JAKA LOLA : JILID-02


Diam-diam dia merasa heran, akan tetapi dia tidak mau mengganggu, hanya mengintai terus sampai jauh malam. Ketika menjelang tengah malam anaknya itu melompat keluar jendela secara diam-diam dan pergi ke pekarangan belakang, The Sun terus mengikuti dengan hati tidak enak.

Dia melihat anaknya itu mencabut pedang dan bersilat di bawah sinar bulan purnama. Bukan main hebatnya. The Sun sampai melongo ketika menyaksikan betapa pedang itu bergulung-gulung mengeluarkan hawa dingin dengan sinar menghitam. Kemudian makin terkejut dia ketika tangan kiri anaknya itu diputar-putar dan digerakkan sedemikian rupa sehingga mengeluarkan uap berwarna hitam pula!

Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang dikenal oleh The Sun biar pun keadaan remang-remang, karena orang ini bukan lain adalah Hek Lojin. Kakek itu keluar sambil tertawa bergelak.

"Bagus, bagus! Kau malah lebih hebat dari pada aku sepuluh tahun yang lalu. Cucuku yang pintar, cucuku yang manis, engkaulah yang akan membikin aku dapat mati meram. Sekarang tinggal aku menagih janji, kau harus memenuhi janji dan sumpahmu."

"Di mana adanya Pendekar Buta itu, Kek?"

"Ha-ha-ha, dia manusia sombong itu berdiam di puncak Liong-thouw-san. Dia sebetulnya putera ketua Hoa-san-pai. Kau cari dia di Liong-thouw-san, apa bila tidak ada, susul dia ke Hoa-san-pai, buntungi lengannya dan lengan isterinya, juga lengan semua anaknya. Ha-ha-ha, aku akan mati meram."

Tiba-tiba The Sun melompat ke luar, bulu tengkuknya berdiri. "Suhu (guru)! Siu Bi! Apa artinya ini semua? Dari mana kau mendapatkan ilmu setan itu?"

"Ayah, ilmu warisan Kongkong bagai-mana kau berani menyebutnya ilmu setan?"

The Sun makin tercengang, lalu memandang kakek itu yang diam saja. "Suhu, benarkah Suhu yang mewariskan kedua ilmu itu?"

"Hemmm, memang benar. Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-hoat adalah perubahan dari ilmu tongkat hitamku dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang itu adalah inti sari semua Iweekang yang kupelajari. Dua ilmu ini diperlukan untuk menghadapi kepandaian Kun Hong si manusia buta."

"Suhu!" The Sun berseru keras, kemudian berpaling kepada Siu Bi sambil membentak keras. "Hayo kau kembali ke kamarmu!" Bentakan ini ketus dan marah.

Siu Bi selama hidupnya belum pernah dibentak seperti ini oleh ayahnya, maka dia terisak menangis sambil berlari masuk ke kamarnya! Akan tetapi, gadis yang sangat cerdik ini tentu saja tidak merasa puas kalau harus menangis begitu saja.

la merasa sangat penasaran dan diam-diam ia mempergunakan ginkang-nya yang tinggi untuk keluar lagi dari dalam kamarnya, lalu berindap-indap mengintai dan mendengarkan percakapan antara kakeknya dan ayahnya. Dan apa yang dia dengar malam itu baginya merupakan tusukan-tusukan pedang beracun yang berkesan hebat dan menggores amat dalam di kalbunya.

"Suhu," dia mendengar ayahnya mencela, "Bagaimanakah Suhu mempunyai niat yang begitu berbahaya? Mengapa Siu Bi Suhu bawa-bawa, Suhu seret ke dalam gelombang permusuhan pribadi? Teecu menyesal sekali, karena menurut pendapat teecu (murid), permusuhan dengan Pendekar Buta bukan merupakan permusuhan pribadi, akan tetapi permusuhan karena negara. Teecu tidak suka dia diseret ke dalam permusuhan Suhu itu, malah teecu mempunyai keinginan untuk menjodohkan dia dengan seorang di antara para ksatria dari Hoa-san-pai atau Thai-san-pai, supaya keturunan teecu kelak menjadi orang-orang gagah perkasa yang terhormat dan membuat nama besar di dunia."

"Huh, The Sun. Kau sekarang mau pura-pura menjadi orang alim? Apa kau tidak melihat lenganku yang buntung ini? Apakah sakit hati ini harus kita diamkan saja ? Bukankah ini berarti merendahkan nama besar Go-bi-san? The Sun, ke mana kegagahanmu? Mana baktimu terhadap guru? Ahhh, dia lebih gagah dari pada kau, lebih setia dan berbakti!"

"Suhu, terang bahwa Pendekar Buta bukan musuh teecu. Andai kata teecu tidak yakin betul bahwa teecu tak akan mampu menandinginya, tentu teecu sudah lama mencarinya untuk diajak bertanding. Apa bila memang Suhu demikian menaruh dendam kepadanya, mengapa tidak Suhu sendiri turun gunung, mencarinya dan menantangnya? Masa gadis remaja seperti dia disuruh turun gunung? Teecu tidak setuju dan tidak boleh!" Suara The Sun mengeras.

"Hemmm, kau murid durhaka Aku sudah begini tua, bagaimana dapat membalas dendam sendiri? Apa artinya aku punya murid? Apa artinya menurunkan kepandaian? Kau sendiri kalau dahulu tidak lekas-lekas kubawa lari, apakah juga tidak akan mampus di tangan Pendekar Buta? Sekarang, Siu Bi suka membalaskan dendam, mengapa kau ribut-ribut? Kalau kau sendiri tidak becus membalas budi guru, biarlah dia yang pergi. Kau tidak mau ya sudah, tapi dia mau, perlu apa kau ribut lagi?"

"Tapi dia puteriku, Suhu. Dia anak tunggal... seorang gadis lagi...!"

"Siapa bilang dia puterimu? Ha-ha-ha, dia bukan anakmu!"

"Suhu...!!!"

"Ha-ha-ho-ho-ho, kau kira Hek Lojin sudah pikun dan bermata buta? Ha-ha-ha, The Sun, tentu saja aku tahu. Tetapi aku tidak akan membuka mulut kepada siapa pun juga, asal kau membiarkan dia membalaskan dendam terhadap Pendekar Buta."

"Tidak! Tidak boleh...! Suhu, jangan suruh dia!"

"Ha-ha-ha, dia telah bersumpah, tak mungkin menjilat ludah sendiri, tak mungkin seorang keturunan jago Go-bi mengingkari janji."

"Teecu akan melarangnya!" teriak The Sun, kemarahannya memuncak.

"Aku akan memaksanya, mengingatkan dia akan sumpahnya!" Hek Lojin bersikeras.

"Kau... kau jahat...!" The Sun lupa diri dan menerjang kakek itu.

Hek Lojin cepat-cepat menangkis, akan tetapi karena dia sudah amat tua, sudah hampir sembilan puluh tahun usianya, tangkisannya kurang kuat dan gerakannya kurang cepat.

"Bukkk... bukkk!" Dua kali dadanya terpukul oleh The Sun dan dia terguling roboh.

"Ayahhh...!" Siu Bi meloncat dan berlari menghampiri.

Sebutan ayah tadi tercekik di tenggorokannya karena ia teringat akan kata-kata Hek Lojin bahwa dia bukan anak The Sun! Akan tetapi pada saat itu ia tidak peduli dan menubruk Hek Lojin yang rebah terlentang.

Kakek itu terengah-engah, memandang pada Siu Bi dengan mata mendelik, kemudian... nyawanya melayang, nafasnya putus. Dia tewas dalam pelukan Siu Bi, tetapi matanya tetap mendelik memandang gadis itu.

"Kongkong...!" Siu Bi menangis dan memeluki kakek itu yang mencintanya semenjak ia masih kecil. Di dekat telinga kakek yang sudah mati itu ia berbisik perlahan, "Aku akan balaskan dendammu, Kek..."

Bisikan campur isak ini tidak terdengar oleh The Sun yang berdiri seperti patung dengan muka pucat. Akan tetapi anehnya, kedua mata yang mendelik dari kakek itu tiba-tiba kini tertutup rapat setelah Siu Bi berbisik. Hal ini terlihat oleh Siu Bi, di bawah sinar bulan. la terharu dan menangis lagi, menggerung-gerung.

The Sun menyesal bukan main, namun penyesalan yang sudah terlambat. Betapa pun juga, hatinya lega karena rahasia tentang Siu Bi yang entah bagaimana sudah diketahui oleh Hek Lojin itu, sekarang tertutup rapat-rapat. Sama sekali dia tidak menduga bahwa Siu Bi telah mendengarkan percakapan tadi!

Setelah jenazah Hek Lojin dikubur, pada malam harinya, secara diam-diam Siu Bi telah minggat tanpa pamit, meninggalkan puncak Go-bi-san! Ketika itulah The Sun baru sadar bahwa ternyata anaknya sudah tahu akan rahasia dirinya.

Tentu saja hal ini membuat The Sun hancur hatinya, dan lebih-lebih ibu Siu Bi sangat berduka sehingga berkali-kali ia jatuh pingsan. The Sun menghibur isterinya dengan janji bahwa mereka juga akan turun gunung setelah masa berkabung habis, untuk mencari anak mereka yang tercinta itu.

Suasana bahagia di puncak ini seketika berubah menjadi penuh kedukaan. Siapa kira, kehidupan yang tadinya serba bahagia itu dapat sekaligus hancur berantakan. Memang begitulah keadaan hidup di dunia ini…..

********************

Kita tinggalkan dahulu keluarga di puncak Go-bi-san yang sedang dicekam kedukaan itu dan mari kita menengok Pendekar Buta, orang yang menjadi sebab timbulnya peristiwa menyedihkan di puncak Go-bi-san.

Para pembaca cerita ‘Pendekar Buta’ tentunya tahu siapakah pendekar yang cacat ini, seorang tuna netra (buta) yang memiliki ilmu kepandaian dahsyat sehingga orang sakti seperti Hek Lojin dapat dibuntungi lengan kirinya.

Pendekar Buta adalah putera dari ketua Hoa-san-pai yang sekarang sudah sangat tua dan disebut Kwa Lojin. Ada pun Pendekar Buta sendiri bernama Kwa Kun Hong. Seperti telah diceritakan dalam cerita ‘Pendekar Buta’ yang ramai, setelah selesai pertempuran dan perang saudara antara Pangeran Kian Bun Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo di mana Pendekar Buta membela Raja Muda Yung Lo sehingga mencapai kemenangan, Pendekar Buta lalu menikah dengan Kwee Hui Kauw, yaitu seorang gadis perkasa puteri Kwee-taijin yang semenjak kecil diculik oleh Ching-toanio dan dididik ilmu silat di Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau).

Setelah menikah, Kun Hong beserta isterinya mendiami puncak Liong-thouw-san, puncak gunung di mana dahulu dia menerima warisan ilmu dari seorang sakti bernama Bu Beng Cu, ditemani oleh seekor burung rajawali berbulu emas. Yang ikut ke Liong-thouw-san bersama suami isteri ini adalah seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang menjadi muridnya. Siapakah anak laki-laki ini?

Dalam cerita ‘Pendekar Buta’ sudah dituturkan dengan jelas bahwa anak laki-laki yang menjadi murid Kun Hong ini adalah Yo Wan atau biasanya dipanggil A Wan. Dia anak keluarga petani sederhana, ayahnya tewas disiksa kaki tangan tuan tanah di dusunnya, sedangkan ibunya mati membunuh diri setelah membiarkan dirinya diperkosa oleh The Sun dalam usahanya menolong keselamatan Kun Hong yang ketika itu terluka di dalam rumahnya. Karena pertolongan yang mengorbankan kehormatan dan nyawa inilah maka Kun Hong merasa berhutang budi kepada ibu Yo Wan dan dia lalu membawa anak yatim piatu ini sebagai muridnya.

Yo Wan seorang anak yang sangat cerdik. Dengan tekun dia mempelajari semua ilmu yang diturunkan oleh Kun Hong kepadanya dan setiap hari anak ini tidak mau bersikap malas. Ia rajin sekali melayani segala keperluan gurunya dan ibu gurunya.

Mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, membersihkan pondok, malah kelebihan waktu dia pergunakan untuk menanam sayur mayur serta memeliharanya. Juga segala keperluan Kun Hong dan isterinya jika membutuhkan sesuatu ke bawah gunung, dialah yang turun dari puncak dan pergi ke dusun-dusun. Pendeknya, Yo Wan sangat rajin dan patuh sehingga tidaklah mengherankan apa bila Kun Hong dan isterinya Hui Kauw, amat mencinta anak itu.

Dua tahun setelah menikah, Hui Kauw pun mengandung. Kun Hong yang amat mencinta isterinya merasa khawatir. Dia sendiri adalah seorang buta. Sungguh pun dia ahli dalam hal pengobatan, namun belum pernah dia menolong wanita melahirkan dan tidak pernah pula dia mempelajari dalam kitab pengobatan.

Tempat tinggal mereka di puncak Liong-thouw-san yang tersembunyi dan jauh dari para tetangga. Bagaimana kalau sudah tiba saatnya isterinya melahirkan?

"Sebaiknya kita pindah dulu saja ke Hoa-san, isteriku," kata Kun Hong setelah isterinya mengandung tiga bulan lamanya.

Hui Kauw mengerutkan alisnya yang kecil melengkung panjang dan hitam. Di dalam hati ia merasa tidak setuju. Ia cukup maklum akan bahayanya hidup berdekatan dan tinggal bersama sanak keluarga. Betapa mudahnya terjadi bentrokan. Gedung besar orang lain kadang kala merupakan neraka, sebaliknya gubuk kecil milik sendiri adalah sorga, apa lagi di dekatnya ada suami yang tercinta. Akan tetapi, ia maklum pula bahwa suaminya mengusulkan hal ini karena mengingat akan kepentingan dan keselamatannya.

"Suamiku, perlukah kita pindah sejauh itu? Kurasa, kalau sudah sampai saatnya kita bisa minta bantuan seorang nenek dari dusun di bawah.” la mencoba untuk membantah.

Kun Hong memegang tangannya, mesra. "Hui Kauw, alangkah akan gelisahnya hati kita kalau saat itu tiba dan di sini tidak ada orang lain kecuali kau, aku, A Wan, dan seorang nenek pembantu. Sebaliknya, hati kita akan besar dan tenang, apa lagi kau melahirkan di tengah-tengah keluargaku, keluarga besar Hoa-san-pai, di mana terdapat banyak paman dan bibi yang lebih berpengalaman, juga dekat dengan orang tua. Selain itu, kita harus memikirkan juga pertumbuhan anak kita kelak. Tentu kau tidak ingin anak kita tumbuh besar di tempat sunyi seperti ini. Aku ingin anak kita hidup bahagia, gembira setiap hari dan disayang oleh banyak orang."

Hui Kauw amat mencinta suaminya, juga amat taat. Karena itu ia tidak mau membantah. Akan tetapi ketika teringat akan A Wan ia bertanya,

”Bagaimana dengan A Wan?"

"Tentu saja dia ikut! Mana bisa kita tinggalkan dia di sini seorang diri?"

Di dalam hatinya, Hui Kauw mengkhawatirkan keadaan murid itu. Dia cukup mengenal watak A Wan setelah anak itu tinggal di sana selama dua tahun. Anak itu pendiam dan taat, akan tetapi mempunyai watak yang amat halus. Belum tentu anak itu akan merasai kebahagiaan di Hoa-san-pai, karena merasa bahwa dia menumpang pada gurunya, dan sekarang gurunya sendiri akan menumpang di tempat orang lain.

"Apakah dia suka?” tanyanya ragu-ragu.

"Ha-ha-ha, isteriku, kenapa tidak akan suka? Coba panggil dia ke sini."

A Wan segera datang berlari ketika mendengar suara guru dan ibu gurunya memanggil. Anak ini meski pun usianya baru delapan tahun lebih, namun tubuhnya tegap dan kuat, berkat kerja setiap hari di sawah ladang. la cekatan sekali, wajahnya lebar dan terang, matanya memiliki sinar mata yang sayu tetapi kadang-kadang mengeluarkan sinar yang tajam. Dengan amat hormat anak ini menghadap suhu-nya.

"A Wan, kau bersiaplah. Kita akan pindah ke Hoa-san-pai, ke rumah kakek gurumu, ayahku yang menjadi ketua Hoa-san-pai," kata Kun Hong singkat.

Berubah wajah A Wan dan hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Hui Kauw.

"Bagaimana, A Wan? Kenapa kau diam saja?"

Sedih hati A Wan. la merasa bahagia hidup di Liong-thouw-san. la merasa bahwa tempat itu merupakan tempat tinggalnya dan dia amat sayang kepada tempat yang sunyi itu. la merasa bahagia dapat melayani kedua orang itu yang dia anggap sebagai pengganti orang tuanya, bahagia dapat belajar ilmu silat dari orang yang sejak dahulu dia anggap sebagai bintang penolongnya. Tapi sekarang, gurunya mengajak dia pindah dan gurunya akan mondok di rumah orang lain!

"Suhu... tempat ini... siapa yang akan mengurusnya? Kalau kita semua pergi... tempat ini tentu akan rusak..,.." Suaranya agak gemetar.

Kun Hong menarik nafas panjang. la pun tahu bahwa meski pun usianya masih kecil, namun A Wan sudah mempunyai pandangan yang jauh dan penuh pengertian, maka tak boleh dia diperlakukan sebagai anak kecil.

“A Wan, kau harus tahu bahwa ibu gurumu membutuhkan bantuan sanak keluarga kalau adikmu lahir. Untuk sementara tempat ini kita tinggalkan, kelak kita tentu dapat datang menengok."

Wajah A Wan berubah gembira. "Suhu, kalau begitu, biarlah teecu (murid) tinggal di sini merawat tempat ini. Kelak kalau Suhu dan Subo (Ibu Guru) kembali ke sini, tempat ini masih dalam keadaan baik. Lagi pula, tanpa adanya teecu yang mengganggu perjalanan, Suhu dan Subo akan dapat melakukan perjalanan yang lebih cepat."

Anak yang berpemandangan jauh, pikir Kun Hong kagum. Memang dengan adanya A Wan, mereka berdua takkan dapat mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menggendong anak itu.

"Tetapi, mungkin kami akan lama di sana, entah kapan dapat kembali kesini." katanya meragu.

"Setahun dua tahun bukan apa-apa, Suhu. Teecu dapat menjaga diri sendiri dan juga merawat tempat ini. Sayur-mayur cukup, sebagian dapat teecu tukar gandum dan beras dengan penduduk di bawah. Kelak kalau Suhu dan Subo kembali membawa... adik yang sudah berusia setahun lebih, wah, alangkah akan senangnya...!"

Kun Hong adalah seorang yang senang mendengar kegagahan dan keberanian. Sikap muridnya ini benar-benar mengagumkan hatinya, bukan sikap seorang anak kecil yang cengeng merengek-rengek.

Biarlah dia digembleng oleh alam, merasakan hidup sendiri tanpa sandaran. Biarlah dia belajar hidup sendiri, karena hal ini akan memupuk rasa percaya pada diri sendiri. Malah sebaliknya dia ingin melihat ketekunan muridnya itu, bagaimana hasil latihan-latihannya selama dua tahun kelak tanpa pengawasan.

“Bagaimana, isteriku, apakah kau setuju dengan permintaan A Wan untuk tinggal di sini?" Kun Hong mengerti betapa isterinya amat sayang pula kepada A Wan, maka tak mau dia melewati isterinya.

"Kalau dia menghendaki demikian, kurasa baik kita setuju. Pula, memang sayang kalau tempat kita ini menjadi rusak. Kelak kita kembali ke sini dan tempat ini dalam keadaan baik. Aku setuju."

Di dalam hatinya, Hui Kauw amat kasihan kepada A Wan. Akan tetapi nyonya muda ini beranggapan bahwa kalau A Wan masih ditinggal di situ, sudah pasti suaminya kelak akan kembali ke Liong-thouw-san. Dan inilah yang ia inginkan!

Kun Hong tertawa. "Baiklah, A Wan. Kau tinggal di sini dan kau harus melatih diri dengan jurus-jurus yang sudah kuajarkan kepadamu. Latihan semedhi juga harus kau kerjakan dengan tekun. Aku ingin mendengar mengenai kemajuanmu beberapa tahun kemudian. Andai kata sudah lewat dua tahun aku tidak datang ke sini, dan kau merasa kangen, kau boleh sewaktu-waktu melakukan perjalanan ke Hoa-san-pai seorang diri menyusul kami."

"Anak sekecil ini...?" Hui Kauw mencela, kaget.

Kun Hong tertawa, "Beberapa tahun lagi dia sudah berusia belasan tahun, dan biar pun masih kecil, apa artinya melakukan perjalanan dari sini ke Hoa-san bagi seorang murid kita? Ha-ha-ha, kau tentu akan berani bukan?"

"Tentu saja, Suhu! Subo, harap jangan khawatir. Teecu mampu menjaga diri dan kalau teecu kangen dan Suhu berdua belum pulang, teecu akan menyusul ke Hoa-san!"

Demikianlah, setelah memilih hari baik, Kun Hong berdua Hui Kauw pergi meninggalkan Liong-thouw-san menuju ke Hoa-san, meninggalkan Yo Wan yang mengantar guru dan ibu gurunya sampai ke kaki gunung.

Beberapa kali Hui Kauw menoleh dan sepasang mata nyonya muda yang cantik ini berlinang air mata ketika dia melihat dari jauh tubuh Yo Wan masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dengan kedua tangan di belakang. Sesosok bayangan bocah yang walau pun masih kecil sudah membayangkan keteguhan hati yang luar biasa dan nyali yang besar.

Setelah suhu dan subo-nya lenyap dari pandang matanya, barulah A Wan merasa sunyi dan kosong rongga dadanya. Namun dia menekan perasaannya dan mendaki puncak Liong-thouw-san. Dahulu, puncak ini tidak mungkin dapat dinaiki orang, apa lagi orang biasa atau seorang anak kecil seperti A Wan.

Akan tetapi, semenjak Kun Hong dan isterinya bertempat tinggal di situ, suami isteri pendekar yang memiliki kesaktian ini sudah membuat jalan menuju ke puncak. Bukan jalan biasa melainkan jalan yang juga amat sukar karena harus melalui dua buah jurang lebar dan amat dalam yang mereka pasangi jembatan berupa dua buah tali besar dan kuat.

Untuk menyeberangi jembatan-jembatan istimewa di atas dua buah jurang lebar ini orang harus berjalan di atas dua utas tali ini tanpa pegangan! Hanya orang-orang yang memiliki ginkang serta nyali besar saja berani menyeberangi jembatan istimewa ini. Kemudian, setelah mendekati puncak, untuk mencapai dataran puncak itu jalan satu-satunya hanya memanjat sebuah tangga terbuat dari tali pula, tingginya seratus kaki dan amat terjal.

Tentu saja memanjat tangga ini lebih mudah karena kedua tangan dapat berpegangan, akan tetapi juga membutuhkan nyali yang cukup besar di samping syaraf membaja. Akan tetapi, bagi Yo Wan semua ini bukan apa-apa lagi, dia sudah terbiasa dengan jembatan-jembatan dan tangga ini. Semenjak berusia enam tahun dia sudah dapat menggunakan alat-alat penyeberangan itu.

Biar pun baru berlatih silat dua tahun lamanya, namun berkat bimbingan dua orang yang mempunyai kepandaian tinggi, Yo Wan sudah memperoleh kemajuan lumayan. Gerak-geriknya gesit, nafasnya panjang, daya tahan tubuhnya luar biasa dan dia sudah kuat bersemedhi sampai setengah malam lamanya. Hebat dan luar biasa bagi seorang anak laki-laki yang belum sembilan tahun usianya!

Yo Wan memang seorang anak yang berhati teguh dan memiliki ketekadan hati yang besar. Memang tadinya dia merasa kesunyian, begitu dia tiba di pondok suhu-nya dan melihat betapa tempat itu kosong, sekosong hatinya, dia terduduk di atas bangku depan pondok dan termenung.

Ketika matanya terasa panas oleh desakan air mata, dia lantas menggigit bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepala, melawan perasaannya sendiri. Akibat gerakan kepala ini, dua titik air mata yang tadinya menempel di bulu matanya, meluncur turun melalui pipi, terus ke ujung kanan kiri bibir. Dia mengecapnya. Rasa asin air matanya membuat dia sadar.

"Heh, kenapa menangis? Cengeng! Sejak dahulu kau sudah yatim piatu, kau si jaka lola (anak laki-laki yatim piatu), hidup di dunia seorang diri, mengapa bersedih hati ditinggal suhu dan subo? Ihhh, kalau subo melihatmu, kau tentu akan ditampar!”

A Wan tertawa kepada diri sendiri, tertawa bahagia karena teringat dia betapa selama dia berada di sini, belum pernah dia dibentak Kun Hong apa lagi ditampar Hui Kauw. Kedua orang itu amat baik kepadanya.

Mereka orang-orang mulia, maka aku tidak boleh mengganggu mereka. Harus kupelihara baik-baik tempat ini, kelak bila mana mereka kembali, tempat ini tetap bersih dan terjaga! Setelah berpikir demikian, anak ini bangkit dan lari berloncatan ke ladangnya. Mukanya sudah jernih kembali dan dia tertawa-tawa melihat burung-burung terkejut beterbangan oleh loncatannya itu.

Yo Wan selalu teringat akan nasehat suhu-nya. la amat tekun berlatih ilmu silat. Karena gurunya lebih mementingkan dasar ilmu silat, maka selama ini dia tidak banyak diajarkan ilmu pukulan, lebih diutamakan pelajaran pernafasan, semedhi dan mengatur jalan darah untuk menghimpun kemurnian hawa di dalam tubuhnya. Juga ilmu meringankan tubuh diajarkan lebih dahulu oleh subo-nya, karena hal ini amat perlu baginya untuk naik turun puncak.

Sebelum turun gunung suhu-nya mengajarkan ilmu langkah yang terdiri dari empat puluh satu langkah. Langkah-langkah ini merupakan perubahan-perubahan dalam kuda-kuda yang jika dilatih terus-menerus, selain dapat mempertinggi kegesitan dan memperkokoh kedudukan, juga dapat memperkuat tubuh, terutama kedua kaki.

Suhu-nya hanya memberi tahu bahwa langkah-langkah ini dapat dilatih terus-menerus sampai belasan tahun, makin terlatih semakin baik dan kelak akan hebat kegunaannya. Kun Hong hanya memberi tahu bahwa langkah-langkah ini diberi nama Si-cap-it Sin-po (Empat puluh Satu Langkah Sakti).

Tentu saja Yo Wan sama sekali tidak pernah mimpi bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah ajaib yang gerakan-gerakannya mencakup seluruh inti sari dari gerakan ilmu silat karena biar pun jurusnya hanya empat puluh satu, tetapi kalau dijalankan dan susunan jurusnya diubah-ubah, merupakan gerak jurus yang tak terhitung banyaknya!

Dua tahun sudah Yo Wan hidup seorang diri di puncak Liong-thouw-san. Tekun bekerja dan berlatih. Setiap hari dia mengharap-harapkan kedatangan suhu dan subo-nya, tetapi pengharapannya sia-sia belaka.

Setelah lewat tiga tahun, belum juga kedua orang yang dikasihinya itu pulang. Ingin dia menyusul ke Hoa-san karena sudah amat kangen, akan tetapi dia takut kalau-kalau dua orang itu akan menganggapnya kurang setia menanti.

Dia menanti terus, empat tahun, lima tahun! Waktu berjalan sangat pesatnya, tanpa dia rasakan, lima tahun sudah dia hidup menyendiri di tempat sunyi itu. Dan kedua orang yang dinanti-nantinya belum juga pulang!

"Sudah sangat lama aku menunggu, mengapa mereka belum juga pulang?" Yo Wan termenung duduk di atas bangku depan pondok. Bukan bangku lima tahun yang lalu.

Sudah ada lima kali dia mengganti bangku itu dengan bangku baru buatannya sendiri. Sudah penuh tiang pondok itu dengan guratan-guratannya. Setiap bulan purnama dia tentu menggurat di tiang. Tadi dihitungnya guratan-guratannya itu, sudah lebih dari enam puluh gurat!

"Besok aku menyusul ke Hoa-san," demikian dia mengambil keputusan karena sudah tidak kuat menanggung rindunya lagi.

Malam itu dia sibuk menambal pakaiannya yang robek-robek. Selama lima tahun ini, dia dapat mencari ganti pakaian ke dusun di bawah gunung dengan jalan menukarkan hasil ladangnya berupa sayur-sayuran segar yang tak mungkin bisa tumbuh di bawah puncak. Dasar watak Yo Wan sangat polos, jujur dan tidak serakah, dia hanya memilih pakaian sekedarnya saja, bersahaja asal kuat. Yang membuat dia kesal menanti lebih lama lagi, sesungguhnya adalah kalau dia teringat akan pelajaran ilmu silatnya.

Enam puluh bulan lebih dia ditinggal gurunya, hanya ditinggali ilmu langkah yang sudah dia latih tiap hari sampai dia menjadi bosan. Padahal dia bercita-cita untuk mempelajari ilmu silat tinggi dari suhu-nya karena dia masih ingat betul akan musuh besarnya, musuh besar yang menyebabkan kematian ibunya yang tercinta, The Sun! Muka orang ini masih selalu terbayang di depan matanya.

Dia mendengar dari gurunya bahwa The Sun mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Sekarang dia hanya diberi pelajaran langkah-langkah yang aneh, bagaimana mungkin dia dapat membalas kematian ibunya pada musuh besar yang lihai itu kalau dia hanya pandai melangkah? la ingin menyusul untuk mohon diberi pelajaran ilmu silat berikutnya, untuk menjadi bekal mencari musuh besar yang sudah menyebabkan kematian ibunya yang mengerikan itu.

Masih terbayang di depan matanya betapa pada saat dia masih kecil, dia melihat ibunya menggantung diri, dengan susah payah dia tolong, akan tetapi ibunya tak tertolong lagi. Masih bergema di telinganya akan pesan ibunya, agar supaya dia memenuhi dua buah permintaan ibunya, dua buah tugas yang selama hidupnya pelaksanaannya harus dia usahakan, yaitu pertama membalas budi kebaikan Kwa Kun Hong Pendekar Buta, kedua membalas dendam kepada The Sun!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yo Wan telah menutup pintu depan pondok dan berjalan ke luar halaman. Pada punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian dan dia pun melangkah lebar menuju ke jurang di mana terdapat tangga tali itu. Sebelum kakinya melangkah ke tangga, dia memandang sekeliling seakan-akan merasa kasihan kepada puncak yang akan ditinggalkan.

Tiga batang pohon cemara di depan pondok itu kini sudah besar, dia yang menanam semenjak suhu dan subo-nya pergi. Tadinya dia ingin sekali melihat suhu dan subo-nya memuji dan girang melihat tiga batang pohon yang indah itu, bahkan dia sudah memberi ‘nama’ pada tiga batang pohon itu, yaitu nama suhu-nya, nama subo-nya dan namanya sendiri!

Setelah menarik nafas panjang, Yo Wan kemudian melangkah dan menuruni tangga tali dengan kecepatan yang amat luar biasa, seakan-akan dia melorot saja tanpa melangkah turun. Setibanya di bawah, dia berlari-lari menuju ke jembatan pertama yang melintasi sebuah jurang lebar.

Tiba-tiba dia mendengar suara aneh sekali, suara mendesis-desis keras bercampur aduk dengan suara melengking tinggi. Suara itu datang dari seberang jurang pertama. Cepat dia lalu meloncat ke atas tambang dan berlari-lari menyeberang.

Melihat bocah tiga belas tahun ini menyeberang dan jalan di atas tambang, benar-benar membuat orang terheran-heran dan ngeri. Jurang itu dalamnya tidak dapat diukur lagi. Tambang itu sama sekali tak bergerak ketika dia berlari di atasnya, dan hebatnya, anak ini berlari seenaknya saja, sama sekali tidak melihat ke bawah lagi seakan-akan kedua kakinya sudah terlalu hafal dan dapat menginjak dengan tepat.

Setelah meloncat di atas tanah seberang, Yo Wan dapat melihat apa yang menimbulkan suara aneh itu. Kiranya dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh.

Seorang di antaranya, yang berdesis-desis, adalah seorang lelaki yang tinggi kurus dan kulitnya hitam. Rambutnya yang keriting itu terbungkus sorban kuning, telinganya pakai anting-anting hitam, juga pada dua pergelangan memakai sepasang gelang hitam yang tampak ketika tangannya bergerak dan keluar dari lengan baju yang lebar.

Orang asing yang aneh bukan main. Usianya kurang lebih lima puluh tahun. Tangannya memegang cambuk kecil panjang dan agaknya cambuk inilah yang menimbulkan suara mendesis-desis aneh itu ketika digerakkan berputar-putar di udara.

Di depan orang bersorban ini tampak seorang kakek yang sudah tua sekali, kakek yang agak bongkok, yang kadang-kadang terkekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking tinggi rendah menggetarkan lembah dan jurang. Kakek tua ini pun bergerak-gerak, tetapi tidak bersenjata, melainkan tubuhnya yang bergerak-gerak dengan tangan menuding dan menampar ke depan.

Yo Wan berdiri bengong. Walau pun dia murid seorang sakti seperti Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta, tapi selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan orang bertanding. Apa lagi kalau yang bertempur itu dua orang tingkat tinggi yang mempergunakan cara bertempur yang begini aneh, seperti dua orang badut sedang berlagak di panggung saja. la masih menduga-duga, apakah yang dilakukan oleh dua orang itu, karena biar pun dia menduga mereka sedang bertempur, namun dia masih ragu-ragu.

Tiba-tiba pandang matanya kabur dan cepat dia menutup telinganya yang terasa perih ketika lengking itu semakin meninggi dan desis semakin nyaring. Matanya dibuka lebar, namun tetap saja dia tidak dapat mengikuti gerakan mereka yang kini menjadi semakin cepat. Beberapa menit kemudian, gerakan dua orang aneh itu begitu cepatnya sehingga tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Yo Wan yang hanya dapat melihat gulungan sinar yang berkelebatan.

Tiba-tiba sinar itu seperti pecah, gulungan sinar lenyap dan dia melihat kedua orang itu rebah telentang, terpisahkan jarak antara sepuluh meter. Keduanya terengah-engah dan terdengar mereka merintih perlahan.

"Bhewakala, kau hebat sekali..." Kakek tua itu berseru sambil ketawa terkekeh di antara rintihannya.

"Sin-eng-cu (Garuda Sakti), kau tua-tua merica, makin tua makin kuat...," terdengar orang asing bersorban itu pun memuji dengan suara terengah-engah dan nada suaranya kaku dan lucu.

Melihat kedua orang itu tak dapat bangun kembali, Yo Wan mengerti bahwa keduanya terluka. Dia cepat berlari menghampiri, keluar dari tempat persembunyiannya karena tadi dia mengintai dari balik batu gunung yang besar.

Tentu saja dia mengenal kakek itu. Sin-eng-cu Lui Bok, paman guru dari suhu-nya, yang dahulu membawa dirinya ke puncak Liong-thouw-san dan yang kemudian pergi merantau membawa kim-tiauw (rajawali emas) bersamanya.

"Susiok-couw... (Kakek Paman Guru)!" serunya sambil meloncat mendekati.

Akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok sudah tidak bergerak-gerak lagi, bahkan nafasnya sudah empas empis, tinggal satu-satu saja. Yo Wan kaget dan bingung, diguncang-guncangnya tubuh kakek itu, namun tetap tidak dapat menyadarkannya.

Alangkah kagetnya pada saat dia mengguncang-guncang ini, dia melihat muka kakek itu agak biru dan tubuh bagian depan, dari leher sampai ke perut, terluka dengan guratan memanjang yang menghancurkan pakaiannya. Selagi dia dalam keadaan bingung sekali, dia mendengar di belakangnya suara orang mengaduh-aduh.

Cepat dia bangkit dan membalik. Dilihatnya orang itu pun sedang mengerang kesakitan. Suaranya begitu mendatangkan rasa iba, maka tanpa ragu-ragu lagi Yo Wan lalu cepat menghampirinya dan berlutut di dekatnya.

Orang itu bermuka hitam. Matanya lebar, dilihat dari jauh tadi amat menakutkan, tetapi setelah dekat, sepasang mata yang agak biru itu ternyata mengandung sinar yang amat menyenangkan.

Tanpa diminta, Yo Wan kemudian membantu orang itu bangkit dan duduk. Terpaksa dia merangkul pundak orang asing ini karena begitu dilepas segera akan terguling kembali. Dia begitu lemas. Orang asing itu mengedip-ngedipkan matanya, melirik ke arah tubuh Sin-eng-cu, lalu memandang kepada Yo Wan.

"Dia susiok-couw-mu? Jadi, kau ini murid Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta?" Suaranya amat lemah, nafasnya terengah-engah.

Agak sukar bagi Yo Wan untuk dapat menangkap arti kata-kata yang kaku dan asing itu. Namun dia seorang bocah yang cerdik, maka dapat dia merangkai kata-kata itu menjadi kalimat yang berarti.

Yo Wan mengangguk, lantas menjawab lantang, "Betul Locianpwe (Orang Tua Gagah). Kenapa Locianpwe bertempur dengan susiok-couw? Ia terluka hebat, apakah Locianpwe juga terluka?"

Sejenak orang asing itu memandang tajam. Yo Wan merasa betapa sinar mata dari mata yang kebiruan itu seakan-akan menembus jantungnya dan menjenguk isi hatinya.

Kemudian suara orang itu terdengar makin kaku dan agak keras, "Kau murid Kwa Kun Hong? Kau melihat kami bertempur? Mengapa kau sekarang menolongku? Mengapa kau tidak segera menolong susiok-couw-mu yang pingsan itu?"

Diberondongi pertanyaan-pertanyaan ini, Yo Wan tidak menjadi gugup, karena memang dia tidak mempunyai maksud hati yang bukan-bukan. Semua yang dia lakukan adalah suatu kewajaran, tidak dibuat-buat dan tidak mengandung maksud lain kecuali menolong. Maka tenang saja dia menjawab,

"Sudah saya lihat keadaan susiok-couw. Dia terluka dari leher ke perut, dia tak bergerak lagi, saya tidak tahu bagaimana saya harus menolongnya. Karena Locianpwe saya lihat dapat bergerak dan bicara, maka saya membantu Locianpwe sehingga nanti Locianpwe dapat membantu saya untuk menolong susiok-couw."

Sepasang mata itu masih menyorotkan sinar bengis. "Kau tadi melihat kami bertempur?"

Yo Wan mengangguk. Tangan kanannya masih merangkul pundak orang asing itu dari belakang, menjaganya agar jangan roboh terlentang.

"Jadi kau tahu bahwa aku adalah musuh susiok-couw-mu, juga musuh gurumu?"

Yo Wan menggeleng kepala, pandang matanya penuh kejujuran.

"Apa bila kami saling serang, tentu berarti kami saling bermusuhan. Mengapa kau tidak membantu susiok-couw-mu, malah menolong aku? Hayo jawab, apa maksudmu? Aku musuh susiok-couw-mu, aku datang untuk memusuhi gurumu. Nah, kau mau apa?"

Yo Wan mengerutkan kening. Orang asing ini kasar sekali, akan tetapi kekasarannya itu mungkin disebabkan bahasanya yang kaku.

"Locianpwe, saya belum tahu urusannya, bagaimana saya berani turut campur? Suhu selalu berpesan agar supaya saya menjauhkan diri dari permusuhan-permusuhan, agar supaya saya jangan lancang mencampuri urusan orang lain, dan agar saya selalu siap menolong siapa saja yang patut ditolong, tanpa memandang bulu, tanpa pamrih untuk mendapat jasa. Saya lihat susiok-couw tak bergerak lagi, dan saya tidak tahu bagaimana harus menolongnya, maka saya segera membantu Locianpwe."

Sinar mata yang mengeras sekarang menjadi lunak kembali. Kumis di atas bibir itu sedkit bergerak-gerak. "Wah, suhu-mu hebat! Kau patut menjadi muridnya. Mana dia suhu-mu? Mengapa sampai sekarang dia belum muncul?"

"Suhu tidak berada di sini, Locianpwe. Sudah lima tahun suhu pergi dari sini, ke Hoa-san. Yang berada di sini hanya saya seorang diri."

Mata yang kebiruan itu melotot, wajah itu berubah agak pucat. "Celaka benar...! Heee, Sin-eng-cu, celaka! Kwa Kun Hong tidak berada di sini!"

Yo Wan menoleh dan melihat susiok-couw-nya bergerak-gerak hendak bangkit, namun sukar sekali dan mengeluh panjang. "Maaf, Locianpwe, saya harus menolongnya."

Orang asing itu mengangguk dan sekarang dia sudah bersila, kuat duduk sendiri. Yo Wan melepas rangkulannya kemudian tergesa-gesa menghampiri Sin-eng-cu Lui Bok. Ia cepat merangkul dan membangunkannya.

Nafas kakek ini terengah-engah dan dia terkekeh senang melihat Yo Wan. "Wah, engkau kan bocah yang dulu itu? Kau masih di sini? Aku lupa lagi, siapa namamu?"

"Teecu (murid) Yo Wan, Susiok-couw..."

"Ha-ha-ha, kau terus menjadi murid Kun Hong? Selama tujuh tahun ini? Sin-eng-cu, kita akan mampus di sini. Pendekar Buta ternyata tidak berada di sini lagi."

Sin-eng-cu Lui Bok menggerakkan alisnya yang sudah putih. "Apa?" la memandang Yo Wan. "Mana gurumu?"

"Susiok-couw, suhu dan subo telah pergi semenjak lima tahun yang lalu, mereka pergi ke Hoa-san meninggalkan teecu seorang diri di sini. Tadi teecu sedang turun dari puncak untuk menyusul karena sudah terlalu lama suhu dan subo pergi."

"Lima tahun? Wah-wah, guru macam apa dia itu? Eh, Yo Wan, jadi kau hanya untuk dua tahun saja menjadi muridnya? Ha-ha-ha, kutanggung kau belum becus apa-apa. Murid Pendekar Buta yang sudah belajar tujuh tahun belum becus apa-apa. Ha-ha-ha, bukan main!" Orang asing itu mencela dan mengejek.

Namun Sin-eng-cu tidak mempedulikannya. "Yo Wan, apakah suhu-mu pernah mengajar ilmu pengobatan kepadamu selama dua tahun itu?"

Yo Wan menggeleng kepalanya dan lagi-lagi orang asing itu yang mengeluarkan suara mengejek, "Sin-eng-cu, kau sudah terlalu tua, maka menjadi pikun. Lima tahun yang lalu anak ini paling-paling baru berusia delapan tahun. Dari usia enam sampai delapan tahun, mana bisa belajar ilmu pengobatan? He, tua bangka, umurmu hampir dua kali umurku. Apakah kau takut mampus? Tidak usah takut, ada aku yang akan menemanimu ke alam halus."

Akan tetapi Sin-eng-cu sudah bersila dan diam saja, kakek ini sudah bersemedhi untuk menyalurkan hawa sakti di dalam tubuh untuk mengobati lukanya. Dalam hal ini Yo Wan mengerti maka ia pun lalu mundur dan membiarkan kakek itu tanpa berani mengganggu. Pada waktu dia menoleh, orang asing yang tadinya bicara sambil bergurau itu pun sudah meramkan mata bersemedhi.

Yo Wan pernah mendengar keterangan suhu-nya bahwa dengan hawa murni di dalam tubuh yang sudah terlatih dengan semedhi, orang tidak hanya dapat memperkuat tubuh, namun juga dapat mencegah atau mengobati luka-luka sebelah dalam. Maka dia maklum bahwa dua orang aneh ini sedang mengobati luka masing-masing, karena itu dia pun lalu duduk bersila, menanti dengan sabar.

Para pembaca cerita ‘Pendekar Buta’ tentu mengenal dua orang ini. Dua orang tokoh besar yang sakti. Sin-eng-cu Lui Bok adalah orang aneh yang suka merantau, dia adalah sute (adik seperguruan) dari Bu Beng Cu, mendiang guru Kwa Kun Hong.

Tujuh tahun yang lampau dia meninggalkan puncak Liong-thouw-san ini, pergi merantau dengan burung rajawali emas menuju ke utara. Kakek yang aneh ini merantau ke bagian paling utara dari dunia, menjelajahi daerah-daerah bersalju dan di tempat itulah burung rajawali emas yang sudah sangat tua itu menemui ajalnya, tidak kuat menahan serangan salju yang dingin sekali.

Pada waktu kakek ini kembali ke Liong-thouw-san, di tempat ini dia berjumpa dengan Bhewakala. Orang asing ini adalah seorang pendeta yang sakti pula, seorang tokoh dari barat, seorang pertapa di puncak Anapurna di Pegunungan Himalaya. Ia adalah seorang pendeta bangsa Nepal yang banyak melakukan perantauan di Tiongkok.

Tujuh tahun yang lalu dia pernah bertanding melawan Kwa Kun Hong dan dikalahkan. Akan tetapi karena melihat sifat-sifat baik dari pendeta ini, Kun Hong tidak membunuhnya dan Bhewakala yang sangat kagum terhadap Kun Hong ini berniat akan belajar lagi dan kelak mencari Kun Hong untuk diajak mengadu ilmu.

Keduanya adalah orang-orang sakti yang berwatak aneh. Begitu bertemu, mereka tidak mau saling mengalah dan keduanya setuju untuk mengadu ilmu di sana. Mereka adalah orang-orang yang selain sakti, juga mempunyai pribudi yang baik. Tentu saja mereka tak bermaksud mengadu ilmu dengan taruhan nyawa.

Akan tetapi setelah bertempur dengan hebat dari tengah malam sampai pagi, belum juga ada yang kalah atau menang. Akhirnya mereka setuju untuk mengeluarkan senjata dan menggunakan pukulan-pukulan yang dapat mendatangkan luka hebat.

"Takut apa dengan luka hebat?" kata Bhewakala ketika Sin-eng-cu menolak. "Bukankah Pendekar Buta berada di sini? Kalau seorang di antara kita terluka, dia pasti akan dapat menyembuhkan."

Memang, di samping kepandaiannya yang amat tinggi, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga sangat terkenal akan kepandaiannya mengobati. Dengan jaminan inilah Sin-eng-cu akhirnya menerima tantangan Bhewakala dan bertempurlah mereka dengan lebih hebat lagi karena kini Bhewakala menggunakan cambuknya yang beracun, ada pun Sin-eng-cu mempergunakan pukulan-pukulan maut.

Seperti telah diketahui akibatnya, Sin-eng-cu terluka oleh cambuk, sebaliknya Bhewakala juga terkena pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali. Keduanya rebah, tapi tidak putus asa karena mereka yakin bahwa Kun Hong akan dapat mengobati mereka. Di samping penasaran mereka merasa lega, bahwa keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang!

Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ! Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masing-masing cukup maklum bahwa luka yang diakibatkan oleh masing-masing pukulan itu tak mungkin dapat diobati jika tidak oleh Kun Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan.

Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk menjaga supaya luka itu tidak menjalar lebih hebat. Setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner