JAKA LOLA : JILID-06


Otomatis Yo Wan membuang diri, lantas bergulingan dan cambuknya berbunyi nyaring ketika bergerak melingkar-lingkar melindungi bagian belakang tubuhnya. Betapa terkejut hatinya pada saat dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi ternyata adalah subo-nya sendiri, Kwee Hui Kauw yang kini telah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.

"Suhu-mu bicara benar, Yo Wan. Ilmu silat kedua orang kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu, tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru. Akan merusak segala-galanya. Kau lihat sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurus-jurus dari kedua orang kakek itu. Ilmu silatmu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami."

Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik perlahan. "Suhu dan Subo... perkenankan teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak apa, asal teecu dapat melayani Suhu berdua..."

Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan perasaan terharu. Hui Kauw menghapus dua butir air matanya dengan sapu tangan.

"Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta padamu. Sama sekali tidak. Semua peristiwa, baik yang terjadi di Liong-thouw-san mau pun di sini, bukan salahmu. Aku mengusirmu turun gunung sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, namun dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri. Kau bukan anak murid Hoa-san-pai, juga tidak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa. Kau harus mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia."

"Apakah Suhu mengira bahwa teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati ibu?"

Kun Hong menghela nafas panjang. "Dendam... balas membalas... tiada habisnya, tidak akan aman dunia ini selamanya. Yo Wan, mengapa kau tidak membalas dendam dengan kasih?"

Yo Wan bingung, tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhu-nya.

"Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian ibu, sudah seharusnya kalau teecu mencarinya dan balas membunuhnya."

"Ha-ha-ha, anak bodoh. Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!"

Yo Wan makin bingung, dia menoleh kepada subo-nya. Nyonya muda itu maklum bahwa suaminya sedang kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatinan, maka ia lalu berkata halus, "Yo Wan ingin mendengar apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Bicara tentang filsafat yang tidak dimengerti olehnya, membuang waktu sia-sia saja."

Kun Hong sadar dari lamunannya, keningnya berkerut. "Yo Wan, jangan kau kira bahwa akan mudah saja menghadapi seorang seperti The Sun. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari kedua orang kakek itu masih mentah. Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan mengujimu!"

Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk. Cepat dia bangkit berdiri, dan secepat kilat Kun Hong telah menerjang. Yo Wan melihat gurunya memukul dengan gerakan cepat akan tetapi pukulan itu amat lambat tampaknya. Dia tidak berani berlaku sembrono.

Melihat betapa ilmu pukulan suhu-nya itu serupa benar dengan Liong-thouw-kun yang dia pelajari dari Sin-eng-cu, segera dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-sin Hoan-kun dari Bhewakala. Sampai lima jurus dia dapat mengimbangi gurunya, tapi pada jurus ke enam, suhu-nya melakukan gerakan serangan yang aneh sekali dan... tahu-tahu pundak kirinya terdorong. Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan terpelanting.

"Aduhhh..." Yo Wan menahan keluhannya.

Dorongan itu mestinya tidak menimbulkan rasa nyeri. Akan tetapi karena kebetulan yang didorong adalah pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.

"...ehhh, kenapa pundakmu...?" Kun Hong bertanya kaget. Diam-diam dia kagum karena muridnya yang masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus!

"...ti... tidak apa-apa, Suhu... dorongan Suhu hebat bukan main, teecu rasa biar sampai seratus tahun teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu teecu tetap takkan mampu menjadi seorang ahli..."

"Hushh, goblok jika kau berpikir begitu. Kau hanya kurang matang itulah. Pundak kirimu itu... coba kau mendekat." Yo Wan mendekat dan Kun Hong lalu meraba. "Ehh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?"

"Ayah, luka di pundaknya itu adalah karena terkena anak panahku!" Swan Bu berkata lantang. "Ketika tadi dia muncul, kuanggap dia itu mengacau di Hoa-san, maka kupanah dia, kena pundaknya. Akan tetapi dia memiliki ilmu sihir, Ayah. Panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, bahkan ketika melawan Sin-tung Lo-kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya. Apakah itu bukan ilmu hitam?"

"Swan Bu...! Ahh, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali. Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan koko!"

Swan Bu bersungut-sungut. "Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?"

"Suhu, sudahlah. Adik Swan Bu masih kecil, dan dia mempunyai watak gagah perkasa. Kalau tidak mengira bahwa teecu seorang jahat dan musuh Hoa-san-pai, kiranya dia tak akan melepaskan anak panah. Dia tidak bersalah, Suhu."

Kun Hong menarik nafas panjang. "Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau menjadi muridku. Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau, agaknya selama hidupku takkan dapat kutemukan. Sekarang kau ingat baik-baik pesanku. Turunlah dari sini dan kau carilah Bhewakala. Hanya dialah yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang ada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari susiok-couw-mu pula. Kau harus mematangkan ilmu yang kau miliki itu di bawah petunjuk Bhewakala. Nah, sesudah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang lagi kepadaku untuk bicara tentang The Sun."

Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Hui Kauw lalu melangkah maju dan memegang kedua pundaknya. Sepasang mata bening subo-nya itu berair.

"Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami padamu. Percayalah, semua pesan Suhu-mu adalah demi kebaikan dirimu sendiri. Taati pesannya itu, Yo Wan. Perjalanan mencari pendeta barat itu tentu sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapai sesuatu, makin jauh dan makin sukar akan semakin baik. Terimalah ini untuk bekal di perjalanan." Hui Kauw meloloskan pedang dari pinggangnya, memberikan pedangnya itu kepada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.

Bukan main terharunya hati Yo Wan. Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang besar, yang dilimpahkan mereka padanya. Akan tetapi dia maklum bahwa suhu-nya tidak suka akan sikap cengeng semacam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit. Takut kalau-kalau air matanya bercucuran, sesudah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari secepatnya meninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di sepanjang jalan.

Akan tetapi sepasang suami isteri yang sakti itu mengetahui hal ini. Hui Kauw terisak menangis. "Dia anak baik...," katanya.

"Sebaliknya anak kita yang akan rusak bila terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar biasa di sini. Hui Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong thouw-san, sekarang juga."

Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini. Memang inilah yang sudah menjadi idam-idaman hatinya, akan tetapi tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup bahagia, dekat saudara-saudara di Hoa-san-pai yang amat mencinta anak itu. Siapa tahu, terlalu banyak cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu tidak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran, membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semenjak kecil tidak pernah ada yang menolak semua keinginannya…..

********************

Perjalanan yang dilakukan Yo Wan sangat sukar dan jauh. la mentaati pesan Kun Hong, juga dia ingat akan pesan Bhewakala bahwa pendeta itu selalu menanti kedatangannya di Anapurna, yaitu sebuah puncak di Pegunungan Himalaya. Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekatan yang bulat serta keuletan yang tahan uji.

Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw. Kalau tidak, perjalanannya tentu akan lambat karena dia harus berhenti-henti untuk bekerja sekedar mencari pengisi perut. Sekarang dia dapat melakukan perjalanan dengan lancar, terus ke barat, hanya mau berhenti kalau kemalaman di jalan atau kalau sudah amat lelah.

Melakukan perjalanan ke timur atau ke selatan jauh lebih cepat dari pada perjalanan ke barat atau ke utara. Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke selatan atau ke timur, dan pada masa itu, di waktu perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.

Namun Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Larinya cepat bagaikan kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari cepat. Juga sebagai seorang pemuda yang berpakaian sederhana, nampak tidak membawa apa-apa, dia selalu terbebas dari gangguan para perampok yang hanya memperhatikan orang-orang yang membawa barang-barang berharga.

Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat. Beberapa kali hampir saja dia mendapat celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju. Dinginnya hampir tak tertahankan lagi. Malah pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup di dalam salju.

Kurang lebih sudah sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan sunyi ini. Hanya kadang-kadang dia berjumpa kelompok pengembara atau singgah di gubuk pertapa. Di tempat seperti ini, uang sudah tidak ada artinya lagi, tak dapat menolong seseorang dari kesengsaraan. Hanya sikap yang baik dapat menolongnya, karena pertolongan datang dari orang-orang yang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh keramahan.

Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tempat pertapaan Bhewakala. Pendeta itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang sekarang berlutut di depannya dan menceritakan semua pengalamannya di Hoa-san.

"Ha-ha-ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain, maka dia menyuruh kau datang ke sini, muridku. Memang dia betul, meski pun ilmu-ilmu yang pernah kau latih dari aku dan Sin-eng-cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum mampu menyelami inti sarinya. Nah, mulai hari ini kau belajarlah baik-baik muridku."

Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan. Makin lama pemuda ini semakin betah tinggal di Himalaya, pelajaran kebatinan semakin meresap ke dalam hatinya, dan walau pun dia masih buta huruf karena tidak pernah mempelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan dapatlah dia meneropong ke dalam penghidupan manusia.

Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya. Telah lenyap pula hasratnya untuk merantau di dunia ramai karena di samping gurunya, di tempat sunyi dan dingin ini, dia sudah menemukan ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda oleh kehendak nafsu, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari lingkaran karma…..

********************

Waktu berjalan pesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit.

Pendeta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir. la tidak ingin muridnya yang terkasih itu menyia-nyiakan hidupnya sebagai pertapa selagi masih begitu muda. Dipanggilnya Yo Wan dan dengan suara lirih dan nafas tinggal satu-satu pendeta ini meninggalkan pesan.

"Yo Wan, saat bagiku untuk meninggalkan dunia sudah hampir tiba. Aku girang dengan peristiwa ini, karena selain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas dari ikatanmu dengan aku. Kini ilmu yang kau miliki telah cukup untuk bekal hidup. Bertahun-tahun kau selalu menolak perintahku untuk turun gunung dan pergi merantau, dengan alasan ingin melayani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi. Kau masih terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri dari ikatan dendam. Akan tetapi kau sudah masak sekarang, matang lahir batin. Pesanku terakhir ini harus kau taati, Yo Wan. Apa bila aku meninggal dunia, kau harus membakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yang berada di sini. Kemudian kau harus meninggalkan tempat ini, kembali ke timur."

"Tapi... Guru…”

"Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang puthauw (tidak berbakti). Di sana terdapat kuburan ayahmu, juga ada kuburan ibumu, siapa yang akan merawatnya? Lagi pula, kau bukan ditakdirkan hidup menjadi pertapa. Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh, mempunyai keturunan seperti manusia-manusia lain. Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri."

"Ahh, Guru..."

Bhewakala tersenyum lebar, kembali berkata, "Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, menjadi permainan kekuasan Tuhan, karena untuk itu kau telah diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya. Apa bila kau mengingkari pesanku ini, selamanya kau tak akan dapat tenteram, karena kau tentu tidak akan suka mengecewakan aku."

Yo Wan tidak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa semua yang dikatakan gurunya itu betul belaka. la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguh pun masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan menggelisahkan.

Pada malam harinya, Bhewakala menghembuskan nafas terakhir di hadapan Yo Wan. Pemuda yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun lebih itu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, meski pun ada juga penyesalan akibat dari perpisahan dengan orang yang disegani dan dihormati.

la melaksanakan pesan gurunya itu dengan baik-baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala benda yang berada di sana. Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung.

Pagi-pagi dia berangkat ke arah munculnya matahari yang kemerah-merahan. Bergidik dia melihat keindahan ini, sebab dia merasa seakan-akan sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat dan akan menelannya…..

********************

Kita tinggalkan dahulu Yo Wan yang sedang turun dari Pegunungan Himalaya, memulai perjalanannya yang amat sunyi dan jauh serta sukar untuk mulai dengan perantauannya, dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Siu Bi, gadis lincah dan berhati tabah itu.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Siu Bi, puteri tunggal The Sun, meninggalkan Go-bi-san dengan hati sakit. Setelah mengetahui bahwa dia bukan puteri The Sun, bukan keturunan keluarga The, simpatinya lalu tertumpah pada mendiang Hek Lojin yang telah terbunuh oleh The Sun. Dia merasa menyesal dan kecewa. Kiranya dia bukan puteri The Sun. Siapakah orang tuanya? Apakah dia bukan anak ibunya pula?

Mengingat ini, menangislah Siu Bi di sepanjang jalan. Dia sangat mencinta ibunya, dan sekarang dia pergi tanpa pamit. Biar pun orang yang selama ini mengaku ayahnya telah mengecewakan hatinya dengan memukul mati Hek Lojin dan dengan kenyataan bahwa orang itu bukan ayahnya yang sejati, namun ibunya tidak pernah melukai hatinya. Ibunya selalu sayang kepadanya sehingga andai kata dia bukan ibunya yang sejati, Siu Bi tetap akan mencintanya.

Betapa pun juga, Siu Bi dapat menguasai perasaannya. Ia melakukan perjalanan dengan tabah. Tujuannya hanyalah satu, yaitu mencari dan membalas dendam kepada Kwa Kun Hong! la akan menantang Pendekar Buta itu sebagai wakil dari Hek Lojin dan berusaha sedapatnya untuk membuntungi sebelah lengan Pendekar Buta itu, juga lengan isterinya dan anak-anaknya.

la telah bersumpah di dalam hati kepada kongkong-nya, Hek Lojin. la merasa yakin akan dapat melakukan tugas ini. Sesudah mewarisi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang, ia merasa dirinya cukup kuat dan tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimana pun juga.

Ingat akan hal ini, Siu Bi menjadi bersemangat dan di bawah sebatang pohon besar ia berhenti kemudian berlatih dengan kedua ilmu silat itu. Memang hebat sekali ilmunya ini. Pedangnya hanya sebatang pedang biasa saja, namun berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar di antara awan menghitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Hek-in-kang.

Ketika ia berhenti berlatih satu jam kemudian, di bawah pohon sudah penuh daun-daun pohon yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedangnya dan yang rontok oleh hawa pukulan Hek-in-kang! Siu Bi berdiri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas. Pendekar Buta, pikirnya, lenganmu dan lengan-lengan anak isterimu akan putus seperti daun-daun ini!

Sebagai seorang gadis remaja, gadis yang baru berusia tujuh belas tahun lebih, Siu Bi melakukan perjalanan yang amat jauh dan sulit. Go-bi-san merupakan pegunungan yang luas sedang jalan menuruni pegunungan ini sama sukarnya dengan jalan pendakiannya. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi Siu Bi tidak menemui kesukaran.

Tubuhnya bergerak lincah dan ringan, kadang kala dia harus melompat jurang. Dengan ginkang-nya yang amat tinggi ia dapat melompat bagaikan terbang saja, tubuhnya ringan meluncur di atas jurang, dilihat dari jauh tidak ada ubahnya seorang dewi dari kahyangan yang terbang melayang turun ke dunia.

Pakaiannya yang terbuat dari sutera halus berwarna merah muda, biru dan kuning itu berkibar-kibar tertiup angin ketika ia melompat. Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan dan kegagahannya.

Berpekan-pekan Siu Bi keluar masuk hutan, naik turun gunung, melalui banyak dusun di kaki gunung dan melalui beberapa kota pegunungan. Setiap kali dia bertemu orang, tentu dia menjadi pusat perhatian. Apa lagi kaum pria, melihat seorang gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang penuh kekaguman.

Namun tiada orang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di punggung Siu Bi yang membuktikan bahwa gadis remaja jelita itu seorang ahli silat. Akan tetapi juga Siu Bi tidak menyembunyikan gerak-geriknya yang lincah dan ringan, sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang pendekar wanita muda yang tak boleh dibuat main-main!

Pada suatu hari tibalah ia di kota Pau-ling di tepi Sungai Huang-ho, setelah melakukan perjalanan sebulan lebih ke selatan. Sebetulnya Pau-ling tidak patut disebut kota, tetapi sebuah dusun yang menghasilkan banyak padi dan gandum.

Tanah di lembah Sungai Huang-ho ini amat subur sehingga pertanian banyak maju dan hasilnya berlimpah-limpah. Karena letaknya dekat dengan sungai besar, maka dusun ini makin lama makin ramai dengan perdagangan melalui sungai. Hasil-hasil sawah ladang diangkut melalui sungai dengan perahu-perahu besar.

Ketika Siu Bi lewat di pelabuhan sungai, ia melihat banyak orang mengangkat padi dan gandum berkarung-karung ke atas perahu-perahu besar. Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan pakaian mereka penuh tambalan.

Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai mandor, membentak-bentak dan ada kalanya mengayunkan cambuk ke punggung seorang pengangkut yang kurang cepat kerjanya. Ada lima enam orang mandor yang galak-galak, dan melihat Siu Bi lewat, mereka tertawa-tawa sambil memandang dengan mata kurang ajar. Ada yang bersiul-siul dan menuding-nuding ke arah Siu Bi.

Panas hati Siu Bi. Namun ia menahan sabar, karena ia tidak mau kalau perjalanannya tertunda hanya karena ada beberapa orang laki-laki yang memperlihatkan kekaguman terhadap kecantikannya secara kurang ajar. la mempercepat langkahnya dan sebentar saja ia sudah tiba di luar dusun Pau-ling.

Akan tetapi kembali di luar dusun, di kanan kiri jalan di mana sawah ladang membentang luas, ia disuguhi pemandangan yang amat mencolok mata. Belasan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan bertubuh kurus seperti para kuli angkut karung gandum dan padi tadi, tampak sedang menuai gandum di sawah. Tampak pula belasan orang wanita yang juga bekerja.

Mereka bekerja dengan penuh semangat, tapi jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena ketakutan. Beberapa orang mandor menjaga mereka dengan cambuk di tangan pula. Di sana-sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi jerit kesakitan.

Siu Bi berdiri terpaku. Hatinya mulai panas. Akan tetapi kiranya ia tak akan sembarangan mau mencampuri urusan orang bila saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan saking marahnya.

la melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting sesudah menerima cambukan pada punggungnya. Seorang gadis yang usianya sebaya dengan dia menjerit dan menubruk wanita itu, menangisi ibunya yang telah pingsan. Dua orang mandor cepat menghampiri mereka, lalu dengan sekali sambar yang seorang telah mengangkat tubuh gadis itu dan... menciuminya sambil terkekeh-kekeh dan berkata,

"Ha-ha-ha, jangan kau besar kepala setelah terpakai oleh majikan! Lain hari kau tentu akan diberikan kepadaku. Ha-ha-ha…!"

Ada pun mandor kedua dengan marahnya menghajar wanita setengah tua itu dengan cambuk, memaki-maki, "Anjing betina! Siapa suruh kau pura-pura mampus di sini? Hayo berdiri dan bekerja, kalau tidak kucambuki sampai hancur badanmu!"

Siu Bi tidak dapat menahan kesabarannya lagi. "Keparat jahanam, lepaskan mereka!"

Bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya, tubuh Siu Bi sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis tadi. Sekali kakinya bergerak menendang terdengar suara berdebuk dan mandor yang galak serta ceriwis itu terlempar sampai empat meter lebih kemudian jatuh terbanting ke dalam lumpur.

“Ngekkk!” terdengar suara lain beberapa detik kemudian.

Ternyata orang kedua yang mencambuki wanita setengah tua itu terlempar pula oleh tendangan Siu Bi, hampir menimpa kawannya yang baru merangkak-rangkak bangun.

Semua pekerja serentak menghentikan pekerjaan mereka, berdiri terpaku. Muka mereka pucat dan hampir saja mereka tidak percaya apa yang mereka lihat tadi. Seperti dalam mimpi saja. Siapakah orangnya berani melawan para mandor? Kiranya hanya seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis remaja.

"Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwa Im) menolong kita...," bisik seorang lelaki tua dan serentak mereka menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siu Bi.

Di jaman itu kepercayaan orang-orang, terutama orang-orang dusun, tentang kesaktian Dewi Kwan Im yang sering kali muncul atau menjelma untuk membersihkan kekeruhan dunia dan menolong orang-orang sengsara, masih amat tebal. Dewi Kwan Im terkenal sebagai Dewi Welas Asih, dewi lambang kasih sayang dan penolong yang juga terkenal amat cantik jelita. Kini melihat seorang dara jelita berani melawan dua orang mandor, dan sekali tendang dapat membuat dua orang mandor galak itu terpelanting dan roboh, otomatis mereka menganggap bahwa Dewi Kwan Im yang menolong mereka.

Namun dua orang mandor itu tidak berpendapat demikian. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang tahu akan wanita-wanita pandai ilmu silat semacam Siu Bi. Mereka malu dan marah sekali, akan tetapi untuk beberapa menit mereka tidak berdaya karena ketika terbanting tadi, muka mereka mencium lumpur sehingga kini mereka sibuk membersihkan lumpur dari wajah mereka, menyumpah-nyumpah dan meludah-ludah.

Empat orang kawan mereka sudah datang berlari, diikuti para pekerja yang ingin melihat apa yang sedang terjadi di situ. Pada saat para pekerja melihat teman-temannya berlutut menghadapi Siu Bi dan melihat pula dua orang mandor merangkak dengan muka penuh lumpur seperti monyet, mereka segera mengerti atau dapat menduga duduknya perkara. Tanpa banyak komentar lagi mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Dewi Kwan Im yang menjelma sebagai gadis cantik jelita dan sedang menolong mereka itu!

Empat orang mandor tadinya masih belum menduga apa yang terjadi, akan tetapi dua orang mandor yang merangkak di lumpur itu segera berkaok-kaok, “Tangkap gadis setan itu, berikan padaku nanti!"

Mendengar ini, empat orang mandor lari menghampiri Siu Bi. Seorang di antara mereka yang berkumis tikus membentak, "Bocah, siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?"

"Yang menjadi persoalan adalah apa yang kalian lakukan, bukan apa yang aku lakukan," suara Siu Bi merdu dan nyaring sehingga para pekerja miskin itu makin percaya bahwa dara ini, tentulah penjelmaan Kwan Im Pouwsat!

"Kalian berenam ini manusia ataukah sekumpulan binatang buas, menekan orang-orang miskin ini, mencambuki mereka, menghina wanitanya. Yang barusan kulakukan hanyalah menendang dua orang kawanmu itu sebagai pelajaran. Apa bila ternyata kalian serupa dengan mereka, kalian berempat pun akan kuberi tendangan seorang sekali."

Dapat dibayangkan betapa marahnya empat orang itu. Mereka adalah mandor-mandor jagoan alias para tukang pukul dari Bhong-loya (tuan tua she Bhong) yang menjadi lurah dan orang paling kaya di Pau-ling. Semua sawah ladang adalah milik Bhong-loya, semua perahu besar adalah milik Bhong-loya.

Siapa berani menentang Bhong-loya yang mempunyai pengaruh besar pula di kota raja? Para pembesar dari kota raja merupakan teman-temannya, para buaya darat adalah kaki tangannya, serta para mandor adalah bekas-bekas jagoan dan perampok yang memiliki kepandaian. Sekarang anak perempuan yang masih hijau itu berani memandang rendah mereka?

"Bocah setan, kau harus diseret ke hadapan Bhong-loya dan ditelanjangi, terus dipecut seratus kali sampai kau menjerit-jerit minta ampun, baru tahu rasa!" bentak seorang di antara mereka. Akan tetapi baru saja mulutnya tertutup, tubuhnya sudah terlempar ke dalam lumpur oleh sebuah tendangan kaki kiri Siu Bi!

Gerakan Siu Bi tadi cepat bukan main, tendangannya hanya tampak perlahan saja akan tetapi akibatnya terlihat oleh semua orang. Tubuh si tukang pukul yang tinggi besar itu melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin.

Tiga mandor yang lain dengan marah menerkam maju. Mereka tak menggunakan aturan perkelahian lagi, karena di samping kemarahan mereka, juga mereka merasa kagum dan tergila-gila akan kecantikan serta kejelitaan yang jarang bandingannya di kota Pau-ling. Maka seakan berlomba mereka berusaha meringkus dan memeluk gadis galak itu untuk memuaskan kemarahan dan kegairahan mereka.

"Brukkk!"

Ketiga orang itu mengaduh karena mereka saling tabrak dan saling adu kepala. Dalam kegemasan tadi mereka menubruk berbareng, bagaikan tiga ekor kucing menubruk tikus. Akan tetapi yang ditubruk hilang, yang menubruk saling beradu kepala.

Siu Bi tidak mau bertindak kepalang tanggung. Dengan gerakan yang cepat sekali kedua kakinya menendang dan di lain saat tiga orang tukang pukul itu juga sudah terpelanting masuk ke dalam lumpur di sawah.

"Lopek, kenapa mereka itu amat kejam terhadap kalian?" tanya Siu Bi kepada seorang petani tua yang berlutut paling dekat di depannya, sama sekali ia tidak peduli lagi pada enam orang mandor yang kini sibuk berusaha membuka mata yang kemasukan lumpur.

"Pouwsat (Dewi) yang mulia... kami adalah petani-petani dusun yang sengsara dan amat miskin... tolonglah kami, karena sekarang sekedar untuk dapat makan kami telah diperas dan ditekan oleh Bhong-loya... mereka itu adalah tukang-tukang pukul Bhong-loya..."

"Tan-lopek, mengapa kau begitu lancang mulut...?" tegur seorang petani di belakangnya yang nampak ketakutan sekali. "Apa kau tidak takut akan akibatnya kalau Pouwsat sudah kembali ke kahyangan?"

Siu Bi menahan senyum, geli hatinya mendengar bahwa ia disebut Pouwsat. Dianggap Kwan Im! Mengapa tidak? Kwan Im Pouwsat merupakan seorang dewi yang penuh kasih kepada manusia. Kata kongkong-nya, dunia kang-ouw banyak orang-orang pandai yang mempunyai nama julukan. Dia telah mewarisi kepandaian tinggi, maka sudah sepatutnya memiliki nama julukan pula. Kwan Im? Nama julukan yang baik sekali.

"Jangan takut. Aku akan membela kalian dan memberi hajaran kepada mereka yang jahat. Apakah mandor-mandor ini jahat terhadap kalian?"

"Jahat?" Petani tua yang disebut Tan-lopek oleh temannya tadi mengulang kata-kata ini, mukanya memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak. "Mereka itu lebih jahat dari pada Bhong-loya sendiri! Mereka seperti serigala-serigala kelaparan, entah berapa banyak di antara kami yang mereka bunuh, mereka aniaya menjadi manusia-manusia cacad dan selanjutnya hidup sebagai jembel."

Semakin panaslah hati Siu Bi. Orang-orang jahat yang suka menganiaya dan membunuh orang patut dihukum, pikirnya. Ketika ia membalikkan tubuh ke arah enam orang mandor itu, ternyata mereka telah bangkit dari lumpur, berhasil mencuci muka dengan air sawah, lalu sekarang melangkah lebar sambil mencabut pedang. Dengan sikap penuh ancaman mereka menghampiri Siu Bi, pedang di tangan, nafsu membunuh terbayang pada mata mereka yang merah.

"Setan betina. Berani kau main gila dengan para ngohouw (tukang pukul) Bhong-loya? Bersiaplah untuk mampus dengan tubuh tercincang hancur!" teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan ayunan pedangnya.

Melihat gerakan mereka, Siu Bi memandang rendah. Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuasaan saja, sama sekali tidak memiliki ilmu kepandaian yang berarti. Oleh karena ini ia merasa tak perlu harus menggunakan pedangnya. Tanpa mencabut pedang, ia menghadapi serangan si kumis tikus.

Dengan ringan ia miringkan tubuh, tangan kirinya menyambar. Pada waktu itu tangan kiri Siu Bi sudah amat terlatih dan penuh terisi hawa Hek-in-kang. Ada bayangan sinar hitam berkelebat ketika tangan kirinya bergerak. Tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, pedang di tangan kanannya sudah berpindah ke tangan Siu Bi. Cepat laksana kilat menyambar, pedang itu membabat ke bawah dan buntunglah tangan kanan si kumis tikus itu sebatas siku. Orangnya menjerit dan pingsan!

Lima orang kawannya segera menerjang dengan marah. Namun kali ini Siu Bi tidak mau memberi ampun lagi. Pedang rampasan di tangannya berkelebat dan lenyap bentuknya sebagai pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung.

Terdengar jeritan susul-menyusul dan dalam beberapa jurus saja, lima orang itu sudah kehilangan lengan kanan mereka sebatas siku. Agaknya, teringat akan janjinya kepada kakeknya, Hek Lojin, gadis ini apa bila marah terdorong oleh nafsu membuntungi lengan orang, terutama orang-orang jahat, seperti enam orang mandor ini, dan seperti Pendekar Buta Kwa Kun Hong beserta anak isterinya!

Dengan tenang Siu Bi membalikkan tubuh menghadapi para petani yang masih berlutut dan yang kini semua pucat wajahnya karena ngeri menyaksikan peristiwa pembuntungan enam orang mandor itu. Di dalam hati mereka merasa puas sebab ada ‘Sang Dewi’ yang membalaskan dendam mereka terhadap mandor-mandor yang kejam itu, tetapi mereka juga amat takut akan akibatnya. Alangkah akan marahnya Bhong-loya, pikir mereka.

"Para paman dan bibi, jangan kalian takut. Sekarang mari antarkan aku ke rumah orang she Bhong yang sewenang-wenang itu. Jangan takut, aku akan menanggung semua perkara ini, kalian hanya mengantar dan menonton saja."

Pada mulanya para petani itu ketakutan. Mendatangi rumah Bhong-loya? Sama dengan mencari penyakit, mencari celaka. Akan tetapi petani tua itu bangkit berdiri.

"Mari, Pouwsat, saya antarkan. Biar nanti aku akan dipukul sampai mati, aku sudah puas melihat ada yang berani membela kami dan memberi hajaran kepada manusia-manusia berwatak binatang itu."

Melihat semangat empek tua ini banyak pula yang ikut bangkit, tetapi hanya beberapa belas orang saja dan semua laki-laki. Yang lain-lain tetap berlutut tak berani mengangkat muka. Akan tetapi bukan maksud Siu Bi untuk mengajak banyak orang, karena yang ia kehendaki hanya petunjuk jalan agar ia tidak usah mencari-cari di mana rumah manusia she Bhong itu.

Dengan wajah membayangkan perasaan geram dan nekat, belasan orang laki-laki yang sebagian besar bertelanjang kaki dan berpakaian penuh tambalan itu mengantar Siu Bi menuju ke dalam dusun. Rombongan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang, apa lagi ketika mereka mendengar dari para pengiring Siu Bi tentang perbuatan gadis jelita itu membuntungi lengan enam orang mandor di sawah.

Seketika keadaan dusun Pau-ling menjadi gempar, lebih-lebih saat para petani miskin itu menyatakan tanpa keraguan bahwa dara jelita yang sedang mereka iringkan ini adalah penjelmaan Kwan Im Pouwsat! Segera banyak orang ikut mengiringkan walau pun dari jarak agak jauh sebagai penonton, karena mereka tidak ingin menimbulkan kemarahan Bhong-loya, maka tidak menggabungkan diri dengan rombongan petani itu, melainkan sebagai rombongan penonton.

Gedung besar yang menjadi tempat tinggal Bhong-loya memang amat besar dan amat menyolok kalau dibandingkan dengan kemelaratan di sekelilingnya. Bhong-loya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, menjadi lurah di dusun itu sudah bertahun-tahun. Karena korupsi besar-besaran dan penghisapan atas tenaga murah para petani yang dulunya sebagian besar merupakan pengungsi dari banjir besar Sungai Huang-ho, maka dia menjadi kaya-raya.

Betapa pun juga harus diakui bahwa Bhong-loya (tuan tua Bhong) yang sesungguhnya bernama Bhong Ciat itu tidaklah seganas atau sekeji orang-orangnya. Bukan menjadi rahasia lagi bahwasannya anjing-anjing peliharaan penjaga rumah jauh lebih galak dan ganas dari pada majikannya. Para petugas rendahan merupakan serigala-serigala buas yang selalu mengganggu rakyat miskin, tentu saja dengan bersandar kepada kekuasaan dan pengaruh Bhong Ciat.

Ransum untuk para pekerja kasar yang telah ditentukan oleh Bhong Ciat hanya sebagian kecil saja sampai di tangan para pekerja itu. Upah pun demikian pula, dicatut, dipotong, dikurangi banyak tangan-tangan kotor sebelum sisanya yang tidak berapa itu masuk ke kantong para pekerja.

Celakanya, Bhong Ciat sudah terlalu mabuk dengan kesenangan serta kemuliaan, sama sekali tidak memperhatikan keadaan rakyatnya, tidak tahu bahwa orang-orangnya sudah melakukan tekanan yang amat keji. Dikiranya bahwa semua berjalan lancar dan licin, dan dia merasa bahagia di dalam rumah gedungnya, setiap hari menikmati makanan lezat dilayani oleh selir-selir muda dan cantik.

Lebih celaka lagi bagi para penduduk miskin di Pau-ling, lurah Bhong memiliki seorang anak laki-laki, bukan anak sendiri tetapi anak pungut karena Bhong Ciat tidak mempunyai keturunan sendiri, yaitu seorang anak laki-laki yang sudah dewasa bernama Bhong Lam.

Pemuda inilah yang membuat keadaan menjadi makin berat bagi para penduduk karena Bhong Lam merupakan pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya. Tak ada seorang pun wanita yang muda dan cantik di dusun itu yang dapat hidup aman. Tidak peduli anak orang, isteri orang, siapa saja asal gadis itu termasuk keluarga miskin, pasti akan dicengkeramnya.

Untuk maksud-maksud keji ini, Bhong Lam tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang ayah angkatnya. Setiap hari dia berpesta-pora, kadang-kadang bila sudah bosan di dusun lalu pergi pesiar ke kota-kota lain diikuti rombongan tukang pukulnya dan di kota inilah dia menghamburkan uang dan main gila.

Bhong Lam tidak hanya ditakuti karena dia putera angkat Bhong-loya, akan tetapi juga karena dia merupakan seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya. Dia pernah belajar ilmu silat pada seorang hwesio Siauw-lim perantauan, dan terutama sekali permainan toyanya amat kuat sehingga semua tukang pukul keluarga Bhong tidak seorang pun yang dapat mengalahkannya. Agaknya kepandaiannya inilah yang membuat Bhong Lam makin lama semakin bertingkah, merasa seakan-akan dia sudah menjadi seorang pangeran!

Sebagai keluarga yang paling berkuasa di Pau-ling, tentu saja banyak kaki tangannya. Banyak pula petani-petani miskin yang berbatin rendah sehingga suka menjadi penjilat. Oleh karena itu, peristiwa di sawah tadi sudah pula sampai kabarnya di rumah gedung Bhong Ciat sebelum rombongan yang mengiringkan Siu Bi tiba di situ. Ada saja petani miskin yang lari lebih dulu dan dengan maksud menjilat mencari muka, lalu melaporkan peristiwa di sawah kepada Bhong-loya.

Pada waktu itu, kebetulan sekali Bhong Lam juga berada di rumah. Mendengar tentang peristiwa itu marahlah pemuda ini. Cepat-cepat dia menyambar toyanya dan menyatakan kepada ayah angkatnya bahwa orang tua itu tidak perlu khawatir karena dia sendiri yang akan memberi hajaran kepada ‘dewi palsu’ itu.

Dengan geram Bhong Lam melompat dan lari keluar dari dalam gedung saat mendengar suara ribut-ribut di luar gedung karena rombongan petani itu memang sudah tiba di sana. Kemarahan Bhong Lam memuncak. Akan dia bunuh wanita jahat itu dan semua petani yang mengiringkannya. Tidak seorang pun akan diberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati para petani agar tidak memberontak lagi.

"Setan betina, berani kau main gila?!" Bhong Lam melompat keluar sambil menudingkan telunjuknya.

Akan tetapi tiba-tiba dia berdiri terpaku dan biar pun telunjuk kirinya masih menuding dan toyanya dipegang di tangan erat-erat, namun matanya terbelalak mulutnya ternganga. la melongo tanpa dapat mengeluarkan suara, memandang wajah Siu Bi, seperti terpesona dan kehilangan semangat. Sungguh mati dia tidak mengira sama sekali bahwa wanita yang telah membuntungi lengan enam orang mandornya adalah dara secantik bidadari. Pantas saja disebut-sebut sebagai Dewi Kwan Im!

Belum pernah selama hidupnya dia melihat dara secantik ini, kecuali dalam alam mimpi dan dalam gambar. Lebih suka dia rasanya untuk maju berlutut dan menyatakan cinta kasihnya dari pada harus menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya.

Dibunuh? Wah, sayang! Lebih baik ditangkap dan... ah, belum pernah dia mendapatkan seorang dara pendekar. Alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan gadis yang pandai ilmu silat pula seperti dia! Senyum lebar menghias wajahnya yang tampan juga dan kini mulutnya dapat bergerak.

"Nona... eh, kau siapakah dan... eh, kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Bila mereka berbuat salah terhadap Nona, jangan khawatir, aku yang akan menegur dan menghukum mereka!"

Jika saja dalam perjalanan ke rumah keluarga Bhong itu Siu Bi tak mendengar penuturan petani tua tentang keadaan Bhong Ciat dan putera angkatnya, Bhong Lam, tentu ia akan tercengang dan heran menyaksikan sikap dan mendengar omongan pemuda ini. Karena ia sudah mendengar bahwa pemuda yang menjadi putera angkat keluarga Bhong, seorang ahli main toya, adalah pemuda yang paling jahat dan yang mata kerajang, maka baginya sikap Bhong Lam ini merupakan sikap ceriwis, bukan sikap ramah tamah.

Berkerut aiisnya yang kecil panjang ketika Siu Bi menodongkan pedang rampasannya sambit bertanya, "Kaukah yang bernama Bhong Lam?"

"Aduh mati aku..." Bhong Lam bersambat dalam batinnya mendengar suara yang merdu itu. Baru bertanya dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apa lagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya.

"Hayo jawab!" Siu Bi tak sabar lagl melihat pemuda itu memandangnya tak berkedip.

Bhong Lam sadar dan tersenyum dibuat-buat. "Betul, Nona. Silakan Nona masuk." Pada para petani itu Bhong Lam berseru, "Kalian pergilah, kembali ke sawah. Tak ada urusan apa-apa di sini. Nona ini adalah tamu agung kami, kesalah pahaman di sawah tadi habis sampai di sini saja."

"Siapa sudi mendengar omongan manismu yang beracun?!" Siu Bi membentak. "Kau adalah seorang yang sangat jahat, mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Manusia macam engkau ini tidak ada harganya diberi hidup lebih lama lagi."

Memang Siu Bi sangat marah dan benci kepada pemuda ini setelah tadi ia mendengar penuturan para petani betapa pemuda ini sudah menghabiskan semua gadis muda dan cantik di dusun itu, juga merampas isteri-isteri orang sehingga banyak timbul hal-hal yang mengerikan, banyak di antara wanita-wanita itu membunuh diri. Sekarang melihat sikap pemuda ini yang ceriwis, matanya yang berminyak itu menatap wajahnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.

"Nona, antara kita tidak ada permusuhan. Aku mengundang Nona menjadi tamu..."

"Jahanam perusak wanita! Tidak usah kau berkedok bulu domba karena aku sudah tahu bahwa kau adalah seekor serigala yang busuk dan jahat!"

Bhong Lam adalah seorang pemuda yang selalu dihormati serta ditakuti orang. Selama hidupnya, baru sekali inilah dia dimaki-maki dan dihina. Walau pun dia tergila-gila akan kecantikan Siu Bi, namun darah mudahnya bergolak ketika dia dimaki-maki seperti itu. Mukanya menjadi merah sekali, apa lagi melihat betapa para petani itu masih belum mau pergi, memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.

"Keparat, kau benar-benar lancang mulut, tidak bisa menerima penghormatan orang. Kau kira aku takut kepadamu? Kalau belum dihajar, kau belum tahu rasa, karena itu biarlah aku memaksamu tunduk kepadaku dengan jalan kekerasaan!" Setelah berkata demikian, Bhong Lam menerjang maju sambil memutar toyanya.

Dengan senyum mengejek Siu Bi berkelebat, menghindarkan terjangan toya dan balas menyerang. la mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini memang jauh lebih tinggi dari pada para mandor dan tukang pukul yang tiada gunanya tadi, namun baginya, pemuda ini pun merupakan lawan yang empuk saja.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner