JAKA LOLA : JILID-03


Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu. Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti. Tiba-tiba awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin. Pakaian Yo Wan basah semua, juga pakaian dan tubuh dua orang aneh itu.

Namun, Bhewakala dan Sin-eng-cu tetap duduk bersila bagaikan patung, tidak bergerak-gerak. Berkali-kali Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orang itu sudah menjadi mayat, pikirnya. Akan tetapi tiap kali dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi.

Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun telah terusir habis. Dua orang itu membuka mata dan menarik nafas panjang. Malah keduanya saling pandang.

"Bagaimana, Sin-eng-cu?" Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar.

"Hebat pukulan cambukmu, Bhewakala. Racun dapat kuhalau atau setidaknya kucegah untuk menjalar, akan tetapi pukulanmu merusak pusat. Karena Kun Hong tidak berada di sini, maka tamatlah sudah riwayatku sebagai seorang ahli silat. Setiap kali aku mencoba mengerahkan Iweekang untuk mengeluarkan tenaga, pusarku malah terpukul dan kalau terus kupaksa, tentu aku akan mampus. Kau hebat! Dan bagaimana denganmu?"

Bhewakala menggeleng kepala. "Kau pun luar biasa. Pukulanmu meremukkan tulang iga. Hal ini masih tidak mengapa, tetapi menggetarkan pusat pengendalian tenaga Kundalini. Karena itu, tenagaku musnah dan mungkin akan dapat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa artinya bagi seorang seperti aku?"

Kini keduanya merasa amat menyesal, namun sudah terlambat. Ketika mereka menoleh dan melihat bahwa Yo Wan masih bersila tak jauh dari situ, mereka tercengang.

"Kau masih berada di sini?" Sin-eng-cu bertanya kaget.

Yo Wan mengangguk dan menghampiri kakek itu.

"Ha-ha-ha, Sin-eng-cu, bocah ini hebatl Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar Buta. Ha-ha-ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, sudah menyia-nyiakan anak orang begini rupa. Sin-eng-cu, kau menjadi saksi, selama hidup ini aku tidak suka menerima murid, akan tetapi kali ini aku ingin sekali meninggalkan inti sari kepandaianku kepada anak ini sebelum aku mampus."

Sin-eng-cu mengangguk-anggukkan kepala. "Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih kepada Bhewakala Locianpwe, untungmu baik sekali."

Yo Wan cepat berlutut di depan Bhewakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap, "Saya menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mulia dan kasih sayang Locianpwe terhadap saya, tetapi saya tidak berani menerima menjadi murid Locianpwe karena saya adalah muridnya suhu. Bagaimana saya berani mengangkat guru lain tanpa perkenan suhu?"

"Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, ada aku di sini yang menjadi saksi!" kata Sin-eng-cu Lui Bok.

"Ha-ha-ha, anak baik, anak baik. Ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak murka dan tamak! Ehh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?"

Yo Wan menggigit bibir, matanya dimeramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata. Pertanyaan yang tiba-tiba itu merupakan ujung pedang yang menusuk ulu hatinya. Sampai lama dia tidak menjawab, kemudian dia membuka mata dan berkata perlahan, "Saya yatim piatu, Locianpwe..."

Kedua orang tua itu saling pandang, diam tak bersuara. Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit getir, perasaan mereka sudah kebal. Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di tempat sunyi itu bergulung dengan mega, tak ber-ayah ibu pula, benar-benar mereka merasa kasihan.

"Yo Wan, aku pun tidak bermaksud mengambil murid kepadamu, melainkan hanya ingin meninggalkan atau mewariskan kepandaianku saja. Gurumu tentu tak akan marah."

"Mohon maaf sebesarnya, Locianpwe. Saya cukup maklum bahwa Locianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya memilikinya. Akan tetapi, tanpa perkenan suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah tuan penolong saya dan mendiang ibu saya, suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Locianpwe maklum..."

Suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya tergantung pada bulu matanya. Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap air mata itu.

Tiba-tiba Sin-eng-cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata, "Hee! Bhewakala pendeta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana dapat dibandingkan dengan kau yang meski pun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat, kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu. Ingat, aku tua bangka belum kalah!"

"Huh, tua bangka tak tahu diri. Apa kau kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir untuk mencari penentuan!"

Bhewakala bangkit berdiri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba menjadi bongkok dan dia meringis, menahan sakit. Juga Sin-eng-cu tertatih-tatih bangkit berdiri, akan tetapi dia juga tidak sanggup berdiri tegak, kedua kakinya menggigil seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi tubuh bawahnya.

Yo Wan bingung dan gugup bukan main. "Susiok-couw... Locianpwe... ji-wi (Kalian) telah terluka hebat, bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap ji-wi sudahi saja pertempuran ini...!" Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai.

"Ha-ha-ha, cucuku. Orang-orang macam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya kurang, malah sudah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tidak mungkin dapat bertempur lagi, akan tetapi kami belum dapat menentukan siapa lebih unggul. He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu ilmu?"

"Boleh!" jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan. "Bila belum ada yang kalah menang, tentu penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan."

"Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!"

"Majulah kalau kau masih kuat melangkah!" tantang Bhewakala.

"Ho-ho-ho, sombongnya si pendeta koplok! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun tidak sanggup maju selangkah pun? Ha-ha-ha-ha, tertiup angin pun kau akan roboh. Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan. Ada Yo Wan di sini, apa gunanya?"

Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedip. "Ha-ha-ha, engkau benar, tua bangkotan. Di sini ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu."

"Yo Wan, cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid pendeta koplok ini! Kalau kau tadi mau menerimanya, aku yang tidak sudi, tidak memperbolehkan. Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua tak akan dapat mati meram."

Yo Wan cepat berlutut di depan kakek itu. "Susiok-couw, tak usah diperintah, teecu tentu bersedia menolong Ji-wi. Katakanlah, apa yang harus teecu lakukan?"

Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-eng-cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling memberi isyarat dengan kedipan mata.

"Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak. Sanggupkah kau?"

"Teecu akan mencobanya." Ia menghampiri Sin-eng-cu dan berkata, "Maaf, teecu akan menggendong Susiok-couw."

Anak ini membungkuk di depan Sin-eng-cu, jongkok membelakanginya. Sin-eng-cu tidak sungkan-sungkan pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya. Anak ini sendiri merasa sangat heran, karena tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong kakek itu.

la terkejut dan diam-diam merasa girang sekali serta memuji kehebatan Susiok-couw ini, karena dia merasa yakin bahwa kakeknya ini tentu menggunakan ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat tubuhnya menjadi demikian ringannya! Dengan langkah lebar serta gerakan cepat dia lalu menyeberangi jurang melalui dua tambang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak.

"Harap Susiok-couw beristirahat di sini lebih dulu, teecu akan menggendong Bhewakala Locianpwe ke sini."

"Yo Wan, apakah suhu-mu sudah mengajarkan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas) kepadamu?" tiba-tiba saja kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pondok itu.

Yo Wan berhenti, membalikkan tubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala digelengkan. Pertanyaan itu tak ada artinya bagi dirinya, tetapi mengingatkan dia akan burung rajawali emas yang dahulu pergi bersama kakek ini, maka dia cepat bertanya,

"Susiok-couw, kenapa kim-tiauw (rajawali emas) tak ikut pulang bersama Susiok-couw?"

"la sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di utara, dia sudah mati dan kukubur dalam tumpukan salju."

Yo Wan merasa menyesal sekali sehingga untuk semenit dia diam saja termenung. Dia kemudian teringat kembali akan tugasnya.

"Teecu pergi dulu, hendak menjemput Bhewakala Locianpwe."

"Pergilah, akan tetapi kau harus waspada, siapa tahu pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan membunuhmu, ha-ha-ha!"

Yo Wan terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menuruni puncak itu dan menyeberangi jurang pertama. Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila. Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo Wan.

"Kau sudah kembali?"

Yo Wan mengangguk, lalu membelakangi pendeta itu sambil berjongkok.

"Harap Locianpwe suka membonceng di punggung saya, tapi saya harap Locianpwe sudi menggunakan kepandaian ginkang seperti Susiok-couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggendong Locianpwe."

Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya. Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia menjadi girang dan kagum. Ternyata pendeta ini pun amat sakti, ginkang-nya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi dari pada susiok-couw-nya juga terasa ringan, hanya sedikit lebih berat dari pada tubuh kakek tadi. Ia mulai melangkah maju setengah berlari ke depan.

"Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kau kenal?" tiba-tiba pendeta Nepal itu bertanya.

"Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat siapa dia, hanya harus dilihat apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya. Locianpwe sedang terluka, perlu beristirahat, dan saya mampu membawa Locianpwe ke puncak untuk beristirahat di pondok kediaman suhu, mengapa saya tidak mau menolong Locianpwe?"

Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat betapa bocah ini dapat menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika menjawab pertanyaannya, nafasnya tidak memburu, kelihatan enak saja.

Ketika ia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut. Bocah itu menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, kadang-kadang berlarian di atas tumit, kadang-kadang dengan kaki miring!

"He, kau menggunakan langkah apa ini?" tak tertahan lagi Bhewakala bertanya nyaring.

Yo Wan menjadi merah mukanya. Karena selama lima tahun itu siang malam dia berlatih langkah-langkah Si-cap-it Sin-po, maka setiap kali berlari tanpa disengaja kedua kakinya melakukan gerak langkah-langkah itu secara otomatis!

"Bukan apa-apa, Locianpwe, saya berlari biasa," jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa.

Seperti juga dengan susiok-couw-nya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi pendeta Nepal ini tidak mau.

"Turunkan saja aku di luar sini. Aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat hebat dan indah ini."

Yo Wan menurunkan pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewakala duduk bersila di situ dengan wajah berseri gembira.

"Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!" terdengar teriakan Sin-eng-cu dari dalam pondok.

Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian kakek tua itu sudah digendongnya keluar. Sin-eng-cu minta diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya. Dia pun bersila di atas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala.

"Sin-eng-cu, cucu muridmu ini benar-benar hebat, membuat aku gembira sekali!" berkata Bhewakala.

"Betapa tidak? Kalau tidak hebat berarti dia bukan cucu muridku!" Sin-eng-cu menjawab dengan nada suara bangga.

Yo Wan menjadi heran dan merasa malu. Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biar pun sudah terluka hebat masih mampu mengerahkan ginkang sehingga tubuh mereka begitu ringannya ketika dia membawa mereka mendaki tangga tali tadi. Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat?

Anak ini sama sekali tidak tahu bahwa kedua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmu untuk membuat tubuh mereka ringan. Hal ini tidak mungkin, apa lagi mereka terluka hebat sehingga tidak mampu menggunakan ilmu-ilmu mereka yang berhubungan dengan kekuatan di dalam tubuh.

Yang membuat dia merasa ringan pada waktu menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan yang terkandung di dalam tubuhnya sendiri. la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga serta kegesitan, di samping itu dia pun dengan amat tekun berlatih semedhi dan pernafasan. Hawa murni dalam tubuhnya sudah terkumpul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar luar biasa yang membuat dia dapat menggendong kakek-kakek itu secara mudah!

"Yo Wan, kau tadi sudah berjanji hendak menolong kami dua orang-orang tua. Apakah kau betul-betul suka menolong?" tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah.

"Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai ada keputusan siapa yang lebih unggul."

Yo Wan membungkuk, "Susiok-couw, teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi teecu hanya seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?"

"Mudah saja asal kau mau menolong. He, Bhewakala pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat buah kamar, cukup untuk kita seorang sekamar. Kita lanjutkan adu ilmu. Kau tinggallah di kamar kiri, aku di kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain. Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Beritahukan jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas menyerang dengan jurus istimewa. Dua jurus itu kuberitahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya padamu. Kau harus dapat memecahkan jurusku dan boleh balas menyerang. Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus mengakui keunggulan lawan. Bagaimana?"

"Setuju! Itulah yang kukehendaki. Hayo mulai sekarang juga!"

"Yo Wan, kau mendengar perjanjian kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong, hanya menjadi perantara begitu?"

Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun. Apa lagi dia kurang pengalaman, semenjak kecil selalu berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi kelihaian otak dua orang sakti ini?

Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggulan dalam ilmu silat, juga mereka ingin sekali menurunkan ilmu kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah menaklukkan hati dan cinta kasih mereka itu.

Yo Wan malah menganggap mereka berdua adalah kakek-kakek yang lucu dan aneh. Masak ada orang melanjutkan adu ilmu seperti itu? Seperti main-main saja. Keduanya sudah terluka tetapi masih tidak mau terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya.

"Kalau kau keberatan pun tidak apa," sambung Sin-eng-cu, "kami bisa merangkak turun saling menghampiri, lalu saling cekik sampai mampus di sini!" sambil berkata demikian, Sin-eng-cu mengedipkan mata kepada Bhewakala.

"Jangan kira kau akan dapat mencekik leherku, Sin-eng-cu tua bangka bangkotan. Lebih dulu jari-jariku akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong?” Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan mengedipkan mata pula.

"Jangan...! Harap ji-wi jangan berkelahi lagi. Baiklah, saya bersedia mentaati permintaan ji-wi, menjadi perantara. Akan tetapi saya harap ji-wi betul-betul menghentikan adu ilmu ini apa bila seorang di antara ji-wi ada yang tidak sanggup memecahkan sebuah jurus. Sekarang harap ji-wi sudi menanti sebentar, saya hendak menyediakan makanan."

Tanpa menanti jawaban mereka, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, kemudian membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur serta ubi kentang. Pandai dia memasak setelah berlatih selama lima tahun ini, dan di situ pun tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari penduduk dusun dengan hasil ladangnya.

Di luar, tanpa sepengetahuan Yo Wan, dua orang kakek itu berunding. Karena mereka amat suka kepada Yo Wan dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacad akibat pertandingan semalam, agaknya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada di situ, maka mereka mengambil keputusan untuk menurunkan semua ilmu-ilmu mereka yang paling lihai kepada Yo Wan.

"Jangan kau terlalu bernafsu merobohkan aku," kata Sin-eng-cu, "Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang pernah kita mainkan malam tadi sehingga masing-masing tentu sudah mengenalnya dan mampu memecahkannya. Setelah itu, barulah kita bertanding secara sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus baru yang harus dapat dipecahkan."

Bhewakala menyetujui usul kakek bekas lawannya ini. Sesudah masakan sayur-mayur matang dan dihidangkan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap. Kemudian dua orang sakti itu minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan yang aneh ini.

Mula-mula dia harus menghafal dan menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala. Oleh karena jurus ini harus digunakan untuk menyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya dengan baik.

Pada hari-hari pertama, amat sukar bagi anak ini untuk dapat menghafal dan memainkan jurus-jurus itu, karena jurus yang diturunkan itu adalah jurus ilmu silat tingkat tinggi yang sukarnya bukan main. Andai kata dia belum pernah diberi dasar Ilmu Si-cap-it Sin-po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung inti sari dari semua jenis langkah dalam persilatan, agaknya anak ini tak mungkin sanggup melakukan gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini.

Jurus pertama yang diturunkan Bhewakala baru dapat dia lakukan setelah latihan selama dua minggu! Memang amat mengherankan bagi yang tidak tahu, akan tetapi jika diingat syarat-syaratnya, memang berat. Dalam setiap gerakan pada jurus ini, imbangan tubuh harus tepat bahkan keluar masuknya nafas juga harus disesuaikan dengan setiap gerak!

Biar pun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, namun mengingat sukarnya jurus ini, dia mengira bahwa Sin-eng-cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya.

Jari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata, kemudian diteruskan dengan siku kanan menghantam jalan darah di bawah telinga, dibarengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok arah kemaluan, akhirnya dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak terakhir. Sebuah jurus yang ‘berisi’ lima gerak serangan berbahaya! Bhewakala menamakan jurus ini Ngo-houw Lauw-yo (Lima Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus dari ilmu silat ciptaannya yang paling lihai pada saat dia bertapa di Gunung Himalaya, yaitu ilmu silat yang dinamainya Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti).

Akan tetapi alangkah herannya ketika Sin-eng-cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan kakek ini dengan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan di depanku? Wah, terlalu gampang untuk memecahkannya!"

Yo Wan hanya memandang dengan kagum. Diam-diam dia pun girang karena ternyata susiok-couw-nya ini tak kalah lihainya oleh Bhewakala. Sudah tentu saja dalam adu ilmu yang luar biasa ini sedikit banyak dia berpihak kepada Sin-eng-cu dan mengharapkan kemenangan bagi kakek ini, karena betapa pun juga kakek ini adalah paman guru dari suhu-nya.

"Awas, dengarkan dan lihat baik-baik gerak tanganku. Sekaligus aku akan patahkan daya serang jurus cakar bebek ini." Dengan gerak tangan dan keterangan yang lambat serta jelas Sin-eng-cu mengajarkan jurusnya.

"Menghadapi serangan seorang berilmu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan dan semakin tersembunyi gerak pancingan ini akan lebih baik. Gerak pertama menyerang anggota tubuh bagian atas tidak perlu dihadapi dengan perhatian sepenuhnya, akan tetapi harus dielakkan sambil menunggu munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti. Serangan tangan kanan ke arah mata dan leher, kita hadapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata beserta serangan siku kanan akan lewat di atas kepala. Serangan pukulan tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan apa bila dia berani menggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah sambungan lutut. Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-han Pai-hud (Kakek Menyembah Buddha)."

Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apa lagi karena segera disusul jurus kedua yang merupakan serangan balasan dari Sin-eng-cu, yaitu jurus yang dinamakan Liong-thouw Coan-po (Kepala Naga Terjang Ombak). Kedua buah jurus ini merupakan jurus-jurus dari ilmu silat ciptaan kakek ini yang dia beri nama Liong-thouw-kun (ilmu Silat Kepala Naga) atau ilmu silat dari Liong-thouw-san tempat dia bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruannya, Bu Beng Cu.

Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari. Ia bangga sekali terhadap kakek itu dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi ketika Liong-thouw Coan-po. Eh, kembali dia tercengang dan kecewa karena pendeta Nepal ini terkekeh-kekeh, memandang rendah sekali jurus serangan balasan Sin-eng-cu ini.

"Uwa-ha-ha-ha…! Tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini bisa menggertak aku. Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan jurus seranganku yang kedua, dia pasti akan mati kutu!" Kakek pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi.

Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua silih-berganti. Pada mulanya memang setiap jurus harus dia pelajari sampai hafal dan baru dapat dia mainkan setelah tekun mempelajarinya sampai beberapa hari, apa lagi jurus-jurus yang dikeluarkan kedua orang sakti itu makin lama makin sukar. Akan tetapi setelah lewat tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu satu hari saja!

Yo Wan tidak hanya harus menghafal dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua orang sakti itu, namun karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima latihan siulian (semedhi), pernafasan serta cara menghimpun tenaga dalam tubuh.

"Tanpa mempelajari Iweekang dahulu, tak mungkin kau mainkan jurus ini," demikian kata Bhewakala.

Karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo Wan tak membantah dan mempelajari Iweekang yang aneh dari kakek Nepal ini. Begitu pula, dengan alasan yang sama, Sin-eng-cu juga menurunkan latihan Iweekang yang lain. Untuk latihan ini Yo Wan mengalami kelancaran karena Iweekang dari kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari suhu-nya.

Tanpa terasa lagi, tiga tahun sudah lewat! Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari Bhewakala yang berjumlah lima puluh jurus itu sudah dia mainkan semua. Demikian pula Liong-thouw-kun dari Sin-eng-cu Lui Bok yang jumlahnya empat puluh delapan jurus.

Bukan ini saja. Dengan alasan bahwa ilmu pukulan tangan kosong tak dapat menentukan kemenangan, Bhewakala lalu menurunkan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang. Karena ilmu pedang ini pun berdasar pada Ngo-sin Hoan-kun, maka tidak sukar bagi Yo Wan untuk menghafal dan memainkannya. Sebagai imbangannya, Sin-eng-cu juga menurunkan ilmu pedangnya.

Pada bulan kedua dari tahun ketiga, Sin-eng-cu yang keadaannya sudah sangat payah saking tuanya dan juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya amat dirahasiakan.

"Yo Wan... Bhewakala memang hebat. Tapi coba kau perlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah. Jurus ini dinamakan Pek-hong Ci-tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang belum pernah kupergunakan dalam pertandingan karena amat ganas. Coba... bantu aku berdiri, jurus ini harus kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya. Ke sinikan pedangmu..."

Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, pedang dari kayu cendana yang sengaja dibuat untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu kakek yang sudah tua renta itu bangkit berdiri.

Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu. Selama tiga tahun ini sudah sering kali dia membujuk-bujuk kedua orang kakek itu untuk menghentikan adu ilmu, namun sia-sia belaka. Namun sebenarnya, di balik semua itu, dia pun mulai merasa senang sekali dengan pelajaran jurus-jurus itu.

"Nah, kau lihat baik-baik..."

Kakek itu menggerakkan pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram dari atas. Memang gerakan yang amat hebat dan dahsyat. Bahkan kakek yang sudah kehabisan tenaga itu, ketika mainkan jurus tersebut kelihatan menyeramkan. Terdengar suara bercuitan dari pedang kayu dan tangan kirinya, kemudian... kakek itu roboh terguling.

"Susiok-couw...!" Yo Wan cepat menyambar tubuh kakek itu dan membantunya duduk sambil menempelkan dua telapak tangannya pada punggung kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai dengan ajaran Sin-eng-cu.

"Sudah... eh, sudah baik... uh-uh-uh... tua bangka tak becus aku ini... Yo Wan, sudahkah kau dapat mengerti jurus tadi?"

Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak kakek ini. Seperti biasa setelah kakek itu duduk bersila, dia mengambil pedang kayu dan mainkan jurus tadi. Suara bercuitan lebih nyaring terdengar, dan kakek itu berseru gembira, tapi nafasnya terengah-engah.

"Bagus, bagus…! Nah, kalau sekali ini pendeta koplok itu sanggup memecahkan jurusku Pek-hong Ci-tiam, dia benar-benar patut kau puja sebagai gurumu!"

Dengan nafas terengah-engah kakek itu lalu melambaikan tangannya, mengusir Yo Wan keluar dari kamar itu untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya.

Dengan hati sedih karena ketika meraba punggung tadi dia tahu bahwa keadaan kakek itu sangat payah, Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala. Keadaan pendeta Nepal ini tidak lebih baik dari pada Sin-eng-cu Lui Bok. Dia pun amat payah karena selain kekuatan tubuhnya makin mundur akibat luka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo Wan.

Ketika Yo Wan memasuki kamarnya dan mainkan jurus Pek-hong Ci-tiam, dia terkejut sekali. Sampai lama dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengeluh.

"Hebat... Sin-eng-cu Lui Bok hendak mengadu nyawa..."

Akan tetapi selanjutnya dia termenung. Dua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara perlahan seorang diri, mengerutkan kening dan akhirnya menggelengkan kepala seakan-akan pemecahannya tidak tepat. la memberi isyarat dengan tangan agar Yo Wan keluar dari kamarnya. Pemuda ini lalu mengundurkan diri dan masuk ke kamar sendiri karena waktu itu malam sudah agak larut.

Menjelang fajar, Yo Wan kaget mendengar suara Bhewakala memanggil namanya. la bangun dan cepat menuju ke kamar pendeta itu. Pintu kamarnya terbuka dan pendeta itu duduk di atas pembaringan. Cepat dia maju menghampiri.

"Yo Wan, jurus Sin-eng-cu ini hebat! Aku tidak dapat menangkis atau mengelaknya...," katanya dengan suara lesu.

Diam-diam Yo Wan menjadi girang. Akhirnya Sin-eng-cu yang menang, seperti yang dia harapkan. "Kalau begitu, Locianpwe menyerah...," katanya perlahan.

Mata yang lebar itu melotot. "Siapa yang menyerah? Karena Sin-eng-cu ingin mengadu nyawa, apa kau kira aku tidak berani? Jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau pun kuhindarkan, akan tetapi dapat kuhadapi dengan jurusku yang istimewa pula. Mungkin aku akan mati oleh jurusnya, tapi dia pun pasti mampus bila melanjutkan serangannya. Kau lihat baik-baik!"

Bhewakala kemudian mengajar Yo Wan sebuah jurus sebagai imbangan dari Pek-hong Ci-tiam. Kemudian pendeta itu menyuruh Yo Wan memainkan cambuk dengan jurus itu. Hebat bukan main jurus ini. Cambuk itu melingkar-lingkar di udara kemudian melejit ke empat penjuru dengan suara nyaring sekali.

"Tar-tar-tar-tar!" Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke arah pusar lawan.

"Cukup! Lekas kau perlihatkan kepada Sin-eng-cu," kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan gerakan Yo Wan.

Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala dan memasuki kamar Sin-eng-cu. Waktu itu matahari telah naik agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar kakek ini masih saja menyala.

"Susiok-couw, Locianpwe Bhewakala tidak dapat memecahkan Pek-hong Ci-tiam, akan tetapi menghadapi jurus itu dengan jurus serangan pula, seperti ini," kata Yo Wan sambil memainkan cambuk yang memang sengaja dibawanya ke dalam kamar itu. Cambuknya melejit-lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu.

Akan tetapi setelah dia berhenti mainkan jurus ini, Sin-eng-cu tidak memberi komentar apa-apa. Kakek itu tetap duduk bersila dengan tangan kanan terkepal di atas pangkuan, telentang, serta tangan kiri diangkat ke depan dada, jari-jari tengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar.

"Susiok-couw, bagaimana sekarang...?" Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut.

"Susiok-couw...!" la berseru agak keras sambil berdongak memandang.

Kakek itu masih duduk bersila dengan mata meram. Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini, berubah air mukanya. Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kembali tangannya. Kepalan itu dingin sekali. Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan. Kakeknya itu seperti orang tidur tanpa bernafas.

"Susiok-couw...!"

Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. "Dia sudah mati. Ahhh, Sin-eng-cu, kau benar-benar hebat. Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku. Aku mengaku kalah!"

Yo Wan menoleh dengan sangat heran. Bhewakala sudah berdiri di situ dan walau pun kelihatannya masih amat lemah, kiranya pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar kedatangannya.

Akan tetapi Yo Wan segera menghadapi Sin-eng-cu lagi, berlutut sambil memberi hormat sebagaimana layaknya dan berkata, "Harap Susiok-couw sudi mengampuni teecu yang tidak bisa menolong Susiok-couw yang terluka sehingga hari ini Susiok-couw meninggal dunia." la tidak dapat menangis karena memang dia tidak ingin menangis.

"Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati hanya karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga dalam karena pusat pengerahan sinkang di tubuh kami rusak akibat pukulan. Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati juga, kematian wajar dari usia tua."

Bhewakala maju menghampiri kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba pendeta Nepal ini memeluknya.

"Sin-eng-cu, tua bangka... terima kasih. Belum pernah selama hidup aku merasa begitu senang dan gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu ilmu ini. Kau sangat hebat, sahabatku, kau hebat. Jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat kumainkan di depanmu..."

Pendeta ini lalu membaringkan tubuh Sin-eng-cu. Tangan dan kaki kakek itu sudah kaku, namun begitu disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, bagian-bagian tubuh kakek itu segera lemas kembali sehingga dapat ditelentangkan. Kemudian pendeta hitam ini berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran. Memang pendeta hitam ini seorang yang aneh dan luar biasa, pikirnya.

“Yo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta, akan tetapi tidak pernah menerima warisan ilmu silatnya kecuali pelajaran langkah-langkah yang tak ada artinya dalam menghadapi lawan. Kau bukan murid kami, namun kau sudah mewarisi inti sari dari ilmu silat kami berdua. Memang lucu. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau sebagai murid tunggalku dan selalu menanti kunjunganmu ke Anapurna di Himalaya. Selamat tinggal, muridku."

Setelah berkata demikian, Bhewakala berjalan ke luar dari pondok itu. Wajahnya muram seakan-akan kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-eng-cu.

Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya sangat kesunyian. Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi sudah pergi. Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu. Namun dia segera dapat menguasai perasaannya. la bukan kanak-kanak lagi.

Ketika suhu dan subo-nya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih. Sekarang dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan oleh Sin-eng-cu beberapa hari yang lalu. Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-eng-cu yang menghitungnya.

Seorang jejaka, Jaka Lola. Tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak-kadang. Di dunia ini hanya ada suhu serta subo-nya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan tahun tanpa berita.

Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-eng-cu di belakang pondok. la tidak tahu bagaimana harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di sekeliling kuburan. la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian besarnya, tidak tahu pula bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati beratnya!

"Aku harus pergi menyusul suhu dan subo ke Hoa-san." Inilah pikiran yang pertama-tama memasuki kepalanya.

Teringat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-san tiga tahun yang lalu, dia kini merasa menyesal sekali. Mengapa dia dahulu tidak jadi menyusul? Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-san, tentu saat ini dia sudah berada bersama suhu dan subo-nya.

Akan tetapi, dia teringat lagi betapa dua orang kakek yang mengadu ilmu itu membuat dia betah, malah selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada suhu dan subo-nya. Juga membuat dia tak pernah meninggalkan puncak karena dua orang itu melarangnya. Biar pun bumbu-bumbu habis, mereka tidak membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhewakala menyuruh dia mengambil bermacam-macam daun di puncak yang ternyata dapat mengganti bumbu dapur.

Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak. Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh pendeta itu digulungnya melingkari pinggangnya, tersembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan tidak karuan potongannya. Juga pedang kayu buatan Sin-eng-cu yang dipakainya untuk bermain jurus di depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang.

Berangkatlah Yo Wan si Jaka Lola meninggalkan puncak Liong-thouw-san, berangkat dengan hati lapang dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali dengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu suhu dan subo-nya. la tidak sadar sama sekali, betapa dirinya telah mengalami perubahan hebat berkat latihan Iweekang menurut ajaran Sin-eng-cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain mempunyai tenaga sinkang yang hebat juga sudah memiliki berbagai ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang!

Ketika penduduk sekitar kaki gunung yang sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka segera menegur dan mempersilakan dia singgah. Mereka menyatakan rasa penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga tahun ini bersembunyi saja. Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan.

Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih. Ia sendiri tak ingin suhu dan subo-nya marah dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel. Segera dia menukar pakaiannya dan kini biar pun pakaiannya sederhana dan terbuat dari kain kasar, tetapi cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada tambalan menghiasnya…..

********************

Yo Wan melakukan perjalanan seperti seorang yang linglung. Dia laksana seekor anak burung yang baru saja belajar terbang meninggalkan sarangnya. Semenjak usia delapan tahun, dunianya hanya puncak Bukit Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung. Meski pun di waktu kecilnya dia pernah melihat kota dan tempat-tempat ramai, akan tetapi selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gunung.

Dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia bagai orang dusun yang amat bodoh. Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya. Melihat banyak orang membuat dia bingung. Apa lagi ilmu membaca dan menulis. Dia adalah seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku!

Tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah. Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup. Meski masih muda, jiwanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir kehidupan, membuatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah.

Tidak sukar baginya untuk mengatasi kekurangannya dalam perjalanan. Kadang-kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari. Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan. Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum melakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan pekerjaan lain untuk membalas budi. Kadang kala ada orang dusun atau kota yang mau menerima bantuan tenaganya untuk ditukar dengan makan sehari itu.

Dengan cara begitu Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san. Dia berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri dari keributan, dan tidak pernah dia memperlihatkan kepada siapa pun juga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi.

Yo Wan sendiri sebenarnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari dari kepandaian dua orang kakek berilmu, sungguh pun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain. Oleh karena ini maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan membalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu dengan suhu-nya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya itu.

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-san. Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gunung itu, sebuah gunung tinggi yang hijau, tidak liar seperti Liong-thouw-san. Membayangkan pertemuan dengan suhu dan subo-nya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya agak lama termenung di situ dengan jantung berdebar-debar.

Betapa pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di hatinya, rasa bahwa dia merupakan seorang tamu di Hoa-san. Suhu dan subo-nya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri? Berpikir begitu, timbullah kegetiran. Mengapa suhu-nya membiarkan dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali?

Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan tahun lamanya, dan membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi. Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas diri mereka?

Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Tidak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw sampai di Hoa-san, Hui Kauw melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasa di Hoa-san. Oleh kakeknya, anak itu diberi nama Kwa Swan Bu.

Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjulukan Kui Sanjin, seorang tokoh Hoa-san-pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) merupakan sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai yang paling tinggi. Kedua suami isteri ini memimpin Hoa-san-pai, dibantu oleh suheng-nya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya. Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui Sanjin dan mereka sendiri tekun bertapa.

Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong bersama isterinya, tentu saja sangat menggirangkan hati kedua orang tua ini, apa lagi sesudah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami isteri tua ini pun menjadi sempurna. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang memiliki keturunan laki-laki, kecuali Kwa Kun Hong seorang.

Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu dan sudah menikah dengan Tan Sin Lee, putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai. Juga Kui Sanjin hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, yaitu putera lain lagi dari Raja Pedang Tan Beng San.

Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan Pendekar Buta.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner