JAKA LOLA : JILID-08


Semenjak rahasia bahwa ia bukan anak The Sun ia ketahui dari ucapan Hek Lojin, ia pun tidak mau mengaku The Sun sebagai ayahnya lagi. la sendiri tidak tahu siapakah orang tuanya, atau lebih tepat lagi, siapa ayahnya.

la tidak pernah meragu bahwa ia bukan anak ibunya. Mudah saja diketahui akan hal ini. Wajahnya serupa benar dengan wajah ibunya. Akan tetapi ayahnya? la tidak tahu!

Karena pertanyaan itu membuatnya mendongkol, maka ia menjawab seenaknya. "Sejak tadi sudah kukatakan bahwa orang tuaku tidak perlu disebut-sebut di sini. Aku memusuhi Pendekar Buta karena aku benci kepadanya, karena dia memang musuh besarku. Habis perkara."

Giam Hui Siang tercengang mendengar jawaban dan melihat sifat berandalan ini. Dia lalu teringat akan masa mudanya. Dia dahulu juga seperti nona ini, penuh keberanian, penuh kepercayaan akan kepandaian sendiri. Apakah nona ini selihai dia? Mungkinkah ia dapat mengalahkan Pendekar Buta dan cici-nya yang amat lihai itu?

Diam-diam ia mengharapkan akan ada orang yang dapat mengalahkan Pendekar Buta, kalau perlu dapat membuntungi lengannya dan lengan Hui Kauw! Diam-diam nyonya ini masih merasa mendendam dan benci kepada Pendekar Buta dan isterinya. Hal ini ada sebabnya.

Pertama karena ketika dia masih muda, dua orang itu pernah menjadi musuhnya. Kedua kalinya, karena suaminya, Bun Wan, menjadi buta sebelah matanya karena Pendekar Buta pula. Sungguh pun suaminya itu membutakan sebelah mata sendiri karena malu dan menyesal atas perbuatannya sendiri yang menyangka buruk kepada Pendekar Buta, tapi secara tidak langsung, suaminya buta karena Pendekar Buta)!

Inilah sebabnya terselip rasa dendam di sudut hati kecil nyonya ini. Akan tetapi, apakah mungkin dara remaja yang masih setengah kanak-kanak ini dapat melawan Kun Hong?

"Lihat senjata!" tiba-tiba Giam Hui Siang berseru nyaring.

Tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar ke arah Siu Bi, melalui sela-sela jeruji baja. Itulah belasan batang jarum Ching-tok-ciam (Jarum Racun Hijau), senjata rahasia maut dari Ching-coa-to yang sangat ditakuti lawan karena selain halus juga amat cepat menyambarnya, apa lagi racunnya amat ampuh. Lebih hebat lagi, serangan ini masih ia susul dengan pukulan jarak jauh oleh sepasang lengannya yang didorongkan ke depan!

"Ibu...!"

Bun Hui terkejut bukan main, namun tidak sempat mencegah karena gerakan ibunya itu sama sekali tidak pernah disangka sebelumnya. Dia maklum akan kehebatan serangan ibunya ini, maka dengan muka pucat dia memandang kepada Siu Bi.

Siu Bi juga terkejut menghadapi serangan mendadak itu. Akan tetapi karena sejak tadi ia sudah mengambil sikap bermusuhan, tentu saja ia waspada dan tidak kehilangan akal. la mengerahkan Hek-in-kang kemudian menggerakkan dua lengannya menyampok sambil mendoyongkan tubuh ke kiri, lalu ia susul dengan dorongan ke muka yang mengandung tenaga Hek-in-kang yang amat kuat.

Giam Hui Siang dan Bun Hui hanya melihat uap menghitam bergulung dari kedua lengan Siu Bi dan pada lain saat tubuh Hui Siang sudah terhuyung-huyung ke belakang. Hampir saja nyonya ini roboh terjengkang kalau dia tidak lekas-lekas melompat dan berjungkir balik. Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi mulutnya tersenyum.

"Hebat...! Kau cukup lihai untuk menghadapi dia! Hui-ji, hayo kita pulang."

Bun Hui menghadapi Siu Bi, suaranya terdengar sedih, "Nona, harap kau suka maafkan ibuku yang sebetulnya hanya hendak mencoba kepandaianmu."

"Hemmm...!" Siu Bi mendengus, masih belum hilang kagetnya.

Nyonya itu benar-benar ganas dan galak, juga lihai bukan main. Jarum-jarum yang lewat di dekat tubuhnya tadi mengandung hawa panas yang luar biasa, juga pukulan jarak jauh tadi amat kuat. Baiknya ia memiliki Hek-in-kang, jika tidak, tentu ia akan menjadi korban jarum atau pukulan sinkang.

Setelah ibu dan anak itu pergi, Siu Bi kembali duduk di atas pembaringan di sudut kamar, berusaha untuk istirahat sambil mengumpulkan tenaga. la dapat duduk tenang, kemudian menjelang tengah malam yang sunyi, mendadak ia berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki yang tetap bersila itu di atas, untuk melatih Iweekang menurut ajaran Hek Lojin.

Belum ada setengah jam ia berlatih, terdengar suara orang perlahan.

"Selagi kesempatan lari terbuka, mengapa membiarkan diri terkurung?"

Cepat sekali gerakan Siu Bi, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke dekat jeruji. Di luar jeruji berdiri seorang laki-laki yang mengeluarkan seruan kagum akan gerakannya yang memang luar biasa tadi.

Laki-laki ini berdiri tegak, bersedekap dan memandang kepadanya dengan alis berkerut. Sukar menduga apa yang berada di dalam pikiran laki-laki ini. Siu Bi memandang tajam, memperhatikan dan siap untuk memaki atau menyerang melalui sela-sela jeruji.

Akan tetapi dia mendapat kenyataan bahwa laki-laki itu bukanlah seorang penjaga atau pengawal. Pakaiannya sederhana berwarna serba putih, rambutnya digelung ke atas dan dibungkus kain putih. Mukanya membayangkan ketenangan luar biasa dengan sepasang mata yang sayu, membayangkan kematangan jiwa dan penderitaan lahir batin. Orang ini bukan lain adalah Si Jaka Lola, Yo Wan.

Seperti diketahui, Yo Wan melihat bagaimana gadis yang luar biasa dan mengagumkan hatinya itu merobohkan para tukang pukul, lalu ikut bersama pemuda yang memimpin barisan. la tidak tergesa turun tangan menolong karena ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, dan apa pula yang akan dilakukan oleh gadis itu untuk bisa menolong dirinya sendiri. Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu membiarkan dirinya ditahan.

Malam tadi dia diam-diam memasuki bagian belakang gedung ini dan ia sempat melihat betapa ibu pemuda itu tiba-tiba menyerang dengan jarum hijau dan pukulan sinkang. la kaget sekali, akan tetapi kembali ia dibuat kagum oleh kepandaian Siu Bi. la tidak sempat mendengar percakapan mereka tentang niat Siu Bi untuk membuntungi lengan Pendekar Buta, karena kedatangannya tepat pada waktu Giam Hui Siang melakukan penyerangan tadi

Dia benar-benar merasa heran akan sikap tiga orang itu. Lebih-lebih lagi rasa herannya kenapa gadis ini membiarkan dirinya dijebloskan kamar tahanan. Oleh karena itu, ketika menyaksikan sampai jauh malam betapa gadis itu tidak berusaha melarikan diri, tetapi malah berlatih Iweekang secara aneh, dia tak dapat menahan keheranannya dan muncul sambil mengucapkan kata-kata tadi.

Kenapa ia terlambat muncul? Tadi ketika berhasil memasuki gedung, diam-diam Yo Wan menculik seorang penjaga tanpa ada yang mengetahuinya. la lalu melompati tembok dan membawa lari penjaga itu ke luar kota, lalu memaksanya bercerita tentang gadis itu.

Si penjaga ketakutan setengah mati karena ia tidak dapat melihat siapa penculiknya dan baru dilepaskan ketika berada di tempat yang gelap dan sunyi di luar kota, di bawah pohon yang besar. Dia hanya merasa tubuhnya tidak mampu berkutik dan seakan-akan dibawa terbang. Saking takutnya mengira bahwa ia diculik iblis, tubuhnya menggigil dan ia tak berani membantah.

Dengan suara gemetar ia menceritakan betapa Bun-goanswe menahan gadis itu karena urusan ini akan diselidiki ke Pau-ling pada esok hari oleh Goanswe sendiri, dan besok baru akan diberi keputusannya. Juga ia menceritakan betapa gadis itu tidak membantah, malah menyerahkan pedangnya.

Demikianlah, dengan penuh keheranan Yo Wan cepat kembali ke dalam gedung setelah menotok penjaga itu dan meninggalkannya di tempat sunyi. la tahu bahwa penjaga itu tak mungkin akan dapat melepaskan diri sebelum besok pagi.

Dia tidak langsung mencari tempat gadis itu ditahan akan tetapi mencuri masuk secara diam-diam ke dalam kamar Bun-goanswe dan dengan kepandaiannya yang luar biasa ia berhasil mencuri pedang Siu Bi yang disimpan di dalam kamar itu! Setelah menyimpan pedang di balik jubahnya, barulah dia mencari tempat tahanan di belakang dan tepat kedatangannya pada saat Hui Siang menyerang Siu Bi.

Siu Bi kini berdiri dekat jeruji. Mereka saling pandang dan gadis itu berdebar jantungnya karena merasa seram melihat laki-laki itu berdiri seperti patung di luar kamar tahanan.

"Kau siapa? Apa maksud ucapanmu tadi?" Akhirnya ia menegur, sambil menatap wajah yang tampan dan agak pucat, tubuhnya yang kurus sehingga tulang pundaknya tampak menjendul di balik bajunya yang sederhana.

"Maksud ucapanku tadi sudah jelas, Nona. Selagi ada kesempatan untuk lari, mengapa membiarkan dirimu terkurung di sini?”

Siu Bi merasa heran. Apa kehendak orang ini dan siapa dia? Apa yang diucapkan orang ini memang menjadi suara hatinya. Memang ingin ia melarikan diri, tidak sudi ditahan seperti binatang buas. Akan tetapi bagaimana ia dapat melarikan diri kalau ia tidak kuat membongkar daun pintu dan jeruji baja? Bahkan pedangnya pun ditahan, bagaimana ia suka pergi tanpa mendapatkan pedangnya kembali?

Akan tetapi untuk menjawab kenyataan ini, tentu saja dia tidak sudi. Hal itu hanya akan merendahkan dirinya sendiri, mengakui kebodohan serta kelemahan dirinya. Maka ia pun menjawab dengan suara ketus,

"Kau peduli apa? Aku harus tunduk kepada hukum, aku bukan manusia liar yang tidak mengenal hukum."

Laki-laki muda itu tertawa, hanya sebentar saja. Akan tetapi dalam waktu beberapa detik itu, selagi tertawa, laki-laki itu dalam pandang mata Siu Bi kelihatan tampan dan lenyap semua kekeruhan pada mukanya. Akan tetapi hanya sebentar saja, senyum dan tawa itu melenyap, kembali wajah itu tampak suram muram.

"Hukum, kau bilang? Nona, aku lebih banyak mengalami hal-hal yang berkaitan hukum. Semua pembesar bicara tentang hukum, bersembunyi di belakang hukum, dan tahukah kau apa arti hukum sebenarnya? Hukum hanya menjadi alat penyelamat mereka belaka, bahkan alat menindas mereka yang lebih lemah! Hukum dapat mereka putar balik, dapat ditekuk-tekuk ke arah yang menguntungkan dan memenangkan mereka. Kau nanti akan kecewa kalau kau mempercayakan keselamatanmu kepada hukum, Nona. Karena itu, pokok yang terpenting, kau tak bersalah dalam suatu persoalan. Perbuatanmu membela para petani miskin yang tertindas itu adalah perbuatan orang gagah, sama sekali tidak seharusnya dihukum atau ditahan."

Di dalam hatinya, Siu Bi setuju seribu persen. Tetapi bagaimana dia dapat menyatakan setuju kemudian menyatakan pula bahwa dia tidak mampu keluar?

"Eh, kau ini siapakah, berlagak pandai dan membelaku? Hemmm, lagaknya saja hendak menolong. Apa sih yang dapat kau lakukan untuk menolongku? Lagi pula, aku pun tidak membutuhkan pertolonganmu, dan andai kata kau mau menolong, mengapa pula kau yang sama sekali tidak kukenal ini hendak menolongku? Apakah bukan maksudmu untuk mencari muka belaka?"

Yo Wan tersenyum kecut. la kagum menyaksikan sepak terjang gadis ini, juga senang menyaksikan ketabahan dan kelincahannya, akan tetapi watak gadis ini sangat sombong. Yo Wan sudah mencapai tingkat tinggi, baik dalam ilmu silat mau pun ilmu batin, berkat gemblengan selama sepuluh tahun di puncak Pegunungan Himalaya. Karena itu ia tidak menjadi marah oleh sikap kasar dan ketus dari gadis itu.

Dengan tenang dia kemudian mengeluarkan pedang Cui-beng-kiam dari balik jubahnya, menaruh pedang itu di atas lantai, lalu dia menggunakan kedua tangannya memegang jeruji baja, mengerahkan sedikit sinkang dan... jeruji-jeruji itu pun melengkung, membuka lubang yang cukup lebar untuk dilalui tubuh orang!

"Aku datang sekedar memenuhi kewajiban membantu yang benar, tidak perlu berbicara tentang pertolongan. Tentang kau mau ke luar atau tidak, adalah menjadi hakmu untuk menentukan, Nona. Pedangmu ini tadi kuambil dari kamar Bun-goanswe. Tidak baik bila seorang gagah berjauhan dari senjatanya. Selamat tinggal."

Siu Bi bengong terlongong. Dia berdiri seperti patung memandang bayangan laki-laki itu yang berjalan perlahan, pergi meninggalkannya dan menghilang di dalam gelap. Setelah bayangan orang itu tidak tampak, baru ia sadar. Kerangkeng terbuka, pedangnya di situ, mau tunggu apa lagi?

Cepat ia menyelinap ke luar di antara dua jeruji yang sudah melengkung, disambarnya pedang Cui-beng-kiam dan di lain saat ia sudah melompat ke atas genteng, memandang ke sana ke mari. Namun sunyi di atas gedung itu, tidak tampak bayangan laki-laki tadi.

Hatinya merasa bimbang. Apakah ia akan pergi melarikan diri sekarang juga ke luar kota. Memang sesungguhnya lebih baik dan lebih aman begitu. Akan tetapi, setelah Jenderal Bun itu melakukan hal yang tidak patut terhadapnya, mengurungnya dalam kerangkeng seperti binatang, lalu nyonya jenderal itu tanpa sebab menyerangnya dengan jarum dan pukulan, masa ia harus pergi begitu saja seperti orang lari ketakutan?

Tidak, tidak ada penghinaan yang tidak dibalas. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu dia harus menunjukkan kelihaiannya dan memberi sedikit hajaran kepada Jenderal Bun dan isterinya yang galak. Tentu saja Bun Hui tidak termasuk dalam daftarnya untuk diberi hukuman, karena pemuda itu bersikap baik sekali kepadanya.

Pikiran ini mendorong Siu Bi membatalkan niatnya untuk melarikan diri. Tubuhnya lantas bergerak-gerak bagaikan seekor kucing ringannya, meloncati genteng di atas gedung itu menuju ke bangunan besar, kemudian ia mengintai dan mencari di mana adanya kamar Jenderal Bun dan isterinya, mendekam serta mendengarkan. Mendadak dia mendengar suara Jenderal Bun dan isterinya.

"Masa tengah malam begini hendak pergi? Urusan bagaimana pentingnya pun, kan bisa diurus besok pagi?" terdengar suara nyonya Jenderal Bun, suara yang merdu dan halus.

"Harus sekarang juga kuselesaikan. Selain menyelidiki ke Pau-ling, aku juga harus cepat menyuruh seorang pengawal yang tangkas untuk mengabarkan kepada Kwa Kun Hong di Liong-thouw-san tentang ancaman gadis liar itu." Suara yang berat dari Jenderal Bun ini mendebarkan hati Siu Bi yang mendengarkan terus.

"Ahh, tentang urusan itu, apa sangkut-pautnya dengan kita? Kalau dia memiliki dendam pribadi dengan Kun Hong, biarkan dia menyelesaikannya sendiri. Urusan pribadi orang lain, bagaimana kita dapat ikut campur?" Isterinya mencela.

"Orang lain? Kurasa Kwa Kun Hong dengan keluarganya tidaklah dapat dikatakan orang lain!" Bun-goanswe berseru keras, suaranya mengandung penasaran besar. "Bukankah isterinya adalah cici-mu (kakakmu)?"

"Enci Hui Kauw hanyalah saudara pungut."

Hening sejenak, lalu terdengar suara jenderal itu penuh penyesalan.

"Hui Siang, isteriku, harap kau jangan merusak perasaan hatiku dengan sikapmu seperti ini terhadap mereka. Aku tahu bahwa kau masih menaruh dendam akan urusan lama, bukankah itu merupakan sifat kanak-kanak? Kita bukan kanak-kanak lagi. Perbuatanmu tadi mendatangi kamar tahanan dan menyerang gadis itu, juga merupakan sisa dari sifat di waktu mudamu. Ahh, Hui Siang, aku dapat menduga isi hatimu, setelah kau menguji gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa dia cukup lihai, kau ingin sekali melihat dia itu mengacau Liong-thouw-san. Begitukah?"

Nyonya itu berseru kaget. "Kau... kau mengintai...?" Kemudian disusul suaranya bernada menantang, "Benar, aku... aku memang masih benci terhadap Kun Hong dan enci Hui Kauw!" Disusul isak tangis tertahan dan tarikan nafas panjang jenderal itu,

"Hui Siang, mengapa kau masih juga belum dapat memadamkan api dendam terhadap mereka? Lupakah kau bahwa Kun Hong adalah penolong kita? Dia seorang pendekar besar yang telah terkenal kegagahan dan budi pekertinya. Dia merupakan penolong kita!"

Isak tangis itu semakin keras. "Aku... aku pun tidak bisa lupa... bahwa kau... kau sudah membutakan mata kananmu karena dia...!”

Bun-goanswe tertawa. "Ha-ha-ha-ha, itukah yang membuat dendammu tak dapat hilang? Tidak usah dipusingkan, isteriku. Kebutaan sebelah mataku ini dapat membuka kebutaan mata hatiku, bukankah itu baik sekali?"

"Lalu, apa yang hendak kau lakukan terhadap gadis itu?"

"Aku akan membujuknya agar supaya ia membatalkan niatnya mengacau tempat tinggal Kun Hong. Kalau dia bersikeras, apa boleh buat, aku akan memasukkannya ke dalam tahanan sampai dia bertobat."

"Jenderal busuk, kau benar-benar ingin menggunakan hukum untuk mencari kebenaran dan kemenangan sendiri. Aku, Cui-beng Kwan Im, mana sudi kau perlakukan demikian?" Sesosok bayangan melayang turun dari jendela dan sinar pedang hitam lalu menerjang Bun-goanswe.

Jenderal ini kaget sekali, cepat dia menghunus pedangnya dan menangkis. Ada pun Hui Siang, isteri jenderal itu, terkejut dan khawatir, untuk sejenak hanya dapat memandang dengan kaget. Akan tetapi, beberapa menit kemudian nyonya ini sudah mendapatkan pedangnya lalu menyerbu dan mengeroyok Siu Bi.

Dara ini tidak menjadi gentar, malah berseru keras. Segera pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kehitaman, diselingi oleh pukulan-pukulannya yang mengandung tenaga Hek-in-kang! Memang hebat gadis ini. Ilmunya tinggi nyalinya pun sebesar nyali harimau, akan tetapi dia terlalu memandang rendah orang lain. Terjangannya yang dahsyat dan ganas itu memang membuat suami isteri itu kaget dan terdesak mundur.

Akan tetapi, jenderal itu adalah Bun Wan, putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya juga hebat. Dan isterinya adalah puteri dari Ching-toanio yang juga memiliki ilmu silat segolongan dengan Siu Bi, yaitu golongan hitam. Biar pun tingkat ilmu silat kedua orang suami isteri ini tidak sedahsyat ilmu silat Siu Bi warisan dari kakek sakti Hek Lojin, tapi gadis itu kalah ulet dan kalah pengalaman sehingga semua terjangannya meski pun mendesak dan mengejutkan, namun belum mampu merobohkan mereka.

Pada saat itu, Bun Hui datang berlari-lari dengan muka pucat. Cepat pemuda yang juga lihai ini memutar pedangnya menahan pedang Cui-beng-kiam, lalu dia berkata, suaranya menggetarkan penuh perasaan, "Nona...! Mengapa kau tidak memegang janjimu, malah melarikan diri dan menyerbu ke sini? Ah... Nona, kenapa kau menyerang ayah bundaku? Mengapa kau lakukan hal ini... Kau, yang kupandang gagah perkasa..."

Getaran suara yang terkandung di dalam ucapan Bun Hui ini tidak lagi menyembunyikan perasaannya. Jelas terdengar dan terasa, baik oleh Siu Bi mau pun oleh ayah bunda pemuda itu, bahwa Bun Hui menaruh hati cinta kepada gadis ini!

"Hui-ji, mundur kau!" bentak Jenderal Bun.

"Hui-ji, kenapa kau merengek-rengek kepada bocah ini?" seru pula ibunya penuh teguran dan suami isteri itu sudah menerjang Siu Bi dengan hebat.

Terpaksa Siu Bi mundur tiga langkah karena terjangan kedua orang itu dalam serangan balasan bukanlah main-main. Namun dengan Hek-in-kang, dia berhasil mengusir mundur lagi kedua orang pengeroyoknya. Ternyata Hek-in-kang ampuh luar biasa, hawanya saja cukup membuat kedua orang suami isteri tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi itu tergetar mundur dan tidak berani terlalu mendekat.

Mendengar suara ribut-ribut ini, beberapa orang pengawal menerjang masuk dan melihat betapa Jenderal Bun bersama isterinya bertempur melawan gadis tahanan yang entah bagaimana kini telah berada di situ, mereka cepat mencabut senjata masing-masing dan bersiap.

Sementara itu, dengan hati hancur saking menyesal dan kecewa, Bun Hui menggunakan pedangnya membantu ayah bundanya sambil berkata lirih, "Betapa pun berat bagiku, aku harus memihak ayah bundaku, Nona."

"Cih, cerewet amat. Mau keroyok, keroyoklah. Hayo semua orang di sini boleh masuk mengeroyokku. Aku Cui-beng Kwan Ini tidak gentar seujung rambut pun!"

Bukan main marahnya Bun-goanswe. "Hayo tangkap dia! Jangan bunuh, tangkap kataku. Mana akal kalian? Masa tidak mampu menangkap hidup-hidup seorang bocah nakal?"

Belasan orang pengawal yang cukup tinggi kepandaiannya datang, mereka membawa tali-tali yang besar dan kuat. Dengan senjata ini mereka mengurung Siu Bi dari segala penjuru, kemudian mereka mengayunkan tambang itu ke arah kaki untuk merobohkan Siu Bi.

Gadis ini kaget sekali karena suami isteri yang kosen itu, dibantu puteranya yang tak boleh dipandang ringan, membuat ia cukup repot menjaga diri. Sekarang ada tambang-tambang yang menyambar dari segala jurusan, melibat dan menjegal kedua kakinya.

Dia terpaksa berloncatan untuk menyelamatkan diri, menendang sana sini sambil tetap melayani tiga orang lawannya. Akan tetapi, mana dapat gadis yang kurang pengalaman bertempur ini memecah perhatiannya menghadapi serangan yang sekian banyaknya.

Tiga batang pedang dengan dahsyat mengurungnya dan mengancamnya dari atas, ini saja sudah membutuhkan pemusatan perhatian sebab tiga batang pedang itu digerakkan oleh tangan-tangan ahli. Belasan jurus dia masih sanggup bertahan, akan tetapi karena kebingungannya, akhirnya kakinya terlibat tambang dan tanpa dapat ia pertahankan lagi, kakinya kena dijegal sehingga ia terguling dengan pedang masih di tangan.

Ketika itu, selagi Bun-goanswe dan para pengawalnya siap menubruk dan menangkap Siu Bi, mendadak mereka kelabakan karena lampu penerangan tiba-tiba menjadi padam. Perubahan seketika antara keadaan terang benderang menjadi gelap ini benar-benar membingungkan mereka.

"Pasang lampu...! Lekas pasang lampu...!" bentak Bun-goanswe.

Tak ada seorang pun berani menubruk ke depan untuk meringkus Siu Bi. Mereka cukup maklum akan kelihaian nona itu yang masih memegang pedang. Di dalam keadaan gelap itu, mana ada yang berani mempertaruhkan nyawa?

Setelah suasana gelap yang hiruk-pikuk ini diakhiri dengan penerangan lampu, keributan lain timbul ketika mereka melihat bahwa gadis yang tadinya terguling miring itu sudah tiada di tempatnya lagi. Gadis itu lenyap seperti ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas.

Bun-goanswe cepat memerintah para pengawalnya melakukan pengejaran. Dia sendiri menjatuhkan diri di atas kursi, penasaran, malu dan marah. Hui Siang dan Bun Hui saling pandang.

"Wah, dia dapat melarikan diri!" Kata Hui Siang, diam-diam girang karena sesungguhnya ia ingin sekali mendengar gadis itu menyerbu rumah tangga Kun Hong, apa lagi setelah sekarang ia yakin benar akan kelihaian gadis itu.

"Siapa bilang lari?" Jawab jenderal itu marah. "Terang ada orang sakti yang menolong dan membawanya lari. Siapa yang memadamkan lampu serentak seperti itu tadi? Tentu bukan gadis itu. Dan cara ia meloloskan diri, sama sekali tidak terdengar olehku."

"Mudah-mudahan ia tidak membikin ribut lagi...," Bun Hui menggumam seorang diri.

"He, kau Hui-ji. Sikapmu tadi sungguh memalukan! Apa maksudmu? Apakah kau sudah tergila-gila kepada gadis liar itu?"

Bentakan ayahnya ini membuat Bun Hui merah mukanya. Ia tergagap mencari jawaban, "Aku... aku... tidak begitu, Ayah. Aku hanya... kagum akan sepak terjangnya dan aku... aku kasihan…”

"Hemmm, menilai seseorang, apa lagi wanita, jangan sekali-kali dari kecantikan wajah atau kepandaiannya. Akan tetapi wataknya! Gadis itu wataknya keranjingan, seperti iblis betina. Hui-ji, besok pagi-pagi kau berangkatlah ke Liong-thouw-san menemui pamanmu Kwa Kun Hong kemudian berikan sepucuk suratku. Urusan ini terlampau penting untuk kuserahkan kepada seorang pengawal, maka harus kau sendiri yang membawanya ke Liong-thouw-san."

"Baik, Ayah."

Diam-diam pemuda ini menjadi girang juga, karena memang sudah amat lama ia ingin bertemu dengan orang yang selalu disebut-sebut ayahnya dengan penuh penghormatan, yaitu Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta…..

********************

Siu Bi mencoba tenaganya untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi sia-sia saja. Orang itu memanggulnya dengan menekan tengkuk serta punggungnya, di mana pusat tenaganya ditekan sehingga kekuatannya menjadi hilang. Dia merasa dibawa lari cepat sekali, sementara angin dingin membuat dia mengantuk sekali. Akhirnya, saking lelahnya bertempur tadi dan semalam tidak tidur sedikit pun juga, ia tertidur di atas pundak orang yang memanggulnya itu.

Ketika Siu Bi sadar dari tidurnya, sedetik ia tertegun, hendak mengulet (menggeliat) tidak dapat. Tubuhnya serasa kesemutan, sedangkan pipi kanannya yang berada di sebelah atas terasa panas. Kiranya matahari sudah menyorot agak tinggi juga.

Segera ia teringat. la masih berada di atas pundak orang, masih dipanggul! Sejak lewat tengah malam sampai sekarang, lewat pagi! Dan dia tertidur di dalam pondongan orang! Dan selama itu ia masih belum tahu siapa orang yang menculiknya ini, yang membawa lari tubuhnya dari dalam gedung Jenderal Bun selagi dia roboh dalam keroyokan para pengawal.

"Hemmm, perawan macam apa ini? Dipondong orang sejak malam, tapi enak-enak tidur mendengkur. Malas dan manja, ihhh, benar-benar celaka..." Orang yang memanggulnya itu terdengar bersungut-sungut.

Kemarahan memenuhi kepala Siu Bi. "Siapa mendengkur? Aku tak pernah mendengkur kalau tidur. Hayo lepaskan kau laki-laki kurang ajar!"

"He? Kau sudah bangun? Nah, turunlah!" Dengan gerakan tiba-tiba orang itu melepaskan pondongan sambil mendorong sedikit sehingga tubuh Siu Bi terlempar dan jatuh berdiri di depannya dalam jarak dua meter.

Dapat dibayangkan betapa kaget, heran, dan marahnya ketika melihat bahwa orang yang memanggulnya tadi adalah laki-laki muda sederhana berpakaian putih yang tadi malam mengunjunginya di dalam kerangkengnya!

"Heeeiiiii! Kenapa kau memondongku? Aku bukan anak kecil!" Siu Bi membanting kaki dengan gemas.

Yo Wan, orang itu, tersenyum kecil. Cahaya matahari pagi serasa lebih gemilang bila menghadapi seorang dara lincah nakal ini.

"Kau masih kanak-kanak," katanya tenang.

"Siapa bilang? Aku bukan anak kecil, aku bukan kanak-kanak lagi!" Siu Bi bersitegang.

Disebut kanak-kanak baginya sama dengan penghinaan. Masa dia yang sudah memiliki julukan Cui-beng Kwan Im sekarang di-‘cap’ kanak-kanak?

"Aku Cui-beng Kwan Im, aku seorang dewasa. Jangan kau main-main!"

"Bagiku kau masih kanak-kanak," kata pula Yo Wan, memalingkan muka seperti seorang yang tidak acuh.

Padahal pemuda ini memalingkan muka karena merasa ‘silau’ akan kecantikan wajah Siu Bi. Kebetulan sekali cahaya matahari yang menerobos melalui celah-celah daun pohon menyoroti muka dan rambut itu, sehingga wajah gadis itu gilang gemilang dan rambutnya membayangkan warna indah, benar-benar laksana Dewi Kwan Im turun melalui sinar matahari pagi. Yo Wan memalingkan muka agar jangan melihat keindahan di depannya ini, yang membuat isi dadanya tergetar.

"Wah, kau ini kakek-kakek, ya? Aksinya!" Siu Bi membentak gemas.

"Aku jauh lebih tua dari padamu." Suara Yo Wan perlahan, seperti berkata kepada diri sendiri.

Memang ini suara hatinya yang membantah gelora di dalam dada, untuk memadamkan api aneh yang mulai menyala dengan peringatan bahwa dia jauh lebih tua dari pada gadis remaja yang berdiri di depannya dengan sikap menantang itu.

"Hanya beberapa tahun lebih tua. Hemmm, lagakmu seperti kakek-kakek berusia lima puluh tahun saja. Kurasa kau belum ada tiga puluh."

"Dua puluh enam tahun umurku, dan kau ini paling banyak lima belas..."

"Siapa bilang? Ngawur! Sudah tujuh belas lebih, hampir delapan belas aku."

"Ya itulah, masih kanak-kanak kataku."

"Setan kau. Delapan belas tahun kau anggap kanak-kanak? Kau baru umur dua puluh enam tahun sudah berlagak tua bangka. Biarlah kusebut kau lopek (paman tua) kalau begitu. Heh, Lopek yang sudah pikun, kenapa kau tadi memondongku? Siapa yang beri ijin kepadamu?"

Yo Wan panas perutnya. Masa dia disebut lopek? Ngenyek (ngece) benar bocah ini. Dia mengebut-ngebutkan ujung lengan baju di lehernya, seakan-akan kepanasan. Memang ada rasa panas, tapi bukan di kulit melainkan di hati. Lalu dia memilih akar yang bersih, akar pohon besar yang menonjol keluar dari tanah. Didudukinya akar itu tanpa menjawab pertanyaan Siu Bi.

"Hee, Lopek Apakah kau sudah terlalu tua sehingga telingamu sudah setengah tuli?" bentak Siu Bi dengan suara nyaring.

"Kau anak kecil jangan kurang ajar terhadap orang tua. Duduklah, anakku, duduk yang baik dan kakekmu akan mendongeng, kalau kau mendengarkan baik-baik, nanti kuberi mainan."

Siu Bi meloncat-loncat marah. "Nak-nak-nak? Aku bukan anakmu, juga bukan cucumu. Jangan sebut nak, aku bukan anak kecil!" la menjerit-jerit, kedua pipinya merah padam, kemarahannya melewati takaran.

Yo Wan bersungut-sungut, "Kalau kau bukan anak kecil, aku pun bukan kakek-kakek yang sudah tua renta, kenapa kau sebut aku lopek?"

"Kau yang mulai dulu!"

"Siapa mulai? Kau yang mulai," jawab Yo Wan mulai mendongkol hatinya.

"Kau yang mulai."

"Kau."

"Kau! Kau! Kau! Nah, aku bilang seribu kali, kau yang mulai, mau apa?" kata Siu Bi menantang.

Yo Wan mengeluh, kemudian menarik nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar dara lincah nakal ini sudah menyeretnya kembali ke alam kanak-kanak dan berhasil mengaduk isi dada dan isi perutnya menjadi panas. Sepuluh tahun ia bertapa di Himalaya menguasai tujuh macam perasaan, sekarang perasaannya diawut-awut oleh gadis remaja ini.

"Dibebaskan dari bahaya, dipondong sampai setengah malam suntuk, tahu-tahu upahnya hanya diajak bertengkar. Di dunia ini mana ada aturan bo-cengli tidak benar macam ini?" Ia mengomel panjang pendek.

"Siapa suruh kau mondong aku? Siapa? Aku tidak sudi kau pondong, tahu?"

"Tidak sudi masa bodoh, pokoknya aku gudah memondongmu sampai setengah malam, tangan dan pundakku sampai pegal rasanya.”

Siu Bi semakin marah, kedua tangannya dikepal. "Aku tidak sudi, tidak sudi, tidak sudi! Hayo jawab, kenapa kau memondongku? Kalau kau tidak jawab, jangan menyesal kalau aku marah dan menghajarmu. Aku Cui-beng Kwan Im, ingat?"

"Kenapa aku memondongmu? Habis kalau tidak dipondong, apa minta digendong? Atau harus kuseret? Kau dikepung, berada dalam bahaya maut, tetapi masih membuka mulut besar. Tak tahu diri benar!"

"Biar aku dikepung, biar dicengkeram maut, apa pedulimu? Aku tak sudi pertolonganmu, mengapa kau menolong aku?"

"Aku pun tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya tidak senang melihat seorang gadis dikeroyok oleh para pengawal jenderal itu, oleh karena itu aku berusaha menggagalkan pengeroyokan mereka dan membawamu pergi."

Siu Bi seakan-akan tidak mendengarkan omongan Yo Wan, ia termenung lalu berkata penuh penyesalan, "Celaka betul, karena kau membawaku pergi, pedangku hilang! Ahh, Cui-beng-kiam itu tentu ketinggalan di tempat pertempuran dan..."

Siu Bi menghentikan kata-katanya karena melihat sinar kehitaman pada saat pedang itu dicabut oleh Yo Wan dari balik jubahnya. Tanpa berkata sesuatu Yo Wan memberikan pedang kepada Siu Bi yang cepat menyambarnya.

"Kebetulan aku juga melihat pedang ini terlepas dari tanganmu, aku tidak ingin pengawal-pengawal itu merampasnya, maka kubawa sekalian. Nah, kiranya sudah cukup obrolan kita yang amat menyenangkan hati ini. Aku tak pernah tolong kau dan kau tak pernah ada urusan denganku. Kita sama-sama bebas, tak ada urusan apa-apa. Selamat tinggal." Yo Wan berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan Siu Bi.

Seperti malam tadi, Siu Bi memandang dengan mata tak berkedip. Ketika bayangan Yo Wan hampir lenyap pada sebuah tikungan, ia baru teringat sesuatu dan cepat melompat mengejar sambil berseru,

"Heee, berhenti dulu!!"

Yo Wan berhenti dan perlahan membalikkan tubuhnya. Dilihatnya gadis itu berloncatan sambil membawa pedang. Hemmm, jangan-jangan gadis itu akan menyerangnya, siapa dapat menduga isi hati gadis liar dan buas seperti itu?

"Ada apa lagi? Hendak menghajarku?" tanyanya.

Siu Bi menggelengkan kepala, akan tetapi mulutnya masih cemberut. "Tergantung dari jawabanmu," katanya, lalu disambungnya cepat-cepat, "Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur. Kau tadi bilang aku mendengkur, kau bohong! Aku tidak pernah mendengkur, memalukan sekali!"

Hampir Yo Wan ketawa terbahak-bahak. Benar-benar gadis yang liar dan aneh. Masa menyusulnya hanya akan bicara tentang itu?

"Tidak mendengkur, hanya... ngo…rok..."

"Bohong! Kau berani sumpah? Aku tak pernah ngorok, mendengkur pun tidak."

"Ngorok pun mana kau bisa tahu? Kan kau sedang tidur? Yang tahu hanya orang lain tentu."

"Tidak, tidak! Aku tidak ngorok, hayo katakan, aku tidak pernah ngorok!"

Siu Bi hampir menangis ketika membanting-banting kaki di depan Yo Wan. la marah dan malu sekali, kedua matanya sudah merah, air matanya sudah hampir runtuh. la bukan seorang gadis cengeng, malah jauh dari itu, menangis sebetulnya merupakan pantangan baginya. Hatinya amat keras, nyalinya besar, tak pernah ia mengenal takut. Akan tetapi dikatakan ngorok dalam tidur, sungguh-sungguh merupakan hal yang menyakitkan hati, memalukan dan menjengkelkan.

Kasihan juga hati Yo Wan melihat keadaan gadis ini. "Ya sudahlah, tidak mengorok ya sudah. Agaknya karena terlampau lelah bertanding dan terlalu enak kau pulas, nafasmu menjadi berat seperti orang mengorok. Tidurmu memang enak sekali sampai aku tidak tega untuk membangunkan dan terpaksa memondongmu terus sampai kau bangun."

Memang watak Siu Bi aneh. Mana bisa tidak aneh watak gadis ini yang semenjak kecil hidup dekat Hek Lojin, manusia aneh yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw? Kini dia memandang kepada Yo Wan dengan sinar mata berseri, melalui selapis air mata yang tidak jadi tumpah.

"Kau baik sekali..."

Yo Wan tertegun. Alangkah bedanya dengan tadi. Kini dia benar-benar melihat seorang Dewi Kwan Im di depannya, seorang dewi yang cantik jelita, yang bersuara lembut dan yang matanya bersinar mesra.

"Ahhh... sama sekali tidak baik, biasa saja," katanya. "Aku melihat kau menolong para petani miskin, tentu saja aku tidak suka melihat kau celaka di tangan para pengawal."

Hening sejenak, agaknya Yo Wan sudah lupa bahwa baru saja ia mengucapkan selamat tinggal. Juga Siu Bi bagaikan orang termenung, tidak memandang Yo Wan, melainkan memandang ke tempat jauh di sebelah kiri. Mendadak dia menengok, agak berdongak untuk mencari mata Yo Wan dengan pandangannya,

"Kau... lapar...?"

Yo Wan melongo beberapa detik.

"Lapar? Tentu saja..." jawabnya otomatis, karena memang perutnya terasa perih minta diisi.

Wajah Siu Bi berseri gembira. "Kau tunggu di sini sebentar, kutangkap kelinci gemuk di sana itu!" Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan pada lain saat dia telah menguber-uber seekor kelinci putih yang gemuk.

Yo Wan kembali tertegun, kemudian dia tersenyum geli dan menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal. Lalu dia mengumpulkan daun dan ranting kering serta duduk di atas sebuah batu, menunggu dengan sabar.

Siu Bi datang sambil berloncatan dan menari-nari kegirangan. Seekor kelinci yang gemuk sekali meronta-ronta di bawah pegangannya. Siu Bi memegang kedua telinga itu.

"Lihat, wah gemuk sekali! Masih muda lagi!" teriaknya sambil tertawa-tawa.

Wajah Yo Wan berseri dan untuk sejenak lenyaplah kemuraman wajahnya.

”Hemmm, tentu lezat sekali dagingnya. Biar kubuatkan api."

la lalu membuat api sambil matanya melirik ke arah gadis itu yang dengan cekatan sekali menyembelih kelinci dengan pedangnya, lalu mengulitinya dengan cepat. Sambil bekerja, Siu Bi bersenandung dan Yo Wan beberapa kali melirik ke arah gadis ini. Seorang gadis yang benar-benar aneh, pikirnya. Watak yang luar biasa dan sukar diselami.

"Lihat nih, gajihnya sampai tebal? Hemmm... Makin lapar perutku," kata Siu Bi sambil mengangkat daging kelinci tinggi-tinggi.

"Lekas panggang, tak kuat lagi aku." Yo Wan berkata sambil beberapa kali menelan air ludah sendiri.

Bagaikan seorang anak kecil, sambil tertawa-tawa gembira Siu Bi lalu menusuk daging kelinci dengan bambu dan memanggangnya. Bau yang sedap gurih segera memenuhi udara, menambah rasa lapar di perut. Selama mengerjakan itu, Siu Bi tidak bicara, hanya beberapa kali melirik ke arah Yo Wan, tetapi kalau pemuda itu membalas pandangnya, ia mengalihkan kerling sambil tersenyum.

Biar pun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun di dalam hatinya Siu Bi tiada hentinya berkata-kata. Pikirannya diputar terus. Pemuda ini baik, pikirnya. Tidak kurang ajar, biar pun kelihatan agak tolol. Terang bahwa dia itu lihai sekali, sudah berkali-kali dibuktikan biar pun tidak berterang.

Dapat memasuki rumah gedung Jenderal Bun tanpa diketahui, seperti setan saja, dapat membebaskannya dari kerangkeng, kemudian ia harus mengakui bahwa ketika ia roboh terjegal kakinya oleh tambang-tambang itu, keadaannya memang amat berbahaya.

Pemuda itu tiba-tiba saja muncul dalam gelap, dapat membawanya pergi tanpa diketahui semua pengeroyok, malah tidak lupa membawa pula pedangnya. Kalau tidak lihai sekali mana mungkin dia melakukan semua itu?

Kembali dia melirik Yo Wan duduk termenung, tapi lubang hidungnya kembang-kempis, jakunnya naik turun, jelas bahwa dalam termenung, pemuda itu tergoda hebat oleh asap panggang kelinci yang sedap dan gurih. Melihat ini, Siu Bi tertawa mengikik sehingga dia terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

Ibunya yang selalu marah kalau melihat ia ketawa tanpa menutupi mulutnya dan terlalu sering Siu Bi melupakan hal ini. Baiknya sekarang ia tidak lupa, mungkin karena sadar bahwa ada orang lain di dekatnya, laki-laki pula.

"Hemmm, mengapa kau tertawa?" Yo Wan bertanya, kaget dan sadar dari lamunannya.

"Tidak apa-apa, tidak bolehkah orang tertawa?" Siu Bi menjawab sambil melirik nakal, tangannya memutar-mutar daging kelinci di atas api.

Jawaban ini merupakan tangkisan yang membuat Yo Wan gelagapan. "A... a... aku tidak melarang... tentu saja, siapa pun boleh tertawa. Kau mentertawai aku?"

Siu Bi hanya tersenyum saja, tidak menjawab, melirik pun tidak. Daging itu sudah hampir matang. Yo Wan juga tidak mendesak, tapi cukup mendongkol hatinya. Gadis remaja ini benar-benar pandai mengobrak-abrik hati orang dengan sikapnya yang aneh, sebentar marah, sebentar ramah, sebentar kemudian menggoda.

Pemuda ini terang pandai sekali, Siu Bi melanjutkan lamunannya. Apa bila aku berbaik kepadanya dan kemudian mendapat bantuannya, agaknya akan lebih besar hasilnya di Liong-thouw-san.

Menurut ucapan Bun Hui pemuda putera jenderal itu, Pendekar Buta adalah seorang sakti yang sangat tinggi kepandaiannya. Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi bagaimana kalau dia gagal? Tentu akan mengecewakan sekali jika dia tidak berhasil membalaskan dendam kakek Hek Lojin. Akan tetapi kalau bisa mendapat bantuan pemuda ini, hemmm, kepandaian mereka berdua dapat disatukan untuk menghadapi dan mengalahkan Kwa Kun Hong si Pendekar Buta.

Akan tetapi apakah benar-benar pemuda ini lihai? Kembali dia melirik. Yo Wan tampak mengantuk, sepasang matanya hampir meram dan kepalanya terangguk-angguk ke kiri dan kanan, seakan-akan lehernya tidak kuat pula menyangga kepalanya.

Kasihan! Tentu dia sangat mengantuk, mengantuk dan lapar karena semalam tidak tidur sama sekali, memondongnya pergi sejauh ini. Kalau sedang mengantuk dan ‘tidur ayam’ begini sama sekali tidak patut menjadi seorang yang berkepandaian tinggi. Juga tidak nampak membawa senjata.

Makin dia perhatikan, semakin tidak memuaskan kesan di hati Siu Bi. Pemuda yang tidak muda lagi, sungguh pun belum tua. Rambutnya kering akibat tidak terpelihara baik-baik. Wajahnya biar pun tampan, akan tetapi tampak muram seperti orang yang sedih selalu. Pakaiannya yang serba putih itu tidak bersih lagi, juga ada beberapa bagian yang robek. Pemuda miskin!

Tiba-tiba Yo Wan yang benar-benar sangat mengantuk itu terangguk ke depan, menjadi kaget dan membuka matanya, memandang bingung.

"Hi-hi-hik...!" kembali Siu Bi terkekeh. Lucu sekali keadaan pemuda itu.

"Kenapa kau tertawa?"

"Siapa yang tidak tertawa melihat kau terkantuk-kantuk seperti ayam keloren (menderita penyakit kelor)? Hayo bangun, dagingnya sudah matang!" Siu Bi mengangkat panggang daging kelinci dan menaruhnya di atas daun-daun bersih yang sudah disediakan di situ, di depan Yo Wan.

"Wah, gurih baunya!" Yo Wan memuji. "Hayo, kau ambil dulu."

"Kau ambillah dulu."

"Kau yang tangkap dan masak kelinci, masa aku harus makan dulu?"

"Sudahlah, kau ambil dulu, mengapa sih? Aku tidak selapar engkau!"

Yo Wan tidak berlaku sungkan lagi. Dengan penuh gairah ia segera merobek daging itu, mengambil bagian yang ada tulangnya, lalu langsung menggerogotinya dengan lahap.

"Wah, hebat...! Lezat bukan main...!" katanya sambil mengunyah.

Memang kelinci itu gemuk sekali, gajihnya banyak sehingga begitu daging tergigit, gajih yang mencair oleh api itu menitik dari kanan kiri bibir Yo Wan.

"Sayang tidak ada arak...Heee! Kau ke mana, Nona?"

"Tunggu dulu sebentar, aku ambil air minum!" Cepat Siu Bi berlari meninggalkan Yo Wan.

Pemuda ini mengunyah lambat-lambat dan pikirannya makin penuh oleh keadaan Siu Bi. Gadis itu benar-benar hebat, wataknya aneh sekali. Sekarang sangat ramah dan baik kepadanya. Siapakah dia ini?

Siu Bi kembali membawa dua buah kulit labu yang penuh air jernih, dan selain air, juga ia membawa banyak buah-buah manis yang dipetiknya dari dalam hutan. Dengan hati-hati agar jangan tumpah, dia menaruh kulit labu yang dipakai menjadi tempat air itu di atas tanah, kemudian ia pun mulai makan daging kelinci.

Keduanya makan dengan lahap, tanpa bicara, hanya kadang-kadang pandangan mata mereka bertemu sebentar. Yo Wan duduk di atas batu, Siu Bi duduk bersila di atas tanah berumput. Api bekas pemanggang daging masih bernyala sedikit.

Tak sampai sepuluh menit habislah daging kelinci, tinggal tulang-tulangnya saja. Setelah minum air dan mencuci mulut dengan air, keduanya lalu makan buah. Barulah Yo Wan berkata,

"Nona, kau baik sekali padaku. Terima kasih, daging kelinci tadi amat gurih dan langsung mengenyangkan perut. Airnya jernih, segar sekali. Dan buah-buah ini pun manis. Kau memang baik”.

"Terima kasih segala, untuk apa? Tidak ada kau pun aku toh harus makan dan minum. Kau berkali-kali menolongku, aku pun tidak bilang terima kasih padamu."

Yo Wan tersenyum. Dekat dan bercakap dengan nona ini memaksanya untuk sering tersenyum. "Aku tidak menolongmu, tak perlu berterima kasih, Nona."

"Siapakah kau ini? Siapa namamu?"

Yo Wan menggerakkan alisnya yang tebal. Baru terasa olehnya betapa lucu dan janggal keadaan mereka berdua.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner