JAKA LOLA : JILID-04


Karena tidak ada keturunan laki-laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan hati Kakek Kwa. Thian Beng Tosu dan Kui Sanjin ketua Hoa-san-pai juga amat girang. Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liong-thouw-san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar.

Sangatlah tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi di puncak bukit dengan kedua orang tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya.

“Dia akan tumbuh besar dalam kesunyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa-san-pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong. Oleh karena itu sebaiknya kau membiarkan puteramu tinggal di sini pula. Di sini merupakan keluarga Hoa-san-pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkanlah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu."

Hal inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san. Kun Hong kemudian berunding dengan isterinya tentang Yo Wan. Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa tentu Yo Wan akan menyusul ke Hoa-san.

"Bukankah dulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu dua tahun kita belum pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran."

Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san.

"Jangan-jangan ada sesuatu terjadi di sana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.

"Atau dia memang tak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya agak berkerut.

Diam-diam ia merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya. Seorang murid harus mentaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik. "Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi murid kita, kalau tidak, terserah kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri."

Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini telah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san. Sama sekali mereka tidak menyangka bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari itu, orang muda tampan sederhana yang sedang berdiri termenung di kaki Gunung Hoa-san adalah Yo Wan.

Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san. Alangkah jauh bedanya dengan Liong-thouw-san. Gunung ini benar-benar terawat. Tak ada bagian yang liar. Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang. Sawah ladang terpelihara, ditanami dengan sayur-mayur dan pohon obat. Malah dibangun pula jalan yang cukup lebar, memudahkan orang naik mendaki gunung.

Terdengar derap kaki kuda dari sebelah kanan, diiringi suara ketawa yang amat nyaring, ketawa kanak-kanak. Yo Wan mengangkat kepala memandang ke sebelah kanan dan dia menjadi kagum sekali.

Ada tiga orang penunggang kuda. Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat. Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, tapi penunggang yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda lainnya.

Penunggang kuda ini adalah seorang anak laki-laki yang usianya kelihatannya belum ada sepuluh tahun. Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutupi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara.

Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gendewa dan beberapa batang anak panah. Dua orang yang mengiringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti tosu dan terlihat sangat mencinta anak itu.

"Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!"

"Swan Bu... jangan...! Itu bukan burung walet...!" Salah seorang di antara kedua tosu itu mencegah.

Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kuda dengan kedua kakinya yang kecil. Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan. Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, kemudian menarik tali gendewa.

Terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya. Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah sudah menembus dadanya. Burung kecil berbulu kuning amat cantik.

Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai burung itu. Tiba-tiba saja berkelebat bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil sudah mendahului dirinya, menyambar bangkai burung itu.

Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Ehh, kau mau mencuri burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya. Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?"

Yo Wan tertegun. Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa. Kedua matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati. la tahu bahwa dirinya berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai. Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata.

“Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..."

Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri. “Swan Bu, kau terlalu. Ilmu memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau ayah bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu.

“Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu? Jika tidak berlatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang ini mencurigakan sekali, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri.”

Dua orang tosu itu memandang Yo Wan. Tosu kedua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah? Agaknya kau bukan orang sini .. ehhh, apakah kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-san? Dua hari yang lalu kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda..."

Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar. "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerjaan, aku pun mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari."

Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-san-pai ini, mendadak hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhu-nya. Bukankah suhu-nya itu putera Hoa-san-pai dan sekarang sedang mondok di situ? Bagai mana seandainya orang-orang Hoa-san-pai memandang rendah padanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta?

Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah ‘mengaku’ sebagai murid gurunya agar tidak merendahkan nama gurunya. Dengan pekerjaan ini, dia ingin melihat gelagat, melihat dulu suasana di Hoa-san-pai sebelum mengambil keputusan untuk menghadap suhu-nya.

"Baik, kau boleh bekerja menjadi pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga akan diberi pakaian dan upah. Ehh, siapa namamu? Di mana rumahmu?"

"Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak punya rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baik.”

“Bekerjalah dengan baik, dan ketua kami tentu akan menaruh kasihan padamu. Jangan sekali-kali suka mencuri, apa lagi melarikan kuda," kata tosu kedua.

"Susiok, mengapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku pasti akan merobohkannya!"

"Hushh, Swan Bu, jangan bicara begitu...”

"Aku paling benci penjahat, Susiok, setiap kali aku melihat penjahat, pasti akan kupanah mampus. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini."

Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan. Heran sekali dia mendengar omongan seorang anak kecil seperti itu. Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri.

"Swan Bu kita pulang berlari sambil melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu. "Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan. A Wan, kau tuntun tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan." Setelah berkata demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian mengajak tosu kedua dan Swan Bu untuk berlari cepat.

Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung. Memang tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak. la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu.

Ada pun Yo Wan melihat mereka berlari-lari cepat sambil memegangi kendali tiga ekor kuda itu. Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiga ekor kuda itu mendaki gunung.

Sambil berjalan perlahan dia bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan bocah yang bernama Swan Bu itu. Bocah tampan dan bersemangat, mempunyai dasar watak yang gagah dan pembenci penjahat, akan tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan.

Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat hati Yo Wan makin terasa tidak enak lagi. Dia merasa bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja.

Heran dia mengapa suhu-nya yang jujur dan budiman, subo-nya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhu-nya adalah putera ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subo-nya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran.

Yo Wan menarik nafas. Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pakaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri.

Betapa pun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih remaja dan kurang sekali pengalaman, kurang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar. Iri karena dia tidak pernah merasakan bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua. la pun teringat akan keadaan sendiri, seorang jaka lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini. Alangkah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.

Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba terdengar derap kaki-kaki kuda dari belakang dan disusul bentakan nyaring, "Minggir...! Minggir...!!" Lalu terdengar bunyi cambuk di udara.

Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu terkejut dan dapat menuntun ketiga ekor kuda itu ke pinggir. Akan tetapi bentakan nyaring ini seakan-akan menyeretnya secara tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia kaget dan tidak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan melonjak ke tengah jalan.

Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor lagi telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di tengah jalan. Pada saat itu, dua orang penunggang kuda sudah datang membalap dekat sekali. Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan menubruk ke arah seorang di antara penunggang-penunggang kuda itu.

"Setan...!" Penunggang kuda yang ditubruk itu memaki.

Dia adalah seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap. Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.

"Krakkk!"

Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang hingga patah. Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi.

"Wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau sudah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang kedua, usianya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tambalan seperti orang pertama.

"Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!"

Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan.

Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu sekarang telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan. Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, tetapi sudah terjadi hal seperti ini. Karena kaget dan bingung, dia segera berkata,

"Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku!”

Si kumis tersenyum. "Bocah, ketahuilah. Aku dan suheng-ku ini adalah dua orang utusan dari Sin-tung Kaipang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda merupakan urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut."

"Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak. "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku. Kau harus mengganti kuda ini!"

Muka si kumis menjadi merah. la heran sekali. Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap hormat bila mana mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Sin-tung Kaipang. Akan tetapi bocah ini, tentunya hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak menghormat, malah agak kasar sikap dan bicaranya.

"Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-san-pai?" tanya si kumis.

"Memang kuda Hoa-san-pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru. Bagaimana aku harus pulang kalau kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus mengganti kudaku!" Sambil berkata demikian, Yo Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua orang itu akan melarikan diri.

Si kumis menjadi makin merah mukanya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang kacung kuda saja. Seorang kacung kuda bagaimana berani bersikap sekasar itu terhadap dia, anak murid Sin-tung Kaipang yang sudah bersepatu baru?

Di perkumpulan pengemis ini terdapat peraturan yang aneh. Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu. Yang terendah tidak memakai apa-apa, yang lebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi semakin baik, mulai sandal kayu sampai sepatu kulit yang mengkilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang kuda ini. Maklumlah, mereka berdua adalah murid-murid dari ketua Sin-tung Kaipang, karena itu kepandaiannya sudah sangat tinggi, demikian juga ‘pangkatnya’ karena memakai sepatu baru.

"Hemmm, bujang rendah! Kau hanya tukang kuda, banyak cerewet. Urusan seekor kuda saja kau ribut-ribut! Minggir! Biarlah nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-san-pai tentang kuda ini, kau boleh pulang ke kandangmu!"

"Betul kata-kata Sute-ku, bocah tukang kuda, jangan kau takut. Urusan kuda ini biar nanti kami bicarakan dengan majikanmu," sambung orang kedua yang rambut putih.

"Tidak!" Yo Wan membantah karena dia takut dua orang ini akan mengadu kepada ketua Hoa-san-pai dan membalikkan duduk perkaranya sehingga dia yang akan dipersalahkan. "Kau harus ganti sekarang juga!"

"Bujang rendah, kau buka matamu baik-baik dan lihat dengan siapa kau bicara!" bentak si kumis, marah sekali.

"Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang pengemis aneh."

Kedua orang itu tertawa. Memang aneh orang-orang dari Sin-tung Kaipang. Kalau orang lain menyebut mereka pengemis, hal itu berarti suatu penghormatan bagi mereka! Inilah sebabnya mereka menjadi senang mendengar Yo Wan menyebut mereka pengemis aneh dan hal ini mereka anggap bahwa Yo Wan menyadari siapa mereka dan takut.

"Bocah! Kau lihat sepatu kami!"

Yo Wan mendongkol sekali. Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga ke arah sepatu mereka. "Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!" jawabnya.

"Ha-ha-ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!" Si kumis tertawa senang. "Hayo kau bersihkan debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena kelalaianmu menuntun kuda."

Yo Wan menegakkan kepalanya, memandang tajam. "Harap kalian tidak main-main. Aku pun tidak ingin main-main dengan kalian. Lebih baik sekarang kalian tinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan."

“Apa...?!" Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah. "Kau ini kacung kuda tapi berani bicara begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan yang terhormat dari Sin-tung Kaipang, tahu? Minggir dan jangan banyak cerewet kalau kau tak ingin mampus seperti kuda itu!"

Yo Wan adalah seorang yang mempunyai watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya semenjak kecil. Dia suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapa pun juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas. Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu, kesabarannya patah.

"Biar kalian utusan dari Giam-lo-ong (Malaikat Maut) sekali pun, karena kau membunuh kudaku, kau harus menggantinya!"

Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya. Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah seorang bujang Hoa-san-pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa-san-pai, tentu sekali pukul mereka akan membikin mampus bocah ini.

"Sute, jangan layani dia. Dorong minggir!"

Si kumis tertawa sambil melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya mendorong pundak pemuda itu sambil membentak, "Tidurlah dekat bangkai kudamu!"

la menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo Wan, hanya ingin membuat kacung itu terjengkang dekat bangkai kuda tadi. Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.

Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga dorongannya bertemu dengan pundak yang kokoh dan kuat seperti batu karang. Jangankan membuat kacung itu roboh, membuat pundak itu bergoyang sedikit saja tidak mampu!

"Kau ganti kudaku yang mati!” kata Yo Wan tanpa bergerak.

Si kumis terheran, penasaran, lalu timbul kemarahannya. "Kau kepala batu!" bentaknya dan kini dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.

Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apa lagi sekarang yang didorong adalah dadanya. Tak mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini amat berbahaya.

Selama tiga tahun, terus-menerus siang malam dia bermain silat menurut petunjuk dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, ilmu silat tingkat tinggi yang membuat ilmu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya. Seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara otomatis, karena memang demikianlah kehendak dua orang sakti itu.

Sekarang, menghadapi dorongan dua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po, yang dia warisi dari Pendekar Buta. Ketika tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke punggung dan pantat.

Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu ‘melayang’ ke depan dan memeluk bangkai kuda yang tadi ditendangnya!

"Bukkk! Uh-uhhh..."

Si kumis terbanting pada bangkai kuda. Oleh karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening.

Temannya yang berambut putih sejenak berdiri melongo. Hampir saja dia tidak dapat percaya bahwa sute-nya begitu mudah dirobohkan oleh seorang kacung kuda! Padahal dia maklum bahwa ilmu kepandaian sute-nya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacung seperti ini saja tidak mungkin kalah. Tapi mengapa sampai hidungnya mengeluarkan kecap?

"Kau berani melawan kami?" bentaknya marah setelah sadar kembali dari keheranannya.

Sambil membentak begitu pengemis rambut putih ini menerjang maju. la memukul ke arah muka Yo Wan dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang sesungguhnya dan tersembunyi di balik serangan pertama yang merupakan pancingan. Maksudnya hanyalah ingin membanting roboh Yo Wan sebagai pembalasan atas kekalahan temannya tadi karena dia masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-san-pai.

Yo Wan tersenyum. Sesudah melatih dirinya dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara berganti-ganti dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, di mana kedua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang penuh tipu muslihat, penuh pancingan dan amat tinggi tingkatnya, jurus yang dipergunakan oleh si rambut putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.

Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum pengemis itu bergerak! Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya mendahului digerakkan ke depan menyambut tangan kanan kakek pengemis yang hendak membantingnya, lalu dipegangnya pergelangan tangan itu dan sekali tekan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh.

Pada lain saat, tubuh pengemis berambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan... menimpa tubuh pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun. Tentu saja dia roboh lagi dan keduanya bergulingan di dekat bangkai kuda!

"Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan seekor kuda untuk mengganti yang mati," kata Yo Wan menyesal.

Dia sama sekali tidak ingin berkelahi. Dia takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah suhu-nya.

"Bila mana kau merasa rugi, boleh kau bawa bangkai kuda itu. Aku tidak mau mencari perkara.”

Akan tetapi kedua orang pengemis itu sudah memuncak kemarahannya. Mereka adalah murid-murid yang terkenal dari ketua Sin-tung Kaipang, maka apa yang baru terjadi tadi merupakan penghinaan besar yang hanya bisa dicuci dengan darah dan nyawa! Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam itu. Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?

"Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!" bentak si kumis.

Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya. Memang keistimewaan para anak murid Sin-tung Kaipang ialah pada permainan golok.

Ketuanya terkenal dengan ilmu tongkatnya, maka perkumpulan pengemis itu dinamakan Sin-tung (Tongkat Sakti). Akan tetapi agaknya si ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan anggotanya. Malah sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah yang dipelajari oleh semua murid dan anggota Sin-tung Kaipang.

Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, dia memainkan langkah ajaib dan... dua orang pengemis itu seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang. Pada saat mereka membalik dan menerjang kembali, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang siku kanan mereka terkena sentilan jari tangan Yo Wan.

Seketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahankan lagi. Sebelum mereka tahu apa yang barusan terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mereka melayang karena kaki Yo Wan otomatis telah mengirim dua buah tendangan.

"Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi. Ganti saja kudaku dan perkara ini habis sampai di sini saja,” kembali Yo Wan berkata.

Akan tetapi dua orang pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakutan sehingga tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua kemudian merangkak bangun dan... lari turun gunung!

Yo Wan berdiri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran. Kemudian dia mengangkat pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu. Kini ada empat ekor kuda di tangannya. Kuda-kuda itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk mengubur bangkai kuda tadi. Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.

Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju puncak itu berliku-liku mengelilingi puncak. Memang, satu-satunya cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berliku-liku seperti itu sehingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.

Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat mendaki dengan melalui jalan yang lurus dan dapat cepat sampai di puncak. Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apa lagi sambil menuntun empat ekor kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih. Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang mengelilingi Hoa-san-pai yang berupa kelompok bangunan besar di puncak.

Seorang tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan, "Apakah kau tukang kuda baru?"

Yo Wan mengangguk. "Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang. Dapatkah kau menunjukkan di mana adanya kandang kuda?"

Tosu itu kelihatan kurang senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan sama sekali itu. Betul-betul seorang anak muda dusun yang amat bodoh, pikirnya.

"Kandang kuda berada di luar tembok sebelah barat. Kau kelilingi saja tembok ini terus ke barat, nanti akan sampai di sana," jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang berpeluh dan amat lapar itu.

Yo Wan memandang ke arah barat. Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda, terbuat dari papan dan kayu sederhana. Tanpa mengucap terima kasih karena dianggapnya tanya jawab itu sudah semestinya, dia pun pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya.

Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah. Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya bundar dan matanya seperti dua buah kelereng.

"Ha-ha-ha, ada tukang kuda baru!” serunya. "Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu hitam? Dan ini ada empat ekor, ehh, bagaimana ini, Bong-suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?" Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan Bu?"

"Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana," berkata Yo Wan sambil menyusut peluh dengan ujung lengan baju.

la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus. Semenjak kemarin ia tidak makan, dan tadi ia tidak berani berhenti untuk mencari buah atau air. Kini ia pun masih menghadapi urusan kuda dan tentu akan mendapat marah lagi.

Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya semakin bundar, memandangnya dengan bingung dan heran. "Kau kubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kau pendam kuda itu?"

Yo Wan mengangguk, "Benar, karena dia mati." la berhenti sebentar kemudian berkata, "Lopek, aku lapar dan haus, apa kau bisa menolong aku?"

Tosu itu mengangguk-angguk, masih kebingungan. "Ah, tentu... tentu... tunggu sebentar. Aneh, bagaimana kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..." Namun dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel panjang pendek, dan pada waktu keluar lagi membawa bungkusan makanan dan sekaleng air minum.

Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya. Tosu itu memandangnya penuh kasihan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan. Berbeda dengan ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat-lambat dan tenang. Melihat tosu itu memandangnya, Yo Wan bercerita sambil makan.

"Kuda hitam dibunuh orang, Lopek. Untungnya mereka berdua itu lari meninggalkan dua ekor kuda mereka ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan."

Tosu itu mendengarkan dengan melongo. "Kuda itu dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main gila di Hoa san?

"Mereka mengaku utusan-utusan dari Sin-tung Kaipang. Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak mau terima. Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini."

Tosu itu melebarkan matanya. "Sin-tung Kaipang? Dan mereka mengalah? Hemmm, kau masih untung, orang muda. Mereka itu jahat. Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-san-pai, kiranya bukan hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi."

Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu. Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara-gara dengan pembunuh kuda.

"Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu. Dia tampan dan pandai main panah. Siapakah dia? Apakah putera Ketua Hoa-san-pai?"

Tosu itu menggeleng kepala. "Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-san. Memang Swan Bu tampan dan gagah. Ahhh, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh orang... hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini kepadanya, …anak malang..."

Hemmm, benar-benar orang Hoa-san-pai amat memanjakan anak itu.

“Lopek, kalau dia bukan putera Ketua Hoa-san-pai, apakah dia itu anak raja yang sedang bermain-main di sini?"

Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Putera raja? Ha-ha-ha, sama sekali bukan, akan tetapi memang dia patut menjadi putera raja! Dia itu adalah cucu tunggal dari Kwa-lo-sukong, jadi masih terhitung keponakan dari ketua kami yang sekarang.”

Berdebar jantung Yo Wan. Cucu guru besar she Kwa? Suhu-nya juga she Kwa!

“Lopek, dia itu anak siapakah? Aku belum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali tidak jelas.”

Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.

"Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa-san-pai yang nomor satu. Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, ibunya juga mempunyai kepandaian setinggi langlt. Ada pun kakeknya adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, bekas ketua Hoa-san-pai, pamannya adalah Kui Sanjin (Orang Gunung she Kui) yang sekarang menjadi ketua kami. Paman-paman gurunya adalah orang-orang sakti yang bersama-sama menggemblengnya, bukankah dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?"

Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat. Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera suhu-nya! Pantas saja demikian gagah dan tampan.

Ahhh, aku kurang hati-hati, pikirnya. Dia anak suhu, dan diam-diam dia merasa bangga juga. Akan tetapi dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.

"Malam sudah tiba... ehh, siapa namamu tadi?"

"A Wan, Lopek."

"A Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini. Rumput masih cukup di sudut kandang sana, kau beri makan mereka dulu, lalu kau boleh tidur. Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di kandang kosong sebelah kiri. Beberapa malam ini pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak dari pada tidur di ranjang. Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air. Besok saja pinto ajak kau ke dalam, bertemu dengan para pemimpin. Malam ini kau mengaso saja."

"Baik, terima kasih, Lopek." Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan istirahat untuk memutar otak.

Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Jadi suhu-nya sudah mempunyai putera yang demikian tampan dan gagahnya. Putera itu dididik di Hoa-san-pai. Mungkin saking senangnya mendapatkan putera ini, suhu dan subo-nya sampai lupa kepadanya. Besok dia harus menghadap suhu dan subo-nya.

Tentu saja dia bisa bekerja di situ, menjadi tukang kuda atau apa saja. Akan tetapi... dia ragu-ragu apakah dia akan suka tinggal di sini selamanya. Apakah suhu-nya masih mau menurunkan ilmu silat sesudah mempunyai putera yang amat disayang? Bukankah tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka semua adalah membuat Swan Bu agar menjadi jago nomor satu di dunia?

Mungkin suhu dan subo-nya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman. Akan tetapi apakah para orang tua di Hoa-san-pai akan suka menerimanya?

Pusing pikiran Yo Wan. Betapa pun juga, besok aku akan menghadap suhu dan lihat saja bagaimana perkembangannya. Kalau tidak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan bertanya pada suhu-nya tentang musuh besarnya, The Sun. Akan dicari dan dilawannya dengan apa yang dia miliki sekarang.

Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang. Tadinya dia menganggap bahwa dua orang itu hanyalah dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orang-orang lemah yang hanya bisa mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat yang berarti. Apakah tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan?

Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan. Orang dengan kepandaian serendah itu mana bisa mengganggu orang lain? Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang nyaman ditiduri, Yo Wan masih belum dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.

Memang, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi. la sama sekali tak menyadari bahwa dalam dirinya telah terkandung ilmu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging dengan dirinya. la menganggap dirinya belum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya mengandung inti sari ilmu silat tinggi yang diwariskan oleh Sin-eng-cu dan Bhewakala!

Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai ilmu silat. Baginya, ketika selama tiga tahun dia memainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah ‘belajar’, melainkan hanya menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.

Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering. Telinganya mendengar kuda meringkik dan menyepak-nyepak. Jika saja dia tidak ingat bahwa dia sedang menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda, tentu dia akan tidur lagi. la terlalu lelah.

Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri kandang kuda. Tidak ada sesuatu. Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.

"Ahh, kiranya benar hanya tukang kuda...," terdengar suara lirih, dari atas.

Yo Wan terkejut. Kiranya ada orang di atas kandang kuda. Mendadak dia mendengar sambaran halus dari belakang. Cepat dia miringkan tubuhnya dan…

"Takkk!"

Sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar. Di lain saat, tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar.

Yo Wan kaget bukan main. Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api. Dengan penuh amarah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang. Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada bayangan orang.

Dia menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri. Kembaii dia memasuki kandang kosong, akan tetapi kali ini dia tidak dapat tidur pulas. Agaknya yang datang itu adalah dua orang Sin-tung Kaipang tadi, atau bisa jadi teman-temannya.

Mereka datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang sengaja hendak membakar kandang? Namun mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula melihat apakah dia benar-benar seorang tukang kuda. Benar-benar aneh. Apa artinya ini semua?

Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian penuh tambalan mendaki puncak Hoa-san. Yang berjalan paling depan adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikit pun, namun tubuh itu masih tegak berdiri kaku seperti prajurit bersikap di depan komandannya.

la memegang sebatang tongkat yang aneh. Tongkat ini entah terbuat dari bahan apa, tidak dapat dikenal begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih. Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat dari kulit mengkilap yang warnanya juga macam-macam. Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.

Akan tetapi, jangan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena kakek ini adalah Sin-tung Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai raja pengemis. Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang.

Memang ketua pengemis ini pandai sekali main tongkat. Dia menerima kepandaian ini dari dua orang hwesio pelarian dari Siauw-lim-si yang terkenal dengan julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.

Di kanan kirinya berjalan dua orang pengemis tua yang berusia lima puluh lebih. Salah seorang membawa sebatang pedang tergantung pada pinggang, yang kedua memegang sebatang toya panjang. Kedua orang pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tak sebanyak pada sepatu pangcu itu. Ini menjadi tanda bahwa mereka itu masih setingkat lebih rendah dari pada pangcu mereka. Mereka adalah kedua orang pembantu ketua itu, dan merupakan orang kedua dan ketiga dalam Sin-tung Kaipang.

Di belakang tiga orang tokoh Sin-tung Kaipang ini, nampak berbaris murid-murid mereka bertiga yang jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo Wan. Melihat mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Memang sesungguhnya, delapan belas orang pengemis yang mendaki puncak Hoa-san dengan muka marah ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-tung Kaipang!

Para tosu yang bekerja di luar dan menjaga pintu segera mengenal mereka. Dengan tergesa-gesa para tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam.

Kaget dan heran juga Kui Sanjin, ketua Hoa-san-pai ketika mendengar laporan ini. Cepat dia keluar menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, suheng-nya yaitu Thian Beng Tosu. Bahkan Kwa Kun Hong bersama isterinya, Kwee Hui Kauw, dan puteranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa kehendak rombongan pengemis itu.

Ketua Hoa-san-pai, Kui Sanjin, diam-diam merasa tidak enak perasaannya. Memang ada sesuatu di antara Hoa-san-pai dan Sin-tung Kaipang yang menjadi ganjalan hati. Dimulai dengan bentrokan kecil antara salah seorang anak murid Hoa-san-pai yang pergi ke kota dengan seorang anggota Sin-tung Kaipang.

Seorang pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-san-pai sudah bentrok dengan seorang anggota Hoa-san-pai yang berwatak keras. Si pengemis dipukul roboh, datang banyak pengemis yang mengeroyok sehingga anak murid Hoa-san-pai itu terluka dan lari.

Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh suheng-nya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi menjadi permusuhan antara kedua pihak. Betapa pun juga, diam-diam kedua pihak menaruh ganjalan hati.

Kini ketua Sin-tung Kaipang beserta rombongannya pagi-pagi mendaki puncak Hoa-san, ada keperluan apakah? Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adalah ketuanya sendiri, maka Kui Sanjin sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan terjadi bentrokan yang lebih besar. Sengaja dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan sahabat.

Ketika melihat rombongan tuan rumah ke luar dari pintu gerbang, Sin-tung Kaipangcu memberi tanda kepada rombongannya untuk berhenti. la melihat dua orang kakek yang berpakaian pendeta, seorang wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan juga seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa. Di belakang rombongan ini tampak pula beberapa orang tosu yang mengikuti dari jauh, agaknya bukan anggota-anggota rombongan penyambut.

Ketua pengemis yang sebutannya Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti) berdiri memandang dengan sikap galak dan angkuh. la sama sekali tak gentar biar pun dengan sudut matanya dia lihat betapa puluhan orang tosu kelihatan keluar pula seperti rayap. Malah dia hanya berdiri tegak saja, sama sekali tidak menghormat tuan rumah sebagai mana layaknya seorang tamu.

Melihat sikap seperti ini, Kui Sanjin hanya tersenyum-senyum sabar dan begitu sampai di depan rombongan tamu, dia mengangkat tangan di depan dada sebagai penghormatan. Juga suheng-nya, Thian Beng Tosu, mengangkat kedua tangan memberi hormat.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner