang seorang gadis muda yang berkepandaian tinggi, sudah banyak merantau dan pengetahuannya luas. Namun dalam hal tipu muslihat, berhadapan dengan Giam Kin dia hanya seorang bocah yang masih hijau.

Melihat sikap Giam Kin dan mendengar keterangannya itu, ia percaya betul dan tanpa ragu-ragu lagi sekarang gadis itu mendekatkan bunga ke depan hidungnya dan menyedot baunya. Ia mencium bau yang sangat harum dan enak memasuki hidung terus turun dan lenyap di tenggorokan. Ia menyedot makin keras. Tiba-tiba ia merasa kepalanya pening, pandang matanya berkunang.

"Celaka...!" serunya sambil melempar kembang itu dan berusaha mencabut pedangnya.

"Ha-ha-ha-ha!” Giam Kin tertawa. Sulingnya segera bergerak menotok leher Cui Bi yang tak mampu bergerak lagi dan gadis ini roboh terguling, pingsan!

Sudah tentu saja semua ocehan Giam Kin tentang racun tadi bohong belaka. Karena pandainya ia bicara disesuaikan dengan suasana dan keadaan, tentu saja Cui Bi masih merasa mencium bau amis dari ular-ular tadi dan karena pemberi tahuan Giam Kin itu mengejutkannya, sudah semestinya kalau jantungnya berdebar pula.

Demikianlah, dalam keadaan pingsan dan tak berdaya akibat jalan darahnya telah ditotok, gadis ini dipanggul pergi oleh Giam Kin, kemudian seperti telah diceritakan pada bagian depan, Giam Kin yang licik ini dapat mempermainkan gadis yang ditawannya itu untuk mengacaukan pertahanan Beng San sehingga pendekar ini terluka dalam pengeroyokan.

Sesudah melihat Beng San terluka dan tidak mungkin lagi dapat menang menghadapi pengeroyokan suhu-nya, supek-nya dan tokoh-tokoh lain, Giam Kin lalu membawa pergi Cui Bi. Dia kuatir kalau-kalau keluarga pendekar itu muncul.

Giam Kin sekarang berbeda jauh dengan Giam Kin belasan tahun yang lalu. Tidak hanya berbeda dalam ilmu kepandaian yang makin meningkat karena selama ini ia tekun sekali memperdalam ilmunya, juga wataknya berubah banyak.

Dahulu ia adalah seorang laki-laki mata keranjang. Sekarang watak ini lenyap berbareng dengan lenyapnya ketampanan wajahnya. Sekarang dia berubah menjadi manusia iblis yang haus darah, yang haus akan balas dendam terhadap musuh-musuhnya. Mukanya rusak oleh burung rajawali emas dan Kwa Hong, oleh karena itu tentu saja dia sangat mendendam kepada Kwa Hong.

Akan tetapi dia sekarang menjadi cerdik luar biasa, maka tadi bertemu dengan Kwa Hong ia tidak bertindak apa-apa karena ia sedang memerlukan Kwa Hong dalam pengeroyokan terhadap Beng San. Sekarang ia hendak melampiaskan dendamnya kepada Beng San, kepada keluarganya. Maka setelah puteri Beng San terjatuh ke dalam tangannya, tidak lain nafsu dalam dadanya kecuali menyiksa dan membunuh gadis anak musuhnya ini.

Ia membawa lari Cui Bi ke dalam hutan lain di sebelah timur, di lereng Gunung Thai-san, jauh dari tempat para tamu berkumpul. Wajahnya yang buruk itu tertawa-tawa, agaknya ia gembira sekali membayangkan siksa yang akan ia lakukan atas diri anak musuhnya ini.

Tubuh gadis itu ia lemparkan di atas tanah yang kering tak berumput, lalu ia mengambil sehelai kain sutera, mengikat kaki serta tangan gadis itu, membalikkan tubuh gadis itu telentang, kemudian ia membebaskan totokan pada tubuh gadis itu. Cui Bi yang merasa betapa jalan darahnya pulih kembali, berusaha meronta, akan tetapi ternyata tali itu kuat sekali.

Ketika ia hendak membuka mulut untuk mengelurkan pekik pemberi tahuan kepada ayah bundanya, ia kaget karena tak dapat ia mengeluarkan sedikit pun suara. Kiranya iblis yang cerdik itu telah menotok jalan darah urat gagunya, membuat ia tidak dapat mengeluarkan suara.

Terpaksa Cui Bi hanya telentang dengan mata melotot marah, memandang kepada wajah manusia iblis yang duduk bersila di atas tanah. Ngeri juga kalau ia memperhatikan wajah manusia ini, sudah tak patut disebut manusia lagi baik bentuk mukanya mau pun semua gerak-geriknya.

Mata kanan yang kemerahan itu seperti matanya orang gila, sedangkan mata kiri yang kosong menghitam itu seperti mata tengkorak, mata iblis. Mulut yang robek dan terbuka memperhatikan deretan gigi yang masih rapi itu terlalu menyeringai dan menyeramkan karena gusi-gusi kemerahan tampak di atas gigi pinggir yang runcing seperti gigi setan.

Di samping kengeriannya, diam-diam gadis ini juga menduga-duga siapa adanya tokoh buruk rupa yang aneh ini dan kenapa pula memusuhi ayahnya. Ia dapat menduga bahwa tentu orang ini musuh ayahnya yang sekarang hendak menjatuhkan dendam kepadanya, puteri tunggal ayahnya. Namun sepanjang ingatannya, belum pernah ayahnya bercerita tentang tokoh seperti iblis ini yang anggapannya malah jauh lebih mengerikan dari pada tokoh-tokoh manusia iblis yang pernah ia dengar dari ayahnya.

"He-he-heh, matamu seperti ayahmu benar!" Giam Kin tertawa gembira. "Matamu penuh pertanyaan mengapa aku melakukan hal ini kepadamu dan siapa adanya aku, bukan? Nah, dengarlah, bocah. Dengarlah baik-baik supaya kau tidak mati penasaran. Aku adalah Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil) Giam Kin, sahabat baik ayahmu, he-he-heh!" Ia tertawa terpingkal-pingkal, tubuhnya berguncang-guncang.

Pandangan Cui Bi tertuju pada tangan kiri yang kaku mati seperti cakar setan itu, dan gadis ini kelihatan heran.

"Heh-heh, kau kelihatan terheran-heran. Gadis cilik, dahulunya aku seorang laki-laki yang tampan. Hemmm, dibandingkan dengan ayahmu, aku jauh lebih tampan. Celaka, siluman betina Kwa Hong itu dengan rajawali emasnya mengubah aku menjadi begini. Heh-heh, disangkanya aku sudah mati. Hah, awas kau Kwa Hong iblis betina, kelak akan datang pembalasanku..."

"Aku bertanding melawan Kwa Hong dan menjadi begini rupa karena gara-gara Lee Giok, karena itu aku telah bersumpah, selain untuk membalas kepada ayahmu sekeluarga, juga kepada Kwa Hong dan Lee Giok. Sayang hingga kini belum kudapatkan kesempatan itu, ha-ha-ha, saat ini aku akan dapat memuaskan hatiku membalas kepada Beng San. Aku mendengar bahwa puteri dari Lee Giok juga berada di Thai-san sebagai tamu, lalu aku cepat mencari akal untuk menangkapnya, untuk membalas pada anaknya, menyiksanya seperti juga ibunya telah menyebabkan aku begini. Ehh, kiranya bukan dia yang muncul melainkan kau, anak Beng San! He-heh-heh, jerat yang kupasang tak berhasil menjerat kelinci seperti yang kuharapkan, malah lebih dari itu, ternyata telah menjerat seekor anak kijang. Heh-heh-heh, senang hatiku. Nah, kau sudah mendengar semua dan telah siap menerima siksa dariku? Heh-heh-heh-heh!"

Mengertilah sekarang Cui Bi mengapa muka penjahat bernama Giam Kin yang pernah ia dengar diceritakan ayahnya itu sekarang menjadi seperti iblis begini. Kiranya gara-gara Kwa Hong lagi. Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga lweekang-nya membuka totokan pada lehernya, akan tetapi sia-sia belaka dan ini membuktikan bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi.

Andai kata dia berhasil mengeluarkan pekik keras, tentu orang ini akan segera turun tangan pula. Cui Bi tidak takut mati, akan tetapi ngeri juga ia mendengar bahwa ia akan mengalami siksaan. Orang yang sudah bukan manusia lagi ini tentu mempunyai cara-cara yang amat keji untuk menyiksa dan membunuh musuhnya.

Giam Kin tertawa-tawa lagi lalu mengeluarkan sulingnya. Pada saat suling itu mulai ditiup, tahulah Cui Bi, atau setidaknya dapatlah ia menduga siksaan apa yang akan ia hadapi. Dan dugaannya itu ternyata benar karena tak lama kemudian ia mendengar suara berisik, mendesis-desis dan menggelesernya tubuh banyak ular menuju ke tempat itu.

Tidak lama kemudian dia mencium bau yang amat amis dan kiranya ular-ular itu sudah dekat sekali. Giam Kin menghentikan tiupannya, mengeluarkan setangkai bunga berwarna kuning dan ular-ular itu berhenti bergerak, seolah-olah ketakutan melihat kembang warna kuning itu!

"He-he-heh, bocah anak Beng San. Ular-ular itu akan menuruti segala perintahku. Sekali kuperintah, mereka akan menyerbu dan menggerogoti kulitmu yang halus dan dagingmu yang lunak sampai tinggal tulang-tulangmu saja. Heh-heh-heh, dalam waktu kurang dari satu jam, wajahmu yang cantik akan menjadi buruk, lebih buruk dari wajahku. Rambutmu yang hitam panjang ini akan copot dari kepala, matamu yang bagus-bagus itu akan masuk ke perut ular. Hanya tulangmu yang tinggal, kau akan berubah menjadi kerangka dan ayah ibumu takkan mengenalmu lagi. Heh-heh-heh! Aku akan menikmati pertunjukan ini, melihat kau menggeliat-geliat kesakitan, melihat kau berkelahi melawan maut, melihat betapa hidungmu yang bagus itu akan digigit ular, dan kulitmu yang halus akan dibeset, lalu dagingmu diperebutkan. Heh-heh-heh!"

Cui Bi sudah tak mendengarkan ini semua. Semenjak ular-ular itu datang ia tahu bahwa nyawanya tidak akan dapat tertolong lagi. Ia tidak takut menghadapi kematian, tidak pula takut menghadapi siksaan, akan tetapi pada saat ia berada ditepi jurang kematian itu, terbayanglah wajah tiga orang, yaitu wajah ibunya, wajah ayahnya dan wajah Kun Hong! Tak tertahankan lagi naik sedu sedan di kerongkongannya dan beberapa titik air mata mengalir ke atas pipinya.

"Heh-heh-heh, kau menangis? Heh-heh-heh-heh, bagus, menangislah. Aahhh, alangkah senangnya kalau aku bisa memperlihatkan ini kepada jahanam Beng San! Heh-heh, dia sendiri sekarang mungkin sudah mampus atau terluka hebat. Aahh, alangkah manisnya pembalasan dendam!"

Giam Kin berdiri, mundur dan kemudian duduk bersila di bawah pohon tak jauh dari situ. Ia menyimpan kembali kembang kuning itu dan mulai meniup sulingnya. Matanya yang tinggal sebelah itu bersinar-sinar memandang pertunjukan di depannya yang akan segera di mulai.

Suling ditiup, suaranya melengking tinggi mengalun sedih seperti ratap tangis yang keluar dari neraka. Ular-ular itu mulai merayap maju, berlenggang-lenggok menggeliat-geliat dan merayap ke arah Cui Bi yang masih menggeletak telentang.

"Mati Bukan soal, tapi melawan sebisanya adalah wajib," pikir gadis ini.

Ia mengerahkan seluruh tenaga lweekang yang ada di dalam tubuhnya, lalu tiba-tiba saja tubuhnya menggeliat dan melompat ke atas. Dengan meliukkan pinggangnya ia berhasil turun dalam keadaan berdiri. Badannya bergoyang-goyang, memang sukar untuk dapat melakukan hal itu dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Diam-diam Giam Kin kagum bukan main. Ginkang yang diperlihatkan gadis itu betul-betul ginkang tingkat tinggi.

Melihat ular-ular itu sudah mengurungnya dan jumlah mereka amat banyak sehingga di sekelilingnya dalam jarak lima enam meter adalah ular belaka, Cui Bi maklum bahwa tak mungkin ia dapat melompati jarak itu keluar dari lingkaran barisan ular. Setelah ular-ular semakin dekat dan siap menerjang kakinya, ia menggerakkan kedua tumit kakinya dan tubuhnya meloncat ke atas, lalu dengan mengerahkan lweekang-nya ia turun lagi tepat mengarah pada kepala seekor ular besar.

"Krakkk!"

Kepala ular itu hancur lebur oleh injakan kaki Cui Bi yang secepatnya telah meloncat lagi ke atas dan turun menginjakkan kedua kakinya pada kepala seekor ular besar lainnya. Demikianlah, gadis yang luar biasa ini berkali-kali meloncat dan tiap kali tubuhnya turun tentu seekor ular mati dengan kepala remuk. Makin lama makin gembiralah Cui Bi karena meski pun ia maklum bahwa akhirnya ia akan roboh dan tewas, namun ia telah berhasil membunuh banyak calon-calon pembunuhnya.

Gembira sekali hati Giam Kin. Ia melihat betapa gadis itu makin lama makin menjadi lemah. Tiap kali meloncat dan tiap kali menginjak remuk kepala seekor ular, gadis itu pasti mengerahkan lweekang yang cukup besar makan tenaganya sehingga setelah dua puluh ekor lebih ular yahg diinjaknya mati, gadis itu mulai mandi peluh dan gerakannya lambat. Akhirnya seekor ular berhasii membelit kakinya sehingga ketika Cui Bi melompat, ular itu terbawa naik.

Gadis itu maklum bahwa sekali saja ular yang belang-belang kulitnya ini menggigit, akan robohlah dia terkena racun. Cepat ia menggerakkan kedua kakinya selagi meloncat itu. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga sehingga lilitan tubuh ular itu pada kakinya telepas dan ular itu terlempar sampai sepuluh meter lebih jauhnya!

"Hebat..." Giam Kin memuji.

Lengking sulingnya makin meninggi dan hal ini agaknya membuat ular-ular itu semakin ganas saja.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner