RAJAWALI EMAS : JILID-38


Keadaan makin tegang setelah mereka ketahui bahwa ternyata tempat itu dihadiri pula oleh tamu-tamu tak kelihatan yang sehebat Hek-hwa Kui-bo. Siapa tahu masih banyak lagi tokoh-tokoh aneh seperti ini. Karena nenek itu tidak kelihatan lagi, maka perhatian para tamu dialihkan kembali ke atas panggung, kepada tosu Ngo-lian-kauw dan pemuda yang mengaku putera Ketua Thai-san-pai itu.

Tosu itu memandang rendah kepada Sin Lee, lalu berkata, "Menjawab pertanyaanmu tadi, orang muda, pinto datang ini boleh dibilang atas nama pribadi, juga bisa disebut mewakili Ngo-lian-kauw, apa lagi mendengar tadi bahwa ketua kami tewas di tanganmu. Sebagai pengawal istana aku pun mempunyai urusan, yaitu mengejar larinya tiga orang buronan dari kota raja!"

Tosu itu dengan mata tajam lalu memandang ke arah tiga anak murid Hoa-san-pai yang duduk di rombongan tuan rumah.

"Kalau yang kau maksud dengan ketuamu itu adalah Kim-thouw Thian-li, aku Tan Sin Lee tak merasa telah membunuhnya. Akan tetapi kalau toh ia mampus oleh pukulanku, hal itu pun aku tidak menyesal karena itu berarti bahwa aku telah melenyapkan seorang jahat. Tentang kau mengejar buronan, itu bukanlah urusanku. Nah, kalau memang kau hendak membalas sakit hati ketuamu, kau majulah!”

Thian It Tosu memang telah mendengar bahwa Ketua Ngo-lian-kauw tewas dalam tangan beberapa orang muda, akan tetapi ia tidak tahu siapakah pembunuhnya. Tadi Hek-hwa Kui-bo muncul dan menerangkan bahwa pemuda ini adalah pembunuh ketuanya, maka tentu saja ia menjadi marah dan ingin membalas dendam. Ia tidak berani memandang rendah lagi karena kalau pemuda ini mampu merobohkan Kim-thouw Thian-li berarti dia pasti lihai sekali. Apa lagi bila diingat bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Thai-san-pai.

Tosu ini lalu melolos keluar sebatang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencabut hiasan rambutnya yang berupa lima bunga teratai itu. Hiasan rambut ini terbuat dari benda berwarna putih, merupakan lima buah kembang yang atasnya tertutup rapi berbentuk runcing, dan sekarang gagangnya dipegang oleh tangan kiri tosu itu.

Mengingat akan nasehat ayahnya tadi, Sin Lee selalu bersikap waspada dan tidak berani memandang remeh pada hiasan rambut ini yang melihat ukuran dan bentuknya, bukanlah merupakan senjata yang baik.

Sambil mengeluarkan teriakan keras tosu itu menyerangnya dengan pedang, namun Sin Lee cepat mengelak sedangkan pedangnya sendiri lalu menukik dari atas kiri menusuk pundak lawan. Thian It Tosu terkejut dan maklum bahwa lawannya ini walau pun masih muda ternyata mempunyai gerakan cepat dan ilmu pedang yang aneh namun berbahaya sekali. Ia pun segera bertempur seru, makin lama makin cepat.

Baru berjalan belasan jurus saja Thian It Tosu maklum bahwa ilmu pedang pemuda itu betul-betul luar biasa dan ia sudah terdesak hebat. Tiba-tiba tangan kirinya telah menjepit sebuah kembang buatan itu dan melesatlah jarum-jarum halus ke arah lawannya.

Sin Lee mengeluarkan suara melengking tinggi. Tubuhnya mendadak mencelat ke atas, demikian cepat gerakannya bagaikan gerakan seekor burung dan semua senjata rahasia halus yang tak dapat dilihat mata itu lewat di bawah kakinya.

Dari atas Sin Lee membalas, pedangnya meluncur turun menyerang kepala tosu itu. Hal ini sungguh-sungguh tidak pernah diduga oleh Thian It Tosu yang tadinya mengharapkan penyerangannya akan berhasil, siapa duga bahwa orang yang diserang secara mendadak itu malah menyerang dari atas.

Karena menangkis sudah tidak ada waktu lagi, terpaksa untuk menyelamatkan dirinya tosu ini membanting tubuh ke belakang dan bergulingan menjauhi kejaran pedang lawan. Ia meloncat bangun dan sekarang ibu jari dan telunjuknya menjepit bunga teratai kedua.

Terdengar suara ledakan kecil dan dari tangan kirinya itu menyambar asap hitam ke arah muka Sin Lee. Pemuda ini tidak kurang waspada, cepat ia melompat ke samping, cukup jauh agar tidak terkena pengaruh asap beracun itu. Sambil menahan napas lalu meniup ke arah asap itu sehingga buyar!

"Tosu curang!" Sin Lee berseru keras.

Pedangnya kini berkelebatan laksana kilat mencari korban. Ia sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada tosu itu untuk mempergunakan senjata rahasianya lagi, malah ia lalu mengincar tangan kiri yang memegang bunga-bungaan itu, yang bahkan dianggapnya lebih berbahaya dari pada pedang di tangan kanan.

Thian It Tosu berusaha melawan, namun akhirnya ia berteriak keras ketika ujung pedang Sin Lee mengancam pergelangan tangan atau jari-jari tangan kirinya. Terpaksa ia menarik tangannya, akan tetapi…

“Crakk!” terdengar suara dan hiasan rambut itu kini tinggal gagangnya saja yang berada di tangannya.

Sin Lee mengeluarkan suara menghina dan kakinya menendang bunga-bungaan itu ke bawah panggung.

"Nah, marilah kita bertanding pedang secara laki-laki, tidak main curang!" seru Sin Lee, perlahan-lahan maju menghampiri tosu yang berdiri dengan muka pucat itu.

Akan tetapi Thian It Tosu tidak segera menggerakkan pedangnya. Ia hanya berdiri tegak, mukanya pucat, matanya terbelalak memandang lawan, bibirnya komat-kamit.

"Hayo, majulah, apakah kau takut?" kata Sin Lee mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya, siap menanti penyerangan lawannya.

Akan tetapi tosu itu tetap tidak bergerak, dan mulutnya tetap bergerak-gerak. Orang lain tidak ada yang mendengar suaranya, namun tiba-tiba Sin Lee mendengar suara yang seolah-olah datang dari dasar bumi, suara yang penuh kekuasaan, penuh pengaruh, yang berbisik-bisik dan mendesis-desis.

"Sin Lee, pandang baik-baik pinto siapa! Pinto adalah pendeta, kau takkan bisa menang melawan pinto, baru melihat saja kau sudah pening, tenagamu lemah, pikiranmu kacau..." Ucapan ini diulang-ulang.

Mula-mula Sin Lee hendak mentertawakannya, akan tetapi dia mulai bingung dan gugup karena tiba-tiba dia merasa kepalanya pening.

Pada saat itu Thian It Tosu sudah menyerangnya dan ia cepat menangkis, akan tetapi benar-benar ia semakin gelisah karena tenaganya terasa amat lemah kepalanya semakin pening dan pikirannya menjadi kacau-balau, malah ia mulai agak ketakutan! Samar-samar Sin Lee teringat akan nasehat ayahnya bahwa tosu ini merupakan seorang ahli sihir. Ia mengerahkan semangat hendak melawan, akan tetapi ternyata dia telah masuk ke dalam perangkap dan sudah terpengaruh sehingga usahanya sia-sia belaka karena pikirannya telah kacau.

Para penonton terheran-heran betapa sekarang tosu itu melakukan penyerangan dengan pedangnya sedangkan Sin Lee hanya menangkis dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Beng San duduk menegang di kursinya. Dahinya berkerut, alisnya bergerak-gerak, sinar matanya berkilat. Ia dapat menduga apa yang terjadi dan siap untuk menolong puteranya jika terancam bahaya maut.

Pada saat itu tampak Kun Hong berlari-lari ke bawah panggung. Setelah dekat panggung ia menggunakan tangannya menggebrak-gebrak panggung sambil berkata nyaring,

"He, pendeta murtad! Pendeta penuh dosa, pendeta nyeleweng!"

Orang-orang mulai tertawa menyaksikan sikap pemuda ini dan Thian It Tosu yang sudah mulai gembira melihat hasil ilmu hitamnya, kini terpecah perhatiannya dan marah sekali. Ketika mendapat kesempatan, selagi Sin Lee terhuyung-huyung, ia menyambar ke pinggir panggung dan menggunakan pedangnya membacok tangan Kun Hong yang pada saat itu sedang mengebrak-gebrak papan.

Tentu saja Kun Hong menarik tangannya, akan tetapi ia berpura-pura menjerit, "Aduh… aduh…! Pendeta kejam kau!"

Dan pada saat pandang mata Thian It Tojin yang penuh kemarahan itu sedetik bertemu dengan pandang matanya, Kun Hong mengerahkan ilmu sihirnya dan ia berkata,

"Kau pendeta murtad, tak patut menggunakan segala ilmu hitam. Kau patut dihukum pukul kepala sepuluh kali" Setelah berkata demikian Kun Hong lari kembali ke tempat duduknya.

Tiba-tiba saja semua tamu terbelalak memandang kejadian yang amat aneh di panggung. Setelah tosu itu menghentikan serangan-serangannya, Sin Lee masih terhuyung-huyung dan tosu itu kini berteriak-teriak,

"Benar sekali, pinto patut dihukum pukul kepala sepuluh kali"

Dan tangan kirinya segera bekerja menampar muka, dan kepalanya sendiri dengan keras.

"Plak-plak-plak!" terdengar suara berkali-kali dan muka itu menjadi bengkak-bengkak!

Sin Lee agaknya sudah sadar kembali. Pemuda ini cepat berdiri tegak dan untuk sejenak ia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya sehingga pikirannya jernih kembali, tenaganya pulih dan sekarang dia memandang terheran-heran kepada lawannya yang sedang penuh semangat menghantami kepalanya sendiri itu.

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan Hek-hwa Kui-bo sudah berdiri di atas panggung. "Memalukan saja, pergi!" tangannya bergerak dan tubuh Thian It Tosu terlempar ke bawah panggung.

Tosu itu roboh dan berbareng dengan jatuhnya itu agaknya ia pun sadar kembali. Dengan bingung ia bangkit berdiri, memandang bingung ke kanan kiri lalu... angkat kaki lari dari tempat itu.

Beberapa orang tamu yang masih melongo kemudian membuat tanda dengan telunjuk dimiringkan ke depan kening, yaitu tanda orang yang miring otaknya. Mereka ini mengira bahwa tosu itu tentu seorang yang berotak miring! Akan tetapi karena peristiwa itu sudah lewat dan di atas panggung berdiri seorang tokoh yang ditakuti, yaitu Hek-hwa Kui-bo, para tamu yang kini menjadi penonton memandang dengan penuh ketegangan. Semua orang tahu bahwa tentu sekarang akan terjadi pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Hek-hwa Kui-bo dengan muka yang merah dan mata mendelik sudah menghadapi Sin Lee, pedang berkilauan di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang sehelai sabuk beraneka warna.

"Orang muda, kau sudah menewaskan muridku. Akan tetapi kau mengatakan bahwa kau adalah anak dari Tan Beng San. Hemm, jangan kau mencoba mengunakan nama Ketua Thai-san-pai untuk menggertak orang. Aku tahu benar bahwa Cia Li Cu isteri Tan Beng San hanya memiliki seorang anak perempuan, bagaimana kau bisa mengaku dia sebagai ayahmu? Siapakah ibumu?"

Beng San di tempat duduknya meremas jari-jari tangannya sendiri, hatinya mengharap supaya Sin Lee tidak usah menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi dengan sikap gagah Sin Lee menjawab, suaranya nyaring,

"Hek-hwa Kui-bo, kau kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau sendiri sudah tahu siapa ibuku, akan tetapi kau sengaja mengajukan pertanyaan ini di tempat umum, tentu dengan maksud keji di hatimu yang memang tidak bersih itu. Akan tetapi aku Tan Sin Lee sebagai seorang laki-laki sejati tidak akan menyembunyikan dan tidak akan malu mengaku bahwa ayahku adalah Tan Beng San Ketua Thai-San-pai sedangkan ibuku adalah Kwa Hong anak murid Hoa-san-pai! Nah, aku sudah mengaku, kau mau bilang apa?" Suara pemuda itu nyaring.

Pada saat itu wajah Beng San sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa terpukul, menoleh kepada isterinya dan berbisik, "Dia lebih jantan dari padaku... dia lebih jantan dan gagah..."

Hek-hwa Kui-bo tertawa terkekeh-kekeh. Wajah tuanya yang biasanya masih berbekas kecantikannya itu setelah terkekeh-kekeh kelihatan buruknya. Mulutnya yang tak bergigi lagi kelihatan kehitaman dan matanya berputar-putar liar.

"He-he-he-he, kiranya kau anak haram. Ha-hah-heh-heh, memang sejak dahulu Tan Beng San bukanlah orang baik-baik. Kapankah dia menikah dengan Kwa Hong? Kapankah dia menjadi ayahmu? Tentu melalui hubungan gelap. Coba sekalian yang hadir pikir dengan baik-baik, orang yang mempunyai anak haram apakah masih patut menjadi ketua sebuah perkumpulan silat?"

Sin Lee sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi, mukanya pucat matanya seperti mengeluarkan api. Meski pun ia dengan gagah berani mengakui kenyataan dirinya, akan tetapi jika mendengar hinaan yang diucapkan di depan umum secara begitu merendahkan dan disertai kata-kata kotor, tentu saja ia tidak tahan mendengarnya.

"Iblis betina lihat pedangku!" Ia sudah menerjang dengan nafsu meluap.

Hek-hwa Kui-bo terkekeh-kekeh, tetapi cepat menangkis serbuan pemuda ini, lalu sambil melayani serangan Sin Lee yang bernafsu, ia masih sempat berkata,

"Kau bocah haram harus kubikin mampus dulu, baru kemudian tiba giliran ibumu yang tak tahu malu dan ayahmu yang hina!"

Makin naik darah Sin Lee dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menikam mati orang yang dibencinya ini. Dan inilah kesalahannya. Sebagai orang muda, tentu saja ia berdarah panas dan tidak tahu akan siasat lawan yang jauh berpengalaman dan yang terkenal sebagai seorang tokoh besar penuh tipu muslihat.

Di samping sengaja menghina tuan rumah, memang Hek-hwa Kui-bo sengaja membakar hati orang muda ini pula sehingga kini Sin Lee lupa akan kewaspadaan dan menerjang dengan nekat. Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, mengumbar nafsu amarah merupakan pantangan besar.

Dalam bersilat, apa lagi kalau menghadapi lawan berat, sekali-kali tidak boleh dihinggapi kemarahan, karena nafsu ini akan menyesakkan dada serta mengurangi ketelitian dan ketenangan. Apa bila bermain silat dengan diamuk kemarahan, maka permainannya tidak tenang dan karenanya daya permainannya kurang kuat.

Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh kawakan yang sebelum mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sudah merupakan tokoh jarang tandingun, Apa lagi setelah ia mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut, kepandaiannya menjadi hebat sekali dan orang-orang yang dapat menandinginya hanyalah tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi. Biar pun Sin Lee juga merupakan seorang pemuda gemblengan, namun menghadapi Hek-hwa Kui-bo ia kalah setingkat, kalah akal dan kalah pengalaman.

Dalam dorongan nafsunya, memang tampaknya Sin Lee yang mendesak Hek-hwa Kui-bo dengan penyerangan bertubi-tubi. Ia menggunakan ilmu silatnya yang aneh malah tangan kirinya beberapa kali ia putar-putar untuk melakukan pukulan Jing-tok-ciang.

Akan tetapi pukulan-pukulan ini dapat dibikin buyar oleh tangkisan Hek-hwa Kui-bo yang mempergunakan ilmu pukulan beracun Hwa-tok-ciang yang dilakukan dengan tangan kiri sekalian untuk mengebutkan sabuknya yang dapat menjadi alat menotok jalan darah yang ampuh itu. Nenek ini sengaja main mundur karena ia sengaja memancing agar pemuda lawannya ini makin bernafsu hingga akan terbuka kesempatan baginya untuk merobohkan lawannya sekaligus tanpa meleset lagi.

Beng San memegangi tangan kursinya dengan erat, mukanya agak pucat. Celaka dia, pikirnya gelisah. Sebagai seorang gagah yang memegang aturan kang-ouw, tentu saja tak dapat ia melompat ke depan untuk menolong puteranya itu dan ia tahu betul betapa Sin Lee terancam maut.

Hanya Beng San seorang yang tahu akan hal ini, ada pun orang-orang lain, bahkan juga Cui Bi, Li Eng dan Kong Bu yang berkepandaian tinggi, tidak dapat menduga akan hal ini. Mereka memperlihatkan muka gembira. Hanya Kun Hong yang muram wajahnya karena bukan saja ia juga mengerti seperti Beng San, melainkan pemuda itu merasa sedih sekali karena sekali lagi ia harus menjadi saksi dari pertempuran-pertempuran maut yang pasti akan membawa korban.

Pengertian Beng San akan hal ini adalah karena dia sudah sangat menyelami keadaan kepandaian Hek-hwa Kui-bo, maka ia dapat mengerti bahwa nenek itu sedang mengintai kesempatan seperti maut mengintai korban. Betapa pun juga, ia bersiap sedia menolong puteranya itu apa bila nyawanya nanti terancam. Ia tidak akan mengeroyok, hanya akan menyelamatkan Sin Lee.

Ketika kesempatan itu tiba, ketika pedang Sin Lee menusuknya, Hek-hwa Kui-bo melihat pergelangan tangan pemuda itu tidak terjaga. Cepat sabuknya yang beraneka warna itu menyambar dari samping sedangkan pedangnya menangkis.

Tentu saja Sin Lee hanya mengira bahwa serangannya ini akan dihindarkan oleh lawan dengan tangkisan ini. Tidak tahunya tangkisan ini hanya untuk memancing perhatiannya dan yang penting bagi nenek itu adalah sabuknya yang kini telah menyambar pergelangan tangan Sin Lee dan seperti seekor ular hidup sudah melibat-libat pergelangan tangan berikut jari-jari yang memegang pedang!

Sin Lee kaget sekali, berusaha membetot tangannya, namun sabuk itu ternyata terbuat dari bahan aneh yang selain kuat dan ulet, juga dapat mulur maka tak dapat ia menarik putus. Dan pada saat itu, pedang Hek-hwa Kui-bo sudah berkelebat menyambar di atas kepalanya diiringi suara ketawa aneh nenek itu.

Pemuda itu tak dapat mengelak, tak dapat melompat pergi karena lengan kanannya telah terbelit sabuk, jalan satu-satunya baginya hanya menangkis bacokan itu dengan tangan kiri karena untuk menggunakan tangan kiri memukul, sudah tidak keburu lagi.

Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar lengking tinggi nyaring dan berkelebatlah bayangan orang didahului sinar kehijauan.

"Trangggg!''

Pedang yang akan membacok Sin Lee tertangkis oleh sebatang anak panah hijau dan kemudian lima batang anak panah yang terikat pada ujung cambuk yang berujung lima, menyambar-nyambar dan menyerang Hek-hwa Kui-bo.

"Jangan menghina orang muda, Hek-hwa Kui-bo siluman tua bangka, akulah lawanmu, lepaskan anakku!"

Hek-hwa Kui-bo cepat melepaskan sabuk yang membelit lengan Sin Lee dan melompat mundur sambil memutar pedangnya menangkis. Sementara itu orang yang baru datang ini yang bukan lain adalah Kwa Hong sendiri, mendorong pundak Sin Lee dan berkata,

"Pergilah kau kepada ayahmu, siluman ini akulah lawannya."

Dorongan ini kuat sekali, tak dapat ditahan oleh Sin Lee yang terpaksa melompat turun dari panggung, menduduki lagi tempat duduknya lalu dengan wajah pucat memandang ke atas panggung. Melihat betapa Kwa Hong menggantikan putranya menghadapi Hek-hwa Kui-bo, wajah Beng San dan semua keluarganya menegang.

Beng San diam-diam merasa terharu sekali. Ia maklum bahwa di balik kebencian Kwa Hong kepadanya, masih terdapat kasih terpendam dan akhirnya melalui putera mereka, Sin Lee, agaknya Kwa Hong menyingkirkan sakit hati dan dendamnya sehingga di depan umum Kwa Hong sekarang berhadapan dengan Hek-hwa Kui-bo yang sudah jelas datang dengan maksud buruk terhadap Thai-san-pai.

Memang mendongkol sekali hati Hek-hwa Kui-bo melihat Kwa Hong maju melawannya. Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi ia marah bukan main, lalu memaki,

"Aha, inilah perempuan tidak tahu malu yang melahirkan pemuda tadi dari perbuatan hina! He-he-heh, kau murid Hoa-san-pai murtad, wanita iblis sombong, memang orang macam kau ini kalau tak dibikin mampus hanya akan mengotorkan dunia persilatan saja!"

Kwa Hong tidak menjawab, namun melengking keras dan tahu-tahu dia telah melakukan serangan serentak dengan lima buah anak panah di ujung cambuk dan dengan pedang di tangan kanannya. Hebat sekali serangan ini.

Hek-hwa Kui-bo sendiri yang merupakan tokoh hebat dari selatan sampai berseru kaget dan cepat melompat mundur. Ia merasa seakan-akan sekaligus diserang oleh lima enam orang lawan! Nenek ini pun maklum bahwa kepandaian Kwa Hong tidak boleh dipandang ringan. Maka ia tidak mau bicara lagi, segera kedua tangannya bergerak, pedang dan sabuknya sudah menyambar-nyambar mengimbangi permainan lawan.

Hebat sekali pertempuran kali ini. Keduanya mempunyai ilmu silat yang ganas dan tak mengenal kasihan. Hek-hwa Kui-bo segera merasa betapa ilmu pedang yang dimainkan oleh Kwa Hong itu ganas dan aneh bukan main, maka ia pun lalu cepat mainkan Im-sin Kiam-sut untuk melawannya, sedangkan sabuknya juga merupakan lawan dari cambuk di tangan Kwa Hong.

Dua orang jago betina bertempur mempergunakan pedang dan senjata-senjata aneh yang mengandung racun, tentu saja pertandingan ini hebat dan seru, juga amat menegangkan hati.

Tiba-tiba terdengar suara parau, "Heee! Hek-hwa Kui-bo, Iblis betina itu adalah untukku, jangan dibikin mampus dulu. Akulah yang berhak membunuhnya!"

Berbareng dengan teriakan ini tubuh seorang yang mukanya seperti setan melayang ke atas panggung. Sebagian besar para tamu tercengang dan merasa ngeri menyaksikan muka seorang laki-laki yang begini menyeramkan, mata kiri bolong, mulut robek, telinga kiri buntung dan tangan kiri kaku seperti cakar setan.

"Iblis betina Kwa Hong, inilah Siauw-coa-ong Giam Kin! Kau sudah membikin wajahku seperti ini, saat ini juga kau harus menebusnya!"

Seperti orang gila Giam Kin memainkan senjatanya yang aneh, yaitu sebuah suling ular, dimainkan dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya yang berbentuk cakar setan itu juga melakukan penyerangan yang hebat.

Dari pihak tuan rumah berkelebat bayangan yang sangat gesit seperti burung terbang, disusul bentakan nyaring halus, "Manusia muka setan, tidak boleh main keroyokan. Dasar curang! Hayo sekarang hadapi pedangku secara laki-laki!"

Tanpa memberi kesempatan lagi Cui Bi yang sudah berada di atas panggung langsung menerjang Giam Kin dengan pedangnya. Gadis ini menyerang penuh kebencian, karena itu gerakan pedangnya hebat bukan main, cepat dan kuat sekali.

Giam Kin kaget dan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Sulingnya terbuat dari logam yang kuat dan dengan mengandalkan lweekang-nya, ia ingin membuat pedang di tangan gadis itu terlepas. Namun alangkah kagetnya ketika tiba-tiba pedang di tangan Cui Bi itu yang bagaikan hidup, melejit ke bawah dan melewati sulingnya terus menusuk ke arah lambungnya!

"Celaka...!"

Giam Kin segera membuang diri ke belakang dan terus bergulingan di atas papan untuk menghindarkan diri. Ia tidak mengira bahwa gadis itu demikian cerdik dan ilmu pedangnya demikian hebat.

Memang sebelum melompat ke atas panggung tadi, telinga gadis ini mendengar bisikan, suara ayahnya, "... jangan mengadu tenaga..."

Pesan inilah yang membuat Cui Bi berhati-hati dan berlaku cerdik. Dia dapat menduga maksud ayahnya dengan pesan ini. Tentu Si Muka setan ini memiliki tenaga lweekang yang lebih kuat darinya, atau mungkin suling yang berbentuk ular itu mengandung senjata rahasia yang akan bekerja kalau senjata itu beradu dengan senjata lain.

Setelah meloncat bangun, Giam Kin menghadapi penyerangan gadis itu dengan hati-hati sekali, menggunakan seluruh tenaga dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Namun hatinya kecut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa makin lama pedang gadis itu semakin kuat dan membingungkan.

Hal ini takkan mengherankan hatinya kalau ia tahu bahwa untuk menghadapi orang yang amat dibencinya ini Cui Bi telah mengeluarkan ilmu pedang simpanannya, yaitu Im-yang Sin-kiam-sut yang jarang tandingannya di dunia persilatan. Giam Kin mulai menyesal.

Tadinya dia menganggap dirinya sudah kuat benar, malah ia ingin menonjolkan namanya dengan mengalahkan Beng San kalau bisa, karena dia sudah mendengar bahwa Ketua Thai-san-pai itu telah terluka parah sekali. Siapa kira, baru menghadapi gadis puteri Ketua Thai-san-pai ini saja ternyata sangat berat. Dan ia tahu pula betapa bencinya gadis ini kepadanya, gadis yang kemarin dulu hampir mati menjadi korbannya.

Para tamu memandang ke atas panggung dengan hati yang penuh diliputi ketegangan. Pertandingan antara Hek-hwa Kui-bo dan Kwa Hong sudah cukup hebat dan membuat pandang mata menjadi kabur. Apa lagi sekarang ditambah dengan sebuah pertandingan lagi antara manusia muka setan dan gadis cantik itu, benar-benar membuat hati menjadi tegang bukan main. Melihat munculnya tokoh-tokoh besar serta melihat ilmu silat yang demikian hebatnya, mereka yang tadinya ingin mempertunjukkan kepandaiannya di atas panggung, sekarang menjadi kuncup hatinya dan keinginan hati itu terbang jauh.

Ilmu pedang Cui Bi hebat bukan main. Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia telah mendapat gemblengan dari ayah dan ibunya semenjak kecil. Tokoh seperti Giam Kin, biar pun memiliki kepandaian yang tinggi, bukanlah lawannya bermain pedang.

Segera ternyata bahwa Si Muka Setan itu terdesak dan tertindih hebat sekali sampai tak mampu membalas serangan Cui Bi. Dia hanya sanggup menangkis ke sana ke mari dan meloncat ke kanan kiri untuk menghindarkan sambaran pedang yang akan merupakan tangan maut baginya.

Desakan ini membuat Giam Kin menjadi malu, penasaran, dan marah sehingga kemudian dia menjadi nekat. Sambil menggereng seperti seekor binatang terpojok, dia menangkis pedang dengan suling ularnya, lalu tangan kirinya yang seperti cakar setan itu bergerak mencengkeram ke arah dada Cui Bi!

"Setan tak bermalu!" Cui Bi memaki.

Cui Bi menggeser kaki, miringkan tubuh jauh ke kanan, lalu dengan gerakan yang indah dan tak terduga-duga pedangnya menyambar dan... terdengar seperti orang membacok kayu ketika pedangnya membabat putus lengan kiri yang kering itu! Tetapi lengan yang buntung itu sama sekali tidak mengeluarkan darah, agaknya tangan itu memang sudah mati dan kering.

Kaget sekali Cui Bi dan kekagetannya ini memperlambat gerakannya sehingga dia kena diserang oleh Giam Kin yang menghantamkan suling ularnya ke arah punggung Cui Bi. Tetapi gadis puteri tunggal Ketua Thai-san-pai ini hebat sekali.

Dia berada dalam posisi berbahaya sekali, sehabis membacok tangan kelihatan tertegun dan ngeri, dan sekarang punggungnya disambar senjata musuh yang lihai. Tidak mungkin ia dapat menangkis dan untuk mengelak juga sukar karena suling ular itu menghantam dari arah belakangnya.

Tapi dasar ia gadis pendekar yang sudah tinggi ilmu silatnya, sehingga punggungnya pun seakan-akan mempunyai ‘mata’ yaitu perasaan naluri yang membuat seorang ahli silat dapat menangkis serangan di waktu ia sedang tidur sekali pun!

Melihat dirinya terancam bahaya, Cui Bi tidak menjadi bingung, bahkan dia menerjang dengan pedangnya menusuk ke arah ulu hati Giam Kin sambil diam-diam mengerahkan lweekang pada punggungnya. Ia pikir, gerakannya tidak kalah dulu dan tidak kalah cepat. Andai kata datangnya kedua senjata berbareng, pedangnya sudah pasti akan menembus ulu hati, sedangkan pukulan suling itu belum tentu akan berbahaya baginya karena sudah terjaga oleh pengerahan tenaga lweekang-nya!

"Ayaaaa...!"

Giam Kin kaget setengah mati. Tentu saja ia tidak mau menukar pukulan pada punggung dengan tusukan pada ulu hatinya karena selain rugi, juga sudah pasti nyawanya akan melayang! Secepat kilat ia membanting tubuhnya ke kiri untuk menghindarkan dirinya dari tusukan maut, akan tetapi otomatis pukulannya pada punggung lawan juga menjadi batal.

Cui Bi menjadi marah sekali. Selagi tubuh lawan bergulingan di atas papan, ia tidak mau memberi hati, lantas menerjang maju, melakukan serangan bertubi-tubi dengan gerakan pedang yang amat lihai.

Sambil bergulingan Giam Kin berusaha menangkis, tapi gerakannya kalah cepat. Sebelum ia meloncat bangun, Cui Bi sudah berhasil menusuk pergelangan tangan kanannya. Giam Kin mengaduh dan suling ularnya terlepas dari pegangan.

Cui Bi menyerang terus, membuat Giam Kin bergulingan ke sana ke mari menghindarkan bacokan atau tusukan pedang. Darah mulai mengucur pada saat ujung pedang Cui Bi menembus baju lalu mengenai pundak dan paha, akan tetapi Giam Kin bergulingan terus berusaha menyelamatkan dirinya.

"Bi-moi, jangan membunuh orang...!" tiba-tiba Kun Hong berseru sambil berdiri dari tempat duduknya.

Mendengar suara ini, Cui Bi menahan sebuah tusukan yang sedianya akan menamatkan riwayat Si Muka Setan itu, lalu kakinya menendang. Tubuh Giam Kin terlempar ke bawah panggung dibarengi jeritan kesakitan. Tubuh itu terbanting di atas tanah, dia merangkak lalu lari terpincang-pincang dari tempat itu.

Pada saat itu, pertempuran antara Kwa Hong dan Hek-hwa Kui-bo juga telah mencapai puncaknya. Dengan jurus Im-Sin Kiam-sut yang istimewa gayanya, Hek-hwa Kui-bo yang penasaran itu menyerang. Hebat serangan pedang ini sehingga biar pun Kwa Hong sudah cepat mengelak, tetap saja pundak kirinya tertusuk dan darah mengucur keluar.

Hek-hwa Kui-bo tertawa bergelak, akan tetapi suara ketawanya berhenti ketika pada saat itu Kwa Hong yang tidak mempedulikan pundaknya yang tertusuk, sempat mengerahkan cambuknya dan tiga di antara lima anak panah di ujung cambuk itu menyambar ke tiga bagian tubuh Hek-hwa Kui-bo. Nenek ini masih dapat menangkis dua anak panah yang menghantam pusar dan dada, akan tetapi masih ada sebatang anak panah yang sedianya menghancurkan kepalanya, biar pun telah ia elakkan, tetap saja menancap pada pinggir lehernya!

Hek-hwa Kui-bo melepaskan pedangnya yang masih menancap pada pundak Kwa Hong, tangan kanannya lantas menghantam sekuat tenaga ke depan. Kwa Hong yang melihat hantaman ini, tidak sempat lagi mengelak, tangan kirinya melepaskan cambuk dan sekali putar ia telah melancarkan pukulan Jing-tok-ciang menyambut pukulan Hek-hwa Kui-bo.

Terdengar suara keras, kemudian tubuh dua orang wanita itu terlempar turun panggung. Kebetulan sekali tubuh Kwa Hong terlempar ke arah Giam Kin, yang sedang merangkak bangun. Melihat musuh besarnya yang sudah membuat wajahnya yang tampan menjadi seperti muka setan, Giam Kin girang dan menggunakan kesempatan itu untuk mengayun tangan kanannya memukul Kwa Hong yang jatuhnya dekat sekali dengan dirinya.

"Bukkk!"

Pangkal leher Kwa Hong terpukul, tapi wanita ini sempat menggerakkan pedangnya dan…

"Cesss!" pedang itu menusuk perut Giam Kin sampai tembus ke punggungnya.

Si Muka Setan itu berkelojotan sebentar kemudian diam, putus napasnya. Kwa Hong juga terguling roboh. Di lain tempat, Hek-hwa Kui-bo yang jatuh terbanting berusaha bangun, tapi dua kali ia gagal, lalu roboh tak bernapas lagi. Kiranya anak panah yang menancap di lehernya itu mengandung racun yang luar biasa jahatnya sehingga seluruh tubuhnya telah keracunan, tak dapat ditolong lagi.

Sambil berseru keras Sin Lee sudah melompat ke arah ibunya, menyambar tubuh ibunya dan dibawa lari ke tempat rombongan tuan rumah. Segera Kwa Hong disambut oleh Beng San, Li Cu, dan Kun Hong. Yang lain-lain mendekati dan memandang kuatir.

Keadaan Kwa Hong hebat sekali. Lukanya parah, namun wanita ini tersenyum-senyum saja. Melihat Sin Lee berlutut dengan muka pucat, Kwa Hong berbisik,

"Mana... mana dia...?"

Sin Lee maklum, menoleh kepada ayahnya. Beng San mendekat, berlutut.

"Hong-moi, bagaimana luka-lukamu...?" tanyanya terharu.

"Tidak usah bicara tentang aku, yang perlu anakku. Beng San, apakah kau benar mau menerimanya sebagai puteramu?"

"Sudah tentu, Hong-moi, Sin Lee memang puteraku."

"Kau akan mendidiknya baik-baik seperti anak-anakmu yang lain?"

"Tentu!"

"Bersumpahlah!" suara Kwa Hong masih keras dan seperti marah-marah.

Tanpa ragu-ragu lagi Beng San bersumpah bahwa dia akan menerima Sin Lee sebagai putera sendiri dan mendidiknya baik-baik.

Kwa Hong nampak lega. “ Mana…. Li Cu?”

Li Cu memang sedang berdiri di dekat situ, maka mendengar ini dia pun lalu mendekat dan berlutut.

“Li Cu, kau rela menerima Sin Lee sebagai anak tirimu?”

Li Cu mengangguk, terharu. “Puteramu adalah putera suamiku, berarti dia itu puteraku sendiri, tiada bedanya.”

“Enci Kwa Hong, biarkan aku memeriksa luka-lukamu….” Tiba-tiba Kun Hong berkata, mendekati wanita yang terluka parah itu.

“Siapa kau?!” Kwa Hong membentak, suaranya ketus.

“Enci Hong, ayahku bernama Kwa Tin Siong, Ibuku Liem Sian Hwa, kita adalah saudara tiri.”

Sejenak Kwa Hong tercengang, lalu mengipatkan tangan Kun Hong yang menjangkaunya hendak melakukan pemeriksaan. “Jangan sentuh aku! Aku anak… jahat, anak murtad.”

“Enci, Ayah tidak pernah marah kepadamu, rindu sekali dan berkasihan kepadamu,” kata Kun Hong dengan suara halus.

Kwa Hong memandang tajam, agaknya tak percaya. Suaranya semakin lemah dan parau ketika ia bertanya, “Ayah… Ayah mengampuni aku…?”

“Sejak dahulu Ayah mengampunimu, Enci. Malah diharap-harap kembalimu ke Hoa-san. Enci, biarkan aku memeriksamu, barangkali aku dapat mengobatimu.”

“Benar, Hong-moi. Adikmu ini mempunyai kepandaian ilmu pengobatan, aku pun sudah mendapatkan pertolongannya,” kata Beng San.

“Tidak! Biar aku mati…. Ahhh, aku seorang jahat…. Li Cu, kau begini mulia, Ayah pun mengampuniku…. Semua orang baik-baik sedangkan aku… aku… Sin Lee… Jangan kau tiru Ibumu. Kau ikutlah ayahmu menjadi orang baik-baik….”

Tubuh ini menegang sebentar, kemudian lemas. Mulutnya tersenyum, matanya meram, napasnya terhenti.

Sin Lee menubruk ibunya, tetapi dua buah tangan tangan kuat memegang pundaknya. Ia menoleh, melihat wajah ayahnya yang pucat. Sepasang mata ayahnya yang tajam itu memperingatkannya bahwa tak selayaknya seorang gagah terlalu menyedihkan kematian.

"Ibu... ibu... selamat jalan..." Sin Lee terisak lalu menguatkan hatinya, mundur.

Beng San memberi isyarat kepada anak muridnya dan memberi perintah supaya jenazah Kwa Hong dibawa naik ke puncak dan dirawat di sana. Semua berjalan dengan tenang dan para tamu dari tempat jauh tidak melihat nyata apa yang terjadi di situ. Hanya setelah jenazah itu diangkat mereka tahu bahwa Kwa Hong yang dikenal sebagai wanita iblis itu telah tewas.

Jenazah Hek-hwa Kui-bo sudah diangkut oleh para anggota Ngo-lian-kauw, sedangkan jenazah Giam Kin disingkirkan oleh Siauw-ong-kwi. Keadaan sementara menjadi sunyi.

Pada saat itu terdengar orang tertawa terkekeh-kekeh dan dua bayangan orang meloncat ke atas panggung. Mereka ini ternyata adalah Toat-beng Yok-mo dan Tok Kak Hwesio. Suara tertawa tadi adalah suara Toat-beng Yok-mo, dan sekarang Setan Obat itu pun berkata nyaring dengan suaranya yang serak,

"Heh-heh-heh, Ketua Thai-san-pai. Kau benar-benar licik sekali. Sejak tadi baru seorang anak murid Thai-san-pai yang maju, lalu kedua orang putera-puterimu. Kau menggunakan orang-orang muda untuk melindungi muka Thai-san-pai, malah mengadu domba antara bekas musuh dengan musuh. Pintar! Aku memang tidak memiliki urusan penting dengan Thai-san-pai, akan tetapi aku mempunyai urusan dengan pemuda Kwa Kun Hong yang berlindung di tempatmu. Kwa Kun Hong, kau sudah menghina kami berdua dengan akal licik, hayo keluarlah untuk perhitungan di atas panggung ini!"

"Toat-beng Yok-Mo!" suara Beng San amat keras menggeledek. "Tak usah kita berbicara tentang pengeroyokan kemarin dulu, kau tidak menantang aku sudahlah. Akan tetapi kau menantang seorang pemuda keponakanku dari Hoa-san-pai yang sekarang menjadi tamu terhormat, Apakah kalian berdua tua bangka hendak mengeroyok seorang pemuda?"

"Hi-hi-hi, sama sekali tidak mengeroyok. Biarlah aku turun dulu dan menunggu giliran." Ia menoleh kepada Tok Kak Hwesio "Hwesio yang baik, kau boleh memberi hajaran kepada dia, tapi jangan dibunuh, biarkan aku yang menghabisinya, heh-heh-heh!"

Setelah Toat-beng Yok-mo melompat turun, Tok Kak Hwesio berkata ke arah Kun Hong. "Siluman muda, hayo kau naik perlihatkan kepandaianmu!"

Kun Hong mengerutkan keningnya. Dia tidak senang berkelahi, apa lagi di tempat umum seperti itu, dijadikan tontonan! Ia ragu-ragu. Bila didiamkan saja, tentu memalukan, bukan memalukan namanya, terutama sekali memalukan Hoa-san-pai dan Thai-san-pai sebagai tuan rumah. Dilayani, ahh, mengapa melayani orang gila yang mabuk nafsu membunuh?

Kong Bu bangkit berdiri, memegang lengannya. "Saudara Kun Hong, jangan gelisah. Aku akan menjadi wakilmu!"

Belum lagi Kun Hong sempat menjawab, tubuh Kong Bu sudah melayang naik ke atas panggung. Dengan muka kereng dan pandang mata tajam pemuda ini membentak,

"Hwesio tua, sepanjang ingatanku, saudara Kwa Kun Hong adalah orang yang tidak suka berkelahi, pantang membunuh dan selalu mengalah. Bagaimana seorang pendeta seperti kau ini mendendam kepadanya? Biar pun dia itu seorang murid Hoa-san-pai, namun ia mempelajari ilmu sastra saja, tidak suka akan ilmu silat. Apakah tantanganmu ini tidak hanya merendahkan dirimu sendiri dan sekaligus membuka watakmu yang tak tahu malu, menantang kepada seorang pemuda yang hanya tahu ilmu sastra dan pengobatan? Jika memang kau hendak berlagak, akulah tandinganmu!"

Tok Kak Hwesio marah sekali. Ia mengenal pemuda ini yang kemarin sudah membantu Beng San dalam pengeroyokan, dan sepanjang pendengarannya, pemuda ini katanya cucu Song-bun-kwi. Bagaimana bisa begini dan apa artinya semua ini?

"Ehhh, orang muda, sebenarnya kau ini siapakah? Ada hubungan apa kau dengan Ketua Thai-san-pai dan apamu pula Kun Hong itu?"

"Hwesio, aku tahu bahwa kau adalah Tok Kak Hwesio yang berjuluk Kauw-jiauw-kang Si Cakar Monyet, bekas perampok besar! Kau belum kenal aku? Aku adalah putera Ketua Thai-san-pai, namaku Tan Kong Bu."

"Ha-ha-ha, semua mengaku putera Ketua Thai-san-pai? Orang bilang bahwa kau adalah cucu Song-bun-kwi... Berapa orang sih isteri Ketua Thai-san-pai?"

"Benar! Mendiang ibuku adalah puteri tunggal Kakek Song-bun-kwi. Nah, sekarang kau sudah tahu jelas, apakah kau masih berani melawanku sebagai wakil saudara Kwa Kun Hong seorang sahabatku yang baik?"

"Keparat, kau sombong benar. Lihat seranganku!"

Hwesio itu sudah marah sejak ia dimaki-maki sebagai perampok besar tadi, maka tanpa banyak cakap lagi dia telah langsung menyerang mempergunakan cengkeramannya yaitu Kauw-jiauw-kang. Lihai sekali ilmu ini, kedua tangannya sudah digembleng, gerakannya cepat, penuh tenaga lweekang dan sekali lawan kena dicengkeram, pasti kulitnya hancur dagingnya robek tulangnya remuk!

Kemarin dulu ketika Kong Bu menolong ayahnya dari pengeroyokan, sudah melihat ilmu kepandaian hwesio ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono menghadapi serangan ini. Ia mengelak dan membalas dengan jurus-jurus Yang-sin-hoat, ilmu silat yang berdasarkan tenaga keras sehingga pukulannya mendatangkan hawa panas.

Kong Bu semenjak kecil digembleng hebat oleh Song-bun-Kwi dan karena Song-bun-kwi tadinya bercita-cita supaya cucu ini kelak bertanding melawan Beng San, tentu saja dia sudah menurunkan seluruh kepandaiannya. Siapa kira sekarang cucunya bukan melawan ayahnya, bahkan sebaliknya di atas panggung ini membela dan mempertahankan nama baik Thai-san-pai.

Sesudah belasan jurus saling serang, diam-diam Tok Kak Hwesio mengeluh di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Song-bun-kwi adalah seorang tokoh besar yang sakti dan yang jauh lebih tinggi ilmunya dari pada dia sendiri, akan tetapi sungguh ia tidak mengira bahwa cucunya, seorang pemuda yang usianya baru dua puluhan tahun, sudah pula memiliki kepandaian begini tinggi dan tenaga yang begini kuat.

Di lain pihak, Kong Bu juga merasa sukar untuk menjatuhkan hwesio itu karena dia tidak berani melakukan tangkisan terhadap cengkeraman lawan. Dengan cara hanya mengelak tiba-tiba ia dapat balas memukul sehingga biar pun ia dapat mendesaknya dengan hujan pukulan, tapi masih kurang cepat dan selalu dapat dielakkan oleh hwesio kosen itu. Apa lagi kalau hwesio itu menangkis sambil mencengkeram, ia selalu harus menghindarkan tangannya dan menarik kembali pukulannya.

Tiba-tiba dia mendengar suara lirih di dekat telinganya, "Cengkeraman cakar bebek begini saja takut apa? Paling-paling membikin lecet kulit"

Kong Bu girang sekali. Itulah suara kakeknya! Sejak tadi ia melihat-lihat akan tetapi di situ tidak kelihatan kakeknya muncul, dan sekarang tahu-tahu ada suaranya yang dikirim dari tempat jauh.

Tadinya Kong Bu meragu untuk membiarkan tangannya dicengkeram sambil membarengi memukul. Sekarang mendengar bisikan ini, hatinya menjadi tabah. Ketika tangan kirinya menjotos dada, kakek itu menangkis sambil mencengkeram lengan Kong Bu. Pemuda ini sengaja berlaku lambat hingga pergelangan tangan kirinya betul-betul dapat dicengkeram.

Tok Kak Hwesio sudah menyeringai kegirangan. Akan tetapi mendadak terdengar suara keras, dadanya terkena jotosan hebat dari tangan kanan Kong Bu. Hwesio itu berteriak, tubuhnya terlempar ke bawah panggung dan roboh terbanting, bangkit lagi lalu muntah darah segar, terus ngeloyor pergi dari situ!

Toat-beng Yok-mo marah bukan main, tubuhnya telah melayang ke atas panggung. Akan tetapi sebelum Kong Bu menghadapinya, Kun Hong sudah berlari-lari naik ke panggung melalui anak tangga, terus menarik tangan Kong Bu yang kiri.

"Wah, kau terkena racun!" bisiknya sambil menotok beberapa jalan darah di lengan itu, mengurut sebentar lalu berkata, "Saudara Kong Bu, aku berterima kasih bahwa kau sudah mewakili aku, tetapi aku tidak senang kau atas namaku menjotos orang sampai muntah darah. Sekarang kau turunlah, minta Ayahmu supaya mengeluarkan darah di pergelangan tanganmu dengan melukainya, kemudian kau telanlah dua butir pel ini."

Dia mengeluarkan dua butir pel hijau buatannya sendiri dari daun-daun yang khasiatnya memunahkan racun. Kong Bu mengangguk dan hendak turun panggung, akan tetapi dia memandang ragu kepada Toat-beng Yok-mo.

"Saudaraku, apakah kau benar-benar dapat menghadapi iblis ini?" bisiknya.

"Biarlah, itu tanggung jawabku, kau turunlah,'" jawab Kun Hong.

Ketika Kong Bu menoleh ke arah ayahnya, ia melihat ayahnya memberi isyarat supaya ia turun, maka ia pun lalu melompat turun.

Ada pun Toat-beng Yok-mo pada saat melihat cara Kun Hong mengobati Kong Bu tadi, memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia pun mencak-mencak saking marahnya ketika ia mengenal bahwa cara pengobatan itu adalah pelajaran dari kitabnya.

"Pencuri, kau harus mampus di tanganku untuk menebus dosamu!" teriaknya marah.

"Nanti dulu, Toat-beng Yok-mo jangan sembarangan kau menuduh orang. Di sini banyak orang gagah yang menjadi saksi, tak boleh kau menuduh sebagai pencuri. Coba katakan orang yang kecurian tentu kehilangan sesuatu, dan kau kehilangan apamukah?"

"Aku tidak kehilangan sesuatu, tapi kau tetap mencuri, mencuri ilmuku pengobatan. Hayo katakan, apakah kau tidak membaca habis semua kitab-kitabku tentang ilmu pengobatan? Jawab!"

Kun Hong menghadapi para tamu yang dengan penuh perhatian sedang mendengarkan perdebatan itu. "Cu-wi sekalian mendengar jelas bahwa kakek ini tidak kehilangan suatu, akan tetapi menuduh siauwte sebagai pencuri. Bukankah itu aneh? Yok-mo, kau sudah membohong! Dulu pada saat kau terluka, kau minta aku menolongmu, menggendongmu berhari-hari lamanya. Sementara itu, kau sudah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabmu yang sudah kukembalikan pula. Jadi aku tidak mencuri baca kitab-kitabmu karena kau sudah memberi perkenan. Ada pun mengenai ilmu, ilmu itu bukankah milik pribadi siapa pun juga. Siapa pun dia orangnya yang suka mempelajari, akan memiliki ilmu itu, yang suka mempelajari akan mendapat ilmu, yang mengajar takkan kehilangan ilmu, karena ilmu bukanlah milik pribadi manusia dan akan lenyap bersama manusia, kembali ke tangan pemiliknya, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Nah, sudah sadarkah kau sekarang?"

"Sadar perutmu!" Toat-beng Yok-mo memaki. “Siapa pun yang pernah kuobati dia harus kubunuh, siapa yang memiliki ilmu pengobatanku dia pun harus kubunuh!"

"Wah-wah-wah, kalau begitu kau nyeleweng dari kebenaran. Kau nyeleweng dan tersesat jauh sekali, orang tua. Benar kata-kata kuno yang menyatakan bahwa segala sesuatu, baik buruknya tergantung kepada manusia yang bersangkutan. Pisau tetap pisau, dapat dipergunakan untuk hal-hal yang baik misalnya pemotong sayur-sayur di dapur sebagai alat pembuat perabot rumah tangga, dan lain-lain. Akan tetapi pisau yang itu-itu juga dapat juga dipergunakan untuk hal yang buruk misalnya menusuk perut sesama manusia! Segalanya tergantung kepada manusia yang memegangnya. Hemm, Toat-beng Yok-mo ilmu pengobatan pun demikian, baik buruknya tergantung pada manusia yang menguasai ilmu itu. Di tanganmu, ilmu itu menjadi alat kejahatan."

"Sudah, sekarang aku bukan datang untuk mendengar kuliahmu, tetapi untuk mencabut nyawamu. Hayo berani kau melawan aku?"

"Berani dan tidak bagiku tergantung dari persoalannya. Kalau aku berada di pihak benar, aku takkan mengenal takut, sebaliknya kalau aku berada di pihak salah, aku tak mengenal berani. Dalam persoalan antara kita, aku tidak bersalah, tentu aku tidak takut, Yok-mo."

"Keparat, lidahmu tak bertulang, bibirmu lemas seperti bibir perempuan, omonganmu pun berbelit-belit. Keluarkan senjatamu!"

"Apakah lidahmu bertulang? Bibirmu kaku?" Kun Hong menjawab.

Akan tetapi karena maklum bahwa kakek ini berkepandaian tinggi, ia kemudian mencabut pedangnya secara terbalik yaitu memegang gagang pedang dengan ujung pedang yang menghadap ke dalam seperti orang memegang sebilah pisau belati.

"Awas serangan!"

Yok-mo segera menerjang maju dengan tongkatnya, ingin sekali pukul menghancurkan kepala lawan, maka ia mengarah tubuh bagian atas ini.

"Wah, galaknya!" Kwa Hong membungkuk dengan kaku.

Gerakannya lucu seperti gerakan orang yang tidak pandai silat, namun anehnya, pukulan itu tidak mengenai kepalanya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner